“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 80

membutuhkan
perhatian dan ketelitian
Bagian 61
Setiap malam Siau Po selalu meluangkan waktunya untuk melihat Song Jie.
Robekan itu sudah hampir selesai dan kali ini sudah terlihat gambar gunung, sungai dan
huruf-huruf dalam bahasa asing.
Setelah datang malam yang ke delapan belas, Siau Po mengunjungi Song Jie. Tetapi
sesampainya di sana Song Jie sedang gembira karena telah berhasil menyusun
robekan kertas itu.
“Apakah yang membuat kau sangat bergembira ini?” tanya Siau Po pada Song Jie.
“Coba Tiongko terka sendiri” kata Song Jie.
Tadi malam Siau Po telah melihat robekan kertas itu hanya tertinggal beberapa helai
lagi, dan mungkin ia telah berhasil menyelesaikannya.
“Mari aku menerkanya, kau tentu telah membuatkan kupat untuk aku makan” sahut
Siau Po.
Song Jie menggelengkan kepala.

“Bagaimana kalau tugasku telah selesai sekarang?” tanyanya.
Sekarang Siau Po yang menggelengkan kepala.
“Kau sekarang akan mendustaiku, aku tidak percaya” katanya.
“Siongkong, mari” kata Song Jie bersungguh-sungguh pada Siau Po. “Mari
Siongkong melihat sendiri”
Siau Po melangkah mengikuti Song Jie menghampiri meja, ia melihat di atas meja,
robekan-robekan dari kitab itu telah tersusun menjadi satu.
Siau Po girang, ia mendekati Song Jie lalu memeluknya erat-erat dan menciumnya.
Diperlakukan demikian Song Jie meronta, pipinya berubah menjadi merah karena
malu bercampur senang.
Melihat hal itu Siau Po tertawa, ia lalu melepaskan rangkulannya tetapi tangannya
tetap memegang tangan Song Jie.
Selanjutnya Siau Po mengawasi peta yang sudah tersusun itu sambil menunjuk dan
ia berkata.
“Bukankah itu gunung yang tinggi dan sungai yang besar? Dan itu tikungan sungai
kecil dengan delapan bundaran kecil, kenapakah tertulis dengan warna merah dan
putih, kuning serta biru? Oh ya. Aku mengerti sekarang Bukankah itu bendera bangsa
Boancu? Namun bundaran kecil itu sangatlah aneh. Apakah nama gunung dan kali itu?”
Song Jie tidak langsung menjawab pertanyaan Siau Po, Matanya terus saja
mengawasi peta itu, dan memberikannya pada Siau Po karena ia tidak mengerti tulisan
Bangsa Boancu,
“Apakah itu dan siapakah yang menulisnya?” tanya Siau Po.
“Akulah yang menulisnya.” jawab si nona,
Siau Po heran bercampur senang.
“Ah, kiranya kau mengerti tulisan Bangsa Boancu, Berarti kemarin kau telah
mendustai aku.” kata Siau Po.
Sambil berkata demikian Siau Po merentangkan tangannya untuk memeluk tubuh
Song Jie.
Dengan cepat Song Jie berkelit, dan ia lalu tertawa.

“Aku tak mendustaimu, aku hanya mengikuti tulisan itu sehuruf demi sehuruf dan
menyalinnya pada kertas ini.” katanya.
“Bagus, nanti aku akan mencari orang yang dapat membaca tulisan itu, dan
menyalinnya dalam tulisan Tiongkok. Dengan demikian kita dapat membacanya.”
Song Jie tertawa.
“Kau baik dan juga cerdas, Karena dengan demikian kau telah mengetahui maksud
dari salinan itu. Di samping itu juga rahasia itu tak akan bocor pada orang lain.” katanya,
Siau Po sangat senang dengan hasil kerja song Jie. Kemudian ia pergi keluar kamar
dan memanggil salah seorang pengawalnya untuk mencari orang yang pandai
membaca dan menulis bahasa Boancu.
Tak lama kemudian datanglah seseorang yang dimaksudkan oleh Siau Po. Orang itu
kemudian menerangkan satu persatu tulisan itu pada Siau Po.
“Semua gunung dan juga sungai itu sangat terkenal namanya dan itu berada di utara
Hek Liong Kang,” katanya.
Diam-diam Siau Po girang sekali.
“Tak salah lagi di sanalah tersimpan banyak harta karun yang berupa emas, perak
dan barang-barang permata lainnya, yang kesemuanya itu sangat berharga, Hanya
tulisan-tulisan dan kata-kata-nya sulit untuk diucapkan.” kata Siau Po dalam hati.
“Ah, makin lama nama-nama itu semakin aneh saja Bukankah sekarang kau sedang
mengaco belo? Mengapa kau tidak menyebutkan nama yang mudah dimengerti” kata
Siau Po.
Penterjemah itu takut sekali dan sangat bingung, maka kemudian ia memberikan
hormat.
“Hamba tidak dapat membohongi Tuan, hamba hanya mengartikan tentang apa-apa
yang tertulis dalam peta ini.” katanya dengan bergetar ketakutan.
“Baiklah, sekarang kau tulis semua itu dalam bahasa Tionghoa dan nanti aku akan
menanyakannya pada orang lain, jika nanti kau kuketahui berdusta…” katanya
mengancam.
Selesai berkata demikian, Siau Po memanggil seorang pelayan untuk mengambil
uang sebagai gaji orang itu. Melihat uang yang demikian banyak, orang itu langsung
mengucapkan terima kasih sampai berulang-ulang dan setelah itu ia pun pergi.

Setelah orang yang pertama itu pergi Siau Po memanggil seorang penterjemah yang
kedua untuk mengartikannya lagi, dan begitu selanjutnya dengan orang yang ketiga,
Mereka semua mengatakan kata-kata yang sama pada Siau Po.
Siau Po lalu mengingat kata-kata yang terdapat dalam peta itu sambil dibantu oleh
Song Jie. ia kemudian ingat akan pesan dari gurunya yang mengatakan “Jangan
sampai peta itu jatuh ke tangan orang lain, itu sangat berbahaya. “Dengan mengingat
pesan gurunya itu, Siau Po kemudian mengambil peta itu dan membakarnya sampai
habis, senang hati Siau Po melihat api yang membakar peta itu sekarang catatan itu
sudah masuk dalam otaknya.
Sambil berpikir Siau Po mengawasi wajah Song Jie yang berada di sisinya, Wajah
yang putih mulus dan tersungging senyuman itu menjadikan wajah itu bertambah cantik.
Song Jie yang mengetahui hal itu menjadi malu, kemudian ia tertunduk.
“Oh, Song Jie bukankah kita telah mengetahui kata-kata yang ada dalam kitab dan
peta itu? Karenanya kita harus dapat mengingat-ingatnya jangan sampai ada yang
lupa”
Song Jie merasa sangat senang mendengar kata-kata Siau Po sampai ia
berjingkrakan.
Tepat pada waktu itu ada seorang pengawal yang memberitahukan pada Siau Po
kalau ia telah dipanggil oleh raja.
Siau Po tersenyum pada Song Jie, lalu ia pergi ke istana untuk menghadiri panggilan
raja, sesampainya ia di istana, di sana sudah tampak barisan tentara pengawal raja
yang sudah bersiap dengan rapi, melihat hal itu Siau Po lalu memberikan hormat pada
raja.
Kaisar tertawa.
“Siau Kui-cu sekarang kau ikut denganku melihat percobaan meriam yang pertama
itu” kata sang raja.
Kemudian rombongan itu pergi ke tempat pembuatan meriam. Dan sesampainya di
sana ia disambut oleh orang asing itu yang langsung memberikan hormat pada raja.
“Kalian bangkitlah Di mana meriam-meriam itu?” tanya sang raja,
“Meriam-meriam itu sekarang berada di luar kota, silahkan Sri baginda
menyaksikannya” jawab orang asing itu.
Raja dan para pengawalnya kemudian mengikuti orang asing itu untuk melihat
percobaan meriam.

“Meriam-meriam ini dapat menembak sejauh satu setengah lie dan di sana telah
dipasang sasaran yang akan kita tembak,” kata orang asing itu memberikan penjelasan
pada raja dan Siau Po.
“Sekarang hamba akan memasang pelurunya dan hamba meminta pada Baginda
untuk mundur barang beberapa langkah, sebab suara meriam ini sangatlah keras dan
juga untuk menjaga keamanan kita.” katanya.
Raja tersenyum dan kemudian mundur barang beberapa langkah untuk menghindari
hal-hal yang tidak diinginkan.
Siau Po mengajukan diri.
“Untuk meriam yang pertama ini ijinkan hamba yang menyulutnya” kata Siau Po.
Kaisar mengangguk.
Siau Po lalu maju ke sisi meriam itu.
Siau Po kemudian menyalakan meriam itu, setelah itu ia berlari mundur dan
tangannya dipakai untuk menutupi kupingnya, sedangkan matanya terus menatap ke
arah meriam itu.
Begitu sumbu meriam itu dihidupkan, maka tak lama kemudian melesatlah pelurunya
dan kemudian hancurlah sasaran yang dituju itu, Karena pada sasaran itu juga diberi
obat, maka setelah tertembak sasaran itu pun terlempar ke udara.
Tentara yang hadir bersorak, dan semua memberikan kata-kata selamat pada raja
cilik itu.
Kaisar sangat girang menyaksikan hal itu, maka raja menaikkan pangkat orang-orang
asing itu dan menjadikan ketujuh meriam itu sebagai meriam keramat.
Sesampainya di istana, raja memanggil Siau Po di kamar kerjanya.
“Siu Kui-cu marilah kita bekerja siang dan malam untuk membuat meriam yang
lainnya, untuk menghadapi Gauw Sam Kui dan sekutunya itu, Siau Kui cu sekarang
coba kau katakan nanti pada waktunya apakah ia akan berhasil memberontak atau
tidak?”
Siau Po tertawa.
“Berbahagialah Sri baginda” katanya, “Sebenarnya dalam menghadapi Gauw Sam
Kui dan sekutunya itu tak kita perlu dengan meriam, namun jika dibantu dengan meriam
itu, kita akan lebih cepat dapat menumpasnya.” kata Siau Po.
Kembali raja tertawa.

“Ah, kau ada-ada saja” kata raja yang secara tiba-tiba wajahnya menjadi berduka,
“Bicara mengenai naga aku jadi ingat, bukankah Gauw Sam Kui telah bersekongkol
dengan Bangsa Mongolia, Tibet dan Losat? Bukankah masih ada sekutunya yaitu Sin
Liong Kauw, partai keagamaan naga sakti itu? Si moler tua itu justru anggota dari partai
itu yang dikirim untuk mengacau dalam istana ini.”
“Memang” jawab Siau Po.
“Jikalau si moler tua itu tidak dihukum mati mana dapat kita membalaskan sakit hati
ibu suri itu?” kata sang raja dengan nada penuh kebencian.
Melihat hal itu Siau Po berkata dalam hati.
“Apakah dengan demikian raja akan mengutus aku untuk mencari dan membekuk si
moler tua itu? sekarang ini ia bersama dengan Kho Cun Cia, hanya dimanakah mereka
itu berada, hingga untuk satu waktu aku tak usah susah-susah mencarinya….”
Karena ragu-ragu maka Siau Po hanya diam saja.
Sesaat kemudian terdengarlah raja berkata, ternyata terkaan Siau Po itu sangat
tepat.
“Siau Kui-cu, ini adalah urusan yang harus dirahasiakan, dan tak dapat diwakilkan
oleh orang lain selain oleh kau sendiri Maka aku hendak memberikan tugas
kepadamu…”
“Baik…. Baik, Sri Baginda” kata Siau Po. “Hanya entah kemana perginya si moler tua
itu, Dan ” gendaknya itu…. Gendaknya itu orang yang sangat lihay dalam ilmu gaib.”
“Si moler tua itu mungkin telah bersembunyi di gunung dan memang sangatlah sukar
untuk didatangi.” kata Raja, “Tetapi walaupun demikian kau pasti akan dapat
menemukannya, dan itu sangatlah mustahil jika tak ada jalan yang lain, sekarang kau
pimpin dahulu satu pasukan perang, dan kau pergi untuk membasmi partai naga sakti
atau Sing Liong Kauw. Di sana kau bekuk beberapa anggotanya, kita akan mengorek
keterangan dari mereka itu perihal si moler tua itu Asal kau memaksa mereka satu per
satu, pasti kau akan mendapatkan keteranganku.”
Berkata demikian, raja itu terus saja menatap Siau Po yang tampak ragu-ragu.
“Aku tahu tugas itu memang sangatlah sulit,” katanya. “Sama halnya dengan mencari
jarum yang berada dalam lautan, Akan tetapi walaupun demikian, kau janganlah sangsi
Aku tahu kau pandai bekerja, kau juga sangat berbakat untuk menjadi seorang
panglima besar. Biasanya sangat sukar jika di tangan orang lain namun di tanganmu
masalah itu sangatlah mudah, Maka pergilah kau bekerja Aku tak akan memberikan
batas waktu, setibanya kau di Kwan Gwa kau berhak menggerakkan pasukan perang
Hong Thian, kau tunggu saatnya yang baik untuk membasmi dan membekuk partai Sin
Liong Kauw…”

“Bakat atau rejeki hamba itu adalah hadiah dari raja,” kata Siau Po. “Sri baginda telah
memberikan kepercayaan yang luar biasa padaku, maka dengan sendirinya rejekiku
menjadi tambah besar saja, semoga kali ini, dengan mengandalkan pada rejeki dari
baginda, hamba dapat mencari dan membekuk si moler tua itu” katanya pula.
Girang hati sang raja mendengar kata-kata Siau Po yang menerima perintahnya itu,
ia lalu menepuk bahu Siau Po seraya berkata.
“Usaha pembalasan sakit hati adalah usaha yang sangat besar, tetapi jika
dibandingkan dengan urusan negara itu termasuk urusan kecil. Keselamatan negara
adalah sangat penting. Memang baik sekali untuk membekuk si moler tua itu, apalagi
jika kau dapat membasmi partai Sin Liong Kauw inilah tugas yang utama. Kau takut
Kwan Gwa adalah tempat asal kerajaan Ceng kami yang maha besar Dan sekarang Sin
Liong Kauw tengah mengawasinya, jikalau benar ia akan menyerang dengan bantuan
dari bangsa Losat, itu sangat berbahaya. Kalau mereka berhasil menimpa Kwan Gwa,
berarti lenyaplah kampung halaman kami. Maka jika kau berhasil memukul pecah pulau
Sin Liong To berarti kau berhasil mengenai jari tangan bangsa Losat”
Siau Po tertawa mendengar kata-kata rajanya itu.
“Sri baginda benar” katanya dengan mengacungkan jempol tangan kanannya.
Melihat tingkah kacungnya itu raja tertawa.
“Sekarang aku angkat kau menjadi Cu-ciak kelas satu dan pangkatmu yaitu Toutong
dari pasukan Jiaw Kie Eng bagian bendera putih sebagai tambahan Dan di Kwan-Gwa
sana kau dapat menggerakkan pasukan perang Hong Tian, yang dapat kau gunakan
untuk menumpas gerombolan Sin Lion Kauw.” kata sang raja.
Siau Po segera berlutut sambil mengangguk-angguk seraya mengucapkan kata
terima kasih.
“Pangkat hamba semakin ada tugas semakin saja naik, maka sekarang pangkat
hamba semakin tinggi. Dengan demikian makin besar dan banyak pula rejeki dan
peruntungan bagiku.” katanya.
“Akan tetapi perlu kau ingat, tindak tandukmu sekarang ini tidak dapat kau pamerkan
dahulu, untuk menjaga agar Gouw Sam Kui dan Siang Ko Jie tidak mendengar apaapa.
Karena bila ia mengetahuinya, pastilah ia akan mempercepat kegiatan
pemberontakan. Maka yang paling baik kau hancurkan Sin Liong Kauw dahulu dan jika
dapat kau harus menghancurkannya dengan tidak menimbulkan keributan Kalau tidak
sekarang kau aku angkat menjadi utusan raja yang ditugaskan untuk mengadakan
sembahyang digunung Tiang Pek San. Gunung itu adalah tempat yang suci bagi kami
Bangsa Mancu, Dengan kau datang bersembahyang, siapa pun tak akan
mencurigaimu”
Siau Po memuji kecerdasan rajanya.

“Kecerdasan Sri baginda tidak ada bandingannya. Usia kaucu Sin Liong kau seperti
usia ulat.” ujarnya.
Raja tertawa.
“Apa artinya usia kaucu Sin Liong Kau seperti usia ulat?” tanyanya.
“Kaucu Sing Liong kau itu paling senang kalau orang memuji usianya seperti usia
langit, padahal hari kematiannya sudah hampir sampai, Jadi sekarang, lebih tepat bila
dikatakan bahwa usianya sama dengan usia ulat.”
Meskipun di mulutnya Siau Po berkata demikian, tapi membayangkan kesaktian
kaucu Sin Liong Kau, hatinya bergidik Apalagi dia diharuskan menyerang pulau itu,
bisa-bisa usianya sendiri yang seperti usia ulat.
Ketika melangkah ke luar dari istana, hati Siau Po gundah sekali Dia berpikir.
“Bagaimana keberangkatan ke pulau Sin Liong to sangat berbahaya, sebaiknya
dicari jalan untuk mengurungkannya, Meskipun perlakuan Siau Hian cu terhadapku baik
sekali, tapi aku toh tidak mungkin mengantarkan nyawa demi dirinya, Atau sebaiknya
aku pura-pura menerima tugas itu, tapi di tengah jalan aku memutar ke Lu Ting san
untuk nlengambil harta pusaka, lalu mencari A Ko untuk mengambilnya sebagai istri dan
untuk selamanya hidup tenang?”
Pada hari kedua, Kaisar Kong Hi mengumumkan tentang kenaikan pangkat Siau Po.
Ketika upacara berlangsung, setiap pembesar memberi selamat kepada Siau Po.
Hubungan So Ngo Ta dengannya paling istimewa, pembesar itu sengaja mendatangi
kamarnya untuk berbicara dengannya, Dia melihat tampang Siau Po muram sekali.
“Saudara kecil, kepergianmu ke Liau Tong tentu berbeda jauh dengan perjalanan ke
Hun Lam. Kali ini mungkin kau tidak akan mendapatkan pemasukan apa-apa. Mungkin
itulah sebabnya kau menjadi tidak senang.” ujar So Ngo Ta.
“Terus terang aku katakan kepada toako, aku ini berasal dari selatan. selamanya aku
paling takut dingin. Membayangkan cuaca dingin di luar perbatasan saja, aku sudah
gemetaran Biar bagaimana malam ini aku harus menyalakan tungku api yang besar
untuk menghangatkan diri sepuas-puasnya.” So Ngo Ta tertawa terbahak-bahak.
“Dalam hal ini, adik tidak perlu khawatir, nanti aku akan menyuruh orang
mengantarkan tungku besar, agar dalam perjalanan adik selalu merasakan kehangatan
Selain itu, di Liau Tong adik juga bisa mendapatkan keuntungan.” ujarnya.
“Oh, rupanya ada yang menarik juga di Liau Tong?” tanya Siau Po. “Dalam hal ini
aku harus meminta petunjuk toako?”

“Di Liau Tong terdapat beberapa macam pusaka, bahkan ada pepatah yang
mengatakan, “Tiga pusaka dari Liau Tong, Jin som, kulit harimau dan rumput wula,
semuanya sama berharga, pernahkah adik mendengarnya?”
Siau Po menggelengkan kepalanya.
“Belum,” sahutnya, “Kalau Jin som dan kulit macan tutul memang berharga, tapi apa
kegunaan rumput wula itu?”
“Rumput wula itu juga merupakan benda yang berharga sekali,” kata So Ngo Ta.
“Cuaca di Kwan Tong dingin sekali, orang-orang atau penduduk yang miskin tidak
sanggup membeli kulit macan tutul untuk dijadikan mantel Kalau sampai kaki mereka
beku kedinginan siapa yang akan menggotong tandu bagimu? sedangkan rumput wula
ada di mana-mana di daerah itu, asal kita ambil sejumput dan diselipkan dalam sepatu,
dia bisa menimbulkan hawa hangat Dengan demikian seluruh tubuh pun akan
berkurang rasa dinginnya.”
“0h…. Jadi kegunaannya hanya untuk menghangatkan tubuh?”
“Memang benar.” sahut So Ngo Ta. “Tentu saja barang seperti itu tidak berharga di
daerah lainnya yang tidak begitu dingin seperti Kwan Tong. Dan kebetulan rumput itu
pun hanya tumbuh di daerah tersebut. Kalau ingin membawanya sebagai kenangkenangan,
boleh saja. Tapi nantinya hanya merepotkan adik saja.”
“Apakah Jin som dan kulit macan tutul itu ada dijual di mana-mana?” tanya Siau Po.
“Barang itu susah diperoleh namun kedatangan adik di sana tentu diketahui
pembesar setempat. Kakak rasa, pasti ada saja yang menghadiahkannya kepadamu
Mengenai hal itu, kau tidak khawatir” Siau Po tertawa, Dia memang paling tertarik
dengan barang-barang langka, Hal ini demi menambah kekayaannya yang sudah cukup
banyak.
Dia membayangkan akan menghadiahkannya untuk A Ko, gadis pujaannya itu.
Mungkin hati si nona akan menjadi senang mendapat hadiah yang jarang didapat
darinya.
“Akan tetapi kalau adik ingin membelinya, memang ada beberapa orang juga yang
menjualnya, Lain halnya dengan rumput wula, itu tidak perlu dibeli karena dimana-mana
pun ada.”
“Oh, kiranya begitu” kata Siau Po. “Rumput Wula itu tak dibutuhkan oleh kita,
berbeda dengan Jin som dan kulit harimau, Maka tak ada salahnya kalau aku
membawa pulang beberapa ratus helai agar nanti dapat aku bagikan pada kawan dan
kenalanku.”
So Ngo Ta tertawa.

Tengah mereka itu sedang berbicara, datanglah seorang utusan yang mengatakan
ada kunjungan dari Sui Su Tee tok Sie Long.
Mendengar nama itu, wajah Siau Po mendadak berubah karena secara tiba-tiba ia
mengingat kematian yang menyedihkan dari Kwan An Kie.
Dahulu sewaktu ia menahan Kek Song dan memasukkannya ke dalam peti mati,
gurunya memerintahkan nya agar membuka peti mati itu, Waktu ia membuka tutup peti
mati itu ternyata yang ada di dalamnya adalah mayat A Kie dan bukan mayat Kek Song.
Pada tubuh mayat itu ada sehelai kertas yang tulisannya ikut berbela sungkawa atas
nama Sie Long. Menurut gurunya, orang itu sangat pintar otaknya dan sangat lihay
dalam permainan ilmu silatnya, sampai-sampai Kok Seng Ya sendiri kalah dengannya.
“Sekarang apakah maksudnya ia datang padaku?” tanya Siau Po dalam hati, Karena
ragu-ragu, ia lalu memerintahkan pelayannya, “Cepat kalian panggil A Sam dan A Liok
berdua datang ke mari”
Maka tak lama kemudian datanglah dua orang yang dimaksud, Mereka adalah Ay
Cun Cia bersama Liok Kho Hian. Keduanya memberi hormat dan langsung berdiri di
samping Siau Po. Maka dengan demikian, hati Siau Po merasa tenang.
Tak lama kemudian datanglah pelayannya dengan membawa nampan dan
menyerahkannya pada Siau Po.
Siau Po melihat isi nampan itu yang ternyata adalah sebuah kotak kecil, Setelah
kotak itu dibuka, tampak sebuah mangkuk putih dengan cawan di dalamnya ada tulisan
yang indah.
“Bagaimana?” tanya Siau Po yang tak bisa membaca dan menulis.
“Mangkuk ini memakai namamu.” kata So Ngo Ta. “Di situ terdapat pujian untukmu
dan pangkatmu terutama pada yang memberikan pangkat Di situ juga terdapat katakata
“Hormat adik Sie Long.”
Siau Po terdiam, sementara otaknya terus bekerja.
“Aku tidak kenal dengan dia, tetapi ia mengirimkan bingkisan padaku, mungkin ia
mempunyai maksud yang tidak baik padaku.” katanya.
So Ngo Ta tertawa.
“Maksud orang itu sudah jelas sekali, Dia bertekad ingin menyerang Taiwan untuk
membalas sakit hati anak dan istrinya, Selama di sini ia sudah sering mendesakku
untuk baginda turun tangan pada orang Taiwan itu, ia telah mengeluarkan uang paling
sedikit dua puluh laksa tail, maka tentu telah mengetahui kalau kau adalah orang yang

paling disayang oleh baginda, Maka jelas sudah kalau ia ingin membaikimu.” kata So
Ngo Ta.
Keterangan itu dapat membuat hati Siau Po menjadi tenang kembali.
“Saudara-saudara dapatlah kalian menerangkan padaku tentang duduk masalahnya
hingga orang itu sangat membenci bangsa Taiwan?” tanya Siau Po pada kawankawannya.
“Sebenarnya orang itu adalah seorang panglima yang paling utama dari The Seng
Kong, akan tetapi ia dicurigai The Seng Kong. untunglah ia dapat meloloskan diri. The
Seng Kong merasa kesal, Maka lalu menghukum mati ayah, ibu, anak dan istri Sie
Long.” sahut So Ngo Ta.
Siau Po diam saja.
“Dia hebat, The Seng Kong yang gagah perkasa itu pun sampai kalah perang
dengannya. jikalau demikian panglima semacam ia tak mungkin aku dapat
menemukannya, Nah So Toako, mari sama-sama kita menjemput dia…” kata Siau Po.
Siau Po dan So Ngo Ta akhirnya pergi menemui tamunya yang berada di ruang tamu
itu.
Tampak Sie Long duduk seorang diri di ruang tamu, ia menolehkan kepalanya ke
arah suara langkah Siau Po dan So Ngo Ta yang datang menghampirinya, Tamu itu lalu
bangkit dan memberi hormat.
“So Tayjin Wie Tayjin Yang rendah Sie Long datang menghadap” katanya.
Siau Po membalas hormat.
“Tak berani aku menerima hormat yang sedemikian besar, Pangkat Ciangkong jauh
lebih tinggi daripada pangkatku, mana dapat aku menerima hormat yang semacam ini?
Nah, silahkan duduk silahkan duduk Kita tak usah sungkan-sungkan” kata Siau Po.
Sie Long memberikan hormatnya seraya ia berkata.
“Wie Tayjin sangat sungkan, itu yang membuat aku kagum, Tayjin masih sangat
muda tetapi telah menjadi seorang bangsawan, kedudukanmu pun sangatlah mulia.
Kemajuan Tayjin sangat pesat, aku percaya tak usah sampai sepuluh tahun lagi, tayjin
akan menjadi raja muda, sebaliknya aku hanya jendral muda, apalah artinya pangkatku
ini?” katanya.
Siau Po tertawa.
“Jikalau datang hari yang dikatakan itu aku sangatlah berterima kasih atas katakatamu
itu.” katanya.

So Ngo Ta juga ikut bicara setelah ia tertawa.
“Oh, Lao Sie” katanya, “Baru saja beberapa hari kau berdiam di kota raja ini,
sekarang kau telah pandai sekali bicara, Kau bukan lagi seperti orang yang baru saja
datang ke tempat ini.”
“Memang Pie Cit seorang peperangan yang sangat kasar dan tak mengenal aturan,
Syukur berkat bimbingan Tayjin sekarang Pie Cit telah dapat merubah semua tabiat
yang jelek dan menghiIangkannya.” sahut Sie Long dengan menggunakan kata Pie Cit
yang artinya orang yang lebih rendah pangkatnya.
“Ya semuanya dapat kau pelajari.” kata So Ngo Ta sambil tertawa dengan tenang,
“Sekarang kau telah mengetahui bahwa Wie Tayjin adalah orang kesayangan raja,
maka kau langsung datang mengadakan kunjungan. Kau memang jauh lebih menang
dari para pembesar lainnya dan para mentri.” katanya pula.
“Di dalam segala hal Pie Cit mengandalkan pada Tayjin berdua dan selama-lamanya
Pie Cit tak akan melupakannya.” kata Sie Long.
Sementara itu Siau Po terus saja memandangi Sie Long, Tamunya itu berusia kirakira
lima puluh tahun namun sorot matanya masih begitu tajam, potongan tubuhnya
sangatlah keren dan licik, tetapi sedikit kucal yang mungkin karena penderitaannya
selama ini.
“Kiranya dialah yang telah membunuh kawanku itu dan menyelamatkan Kek Song
dari dalam peti mati.” kata Siau Po dalam hati. “sebaiknya aku berpura-pura tidak tahu,
aku tak tahu apakah ia mengenali aku atau tidak, yang jelas Sek Lian jangan sampai
tahu akan hal ini.” kata Siau Po dalam hati.
“Hadiah yang kau berikan itu sangatlah bagus dan tentunya mempunyai nilai jual
yang tinggi, namun pada hadiah itu terdapat kata-kata yang..” kata Siau Po.
Nampak Sie Long terperanjat segera ia berdiri.
“Entah apakah yang cacat… tolong Tayjin katakan padaku…” ujarnya dengan nada
memohon.
Siau Po tertawa.
“Cacat pada barangnya sendiri itu tidak ada, tetapi yang aku maksudkan adalah
indahnya barang itu dan mahalnya harganya, di waktu kita menggunakan mangkuk
dalam bersantap, tangan harus bergetar karena takut barang itu pecah dan hancur”
katanya.
So Ngo Ta pun turut tertawa.
Mendengar hal itu Sie Long pun turut bersama mereka tertawa.

“Sejak kapan She Ciangkun datang ke Pakhia?” tanya Siau Po.
“Sudah tiga tahun Pie Cit berada di kota raja ini.” jawab Sie Long.
Siau Po terheran-heran mendengar ucapan Sie Long.
“Sie Ciangkun menjadi laksamana dari pasukan air di Hokkian, kenapa kau tidak
pergi ke sana? Mengapa kau hanya berdiam di sini? Kenapakah? Ah, aku tahu Pasti di
kota raja ini dalam sebuah rumah pelesiran ada yang menjadi sahabat kekalmu dan kau
merasa sangat keberatan meninggalkannya karena dia adalah seorang nona yang
cantik” katanya.
“Ah, Tayjin pandai bergurau sebenarnya baginda memanggilku untuk menjaga dan
mempertahankan Taiwan, Mungkin keteranganku belum sempurna maka belum ada
orang utusan untuk memanggilku kembali hingga aku didiamkan di sini, sekarang aku
sedang menanti perintah apa pun.,.” kata orang itu.
“Sri baginda sangat cerdas, mestilah sekarang ia sedang memikirkan sesuatu hal
yang tepat Maka untuk sementara waktu biarlah kau tetap di sini, nanti juga datang
kesempatan untukmu.” kata Siau Po.
“Pie Cit sangat bersyukur karena Pie Cit lelah mendapatkan pelajaran dari Tayjin ini.”
kalanya dengan hormat “Sebenarnya dalam tiga tahun ini hati Pie Cit merasa kurang
tenang, Pie Cit khawatir telah melakukan sesuatu yang diri sendiri tidak mengetahuinya.
Akan tetapi sekarang mendengar kata-kata Tayjin, hatiku menjadi lega, kiranya baginda
tengah memikirkan sesuatu.”
Biar bagaimana Siau Po gemar akan pujian, maka ia senang mendengarkan katakata
orang itu.
“Sri baginda telah mengatakan, bahwa jika seseorang itu selalu marah, maka orang
itu termasuk manusia yang tak ada gunanya dalam kehidupan. Oleh karena itu orang
semacam itu haruslah diruntuhkan kejumawaannya, Umpamanya, jangan katakan kalau
baginda telah menurunkan pangkatmu itu bukanlah suatu hukuman, sekalipun kalian
dihukum atau dipenjarakan, itu masih termasuk hitungan kalau kau sedang dididik…”
ujarnya.
“ltu benar.,.” kata Sie Long dalam hati.
Akan tetapi Sie Long tetap merasa khawatir, sampai tangannya menjadi basah
karena keringatnya.
“Benar perkataan saudara Wie, memang kalau tidak digosok, mana mungkin batu
kumala akan menjadi batu permata?” kata So Ngo Ta yang turut berbicara.
“Ya…. Ya…” kata si panglima.

“Sie Ciangkun, silahkan duduk” kata Siau Po. “Dahulu Ciang kun pernah menjadi
orang bawahan The Seng Kong, sebenarnya apa sebabnya sampai Ciangkun bentrok
dengannya?” tanyanya kemudian
“Sebenarnya Wie Tayjin,” kata Sie Long. “Pie Cit adalah bawahan The Cie Liong,
ayah dari The Seng Kong, dan baru belakangan pie cit berada di bawah langsung dari
The Seng Kong sendiri itulah sebabnya kenapa di waktu The Seng Kong bentrok aku
pas berada di bawahnya, maka Pie Cit terpaksa turut padanya.”
“Oh, begitu.” kata Siau Po. “Lalu bagaimana selanjutnya?”
“Lalu tiba saatnya The Seng Kong berperang di Hokian, ketika itu tentara Boancu
menyerah dengan menggunakan tipu daya, dan E Mui dapat dirampas. The Seng Kong
menjadi salah tingkah, maju salah mundur salah, sedangkan saat itu aku berada di
sana dan membantunya, kami telah berhasil merampas lagi kota itu.”
“Dengan cara demikian, berarti kau telah membantu banyak pada The Seng Kong,
kau berjasa besar” kata Siau Po.
“Ketika itu, The Seng Kong juga telah menaikkan pangkat Pie Cit Pie Cit juga
mendapat hadiah berbagai macam barang, namun kemudian, karena suatu urusan
kecil, terjadilah bentrokan di antara kami.”
“Urusan apa itu?” tanya Siau Po. “Pie Cit mempunyai seorang anak buah, Pie Cit
menitahkan suatu urusan agar dia menanganinya, tidak tahunya orang ini malas dan
takut mati, Dia pergi ke pegunungan dan tidur di sana selama beberapa hari, Setelah
kembali dia memberikan laporan yang bukan-bukan, Pie Cit merasa keterangannya
tidak beres, karena itu Pie Cit menanyakannya dengan seksama. Akhirnya
kebohongannya terbongkar Pie Cit kesal sekali dan memerintahkan orang untuk
memenjarakannya. Tidak tahunya, pada keesokan harinya, orang ini licik sekali.
Tengah malamnya dia berhasil melarikan diri, dan kabur ke gedung The Seng Kong dan
meratap-ratap di hadapan The Seng Kong dan istrinya dengan mengatakan bahwa aku
memfitnahnya. Hati hujin memang lemah, dia menyuruh orang menyampaikan laporan
anak buah Pie Cit itu dan meminta Pie Cit mengampuninya. Malah aku mendapat
teguran keras dari beliau.”
Mendengar keterangan Sie Long, Siau Po segera teringat kata-kata Tan Kin Lam
tentang wanita itu. Hatinya menjadi panas.
“Oh, si moler tua itu, urusan kenegaraan dia pun mau ikut campur. Orang perempuan
memangnya mengerti apa? Nenek moyangnya, kurang ajar Urusan besar negara bisa
hancur di tangannya Kalau ada anak buah yang bersalah tidak dihukum sebagaimana
mestinya, bukankah setiap orang berani melakukan kesalahan yang sama nantinya?
Kalau begitu, keadilan toh tidak bisa ditegakkan lagi Dasar perempuan hina, tahunya
hanya berpelukan dengan laki-laki muda yang ganteng saja”

Sie Long tidak menyangka kalau Siau Po akan begitu marah mendengar ceritanya,
Dia langsung bersemangat dan menepuk pahanya keras-keras.
“Wi Tayjin benar sekali” katanya, “Wie tayjin sudah biasa memimpin anak buah,
tentunya tahu bagaimana harus bersikap terhadap anak buah yang bersalah”
“Kau tidak usah perduli omongan si moler tua itu. sedangkan anak buahmu yang
kurang ajar itu, tangkap saja dan tusuk sekalian agar mati”
“Ketika itu, apa yang Pie Cit pikir, persis sama dengan pikiran Wie tayjin sekarang.”
kata Sie Long. “Aku berkata kepada utusan Hu Jin itu, bahwa aku si orang she Sie
hanya merupakan bawahan Kok Seng ya. Apa yang dikatakan Kok Seng Ya baru jadi
hitungan. Dengan demikian, aku bermaksud mengatakan bahwa aku tidak perlu
menuruti apa pun perintah hujin.”
Dengan hati yang panas Siau Po menukas. “Betul, Siapa yang menjadi bawahan si
moler tua itu, dia akan sial tujuh turunan.”
So Ngo Ta dan Sie Long merasa geli mendengar Siau Po yang selalu menyebut si
nyonya dengan kata-kata si moler tua. Mana mereka menyangka bahwa hatinya
mempunyai pemikiran yang lain.”
“Si Mo… hujin mendengar hal ini dari Pie Cit, dia malah mengangkat anak buah Pie
Cit itu menjadi pengawal di rumahnya. Di samping itu, dia juga mengatakan, apabila Pie
Cit punya nyali, silahkan datang ke rumahnya dan bunuh orang itu, Hati Pie Cit
langsung menjadi gusar, Dalam keadaan kalap, Pie Cit benar-benar mendatangi
rumahnya, lalu Pie Cit mendatangi orang itu untuk membekuknya dan menebasnya
sekali sehingga jiwanya langsung melayang.”
Siau Po bertepuk tangan keras-keras dan bersorak memuji.
“Bagus Bagus Orang itu memang patut dibunuh Dengan dibunuhnya orang itu, hati
pun menjadi puas, urusan lain belakangan”
“Setelah membunuh orang itu, Pie Cit baru sadar bahwa Pie Cit telah mengundang
datangnya malapetaka, Pie Cit segera menemui The Seng Kong untuk menyatakan
kesalahan Pie Cit pikir, setidaknya Pie Cit pernah mendirikan jasa besar, sedangkan
anak buah Pie Cit itu memang bersalah dan sepatutnya mendapat hukuman mati,
Namun The Seng Kong lebih mendengarkan kata-kata Hu Jin, dia mengatakan aku
telah bersikap kurang hormat dan harus diringkus, Aku pikir Kok Seng Ya berjiwa besar
dan selalu bijaksana.
Mungkin dalam amarahnya, dia akan mengurung Pie Cit selama beberapa hari, tapi
kalau hatinya sudah dingin, aku pasti akan dilepaskan kembali. Tidak tahunya, setelah
lewat beberapa hari, kakekku, adikku, bahkan istriku juga sekalian dibekuknya dan ikut
dipenjarakan.

Ketika itulah aku baru merasakan bahwa urusan ini tampaknya tidak beres, The Seng
Kong memang ingin membunuh aku, dia memang sengaja mencari-cari kesalahanku
agar batang leherku ini dapat dipenggal.
Pie Cit mencari kesempatan ketika para penjaga lengah untuk melarikan diri, Setelah
beberapa hari kemudian, Pie Cit baru mendapat berita bahwa seluruh keluarga Pie Cit
telah dikenakan hukuman mati.”
So Ngo Ta memang sudah tahu sekelumit tentang cerita ini. Tapi dia tidak
menyangka kejadiannya begitu tragis, tanpa dapat menahan diri lagi, ia mengeluarkan
seruan tertahan.
Sedangkan mata Sie Long menjadi merah. Rupanya dia mengingat kembali
kenangan pahit yang pernah dialaminya dulu. tangannya dikepalkahnya kencangkencang.
Siau Po menggelengkan kepala.
Sie Long sebaliknya, ia menggertak gigi.
“Keluarga The itu adalah musuh besarku” katanya dengan sengit “Sayang The Seng
Kong telah mati, sehingga aku tak dapat membalas dendam langsung dengannya,
Sejak itu aku telah mengangkat sumpah berat yaitu akan membabat habis keluarga The
itu.”
Siau Po tahu kalau The Seng Kong menjadi pendekar kebangsaan, akan tetapi di
sana ada Kek Song, bagaikan melupakan sang pendekar ia selalu mengangguk-angguk
dan berkata:
“Dia memang harus dibinasakan, jikalau kau tidak membinasakannya berarti kau
bukanlah seorang laki-laki sejati”
“Sie Ciangkun,” kata So Ngo Ta yang turut berbicara, “Memang tak selayaknya orang
She The membinasakan keluargamu, tetapi disamping itu, Ciangkun justru
mendapatkan untung bagus, karena sekarang kau telah meninggalkan tempat yang
gelap itu dan sekarang berada di tempat yang terang, seandainya tidak demikian
mungkin sekarang ini Ciangkun masih berada di Taiwan, tengah menentang angkatan
perang negara, hingga kau tetap menjadi si pemberontak.”
Sie Long mengangguk. “So Tayjin benar.” katanya.
Siau Po lalu menanyakan, dan menegaskan.
“Setelah The Song Kong membunuh seluruh keluarga Ciangkun, apakah dengan
kemarahan itu Ciangkun langsung, menghambakan diri pada pemerintahan Ceng yang
maha agung?”

“Benar,” katanya, “Sri baginda almarhum baik sekali, aku ditugaskan di propinsi Hokkian.
Budi itu akan kubalas dalam pertempuran aku akan bertempur tanpa memikirkan
jiwaku lagi, Syukur aku telah dapat membuat jasa, maka aku diangkat menjadi Hu
Ciang di kota Tong-an, masih dalam wilayah propinsi Hok-kian itu, Kemudian datang
The Seng Kong menyerang, dan aku menyambut serangan itu dan aku mendapatkan
kemenangan. Karenanya aku diangkat menjadi Tongpeng kota Tong-an itu dan berhasil
merampas kota E Mui, Kim Mui dan Gouw-su, selanjutnya aku bekerja sama dengan
tentara Inggris. Dengan naik kapal dan senjata serta meriam, kami dapat menghajar
The Seng Kong hingga ia lari ke lautan. Sebagai kesudahannya baginda almarhum
mengangkat aku menjadi panglima dari armada di Hokkian dengan gelar Hay Ciangkun,
sebenarnya jasaku itu tidaklah seberapa karena sebagian dari kerjaan Ceng yang maha
agung, serta sebagian lagi atas petunjuk dari banyak mentri, Yang benar adalah jasa
dari So Tayjin dan Wie Tayjin berdua yang jauh lebih besar”
Siau Po tertawa.
“Pandai sekali orang ini mengangkatku” katanya dalam hati, Kemudian Siau Po
bertanya lebih jauh lagi mengenai hal itu.
“Ketika kau merampas kota-kota itu, aku masih menjadi kacung di rumah pelesiran di
Yang-ciu dan sedang repot melayani para tamu, karena kau pernah berada dalam
pasukan The Seng Kong, dan berperang beberapa kali di Hokoan, maka kau pasti
mengetahui banyak tentang Taiwan, Apakah katamu waktu baginda memerintahkan
menyerang pulau itu? Atau bagaimanakah rencana kalian?” tanya Siau Po.
“Aku telah melaporkannya pada yang mulia, bahwa letak Taiwan memencil sendiri di
tengah laut.” katanya, “Bahwa pulau itu sangat baik untuk membela diri, dan tidak dapat
untuk diserang, Lagi-pula para pembelanya terdiri dari orang-orang yang pandai
berperang, Maka jika akan menyerang pulau itu, kepala perang harus diberi kekuasaan
penuh, jangan ada gangguan baginya, Dengan cara demikian barulah kita akan
memperoleh hasil.”
“Apakah dengan demikian kau menginginkan kekuasaan ada pada tanganmu
sendiri?” tanya Siau Po.
“Tak berani aku berlaku demikian.” katanya, “Namun dengan demikian kalau ingin
menyerang Taiwan haruslah dengan tiba-tiba. jarak antara Taiwan dan Pakhia sangat
jauh, jika akan menyerang kita harus meminta ijin terlebih dahulu, itu sangat
memerlukan waktu yang lama, Kalau penyerangan dilakukan secara mendadak justru
dapat menimbulkan kegagalan. Lagi pula di Taiwan itu ada Tan Eng Hoa yang selalu
dipuja-puja serta Lauw Kok Hian yang masing-masing gagah dan juga cerdik, Oleh
karenanya jika melakukan penyerangan secara mendadak kita akan sulit untuk
menang.”
Siau Po mengangguk.

“Kau benar.” katanya, “Sri baginda sangat cerdas, tak mungkin kata-katamu ini tidak
dibenarkannya. Lalu apa lagi yang akan kau katakan?”
“Baginda menanyakan cara untuk

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s