“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 79

yang sangat besar Namun kali ini aku
sedang mencari The Kongcu untuk diajak pulang ke Taiwan, Lebih baik dalam hal ini
kau saja yang menyimpannya, dan nanti jika aku sudah kembali aku akan menemuimu
di Pakhia dan selanjutnya kita bekerja mencari harta itu.”
“Baik, Suhu” jawab sang murid. “Harap suhu dapat segera datang ke Pakhia”
“Kau jangan khwatir Aku pun tak puas karena kita telah dihina oleh raja yang
lainnya, Dan kaisar cilik itu ternyata pandai juga memerintah kerajaan dan itu membuat
kita semakin sulit saja… aku tak menyangka Gauw Sam Kui akan mengadakan
pemberontakan…. Siau Po, kau telah mendapatkan isi kitab ini maka sangat baik bagi
kita”
Melihat keadaan gurunya, Siau Po menjadi senang karena sang guru pun merasa
sangat senang. Hal itu dapat dilihat dengan adanya perubahan pada wajah sang guru.

“Kau memang pandai bekerja, Siau Po” kata sang guru. “Kau memang pantas
menjadi muridku Bagaimana tentang racun yang ada di dalam tubuhmu? Apakah
sudah mendingan?” lanjut nya.
“Bisanya sudah bersih semua, Guru” kata Siau Po memberikan jawabannya. “Aku
telah berhasil memakan obat pemunah dari si Moler tua itu”
“Bagus sekarang kau harus sadar bahwa pada kedua bahumu itu telah terpikul
tanggung jawab yang berat, yaitu merobohkan kerajaan Boan dan mendirikan kerajaan
Beng. Kau harus berhati-hati dalam menjaga diri dan kau harus selalu waspada” ujar
Kin Lam.
“Aku akan selalu mengingat pesan guru, yang sebenarnya dalam memperoleh peta
itu aku mempertaruhkan nyawa ku” kata Siau Po memberikan penjelasan.
Sang guru tersenyum.
“Setelah kau pulang ke Pakhia, kau harus mengunci pintu dan jendelamu. Kau juga
harus menyatukan robekan yang satu dengan yang lainnya dan kau ingat, setelah itu
barulah peta ini kau robek dan robekannya itu kau simpan pada tempat yang berbedabeda,
dan jangan lupa kau harus selalu waspada”
“Suhu benar.” kata Siau Po. “Andaikat aku bermain judi, aku mendapatkan angka
delapan. Maka aku harus mempertahankan agar orang lain tidak dapat melebihiku.”
Kin Lam berpikir orang yang diajak bicara itu ngelantur.
“Kau sudah sadar itu syukur, tetapi kau harus ingat bahwa usaha kita ini tidak dapat
disamakan dengan orang yang bermain judi, Kalau dalam judi ada yang menang dan
ada yang kalah, tetapi dalam usaha kita, kita tak boleh mengalah peta ini diperebutkan
oleh banyak orang, maka kita pun harus mempertahankannya Siau Po, mendengar
beritamu ini aku merasa sangat puas walau pun aku harus mati sekarang aku bersedia.”
kata sang guru.
“Apakah selama di Taiwan Suhu merasa kurang bergembira? Hal itu terlihat dari
wajah Suhu, setahuku sesulit apa pun Suhu tak pernah merasa sedih tetapi mengapa
sekarang Suhu berubah? semua orang sangat menghormati Suhu bahkan Suhu tak
merasa takut pada raja. Dan di dunia ini Suhu hanya menghormati satu orang saja yaitu
The Tay Ongya dari Taiwan mungkinkah?” tanya Siau Po.
Kin Lam menarik napas panjang.
“Ongya sangat menghormati dan menghargai ku. Dahulu aku pernah mendapatkan
pertolongan besar dari keluarga Kok Seng Ya. Maka aku memutuskan akan berbakti
padanya selama aku hidup, Jika ada keluarga The yang mengalami kesukaran, maka
aku akan menolongnya dengan sungguh-sungguh. dan jika aku sudah mati barulah aku
merasa puas, namun kali ini putranya, The Kongya bukanlah putra sejati.”

Siau Po tidak mengerti maksud gurunya.
“Apakah yang dimaksud dengan keturunan tidak sejati?” tanya Siau Po.
“ltu artinya ia bukanlah putra yang dilahirkan oleh Ong-Hui sendiri.” jawab sang guru.
“Dahulu ketika Kok Seng wafat, urusan ini ada sangkut pautnya, sebenarnya Ongya
hui tidak menyukainya, dan ia selalu meminta aku untuk memecatnya dan
menggantikan dengan yang lain.”
Siau Po menggelengkan kepala berulang-ulang.
“Jie Kongcu orang bodoh dan penakut Dia pun masih kalah dibandingkan dengan
Gauw Sam Kui,” katanya, “Tak tepat ia menjadi pengganti dia bahkan si telur busuk, si
dungu, si hina dina.”
Siau Po menjadi sangat sebal, ia teringat pada Jie Kongcu yang telah tergila-gila
terhadap A Ko.
“Siau Po hati-hatilah dengan kata-katamu” Kin Lam menegur Menurutnya kata-kata
Siau Po membuatnya kurang puas, “Bukankah dengan demikian seperti juga kau
tengah mencaci orangnya.,.?” tanyanya.
“Oh.-.” suara Siau Po tertahan “Ya, aku memang tak boleh sembarang bicara.”
ujarnya.
“Kalau dibuat perbandingan di antara dua Kongcu itu,” kata Kin Lam pula, “Benar, Jie
Kongcu tidak dapat dibandingkan dengan kakaknya, Sie Cu. Jie Kongcu lebih tampan
dari kakaknya dan bicaranya manis, karena itu ia menjadi kesayangan neneknya….”
Siau Po menepuk pahanya.
“Sungguh benar kata orang” katanya, “Memang kaum wanita tak mengerti apa juga,
asal ia melihat pria yang kelimis, yang dapat menepuk-nepuk punggung, lalu ia
pandang orang itu sebagai mustikanya.” lanjutnya.
Kin Lam tidak tahu bahwa Siau Po menunjuk pada A Ko. ia menggelengkan kepala
dan berkata, “Dalam hal merubah kedudukan kedua Kongcu itu, buat mengangkat
Siecu yang baru, Ongya memang tidak setuju. Sekalian mentri sipil dan militer juga
menasihati agar Ongya jangan membuat perubahan Namun justru hal itu yang
membuat kakak beradik itu jadi tidak akur satu dengan yang lain, hingga di antara Tay
Hui dan Ongya, ibu dan putra juga terdapat perselisihan pendapat Ada kalanya Ong
Tay Hui sangat mendongkol sampai beliau suka memerintahkan kami untuk
menegurnya….”
Hampir Siau Po mendamprat si Moler tua. “Syukur ia lantas sadar maka ia berkata,
“Nyonya-nyonya agung itu telah bertambah usianya, itu sebabnya mengapa mereka

suka berubah menjadi kurang jauh pandangannya. Suhu, aku rasa dengan berdiam di
Taiwan, hidup Suhu kurang memuaskan, maka menurut aku, kali ini seberangkatnya
Suhu ke utara tak usah Suhu pulang kembali….”
Tan Kin Lam menghela napas.
“Taiwan adalah sebuah tempat yang kecil,” katanya, “Selain itu di sana, di antara
orang-orang istana dan dalam tentara juga tidak ada persetujuan, orang saling
memikirkan kepentingan masing-masing, Maka hidup di sana sangat tidak menarik hati,
Taiwan tak dapat dibandingkan dengan Tionghoan yang luas.
Di sana orang dapat hidup bebas merdeka…. Kendati demikian, jiwakau ini bukan
lagi jiwaku, sudah sejak siang telah aku serahkan pada Kok Seng Ya. Siau Po, kita lebih
baik jangan membicarakan urusan di Taiwan itu, Kau harus tahu, manusia hidup dalam
dunia, siapa menerima budi maka dia harus membalasnya.
Dahulu Kok Seng Ya telah memperlakukan aku sebagai seorang pelajar yang sangat
di hormati, maka sebagai orang yang sangat dihormati aku harus membalas budinya,
sekarang Ongya kekurangan pembantu yang pintar dan bijaksana, karena itu tak dapat
aku meninggalkannya, untuk mementingkan diri sendiri sekarang ini aku pikir, baiklah
aku bekerja terus, kita akan lihat bagaimana kelanjutannya….”
Selesai berkata demikian, pemimpin ini kembali menarik napas pertanda bahwa ia
sangat resah, ia tampak seperti telah tawar hatinya.
Siau Po menyesal, ia tak dapat menghibur gurunya sebab tidak tahu jelas keadaan di
Taiwan itu, Namun kemudian ia pun berkata.
“Sebenarnya kemarin kita hendak membuat The Kek Song menjadi….” Kata-kata itu
diikuti gerakan tangan hendak membacok dan menebas batang leher orang, “Dengan
demikian, bereslah sudah urusan, Akan tetapi Ma Toako mencegah sebab katanya
dengan demikian kita bakal mempersulit Suhu, bahwa nama Suhu dapat tercemar….”
“Memang, itulah namanya membunuh yang dipertuan sendiri,” kata Kin Lam.
“Dengan berpikir demikian, Ma Toako bertindak cepat sekali, seandainya kalian benar
membinasakan Kek Song, mana ada mukaku akan menghadap Ongya, dan dibelakang
hari di alam baka pasti tak dapat aku menjumpai Kok Seng Ya.”
“Suhu,” kata Siau Po yang segera mengalihkan pembicaraannya, “Kapan Suhu akan
mengajak aku pergi pesiar ke Taiwan. Dalam halnya Ong Thay Hui, untuk
menghadapinya aku rasa aku dapat memikir beberapa cara atau jalannya….”
Sian Po ingat halnya ketika ia berhasil menjalani perintah ibu suri palsu, pikirnya, ibu
suri dapat ia tundukkan, apalagi seorang nyonya raja muda…. Seorang Ong Tay Hui….
di pulau kecil seperti Taiwan.
Kin Lam tersenyum mendengarkan ucapan Siau Po.

“Hus, jangan mengaco” tegurnya sambil memegang tangan Siau Po lalu menariknya
untuk keluar dari kamar sisir itu.
Sesampainya di luar, Siau Po lalu berpamitan pada gurunya, Gouw Liok Kie dan Ma
Ciauw Hin, Di waktu ia berangkat, Liok Kie dan Ciau Hin mengantarkan sampai di luar
rumah.
“Saudara Wie,” kata Gouw Liok Kie, “Dengan Song Jie aku telah mengangkat
saudara hingga sekarang kami menjadi kakak beradik.”
Mendengar kata-kata itu, Siau Po dan Ma Ciau Hin terperanjat karena heran, Mereka
menoleh ke arah orang She Gouw dan Song Jie bergantian.
Song Jie menunduk, kedua pipinya menjadi merah karena malu.
Tetapi Liok Kie berkata dengan sungguh-sungguh. “Aku bukannya lagi bercanda.
Adik angkatku adalah seorang wanita yang jujur dan setia yang menang daripada
kebanyakan pria, Dia justru orang dalam kalangan kita, Aku sebagai kakak sangat
menghormati dia. Aku telah menyaksikan kau mengangkat saudara dengan Bie To Ong
Ouw It Cie.
Kalian berdua demikian bersungguh-sungguh dan bersemangat. Aku jadi sangat
tertarik hati, maka aku lantas menurut untuk segera mengajak Song Jie mengangkat
saudara. Mulanya Song Jie merendah, dan menampik dengan keras. Dia bukannya tak
setuju, melainkan karena derajat kami berdua tak sebanding. Aku mengaku padanya
bahwa aku hanya seorang pengemis.
Apakah derajat atau kehormatanku? Mana ada tingkat tinggi dan rendah di antara
kami berdua? Karenanya aku memaksa, Aku berkata, tak dapat kami tidak mengangkat
saudara, Saking terpaksanya adikku itu akhirnya menurut juga.”
Ma Ciau Hin tersenyum.
“Kalau demikian kalian berdua ada dalam kamar itu, apakah di sana kalian
mengangkat saudara itu?” tanyanya.
“Benar…. Benar demikian, hanya adikku mengatakan hal ini jangan sampai orang
lain mengetahuinya, Aku tertawa dan aku katakan bahwa mengangkat saudara itu
adalah mulia, mengapa harus kita tutupi dan harus dirahasiakan?” sahutnya.
“Saudara Wie,” kata Liok Kie pula. “Mulai hari ini dan seterusnya kau harus
memberikan hormat pada adikku dan jangan kau sia-siakan, jikalau suatu saat aku
mendengar kau menyia-nyiakan adikku, aku tidak tahu menahu.”
Song Jie yang mendengar perkataan kakak angkatnya itu menjadi kaget sekali.

“Tidak…. Tidak.,.” katanya dengan cepat “Tidak terjadi hal yang demikian. Wie….
Wie…. Wie Siongkong, ia… ia telah memperlakukan aku dengan baik sekali….”
Siau Po tertawa.
“Tak mungkin aku dapat berbuat kurang ajar padamu dan juga terhadap dia….”
katanya.
Selesai berkata Siau Po tertawa, demikian juga kawan-kawannya.
Setelah selesai mereka semua tertawa, Song Jie memberitahukan pada mereka
bahwa Gouw Liok Kie telah memberikan kenang-kenangan padanya berupa senjata api
pemberian Siau Po itu.
Siau Po menggelengkan kepalanya sewaktu Song Jie akan memberikan senjata itu
padanya.
Setelah itu Siau Po dan gurunya pergi meninggalkan tempat itu untuk menuju
Pakhia, Di tengah perjalanan Kiu Lan sering kali mengajarkan pada Siau Po ilmu silat.
Pikiran Siau Po tidak berada pada ilmu silat ia mempelajari ilmu silat hanya karena
terpaksa, maka tak pernah ia berhasil pada suatu hari Kiu Lan memerintahkan pada
Siau Po untuk menjalankan ilmu silat yang pernah ia berikan itu, ternyata tak ada
kemajuannya,
Menyaksikan hal itu Kiu Lan menarik napas-“Di antara kau dan aku sebagai guru dan
murid, tetapi ternyata kau tak memiliki bakat untuk mempelajari ilmu silat sekarang
begini saja, dalam kalangan partai persilatanku, Tiat Kiam Bun partai ilmu silat pedang
besi. Ada suatu ilmu yang dinamakan Sin Heng Pek Pian. itulah ilmu meringankan
tubuh yang diwariskan oleh guruku yang bijaksana yaitu Bok Siang Tojin, yang
menciptakan sendiri Artinya adalah berjalan bagaikan malaikat dengan seratus
perubahannya, sebenarnya ilmu itu haruslah disertai tenaga dalam yang mahir tetapi
kau tentu tak sanggup mempelajarinya, Maka aku akan mengajarkan padamu sekedar
saja, tetapi ini adalah yang paling perlu, itu untuk menjaga keselamatan dirimu
andaikata dikemudian hari kau mengalami bahaya, kau boleh langsung menggunakan
ilmu ini….”
Siau Po menjadi girang mendengar kata-kata gurunya itu.
“Bagus Suhu, aku percaya setelah aku dapat mempelajari ilmu itu, maka siapa pun
tak ada yang berani mengejarku.”
Kiu Lan menggelengkan kepala, walau bagaimana ia tak akan merasa gembira.
“Sin Heng Pek Pian tak ada lawannya, maka sangatlah disayangkan jiwa kau
menggunakannya untuk jalan lain yang tidak terlalu penting, Namun tak apalah, toh aku
tak memiliki ilmu yang lain…” katanya.

“Tidak apa-apa suhu,” kata Siau Po. “Semoga lain waktu Suhu mendapatkan
delapan murid untuk Suhu wariskan ilmu yang dimiliki Suhu, hingga ia dapat
mengangkat nama Suhu”
Kiu Lan tertawa.
“Sebenarnya tidak selalu orang yang pandai bermain silat itu menjadi orang baik,”
katanya, “Kau sendiri pada dasarnya tidak mempunyai bakat dalam ilmu silat, jadi jika
dipaksakan itu tidak baik. sebaliknya kau lebih suka bergurau, ya biar bagaimana kau
tetap muridku.”
Siau Po merasa sangat girang, Sang guru yang mengetahui tabiatnya dapat
memakluminya, jika orang lain tentulah Siau Po sudah diusir karena tidak sungguhsungguh.
Kiu Lan kemudian memberikan aba-aba, maka pelajaran segera dimulai, Sang guru
melatih muridnya dengan tanpa tenaga dalam.
Siau Po benar-benar luar biasa, Kalau dalam ilmu silat yang lainnya ia bebal. Namun
demikian dengan ilmu silat ini, kali ini Siau Po bangun semangatnya, ia belajar dengan
sungguh-sungguh.
Setiap ada waktu luang, ia tidak menyia-nyiakannya, maka dalam tempo yang
singkat ia dapat menguasai ilmu itu, ini terbukti dengan ia main dengan Cie Tian Cong,
Orang ini sama sekali tak dapat memegang Siau Po hingga ia sendiri merasa kagum
dan memujinya.
Kiu Lan terus mengajari ilmu itu yang membuat sang murid menjadi sangat lincah,
maka setelah memasuki wilayah propinsi Ho-pak Siau Po sudah sangat mahir dalam
menggunakan ilmu itu.
Kiu Lan heran dengan muridnya ini, ia sangat berjodohan dengan ilmu itu. Hal itu di
luar dugaannya, maka pada suatu hari, sambil tertawa ia berkata pada sang murid,
“Kau memang berbakat untuk lari.”
Siau Po tertawa.
“Syukur kali ini aku tidak gagal” katanya. “Suhu, bukankah kakek guru telah
meninggal dunia, dan itu berarti hanya tinggal Suhu saja yang pandai ilmu silat di
kolong jagat ini?”
Kiu Lan menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Siau Po.
“Tak berani aku mengangkat diriku sebagai orang yang terpandai dalam ilmu silat
dan sebenarnya ada satu orang yang paling tepat untuk sebutan itu. Dialah…. Dialah.-.”
kata sang guru yang langsung menyuruh muridnya untuk pergi meninggalkannya.

Siau Po menjadi heran, akan tetapi ia pergi juga dengan perlahan-lahan, Sambil
berkata dalam hati-nya. “Wajah Suhu sangat lain dari biasanya. Apa mungkin orang
terpandai silat itu kekasih nya ?”
Besok paginya Siau Po mendatangi kamar gurunya, Seperti biasanya, setiap pagi si
murid mengucapkan kata selamat pagi pada gurunya, Kali ini si murid sangat heran
karena kamar sang guru itu kosong, Namun sang guru meninggalkan sepucuk surat.
Siau Po lalu membawa surat itu pada Tian Coan untuk minta dibacakannya.
“Sampai ketemu lain kali, jaga dirimu baik-baik”
Siau Po menjadi heran sendiri, apakah gurunya itu tersinggung dengan
pertanyaannya tentang orang terpandai dalam ilmu silat itu.
Perjalanan tetap dilanjutkan maka pada suatu hari tibalah rombongan itu di Pakhia,
Siau Po kemudian menghadap pada kaisar bersama dengan Kian Leng Kongcu.
Kaisar Kong Hie sudah menerima laporan akan kedatangan adiknya dan juga Gouw
Eng Him untuk memecahkan acara perntkahan ia menyambut dengan perasaan yang
girang.
Kian Leng Kongcu menubruk dan memeluk kakaknya, lalu ia menangis seraya
berkata, “Gouw Eng Him, itu adalah binatang yang telah menghina aku….”
Kaisar itu tertawa.
“Kalau demikian anak itu sudah berani kurang ajar,” katanya, “Baiklah aku akan
merotani dia sebenarnya bagaimana hingga hal itu dapat terjadi ?”
“Baiknya koko menanyai pada Siau Kui-cu saja” katanya, “Yang jelas ia telah berani
menghinaku Dia telah menghina adikmu ini Kakak raja tidak dapat tidak harus
memberikan laporan keadilan pada adikmu ini” kata Kian Leng Kongcu.
Kian Leng tidak hanya menangis tetapi juga membanting-bantingkan kakinya, Kaisar
masih tertawa.
“Baik,” katanya, “Sekarang kau kembalilah ke kamarmu untuk beristirahat nanti aku
tanyakan keterangannya pada Siau Kui-cu….”
Setelah itu Kian Leng pergi ke kamarnya, dan sebenarnya semua itu sudah menjadi
rencana mereka berdua, Siau Po lalu memberikan laporannya pada raja, sementara itu
raja hanya diam saja dan kemudian ia berkata, “Oh, Siau Kui-cu sungguh besar
nyalimu”
Siau Po kaget hingga ia terperanjat.

“Budak tak berani” katanya.
“Kau telah bersekongkol dengan putri bagaimana kau begitu berani
mendustaiku”katanya.
“Ti…. Ti… Tidak,” kata Siau Po yang terus menyangkaInya. “Mana berani budak
mendustai Sri baginda raja.”
“Kau katakan Gouw Eng Him telah berani kurang ajar pada putri, dan kau tidak
melihatnya sendiri bukan?” katanya, “Dengan cara apa kau mengetahuinya, kau cuma
mengandalkan keterangan dari tuan putrimu saja? Dan mengapa kau sudah berani
memberikan laporan padaku? Aku tahu itu laporan palsu.”
Siau Po terus saja membela dirinya dalam memberikan keterangan itu, tetapi raja itu
sangatlah cerdik dan sulit untuk diakali.
“Tidak mungkin Gouw Eng Him melakukan hal itu. Di rumahnya terdapat banyak
selir, mana mungkin ia berani kurang ajar pada tuan putri, Memang kau kira aku tak
tahu kalau tuan putri itu mempunyai tabiat yang kurang baik, paling ia telah berselisih
paham dengan Gouw Eng Him dan yang terakhir ia memotong barang Gouw Eng
Him…” katanya.
Mengucapkan kata-kata terakhir ini, mau tidak mau raja jadi tertawa sendiri.
“Mengenai hal itu hamba rasa tuan putri juga tidak menceritakan secara seluruhnya,
karenanya hamba memberikan laporan atas dasar penuturan tuan putri sendiri Apa
yang tuan putri katakan, itulah yang hamba laporkan…” kata Siau Po.
Mau tidak mau raja akhirnya menerima laporan itu.
“Memang benar juga” katanya, “Sekarang kau pergi untuk menyampaikan firmanku
agar dia dapat memilih hari yang paling baik untuk melangsungkan pernikahannya, dan
nanti setelah cukup satu bulan barulah ia boleh kembali ke Inlam….”
Siau Po tidak segera pergi.
“Soal pernikahan itu bukanlah soal penting, yang penting mengenai Gauw Sam Kui
yang akan memberontak itu. Oleh karena itu tuan putri tidak boleh diperkenankan untuk
pergi ke Inlam.” kata Siau Po.
Kaisar mengangguk.
“Jikalau benar Gauw Sam Kui akan memberontak lalu apakah yang dapat aku lihat?”
tanya raja.

Siau Po kemudian menerangkan satu per satu orang-orang yang telah bersekongkol
dengan Gauw Sam Kui, diantaranya bangsa Losat, Mongolia, dan Sin Liong Kauw, Dan
Siau Popun mengatakan kalau ia telah membawa saksi orang Mongol.
Untuk menguatkan keterangan Siau Po mengutarakan hal itu, dia lakukan dengan
berbagai macam cara sampai-sampai ia menipu berpura-pura membinasakan
Khantema.
Kaisar terdiam mendengarkan.
“Sungguh peristiwa yang sangat menarik hati sebenarnya aku belum pernah melihat
sendiri Gauw Sam Kui, Sewaktu kuminta untuk menghadap ia membawa pasukan
perangnya, dan para menteri mencegahnya karena Gauw Sam Kui membawa pasukan
itu dengan alasan pasukan perang tak dapat masuk ke kerajaan, dikhawatirkan ia
mengadakan pemberontakan secara mendadak.” kata sang raja.
“Hal itu dikatakannya menurut kata hati Goh Pay. Khawatir kalau nanti terjadi
perubahan, maka Gauw Sam Kui diijinkan datang hanya beserta putranya saja dan
pasukannya ditinggal di luar kota, Dengan demikian maka apa yang dapat Gauw Sam
Kui lakukan? Mungkin Gauw Sam Kui merasa dicurigai maka ia langsung memberontak
daripada hanya dicurigai Demikianlah sikap dia sekarang ini bukan karena sikap kita
yang dahulu.”
“Apabila dahulu raja memberikan nasihat pada Gauw Sam Kui secara baik-baik,
maka tak mungkin sekarang ia akan melakukan hal itu.,.” kata Siau Po.
Tatkala itu aku masih sangat kecil dan aku belum mengerti tentang kenegaraan. Jika
sekarang aku bertemu dengannya, kemungkinan ia akan mengadakan pemberontakan
sedini mungkin.” kata raja.
Siau Po mengangguk.
Kemudian raja bertanya bagaimana muka Gauw Sam Kui dan gerak geriknya,
“Bagaimana kulit harimau yang berada di dalam kamar kerjanya itu?”
Siau Po merasa sangat heran mendengar pertanyaan sang raja itu, tetapi ia
kemudian memberikan jawabannya dan ia pun menambahkannya.
“Oh, Sri baginda sampai hal yang kecil pun baginda dapat mengetahuinya.” kata Siau
Po.
Kaisar tersenyum, ia terus berbicara tentang Gouw Sam Kui dan juga menantunya
He Kok Siang dan kesepuluh Congpengnya.
Siau Po merasa sangat heran karena kaisar mengetahui hal mengenai Gauw Sam
Kui, sampai hal yang sekecil-kecilnya itu.

“Oh Sri Baginda Sri Baginda belum mengetahui dan belum pergi ke Inlam, tetapi
Baginda telah mengetahui banyak tentang Peng See 0ng. Baginda mengetahui lebih
banyak daripada aku” kata Siau Po.
Setelah berkata demikian Siau Po menunjukkan wajah yang sangat kaget dan ia
berkata, “Sri Baginda entah berapa banyak mata-mata yang dilepas di Kota Kun
Beng….”
Kaisar tersenyum.
“lnilah yang dikatakan tahu diri, jika kita berperang seratus kali maka seratus kali pula
kita akan mengalami kemenangan. Dia akan memberontak maka tidak mustahil jika kita
memperhatikannya, Siau Kui-cu jasamu sangat besar, karena kau telah mengetahui
gerak gerik Gauw Sam Kui yang sekian mata-mataku tak dapat mengetahuinya itu.
Mereka hanya menyelidiki hal yang kecil tetapi tidak untuk hal yang besar dan penting.”
Di dalam hati Siau Po sangat girang.
“Semua itu hambamu mengerti” katanya.
Raja tersenyum karena orang itu telah memujinya.
“Sekarang kau pergi dan bawa ke mari orang Thay-kam itu, aku hendak mendengar
sendiri darinya”
Siau Po lalu pergi untuk menjalankan perintah itu dengan membawa beberapa orang
Sie Wie, untuk mengambil orang Mongol tawarannya itu.
Tak lama kemudian Siau Po menghadapkan orang Mongol itu pada sang raja.
Orang Mongol itu merasa heran karena orang itu dapat berbicara dalam bahasanya.
Maka ia tak ragu-ragu lagi memberikan jawaban secara jelas.
Kaisar memeriksa orang Mongol itu memerlukan waktu yang cukup lama, ia
menanyakan juga berapa hal mengenai hubungan antara Gauw Sam Kui dengan
bangsa MongoI, dan juga kekuatan tentara Mongol itu.
Di samping itu ia juga menanyakan keadaan Bangsa Mongol yang banyak
mempunyai pasukan dari berbagai bendera, yang tidak pernah tenang dan di antara
mereka sering bertempur.
Siau Po diam saja mendengarkan pembicaraan kedua orang itu dan sesekali raja
menganggukkan kepala, lalu terkejut.
Setelah merasa cukup, kaisar itu memerintahkan agar tawanan itu dikembalikan lagi
pada tahanan bawah tanah.

Ketika itu datanglah seorang pelayan dengan membawa minuman, yang kemudian
raja memerintahkannya untuk mengambil satu cangkir lagi untuk Siau Po.
“Terima kasih, Sri Baginda” ucap Siau Po sambil cepat-cepat berlutut dan
memberikan hormatnya.
Selesai minum Siau Po mendengar langkah kaki seorang kebiri yang
memberitahukan tentang kedatangan Tongjo Wan dan Nanhuaijin.
“Ijinkan mereka untuk masuk” kata raja, Tak lama kemudian, datanglah seorang
yang bertubuh tinggi dan besar, kemudian mereka berdua memberikan hormat pada
raja sambil ia berlutut.
Siau Po merasa heran lalu ia berkata dalam hati, “Mengapa ada setan datang ke
istana? Aneh”
Selesai memberikan hormat, orang-orang itu lalu mengeluarkan kitab dan
menaruhnya di atas meja, kemudian yang lebih muda berkata dengan tenang, “Sri
Baginda sekarang kami akan membicarakan tentang tenaga tembak dari meriam besar
itu.”
Kembali Siau Po merasa sangat heran karena orang-orang asing ini dapat berbicara
dalam bahasa Tionghoa dengan lancar.
Kaisar menoleh pada Siau Po kemudian ia mulai memeriksa kitab yang ada di atas
meja itu.
Nanhuaijin berdiri lalu ia menunjuk-nunjuk dengan tangannya sambil memberikan
penjelasan, dan raja selalu menanyakannya jika ada yang tidak dimengerti.
Raja menoleh pada Siau Po, dan ia berkata: “Kau mendengar ada orang asing yang
pandai berbahasa Tionghoa, kau merasa aneh, bukan?”
“Mulanya hamba merasa aneh, tetapi sekarang tidak lagi, Baginda dikelilingi ratusan
malaikat, sekarang Bangsa Losat tidak lagi meremehkan bangsa kita, Thian telah
mengirim orang asing ini untuk membantu membuatkan senjata api guna melawan
Bangsa Losat”
“Sunggun kau cerdik Namun kedua orang itu mengerti bahasa kita karena mereka
belajar. Yang tua berada di Tionghoa sejak jaman kerajaan Beng dan yang muda
adalah orang Jerman dan datang semasa Sri Baginda Sun Tie. Mereka datang untuk
menyebarkan agama kristen, dan untuk itu maka ia harus belajar Bahasa Tionghoa.”
“Oh, begitu, Semula hamba merasa tidak tenang dan sekarang merasa tenang,
karena kita mendapatkan bantuan dari orang asing itu.”

“Bangsa Losat sama dengan bangsa kita, yaitu sama-sama manusia, Maka jika
bangsa itu dapat membuat meriam, kita pun dapat membuatnya juga, hanya dahulu kita
tidak tahu caranya, Dahulu orang Beng juga menggunakan meriam hingga baginda
terluka parah karenanya, dan akhirnya bangsa itu telah berhasil ditaklukkan dan
menjadi bangsa bawahan negara kita. Maka semuanya itu tergantung dengan
manusianya, siapa yang tidak bijaksana maka percuma ia menggunakan senjata yang
hebat sekalipun.”
“Senjata dan meriam itu dibeli dari Bangsa Losat, Maka jika kita membeli senjata dari
bangsa luar tak mungkin ia membeli dan menjual untuk kita, Untuk itu maka kita harus
membuatnya sendiri.” kata raja.
“Sekarang ini kita merasa sulit karena kita harus mencari besi yang terbaik untuk
dijadikan alat” kata raja.
“Dalam hal ini Baginda janganlah merasa khawatir hamba nanti akan mengumpulkan
para pandai besi untuk memilih besi yang terbaik dan mereka langsung
mengerjakannya siang dan maam. Mustahil jika kita mengerjakan siang dan malam tak
berhasil” kata Siau Po.
Kaisar itu tertawa.
“Selama kau berada di Inlam aku telah mengumpulkan para pandai besi dan mencari
besi yang baik, orang-orang asing itu pun selalu mengawasi pekerjaan itu, dan kapan
kau punya waktu untuk melihat pekerjaan itu bersamaku?”
Mendengar hal itu Siau Po merasa senang sekali.
“Sungguh bagus Hanya hamba khawatir kalau-kalau orang asing itu menyimpan
ranjau, Maka sebaiknya Baginda tidak usah pergi ke sana biar hamba saja yang pergi
ke sana…” katanya.
“Mengenai hal itu janganlah kau khawatirkan. Kedua orang itu sangat setia padaku,
tak akan mereka melakukan hal itu pada diriku, Mereka itu sangat mengasihaniku.”
katanya.
“Lihay…. lihay, orang asing itu dapat membuat meriam dan yang satunya dapat
membuat penanggalan, Mereka itu orang-orang hebat, hanya tak pandai untuk mencari
pangkat.,.” kata Siau Po sambil tertawa.
“Memang, kala itu Go Pay yang memegang tampuk pimpinan Dia yang menerima
laporan tentang kesalahan pembuatan penanggalan, dan selanjutnya Tangjoang
dihukum mati sebab telah menyumpahi kerajaan Ceng pendek usianya, Tatkala laporan
itu sampai padaku, aku melihat ada satu kejanggalannya.”

“Pada waktu itu Sri Baginda baru berusia sepuluh tahun, tetapi baginda sudah
secerdik itu, Sungguh luar biasa, dalam usia yang masih semuda itu Baginda sudah
cerdik Baginda adalah kaisar yang tidak ada bandingnya sejak jaman dahulu kala.”
Kaisar Kong Hie tertawa.
“Ah, kau ini Kau tahu sebenarnya soal itu adalah soal yang sangat mudah, Aku
hanya menanyakan pada Go Pay tentang tangal pembuatan kalender itu, Dia tidak
mengetahuinya lalu malah balik bertanya padaku, Setelah aku dapatkan ternyata
tanggal pembuatan kalender itu tahun kesepuluh yaitu masa pemerintahan Sri Baginda
Kaisar Sun Tie. Karena itu dia diberi gelar Tong Hian Kauw Su.
Aku katakan padanya, pada usiaku yang ketujuh aku pernah melihat kitab
penanggalan itu dalam kamar tulis, lalu kutanyakan, mengapa pada saat itu tidak ada
orang yang mengusulkannya, bahwa penanggalan itu tidak tepat? Go Pay tidak dapat
menghukum mati orang itu, yang selanjutnya ia hanyalah dipenjarakan saja.
Perkara itu pun telah aku lupakan hingga sekarang ini Nanhuijin menimbulkan hal itu,
Maka aku lantas mengeluarkan firman untuk membebaskannya”
Siau Po tertawa.
“Jikalau demikian, nanti aku akan membuatnya capai hati Akan aku suruh ia
membuat penanggalan yang baru yaitu Tay Ceng Ban Liak Lek.”
itu artinya penanggalan kerajaan Ceng yang usianya ratusan tahun.
Kaisar tertawa, tetapi sewaktu ia berbicara ia bersikap sungguh-sungguh.
“Menurut sejarah yang pernah aku baca, kerajaan-kerajaan yang telah lalu, ada
kerajaan yang menyayangi rakyatnya, dialah yang hidup lama dan kekal, Sejak jaman
purba orang menyebut raja dengan sebutan Ban Swee, Akan tetapi kenyataannya tidak
sampai selaksa tahun. Apakah kata-kata Ban Siu Bu Kiang? (Sehat walafiat selaksa
tahun).
Itu kata-kata untuk menipu orang. Maka ayah-andaku memesanku untuk melakukan
sarannya, Telah aku pikirkan pesan itu, maka aku mendapatkan kenyataan Dengan
mewujudkan barulah negara kita seumpama negara yang terbuat dari besi. Siau Po
mulai sekarang tak usah lagi kita mengkhawatirkan urusan meriam itu, atau angkatan
perang Gauw Sam Kui.”
Siau Po belum berpikir sampai demikian jauh, sehingga ia hanya mengangguk saja,
setelah itu ia memberikan kitab yang ia ambil dari Gauw Sam Kui. Dengan kedua
tangannya ia menghaturkan dengan sikap sangat hormat, dan ia berkata. “Benar-benar
kitab ini telah ditelan oleh Gauw Sam Kui, si bocah tua bangka itu. Telah hamba
dapatkan kitab ini dari kamar tulisnya terus saja hamba bawa ke mari, hingga sekarang
kitab telah kembali pada pemiliknya.”

Kaisar Kong Hie girang sekali.
“Bagus, memang Bu-houw senantiasa memikirkan tentang hal ini. Kitab ini akan
kupersembahkan kepadanya, lalu kubawa ke Thay Bio untuk dimusnahkan Tak perduli
apa isinya, yang penting selanjutnya tak ada orang yang mengetahuinya lagi.”
Bu Houw adalah ibu raja, sedangkan Thay Bio adalah kuil suci peninggalan leluhur.
“Memang lebih baik kau bakar musnah, itu sama saja dengan seorang pengurus
mayat yang akan menghilangkan jejak supaya tidak ada orang yang mengetahui aku
telah mencuri isinya…” kata Siau Po dalam hatinya.
Setelah menghadap pada rajanya, Siau Po kembali ke tempatnya yang berada di
perumahan raja muda. ia tiba di sana setelah cuaca gelap. setelah memanggil Song Jie,
Siau Po lalu masuk dan mengunci pintu.
“Ada kerjaan untuk kau kerjakan,” kata Siau Po pada Song Jie.
Siau Po lalu mengeluarkan robekan-robekan dari kitab yang sedang dicari orangorang,
kemudian membeberkannya di atas meja.
“Aku minta kau memilih dan mengaturnya dengan rapi dengan yang lainnya sehingga
terbentuk satu lembaran yang utuh.” perintahnya.
Si nona itu mengangguk lalu mengawasi lembaran-Iembaran kertas itu. Kemudian ia
mulai memilih dan menggabungkannya menjadi satu.
Semula Siau Po mengawasi dan turut membantunya, tetapi sampai sekian lama tak
juga selesai sehingga ia merasa ngantuk lalu pergi tidur.
Keesokan harinya Siau Po melihat Song Jie sedang duduk menghadapi meja.
Matanya cekung karena semalam tidak tidur dan terus saja memikirkan peta itu.
Diam-diam Siau Po menghampiri Song Jie lalu menepuk bahunya,
“Hay” tegurnya.
Song Jie melompat.
“Ah kau sudah bangun” katanya, sambil terkejut bukan main. Namun setelah
diketahuinya yang mengagetkannya itu Siau Po maka ia berubah senang.
“Robekan kertas itu sangat menyulitkan orang,” kata Siau Po sambil tertawa,
“Sebenarnya aku tak membutuhkannya sekarang, dan aku tak menyuruhmu melakukan
pekerjaan sedemikian berat, hingga kau lupa tidur. Nah, sekarang cepat kau pergi
istirahat.”

Si nona tidak sungkan.
“Baik,” katanya, “Aku akan membereskannya terlebih dahulu.”
Siau Po kemudian melihat di atas meja telah ada kertas putih yang telah ditusuk
dengan jarum Dengan demikian robekan itu sudah ada yang telah diaturnya, tetapi
belum seluruhnya.
“Telah kau selesaikan belasan lembar” kata Siau Po.
“Ya. MuIanya aku mengalami kesulitan tetapi sekarang ako telah mengerti Dan jika
nanti aku mengerjakannya lagi, aku akan bekerja lebih cepat lagi.” kata Song Jie.
“Robekan kertas-kertas itu banyak sekali manfaatnya, maka kau harus menjaganya
jangan sampai ada orang lain yang mencurinya, Kau jagalah dengan hati-hati” kata
Siau Po pada Song Jie yang sedang merapikan kertas-kertas itu.
“Akan aku jaga kertas-kertas ini dengan baik, dan aku akan tetap selalu berada di
sini. Karena itu semalam aku tidak tidur, khawatir kalau-kalau kertas ini ada yang
mencurinya dariku sewaktu aku tidur.” kata Song Jie pada Siau Po.
“Akan tetapi kau jangan merasa khawatir. Nanti akan kuperintahkan satu pasukan
untuk mengurung tempat ini, dan kau di dalam dengan tenang-tenang saja, karena kau
terus dijaga dari luar.” katanya.
Song Jie tersenyum manis.
“Dengan demikian maka hatiku jauh lebih tenang.” kata Song Jie.
“Sekarang kau cepat tidur” kata Siau Po. “Atau kau aku bopong untuk naik ke atas
tempat tidur?”
Wajah Song Jie menjadi merah karena merasa sangat malu.
“Jangan…. Jangan…. Tak usah itu kurang bagus.” tegas Song Jie.
“Kurang bagus apa? Kau telah membantuku sampai-sampai kau tidak tidur
semalaman. Jadi tak apa-apa jika aku menggendong kau naik ke tempat tidur-.” kata
Siau Po yang terus mendesaknya.
Setelah berkata demikian Siau Po mengulurkan tangannya untuk menggendong
Song Jie, tetapi gadis itu tertawa dan dengan lincahnya ia dapat meloloskan diri sampai
beberapa kali terbebas dari rangkulan Siau Po. Siau Po menjadi penasaran dan
merangkul tak henti-hentinya….
Ternyata Siau Po masih kalah dengan Song Jie dalam ilmu meringankan tubuh.

Akhirnya Siau Po sangat menyesal karena ia tak memiliki ilmu yang tinggi, karena
sangat menyesal itu ia membantingkan tubuhnya di atas kursi.
Menyaksikan hal itu Song Jie tertawa, lalu mendekati Siau Po sambil terus tertawa.
“Nanti aku layani dahulu kau mencuci muka,” katanya dengan manis, “Lalu setelah
kau sarapan pagi baru aku pergi tidur.”
Siau Po hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengucap sepatah kata pun.
Melihat Siau Po diam saja, Song Jie menjadi heran.
“Siongko…” katanya perlahan “Siongko…. Apakah Siongko gusar?” tanyanya.
Siau Po hanya menggelengkan kepala.
“Tidak Aku tidak gusar terhadapmu, aku hanya menyesalkan diriku mengapa ilmu
meringankan tubuhku demikian rendahnya, sangat beda dengan ilmu meringankan
tubuh yang kau miliki sebenarnya guruku telah memberikan pelajaran padaku dengan
baik, namun aku tak dapat menguasai ilmu itu. Lihat saja tadi aku ingin menangkapmu
pun tak dapat Lalu untuk apa aku mempelajarinya?”
Song Jie tertawa.
“Karena kau ingin menggendong aku makanya aku harus berusaha menyingkir
darimu.” katanya dengan manis.
Siau Po tidak meladeni bicara Song Jie, tetapi ia malah merentangkan tangannya
untuk segera merangkul si nona itu. Sambil bergerak ia berkata dengan keras, “Aku
harus dapat menangkapmu…. Harus dapat”
Song Jie tertawa geli sambil berkelit.
Kali ini Siau Po menangkapnya dengan cara curang, maka tidak ayal Song Jie dapat
ditangkapnya, dan berhasil ia rangkul.
Siau Po merasa sangat puas dapat merangkul tubuh itu, Song Jie tertawa melihat
Siau Po bergembira, dan Siau Po mengangkatnya ke tempat tidur Siau Po.
Walau bagaimana wajah Song Jie merah juga.
“Siongko, kau… kau.,.” katanya dengan terputus-putus.
“Kau apa?” tanya Siau Po yang tertawa puas, ia menarik selimut untuk dipakai
menyelimuti Song Jie. setelah itu ia membungkuk ingin menciumnya sambil berkata,
“Lekas rapatkan matamu, dan tidur lah”

Selesai berkata demikian Siau Po lalu meninggalkan tempat itu, setelah itu ia
menguncinya kembali..
Sesampainya diluar, Siau Po memerintahkan mempersiapkan satu barisan pasukan
untuk menjaga Song Jie yang berada di dalam.
Seterusnya, dalam beberapa hari itu Siau Po masih saja sibuk membagikan uang
dan benda-benda sebagai tanda mata dari Inlam kepada selir raja, sejumlah mentri dan
pangeran juga beberapa pemimpin pasukan Sie Wie.
“Jikalau kau memberitahukan ini adalah hadiah dari Gauw Sam Kui maka aku tak
akan mendapatkan nama baik, dan tidak mendapatkan kesan baik dari rakyat di sini.
Bukankah itu pantas? Lebih baik aku sendiri yang mendapatkannya…” ujarnya.
Semua orang yang bersangkutan merasa senang. Mereka semua memuji Siau Po
sebagai orang baik dan bijaksana, Bahkan banyak di antara mereka yang mengatakan
bahwa raja tak salah dalam memilih seorang pembantu kerajaan orangnya baik dan
murah senyum serta pandai membawa diri.
Siau Po setiap harinya repot dengan membagi bagikan hadiah. sementara itu Song
Jie pun tak kalah, ia setiap harinya selalu sibuk dengan robekan kertas-kertas itu.
pekerjaan Song Jie bukanlah pekerjaan yang mudah, melainkan

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s