“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 78

sudilah kau mengampuni selembar nyawaku. Sejak sekarang dan
selanjutnya aku tak akan berani bicara dengan Nona A Ko sekalipun sepatah kata
saja….”
“Bagaimana kalau dia yang bicara denganmu?” tanya Siau Po. Dia masih sengit
sengaja dia menanya demikian.
“Aku tidak akan menjawabnya.” sahut Kek Song dengan janjinya, “JikaIau… jikalau
sebaIiknya….”
Tak tahu anak muda bangsawan itu mengatakan apa.
“Bicaramu bagaikan angin busuk” kata Siau Po keras, “Lebih dahulu lidahmu yang
dibuntungkan, agar kau tak mampu berbicara dengan A Ko.” lanjutnya.

Benar-benar kacung kita menghunus pisau belatinya yang tajam.
“Ulur ke luar lidahrnu” perintahnya bengis.
Kek Song kaget dan takut sekali
“Aku pasti tak akan bicara dengannya.” katanya cepat dan bingung, “Jikalau aku
bicara dengannya, akulah si manusia hina dina…”
Rupanya Siau Po cuma menggertak ia pun khawatir akan ditegur gurunya, Namun ia
ingin mengajar adat, maka sebagai gantinya lidah, ia menebas telinganya hingga ia
kesakitan dan kelabakan.
“Jikalau lain kali kau berani lagi kurang ajar terhadap guruku, serta mencelakai
saudara-saudara seperguruanku, terutama kau berani main gila dengan A Ko.” kata
Siau Po dengan bengis. “Maka akan kau saksikan bagaimana pisauku ini menembus
badanmu”
Selesai berkata, Siau Po lalu melemparkan pisaunya pada kepala perahu itu, maka
di sanalah pisau itu menancap.
“Tidak…. Aku tidak berani… lagi” kata Kek Song yang sedang ketakutan itu.
Kemudian Siau Po berpaling pada Ma Ciauw Hin.
“Ma Toako” katanya, “Dia adalah orang tahanan ke Hou Tong, karenanya silahkan
Ma Toako yang menghukumnya”
Hiocu She Ma itu menggelengkan kepalanya.
“Kek Song Ya dari Taiwan demikian gagah perkasa, maka aneh sekali kenapakah
kau dilahirkan sebagai anak cucunya yang tidak berguna ini” katanya sangat menyesal.
“Dialah anak haram dan bukan daging-daging Kok Song dari Taiwan itu.” kata Siau
Po.
The Seng Kong adalah gelar dari Kek Song Ya. Dia adalah seorang pendekar dari
Taiwan juga pendekar kebangsaan, Namun di mata Bangsa Belanda, dia seenaknya
saja dinamakan “Perampok Cokinga”, Nama itu diambil dari gelar Kok Seng Ya, yang
dalam bahasa Naskmat Tionghoa berbunyi: “KouSingYehZ”
Panas hati Kek Song, mendengar pembicaraan kedua orang itu, tetapi ia tak dapat
melakukan apa-apa. Terpaksa ia hanya menggertakkan giginya lalu menggigit bibirnya
untuk menahan amarahnya, “Jikalau dia dapat pulang ke tempat asalnya di Taiwan,
pasti dia akan mendatangkan bahaya yang besar bagi Congtocu.” kata Gouw Liok Kie.

“Maka itu menurut aku lebih baik dia itu dipotong menjadi dua bagian, supaya kelak
di belakang hari tidak ada ancaman bagi kita” katanya pula.
“Ja… Ja…. jangan” teriak Kek Song yang kaget tak terkirakan karena tubuhnya akan
dipotong menjadi dua bagian, “Tidak…. Tidak…. Tidak akan aku melakukan itu jikalau
aku nanti dapat pulang, aku akan meminta pada ayahku untuk menghadiahkan pangkat
yang tinggi pada Eng Hou Tan Sianseng ya pangkat yang besar dan tinggi.”
“Hm” Ma Ciauw Hin memperdengarkan suaranya yang dingin, “Apakah Congtocu
kami tertarik dengan janji-janjimu itu?” Kemudian dengan setengah berbisik ia berkata
pada Gauw Liok Kie.
“Dialah putra dari raja muda She The dari Taiwan. Aku khawatir jika kita
membinasakannya, nanti Congtoai dapat disebut tidak setia pada negara atau tidak
setia dan tidak bijaksana terhadap negara…” katanya pula.
Thian Tee Hwee dibangun oleh Tan Eng Hoa. Karenanya tltah Kek Song, benar Tan
Eng Hoa menjadi ketua, Akan tetapi dia tetap berpangkat yang masuk bawahan Yan
Peng Kue, raja muda dari Taiwan.
Maka itu, kalau ada orang Thian Tee Hwee yang membinasakan The Kek Song,
meskipun itu Tan Eng Hoa tidak hadir bersamanya dia tidak lolos dari tanggung jawab,
melainkan tetap tersangkut paut.
Mendengar demikian, Gouw Liok Kie menganggap kata-kata orang itu benar maka ia
lalu mengulurkan tangannya, dan memutuskan belenggu pada tangan orang itu seraya
berkata dengan sangat nyaring.
“Nah, pergilah kau menggelinding” Bersamaan dengan itu, ia lalu menggerakkan
tangannya untuk melemparkan orang itu dari atas perahu.
Kek Song sangat kaget dan takut sekali, tubuhnya bagaikan melayang menuju ke
tepian, ia pun berkoak-koak karena percaya, setelah sampai ke darat ia akan mati,
Akan tetapi setelah sampai ke tepian, tubuhnya itu tak mengalami apa-apa, sebab ia
terjatuh pada tempat yang empuk dan licin.
Kecuali rasa nyeri dia pun tak mengalami luka sama sekali. Karenanya ia lalu berlari.
Gouw Liok Kie dan Siau Po tertawa sedangkan Ma Ciauw Hin berkata.
“Manusia ini sungguh telah menjatuhkan nama besar Kok Seng Ya…”
Setelah itu Liok Kie bertanya, “Dengan cara apa dia dapat membinasakan kita dan
mencelakai Congtocu?”
“Panjang keterangan untuk itu.” Berkata Siau Po. “Baik aku akan menjelaskan, tetapi
nanti setelah kita mendarat dan mendapatkan tempat yang aman.”

Selesai berkata, Siau Po menengadahkan kepalanya ke langit.
“Awan hitam berkumpul di sana.” kata Siau Po sambil tangannya menunjuk ke langit
“Mungkin akan turun hujan besar, mari kita mendarat”
Mendengar kata-kata Siau Po, mereka kemudian mengangguk dan mengarahkan
perahunya ke darat.
“Hebat angin ini” katanya, “Mungkin akan turun hujan besar dan sebaiknya kita ke
tengah perahu ini. Di sana kita minum arak selagi angin besar dan hujan besar pula,
pasti kita akan bergembira.”
Siau Po terkejut mendengar ucapan itu.
“Perahu kita ini perahu kecil mana dapat menantang hujan yang besar? Bukankah itu
akan mendatangkan celaka jika perahu kita nanti karam?” kata Siau Po.
Ma Ciauw Hin tertawa, ia lalu mewakilkan yang lainnya untuk menjawab pertanyaan
Siau Po.
“Hal ini tak usah dikhawatirkan” kata seseorang yang mewakili Ma Ciauw Hin.
Si tukang perahu itu memberikan jawaban, setelah itu ia mengarahkan perahunya ke
tengah laut dan memasang layar.
Ketika angin bertiup kencang, perahu itu pun melaju dengan cepatnya menerjang
gelombang yang kecil sampai pada gelombang yang besar.
Siau Po sangat menyesal karena mendapatkan julukan yang ia rasakan tidak enak
didengar, yaitu “Siau Pek Liong” atau si naga putih kecil sedangkan ia tidak pandai
berenang. Dia sangat takut hingga mukanya menjadi sangat pucat pasi. sungguh tak
sesuai gelar “Naga” itu
Liok Kie tertawa melihat kekhwatiran Siau Po.
“Wie Hiocu,” katanya, “Aku juga tak pandai berenang.”
“Apa?” tanya Siau Po heran, matanya dibuka lebar-lebat “Kau pun tak dapat
berenang?”
Orang yang ditanya itu menggelengkan kepala.
“Memang aku tak dapat berenang,” katanya secara terus terang. “Biasanya kalau aku
melihat air, kepalaku langsung terasa pusing.”
“Ha? Lalu mengapa kau justru menghendaki perahu ini dibawa ke tengah laut?”
tanya Ma Ciauw Hin.

Liok Kie tertawa pula.
“Bagiku, segala kejadian di dunia ini, makin itu menakutkan maka aku semakin
senang. Kalau toh perahu kita ini akan karam, paling juga kita semua akan menjadi
setan-setan air. itu toh tak aneh bukan? Bukankah Ma Toako berjuluk See Hay Sin
Kauw, atau si Ular Naga Sakti dari laut barat serta ilmu renangnya yang luar biasa itu?
Ma Toako, mari kita bicara lebih dahuIu, sebenarnya kalau kapal layar kita dan perahu
kita terbalik, paling dahulu kau tolongi saudara Wie, setelah itu baru kau menolongku.”
Ma Ciauw Hin tertawa, dia menganggap kawan-kawannya ini sangat jenaka dan
lucu.
“Baik,” katanya. “Dalam hal ini aku berjanji” Mendengar keterangan kawannya itu
hati Siau Po menjadi senang.
Memang benar, angin itu menghembus dengan sangat kecang sehingga ombak
menjadi sangat deras, sampai suatu waktu perahu itu mendadak seperti terbang, dan
turun bagaikan terbanting sehingga seperti berada di bawah air saja.
Seperti telah direncanakan setelah angin itu bertiup dengan kencang, tak lama
kemudian hujan pun turun dengan derasnya. Ketika itu Tenglong pun tersiram air
hingga apinya padam.
“Celaka…. Celaka…” kata Siau Po yang sedang ketakutan itu sambil berteriak-teriak.
“Jangan takut saudara Wie” kata Ma Ciauw Hin menghibur hati Siau Po yang
bernyali besar tetapi sekarang menjadi penakut itu. “Biar aku nanti yang akan
memegang kemudil”
Ketua She Ma itu kemudian pergi ke belakang, lalu memberikan perintah pada anak
buahnya.
Anak buah kapal itu lalu pergi ke tiang layar, tapi tubuh mereka terhuyung-huyung
karena tertiup angin yang keras itu. Karena ia ingin melindungi diri makanya perahu itu
menjadi miring.
“Aduh” terdengar teriakan Siau Po. “Dasar si pengemis tua Karena ia ingin minum
arak di tengah laut maka aku jadi sengsara begini, di tengah laut dan hujan serta angin
yang sangat kencang Bahkan ia sendiri tak dapat berenang Mengapa ia memilih
perahu kecil ini untuk tempat minum di tengah laut? Apakah ia bersenda gurau dalam
hal ini?” gumamnya.
Ketika itu air hujan telah membasahi tubuhnya sehingga bajunya basah kuyup.
Kembali tubuh perahu itu miring dengan tiba-tiba, kali ini disebabkan kain bendera itu
terlepas dan jatuh, Karena itu Siau Po pun terjatuh karena terkena meja.

“Aduh” teriaknya dalam hati, sehingga ia berpikir “Aku toh tak bersalah padanya
mengapa kali ini ia seakan ingin membuat aku mati tenggelam dalam air? Oh, ya benar
Tadi sumpahku itu bukanlah sumpah lurus, aku seperti ada maksud yang tidak baik
saja Ya, aku telah mempunyai kata Siau Po dalam hatinya.
Mengingat hal yang demikian ia lalu memuji pada yang Maha Kuasa, sepuluh raja
yang dan para Buddista, dan berjanji akan hidup senang dan sengsara bersama
dengan She 0uwnya….
Ketika hujan dan angin turun itu, tiba-tiba terdengar suara Gouw Liok Kie bernyanyi
dengan membuka lebar-lebar kerongkongannya,
“Berjalan di tepi sungai, kepada siapa penasaran akan ditumpahkan selagi air maya
bercucuran dikota yang terpencil sendiri siapakah yang diharap-harap akan datang?
Sampai habis tentara di medan laga berdarah, lolos dari kurungan kota…. Ya, bersedih
untuk negara. Siapa tahu habis bernyanyi kosongkan segala apa-apa….”
Suara nyanyian itu sangat keras hingga hujan dan angin yang bertiup dengan
kencang pun tak dapat mengalankannya.
“Bagus…. Bagus.,.” kata Ciauw Hin di belakangnya dengan penuh rasa kagum dan
gembira.
Siau Po pun tertarik hatinya, hanya ia tak mengerti arti dari nyanyian itu, dan
keadaan di sekitarnya pun tak memungkinkannya, Maka ia pun berkata dalam hatinya,
“Kau mempunyai suara yang baik, mengapa kau tak naik ke panggung dan hanya
bernyanyi di sini? Dengan menjadi anak wayang kau pasti tidak akan mati kelaparan
asalkan kau berani membuka suara, Oh, tuan-tuan dan nyonya-nyonya tolong kau
berikan aku nasi dingin”
Sementara Siau Po berpikir demikian, tiba-tiba terdengar suara dari semak-semak,
namun suara itu sangatlah jelas dan terang sekali. “Semenjak ribuan tahun kerajaan
selatan menjadi sebutan…. Hatinya terluka, air mata berdarah menyiram laut dan sungai
serta gunung”
Juga suara itu tak terhalang hujan dan angin yang berisik itu. itu menandakan bahwa
orang yang memperdengarkan suaranya itu sangat mahir dalam menggunakan ilmu
tenaga dalam.
Siau Po melangkah untuk mendengarkan kata-kata itu dengan lebih jelas lagi, dan
ternyata ia mendengar sapa Ma Ciauw Him “Apakah Congtocu di sana? Ma Ciauw Hin
di sini.”
“Benar ini aku” jawab orang di sana, “Apakah Siau Po ada bersamamu?” tanya
orang di sana.

Mendengar suara itu Siau Po menjadi sangat girang karena ia sangat mengenal
suara itu. itulah suara Tan Kin Lam, ketua pusat Thian Tee Hwee.
“Oh, Suhu.,.” katanya, “Suhu aku di sini.”
Tetapi suara Siau Po tidak disertai tenaga dalam, dan ditambah lagi dengan suara
hujan deras dan angin kencang, maka tak terdengar dari sana.
Ma Ciauw Hin pun segera menjawab.
“Congtocu, Wie Hiocu berada di sini Di sini juga terdapat Gouw Hiocu dari Hongcu
Tong bagian bendera merah”
Bendera merah itu adalah Ang Kie. Jadi itulah Ang kie Hong Sun Tong.
“Bagus.” Terdengar suara Tan Kin Lam nyaring “Pantas suaranya bagaikan sampai
ke langit.
Suara itu mengatakan, bahwa pembicaraan girang sekali
Gauw Liok Kie juga segera mengatakan, “Sebawahan Gauw Liok Kie menghadap
Kongtocu”
“Diantara saudara sendiri janganlah kalian sungkan-sungkan” kata Kin Lam.
Suara itu semakin dekat Ternyata Kim Lan mendekati perahu itu, dengan
menggunakan perahu juga.
Hujan dan angin belum juga reda, Siau Po menongol ingin melihat dari mana asalnya
suara itu.
Tidak berapa lama, sinar api itu pun mendekat bahkan kemudian Tan Kin Lam sudah
berhasil melompat naik ke atas perahu itu.
“Suhu datang aku ketolongan.” kata Siau Po dalam hatinya, ia segera menyambut
dan memberikan hormat pada sang guru.
Tan Kin Lam langsung memegang tangan Siau Po.
“Hujan dan angin sangat besar sekali apakah kau tidak takut?” tanya Kin Lam.
“Syukur tidak,” sahut Siau Po.
Ciauw Hin dan Liok Kie mendekati Kin Lam kemudian memberikan hormat.
“Baru tadi aku tiba di kota. Kabarnya kalian pergi ke sungai, maka aku menyusul ke
mari, Di luar dugaan, hujan dan angin telah turun, jika aku tak mendengar suara kau

bernyanyi maka tak mungkin aku dapat menyusul ke mari untuk bertemu dengan
kalian.” kata Kin Lam.
“Sebawahan malu dengan Congtocu,” kata Liok Kie. “Sebawahan bernyanyi karena
sebawahan sedang mendapatkan kesenangan.”
“Sudahlah Kita semua memanggil saudara saja, dan bukankah tadi Gouw Toako
menyanyikan lagu Toh Hoa San?” tanya Kin Lam.
“Benar, itulah sebuah lagu yang mengutarakan tentang kegagahannya Su Kek Pou,
yang berkorban untuk negara dan bangsa, Lagu ini adalah lagu yang paling aku sukai
dan aku pun menyanyikannya,” kata Liok Kie.
“Kau justru dapat menyanyikannya dengan sangat bagus.” puji Kin Lam.
Tetapi Siau Po berkata dalam hati, “Lagu bagus apa itu justru lagu apes karena aku
mau tenggelam dalam sungai, pergilah kau, aku tak akan menemanimu”
Siau Po berkata demikian karena ia merasa tidak puas terhadap lagu yang sedih itu,
Lagu pengorbanan Su Kek Pou, yang mati di dalam air.
Ketika itu, angin mulai reda, tinggal hujan yang masih besar.
Kemudian Tan Kin Lam berkata pula. “Baru-baru ini dalam perahu di Kee Hin, Kanlam,
aku telah mendengar pembicaraan tuan-tuan Ut Cung Gie, Liu Lian dan Ca La
Hong bertiga, para sastrawan itu membicarkan tentang usaha Gouw Toako, Usaha itu
sangat mengagumkan.
Kita adalah anggota partai, tetapi sayang aku sedang repot jadi aku tak sempat pergi
ke sana untuk menemuimu. Toako sendiri juga sangat sibuk tak ada waktu untuk
datang ke utara, Maka itu, diluar dugaan di sini kita dapat bertemu satu dengan yang
lainnya, Sungguh aku sangat puas”
“Demikian juga dengan adikmu,” kata Liok Kie. “Sejak aku masuk dalam partai,
memikirkan toako, sekarang ini dalam dunia Kangouw terdapat kata-kata “seumur hidup
tak pernah melihat Kin Lam, percuma saja ia menyebut dirinya itu orang gagah dan hari
ini aku dapatkan si gagah perkasa”
Yang dimaksudkan orang gagah ialah “Eng Hiong” seorang yang gagah dan pandai
mencintai negara, pendekar kebangsaan.
“Aku sangat berterima kasih atas kebaikan Kang Ong yang sangat menghargai aku.”
kata Kin Lam. “Sebenarnya penghargaan orang-orang itu membuatku menjadi sangat
malu.”

Gouw Liok Kie sangat menyukai kepribadian ketuanya itu, maka tak terasa ia
semakin asyik saja berbicara dengan sang pemimpin, sampai mereka melupakan angin
dan hujan yang tadi sangat besar itu.
Di saat hujan mulai reda, Tan Kin Lam barulah menanyakan tentang Gouw Sam Kui.
Maka Siau Po memberitahukan pada gurunya tentang hal itu dan bahaya yang
mengancamnya. Dapat dimengerti sang murid pandai menuturkan hal itu yang diantara
kawan-kawannya tak ada yang mengetahuinya.
Tan Kin Lam girang mendengar berita tentang ditawannya si orang Mongol itu,
Namun ia merapatkan alisnya ketika mendengar tentang Gauw Sam Kui yang
bersekongkol dengan negara Losat dan negara-negara lainnya yang ada di Asia bagian
utara untuk menyambut pemberontakan orang-orang She Gouw. Supaya dapat
merampas Kwan Gwa.
“Suhu.” kata Siau Po kemudian “Bangsa Losat itu berambut merah dan bermata biru,
tetapi mereka tak usah ditakuti dan kita tak usah mengawasinya lama-lama. Namun
yang sangat berbahaya itu senjata api mereka, Sebab jika itu sudah digunakan, orang
tangguh sekalipun tak akan sanggup menahannya.”
“Aku justru sedang memikirkan tentang senjata api itu.” kata Tan Kin Lam. “Gauw
Sam Kui telah bentrok dengan bangsa Tangcu, Jika keduanya runtuh itu sangat
menyenangkan bagi kita, karena tanah orang Han dapat diambil pulang, Akan tetapi
menurut laporanmu itu, itulah yang dinamakan di pintu depan mengusir harimau, di
pintu belakang datang srigala, Kita telah dapat mengusir Bangsa Tatcu tapi datang
bangsa Losat, yang lebih berbahaya dari bangsa Tatcu itu. Bagaimana jika mereka
dapat merampas bangsa kita yang indah ini?”
“Apakah sudah tidak ada daya untuk melawan senjata orang Losat itu?” tanya Liok
Kie.
“Jalan masih ada, saudara-saudara tentunya belum mengenal dengan yang satu
ini..” kata Kin Lam.
Setelah berkata demikian Kin Lam memanggil orang yang dimaksud itu, “Hin Cu,
cepat kau ke mari”
“Baik.” jawab orang yang dipanggil itu, Tak lama kemudian datanglah seseorang
yang langsung lompat ke perahu itu dan di depan Kin Lam ia memberikan hormat
sambil tertunduk-tunduk.
Ciauw Him bertiga mengenali orang yang baru saja datang itu, ia berusia kira-kira
empat puluh tahun, tubuhnya kecil dan kurus, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa ia
orang yang sangat cerdik.
“Mari kuperkenalkan kau dengan Gouw Toako dan Ma Toako ini Dan yang ini adalah
muridku seorang Sie Wie.” kata Kin Lam.

Orang itu merangkapkan dua tangannya untuk selanjutnya ia memberikan hormat.
Liok Kie bertiga bangkit dan membalas hormat orang itu.
“Inilah saudara Lim Hin Cu,” kata Kin Lam memperkenalkan orang itu. “Selama di
Taiwan saudara Lim banyak membantu aku. Dahulu ketika Kok Seng Ya melabrak
bangsa Ang Mo dan merampas Taiwan, saudara Lim ini yang banyak jasanya.”
“Saudara Lim pernah menggempur bangsa Ang Mo itu sangat bagus,” kata Siau Po
yang sangat girang mendengar kabar itu. “Bangsa Losat memiliki senjata, demikian
juga bangsa Ang Mo. Dengan demikian saudara Lim telah mempunyai cara untuk
melawan bangsa Losat itu.”
Liok Kie dan Ciauw Hin merasa sangat girang juga mendengar kabar itu, sampaisampai
mereka bertepuk tangan. Mereka mempunyai perasaan yang sama dengan
Siau Po.
“Saudara Wie sungguh cerdas” puji mereka. Sebab Siau Po segera mengingat
tentang orang she Lim yang mengetahui masalah atau hal ikhwalnya senjata api.
Mulanya Liok Kie kurang menghargai Siau Po yang dianggapnya hanya seorang
kacung, kalau mulanya dia bersikap ramah, hal itu karena mengingat bocah itu
merupakan murid Tan Kin Lam, ketua mereka. Namun sekarang, pandangannya
terhadap bocah itu langsung berubah. Dia berpikir dalam hati.
“Bocah ini dapat berpikir dengan cepat sekali Kiranya dia benar-benar mempunyai
kepintaran
Tan Kin Lam tertawa.
“Ketika dahulu Kok Seng Ya menyerang Taiwan,” katanya, “Aku turut bersama
pasukan perangnya. Memang lihay pasukan bangsa Ang Mo itu dan sangat sulit untuk
dilawan, Sewaktu melakukan perlawanan, kami membuat tumpukan tanah untuk
melindungi diri. Kami mengurung bangsa Ang Mo agar tetap berada di dalam kota.
sedangkan pihak kami yang lain memutuskan sumber air yang menuju kota itu. Mereka
kekurangan air sehingga kelabakan dan akhirnya menyerbu ke luar.
Pada waktu siang kami tak mau melayani mereka untuk berperang, namun pada
waktu malam kami baru mengadakan penyerangan dengan snjata golok, tan-ta. dan
tamang, Nah Hincu, tatkala kita akan memimpin tentara berperisai untuk menyerang,
coba kau terangkan bagaimana caranya melakukan itu?”
“Semua itu adalah hasil pemikiran dari Kunsu kami yang pandai dan lihay itu.” kata
Lim Hin Cu. Kunsu itu adalah penasihat pasukan atau otaknya tentara. Semasa di
Taiwan Kin Lam disebut Tan Eng Hoa. Dialah yang menyarankan pada Teng Seng
Kong menyerbu Taiwan dan berhasil Dalam kalangan kerajaan Teng Seng Kong
memanggil Kin Lam dengan sebutan Tan Eng Hoa dan Kun Su.

“Kun Su,” kata Siau Po sambil menatap Hin Cu, namun orang itu malah menoleh
pada Kin Lam, hingga Siau Po pun turut menoleh ke arah gurunya.
Wajah yang dipandang itu tersenyum, hingga si bocah segera mengerti bahwa Kunsu
itu ternyata sang guru, ia menjadi sangat girang hingga terus berkata, “Oh Suhu
Kiranya Suhu adalah Cu-kat Liang, Di jaman dahulu Cu-kat Liang sudah berhasil
melabrak Lam Ban dan sekarang Suhu akan menghajar bangsa Ang Mo”
Cu-Kat Liang adalah tangan kanan Lauw Pie dari sejaman Sam Kok. Dia sangat
pintar dalam mengatur tentara, Maka Siau Po membandingkan gurunya dengan
seorang ahli peperangan dalam jaman kerajaan Han.
Kemudian Lim Hin Cu memberikan penuturannya, “Kok Seng Ya mulai bergerak
pada tanggal satu bulan dua tahun ketiga belas. Pada hari itu mengadakan
sembahyang besar di sungai. Beliau sendiri yang akan mengatur para pembesar sipil
dan para militer serta pasukan tentaranya.
Kami menggunakan kapal-kapal perang mulai berangkat dari teluk Kolo, Pada
tanggal dua puluh empat kami tiba di Peng Ouw, selanjutnya pada tanggal satu bulan
empat kami berangkat ke Lok Cie Bun di Taiwan.
Di luar pintu kota itu terdapat muara dangkal yang luasnya dua puluh Lie. Di situ juga
bangsa Ang Mo memasang rintangan berupa perahu-perahu perang yang
ditenggelamkan guna menutup mulut pelabuhan.
Dengan demikian maka tentara kita akan mengalami kesulitan Mau kata apa dalam
keadaan kebingungan itu, tiba-tiba laut mengalami pasang, air naik tinggi. Tentara kita
sangat girang hingga mereka bersorak sorai bagaikan menggertak langit, lalu maju
dengan cepat.
Mereka semua mendarat di benteng air dan tentara Ang Mo menyambutnya dengan
serangan senjatanya. Dan disaat itu Kunsu memberitahukan kepada kami bahwa jika
kita mundur satu langkah saja berarti kita kecebur ke dalam air dan tenggelam di dalam
laut Karena itu kami harus terus maju. Kata Kunsu, senjata musuh itu hebat dan kita
harus terus maju menyerangnya.
Anjuran itu disambut baik oleh tentara kami. Lalu Kunsu maju di depan untuk
memimpin kami, semakin kami maju, semakin mendengar suara yang sangat berisik
seperti suara guntur tak henti-hentinya.
Asap pun mengepul terus dan hitam warnanya, Lalu satu persatu tentara kami roboh
dan mau tidak mau kami terpaksa harus mundur juga….”
Itulah yang disebut Bangsa Ang Mo menyambut serbuan dengan senjata apinya.”
kata Siau Po. “Sewaktu pertama kali mendengarkan senjata itu, aku kaget sekali.”

“Benar kami kaget sekali” kata Hin Cu. “Dan sewaktu kaget itu kami bingung, harus
berbuat apa.
Tiba-tiba kami mendengar suara Konsu yang katanya, musuh telah menembak satu
kali, sekarang ia tak mengisi lagi senjatanya, maka itu hayo sekarang kita menyerbu
mereka Aku menurut lalu mengajak saudara-saudaraku untuk mulai menyerang
kembali.
Dan benar bahwa musuh sedang mengisi peluru, Ketika kami sampai di sana,
mereka sudah selesai memberikan isi pada senjatanya, Sewaktu mereka menembak
kami lalu bergulingan di tanah, namun banyak saudara yang lainnya mati dan terpaksa
kami mundur lagi.
Syukurlah Bangsa Ang Mo tidak berani mengejar kami. Maka kami sangat rugi
karena beberapa ribu jiwa mati, Kami sangat menyesal dan juga gusar, tetapi kami tak
berdaya apa-apa”
Bukankah dengan demikian Kunsulah yang memperoleh akal yang sempurna itu?”
tanya Siau Po.
“Benar Malam itu Kunsu memanggilku dan menanyakan padaku, katanya, saudara
Lim bukankah kau itu murid persilatan Tee Tong Bun di gunung Bu Le San? Aku segera
menjawab pertanyaan itu, Dan ia bertanya lagi, mengapa tadi siang ketika musuh
berteriak dan memberikan serangan aku malah berkelit Aku sangat malu dengan pujian
Kunsu, sebenarnya aku bukannya takut mati, Baik-lah nanti jika kita bertempur lagi aku
akan maju terus dan tak akan menjatuhkan diri, karena jika hal itu aku lakukan berarti
telah menjatuhkan pamor tentara kita.”
Bagian 60
“Saudara Lim. Aku tahu, guru tentunya tak mengatakan kalau kau itu takut mati,
sebaiknya guru memuji kau yang telah berusaha menyelamatkan diri, pasti guru ingin
meminta diajarkan ilmu itu pada semua saudara-saudara kami Benar bukan?” Kim
Lama melirik Siau Po dan merasa puas, Hin Cu pun menepuk pahanya dan berkata.
“Benar, saudara Wie kaulah murid suhu. Benar-benar guru lihay dan mempunyai
murid yang pandai”
Siau Po tertawa dan balik memuji. “Kaulah bawahan guruku. Memang di bawah
perintah panglima yang gagah, tak akan ada tentaranya yang lemah.”
Mendengar ucapan Siau Po, mereka semua tertawa.
“Memang benar malam ini Kunsu memerintahkan aku demikian.” kata Hin Cu. “Kata
suhu, jangan kau salah mengartikan maksudku. Aku melihat bahwa ilmu berguling itu

dapat dipakai untuk tentara kita, sewaktu musuh menembak, kita menjatuhkan diri dan
dapat mendekatinya dengan cara bergulingan yang kemudian membuat mereka
menjadi habis.
Mendengar kata-kata Kunsu, aku menjadi berlega hati, Sebab dengan demikian aku
tak ditegurnya. Lalu aku berkata, Kunsu, aku pernah mempelajari ilmu Tee Tong Kunhoat
itu. DahuIu guruku juga berkata demikian di waktu berperang, kita dapat
menggunakan ilmu itu untuk mendekati musuh.
Hanya musuh Ang Mo tak menggunakan kuda jadi aku beranggapan bahwa ilmu itu
tak layak untuk digunakan padahal semestinya dapat digunakan untuk membabat kaki
musuh, Bukankah itu sama saja? Ah, benar-benar tumpul otakku Aku tak teringat akan
hal itu.”
Siau Po tersenyum dan dalam hati berkata, “Gurumu telah mengatakan padamu,
sambil berguling kaki dapat membabat kaki musuh, mengapa kau tidak ingat kaki kuda
dan kaki manusia itu sama saja? Benar-benar kau kurang cerdas”
Lim Hin Cu berkata, “Lalu Kunsu meminta padaku untuk mengajarkan ilmu silatku itu.
Kata-nya kepandaianku itu sangat baik, dan kepandaianku itu berkat latihanku selama
sepuluh tahun, itu adalah waktu yang lama, sedangkan kita memerlukannya besok,
mana ada waktu itu untuk mempelajarinya?”
“Ya itu yang biasa dinamakan tidak pernah pasang Hio, sudah kelabakan barulah ia
memeluk kaki sang Buddha, Atau di medan perang baru kita mengasah pedang.
Namun kalau seorang nona mempelai di waktu mau naik joli baru melubangi kuping itu
mendingan daripada tidak sama sekali, atau mengasah pedang diwaktu perang itu
sangat baik daripada tidak menggunakan pedang.”
“Benar, benar demikian,” kata Hin cu. “Ketika itu Kunsu pun berkata demikian
Meskipun penyerbuan kita kali ini gagal, tapi telah membuat musuh kita sangat jeri.
Buktinya musuh tidak mengejar kita sewaktu kita mundur, sebaiknya kita dengan cepat
membuat benteng bawah tanah, dan dengan pasukan panah kita berjaga-jaga kalaukalau
pasukan musuh datang menyerbu kita.
Dan selama itu kalian mendidik pasukanmu ilmu bergulingan untuk membabat kaki
musuh. sekarang ini kita tak memerlukan ilmu itu, tetapi nanti sewaktu kita menghadapi
musuh itu, aku terima titah Kunsu aku akan melatih tentara kita sampai jauh malam,
agar besok pagi jika benar-benar musuh datang, ia akan terpukul oleh pasukan panah
kita.
Setiap serdadu yang sudah dapat menggunakan ilmu itu kita perintahkan untuk
mengajarkan pada yang belum bisa, Dengan demikian maka latihan kita menjadi cepat
ini juga menggunakan tameng kayu untuk menyelamatkan diri dari serangan peluru.”
Siau Po terdiam mendengarkan orang yang sedang berbicara itu,

“Di hari keempat musuh akan datang pula dan menyerang lagi, maka kali ini kita
menyambutnya dengan bergulingan Kita akan bebas dari peluru dan kita dapat
membabat kaki mereka, selanjutnya musuh akan kabur dengan meninggalkan kaki-kaki
mereka, Dan sewaktu kami berperang dengan Tai-wan kami menggunakan cara itu,”
kata Hin Cu.
Liok Kie girang.
“Jika dengan cara itu Kunsu dapat menghajar orang Ang Mo, maka kali ini kita tidak
usah khawatir untuk mengusir orang Losat.” kata Liok Kie.
“Walaupun demikian dahulu dan sekarang itu berbeda,” kata Kim Lan dengan
tenang.
“Dahulu tentara Ang Mo hanya berjumlah tiga sampai empat ribu jiwa, mereka mati
satu berarti hanya kurang satu, sebaliknya Bangsa Losat, jika kali ini bangsa itu
mendatangkan belasan laksa, dengan demikian maka akan berdatangan dengan
jumlah yang sama pula dan terus menerus Dan ilmu berguling itu hanya dapat
digunakan untuk berperang dengan musuh dalam jarak dekat. Namun jika musuh itu
dari jarak jauh dan menggunakan meriam, maka kita pun akan mengalami kesulitan,”
katanya pula.
“Kunsu benar, sekarang bagaimana caranya menurut Kunsu?” tanya Liok Kie.
“Negara Tionghoa sangat luas dan banyak rakyatnya. Maka jika tak ada
pengkhianatannya, maka orang luar akan mengalami kesulitan untuk menyerang ke
sini.” kata Kin Lam.
“Itu benar, negara Tatcu pun dapat merampas negara kita karena mendapatkan
bantuan dari Gauw Sam Kui yang memimpinnya untuk masuk.”
“Dan sekarang bangsa orang Gauw Sam Kui telah bersekongkol dengan Bangsa
Losat, maka kita harus mendahulukan menghajar mereka, agar dengan tidak adanya
bangsa asing sulit untuk masuk.” kata Kin Lam.
“Namun jikalau Gauw Sam Kui itu mati dengan cepat maka dia tak dapat saling
bunuh dengan bangsa Tatcu, dengan demikian keduanya tak binasa bersama-sama.”
“Kau benar juga, namun ancaman bangsa asing itu lebih berbahaya dari bangsa dan
orang-orang Losat yang lihay dalam senjata api dibanding dengan Gauw Sam Kui.” kata
sang ketua.
“Benar, Bangsa Tatcu sama dengan kita, baik itu dari rambut, mata maupun
bicaranya, sebaliknya dengan bangsa asing itu kita tidak sama, apa lagi dengan cara
mereka berbicara, sama sekali kita tak mengerti.” kata Siau Po yang turut berbicara.
Sampai di situ Kin Lam talu menanyakan tentang Kek Song.

Kin Lam adalah utusan raja muda Taiwan, maka ia langsung menanyakan The Kek
Song, untuk diajaknya pergi.
“Kabarnya Kongcu berada di Li Ciu dalam perlindungan seorang yang ahli dalam
ilmu silat, yaitu yang bernama Phang Sek Hoan yang bergelar Poan Kiam Bun Hiat,”
kata Ma Ciau Hin, “Kalau aku mengirim orang ke sana, mungkin mudah mencari tahu
tentang itu.”
Karena adanya Lim Hin Cu, maka ia mengatakannya dengan sangat hati-hati.
Tatkala itu langit sudah terang maka Ma Hiocu berkata, “Kebetulan sekali Kunsu dan
juga Gouw Toako berkunjung ke Liu-ciu. ini kebetulan sekali karena pakaian kita semua
basah kuyup, Maka marilah kita mendarat untuk minum arak untuk melawan serangan
rasa dingin ini.”
Tan Kin Lam setuju.
“Baik sekali.” katanya.
Selama hujan dan angin kencang tadi, perahu sudah terdampar demikian jauhnya.
Maka sewaktu mereka akan mendarat, sampai di darat sudah tengah hari dan mereka
mendarat di pelabuhan semula.
Tampak dari jauh ada orang berlari dengan tubuh yang kecil dan berkata dengan
nyaringnya, “Oh, Siangkong Kau…. Kau…. Kau akhirnya pulang juga.,.”
Ternyata ia Song Jie, yang seluruh tubuhnya masih basah, sedangkan wajahnya
menandakan ia sangat kaget bersama dengan girang.
“Eh, mengapa kau berada di sini?” tanya Siau Po.
“Tadi malam angin dan hujan sangat besar, sedangkan Siangkong pergi dengan
menggunakan perahu, Karena itu hatiku tidak tenang sekali, maka aku selalu
mengharap-harap agar Siangkong dapat kembali dengan tidak kurang suatu apa
pun….” kata Song Jie.
Siau Po menjadi sangat heran.
“Jadi selama itu kau terus menantiku di sini?” tanya nya.
Nona itu lalu mengangguk.
“Ya….” sahutnya dengan perlahan “Karena hatiku tak tenang, aku geIisah….”
Siau Po tertawa.

“Hatimu tak tenang karena kau khawatir perahuku akan terbalik, bukankah
demikian?” tanyanya.
Wajah si nona menjadi merah dan ia cepat-cepat menundukkan wajahnya.
“Aku tahu kalau nasib dari Siangkong selalu saja baik, dan karenanya tak mungkin
perahu Siongkong akan mengalami hal yang kurang baik atau karam.” katanya.
Di saat mereka sedang asyik berbicara tiba-tiba datanglah seorang anak buah
perahu di pelabuhan itu. ia lalu tertawa dan berkata.
“Congya kecil ini tadi malam sewaktu angin dan hujan turun akan menyewa perahu,
ia mengatakan akan menjenguk salah satu orang yang sedang berlayar. MuIanya ia
akan memberikan sewa sebanyak seratus tail, Kami tak ada yang mau, kemudian ia
menaikkan menjadi dua ratus tail dan kali ini ada yang menyanggupi. Namun sialnya,
sewaktu akan berangkat tiang perahu orang yang menyanggupi itu mengalami patah
terkena angin, Maka gagallah pelayaran itu, sehingga tak ada lagi yang menyanggupi
nya dan demikian ia pun menangis….”
Bukan main tergerak hati Siau Po, ia lalu memegang tangan si nona dengan eraterat.
“Song Jie,” katanya dengan suara tergetar “Kau,.,, Kau baik sekali terhadapku.”
Kembali wajah si nona tersipu malu.
Sementara itu orang sudah berjalan demikian jauhnya menuju Ma Ciauw Hin. Di
sana mereka berganti pakaian dan setelah itu Ma Ciauw Hin memberikan laporan
kepada sang ketua.
Kin Lam menerima laporan itu.
“Sekarang ini saudara Ma coba kau kirim salah seorang anak buahmu untuk mencari
tahu The Kongcu” katanya.
Setelah menerima perintah itu Ma Ciauw Hin lalu mengajak para tamunya untuk
bersantap, Kursi pertama Kim Lan, kedua Liok Kie dan Siau Po di kursi yang ketiga,
Akan tetapi Siau Po menolaknya dengan alasan yang tepat, ia meminta agar si orang
Lim duduk pada kursi yang ketiga itu.
Setelah bersantap, Kin Lam mengajak Siau Po untuk berangkat melanjutkan
perjalanannya menuju utara, Siau Po menurut karena ia adalah muridnya dan itu
memang tugasnya.
Tetapi sebelum berangkat, Siau Po memberikan hadiah pada Gouw Liok Kie, berupa
senjata yang diberikan dari Gauw Sam Kui padanya.

Gouw Liok Kie menerima hadiah itu dan ia mengetahui kalau hadiah dari Siau Po itu
adalah senjata buatan Bangsa Losat yang menjadi musuhnya itu.
Setelah itu Gouw Liok Kie mencoba senjata itu dan mengarahkannya keluar jendela.
Maka terdengarlah suara yang sangat keras disusul dengan keluarnya sebutir peluru
panas.
Kemudian Lim Hin Cu berkata, “Senjata api ini jauh lebih baik daripada senjatanya
bangsa Ang Mo.”
Kemudian Gouw Liok Kie mengucapkan kata terima kasih pada Siau Po yang
selanjutnya ia menyimpan senjata itu. Tan Kin Lam yang melihat senjata dan cara
kerjanya itu mengerjitkan alis, dalam hatinya ia berkata,”jikalau senjata Losat
sedemikian hebatnya, dan ia benar datang, maka sukar untuk ditentangnya….”
Siau Po demikian mengeluarkan Gin-pio seharga lima ribu tail dan menyerahkannya
pada Lim Hin Cu, untuk dipakai seperlunya.
Hin Cu terheran melihat anak kecil mempunyai uang yang cukup banyak dan sangat
royal Disaat hendak menolaknya ia melihat Siau Po sudah mengambil uangnya lagi dan
diberikannya pada Ma Ciau Hin.
“Tolong kau terima uang ini untuk mentraktir anak buahmuI” kata Siau Po.
Ciauw Hin heran dan girang demikian ia tertawa.
“Jumlah ini terlalu banyak.” katanya, “Dengan jumlah sebanyak ini orang minum arak
selama satu tahun pun tak akan habis….”
Setelah memberikan uang itu, Siau Po lalu memberikan hormat pada sang guru
sambil ia berlutut.
Sang guru yang melihat muridnya itu demikian pemurah ia sangat sayang, maka ia
lalu berkata pada sang murid itu, “Kau memang sangat baik, tidak kecewa aku
mengangkatmu menjadi muridku.”
Siau Po lalu berdiri setelah ia berlutut di samping sang guru, Si bocah berpikir hadiah
apa yang pantas untuk sang guru, ia diberi uang, sang guru itu pasti akan menolak
Begitu pula kalau diberi batu permata, Lalu apa yang harus diberikan kepada sang guru
itu?
Di saat berpikir keras itu, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Suhu,” kata Siau Po sambil menarik ujung baju sang guru, “Ada satu hal yang akan
aku sampaikan pada Suhu.”
Kim Lan heran tetapi ia harus mengikutinya.

Siau Po mengajaknya ke samping rumah, kemudian mengambil sebuah bungkusan
yang berisi robekan-robekan dari kitab yang orang-orang cari, ia lalu membuka
bungkusan itu satu persatu.
“Suhu Aku tidak mempunyai barang apa pun yang pantas untuk aku haturkan pada
Suhu, maka sudilah kiranya Suhu menerima kertas robekan itu.” kata Siau Po.
Sang guru memperhatikan bungkusan yang sedang dibuka muridnya itu, ia mengira,
pasti isinya adalah barang yang sangat berharga, Setelah selesai Siau Po membuka
bungkusan itu, sang guru menjadi heran karena isi bungkusan itu ternyata hanya
robekan kertas saja, Hal itu membuatnya menjadi heran sekali.
“Barang apakah itu?” tanyanya.
“Inilah halaman-halaman yang telah aku kumpulkan,” kata Siau Po yang kemudian
menerangkan tentang kitab itu.
Mendengar akan hal itu, Kin Lam menjadi tertarik dan juga heran. Siau Po terus saja
menerangkan satu per satu dari pemilik kitab-kitab itu yang semuanya membuat hati
gurunya menjadi bergetar. Sang guru mengetahui bahwa jika kitab itu disatukan maka
akan dapat ditemukan tempat penyimpanan harta karun yang sangat besar.
Sekian lama Tan Kin Lam memperhatikan robekan-robekan itu dan otaknya terus
saja bekerja.
“Siau Po, barang ini sangat luar biasa. Dengan ini kita nanti membawa kawan-kawan
kita untuk mengambil urat nadi naga Bangsa Boan, untuk mengambil hartanya dan kita
gunakan untuk menggerakkan tentara kita.
“Dengan ini kau telah mendapatkan jasa

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s