“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 77

Hoa, “Jlkalau hari ini aku merampas nyawamu mungkin kau
setan sesudah menjadi, kaulah si setan yang tak tahu apa-apa”
Jawab Lie Cu Seng, sederhana saja, “Aku sih orang She Lie, aku telah
membinasakan orang berjumlah selaksa jiwa, mana sempat aku menanyakan mereka
satu demi satu? Maka itu, kau menyerahlah. Dan segera majuIah…”
Suara itu menggelegar bagaikan guntur. Kumandangnya terdengar jauh di sungai itu,
Dan setelah itu tongkat sudah menyambar ke arah si orang she Lie
Lie See Hoa tidak menangkis hanya berkelit sehingga ujung tongkat lewat. Habis itu
barulah ia membabat dengan pedangnya.
Lie Cung mengelit. Tongkatnya cepat ditarik pulang untuk kemudian dibabatkan ke
punggung lawan.
Ketika itu tampak si orang She Lie, Kaki kirinya ditaruh pada ujung perahu, dan kaki
kanannya dibiarkan berada di permukaan air.
“Maju sedikit, mari kita lihat dengan lebih tegas” katanya.
Kemudian si tukang perahu itu menjalankah perahunya.
Kata Ma Ciauw Hin, “Sekarang ada orang yang menggerembengi dia, itu lebih baik
bagi kita.” Terus ia berkata pada si tukang perahu itu, “Lekas berikan aba-aba”
“Baik,” kata si anak buah.
Kemudian anak buah itu mengambil lentera merah dan mengikatkannya pada tiang
perahu itu.
Setelah melihat tanda rahasia itu, samar-samar Siau Po melihat beberapa orang ke
luar dari perahunya masing-masing lalu turun ke air.
“Bagus Bagus” kata Siau Po kegirangan Siau Po tak pandai bermain silat, makanya
bocah itu senang dengan cara keroyokan ia pun percaya, dengan jumlah yang lebih
besar, tentu pihaknya akan lebih berhasil. orang-orang Thian Tee Hwee itu pandai

berenang dan juga menyelam. Secara diam-diam mereka mendekati perahu lawan
untuk memutuskan hubungan satu dengan yang lainnya.
Tiba-tiba Siau Po teringat bahwa dalam rombongan Lie Cu Seng terdapat seorang
nona, maka cepat-cepat ia berkata pada Ma Ciauw Him.
“Ma Toako, dalam rumah kecil itu ada seorang nona, dialah calon istriku, Maka harus
dijaga, jangan sampai ia mati kelelep.”
“Jangan khawatir, Wie Hiocu” sahutnya sambil tertawa, “Saudaramu ini telah
mengatur, di antara orang-orangku ini ada sepuluh orang yang kutugaskan secara
istimewa untuk menolong si nonamu itu, mereka semua pandai berenang dalam air, dan
sangat gesit bagaikan ikan, sekalipun ikan dapat mereka bekuk”
“Bagus…. Bagus” Siau Po memuji saking senangnya, dalam hati ia berkata, “Paling
baik Kek Song yang mati tenggelam dalam air.”
Tampak mereka bergerak perlahan-lahan menuju perahu itu, di atas perahu itu
tampak sinar putih berkelebat ternyata pertempuran tengah berlangsung dengan
serunya.
“Rupanya Lie Cu Seng belum mencapai latihan yang sempurna.” kata Gouw Liok Kie
sewaktu mereka menonton pertarungan itu.
“Dia hanya mengandalkan tenaga besarnya saja, Aku percaya dalam beberapa jurus
lagi Lie Cu Seng akan dapat dikalahkan oleh Lie See Hoa.” Aku tidak percaya kalau
seorang kosen yang ternama itu bakal mati kecewa di sungai Liukang ini.” lanjutnya.
Siau Po tidak mengatakan apa-apa, ia bukanlah ahli dalam ilmu silat ia hanya dapat
mengetahuinya sewaktu Lie Cu Seng semakin terdesak dan terus saja mundur.
“The Kongcu, cepat minta Phang Suhu untuk membantu ayah” Suara itu berasal dari
dalam rumah kecil itu. Siau Po mengetahuinya kalau itu suara A Ko, istrinya.
“Baik.” jawab Kek Song, dan kemudian ia berkata lagi.
“Suhu, tolong bereskan anak yang berada di luar itu”
Begitu suara Kek Song terhenti pintu kamar itu pun terpental .Tampak muncul Phang
Sek Hoan, dengan pedang terhunus.
Ketika itu tubuh Lie Cu Seng sudah terdesak jauh dan kakinya sudah sampai pada
tepi perahu itu, jika ia tetap saja mundur, maka tak ayal lagi tubuhnya akan kecebur ke
dalam air.
Justru itu terdengar teriakan Phang Sek Hoan.

“Hay bocah, akan kutusuk jalan darah Leng tay-hiat yang ada di punggungmu” Dan
benar saja pedang itu sudah mengarah pada punggung lawannya itu.
Lie See Hoa hendak menangkis serangan itu untuk membela diri, tetapi dari arah
wuwungan rumah itu terdengar teriakan, “Hay bocah, aku akan menikam jalan darah
Leng tay-hiat yang berada di punggungmu”
Dan suara itu disusul dengan berkelebatnya satu bayangan putih, sebab sudah
banyak orang yang turun menyerang jalan darah Phang Sek Hoan.
Munculnya orang-orang itu membuat kaget semua orang yang berada di situ. Di luar
dugaan, di atas rumah itu sudah banyak orang yang anehnya dari lawan dan bukan
kawan sendiri Hal itu membuat orang She Phang menjadi bingung.
Phang Sek Hoan tak dapat menyerang Lie See Hoa, maka terpaksa ia harus
memutar tubuhnya untuk menangkis serangan-serangan lawan yang datang secara
tiba-tiba itu, dengan demikian senjata-senjata mereka saling beradu sehingga terdengar
suara nyaring.
Ternyata para penyerang yang datang dari atap itu bersenjatakan sebilah golok.
Kedua-duanya sama-sama mundur, mereka merasa bahwa lawan mereka kali ini
sangatlah tangguh.
“Siapakah kau?” tanya Phang. Orang yang ditanya itu tertawa, “Aku kenal kau
sebagai poan Kiam Yu Hiat Phang Sek Hoan.” jawabnya dengan tenang, “Apakah kau
benar-benar tidak mengenali aku lagi?”
Sekarang Siau Po dapat melihat dengan jelas orang yang berada di atas wuwungan
itu mengenakan baju dan juga kain dari bahan yang kasar. Kepala mereka diikat
dengan sabuk warna putih, pinggangnya terikat ikat pinggang warna hijau dan
sepatunya sepatu rumput.
Dialah orang tani yang telah berhasil membebaskan dari totokannya, rupanya ia
menjadi dendam pada Phang Sek Hoan sehingga kali ini ia datang.
“Tuan, dengan kepandaianmu ini, kau mungkin bukan sembarang orang. Maka itu
aneh mengapa kau membawa dirimu dengan cara seperti ini. Kau seperti main
sembunyi-sembunyian.” kata Sek Hoan dengan terkejut.
“Sekalipun aku bukan orang yang ternama, tetapi aku masih mempunyai harga diri
dan lebih menang daripada Poan Kiam Yu Hiat.” katanya dengan tenang.
Sek Hoan menjadi gusar, maka ia langsung menyerang orang itu secara tiba-tiba.
Si orang tani itu menangkis serangan Sek Hoan dan kemudian dia pun balik
menyerang dengan goloknya.

Nampaknya mereka ingin saling membunuh, tetapi golok telah sampai duluan
daripada pedang, Melihat hal itu Phang Hoan kaget, sehingga ia tak sempat menangkis
serangan itu tetapi ia sempat berkelit melompat ke samping.
Si orang tani yang melihat serangannya itu gagal, terus menyerang lagi dengan
sangat cepatnya yang mengarah pada pinggang Sek Hoan.
Kali ini Sek Hoan sempat menangkis serangan lawan.
Si orang desa itu terus saja menyerangnya dan kali ini goloknya mengarah pada
bahu lawan.
Sek Hoan berlaku tangkas, Sambil menahan serangan lawan, ia pun membalas
serangan dengan tusukan-tusukan pedangnya yang sangat tajam.
Seperti semula, sewaktu Sek Hoan menyerang, si orang desa itu bukanya berkelit
melainkan balas menyerang, Melihat kenyataan itu Sek Hoan kembali berkelit karena
tangannya terancam golok.
Sungguh luar biasa pertarungan itu
Si orang desa yang lugu dan nampaknya dungu itu, sangat lihay memainkan
goloknya. cepatnya sabetan golok bagaikan sambaran kilat maka itu Gouw Liok Kie dan
kawan-kawannya menjadi heran, mereka menonton dengan penuh perhatian
“Tahan” teriak Sek Hoan, ia pun melompat mundur “Oh, kiranya tuan yang terhormat
adalah Peng Seng….”
“Jangan banyak bicara” kata si orang desa itu, “Mari kita bertempur terus”
Kemudian si orang desa itu melompat dan menyerang Iagi. Dalam beberapa kali itu
Sek Hoan tetap saja hanya berkelit
Terdesak demikian Phang Sek Hoan balas menyerang, ternyata ia pandai juga
dalam memainkan senjatanya, Dengan memusatkan perhatiannya, ia berhasil
mengimbangi kegesitan lawannya, sehingga orang desa itu tak dapat berbuat seperti
semula.
Sering senjata mereka beradu sehingga terdengarlah suara nyaring yang berasal
dari senjata yang beradu itu, dan mereka masing-masing berkelit dari serangan lawan.
Di lain tempat terlihat Lie Cu Seng yang bertempur dengan Lie See Hoa, si orang
She Lie terus saja bertahan, A Ko bersama The Kek Song, dengan senjata di tangannya
siap membantu kawan-kawannya.

Setelah bertempur cukup lama Lie See Hoa menggunakan tipu silat, “Go In Hoan”
Awan Timur Berbalik, suatu jurus turunan dari Yan ceng salah seorang pendekar dari
gunung Liang San pada jaman kerajaan Song.
Sambil melakukan tipu silat itu ia berkata, “Hari ini kau tak akan hidup lebih lama”
katanya.
Mereka yang menyaksikan hal itu merasa heran, terutama A Ko dan Kek Song,
Mereka menjadi heran hingga tak sempat memberikan bantuan.
Tiba-tiba saja terdengar bentakan dari Lie Cu Seng, yang matanya melotot dan
suaranya mengguntur, membuat orang yang berada di situ menjadi ketulian, sedangkan
Lie See Hoa menjadi kaget sehingga senjata yang berada di tangannya terlepas, justru
itu Lie Cu Seng mengambil kesempatan itu, ia lalu menendang Lie See Hoa, membuat
orang yang ditendang itu menjadi terjungkal balik, sedangkan tongkat Lie Cu Seng
sudah siap untuk menyerang dada lawannya.
Dengan demikian pertarungan akan segera berhenti Lie See Hoa akan menemui
ajalnya bila Lie Cu Seng mengayunkan tongkatnya.
“Asalkan engkau mengaku kalah aku akan mengampuni selembar nyawamu” kata
Lie Cu Seng.
“Cepat kau bunuh aku Aku tak dapat membalas sakit hati ayahku, mana aku
mempunyai muka denganmu? Lebih baik aku mati daripada hidup harus menanggung
malu” katanya.
Lie Cu Seng tertawa.
“Apakah kau orang She Lie dari HoIam?” tanyanya.
“Ya.” sahut See Hoa. “Sayang di antara orang She Lie telah terlahir kau, orang yang
picik dan tak lapang dada, sehingga kau menjadi manusia pengecut yang gagal
membangun hal yang terbesar” Hati Lie Cu Seng bergetar, ketika See Hoa berkata
demikian, maka ia pun bertanya, “Lie Gam Lie Kongcu pernah apakah denganmu?”
“Dia ayahku” jawab Lie See Hoa, “Seumur hidupku, perbuatanku yang paling
bersalah adalah mencelakai ayahmu.” kata Lie Cu Seng. “Kau mengatakan aku si
pengecut yang tidak berhasil berusaha besar itu tidaklah salah Kau sekarang hendak
membalas sakit hati ayahmu itu pun sudah selayaknya dan pantas sekali, Seumurku,
aku telah membinasakan berlaksa-laksa jiwa. semua itu tak dapat masuk dalam pikiran,
akan tetapi sewaktu ia membunuh ayahmu aku sangat malu.”

Bagian 59
Berkata demikian maka Lie Cu Seng mengambil tongkatnya dan membuang tongkat
itu ke sungai, sehingga terdengar suara yang sangat berisik.
Justru itu, mendadak dia muntah darah, “Jikalau kau menyesal dan malu sendiri, itu
terlebih baik daripada aku harus membunuhmu.” kata Lie See Hoa, yang terus pergi
menjauh dari tempat itu.
“Ayah” teriak A Ko memanggil ayahnya yang sedang muntah darah, gadis itu
mengulurkan tangannya untuk memapah ayahnya naik ke perahu.
Lie Cu Seng yang dipanggil itu tetap saja pergi tak menghiraukan panggilan putrinya
dan kemudian menghilang.
A Ko sangat bingung, dia lalu menoleh ke belakang.
“The Kongcu,” katanya, “Ayahku,., dia… dia,., telah,., per… pergi…” yang lalu ia
menangis dan berlari ke arah anak muda itu membuang diri dalam rangkulannya.
Kek Song memeluk anak Lie Cu Seng dengan tangan kirinya sedangkan tangan
kanannya digunakan untuk mengusap-usap rambutnya.
“Ayahmu sudah pergi, biarlah” katanya dengan lembut, “Di sini ada aku yang akan
menjaga dirimu.”
Baru pemuda itu berkata demikian, ia kaget bukan main karena getek yang mereka
tumpangi sudah bergerak satu dengan yang lainnya, belum sempat mereka berbuat
sesuatu mereka berdua sudah tercebur ke kali.
Itulah hasil kerja orang-orang Kee Hou Tong yang ditugaskan untuk menyelusup
merusak getek itu dengan cara memutuskan tali-tali yang dipakai untuk mengikat tali
yang satu dengan tali yang lainnya.
Phang Sek Hoan pun kaget, lalu berlompat ke arah kayu yang besar. Orang desa
yang menjadi lawannya pun ikut dengannya dan langsung menyerangnya dengan
membacokkan goloknya dan terpaksa ia harus meladeninya.
Kali ini kedua orang itu bertarung dalam posisi yang kurang baik. sedangkan
kumpulan getek itu pun sekarang sudah hancur berantakan terpisah antara satu dengan
yang lainnya.
Perlahan-lahan sisa getek itu hanyut.

Tepat pada saat itu, Gouw Liok Kie teringat sesuatu, hingga ia berseru. “Oh sekarang
aku baru ingat saudara itu adalah Pek Seng To Ong Ouw It Cie Dia… dia Mengapa dia
berubah demikian rupa? Cepat…. Cepat susul mereka”
“Out It Jie.” Ma Ciauw Hin mengulangi kata-kata itu. ia seperti baru ingat akan
sesuatu, “Bukankah ia yang bergelar Bie To Ong? Dia tersohor karena ketampanannya,
si ganteng nomor satu dari rimba persilatan, mengapa sekarang ia menyamar sebagai
pak tani tua?”
“Bie To Ong” itu berarti raja golok tampan sedangkan Pek See To Ong adalah raja
golok yang selalu menang.
Ma Ciauw Hin berpikir lain.
“Cepat kalian kirim bantuan yang lebih banyak untuk menolong nona A Ko” katanya.
Baru saja kata-katanya itu diucapkan, tiba-tiba dari dalam air muncul dua orang yang
membawa tubuh A Ko yang basah kuyup dan salah satu di antara mereka berkata.
“Inilah yang wanita berhasil kami tangkap” kata salah satu di antara mereka.
Tak lama kemudian timbul lagi salah satu dari mereka dengan membawa tubuh
seorang laki-laki seraya ia pun berkata, “lni dia yang laki-laki….” Dan dia menarik kuncir
Kek Song, tetapi mendadak pemuda itu berontak, hingga yang tertinggal hanya
kuncirnya saja yang ternyata kuncir palsu.
Melihat hal itu mereka semua tertawa, dan tiga orang dari mereka mengejar Kek
Song yang berusaha kabur.
Melihat A Ko dapat ditolong, hati Siau Po merasa girang, sambil tertawa ia pun
berkata, “Cepat kalian lihat pertempuran itu”
Gouw Liok Kie lalu mendesak orang untuk mendayung perahunya mendekat dengan
perahu orang yang sedang bertempur.
Berbicara mengenai pengalaman dan kepandaian ilmu mereka berdua sama-sama
tangguh, Hanya sekarang Sek Hoan merasa sesak pada dadanya, sebab sebelumnya
ia telah bertempur dengan Hong Cie Cong dan Hian Ceng Tojin.
Mereka itu sangat lihay menggunakan ilmu tenaga dalam, sehingga sewaktu Sek
Hoan bertempur yang cukup lama, rasa nyeri itu datang dan ditambah lagi dengan
tempat mereka berpijak cukup sulit.
Di pihak lain, lawan telah menyerang dengan mati-matian. Hanya saja cara
menyerang Pek See To Ong lain dengan cara orang yang perang karena takut mati ia
melakukan pertempuran dengan hati-hati dan sempurna.

Yang sangat menakutkan Phang Sek Hoan adalah perahu-perahu kecil yang cukup
banyak serta mendekati mereka yang sedang bertempur. Ditambah lagi dengan salah
satu perahu yang ditumpangi si pengemis tua yang dia temui dalam rumah judi itu.
Bacokan demi bacokan dapat dihindari oleh Phang Sek, namun selanjutnya Pek
Seng To Ong menggunakan taktik lain, sebab bacokan yang pertama tidak mengenai
tubuh lawan, melainkan meleset dan membentur kayu yang diinjak lawannya, dengan
demikian kayu itu bergulir dan lawan jatuh ke air.
Melihat hal yang demikian, Pek Seng To Ong tidak tinggal diam. ia terus melakukan
serangannya, malah kali ini ia melemparkan goloknya ke arah lawan, Lawan yang
sudah tercebur itu cepat menangkis serangan Pek Seng To 0ng. Kaki yang satu dipakai
untuk menggerakkan kayu, sedangkan tangannya digunakan untuk menangkis
serangan lawan.
Mengalami hal yang demikian Phang Sek Hoan merasa bingung, maka ia mengambil
jalan pintas yaitu menyelam, Pek Seng To Ong yang melihat lawannya pandai
menyelam dalam air dia menjadi ciut juga.
Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari Gouw Liok Kie, “Nama Pek Seng To Ong
bukan nama kosong belaka Hari ini aku menyaksikan pertempurannya, sungguh
mataku terbuka Tuan silahkan kau naik ke perahu kami Bagaimana jikalau kami
mengundang tuan untuk minum arak?”
“Aku mengganggu saja” sahut Pek Seng To Ong sambil menjejak sisa geteknya itu
untuk mendekat pada perahu itu. Dia datang tidak membuat perahu itu tenggelam
barang sedikit pun bahkan menggoncangkannya pun tidak, hal itu disebabkan Ken Sin
Sut atau ilmu peringat tubuh orang itu sudah mencapai tingkat sempurna.
Siau Po yang tidak mengetahui ilmu persilatan diam saja tidak merasa kagum,
sedangkan Gouw Liok dan Ma Ciau Hin merasa sangat heran, Gouw Liok Kie lalu
memberikan hormat, “Aku yang rendah ini ingin memperkenalkan diri, namaku Gouw
Liok Kie dan ini saudaraku Ma Ciauw Hin sedangkan yang satunya Siau Po. Kami
semua dari Thian Tee Hwee” ujarnya.
Pek Seng To Ong mengacungkan jempol “Hebat saudara Gouw” katanya memuji,
“Kalian berada dalam Thian Tee Hwee. Hal ini harus dipegang rahasianya, sebab satu
kali saja rahasia itu bocor maka seluruh keluarga kalian akan mati semua, Hari ini kita
baru saja bertemu, tetapi kalian sudah tak mau merahasiakan sesuatu apa pun padaku
Sikap gagahmu itu membuatku sangat kagum.”
Siau Po dan kawan-kawannya tertawa, “Bukankah jika aku tak memberikan
kepercayaan pada tuan aku akan menjadi manusia yang hina dina?” katanya.
“Selama beberapa tahun ini aku menyembunyikan diri dengan cara bercocok tanam
sayuran,” katanya, “Selama itu aku tak lagi mencampuri urusan di dunia sungai telaga,

dan tak tahunya hari ini aku dapat berkenalan dengan kalian sebagai sahabat
istimewaku.”
Lalu keduanya bergandengan tangan sambil memasuki gubuk perahu itu.
Terhadap Siau Po dan Ma Ciauw, ia hanya mengangguk saja. Rupanya terhadap
mereka berdua ia tak menaruh simpatik.
Siau Po sangat bersyukur ada orang yang dapat mengalahkan guru Kek Song.
“Ouw Taihiap telah menghajar guru Kek Song hingga ia tercebur dalam sungai,
dengan demikian segala ikan dan binatang laut akan menggigitinya, hingga hancur
lebur” ujarnya.
Out It Cie tersenyum.
“Wie Hiocu, kepandaianmu dalam bermain dadu juga tak dapat dianggap enteng.”
ujarnya.
Siau Po yang mendengar orang menyindirnya yang mengatakan bahwa ia hanya
pandai main dadu sedangkan dalam ilmu silat tidak ada sama sekali maka itu ia pun
berkata.
“Kami bekerja sama dan telah memenangkan tidak sedikit uang si kate, Andaikata
Ouw Tayhiap menginginkannya, sekarang juga akan kuberikan.”
“Wie Hiocu jika nanti kita bermain lagi, aku tak ingin jika kalian main dengan
kawanan, sebab jika hal itu terjadi, aku tak akan menang.” ujar It Jie sambil tersenyum.
Ma Ciau Hin memerintahkan orang-orangnya menyediakan arak untuk minum di situ,
Baru saja meminum satu cawan, tiba-tiba sebuah perahu kecil menghampirinya dan
memberikan Iaporan.
“Muda mudi yang berada dalam perahu getek itu sudah dapat ditolong dan sekarang
mereka sudah diikat, tinggal menunggu keputusan dari Hiocu” katanya.
Mendengar laporan itu Ma Ciauw Hin tertawa.
“Terhadap nona itu kalian jangan berani kurang ajar. Si nona itu yang nantinya calon
istrinya Hiocu Begitu juga terhadap prianya.” ia menoleh pada Siau Po sambil tertawa.
“Gaplok dahulu barang tiga kali baru setelah itu kalian gantung dan ingat jangan ganggu
jiwanya”
Siau Po balik menoleh.
“Ah, sungguh Ma Toako saudaraku yang mengetahui kebaikanku” ujarnya sambit
tertawa.

Out It Jie menenggak araknya lalu berkata.
“Hari ini kita bertemu dan kita akan menjadi bagian sahabat lama, Jadi tentang diriku,
aku tak dapat merahasiakannya. Akan tetapi berbicara mengenai itu, aku menjadi malu
sendiri…. Selama dua puluh tahun lebih aku mengundurkan diri dari dunia persilatan
aku terus menyendiri di luar kota Kun Beng, itu hanya untuk seorang wanita….”
“Dalam nyanyian Tan Wan Wan ada kata-kata yang mengatakan seorang gagah
banyak menyinta, karena kau gagah dan perkasa juga maka tak heran kalau kau juga
penyinta,” kata Siau Po.
Mendengar perkataan Siau Po, Gouw Liok mengernyitkan alisnya.
“Ah, anak kecil kau tahu apa” katanya dalam hati.
Di luar dugaan, maka It Cie tampak berubah yang akhirnya ia berkata dengan sangat
pelan, “Seorang gagah perkasa banyak menyinta,.. itulah syair bagus dari Gouw Bwee
Cun. Akan tetapi orang macam Gauw Sam Kui bukankah orang gagah? Dia pun tak
banyak menyinta, ia hanya orang yang rakus paras elok.”
Dia menghela napas berat “lstrinya yang mengenal usaha besar” Kemudian ia
menambahkan pada Siau Po. “Wie Hiocu selama di kuil Sam Seng Am kau banyak
mendengar lagu Tan Wan Wan. Sungguh telingamu besar rejekinya, Aku yang tinggal
bersamanya selama dua puluh tiga tahun, mendengar lagu itu baru tiga baris, mengenai
baris terakhir itu aku dapat bantuanmu….”
Siau Po heran hingga ia menatap.
“Kau berdiam di sisinya selama dua puluh tiga tahun? Apakah kau menjadi kekasih
Tan Wan Wan?” tanyanya.
Orang itu tersenyum sedih.
“Sebenarnya ia memandang padaku pun tak pernah Selama tinggal di wihara itu,
kerjaku menanam sayur dan menyapu rumput atau mencari kayu dan mengambil air,
dan kemungkinan ia menyangka kalau aku adalah seorang petani biasa.”
Siau Po merasa heran maka ia pun bertanya.
“Ouw Tayhiap, ilmu silatmu demikian lihaynya, mengapa kau tidak mendapatkannya
dengan cara memeluknya dan membawanya pergi?”
Mendengar pertanyaan itu, muka dan sorot mata It Cie menjadi menyeramkan,
hingga Siau Po menjadi sangat takut sehingga cawan yang berada di tangannya
menjadi jatuh, Sang kosen yang melihat hal itu hanya dapat tertunduk dan menghela
napas saja.

“Pada suatu hari aku kebetulan bertemu dengan Tan Wan Wan. Kemudian aku
menjadi penasaran dengannya, Setiap hari aku hanya melamun dan aku mengambil
keputusan untuk turut dengannya kemana pun ia berada, Sewaktu ia berada dalam
istana Peng See Ong, aku melamar menjadi tukang kebun dan tukang mencuci
rambutnya, hingga ia pindah ke wihara itu aku pun ikut pindah dengan nya, dan di sana
aku menjadi tukang masak dan tukang kebunnya. Tatkala itu tak ada maksud lain dariku
kecuali ingin melihat wajahnya yang cantik dan manis itu saja. itu saja sudah membuat
aku… aku… aku puas. Mana berani aku melakukan perbuatan yang tidak-tidak
terhadapnya” katanya.
“Jikalau demikian dalam hatimu kau sangat menyintainya, Selama dua puluh tahun
lebih itu apakah ia mengetahui kau yang sebenarnya dan juga hatimu itu?” tanya Siau
Po.
“Aku khawatir rahasia diriku itu akan terbongkar maka setiap hari aku jarang
mengucapkan kata-kata, terutama di depan dia. Mulutku membungkam selama dua
puluh tiga tahun itu bagaikan orang bisu. Paling juga aku hanya mengucapkan kata
sebanyak empat puluh sembilan kata terhadapku katanya.
“Ouw Toako, orang-orang dengan sifatnya ada yang doyan judi ada yang doyan ilmu
silat dan juga yang suka wanita.,., Tan Wan Wan adalah wanita tercantik di kolong jagat
ini. itu sangatlah wajar Akan tetapi yang utama kau harus dapat mengendalikan
nafsumu dan kau harus dapat menghormati kesuciannya. Saudara, aku ingin bicara
denganmu dengan membesarkan keberanian, apakah kau mau mendengarkannya?”
“Silahkan saudara Gouw” katanya, “DahuIu Tan Wan Wan itu cantik, tiada lawan,
akan tetapi sekarang ia sudah tua, pipinya keriput, Aku pikir…”
“Cukup saudara Gouw, setiap orang mempunyai pikiran masing-masing. Aku
memang si orang tolol, Saudara, jika saja kau bukan sahabat…. Baiklah, sampai di sini
dulu” katanya dengan kesal.
Melihat kenyataan tamunya itu merasa tidak senang karena nada bicara tuan rumah
itu sangat merendahkannya, maka ia pun menerangkan tentang kecantikan Tan Wan
Wan pada mereka yang berada di situ.
“Jangan kalian heran dengan kecantikannya, Bila kalian telah melihatnya, maka
kalian akan mabuk kepayang, jangankan baru jadi tukang sapu atau tukang kebun,
hendak dibunuh juga kita masih senang asalkan kita dapat perhatian darinya.” kata Siau
Po untuk meyakinkan kawan-kawannya itu.
Setelah menceritakan tentang kecantikan Tan Wan Wan, Siau Po lalu menceritakan
tentang dirinya yang telah jatuh hati dengan anaknya, A Ko hingga akan dicolok
matanya pun ia rela.
Mendengar kisah cinta Siau Po dengan A Ko putri Tan Wan Wan yang sangat mirip
dengan kisah cintanya itu, ia menjadi sangat kasihan pada Siau Po.

Ouw It Cie kemudian memberikan nasihat pada Siau Po, “cinta itu tak dapat
dipaksakan Jika seseorang sudah mencintai seseorang, maka ia tak mungkin akan
jatuh cinta pada orang lain.” ujarnya,
Siau Po hanya mengangguk.
“Cepat saudara bicara” katanya, “Dia bagai tak menghiraukan aku. Dia menganggap
aku tidak ada di dunia ini, tetapi itu adalah aku suka, aku lebih menyukainya jika ia
sedang marah padaku”
Ouw It Cie menarik napas.
“Seandainya ia membunuhmu, itupun baik. Jika ia benar telah membunuhmu, dalam
hatinya pasti ia menyesal Bukankah itu lebih baik daripada dalam hatinya tak ada kau?”
Siau Po menganggukkan kepalanya berulang-ulang.
“Saudara Ouw, kata-katamu itu sangatlah jelas. DahuIu aku tidak sampai berpikir
sejauh itu, namun satu kali aku sudah menyukai nona, aku harus menikah dengannya,
aku tak sesabar kau Andaikata benar A Ko menginginkan aku untuk menanam sayursayuran
dan mengambil air asal aku dapat mengawininya, aku pun rela dan sanggup
melakukannya. Namun Sie Kongcu, jika ia berada di sampingnya maka aku akan
membuat golok putih masuk menjadi golok merah, artinya golok itu akan keluar dengan
berlumuran darah.” kata Siau Po.
“Dalam hal ini saudara kecil tidak tepat,” kata Ouw It Cie. “Jikalau kau mencintai
seorang wanita, kau harus membuatnya bahagia, Kau harus berbuat sesuatu untuknya,
Umpamanya, jika ia ingin menikah dengan orang lain, maka kau harus berusaha
mewujudkan cita-citanya. Dan jika ada orang yang akan mencelakai pasangan orang
yang kau cinta itu kau harus membelanya demi kekasihmu. jika dalam hal itu kau
kehilangan nyawamu itu adalah hal yang istimewa.”
Siau Po menggelengkan kepala.
“Menurut aku itu bukan jalan keluarnya,” katanya. “Untuk orang dagang itu namanya
rugi, juga modalnya habis, Tidak, tak dapat aku melakukan hal itu, Ouw Toako, aku
sangat mengagumimu, ingin aku mengangkat kau menjadi guruku, bukannya untuk
belajar ilmu golokmu, melainkan ingin mencontoh kadar cintamu pada Tan Wan Wan.
Dalam hal itu aku sangat ketinggalan jaman” ujarnya.
Ouw It Cie sangat girang mendengar kata-kata Siau Po.
“Untuk mengangkat guru itu tak usah yang penting asal kita sama-sama untung
saja.” katanya.
Kedua kawan Siau Po hanya menggelengkan kepala, Mereka orang Ouw sejati yang
tak mau melihat wanita mana pun. Buat mereka wanita cantik pun berada dalam rumah

pelesiran, Asal ada uang, berapa pun kita kehendaki dapat kita lakukan. Di mata
mereka, Siau Po dan It Jie adalah orang-orang yang gagal dalam hal asmara,
Siau Po dan It Jie merasa bahwa semakin lama mengobrol, semakin mengasyikkan,
Bahkan mereka sangat menyesali mengapa hal itu baru terjadi di saat mereka sudah
berpisah dari masing-masing kekasihnya, Siau Po yang jatuh cinta pada A Ko ingin
menyingkirkan Kek Song dari sisi si nona, sebaliknya It Jie, ia sangat memikirkan
halnya agar dapat melihat Tan Wan Wan sehingga ia rela berdiam selama bertahuntahun.
Dan kali ini ada orang yang mengaguminya sehingga ia menjadi hidup kembali.
Orang itu senang dengan kesabaran dan ketabahannya.
Ketika itu perahu mereka masih berlabuh di tengah sungai. Tanpa perintah, si tukang
perahu sudah berani menjalankan perahunya Teman Siau Po hanya mendengarkan
pembicaraan itu. Tatkala itu It Jie berkata pada Siau Po, “Saudara kecil, kita baru saja
bertemu, tetapi sudah seperti sahabat-sahabat lama saja, Dalam dunia ini, paling sukar
kita mencari orang-orang yang mempunyai satu cita-cita. Sama dengan pepatah kata
mendapat satu kawan baik mati pun tak menyesal. Aku orang She Ouw, dahulu aku
mempunyai kenalan di seluruh dunia ini. Tapi tak ada satu orang pun yang satu pikiran
denganku, sekarang kita berjodoh, dapat bertemu satu dengan yang Iainnya. Karena
itu, bagaimana kalau kita mengangkat saudara?”
“Bagus,” kata Siau Po. “Namun… ada sesuatu yang tidak sempurna….”
“Apakah itu?” tanya It Jie.
“Seandainya cita-cita kita sama-sama terwujud, yaitu kau berhasil menikah dengan
Tan Wan Wan dan aku dengan A Ko, di situ akan timbul kesulitan karena saat itu kau
akan menjadi ayah mertuaku Nah, mana dapat kita menjadi kakak beradik lagi?” kata
Siau Po.
Mendengar kata-kata itu kawan-kawan Siau Po tertawa, mereka beranggapan hal itu
sangatlah lucu.
Ouw It Jie nampak tidak puas.
“Ah, kau pun belum mengerti sepenuhnya rasa hatiku pada Tan Wan Wan.” katanya,
“Selama hidupku, aku tak akan dapat menyentuh tangannya, tidak juga ujung bajunya,
jikalau aku berdusta, meja ini yang akan menjadi saksi”
Tiba-tiba Ouw It Jie mengulurkan tangan kirinya untuk menyambar ujung meja itu,
dan secepatnya ia menggerakkan tangannya dengan tangan kanan. Maka meja itu pun
hancur menjadi potongan-potongan kecil.
It Jie membuka matanya lebar-Iebar lalu menatap orang Gouw, ia tak mengatakan
sesuatu hanya berkata dalam hatinya. “Apakah arti ilmu silatku ini? cintaku yang
mempunyai arti sangat besar ternyata kau bukanlah orang yang bersatu dengan
pikiranku….”

Siau Po tidak memuji kepandaian kawannya dalam memeras meja itu, Maka ia
mengambil pisau belatinya dan menusukkannya pada meja yang tersisa itu, Dia
meletakkannya di atas meja dan memotongnya berulang-ulang hingga menjadi
beberapa potong.
“Jikalau Wie Siau Po gagal menjadikan A Ko sebagai istrinya, ia bagaikan ujung meja
ini, yang kena bacok berulang-ulang, dan ia tak akan membalasnya.”
Kawan-kawan Siau Po sangat kagum menyaksikan pisau yang begitu tajamnya.
Namun mengenai sumpah itu, mereka menganggapnya lucu sehingga mereka tertawa.
“Ouw Toako, jika demikian seumur hidupku aku tak akan menjadi menantumu. Nah,
mari kita mengangkat saudara.”
Senang It Jie mendengarkan kata-kata itu, ia tertawa terbahak-bahak lalu menarik
tangan Siau Po dan mengajaknya pergi menuju kepala peraju. Di situ mereka berlutut
menghadap si putri malam.
“lt Jie hari ini mengangkat saudara dengan Wie Siau Po. Maka selanjutnya, jika ada
kebahagiaan kita cicipi bersama dan jika ada kesukaran kita tanggung bersama, jikalau
aku melanggar sumpahku ini, biar aku mati kelelep dalam sungai ini” ujarnya.
Siau Po pun mengangkat sumpahnya menyusul kakak angkatnya itu hanya pada
akhir kata-katanya lain.
“Biarlab aku mati kelelep dalam sungai Liu Kang ini, sudah pasti aku tak bakal
melakukan sesuatu terhadap Ouw Toako, Namun jika terjadi kekeliruan, aku toh tak
datang ke propinsi Kwiesai, Aku tidak akan mati kelelep dalam sungai ini, kalau sungai
lain itu tidak masuk dalam hitungan..”
Selesai mengangkat sumpah, keduanya sama-sama tertawa, Kemudian sambil
berpegangan tangan, mereka kembali ke dalam perahu, Nampaknya mereka semakin
erat hubungannya.
Ciauw Hin dan Liok Kie memberikan kata selamat pada kakak beradik baru itu,
kemudian mereka sama-sama tertawa.
“Sekarang mari kita pulang” kata Siau Po.
Ouw It Jie mengangguk.
“Baik, tetapi saudara Ma dan juga adik Wie, ada satu hal yang aku mohon dari kalian,
Nona A Ko ini akan aku bawa ke Kun Beng”
Siau Po terkejut, sedangkan Ciauw Hin tak merasakan apa-apa.
“Mau apakah Toako membawanya ke sana?” tanya Siau Po.

Ouw It Jie menghela napas ketika ia menjawab, “pertanyaan adik angkat itu…”
“Hari itu setelah Nona Tan dan anak perempuannya saling mengenali di biara Sam
Seng Am, malamnya ia terus jatuh sakit.” demikian katanya, “la selalu memanggil nama
anaknya, Dia pun berkata, A Ko mengapa kau tidak datang jenguk ibu? A Ko, kaulah
mustika satu-satunya bagiku. A Ko kau membuat aku menderita memikirkanmu. Aku tak
sanggup mendengar suara Nona Tan, akhirnya aku berangkat menyusul Nona A Ko. Di
tengah jalan aku menasehati serta membujuk si nona untuk pulang supaya ia dapat
menemani ibunya, tetapi ia menolak dengan keras, Aku tidak dapat memaksa, aku jadi
kewalahan tetapi mengikutinya, Aku masih mengharap ia dapat berubah pola
pikirannya, sekarang Nona A Ko kena tawan. seandainya Ma Hiocu sudi menjadikan ia
merdeka agar dia pulang ke Kun Beng untuk menengok ibunya, aku rasa ia akan sudi
menurut.”
“Di dalam hal ini aku tidak mempunyai pikiran apa-apa.” sahut Ma Ciauw Hin. “Aku
sendiri terserah pada pikiran Wie Hiocu sendiri.”
Mendengar demikian It Jie berkata pada Siau Po.
“Adikku, jikalau ingin menikah dengan dia, waktu masih sangat panjang. jikalau
seandainya Nona Tan sakit terus sampai ia tak dapat bangun pula, sampai dia tak
dapat bertemu lagi dengan anak perempuannya, “0h… itulah sangat hebat, itu pasti
akan membuatnya menyesal seumur hidup….”
Liok Kie heran, hingga ia menggelengkan kepala berulang-ulang.
“Ah… orang ini.,.” katanya di dalam hati “Rupanya telah musnah semangat
kegagahannya. Kenapa sekarang ia bicara seperti wanita? Kenapa dia runtuh
disebabkan oleh selir Gauw Sam Kui? Apakah ini sifat laki-laki sejati? Lagi pula Tan
Wan Wan adalah salah satu biang bencana yang membikin musnah kerajaan Beng
yang kita cintai. Kalau lain waktu aku dapat memimpin angkatan perang serdadu ke Kun
Beng untuk menyerang, sudah tentu yang lebih dahulu aku bunuh mati adalah dianya”
Siau Po sementara itu bangkit berdiri
“Toako, kalau Toako hendak membawa dia ke Kun Beng, boleh saja.” katanya,
“Namun bertabiat aneh, Buat bicara terus terang, dia sebenarnya sudah menjadi sah
sebagai istriku sebab kami sudah menghormati orang tuanya, Namun dia tak sudi
menikah denganku, malah justru mau menikah dengan The Kongcu, Maka itu, asal dia
mau berjanji akan tetap menjadi istriku, dapatlah aku memerdekakan dia supaya dia
mau pulang ke Kun Beng….”
Mendengar kata-kata itu Hiocu, Gouw Liok Kie menjadi gusar hingga tanpa sadar ia
menggeprak meja, sampai poci arak dan cangkir terpental terbalik.
“Ouw Toako, adik Wie, kalau benar nona kecil ini tidak mau pergi ke Kun Beng
menjenguk ibunya yang lagi sakit, dia benar-benar sangat tidak berbakti Dia pula sudah

sah menjadi istri Wie, kenapa dia justru mencintai The Kongcu? Kalau demikian dia
bukan wanita yang baik, Untuk apa membiarkan hidup pada istri yang tak setia itu?
Nyatanya dia cantik tapi buruk hatinya, Mari biar kupatah batang lehernya agar ia tak
usah menyebabkan dongkol”
Begitu habis berkata keras itu orang She Liok ini lantas memerintahkan tukang
perahu, “Lekas maju” ujarnya dengan suara keras.
Ouw It Jie, Ma Ciauw Hin dan terutama Wie Siau Po terkejut menyaksikan orang she
Gouw, yang suaranya demikian keras itu.
Tukang perahu menuruti perintah lalu perlahan-lahan mengarahkan perahunya ke
tepi.
“Mana seorang laki-Iaki dan seorang perempuan itu?” tanya Liok Kie dengan suara
keras.
“Mereka di sini, masih terbelenggu.” jawab salah seorang dalam perahu kecil.
Liok Kie memberi tanda dengan gerakan tangannya, maka tukang perahu itu segera
mengarahkan perahunya yang berada di sebelah timur mereka.
“Saudara Wie, “Kemudian Liok Kie berkata pada Siau Po dengan sungguh sungguh.
“Kautah saudara kami dalam satu partai Kita bagaikan saudara kandung, Maka aku
sebagai kakakmu, tak sudi melihat kau tersesat karena paras elok, hingga kau bisa
mengantarkan secara cuma-cuma nama dan nyawamu, Saudara hari ini aku hendak
memberikan keputusan untukmu.” Siau Po terkejut.
“Dalam hal ini kita harus damai dulu dengan sabar,” katanya.
“Apa yang hendak didamaikan?” tanya Liok Kie.
“Ma Toako, tolong kau jelaskan pada Gouw Toako.,.” ujar Siau Po kepada Ma Ciauw
Hin.
“Wanita sangat banyak yang cantik di kolong langit ini. Kau serahkan urusan ini pada
kakakmu, aku jamin kau akan mendapatkan istri yang bakal memuaskan hatimu.
Kenapa mesti memberati wanita semacam itu?” kata Gouw Liok Kie.
Sepasang alis Siau Po berkerut, dia berduka sekali
“Ah… ini…” katanya.
Mendadak sesosok tubuh tampak mencelat ke perahu yang sedang datang itu.
Ternyata dialah 0uw It Jie.

It Jie masuk ke dalam perahu, terus keluar lagi dari bagian belakang. Tampak ia
memondong seseorang dan terus membawanya pergi dengan cepat menuju tepian, Dia
menghilang di kejauhan beberapa tombak. Namun dari kejauhan masih terdengar
suaranya.
“Gouw Toako Ma Toako Adik Wie Maafkan aku, aku menyesal sekali Di belakang
hari saja aku akan memohon ampun, buat apa hukuman kalian?” ujar Ouw It Jie.
Liok Kie kaget dan gusar, ia hendak menyusul tapi kemudian ia mengurungkan
niatnya itu. Orang sudah pergi jauh, sukar untuk menahannya, Sesaat kemudian ia pun
tertawa bergelak gelak.
Bahkan Siau Po pun hilang kagetnya, dia turut tertawa seraya bertepuk tangan. Dia
menerka, Ouw It Jie membawa kabur A Ko tentu akan membawa nona itu ke Tan Wan
Wan, ibunya.
Segera juga perahu menempel dengan perahu yang lain, perahu di depannya yaitu
perahu yang ditumpangi Kek Song tergusur ke luar.
“Orang celaka” Siau Po mendamprat “Kau sudah membunuh saudara-saudaraku
separtai dan juga hendak mencelakai guruku Kau kejam Juga sudah mengetahui A Ko
menjadi tunanganku, mengapa kau berani mendekatinya?”
Sambil berkata demikian, Siau Po mengayunkan kedua tangannya mengarah ke pipi
Kek Song. Ayunan kedua tangan si bocah itu tepat mengenai sasarannya, sehingga
terdengarlah empat kali suara gaplokan pada pipi dan telinga si putra raja.
Selain habis terlelapkan, Kek Song pun bekas dihajar orang-orang Thian Tee Hwee,
sekarang dia dihajar oleh Siau Po, maka dapat kita bayangkan betapa hebat
penderitannya. ia kesal sekali melihat wajah muram Siau Po.
“Wie…. Wie Taijin…” ujar Kek Song memohon. “Dengan memandang muka ayahku,
aku mohon

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s