“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 76

itu orang macam apa? Dia orang hebat, dia telah
membuat seorang raja menjadi takut padanya.”
Ngelamun sampai di situ, Wan Wan membuka matanya, ia melihat Lie Cu Seng
tengah menyerang terus pada Gauw Sam Kui dan Peng See Ong senantiasa berkelit,
hingga dia tak kena tersodok atau terkemplang tongkat. Maka katanya dia dalam hati,
“Dia masih gesit, rupanya selama tahun-tahun yang belakangan dia tetap melatih
ilmu silatnya, Sebab… sebab… dia ingin menjadi raja dan hendak membawa tentaranya
menyerang jatuh Pakhia, kota raja?”

Kembali Kiu Lan ngelamun lebih jauh, Nyonya itu teringat ia sekeluarnya dari istana
sudah kembali ke Kok-thio hu, gedung mertua raja, yang ada seorang she Cu.
Pada suatu hari Kiu Lan dipanggil keluar untuk bernyanyi dan menari, Ketika itu, Ciu
Kok-thio tengah mengadakan pesta, justru malam itu Gauw Sam Kui melihatnya.
Dan ia pun melihat bagaimana mencorongnya sinar mata pria, yang sering ia
saksikan sinar mata Siau Po tadi sewaktu mereka mula-mula bertemu demikian pula.
Bukankah itu sinar mata umumnya kaum pria?
“Mungkinkah bocah itu pun tersesatkan kecantikanku seperti kebanyakan orang
dewasa?” Demikian pikirannya, Karena itu ia segera melirik Siau Po hingga ia
mendapat kenyataan bagaimana perhatian si bocah sangat tertarik oleh pertempuran
yang lagi berjalan seru itu. Kali ini Gauw Sam Kui yang berbalik melakukan serangan
pembalasan.
“Setelah melihat aku, Gauw Sam Kui segera minta aku pada Ciu Kok-thio,” Wan Wan
terus ngelamun lebih jauh, “Lewat beberapa hari, raja mengirimnya ke San-hay Wan
untuk memerintah di kota itu selaku persiapan kalau-kalau bangsa Boan-ciu datang
menyerbu justru itu Lie Cu Seng mendahulukan merampas Pakhia, Karena runtuhnya
kota raja, maka kaisar Cong Ceng mengasingkan diri di sebuah kuil di gunung Bwee
San. Dengan demikian juga aku telah tertawan, Lie Cu Seng pria yang bertubuh kasar
dan juga kekar, dan keren, orang yang ditakuti kaisar Cong Ceng sekalipun dalam
impian Dengan jatuhnya Pakhia Lie Cu Seng menjadi repot mengatur pemerintahan.
Banyak menteri dan pembesar istana yang ia hukum mati.Toh setiap malam selagi
menantiku ia selalu riang gembira, tertawa nyaring tenggoroknya pun keras sekali,
hingga di wajah tidur ia sering membuatku terbangun, ia pun berbulu seluruh tangan,
dada dan kakinya, belum pernah aku mendapatkan pria seperti dia….”
Wan Wan melirik juga ke medan pertempuran dan ia terus melamun.
“Dengan robohnya kota raja, Gauw Sam Kui sebenarnya sudah takluk pada Lie Cu
Seng, akan tetapi setelah ia mendengar berita telah dirampasnya Cu Seng, ia datang
terlebih dahuIu, ia meminjam tentara Boan. Dengan demikian ia telah membawa masuk
tentaranya, Lie Cu Seng pun membawa tentaranya dan menyambut tentara lawan,
maka terjadilah peperangan itu. Di situ tentara Boan datang secara mendadak maka
tentara Lie Cu Seng terkena hajar, pertempuran terbukti dengan adanya banjir darah
sampai beberapa puluh Lie dan mayat-mayat serdadu berserakan. Orang mengatakan
korban itu roboh dikarenakan aku. Karenanya aku dianggap mempunyai banyak dosa
besar. Atas dasar itu, Lie Cu Seng lari ke kota raja, Di sini ia segera naik tahta kerajaan
untuk menjadi raja, tetapi setelah itu ia mengajak kabur aku ke barat daya. Sementara
Gauw Sam Kui terus mengejarnya, walaupun kalah perang dan sedang melarikan diri,
Lie Cu Seng masih dapat tertawa riang gembira. Tentaranya berkurang setiap hari, hal
itu ia tidak dihiraukannya, ia berkata, pada asal mulanya ia tak mempunyai apa-apa,
karena itu paling ia hanya dapat kembali tidak punya apa-apa. Jadi hal itu tak usah
dijadikan heran ia pun pernah mengatakan selama hidupnya pernah membuat dirinya

puas, Pertama-tama ia telah berhasil memaksa hingga kaisar Cong menggantung diri.
Kedua ia pernah berhasil menjadi raja, dan yang ketiga ini halnya, ia telah berhasil
mendapatkan wanita tercantik dan dapat tidur dengan wanita itu bahkan ia menjelaskan
dari ketiga hal itu justru hal yang ketiga yang membuatnya sangat puas.”
“Tidak berhasil sebagai Lie Cu Seng, adalah Gauw Sam Kui,” demikian Tan Wan
Wan melamun terus menerus, “sebenarnya Lie Cu Seng ingin menjadi raja tetapi
keinginannya itu tidak pernah ia utarakan Tetapi aku ketahui itu, ia ingin menjadi raja
tapi takut, ia selalu ragu-ragu. Asal hari ini ia tidak mati mungkin tiba harinya ia akan
menjadi raja, Tak perduli dia menjadi raja di Kun Beng, tak perduli walaupun untuk satu
hari. Kaisar Eng Lek menyingkir ke Birma, Gauw Sam Kui mengejarnya dan ia berhasil
membunuhnya, maka orang mengatakan bahwa tiga orang raja mati di tanganku, ialah
Cong Ceng, Eng Lek dan Lie Cu Seng, yang memakai kerajaan Tay Sun. Kalau
kemudian Gauw Sam Kui berhasil menjadi raja, mungkin namanya pun dihitung dalam
daftar nama-nama raja yang mati karenaku…. Aku selalu ditimpa kesalahan runtuhnya
kerajaan Beng, matinya laksaan tentara, dan rakyat pada negara-negara keempat
kerajaan itu? Toh aku tak pernah melakukan perbuatan jahat, bahkan aku tak pernah
memfitnah mereka….”
“DahuIu karena kalah perang dan tentaranya buyar, Lie Cu Seng pada suatu malam
berpisah juga denganku, Aku diketemukan orang-orang Gauw Sam Kui dan aku
dibawanya pada kepala rombongan Dia sangat girang dan dia mengatakan bahwa
dengan mendapatkan aku dia sangat puas walaupun orang mencaci aku sebagai
pengkhianat bangsa Han. Tegasnya, dia melakukan segala apa tanpa meminta
pendapat umum. Aku pun telah berpikir, aku akan hidup tenang dan senang, tak perduli
orang berpangkat atau bangsawan buat aku sudah cukup asalkan aku tak jatuh ke
tangan orang lain hingga aku hanya menjadi permainan pria. Namun… lewat beberapa
tahun Congpeng Gauw Sam Kui diangkat menjadi Cin Ong, Sebagai raja muda ia harus
mempunyai putri. Berhubung itu adik Gauw Sam Bwee memberitahukan bahwa raja
sedang uring-uringan, menurut Gauw Sam Kui akulah yang harus diangkat sebagai istri
yang sah, tetapi ia tahu asal usulku. Kalau ia mengajukan diriku pada raja berarti ia
telah menghina raja, aku mengerti itu karena aku memang bunga raja, Aku
memberitahukan hal itu kepada adiknya agar namanya tak tercemar Sikapku itu
membuatnya bergembira, Buat aku menjadi Fuchin atau tidak sama saja, akan tetapi
setelah itu hatiku menjadi tawar. Demikian aku pindah ke mari Gauw Sam Kui harus
menjalankan acara pernikahannya, dan gedung itu akan menjadi tempat tinggalnya.”
“Tiba-tiba Lie Cu Seng muncul, dan ia telah jadi biarawan, Aku sangat kaget karena
aku menyangka ia telah mati, Dalam beberapa hari aku berduka, Menurutnya, ia
menjadi biarawan karena terpaksa, untuk mengelabuhi mata orang banyak, Dan ia pun
tak suka mencukur seluruh rambutnya, tetapi memakai kuncir sebagaimana orang
Boanciu, Dalam beberapa tahun ia selalu memikirkan aku, bahkan di kota Kunbeng
saja, dia sudah berdiam tiga tahun lamanya, masih terus menantikan hari untuk
bertemu denganku. Hingga datanglah hari itu ia lebih sayang padaku, Dan mulai dari itu
ia selalu datang menemui aku hingga aku hamil anak itu. Karena adanya anak
perempuan itu hingga aku tak dapat bertemu lagi dengannya. Aku kembali ke istana
untuk memberitahukan pada Gauw Sam Kui bahwa aku kangen dengannya, Aku

diterima oleh Gauw Sam Kui yang sebenarnya tidak menyintai istrinya, tentang lahirnya
anak itu entah ia curiga atau tidak. Anak itu sangat mirip dengan aku. Sewaktu aku
berumur dua puluh tahun, pada suatu malam ia lenyap dan aku bingung, Aku
menyangka Lie Cu Seng yang telah mencurinya dari tanganku, maka aku
membiarkannya. Aku berpikir Lie Cu Seng pastilah kesepian dan ia mengambil anak itu
untuk menghiburnya, tetapi terkaanku tidak tepat.”
Tiba-tiba Tan Wan Wan tersadar dari Iamunannya, ia mendapatkan percikan darah di
tangannya. Setelah ia melihat kedua orang yang sedang bertarung tampak muka Gauw
Sam Kui telah penuh dengan darah.
Di luar kuil itu sangatlah berisik, Para tentara Gauw Sam Kui berteriak-teriak tetapi
mereka tak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya berteriak mengancam Lie Cu Seng dan
juga Kiu Lan, karena mereka khawatir Ongyanya celaka.
Gauw Sam Kui hampir habis napasnya, tapi tiba-tiba ia melompat bukannya
menyerang lawannya tetapi malah menyerang Tan Wan Wan dengan senjatanya,
hingga si nyonya berteriak dan mencoba berkelit.
Traaaang Demikian suara melengking, itulah Lie Cu Seng yang menahan serangan
Gauw Sam Kui.
Gauw Sam Kui menjadi kalap, ia terus saja menyerang Wan Wan secara beruntun,
namun selalu saja terhalang oleh senjata lawan.
“Aneh,” pikir Siau Po yang menyaksikan pertempuran itu sejak semula, “Kenapa ia
bukannya menyerang lawan tetapi malah akan membunuh istrinya? Ah, aku mengerti
sekarang, rupanya ia cemburu pada Lie Cu Seng.”
Kiu Lan dapat menangkap pikiran Gauw Sam Kui pikirnya.
“Pengkhianat ini tak dapat melawan Lie Cu Seng maka ia menggunakan akal
liciknya.” katanya.
Benar terkaan Gauw Sam Kui kalau Lie Cu Seng akan berusaha menolong Wan
Wan, maka secara tiba-tiba Gauw Sam Kui menyerang lawannya dan bukan pada Wan
Wan. Maka hal itu tak dapat dielakkan lagi.
Lie Cu Seng kaget sekali sampai senjata yang ada di tangannya juga terlepas, maka
dengan demikian Gauw Sam Kui dengan mudah menodongkan senjatanya pada lawan.
“Nah, pemberontak, masih kau tidak ingin berlutut untuk mengatakan menyerah?”
tanyanya sambil tertawa.
“Ya, ya,” kata Lie Cu Seng sambil berusaha menekuk kakinya untuk berlutut.
Siau Po heran menyaksikan hal itu.

“Aku menyangka Lie Cu Seng adalah manusia luar biasa.” katanya, “Kiranya dia pun
takut akan mati,…”
Baru saja Siau Po berpikir demikian, maka secepat itu ia lalu berguling di lantai untuk
mengambil tombaknya dan langsung digunakannya untuk menyerang kaki Gauw Sam
Kui.
Gauw Sam Kui kaget, ia tak dapat mengelak serangan yang secara mendadak itu,
maka betisnya terkena hajar dan roboh, Sedangkan lawannya sudah berdiri dan
langsung menyerangnya lagi dan kali ini serangan mengarah pada bagian kepala.
“Mereka berdua sama-sama licik.” kata Kiu Lan dalam hati. “Pantas kerajaan Beng
hancur oleh mereka”
Sementara itu, di saat akan menusukkan tongkatnya Wan Wan melompat menutupi
tubuh Gauw Sam Kui dan berkata, “Bunuhlah aku lebih dahulu”
Lie Cu Seng tak sanggup melakukan hal itu, ia hanya menghantamkan tongkatnya
pada tembok, maka terdengarlah suara yang sangat keras.
“Eh, Wan Wan apalah artinya semua ini?” tanyanya pada sang kekasih.
Wan Wan tak menjawab pertanyaan itu, akan tetapi akhirnya ia pun berkata juga
dengan suara perlahan.
“Denganku ia telah menikah dua puluh tahun lebih, dan selama itu ia telah berbuat
baik terhadapku tak dapat aku membiarkan ia mati karena kau” katanya.
“Minggir” kata Lie Cu Seng dengan suara keras, “Aku dengannya adalah musuhl”
“Kau bunuhlah aku bersama dengan dia” kata Wan Wan.
Bekas pemberontak itu pun menghela napas.
“Kiranya dalam hatimu masih ada dia.,.” katanya menyesal
Kekasihnya tak menjawab, sebaliknya. “Kalau ia hendak membunuhmu aku pun
akan mati bersama denganmu….”
Tentara yang berada di luar berteriak-teriak dan akan menyerbu ke dalam setelah
mereka melihat Ongyanya jatuh, Kemudian seorang perwira berteriak “Cepat bebaskan
Ongya kami, biar kalian dapat kuberi ampun dari kematian”
Ternyata dia adalah Kok Siang, menantu Peng See Ong. Kemudian dia berkata lagi
dengan suara keras.

“Kawan-kawanku semua berada di sini, jikalau Ongya kami hilang sehelai rambutnya
saja, segera beberapa kepala mereka akan berjatuhan”
Wie Siau Po heran maka ia menoleh keluar jendeIa. Dengan demikian ia melihat
Bhok Kiam Peng bersama Liu Tay Hong, Gauw Lip Sin dan yang lainnya keluarga Bhok
dalam keadaan terbelenggu bahkan di sana pun terlihat Cie Cian Coan dan Kho Gan
Ciauw, Hiang Ceng Tojin bersama orang Thian Tee Hwee berikut Tio Cee Hian, Thio
Kong Lian serta Giatjin Sie Wie begitu juga para perwira Jiauw Kie Eng semua pada
terbelenggu.
Dan di belakang mereka para pengawal Peng See Ong, Dengan golok terhunus para
pengawal itu mengancam batang leher mereka.
Siau Po berpikir menyaksikan hal itu. “Taruh kata suhu dapat mengajak aku
menyingkir dari sini, dari kota Kun Beng, bagaimana dengan mereka itu? Bukankah
mereka akan mati? Buat membinasakan Gauw Sam Kui aku rasa tidak sekarang
juga….”
Maka ia lalu mengambil keputusan, segera menghunus pisau belatinya dan
mengancam punggung Peng See Ong.
“Ongya, jikalau kita semua mati di sini itu sangat tidak menarik hati, maka sebaiknya
kita mengadakan jual beli” kata Siau Po.
“Mau beli?” tanya Peng See Ong,
“Kau bebaskan A Ko serta kawan-kawanku, barulah kau akan aku bebaskan dari
ancaman guruku” kata Siau Po.
“Baik aku setuju” kata Ongya itu. “Ada satu hal lagi, kau harus memerintahkan pada
para pengawalmu untuk membawa Kongcu dan juga putramu untuk menghadap pada
baginda raja dan ibu suri sebagai mertuanya, Dan aku minta agar kau mengantarkan
aku dan rombonganku sampai pada batas kota” katanya pula.
“Siecu dan Kongcu akan kau bawa pergi. itu sangatlah mudah. Aku berjanji akan
mematuhi kata-kata kita tadi, Kalau kau masih kurang percaya, jalanlah di belakangku
Jika aku berbuat yang tidak-tidak kau boleh menusuk aku beberapa kali. Toh aku
berada di depan kalian, dan kau pun pandai bermain silat.”
Siau Po tertawa.
“Bagus.” pujinya, “Ongya berlaku jujur dan terus terang, kalah ya kalah menang ya
menang, seperti terbukti, kau memberontak pada kerajaan Beng, Kau terus berontak,
dan kau menakluk pada kerajaan Ceng, kau terus menakluk juga, Ya, sedikit juga
Ongya tak berpikir yang tidak-tidak.”

Muka Gauw Sam Kui tampak merah padam. Sungguh tajam kata-kata anak yang
berada di depannya itu, ia tidak menghiraukan kata-kata itu malah berpaling pada Lie
Cu Seng.
“Bagaimana dengan pemberontak ini? Dia toh bukannya sahabat baik dari Toutong?”
tanyanya, Siau Po tidak cepat-cepat menjawab, terlebih dahulu ia menoleh pada
gurunya.
Belum lagi Kiu Lan menjawab pertanyaan itu tiba-tiba Lie Cu Seng sudah berkata
dengan suara nyaring.
“Aku bukan sahabat karib pembesar anjing cilik ini.” katanya.
“Bagus.” kata Kiu Lan. “Pemberontak ini mempunyai tulang yang keras. Gauw Sam
Kui, biarlah pemberontak ini ikut kami”
Tan Wan Wan menoleh pada biarawati itu, ia memperlihatkan sorot mata tanda
bersyukur dan memohon.
“Su-Thay.” panggilnya.
Kiu Lan berpaling ke lain arah, ia tak mau menatap sorot mata nyonya itu.
Gauw Sam Kui sementara itu sudah melangkah ke depan jendela lalu melongok
keluar dan berkata dengan suara nyaring.
“Sie-Cu bersama Wie Toutong akan berangkat ke kota raja untuk menghadap
baginda raja dan sekalian akan mengantarkan tuan putri.”
Mendengar ucapan tersebut, pasukan Gauw Sam Kui lalu berbaris dan salah
seorang membunyikan terompet mereka akan mengantar tuan putri putra raja mudanya
dan Siau Po sebagai utusan dari sri baginda raja.
Siau Po berjalan bersama-sama dengan Gauw Sam Kui dan Kiu Lan mengikuti
mereka dari belakang, sambil mengawasi lawannya itu.
Sesampai mereka di luar kuil, Siau Po melihat tentara Peng See Ong yang jumlahnya
cukup banyak, mereka sudah mengelilingi kuil itu.
“Oh, Ongya sungguh tentaramu berjumlah tidak sedikit Menurut penglihatanku,
tentara ini sudah cukup untuk diajukan berperang dengan tentara dari kota raja.,.” kata
Siau Po.
Mendengar kata-kata Siau Po, Gauw Sam Kui merasa tidak enak, maka ia lalu
berkata.

“Wie Toutong, jikalau nanti di hadapan baginda raja kau mengatakan hal yang tidaktidak
tentang aku, aku pun akan melaporkan pada baginda raja bahwa kau juga telah
bersekongkol dengan pemberontak Lie Cu Seng.”
Siau Po tertawa.
“Ah ini aneh” katanya, “Lie Cu Seng cuma gemar dengan wanita tercantik itu, dia
mana mau bersamaku orang cilik jenaka di kolong jagat ini? Sekati lagi kukatakan dia
itu hanya mengejar wanita tercantik sejagat itu saja.”
Bukan main dongkolnya hati Gauw Sam Kui, ia telah disindir oleh anak kecil ini,
hingga ia mengepalkan jemari tangannya untuk menghajar hidung si anak kecil itu yang
gemar dan pandai bergurau.
“Jangan gusar Ongya” katanya, “Bukankah Ongya menginginkan keselamatan?
Bukankah dengan memangku jabatan tertinggi dan jauhnya ribuan Lie itu hanya ingin
mencari harta? Jika aku berbicara dengan raja aku akan mendapatkan hadiah, dan
hadiah itu lebih besar dari apa yang kau terima, maka kita berdua harus bekerja sama.
Sepulangnya dari sini aku akan menghadap pada raja dan akan memujimu setinggi
langit, dan kesetiaanmu tak usah ditanyakan, aku pun telah dengan sungguh-sungguh
menjaga Sie Cu, dengan demikian setiap tahun dapat kau mengantarkan emas atau
pun perak kepadaku, untuk aku berbelanja, bagaimanakah menurutmu?” kata Siau Po.
Sambil berkata demikian Siau Po terus berjalan berendeng dengan raja muda itu.
“Harta benda hanyalah kebutuhan lahiriah.” kata si raja muda.
“Jikalau Toutong menghendaki, itu tidaklah sukar, namun jika engkau akan
menyulitkan aku, maka kau harus tahu bahwa Ongyamu berada jauh di Inlam, di
tangannya terdapat tentara yang cukup banyak hal itu tak membuat aku jadi takut.”
katanya.
“ltu sangatlah wajar,” kata Siau Po. “Kapan Ongya mencekal tombak, Ongya tampak
gagah, Dengan itu Ongya dapat melabrak semua pemberontak di kolong langit ini,
hingga mereka tak berdaya. sekarang ini tibalah saatnya kita berpisah, maka Ongya
tolong serahkan apa yang pernah Ongya janjikan untukku”
“Eh, Siau Po” katanya, “Mengapa kau berbicara seperti orang yang tidak tahu malu
saja?”
“Suhu, sepulangnya aku dari sini aku harus menghadiahkan pada para bawahanku
agar mereka tak menganggap jelek pada Ongya.” Aku khawatir kalau mereka itu tak
diberikan hadiah, mereka akan beranggapan jelek pada ongya,” sahut Siau Po.
Gauw Sam Kui berpikir “Dia menginginkan uang ini sangatlah mudah.” Lalu ia
memerintahkan pada Kok Siang untuk mengambil uangnya.

“He Congpeng, coba ambilkan aku uang seratus laksa tail, untuk dipakai memberikan
hadiah pada para Sie Wie dan kau juga menyiapkan hadiah untuk Wie Toutong yang
sangat istimewa”
Setelah menerima hadiah maka rombongan akan memulai berangkat menuju kota
raja.
Gauw Sam Kui pergi mendekati tuan putri dan menghormat, setelah itu ia mendekati
anaknya dan ia berkata dengan suara pelan hingga tak terdengar oleh orang lain, dan
akhirnya ia membawa kembali pasukannya.
Menyaksikan hal itu Siau Po menjadi berlega hati, tetapi ia masih khawatir kalaukalau
ia hanya dibohongi. “Lebih baik aku secepatnya meninggalkan kota ini.” katanya
dalam hati.
Maka itu ia lalu memerintahkan pada pasukannya untuk segera berangkat
meninggalkan kota itu.
Setelah berjalan sepuluh Lie, rombongan itu berhenti untuk istirahat, ketika itu Lie Cu
Seng berkata pada Kiu Lan.
“Su-Thay telah menolongku hingga aku tak terbinasa oleh penghianat bangsa Han,
Aku sangat bersyukur, maka tibalah kini Su-Thay turun tangan padaku Silahkan”
katanya.
Pemberontak itu menghunus golok dan menyerahkannya kepada Kui Lan.
“Hm,” Kiu Lan memberikan suaranya, ia merasa ragu-ragu, “Dialah musuh yang
menyebabkan ayahku binasa. Dapatkah sakit hati itu aku tidak membalasnya? Tetapi ia
telah pasrah, dapatkah aku menanganinya…?” katanya dalam hati, ia lalu berpaling
pada A Ko dan ia berkata dengan suara dingin, “Dia…. Dialah anak perempuanmu…”
“Dia bukan ayahku.” A Ko berkata sebelum Lie Cu Seng menjawab pertanyaan
gurunya.
“Kau mengaco saja” Kiu Lan membentak sang murid itu. “lbumu sendiri yang
mengakuinya, mustahil jika ia mendustaimu.”
“Dialah ayahmu.” Siau Po turut bicara. “Bahkan ia bersama dengan ibumu telah
menyerahkan kau untuk aku jadikan sebagai istriku inilah yang dikatakan perintah ayah
ibu.,.,”
A Ko yang sedang berduka dan mendongkol itu, sedari tadi diam, tetapi kali ini ia tak
dapat menahan amarahnya lagi. Mendengar suara Siau Po yang bernada mengejek itu,
ia langsung melayangkan tangannya untuk menyerang Siau Po.

Siau Po tidak menyangka akan mendapatkan serangan yang mendadak, maka tak
ayal lagi pukulan A Ko tepat mengenai hidungnya dan yang langsung mengeluarkan
darah segar.
“Oh, ada orang yang ingin membunuh suaminya sendiri” kata Siau Po dengan nada
mengejek.
Kiu Lan tidak senang menyaksikan kejadian itu.
“Kalian semua gila,” katanya dengan keras. “Kalian adalah pengacau”
A Ko mundur beberapa langkah, tetapi hatinya masih saja kesal, Hal itu terlihat dari
wajahnya yang tampak merah.
“Kau bukan ayahku.” katanya sambil menunjuk pada Lie Cu Seng. “Dia pun bukan
ibuku.” yang ia maksudkan ialah Tan Wan Wan, “Kau pun bukan guruku…. KaIian….
Kalian.,., Kalian manusia-manusia busuk semua…. Aku…. Aku benci pada kalian..”
Kata A Ko yang kali ini mengarah pada Kiu Lan.
Mendadak si nona menangis sambil menutup mata,
Kiu Lan menghela napas.
“Tidak salah,” kata Kiu Lan. “Memang aku bukanlah gurumu, aku yang menculikmu
dari sisi Gauw Sam Kui dengan menyimpan maksud yang teramat jahat. Maka itu
sekarang kau pergilah Namun ayah dan ibu kandungmu tak dapat tidak kau akui.”
Nona itu membanting kaki.
“Aku tak mau mengakui mereka, aku pun tak mempunyai guru,” katanya dengan
suara keras di sela isak tangisnya.
“Tetapi engkau mempunyai aku, suamimu” kata Siau Po.
Bukan kepalang panasnya hati A Ko mendengar kata-kata Siau Po itu, Nona itu lalu
mengambil batu kerikil untuk melempari Siau Po.
Siau Po berkelit, justru itu si nona pun langsung kabur dengan berlari cepat ke arah
barat.
Melihat hal itu Siau Po hanya melihat saja, begitu juga Lie Cu Seng dan Kui Lan.
Mereka sama-sama hanya melihat perginya nona itu, mereka semua tak dapat
menahannya.
Kui Lan berduka sekali menyaksikan kejadian itu, lantas mengulapkan tangannya
pada Lie Cu Seng, ia tak membuka mulutnya enggan untuk bicara.

Melihat hal demikian Siau Po berkata pada bekas kepala pemberontak itu, “Gak-hu,
guruku tidak ingin membinasakan engkau, oleh karenanya cepatlah kau pergi”
Lie Cu Seng bingung, ia merasa gembira karena telah dibebaskan, namun suasana
itu membuatnya menjadi hilang kegembiraannya, Kekasih pergi dan anak tak sudi
mengakui sebagai ayahnya, juga terhadap Siau Po ia tak merasa puas, hingga ia
menatapnya dengan mata yang merah.
“Fui,” Lie Cu Seng meludah dan ia terus pergi. Melewati jalan kecil di samping
mereka, ia terus berjalan dengan langkah lebar.
Siau Po menggelengkan kepalanya menyaksikan mertuanya yang berlalu pergi.
Kemudian ia berkata dalam hati, “A Ko berkata biar bagaimana pun ia tak sudi menikah
denganku, ia pun tak mengakui ayah dan ibunya, mana sudi ia mengakui aku sebagai
suami….”
Ketika Siau Po menoleh ke belakang, tampak di belakangnya sudah berdiri dua
orang temannya, yakni Cie Thian Coan bersama dengan Kho Gan Ciau dengan
memegang senjata mereka masing-masing. Rupanya mereka berjaga-jaga sebab
mereka khawatir kalau-kalau Lie Cu Seng gusar dan menyerang Siau Po.
“Dialah yang dahulu membuat langit ambruk dan amblas.” kata Siau Po.
“Dia juga yang membuat kerajaan Beng musnah hingga kita semua dijajah bangsa
Boan, sekarang saja ia sudah berusia lanjut tetapi masih tampak gagah.” kata orang
She Cie.
“Ya, dia lihay sekali, lalu bagaimana dengan Khantema?” tanya Siau Po pada
mereka.
“Dialah si orang penting, tak berani aku melenyapkannya.” jawab mereka.
“Bagus.” kata Siau Po. “Harap kalian terus berjaga-jaga agar ia jangan sampai loIos”
perjalanan diteruskan ke arah utara, Siau Po mengambil kesempatan untuk menemui
keluarga Bhok, Ketika itu Bhok Thian Sin merasa tidak puas, sebab dalam hatinya ia
berpikir “Semua jiwa kami ditolong oleh mereka, lalu dengan cara bagaimana keluarga
Bhok dapat bersaing dengan mereka dalam hal jago” ujar Bhok Thian Sin dalam hati.
Liu Tay Hong yang jujur berkata dengan sikap tenang.
“Wie Hiotcu, selanjutnya kami tak dapat bersaing lagi dengan Thian Tee hwee. ini
disebabkan tindak tanduk Gauw Sam Kui, dan kalian yang telah menolong kami semua,
Mungkin kami tak dapat membalas budi baik kalian.” katanya.

“Kita lebih baik tak usah berbicara mengenai budi.” kata Siau Po. “Bukankah kita
sama-sama dapat lolos dari maut yang telah mengancam jiwa kita? Menurutku, jiwa kita
telah ditolong oleh kita sendiri, bukan olehku.” lanjutnya.
Sementara itu Gouw Lip Sin sangat mendongkol terhadap Law It Cou, maka ia
berkata, “Kalau jahanam cilik itu datang, aku akan menyincangnya hingga hancur
lebur.”
“Oh, jadi dialah yang telah membocorkan rahasia kita pada Gauw Sam Kui?” tanya
Siau Po.
“Siapa lagi kalau bukan dia, ketika itu Liu Suhu memerintahkannya untuk pergi
mencari berita, akhirnya ia ditawan oleh Gauw Sam Kui, Dan pada malam harinya satu
pasukan datang mengurung tempat kami. Bukankah tempat kami menjadi tempat
rahasia? Jika bukan jahanam itu yang membocorkannya mana mungkin Gauw Sam Kui
mengetahui tempat tinggal kami yang letaknya sangat tersembunyi itu?” kata Lip Sin.
Habis berkata demikian orang She Bhok menarik napas berat, kemudian dengan
menyesal ia berkata.
“Sayang Goh Toako telah wafat sebagai korban dari keganasan si pengkhianat itu,
maka sebaiknya kita berpisah sekarang.”
“Di sini masih wilayah si pengkhianat besar itu, maka mari kita tetap bersatu agar jika
timbul penyerangan mendadak kita dapat bekerja sama menghancurkannya, Nanti jika
kita sudah sampai pada perbatasan wilayah, baru kita berpisah.” berkata Siau Po.
Bhok Kiam Sin menganggukkan kepala, “Terima kasih atas kebaikanmu, aku justru
khawatir kalau-kalau kita terjatuh ke tangan Gauw Sam Kui, si pengkhianat bangsa
Han. Jika hal itu terjadi lagi sungguh aku tak memiliki muka untuk hidup lebih lama lagi.”
katanya.
Setelah berkata demikian mereka pergi bersama rombongan keluarga Bhok,
Rombongan tersebut mengambil lain arah, setelah mengucapkan kata-kata terima
kasihnya pada Siau Po.
Bhok Kiam Peng berjalan paling belakang, Belum jauh ia berjalan kemudian menoleh
ke belakang dan berkata pada Siau Po.
“Aku pergi sekarang, kalian jaga diri baik-baik” katanya.
“Ya, kau juga jaga dirimu baik-baik, kau turutlah pada kakakmu dan jangan kau
kembali lagi ke Sin Lioang To…” jawab Siau Po yang semula dengan suara keras tapi
akhirnya dengan suara rendah, Nona itu mengangguk.
Siau Po lalu menuntun kudanya untuk selanjutnya diserahkan pada nona tersebut.

“lni kudaku, aku akan memberikannya padamu,” katanya dengan perlahan.
Mata si nona menjadi merah, ia sangat terharu dengan perpisahan itu. Nona itu
kemudian menerima kuda pemberian Siau Po, yang kemudian ia menaikinya, dan
melarikan dengan cepat untuk menyusul rombongan kakaknya yang terlihat sudah jauh
itu.
Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan semakin jauh mereka berjalan ternyata
tidak tampak tentara dari Gauw Sam Kui yang mengejar mereka, pada suatu siang,
tampak empat orang penunggang kuda dengan cepat.
Sesampai mereka pada rombongan Siau Po, salah satu dari mereka lalu meminta ijin
untuk bertemu dengan Siau Po, yang menjadi pimpinan rombongan itu.
Mereka lalu dipersilahkan masuk ke dalam tenda Siau Po. Di sana mereka
memperkenalkan pimpinan mereka.
“Saudara Kwie, inilah Wie Hio-Cu dari Ceng Bok Tong dari Tian Tee Hwee kami”
kata sang pemimpin.
Kembali orang itu memberi hormat tetapi kali ini dengan cara Thian Tee Hwee,
“Langit dan bumi, ayah dan ibu, kami menentang kerajaan Ceng dan kami akan
membangun pula kerajaan Beng, Hamba yang menjadi orang bawahan hamba adalah
Kwie Thian Hong Hwee Tong, Kami menghadap saudara Wie Hio Cu serta para Tou
dari Ceng Bok Tong.” katanya.
“Senang sekali aku dapat bertemu dengan kalian, semenjak kita berpisah dari Ku
Hiocu di 0uw-pak, kita tak pernah bertemu lagi, Bukankah dalam segala hal Ku Hiucu
selalu mendapatkan angin baik?” tanya Siau Po.
“Ku Hiocu dalam keadaan baik-baik saja, Aku pun dititahkan memujikan kesehatan
Hiocu semua, Kami semua bergembira mendengar segala sesuatu yang telah
dikerjakan Wie Hiocu, Kami semua merasa sangat kagum Hari ini kami merasa senang
dapat bertemu Wie Hiocu,” kata Tian Hiong.
Siau Po tertawa.
“Kita semua bersaudara, Lebih baik kalian jangan berlaku sungkan” katanya. “Dalam
beberapa hari lagi kami akan tiba di Kwiciu dan di sana kami akan bertemu dengan Hu
Hiocu, kami sangat senang sekai. Kami ingin berbincang-bincang dengan Hu Hiocu
kalian.”
“Kami dipesan Hiocu kami, untuk mengajak Wie Hiocu melalui jalan memutar jadi
nanti tak melalui Kwieciu lagi.” kata sang pemimpin itu.

Mendengar hal demikian Siau Po dan kawan-kawannya merasa sangat heran hingga
mereka itu semuanya bengong.
Tian Hiong dapat mengerti semua itu, maka ia lalu berkata memberikan penjelasan
pada Siau Po dan kawan-kawannya.
“Ku Hiocu ingin sekali bertemu dengan Wie Hiocu, karenanya ia memerintahkan aku
untuk memberitahukan tempat penemuan yang paling baik untuk semuanya dan itu di
tempat sana di propinsi Kwie-say saja.”
“Mengapa demikian?” tanya Siau Po.
“Kami telah mendengar, Gauw Sam Kui telah menyebarkan tentaranya dan mereka
itu tidak menggunakan pakaian tentara, Mereka diperintahkan untuk melakukan
tindakan-tindakan kejahatan Dan hamba rasa tentara-tentara itu mempunyai niat jahat
terhadap Hiocu dan kawan-kawannya.” sahut Tian Hiong.
“Oh, begitu, Celaka Si pengkhianat itu telah kalah tetapi ia tetap tidak mau mengakui
kekalahannya, bahkan dengan demikian dia sudah tidak sayang lagi terhadap nyawa
anaknya sendiri.” kata Siau Po.
“Gauw Sam Kui memang sangat jahat dan juga licik.” kata Tian Hiong. “Dia
mengatakan telah mengirim tentaranya untuk menculik guru Wie Hiocu dan setelah itu
barulah ia akan menculik anak tuan putri dan juga Wie Hiocu sendiri sedangkan yang
lainnya akan mereka binasakan untuk membungkam mulut mereka. sekarang ini orangorang
Gauw Sam Kui telah menutup jalan dan mengurung daerah itu hingga setiap
orang tak ada yang dapat melewatinya, begitu juga dengan kami berempat.
Setelah kami mendapatkan perintah dari Hu Hiocu, kami langsung berangkat dengan
melewati jalan kecil hingga dengan demikian mereka tak mengetahui kami, Karena
kami merasa khawatir Wie Hiocu tidak mengetahui akan hal itu, maka kami langsung
menyusul kemari, untuk mencegah jangan sampai Wie Hiocu dan kawan-kawan
terjebak dalam daerah itu.”
Siau Po memperhatikan orang-orang itu dan memang mereka berempat telah
melakukan perjalanan yang sangat jauh, dan mata mereka semua tampak merah dan
lesu.
“Saudara-saudara kalian telah menempuh perjalanan yang sangat jauh oleh
karenanya sebaiknya kalian pergi untuk istirahat Kami semua sangat berterima kasih
pada kalian yang telah menyelamatkan nyawa kami.” kata Siau Po.
“Kami sangat senang karena kami tidak terlambat untuk melaporkan hal ini pada Wie
Hiocu.” ujar Tian Hiong.
Cian Lao pan berpikir lalu ia bertanya.

“Tian Hiong, di tempat mana Ku Hiocu akan menemui Wie Hiocu di Kwie-say? Dan
berapa jumlah pasukan yang digunakan untuk mengurung daerah itu?”
“Hal itu tidak ada kepastian, hanya yang aku lihat sekitar tiga laksa jiwa, jika tak ada
halangan, pertemuan akan dilaksanakan di dalam kota,” jawab Tian Hiong.
“Ku Hiocu sudah mengirim orang untuk memberitahukan pada Ma Hiocu dari Kee
Hou Tong di Kwiesay, Untuk Hweecu itu bersiap menyambut kami, maka jika Hiocu
setuju kita semua jadi berkumpul di sana. Untuk menuju ke sana kita mengambil arah
barat daya, jalannya tidak bagus tapi di sana tidak ada tentara Gauw Sam Kui, dan
sepanjang jalan saudara Ku Hiocu telah berjaga-jaga jadi kita tak usah khawatir.
Mendengar kabar tersebut Siau Po menjadi dongkol hatinya, ia kemudian
memerintahkan untuk memutar arah, sementara itu para utusan yang memberitahukan
pada Siau Po diminta naik ke kereta putra Gauw Sam Kui, ia diminta untuk berjaga-jaga
kalau-kalau nanti anak itu melakukan tindakan, juga agar para utusan itu dapat
beristirahat.
Pada saat itu langit sudah tampak gelap, maka mereka beristirahat pada tempattempat
yang lapang, penjagaan pun dilakukan dengan lebih ketat.
Pada suatu hari mereka telah sampai pada pertengahan jalan, Mereka langsung
disambut oleh Hiocu Ma Ciau Hin dari Kee Houw Tong serta Hiocu Ku Cie Cong dari
Cek Houw Tong dari Tian Tee Hwee yang berkumpul dengan membawa para
bawahannya, Maka ketiga Hiocu itu melakukan pertemuan dengan gembira.
Pada malam harinya orang yang bertugas memata-matai tentara Gauw Sam Kui
memberikan laporan, bahwa tentara Gauw Sam Kui mengetahui bahwa Siau Po dan
rombongan telah memutar arah, maka mereka langsung mengejar rombongan Siau Po.
Ma Ciaou Hin tertawa lalu ia berkata.
“Kwie-say bukanlah wilayah Gauw Sam Kui, jikalau pengkhianat itu membawa
tentara ke wilayah itu, mereka pasti menyangka bahwa tentara itu akan melakukan
pemberontakan secara nyata, sekarang ini Wie Hiocu dan saudara kalian masih letih,
sebaiknya kalian beristirahat barang beberapa hari lagi, kemudian kalian melanjutkan
perjalanan ke arah utara lebih jauh lagi, Karena dengan demikian kalian tak akan dapat
ditemui pemberontak itu….”
Mendengar kabar demikian Siau Po dan rombongannya melanjutkan perjalanan
mereka diantar sampai pada batas propinsi Inlam,
Perjalanan dilakukan terus hingga mereka sampai pada propinsi Kwie-say, Di sinilah
mereka baru dapat beristirahat dengan tenang, Ketika Siau Po dan para pembesar yang
lainnya sedang berbincang-bincang datanglah salah seorang pimpinan pasukan
pengawal raja yang memberikan laporan.

“Tio jieko telah ditahan” katanya.
“Kurang ajar siapa yang telah berani melakukan perbuatan itu? Sungguh ia
berkeberanian besar” kata Siau Po.
“Yang menahannya bukan para pembesar kota ini tetapi di rumah judi, Kami
semuanya bertujuh dan kami kalah bermain. Tetapi sewaktu uang kami akan diambil
oleh si bandar kami menahannya, Kami tak mengijinkan uang kami diambil mereka.”
“Jika demikian kalianlah yang bersalah Kalian memang tidak tahu malu, Kalian sudah
kalah mengapa kalian tidak mau menyerah? jangan kata baru orang membuka biji
besar beruntun empat kali” kata Siau Po.
“Ya, kami mengaku telah bersalah, dan selanjutnya uang kami dikembalikan karena
Tio Cieko mengancam mereka dengan menghunus goloknya, lalu kami mengambil
uang itu.” katanya.
“Lalu?” tanya Siau Po. “Kenapa kalian jadi berkelahi? Apakah si bandar itu memiliki
ilmu silat yang cukup tinggi?”
“Sama sekali tidak demikian.” sahut Kong Lian.
“Bersama dengan Thi Cieko kami membawa uang kami, di saat kami akan
meninggalkan tempat tersebut tiba-tiba terdengar suara seorang penjudi yang berkata
dengan suara keras, Setan alas Enak saja orang memperoleh uang? Habis apakah kita
harus makan angin busuk? kalau begini sebaiknya kita pergi ke istana, di sana kita
bekerja melayani raja… ya raja Bukankah itu bagus? Congkoan, ketika berkata
demikian mereka bersikap tak hormat sekali, kata-kata mereka kotor, tak sanggup aku
menahan emosinya…” kata Kong Lian.
Bagian 58
Siau Po mengangguk
“Aku tahu itu,” katanya, “Terang mereka sudah bernyali besar.”
“Memang demikian adanya, maka mendengar kata-kata demikian kami menjadi
marah, bahkan Co Jioko melemparkan uang kemudian ia menghunus pedangnya. Di
luar dugaan dengan hanya sekali kibas saja Co Jioko sudah terkena tinjunya, bahkan
lebih dari itu langsung tak dapat bangun lagi. Melihat kejadian itu kami berempat
menyerang bersama-sama, orang itu lihay luar biasa. Di luar sadarku, aku terkena
tinjunya hingga kepalaku menjadi pusing, tubuhku terlempar ke luar kamar judi dan aku
tak ingat apa-apa lagi, Kemudian ketika kami sadar tampak kawan-kawan kami sudah
pada pingsan semua, sedangkan dengan sebelah kakinya, musuh menginjak kepala
Jioko seraya ia berkata:

“Di sini ada enam kepala, masing-masing kepala seharga enam ribu tail perak. Maka
sekarang cepat kau pergi untuk mencari uang guna membebaskan kawan-kawan kalian
ini, tuan besarmu akan menunggu. Selama dua jam dan selebihnya aku tak tahu
menahu. Aku akan memenggal kepala kawan-kawanmu satu persatu, dan nanti aku
akan menjualnya dengan harga sepuluh tail perak untuk satu kepala, Jika barang itu tak
laku aku yakin akan dapat menjual seribu untuk salah satu kepala kalian.”
“Orang macam apa dia itu? Kalian dapat mengenalinya atau tidak?” tanya Siau Po
dengan perasaan yang mendongkol.
“Dia bertubuh gagah dan berkepala besar, mukanya penuh dengan rambut dan
jenggotnya putih,” sahut orang yang ditanya “Tetapi ia mengenakan pakaian acakacakan.
Dia lebih mirip dengan seorang pengemis tua.”
“Apakah dia mempunyai kawan? Dan berapa jumlah kawan-kawannya itu?” tanya
Siau Po.
“ltu yang bawahan tak memperhatikannya. Ketika itu, di tempat judi ada tujuh atau
delapan belas orang tetapi aku tak tahu mereka itu kawannya atau bukan.” jawab Kong
Lian.
Siau Po dapat mengetahui kebingungan orang itu sebab orang itu baru saja kena
hajar jadi dia tak dapat berpikir secara normal.
“Tak mungkin aku akan membawa serdadu yang jumlahnya banyak itu hanya untuk
satu orang yang seperti pengemis itu.” kata Siau Po dalam hatinya.
“Kalau aku memerintahkan seratus Sie Wie yang dapat diandalkan untuk mengawal
tuan aku rasa sudah cukup.” kata Kong Lian.
Siau Po berpikir sebelum menjawab pertanyaan Kong Lian itu. Dan setelah
mendapatkan jalan pikirannya Siau Po berkata.
“Tak usah biar aku

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s