“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 76

saja yang menyelesaikannya, kalian jangan khawatir” kata Siau
Po.
“Tetapi mereka itu sangat lihay dalam ilmu silatnya.” kata Kong Lian memperingatkan
Siau Po.
Siau Po tak menjawab perkataan Kong Iian, ia malah kembali ke kamarnya untuk
mengambil uang emas dan gimpon. Setelah itu Siau Po pergi ke kamar dua orang
kawannya.
Kedua kawan Siau Po yang diajak pergi tersebut bukanlah orang-orang
sembarangan melainkan orang yang mempunyai ilmu silat yang tinggi, umpamanya
saja Ay Cun-cia dia dapat menandingi orang-orang Siau Lim Pay dari kalangan Sip-Pat

Lohan atau Lohan yang ke delapan belas, begitu juga Ko Han, dia pun memiliki ilmu
silat yang tinggi.
Untuk menghadapi orang yang menahannya itu Siau Po merasa sudah cukup.
Walaupun dengan hati yang tidak tenang Kong Lian akhirnya mengantarkan Siau Po
dan kawan-kawannya itu ke tempat judi, dari luar Siau Po dan kawan-kawannya sudah
dapat mendengar omongan mereka yang berada dalam rumah judi tersebut.
“Kepandaian berjudiku ini, terkecuali orang yang pandai luar biasa, tak mungkin ada
yang dapat mengalahkan.” kata salah seorang penjudi itu.
Siau Po kemudian memasuki rumah itu, sedangkan kawannya dan juga Kong Lian
menunggu di depan pintu, untuk selanjutnya menunggu aba-aba dari Siau Po.
Setelah Siau Po dan kawan-kawannya memasuki rumah itu, mereka terdiam,
Kemudian Siau Po mengawasi sebuah meja dengan empat orang yang sedang asyik
berjudi seolah-olah mereka tak mengetahui kedatangan Siau Po dan kawan-kawannya
itu.
Di bawah orang yang sedang berjudi itu tampak para Sie Wie yang masih mereka
tawan, dan tampak di antara mereka seorang yang mengenakan baju robek-robek, dan
pada badannya dipenuhi dengan rambut itulah orang yang dimaksud dengan Kong
Lian.
Di ujung meja duduk pemuda tampan, yang dandanannya mirip seorang pelajar.
Melihat pemuda itu Siau Po langsung mengenalinya dalam hati ia berkata, “Ah, dia
Mengapa dia ada di sini?”
Pemuda itu adalah Lie See Hoa, yang pernah bertemu dengan Siau Po di kota raja.
ia mempunyai ilmu silat yang cukup lihay tetapi ia pernah juga diajar oleh ilmu silat
jambretan Gie Sin Jiaou dari Tan Kin Lam dan semenjak itu ia tak pernah bertemu lagi
dengannya.
Dan tampak di sebelah utara seorang yang luar biasa, dengan pakaian rapi dan
sangat indah, ia mengenakan baju panjang dengan lapisan muka semacam rompi
sulam, ia menyipitkan dan mengarahkan matanya pada kartu yang dipegangnya, sudah
jelas ia tengah memusatkan perhatiannya pada kartu itu.
Setelah memperhatikan orang-orang itu, Siau Po lalu mencari tempat duduk dekat
mereka.
“Keempat sahabat, nampaknya kalian tengah bergembira sekali, bagaimana jika aku
turut dengan kalian berempat main? Dapatkah?” ujarnya sambil tertawa.
Tatkala Siau Po ingin mendekati, tampak di atas meja telah bertumpuk uang kira-kira
berjumlah lima atau enam ribu tail perak, terutama yang terbanyak yang ada di depan

pak tani yang wajahnya nampak sedih dan berduka. Anehnya, orang itu tidak merasa
puas dan masih saja tampak sedih.
“Bagus…. Bagus” kata orang itu sambil tertawa terbahak-bahak, “Lihatlah siapa yang
menang?”
Siau Po terus saja memperhatikan orang-orang yang sedang bermain itu. Petani itu
rupanya penggemar judi, Hal ini dapat dilihat baik kalah maupun menang ia tetap
tenang.
Siau Po menyaksikan kedua orang itu tengah bertengkar omong, yaitu antara pak
tani itu dengan yang kate gendut.
Melihat hal itu Siau Po berkata.
“Sudah…. Sudah,., daripada main kartu lebih kita main dadu”
Si kate menggoyang-goyangkan kepalanya.
“Aku justru senang main kartu.” katanya.
“Tapi kau tak mengerti aturan mainnya mana dapat kau melanjutkan permainan itu?”
kata temannya.
Si kate itu menjadi gusar maka ia mengangkat badan orang yang berkata itu lalu
digoyang-goyangnya.
“Apa katamu?” tanyanya dengan sengit “Kau katakan aku tak mengerti aturan
permainan kartu?”
Siau Po merasakan tulang tubuhnya pada berbunyi.
“Kho Cun Cia, jangan-jangan tuan ini Wie Tayjin… kau jangan bertindak
sembarangan jangan sampai kau mendapat salah Cepat kau bebaskan dia?” kata Ay
Cun-cia.
“Apa?” tanya si kate “Apakah,., apakah… apakah ia Wie Siau Po? Ha, ha, aku
memang sedang menanti dapat bertemu dengan dia, ini sangatlah kebetulan sekali.”
“Kho Cun-cia,” tegur Kho Hian. “Kau sudah mengenal Wie Tayjin, tetapi mengapa
kau masih kurang ajar padanya? Cepat kau bebaskan dia”
“Sekalipun kauwcu yang datang padaku, masih aku tidak mau membebaskannya,
kecuali jika ia memberikan obat pemunah Kay-toh” katanya.
“Sudah, Suko jangan kau main gila Kau toh tak meminum racun itu, buat apakah
obat pemunah itu?” tanya Ay Cun-cia.

“Kau tahu apa?” kata si kate dengan suara keras, “Cepat kalian buka jalan untukku,
jangan kalian tidak dapat berlaku sungkan lagi”
Saat itu Siau Po baru mengerti kalau orang yang gemuk itu adalah gendak ibu suri
yang palsu yang dahulu pernah kepergok dengannya dalam keraton.
Dan yang lebih mengherankan dia itu kakak seperguruan Ay Cun-cia dan sekarang
Siau Po baru dapat melihat orang itu dengan jelas.
Ingat pada si kate itu, Siau Po berpikir lebih jauh, “Menurut Ay Cun, dia dan si kate ini
dahulu diperintahkan oleh gurunya untuk pergi ke luar negeri, tetapi mereka diserang
angin sehingga mereka harus kembali lagi ke darat belum pada waktunya. Karena
mereka sudah terlanjur meminum obat racun itu sehingga Ay Cuncia kini bertubuh
jangkung dan kurus sedangkan Kho Cun-cia bertubuh gemuk sehingga mirip dengan
labu. Tetapi mereka itu telah meminum obat pemunah racun itu, mengapa sekarang ia
memintanya padaku? Oh, ya aku mengertil ibu suri masih belum dapat disembuhkan
dan mereka berdua adalah sahabatnya yang sangat kental.”
Memikir hal tersebut Siau Po lalu mengeluarkan suaranya,”jikalau kau menginginkan
obat pemunah itu, bebaskan dulu aku, baru nanti kuberikan obat itu padamu.”
Mendengar sebutan nama obat itu Kho Cun-cia menjadi takut dan ngeri lalu ia
menurunkan tangannya, dan menyodorkan tangan kirinya untuk meminta obat itu.
“Mana, mari kau berikan obat itu padaku “
“Tetapi kau telah berlaku kurang ajar terhadapku.” kata Siau Po. Meskipun demikian
ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan lencana Ngo Liong Leng…. Lima Naga…
seraya berkata dengan keras, “Kau lihat apa ini?”
Orang itu nampak sangat kaget sehingga mukanya pucat, tetapi ia masih saja sangsi.
Kakinya mundur satu langkah sedangkan matanya mencekung.
“Eh, Kho Cun-cia apa katamu barusan?” tanya Siau Po.
Rupanya si kate itu telah berpikir dan secara tiba-tiba ia melakukan penyerangan
pada Siau Po, tangannya diarahkan pada dada lawan.
“Cepat berikan obat itu” katanya dengan berteriak.
“Jangan” teriak Ay Cun-cia dan Liok Kho Hian serentak.
Sementara itu datang pula tiga tangan, itulah si pengemis tua yang mengancam jalan
darah Pek-hiat-hwee pada kepala, tepatnya ubun-ubun tangan Lie See Hoa
mengancam belakang kepalanya, jalan darah Giok-Cu Hiat, dan tangan si pak tani
sudah siap menotok mukanya, tepatnya pada matanya.

Kho Cun-cia kalah daripada Siau Po, tak heran kalau tangan tiga orang itu telah
mengancam muka, dada, kepala dan punggungnya.
“Jangan” Mereka berteriak mencegah. Mereka tahu jika ia mengerahkan tenaganya,
Khu Cun-cia akan tak bernyawa lagi.
“Eh, kate Angkatlah tanganmu” kata si pengemis.
“Asal ia memberikan obat itu padaku, aku akan mengangkat tanganku dari sini?”
katanya.
“Jikalau kau tak mengangkat tanganmu aku akan mengarahkan tenagaku untuk
mencegahnya” ancam si pengemis itu.
“ltu tak apa paling-paling kita mati bersama-sama.” kata si kate itu.
Justru saat mereka itu sedang berbicara Ay Cun-cia dan Liok Kho Hian bergerak
benama-sama masing-masing mengancam dada dan leher pengemis itu.
Melihat itu semua pak tani menjadi tertawa sendiri, tetapi tak ayal ia pun terkena
ancam, sehingga jumlah mereka yang saling ancam itu tujuh orang.
Siau Po tertawa.
“Sungguh menarik hati Eh, orang cebol jikalau kau menghajar aku sampai mati, itu
tidak ada artinya, kau tahu, kau tak akan mendapatkan obat itu, yaitu obat Tok Liong
Wan yang hanya ada di Siau Lim See. hendakmu yang tua itu nanti akan mati secara
perlahan-lahan pertama dagingnya membusuk, kemudian kepalanya membotak, dan
kemudian….”
“Tutup mulutmu” kata si katai.
Siau Po tertawa.
“Dan mukanya karena luka itu nantinya akan menjadi bolong-bolong…” demikian
katanya tanpa menghiraukan larangan itu.
Baru berhenti suara Siau Po, tiba-tiba terdengar suara yang nyaring dan keren. “Di
manakah tawanan semua?”
Suara itu telah berhasil menarik perhatian orang-orang itu, sehingga mereka
terperanjat karena kaget Mereka lalu berpaling ke arah suara itu. Bersamaan dengan itu
mereka melihat sinar putih pedang yang mengkilap.
Kemudian tampak seseorang mendekati mereka. Kemudian orang itu menotoki jalan
darah mereka, maka tak ayal lagi mereka ambruk semua.

Ternyata yang datang itu berjumlah empat orang.
“Oh, A Ko kau datang” kata Siau Po dengan suara perlahan sekali. Yang berdiri di
sisi A Ko adalah Lie Cu Sen, di sebelah kirinya The Kok Song, dan di sebelah kanannya
justru orang She The yang paling tidak ia sukai.
Masih ada orang yang ke empat, dialah Phang Sek Hoan yang bergelar “lt Kian Gu
Hiat” si pedang tanpa darah.
Di antara kedelapan orang itu, bahkan Kong Lian terkena tusukan.
“Kau makhluk apa? Kau berani menotok jalan darah Kwat-hiat dan Sin-tong-hiat
aku?” kata Kho Cun-cia.
Phang Sek Hoan tertawa dingin.
“Ternyata ilmu silatmu tak ada apa-apanya. Kau ketahui jalan darahmu kena
tertotok.” katanya.
“Cepat kau bebaskan jalan darahku, mari kau layani orang tuamu beberapa jurus
Caramu sekarang ini main bokong, itu bukannya cara orang Enghiong.” kata si kate.
“Kaukah si Enghiong? Benar-benar gila Bukankah kau roboh di lantai tanpa
berkutik? Beginikah cara orang Enghiong?” tanya Sek Hoan.
Kho Cun Cia panas hatinya.
“Tuan besarmu bukan roboh, melainkan dia sedang duduk. Apakah kau tidak punya
mata?” katanya sengit.
Sek Hoan mengangkat kakinya dan ia lalu menendang orang kate itu, Si kate jatuh
roboh tetapi anehnya, ia cepat bangun kembali sehingga ia terduduk lagi seperti
semula, Memang beda dengan yang lainnya, ia duduk tidak jatuh seperti yang Iainnya,
itu dikarenakan badannya yang gemuk itu dapat menjadi bahan penimbang.
Asalkan mau roboh, ia dapat bangun kembali, jadi ia seperti boneka yang tak dapat
tertidur, ia hanya duduk saja.
The Kek Song tertawa menyaksikan hal itu.
“Kau lihat adik Kok?” demikian katanya, inilah suatu boneka hidup Bagus bukan?”
lanjutnya.
“Ya, memang sangat aneh dan sangat lucu” jawabnya.
“Kau mau mencari si setan cilik untuk membalas sakit hatimu dan akhirnya sekarang
kau dapatkan itu dapat memenuhi keinginanmu dan kita telah berhasil menawannya.

Seterusnya kau boleh menyiksanya dengan perlahan-Iahan. atau barangkali kau ingin
membinasakannya dengan satu kali tebas saja?” tanya Kek Song pada A Ko.
Siau Po terkejut.
“Si setan cilik?” pikirnya, “Terang dengan demikian akulah orang yang dimaksudkan
Mustahil A Ko akan membinasakan aku? Aku toh tak pernah bersalah padanya?”
Segera terdengar suara sengit dari si nona.
“Jikalau aku melihat dia lama-lama hatiku semakin panas Aku pikir, jika kutebas satu
kali saja, hal itu lebih memuaskan hatiku.” kata A Ko dengan kesalnya.
Kata-kata itu dibarengi dengan keluarnya sebuah golok dari dalam sarungnya,
Kemudian nona itu mendekati Siau Po.
“Jangan…. jangan bunuh dia” kata Kho Cun Cia, Liok Kho Hian dan juga Kong Hian.
“Su-Cie, bukankah aku tidak…” kata Siau Po.
“Siapa yang menjadi Su-Ciemu? Setan cilik kau justru berdaya hendak mencelakai
aku.” kata si nona yang langsung mengangkat pedangnya untuk menikam dada Siau
Po.
Semua orang yang berada di sana berteriak, justru itu pedang si nona terpental
setelah mengenai sasaran sedangkan Siau Po tak terluka, karena ia menggunakan baju
anti senjatanya yang tak mempan dengan senjata apa pun. Menyaksikan hal itu si nona
tercengang saking herannya.
“Tusuk matanya” kata Kek Song, Sebab ia mengetahui kalau orang tidak mempan
ditusuk badannya maka ia akan mempan jika ditusuk matanya.
“Benar,” kata si nona yang sadar, dan terus mengulangi serangannya dan kali ini
mengarah ke mata Siau Po.
Kembali orang-orang itu terkejut.
Sewaktu serangan berlalu, ada orang melompat menubruk Siau Po. Dia berlompat
dari pojok tembok, karena itu ujung pedang mengenai bahunya.
Akan tetapi ia terus memeluk Siau Po, untuk diajak menjatuhkan diri kembali ke
pojok rumah, ia lalu mengambil pisau Siau Po.
Orang itu memakai pakaian tentara Sie Wie, tubuhnya kotor dan dekil, walaupun
orang tak melihatnya, dia pasti memiliki ilmu silat yang tinggi. “Ah, dia setia sekali.”
demikian kata mereka bersama.

Phang Sek Hian menghunus pedangnya, ia maju lalu memutar tubuhnya dan
senjatanya sehingga ruangan itu penuh dengan sinar berkilauan dan langsung
menyerang tentara itu.
Senjata itu beradu dengan senjata lawan, akan tetapi tentara itu banyak
mengeluarkan darah.
Sek Hoan malu dan penasaran, wajahnya jadi merah padam.
Terdengar suara “Trang” senjata kedua belah pihak beradu. Karena beradunya
senjata itu maka senjata lawan yang beradu dengan senjata Siau Po menjadi buntung.
Maka itu Siau Po sudah kembali pada jalan darahnya.
“Ha ha ha ha Phang Sek Hian, kau hanya dapat melawan serdaduku dan
mencelakainya saja, Untuk itu sebaiknya kau ganti saja gelarmu dengan yang lainnya.
Bagaimana jika kuganti dengan Poan Kiam Yu Hiat Phang Sek Hian?” katanya.
Setelah itu Cun Cia sangat gusar dan kesal sekali, Bukankah mereka itu orang-orang
yang lihay dalam ilmu silatnya, sementara yang sedang tertotok itu lalu tertawa
mendengar Siau Po menyebutkan kata-kata itu.
Begitu juga si pengemis tua, dia langsung memperdengarkan suaranya yang nyaring.
“Bagus…. Bagus kata-kata itu sangat cocok denganmu, gelar itu sekarang dapat kau
gunakan, Dasar kau orang yang tidak tahu malu” katanya.
Lie See Hoan heran.
“Kenapa dia terhitung juga keduanya?” tanyanya, “Aku mohon penjelasan darimu”
“Sebab jika diadu dengan Gauw Sam Kui ia masih kalah seurat” sahutnya.
Kembali orang banyak tertawa lagi.
“Menurut aku bedanya sangat terbatas” kata Kho Hian turut berkata pula.
Panas hati Sek Hian mendengarkan kata-kata itu, tetapi ia masih dapat mengekang
amarahnya, sehingga tubuhnya bergetar
“Apakah She dan namamu?” dia tanya pada si serdadu, “Hari ini aku belum mau
mengambil nyawamu, tetapi lain waktu jika ketemu lagi denganku tak dapat aku
mengampunimu. Aku akan membuat kau mati secara tersiksa”
“Aku, aku…” sahut si serdadu suaranya perlahan namun halus,
Siau Po terkejut dan merasa girang.

“0h…. Oh, kiranya kau Song Jie” Siau Po lalu membuka topi Song Jie maka
terlihatlah rambutnya yang panjang itu, Kemudian ia merangkul tubuhnya dan berbalik
menatap pada Phang Sek Hian dan berkata, “Hm, sekali pun budak cilik, kau tak
sanggup melawannya Untuk apa kau membual…?”
Sek Hian gusar mendadak, kakinya terangkat lalu menginjak meja yang ada di
depannya, Maka uang yang ada di atas meja itu juga tubuh Tiao Cee Hian ikut
terangkat
Setelah itu mereka berjalan pergi, tetapi baru saja sampai di pintu ada dua orang
yang menghampirinya.
“Minggir” bentaknya dengan suara keras.
Tangannya beradu dengan tangan orang yang berada di depan pintu, Kedua orang
tua terdorong beberapa langkah ke belakang. Sek Hian terus melangkah, sementara
kedua orang itu langsung mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
Siau Po cepat-cepat memaksakan diri untuk bangun, Setelah melihat lebih dekat
ternyata yang datang itu Cie Tiong, Hian Ceng, Dan tak lama kemudian datanglah
kawan-kawan Siau Po.
A Ko yang melihat kawan-kawan Siau Po semakin banyak itu memberikan isyarat
pada kawannya agar segera pergi.
Lie Cu Seng menghampiri Siau Po, lalu ia menghentakkan tongkatnya ke lantai, terus
ia berkata.
“Seorang laki-laki sejati harus dapat membedakan budi dengan sakit hati Dahulu
gurumu tidak membinasakan aku, maka hari ini kau pun tidak aku bunuh, senang aku
mengampuni selembar nyawamu Namun setelah hari ini jika kau masih tetap mengikuti
putriku, atau kau mengucapkan sepatah kata dengannya, awas, akan aku cincang
dagingmu hingga hancur”
Siau Po berani sekali.
“Apakah menurutmu tentang satu ucapan yang dikeluarkan oleh seorang laki-laki?
Dahulu kau katakan A Ko telah resmi menjadi istriku, Hal itu kau ucapkan di depan
kekasihmu Tan Wan Wan, di kuil Sam Seng Am, Mengapa sekarang kau melarangku
untuk bertemu dengan istriku? Mengapa kau menyangkalnya? Mustahil kau, seorang
mertua melarang anaknya bertemu dengan suaminya”
Muka A Ko menjadi merah.
“Ayah, mari kita pergi” ajaknya pada Lie Cu Seng, “Janganlah Ayah melayani orang
yang bicara ngaco itu Di…. Di mulut anjingnya tak mungkin terdapat gigi gajah, Maka
itu mana dapat kita mengeluarkan kata-kata yang baik padanya.,.?”

“Bagus.,. Akhirnya kau mau mengakui ia sebagai ayahmu Bagaimana tentang
keputusan ayah dan bundamu, kau turut atau tidak?”
Lie Cu Seng gusar bukan kepalang, belum lagi putrinya menyahut dia mengangkat
tongkatnya.
“Hay, Anak haram masih kau tak mau menutup mulutmu.,.?” tegurnya dengan
bengis.
Melihat hal itu kawan-kawan Siau Po langsung maju dengan golok terhunus…
Cian Lao Pun dan Cian Coan langsung membacokkan goloknya ke punggung Lie Cu
Seng, Melihat lawan menyerang maka Lie Cu Seng memutar tongkatnya untuk
menangkis golok lawan, Dengan demikian maka gagallah serangan itu.
Kho Gan Ciauw pun sudah mengeluarkan golok dari sarungnya segera digunakan
untuk memapak serangan senjata lawan. Siau Po yang menyaksikan hal itu segera
berkata dengan suara keras.
“Lie Cu Seng, kau ingat, selama dalam kota Kun-beng, siapakah yang telah
menolong jiwamu? Anakmu dan kekasihmu? Mengapa sekarang kau menentang budi
baikku dan berlaku begini menentang perikebajikan? Sungguh kau tidak tahu malu”
Mendengar perkataan Siau Po, Lie Cu Seng dan juga yang berada di luar merasa
sangat kaget Lie Cu Seng sangat tersinggung.
“Kau…. Kau….” Lie See Hao berseru, “Lie Cu Seng, kiranya kau belum mati, bagus”
Kata-kata itu dikeluarkan dengan nada penasaran.
Dahulu semasa berkuasa, Lie Cu Seng memandang jiwa orang lain bukanlah jiwa
manusia, maka itu ia telah menyebabkan banyak orang merasa sakit hati, hingga
banyak orang yang menginginkan balas dendam padanya, sekarang pun ia masih ingin
membalas dendam padanya, maka setelah ia mendengar nama itu darahnya mulai
mendidih. Padahal sebelumnya ia orang yang paling sabar
A Ko menarik baju Lie Cu Seng.
“Ayah, mari kita pergi” katanya dengan berbisik.
Kembali Lie Cu Seng menggedukkan tongkatnya ke lantai, kemudian berlalu pergi,
diikuti anaknya dan Kek Song.
Melihat itu Lie See Hao berkata dengan suara nyaring.

“Lie Cu Seng, jikalau kau laki-laki sejati, kutunggu kau pada waktu dan tempat yang
sama. Kutantang kau bertempur satu lawan satu, sampai diantara kita ada yang mati
Kau mempunyai nyali atau tidak?”
Lie Cu Seng kemudian berpaling, matanya mengawasi tajam, dengan tatapan
menghina lalu ia menjawab.
“Loocu telah malang melintang di kolong langit ini Ketika itu kau belum lahir Karena
aku seorang She Lie, aku orang gagah, laki-laki sejati atau bukan, tak usah kau yang
menilainya”
Semua orang terdiam, tetapi semua beranggapan katanya itu beralasan, mereka
mengetahui kalau Lie Cu Seng bukan hanya orang yang berani, tetapi juga bertanggung
jawab.
Hal itu diakui mereka baik yang menyukainya maupun yang tidak. Dan ternyata
sekarang walaupun sudah berusia lanjut, ia tetap gagah dan perkasa.
“Song jie, bagaimana kau datang ke mari? Kebetulan sekali kau pun telah dapat
menolongku Jika tadi tidak kau tolong mungkin aku telah mati di tangan istriku itu” kata
Siau Po sambil membantu membalut luka di tubuh Song Jie.
“Aku bukannya datang secara kebetulan tetapi memang telah mengikutimu sejak
tadi, hanya saja Kong Kong tak mengetahuinya” jawab Song Jie.
Siau Po heran. “Jadi kau senantiasa berada di dekatku?” tanya Siau Po.
Bersamaan dengan itu terdengar suara nyaring dari Kho Cu. Cia, “Hai, tolong
bebaskan totokan ini, dan cepat kau berikan obat itu kalau tidak awas aku…”
Mendengar itu, mereka semua tertawa,
Akhirnya mereka dibebaskan dari totokan satu persatu, Yang pertama dibebaskan
yaitu si petani, setelah itu kedua kawan Siau Po kemudian si pengemis tua. Dan terakhir
Kho Cun Cia, namun yang terakhir ini tidak langsung dibebaskan.
Akhirnya mereka merasa kasihan dengan keadaan Kho Cun Cia maka si pengemis
itu lalu membebaskan totokan itu.
Setelah bebas dari totokan Kho Cu Cia langsung menyerang Siau Po. Melihat hal itu,
si pengemis langsung mencegahnya, tetapi Kho Cun Cia balas menyerang pada si
pengemis.
Si pengemis berkelit ke sisi, dari situ ia mengirim tangannya ke atas untuk
menyerang tubuh lawan. Namun si penyerang dapat menekan kaki lawan, hingga
tubuhnya kembali terpental.

-ooo) II-62 (ooo-
Kejadian itu terus berulang beberapa kali, hingga tubuh Kho Cun Cia seperti tak
pernah menapak lantai, Dari situ terbukti ilmu silatnya benar-benar lihay, Hingga Lie
See Hoa semua menjadi kagum pertempuran seperti itu belum pernah mereka
menyaksikan sebelumnya.
Diam-diam semua orang pun memperhatikan cara bersilatnya si pengemis yang tak
kalah lihaynya itu.
Dari sikap serangan dan gerakan yang dilancarkan dalam pertarungan itu terasa seru
dengan menggetarkan, hal itu membuat Lie See Hoa semua mundur ke tembok.
Segera juga terdengar seruan Kho Cun Cia ketika kembali menyerang si pengemis
tersebut yang dimulai dengan tangan kanannya dan disusul tangan kirinya mengancam
ubun-ubun lawan.
“Bagus” berseru si pengomis, yang langsung bergerak merendah sambil kedua
tangannya diangkat ke atas perlahan untuk menyambut Maka tangan mereka yang
saling beradu keras, Dan kesudahannya, lagi-lagi Kho Cun Cia terpental ke atas, hingga
tubuhnya membentur langit-langit.
Tampak beberapa genteng pecah dan jatuh berantakan, tempat itu pun seketika
berantakan, berserakan pecahan genteng di mana-mana.
Setelah membentur tubuh Kho Cun Cia terbanting ke lantai.
Kali ini si pengemis menyingkir ke sisi, membiarkan tubuh lawannya jatuh ke lantai.
“Hahaha” si pengemis tertawa melihat lawannya jatuh, Belum berhenti suaranya,
tubuh Kho Cun Cia kembali melesat ke atas dan dengan kepalanya dia menyerang
pula.
Si pengemis bergerak ke pinggir untuk menyelamatkan diri, Dengan posisi terbaring
tangan kanannya dipakai untuk menepuk kepala lawan sambil berseru, Maka terlihat
tegas bagaimana Kho Cun Cia meluncur terus semakin keras, Kepalanya bergerak
menuju ke tembok di depannyal
Ketika kepala itu membentur tembok, semua orang terkejut melihat kejadian tersebut
itulah yang berbahaya buat Cun Cia.
Ay Cun Cia juga melihat bencana bagi saudara seperguruannya itu, namun ia tak
menjadi bingung dan gugup. Sebab luar biasa ia menyambit tubuh orang Sie Wie yang
menggeletak ke tanah dan ia lemparkan ke arah tembok, mendahului tubuh saudara
seperguruannya.

Hal itu tepat ketika kepala Kho Cun Cia menghajar tembok, maka terasa kepalanya
terganjal perut Sie Wie. seketika perut Sie Wie itu pecah dan meletus kepala Kho Cun
Cia melesak ke dalam perut yang pecah itu.
Tak urung, tembok itu gempur tertembus tubuh Sie Wie.
Ketika Kho Cun Cia menjejakkan kaki tubuhnya berdiri sedikit terhuyung. Kepala dan
kakinya berlepotan darah Sie Wie. Dia mendongkol sekali hingga mengeluarkan
kutukan, Dia pun repot membersihkan darah di muka dan kakinya itu.
Semua orang terkejut dan kagum, bersyukur Kho Cun Cia tak kurang suatu apa pun
pada dirinya.
“Nah bagaimana?” si pengemis tertawa dan bertanya, “Kau masih mau bertempur
atau cukup sampai di sini?”
“Dahulu waktu tubuhku tinggi besar, kau tak dapat mengalahkan..” sahut Kho Cun
Cia.
“Dan sekarang?” tegas si pengemis.
Kho Cun Cia menggeleng kepala. “Sekarang aku tidak sanggup melawanmu”
jawabnya manggut “Ya. Sudah, sudahlah”
Setelah mengaku kalah, tubuh Koh Cun Cia mencelat ke arah dinding, ke tempat tadi
tubuh Sie Wie yang menghalang-halangi. Hingga terdengarlah suara keras dan berisik,
sebab tembok tergempur dan tertembuskan tubuh Sie Wie turut molos ke luar.
Ay Cun Cia kaget sekali.
“Suko Suko” panggilnya berulang-ulang dan ia pun terus melompat menyusul
saudara seperguruannya.
“Wie Tayjin… nanti aku pergi melihat,” kata Lio Kho Hian, yang terus memberi hormat
pada si Tayjin cilik, untuk berlompat pergi, menjeblos lobang di dinding tembok itu.
“Bagus” beberapa orang memberikan pujian sesuai dengan apa yang telah
disaksikan Suatu pertunjukan yang indah dari orang She Liok itu ketika loncat keluar.
“Sementara itu Cie Thian Thoan Cian Lao Pan semua berkata di dalam hatinya
masing-masing. Entah dari mana Wie Hiocu dapat berdua sebawahannya itu. Ternyata
mereka memiliki ilmu silat yang baik sekali dan mahir, mereka lebih jauh menang
dibandingkan dengan kita.”
Sementara itu Lie See Hong memberi hormat seraya berkata, “Maaf, aku tak dapat
lama menemani pula,” lalu terus berjalan pergi.

Siau Po memberi hormat pada pengemis seraya berkata, “Heng Tay, dapatkah
mereka itu diijinkan pergi?” ia pun menunjuk pada Cie Hian semua, ia memanggil “Heng
Tay, itu adalah sebutan kakak yang dihargai atau terhormat.
Pengemis itu tertawa.
“Jikalau dari tadi siang aku tahu bahwa mereka sebawahan saudara Wie, aku tidak
berani berbuat salah terhadap mereka,” katanya seraya mengulurkan tangan. Tak
tampak bagaimana caranya bekerja, setelah orang pada bangun berdiri mereka semua
telah terbebas dari totokan masing-masing.
“Terima kasih” kata Siau Po, dan terus meminta Cie Hian untuk memintanya pulang
terlebih dahulu.
Cian Coan melirik pada Song Ji.
“Apakah nona ini menjadi orang kepercayaan Wie Hiocu?” tanyanya.
“Benar,” sahut Hiaucu itu. “Apakah juga tidak disembunyikan dari dirinya?”
“Nona ini sangat muda tapi dia memiliki kesetiaan dan keberanian yang tinggi.” si
pengemis angkat bicara, “Susah mencari orang seperti dia yang berwatak demikian itu,
Coba tadi dia tidak datang menghadang, pastilah mata Hiocu tak akan terlindung
dengan baik tanpa dia.”
“Benar-benar” kata Siau Po seraya menarik tangan si nona. “Syukur dia telah
menolongku” lanjutnya.
Wajah Song Ji menjadi merah seluruhnya, ia malu karena banyak orang memujinya
dan ia langsung menunduk tak berani mengawasi mereka satu persatu.
Cie Cian Thoan melangkah ke depannya si pengemis. “Lima orang yang
memisahkan sebuah syair tubuh Hong Eng tak ada yang tahu” katanya, seraya
menggunakan kata-kata Thian Tee Hwee.
Atas ucapan itu si pengemis menjawab “Sejak ini dapat mewariskan sekalian
saudara, kemudian saling mengenali maka bersatulah kita.”
Siau Po pun mengetahui segala rahasia tersebut maksudnya istilah-istilah itu.
Mulanya ia tak ingat semua, tetapi pada saat pengemis menyinggung dan bicara ia pun
ikut bicara.
“Mula pertama memasuki mengangkat saudara di saat langit terang untuk bersumpah
menunjukkan hati yang sebenarnya.” ujarnya.
“Pintu merah,” diartikan Hong Bung,

Kembali si pengemis berkata, “Cemara dan satu, dua cabangnya terbagi kiri dan
kanan, di tengahnya terdapat bunga merah membesar tempat” mengangkat saudara.”
Siau Po menimpali pula, “Di depan ruang kesetiaan dan kejujuran saudara-saudara
berkumpul, di dalam kota panglima memimpin sejuta jiwa tentara.”
Masih si pengemis melayani bicara katanya: “Di depan rumah Hok Tek Su datang
mengangkat sumpah, menentang Cheng membangun Beng. Dialah Hong Eng kami”
Sampai di situ kacung kita tidak melanjutkan kata-kata rahasianya, Dia berkata “Wie
Siau Po sekarang ini menjadi Hiocu dari Cheng Bok Tong, Mohon tanya, kakak, Semua
yang mulia serta namamu yang besar, serta sekarang ini kakak termasuk golongan
mana serta apa jabatannya?
Dengan “golongan Siau Po yang dimaksudkan “Tong” atau cabang.
Pengemis itu menjawab “Aku ini Gou Liok Kie, sekarang Hiocu dari Gou Liok Kie….
Maksudku dari Hong Sun Tong, Hari ini aku dapat bertemu dengan Wie Hiocu serta
sekian saudaraku aku sangat bergembira”
Mendengar disebutnya nama tersebut, semua orang pihak Wie Siau Po terperanjat
merasa girang. Semua lantas menunduk hormat pada pengemis itu, sebab Gouw Liok
Kie ini sangat terkenal pelajarannya.
Sebenarnya Gouw Liok Kie pernah memegang jabatan atau pangkat yang tinggi
sebagai pangkat militer yang dinamakan Tee Tok, Seorang gubernur militer propinsi
Kweitang, Di tangannya terdapat satu pasukan yang sangat besar, akan tetapi karena
petunjuk Ca La Mong di dalam hatinya tumbuh semangat mencintai negara.
Maka dia bercita-cita membangun kerajaan Beng, bersiap akan menjatuhkan
pemerintah Tjeng. Kemudian secara diam-diam ia masuk menjadi anggota Thian Tee
Hwee di mana ia dipercayakan kedudukan Hiocu atau Ang Kie Hiocu, Hiocu bendera
merah dari Hong Sun Tong, Keluarga atau kalangan Thian Tee Hwee sangat
menghargai dan menghormati huruf “Han” dan bangsawan Han, sebab salah satu asal
utama dari kesuku-an Tionghoa.
Kalau huruf “Han” itu disingkirkan tiga coretan di dalamnya yaitu huruf “Touw”,
“Tanah”, maka huruf itu berubah sendirinya menjadi huruf “Hong”. Dengan huruf Touw”
“Tanah” itu , yang berarti sebutan di antara persaudaraan kaum Thian Tee Hwee,
sebagai tanda peringatan yang bangsa Han tak akan melupakan cita-cita membangun
pula negara (kerajaan Beng).
“Begitulah Siau Po, aku mengirim sepuluh saudara ke Inlam guna bekerja secara
diam-diam dan akhirnya mereka bekerja hampir secara sempurna, Secara kebetulan
segala ancaman bencana dapat kami hindarkan, sehingga Hong Sun Tong tak usah
membantu apa-apa. Dan beberapa hari yang lalu aku mendapat kabar hingga diamdiam
aku menyusul ke sana dan menyamar.”

Mendengar itu Siau Po girang sekali.
“Oh, kiranya demikian,” kata Siau Po. Dia tak menyangka gurunya sangat
memperhatikannya serta Giao Hiocu. “Aku sangat berterima kasih atas kejadian ini
semua, Namamu sangat terkenal di empat penjuru lautan, tiada yang tidak mengenal
Siapa tahu kaulah kiranya saudara kami”
Di mulut Siau Po mengatakan demikian, padahal dia baru dengar nama tersebut
pada saat kejadian itu.
Liok Kei berkata, “Justru kaulah yang terkenal di empat penjuru lautan Wie Hiocu.,.
Kau telah membinasakan Go Pay yang tersohor itu.”
“Di antara saudara-saudara sendiri, janganlah kita terlalu sungkan, Aku minta maaf
karena telah berbuat yang tidak pantas terhadap Sie-Wie bawahanmu”
Siau Po tertawa.
“Jangan sungkan, justru para Sie Wie itulah yang kurang ajar dan berbuat gila.
Sudah kalah masih saja menyangkal Pantas jika kau menghajar mereka agar lain kali
kalau berjudi tahu aturan, jangan seenak perutnya saja justru aku yang minta maaf dan
terima kasih pada Hiocu”
Liok Kie tertawa terbahak dan bergelak.
Sampai di situ semua orang duduk dan Gouw Liok Kie mulai menanyakan segala
tindak lanjut Siau Po selama di Inlam. Akhirnya kacung memberikan keterangan yang
seperlunya.
Gouw Liok Kie kagum mendengar Siau Po sudah mempunyai keterangan lengkap
tentang niat Gauw Sam Kui memberontak melawan pemerintah. Terus kabarnya jika
pengkhianat itu mulai bekerja pasti ia menyerbu ke propinsi Kwietang, Nah, pada saat
itu mereka dapat menggempurnya, Setelah dia dapat ditumpas, baru mereka dapat
menuju ke utara guna menyerbu kota Pakhia
Pada saat mereka ngobrol datanglah Ma Ciau Hia, Hiocu dari Kee Hou Long. Dia
menerima berita perihal Siau Po dan Liok Kie. Dia bertemu dengan Liok Kie dan bicara
banyak tentang peristiwa yang baru terjadi.
“Phang Sek Hoan manusia busuk.” Liok Kei menambahkan kemudian, “Dia berlaku
curang sehingga hampir aku celaka karenanya Lain kali kalau aku bertemu dengannya
akan kugempur kembali”
Dapatlah dimengerti bahwa si Giao Hiocu sangat bersakit hati. Seumur hidup belum
pernah ada orang dapat membuatnya tidak perdaya.

“Si pemberontak telah membunuh Kaisar Cong Ceng. kebetulan dia berada di Liu-
Ciu baik kita jangan melepaskannya.”
“Thian Tee Hwee bersetia terhadap Kerajaan Beng, dengan demikian sendirinya Lie
Cu Seng dipandang musuh besar. Lie Cu Seng yang memaksa hingga Kaisar Beng
yang terakhir itu menggantung diri sampai mati di bukit Bwee San.”
Kemudian lagi, Siau Po meminta penjelasan kepada Song Jie bagaimana mulanya
dia mengikutinya. dan si nona cilik memberikan penuturannya.
Setelah terpisah di Ngo Tay San, Song Jie terus mencari si kacung di mana-mana.
Maka ia lantas menyusul ke Pakhia, Namun siapa tahu kacung kita justru telah pergi ke
selatan, Tidak bersangsi pula dia menyusul, bahkan sebelum lagi si kacung kita keluar
dari propinsi Hoo Pak. Dia berpikir sesudah memangku pangkat yang besar, mungkin
Siau Po membutuhkan pula perjalanannya yang lebih jauh dari itu.
Dia tak berani pergi menemui sebaliknya dia bersiasat dengan mencuri seragam Jiau
Kie Eng dan menyamar menjadi serdadu tangsi itu. Dia berdiam di tangsi tanpa
diketahui rahasianya. Dan dia terus berada di Inlam dan Kwie Say sampai terjadi
peristiwa yang hebat di saat A Ko hendak membinasakannya baru dia muncul,
menolong dan terus dapat dikenali oleh si kacung.
Siau Po sangat bergembira dan bersyukur serta tertawa. Dia merangkul dan
mencium pipinya, Dia pun berkata, “Oh, budak tolol, mana aku tak dapat menghendaki
pertolonganmu Bahkan aku ingin diajari selama hidupku kecuali jika kau sendiri yang
sudah tak menyukai disebabkan kau memikir hendak menikah…”
Song Jie gembira bercampur malu dan mukanya menjadi merah,
“Tidak… tidak…” katanya sukar keluar. “Tak nanti aku menikah dengan orang lain…”
Malam itu Ma Ciau Hin mengadakan pesta di sebuah rumah pelesiran buat
menghormati Gou Liok Kie. Di saat pesta berlangsung, datang laporan dari salah
seorang anggota Thian Tee Hwee yang ditugaskan mencari informasi tentang Lie Cu
Seng. Melaporkan kedatangan orang di dalam rumah kecil di tepi sungai Liu Kang.
Kota Liu Ciu terkenal karena kayunya, terutama peti matinya, tersohor di seluruh
negara, hingga ada pepatah yang berbunyi, “Mampir di Hang Ciu bersantap di Kwie Ciu
dan mati di Liu Ciu”,
Di Liu Kang, potongan-potongan kayu semacam getek dari arah timurnya dialirkan ke
hilir, Di sungai Liukang ini getek kayu terdapat banyak bagaikan tak dapat terhitung
jumlahnya, di situ pula banyak dibangun gubuk atau rumah kecil.
Tidak heran jika orang sukar dicari andaikata ia bersembunyi di tempat seperti itu.
Mungkin kalau bukan orang Thian Tee Hwe, yang jumlahnya besar, sangat sulit orang
mencari orang lain di tempat itu.

Gouw Liok Kie menepuk meja sambil dia berjingkrak bangun.
“Mari, kita lekas pergi” serunya, Tak usah kita minum arak lebih jauh.”
“Sabar.” kata Ma Ciau Hin. “Nanti aku mengatur dahulu supaya mereka tak sampai
dapat meloloskan diri.”
Orang menanti sampai jam yang kedua barulah Ma Hiocu mengajak rombongannya
pergi ke sungai Liokang, ke tepi sungai di mana terdapat sebuah perahu, Ke atas
perahu itu mereka pada naik.
Tukang perahunya tanpa diperintahkan pula segera melajukan kendaraan itu. Di
belakang mereka mengikuti delapan buah perahu lainnya, mengikuti tidak begitu jauh.
Sesudah melewati perjalanan jauh, tujuh atau delapan Lie, perahu segera dihentikan.
Seorang anak perahu masuk ke dalam perahu untuk berkata sangat perlahan, “Hiocu
bertiga, orang yang dicari itu berada di dalam rumah kecil di atas getek kayu di depan
kita ini.”
Siau Po pergi ke luar perahu, akan mengawasi ke depan. Memang di atas deretan
getek terdapat sebuah rumah kecil.
Dari dalam mana menyorot keluar sebuah cahaya api bersinar kuning, Ketika ia
mengawasi ke arah sungai matanya segera melihat di sebelah timur atau di barat
terdapat masing-masing sebuah perahu, Begitu pula di arah lainnnya, jumlahnya tak
kurang dari empat puluh perahu,
“Semua perahu kepunyaan kita…” Ma Ciu Hin berbisik.
Siau Po gembira mendengar keterangan itu Pikirnya, “Kalau di dalam perahu
terdapat sepuluh orang. jumlah mereka sudah empat ratus jiwa, Biarlah Lie Cu Seng
dan Phang Sek Hoan lihay sekali, apa kiranya mereka bakal sanggup meloloskan diri.?”
Justru itu maka dari dalam rumah kecil di depan itu terdengar bentakan bertanya,
“Siapa itu di luar? Kenapa lagakmu mirip hantu?” suaranya gagah berani. Ya suara Lie
Cu Seng.
Dari tepian, terdengar suara tawa yang nyaring disusul dengan jawaban, “Lie Cu
Seng, akhir-akhir ini aku toh dapat mencarimu”
Dan itulah suara Lie See Hoa.
Ma Ciau Hin dan Gou Liok Kie saling memandang, Keduanya merasa aneh. Di dalam
hati mereka saling bertanya, “Aneh Kenapa dia kini dapat mencari sampai di sini?”

Setelah itu mereka melihat sesosok bayangan hitam berlompat ke arah getek kayu,
Di bawah sinar rembulan terlihat pedangnya berkilau, sedangkan dari dalam rumah
gubuk itu segera tampak seseorang berlompat keluar.
Di tangannya tercekal sebatang siang-thung tongkat sucinya, Sebab dialah Lie Cu
Seng si bhiku.
“Bagus.,.” pendeta itu berseru keras, “Akhirnya kau dapat juga mencari aku”
Lantas kata Lie See

 
 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s