“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 75

sementara
dalam hatinya ia berkata.
“Dia memetik gitar terus, bernyanyi terus, berbicara terus, dia sama dengan tukang
cerita di kota Sou Ciu, yang bercerita sambil bernyanyi karena aku mengajaknya bicara
maka aku pun mirip dengan pembantu tukang cerita itu.~ kalau kita berdua pergi ke
Yangcu, kita bercerita di warung-warung teh, pasti kita akan menggemparkan kota itu,
kota akan bergetar juga.” kata Siau Po dalam hatinya.
Puas hati Siau Po memikir hal seperti itu, tetapi lamunannya berhenti sebab si cantik
bernyanyi lagi, Suara gitar perlahan, kemudian naik tinggi lalu turun lagi begitulah
secara bergantian dan akhirnya berhenti.
Karena suara Pie Pe dan nyanyian berhenti, Siau Po memandang kepada si nyonya.
ia melihat nyonya itu sedang menarik napas panjang dan air matanya turun secara
perlahan-lahan.
“Aku telah memberikan pertunjukan yang sangat buruk.,,.” ia mendengar orang
berkata yang suaranya bercampur dengan suara tangisan Maka ia pun menjadi sangat
terharu.
Wan Wan bangkit dengan perlahan-lahan, dan ia akan menaruh alat musiknya
kembali seperti semula, Setelah itu ia kembali duduk berhadapan dengan Siau Po, lalu
ia pun berkata.

“Lagu yang terakhir mengatakan tentang wafatnya Hucee, raja dari negara Gouw
yang istananya musnah, Bunyi nyanyian itu, malah membuat aku tak mengerti,
mengapa aku disangkut pautkan dengan nasib raja dan negaranya itu? Bukankah yang
dimaksud dengan syair atau nyanyian itu tentang dirinya? Baru aku mengerti bahwa aku
dibandingkan dengan See Sie, telah disebut-sebut juga negara atau istana Gouw. itulah
istana Peng See Ong, yang belakangan ini, Peng See Ong rajin melatih tentara nya.
Maka itu aku khawatir… khawatir, beberapa kali aku menasihatinya tapi bukannya aku
berhasil malah aku dianggap membuat dia marah, itu sebabnya aku datang ke mari
untuk mensucikan diri di kuil ini. Hanya aku masih memelihara rambutku Aku menyesal,
aku mengharapkan agar mereka itu sehat dan selamat, siapa tahu tentang A Ko… ya
dia….”
Mendadak si nyonya menangis sesenggukkan, sehingga kata-katanya terhenti-henti,
Siau Po tertarik dengan nyanyian dan artinya itu, Untuk sesaat ia dapat melupakan
tujuannya datang ke wihara itu, akan tetapi setelah disebutkan nama A Ko, tiba-tiba ia
bangkit bagaikan digigit ular, Sekejap ia ingat maksud kedatangannya itu.
“Sebenarnya bagaimana A Ko?” demikian tanyanya, “Jadi benar ia tak jadi
membunuhnya? Dialah putrimu, maka bersama juga dengan Kongcu putri Oh, benarbenar
celaka”
“Celaka apanya?” tanya Tan Wan Wan.
“Ah, tidak apa-apa.” jawab Siau Po karena ia ingat A Ko tak melihat mata padanya,
sekarang ternyata si nona putri Gauw Sam Kui, adalah seorang Kongcu, maka apa
yang dapat dia harap?
“Mengenai A Ko mari aku akan menjelaskannya padamu.” kata Tan Wan Wan yang
melihat gerak gerik kurang baik itu.
“Dua tahun setelah ia dilahirkan, pada suatu malam mendadak ia hilang, lalu Ongya
memerintahkan orang-orangnya menyusuri seluruh kota, untuk mencarinya, tetapi itu
sia-sia, maka aku menjadi curiga.”
Tiba-tiba saja merahlah muka si nyonya.
“Kau mencurigakan apa?” tanya Siau Po.
“Aku mencurigai musuh-musuh Ongya, atau usaha ini dilakukan untuk memeras
Ongya.” sahut Wan Wan.
“Bukankah dalam istana terdapat banyak Sie Wie dan juga banyak orang yang lihay
dalam ilmu silatnya?” kata Siau Po. “Malam itu A Ko hilang tanpa bekas, dan tentunya
penculik tersebut memiliki ilmu silat yang tangguh.”
“Memang.” kata Wan Wan membenarkan kata-kata Siau Po.

“Malam itu Ongya memecat para pejabat dan ia pun menghukum mati pemimpin Sie
Wie. Disamping itu ia pun memecat pimpinan militernya. Tetapi usaha pencarian terus
berjalan, namun hasilnya sia-sia, sehingga dalam murkanya, Ongya kembali hendak
menghukum mati para Sie Wie. Syukurlah aku dapat mencegahnya. Sejak saat itu
kabar A Ko tak terdengar lagi sehingga aku menerka A Ko sudah tak ada lagi di dunia
ini.”
Siau Po terdiam, kemudian ia berkata, “Jikalau demikian, A Ko berkata kalau dia itu
She Tan kiranya dia mengambil She Mu….”
Tan Wan Wan terkejut, tubuhnya menjadi limbung.
“Dia…, Dia menyebut dirinya She Tan? Kenapa ia sampai mengetahui itu?” tanyanya.
Sementara itu Siau Po berkata dalam hati, Si pengkhianat besar setiap saat selalu
mengkhawatirkan ada orang yang datang mencoba membunuhnya, Dia sangat
memperkuat penjagaan, maka itu untuk menculik seorang anak kecil dari istananya,
mungkin terlalu sukar, Maka di kolong langit ini, siapa lagi yang sanggup melakukannya
kalau bukan Kui Lan. Katanya dalam hati.
Tetapi sewaktu Siau Po ditanya oleh Wan Wan ia lalu memberikan jawaban,
“Mungkin sekali ia tahu itu dikarenakan ia diberi tahu oleh orang yang menculiknya itu?”
Nyonya Tan Wan Wan mengangguk
“ltu bisa terjadi,” katanya, “Namun mengapa ia tak mau mengatakan kalau ia itu
She…. She.,.?”
“Bukan she Gouw katamu?” kata Siau Po, “Hm, she dari Beng See Ong bukanlah
suatu she yang mentereng…?”
Wan Wan termangu, matanya memandang keluar jendela seperti tak mendengar
kata Siau Po.
“Kemudian bagaimana?” tanya Siau Po.
“Setiap saat aku selalu mengingat anakku,” sahut Wan Wan.
“Aku mengharap Thian mengasihaninya, agar ia tidak mati dan aku suatu saat dapat
mengetahuinya, Kemarin siang aku baru saja menerima kabar dari Onghu, bahwa ada
orang yang mencoba ingin membunuh Ongya dan katanya, ia terluka parah. Aku pergi
ke istana untuk mencari kepastian, ternyata memang benar Ongya ada yang
menyerang tetapi ia tak terluka.”
Siau Po terkejut.
“Jadi hanya dusta belaka kalau dia itu terluka parah?” tanya Siau Po heran.

“Ongya menjelaskan padaku bahwa ia sengaja memberi kabar bahwa ia terluka
parah.” katanya, “Maksudnya, dengan demikian musuh akan terpancing, baik untuk
membuktikan atau untuk mencoba membunuhnya lagi, jikalau musuh berbuat hal yang
sembrono maka dengan mudah ia dapat meringkusnya hanya dengan satu gebrakan.”
“Benar-benar orang yang sangat licik.” kata Siau Po seperti berkata seorang diri.
“Aku seharusnya dapat menerka demikian, Ah, sudah nyata kalau dia telah
mencurigai aku.” kata Siau Po.
“Aku telah menanyakan siapakah musuhnya itu.” kata Wan Wan. “Ongya tak
menjawab pertanyaanku, malah ia mengajakku ke suatu kamar, dan di atas
pembaringan ada seorang nona yang tangan dan kakinya terbelenggu. Tanpa
memandang lama-lama aku dapat mengenalinya kalau ia adalah anakku sendiri, sebab
raut wajahnya sangat mirip denganku semasa aku masih muda dulu, Dia pun
tercengang melihat aku. Hingga ia berdiam sekian lama, dan kemudian ia berkata,
apakah kau ibuku? Lalu aku menjawab, “Ya” dan itu adalah ayahmu, panggillah ia
ayah”
Mendadak A Ko marah bukan main, ia berkata dengan suara nyaring, “Dialah si
pengkhianat bangsa Han Dia bukan ayahku Dia justru yang telah membunuh ayahku
dan aku akan menuntut batas dengannya”
Mendengar demikian Ongya bertanya kepadanya, “Siapakah ayahmu dan seperti
apa katamu itu? Dia menjawab, “Guruku tidak mengatakannya padaku, hanya
mengatakan kalau nanti aku bertemu dengan ibuku, ia yang akan menjelaskannya
padaku, Ongya lalu bertanya siapakah gurumu itu? Dia tak menjawab baik dengan cara
paksa atau pun dengan dibujuk, pada akhirnya ia mengatakan, kalau ia mendapat
perintah dari gurunya melakukan percobaan pembunuhan…”
Dalam hal ini Siau Po dapat menerka bahwa tujuh atau delapan dari sepuluh gurunya
sangat membenci Gauw Sam Kui, maka tak puas hanya dengan membunuhnya, Dia
sengaja menculik putri pengkhianat itu, dan dididik ilmu silat agar kelak anaknya yang
membinasakannya.
Siau Po bangkit lalu pergi ke sisi jendela.
“Ya, aku mengerti sekarang.” katanya dalam hati.
“Suhu memang tak menyukai A Ko, memang benar suhu telah mengajarkan ilmu silat
tetapi ia tak mengajarkan ilmu tenaga dalamnya. Dengan demikian ilmu silatnya masih
kurang jauh.,.” kata Siau Po.
Mengingat cara berpikir Kui Lan yang ingin membinasakan pengkhianat itu, Siau Po
ketakutan sendiri, karena anak disuruh membunuh ayahnya sendiri.

“Guru A Ko berpikir terlalu jauh, hingga membuatnya berbuat yang serendah itu,
Kalau A Ko berhasil berarti maksud dari gurunya dapat tercapai seandainya A Ko gagal
itu tak kurang suatu apa. Siapa wanita yang akan membunuh ayahnya sendiri?
Mengetahui hal itu bukankah akan menjadi pukulan keras pada dirinya? Bukankah
dengan demikian ia akan tersiksa hingga ia akan mengalami goncangan jiwa dan itu
lebih berat dari dirinya mati?” kata Wan Wan.
“Sekarang semuanya sudah beres,” kata Siau Po. “Sekarang sudah tak ada lagi
kejadian yang hebat Dia gagal dengan percobaan pembunuhannya, dan kalian sudah
berkumpul bersama dengan keluargamu. Apabila kau beritahu duduk persoalannya
pada A Ko bukankah hal itu menjadi indah?” kata Siau Po.
Nyonya itu menarik napas panjang.
“Jika terjadi hal yang kau maksudkan itu merupakan karunia bagi keluargaku, dan
aku akan merasa sangat bersyukur pada Thian Yang Maha Kuasa.” katanya kemudian.
“A Ko anak kandungmu, siapa pun yang melihat ia akan mengetahui bahwa kau
adalah ibunya, jikalau bukan kau yang begini cantik yang kecantikanmu dapat membuat
ikan selam tenggelam, burung belibis terbang jauh, mana dapat terlahir seorang anak
perempuan yang demikian cantik, yang kecantikannya membuat bunga malu dan
rembulan menyembunyikan dirinya, Dan kalau Ongya tak sudi melepaskan A Ko itu
mustahil ia diculik sewaktu berusia dua tahun, mana mungkin ia dapat disalahkan?”
“Akan tetapi Ongya berpikir lain.” kata si nyonya pada Siau Po yang terbengong saja.
“Kau tak mau mengaku aku sebagai ayahmu? Jelas sudah bahwa kau bukan anakku,
jangankan kau bukan anakku, jikalau kau benar sebagai anakku, kau telah berbuat
kurang ajar terhadap orang yang kedudukannya lebih tinggi dari kamu, perbuatanmu tak
mengenal undang-undang dan langit, sama saja kau tak dapat dibiarkan hidup di dalam
bumi ini.” kata Ongya yang ucapannya ditirukan oleh Wan Wan.
Siau Po tersenyum.
“Oh, memangnya dia suka mengusap hidungnya ?” tanya Siau Po.
“Kau tidak tahu itu memang suatu kebiasaan dari Ongya.” sahut nyonya itu dengan
suara bergetar.
“Asal ia mengusap hidungnya itu berarti ia akan membunuh orang, semenjak dahulu
tak pernah berubah.”
“Oh,” Siau Po berseru pula, “Jadi bagaimana sekarang? Apakah ia sudah
menghukum mati atau belum pada A Ko?”
“Sekarang ini belum,” kata si nyonya yang cantik itu.

“Ongya…. Dia masih ingin mencari tahu siapakah yang telah membunuh anak itu.,.”
kata si nyonya.
Kali ini Siau Po tertawa.
“Jikalau demikian Ongyamu mempunyai penyakit curiga?” kata Siau Po. “Dia jadi raja
yang toIol, Begitu aku melihat kau langsung aku menjadi tahu bahwa kaulah ibunya A
Ko, karenanya mana mungkin ia bukan ayah A Ko, rupa-rupanya ia sangat mendongkol
karena A Ko telah mencoba akan membunuhnya….”
Bicara sampai di situ Siau Po memperlihatkan wajah serius, lalu ia meneruskan katakatanya.
“Sekarang kita harus cepat memikirkan cara untuk menolong A Ko. jikalau
Ongya kamu sampai mengusap hidungnya, oh, celaka”
“Aku mengundang Tayjin ke mari untuk membicarakan masalah ini.” kata Tan Wan
Wan. “Menurut aku Tayjin menjadi utusan dari baginda raja, Ongya tentu dapat
memandang mata padamu, Karena A Ko telah menyebut dirinya sebagai dayang maka
hanya Tayjin yang dapat menolongnya, Tayjin dapat menggunakan alasan tuan putri
menghendaki dayang itu, aku percaya Ongya tak dapat menolak permintaanmu.”
Siau Po mengepal tangannya lalu dipakai untuk mengetuk-ngetuk kepalanya.
“ToIoI…. Tolol” katanya kemudian beruang-ulang, “Aku telah terkena bual olehnya.”
Tan Wan Wan menjadi heran.
“Telah terjadi apakah?” tanyanya.
“Akalmu itu sudah aku gunakan sejak tadi siang.” jawab Siau Po dengan kesal “Tidak
tahu-nya.,., Ongya kamu lebih lihay dariku. Aku bagaikan terbelenggu tangan dan
kakiku, Kau tahu pada Ongyamu aku telah membebaskan seseorang dan ia telah
memberikannya, tetapi orang yang aku minta itu bukannya A Ko.,,.”
Tan Wan Wan menjadi heran dan ia terus menatap Siau Po.
Tanpa menunggu pertanyaan lagi, Siau Po lalu mengikuti Kok Siang ke dalam
penjara bawah tanah itu untuk mengenali A Ko sebagai seorang dayang, Bagaimana
orang itu telah mengetahui bahwa nona itu bukannya A Ko, ia hanyalah sebagai kawan
kenalan saja, ia mengakui nona itu adalah seorang dayang sehingga ia dapat
membawa pulang nona itu.
“Kiranya Kok Siang telah melaksanakan tipu daya padaku.” kata Siau Po. “Di depan
orang pengawal Peng See Ong, dia mengatakan dengan keras bahwa dayang tuan
putri itu telah ia serahkan padaku, Karena itu mana mungkin aku dapat meminta
seorang dayang lagi? jikalau aku sampai berbuat demikian maka ia akan berkata
padaku, Wie Tayjin, berhubung dengan ini, apakah Tayjin sedang bermain-main
denganku? Toh dayang yang mencoba membunuh Ongya telah aku serahkan

kepadamu di depan umum, Aku melakukan itu dengan tanggung jawab dan dengan
kopiah kebesaran Dia tentu akan menambahkan bahwa dayang tersebut harus
dikompas agar ia dapat memberitahukan siapakah yang memerintahkannya berbuat
demikian sekarang aku akan mengambil lagi tidakkah itu lucu?”
Bicara demikian Siau Po menirukan gerak gerik Kok Siang.
“Tayjin benar memang begitu gayanya Hee Congpeng, jadi benar kiranya mereka
sudah menggunakan akal muslihat itu untuk membungkam mulut Tayjin….”
Siau Po kesal sekali.
“Sungguh orang yang bejat” kata Siau Po mendongkol.
Tan Wan Wan mengawasi Siau Po dan menatapnya.
“Asalkan mereka berani mengganggu sehelai rambut saja,” katanya dengan suara
keras, “Aku akan mengadu jiwa dengan mereka, Oh, si telur busuk” katanya pula.
Tan Wan Wan memberi hormat seraya merapatkan kedua tangannya dan
membungkuk.
“Terima kasih Tayjin kau telah menyayangi anakku, namun.,.” katanya tersendatsendat.
Repot Siau Po membalas hormat nyonya cantik itu. ia lalu berkata: “Sekarang juga
aku akan membawa pasukanku untuk menyerbu dan membinasakannya, jikalau aku tak
sanggup menolong A Ko aku bukan lagi seorang She Wie, Biarlah She Ku menjadi She
Gouw, hingga aku disebut Gouw Siau Po….”
Tan Wan Wan Siau Po yang ada di depannya, ia agak nyeri saking hatinya
tergoncang, Diluar dugaannya utusan raja ini menjadi demikian gusar dan sudah
mengeluarkan kata-kata sembarang.
“Tayjin baik sekali terhadap A Ko?” katanya dengan sabar dan suaranya lembut,
“Sudah jangan sungkan-sungkan apa itu Tayjin segala” kata Siau Po yang telah
habis kesabarannya.
“Jikalau kau mau menganggap aku sebagai orang sendiri panggil saja namaku.,.,
Siau Po…. Dan sebenarnya aku harus memanggil bibi padamu, Akan tetapi yang
menjadi paman membuat aku panas hati.,,.”
Dengan “BIBI” dimaksudkan “Pee-Bo” atau “Pee-EnT yaitu bibi yang tingkat usianya
lebih tua, sebaliknya dengan “Siok-Bo” atau “Encim” yang usianya lebih muda, Kepada
Gauw Sam Kui, Siau Po menyebut “Pee Hu” yaitu paman yang lebih tua, sebab ia
memanggil “Pee Em” pada Wan Wan.

Nyonya Tan mendekat pada Siau Po lalu meletakkan tangan kanannya pada bahu si
bocah itu.
“Siau Po, jikalau kau tidak keberatan, panggillah aku A Ie” katanya, (A Ie berarti bibi
misanan).
Mendengar ucapan nyonya Tan, Siau Po menjadi girang.
“Aku akan memanggilmu A Ie” katanya, “Didalam Lee Cun Wan di Yangcu….”
Tiba-tiba Siau Po menghentikan kata-katanya,
Wan Wan tidak merasa heran, ia sudah dapat menerka sebab-sebab Siau Po
berhenti bicara, Rupanya di dalam Lee Cu Wan, setiap bunga raja dipanggil A-Ie.
“Aku senang sekali mempunyai keponakan seperti kau, tetapi kau tak dapat
mengambil sikap keras terhadap Ongya, Kau tahu sendiri, dalam kota ini tentaranya
berjumlah besar sekali. Taruh kata kau menang, tetapi jika ia membunuh A Ko
bukankah kita akan mengalami penyesalan seumur hidup…?”
BoIeh dikatakan untuk sesaat Siau Po dapat melupakan kemarahannya, Si bibi
berbicara dengan lemah lembut dan suaranya merdu, gerak geriknya pun sangat halus,
Siau Po tertarik bukan main, ia pun diperlakukan sebagai keponakannya sendiri.
“Habis, A Ie Apakah daya A-Ie untuk menolong A Ko yang sedang dalam keadaan
seperti itu?” tanyanya.
Wan Wan berpikir sebelum ia menjawab.
“Aku berpikir, lebih baik aku menasihati A Ko agar mau mengakui Ongya sebagai
ayahnya.” katanya, “Dengan demikian Ongya tak mungkin membunuhnya….”
Belum berhenti kata-kata si nyonya tadi, tiba-tiba dari luar terdengar orang berkata
dengan suara keras sekali.
“Mengakui si pengkhianat sebagai ayahnya?” katanya dengan suara keras, “Mana
ada aturannya?”
Menyusul masuk seorang laki-laki dengan tubuh yang cukup tinggi dengan tongkat di
tangannya, Biksu itu juga bermuka segi tiga, janggutnya sudah berubah warna,
sepasang matanya yang tajam menatap, ia berdiri di ambang pintu.
Siau Po terkejut karena pendeta itu keren sekali, ia mundur tiga langkah seperti akan
berlindung pada nyonya itu.
Wan Wan tidak merasa takut, bahkan sebaliknya sangat senang dengan datangnya
orang suci itu.

“Oh, kau datang?” katanya dengan girang.
“Ya, aku datang.” sahut pendeta dengan suara halus, matanya yang semula melotot
berubah sayu.
Setelah sinar mata mereka menjadi bentrok nampak mereka sangat girang satu
dengan yang lainnya.
Siau Po diam saja.
“Siapakah pendeta tinggi besar yang keren itu?” tanyanya dalam hati, “Mungkin….
Mungkinkah ia gendak A-Ie? Atau ia sering mengajak pelesiran sewaktu A-Ie berada
dan menjadi bunga raja? Kalau benar ini tidaklah aneh. Sewaktu aku sendiri menjadi
pendeta, aku sering pergi ke rumah hina.” katanya dalam hati.
Ketika itu terdengar pula suara Tan Wan Wan.
“Jadi kau sudah mendengar semua pembicaraan itu?” tanyanya.
Pendeta tua itu mengangguk.
“Ya, aku telah mendengar pembicaraan kalian.” katanya.
Mendadak Wan Wan menyandarkan tubuhnya dalam rangkulan orang itu. ia
menangis tersedu-sedu, dan dengan tangan kirinya pendeta itu meng-usap-usap kepala
Wan Wan.
Menyaksikan hal itu Siau Po menjadi heran sendiri, maka ia pun berkata, “Apakah
kalian menganggap aku sebagai orang mati? Atau kalian menganggap aku sebagai
patung? Baiklah jika kalian menganggap aku seperti itu aku akan diam saja melihat
tingkah kalian.” kata Siau Po dengan suara keras.
Akhirnya Wan Wan berhenti menangis, setelah mendengar kata-kata Siau Po itu. ia
lalu mengangkat kepalanya dan berkata.
“Benarkah kalian akan menolong A Ko anakku?” tanyanya dengan suara yang
terisak-isak.
“Benar.” jawab si pendeta, “Aku akan menolongnya dengan sekuat tenagaku, Walau
bagaimanapun anak itu tak dapat mengaku Ongya sebagai ayahnya, apalagi sebagai
ayah kandungnya.” demikian katanya dengan suara gagah.
“Ya, ya, aku keliru.” kata Wan Wan, “Aku hanya memikirkan bagaimana caranya agar
aku dapat menolong anakku itu tanpa memikirkanmu, Aku, aku.,, aku… menyesal…”
Biksu itu tertawa, walaupun tawanya itu bernada sedih.

“Aku mengerti, dan aku tak menyalahkanmu tetapi anak itu tidak dapat mengakui si
pengkhianat itu sebagai ayahnya, tidak dapat,., pasti tidak dapat.” kata si Biksu.
Suara itu sangat pelan tetapi nadanya sangat berwibawa dan memerintah.
Dan pada saat itu terdengar suara langkah kaki yang disusul dengan suara tawa
yang menuju ke arahnya, Dan orang itu berkata dengan suara yang masih keras.
“Oh, sahabat kawanku, kau telah sudi datang ke kota Kun Beng ini, sungguh terang
muka Siau Ong”
“Siau Ong” berarti raja kecil, Dan kata itu dipakai juga untuk menggantikan kata “Aku”
puIa.
Mendengar dan mengenali suara itu Siau Po dan juga Tan Wan Wan kaget sekali,
wajah mereka menjadi pucat Tetapi justru sebaliknya dengan pendeta itu. ia tetap
tenang seperti tak terjadi apa-apa hanya matanya melihat lebih tajam.
Tiba-tiba tampak bayangan pedang, menyusul gordeng telah tertebas putus dari luar,
hingga di lain waktu di depan pintu yang tak teralingi apa-apa itu tampak Gauw Sam Kui
berdiri dengan tawanya yang menunjukkan hatinya sangat senang dan di samping kiri
dan kanannya berdiri pengawal pribadinya.
Dengan suara nyaring Gauw Sam Kui memasukkan pedang dalam sarungnya, tetapi
suara itu disusul dengan suara berisik dalam kamar dan debu pun pada bertaburan,
sebab tembok dari empat penjuru itu rubuh dari arah luar.
Maka nampak beberapa pengawal-pengawalnya pada masuk melewati tembok yang
runtuh itu, Tembok itu telah digempur dengan palu yang sangat besar sehingga
sangatlah mudah untuk merubuhkannya.
Para pengawal itu bersenjatakan panah dan tombak yang kesemuanya di arahkan
pada mereka, Mereka terancam sebab jika Gauw Sam Kui memberikan isyarat, maka
anak panah dan tombak itu menyerang mereka,
“Wan Wan kau keluar” terdengar suara keras dari Gauw Sam Kui pada istrinya.
Nyonya itu sangsi dengan perintah itu, tetapi ia pergi juga, Baru satu langkah
akhirnya ia membatalkan meneruskan langkahnya, dan lalu ia menggelengkan kepala.
“Aku tak mau keluar” katanya, ia lalu menoleh pada Siau Po dan langsung berkata,
“Siau Po urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kau, untuk itu pergilah kau
keluar”
Tetapi sekarang Siau Po atau utusan kaisar itu, bukannya menerima anjuran itu
malah ia berkata.

“Aku tidak mau keluar. Jika kalian berani, bunuhlah aku”
Kata-kata itu ditujukan pada Gauw Sam Kui.
Si Biksu sebaliknya menggoyangkan kepalanya.
“Kalian berdua keluarlah..” katanya dengan sabar dan tenang.
“Aku si pendeta tua, memang sejak dua puluh tahun yang lalu seharusnya aku sudah
mati.”
Tan Wan Wan menarik tangan si Biksu tua itu.
“Tidak…. Tidak.,.” katanya, “Kau tak dapat mati sendiri kita harus mati bersamasama”
“A-Ie apakah kalian sangka aku takut mati?” kata Siau Po.
Gauw Sam Kui gusar hingga ia kalap, lalu mengangkat tangannya dan menuding ke
arah Siau Po.
“Wie Siau Po kau berteman dengan pemberontak jikalau aku membunuhmu, aku
akan mendapatkan hadiah dari baginda raja dan bukannya hukuman” katanya.
Bagian 57
Habis berkata demikian Gauw Sam Kui menatap Tan Wan Wan dan berkata kepada
Ong Hui Ong.
“Wan Wan, mengapa kau begini sembrono dan bodoh? Masihkah kau tidak ingin
keluar?”
Nyonya Tan menggelengkan kepalanya.
“Pemberontakan apa?” kata Siau Po dengan keras selagi sang bibi tak mau dipaksa
keluar “Memang aku tahu, kau paling pandai menuduh dan memfitnah orang baik-baik.”
Dari murka Gauw Sam Kui berubah tertawa, rupanya ia menganggap Siau Po itu
lucu.
“Oh bocah cilik kau rupanya masih belum tahu siapa pendeta tua itu.” katanya, “Kau
tahu kau membuat kau terselubung hingga kau tak melihat apa juga, Dengan demikian,
kalau nanti kau pergi ke neraka kau masih belum tahu siapa yang mengantarkan
jiwamu pergi ke sana?”

Belum lagi Siau Po menjawab pertanyaan itu, sang Biksu sudah mendahului berkata
dengan keras.
“Aku si orang tua, berjalan aku tak berubah She ku, duduk aku tidak menukar
namaku Akulah Cian Ong si raja langit, She Lie bernama Cu Seng”
Mendengar kata-kata tersebut Siau Po tersentak kaget bukan main.
“Kau…. Kaukah Lie Cu Seng?” tanyanya.
“Tidak salah, saudara cilik” katanya, “Nah, kau keluarlah Seorang laki-laki sejati
dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri, Aku si orang She telah
mengalami perang beratus-ratus kali dalam usiaku yang tujuh puluh tahun lebih, jikalau
aku mati aku tak sudi ditemani oleh pembesar cilik bangsa Tatcu.”
Setelah selesai ucapan Lie Cu Seng itu, Gauw Sam Kui berseru karena gusar, Akan
tetapi sekonyong-konyong tampak satu bayangan putih berkelebat sebab dari atas atap
telah melompat turun seorang yang jatuhnya tepat ke arah kepala raja muda itu.
Ketika itu di belakang Gauw Sam Kui telah bertambah para pengawal yang langsung
menyerang bayangan putih itu dengan pedangnya.
Bayangan putih itu hanya mengibaskan ujung bajunya dan terasa angin yang berasal
dari bajunya, Maka tak ayal lagi empat pengawal yang menyerangnya terpental ke
belakang beberapa langkah, menyusul bayangan putih itu menyerang raja muda.
Setelah mendapatkan serangan yang mendadak dari bayangan putih, Gauw Sam Kui
terpental masuk ke dalam kamar.
Bayangan putih itu pun ikut masuk ke dalam kamar, kali ini ia menggerakkan
tangannya yang kiri langsung ke arah bahu Peng See Ong.
Gauw Sam Kui mengeluarkan suara tertahan lalu jatuh terduduk di Iantai.
Kali ini bayangan putih itu tidak menyerangnya, hanya menekan ubun-ubun Gauw
Sam Kui setelah ia lebih dahulu mengawasi ke empat penjuru.
“Cepat letakkan anak panah kalian” Demikian bentaknya dengan suara bengis.
Dalam keadaan seperti ini, meskipun kepala perang mereka terancam maut, tidak
ada yang berani menggerakkan tangan apalagi menggerakkan anak panahnya.
Siau Po segera mengenali bayangan itu. “Suhu.” ia berseru memanggil Ternyata
bayangan putih itu Kiu Lan gurunya, yang telah mengikuti Siau Po sejak ia
meninggalkan kamarnya, dan selama itu rombongan Cin Thian Coan tidak berani
sembarangan bergerak turun tangan, dan setelah ia melihat rombongan Gauw Sam Kui.

Kemudian Kiu Lan menoleh pada Lie Cu Seng.
“Benar kau Lie Cu Seng?” tanyanya.
“Tidak salah,” jawabnya. ia adalah si raja langit yang menentang pemerintah, tetapi
ia mengalami kegagalan dan usahanya buyar.
“Aku dengar kabar bahwa kau telah terkena hajar orang di gunung Kiu Kiong San
dan kau mati, kenapa sampai saat ini kau masih hidup?” tanya Kiu Lan.
Orang She Lie itu mengangguk.
Kiu Lan menatap terus, “Apakah A Ko anak perempuanmu yang kau dapat dari dia?”
tanyanya sambil menunjuk pada Wan Wan.
Liu Cu Seng menghela napas lalu menoleh pada Tan Wan Wan dan langsung
mengangguk.
Gauw Sam Kui mendongkol sekali, maka ia lalu berkata dengan suara yang keras.
“Seharusnya aku mengetahui hanya kaulah si bangsat yang dapat melahirkan
anak..”
Kiu Lan menendang punggung Gauw Sam Kui maka terdengarlah suara mengaduh
dan kata-kata-nya terputus-putus secara tiba-tiba.
“Kamu berdua pengkhianat Jalan setengah hati jalan delapan tail” cacinya, “Di
antara kalian berdua entahlah yang mana yang lebih jahat dan lebih kejam?”
Liu Cu Seng memukulkan tongkatnya pada lantai maka terdengarlah suara nyaring
dan lantai itu pun pecah.
“Hai biksu hina dina, siapakah kau? Mengapa kau berlaku begini kurang ajar?”
bentaknya.
“Jangan kurang ajar” selak Siau Po pada si biksu. Dengan tibanya gurunya ia
menjadi berani dan bersemangat sekali.
“Apakah kau sudah bosan hidup maka kau berani kurang ajar terhadap guruku ini?
Kau memang si pemberontak dan pembuat huru hara Kata-kata guruku tak pernah
keliru” katanya.
Suara keras itu diakhiri dengan datangnya tiga buah tombak yang semuanya
diarahkan pada Kiu Lan, maka Kiu Lan berkelit.

Biksu itu mengibaskan tangan kanannya dan dua buah tombak berhasil
dilumpuhkan. Dan tangan kirinya mengambil tombak yang satu dan ia melemparkan
tombak itu kembali ke arahnya.
Di luar jendela terdengar dua kali jeritan kesakitan itulah jeritan dua orang pengawal
yang mati terkena tombaknya sendiri, yang tadi mereka arahkan pada Kiu Lan.
Dengan tombak di tangan kirinya Kiu Lan mengancam si pengkhianat besar, Asal ia
menggerakkan tangannya maka matilah si raja muda itu. “Kamu jangan lancang
bergerak” kata Gauw Sam Kui pada para pengawalnya, “Kamu semua mundur sepuluh
langkah”
Para pengawal itu serempak menyahut, dengan bersama mereka mundur beberapa
langkah.
Kiu Lan tertawa dingin, ia mengawasi Gauw Sam Kui dan Lie Cu Seng secara
bergantian.
“Hari itu suatu kebetulan.” katanya dengan suara tawar.
“Di dalam kuil yang kamarnya kecil ini telah berkumpul pemberontak kelas satu pada
jaman dahulu dan jaman sekarang, serta pengkhianat terbesar bangsa Han sejak jaman
dahulu dan jaman sekarang.”
“Masih ada lagi.” kata Siau Po menambahkan “Di situ terdapat nona tercantik dari
jaman dahulu hingga jaman sekarang, serta jago silat terbesar dari jaman dahulu
sampai jaman sekarang.”
Mendengar suara muridnya itu, mau tidak mau si Biksuni tersenyum ia tahu muridnya
itu konyol.
“llmu silat nomor satu aku tidak mau terima tetapi pelawak nomor satu sejak jaman
dahulu hingga sekarang aku mau terima.” ujar Kui Lan.
Siau Po tertawa menggelegar.
Mau tidak mau Tan Wan Wan pun tersenyum, ia tengah menyaksikan sesuatu yang
sangat lucu.
Gauw Sam Kui dan juga Lie Cu Seng, tengah memikirkan cara untuk dapat
meloloskan diri dan tidak menikmati lelucon orang-orang itu. walaupun mereka diam
saja, wajah mereka sama-sama pucat dan mereka itu adalah orang-orang penting, yang
pernah dan biasa memimpin angkatan perangnya. Dan yang pernah merajai dan sering
mengalami macam-macam kesukaran. Tetapi kali ini mereka mengalami saat-saat yang
sulit luar biasa, Apalagi Peng See Ong, beberapa macam akal telah digunakannya
tetapi tidak satu pun yang dapat dipakai.

Akhirnya Lie Cu Seng menghadapi Kiu Lan.
“Sekarang kau mau apa?” tanyanya dengan keras.
“Aku mau bagaimana?” ia balik bertanya dan tertawa dengan suara dingin, “Dengan
tanganku sendiri aku hendak membunuh kalian”
“Su Thay,” Tan Wan Wan mengelak. “Apakah Su Thay guru A Ko anak
perempuanku?”
Kiu Lan tertawa tawar.
“Akulah yang menculik anakmu itu dan membawanya pergi.” jawabnya dengan
tenang.
“Aku mendidiknya dengan ilmu silat dan aku pula yang membesarkannya agar nanti
jika sudah dewasa ia yang akan membunuh pengkhianat bangsa Han atau ayah tirinya.”
katanya dengan jelas.
Berkata demikian Kiu Lan kemudian menusuk Peng See Ong dengan tombak yang
ada di tangannya hingga mengenai dagingnya sedalam satu dim dan si raja muda itu
menjerit kesakitan.
“Su Thay” kata Wan Wan dengan kaget sekali. “Dia dan Su Thay tidak saling kenal
dan tidak pula bermusuhan” katanya dengan cepat,
Kiu Lan mengangkat kepalanya sambil berkata, “Dia denganku tidak kenal dan tidak
bermusuhan?” katanya.
“Siau Po, beritahukan dia siapa aku, agar pemberontak-pemberontak itu tahu
sebelum ia mati dan sudah mengetahui sebab-sebab kematiannya itu” kata guru Siau
Po,
“Guruku itu adalah putri kandung dari baginda Cong Ceng kaisar dari kerajaan Beng
yang maha besar” kata Siau Po yang menjelaskan pada mereka bertiga.
Tan Wan Wan, Gauw Sam Kui dan juga Lie Cu Seng mendengarkan kata-kata Siau
Po, mereka sama-sama tak menyangka tetapi mereka akhirnya tertawa bersama.
“Bagus.,., Bagus” serunya, “Dahulu kala aku telah memaksa mati ayahmu, sekarang
aku mati di tanganmu, Maka kematian itu jauh lebih menang dalam peperangan dengan
pengkhianat besar” ia maju selangkah dan menancapkan tongkatnya ke lantai
Kemudian ia merobek bajunya dan tampak dadanya yang berbulu.
“Tuan putri, kau boleh turun tangan sekarang, aku si orang She tidak mati di tangan
pengkhianat besar tetapi aku mati di tangan tuan putri dari kerajaan Beng itu bagus.”
katanya pada Kiu Lan.

Kiu Lan membenci dan sakit hati terhadap Lie Cu Seng sampai ke tulang-tulang, ia
sangat menyesal sewaktu ia mendengar berita bahwa Lie Cu Seng telah mati di gunung
Kiu Kiong San. Maka dengan demikian sudah tidak ada kesempatan untuk membalas
dendam sakit hatinya itu. Ternyata sekarang musuh besarnya itu masih hidup, dan
sudah terjatuh ke tangannya, ini di luar dugaannya, ia sangat girang tetapi setelah ia
mendengarkan kata-katanya yang gagah itu dan juga sikapnya, ia menjadi kagum
sekali.
“Tuan kau sungguh laki-laki sejati” katanya, “Sekarang begini Terlebih dahulu aku
akan membunuh musuhmu agar kau dapat melihatku, baru kemudian aku akan
mengajakmu bermain-main sampai mati.”
Liu Cu Seng girang sekali, ia pun memberi hormat pada tuan putri yang sekarang
sudah menjadi biarawati itu. ia memberi hormat seraya berkata.
“Terima kasih Kongcu, aku yang rendah bersyukur tak habis-habisnya Karena
keinginanku yang paling utama adalah menyaksikan kematian si pengkhianat besar
pada bangsa Han”
Sementara itu pikiran Kiu Lan telah berubah secepatnya, dan ia menyaksikan Gauw
Sam Kui terdiam saja, Di bawah ancaman tusukan tombak, si pengkhianat itu malah
merintih kesakitan, sama sekali ia tak meronta-ronta, ia seorang jago selama merantau
di Kang Ong.
Tidak sedikit para jago yang terbinasa di tangannya, tetapi tiada yang sepengecut
pengkhianat ini. Hingga tak ada keinginannya untuk membinasakannya sendiri, maka ia
lalu menghadapi Cu Seng.
“Aku hendak membuat engkau memenuhi keinginanmu.” katanya, “Nah, kau
bunuhlah dia” katanya pada Cu Seng.
Bukan main girangnya orang itu.
“Terima kasih” katanya setengah tertunduk menghormati dan setelah itu ia pun
mentap Gauw Sam Kui dan berkata bengis.
“Pengkhianat jahanam, dahulu sewaktu dalam peperangan aku tak beruntung dan
aku dapat kau kalahkan. Tak disangka kau kini telah ditaklukkan oleh Kongcu, Kalau
aku membunuhmu dengan begini saja, aku rasa kau pun tak merasa puas, kau tentu
akan mati dengan mata merem.”
Bekas pimpinan pemberontak ini mengangkat kepalanya dan menghadap pada Kiu
Lan.
“Kongcu yang mulia.” katanya.

“Tolong Kongcu merdekakan dia agar aku bertempur secara laki-laki sampai salah
satu di antara kami akan mati” pintanya.
Kiu Lan mencabut tombaknya.
“Baik,” sahutnya, “Mari kita lihat mana yang lebih dahulu dapat membinasakan
lawan”
Gauw Sam Kui yang sedari tadi hanya mendekam saja, setelah mendengar kata-kata
mereka itu, mendadak bangun dan langsung menyerang tuan putri itu.
Kiu Lan terkejut akan tetapi ia selalu bersiap sedia.
“Makhluk tak tahu diuntung” katanya sedang tombak yang ada di tangan kirinya
dipakai untuk menggeprak tombak lawan.
Gauw Sam Kui kaget sekali, geprakan itu membuat tenaganya habis, bahkan
tangannya kesemutan. Bukan saja ia gagal membokong, bahkan tongkatnya terlepas
dengan sendirinya ke lantai dan menyusul tombak lawan sudah mengarah pada
kerongkongannya.
Dengan hati ciut dan takut bukan main, Peng See Ong melangkah mundur agar
ujung tombak tak menemui sasaran. Akan tetapi Kiu Lan mengikuti terus dan ujung
tombaknya mengancam tempat yang sama, sampai orang itu mepet pada tembok dan
tak dapat mundur lagi.
Sementara itu Lie Cu Seng menjemput tongkatnya, maka di lain pihak, Kiu Lan terus
menyerahkan tombak itu pada raja muda seraya berkata.
“Nah, kalian berdua, pergi kalian bertempur secara jantan dan jadilah kalian sebagai
laki-laki sejati”
“Baik,” Gauw Sam Kui berseru, dan menurut kebiasaan berlaku licik tanpa
mengatakan apa-apa ia langsung menyerang lawan. walaupun mereka berhadapan
serangan itu adalah serangan membokong.
Lie Cu Seng waspada dan telah siap sedia, maka itu ia dapat menangkis serangan
itu, setelah itu dengan hati panas ia membalas menyerang maka di situ mereka
bertempur.
Kiu Lan diam-diam menarik tangan Siau Po dan dibawanya ke belakang tubuhnya,
sehingga Siau Po terlindung dengannya, Mereka itu bertempur dengan menggunakan
senjata tajam, maka bila ada diantara mereka yang tidak konsekwen, tak ayal pula
mereka kena sasaran.

Tan Wan Wan juga pergi ke pojok tembok, mukanya sangat pucat, tak berani
menonton pertarungan itu, ia memejamkan matanya sebab kedua orang itu suaminya
dan bekas suaminya, Sewaktu meram, ia membayangi suatu peristiwa di masa dahulu.
“Waktu itu ia berada dalam istana, Di dalam keraton kerajaan Beng, Sri baginda
Cong Ceng malam-malam datang padaku, Dia sangat memuji kecantikanku, Besok
paginya baginda tak menghadiri rapat istana seperti biasanya, ia selalu berada dalam
keraton menemaniku ia menyuruh aku bernyanyi untuknya, ia pun membedakiku dan
memakaikan aku Yang-Ji hingga kedua bibirku menjadi merah.
Setelah itu ia menyipat alisku, Baginda telah berjanji akan mengangkatku sebagai
Kui Hui, selirnya yang sah. Dan kemudian akan mengangkatku sebagai Honghouw,
permaisuri ia sampai mengatakan semenjak itu dalam istana tak ada lagi yang
dipandang mata, dalam hal kecantikan.
Saat itu baginda masih muda akan tetapi suatu saat, sewaktu ia sedang tertawa
mendadak ia berhenti dan diam saja, Maka di mataku ia tak lebih dari laki-laki
bangsawan lainnya yang biasa datang berkunjung ke tempat-tempat pelesiran.
Selama tiga hari, siang dan malam tak pernah ia meninggalkan aku sekalipun satu
langkah, Di hari keempat aku tersadar terlebih dahulu, Aku heran menyaksikan
wajahnya yang pucat, tiada darahnya, pipinya celong dan alisnya berkerut itu pertanda,
sekalipun dalam tidurnya, ia masih saja berduka.
Menyaksikan hal itu aku berkata dalam hatiku “lnilah seorang raja? Dia yang menjadi
dipertuan dalam suatu negara, mengapa ia tidak bergembira?”
“Hari itu baginda pergi ke suatu sidang istana, Mukanya tampak lebih pucat dan
matanya lebih cekung, Tiba-tiba ia marah padaku, ia katakan kalau aku telah
menggagalkan urusan negara, Katanya, ia adalah raja yang bijaksana, tidak dapat
terpengaruh oleh paras yang elok, Dan ia bukanlah raja Bo-To. Katanya puIa, ia akan
memperbaiki pemerintahan, lalu raja memerintahkan pada seorang kacung untuk
menyuruhku pergi dari istana. Katanya aku wanita siluman, hal itu setelah ia mengeram
tiga hari dalam kamarku, pemberontak Lie Cu Seng telah berhasil merampas tiga kota.
Aku tidak jadi berduka aku menganggap bangsa pria demikian adanya. Asal tidak puas
ia akan menyesatkan dan menggerutu pada wanita, Raja terus bersusah hati, ia
khawatir bukan main, ia paling takut dengan orang yang bernama Lie Cu Seng hingga
aku menerka-nerka. “Lie Cu Seng

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s