“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 74

itu memandangnya.
“Apa yang terjadi? dan mengapa kau tampak seperti orang sedang bingung?” tanya
gurunya.
“Suhu, Sujie,., telah mencoba membunuh si pengkhianat besar itu tetapi ia gagal,
hingga sekarang ia ditawan, Si pengkhianat itu akan membunuhnya. Mungkin sekarang
ia tengah disiksa sampai mati dan pasti si pengkhianat itu hendak mengetahui siapa
yang telah memerintahkannya membunuh…” kata Siau Po.
“Aku yang menyuruhnya.” kata gurunya itu dengan nada suara dingin, “Jika si
pengkhianat itu mempunyai keberanian biar dia yang datang sendiri ke mari untuk
menawanku.”
Walaupun Siau Po merasa heran, ia tetap mengatakan perkataannya dengan suara
pelan terhadap gurunya.
“Tak akan ia berani mengatakan nama Suhu pada pengkhianat yang jahat itu.”
katanya.

Setelah berkata demikian Siau Po lalu minta diri.
Lama juga Siau Po menunggu kabar dari para Sie Wie yang diutus untuk mengambil
A Ko, maka ia pun memerintahkan lagi tiga orang Sie Wie untuk menyusulnya, tetapi
tetap saja Sie Wie itu tak segera kembali.
Karena Siau Po menunggu para utusan itu cukup lama, maka ia langsung berangkat
ke sana dengan mengepalai pasukan kecil untuk menemui Peng See Ong di
tempatnya. Akan tetapi mereka hanya sampai kuil yang jaraknya kira-kira tiga lie dari
tempat Peng Sie Ong, ia mengutus seorang Sie Wie untuk menyelidikinya.
Tak lama kemudian datanglah Kong Lian dengan menunggang kuda menuju
tempatnya.
“Kami telah pergi ke gedung Peng See Ong, dan kami telah mengajukan
permohonan untuk bertemu dengan Peng See Ong, tetapi kami tak mendapatkan
jawaban, Maka kami pergi untuk memberikan Iaporan. sedangkan kawan kami masih
tinggal di sana untuk menunggu jawaban dari Peng See Ong itu.” ujar Kong Lian.
Siau Po bingung sekaligus mendongkol.
“Aku sendiri akan menemuinya.” katanya, “KaIian semua boleh ikut aku. Kau, semua
pasukan bawa ke mari, kalian menempatkan diri di depan untuk menunggu perintahku.”
kata Siau Po.
Melihat keadaan tersebut, para Sie Wie menjadi terkejut. Mereka mengetahui bahwa
pasukan raja muda itu jumlahnya lebih besar Maka jika benar terjadi pertempuran,
dalam waktu singkat saja pasukan Siau Po tentu sudah dapat dikalahkan.
“Congkoan, kita kemari sebagai utusan baginda raja dan sebagai pengawal tuan
putri, Untuk itu jika congkoan mempunyai masalah dengan Peng See Ong, dapatlah
kiranya berbicara dengan baik-baik saja, dan tak mungkin Peng See Ong
menyombongkan diri, Menurut hamba, kita lebih baik bertindak secara perlahan-Iahan
saja.” kata Kong Tian.
Mendengar keterangan bawahannya, hati Siau Po menjadi sangat panas. ia sangat
gusar dengan kejadian yang menimpa kekasihnya itu, Mereka tak ada yang berani
berkata-kata dengan sembarangan melihat keadaan Siau Po yang sedang kesal itu.
Siau Po kemudian menunggang kuda menuju istana Peng See Ong, sesampainya di
istana itu, para penjaga yang mengetahui kedatangannya langsung memberi hormat
padanya. Mereka lalu menugaskan salah seorang untuk memberitahu pada raja muda.
“Wie Toutong, maafkan.Tentu Toutong telah mendengar kejadian yang menimpa raja
muda semalam. sekarang ia tak dapat menyambut kedatangan Toutong karena luka-
Iukanya tidak ringan.” kata pengawal yang ditugaskan memberitahu raja.

Siau Po menjadi kaget.
“Ongya terluka? Saya dengar ia tak terluka.”
Kok Siang terdiam.
“Ongya tertusuk dadanya dan kedalaman tusukan itu tiga atau empat dim.” katanya,
“Aku mengatakan Ongya tak terluka, maksudnya agar rakyat jangan terguncang, Akan
tetapi terhadap Toutong hamba mengatakan yang sebenar-benarnya, Entah apakah ia
dapat ditolong atau tidak?” lanjutnya.
Siau Po mengangguk
“Mari antarkan aku menjenguk Ongyamu.” kata Siau Po.
Siau Po lalu diajaknya untuk memasuki kamar raja muda itu. sesampainya di luar
kamar, terdengar rintihan Peng See Ong, Kok Siang segera membuka kelambu itu,
barulah terlihat darah di sana sini dan pada dadanya terdapat balutan dengan perban
yang sudah merah warnanya, Para tabib yang sedang berusaha mengobatinya tampak
putus asa.
“Bagaimana luka Ongya? Apakah itu berbahaya?” tanya Siau Po.
Sedangkan yang ditanya hanya menjawab dengan matanya, Tak lama kemudian
terdengar suara orang yang ditanya itu.
“Aduh,., aduh aku tak akan hidup lebih lama lagi, ini gara-gara Eng…. Eng. Cepat
panggil ia ke mari untuk dihukum mati” katanya dengan suara perlahan-Iahan.
Kok Siang dan Siau Po kemudian pergi ke luar kamar, Sesampai mereka di luar, Kek
Song menangis memikirkan nasib raja mudanya itu.
“Aku dapat melihat wajahnya, walaupun lukanya parah ia tak akan mati.” kata Siau
Po pada Kok Siang.
Mendengar ucapan Siau Po, hati menantu raja muda itu spontan berubah menjadi
girang.
“Dengan budi yang dilepaskan Sri Baginda para Ongya kami, hingga kedudukan
Ongya kami sampai pada batas kemuliaan,” katanya, “Kedudukannya itu tak ada lagi
yang mengatasinya, pangkatnya pun tak akan naik puIa, maka itu kami hanya
mengharapkan agar Ongya kami dapat terluput dari maut yang sedang menunggu
waktunya.” katanya.
Diam-diam Siau Po memperhatikan wajah orang yang ada di depannya, Dengan
melihat wajah orang itu Siau Po lalu memulai membualnya. Siau Po mengatakan halhal
yang dapat menyenangkan hati orang itu.

Kok Siang yang belum mengetahui pikiran Siau Po mempercayai segala kata-kata
yang diucapkan, tanpa merasa curiga.
“Apakah penyerang Ongya sudah tertangkap? sebenarnya orang macam apa dia?
siapakah yang memerintahkannya melakukan penyerangan itu? Apakah ia sisa
kerajaan Beng atau orang Bhok Onghu?” tanyanya.
“Penyerang itu adalah seorang wanita, ia bernama Ong Ko Jie.” katanya, “Ada orang
yang lancang mengatakan kalau ia dayang Kongcu, aku tidak mempercayai kata-kata
itu, sedangkan ia mengatakan kalau ia hanya seorang dayang, menurut aku memang
benar apa katamu mungkin ia orang Bhok Onghu, Aku sangat senang kau dapat
membantu memikirkannya.” katanya.
Dalam hati Siau Po terkejut mendengar kata-kata orang itu.
“Celaka,” pikirnya, “Bila ia mengetahui kalau A Ko itu putri dari Bhok Onghu maka
dengan demikian sangatlah mudah untuk membunuh A Ko.”
Karena memikirkan hal itu maka Siau Po berkata.
“Ong Ko Jie, nama nona itu? Memang benar di antara dayang-dayang tuan putri ada
yang bernama itu, Putri sangat sayang pada dayang itu, Nona itu berusia sekitar enam
atau tujuh belas tahun, bertubuh langsing dan cantik, kalau memang itu? Memang ia
dayang kesayangan tuan putri.”
“Aku sangat memperhatikan keselamatan 0ng-ya hingga aku tak sempat meneliti si
pembunuh Maka itu kalau ia bukan seorang dayang, pastilah ia orang yang mempunyai
nama yang sama, Ongya tentu tak akan setega itu jika memang itu dayang kesayangan
tuan putri. Dan biasanya dayang itu lemah lembut, mana dapat ia mencoba membunuh
Ongya kami?” jawab orang itu.
“Apakah kalian sudah menghukum mati orang itu?” tanya Siau Po penuh selidik.
“ltu beIum. Dalam hal ini aku menunggu sampai Ongya sembuh, sesudah itu barulah
kami memeriksanya dengan teliti, terutama untuk mencari tahu orang yang
menyuruhnya.” katanya.
Siau Po mengangguk.
“Sekarang coba antar aku melihat dayang itu” katanya, “Kalau memang itu dayang,
pastilah aku mengenalnya.”
“Tak berani aku membuat Toutong bersusah payah.” katanya dengan alasannya,
“Pastilah ia bukan dayang tuan putri. Tentang cerita di luaran jangan kau percayakan”
katanya pula.

“Ongya telah diserang oleh orang itu sampai ia terluka parah, Jika sampai terjadi
masalah yang tidak kita inginkan, siapakah yang harus bertanggung jawab. Dan jika aku
kembali ke kota raja pastilah baginda menanyakan masalah ini. Lalu aku harus berkata
bagaimana? Apakah aku harus berbohong pada baginda raja? itu namanya aku telah
menghina raja. Tak dapat aku berbuat serendah itu.” kata Siau Po yang terus meminta
agar ia diperlihatkan pembunuh raja muda.
Toutong, di sini kami mempunyai peraturan yang telah ditetapkan oleh mertuaku Aku
sendiri tak dapat melakukan pelanggaran itu dan aku sering pula diperlakukan dengan
keras.” jawabnya.
Siau Po tersenyum.
“Aku hendak melihat dan mendengar keterangan pembunuh itu, namun kau selalu
menghalangi halangi bahkan sampai menyebut-nyebut mertua laki-Iaki dan mertua
perempuanmu. Apakah maksudmu? Kau aneh, bukan?” kata Siau Po yang terus saja
dihalang-halangi menantu raja muda itu.
“Aku khawatir kalau itu benar dayang dan Toutong membawa pergi orang itu. Lalu
harus dengan apa aku mempertanggung-jawabkannya? Bagaimana aku harus berbuat
jika Ongya akan memeriksanya? Bagaimana aku mendapatkan pembunuh itu? Dengan
demikian bukankah itu celaka bagiku?”
“Dasar manusia-manusia licik Kau mencegah aku bertemu dengan A Ko pacarku,
Kau melarang aku membawanya pergi. Dapatkah pacarku dihina oleh kalian
semuanya?” katanya dalam hati.
Meski berpikir demikian Siau Po tetap saja tersenyum, hanya saja senyuman itu
hambar rasanya.
“Kau sendiri yang mengatakan kalau pembunuhnya itu bukanlah seorang dayang,
tetapi mengapa sekarang kau sendiri yang mengkhawatirkannya.” kata Siau Po.
“Toutong Tayjin, sebenarnya kata-kataku tadi adalah terkaan belaka,” katanya, “Dan
aku sendiri tak mengetahui apakah benar pembunuh itu dayang atau bukan.”
“Katakan terus terang mengapa aku tak boleh membawa pergi pembunuh itu” tanya
Siau Po dengan sengitnya,
Bagian 56
“Tak berani aku melarang Toutong,” jawabnya dengan kesal.

“Sekarang silahkan Toutong menunggu di sini, aku akan memberitahukan pada
Ongya kami, yang selanjutnya tinggal urusan Toutong dengan Ongya kami, kalau
Ongya nanti marah tak dapat ia memarahi aku.” katanya.
“Baik kau boleh pergi meminta ijin pada Ongyamu, tetapi ingat kesehatan Ongyamu,
dan kau harus cepat-cepat memberi laporan padaku, karena aku pun punya tugas. Mati
atau hidupnya tuan putri bukanlah tugas yang ringan, Kau harus tahu semenjak tuan
putri itu dihina, sudah beberapa kali ia hendak melakukan bunuh diri. Jika itu sampai
terjadi bukan saja aku, tetapi juga Ongyamu turut bertanggung jawab. Maka itu aku
harus secepatnya melihat keadaannya.”
Mendengar kata-kata Siau Po. Hee Kok Siang kemudian memberi hormat, setelah itu
ia pun meninggalkan Siau Po.
Kesal Siau Po menunggu kedatangan Kok Siang, sampai ia membanting-banting
kakinya saking tak sabarnya.
“Ongya kami masih belum sadar,” jawabnya, “Tetapi karena aku khawatir Toutong
menunggu terlalu lama maka aku hanya menyampaikan pertanyaan Toutong tanpa
menunggu jawabannya lalu aku kembali ke sini.” kata Kok Siang.
Siau Po mengangguk lalu mengikuti Kok Siang yang berjalan di depan Siau Po.
Jalan menuju kamar tahanan dijaga sangat ketat oleh para pengawal kerajaan
dengan senjata di tangan mereka. Dan setelah kok Siang memberikan Lengcie, maka
mereka berdua baru diperbolehkan masuk.
Siau Po mengangguk-anggukkan kepala sambil mengikuti Kok Siang melewati
terowongan, lalu pintu besi sebagai pintu yang pertama, setelah itu jalanan menurun,
maka mereka berhenti di depan sebuah kamar kecil yang terdapat lilin, di situlah nona
itu ditahan.
Setelah diteliti ternyata bukannya A Ko tetapi Bhok Sio Kongcu anak dari raja bangsa
Han, ayahnya telah mati di tangan Gauw Sam Kui jadi ia merasa dendam pada Gauw
Sam Kui yang telah menghancurkan keluarganya.
Setelah bertemu pandang, Siau Po dan Bhok Sio Kongcu sama-sama kaget.
Rupanya mereka itu salah sangka, Dalam hati Siau Po berkata.
“Sio Kongcu telah ditawan aku harus dapat menolongnya.” Lalu Siau Po berkata,
“Dia memang dayangnya tuan putri, dan tuan putri sangat menyayanginya.” katanya
pada Kok Siang.
Sambil berkata demikian Siau Po mengedipkan matanya sebagai tanda pada Bhok
Kongcu, kemudian ia berkata lagi.

“Oh, orang yang bernyali besar, dengan cara apa kau sudah berani mencoba
membunuh Peng See Ong? Apakah kau sudah tak menyayangi jiwamu? Cepat kau
katakan, siapa yang telah menyuruhmu? Cepat agar kau tidak disiksa.” kata Siau Po.
Mendengar teguran itu, Bhok Kiam Peng menjawab dengan suara keras,” Gauw Sam
Kui adalah pengkhianat besar bangsa Han, dialah yang telah menyerahkan kerajaan
Beng yang maha besar pada bangsa Tatcu, setiap rakyat bangsa Han ingin sekali
menggigit kupingnya, oleh karena itu sayang sekali aku telah gagal membinasakannya.”
katanya.
Siau Po pura-pura gusar ia lalu bertanya.
“Oh, budak cilik kau bicara sangat kurang ajar. siapakah yang memerintahkanmu?
Kau sudah lama tinggal dalam istana mengapa kau tak mempunyai adat? Dan
sekarang, siapa kawan-kawanmu?”
“Kau sendiri yang berdiam lebih lama dari padaku, apa yang kau tahu tentang
aturan? Kau mau tahu siapa kawanku? Dia itulah kawanku” jawabnya sambil menunjuk
pada Kok Siang, menantu raja muda.
Kiam Peng mengerti, dia lantas berkata keras-keras, “Memang dia. Dia yang
menyuruh aku membunuh Gauw Sam Kui. Dia membilangi aku bahwa Gauw Sam Kui,
manusia sangat busuk, bahwa semua orang sangat jemu dan membencinya, Dia
memberitahukan, kalau nanti aku sudah berhasil membinasakan Gauw Sam Kui, maka
dia… dia . boleh….”
Nona Bhok tidak kenal congpeng itu tak dapat ia menyebut nama orang, maka ia
menggunakan saja kata-kata “dia” karena ini juga, tak dapat melanjutkan kata-katanya
itu. Tapi Siau Po sangat cerdas, dia segera menambahkan “Dia dapat naik pangkat dan
bahagia, selanjutnya tak akan ada lagi orang yang mencaci dan menghukumnya.
Begitukah maksudmu”
“Tepat Tepat” seru si nona, “Katanya, memang Gauw Sani Kui sering mendamprat
dan menghukumnya dengan rotan, dia diperlakukan kejam, maka dia sangat
mendongkol dan gusar. Dia memang hendak turun tangan terlebih dahulu tetapi dia
tidak berani, dia tak ada nyalinya…”
Kok Siang gusar sekali, ia mencaci berulang-ulang akan tetapi Nona Bhok tidak
menghiraukan bahkan memastikan kata-katanya. “Memangnya kau”
“Berhati-hatilah jikalau bicara” tegur Siau Po kepada nona itu, berpura gusar. “Kau
tahu siapakah ini? Dialah menantunya Peng See Ong Gauw Sam Kui, namanya He Kok
Siang, dan pangkatnya Congpeng, Memangnya ada kalanya Peng See Ong
mendamprat dan merotaninya tetapi semua itu buat kebaikan menantunya ini sendiri”

“Hee Congpeng ini juga membilangi aku bahwa setelah Gauw Sam Kui mati, maka
dia bakal menggantikannya menjadi Peng See Ong.” kata pula Bhok Kim Peng, yang
tidak memperdulikan sikap menantu raja muda itu. “Dia telah menjanjikan tak perduli
aku berhasil atau gagal dengan percobaanku ini, dia akan memerdekakan aku, supaya
aku tidak usah menderita siksaan, Buktinya sekarang dia justru mengurung aku di sini.
Eh, Hee Congpeng, sampai kapankah kau hendak melepaskan aku?”
Ketika itu Kok Siang dapat menggunakan otaknya, maka ia berkata di dalam hatinya.
“Mulanya kau tidak kenal aku, kau tidak mengetahui nama dan pangkatku, Tapi
sekarang, karena munculnya bocah celaka ini, kau berani main gila begini, Buat
menolong kau, bocah ini sudah menjadikan aku bahan tertawaan..”
Terus ia menjawab dengan bentaknya, Tutup mulutmu jikalau kau mengaco belo,
akan aku hajar kau hingga kulit dan dagingmu pada pecah, supaya kau setengah mati
setengah hidup”
Kali ini Kiam Peng berdiam, ia berkhawatir juga, ia ingat, kalau Siau Po gagal
menolongnya, ia memang bisa dihajar setengah mati….
“Eh Nona apakah yang kau pikir?” tanya Siau Po yang melihat kenalannya itu terus
membungkam. “Hayo kau utarakan segalanya jikalau benar ia yang memerintahkan
kau mencoba membunuh Peng See Ong tak ada salahnya kau mengakuinya, aku tak
akan membongkar rahasia”
“Dia… Dia bakal menghajar aku” katanya, “Jika aku berbicara dengan orang lain”
“Jikalau demikian kata-katamu benar adanya,” kata Siau Po.
“Harap Tayjin,” kata Hee Coan. “Penjahat itu tengah menuduh aku dan ini sudah
kebiasaan seorang penjahat, jadi tidaklah benar kata-katanya.”
“Kau benar juga,” kata Siau Po setelah ia berpura-pura berpikir sejenak.
“Namun memang benar biasanya Peng See Ong memperlakukan keras pada Cong
Peng dan karenanya kau merasa kesal, hingga suatu waktu kau berpikir akan
membunuh mertuanya, Coba pikir, ia seorang nona mustahil dapat mengarang katakata
itu. sekarang begini saja Kita menunggu sampai Peng See Ong sembuh, nanti aku
akan bicara padanya, untuk memberikan nasihat supaya kalian mertua dan mantu tidak
sampai bentrok bagaikan air dengan api…”
Kok Siang terperanjat mendengar kata-kata Siau Po, Kata-kata Nona Bhok tak ia
hiraukan, lain kata-katanya Siau Po. Bisa ia celaka bila kata-kata nona itu disampaikan
pada raja muda.
Memang ia tahu selama ini tabiat mertuanya berubah menjadi keras, maka ia lalu
berkata pada kacung kita, “Sebenarnya Ongya memperlakukan aku baik sekali, sama

seperti pada anaknya sendiri Maka itu membuat aku sangat berterima kasih dan
bersyukur Toutong, aku minta agar kau tak bicara pada mertuaku itu.”
Siau Po dapat melihat orang itu tersenyum.
“Manusia itu tak berpikir mencelakakan harimau yang hendak makan daging
manusia.” begitu katanya, “Memang sering terjadi orang membalas kebaikan
sesamanya dengan kejahatan Maka dari itu karena Ongya sangat baik padaku, aku
harus memberi nasihat padanya agar ia menjaga dirinya baik-baik, agar ia tak usah
roboh di tangannya manusia jahat, Tentara Peng See Ong besar dan kuat, di sisinya
juga banyak perwira yang lihay yang dapat melindunginya, Jadi jikalau akan
mencelakakannya tak mungkin penjahat itu akan berhasil Namun orang jahat sukar
diteliti jika orang turun tangan terhadap dirinya mana sanggup ia menjaga dirinya?”
Hati Kok Siang menjadi makin kecil. Hebat kata-kata Toutong ini, yang telah
menimbulkan soal yang tidak-tidak yang maksudnya berniat menolong nona dalam
tahanan ini Peng See Ong memang sangat curiga, dia menyangsikan setiap orang.
Baru beberapa hari yang lalu Gouw Sam Bwee datang menghadap dengan lupa
meloloskan golok di pinggangnya, Golok itu lalu diloloskan sendiri olehnya dan terus
menegur dan mendamprat sedang orang itu adiknya sendiri.
“Jikalau Toutong suka mengangkatku, tak akan aku melupakan budi besarnya itu,”
katanya perlahan “Dalam hal itu aku berani mengajukan diri walaupun Toutong
memerintahkan aku untuk menyerbu api Toutong, dalam segala hal aku berani
bertanggung jawab”
“Sebenarnya aku memikir tentang kebaikanmu,” katanya, “Kau boleh percaya katakata
orang itu tak mungkin bocor, Lain daripada langit dan bumi, di sini cuma ada kita
berdua, bertiga dengan si budak itu sendiri sekarang kita bicara secara terang-terangan,
kalau tadi kau bunuh saja budak ini tentulah perkara ini sudah selesai. Kalau toh kau
hendak menutup muIutku, tidak ada jalan lain daripada kau membunuh aku. Tetapi ini
tak dapat kau lakukan, Kau tahu semua orangku sudah siap sedia, jumlah mereka
berapa ribu jiwa, Mereka semua berada di luar istanamu, maka itu sangatlah sukar
membunuh aku.” kata Siau Po.
Mendengar keterangan Siau Po, Kok Siang menjadi pucat, tetapi ia berusaha untuk
tersenyum, untuk menenangkan hatinya,
Melihat lawan bicaranya sudah berubah, maka Siau Po berusaha mempengaruhi
pikirannya. Siau Po berbicara terus membuat orang itu menjadi bingung harus berbuat
apa. sedangkan Siau Po terus saja mempengaruhinya.
“Terima kasih Toutong, kau telah turut memikirkan masalahku, dan sekarang
bagaimana caranya?” tanya Kok Siang yang kebingungan.

“Sebenarnya ini soal sukar.” kata Siau Po yang telah berhasil mempengaruhinya.
“Baik, mari aku terima kau menjadi sahabatku, sekarang begini, kau serahkan saja
budak ini padaku, untuk aku bawa pergi, Nanti jika ada yang bertanya katakan budak itu
sedang aku periksa, Nanti malam aku hendak membunuhnya, dan jika nanti aku
katakan pada raja muda bahwa ia telah mati karena tak sanggup menahan siksaan,
coba kau pikir bukankah dengan demikian urusan besar akan menjadi urusan kecil lalu
semuanya akan habis sama sekali?”
Mendengar demikian Kok Siang sudah merasa curiga, tetapi yang ia bingungkan
tentang budak itu.
“Tetapi Toutong, mengapa sewaktu kutanya ia tak mengetahui keadaan istana?
Mengapa Toutong mengenalnya?” tanyanya.
“Dia tak mau mengembet-embet tuan putri, Terang saja ia tak mau mengatakan Dia
dayang yang paling setia tak mau membongkar atau mengembet orang lain apalagi
tuan putrinya.” jawab Siau Po.
“Baik Toutong, sebaiknya Toutong meninggalkan secarik kertas sebagai tanda
Toutong telah membawa budak ini, supaya kalau nanti ditanya, kami mempunyai bukti”
katanya,
Kembali Siau Po dan Kok Siang menyebutkan tentang dirinya pada masing-masing.
Siau Po tertawa tetapi dalam hatinya ia berkata, “Setan Aku toh tidak dapat menulis
dan membaca, apa yang dapat aku tuliskan?” Tetapi ia merogoh kantongnya dan
mengeluarkan pistol.
“Inilah senjata yang Ongyamu berikan padaku, sekarang kau boleh bawa dan
menunjukkannya pada Ongyamu, dan kau berkata, aku atas titah tuan putri sudah
datang mengambil budak ini.” katanya sambil memberikan pistol itu kepada Kok Siang.
Kok Siang menerima pistol itu, lalu memanggil beberapa orang pengawal untuk
membuka kunci tahanan dan mengeluarkan budak itu.
Siau Po bersama orang tawanan itu diantar keluar Sambil memberikan kunci borgoI
tangan nona itu, Kok Siang berkata.
“Toutong datang atas perintah dari tuan putri untuk membebaskan budak ini. Oleh
karenanya kawallah ia kalau-kalau nanti akan pergi kabur”
Siau Po dapat mengetahui maksud hati Kok Siang, ia tertawa dan berkata.
“Kau takut aku menyangkal kata-kataku sendiri, bukan? Nah, sekarang banyak orang
aku sampaikan bahwa aku dititahkan tuan putri untuk membebaskan budak ini dari
tangan kalian dan aku yang akan memeriksanya.”

Congpeng itu tertawa.
“Toutong, bukannya aku tak percaya dengan kata-katamu, tak ada dalam hatiku
untuk berbuat seperti itu.” katanya.
Siau Po tertawa dan mengangguk.
“Sekarang kau pergi, dan katakan pada Ongyamu, aku sangat memperhatikan
kesehatannya, Dan jika ada waktu aku besok akan menemuinya sambil melihat
keadaannya.” kata Siau Po.
“Terima kasih Tayjin, sebenarnya aku tak sanggup untuk menerima Tayjin,” katanya.
Siau Po tertawa, lalu segera pergi meninggalkan istana itu, Sengaja ia langsung
masuk ke kamarnya dan ia menguncinya, lalu berkata pada nona itu.
“Oh istriku, sebenarnya bagaimana persoalannya hingga kau dapat ditawan
mereka?” tanyanya.
Muka Bhok Kiam Peng menjadi merah karena Siau Po menyebut istri padanya.
“Baru bertemu kau sudah berkata demikian, terlebih dahulu kau buka borgol ini.”
katanya.
Setelah borgol yang ada di tangannya itu terbuka maka Bhok menceritakan
permasalahannya hingga ia sampai seperti itu.
“Setelah kau memerintahkan padaku untuk menyerahkan kitab itu pada Kaucu dan
Hujin, maka aku disuruhnya untuk selalu bersamamu dan menjaga jangan sampai ada
hal-hal yang kurang baik, dan memikirkan sesuatu.” katanya.
“Jadi kau dikirim Hujin untukku? Memang Hujin orang yang baik, ia selalu memikirkan
keadaanku sekarang aku akan bertanya padamu, apakah kau tersinggung dengan katakataku
tadi?” tanyanya.
“Sebenarnya aku pergi ke sini tidak sendiri, aku di perjalanan bertemu dengan
kakakku, ia sedang bersama dengan gurunya dan aku diajaknya ke tempat tinggalnya,
Di sana aku bertemu dengan beberapa orang teman kakakku, setelah kuselidiki
ternyata mereka datang ke sini mempunyai tujuan untuk membunuh anak raja Kian
Leng.” katanya.
Siau Po terkejut.
“Mereka berniat akan membunuh tuan putri? Ada masalah apa? Bukankah tuan putri
tidak bersalah dengan kalian dan keluarga Bhok?” tanyanya.

“Menurut katanya, setelah putri raja yang akan dinikahkan dengan putra Gauw Sam
Kui itu terbunuh, raja akan mengatakan bahwa anaknya tak dapat menjaganya dengan
baik, Dengan demikian hal itu akan membuat raja menjadi marah.” kata nona Bhok.
Mendengar kata-kata tadi Siau Po terdiam, dalam hati ia berkata, “Aku ditugaskan
untuk menjaga tuan putri, sedangkan aku pun ditugaskan membunuh Gauw Sam Kui.”
“Lalu bagaimana seterusnya?” katanya.
“Lalu kami membagi tugas, aku ditugaskan untuk menyamar sebagai dayang dan
menyelusup ke istana, Tugasku yang sebenarnya untuk membunuh tuan putri, Tetapi
hal itu belum kulakukan aku bertemu dengan Cek Liong Su. ia mengatakan bahwa yang
ditugaskan raja untuk menjaga dan melindungi tuan putri yaitu kau, Jadi alasan dia
mencegah aku melakukan pembunuhan itu sangatlah beralasan, Dia mengkhawatirkan
jika nanti sampai terjadi aku berhasil membunuh tuan putri maka kau akan kena
hukuman dari raja, Lalu aku ingin bertemu denganmu untuk berdamai bagaimana jalan
yang terbaik. Namun diluar dugaan kami Liu Suhu mengetahuinya dan ia akan
membunuh Ceng Liong Su.” ujar nona Bhok menjelaskan pada Siau Po.
Siau Po lalu memegang tangan nona itu.
“Kakakku dan Ceng Liong Su telah bertempur” katanya sedih, “Kau telah menolong
aku, maka itu kita pun harus menolong kakak dan Liu Suhu keluar dari tahanan.”
lanjutnya.
“Apa..? Kakakmu dan Liu Suhu ditawan?” tanya Siau Po.
“Ya,” sahutnya, “Kemarin dahulu, sewaktu berada dalam tempat tinggal kakakku, aku
diserang oleh orang-orang Gauw Sam Kui. ia membawa pasukan yang sangat besar
dan kuat, Kami mengadakan perlawanan tetapi kami kalah maka aku, kakakku dan Liu
Suhu, mereka tawan sedangkan Suko Goh Pui terbunuh.
Siau Po merasa heran.
“Sejak kau ditawan, dengan cara apa kau mencoba membunuh Gauw Sam Kui?”
tanyanya.
“Aku mencoba membunuh Gauw Sam Kui?” wanita itu balik bertanya, “Aku memang
membunuhnya tetapi itu nanti, Kaki dan tanganku terbelenggu mana dapat aku
mengadakan perlawanan padanya?” katanya.
Siau Po semakin heran.
“Setelah aku ditawannya, aku dibawa ke ruang yang gelap gulita baru tadi pagi aku
dipindahkan ke tahanan bawah tanah, kemudian kau datang membebaskanku.” kata
nona Bhok.

Siau Po terdiam, ia mengetahui keadaan yang sangat gawat itu. ia sadar bahwa
mereka itu telah memalsukan keterangan.
“Oh, istriku yang baik.” katanya, “Kau tunggulah di sini, aku akan menolong kakakmu
dan Liu Suhu”
Kiam Peng percaya akan keterangan Siau Po maka ia membiarkan kekasihnya pergi.
Siau Po lalu pergi ke kamar barat, ia sadar bahwa telah terkena tipu dan masuk
jebakan, maka lalu mengumpulkan kawan-kawannya untuk membantu menyelesaikan
persoalan itu.
Setelah Siau Po menceritakan duduk permasalahannya, mereka semua bingung
sebab setiap rahasia mereka selalu saja bocor sampai pada Gauw Sam Kui. Mereka
berpikir “Siapakah yang telah membocorkan setiap rahasianya?” pertanyaan mereka
dalam hati masing-masing.
“Dalam istana Bhok ada seseorang yang bernama Lauw It Couw, Dia sangat
membenciku dan sangatlah serakah, Aku rasa tentu dialah orangnya, sebab dia itu
orang penakut.” kata Siau Po.
Mendengar keterangan tersebut Siau Po dan kawan-kawannya menjadi terbuka
pikirannya lalu mereka bersama mengatakan setuju.
“Wie Hiocu, keadaan sudah begini, dan sekarang kau harus menghadap pada Gauw
Sam Kui untuk mengatakan segala tindakannya itu semata-mata atas dasar perintah
dari baginda raja karena baginda raja ada hubungan dengan kaum Bhok. Atau kita
memulai saja penyerangan kita pada Gauw Sam Kui?” kata kawan nya.
Siau Po tersadar, memang keadaan sudah sedemikian gawat.
“Lalu bagaimana dengan kakak dan Liu suhu yang masih mereka tawan?” tanya Siau
Po.
Mereka terdiam, semuanya berpikir mencari jalan yang terbaik untuk membebaskan
kedua orang itu.
Lama Siau Po menunggu mereka yang berpikir, tetapi tak dapat juga, Maka Siau Po
minta diri untuk menemui Gauw Sam Kui untuk membicarakan masalah itu,” Gauw Sam
Kui telah menahan orang yang salah yang berarti keadaan A Ko baik-baik saja,”
katanya dalam hati.
Maka pergilah Siau Po ke kamar gurunya.
Sesampai Siau Po dalam kamar gurunya, ia langsung menanyakan keadaan Gauw
Sam Kui dan juga pertanyaan yang lainnya,

“Luka pada Gauw Sam Kui sangat parah dan aku telah membebaskan Nona Bhok
dari kamar tahanan,” katanya,
Mendengar keterangan Siau Po sang guru sangatlah senang tetapi secara tiba-tiba
wajahnya berubah suram, lalu menyuruh Siau Po untuk meninggalkan dirinya seorang
diri.
Mendengar perintah gurunya yang ia rasakan mengherankan sekali itu, ia lalu pergi
meninggalkan sang guru.
Siau Po lalu melanjutkan mencari Nona A Ko, dan untuk itu ia harus bertanya pada
para dayang dan juga para Sie Wie, mereka semua mengatakan jarang sekali A Ko
datang ke istana dan mereka juga tak mengetahui dayang mana yang tertangkap oleh
Gauw Sam Kui itu.
Sampai larut malam Siau Po tak dapat menemukan A Ko dan akhirnya ia pulang
kembali ke kamarnya, setelah berbincang-bincang dengan nona Bhok ia langsung
tertidur.
Besok paginya Siau Po pergi ke Gauw Onghu untuk mengetahui keadaan Gauw Sam
Kui. ia disambut oleh anaknya yang ke dua yang mengatakan keadaan Gauw Sam Kui
tak banyak berubah, dan mengatakan bahwa raja muda itu sedang tidur hingga ia tak
dapat mengganggunya.
Setelah gagal untuk bertemu dengan Gauw Sam Kui, Siau Po langsung kembali ke
kamarnya, setelah itu ia lalu mengumpulkan kawan-kawannya untuk membahas
masalah yang sama.
Tengah mereka berkumpul untuk membahas masalah itu, tiba-tiba datang Kho Gan
Ciau yang menyampaikan sepucuk surat kepada Siau Po. Dan ia mengatakan bahwa
yang membawa surat itu, seorang pendeta wanita dari aliran Tao.
Dalam surat itu disebutkan, “A Ko dalam bahaya.” hanya itu yang terdapat dalam
surat tersebut Me-reka semua bingung, tak mengetahui hubungan antara Siau Po
dengan A Ko.
“Apakah orang yang membawa surat ini masih berada di sini?” tanya Siau Po.
“Ya, ia berada di luar.” jawabnya.
Siau Po langsung pergi ke ruang tamu dan di sana telah ada seorang wanita
setengah baya yang dikawal oleh dua orang Sie Wie, Melihat kedatangan Siau Po Sie
Wie itu berkata.
“Utusan raja telah tiba.” kata nya.
Imam wanita itu lalu berdiri dan memberikan hormat

“Siapa yang menyuruh kau datang ke mari?” tanya Siau Po.
“Silahkan paduka turut denganku, nanti paduka akan mengetahui sendiri” jawab
imam wanita itu.
Siau Po sangat khawatir dan juga bingung.
Mereka naik kereta kuda, sedangkan kusirnya menurut perintah imam wanita itu,
mereka jalan menuju ke barat, Tanpa mereka ketahui kawan-kawan Siau Po mengikuti
dari kejauhan, mereka sangat khawatir jika ada musuh yang menggunakan akal
muslihat untuk menjebaknya.
Mereka berjalan sampai lewat tapal batas kota dan menuju ke arah utara, Dengan
melewati jalan yang sempit yang hanya dapat dilalui oleh satu kereta, mereka sampai
pada sebuah kuil.
Sebelum Siau Po memasuki kuil itu, terlebih dahulu ia menoleh ke belakang, Tampak
di sana beberapa temannya mengikutinya dari belakang, imam wanita itu menyuruh
Siau Po masuk, lalu ia menyediakan minuman teh serta makanan ringan yang
semuanya makanan mahal.
Mendapat perlakuan demikian Siau Po menjadi heran bercampur curiga, lalu ia
teringat ibu suri yang jahat itu, timbul dalam hatinya beberapa pertanyaan.
Sedang Siau Po memikirkan hal itu, tiba-tiba datang seorang wanita cantik yang
langsung memberikan hormat padanya, ia mengingat-ingat dan berkata dalam hati,
“Rasanya belum pernah aku bertemu dengan wanita secantik ini.”
Melihat lagak Siau Po wanita itu tertawa.
Wanita itu sedikit bingung, sebab tamunya hanya anak yang masih kecil dan hal itu
diluar perkiraannya.
“Paras cantik itu dapat mencelakakan negara, Hal itu sudah terjadi sejak jaman
dahulu, karenanya aku berada di sini untuk menebus dosaku yang cukup banyak ini”
kata wanita itu.
Mendengar perkataan wanita itu Siau Po menjadi bingung, sebab ia tadi melihat
orang yang ada di depannya itu, berbuat senang dan banyak senyum, Siau Po lalu
bertanya.
“Apakah ada orang yang telah menghinamu? Katakan padaku, siapa yang telah
menghinamu? Aku akan menghajarnya dan aku akan mengadu jiwa padanya, Dan jika
aku gagal maka leherku akan kuserahkan untuk dipenggal kata Siau Po.
Mendengar kata-kata Siau Po, wanita itu kemudian bangkit dari duduknya dan
berlutut di hadapan Siau Po.

Siau Po masih belum mengetahui siapa wanita yang berada di hadapannya itu,
Setelah ia ingat-ingat, barulah ia sadar bahwa wanita itu ibu dari A Ko.
“Lalu ke manakah A Ko?” tanyanya dalam hati.
Tan Wan Wan adalah wanita tercantik, itulah orang tua A Ko. sedangkan A Ko
sangat bermusuhan dengan Gauw Sam Kui, ia menjadi bingung sendiri:
Sedang berpikir demikian, Tan Wan Wan lalu mengajak ke suatu tempat yang sunyi.
Di situ hanya terdapat sebuah gitar dan barisan huruf yang sama sekali tidak diketahui
oleh Siau Po.
Tan Wan Wan kemudian mengambil gitar itu, dan ingin menyanyikan lagu
kesayangannya yang syairnya ditulis oleh Gouw Bwee Cun peruntukkan dirinya.
“Bagus, cuma aku minta setelah menyanyikan lagu ini kau juga menjelaskan padaku
artinya, sebab aku memang tak mengerti,” katanya.
“Ah Tayjin terlalu merendah.” jawabnya.
Selesai bernyanyi Tan Wan Wan mengartikan isi syair tersebut
“Dengan raja dimaksudkan adalah kaisar Cong Ceng yang terakhir yang telah mati,
kota raja dikatakan pecah sebab dirampas oleh Gauw Sam Kui, karena itu para
pembesar pada berkabung, Wajah dadu yang kumaksud yaitu orang yang tak
mendapatkan keberuntungan hingga kerajaan menjadi hancur.” katanya.
Baik Siau Po maupun Tan Wan Wan masing-masing membuka rahasia dirinya yang
ternyata mereka dari satu asal yaitu rumah pelesiran, orang tua mereka berasal dari
sana.
“Terhadap orang lain tak pernah aku mengatakan ini, apalagi terhadap A Ko.
Kemungkinan dia akan menjauhi aku, karena sebelumnya ia telah kurang senang
padaku.” kata Siau Po.
Wan Wan mengangguk.
“Tenangkan hatimu, sebenarnya oh, A Ko, ibumu pun bukan berasal dari keluarga
orang baik-baik”
“Tetapi kau jangan mengatakan hal itu kepadanya, sebab ia paling benci dengan
bunga raja, Dia katakan wanita itu wanita paling busuk di seluruh dunia.” kata Siau Po.
Tan Wan Wan tertunduk.
“Aku dibeli untuk diserahkan pada kaisar Cong Ceng, agar ia tidak tergila-gila dengan
selirnya, Akan tetapi aku ditolaknya dan dibiarkan pergi, Memang laki-laki itu banyak

ragamnya, ada yang suka harta, ada yang suka kedudukan dan banyak ” juga yang
suka wanita cantik.”
“Heran, kurasa Kaisar Cong Ceng itu tak punya mata, masa wanita secantik kau dia
tolak? Aku tak mau jadi raja, hanya ingin memangku jabatan yang baik saja. Tidak
seperti orang-orang, sudah mempunyai harta dan kedudukan, tapi wanita cantik pun
masih dikejarnya.” kata Siau Po.
Wajah Wan Wan menjadi merah.
“Apakah yang kau maksudkan Peng See Ong?” tanyanya.
“Tak dapat aku menyebutkan siapa orang itu, yang pasti ada orang semacam itu di
kolong langit ini.” jawabnya,
“Selanjutnya nyanyian mengenai lakonku, bagaimana sampai aku bertemu dengan
Peng See 0ng. ia pergi ke ayah permaisuri lalu meminta aku untuknya, Dan ketika ia
bertugas aku diajaknya dan aku berdiam di kota Pakia, tak lama kemudian Lie Cong
datang menyerang.” katanya.
Siau Po terus saja memasang telinga dan dia sangat tertegun. Setelah selesai
bernyanyi maka Siau Po bertepuk tangan dan berkata.
“Apakah nyanyimu sudah habis” sahut si nyonya.
Siau Po menjadi malu.
“Dasar aku yang kurang pembacaan,” ia menyesali diri dalam hatinya, “Orang
bernyanyi belum habis, aku tidak tahu,.,.”
-ooo0ooo-
Tan Wan Wan sementara itu dengan perlahan berkata: “Setelah itu Lie Cong
merampas aku, akan tetapi kemudian aku dirampas kembali oleh Peng See Ong, Ya
Aku bukan lagi manusia, aku hanya seperti barang. Siapa orang dapat memilikiku, dan
siapa yang kuat pun dapat mendapatkan aku.”
Kali ini si nyonya tidak menunda nyanyiannya, ia meneruskan Dan sewaktu ia
menunda nyanyian-nya, Siau Po tidak berani berkata apa-apa, ia khawatir akan malu
sendiri seperti tadi.
“Kemudian aku menurut Peng See Ong menyerang ke propinsi Su Coan,” katanya,
Tatkala itu ia diangkat sebagai raja muda, Peng See Ong maka aku pun diangkat
sebagai Onghui, istri raja muda, Berita tentang pengangkatanku sampai di Soucu, Di
sana para bunga raja yang menjadi kawan-kawanku banyak yang memujiku, Katanya
aku beruntung baik, sebab mereka yang usianya makin hari makin tua masih saja

menjadi bunga raja berjalan, masih saja mereka itu melakukan perbuatan yang rendah
dan hina itu.”
“Semasa aku di Lee Cun Wan,” kata Siau Po kemudian. “pernah aku mendengar
mereka ada yang menyebut-nyebut kata-kata menukar orang baru dalam semalam.
Menurut aku, kata-kata itu bukanlah kurang baik,…” katanya.
Tan Wan Wan menoleh pada orang yang berada di depannya itu. Wanita itu tidak
dapat melihat air muka yang mengejek, maka ia menarik napas lega.
“Tayjin,” katanya, “Kau masih muda kau belum mengetahui kesengsaraan orang
hidup di dunia ini.” Lalu tanpa menunggu jawaban ia meneruskan bernyanyi.
“Cuma Gouw Bwee Cun yang mengetahui penderitaanku, walaupun banyak orang
yang memuji padaku aku “cantik”, Dan banyak orang yang mengatakan bahwa aku
sebagai penyebab hancur suatu kerajaan, hingga kerajaan Beng musnah, Gouw Bwee
Cun mengetahui aku hanyalah seorang wanita, apa yang dapat aku perbuat? Baik atau
jahat kaum pria yang memuIainya.”
“Ya, itu benar,” kata Siau Po. “Angkatan perang Ceng berjumlah ribuan bahkan
laksaan jiwa, mereka datang menyerang sedangkan kau hanya seorang diri. walaupun
kau cantik kau sangat lemah, tidak mungkin dapat mengalahkan mereka itu,”

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s