“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 73

Sam Kui mengambil pistol itu, Siau Po mengambil kitab yang
berada di atas meja, lalu ditukarnya dengan kitab lain tapi warna kitab itu tidak sama,
Demikian cepat cara kerja Siau Po.
Ketika Gauw Sam Kui membalikkan tubuhnya, Siau Po telah selesai menukar kitab
itu, Gauw Sam Kui lalu menyerahkan pistol yang sudah diisi peluru itu pada Siau Po.
Siau Po lalu membidik sasaran yang dituju setelah itu ia menyalakan sumbu peluru
itu, maka meluncurlah peluru itu dengan cepat.
Siau Po pun merasa tangannya nyeri terkena getaran senjata itu.
“Ya, sungguh hebat barang mainan orang asing itu” katanya.
Peng See Ong tertawa.
“Dua buah senjata ini siiakan Toutong bawa pulang, dan senjata ini pun dapat
dijadikan mainan,” katanya.
Setelah menolak beberapa kali barulah Siau Po menerimanya, ia lalu mengucapkan
kata terima-kasih berulang-ulang.

Demikianlah setelah mereka berbicara panjang lebar, barulah Siau Po pamit untuk
pulang, Sesampai di kamar Siau Po lalu mengunci kamarnya lalu mengeluarkan kitab
itu dengan cepat, ia mencari potongan yang terbuat dari kulit.
“Sekarang aku telah menemukan dengan lengkap sobekan dari dalam kitab itu,” kata
Siau Po dalam hatinya, “Maka bagiku tinggal menunggu kesempatan mengumpulkan
dan mengakurkannya satu dengan yang lainnya, setelah itu maka nadi naga dan juga
harta karun itu dapat aku kuasai.”
Berpikir demikian Siau Po lalu menyanyikan lagu yang biasa didengarnya di tempat
pelesiran, Ketika sedang asyik bernyanyi tiba-tiba ia mendengar pintu kamarnya diketuk
orang. Siau Po melangkah ke pintu itu dan membukanya. Tampak beberapa kawannya
dengan wajah yang menyiratkan ketegangan.
“Apa yang terjadi?” tanya Siau Po.
“Kami baru mendapat kabar dari para Sie Wie, bahwa anggota Peng See Ong
mencari orang Mongol, Yang dicarinya adalah orang yang kita tawan dan mereka itu
mencurigai kita, maka bagaimana pendapatmu?” tanya mereka.
“Jika demikian maka cepat kalian bawa orang Mongol itu ke kamarku dan kalian
sembunyikan dia di kolong pembaringanku, tak akan mereka berani menggeladah
kamarku,” jawab Siau Po.
“Bagaimana jika ia datang saat kau tak ada, dan ia menggeladah dengan alasan
yang kuat?” tanya kawan-kawannya.
“Biar bagaimana jangan diijinkan mereka masuk. Jika mereka memaksa kalian dapat
menggunakan kekerasan, tak mungkin mereka berani,” jawab Siau Po pada kawankawannya.
Justru ketika mereka hendak keluar, datang Cian Lao Pun mendekat pada mereka
dan berkata dengan suara keras.
“Si pengkhianat hendak melepas api untuk membakar,” katanya.
“Apa?” tanya mereka.
“Selama beberapa hari ini aku melihat tempat kita ini baik di depan maupun di
belakang,” sahut Lao Pun. “Aku selalu berjaga-jaga kalau-kalau si pemberontak itu
melakukan hal yang tidak-tidak.
Tadi dalam rimba, aku melihat ada orang yang mencurigakan Diam-diam aku
mengintai, mereka itu mendatangi karung dan bahan bakar lainnya,”
“Sungguh celaka Begitu besarkah nyali para pengkhianat itu? benarkah ia akan
membakar utusan raja?” kata Siau Po.

“Sampai sejauh itu tentu tidak, yang benar mereka menyalakan api, rupanya mereka
mencurigai kita yang menculik orang Mongol itu, Mereka menyalakan api membakar
apa saja dan pada saat itu semua orang akan sibuk. Pada saat semua orang sibuk,
mereka mengadakan penggeladahan.,.” kata Lao Pun.
Siau Po mengangguk
“Tidak salah,” katanya, “Pastilah mereka akan menggunakan akal bulus itu, lalu
bagaimanakah menurut kalian?”
“Kita bunuh dia dan kita hilangkan jejaknya dengan menyimpan tubuhnya, Hal ini kita
lakukan agar tidak ada kebocoran rahasia kita,” kata Cie Tian Coan.
Melihat demikian Siau Po berkata dalam hati, “ltu biasa permainan ku. Dan itu
pekerjaan yang sangat mudah, Dengan demikian tubuh orang Mongol itu akan mencair
dan musnah, Namun ia orang penting yang telah memberikan laporan padaku, maka
dia harus dihadapkan pada raja cilik itu untuk diperiksa.”
Karena memikirkan demikian maka ia lalu berkata.
“Si pengkhianat itu akan mengadakan pemberontakan dan hanya orang Mongol
itulah saksinya, Hingga ia perlu dikirim ke kotaraja untuk diperiksa.”
“Maka dengan demikian para pemberontak itu mau tak mau pasti akan berontak juga,
jadi orang Mongol itu sangat penting bagi kita sebagai saksi utama.”
Mereka bertiga membenarkan keterangan Siau Po dan berkata.
“Jikalau tidak Hiocu mengingatkan kita, pastilah kita akan bertindak keliru dan
dengan demikian maka usaha kita pun gagal,” dalam hati mereka mengagumi cara
berpikir Siau Po yang masih muda tetapi pikirannya cerdik dan pintar.
“Sekarang ini,” kata Cian Lao Pun yang turut bicara.
“Bagaimana langkah kita untuk mencegah orang yang akan membakar itu dan
bagaimana kita meloloskan orang Mongol itu, sedangkan penjagaan sangat ketat…”
Siau Po tertawa.
“Lao Pan,” katanya, “Bukankah kau telah berhasil menyelundupkan seekor babi ke
dalam istana kaisar? Apakah tak dapat kau menyelundupkan yang lainnya guna keluar
dari kota ini?”
Lao Pun tertawa.

“Aku khawatir tak dapat meloloskan babi yang sangat gemuk melewati pintu kota,
Aku memikirkan untuk menggunakan akal untuk membawa peti mati yang isinya orang
hidup. itu pun sukar sebab akal yang demikian sudah terlalu umum.”
“Bagaimana kalau kita membotak kepala, janggut dan kumisnya lalu kita suruh
memakai pakaian tentara kita, dan nanti ia digiring bersama dengan pasukan kita yang
lainnya, Aku ingin tahu apakah mereka itu berani memeriksa tentaranya,” kata Siau Po.
Mereka semua bertepuk tangan.
Setelah itu Siau Po bertanya. “Di kota ini ada tempat pelesiran atau tidak?”
“Apakah kau ingin bersenang-senang di rumah pelesiran itu? pasti di sini ada,” sahut
Lao Pun yang kemudian tertawa.
Siau Po tertawa.
“Bagaimana kalau kita meminta pada Hian Ceng Totiang untuk pergi ke tempat
tersebut, apakah ia mau atau tidak?” tanya Siau Po.
Mereka semua heran karena yang dimaksud dengan Siau Po itu seorang yang taat
beribadah.
Siau Po tertawa melihat mereka yang sedang bengong itu.
Totiang berbadan tinggi dan besar, di antara kita hanya tubuh dia yang sama dengan
tubuh Khantema…” kata Siau Po.
Setelah berkata demikian barulah mereka semua mengerti apa yang dimaksud oleh
Siau Po itu, ia bermaksud untuk menyamar sebagai orang Mongol dan pergi ke tempat
itu.
“Sekarang kalian bantu kawan-kawan yang sedang membuka pakaian orang Mongol
itu, jangan lupa kita butuh kumis dan janggutnya untuk menyamar. Dan pakaian orang
Mongol itu nantinya kita pakaikan pada kawan kita itu,” kata Siau Po.
Mendengar perkataan Siau Po, beberapa orang kawan-kawan nya itu lalu pergi
melaksanakan perintahnya.
“Setelah membereskan tugas, kalian juga harus mencarikan tempat pelesiran yang
paling bagus. Setelah itu kalian minum beberapa cawan arak dan lalu membuat huru
hara pada tempat itu, Pada saat itu salah satu dari kalian membunuh orang Mongol
palsu ini.” kata Siau Po.
Mendengar kata membunuh mereka terbengong, tetapi mereka cepat sadar kalau
Siau Po itu cerdik maka mereka semua tertawa.

“Tetapi untuk hal itu kita berarti harus mempunyai satu mayat agar tipu daya kita
menjadi sempurna,” kata orang She Cian.
Siau Po lalu mengangguk.
“ltu tak salah, salah satu dari kalian harus mencari mayat lain untuk menggantikan
mayat kawan kita itu. jangan lupa kau mencari orang yang sama tinggi dan besarnya
dengan orang Mongol itu agar tidak timbul kecurigaan mereka,” kata Siau Po.
Setelah mengatur kawan-kawannya dalam tugas itu, Siau Po lalu pergi ke kamar
tuan putrinya.
Tuan putri itu telah menantinya dengan kesabaran yang hampir lenyap, setelah Siau
Po memasuki kamar, tuan putri lalu berkata dengan suara keras.
“Kenapa baru sekarang kau muncul?”
“Kau tahu mertuamu mengajak aku berbicara dengan panjang lebar jika aku tak pergi
mungkin ia masih menahanku untuk diajaknya bicara. Dia telah mengucapkan kata-kata
yang kurang pantas, karena itu aku jadi berbantahan dengannya, Andai-kata aku tak
ingat kepadamu pastilah aku masih berbicara terus dengannya,” kata Siau Po dengan
nada marah.
“Apa kata dia itu?” tanya Kian Leng.
“Katanya, baginda mencurigai dia sebagai penghianat hingga membuat hatinya
menjadi tak tenang. Aku katakan padanya kalau baginda itu mencurigainya tak mungkin
putrinya dikawinkan dengan putranya, Apa kata Dia? Dia mengatakan kalau baginda tak
menyukaimu, makanya kau dikawinkan dengan anaknya, Hal itu dilakukan baginda
untuk mencelakaimu,” jawab Siau Po.
Kian Leng gusar hingga ia menggebrak meja.
“Kura-kura hitam dan tua itu berbicara tidak karuan,” teriaknya, “Aku hendak menarik
copot janggutnya itu, Kau…. Kau pergilah katakan padanya suruh ia kemari” katanya
pula.
Siau Po tetap menunjukkan roman muka gusar.
“Dia itu orang celaka,” katanya dengan suara keras.
“Ketika itu aku mengatakan bahwa baginda sangat menyayangi adiknya yang cantik
dan pintar itu, mana putramu setimpal dengan putri baginda kataku, Lalu aku
mengeluarkan pisau belatiku untuk menghunusnya, Baiklah Kongcu tak jadi menikah
dengan putramu, dan besok kami akan kembali ke kotaraja. Orang semacam Kongcu
itu sudah banyak pemuda yang suka padanya, aku sendiri saja ingin menikahinya,” kata
Siau Po dengan bersungguh-sungguh.

Mendengar kata-kata Siau Po tuan putri itu menjadi senang, maka hilanglah rasa
gusar dan mendongkolnya itu, lalu tertawa.
“Tepat…. Tepat” katanya, “Kenapa kau tak mau mengatakan padanya? Siau Po
besok kita pulang ke Pakhia, aku hendak mengatakan pada kakak raja tidak dapat tidak
aku harus menikah denganmu…”
Siau Po menggelengkan kepalanya.
“Si kura-kura itu melihat aku gusar maka pucatlah mukanya ia mengatakan bahwa
kata-katanya tadi itu hanya sekedar kata-kata dusta dan aku diminta untuk tidak
memberitahukan pada baginda dan juga pada Kongcu, Aku mana berani berkata dusta
pada Kongcu dan juga pada raja sekalipun hanya sepatah kata pun,” kata Siau Po.
Mendengar kata-kata Siau Po itu, tuan putri itu merangkul Siau Po dan menciuminya,
membuat Siau Po menjadi kelabakan.
“Memang aku tahu kau setia padaku,” kata tuan putri.
“Si kura-kura yang mendengar kata-kataku lalu bertekuk lutut dan memohon padaku
untuk tidak memberitahukan hal ini pada kongcu dan baginda, Aku diberikan hadiah dua
buah senjata dan kau dapat mencobanya,” sambil berkata Siau Po memeluk tuan putri
itu dan menciuminya dengan berani sekali.
Siau Po lalu mengambil senjata itu dan mengisikan pelurunya lalu menyerahkannya
pada tuan putri itu untuk mencobanya, setelah senjata itu berbunyi maka sasaran yang
terkena adalah pohon, hingga pohon itu runtuh.
“Kongcu peganglah satu dan aku satu” katanya, “Memang senjata ini sepasang.”
Kian Leng menghela nafas.
Siau Po memeluk tuan putrinya lalu membuka baju tuannya itu hingga telanjang bulat
Kemudian tubuh tuan putri itu ditidurkan pada pembaringan dan diselimuti dengan kain
selimut yang halus, Dia berkata dalam hati, “Eh, kenapa para pengkhianat itu masih
belum membakarnya?”
“Aku ingin tidur…” kata Kian Leng kemudian secara perlahan.
Tepat pada saat itu Siau Po mendengar orang yang meneriakkan kata “kebakaran”
berulang-ulang hingga terdengar sangat berisik.
Kian Leng Kongcu itu kaget dan ia memeluk tubuh Siau Po.
“Ada kebakaran?” tanyanya dengan takut.

“Setan alas” teriak Siau Po dengan caciannya itu. ia tak menjawab pertanyaan tuan
putrinya, “lni tentu perbuatan anak buah si kura-kura itu. Jelas ia akan membakar kita
agar ia dapat menutup mulut,” kata Siau Po.
“Habis bagaimana sekarang?” tanya tuan putri itu dengan suara bergetar.
“Kongcu tenang saja, api itu tak akan membakar kita, Yang jelas kura-kura itu akan
membekuk orang yang berbuat serong,” katanya.
“Orang yang berbuat serong?” tanyanya heran.
“Sekarang kau tenang saja Tidurlah dan tutuplah seluruh tubuhmu Jika nanti api
akan mendekat aku akan menyelamatkanmu, Aku akan berjaga-jaga,” kata Siau Po.
Siau Po lalu berjalan mendekati pintu dan ia berjaga-jaga dengan membawa senjata
pemberian Gouw Sam Kui itu.
Sedang ia berjaga tampak dari kejauhan Gouw Eng Him, putra Gouw Sam Kui yang
akan dinikahkan dengan Kongcu, ia menanyakan keadaan tuan putri itu.
“Apakah yang mulia tuan putri sehat walafiat?” tanyanya dengan suara nyaring.
Tak lama kemudian datanglah pasukan Siau Po yang berlari-larian dengan pakaian
yang tak sempurna, mereka semua sangat kaget dengan peristiwa itu sebab bila tuan
putrinya itu sampai celaka maka kepala mereka akan pisah dari badan.
Siau Po memerintahkan pada para Sie Wie untuk melakukan penjagaan yang ketat
terutama pada kamar tuan putrinya.
Setelah terdengar bahaya kebakaran segera pasukan Peng See Ong mengadakan
penggeledahan Maka terjadilah bentrokan.
Mereka berlompatan dari tembok pada empat penjuru, “Rupanya mereka itu sudah
siap dari tadi,” kata Kong Lian dengan suara yang sangat pelan.
“ltu tak aneh,” kata Siau Po. “Sudah jelas Gouw Sam Kui benar-benar ingin
memberontak pada pemerintah.”
“Benarkah itu?” tanyanya dengan heran.
“Jangan halangi Biar mereka menggeladah” perintah Siau Po pada orang-orangnya
itu.
Kong Lian mengangguk pada Siau Po lalu pergi untuk memberitahukan pada kawankawan
mereka yang sedang menunggu.

“Rupanya ramalan Sio Ongya sangat tepat, malam ini jam dua akan terjadi
kebakaran hingga Sio Ongya telah menyiapkan tentara untuk berebut masuk dan
berlompatan dari tembok pekarangan untuk memadamkan api. Ha… ha… ha Ha… ha…
ha Sungguh lihay Sio Ongya”
Muka Eng Him menjadi merah.
“Sama sekali itu bukan disebabkan aku pandai meramal, sebenarnya soal kebetulan
saja, Tadi sore Hee Kok Sing suaminya kakakku, menjamu tamu-tamunya dan aku turut
diundang, Aku datang dengan mengajak para pengawalku, Pada waktu lewat di sini,
justru sedang terbit bencana api ini, maka segera kami mencoba memberikan bantuan.”
Siau Po mengangguk.
“Oh, kiranya demikian,” katanya, “Pernah aku mendengar cerita ada orang yang
selalu berhati-hati, maka itu sekarang nyatalah kau yang pergi menghadiri undangan
dengan membawa pasukan pengawal dan juga anggota pemadam kebakaran yang
lengkap dengan peralatannya, Apakah itu yang disebut dengan kebetulan?” tanya Siau
Po. .
Muka Eng Him menjadi merah ia merasa Siau Po telah mengetahui maksud dan
tujuannya, namun ia masih dapat mengelak
“Di musim kering dan banyak angin ini mudah sekali terjadi bahaya kebakaran. Untuk
itu aku sengaja menyiapkan peralatan, dan itu terbukti kalau ada persiapan maka
bencana pun dapat di-hadang.”
“ltu benar tetapi sebaiknya kau juga menyiapkan tukang bangunan yang tujuannya
untuk memperbaiki bangunan yang terkena kebakaran,” kata Siau Po.
Mendengar perkataan Siau Po, anak raja muda itu menjadi malu, Hanya ia pandai
sekali mengalihkan pembicaraan.
“Wie Toutong mendapat kenyataan barisan tukang pompa tidak bekerja dengan
sungguh-sungguh. Untuk itu cepat kau pergi panggil pemimpinnya dan patahkan
kakinya” kata anak raja muda itu pada pengawalnya.
“Sio Ongya, Setelah pemimpinnya kau patahkan kakinya apakah ia tak jadi naik
pangkatnya?” tanya Siau Po.
“Wie Toutong, aku tak mengerti apa maksud kata-katamu ini?” tanya Si Ongya muda.
“Aku juga kurang jelas, namun menurut pikiranku sebaiknya kau membangun dua
rumah tahanan lagi dan mencari dua orang untuk sipir tahanan.” kata Siau Po.

Tak lama datanglah pegawai rumah yang melaporkan tentang kebakaran yang
sedang melalap beberapa rumah dan kini rumah yang ditempati oleh tuan putri, maka
tak ayal lagi tuan putri itu diminta untuk meninggalkan tempat itu.
Siau Po dapat menduga pasukan Peng See Ong yang sedang mencari orang Mongoi
itu sudah mencari ke semua tempat tetapi belum juga menemukannya. Dan kini tinggal
kamar putri yang belum digeledahnya.
Mulanya Siau Po tak mengijinkan tetapi setelah didesak terpaksa Siau Po yang
mengetahui tanda rahasia tadi mempergunakannya.
Hal itu membuat Eng Him dan kawan-kawannya menjadi bengong.
“Wie…. Wie Toutong, apakah artinya ini?” tanya Eng Him pada Siau Po dengan
suara yang bergetar.
Orang yang ditanya malah menatapnya.
“Mustahil kau tak mengetahui tanda isyarat ini.” kata Siau Po yang mencontoh tanda
rahasia itu.
“lsyarat-isyarat itu terputus-putus, ya aku mengerti sekarang, itu toh artinya uang
bukan? Bukankah yang Toutong maksudkan setelah ada uang barulah tuan putri dapat
diajak pindah?” tanyanya.
“Soal uang itu mudah,” demikian katanya. “Bukankah kita berada dalam satu
keluarga sendiri? Soal ini dapat dimainkan,” katanya pada Siau Po.
Tampak Eng Him ragu-ragu untuk masuk, sebentar ia mengangguk lalu memasuki ke
kamar Kian Leng dan dari luar kelambu Eng Him berkata dengan suara perlahan.
“Harap Kongcu ketahui bahwa api telah merambat, dan kini sedang menuju kemari,
Untuk itu aku meminta agar Kongcu menyingkir dari bahaya” katanya.
Sesaat kemudian terdengarlah suara lemah lembut yang berasal dari dalam
kelambu, “Apa.,.?”
Mendengar pertanyaan itu Eng Him mengulangi kata-katanya.
“Mari kau masuk” demikian suara halus tadi.
Gouw Eng Him lalu menyingkap kelambu itu.
Selama itu Siau Po dan rombongan menunggu di luar kamar itu. Dalam hati mereka
berkata, “Tentunya Eng Him dan tuan putri itu sedang bermesra-mesraan, hingga begitu
lama berada dalam kamar itu.”

Tengah orang menanti dalam kesunyian, tiba-tiba mereka mendengar suara nyaring
yang datangnya dari dalam kamar Kian Leng Kongcu.
“Manusia bernyali besar…. Keluarlah…. KeIuarlah kau”
Semua orang yang berada di luar kamar itu menjadi terperanjat tetapi hanya
sebentar, dalam hati mereka mengatakan mungkin Eng Him sudah habis kesabarannya
hingga ia tak dapat menguasai diri.
Suara Eng Him tak terdengar sama sekali, sebaliknya datang suara nyaring Kian
Leng Kongcu.
“Kau… Kau jangan berbuat begini…. jangan kau buka bajuku ini… oh… pergilah ke
luar, tolong… orang mau memperkosa aku Tolong”
Hati Siau Po menjadi panas.
“Pengkhianat cilik ini sangat cerdas, kenapa sekarang ia berlaku kasar? Apakah
mereka benar-benar ingin memperkosa Kian Leng Kongcu?” kata Siau Po dalam
hatinya.
Karena berpikir demikian maka Siau Po memperdengarkan suaranya dengan
nyaring.
“Sio Ongya, silahkan cepat keluar Awas, Sio Ongya jangan berbuat yang tidaktidak”
“ToIong…. ToIong.,.” Terdengar lagi suara Kian Leng Kongcu, Tolong…. Tolong.,.”
Mendadak terdengar suara letusan senjata api yang terdengar sangat nyaring, dan
apinya tampak berkelebat ke luar.
Siau Po kaget mendengar suara tembakan itu, maka ia mengusap tangannya seraya
berkata dengan nyaring, “Telah terjadi keributan besar”
Bahkan segera ia melompat ke arah kamar untuk melihat dengan mata kepalanya.
Beberapa orang Sie Wie dan juga anggota Peng See Ong yang tidak gugup,
berlarian mengikuti Siau Po memasuki kamar Kian Leng Kongcu.
Dalam kamar tampak Kian Leng Kongcu berdiri di ujung pembaringannya dengan
menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang tampak telanjang bulat,
sedangkan Gouw Eng Him tergeletak tak bergerak.
Setelah diperiksa oleh beberapa orang anggota Peng See Ong ternyata Eng Him
masih hidup, ia hanya pingsan, justru itu terdengar suara Kian Leng Kongcu yang
berkata sambil menangis.

“Orang ini…. Orang ini Dia berlaku kurang ajar, siapakah dia? Wie Toutong cepat
bekuk dia dan bunuh…”
“Dia…. Dialah Gouw Eng Him.” jawab Siau Po yang memberikan keterangannya.
“Bukan. Bukan” teriak si tuan putri. “Dia telah memaksa menelanjangi tubuhku Dia
pula telah pula membuka pakaiannya sendiri Dia si cabul. Cepat bunuh dia”
Para Sie Wie dan tentara yang lainnya menjadi gusar. Tugas mereka melindungi
tuan putrinya, Kian Leng Kongcu bukan anak kaisar tetapi ia adik raja. Dialah putri
agung tetapi sekarang telah dihina.
Tak perduli Eng Him itu anaknya Gauw Sam Kui, raja muda tetapi ia telah melakukan
perbuatan yang kurang terhormat dan telah melangkahi tugasnya?
Setelah berpikir demikian maka para pengawal Peng See Ong menjadi serba salah
ia harus berbuat apa, mereka jadi malu, namun walaupun kejadian itu sedemikian rupa,
jika ia dapat menemukan orang Mongol, mereka akan mendapat keringanan.
Dengan demikian mereka berpura-pura menolong anak raja mudanya tetapi matanya
mengawasi ke kolong-kolong pembaringan untuk mencari orang MongoI itu.
Salah seorang pengawal pribadi Peng See Ong yang sedang memeriksa itu melihat
tubuh tuannya yang tertembak mengeluarkan darah sehingga mereka menjadi bingung,
ia ingin menolongnya tetapi dengan cara bagaimana?
Ketika mereka akan bertindak menolong Eng Him, anak dari raja muda itu Siau Po
berkata dengan suara keras dan bernada wibawa.
“Gouw Eng Him telah berlaku kurang ajar terhadap tuan putri Dia telah melakukan
pelanggaran yang teramat besar, maka itu yang pertama tawan dan tahanlah dia
peristiwa ini harus segera dilaporkan pada baginda raja, agar baginda raja sendiri yang
memberikan keputusannya”
Mendengar perkataan Siau Po para Sie Wie lalu berhamburan akan menangkap dan
mengambil tubuh Eng Him dan akan diserahkan pada baginda raja untuk diproses.
Para pengawal Peng See Ong menjadi bingung sebab memang Eng Him yang salah
lalu ia harus berbuat apa? Bukankah tuan mereka jelas melakukan kesalahan?
Akan tetapi salah seorang pengawal itu menghadap pada Siau Po dan berkata.
“Wie Toutong, sudilah berlaku baik Sie cu sedang luka parah, kami mohon sudilah
kiranya kami membawanya ke Onghu untuk diobati, dan dalam hal ini Sie cu pasti
sangat berterima kasih kepada Toutong…. sekalipun Sie cu telah berdosa terhadap tuan
putri, tetapi kami memohon pada tuan putri yang bijaksana, untuk memberikan
keringanan kepadanya untuk kiranya tuan putri mau meringankannya”

Mendengar permohonan itu maka Siau Po berkata dengan wajah dan nada suara
yang bengis.
“Dosa ini sangatlah besar maka itu hanya Bagindalah yang dapat mengambil
keputusannya, sekarang kalian keluarlah terlebih dahulu untuk apa kalian berkumpul di
kamar tuan putri? Mana ada aturan semacam ini”
Para pengawal itu lalu keluar, begitu juga para Sie Wie, hingga yang tinggal hanya
Siau Po dan tuan putri Kian Leng Kongcu saja.
Setelab kamar menjadi sunyi maka tuan putri itu tertawa dan ia memanggil Siau Po
dengan isyarat tangannya, Siau Po yang dipanggil lalu mendekat.
Kian Leng menjulurkan tangannya untuk memeluk tubuh Siau Po hingga mulutnya
dapat didekatkan pada telinga Siau Po. Setelah itu tuan putri tertawa dan berkata.
“Kau tahu aku telah memotong anggota rahasianya….”
Siau Po kaget sekali hingga ia hampir melompat
“A…. Apa katamu?” tanyanya tak percaya.
Kongcu kemudian meniup kembali telinga Siau Po dan ia mengulangi berkata.
“Dengan senjata api itu aku telah menodongnya, dan aku memaksa ia membuka
seluruh bajunya, lalu aku pukul tengkuk kepalanya, ia pun pingsan dan pada saat
pingsan itu aku memotong anggota tubuhnya yang sangat menyebalkan itu, Maka mulai
saat ini ia bukan lagi calon suamiku ia cuma Thay-kamku.”
Siau Po terkejut sekaligus girang.
“Kau telah melakukan sesuatu yang hebat.” katanya kemudian. “Kau berandalan dan
kesalahanmu itu sangat besar.”
Kian Leng Kongcu sebaliknya malah tertawa.
“Kesalahan? Kesalahan apa?” katanya, “Kau tahu aku berbuat begini hanya
untukmu, Misalkan aku menikah dengannya bukankah kita nantinya hanya suami istri
palsu? singkatnya aku tak sudi kau menjadi kura-kura hitam yang menggunakan topi
hijau.”
Mengenakan kopiah hijau, itu pertanda, seorang suami yang istrinya main serong
dengan pria lain, tanpa suami mengetahuinya.
Sewaktu Siau Po berpikir demikian maka Kian Leng Kongcu berkata dengan suara
lembut.

“Semuanya palsu belaka tentang ia berlaku kurang ajar dan hendak memperkosa
aku. Cuma aku sendiri yang berteriak-teriak secara demikian bukankah kalian di luar
kamar telah mendengarnya ?”
Siau Po mengangguk dengan hati yang terus berpikir Maka sadarlah ia akan
kecerdikan dan kelicikan tuan putri.
Kian Leng tersenyum manis.
“Maka itu sekarang apa yang kita takuti?” katanya. “Andaikata Gauw Sam Kui marah,
apakah ia dapat bertindak? Bukankah yang bersalah itu putranya sendiri?”
“Bagaimana jika karena lukanya itu maka ia menemui ajalnya? Apa yang harus kita
lakukan?” tanya Siau Po.
“ltu tak mungkin terjadi, dalam istana banyak orang yang dikebiri tetapi mereka tak
sampai mati.” kata tuan putri.
Siau Po kalah bicara dan ia mengangguk.
“Baiklah, kalau demikian halnya kau harus tetap menuduhnya telah melakukan
perbuatan yang kurang baik itu, kau juga katakan ia telah mendalangi kau juga dirinya
sendiri, Pada dirimu ia akan melakukan perbuatan yang kurang baik yaitu akan
memperkosamu ia telah memaksa dan mengancam mu dengan pisau dan setelah itu ia
berusaha akan membunuhmu Akan tetapi kau melakukan perlawanan sebisa-bisanya
hingga ia memotong sendiri bagian tubuhnya.”
Kian Leng Kongcu tertawa, kemudian ia ber-kata.
“Benar katamu, Aku akan menuduhnya demikian, ia sendiri yang telah
memotongnya.”
Setelah itu Siau Po lalu mengundurkan diri, akan menemui kawan-kawannya untuk
memberitahukan peristiwa yang telah menimpa diri Eng Him, dengan cerita yang telah
ia dan tuan putri sepakati.
“Dia cerewet, pantas jika ia menerima hukuman itu.” kata kawan-kawan Siau Po.
Peristiwa itu kemudian dilaporkan pada raja muda dan pada pengawal yang akan
merawat anak raja muda itu, peristiwa terjadi di taman An Hu Wan yang berjalan tak
terlalu lama.
Para pengawal dari anggota Peng See Ong dan juga Siau Po berada di luar kamar
tuan putri itu, sedangkan yang berada di dalam hanya tuan putri dan Eng Him.

Di lain pihak para Sie Wie menyiarkan berita tentang kelakuan binatang dari Eng
Him, dan keterangan mereka cocok dengan keterangan para pengawal pribadi Peng
See Ong.
Gauw Sam Kui kaget bukan kepalang, menerima berita tentang kelakuan putranya
itu, maka ia langsung menunggang kuda untuk menemui Kian Leng Kongcu di An Hu
Wan, yang selanjutnya lalu berlutut meminta maaf.
“Ongya silahkan bangkit” kata Siau Po yang berada di sisi raja muda itu, “Mari kita
masuk bersama untuk menanyakan langsung pada Kongcu”
“Saudara Wie.” katanya perlahan, “Aku datang secara terburu-buru sekali sehingga
aku tak sempat membawa Gin Pio, maka itu sudilah kau menerima mutiara ini untuk
dibagikan pada para Sie Wie. Tentang pembicaraan di depan Kongcu nanti, aku mohon
kiranya kau membantuku dengan kata-kata yang manis” sambil berkata, ia
menyerahkan mutiara pada Siau Po.
Siau Po lalu mengembalikan mutiara-mutiara itu pada raja muda,
“Tenang, Ongya,” katanya, “Aku berbuat menurut apa yang aku bisa, Mutiara ini
tolong Ongya simpan, masalahnya sangat besar sehingga aku tak mengetahui pikiran
tuan putri, Hanya aku jelaskan, tuan putri bertabiat sangat keras, dan ia sangat
menghargai kesucian dirinya, hingga ia menjadi berandal. Baginda dan ibu suri sendiri
sangat sulit untuk mendidiknya, dengan sebenarnya Sute sangatlah berani.”
“Ya, walaupun demikian aku mengharapkan kau dapat membantu dengan kata-kata
yang manis” kata Peng See Ong.
Siau Po mengangguk.
“Kongcu yang mulia.” katanya, “Peng See Ong datang sendiri untuk meminta maaf
Mengingat jasa darinya pada negara sangatlah besar dan ia pun mentri yang paling tua,
maka untuk itu ia minta kiranya tuan putri dapat memberikan keringanan”
“Ya, benar, Hamba mentri yang paling tua dan berjasa, karenanya hamba mohon
diberikan keringanan berhubung dengan putra hamba.” kata Peng See Ong.
Tidak ada jawaban dari dalam hanya terdengar suara kursi yang jatuh.
Siau Po dan Peng See Ong menjadi heran,
“Kongcu.,., Kongcu jangan bunuh diri” terdengar suara dari dalam kamar tuan putri.
Gauw Sam Kui kaget bukan kepalang, mukanya menjadi pucat, dan ia berkata dalam
hati.

“Jika benar tuan putri sampai bunuh diri, maka walaupun aku belum mempunyai
persiapan, tak dapat tidak aku harus bergerak sekarang juga karena aku tak mungkin
bertanggung jawab dengan kematian tuan putri raja.”
Keadaan di dalam kamar itu lalu sunyi, tetapi tak lama kemudian terdengar suara
berisik lagi, Menyusul kemudian seorang dayang lari ke luar menerobos dan menangis
sambil berbicara terputus-putus.
“Wie…. Wie Toutong Yang mulia tuan putri sudah …. Kau.,., Kau lekaslah
menolongnya”
“Mana dapat aku menolongnya masuk ke kamar tuan putri.,.?” kata Siau Po yang
pura-pura memperlihatkan muka yang bingung.
Gauw Sam Kui juga demikian ia lalu mendorong punggung Siau Po ke dalam kamar.
“Cepat kau masuk” katanya, “Dalam keadaan seperti ini kita perlu kerja cepat.”
katanya pada Siau Po dan ia pun memerintahkan pada pengawalnya untuk memanggil
tabib.
Setelah Siau Po dan pengawal itu masuk, didapatinya tubuh tuan putri itu sedang
terbaring di atas pembaringan dengan mata terpejam, Pada lehernya terdapat bekas
gantungan, Di sisinya para dayang sedang menangis, Di atas tampak sebuah tali
gantungan yang sudah terputus dan di bawahnya sebuah kursi dalam keadaan terbalik.
Siau Po yang mengetahui permainan sandiwara tuan putrinya itu tertawa dalam hati
namun pada penampilannya berpura-pura kaget dan kasihan.
“Aku tak mau hidup lebih lama lagi.” katanya sambil menangis.
“Kongcu sadari ingat hidup itu sangat indah” kata Siau Po.
Gouw Sam Kui yang mendengarkan pembicaraan mereka merasa senang karena
tuan putri tak jadi bunuh diri, Dalam hati ia berkata.
“Tidak heran jika ia sampai putus asa, namun mengapa mereka sampai
menggunakan senjata tajam, dan yang membuat aku heran mengapa yang menjadi
korban bagian tubuh yang..? Bagaimana dengan Eng Him bukankah dengan demikian
tuan putri hidup seperti menjanda? Namun yang lebih penting rahasia harus disimpan.”
Ketika itu tampak Siau Po ke luar dari dalam dengan menggelengkan kepala.
Peng See Ong menghampiri Siau Po.
“Bagaimana keadaan tuan putri?” tanyanya

“Dia sudah dapat ditolong, hanya tabiatnya itu tetap hendak membunuh diri, Tadi ia
mencoba membunuh diri, namun para dayang tadi telah kupesan untuk menjaga tuan
putri dengan baik, Aku yang ditugasi menjaga dan melindunginya, maka apabila hal ini
sampai terjadi, aku akan kehilangan kepalaku, Untuk itu aku mohon bantuan Ongya
untuk memikirkannya bagaimana caranya menyelamatkan jiwaku.”
Muka Gauw Sam Kui menjadi pucat “Ya, memang benar, kita harus menjaganya,”
katanya.
“Ongya, hal ini sangat menyulitkanku,” katanya, Peng See Ong menjadi bingung.
“Bagaimana caranya?” tanya Peng See Ong, “Aku sendiri bingung, jalan apa yang
harus aku tempuh, dalam beberapa hari ini mungkin kita dapat menjaganya, tetapi
bagaimana selanjutnya? Menurutku jalan satu-satunya, tuan putri harus segera
dinikahkan, Dengan demikian maka bebaslah tugas hamba.” katanya.
Nampak wajah mereka menjadi tak suram Iagi. “Jika demikian maka mari kita
bicarakan masalah ini. Anakku telah main gila hingga terjadi hal seperti ini. Aku sangat
berterima kasih padamu, namun masih ada masalah lainnya, Apakah tuan putri akan
bersedia dinikahkan dengan putraku?” tanya Peng See Ong.
Siau Po hanya diam saja mendengarkan kata-kata itu.
Meski masih ragu-ragu, Peng See Ong berkata.
“Ya, bukankah dengan kita menyegerakan pernikahan mereka kita menjadi bebas
tugas? Hamba kira baginda dan ibu suri yang mengetahui putrinya telah menikah
tentunya merasa gembira. Baginda sendiri tak mungkin sempat memikirkan hal seperti
ini. Karena ia lebih sibuk dengan urusan kenegaraan. Saudara Wie bukankah kita
sebagai bawahan harus memberitahukan hal yang baik-baik yang dapat membuat hati
baginda menjadi senang?”
Siau Po mengangguk.
“Tetapi, mengenai bocornya rahasia hamba minta Ong Ya tidak mencurigaiku.”
“Mengenai hal itu aku tak mungkin mencurigaimu.” katanya.
Siau Po pintar dan cerdik tetapi Gauw Sam Kui lebih pintar dan licik, melihat Gauw
Sam Kui terdiam Siau Po menyangka kalau ia sedang memikirkan hal itu.
“Ongya, jangan khawatir apa juga Aku akan melarang orang-orangku supaya
mereka tak menyebarkan rahasia ini.” katanya.
Raja muda yang cerdik itu berkata.

“Saudara Wie, kau telah membantu aku menyelesaikan masalah ini. Hal itu tak dapat
kubayar dengan emas dan permata, hanya orang-orang mu sangat banyak, dan nanti
aku akan memberikan hadiah pada mereka.”
Siau Po lalu mengajak Gauw Sam Kui untuk melihat keadaan putranya, Mereka
bertanya pada tabib yang merawatnya.
“Nyawanya tak usah dikhawatirkan tetapi… dia.,, dia.” kata si tabib yang
menerangkan keadaan putra raja muda itu.
“Asalkan jiwanya tak terancam, itu sudah baik.” katanya, ia memerintahkan pada
para pengawalnya membawanya pulang, agar Siau Po tak menahannya.
Setelah ia melihat keadaan Eng Him, Siau Po lalu kembali ke kamarnya, Sesampai di
sana Siau Po disambut oleh kawan-kawannya yang senang mendengar keterangan dari
Siau Po. sebaliknya mereka belum bertanya mengenai peristiwa di tempat pelesiran itu.
“Semua berjalan baik sesuai rencana.” kata Thian Coan.
Siau Po gembira tetapi ia berpikir, “Jika aku sekarang ini langsung pulang, pastilah
raja muda itu akan mencurigai aku. sebaiknya aku bersabar beberapa hari, setelah itu
baru aku membawa pulang MongoI itu dan menghadap pada baginda.”
Baru saja mereka akan pergi, pengawal raja datang, Tampaknya ia sangat terburuburu.
“Harap kalian ketahui bahwa sewaktu Peng See Ong pulang ia ada yang
mencegahnya.” katanya.
Siau Po sangat kaget, sehingga cangkir yang ada di tangannya terjatuh.
“Apakah dia terserang parah atau mati? Apakah penyerang itu telah kena tawan?
siapakah yang menyerangnya ?” tanya Siau Po pada orang itu.
Siau Po langsung membawa orang-orang itu keluar kamarnya agar tak dicurigai.
“Tidak, ia tidak mati.” katanya.
“Penyerangnya yaitu para dayang tuan putri itu sendiri.” sambungnya dalam
memberikan laporan.
Kembali Siau Po terkejut.
“Dayang tuan putri?” tanyanya, “Dayang yang mana? Mengapa mereka mencoba
membunuh Peng See Ong?”
“Entahlah.” katanya, “Begitu menerima kabar aku lalu pergi ke mari….” .

“Jika demikian cepat kau cari keterangan” katanya, “Dan cepat kau beritahukan
padaku”
“Ya.” katanya, Pengawal raja itu terus pergi untuk mencari keterangan Baru saja
akan mencari keterangan itu ia lalu kembali lagi dan melaporkan.
“Harap kalian ketahui dayang yang menyerang itu bernama Ong Ko Jie.” katanya.
Mendengar keterangan itu Siau Po terkejut
“Di mana dia sekarang?” tanyanya.
“Sekarang ia dibawa Peng See Ong, Katanya raja muda sendiri yang akan
memeriksanya, agar diketahui siapa yang menyuruhnya melakukan percobaan
pembunuhan itu.”
Siau Po pusing memikirkan kekasihnya ditawan Peng See Ong, sebab ia tahu Ong
Ko Jie adalah nama palsu, sedangkan nama aslinya yaitu A Ko, kekasih Siau Po.
Pertanyaan seperti itu sudah wajar, Orang yang menyuruhnya berusia sekitar enam
puluhan Dia mengatakan orang yang menyuruhnya itu sangat setia pada putri, hingga ia
akan membunuh Peng See Ong itu.”
Mendengar kata-kata kawannya itu Siau Po bagaikan mendapatkan angin segar.
“Tepat, Tak mungkin kita memerintahkan wanita yang begitu cantik untuk membunuh
Peng See Ong.”
“Mungkin Peng See Ong malu kalau rahasia ini sampai terbongkar dan itu sangat
berbahaya bagi kita, dan ia pun akan membunuh nona yang telah menyerangnya itu.”
kata Kiong Liam
“Tidak, Tidak, ia tak dapat berbuat seperti itu, Jika hal itu sampai terjadi, maka aku
akan mengadu jiwa dengannya, dialah si kura-kura hitam dan tua. Dan ia seorang
pengkhianat Aku akan membunuhnya jika hal itu terjadi.” kata Siau Po.
Mereka hanya diam saja tak berani berkata-kata.
“Bagaimana? Bagaimana sekarang?” kata Siau Po kemudian.
“Wie Congkoan, harap bersabar Jika hal ini sampai terdengar baginda raja pastilah
yang salah Gouw Sam Kui dan putranya yang akan berbuat kurang ajar pada tuan putri,
dan Gouw Sam Kui tak terserang sampai mati, makanya bila ia menyangka kita yang
telah berbuat demikian, kita dapat menyangkalnya, dan ia tak memiliki bukti yang kuat
untuk itu.” kata Kong Lian.
Siau Po menggelengkan kepala.

“Memang itu bukan perbuatanku dan di antara kita tak mungkin menuduh
sesamanya.” katanya.
Kong Lian dan Cee Hian merasa lega mendengar penuturan Siau Po itu.
“ltu bagus.” kata Cee Hian, “Sekarang marilah kita tidur, kita berpura-pura tak
mengetahui hal ini.”
“Tidak, tidak demikian.” kata Siau Po dengan cepat.
“Kalian toIonglah aku menemui Peng See Ong, untuk menyampaikan pesanku. Aku
akan menyampaikan bahwa memang tidaklah pantas bila dayang itu akan melakukan
pembunuhan atas diri Peng See Ong, Tetapi dayang itu dayang kesayangan tuan putri,
oleh karenanya aku menginginkan bantuan kalian agar dayang itu kalian bawa padaku
dan sampaikan aku yang akan melaporkannya pada tuan putri agar ia yang
menghukumnya, agar dengan demikian maka Peng See Ong akan merasa puas.”
Kedua Sie Wie yang diperintahkan Siau Po berangkat dengan membawa tugas dari
Siau Po. Dalam hati mereka berkata.
“Dia terlalu baik, Bukanlah dengan membiarkan ia dihukum oleh Peng See Ong
masalah menjadi selesai sampai di sini.”
Setelah Sie Wie itu pergi Siau Po lalu mendatangi kamar gurunya dan ternyata
gurunya baru saja selesai semedi.
“Suhu,” katanya dengan suara bergetar “Apakah suhu mengetahui urusan Sucie?”
Guru

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s