“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 72

berdiri, Di sisi kereta,
ia lalu menyuruh seseorang untuk memberitahukan pada Gauw Sam Kui agar tidak
menggunakan adat yang berlebihan Gauw Sam Kui tertawa.

Tak tama rombongan itu telah sampai di In Lam. sambutan yang diberikan sangatlah
memuaskan hati rombongan Siau Po.
Keesokan harinya Siau Po diundang untuk memeriksa pasukan perang yang
dipimpin oleh Gauw Sam Kui dan puteranya.
Selesai Gauw Sam Kui memeriksa pasukan, Siau Po memberikan firman raja dan
meminta agar dibaca di depan umum.
Selesai membacakan firman raja itu, Gauw Sam Kui mengundang Siau Po untuk
minum arak, Pada saat itulah Siau Po menanyakan tentang Yo Ek Jie.
Gauw Sam Kui menjawab, kalau Yo Ek Jie sedang ditugaskan ke Tibet untuk
menyelesaikan suatu masalah.
Siau Po tidak percaya begitu saja, ia mengutus anak buahnya untuk mencari tahu di
mana sebenarnya Yo Ek Jie itu, Tak lama kemudian datanglah utusan itu dengan
membawa kabar bahwa Yo Ek Jie sekarang sedang dalam tahanan.
Mendengar keterangan itu Siau Po membagi tugas pada para bawahan untuk
menolong Yo Ek Jie dan ia mengundang anak Gauw Sam Kui untuk ditahan dan
dijadikan sandera.
Tak lama kemudian para utusan yang menangani masalah itu telah kembali dengan
hasil yang baik.
“Bagus.,, bagus…” katanya, “Apakah kau telah berhasil membebaskan Yo Ek Jie
dan menawan anak Gauw Sam Kui itu untuk dijadikan sandera agar Gauw Sam Kui tak
dapat sembrono terhadapnya”
Segera mereka menganggukkan kepala.
Setelah itu Siau Po memeriksa Yo Ek Jie yang seperti orang yang kurang sehat itu.
Siau Po sangat kaget karena Ek Jie telah kehilangan tangan dan kakinya hingga
tinggal tubuh dan kepalanya.
“Lidahnya telah dipotong dan matanya juga sudah dicongkel keluar” Cen Tian Coan
memberikan laporannya.
Usia Wie Siau Po masih sangat muda, namun pengalamannya sangat luas, setelah
melihat keadaan Ek Jie yang tidak memiliki tangan dan kaki ia menjadi sangat sedih,
karena keduanya sudah saling mengangkat saudara.
Siau Po menangis sejadi-jadinya lalu mengeluarkan pisau belatinya dan berkata
dengan suara nyaring.

“Aku hendak mengutungkan kaki dan tangan Gauw Eng Him”
Hong Cie Tiong menarik tangan Siau Po.
“Sabar Hiocu… sabar” ujarnya. “Kita harus berdamai dahulu.”
She Hong mempunyai watak pendiam, tetapi sekali berbicara isi pembicaraannya
sangatlah bagus. Terhadap kawannya yang satu ini Siau Po sangat menghargainya.
“Toako benar,” katanya.
Tian Coan telah menyelimuti Ek Jie.
“Kiranya urusan Ek Jie ini ada sangkut pautnya dengan kita.” katanya, “Gauw Sam
Kui merasa tak puas Ek Jie telah bergaul denganmu, dan ia menuduh Ek Jie sebagai
orang yang suka membalikkan tangan atau ular berkepala dua.”
“Mulai leluhurnya Gauw Sam Kui memang si kura-kura hitam yang mau mampus.”
katanya dengan gemas.
“Dengan Yo Toako yang bersahabat ia tak pernah berdusta, Dasar dialah si pengecut
dan pendurhaka yang tidak karuan Maka dengan demikian jelaslah sudah tujuan
pemberontakan sebenarnya apa sebabnya mereka memberontak?”
“Hiocu benar, sebaiknya melaporkan hal ini pada raja dan Hiocu yang langsung
menjadi saksinya…” kata Tin Loa Pun.
Siau Po tak menjawab, ia hanya menoleh.
“Toako, bagaimanakah kiranya hingga kau mengetahui halnya Gauw Sam Kui
menyiksanya karena ia bergaul denganku ?” tanya nya.
Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Siau Po tetapi malah pergi ke luar, dan
kembali dengan membawa orang yang langsung dijatuhkan.
“Wi Hiocu, orang ini yang nama besarnya sering kita dengar Dia itu Yo It Hong,” kata
orang She Jie itu.
“Ah, rupanya kau, dulu di kotaraja kau bertindak sangat bebas sekali, Dulu kaupun
pernah ditendang oleh Gauw Eng Him dan mengapa sekarang berada di sini?” tanya
Siau Po.
“ltu yang dikatakan musuh saling bertemu dalam tempat yang sempit,” kata Cie Thian
Coan.
“Jahanam itu justru sipir penjara besar Hek Kam Cu itu, Biar wajahnya berubah
menjadi abu, aku pasti dapat mengenalnya, Ketika kami menjadi pengikut Gauw Sam

Kui. ia mendatangi penjara yang lantas mempertontonkan lagak tengiknya, ia lalu
meminta tulisan tangan Peng See Ong, si celaka itu.”
Siau Po mengangguk,
“Ya, sungguh sangat kebetulan kita telah bertemu dengan makhluk ini. Dengan
demikian kita dapat lebih mudah menolong orang,” katanya.
“Dia ini yang memberitahukan pada Gauw Sam Kui, Dia menganggap masalah ini
rahasia,” katanya. Siau Po menendang orang yang berada di depannya itu. Maka tak
ayal lagi gigi orang yang ditendangnya itu copot, dan ia lalu berkata.
“Sekarang aku akan kembali ke Gauw Eng Him untuk menunggunya, Saudara
semua silakan memeriksa, jika ia memang tak mau bicara maka potong saja kedua
tangan dan kakinya itu.”
“Aku…. Aku mau bicara,” katanya dengan mulut yang masih bercucuran darah.
Orang itu cepat-cepat menjawab setiap pertanyaan karena takut kalau ia melakukan
hal yang serupa dengan yang terjadi pada Yo Ek Jie, yang terpotong tangan dan
kakinya ditambah lagi dengan mata dan lidahnya juga dicelakai.
Siau Po tidak langsung pergi, ia terlebih dahulu menghampiri Yo Ek Jie. “Toako…”
panggilnya.
Orang yang dipanggil itu lalu bergerak ingin bangun tetapi jatuh kembali Melihat hal
demikian Siau Po dan kawan-kawannya sangat terharu, ia menjadi benci pada Gauw
Sam Kui dan juga anaknya.
Siau Po mengusap air matanya, lalu pergi ke luar dan menuju pendopo besar itu
sambil berkata.
“Sungguh sangat menarik hati” kata Siau Po yang terus berusaha menyenangkan
hatinya.
Sesampai mereka di pendopo besar itu, ternyata permainan wayang sudah berhenti
Tetapi begitu melihat tuannya datang, mereka mulai lagi.
“Maaf Sio Ongya, tadi aku dipanggil oleh Tuan putri untuk ditanya tentang lampang,
kegemaran dan sifat Sio Ongya, Kongcu menanya demikian banyak hingga Sio Ongya
menanti dengan lama…” kata Siau Po.
“Tidak…. Tidak apa,” kata Eng Hian yang merasa gembira karena calon isterinya
sangat memperhatikannya,
Selesai pertunjukan wayang, para tamu kembali ke tempat masing-masing, Siau Po
lalu pergi ke tempatnya dan di sana ia tak menemukan siapapun.

“Aneh.,., Apakah yang akan mereka lakukan?” tanya Siau Po dalam hatinya.
Siau Po menunggu sampai larut malam, barulah mereka kembali dengan membawa
tawanan yang lainnya.
Mereka tadi berhasil mendapatkan keterangan dari tawanan yang pertama, bahwa
Gauw Sam Kui menyiksa Yo Ek sedemikian rupa sebab Yo Ek disangka bersahabat
dengan Siau Po, untuk sama-sama berkhianat pada raja atau karena putra raja dari
Mongolia. Akhir-akhir ini orang Mongolia erat hubungannya dengan orang She Gauw.
Tak putus-putusnya mereka masing-masing mengirim bingkisan. Dan akhir-akhir ini
ia telah mengirim utusan ke Bun Beng, untuk beberapa lama, Sewaktu mereka
mengadakan perundingan Yo Ek disangka telah mengetahuinya. Keterangan itu didapat
dari tawanan yang baru saja dapat.
Toan Coan lalu berunding untuk membahas masalah yang baru saja mereka
dapatkan itu, dan pada akhirnya mereka setuju akan terus menyamar sebagai pengawal
pribadi Gauw Sam Kui.
Siau Po ternyata kenal dengan Kearltan yang sekarang menjadi tawanan, ia kenal
sewaktu bertemu di kuil Siau Lim Sie. pangeran itu besar kepala dan pernah juga
menyerang Siau Po dengan senjata rahasia Piauw, untunglah saat itu Siau Po
mengenakan pakaian wasiatnya hingga ia tak menemui celaka, Karena itu ia percaya
orang Mongolia yang baru saja ditemuinya itu pun bukan orang baik-baik.
“Coba bawa dia pergi melihat Yo Toako” kata Siau Po.
Salah seorang anak buah Siau Po lalu membawa mereka pergi. Tiba-tiba terdengar
jeritan, ternyata orang Mongol itu telah melihat keadaan Yo Ek Jie. Setelah itu tawanan
tersebut dibawa kembali dan tampaknya ia sangat ketakutan.
“Kau sudah melihat orang itu?” tanya Siau Po pada tawanan itu.
Tawanan itu lalu mengangguk.
“Ada pertanyaan yang aku ajukan padanya, tetapi sewaktu menjawab ia tidak jujur,
Satu kata tak jujur maka satu kakinya pun hilang, dua kata tak jujur, kedua kakinya pun
hilang, sehingga akhirnya seperti itu,” kata Siau Po.
“la telah berdusta tujuh kata,” kata anak buah Siau Po.
“Ah, kalau demikian ia sudah terlalu banyak mendustaiku, Untuk itu maka sebaiknya
ia dipotong kaki dan tangannya, bola matanya, lidahnya baru kepalanya,” kata Siau Po.
Setelah berkata demikian Siau Po mengambil pisaunya lalu menebas kaki kursi,
Sekali tebas saja kaki kursi itu buntung, Kemudian ia berkata pada tawanan itu.

“Kalau pisauku ini dipakai untuk memotong kaki atau tangan orang, sedikit saja tak
ada darah yang mengotori pisauku ini, Nah, apakah kau ingin merasakan tajamnya
pisauku ini?” tanya Siau Po.
“Pa…. Paduka, apa yang hendak paduka tanyakan pada hamba yang rendah ini, tak
berani hamba berdusta pada paduka barang setengah kata pun,” kata Khantema itu,
“Bagus, Peng See Ong menghendaki agar aku menanya kau, yaitu kata-katamu
pada raja itu benar atau dusta belaka? Katakanlah” katanya.
“Paduka, hamba mana berani berdusta pada raja,” katanya.
Siau Po menggelengkan kepala.
“Akan tetapi Ongya tak percaya itu, katanya kau orang MongoI licik dan licin, katakatamu
tak dapat dipegang dan kau paling sering menyangkal kata Siau Po”
Tiba-tiba wajah orang tawanan itu berubah merah karena merasa dongkol dan ia
berkata dengan suara keras.
“Kami anak cucu Jenghiz Khan, jika kami mengatakan satu, maka satu dan satu itu
dua…” katanya.
Siau Po mengangguk.
“Tidak salah,” katanya, Tiga dikatakan tiga, Empat dikatakan empat….”
Khanlema itu terkejut ia bisa bicara Tionghoa dengan baik, tetapi mengenai pepatah
atau pribahasanya masih sangat terbatas, ia tak tahu kalau Siau Po telah menyindirnya,
Karena itu ia tak mengerti dan diam saja.
Siau Po memperhatikan wajah Khantema.
“Tahukah kau bahwa aku ini orang macam apa?” tanyanya dengan suara keras.
“Hamba tak tahu,” jawab orang MongoI itu.
“Nah, cobalah kau terka”
Khantema melihat bangunan An Hu Wan besar dan megah, Walaupun Siau Po
masih muda, tetapi sudah berpangkat tinggi, Hal itu terbukti dengan pakaian kerajaan
dan topi yang dihiasi dengan batu permata, ia seorang pemimpin pasukan pengawal
raja.
“Maaf, hamba mempunyai mata tetapi seperti tak mempunyai bijinya, Kiranya
padukalah putranya Peng See Ong.,.” kata orang MongoI itu dengan penuh hormat
pada Siau Po.

Siau Po terbengong mendengar kata-kata orang itu, ia heran sekaligus dongkol.
“Apa katamu? Kau kira aku putra si penghianat besar itu? Dengan demikian
bukankah aku nantinya menjadi anak pengkhianat Si kura-kura hitam?” kata Siau Po
sambil tertawa dan berkata lagi.
“Kau benar cerdas luar biasa, tanpa lawan PantasIah Kaerltan mengutusmu ke mari
dengan tugas begini besar Memang juga pangeranmu erat hubungannya dengan aku.
pernah aku merundingkan soal ilmu silat yang ia pertontonkan padaku, pangeranmu
sungguh hebat.,.” kata Siau Po.
Mendengar perkataan demikian, utusan MongoI itu menjadi sangat girang, hingga ia
memberikan pujian pada Siau Po.
“Kiranya paduka dan pangeran kami bersahabat erat sekali seperti keluarga sendiri”
katanya kemudian
“Apakah pangeranmu baik-baik saja? dan apakah pangeranmu itu masih suka
bergaul dengan lhama dari Tibet?” tanya Siau Po.
“Sekarang ini justru lhama itu sedang menjadi tamu pada istana pangeran kami itu,”
jawabnya.
“Apa seorang Nona bernama A Kie dari Tiong-hoa yang biasa memakai pakaian
warna gelap ada dalam istanamu?” tanya Siau Po.
“Oh, kiranya paduka mengetahui semuanya sampai soal Nona itu, Paduka sangat
hebat.,.” pujinya.
Siau Po pun girang tak menyangka tebakannya itu benar, ia lalu tertawa.
“Pangeranmu itu tak menyembunyikan apa pun juga padaku, A Kie itu menjadi
kenalan baik pangeranmu, sedangkan adik nona itu, A Ko menjadi sahabatku Bukankah
dengan demikian kita bagaikan keluarga?” katanya.
Khantema turut tertawa.
“Ayahandaku memerintahkan padaku untuk menanyakan masalah yang kau laporkan
itu benar atau tidak?” tanya Siau Po.
“Sio Ongya, kau dan pangeranku adalah sahabat yang kekal, bagaimana kau dapat
mencurigaiku?” tanya orang Mongol itu.
“Soalnya bukanlah demikian, Ayahanda mengatakan kalau seseorang bicara dusta
maka kata yang pertama dengan yang kedua tidak sama atau paling tidak ada beda
sedikit. Dalam hal ini jika kurang berhati hati maka kita nanti akan rugi, Oleh karena itu
ingin aku mendengarkan satu kata lagi langsung darimu, biar dapat diketahui apakah

ada perbedaannya atau tidak. Dan bukannya aku tak percaya, kita ini baru pertama kali
bertemu maka aku harus berhati-hati, harap kau menjadi maklum,” kata Siau Po.
“Ya, memang kalau rahasia bocor, itu sangat berbahaya karena kita akan kehilangan
jiwa. Biasa Peng See Ong memang sangat teliti, ada empat keluarga yang akan
bergerak, dan masing-masing akan mengerahkan angkatan perangnya untuk
merampas negara-negara terdekat Peng See Ong itu sendiri mendapat wilayah
Tionggoan, dan tiga yang lainnya pasti iri hati,” katanya.
Mendengar keterangan tersebut Siau Po menjadi kaget, ternyata bukan hanya satu
tetapi ada empat keluarga yang akan berontak. Siau Po berpikir dan berkata dalam hati,
“Entah siapa mereka yang tiga tersebut? Kalau aku menanyakannya, nanti akan dapat
diketahui bahwa aku tak tahu menahu tentang masalah ini,” berpikir demikian ia lalu
berkata.
“Tentang masalah itu aku sudah merundingkannya pada pangeranmu, Akan tetapi
belum ada kepastian dari masing-masing dalam pembagian wilayah apabila maksud
kita ini berhasil sebenarnya apa kata rajamu?”
“Pangeranku tak serakah dalam pembagian daerah itu, hanya dalam soal berserikat
dengan negara Losat, agar negara itupun menurunkan tentaranya,” kata orang Mongol
itu.
Kembali Siau Po terkejut, namun ia sempat menyembunyikan rasa itu dan belum
sempat Siau Po berkata apa pun, orang Mongol itu melanjutkan lagi kata-katanya.
“Baru setelah pangeranku berbicara banyak, kesepakatan itu pun dapat diperoleh.
Tentara Losat itu sangat lihay dalam senjata api. Asal meriam dan senjatanya berbunyi,
tentara Ceng pastilah tak mampu menandinginya.
Negara itu berjanji akan mengirimkan pasukan perangnya, nanti Peng See Ong akan
menjadi kaisar besar di Tiongkok dan Ongya akan menjadi Cin Ong” kata orang
Mongol itu.
Losat atau Rusia adalah negara besar, dahulu tentaranya pernah bertempur dengan
tentara Ceng, namun mereka berhasil dikalahkan. Disamping itu kerugian tentara Ceng
sangat besar.
Siau Po tak menyangka kalau Peng See Ong telah berserikat dengan negara Losat,
Maka hal ini sangatlah penting untuk diberitahukan pada raja agar ia mengadakan
persiapan.
Orang Mongol itu heran melihat Siau Po terdiam saja.
“Sio Ongya, adakah petunjuk dari Sio Ongya?” tanyanya.
Ditanya demikian Siau Po lalu bangkit berdiri.

“Petunjuk apa dariku?” katanya dengan nada kesal, “Kalau Ongya menjadi raja,
kakakku yang akan menggantikannya lalu aku akan menjadi raja muda, untuk apakah
hal seperti itu?” lanjutnya.
Mendengar kata-kata Siau Po, orang Mongol itu tersadar lalu berkata.
“Pangeranku bersahabat dengan Ongya, maka nanti sepulangnya aku dari sini aku
akan memberitahukan pada pangeran tentang niat Ongya tersebut Nanti setelah usaha
kita berhasil, maka negaraku dan negara Losat ditambah dengan budha dari Tibet akan
mendukung Ongya, apa yang Ongya khawatirkan?” katanya.
“Kiranya empat keluarga yang dimaksud itu adalah MongoIia, Tibet, Losat dan Gauw
Sam Kui,” kata Siau Po dalam hati.
“Jika kalian berusaha dengan sungguh-sungguh maka kekuasaan ada dalam
genggamanku, pasti aku akan membalas budi baik itu, tak akan aku dapat
melupakannya,” kata Siau Po berdusta.
Berkata demikian lalu Siau Po mengambil uang dari sakunya dan memberikannya
pada orang Mongol itu.
“Ambillah uang ini untuk berbelanja dan berpesta pora” katanya.
Orang Mongol itu sangat girang dengan kemurahan pangeran yang sekarang berada
di depannya itu, ia menerima uang pemberian dari Siau Po yang dikiranya pangeran
anak dari Gauw Sam Kui, yang sedang memperebutkan kedudukan raja dengan
kakaknya.
“Apakah kata pengeranmu setelah urusan mereka itu berhasil? Apakah negara dapat
dipecah-pecah menjadi beberapa bagian?” tanya Siau Po.
“Tentu saja dapat, Tionggoan ini bagian keluarga Gauw, bagian selatan masuk
bagian empat serikat Mongolia, See Coan dan Kokonor masuk pada pendeta Tibet dan
kedua serikat bagian barat Cahar Jehol, Suiyuan dan Sengtauw masuk pada kami
Mongolia,” katanya.
“Oh, wilayah itu luas sekali,” kata Siau Po.
Sebenarnya Siau Po tak mengetahui wilayah yang telah disebutkan itu, Tetapi orang
itu telah memberikan gambaran padanya, hingga ia dapat mengira-ngiranya.
Khantema itu tersenyum.
“Kami Bangsa MongoIia telah mengeluarkan dana yang cukup banyak untuk
membantu Ongya,” katanya.
Siau Po mengangguk

“Lalu bagaimana dengan negara Losat itu?” tanyanya.
“Kaisar Losat telah mengatakan bahwa wilayahnya perbatasan dengan wilayah
Ongya, ia berjanji tak akan melintasi perbatasan tersebut. Negara Losat hanya akan
mengambil seluruh wilayah Boancu, tak akan menduduki tanah Tiongkok,” jawab
Khantema.
“Begitu adil pembagian itu, lalu kapankah kita mulai bergerak menurut rajamu?”
tanya Siau Po.
Dalam hal ini Ongyalah yang menentukannya, sedangkan tiga keluarga yang lainnya
hanya menyambut saja,” jawab orang Mongol.
“Sekarang kau katakan, bagaimana cara kalian bergerak jika hal itu sudah
ditentukan?” tanya Siau Po.
“Mengenai hal itu janganlah menjadi pikiran, Sewaktu pasukan Ongya bergerak dari
Inlam, tentara kami bergerak dari barat ke timur, Tentara berkuda Losat dan pasukan
senapannya dari utara ke selatan untuk menggencet Pakhia, sedangkan pendeta dari
Tibet akan menyerbu propinsi See Coan, sementara pasukan agama Sin Liong Kau….”
“Oh” kata Siau Po tertahan tetapi dengan segera menepuk pahanya dengan kedua
tangannya, “Kau pun tahu urusan Sin Liong Kau… apakah ketuanya Hong kaucu?”
tanyanya.
“Urusan Sin Liong Kau itu, apakah Ongya telah bicarakan juga dengan Sio Ongya?”
Khantema itu balik bertanya.
Siau Po dengan cepat dapat menguasai dirinya.
“Kenapa tidak?” katanya, “Dengan Hong Kaucu dan Hong Hujin pernah dua kali aku
berbicara lama dengan mereka, bahkan aku telah menemukan Ngo Liong Su, kelima
naga petugasnya, Aku hanya mengira pangeranmu tidak mengetahui tentang kaum
agama itu.”
Khantema tersenyum.
“Ketua kaum agama itu telah menerima anugerah dari Losat, oleh karena itu asal
Losat turun tangan, kaum itu pasti menyambutnya, maka kelak pulau di Tiongkok akan
menjadi tempat kaum agama itu, belum lagi dari propinsi yang lain, singkatnya jika
Ongya berbicara pasti mereka itu pada membantu, Bukankah dengan demikian wilayah
Boancu menjadi milik Ongya?”
Siau Po tertawa lagi.
“Bagus, Bagus” ia berkata dalam hatinya, sebaliknya ia mengeluh “Celaka….
Sungguh ceIaka…. Siapa sangka urusan ini akan menjadi sangat luas.”

“Hubungan Ongya dengan pangeran kami sangatlah erat, begitu juga dengan hamba
Ongya yang sangat baik, Maka bila Ongya memiliki masalah, biar hamba yang
menyelesaikannya, walaupun tubuh hamba hancur, tak mungkin hamba dapat menoIaknya,”
kata orang Mongol itu.
“Sebenarnya aku sedang memikir, jika kalian berpencar satu dengan yang lainnya
maka tugasku sangatlah berat,.,” kata Siau Po yang telah dapat menguasai dirinya.
“Oh, kiranya kau mengkhawatirkan masalah itu Kekhawatiranmu itu beralasan juga,”
katanya dalam hati.
Karena berpikir demikian, maka ia pun berkata.
“Sio Ongya jika nanti Ongya berhasil memimpin negeri, segala Keng Ceng Tiong,
Shiang Ko Hie, dan Kong Su Ceng, mereka dapat disingkirkan satu demi satu.
Andaikata Ongya membutuhkan bantuan, kami akan membantu Ongya semampu
kami,” katanya.
“Terimakasih Kau harus menyampaikan kata terimakasihku pada pangeranmu
kaulah orang kepercayaannya, maka janji yang kau berikan sama dengan janji
pangeranmu,” kata Siau Po.
Selesai bertanya Siau Po berkata.
“Sekarang beristirahatlah kau di sini Aku hendak pergi untuk memberikan laporan
pada ayahandaku, Kau awas jangan sampai pembicaraan kita ini diketahui oleh
kakakku dan juga ayahku Dia nanti akan marah dan akan menghukum kau dan juga
mengenai pertemuan kita” ancam Siau Po.
Selesai berkata demikian Siau Po pergi ke luar hendak menemui sahabatnya,
Sebelum berangkat, ia menitip pesan pada anak buahnya agar menjaga orang Mongol
itu dengan baik, Kemudian ia menjenguk Yo Ek Jie. Sesampat mereka di sana, Siau Po
terkejut sekali melihat tubuh Yo Ek yang tanpa tangan dan kaki itu sudah tak bernyawa
lagi. Dan pada kasur tempat tidur Yo Ek itu tertulis kata-kata.
“Apakah bunyi semua hurup ini?” tanya Siau Po yang buta huruf.
“Tujuh huruf itu berbunyi, Gauw Sam Kui memberontak dengan menjual negara,”
kata Ma Can Ciauw.
Siau Po menarik napas panjang.
“Kasihan kau Yo Toako” katanya sedih. “Di saat kematiannya ia masih dapat
menulis dengan tangan buntungnya.”

Segera setelah itu, Siau Po mengumpulkan kawan-kawannya untuk membicarakan
keterangan yang didapat dari orang Mongol itu. Mereka semua mengecam tindakan
Gauw Sam Kui yang berupa pengkhianatannya yang kedua.
“Saudara-saudara lihat” kata Hian Ceng Ti Jin dengan nada suara kesal, sambil
membuka bajunya.
Mereka kaget melihat bekas luka pada dada dan tangan orang itu dan dalam hati
mereka bertanyatanya bekas luka apakah itu.
“lnilah bekas luka dari senjata apinya Losat,” kata Hian Ceng Tojin.
“Kami semua berjumlah sembilan, Saudaraku, ayahku, kakak dan adikku, semuanya
telah mati, tinggal aku yang hidup.”
“Sekarang bangsa Losat bersatu dengan Gauw Sam Kui untuk merampas negara
Tatcu, ini ada baiknya, Kita menonton saja, mereka yang bertempur hingga terlihat
seperti langit roboh dan bumi meledak. Pada saat itu kita mengambil kesempatan untuk
membangun kembali kerajaan Beng kita,” kata Cie Tian Coang.
“Tetapi kita harus waspada, sebab Bangsa Losat itu sangat kejam dan licik,
kemungkinan mereka tak puas dengan wilayah jajahannya dan bisa saja menyerang
kita,” kata Hian Ceng.
“Habis apakah kita harus membantu bangsa Boancu?” tanya Cie Tian Coan.
“Sekarang kita tak usah cepat-cepat mengambil keputusan tentang usaha
pemberontakan itu, kita lebih baik membicarakan urusan yang ada di depan mata. Kita
telah membebaskan Yo Ek dan menawan orang Mongol itu dan usaha kita ini sudah
dapat dicium oleh Gauw Sam Kui. sekarang kalian pikirkan bagaimana cara kita
menghadapi raja muda yang akan berkhianat itu,” kata Siau Po.
Mendengar pertanyaan Siau Po memang sangatlah tepat Mereka semua terdiam
berpikir keras.
“Si kura-kura hitam dan Gauw Sam Kui banyak mempunyai perwira, Jika kita akan
pergi tak lama kita akan tertangkap, jika hendak melawan sekarang bukanlah saatnya,
Maka aku pikir sebaiknya kita bawa mayat Yo Ek Jie dan Yo It Hong kembali ke Hek
Kamcu…” kata Siau Po.
“Mengantarkan mereka kembali?” demikian pertanyaan mereka semua.
“Benar, untuk kita menggertak Yo It Hong itu agar tak membuka mulut Jika nanti ia
membuka mulut ia sendiri juga tidak lolos dari kecurigaan, dia akan bersangkut paut,
Karena Yo Toako telah mati, kita merasa sulit merawat mayatnya,” kata Siau Po.

“Aku sangsi pada keteranganmu, apakah ia akan diam sementara urusan begini
besar?” kata Hian Ceng.
Siau Po tertawa.
“Aku justru bukan mengkhawatirkan keberaniannya, tetapi ketololannya dan tak
bergunaannya, Dalam pepatah mengatakan, mendustakan itu ke atas bukan ke bawah
terserah keadaan mau bagaimana, sekarang sebaiknya kau bawa pembesar itu padaku
biar aku yang membuatnya sadar,” kata Siau Po.
Selesai Siau Po berkata demikian salah seorang kawan Siau Po pergi untuk
mengambil tawanan itu, dan tak lama kemudian mereka datang kembali dengan
membawa tawanan yang dimaksud itu. Wajah tawanan itu pucat pasi karena ia khawatir
nanti akan disiksa.
Melihat wajah tawanan itu Siau Po pun tertawa.
“Yo Toako kau tampak cape?” tanyanya.
“Oh, tidak Tidak” jawab tawanan itu.
“Yo Toako, kaulah sahabat sejati, kau telah memberitahukan pada kami rahasia
Peng See Ong. Sahabat harus dibayar dengan persahabatan karenanya aku hendak
membebaskanmu, Kau harus percaya aku tak akan memberitahukan pada siapapun
Aku anggota Kangouw sejati, satu aku bilang satu, dua aku bilang dua, tidak sepertimu
yang membuka rahasia dengan begitu kau hendak menentang pada Peng See Ong,”
kata Siau Po.
Berkata demikian Siau Po terus saja tertawa, Dia membawakannya dengan sikap
yang wajar-wajar saja.
“Biar hamba ini mempunyai nyali setinggi langit tak akan hamba melakukan itu…”
katanya sambil tertawa.
“Bagus,” kata Siau Po. “Nah, saudara-saudaraku, cepat kalian antarkan ia ke
kantornya dan sekalian mayat Yo Ek agar dibawa dan jika nanti ia ditanya pada
atasannya dia dapat mempertanggung-jawabkan perbuatannya.”
Lewat beberapa hari kawan-kawan Siau Po merasa tidak tenang, ia takut kalau orang
yang ia bebaskan itu membuka mulut dan mereka semua ditahan oleh Gauw Sam Kui.
“Sekarang begini saja,” kata Siau Po yang ingin membuat kawan-kawannya merasa
tenang, “Aku akan mengunjungi Gauw Sam Kui untuk mengetahui apa yang ia akan
bicarakan.”
“Aku khawatir justru kau yang akan ditawan mereka, bukankah itu berbahaya?
Celaka jika ia menawanmu…” kata sang imam.

Siau Po tertawa.
“Bukankah sekarang kita dalam genggamannya? Jika ia menginginkan mana kita tak
dapat lagi menyingkir,” kata Siau Po.
Kemudian Siau Po membawa pasukannya dan para Sie Wie pergi ke istana Gauw
Sam Kui, dan langsung disambut oleh Gauw Sam Kui sendiri.
Ketika Siau Po dan pasukannya datang, langsung Gauw Sam Kui yang
menyambutnya, ia menjabat tangan Siau Po untuk selanjutnya mengajaknya masuk ke
dalam istananya.
“Ada kabar apakah Wie Toutong?” tanya Gauw Sam Kui dengan wajah riang.
“Jikalau kau ada urusan tidakkah kau cukup memanggil anakku, Untuk apa Toutong
bersusah payah kemari.” kata Gauw Sam Kui.
“Oh, Ongya sangat sungkan, bukankah pangkat ku sangatlah rendah? mana berani
aku memanggil anak Ongya?” kata Siau Po.
“Tapi Wie Toutong, kaulah perwira kesayangan baginda dan kau orang kepercayaan
raja,” kata raja muda itu memuji.
“Hari depanmu masih panjang dan penuh dengan harapan, bahkan tak aneh jika
suatu hari kau yang menjadi raja muda di sini.”
“Oh, Ongya kata-katamu itu tidaklah tepat,” kata Siau Po.
“Mengapa tidak tepat? Bukankah usiamu baru lima atau enam belas tahun dan kau
sudah menjadi Hu Toutong dan merangkap menteri besar yang mendapat kepercayaan
raja? Maka untuk menjadi itu paling membutuhkan waktu yang tak lama lagi,” katanya.
Berkata demikian Peng See Ong tertawa, Siau Po menggeleng-gelengkan kepala,
“Ongya, mari aku beritahu” kata Siau Po. “Sewaktu aku diutus baginda raja, ia
memesan, kau anjurkan Gauw Sam Kui untuk baik-baik memangku jabatannya, karena
ia harus mengetahui bahwa nanti akan digantikan oleh Gauw Eng Him, iparnya, dan jika
nanti Gauw Eng Him telah mati, maka ia akan digantikan oleh anaknya, singkatnya
kedudukan Peng See Ong itu turun temurun, Ongya tahu baginda mengatakan
demikian secara sungguh-sungguh,” kata Siau Po.
Dalam hati Gauw Sam Kui girang mendengarkan kata-kata itu.
“Benarkah baginda mengatakan demikian?” tanyanya.
“Mana dapat aku mendustaimu, hanya saja aku tidak boleh memberitahukanmu
dengan terburu-buru, sebab perlu dicari tahu Ongya menteri yang setia atau tidak?
Tetapi aku memikir lain hal itu toh sudah aku beritahukan padamu,” kata Siau Po.

“Hm, sekarang kau telah mengatakannya padaku, bukankah dengan demikian kau
telah mengatakan bahwa aku menteri yang setia?” katanya.
“Kenapa tidak, jika Ongya saja sudah tak setia maka di kolong jagat ini sudah tak ada
lagi menteri yang setia,” kata Siau Po.
Sambil berkata demikian mereka terus saja berjalan ke dalam, Gauw Sam Kui sangat
girang hingga ia tak lepas-lepasnya memegang erat tangan Siau Po.
“Mari…. Mari kita duduk dalam kamar tulisku saja” ajaknya,
“Oh, Ongya kulit harimau itu mahal sekali, di istana saja tak ada sungguh mataku
terbuka,” katanya.
Kamar tulis yang menurut dugaan Siau Po hanya berisi buku-buku, kali ini lain dari
pada yang Iain. Ternyata kamar itu penuh dengan senjata yang dipampang pada
dinding kamar itu.
“Ongya, benarkah Ongya seorang gagah, pendekar?” tanya Siau Po. “Sekalipun
dalam kamar tulis Ongya tersimpan senjata, aku memang tak dapat membaca tetapi
biasanya kamar baca itu isinya hanya buku, Maka sungguh di luar dugaanku kamar ini
sangat indah” pujinya.
Gauw Sam Kui tertawa lebar.
“Semua senjata ini ada riwayatnya,” katanya bangga. “Aku memajangnya di sini agar
menjadi peringatan bagi diriku.”
“Oh begitu,” kata Siau Po yang terus bermain komedi.
“Dahulu Ongya bersarang di barat dan timur, utara dan selatan hingga Ongya telah
berhasil membangun jasa yang sangat banyak, pastilah senjata-senjata ini yang pernah
digunakan,” kata Siau Po.
Gauw Sam Kui tersenyum dan tangannya mengelus-elus kumisnya, lalu ia pun
tertawa.
“Benar,” sahutnya, “Aku telah mengalami perang kecil dan perang besar beberapa
ratus kali, itu artinya keluar hidup masuk mati, atau tegasnya mati dan hidup, Jadi
kedudukan raja muda kuperoleh antara mati dan hidup,” katanya dengan semangat.
Siau Po mengangguk-angguk.
“Benar,” katanya, “Ongya ketika dahulu pernah memangku jabatan Sanhay Kwan,
senjata manakah yang Ongya pakai dan tanda jasa apa yang paling tinggi.,.?” tanya
Siau Po.

Wajah raja muda itu secara tiba-tiba berubah. pertanyaan itu membuatnya kaget,
peperangan yang ia lakukan adalah melawan bangsa Boan, dan semakin besar
pertempuran maka semakin banyak korban bangsa Boan.
Karena ia merasa pertanyaan itu telah menyindirnya, maka ia menggenggam tangan
dengan erat maksudnya agar ia dapat menahan hawa napsunya.
Siau Po pura-pura tak mengetahui Peng See Ong menjadi gusar dan dongkoI serta
maIu.
“Kata kaisar Eng Hek dari Ahala Beng telah Ongya kejar dari Inlam sampai ke Birma,
Di negara asing itu sang kaisar telah berhasil ditawan, lalu karena tali busur akhirnya
kaisar itu telah menemui ajalnya,” katanya.
Berkata demikian Siau Po menghadap pada dinding yang terdapat panah dan ia
menambahkan kata-katanya.
“Bukankah panah itu yang Ongya gunakan?” tanyanya.
Peristiwa matinya kaisar itu sebagai bukti bahwa ia akan setia pada pemerintahan
Boanceng. Tetapi sekarang lain, dalam istananya ada orang yang menanyakan hal itu,
maka ibarat luka baru saja ingin sembuh sudah berdarah lagi.
“Wie Toutong,” katanya dengan suara keras sebab ia sudah tak dapat menahan
amarah lagi, “Apakah maksud Toutong mengeluarkan kata-kata sindiran itu?” tanyanya.
Siau Po terperanjat. “Oh tidak… tidak,” sahutnya dengan cepat “Mana berani aku
menyindir Ongya, sebenarnya selama di Pakhia aku mendengar para menteri yang
menceritakan sekalipun kaisar Beng telah Ongya jerat mati, hal ini yang membuat jasa
besar pada pemerintahan Ceng bahkan katanya menjerat kaisar itu sudah dilakukannya
dengan tangan sendiri hingga terdengarnya tali busur itu dan kaisar merintih, Ongya
terus tertawa dan berkata, bagus, bagus, bukankah itu yang menandakan kesetiaan
Ongya?”
Gauw Sam Kui yang sedang duduk mendadak bangun. Sewaktu hendak mengumbar
nafsunya ia ingat akan sesuatu, Dalam pikirannya ia masih kecil, apakah mungkin jika
tak ada orang yang telah mengajarkannya, Mungkin raja cilik itu atau menteri ku yang
merasa iri denganku, mereka membuatku gusar dengan demikian akan mudah
menahanku.
Karena memikir demikian maka Gauw Sam Kui tersadar lalu ia berubah manis dan
sangat sabar Sambil berkata-kata iapun tersenyum manis.
Siau Po tertawa.
“Sungguh bagus seandainya sekarang ini ada orang yang akan memberontak
katanya dengan sikap wajar”

Hati Peng See Ong berdenyut keras. “Mengapa demikian?” tanyanya.
“Jikalau ada yang akan memberontak baginda memerintahkan aku untuk menumpas
pemberontak itu. Maka aku akan bertempur mati-matian dan pasti baginda
memerintahkan aku untuk memimpin pasukan perang yang sangat besar Di situ baru
aku dapat membuktikan bahwa aku setia pada raja dan nanti raja akan memberiku
istana dan aku sebagai raja mudanya,” kata Siau Po.
“Apakah ada kemungkinan sekarang ini ada yang akan memberontak pada raja?”
tanyanya.
Gauw Sam Kui terdiam sesaat.
Sambil berkata mata Siau Po terus saja diarahkan pada meja, karena pada meja itu
terdapat kitab yang sedang dicarinya, Dari memancing kemarahan dirubah menjadi
berkata yang membuat Gauw Sam Kui senang. Hal itu dilakukan karena ia
menginginkan kitab yang ada di meja itu.
“Jikalau aku menggunakan Firman palsu untuk mendapatkan kitab itu pastilah ia
akan menyerahkannya, tetapi aku khawatir kalau-kalau kitab itu palsu…” kata Siau Po
dalam hati,
Memikir demikian, lalu Siau Po menarik tangan Gauw Sam Kui untuk diajaknya
berbicara secara perIahan-lahan.
“Ongya, sebenarnya hamba dititipi sebuah firman rahasia dari Sri Baginda Raja.”
Peng See Ong terperanjat hingga ia berdiri “Hamba sedia menerima firman,”
katanya, “Baginda mengetahui bahwa Ongya seorang menteri yang setia pada kerajaan
Ceng yang maha agung. walaupun demikian berulang-ulang beliau memesan agar aku
tetap mencari tahu anak Tiong Sin atau Kan Sin. Apakah Ongya tahu apa maksud yang
sebenarnya dari raja?” katanya.
Gauw Sam Kui menggelengkan kepala, “Sebenarnya ada tugas yang besar untukmu,
Ongya. Namun untuk itu baginda merasa ragu-ragu, nanti Ongya akan bekerja dengan
sungguh-sungguh atau tidak… baginda menikahkan Kian Leng Kongcu itulah
sebabnya…”
“Jikalau baginda yang akan memerintahkan padaku pasti aku akan menjalankan
perintah itu dengan sungguh-sungguh,” katanya.
“Tugas itu tugas yang sangat penting, sekarang begini saja, besok pada waktu yang
sama silakan Ongya menunggu di istana Ongya, dan nanti aku akan datang untuk
menyampaikan firman rahasia tersebut,” kata Siau Po.
Besoknya Siau Po datang pada tempat dan waktu yang telah dijanjikan Kembali
mereka berkumpul dalam kamar tulis.

“Ongya,” kata Siau Po setelah mereka mengambil tempat duduk, “Soal ini sangatlah
penting, Aku memesan agar rahasia ini jangan sampai bocor. Bahkan, sekalipun dalam
laporan Ongya terhadap baginda jangan disebut-sebut mengenai rahasia ini” kata Siau
Po.
“Baik, baik” Gauw Sam Kui memberikan janjinya. “Pasti rahasia ini tak akan bocor.”
“Sebenarnya baginda telah mendapatkan laporan rahasia bahwa Siang Ko Hie
bersama dengan Keng Ceng Tiong berniat mendurhaka, memberontak pada baginda…”
kata Siau Po dengan suara yang sangat pelan.
Bagian 55
Mendengar ucapan Siau Po itu Gauw Sam Kui kaget bukan kepalang dan mukanya
berubah pucat, sebagaimana Gauw Sam Kui ketahui bahwa mereka itu raja muda yang
sama kedudukannya, “Apa…. Apakah itu benar?” katanya.
“Tentu saja benar,” kata Siau Po. “Biasanya baginda raja tak mudah mempercayai
segala laporan.”
“Namun kali ini lain,” kata Siau Po yang pandai sekali memainkan peranannya, “Kali
ini baginda mempunyai bukti, walaupun demikian pemberontakan mereka belum
merupakan kenyataan, baginda masih sabar, tak ingin bergerak hingga bagaikan
menggeprak rumput dan ular kaget.”
“Lalu tindakan baginda apa?” Si raja muda bertanya.
“Baginda menghendaki Ongya menyiapkan pasukan perang yang terdidik guna
memperkuat tapal batas kedua wilayah itu, dan nanti jika pemberontakan telah terjadi
Ongya diminta untuk menghentikan huru-hara dan membekuk pelaku utamanya. itu
merupakan jasa yang sangat besar,” kata Siau Po.
Gauw Sam Kui lalu menjura.
“Hambamu menerima rahasia ini,” katanya, “Jikalau kedua raja muda tersebut benarbenar
bertindak tersesat, hambamu akan segera menyerang dan menawan nya.”
“Sri Baginda pun mengatakan keduanya adalah manusia-manusia yang tak berguna,
dan pasukannya pun bukanlah lawan yang tangguh bagi pasukan Ongya, Maka mereka
pasti bakal terbekuk tanpa bantuan dari bala tentara dari pusat,” kata Siau Po.
Gauw Sam Kui tersenyum mendengarkan kata-kata Siau Po.
“Tolong Toutong sampaikan kepada baginda agar menenangkan hati saja,” katanya,
“Hamba akan mengumpulkan pasukan khusus dan dalam latihan akan hamba latih

dengan sungguh-sungguh, supaya setiap waktu siap sedia menerima panggilan dari
pusat. Semua tentara dan perwira akan kulatih untuk setia pada baginda sampai mati.”
“Ongya, aku akan menyampaikan kata-kata Ongya pada baginda raja, Aku percaya
baginda bakal menerimanya dengan senang,” kata Siau Po.
Dalam hati Gauw Sam Kui merasa senang, karena dengan demikian apabila ia
mengirim pasukannya baginda tak mencurigainya,
Kemudian Siau Po berbicara dengan hal yang lainnya, ia menunjuk senjata yang
tergantung di dinding.
“Ongya, apakah itu senjata api buatan Bangsa Barat?” tanyanya,
Gauw Sam Kui menganggukkan kepala.
“Seumurku, belum pernah aku menggunakan senjata api itu,” kata Siau Po. “Apakah
dapat aku mencobanya barang satu kali saja?”
“Pasti dapat, hanya saja senjata ini biasa dipakai di medan perang, lagi pula kita
membawanya kurang leluasa, sebenarnya Bangsa Losat mempunyai senjata yang
gagangnya lebih pendek,” sahut Gauw Sam Kui..
Gauw Sam Kui lalu mengambilkan senjata yang pendek yang orang Losat bilang
pistol Sewaktu Gau

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s