“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 71

Hambamu akan bekerja dengan hati-hati dan dengan melihat
kesempatan, agar hamba dapat memancingnya. Yang paling sulit adalah di mana si
moler tua itu menyimpannya….”
“Dan tak diketahui asal usulnya.” sambung sang raja, “Aku percaya, dia telah
mempunyai teman dan dengannya ia bekerja sama, Dengan mendapatkan kitab-kitab
itu ia lalu menyelundupkan ke luar istana, Syukurlah katanya kitab-kitab itu harus di
dapat semuanya, jika kurang satu pun itu tak berguna, Maka sekarang asal kita berhasil
mendapatkan kedua kitab dari bendera merah dan biru dan memusnahkannya, itu
artinya segala sesuatunya sudah aman. Bukankah kita tak usah mencari nadi naga itu,
cukup asal orang lain tak mengetahuinya?”
Sebenarnya isi kitab bukan hanya mengetahui nadi naga, tetapi di situ diterangkan
tempat penyimpanan harta besar. Harta itu didapat dari perampok di saat tentara Boan
menyerang Tiongkok asli, Karena harta itu milik Pet Kie, maka rahasianya terdapat
pada delapan bendera itu. Hal ini dilakukan untuk mereka yang akan menguasai harta
itu.
Pada jaman itu, setelah wafatnya pendiri kerajaan Boan Cu, para pemimpin bendera
yang terdiri dari para pangeran dan panglima perang besar mempunyai pengaruh
sangat besar, Karena didukung Pek Kie, maka pemerintahan Boan masih tetap
berlanjut dan pada akhirnya, pada masa kerajaan kaisar Kong Hie pengaruh Pek Kie
dapat dikekang dan dirobohkan secara perlahan-Iahan.
Ibu suri pernah mengutarakan pesan dari kaisar Sun Tie katanya, di Kian lee,
Tionggoan, jumlah rakyat Tionghoa adalah bangsa Han, jauh lebih banyak dari bangsa
Boan Cu. Maka jika bangsa Han berontak, pemberontakan itu tak dapat diringkus,
Tentu bangsa Boan Cu harus kembali ke Kwan Gee yaitu MaiHiuna, tempat asalnya,
Maka pada waktu itu Pet Kie akan membongkar harta itu untuk dibagi rata agar mereka
dapat hidup dengan tentram dan damai.
Kaisar Kong Hie kembali dari gunung Ngo Tay san, telah membawa pulang pesan
dari Sun Tie, ayahandanya.
“Di kolong bumi ini segalanya harus berjalan dengan wajar, jangan main paksa dan
paling baik adalah memberikan keberuntungan pada rakyat Dan andaikata bangsa Han
menghendaki kita pergi, maka kita harus pergi ke tempat asal. inilah pesan ayah raja.”
Kaisar Kong Hie bercita-cita besar, ia merasa berat pergi kembali ke Mancuria, ia tak
ingin membagi harta itu pada delapan pemimpin bendera, Maka ia berkata.

“Soal itu tak dapat diberitahu pada rakyat Boan karena mereka nanti akan kembali ke
tempat mereka berasal jikalau terjadi orang Han berontak dan di saat genting itu
mereka tak ingin berkelahi “
Jadi maksud kaisar itu untuk mendapatkan kedelapan kitab itu bukannya akan
melindungi nadi naga, atau mengambil harta itu tetapi akan memusnahkan belaka, Dia
menghendaki kerajaan Boan tetap abadi selama-Iamanya, tak sudi mundur secara
terpaksa.
Namun sebenarnya ibu suri itu tak mengetahui isi kitab yang mengatakan tersimpan
harta yang sangat banyak itu, melainkan ia hanya orang suruhan dari Sin Liong Kaucu,
karena mereka mengambil aliran naga sakti, ia menyamar sebagai dayang, untuk
mengetahui rahasia istana,.
Tetapi kemudian ia menjadi ibu suri palsu lalu mencari rahasia kedelapan kitab itu
dari mulut ibu suri yang asli, Namun ia tak berhasil mendapatkan keterangan darinya
walaupun yang asli telah mereka siksa.
Siau Po memperhatikan raja yang berjalan bolak-balik lalu ia mengingat sesuatu.
“Sri baginda” katanya, “Jika moler tua itu telah menjadi pesuruh Gauw Sam Kui,
maka ia yang akan mendapatkan tujuh kitab itu.”
Kaisar nampak terperanjat keterangan anak muda itu sangatlah tepat dan benar.
“Panggil Siang Ie Kam” perintahnya,
Tak lama maka muncullah thay-kam tua. ia lalu berlutut pada raja, Dialah thay-kam
kepala.
“Apakah sudah diperiksa dengan jelas?” tanya sang raja.
“Sudah, sri baginda” sahutnya, “Telah hamba periksa dengan seksama dan terbukti
jubah itu buatan kotaraja.”
Raja lalu berkata dengan suara yang sangat pelan.
Mendengar perkataan mereka, Siau Po mengerti halnya raja memanggil orang itu.
Lalu orang itu berkata pada rajanya.
“Namun baju dan celana pria itu buatan Liau-tong, yang biasa terdapat di wilayah
Kimcu.”
Raja nampak girang.
“Kau pergilah” perintah raja.

Thay-kam itu lalu berlutut dan bergegas pergi.
“Mungkin terkaanmu benar “Kemudian raja berkata pada Siau Po. “Besar
kemungkinan si Ay Tong ada sangkut pautnya dengan Gauw Sam Kui.”
“Dalam hal ini hamba tak mengerti.” kata Siau Po.
“Gauw Sam Kui pernah memangku jabatan di San Hay Kwan.” kata raja. “Dan kota
Kimcu termasuk dalam kekuasaannya, Mungkin sekali Ay Tong Kwa adalah
sebawahannya.”
Siau Po menjadi sangat girang.
“Benar kalau demikian.” katanya, “Sri baginda sangat cerdas dan itu tak akan
meleset.”
Kaisar Kong Hie berpikir.
“Seandainya si moler tua itu kabur ke propinsi In Lam,” katanya kemudian. “Maka
perjalananmu ini ada bahayanya, Karenanya kau harus mengajak lebih banyak Sie Wie
serta tiga ribu serdadu pasukan berkuda dari pasukan tangsi Jiau Kie Eng.”
“Baik, Sri baginda” sahut Siau Po. “Harap baginda jangan membuat khawatir.
Mudah-mudahan hamba berhasil menangkap si moler tua itu, guna menghukum
pancung pada mereka itu, agar penasaran ibu suri dapat terlampiaskan.”
Kaisar menepuk-nepuk bahu Siau Po lalu berkata.
“Jikalau kau berhasil dalam tugasmu ini. Hm Hm sebenarnya kau masih sangat
muda tetapi jika berhasil kau akan naik pangkat, dan orang yang tua pasti akan
mengangkat jempol pada kita yang masih kecil-kecil ini.”
“Memang usia baginda masih sangat muda tetapi baginda sangat cerdik,” kata Siau
Po. “Sebenarnya sudah lama mereka itu sudah dibuat takluk, Maka itu jika kita berhasil
melakukan tugas yang besar seperti Gauw Sam Kui pastilah mereka akan lebih tunduk
lagi.”
“Ah, kau sangat hebat” katanya, “Kau sangat cerdik sayang kau tidak terpelajar kau
belum pernah sekolah”
Siau Po pun tertawa.
“Sri baginda benar Sri baginda benar” katanya.
“Baikah jika nanti ada waktu senggang, hamba akan mempelajari ilmu sastra,
walaupun hanya beberapa hari saja….”

Kaisar Kong Hie tersenyum, ia merasa sangat senang berkawan dengan anak ini,
walaupun anak ini berasal dari rumah pelesiran.
Lalu Siau Po berpamitan pada raja, Baru saja Siau Po ke luar dari kamar itu ia sudah
disambut oleh salah seorang Sie Wie.
“Wie Congkoan, yang mulia Kong Jie Ong ingin bertemu denganmu entah congkoan
punya waktu atau tidak?” kata Sie Wie itu.
“Di mana adanya tuan pangeran sekarang?” tanya Siau Po.
“Sekarang ini Ongya sedang berada di dalam kamar Congkoan, ia sedang
menantikanmu” sahut Sie Wie itu.
“Apakah ia datang seorang diri?” tanya Siau Po.
“Ya, benar katanya ingin mengundang congkoan minum arak sambil menonton
wayang, tetapi ia sangat khawatir sebab baginda telah memanggil congkoan dan
mungkin akan mendapat tugas baru.”
Siau Po tertawa.
“Ah, bisa sekali kau bicara” katanya,
Sesampainya di kamar Sie Wie, ia menemukan pangeran itu sedang duduk
termangu, Tetapi setelah melihat kedatangan Siau Po ia lalu mendekati Siau Po dan
merangkulnya.
“Saudaraku, sudah lama aku tak bertemu denganmu aku sangat kangen dan
memikirkanmu” katanya.
Siau Po tersenyum. ia tahu kedatangan orang ini karena hilangnya kitab itu.
“Oh, Ongya” katanya, “Jika ada sesuatu urusan, perintahkan saja orang untuk
memanggilku itu sudah cukup. Apalagi untuk minum dan memberikan santapan pada
hamba. Mustahil hambamu ini tidak segera datang, sekarang ini Ongya telah memberi
muka padaku sampai-sampai Ongya datang langsung pada hamba.”
Kong Jie Ong tersenyum.
“Pertunjukan wayang sudah siap,” katanya,
“Aku hanya khawatir kau tak dapat menghadiri undanganku, Nah, dapatkah sekarang
juga kau pergi ke tempatku untuk duduk dan omong-omong barang sebentar?”
Siau Po tertawa.

“Baik, Ongya” katanya, “Hambamu sangat berterima kasih, Ongya akan
menghadiahkan pada hamba santapan, Coba jika baginda hendak menugaskan
padaku, meskipun orang tua hamba menutup mata, pasti hamba akan lakukan pergi ke
istana Ongya.”
Lalu mereka berdua ke luar dari kamar itu dan menaiki kuda untuk pergi ke istana
pangeran itu. Di sana meja perjamuan hanya berdua saja.
Selesai bersantap, Siau Po diajak ke kamar bacanya, Di sana mereka duduk ngobrol,
Pangeran itu sangat memuji Siau Po yang telah mewakilkan rajanya yang mensucikan
diri menjadi pendeta dalam kuil Siau Lim Sie sehingga ia dapat mengumpulkan jasa, ia
pun memuji pada Siau Po yang usianya sangatlah muda, ia sangat cerdas hingga
menjadi komandan muda, dari Gie Cian Sie Wie yaitu pasukan pribadi raja, merangkap
komandan pasukan berkuda istana.
“Maka itu saudaraku, masa depanmu tak akan ada batasnya.” puji sang pangeran,
Siau Po malah merendahkan diri.
Tiba-tiba Kong Jin Ong menghela napas,
“Saudara,” katanya, “Kita orang-orang sendiri, terhadapmu aku tak dapat
menyembunyikan apa-apa. Saudara tahu sekarang ini kakakmu sedang menghadapi
ancaman bencana besar dan itu tak luput denganku, keluarga, dan juga jiwaku….”
Siau Po mengawasi dengan tajam muka orang itu.
“Ongya, menjadi sanak dekat dengan raja dan raja pun sangat mempercayaimu lalu
ancaman dari manakah itu?” tanya Siau Po.
Kong Jin Ong menghela napas lagi, “Kau tak tahu, saudaraku” katanya, “DahuIu
setelah kami bangsa Boan Cu memasuki wilayah Toanggoan, oleh raja kami almarhum,
setiap kepala pasukan bendera telah diberi hadiah kitab suci. Kami dari bendera merah,
aku pun mendapatkan kitab itu, Selang beberapa lama, raja memintaku untuk
menyerahkan kitab itu, itu soal biasa tetapi kitab yang kusimpan itu telah lenyap, dan
aku tak mengetahuinya siapa yang telah mencurinya.” Siau Po berpura-pura heran.
“Sungguh aneh” katanya, “Emas perak adalah benda yang biasa dicuri, tetapi kitab
apakah ada harganya? Atau kitab itu terbuat dari emas seluruhnya ? Atau kitab itu
bertaburan permata yang harganya sangat besar?”
“ltu sama sekali bukan” kata si pangeran “ltu hanya kitab biasa saja, Kesalahanku
adalah aku telah lalai menyimpan kitab itu dengan baik, benda pemberian almarhum
raja. Dan itu berarti sangat tidak menghormat Aku khawatir raja akan meminta kitab itu
dan mencari tahu, Maka aku meminta bantuan padamu agar aku dapat lolos dari
bahaya yang ada ini.”

Selesai berkata, pangeran itu lalu memberi hormat pada Siau Po.
Melihat hal itu Siau Po menjadi sangat repot sekali untuk membalas hormatnya.
“Ongya terlalu merendah.” katanya, “Hambamu dapat mati karenanya.”
“Saudara” katanya, “Jika kau tak dapat menolongku maka pada hari ini aku akan
membunuh diriku.” kata sang pangeran tanpa menghiraukan orang yang di depannya
itu.
“Agaknya Ongya menganggap persoalan ini sangat hebat, biar nanti hamba yang
menjelaskan pada raja tentang kitab itu, guna memohon keringanan Aku percaya,
paling Ongya akan dipotong gaji atau akan diserahkan pada Ong Jin Hu untuk ditegur
Hambamu percaya perkara ini tidak akan meminta jiwa.,,.”
Pangeran itu lalu menggeleng kepala.
“Bagiku,” katanya, “Asal jiwaku dapat terlindung, walaupun gelar ku dicopot, itu tak
apa, Aku bersedia menjadi rakyat jelata, Untuk itu kami akan berterima kasih kepada
langit dan bumi, Aku akan merasa puas.”
“Benarkah kitab itu demikian pentingnya?” tanya Siau Po yang pandai bermain
sandiwara.
“Oh, yah, Aku ingat sekarang, Baru-baru ini ketika di rumah Go Pay, ibu suri
memerintahkan aku untuk mencari kitab-kitab itu. Apakah Ongya kehilangan kitab
tersebut?”
Pangeran itu mengangguk “Ya, aku kehilangan kitab itu.” sahutnya mengatakan
dengan sebenarnya.
“Selama menggeledah rumah itu, Go Pay ibu suri tak menemui apa-apa kecuali kitab
itu, maka kitab itu dianggap bukan barang berharga…. Nah, saudaraku apakah kau
sanggup mendapatkan kitab itu atau tidak?”
“Dapat dicari” kata Siau Po.
“Go Pay si jahanam telah menyimpan kitabnya di goa dalam tanah, di bawah ubin
tempat tidurnya, hingga untuk mendapatkannya aku harus menguras keringat Apakah
yang aneh dari kitab itu? Mari akan aku ajak ke kuil pendeta Buddha untuk mengambil
kitab itu sebanyak delapan atau sepuluh jilid, Untuk Ongya aturkan pada raja.”
Kong Cin Ong menggeleng kepala.
“Kau keliru.” katanya, “Kitab itu lain dengan kitab-kitab yang ada di kuil itu.”
“Jikalau demikian sukar juga.” kata Siau Po yang terus berpura-pura tak mengerti.

“Habis Ongya dalam hal mengapa hamba yang diminta tolong ini”
“Sebenarnya hal itu tak dapat menyebutnya.” sahut pangeran, “Habis, mana dapat
aku menyuruh kau, saudaraku jadi menghina raja,
Siau Po menatap raja muda itu, Dia sangat kasihan dengannya, Siau Po bersedia
menggantikan raja muda itu untuk menerima hukuman dari raja.
Siau Po menyarankan agar raja muda itu memberitahukan pada raja kitab itu telah
dipinjamkan dan kali ini kitab itu hilang, Tetapi raja muda itu tak setuju dengan usul Siau
Po. Karena raja muda itu telah tahu kalau Siau Po itu buta huruf.
Siau Po tetap bersikeras akan membantu raja muda itu, ia akan memotong lehernya
sebagai tanda jika ia setia pada raja muda itu dan untuk membalas budi baiknya.
Raja muda itu lalu memerintahkan pada Siau Po untuk mencuri kitab yang ia
temukan di kamar ibu suri itu, Dia akan memalsukan kitab itu lalu yang palsu tersebut
serahkan pada raja muda yang selanjutnya diserahkan pada baginda raja Kong Hie
dengan demikian ia terbebas dari ancaman raja.
Siau Po lalu bertanya pada pengeran itu.
“Apakah kitab itu dapat dipalsukan hingga tak kentara yang mana yang asli dan yang
mana yang palsu?” tanyanya.
“Dapat, Pasti kitab itu akan dapat dipalsukan dengan sempurna selalu, Setelah
selesai kita menirunya, kitab harus dikembalikan pada pemiliknya, Aku akan menjamin
kitab itu tak kurang suatu apa, guna menjaga keselamatan kita.”
Sebenarnya pangeran itu berniat jahat pada Siau Po. Apabila Siau Po berhasil
mencuri kitab itu ia akan menukar kitab yang palsu diberikan pada Siau Po sedangkan
yang asli akan ia serahkan pada raja.
Niat jahat raja itu tidak dapat diketahui oleh Siau Po, ia lalu kembali ke kamarnya,
sesampainya di kamarnya Siau Po mengambil kitab kitab itu yang jumlahnya baru tujuh
buah hanya kurang satu Kekurangan kitab yang hanya satu itu menjadikan kitab-kitab
itu tak berarti apa-apa.
Setelah ia pikirkan dengan matang, ia mengambil kesimpulan bahwa ia tak akan
memberikan kitab yang diminta pangeran itu.
Besok pagi nya Siau Po berkata dalam hati, “Kong Cin Ong menjadi pemimpin utama
dari bendera merah, dan kitab yang dimaksud itu tentu kitab yang pinggirannya merah.
Karenanya baik aku berikan kitab yang pinggirannya kuning…”
lalu ia mengambil kitab kuningnya untuk diberikan pada pangeran itu.

Begitu diberitahukan kedatangan Siau Po, Dengan bergegas ia menyambutnya lalu
mengajak bersalaman dan menggenggam erat-erat tangan Siau Po.
“Bagaimana?…. Bagaimana?….” Demikianlah pangeran itu bertanya pada Siau Po
dengan berulang-ulang.
Siau Po mengernyitkan sepasang alisnya, ia memperhatikan wajah pangeran itu
sangat resah, ia pun menggelengkan kepalanya.
Bukan kepalang terperanjatnya si pangeran.
Dia merasa tertipu hatinya bagaikan tertindih berat sekali.
“Memang urusan sangat suIit.,.” katanya.
“Tetapi, walaupun sekarang kita belum berhasil…”
Tidak menanti pangeran itu berbicara habis, Siau Po menyahut dengan perlahan.
“Sebenarnya kitab telah aku dapatkan, namun aku khawatir Dalam tempo sepuluh
hari atau setengah buIan, mungkin kita belum berhasil untuk menirunya….”
Mendengar demikian, pangeran mendadak menjadi girang, karena kitab itu telah
berhasil didapatkannya, ia bangun dan memeluk tubuh Siau Po terus thay-kam itu
diajak masuk kamar tulisnya.
Sesampainya Siau Po di kamar tulis raja, ia lalu mengeluarkan kitab itu dan
memberikannya pada pangeran.
“Benar. Tidak salah lagi maka mulailah kita meniru, Oh ya, aku dapat akal,
bagaimana jika aku pura-pura jatuh dari kuda dan setelah kitab itu selesai barulah aku
menyerahkan kitab itu pada raja, Coba kau pikir akal itu, dapat dipakai atau tidak?”
tanyanya.
Siau Po menggelengkan kepala.
“Sri baginda sangat cerdik.” katanya. “Akalmu itu tak sempurna bagaimana jika ia
curiga? Kau juga harus memikirkan kitab itu? Apakah cuma pinggirnya kuning? Apakah
tak ada kelainannya?”
“Memang cuma pinggirnya dan semuanya sama.” katanya,
“Jikalau demikian coba Ongya ubah pinggirnya dan serahkan pada baginda” kata
Siau Po.
Pangeran itu berpikir Benar juga pendapat Siau Po, tetapi jika hal ini sampai
ketahuan raja maka bukan saja pangeran yang kena tetapi juga Siau Po.

Hati pangeran itu sangatlah risau memikirkan hal itu. Siau Po kembali ke istana dan
mengambil empat kitabnya terus pergi mencari Ay Cun Cia dan Liok Ko Han.
“Liok San Seng, cepat kau pergi dan serahkan keempat kitab ini pada Kaucu dan Hu
Jin dan katakan padanya bahwa aku telah berhasil mendapatkan kitab ini dan untuk
yang empatnya lagi aku sudah mendapatkan keterangan dan salah satu yang
mengetahui Gauw Sam Kui. Dan katakan padanya kalau aku akan setia, Dan aku
sekarang akan pergi ke propinsi In Lam dan akan mengajak kalian”
Kedua orang tersebut diam saja dan menurut apa yang dikatakan Siau Po, dan Ay
Cun Cia berkata.
“Saudara Liok, Pek Liong Sie, telah membuat jasa besar. Dengan demikian kita ada
manfaatnya dan bukankah Kaucu telah memberikan obat pemusnah racun padamu?
Maka kita harus cepat menyuruh orang pergi membawanya.”
Liok Ko Han memberikan obat itu pada Siau Po lalu mereka berdua meminumnya
sehingga melayani atasannya yaitu Siau Po.
Siau Po tertawa.
“Bagus…. Bagus.,.” pujinya, “Kau begitu setia dan baik terhadapku Maka untuk itu
tak mungkin aku dapat melupakan kebaikkanmu.”
“Semoga Pek Liong Su mendapat rejeki dan usianya sama dengan gunung selatan”
kata mereka.
Tak lama, sekembalinya Siau Po ia lalu dihampiri seorang thay-kam.
Thay-kam itu membawa keputusan raja yang menghadiahkan padanya Cu Ciak
tingkat satu, serta diangkatnya menjadi wakil dari raja untuk menghadiri pernikahan
putri raja dengan anak Gauw Sam Kui.
Gauw Sam Kui adalah seorang bangsawan yang menguasai propinsi In Lam dan ia
menjadi raja muda di sana, Anaknya yang akan menikah dengan putri itu mendapat
gelar Ceng Kie Niesaphoan tingkat tiga dengan tambahan wali putra mahkota.
Dalam hati Siau Po berkata putera Gauw Sam Kui telah diberi gelar yang sangat
tinggi itu semata-mata agar Gauw Sam Kui menganggap kaisar baik hati tetapi setelah
itu barulah kepalanya dipenggal.
Memikir demikian ia menjadi puas. ia lalu menjenguk raja untuk mengucapkan katakata
terima kasih dan ia berkata.
“Kali ini hambamu akan pergi ke In Lam untuk menjalankan tugas jika baginda
mempunyai pikiran yang baik sudilah Baginda memberitahukan pada hamba”

Kaisar itu tertawa dan berkata. “Siau Kuicu tak terpelajar maka itu biarlah rahasia itu
ada pada kantungnya Lagi pula rahasia itu tak dapat dibuka juga kepadamu”
Ketika sedang berbincang-bincang, datanglah pengawal yang mengatakan bahwa
adik raja minta diri untuk menghadap, Baru saja pengawal itu berlalu putri sudah
muncul.
Kedatangan putri kali ini sangatlah mengejutkan hati raja karena ia meminta agar raja
mau menarik keputusannya itu.
“Tidak… tidak Aku tak mau menikah ke In Lam. Kakak raja, tolonglah aku, tarik
pulang keputusan itu” ratapnya.
“Kalau seorang anak wanita dewasa, sudah selayaknya ia dinikahkan atau
mengawinkannya dan untuk keputusanku itu tak mungkin dapat ditarik kembali” jawab
sang raja.
“Benar.,., Benar” sahut Siau Po.
“Pemuda calon tuan putri itu sudah kesohor ketampanannya. Dan baru-baru ini
ketika ia datang ke kotaraja ada beberapa wanita yang pada berkelahi karenanya itu”
sahut Siau Po.
Kian Leng kongcu melongo.
“Kenapa mesti terjadi hal yang demikian?” tanyanya.
“Putra Peng See Ong itu terkenal karena gantengnya” kata Siau Po yang
mengetahui maksud hati raja.
“Maka itu sewaktu ia datang ke kotaraja banyak nona-nona yang ingin meIihatnya.
Mereka berdesak-desakan dan berkelahi satu dengan lainnya yang akhirnya ada di
antara mereka ada yang mati” katanya.
Putri itu dari menangis menjadi tertawa.
“Kau mendustaiku” katanya, “Tak mungkin terjadi peristiwa semacam itu”
Siau Po tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya mengawasi tuan putri itu.
“Tuan Putri” katanya, “Dapatkah Tuan Putri menerka hamba ditugaskan ke In Lam?
Bahkan hambamu juga dipesan untuk membawa banyak Sie Wie untuk melindungi
Tuan Putri?” tanyanya.
“Itu dikarenakan raja sangat menyayangi aku” kata putri.

“Benar, Tuan Putri ini juga menandakan bahwa Baginda sangat cerdas dan ia
berpikir ke depan Coba pikir pemuda itu adalah orang yang terganteng di sana dan
Tuan Putri akan menjadikan dia suami, Bagaimana hati nona-nona itu. Mereka yang
patah hati biasanya suka melakukan perbuatan yang kurang sopan dan sembrono
maka itu di antara mereka itu pastilah ada yang pandai bermain silat, Untuk itu hamba
di perintahkan raja mengawal Tuan Putri dengan membawa banyak Sie Wie Dapat
dibayangkan bagaimana sulitnya mencegah nona-nona yang sedang patah hati itu”
katanya.
Kian Leng kongcu tertawa..
“Ah, kau bisa saja, Kau pandai sekali berbicara tidak karuan arahnya” tukas si putri
itu.
Ketika tertawa putri raja itu tampak semakin cantik dan manis.
Kemudian Kian Leng berpaling pada raja dan berkata.
“Kakak raja, setelah aku menikah nanti biarlah ia tinggal bersamaku di sana untuk
teman ngobrolku, jika kakak raja tak mengabulkannya aku tak ingin berangkat ke sana.”
Kaisar Kong Hie tertawa.
“Baik… baiklah” katanya, “Biarlah untuk beberapa waktu ia akan tinggal di sana
sampai kau merasa kerasan tinggal di sana”
“Aku menghendaki ia tinggal bersamaku” kata si putri, “Aku sangat tidak setuju
mendengarkan kata-kata itu.”
“Mana mungkin” katanya dengan cepat.
“Bagaimana kalau Gauw Eng Him bosan melihatku? Bukankah ia dapat membacok
batang leherku? jikalau sampai terjadi hal yang demikian maka tak mungkin hamba
dapat kembali ke mari”
Kiang Leng mencibirkan bibirnya.
“Hm, tak mungkin ia berani demikian” katanya sedang yang dituju yaitu calon
suaminya.
Siau Po lalu berdiam dan tak lama kemudian ia lalu berpamitan pada raja,
sesampainya di luar Siau Po disambut oleh beberapa Sie Wie yang sangat girangnya
sebab yang diutus adalah Siau Po.
Bukan hanya Sie Wie tetapi juga thay-kam. Sie Wie itu mengharapkan dapat ikut
bersamanya, Mereka dapat melihat Gauw Sam Kui, kota yang mirip negara dan banyak
hartanya, Dengan demikian mereka jadi mendapatkan hasil banyak pergi ke sana.

“Saudaraku, kitab sudah ku berikan pada raja dan ia sangat memujiku” kata sang
pangeran yang meniru kitab itu.
“Bagus itu” ujar Siau Po.
Raja muda itu menjabat tangan Siau Po, lalu ditarik dan diajak ke luar istana, ia tak
membawa ke istananya tetapi ke arah timur di mana terdapat gedung yang sangat
megah.
“Saudaraku, kau lihat bagaimana gedung ini” katanya.
Siau Po mengawasi dengan kagum.
“Bagus dan megah” ujar Siau Po.
Kemudian Siau Po diajaknya untuk masuk. Ternyata di dalam ruangan sudah
terdapat banyak orang, Merekalah para pembesar istana.
“Hari ini kita memberikan kata selamat pada Wie Tayjin karena telah naik pangkat
seharusnya ia mengambil tempat duduk pada meja istimewa yang dihormati Akan tetapi
karena gedung ini akan dilimpahkan kepada nya, maka, baiklah mari kita persilahkan ia
duduk selaku tuan rumah dan bukan tamu yang terhormat” kata Kong Cin Ong.
Bagian 54
Siau Po heran mendengar ucapan yang terakhir tadi.
“Persahabatan kita lain dari pada yang lain, Dan diantara kita tak ada perbedaan”
katanya
“Mari…. Mari, semuanya minum siapa yang tidak minum maka sampai sinting tak
akan dapat pulang kembali ke rumahnya masing-masing”
Pesta benar-benar berjalan dengan sangat meriah
Siau Po berpikir dan berkata dalam hatinya, “Jika saja tempat ini aku jadikan sebagai
tempat pelesiran, tentu aku akan mendapatkan uang yang sangat banyak”
Besok paginya Siau Po menemui Kui Lan untuk memberitahukan padanya, bahwa ia
akan pergi ke propinsi In Lam untuk melaksanakan tugas dari raja. Yaitu menikahkan
putri raja pada putra Gauw Sam Kui, Peng See Ong atau raja muda.
Siau Po sangat girang karena ia ditemani langsung olehnya dan ditambah lagi
dengan turutnya A Ko pada perjalanan itu.

Sebelurn berangkat Siau Po mampir pada gurunya dan melaporkan tugas itu.
“Raja demikian menghormatinya, dan hal itu hanya bersifat sementara, Hal itu yang
membuat kita menjadi sulit untuk menangkapnya, maka kita harus mencari-cari alasan
agar ia mau melakukan perlawanan pada kita dan membuat huru-hara, Sebab jika tidak,
maka kita yang akan dicurigai mereka. Dan karena Ji kongcu telah diculik maka aku
harus menolongnya, Karena itu aku tak dapat ikut serta dengan kalian, Jika kalian
memerluka bantuan, bawalah serta saudara-saudara seperguruannya.
“Suhu Bukankah orang yang akan kau tolong itu orang jahat? Menurutku lebih baik
suhu tak usah menolongnya, karena aku khawatir nanti setelah kita menolongnya ia
akan mendatangkan bencana bagi kita”
Tan Kiu Lan menghela napas panjang.
“Kau benar,” katanya. “Akan tetapi Kok Seng Ya dan Ongya sangat baik sekali, Maka
untuk membalas budi mereka, meskipun harus mati tak mungkin aku dapat
membalasnya, sedangkan yang akan aku tolong adalah anak yang paling ia sayang”
“She Liong sangat menjemukan Bagaimana jika aku mengatakannya pada raja
untuk memenggal kepalanya?” tanya Siau Po.
Kiu Lan bangkit berdiri. “Janganlah kau berbuat demikian, Kalau kita melakukan hal
yang demikian maka itu bukanlah tindakan orang gagah” kata gurunya.
“Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan suhu, aku pun tak akan membawa
saudara-saudara kami ikut denganku” katanya.
Kiu Lan lalu menepuk bahu muridnya itu.
“Mengenai Gauw Sam Kui adalah hal yang sangat penting, maka itu kau harus
memusatkan pikiran dan juga tenagamu, Nanti setelah aku berhasil menolongnya, aku
akan menyusulmu ke sana, Aku tak menginginkan ia yang mendahului kita.” kata
gurunya.
Siau Po mengangguk.
“Coba kau buka mulutmu?” kata gurunya.
“Racun dalam tubuhmu belum juga lenyap”
Selang beberapa hari Siau Po mempersiapkan hal yang akan dibawanya menuju ke
In Lam.
Setelah mohon diri pada raja dan ibu suri ia lalu berangkat beserta A Ko yang meniru
sebagai dayang, dan kawan-kawannya yang meniru sebagai para pengikut Siau Po.

Demikianlah perjalanan menuju ke In Lam.
Seperti biasanya tuan putri selalu memanggil Siau Po untuk teman bicaranya, Setiap
kali Siau Po dipanggil ia selalu membawa temannya sebagai pengawalnya.
Hal itu sering dilakukan Siau Po sewaktu mereka dalam perjalanan sampai sekarang
telah tiba di In Lam.
Kali ini Siau Po dipanggil dengan tuan putrinya dan ia pun tak lupa membawa kawankawannya
itu. Tetapi kali ini tuan putri memanggil dan ia menggunakan pakaian yang
sangat tipis, Siau Po terus mengawasinya.
“Siau Po apakah kau merasa gerah?” tanya pengawalnya.
“Tidak” jawabnya.
“Tetapi mengapa dahimu berkeringat?” tanyanya lagi.
Siau Po lalu mengusap dahinya yang berkeringat itu dengan ujung bajunya sampai
kering.
Siau Po lalu diberi minum oleh tuan putrinya, Tetapi setelah mereka meminum arak
pemberian tuan putri itu kepala mereka menjadi sangat pusing dan satu persatu terjatuh
pingsan.
Setelah beberapa waktu lamanya pingsan Siau Po tersadar Siau Po lalu mengawasi
isi kamar itu. Ternyata mereka hanya berdua saja dan yang lebih mengagetkannya yaitu
Siau Po berada dalam keadaan telanjang bulat.
“Mana kedua kawanku itu? Dan mengapa kau berbuat seperti ini apa yang kau
inginkan?” tanya Siau Po.
“Aku sebel dengan mereka itu Para pengikutmu tadi sudah aku perintahkan untuk
memenggal mereka berdua” kata tuan putri.
“Apakah sari buah tadi telah kau campur dengan obat bius?” tanya Siau Po.
Kian Leng kongcu tertawa, “Kau sungguh cerdik tapi sayang kau sudah terlambat.”
kata tuan putrinya.
“Dan pasti obat itu kau dapat dari para Sie Wie itu?” tanyanya.
Kembali Kian Leng tertawa.
“Segala sesuatu dapat kau ketahui, tapi kau tak mengetahui sari buah tadi ada obat
biusnya atau tidak.” kata putri itu.

“Aku memang mengetahuinya, dan sekarang kau bebas melakukan apa yang akan
kau lakukan pada diriku ini. Bukankah kaki dan tanganku sudah kau ikat?” katanya.
Kian Leng kembali tertawa.
“Jika kau membuka mulut kau akan rasakan pisau belatimu ini” ancam tuan putri itu.
Siau Po berpikir, tahu kalau tuan putrinya itu sangat takut pada setan atau pun
sejenisnya, Maka setelah ia mengetahui kelemahan lawan, ia berusaha
mempengaruhinya dengan cerita-cerita yang menakutkan itu.
“Jika hal itu sampai terjadi maka aku bukan lagi sebagai thay-kam hidup atau thaykam
mati, melainkan akan menjadi iblis yang sangat jahat dan aku akan menggodamu
selama-lamanya.”
“Kau akan menakut-nakuti aku, yah?” kata si putri.
Siau Po lalu didupak beberapa kali dan itu membuat Siau Po menjadi ingin
membuang hajat.
“Aku paling suka rnencambuk orang.” katanya dan lalu mengambil cambuk yang
terdapat di bawah kasur.
Tubuh yang tanpa sehelai benang pun dicambuk beberapa kali dan akhirnya bekas
cambukan itu mengeluarkan darah segar.
Melihat hal itu tuan putri malah tertawa dengan senangnya dan ia mengusap-usap
luka yang terdapat pada tubuh Siau Po.
“Bukankah kau yang mengusulkan agar aku menikah dengan orang yang belum aku
kenal itu?” tanyanya.
“Bukan.,., Bukan aku, itu perintah raja.” jawabnya.
“Tapi mengapa aku harus menikah dengan dia dan biasanya ibu suri sangat
menyayangi aku tetapi sewaktu aku hendak pamitan ia nampak acuh saja padaku?”
tanyanya.
Setelah berkata demikian tuan putri itu mendekap mukanya dengan telapak
tangannya dan menangis.
Hanya sebentar tuan putri itu menangis lalu kembali marah dan mendupak beberapa
kali pada Siau Po.
Siau Po menahan rasa nyeri.

“Kongcu, kau tak ingin menikah dengannya mengapa kau tak mengatakan padaku?
Aku sudah mempunyai jalan yang terbaik untuk kita.” kata Siau Po.
Kian Leng lalu menghentikan tendangannya, ia pun memasang telinganya untuk
mendengarkannya.
“Kau akan mendustaiku? Lalu apa yang akan kau katakan?” tanya tuan putri itu.
“Memang tak ada yang dapat merubah keputusan raja tetapi kita dapat
melakukannya dengan tidak menentang keputusan itu.” katanya.
“Lalu bagaimana caranya?” tanya tuan putri.
“Di sana ada orang yang sangat disegani dan raja sendiri tak dapat melakukan apaapa
kita butuh seseorang.” katanya.
“Siapa orang itu?” tanya tuan putri.
“Dialah Giam Lo Ong, Nanti dia yang kita gunakan tenaganya untuk membekuk calon
suami putri dan nanti ia tak akan dapat menikah dengan tuan putri. Dengan demikian
kita tak melakukan pelanggaran pada keputusan raja.” kata Siau Po.
Kian Leng tetap menatap wajah orang yang menjadi tahanan, ia heran dan berpikir.
“Kau mengajari aku membunuh suamiku?” tanyanya.
“Tidak, Bukan kita yang membunuhnya” kata Siau Po.
Mendengar hal demikian tuan putri jadi marah dan ia memulai mencambuk tubuh
Siau Po yang sudah bermandikan darah itu lagi.
“Apakah kau merasa nyeri? Jika kau merasa nyeri aku semakin senang sekali.”
Sambil berkata tangannya terus saja mencambuk tubuh Siau Po.
Kemudian tuan putri itu hendak membakarnya dengan terlebih dahulu ia menyiram
tubuh itu dengan minyak.
Berpikir demikian, tuan putri itu pergi mencari minyak.
Siau Po berpikir bagaimana caranya dapat membebaskan diri dari tuan putrinya itu.
Tak lama terdengar suara yang berasal dari luar kamar tuan putri Siau Po mengenali
betul suara itu suara gurunya.
Siau Po sangat girang sekali kedatangan gurunya sangatlah tepat, Maka ia laju
mengatakan apa yang terjadi pada dirinya. Ternyata gurunya itu tak dapat
menolongnya, sebab Siau Po telanjang bulat sedang ia seorang peribadat dan yang
seorang lagi wanita.

Belum sempat sang guru menolong muridnya, tiba-tiba terdengar suara tuan putrinya
yang kembali dari mencari minyak.
Tampak tuan putri itu tak membawa minyak tanah atau minyak sayur
Tuan putri itu lalu membakar dada Siau Po yang baunya sampai ke luar kamar Hal itu
membuat sang guru menjadi tak tahan lalu dengan cepat ia membuka pintu kamar itu
dan menyambar tubuh Siau Po.
“Lekas tolong Siau Po” perintahnya pada nona A Ko.
A Ko bukannya menolongnya melainkan malah menyerang tuan putri dan
membuatnya tak berdaya.
Menyaksikan hal itu tuan putri lalu mendamprat dengan kasarnya pada A Ko.
“Kau sendiri yang jahat masih mau ngomeli orang” kata A Ko yang sedang dongkol
itu.
Setelah mendamprat tuan putri, A Ko menangis. Hal itu yang membuat tuan putri
menjadi heran.
Tak lama A Ko menangis, ia lalu mengambil pisau belati untuk membuka tambang
yang mengikat tangan Siau Po. ia lalu memberikan pisau itu padanya lalu meninggalkan
kamar itu.
Para dayang sebenarnya telah mendengar suara ribut-ribut dalam kamar tuan
putrinya, tetapi karena sebelumnya semua sudah dipesan, maka mereka tak ada yang
berani berbuat yang tidak-tidak.
Setelah tangannya dibuka dari ikatannya Siau Po lalu membuka tutup mulut dan ikat
kakinya, ia mendekati tuan putri yang sedang merasakan sakit karena A Ko berhasil
mematahkan tangannya.
Siau Po lalu mengikat tangan tuan putrinya dan menyobek baju wanita itu pada
bagian dadanya, Maka dengan demikian tampaklah buah dada yang montok dan mulus
itu.
Saking bengisnya Siau Po lalu membakar dada nona itu.
Kian Leng kongcu menjerit menahan rasa sakit,
“Tak apa, kau pun harus merasakan rasa itu dan juga sari dari kaos kakiku ini.” kata
Siau Po yang kemudian menyumbat mulut wanita itu dengan kaos kaki nya.
“Sudah, jangan kau sumbat mulutku aku berjanji tak akan membuka mulut lagi.”
katanya.

Siau Po tak jadi membakar tuan putrinya, “Kui Pee Lek, jika kau ingin membakar aku
maka bakarlah aku. Dan jika kau ingin mencambuk aku maka cambuklah aku biar
hatimu puas” kata tuan putri itu.
“Memang aku akan mencambukmu dan membakarmu.” jawab Siau Po.
Siau Po lalu menghajar tuan putri itu beberapa kali tetapi yang dihajar bukannya
merintih kesakitan melainkan sebaliknya malah tertawa kegirangan.
“Oh, budak hina Kau merasa senang,ya?” tanya Siau Po.
“Ya. Akulah si budak hina dan kau hayo hajarlah aku” kata tuan putri itu sambil
tertawa.
“Mana pakaianku?” tanya Siau Po.
“ToIong perbaiki dahulu tulang sikutku, nanti aku akan membantumu mengenakan
pakaianmu.” kata si putri.
Siau Po berpikir dan berkata dalam hati, “Aku harus menghajar dia agar mau
menunjukkan tempat pakaianku.”
Tetapi malah sebaliknya tuannya itu malah tertawa.
“Cepat kau perbaiki tulang sikutku atau kau tak mendapatkan bajumu yang kusimpan
itu” katanya.
Terpaksa Siau Po menolongnya, sejak tadi tubuh mereka selalu beradu dan
keduanya tak mengenakan sehelai benang pun.
“Duduklah kau yang benar agar aku dapat menolongmu” katanya.
“Lagakmu seperti lagak istriku saja” kata Siau Po.
“Aku justru ingin kau anggap sebagai istrimu.” katanya.
Setelah berkata demikian tuan putri merangkul tubuh Siau Po dengan eratnya dan
menciumnya.
Tak lama kemudian tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari luar kamar.
“Siau Po kau berada di dalamkah?” tanya A Ko.
“Ya…. Ya,” sahut Siau Po.
“Sedang apakah kau?” tanya A Ko.

“Tidak, aku tidak berbuat apa-apa.” jawab Siau Po.
“Siapa dia?” tanya tuan putri,
“Dialah istriku.” jawab Siau Po. “Cepat kau suruh dia pergi bukankah aku ini istrimu?”
kata tuan putri,
Mendengar ucapan itu A Ko cepat pergi, Dengan sakit hatinya karena mendengar
kata-kata putri itu.
“Sucie…. Sucie” panggil Siau Po berulang-ulang,
Tetapi A ko tetap saja pergi meninggalkan Siau Po.
Tidak ada jawaban dari A Ko.
Maka pada pagi harinya rombongan melanjutkan perjalanan ke propinsi In Lam.
Pada suatu hari mereka tiba juga di tempat tujuan, Belum lagi mereka memasuki batas
propinsi di sana sudah berada pasukan penyambut yang dikirim Gauw Sam Kui.
Pasukan itu berada di bawah pasukan pimpinan Ma Po. ia berpangkat brigadir jenderal
Siau Po pernah bertemu dengannya di kuil Siau Lim Sie.
Ketika itu Kian Leng bergaul dengan rapat dengan Siau Po mendengar Eng Him
yang menyambut kedatangannya. Maka tuan putri itu kumat tabiat aslinya.
Kian Leng menatap kekasihnya itu, ia mendongkol melihat Siau Po berdiam saja. ia
menegur dengan suara keras.
“Kenapa kau bungkam?” Bukankah kau yang mengatakan mulanya?” Pikiran itu toh
bukan ke luar dari hati mulutku untuk membunuh calon suamiku.”
“Memang ia harus dibinasakan, akan tetapi kita harus menanti kesempatan yang
baik,” kata Siau Po.
Mendengar kata-kata keras itu Siau Po menjadi gusar, Tangannya menampar telinga
putri sambil membentak. Yang dibentak malah tertawa.
Siau Po terdiam.
Pada suatu hari mereka datang ke ibukota propinsi In Lam. Atas laporan yang
diberikan pada Siau Po, Peng See Ong datang menyambut tuan putri, ia menyambut
dengan beberapa tentara yang seragamnya sangat bagus.
Menyusul terdengar suara musik dan beberapa pasukan yang menggunakan
seragam merah, Siau Po mengawasi panglima perang itu sambit

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s