“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 70

kau telah pulang The kongcu?”
Kek Song heran sehingga ia menoIeh.
“Digigit apakah,” tanyanya.
A Ko pun heran sehingga ia mengawasi si pemuda itu dari bawah ke atas, Akan
tetapi ia mendapatkan tubuh pemuda bangsawan itu tak kurang suatu apa, maka
hatinya menjadi lega.
Sek Hoan menghampiri Siau Po, Dia masih tetap duduk di atas kudanya.
“Siapakah anak muda ini?” tanyanya.
“Dialah Sute dari nona Tang,” Kek Song menjawab.
Sek Boang mengangguk.

Siau Po mengawasi guru silat bertubuh kurus dengan kulit kehitam-hitaman itu,
kumisnya mirip ekor burung walet, matanya cekung hingga bagaikan hantu berpenyakit
paru-paru. sementara itu ia ingat kawan-kawannya, maka lantas berkata, “Phang suhu,
kau lihay sekali Dengan mudah kau berhasil menolongi The kongcu Bagaimana
dengan si Boan Cu, apakah batang lehernya dapat dipatahkan?”
“Boan Cu?” sahut Sek Hoan, “Boan Cu apakah? Boan Cu teteron”
Siau Po kaget tapi ia berlaku tenang, “Boan Cu teteron?” ia mengulangi “Habis,
mengapa mereka pandai berbahasa Boan Cu?”
A Ko sementara itu ingat gurunya, membuatnya bingung.
“Aku khawatir guruku bingung andaikata sadar, tetapi ia tidak melihat aku….”
katanya.
“Mari, kita kembali” Siau Po mengajak
Si nona mengawasi Kek Song sebelum ia memberikan jawabannya.
Anak muda itu mengerti, lantas berkata pada Sek Hoan: “Suhu, mari kita bersamasama
pergi ke rumah penginapan, untuk makan. Habis itu, kita beristirahat.”
Sek Hoan setuju, maka berangkatlah mereka bersama-sama.
Di tengah jalan, Siau Po tanya Kek Song bagaimana dia menolongnya, Pemuda She
The itu lantas memuji tinggi pada gurunya, maka juga lega hati si kacung yang
mengetahui pasukan “Boan Cu” sudah dibubarkan dalam beberapa gebrak saja, tapi
pimpinannya tak tertawan.
“Sukur” kata Siau Po dalam hati, Dengan demikian, Yok Ek Jie menjadi tidak kurang
suatu apa.
Rombongan ini tiba di penginapan, langit sudah terang, Kiu Lan sudah bangun dari
tidurnya, Meskipun tidak melihat A Ko dan Siau Po, ia tidak khawatir, sebab ia menerka
muda-mudi itu tentunya sedang pergi menolongi Kek Song.
Kek Song mengajar kenal gurunya pada waktu itu.
Kiu Lan melihat wajah orang yang tak menarik hati, sebaliknya ia mengagumi sinar
mata orang yang tajam, maka katanya di dalam hati: “Dia bergelar It Kiam Bu Hiat, pasti
benar dia lihay ilmu silatnya”
Selesai sarapan, Kiu Lan berkata pada Kek Song, “Kongcu, kami mempunyai urusan,
Di sini kita harus berpisah”

Lantas dengan mengajak A Ko dan Siau Po, Kiu Lan meninggalkan rombongan
pemuda She The itu. Si nona sangat berduka, Kedua matanya menjadi merah, hampir
dia menangis, Sebab dia harus berpisah dari si anak muda.
Siau Po sebaliknya bersyukur, bahkan di dalam hatinya dua memuji “Semoga suhu
panjang umur sempai seratus tahun serta banyak rezeki Semoga Sang Buddha
melindunginya.,.” Kemudian dia tanya, “Suhu, kita menuju ke mana?”
“Ke Pakkhia,” sahut sang guru singkat “Kalau anak She The itu menyusul siapa pun
jangan memperdulikan, ingat siapa tidak dengar pesanku ini, akan aku bunuh pemuda
itu” lanjutnya kemudian A Ko kaget, dia heran sekali.
“Suhu, kenapakah?” tanyanya,
“Tidak apa-apa” sahut sang guru. “Aku suka pada kesucian, aku tak mau orang
mengganggu ketenanganku”
Si nona berdiam Tak berani ia minta penjelasan Akan tetapi lewat sesaat ia tanya,
“Bagaimana jikalau aku bicara dengan Sute?” Dengan “Sute” adik seperguruan,
maksudnya ialah Siau Po.
“Sama saja, akan aku bunuh dia seperti The kongcu” jawab si guru.
Mendengar jawaban itu, tak dapat Siau Po menguasai diri, dia tertawa, Dia puas
sekali.
“Suhu, suhu kurang adil” kata si nona, “Lihat Sute sengaja memancing orang
bicara”
Guru itu mendelik kepada murid wanitanya itu, “Kalau she The itu tidak datang ke
mari, mana bisa Siau Po berbicara? jikalau dia melihat aku tanpa henti, aku pasti akan
merampas jiwanya”
Siau Po bertambah girang, sampai dia seperti lupa diri, Dia menarik tangan gurunya
itu untuk dicium.
“Pergi” Sang guru mengusir sambil menarik pulang tangannya, Akan tetapi di dalam
hati merasa puas, Selama dua puluh tahun belum ada orang yang berlaku demikian
akrab dengannya, Murid itu agak gegabah tapi selalu berlaku sungguh-sungguh. Maka
itu ia menegur sambil tersenyum.
A Ko mengalirkan air mata menyaksikan sikap gurunya itu. Sebab, di matanya si guru
sudah berlaku berat sebelah terhadapnya, ia pun berduka sebab tidak tahu sampai
kapan bakal bertemu pada si pemuda yang sekarang ini entah berada di mana….
Lewat tiga hari, Kiu Lan bertiga sudah kembali ke Pakkhia, Kotaraja. Si Bhiku
memilih sebuah penginapan kecil di kota bagian timur, di tempat yang sepi.

Kiu Lan masuk ke kamar Siau Po dan bertanya, “Coba terka apa perlunya kita
kembali ke kotaraja ini?”
“Menurut terkaanku,” sahut sang murid, “Kalau bukan karena urusan nona To,
pastilah untuk masalah kitab pusaka itu….”
Kiu Lan mengangguk.
“Tidak salah” ujarnya, “Ya, buat beberapa kitab pusaka itu.” ia berdiam sebentar, ia
seperti memikirkan sesuatu, habis itu, ia menambahkan “Aku menyesal merasa terluka.
Memang benar Siapa pandai, kepandaiannya, tetap terbatas, Demikian juga urusan
besar, yang harus diurus bersama. Lihat urusan Sat Kui Tay Hwe di Hokan itu. Maksud
itu baik- sekarang aku insaf. Andaikata kita berhasil membunuh Gauw Sam Kui satu
orang, negara kita tetap berada dalam genggaman bangsa Boan Cu Apa gunanya
akan melampiaskan saja sedikit rasa mendongkol? Tidak demikian apabila kita berhasil
mendapatkan kitab pusaka musuh, yang dapat membuat kita mampu memotong urat,
yang disebut otot naga itu Habis itu kita menyerukan masyarakat untuk berbangkit
guna bekerja sama menumbangkan kerajaan musuh”
“Benar-benar” si kacung menyambut gurunya itu,”,Suhu benar”
“Maka itu aku hendak beristirahat lebih jauh” kata guru itu. “Aku percaya, selewatnya
setengah bulan lagi, aku akan sudah sembuh. Maka waktu aku mau pergi menyelundup
masuk ke istana guna mencari selebihnya kitab pusaka itu….”
“Baik suhu,” kata Siau Po. “Sementara itu, aku pikir, sekarang baiklah aku yang lebih
dahulu menyelundup ke istana, Mendengar-dengar dan meIihat-Iihat. Siapa tahu
dengan berkah perlindungan Thian Yang Maha Kuasa aku nanti memperoleh
sesuatu.,,.”
Kiu Lan mengangguk ia setuju dengan pikiran muridnya itu.
“Kau cerdas, anakku, Semoga kau nanti dapat melakukan sesuatu yang berharga,
Jasamu itu….”
Sang guru menghela napas, sinar matanya menandakan bahwa ia merasa sangat
bersyukur.
Melihat gerak-gerik gurunya Siau Po hampir membuka rahasia dengan berkata,
enam kitab lainnya itu sudah berada di dalam tanganku atau segera ia ingat: Siau Hian
Cu dan aku adalah sahabat-sahabat akrab, jikalau aku membantu suhu menggempur
pemerintahannya ini hingga ia tak dapat lebih lama menjadi raja, bukankah itu berarti
aku tidak mempunyai rasa tanggung jawab sebagai sahabat,…. Manakah kehormatan
diriku,.,?
Kiu Lan melihat Siau Po bagaikan ragu-ragu, ia tidak bercuriga apa-apa hanya
menerka pemuda itu merasa khawatir kalau usaha penyelidikannya nanti tidak

mendatangkan hasil. Maka ia berkata: “Memang soal besar dan sulit, sedikit sekali
harapan keberhasilannya, walaupun demikian, kita sudah cukup bekerja dan bersamasama
Dan pepatah pun bilang, manusia percaya, Tuhan berkuasa. sekarang sulit untuk
memastikan Peruntungan keluarga Cu sudah akan habis sampai di sini atau masih ada
harapannya bangkit dan maju pula sebenarnya selama dua puluh tahun ini hatiku
sudah tawar sekali, telah tekadku akan hidup menyendiri saja. Siapa tahu aku bertemu
denganmu dan Hong Eng, hingga hatiku terbangun pula Aku sudah berpikir tidak akan
lagi memperhatikan soal negara, siapa tahu soal itu justru datang sendiri padaku”
“Suhu,” kata sang murid, “Suhulah pewaris kerajaan Beng. Negara ini telah dirampas
orang, sudah selayaknya apabila suhu berupaya buat merampasnya kembali”
Sang guru menghela napas.
“ltu bukan urusan keluargaku sendiri.” ujar perempuan tua itu. “ltu urusan bangsa
Han seluruhnya Namun sekarang ini hampir semua anggota keluargaku sudah
habis.,,.”
Ia mengusap-usap kepala muridnya sembari berpesan: “Siau Po, kau ingat jangan
kau bicarakan urusan ini dengan kakak seperguruanmu, agar usaha kita tidak bocor”
Siau Po mengangguk. Namun di dalam hatinya, ia berkata, “Kakak seperguruan
sangat cantik dan manis, entah kenapa agaknya suhu kurang menyukainya, Mungkin
karena dia tidak dapat mendukung suhu….”
Lantas keesokan pagi Siau Po berangkat ke istana dan memasukinya, Bagi dirinya
tak usah menyelundup masuk dengan diam-diam seperti yang diceritakan kepada
gurunya, Bahkan ia dapat langsung menemukan raja, tak perlu pakai segala aturan,
“Mohon menghadap dahulu” Seperti kebiasaan para menteri
Kaisar Kong Hie girang bukan kepalang melihat si orang kebiri cilik yang berbareng
menjadi sahabatnya itu. ia menarik tangan pemuda itu seraya berkata gembira: “Ah, kau
gila benar Kenapa baru hari ini kau kembali? Kau tahu, setiap hari aku sangat
berkhawatir kau nanti kena dibekuk bhikuni itu dan jiwa cilikmu nanti tak tertolong….
Baru kemarin dahulu aku dengar laporan dari To Liong bahwa dia telah melihatmu,
maka seketika hati jadi lega, Bagaimanakah caranya kau meloloskan diri?”
Siau Po segera mengarang cerita yang seolah-olah dirinya seorang ahli.
“Bhikuni jahat itu sangat murka terhadap hambamu ini.” Demikian mengasikkan
keterangannya. “Dia telah memukul dan menendangku berulang-ulang, Aku telah
mengatakan tentang Giaw Sun Le Tung, bahwa baginda sangat bijaksana, Jadi sri
baginda tidak dapat dibinasakan. Atas itu ia lantas mengucapkan banyak kata-kata
yang tidak pantas Asal aku membuka mulutku, dia menggaplok telingaku satu kali,
hingga kemudian, supaya tidak menderita lelah, aku terus menutup mulutku, aku
membungkam….”

“Percuma andaikata bhikuni itu membinasakanmu,” kata raja. “Sebenarnya, siapakah
dia? Apakah kau tahu asal-usulnya? siapakah yang memintanya masuk ke istana untuk
mencoba melakukan pembunuhan atas diriku?”
“Semua itu karena kebijaksanaanku Sri Baginda” Siau Po memuji. “Ketika baru-baru
ini pihak keluarga Bhok datang mengacau istana, mereka memfitnah Gauw Sam Kui,
orang percaya fitnahannya, Namun hanya sri baginda yang tahu rahasia itu dan cara
memecahkannya, Sehingga, aku diutus baginda untuk bertemu puteranya Gauw Sam
Kui guna menyampaikan berita, Dan pada saat itulah bertemu dengan She Yo.”
Raja mengangguk.
“Kiranya demikian,” katanya,
“Orang She Yo itu bernama Ek Jie,” kata baginda, “dia bicara dengan si bhikuni
tentang keluarga Bhok, terutama perihal sri baginda, bahwa walaupun Sri Baginda
masih berusia sangat muda, tetapi luas pengetahuannya melebihi Giaw Sam Le Thung,
cerdas bagaikan malaikat turun dari bumi,”
“ltu pastilah Gauw Sam Kui si jahanam” kata raja.
Siau Po memperlihatkan roman terperanjat dan begitu heran.
“Oh kiranya Sri Baginda sudah mengetahuinya.” gumamnya, “Apakah To Liong yang
memberitahukannya?”
“Bukan” kata Raja, pemimpin pengawal barisan Gauw Sam Kui kenal bhikuni itu dan
mereka berdua telah berbicara, Maka itu juga mana ada urusan baik yang mereka
rundingkan.”
Siau Po nampak terkejut, namun juga girang. Lekas-lekas dia berlutut dan
mengangguk-angguk, “Sri Baginda, hamba bekerja untuk Sri Baginda, sungguh hamba
senang, Dengan begini segala usaha kita akan berhasil.”
Bagian 53
Kaisar Kong Hie tertawa.
“Bangun Bangun” katanya, “Dahulu di Ngo Tay san, aku telah menghadapi
ancaman banyak sekali, jikalau tidak ada kau yang menolongi, pastilah….” Tiba-tiba
wajahnya kaisar tampak berubah menjadi bersungguh-sungguh, “Pastilah maksud jahat
pengkhianat itu bakal kesampaian”
Raja itu menggigil sendirian ketika ingat ancaman bahaya itu.

Kong Hi tertawa bergelak, ia insaf hari itu kalau tidak Siau Po menghadang di
depannya, dia pasti bakal mati di tangan si bhikuni, Dia senang sekali mendapat
kenyataan kacung ini demikian setia berbareng tak termasuk akan jasa,
“Kau masih sangat muda tetapi pangkat mu sudah besar, Baik kau tunggu lagi
beberapa tahun, akan aku naikkan pangkatmu lebih tinggi lagi….”
Siau Po menggeleng kepala.
“Hamba tidak berpikir menjadi orang pembesar yang berpangkat tinggi,” katanya
merendah, “Cukup asal hamba senantiasa dapat bekerja untuk Sri Baginda, supaya
hamba tidak sampai menerbitkan kemurkaan Yang MuIia”
Kaisar menepuk bahu kacung itu.
“Bagus Bagus Nah, apalagi yang dibicarakan si orang She Yo dengan si bhikuni?”
“Yo Ek Jie tak bosan-bosannya memuji raja dan membicarakan kebijaksanaan raja,
Dia menjelaskan pula bahwa Gauw telah melepas budi terhadap ayahnya, karenanya ia
harus melindungi orang She Gauw guna membalas budi itu. Namun Gauw berminat
ingin menjadi raja dan jikalau tidak berhasil maka ia dan keluarganya akan hancur dan
mati kepalanya dipenggal… kemudian si bhikuni bilang bahwa anggota keluarganya
sudah habis dibunuh oleh bangsa Tat…. Tat… oleh bangsa Boan Cu kita.”
Kaisar mengangguk-angguk.
Si kacung terus bercerita, “Yo Ek Jie bilang juga halnya si Baginda sangat baik dan
bijaksana terhadap rakyat… maka apabila sri baginda sampai dibikin celaka ada Gauw
Sam Kui naik tahta kerajaan, ia bakal menjadi menteri atau panglima perang akan tetapi
rakyat pastilah akan menderita. Bhikuni itu berhati lemah, Setelah sekian lama, dia
membenarkan kata-kata orang She Yo itu, lalu selanjutnya dia berkata tak akan
mencoba membunuh sri baginda, Dan orang itu mendapat kecocokan apabila Gauw
Sam yang naik tahta maka negeri itu akan dibagi dua.”
Kaisar Kong Hie bangun berdiri “Oh, kiranya si pengkhianat bersekongkol dengan
pengkhianat dari Taiwan itu”
“Sebenarnya,” Siau Po tanya, “Orang She The Taiwan itu, dia kura-kura apakah?”
“Pemberontak She The di Taiwan itu tidak mau tunduk kepadaku” kata raja, “Karena
dia berada di dalam pulau yang jauh dari tanah daratan, agak sulit untuk
menghukumnya….”
“Kiranya demikian” kata si kacung, Ketika itu semakin mendengar kuping hamba
makin panas Pikir saya negara ini milik baginda.,, lantas dua orang itu mahluk-mahluk
apa sebenarnya, Bagaimana mereka hendak membagi negara di antara mereka

berdua? Dan She The telah mengutus puteranya yang kedua bernama The…. The
Kek….”
“The Kek Song” raja melanjutkan.
“Ya”
Tampak Siau Po berduka cita.
“Ya, segalanya Sri Baginda telah mengetahuinya” katanya.
Raja tersenyum, dia tidak mengatakan sesuatu, sebenarnya raja telah beberapa
tahun berpikir bagaimana caranya menyerang Taiwan, guna merampasnya agar pulau
itu termasuk di dalam wilayahnya, Sudah lama dia ingin tahu tentang keluarga She The
itu perihal kekuatannya dan angkatan bersenjatanya serta keadaan di pesisir lautan.
“The Kek Song itu,” kata Siau Po memberitahukan, “Sekarang ini dia telah pergi ke
wilayah In Lam dengan Gauw Sam pernah bicara selama setengah bulan….”
Wajah raja berubah mendengar keterangan si kacung,
“Oh, ada terjadi demikian?” tanyanya,
Raja terkejut karena Taiwan dan In Lam ada hubungan justru dua daerah itu yang
membuatnya pusing dan sekarang kedua daerah itu sudah terjadi persengkongkolan,
pasti kekuatan mereka akan berakibat buruk bagi pemerintahannya, ia pun baru tahu
The Kek Song telah pergi ke In Lam.
Siau Po lalu melanjutkan “Di Taiwan ada orang keluarga She The ilmu silatnya
aduhai, Orang itu mengikuti The Kek Song, yang terus mengawatnya. Dia She Phang
dan julukannya entah apa, It Kiam Tjut Hiat.
Sengaja kacung menjual mahal supaya raja semakin percaya padanya, BegituIah
gelarannya Sek Hoan, It Kiam Bu Hiat, pedang tanpa darah, dia rubah menjadi Kiam
Tjut Hiat, pedang mengeluarkan darah….
“Dialah It Kiam Bu Hiat Phang Sek Hoan” kata raja. “Dialah yang bersama-sama Lau
Kok Hian dan Teng Eng Hoa, tiga harimau dari Taiwan.”
Mendengar gurunya disebut raja maka si kacung kaget, tetapi ia memaksakan diri
tertawa dan berkata: “Benar-benar dialah It Kiam Bu Hiat Phang Sek Hoan Menurut
katanya Yo Ek Jie ada di antara ketiga harimau dari Taiwan itu. Tang Eng Hoa adalah
orang baik-baik dan yang lainnya adalah orang-orang busuk, Tang Eng Hoa tidak suka
jadi pengkhianat atau pemberontak tapi karena dialah seekor harimau, dan dia kalah
dengan dua harimau yang lainnya itu…”

Sengaja Siau Po bicara, baik mengenai Kui Lan, Yo Ek Jie, maupun Tan Kim Lan.
Agar andaikata mereka itu kena tertawan tidak sampai kena hukuman mati atau kalau
ada kesempatan mudah untuk menolongnya.
“Kau bilang Phang Sek Hoan pergi ke In Lam?” tanya raja.
“ltulah kata Yo Ek Jie kepada si bhikuni,” sahut si kacung. “Syukur mereka tidak
berembuk untuk menyerang Sri Baginda Raja, maka itu hamba tidak terlalu
memperhatikannya, Hamba tidur kepulasan hingga hamba tidak begitu mengetahuinya
apa tindakan selanjutnya yang mereka bicarakan Dan diam-diam hamba dibangunkan.”
Raja mengangguk
“Demikian adanya orang She Yo itu baik hati-nya,” katanya.
“Maka itu apabila Sri Baginda berhasil membekuknya tolong sri baginda bersikap
murah hati sehingga dia mendapat ampun….”
“Jikalau saja ia berbuat jasa, tidak hanya aku ampuni saja tapi aku akan memberikan
hadiah besar Nah dalam rapat apa saja yang kau dengar?”
“Di dalam rapat itu, setiap propinsi akan terdapat ketua yang disebut buncu, bahkan
kalau tidak keliru, ketiga propinsi Kwletang, Tilatkang dan Siamsay rupanya termasuk
juga dalam wilayahnya. Kaisar Kong Hie tersenyum. Lantas ia menggendong tangan
dan berjalan mondar-mandir,
Siau Po terkejut. inilah pertanyaan di luar terkanya di mana raja bilang, “Siau Kui Cu,
kau berani dan tidak pergi ke In Lam?”
“Apakah Sri Baginda menugaskan hamba pergi ke sana untuk menyelidiki situasi di
sana?” Raja mengangguk.
“Tugas ini berbahaya buatmu, akan tetapi kau masih kecil, tentulah mereka tidak
mencurigaimu.”
“Benar Sri Baginda Hamba bukannya takut ke In Lam hanya baru saja hamba
puIang, belum beberapa hari, hamba mesti pergi puIa, inilah yang membuat hamba
tidak puas….”
Kaisar mengangguk
“Benar” katanya, “Aku pun merasa kangen seperti kau. Namun aku menjadi seperti
raja tak dapat aku menuruti kehendak hati, aku harus ingat urusan negara. sayangnya
aku sebagai raja tidak sembarang meninggalkan kotaraja, jikalau tidak, tentulah kita
akan berdua pergi ke sana, kita akan menjambret kumis-kumisnya, Kau memegang
tangan mereka dan bertanya menyerah atau tidak? Bukankah itu menarik hati?”

Siau Po tertawa, “Memang itu bagus, namun Sri Baginda tidak dapat ke In Lam,
maka baiklah hamba yang memancingnya datang ke kotaraja, Di sini Sri Baginda dapat
membetot kumis dan janggut-janggut mereka Tidakkah ini bagus?”
Kaisar tertawa tergelak.
“Memang bagus” katanya, “Cuma aku khawatir karena ia sangat licik dan tentunya
pengkhianat itu tak akan curigai”
Memang raja sangat benci dan ingin menaklukkan Gauw Sam Kui walau dengan
cara apa pun, dan kali ini menggunakan adiknya sendiri
Sebenarnya raja sangat sayang pada adiknya itu. Namun sewaktu mengetahui
bahwa ibu suri itu palsu dan telah menyengsarakan ibunya, maka ia lalu membenci ibu
suri itu dan juga anaknya yang sekarang akan dinikahkan.
Siau Po lalu memberikan keterangan pada raja tentang keberadaan ibu suri itu dan ia
pun menerangkan ibu suri yang asli kini berada dalam tahanan. itu atas perintah yang
palsu.
Sekian lama raja hanya bisa melongo saja, mendengarkan keterangan Siau Po.
Setelah dapat menenangkan hatinya barulah ia sadar.
“Kau tahu dari mana hal ini?” tanya raja
“Hamba tahu si moler tua itu mempunyai hati yang sangat busuk” kata Siau Po
menerangkan pada raja itu.
“Oleh karena hamba khawatir ia akan mencelakai baginda maka secara diam-diam
hamba memakai tenaga seorang dayang yang hamba minta supaya memasang kuping
dan telinga. Setiap ia melihat hal-hal yang mencurigakan maka ia lalu melaporkan pada
hamba, tadi begitu hamba datang dayang itu sudah memberikan laporan pada hamba”
katanya.
Kening raja basah oleh keringatnya.
“Mana dayang itu?” tanya raja.
“Hamba telah mengambil tindakan terhadapnya,” jawab Siau Po. “Urusan ini
sangatlah rahasia maka hamba tidak berani membocorkannya. Ketika tidak ada yang
melihat hamba menyeburkan orang tersebut ke sumur, hamba sangat kecewa sekali”
“Bagus cara kerjamu” kata raja memujinya hatinya lega.
“Besok kau angkat mayatnya dan kau cari di mana letak keluarganya untuk
mendapatkan santunan”

Kaisar lalu mengajak Siau Po untuk pergi ke Cu Leng Kiong sebelum berangkat ia
mengambil dua buah pedang. Yang satu ia pegang sendiri sedang yang satunya
diberikan pada Siau Po.
Mereka pergi hanya berdua karena tak menginginkan adanya orang lain yang
mengetahui termasuk dayang dan juga thay-kam.
Sesampainya di sana mereka memerintahkan pada para dayang dan juga para thaykam.
Tetapi sebelum sampai tadi Siau Po sempat berpesan pada raja agar tetap
membawa pengawal yang hanya ditempatkan di halaman dan jika suatu waktu ia
membutuhkan maka pengawal itu telah siap.
Mereka berhenti tak jauh dari kamar ibu suri itu untuk mengatur siasat agar ibu suri
itu tak merasa curiga, Karena mereka sangat khawatir jika ibu suri mengadakan
perlawanan sebab mereka itu adalah murid dari ibu suri.
Setelah mengatur siasat, raja memerintahkan pada Siau Po untuk langsung
memegang kaki ibu suri sedangkan raja yang akan memotong tangan dan kakinya.
Sesampainya di dalam kamar ternyata di sana sudah tak ada dayang maupun thaykam,
sedangkan ibu suri berada dalam pembaringan yang ditutup kelambunya.
Melihat hal itu raja lalu memerintahkan pada Siau Po agar membuka kelambu yang
menutupi pembaringan itu, Tetapi Siau Po dicegah oleh ibu suri untuk tidak membuka
kelambu itu.
Ibu suri mengatakan bahwa ia sedang sakit makanya ia tak ingin kelambu itu dibuka.
Tetapi raja curiga pada lemari yang mengeluarkan suara, maka ia memerintahkan
pada Siau Po agar membuka isi lemari itu dengan paksa, Ternyata dalam lemari itu
sudah tersembunyi seorang pria yang langsung menendang Siau Po dan dia ke luar
sambil menyambar tubuh yang ada dalam pembaringan itu.
Tubuh yang disambarnya itu ternyata telanjang bulat Raja memerintahkan beberapa
Sie Wie untuk menangkap orang itu tetapi para Sie Wie itu tak dapat menangkapnya.
Kemudian raja rnemerintahkan pada Siau Po untuk menggeledah isi lemari itu
karena sebelumnya raja mendapat kabar bahwa ibu suri yang asli disembunyikan dalam
lemari itu.
Mereka semua terdiam.
Siau Po lalu berpikir kalau-kalau ibu suri asli berada di bawah pembaringan Tanpa
pikir panjang lagi Siau Po lalu melompat untuk mendekati pembaringan dan membuka
papan yang ada dalam pembaringan itu. setelah mereka membuka papan yang
menutupi pembaringan itu Siau Po dan raja menjadi kaget.

“Cepat kalian nyalakan lilin” perintah raja pada Siau Po.
Dengan cepat Siau Po menyalakan lilin, setelah lilin itu menyala di sana baru terlibat
sesosok tubuh yang diselimuti dengan sehelai kain dengan wajah yang sangat pucat.
Tak lama Siau Po memperhatikan wajah itu talu ia mengenali ternyata ia adalah ibu
suri yang asli.
“Kau… kau” tanyanya pada sang raja.
“Dialah raja yang sekarang, dan baginda sendiri yang datang menolong ibu suri”
kata Siau Po.
Mendadak ia menangis dan langsung ia merangkul puteranya.
Selagi raja dan ibu suri itu melepaskan kerinduannya Siau Po memeriksa kamar dan
setelah selesai memeriksa ia lalu pamit untuk pergi.
Siau Po tak ingin mengganggu mereka yang sedang dilanda rasa rindunya itu.
Di luar kamar mereka mendapatkan beberapa orang Sie Wie, para dayang sejumlah
thay-kam dan Kiongte. Mereka sangat cemas dengan peristiwa itu.
Siau Po bingung melihat orang yang banyak itu sebab mereka tak menginginkan
rahasia ini terbongkar. Maka Siau Po berbohong pada mereka.
“Barusan tadi baginda dan Kian Leng kongcu sedang bermain petak umpet apakah
kalian melihatnya?” tanya Siau Po.
“Benar, dan Kian Leng kongcu bergerak dengan cepat dan Iihay, cara
penyamarannya sangat sempurna dan menarik hati” kata salah seorang di antara
mereka.
Siau Po tersenyum.
“Nah, demikianlah cara mereka bermain, untuk itu kalian jangan membocorkan hal ini
pada yang lainnya, jika rahasia ini sampai bocor kalian akan kehilangan kepala kalian.
Sebab, ini menyangkut kerajaan.”
Siau Po lalu menanyakan pada para Sie Wie yang terkena terjangan penjahat tadi, ia
lalu mengeluarkan uang untuk mereka yang terluka dan mereka diminta untuk tutup
mulut.
Siau Po lalu pergi dan menunggu di luar kamar ibu suri.

Tak lama kemudian Siau Po dipanggil masuk ke dalam kamar Di dalam tampak raja
dan ibu suri sedang duduk berdampingan Cepat-cepat Siau Po memberi hormat pada
mereka.
Siau Po lalu memberikan laporannya pada raja dengan mengatakan bahwa ia telah
mengancam pada mereka yang berani membocorkan rahasia ini dan mereka pada
ketakutan.
Mendengarkan laporan Siau Po raja mengangguk-angguk.
“Jika Baginda menghendaki hamba akan menghabisi mereka” katanya.
Mendengar demikian raja terdiam.
“Raja, kau harus memberikan kepadanya hadiah” kata ratu.
Raja lalu memberikan sebuah gelar kebangsawanan tingkat empat pada Siau Po.
Setelah itu raja meminta pada Siau Po untuk meninggalkan mereka berdua karena
masih dilanda rasa rindu, juga masih ada pembicaraan yang sangat pribadi.
Sesampainya di luar Siau Po berpikir jika nanti moler tua itu pergi ke tempat Kaucu
tentulah aku akan mendapatkan bahaya.
Memikir demikian Siau Po mengambil kesimpulan akan menyerahkan kitab itu pada
Kaucu tetapi peta yang terdapat di dalamnya akan dia sembunyikan.
Kemudian Siau Po pergi ke suatu tempat di mana terdapat teman-temannya, Lalu
Siau Po meminta pada salah seorang temannya untuk mencarikan pahat dan martil.
Pabat dan martil itu digunakan untuk membuka peti mati yang berada dalam ruang
bawah tanah itu. sebelumnya Siau Po menugaskan pada kawan-kawannya untuk
berjaga-jaga, jangan sampai ada orang yang melihatnya.
Setelah peti itu terbuka Siau Po lalu mengambil kitab yang ia simpan di sana
berjumlah tujuh buah, Lalu kitab-kitab itu ia bungkus kertas minyak dengan rapi.
Di luar rumah itu terdengar suara berisik yang ternyata ada orang yang datang,
Namun Siau Po sangat mengenali suara itu, ia langsung berteriak teriak memanggil
orang tersebut yang ternyata guru Siau Po.
Siau Po lalu mengenali suara itu yang ternyata suara Kek Song dan ia berkata dalam
hati: “Apakah yang dicari oleh orang itu”
Menyusul terdengar suara senjata yang beradu dan tak lama kemudian terdengar
suara jeritan lalu sunyi kembali.

Tak lama kemudian terdengar orang sedang berbicara, ia mengenal suara itu, ia tahu
itu suara gurunya yang sedang berbicara dengan Kek Song.
Terdengar suara Kek Song yang berkata dengan keras dan memerintahkan pada
guru Siau Po untuk memotong tangannya atau membunuh dirinya. Guru Siau Po
menolaknya dan terjadilah pertempuran yang sangat seru dari keduanya.
Guru Siau Po atau Kiu Lan di keroyok beberapa orang sedangkan ia tak meladeni
Kek Song.
Pada suatu saat Kui Lan dapat dibacok oleh Kek Song dengan demikian Kiu Lan
meladeni dua orang dengan keadaan yang tak stabil.
Siau Po sangat bingung, ia harus menolong gurunya tetapi ilmu silatnya belum dapat
menandingi mereka, Namun kemudian Siau Po ditolong oleh akalnya.
Siau Po lalu berseru dengan suara sangat aneh, Ketiga orang yang sedang
bertempur itu menjadi kaget.
Kek Song yang memang takut pada setan itu segera menghentikan serangannya
karena takut, Apalagi setelah ia melihat kamar yang terdapat peti mati itu yang lalu
mengeluarkan semburan berupa abu putih, ia menjadi ketakutan.
Setelah menyaksikan hal itu ia lalu pergi meninggalkan rumah dengan sangat
ketakutan.
Kiranya yang digunakan Siau Po adalah semen untuk menyembur
Siau Po lalu berusaha menyerang lawan yang tak melihat itu tetapi ia merasa takut
sebab orang yang akan mereka serang itu sangat lihay dalam ilmu silatnya,
Akhirnya Siau Po dapat mengusir guru Kek Song dan Kek Song sendiri dapat
ditundukkan.
Siau Po lalu menolong gurunya yang terkena semen itu, Siau Po lalu mencuci mata
gurunya dengan minyak agar semen itu dapat hilang.
“The kongcu kau tidurlah di sini untuk beberapa hari. Anggap saja kau bernasib baik,
dan hutangmu padaku aku anggap impas” kata Siau Po yang mengurung Kek Song
dalam peti itu.
Dalam ruangan itu sudah berserakan kawan-kawan Siau Po yang tak berdaya, Kiu
Lan lalu melepaskan totokan itu, ternyata mereka itu ditundukkan satu persatu oleh guru
Kek Song.
Setelah melihat gurunya yang sudah dapat melihat lagi Siau Po lalu berpura-pura
pingsan, hingga akhirnya ia diangkat oleh gurunya ke atas kursi untuk beristirahat.

Dalam berpura-pura itu sebenarnya Siau Po takut dihukum atau ditegur gurunya,
perbuatan yang dilakukan dengan semen walaupun untuk menolong gurunya tetapi itu
perbuatan yang tidak jantan.
Kemudian Kiu Lan meminta pada muridnya untuk mencari Kek Song dan gurunya,
Mereka tak mendapatkan orang yang dimaksud gurunya itu.
Tetapi Siau Po mengatakan kalau Kek Song dimasukkan ke peti mati itu, maka Kiu
Lan memeriksanya.
“Eh, Siau Po Bukankah kau telah memasukkan Kek Song ke dalam peti mati itu?”
tanya gurunya.
“Tidak suhu Mungkin saja Kek Song takut guru akan membunuhnya jadi ia masuk ke
peti mati itu dan memanteknya,” jawabnya.
“Ngaco kamu Ayo, cepat buka peti mati itu ia nanti bisa mati karena ia tak dapat
bernapas” katanya.
Setelah peti itu terbuka mereka semua merasa kaget sebab yang ada di dalam peti
mati itu adalah raja mudanya.
Mereka lalu mempertegas penglihatannya dan benar itu raja mudanya yang telah
menjadi mayat.
Melihat kenyataan itu Kui Lan murka, ia menghajar peti mati itu sampai hancur.
“Jika aku tak berhasil membunuh si jahanam itu aku bersumpah aku tak sudi jadi
manusia” katanya dengan bengis, karena ia tahu kalau itu perbuatan She Liong, musuh
besarnya.
“Kalau demikian pastilah The kongcu telah mereka bawa lari” kata Siau Po menerkanerka.
“Pasti demikian Dan kita harus segera menolongnya” kata Kiu Lan.
Kiu Lan lalu menghela napas.
“Kau benar juga, jika tadi bukan Siau Po yang berlaku sangat cerdik, pasti kita semua
sudah menjadi mayat, dan kita semua mati dengan kecewa Namun…” kata Kiu Lan.
“Dia telah menuduh Thian Tee Hwee, kami telah tunduk pada orang Taiwan,” Hian
Ceng ikut bicara.
“Di Tionggoan sini saja dia berani berbuat demikian apalagi bila di Taiwan? pasti di
sana kita tak akan diberi kesempatan untuk membuka mulut kita”

Jin Lau Pun juga berkata.
“Congtocu, sangat jujur dan setia terhadap keluarga The, akan tetapi sekarang kita
semua hampir mati dicelakakan Kek Song. inilah penasaran yang tak dapat ditelan
dengan begini saja.,.”
Kui Lan kembali menghela napas.
“Seorang laki-laki sejati, harus bertindak dan melakukan sesuatu yang bakal
mengecewakan” Kemudian katanya nyaring.
“Kalau kita benar dan orang disisi kita akan mengatakan sesuatu yang bertentangan
itu terserah pada mereka. Maka jika sekarang ini biar bagaimana lebih dahulu kita perlu
menolong The Jie kongcu, setelah itu kita harus mencari She Liong, guna menuntut
balas bagi kau Jieko, Nah, bagaimana kita harus bekerja?” tanyanya,
“Langkah pertama kita harus pindah dari sini.” Siau Po mengutarakan pikirannya.
“Kau benar.” sang guru membenarkan
“Pikiranku sedang kacau sehingga aku lupa memikirkan hal yang seperti ini. Memang
ada kemungkinan She Liong sedang memerintahkan pasukannya untuk menyerang
kita.” kata sang guru.
Maka ia menggali lobang untuk mengubur mayat Kwan An Kie yang kuburannya
tidak ditimbun dengan tinggi, bahkan diratakan dan disamarkan, agar tentara Boan tak
curiga dan membongkarnya, Kemudian mereka menangisinya, lalu pergi dengan
perpisahan
Siau Po yang cerdik, mengambil kesempatan untuk memisahkan diri, Maka di lain
saat ia sudah sampai ke kamarnya lalu menguncinya dan mengambil kitab Sie Cap Ji.
Setelah meneliti setiap halaman ia mendapatkan lembaran dari kulit kambing yang
berupa kertas dan semua itu ia ambil dan ia rapikan lagi hingga tak tampak bekas
ambilannya, Setelah selesai merapikan ia dipanggil raja.
Raja ada di dalam keratonnya Setelah melihat Siau Po ia lalu berkata.
“Besok akan ada firman dan kau harus mengantarkan Kian Leng kongcu untuk
dinikahkan dengan putera dari Gao.” katanya.
“Baik, baginda” kata Siau Po yang memperlihatkan wajah sebal,
“Belum beberapa hari hamba melayani Tuan dan sekarang hamba harus pergi
meninggalkan baginda….”
“ltu tak apa.” kata raja yang terus berkata dengan suara yang sangat perlahan.

“Tayhau, kau memberitahukan aku tentang sesuatu yang sangat penting, maka
sekarang kau pergi ke propinsi In Lam, sekalian melakukan sesuatu di sana.”
“Baik Sri Baginda.” kata si hamba.
“Thayhou, kau juga mengatakan budak jahat yang menyamar sebagai ibu suri dan ia
mempunyai maksud buruk yang sangat jahat sekali, ia mau mencari otot nadi naga dari
kerajaan Boan Cu kita.”
“Untuk dirusaknya, Thayhau telah bertahan menderita tekanan lahir dan batin, Tak
sudi Thayhau memberikan keterangan sampai sekarang ini. Berkat pertolongan Tuhan
kau dapat selamat dan meloloskan diri.”
“Sri baginda” kata Siau Po, “Tentang rahasia kerajaan yang sangat besar ini jangan
baginda bicara pada hambamu ini, karena dengan demikian rahasianya nanti akan
mudah bocor….”
Kaisar Kong Hie kagum.
“Makin tambah usiamu makin tambah pengetahuanmu” pujinya.
“Pengalamanmu terus bertambah, tetapi kau jangan khawatir Cukup dengan kau
berhati-hati. Bukankah selama kau bekerja untukku, belum pernah kau membocorkan
sesuatu? jikalau aku tak percaya lagi denganmu, maka tak ada orang lain yang dapat
aku andalkan.”
“Sri baginda” katanya sambil berlutut ia sangat puas dengan sanjungan dan
kepercayaan raja itu. “Karena baginda sangat percaya dengan hambamu ini maka
sekalipun lidah hambamu ini dipotong tidak akan hambamu berani membicarakan
rahasia ini.” tambahnya.
Kaisar mengangguk.
“Sebenarnya,” katanya kemudian, “Rahasianya otot nadi naga kerajaan Ceng kami
itu tersimpan dalam delapan kitab pusaka Sie Cap Ji Cin Keng.” sebenarnya hal itu
bukan lagi rahasia bagi Siau Po, hanya ia berpura-pura tak mengerti.
“Dahulu kala di masa Liap Ceng Ong To Jie Kun memasuki wilayah perbatasan,”
kata raja, “Maka semua kitab itu dibagi delapan Kun Cu dari Pat Kie. Kepala dari
delapan bendera dan salah satunya dipimpin oleh raja sendiri Maka ketika kitab itu
disimpan dalam istana, yang keraton….”
“Ya, hambamu ingat Sri baginda,” kata Siau Po. “Ketika baru-baru ini baginda
menggeledah gudang Go Pay, maka si moler tua itu meminta pada hamba pergi ke
tempat itu untuk mengambil dua buah kitab itu. Maka hamba memastikan itu kitab yang
baginda maksudkan.”

“Benar.” kata raja, “Di dalam keraton ada tiga kitab dan di gudang Go Pay ada dua
kitab, Sedang ayahanda raja memberikan satu kitab lagi, ialah kitab yang kau bawa
pulang dari Ngo Tay san. Sama sekali ada empat buah kitab dan kitab itu telah dicuri si
moler tua. Sungguh, mimpi pun aku tak tahu halnya, Kitab itu demikian pentingnya dan
aku begitu saja menyerahkannya pada si moler tua itu….”
“Jikalau demikian, mari kita cepat pergi dari sini ke Cu Leng Kiong untuk melakukan
pemeriksaan,” ajak Siau Po. “Moler tua itu kabur dengan telanjang bulat, barang apa
pun tak sempat dibawanya….”
Di dalam hati Siau Po sangat khawatir kalau-kalau raja menggeledah kamarnya,
tentu kitab itu akan diketemukannya.
Kaisar menggelengkan kepala.
“Aku telah memeriksanya.” katanya, “Apa pun tak terdapat di sana kecuali
seperangkat jubah biksu, Maka teranglah bahwa orang itu seorang pendeta.”
Siau Po tertawa, tetapi kemudian ia menghentikan tawanya karena ia ingat akan
sesuatu.
Raja tak mengatakan sesuatu, bahkan ia pun tertawa dan berkata.
“Gendaknya itu katai dan gemuk, maka si moler tua itu aneh. Kenapa ia tak mencari
lelaki lain yang hanya si kuntet?”
Mau tak mau Siau Po tertawa pula,
“Silabuh itu pandai main silat.” katanya, “Kalau orang yang bertampang ganteng
mana mungkin ia dapat masuk istana,”
“Ya, kau pandai juga.” kata raja yang terus tertawa dan ia menambahkan katakatanya
itu. “Memang kedua kitab lagi dibagikan pada bendera merah dan bendera biru,
sekarang dari bendera merah telah aku perintahkan untuk menyerahkannya padaku.”
Mendengar kata-kata raja itu Siau Po berkata dalam hati.
“Kitab yang berada di bendera merah itu sudah dicuri oleh orang lain dan sekarang
kitab itu ada padaku.”
Kaisar Kong Hie lalu berkata.
“Kiecu dari bendera biru ialah Hu Teng Lian, yang usianya masih muda sekali, Tadi
aku telah minta keterangan darinya, Menurutnya Kiecu, yang dahulu telah mati sewaktu
berperang di In Lam, mulai dari situ segalanya diurus oleh Gauw Sam Kui, Sewaktu
penyerahan, ia hanya menerima bendera kebesaran dan beberapa tail uang perak dan
yang lainnya tak ada lagi.”

“Jikalau demikian, kitab tersebut telah ditelan oleh Gauw Sam Kui. Dengan sabar kau
tanyakan, dia sangat cerdik dan licik, kau harus dapat menyamar agar ia tak
mengetahui maksud kedatanganmu….
“Baik, baginda

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s