“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 69

ia sendiri menghampiri arah suara itu. “Siapa di
luar?” lalu ia menoleh muridnya yang sedang bertarung dengan Siau Po.
Setibanya di luar Gauw Lip Sin hampir tertawa. ia menyaksikan tingkah Siau Po yang
sedang menendangi dan memukuli pintu hingga terdengar suara seperti ada orang
yang sedang bertempur.
“Hayo berhenti” kata Lip Sin yang sedang bersandiwara.
“Hai bocah cilik sedang apa kau di sini?” tambahnya.
“Kakak seperguruanku memerintahkan aku untuk membantu melepaskannya,” kata
Siau Po yang tidak kalah nyaringnya, “Cepat kau lepaskan orang itu Oh, kau lihay
sekali”
Begitu berteriak ia berlari ke depan. Lip Sin lalu menyusul.
Sampai di rumah itu Siau Po tertawa.
“Jioko, terima kasih banyak” katanya. “Pekerjaan Jioko sangat bagus dan menarik
hati.”
Lip Sin lalu tertawa juga.
“Apakah nona itu kekasihmu?” tanyanya, “Dia cantik dan ilmu silatnya cukup tinggi.”
Siau Po menghela napas panjang.
“Tetapi sayang nona itu berniat sekali akan menikah dengan pemuda itu.” katanya
menyesal. “Dia tak sudi menikah denganku, Kau sudah dapat bersandiwara dengan
baik dan aku minta kau pun dapat meyakinkannya agar ia mau menjadi istriku”
Berkata demikian Siau Po lalu terdiam dan kali ini pemuda itu berkata, “Jioko, aku
minta kau terus membantu aku Aku ada akal, Bagaimana jika aku turut dikalahkan
olehmu, lalu kau suruh aku mengawini dia, Kau lihat akal itu sempurna atau tidak?”

Lip Sin tertawa sambil menggelengkan kepala, lalu tertawa lagi.
“Bagus…. Bagus” katanya kemudian “Saudaraku, janganlah kau berkecil hati
Menggelengkan kepalaku itu kebiasaanku namun….” Ucapan Lip Sin terputus, rupanya
ia ragu-ragu.
“Namun kenapa?” tanya Siau Po.
“Kita orang-orang gagah, dalam bersandiwara kita harus mengetahui agar orang tak
curiga pada kita, Tetapi aku ingin agar kau berjanji padaku, terhadap nona itu kau
jangan melakukan sesuatu yang dapat membuat kita melakukan pelanggaran…”
Siau Po lalu berjanji pada Lip Sin untuk menjatuhi janjinya itu.
Hati Lip Sin girang mendengar perkataan Siau Po. Tampaknya ia sangat percaya
pada Siau Po.
“Aku memang tahu bahwa kau laki-laki sejati.” katanya, “Sungguh beruntung nona itu
dapat menikah denganmu.”
Lip Sin dan juga Siau Po tersenyum lalu Siau Po memberikan tangannya ke
belakangnya.
“Jangan Jioko sungkan-sungkan” katanya.
Lip Sin lalu memegang tangan itu lalu membawa Siau Po masuk, sesampainya di
dalam, Lip Sin berkata dengan suara yang keras.
“Nah, kau lihat Ke mana kalian dapat kabur?” katanya.
Di dalam rumah itu pertempuran sudah berhenti A Ko diancam dengan senjata,
Namun ia tak berani mencelakai nona itu sebab ia tahu nona itu kekasih Siau Po.
Lip Sin lalu mengikat tangan Siau Po dengan ikat pinggangnya, sedangkan Siau Po
diam saja.
Lalu kaki Siau Po ditotok hingga ia jatuh terduduk.
Tidak kepalang tanggung ia pun mengikat tangan A Ko. Siau Po yang melihat hal itu
lalu ingin berkata, namun Lip Sin sudah terlebih dahulu memberikan perkataannya.
“Awas setan cilik” ancam Lip Sin. “Satu kali lagi kau berbicara akan aku robek
mulutmu dan akan kucongkel kedua matamu”
“Aku justru ingin mendampratmu bangsat” katanya.

“Sudah Sute, jangan kau memaki terus” kata A Ko. “Jangan kita membuat rugi pada
diri kita”
Mendengar kata-kata nona itu, Lip Sin tertawa.
“Aku akan mengawinkan kau dengan adikku dan dengan demikian nona akan
menjadi iparku.” kata Lip Sin.
A Ko terkejut dan ia berkata, “Tidak…. Tidak mungkin”
“Mengapa tidak mungkin?” kata Lip Sin, “Seorang nona harus menikah, Kau tahu
adikku itu seorang yang gagah, Kau tak akan merasa kecewa, Kenapa kau tidak sudi
menerima adikku? Benar-benar kau tidak tahu diri Mana musik? Cepat mulai”
Perintah itu lalu dilakukan anak buahnya, maka mulailah suara musik itu terdengar.
Bukan main kagetnya A Ko mendengar kata-kata itu, ia berpikir, orang di sini
semuanya dekil dan jorok mungkin begitu juga dengan adiknya itu.
“Aku tak sudi tubuhku dikotori manusia-manusia ini. Aku akan membunuh diriku, tapi
apakah itu dapat membersihkan tubuhku?” tanyanya dalam hati.
A Ko menggertakkan giginya.
Lip Sin tertawa pula.
“Tidak…. Tidak” kata A Ko yang memaksa diri membuka mulutnya, “Aku tak mau
menerima Lebih baik kau bunuh saja aku”
“Baiklah jika kau menginginkannya.” kata Lip Sin. “Sekarang juga aku akan
membunuhmu, sekalian dengan adikku.” Lalu ia mengangkat goloknya ke atas.
A Ko menangis sambil berkata, “Cepat kau bunuh aku Jika kau tak membunuhku,
kau bukan laki-laki sejati, Cepat kau bunuh adik seperguruanmu jika lebih baik kau
bunuh saja ia dahulu”
Lip Sin menoleh pada Siau Po dan berkata dalam hatinya, “Nona ini tak mencintaimu
mengapa kau justru mencintainya?”
Lip Sin lalu berpaling pada si nona.
“Aku justru tak ingin membunuh adik seperguruanmu.” katanya dengan sengit tanda
ia sedang kesal, “A Kau, gusur ke luar bocah bau itu” Dan ia menunjuk pada Kek Song.
“Baik.” yang disuruh itu lalu mendekat dan langsung saja menarik tangan Kek Song.
A Ko menjadi sangat kaget.

“Jangan celakai dia” teriaknya, “Tak dapat ia dibunuh, ayahnya…. Ayahnya….”
“Baik jika demikian.” kata Lip Sin. “Kau mau atau tidak menjadi iparku?”
“Tidak Lebih baik kau bunuh saja aku” teriaknya.
“Baik, sebelum aku membunuhmu aku akan mencambukmu seratus kali.” ia
mengambil sebuah cambuk dan memutarnya berkali-kali lalu baru akan dicambukkan
pada nona itu. Tiba-tiba terdengar suara bentakan.
“Tahan” kata Siau Po mencegah.
“Bagaimana?” tanya Lip Sin pada Siau Po.
“Kami bangga pada laki-laki sejati, kami mengutamakan setia kawan.” kata Siau Po.
“Aku dengan dia sama dengan saudara kandung, maka jika kau hendak
menghajarnya dengan cambuk, cambuklah aku”
“Sute, oh Sute kau sungguh baik” kata A Ko.
Siau Po lalu menghadapi Lip Sin dan tak menghiraukan kata-kata nona A Ko.
“Saudara tua, apa pun adanya akulah yang harus bertanggung jawab, Seorang lakilaki
sejati tak takut pada bahaya, ia bersedia mengajukan dirinya, Jika kau mempunyai
adik wanita, aku bersedia dinikahkan dengannya.” kata Siau Po.
Mendengar suara Siau Po, Lip Sin dan juga si nona A Ko menjadi tertawa, Rupanya
kata-kata Siau Po tadi dianggapnya sangat Iucu.
“Eh, bocah Enak saja kau bicara” kata Lip Sin tertawa, “Rupanya kau benar-benar
laki-laki sejati Sekarang begini saja, karena upacara akan segera dilakukan, cepat kau
katakan kau yang menikah atau dia?” tanya Lip Sin.
“Dia…. Dia saja” jawab si nona menunjuk pada Siau Po.
Lip Sin memandang nona A Ko.
“Kau bilang kau ingin menikah dengan dia?” tanyanya.
Si nona menunduk.
“Baik.” kata Lip Sin sambil menunjuk ke arah Siau Po.
“Nah, tak dapat tidak kau harus menikah dengan nona ini.”
Siau Po mengawasi A Ko.

“Aku…. Aku…” katanya ragu-ragu.
“Sute,..” kata A Ko perlahan, “Hari ini kau harus menolongku dari bahaya besar,
terimalah dengan baik”
“Kau maksudkan bersedia menjalani upacara pernikahan dengan aku? tanya Siau
Po. “Ah, tahukah kau bagaimana kesulitannya nanti.”
“Aku tahu.” sahut si nona, “Jika hari ini kau tak mau menolongku lebih baik aku
membenturkan kepalaku pada kayu ini sampai aku mati, Aku tak berdaya maka aku
memohon padamu, mereka itu sangat jahat.”
Siau Po berdiam agaknya ia sedang berpikir.
“Baiklah.” kemudian katanya keras, “Hari ini kau sendirilah yang memintaku untuk
menolongmu. Karena itu aku menerimanya dengan sangat terpaksa. Kita menikah atas
kehendakmu, bukan kehendakku Bukankah demikian?”
“Benar.” sahut nona A Ko. “Benar aku yang meminta padamu. Kaulah seorang yang
gagah yang bersedia menolong orang secara suka rela, Kau pun paling mendengar
kata.,.”
Siau Po menarik napas panjang.
“Ah Sute, kau mengenal aku dengan baik bukan? Baiklah, aku menerima baik
keinginanmu untuk menikah denganku.” kata Siau Po.
“Memang kau sangat baik sekali terhadapku. Kelak di kemudian hari aku pun akan
baik terhadapmu.” kata si nona.
Siau Po memperhatikan sikapnya yang ceria.
“Nah, sahabat” kata Siau Po. “Bukankah aku yang tidak mau tetapi kalianlah yang
tidak mempunyai kakak atau adik wanita, maka sekarang kalian bebaskanlah kami”
Tetapi Lip Sin menggelengkan kepala.
“Tidak,” katanya, “Kalau seorang laki-laki sudah berbicara, kuda lari pun tak dapat
mengejarnya. Tidak dapat tidak hari ini harus ada upacara pernikahan, Jika tidak kita
semua akan celaka, Dapatkah kita mengabaikan itu? Sebab tak adalagi wanita, maka
kau saja yang menikah dengan dia”
“Tidak…. Tidak dapat” kata mereka serentak, Keduanya menyangkal tidak senang
mendengar kata-kata itu.
“Mengapa tidak dapat? Apa jeleknya?” ia lalu menghadapi nona A Ko. “Kau bilang
tadi ingin menikah dengan saudaraku atau dengan dia, lalu kau pilih pemuda ini.”

Muka A Ko menjadi merah lalu menggelengkan kepala.
“Baik, jika kalian tak mau menikah, maka kalian harus dipotong hidungnya terutama
nona ini” katanya dengan bengis.
A Ko memang tak takut mati tetapi jika harus kehilangan hidung itu tak mungkin.
“Jangan potong hidungnya, potong saja hidungku” kata Siau Po pada Lip Sin.
“Tidak.” kata Lip Sin. “Hidung kalian berdua yang harus dipotong, agar hidung kalian
berdua dapat dipakai untuk menyembahyangi malaikat. Hidungmu hanya satu mana
cukup? Hay, orang She The bagaimana jika aku memotong hidungmu untuk
menggantikan hidung nona ini?”
“Bocah ini tidak sudi.” kata Lip Sin, “Hanya adik seperguruanmu yang sudi
menggantikannya, Kau lihat bagaimana ia sangat menyayangimu. Jika dengan orang
semacam dia kau tidak mau menikah, jadi kau akan mencari orang yang bagaimana
lagi? — Hayo kalian mulailah persiapan musik jalan lagi”
Setelah mendengar kata-kata itu Lip Sin tertawa, tetapi tiba-tiba terdengar suara
orang bersiul. Hal itu yang membuat acara menjadi kacau, Semua lampu dipadamkan,
Siau Po lalu memegang tangan nona itu yang sekarang telah menjadi istrinya.
Mendengar hal yang sangat berisik itu membuat A Ko sangat takut, ia merapatkan
tubuhnya pada Siau Po dan Siau Po pun merangkulnya.
“Jangan takut” katanya, “Jika tidak salah itu suara seorang pendeta dari Tibet….”
“Habis bagaimana sekarang?” tanya si nona. Saat itu ia masih teringat atau tidak
dengan si kacung itu.
Dengan tiba-tiba ruangan jadi terang benderang karena mereka membawa obor lalu
beberapa orang masuk, Ternyata mereka itu orang Seng Hoan atau orang Boan Cu
bukannya orang Tibet.
Terdengarlah salah seorang berkata.
“Hay orang Han, tak baik membunuh semuanya Bangsa Boan Cu ingin membunuh
orang juga.”
Gauw Lip Sin asal propinsi In Lam mengerti bahasa pedalaman, tetapi kali ini ia tak
mengerti bahasa orang ini. ia berkata dengan bahasa pedalaman In Lam.
“Kami bangsa Han dan kami orang baik-baik untuk itu kalian jangan membunuh
kami”
Orang Boan Cu itu mangguk-mangguk tetapi ia berkata.

“Orang Han tak baik, bunuh semuanya”
Suara itu diulangi oleh orang itu lalu mereka memulai menyerang dan terpaksa Lip
Sin dan anak buahnya melayani mereka itu. Ternyata mereka itu semuanya memiliki
kepandaian ilmu silat yang cukup tinggi. Hal itu yang membuat Lip Sin menjadi heran,
lalu memerintahkan anak buahnya untuk berhati-hati.
Dengan beberapa gebrakan anak buah Lip Sin sudah dapat dirobohkan dan tak lama
kemudian Lip Sin pun roboh juga. Mereka semua dapat dirobohkannya dan diikat.
Setelah semuanya berhasil dirobohkan, pemimpin mereka memerintahkan pada
anak buahnya untuk memeriksa seluruh ruangan, Hal itu yang membuat Siau Po
menjadi khawatir.
Siau Po lalu mengajak lari A Ko dengan melewati pintu belakang,
Kepala Boan Cu itu mengawasi muka Siau Po. Setelah itu tangan Siau Po dicekalnya
erat-erat dan dibawanya kabur. Tetapi sebelumnya, Siau Po berpesan pada A Ko.
“Niocu, Boan Cu ini akan membunuh aku, maka itu kau akan menjadi jandaku,
jangan kau menikah puIa…”
Setelah jauh membawa Siau Po, orang itu menurunkannya.
“Kui Kong Kong, mengapa Kong Kong berada di sini?” tanyanya.
Siau Po heran bercampur girang bukanlah panggilan itu untuk para thay-kam dan
nada suara itu tak lagi kasar dan bengis.
“Kau…. Kau mengenal aku?” tanyanya.
Boan Cu itu tertawa.
“Siau Jin Yo Ek Cie.” sahutnya, “Aku dari istana Peng See Ong, Apakah Kong Kong
sudah tak mengenali aku lagi?” tanyanya.
Setelah mengamati, barulah Siau Po tertawa.
“Mari kita pergi lebih jauh dari sini, orang lain tak boleh ada yang mendengar
pembicaraan kita.” katanya.
Siau Po memperhatikan orang itu lalu berkata, “Baru-baru ini orang Bhok Onghu
memfitnah raja, untunglah raja sangat bijaksana dan dapat mengetahui tipu daya
mereka.”
“ltu semua berkat jasa Kong Kong.” katanya, “Usaha Kong Kong membuat semuanya
menjadi terang, membuat Peng Se Ong menjadi terang dan bebas dari penasaran,

sering ia menyebut-nyebut Kong Kong dan ia ingin sekali bertemu dan mengucapkan
terima kasih.”
“Ucapan terima kasih itu tak dapat aku terima, sebaliknya aku sangat bersyukur
karena ia masih mengingat aku. Sri Baginda dapat mengetahui cara kerja pemberontak
itu, mereka akan mengadakan rapat, Bersamaan dengan itu mereka akan mencelakai
Peng See Ong.” kata Siau Po.
Yo Ek Cie girang.
“Bagus kalau baginda telah mengetahui sepak terjangnya, Dengan demikian mereka
tak akan berhasil dalam pemberontakannya, Aku pun telah mendengarnya dan aku
telah bercampur dengan mereka, cara mereka yang pertama mengangkat ikatan
setempat, lalu membangun perserikatan itu dan memilih ketuanya, Mereka itu akan
menyerang Ongya kami dan itu sangatlah berbahaya. Namun jika para pemberontak itu
berani menyerbu In Lam mereka akan kami ringkus, Tetapi mereka akan memfitnah
kami untuk melampiaskan kekesalan mereka itu, itulah ancaman mereka yang paling
besar.”
Siau Po menepuk dadanya.
“Aku minta padamu tolong kau sampaikan pada Ongya, janganlah ia khawatirkan
aku. Nanti akan aku beberkan pada baginda tentang pemberontakan ini. Bukankah
melawan Peng See Ong berarti memberontak pada baginda? Dengan demikian
Ongyamu akan lebih setia pada baginda dan kau nanti akan mendapatkan hadiah yang
besar dari raja atau mungkin kau akan naik pangkat….”
Girang hati Ek Cie mendengar kata-kata itu.
“Semua ini karena bantuan Kong Kong, Siau Jin sendiri tak mengharapkan hadiah
atau ganjaran, karena Ongya dahulu pernah menolong ayahku, Maka untuk membalas
budinya aku bersedia membelanya sampai mati, Kong Kong, jadi kau datang ke mari
untuk menyelidiki gerakan tersebut?” Siau Po segera menunjukkan jempol “Sungguh
kau pandai dalam bekerja” pujinya. “Jadi kau sengaja menyamar menjadi Seng Hoan,
lalu kau menyerbu bangsa Bhok Onghu, Andaikata kau binasakan mereka semua,
orang luar pastilah mengira perbuatan itu perbuatan Seng Hoan, Siapa yang akan
menyangka itu perbuatan dari Peng See Ong?”
Yo Ek Jie tertawa, membenarkan kata-kata Siau Po itu.
“Benar Kong Kong” katanya dengan semangat.
“Hanya saja, cara menyamaran kali ini mendatangkan bahan tertawaan Kong Kong,
karena cara kami menyamar tidak karu-karuan itu.”

“Tertawa apa?” tanya si kacung itu. “Aku justru sangat senang sekali, dan sangat
kagum padamu hingga aku memikir untuk membuka juga pakaianku ini dan mengikuti
bersama kalian dalam penyamaran.” kata Siau Po.
Ek Jie tersenyum.
“Jikalau Kong Kong menghendaki sekarang juga Kong Kong dapat melakukannya,
Kong Kong dapat mengganti pakaian Kong Kong dan turut bersama kami dalam
penyamaran.” kata Yo Ek Jie pada Siau Po yang sedang menyiapkan perlengkapannya.
Siau Po pun tersenyum, Tapi lalu menarik napas berat.
“Sekarang tidak.” sahutnya dengan cepat. “Apa kata istriku, jikalau aku berdandan
yang tak karuan seperti kalian? Ada kemungkinan ia akan menjadi gusar karena melihat
aku….”
Yo Ek Jie tertawa.
“Kong Kong, benarkah Kong Kong telah menikah?” tanyanya dengan nada kurang
percaya, “Jadi Kong Kong menikah bukan main-main saja sebab Kong Kong dipaksa
oleh mereka itu?”
Siau Po lalu menatap Ek Jie.
“Yo toako,” kata Siau Po pada Ek Jie.
“Kita berdua agaknya berjodoh, maka itu andaikata kau sudi memandang mukaku,
mari kita mengangkat saudara, supaya kau tak usah segan-segan menyebut Kong
Kong atau Siau Jin. Sebab kurasakan itu tak sedap didengar telingaku….”
“Girang Yo Ek Jie mendengar permintaan Siau Po atau tawaran itu. inilah kebetulan
Peng See Ong memang mengharap bantuan thay-kam yang sangat dipercaya oleh raja
ini. Hingga dipercaya raja, Si thay-kam dapat berbicara banyak untuk kepentingan
Ongyanya, ia pun tahu baik thay-kam cilik ini jujur dan terbuka tangannya serta gemar
bergaul dengan siapa saja. Selama di istana Kong Cin Ong, orang telah bersikap baik
sekali terhadapnya
“lnilah hal yang aku tak berani memintanya.” katanya girang,
Siau Po mengajak orang tersebut berlutut, untuk menjalankan upacara
pengangkatan saudara, Di tempat seperti itu yang tak ada Hio, mereka menggunakan
tanah sebagai gantinya. Delapan kali mereka saling berlutut dan memberi hormat. Maka
jadilah mereka itu saudara angkat satu dengan yang lainnya dan selanjutnya mereka
memanggil kakak dan adik.
“Namun, adik.” kata Ek Jie kemudian.

“OIeh karena kedudukan kita, baiklah selanjutnya dimuka umum aku tetap
memanggilmu Kong Kong, supaya dengan demikian kita tak usah membangkitkan
kecurigaan umum.”
“Kau, benar kakak” sahut Siau Po yang mengatakan setuju.
“Sekarang bagaimana sikapmu terhadap orang-orang Bhok itu? Tanya Siau Po.
“Aku akan membawa mereka ke In Lam.” sahut Ek Jie.
“Aku hendak menahan mereka itu, guna mengorek keterangan dari mulutnya, Kalau
perlu dengan cara perlahan-lahan kita akan mengompas mereka itu, sampai kami
mendapatkan pengakuannya tentang Bhok Onghu sudah memfitnah Peng See Ong,
supaya setelah itu kami dapat membawa mereka ke kota raja guna menghadapkan
pada baginda raja, agar baginda dapat mengetahui kesetiaan Ongya kami. Dengan
demikian pembelaanmu akan diperkuat, karena kau membela yang tak keliru.”
Siau Po mengangguk.
“Bagus kakak, bagus” Siau Po memuji Ek Jie.
“Jadi kakak menghendaki pengakuan orang-orang Bhok Onghu itu?” tanya Siau Po.
Ek Jie menganggukkan kepala.
“Ya,” sahutnya, “Aku menghendaki pengakuannya Yau Tau Saycu Gauw Lip Sin. Di
dunia Kang-ouw, dia sangat ternama, Dia juga bertabiat sangat keras, maka aku
khawatir dia tidak mau membuka mulut. Karena aku menghormatinya sebagai orang
gagah, tidak akan aku bersikap terlalu keras terhadapnya, namun di antara mereka itu
ada yang tak kuat menderita dan dia nanti yang membuka mulut.”
Siau Po mengangguk.
“Kakak benar.” katanya, “Bagus pikiran kakak itu”
“Tetapi, saudaraku” kata Ek Jie. “Andaikata pikiranku ini kurang sempurna, tolong
kau berikan petunjukmu dan aku minta kau mau berbicara secara terbuka terhadapku”
“Pikiran kakak bukannya tak sempurna” ujar Siau Po.
“Namun ada sesuatu yang memerlukan pikiran lebih jauh. Katanya dalam keluarga
Bhok itu ada seorang pemberontak yang bernama Bhok Kiam Seng, serta seorang lagi
yang berpunggung keras bagaikan punggung naga, yaitu She Liu, Entah siapa
namanya…,” kata Siau Po pula.

“Saudara, rupanya yang saudara maksudkan ialah Tiat pwee Cong Liong Liu Tay
Hong” kata Ek Jie, “Dialah yang bergelar si Punggung Besi, Dia juga guru silatnya
Bhok Kiam Seng”
“Ya, benar dia” ujar Siau Po. “Kakak, sangat kuat daya ingatmu, Baginda
memerintahkan padaku untuk mencari tahu kedua orang itu. Apakah kakak juga telah
berhasil menawan mereka itu?” tanya Siau Po.
Ek Jie menggeleng kepala, “Kabarnya, Bhok Kiam Seng juga sudah pergi ke Hokan,
Kami sudah mengintai dan menguntitnya, namun sayang setibanya di Hian Koang dia
bisa lolos, entah di mana ia menyembunyikan dirinya”
“Ah, kalau begitu ini agak sulit” tukas Siau Po, “Tadi aku mengoceh tidak karuan,
dengan begitu aku dapat mengelabui Gauw Lip Sin, hingga dari sisinya menggoyang
kepadanya menjadi singa mengangguk-angguk, Katanya dia akan mengajak aku pergi
menemui tuan pangeran mudanya, Siau Ong-ya cilik, itu ada baiknya, aku memang
akan mencari tahu apa rencananya, guna menentang Peng Sie Ong, Setelah
memperoleh itu baru aku pulang ke kotaraja untuk menyampaikan laporan pada raja,
sekarang karena ada rencanamu ini, baik kakak saja yang memaksa mengorek
keterangan dari mulut mereka, itu sama saja, justru dengan demikian aku tak usah pergi
menempuh bahaya”
Ek Jie terdiam tapi otaknya bekerja, “Sebenarnya untuk mengorek mereka itu masih
ada satu soal” katanya.
“Mereka yang menjadi orang sebawahan misalnya mengaku bahwa tentu belum
tentu mengetahui semua rahasia pemimpinnya. Lagi pula orang She Bhok itu tentu
berkepala besar, Dia bagaikan anjing yang berkepala keras, Mungkin ia nanti
menyangkal. Menurut aku, dari pada Peng Sie Ongya yang memberi laporan itu kalah
kuat dengan laporan orang yang diutus baginda sendiri, aku pikir baiklah pihak kami
belum tahu apa-apa. Lalu kaulah yang mengajukan laporanmu itu. Bukankah bagi
Ongya kami tindakan itu akan lebih menguntungkan”
“Jikalau demikian” kata Siau Po, “Kakak Yo, kau harus dapat menggunakan akal
guna membebaskan rombongan Bhok Ongya itu. Bagaimana caranya supaya mereka
tidak curiga?”
“Adikku, dalam hal ini aku terserah padamu….”
“Tetapi kakak, lebih baik kaulah yang memberikan petunjuk padaku”
Ek Jie terdiam, ia berpikir pula, namun kemudian ia berkata.
“Adik, baik kita atur begini saja, sekarang kau pergi masuk ke rumah abu itu. Di sana
kau berpura-pura hendak menolong kakak seperguruanmu. Aku akan mengejarmu, Kita
berdua nanti ber-pura-pura bicara dalam bahasa Boan Cu. Dan akhirnya aku akan
berlaga kena ditaklukkan olehmu. Aku nanti bersikap menghormat dan menurut

terhadapmu. Aku yakin dengan demikian orang tak akan mencurigai kita….” ujar Ek Jie
menjelaskan.
Siau Po tertawa.
“Pikiranmu bagus, kakak” pujinya, “Seperti kau tahu, aku mengerti bahasa Ie.”
Lalu anak ini memberi keterangan yang ia ingat tentang ceritanya kaisar Tong Beng
Hong, mempunyai seorang menteri yang pandai bahasa asing, Bagaimana menteri itu
di waktu mabuk arak, karena kepandaiannya dalam bahasa asing, mampu membikin
kaget utusan raja asing, sehingga si utusan kabur Katanya menteri itu She Ie tetapi
entah apa namanya.”
Ek Jie tertawa, “Dialah Lie Tay Pek,” katanya.
“Memang Lie Tay Pek sewaktu mabuk arak sudah membuat huruf asing, hingga ia
mengutus orang asing, Orang asing itu kaget dan ketakutan lalu berlari”
Mendengar orang itu percaya padanya, Siau Po berbohong,
“Sri Baginda mengutus aku agar menyelidiki gerak-gerik si pengkhianat, Beliau
khawatir aku diserang dan dianiaya, maka ia segera membuka bajunya ini lalu
diserahkan padaku untuk ku pakai. jangan kau khawatir, mari kau mencoba
membacoknya barang beberapa kali”
Ek Jie menurut ia mencabut goloknya, terus menggores lengan Siau Po. ia
memperoleh bukti-nya. Siau Po tidak terlukakan, hanya baju luarnya yang sobek, ia
penasaran lalu membacokkan lagi, Kembali ia memperoleh buktinya.
“Sungguh baju wasiat” pujinya kagum. “Selagi kau menyerang aku, sekalian kau
bekuk seorang pemuda She The. Dialah yang main gila dengan calon istriku, jadi aku
sangat membencinya.” ujar Siau Po.
“Akan aku hajar dia biar mampus.,.” kata Ek Jie.
“Jangan.-. jangan bunuh dia.,.” Siau Po minta, “Dialah orang yang dicari baginda,
Habis kau bekuk lalu tahan dan jaga baik-baik jangan kau ganggu Tak usah kau
tanyakan keterangannya, Nanti setelah lewat tujuh atau delapan tahun baru kau
antarkan ia padaku ke kotaraja.”
Habis berkata demikian dan orang itu pun setuju, mendadak ia berkata nyaring dalam
bahasa Boan Cu.
“Kita sudah bicara sekian lama, mungkin orang mencurigai kita”
Siau Po mengerti, maka ia lalu berkata keras dalam bahasa asing yang tidak karuan,
ia tak khawatir orang akan mengerti bahasanya.

Ek Jie tertawa.
“Saudara bahasa asingmu lebih pasih dari yang aku bisa” pujinya.
“ltu benar,” sahut si kacung tertawa, “Pernah aku pergi ke negeri asing dan aku akan
dijadikan suaminya hingga aku sering gunakan bahasanya itu”
Ek Jie tertawa puIa.
“Ada suatu kesulitan. Karena itu kuingin kau bantu memikirkannya”
Ek Jie menepuk dadanya, “Katakanlah, saudaraku” katanya, “Apakah urusanmu itu?
Kakakmu ini bersedia memberikan nyawa, Katakanlah padaku nanti aku akan
menjalankan titahmu itu?”
Siau Po menarik napas.
“Terima kasih,” katanya, “Sukar tetapi tak sukar, mudah tetapi tak mudah”
“Katakanlah hai, saudaraku” Ek Jie mendesak, “Akan aku lakukan itu sebisaku atau
aku tak sanggup. Aku nanti minta bantuan Ongya dapat jadikan tentara atau uang
beberapa juta” Siau Po tertawa,
“Aku khawatir jiwa tentara serta jutaan tail perak tak akan ada gunanya” katanya,
“lnilah soal kakak seperguruanku ia telah dipaksa menikah denganku tetapi dalam
hatinya tak menyukaiku, Maka itu kakak hendak aku tanya upaya apa kau punya
supaya beres,.?”
Mendengar demikian Ek Jie tertawa.
“Kiranya begitu” Dalam hati, “Aku menyangka urusan besar bagaimana caranya
guna melayani nona, Namun ia seorang kebiri, cara bagaimana ia menikah Oh ya, aku
pernah mendengar orang bilang di jaman kerajaan ada orang thay-kam yang
mempunyai beberapa orang istri, maka mungkin ia akan memiliki seorang pelacur mainmain
dengannya. Guna menghilangkan kesepian dalam hidupnya….”
Mengingat demikian Ek Jie berduka, ia membayangkan bagaimana seorang pria
yang menderita sejak kecil Maka ia segera menggenggam tangan pemuda itu.
“Saudaraku, kau sabar.” katanya menghibur, “Memang hidup di dunia ini tak
selamanya dapat mencapai semua niat kita, Bahkan banyak orang gagah yang memiliki
kekurangan Saudara, jangan kau terlalu pikirkan itu, Mari” Dia menarik tangan Siau
Po.
“Baik” sahut Siau Po yang terus turut masuk, ia lari dengan golok di tangannya.

Keduanya memberikan kata-kata dalam bahasa asing, Segera Siau Po kena
dipegang, Kembali keduanya berbicara bahasa asing sambil menunjuk Gauw Lip Sin
dan A Ko. Mereka bicara terus.
“The kongcu telah dibawa pergi oleh mereka itu, Bagaimana cara menolongnya?”
Justru itu mempelai wanita mendadak berkata nyaring,
“Suamiku hilang Suamiku hiIang…” Gauw Lip Sin tidak menghiraukan nona itu, ia
hanya memberi hormat pada Siau Po sambil menanyakan She dari nama besar
penolongnya, “Aku She Wie.” sahut Siau Po ringkas, “Wie Siangkong dan nona ini,” ujar
Lip Sin, “Karena di sini sulit untuk menyiapkan sesuatu, aku harap sudi kalian menerima
bingkisanku ini” Dia menyerahkan dua potong uang emas.
“Terima kasih” jawab Siau Po yang segera mengambil uang itu.
Muka A Ko sementara itu tampak memerah dan bingung.
“Bukan” katanya sambil membanting kaki. “ltu bukanlah sungguhan, ini tidak masuk
hitungan”
Gauw Lip Sin menjadi heran, Dia bahkan ter-tawa. Lalu berkata,
“Kalian sudah menikah dengan menjalankan upacara menghormati langit dan bumi,
Dan barusan kau juga sudah mengatakan di depan musuh kita tadi, bahwa kaulah
istrinya, Kenapa kau sekarang menyangkal? Nah berarti kalian kedua mempelai, pergi
kalian bersuka ria di dalam kamar aku tak mau mengganggu lagi”
Dengan satu gerakan tangan, Lip Sin mengajak kawan-kawannya mengundurkan diri
ke luar dari rumah abu itu.
Di dalam rumah abu itu menjadi sunyi sepi,
A Ko bingung, malu dan mendongkol menjadi satu, Diam-diam dia melirik pada Siau
Po lantas ingat pengakuannya tadi bahwa pemuda di depannya ialah suaminya Bukan
kepalang pusing pikirannya. Kemudian ia mendekap meja dan menangis keras.
“Semua gara-gara kau” katanya menyesal, “Semuanya karena kau buruk”
“Ya, ya semua benar bahwa aku buruk,” sahut Siau Po perlahan, suaranya halus,
“Aku pikir kapan tiba saatnya aku mendapat cara buat menolong kongcu, barulah aku
akan mengatakan aku baik”
A Ko bagaikan terbangun semangatnya, mendengar sebutan kongcu, Dia lantas
mengangkat mukanya menatap kacung di depannya itu.

“Kau dapat menolong dia?” tanyanya bernafsu.
Lilin merah yang menyala, apinya bergoyang-goyang, Cahaya api itu menyinari si
nona yang sedang menangis, walaupun demikian kecantikannya tidak sirna,
A Ko menarik ujung baju Siau Po.
“Aku mau tanya” katanya, “Aku tanya kau, bagaimana harus menolong kongcu dari
tangan orang itu?”
“Pemimpin orang Boan Cu tadi mengatakan bahwa asal mereka ke luar tak sudi
pulang dengan
————— nggak nyambung
seperti tak habisnya,
Gauw Lip Sin heran. Keduanya saling berpandangan Mereka memiliki harapan
setelah berpikir “Sukur ia mengerti bahasa asing mungkin ia dapat berhasil membujuk
orang asing itu untuk pergi….”
Kemudian Yo Ek Jie mengangkat goloknya, lalu mengancam kepala A Ko.
“Orang perempuan tak baik bunuh saja” bentak Ek Jie.
“Dialah istriku, jangan bunuh dia” teriak Siau Po.
“Apa? Dia istrimu? jangan bunuh?”
“Ya.” sahut Siau Po, “Dialah istriku, jangan bunuh dia Jangan”
Ek Jie berpura-pura gusar “istrimu? jangan bunuh? Baik Bunuh kau saja” ujarnya
dengan bengis.
Kemudian orang itu mengayunkan goloknya pada Siau Po tetapi tidak mempan. Hal
itu yang membuat hatinya menjadi heran. Lalu ia akan membunuh Lip Sin tetapi
dicegah oleh Siau Po.
“Hai perempuan Kau istri dia?” tanyanya Ek Jie pada A Ko.
Ek Jie membacok pinggiran meja hingga pecah, karena A Ko tak mau menjawab
pertanyaan nya. “Laki-laki itu suamimu?” tanyanya lagi. A Ko bingung.
“Ya, dia suamiku” sahutnya perlahan Ek Jie lalu tertawa mendengar jawaban nona
itu. Di angkatnya perempuan itu mendekati Siau Po.

“lni istrimu Kau peluk dia” katanya, Siau Po menurut ia mementang kedua
tangannya memeluk si nona. “inilah istriku, aku memeluknya” katanya sambil memeluk
erat.
Ek Jie memainkan terus peranannya, kali ini ia menunjuk Kek Song.
“Anak itu anakmu?” tanyanya dengan singkat Siau Po menggelengkan kepalanya,
“Bukan” sahutnya dengan singkat Lalu Ek Jie menyerukan bahasa Boan Cunya,
Kemudian ia menyambar Kek Song dan diangkat untuk dibawa lari, Karena ia berseru
kawannya semua menyusul Lalu terdengar tapak kuda yang berlalu pergi.
Sementara itu rasa takut A Ko sudah lenyap, Siau Po terus merangkul pinggangnya.
“Lepaskan tanganmu” katanya kemudian, “lnilah istriku, aku memeluknya” kata Siau
Po.
“Setan alas” kata si nona dengan dongkol. Siau Po membiarkan nona itu. ia lalu
memungut sebuah golok di lantai yang digunakan untuk membebaskan Gauw Lip Sin.
“Bangsa Boan Cu itu lihay silatnya namun otak mereka bebal” kata si kacung itu.
“Aku mengoceh sedikit saja, dan mereka mempercayai. A Ko teringat pada Kek Song,
———————
tangan hampa Harus membawa pulang tahanan buat dijadikan hidangan.” Si nona
terkejut.
“Jadi dia bakal dibunuh dan dimakan?” tanyanya keheranan
“Ya, benar demikian Mereka bilang dagingnya lezat sebenarnya tadi mereka mau
menawanmu sekalian.”
Tubuh si nona menggigil ketakutan.
“Seperti kau ketahui,” sambung Siau Po, ketika aku mengatakan bahwa kau istriku
dia langsung melepaskan kau.”
A Ko bingung bukan main.
“Kongcu telah dibawa pergi oleh mereka itu. Apakah dia akan dibunuh dan dimakan
dagingnya?” tanyanya.
“ltu benar Kecuali jika aku pergi pada mereka dan menggantikannya?” ujar Siau Po.
“Jika demikian pergilah kau, menukarnya dan membawa pulang”
Muka si nona menjadi merah dan dia insaf telah keliru mengucap.

Walaupun mendongkol Siau Po tidak mau berlaku keras, ia hanya berkata dengan
suara lemah, “Baiklah jikalau kau menghendaki aku menukar dirinya dengan diriku.”
Mereka lalu pergi mencari rombongan yang mengiringi Kek Song.
“Oh, nona Tan” kata mereka itu. “Nona, mana kongcu kami? Mana kongcu kami?”
Di antara rombongan pengiring itu segera muncul seorang yang tubuhnya kurus, tapi
gerakannya sangar gesit dan lincah, Dia sudah sampai di depan rombongan Segera
terdengar suaranya, “Mana dia kongcu kami?”
Siau Po heran. ia mendengar suara tajam tetapi muka orangnya tak segera tampak,
ia mundur dua langkah dan orang itu maju dua langkah hingga mereka hanya berjarak
dua kaki.
“Mana kongcu kami?” tanya orang kurus itu.
“Dia… dia ditawan bangsa Boan Cu…,” A Ko menjawab, “Dia telah dibawa pergi
bangsa itu, katanya untuk dimakan dagingnya”
Orang itu agak heran lalu bertanya, “Dia dalam wilayah Tionggoan mana ada orang
asing Boan Cu?”
“Memang benar Boan Cu nya” A Ko memastikan “Pergi lekas susul dan tolong dia”
“Berapa lamakah mereka sudah pergi?”
“Belum seberapa lama….”
Dengan cepat orang itu melompat mundur, lalu duduk di atas pelana kuda, Setelah ia
menjepit perut kuda serta menghentak talinya, binatang tunggangan itu berlari kencang
hingga dalam sesaat ia telah lenyap ditelan gelap gulita.
Siau Po dan A Ko saling mengawasi.
“Entah siapa dia?” ujar si nona kemudian.
Beberapa orang pengiring lantas menjawab lalu berdiri
“Dialah Phang suhu yang bernama Sek Hoan, gurunya kongcu kami Dia yang
bergelar sepasang pedang tanpa darah, Phang suhu sangat lihay. Dengan
kepergiannya beliau pasti dapat menolong kongcu kami.”
“Oh kiranya dia” kata Siau Po dan A Ko berbarengan.

Memang Kek Song pernah memberitahukan Kiu Lan tentang Peng Sek Hoan
gurunya itu, orang hebat dari pihak Kin Lan Pay yang kalau melukai orang tidak
meninggalkan darah.
A Ko segera mengawasi semua pengiring, “Phang suhu telah tiba, kenapa kalian
tidak mengajaknya ke rumah abu untuk segera menolong kongcu?”
“Phang suhu baru saja tiba” sahut seorang pengiring, “Kami mengirim berita dengan
perantara burung darah, Seterusnya malam itu juga beliau melakukan perjalanan
kilatnya dari Hokan ke mari”
“Kenapa selama di Hokan aku tidak melihat Phang suhu kalian?” tanya Siau Po.
Para pengiring itu saling mengawasi Mereka tidak menjawab, bahkan terus
tertunduk. Mereka seperti menyesal sudah keliru berbicara.
Memang selama rapat besar Sat Ku Tay Hwe itu, banyak orang gagah yang
menyembunyikan diri, Baik dengan menyamar atau pun berdiam jauh di belakang.
Demikian juga rombongan dari pihak keluarga The dari Taiwan, Baru sekarang Sek
Hoan muncuI, guna menolong tuan mudanya itu.
Sementara itu A Ko berdiam saja, ia ragu-ragu Phang Sek Hoan atau tidak. Guru silat
itu bersendirian saja.
Siau Po mengawasi si nona. ia dapat menerka hati orang itu, “Kau tenang-tenang
saja Andaikata Phang suhu tidak berhasil, aku akan mengganti jantung hatimu dengan
jantung hatiku Kata seorang laki-laki, kuda apa pun tak dapat mengejar-nya”
“Sukur kalau Phang suhu berhasil menolong mereka” kata si nona.
A Ko bingung waktu melihat orang bangun, di dalam hatinya dia berkata, kalau
Phang suhu gagal dan dia ini pergi. Lalu siapa nanti yang menolong The kongcu?”
Tapi, melihat orang berduduk pula, legalah hatinya, Karena kekhawatirannya itu, ia
tak berani berlaku sembrono lagi bahkan ia menggeser tubuh agar duduk lebih dekat…
Siau Po cerdas, ia dapat mempengaruhi hati si nona, maka pikirnya, “Ya, sekarang
kau membutuhkan aku. Kau mengubah sikapmu, sekarang inilah kesempatanku.”
Maka ia mengulur tangan kirinya untuk merangkul pinggang si nona itu, tangan
kanannya menggenggam tangan kanan perempuan itu.
A Ko meronta sebentar. Namun kemudian berdiam saja.
Bukan main girangnya si kacung, “Paling baik orang itu kena dibinasakan Yo toako
beramai, supaya buat selama-lamanya dia tak dapat kembali ke mari Dengan demikian
aku jadi dapat duduk terus berdiam di sini menantikannya. Pikir Siau Po.

Kacung itu tahu bahwa si nona tidak mencintainya, tapi dia senang duduk
berdampingan dengannya sambil merangkul pinggang wanita bertubuh langsing itu.
Ketika Siau Po tengah berhayal seperti itu, tiba-tiba telinganya mendengar derap
kuda mendatangi. sedangkan si nona sudah berdiri tegak sambil ia berseru. “Nah, itu
The kongcu kembali” Begitu tiba di situ sudah jelas siapa si penunggang kuda, Para
pengiring The kongcu, dengan lentera di tangan menyambut sambil berseru-seru,
Kedua kuda lari mendatangi dengan satu di depan dan satu di belakang, Yang di
sebelah depan benarlah The kongcu.
Melihat A Ko datang menyambut sambil berlari-Iari, Kek Song berlompat turun dari
kudanya. Lalu dia menyambar dan merangkul nona itu, sehingga keduanya saling
berpelukan erat sekali.
Sambil menyelusupkan kepalanya di dada si anak muda itu, si nona sembari
menangis berkata, “Aku sangat khawatir kawanan Boan Cu itu nanti,., nanti…”
Siau Po bangkit berdiri, ia asyik menyaksikan pemandangan di depan matanya itu.
Hatinya terasa seperti tertindih sangat berat Dia bagaikan mendapatkan satu hajaran
hebat sekali, ia mendadak jatuh duduk dan kepalanya terasa pusing serta matanya
berkunang-kunang. Namun ia masih sadar, maka di berkata, “Dalam hidupku kali ini,
dikala aku tidak dapat menikahimu, maka aku adalah buyut turunan ketujuh atau
delapan belas tahun dari The Kek, Aku adalah manusia si hina dina”
Kalau orang lain berputus asa, tapi si kacung bersemangat karena penasaran sekali,
sehingga selang sejenak dia berkata, “Kau boleh menikah sampai delapan kali tapi
yang kesembilan kali kau mesti menikah denganku”
Bocah ini tidak banyak memikir tentang wanita, sebab selama di rumah hina dina ia
telah menyaksikan bagaimana si nona manis menukar “Suami.” Bahkan dengan hati
lega ia menghampiri Kek Song untuk menyapanya, “Oh

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s