“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 68

raja yang sangat besar.”
“Hadiah tinggal hadiah yang penting sekarang mendapatkan muka terang dari semua
Sie Wie.” kata Siau Po yang pandai berbicara itu.
“Sekarang To toako ada suatu urusan, untuk itu aku hendak meminta bantuan
padamu….”
“Apakah itu To toako?” tanya para Sie Wie. “Untuk toako kami bersedia
melakukannya….”
Itu suatu urusan yang membuat orang sangat mendongkol kata Siau Po yang
menunjukkan muka penasaran
“Masalahnya begini aku mempunyai seorang nona yang menjadi sahabatku, tetapi
sekarang ini ia sedang bermain api dengan orang yang bermata keranjang…”
Baru Siau Po berkata sampai di situ para Sie Wie lalu mendaprat mereka berkesan
sangat baik terhadap anak muda itu dan sebaliknya sangat membenci orang yang telah
merusak hubungan antara Siau Po dengan nona itu.
“Bangsat itu bernyali besar hingga ia berani mengganggu pacar Toutong, Baiklah
kami akan melabrak dan membinasakannya.”
“Membinasakan dia, itulah tak usah” kata Siau Po yang terus bersikap sabar.

“Cukup dengan kalian melabraknya dan yang laki agar dia tahu rasa, sebenarnya
anak itu sahabatku, maka jangan kalian menghajarnya dengan kekerasan dan jangan
kau menyentuh si nona….”
Para Sie Wie tertawa.
“Kami mengerti.” kata seorang, “Terhadap sahabat wanita Toutong, siapakah yang
berani berlaku kurang ajar?”
“Mereka tadi menuju ke barat.” kata Siau Po. “Sebentar, setelah kalian mengeroyok
si anak muda, aku akan datang pura-pura menolongnya, Kalian harus segera melarikan
diri, supaya dengan demikian aku akan mendapat muka….”
Kembali para Sie Wie tertawa.
“Toutong, sungguh menarik hati perintahmu ini” kata mereka.
To Liong juga tertawa.
“Nah, kalian pergilah” katanya, “lngat, kalian harus berlaku hati-hati jangan sampai
rahasia terbuka, Biar Toutong Tay Jin akan menganggap kalian bukanlah sahabatsahabat
baiknya”
Lagi-lagi para Sie Wie itu tertawa.
“Buat Toutong, apa pun akan kami lakukan, Baik, kami akan berlaku hati-hati sekali.”
kata mereka.
“Ah, sungguh gila” kata seorang Sie Wie. “Kenapa anak itu demikian kurang ajar?
Dia berani mempermainkan pacar Toutong, itu sama saja dengan dia mempermainkan
ibuku, Bagaimana aku tak akan mengadu jiwa dengannya?”
Mendengar itu semua orang tertawa. “Perlahan sedikit” Siau Po memperingatkan.
“Jaga jangan sampai ada orang yang mendengar pembicaraan kita ini”
Walaupun demikian para Sie Wie itu pada tersenyum. Kemudian mereka
mengundurkan diri, semuanya nampak sangat gembira.
Siau Po cepat-cepat membawa sayurannya ke dapur, dan djserahkannya kepada
koki. ia lalu memberikan persen seraya berpesan agar memasaknya yang baik. Selesai
itu ia pergi ke kota barat, Mulanya cepat sedikit seterusnya ia berjalan perlahan-lahan.
Kira-kira berjalan satu lie, ia mulai mendengar suara berisik orang saling menggentak.
Kemudian tampak beberapa orang sedang berkelahi dengan seru.
“Hebat bocah itu” pikir Siau Po. “Bagaimana seorang diri dia dapat melayani
demikian banyak orang?” Siau Po tertegun melihat perkelahian itu, sebab ia
mendapatkan kenyataan bahwa para Sie Wie bukan mengeroyok The Kek Song,

melainkan tengah mengepung tujuh atau delapan orang yang membela dirinya sambil
mepet pada dinding kota. Mereka itu rombongan Bok Kiam Seng dan Gauw Lip Sin, Di
antaranya terdapat seorang nona yang bersenjatakan sepasang golok, Rambut nona itu
kusut awut-awutan, Dengan lincah nona itu berkelahi di sisi Bok Kiam Seng,
Di atas kota tampak dua orang, bahkan merekalah The Kek Song dan A Ko.
Keduanya sedang asyik menonton sambil bergandengan tangan.
Menyaksikan demikian pemuda itu nampak lucu.
“Celaka mereka salah raba” katanya dalam hati, “Terang mereka melihat The
kongcu bersama nona itu dan mereka salah sangka”
To Liong dengan golok ditangan membuat pengawasan
Tidak ayal lagi Siau Po menghampiri Congkoan itu untuk mengatakannya.
“Kalian keliru yang aku maksud itu yang berada di atas tembok itu..” Habis berkata
demikian ia lalu pergi.
Mendengar demikian, congkoan terperanjat maka ia lalu berteriak
“Keliru…. Keliru, hay sahabat yang berutang bukannya kalian cepat kasih mereka
pergi”
Para Sie Wie yang mendengar suara pimpinannya itu serempak mundur.
Lip Sin semua berhati lega, ia sendiri melihat Siau Po maka ia berkata dalam hati.
“Oh, kembali Wie Inkong yang menolong kita Tak apa andaikata kami sendiri yang
terbinasa, asal jangan Siau Ong terjatuh ke dalam tangan musuh.”
Yang dimaksud Siau Ong, pangeran ialah Bhok Kiam Seng, si putera raja muda.
Karena tak leluasa buat menemukan Siau Po di saat seperti itu, Lip Sin mengajak
kawan-kawannya menyingkir ke arah utara.
Siau Po sementara itu menghampiri A Ko.
“Su ci, kenapa mereka itu bertempur?” tanyanya pada si nona yang ia gilai, “siapakah
mereka itu?”
“Tidak tahu Kata tentara itu, mereka menagih hutang.” sahut si nona.
“Mari kita pulang Suhu pasti kesepian.” ajak Siau Po.
“Silahkan pulang dulu, aku akan menyusul kemudian.” jawab A Ko.

Baru saja A Ko berkata demikian, tampak para Sie Wie tengah memanjat tembok.
Mereka semua berlarian, lalu seorang Sie Wie menunjuk Kek Song seraya berkata, “ltu
dia yang berhutang padaku”
“The kongcu Sute, mari kita pergi dari sini Lihat serdadu Tatcu itu tengah berbuat
sewenang-wenang, celaka kalau mereka mengganggu kita” kata Siau Po secara
perlahan.
A Ko merasa khawatir. “Baik mari kita pulang” katanya,
Sie Wie tadi justru telah menghampiri lalu ia berhadapan dengan Kek Song dan
berkata dengan nyaring.
“Kemarin di Hokan waktu kau pelesiran di rumah hina, kau berhutang padaku
selaksa tail perak, hayo sekarang kau bayar”
“Ngaco belo” bentak Kek Song gusar, “Siapa yang pelesiran di tempat hina dina?
Kenapa aku berhutang padamu?”
“Kau masih menyangkal” kata Sie Wie itu, “Malam itu di pangkuanmu duduk seorang
nona manis siapakah mereka itu?”
Belum lagi Kek Song menyangkal seorang Sie Wie yang lainnya sudah mendahului
berkata.
“Yang lebih tua namanya A Cui yang muda Hong Po. Ketika itu di kiri ia menciumi
pipi si nona lalu kau meneguk arak dan di kanan kau mengelus-elus pipi si nona yang
kanan dan kau meneguk arak lagi, sungguh sedap hidupmu itu”
“Kau” menimbrung Sie Wie yang ketiga, “Sambil memeluk si nona di kiri dan
kananmu kau sudah berjudi denganku, Ketika itu kau kalah dua ribu tail perak dan kau
meminjam uangku tiga ribu tail, Kau katakan hendak bermain terus untuk menebus
kekalahannya kau juga meminjam dua ribu tail dari kenalanku, Kemudian kau
meminjam lagi seribu tail dan terhadap saudara ini kau pinjam seribu lima ratus tail…”
“Dan kepadaku,” kata Sie Wie yang keempat, “Juga seribu lima ratus tail”
Menyusul kata-kata itu, mereka masing-masing mengulurkan tangan,
“Mari bayar uangku” kata mereka bergantian “Jikalau membunuh manusia harus
dibayar dengan nyawa, kau berhutang pada kami uang maka kau harus membayar
dengan uang juga, Lekas bayar”
A Ko berpikir mendengar suara para Sie Wie itu. ia ingin mempercayai separuhnya,
tapi dia ingat Siau Po di rumah hina itu dan selama dalam gerombolan pohon itu sudah
meraba-raba tubuhnya, Memang malam sebelum itu Sat Ku Tai Wi, Kek Song pernah
tidak pulang dan pulangnya di waktu pagi dengan wajahnya menunjukkan bekas

menenggak banyak arak namun katanya ia telah diundang kenalannya yang gagah,
siapa mau percaya itu?
Mengingat demikian air mata A Ko menetes sebab ia merasakan sangat sedih, Siau
Po menarik baju A Ko. “Mari Sute, urusan mereka bukan urusan kita Mereka pula
orang-orang busuk, maka kita jangan mencari keonaran pada mereka itu” kata Siau Po.
A Ko mengangguk, ia mundur beberapa langkah.
Sekarang Sie Wie itu menghadang Kek Song yang terus mereka kurung, Seorang
Sie Wie yang berada di belakang si anak muda bangsawan, lalu menjulurkan tangannya
untuk menarik baju dan kuncir anak itu.
Kek Song gusar sekali ia lalu melangkah mundur, sekaligus menjulurkan tangannya
untuk meninju dada seorang Sie Wie, sehingga Sie Wie itu berteriak kesakitan.
Melihat demikian para Sie Wie segera menyerang.
Mereka bertarung satu lawan satu saja, para Sie Wie itu bukanlah lawannya. Akan
tetapi sekarang para Sie Wie itu mengeroyok rapat sekali, maka tak lama Kek Song
sudah dapat dirobohkan.
“Jangan lancang menyerang orang” seru A Ko yang lalu maju untuk membantu Kek
Song, “Kalau ingin bicara, bicaralah dengan baik-baik” katanya.
“Nona jangan mencampuri urusan orang ini urusan pribadi kami dengan dia” kata
Tio Liong.
“Minggir” kata si nona yang mendongkol dan merasa cemas, hingga dia menjadi
bingung, Dia pun mendorong si congkoan yang berdiri menghalang di depan.
To Liong orang lihay, hanya dengan mengibas perlahan dengan tangan kirinya, ia
sudah membuat nona itu terpental ke belakang hingga beberapa langkah.
Sementara itu Kek Song sudah diberi bogem mentah oleh para Sie Wie yang
mengeroyoknya itu. ia juga didupak beruIang-ulang, Karena telah dirobohkan, maka ia
tak berdaya menghalau serangan itu.
A Ko penasaran, dia melawan To Liong tetapi bukannya ia maju melainkan malah
terdesak mundur makin jauh, sebab congkoan itu sengaja mendesak makin jauh.
“Oh nona, pemuda itu gemar berjudi dan main perempuan maka lengkaplah
segalanya, Malah tadi pagi ia masih meminjam uang lima ribu tail dari aku. Katanya
uang itu akan digunakan untuk menikah dengan dua orang nona manis yang biasa
dipangku dan diciuminya. Mengapa nona masih membelanya?” kata To Liong sambil
tertawa,
A Ko benar-benat bingung melawan orang itu, Dia sudah habis dayanya.

“Jangan aniaya dia, kalau kalian ingin bicara, bicaralah dengan baik-baik” teriak si
nona pada para Sie Wie.
Seorang Sie Wie tertawa.
“Kau suruh dia bayar uangku” katanya, “Kalau ia mau membayar utangnya sudah
tentu aku tak akan menghajarnya” walaupun demikian, sambil bicara ia terus
menghajarnya.
Kali ini Kek Song terhajar hidungnya, mengeluarkan darah.
Seorang Sie Wie lainnya menghunus goloknya, “Tebas dulu kedua telinganya baru
kita mau bicara” katanya dengan nada keras sambil mengangkat goloknya.
A Ko terperanjat melihat kejadian itu, Nona itu lari mendekati Siau Po lalu menarik
tubuhnya, Diapun sangat bingung sehingga hampir menangis.
“Bagaimana…. Bagaimana?” tanyanya.
Siau Po yang sejak tadi diam sekarang mulai ikut bicara.
“Kalau cuma selaksa tail perak, aku sediakan uangnya, Hanya aku merasa tak puas
jika uangku harus diserahkan pada mereka untuk membayar utang judi dan main
moler”
“Tetapi ia mengancam akan memotong telinganya” kata si nona. “Mari kupinjam
uangmu itu” tambahnya.
“Jikalau Sute yang pinjam jangankan baru selaksa tail, sepuluh laksa tail pun akan
kuberikan. Hanya hendak aku jelaskan padamu karena kau akan menjadi istriku maka
kau tak perlu meminjamnya. Uangku ya uangmu demikian juga sebaliknyal Maka itu
sebaiknya kau suruh The kongcu yang meminjam padaku.,.” kata Siau Po.
A Ko membanting-banting kaki.
“Ah kau terlalu” katanya, ia masih bingung tetapi ia lalu menoleh para Sie Wie dan
berkata, “Eh, jangan kau pukul pula Nanti aku bayar uang kalian semuanya..”
Para Sie Wie berhenti menghajarnya, namun mereka masih menindih Kek Song
hingga ia tak dapat bergerak
“The kongcu” A Ko lalu berkata kepada Kek Song, “lni adik seperguruanku punya
uang, kau pinjamlah uangnya agar kau dapat membayar utang-mu semua…”
Kek Song bingung sekali apalagi ia melihat golok sudah mengancamnya, hingga
sewaktu-waktu telinganya dapat pisah, ia berpaling pada Siau Po yang air matanya
menunjukkan permohonan

A Ko menarik baju Siau Po yang padanya ia merasa sangat muak.
“Kau pinjamkanlah uang padanya.,.” kata gadis itu.
Seorang Sie Wie yang mendengar kata-kata si nona tertawa dingin.
“Uang selaksa tail bukanlah sedikit.” katanya, “Tanpa jaminan siapa yang sudi
meminjamkan uangnya.” lanjutnya.
“Kecuali jika nona sudah menjaminnya.” kata seorang Sie Wie yang lainnya. “Jadi,
andaikata bocah ini menyangkal dia tak mau membayar uang yang dipinjamnya
nonalah yang harus menanggungnya dan membayarnya hingga beres.”
Akan tetapi Sie Wie yang memegang goIok, tetap mengancam ingin memotong
telinga Kek Song.
“Si nona dengan si bau ini bukannya sanak bukannya kadang mana si nona mau
menjaminnya? LagipuIa kalau uang tak dapat dibayar kembali yang menjadi jaminan
adalah diri nona, Artinya nona harus menikah dengan si tuan, nah apa daya?”
Mendengar demikian semua Sie Wie tertawa terbahak-bahak.
“Benar…. Benar…” kata mereka yang tertawa puIa, “Memang begitu.”
“Ah, setuju” kata Siau Po perlahan. “Kau dengar para Sie Wie itu Bukankah bicara
mereka itu tidak benar? Bukankah dengan demikian kau terlalu dipaksa?”
Belum lagi A Ko menjawab ia mendengar suara menggelepok dengan keras.
Rupanya seorang Sie Wie telah menampar Kek Song yang tak berdaya menangkis
atau mengelakkan diri, Sebab selain kedua tangannya, kedua kakinya pun mereka
pegangi, sehingga tak berdaya sama sekali
“Hajar” teriak seorang Sie Wie. “Hajar dia biar mati. Hitung-hitung uang selaksa tail
itu hanyut di kali, agar mata kita tak melihatnya dan hati tak usah memikirkannya.”
“Plok Plok Plok”
Demikian terdengar suara berulang kali, ternyata para Sie Wie sudah menghajarnya
lagi.
“Sudah Sudah” akhirnya Kek Song yang sekian lama berdiam diri sekarang mulai
memperdengarkan suaranya, ia benar-benar tersiksa, tapi rasa nyerinya tak terlalu
berat dibanding dengan sakit hatinya karena diperlakukan demikian tanpa daya, ia toh
putera seorang raja muda yang seharusnya tak dapat dihina secara demikian.

“Eh, saudara Wie, katanya kau mempunyai uang, Mari aku meminjam sebesar
selaksa tail perak.,., Aku berjanji akan membayar penuh uang itu….”
Siau Po melirik A Ko. ia tak mau menjawab kata-kata Kek Song tapi malah bertanya
kepada si nona.
“Sute, kasih pinjam atau tidak?” tanya Siau Po.
Air mata si nona berlinang.
“Pin…. Pinjamkanlah” katanya sambil menangis sesegukan.
“Jikalau si nona yang menjamin” kata seorang Sie Wie yang suaranya nyaring,
“Maka kelak si nona akan menikah dengan si tuan uang. Dengan demikian anak ini
menjadi perantara Comblangnya”
Siau Po lalu merogoh kantungnya dan mengeluarkan uang sejumlah selaksa tail, ia
menyerahkan uang bukan kepada Kek Song melainkan kepada A Ko.
Si nona menjulurkan tangan untuk uang itu.
“Nah uangnya sudah tersedia” kata nona itu pada para Sie Wie, “Bebaskanlah dia”
Para Sie Wie itu ragu-ragu, bukankah ia akan menolong anak muda itu? sekarang si
nona dapatkan? Siau Po setujukah? Maka mereka masih belum mau membebaskan
Kek Song.
Siau Po mengerti keragu-raguan mereka.
“Kalian ambil uang itu” katanya pada mereka, “Pergi kalian dan bagi rata uang itu
Hitung-hitung kalian beramal. Nah, lepaskan orang itu”
Para Sie Wie jadi gembira bukan main. Kata-kata si Toutong berarti uang itu
dihadiahkan pada-nya, maka segera mereka melepaskan Kek Song.
A Ko menuntun Kek Song bangun, terus memberikan uang itu padanya.
Hati si anak muda menjadi sangat panas, ia mendongkol sekali tetapi terpaksa
menyambut uang itu. Hanya tanpa menghitung dan melihatnya dan segera ia
sampaikan pada para Sie Wie itu.
“Hay kau segala prajurit Tatcu, kamu terlalu”
Sambil mengedipkan matanya Siau Po berkata pada para Sie Wie.
“Kenapa kau menghajar sahabatku sampai begini rupa? Awas aku tidak akan
berhenti sampai di sini…”

“Sudahlah” kata A Ko. ia khawatir para Sie Wie itu menjadi gusar.” sudahlah mari
kita pulang”
“Tetapi kelakuan mereka sudah membuat orang dongkol” kata Siau Po. “Hay bocah
kau baru bebas sudah timbul niatmu yang kurang baik. Kau si setan paras elok
Masihkah kau ingin mempermainkan gadis orang?”
Mendadak To Liong menyambar punggung Kek Song lalu diangkatnya hingga
terangkat pula tubuh orang itu dan terus diputarnya.
“Hendak aku lontarkan kau ke kaki tembok kota ini” teriak To Liong, “Akan aku lihat
kau masih dapat hidup atau mati”
Kek Song kaget dan takut bukan main. “Jangan” teriaknya
“Jangan” A Ko pun berseru, Sebab si nona tak kurang cemasnya.
Dengan sengitnya, To Liong membanting pemuda itu ke loteng.
“Jikalau demikian buat selanjutnya kau harus menyingkir jauh-jauh dari nona itu”
ancamnya, “Nona itu baik-baik tetapi kau sendiri penjudi dan tukang main perempuan
Namamu boleh tercemar tapi nama nona ini tidak Aku bilang kepadamu andaikata lain
kali aku melihat kau mengganggu nona ini, tak dapat tidak, aku akan patahkan batang
lehermu”
Nampak si congkoan masih sangat mendongkol. Dengan tangan kirinya, ia
menyambar kucir Kek Song dan memegang bongkoknya erat-erat, lalu dengan tangan
kanannya ia memegang ujungnya untuk dililit di tangannya, setelah itu sambil berteriak
ia menarik keras-keras sehingga kuncir itu putus, terkutung ujungnya.
Para Sie Wie bersorak menyaksikan pemimpinnya menunjukkan tenaganya yang
besar itu, sebab bukanlah mudah guna menarik kuncir orang.
To Liong melempar ujung kuncir itu lalu mencekik batang leher Kek Song.
Muka Kek Song tampak berubah merah, disusul dengan ke luarnya lidah akibat
cekikan itu, hingga nampaknya sebentar lagi anak muda itu akan mati.
Para Sie Wie pun tidak tinggal diam, mereka segera menghunus senjata masingmasing,
lalu mereka mengurung pemimpinnya beserta anak muda itu. Maksud mereka
mencegah andaikata A Ko hendak menolong pemuda itu.
“Hai bagaimana?” bentak Siau Po tiba-tiba.
“Bukankah uang kalian sudah dibayar? Apakah kau hendak membunuh orang?”

Pertanyaan itu ditutup dengan sebuah bogem yang mendarat di perut salah seorang
Sie Wie. Yang dihajar perutnya itu terpekik dan mundur beberapa langkah.
Siau Po tidak berhenti hanya sampai disitu, ia menyerang dengan menggunakan tipu
silat Siau Liong Cio Cu, sepasang naga berebut mutiara.
To Liong yang tengah mencekik Kek Song, tidak bisa menangkis serangan Siau Po
bahkan berkelit pun sukar. Akan tetapi karena ia bertubuh besar, maka pukulan Siau Po
mengarah pada iga-nya. ia pura-pura gusar dan berkata.
“Hay, setan cilik aku pun akan mencekik mu sampai mampusl”
To Liong melepaskan cekikan Kek Song lalu membalas menyerang.
Para Sie Wie talu berteriak: “Hajar sampai mampus setan cilik itu Hajar sampai
tubuhnya gepeng dan hancur lebur”
Menyaksikan pertarungan itu A Ko mengkhawatirkan Siau Po terkena pukulan
mereka.
“Sute, sudah” ia berteriak memanggil Siau Po. “Mari kita pulang”
Mendengar suara A Ko, Siau Po merasa girang dan berkata dalam hatinya “Kiranya
ia memperhatikan aku juga” katanya dalam hati “Rupanya dia masih mempunyai
hatinya yang baik.”
Siau Po yang melihat serangan lawan, segera berkelit sehingga serangan lawan itu
meleset dari sasaran dan membentur batu yang besar hingga batu itu goyah.
Seandainya kaki Siau Po terkena pukulan itu tentu sangat bahaya sekali.
Bagaimana pertarungan mereka, itu berkat latihan dilakukan oleh Siau Po, pada saat
Siau Po menyerang dengan sangat cepat sekali lawan tak dapat melihat serangan itu,
sehingga pukulan Siau Po tepat mengenai perut To Liong.
Tetapi To Liong tak berhenti sampai di situ, ia terus menyerang Siau Po dan kacung
itu berkelit. Tembok itu pun jebol.
Oleh karena serangannya yang dahysat itu meleset, maka To Liong terjatuh dan
kepalanya membentur tembok.
Siau Po khawatir bukan main, takut To Liong tak bernyawa lagi. Cepat-cepat ia
melompat ke tembok dan menolong lawannya itu, Hatinya sangat lega karena yang
dilihatnya bukanlah To Liong yang telah mati, melainkan wajah yang memberikan
senyuman

To Liong mengusap tangannya yang menandakan agar Siau Po jangan bersedih
Setelah itu ia jatuh tak berkutik lagi.
Para Sie Wie kaget bukan main ia lalu berlarian mendekati pemimpin mereka.
Siau Po menarik tangan nona itu dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
“Mari kita pergi” katanya “Mari cepat”
A Ko menurut lalu berlarian bersama Siau Po. Mereka lari bertiga dan langsung
menuju penginapan.
Kiu Lan melihat napas murid wanitanya tersengal-sengal dan air matanya yang
berlinang, segera mengetahui bahwa muridnya habis menghadapi suatu kejadian.
“Apa yang telah terjadi?” tanyanya.
“Ada belasan serdadu Tatcu yang mengganggu The kongcu” sahut si murid
memberikan keterangannya, “Syukur ada Sute yang menghajar roboh pemimpinnya…”
“Sekarang kau diam saja di penginapan, jangan sembarangan pergi ke luar” kata
sang guru.
“Ya.” sahut A Ko sambil menundukkan kepalanya. Akan tetapi karena ingat kepada
Kek Song yang terluka, ia pun pergi juga ke kamar pemuda itu untuk melihatnya.
Kek Song sedang tidur dan luka-lukanya sudah diobati oleh para pengiringnya.
Siau Po yang melihat A Ko ke luar dari kamarnya kembali hatinya panas karena nona
itu dari kamar Kek Song.
“A Ko selalu memperhatikan pemuda itu” katanya dalam hati, “Baik pemuda itu akan
kutebas telinganya dan ku korek matanya. Dan aku akan dapat melihat ia masih
menganggap si jantung hati atau bukan pada pemuda itu.”
Walaupun ia sangat cerdas tetapi masih bingung juga dalam menghadapi asmara,
Mungkin karena ia masih terlalu muda.
Malam itu sudah larut jauh, Siau Po terbangun dari tidurnya karena mendengar suara
dari luar jendela.
“Wie Inkong inilah aku” terdengar suara orang dari luar jendela kamarnya.
Siau Po mengenali suara itu. ia segera turun dari pembaringan untuk membuka
jendela itu.
“Gauw Jie Siok?” tanyanya.

“Benar Aku” sahut suara di luar itu.
Dengan berhati-hati Siau Po membuka jendela itu, dan Lip Sin melompat ke dalam
dengan sangat bernafsu ia merangkul erat-erat tubuh Siau Po.
“lnkong senantiasa aku ingat saja, Tak ku sangka kau sekarang berada di sini,
Selama rapat besar di Hokan, aku telah bertanya kepada kawan-kawan tentang kau.
Aku menyesal karena mereka tak berani menerangkan apa-apa.”
Siau Po tertawa.
“Mereka bukannya tak percaya kau, melainkan ada sebabnya kenapa mereka tak
sudi bicara.” katanya.
“Sebenarnya aku turut menghadiri rapat Sat Kui Tay Wie itu dengan menyamar dan
semua saudara kita tak tahu itu.”
“Oh, begitu” katanya. “Tadi aku telah bertemu kawan serdadu Tatcu, kembali kau
telah menolongku jikalau kau tak menolongku aku tak khawatir Siau Ongya kami akan
mendapat celaka, Maka dari itu Siau Ongya mengutus aku ke mari guna mengucapkan
terima kasih pada Inkong yang sudah melepas budi sangat besar.”
“Tetapi kita sahabat.” kata si kacung, “Karena-nya janganlah kita berlaku sungkan
satu dengan yang lainnya, Ji Siok, kau selalu menyebut Inkong sangat asing, untuk itu
jangan pakai kata itu lagi”
Gauw Lip Sin menatap anak muda di sisinya.
“Baiklah kalau demikian” katanya, “Tak lagi aku memanggil Inkong padamu, Kita
selanjutnya menjadi saudara satu dengan yang lainnya, Karena aku berusia lebih tua.
Lebih baik aku memanggil adik kepadamu.”
“Bagus.” kata Siau Po sambil tertawa, “Dengan demikian bukankah si keponakan
murid jadi akan memanggil paman padaku?”
Mendengar disebutnya Lau It, Gauw Lip Sin nampak agak riskan,
“Dialah anak tak berguna, Jadi kita lebih baik jangan menyebut-nyebut dia” katanya,
“Eh, adikku, sebenarnya kau sedang dalam perjalanan ke mana?”
“Sebenarnya panjang untukku mengatakan-nya.” sahut Siau Po yang seterusnya
memanggil “Jiko” kakak yang kedua sebagai gantinya Ji Siok paman nomor dua.
“Sekarang ini adikmu tengah menghadapi urusan jodohnya.”
Girang Gauw Lip Sin mendengarkan kata-kata adik angkatnya itu. Tak disangka ada
orang yang mau memberitahukan urusannya.

“Selamat adikku.,., Selamat” ia lalu memberikan kata selamat
“Boleh aku tahu nona itu dari keluarga mana?” Di dalam hati ia bertanya-tanya,
“Bukankah nona itu Pui Ie?”
“Calon istriku itu She Tan,” kata Siau Po. “Namun ada yang membuat aku menjadi
malu.”
“Bagaimana itu adikku?” tanyanya.
“la mempunyai sahabat kekal seorang She Tan. Bocah itu buruk, ia ingin mengambil
calon istriku, tetapi ia justru memberikan bisikan pada tentara Tatcu, hal itu yang
membuat aku sangat berbahaya.”
Lip Sin menjadi gusar.
“Bocah itu sudah bosan hidup” katanya keras, “Kenapa ia berbuat demikian?”
Lip Sin menepuk pahanya.
“Justru kami, keluarga Bhok turut membangun kerajaan Beng yang sangat besar
Keluarga Bhok lamalah yang turun-temurun memegang kekuasaan di propinsi In Lam,
Tetapi keluarga The berasal dari sebuah pulau di Taiwan, mana bisa ia disamakan
dengan keluarga Bhok?”
“Memang.” kata Siau Po.
“Namun dia membanggakan diri. Katanya untuk membinasakan Gauw Sam Kui,
pihaknya dapat bekerja dengan mudah. Dia juga mengajakku berunding katanya untuk
membinasakan keluarga Bhok. Mendengar demikian aku lalu menegurnya, aku pun
memberitahukan padanya, Thian Te Wie dan Bhok Onghu sudah berjanji dan berlomba
untuk membinasakan Gauw Sam Kui, Dalam pertaruhan itu kedua pihak harus bekerja
sama. Akan tetapi tentara itu mengenalinya dan aku mendustainya bahwa kalian bukan
orang yang dicarinya maka loloslah ia.”
Lip Sin mempercayai cerita itu.
“Oh, begitu.” katanya, “Jikalau demikian bocah itu bukanlah manusia.”
“Celaka bocah itu memang harus diajar adat,” kata Siau Po pula. “Namun dia putera
Yan Peng Unong, dia tak dapat dibinasakan maka dia cukup dihajar Sewaktu kau
menghajarnya aku akan muncul untuk memisahkannya lalu kita berpura-pura bertarung
dan waktu itu kau pura-pura kalah dan kau pergi, maukah kau?”
“Adikku kau bekerja untuk kepentingan kami, kenapakah aku tak sudi?” kata Lip Sin.
“Caramu ku memang paling baik. Dengan demikian kita tak usah bentrok dengan pihak
Taiwan,”

“Kakak, berpura-pura tak mengenal dia.” kata Siau Po. “Dengan begitu kakak dapat
bermain gila padanya. Dialah orang yang memiliki luka di muka dan pada kepalanya
dan dia pula ada bersama aku.”
“Baik, adik” kata Lip Sin. “Nah adik jaga dirilah baik-baik dan aku akan pergi.”
katanya, Tetapi ia merasa berat meninggalkan Siau Po Laki-laki itu lalu memegang
tangan Siau Po dan berkata dengan perlahan.
“Di kolong langit ini banyak nona yang cantik prilakunya, oleh karena itu calon istrimu
itu berlaku kurang sopan terhadapmu, kau jangan terlalu banyak berpikir, dapat kau
tinggal dan mencari gantinya”
Siau Po mengangguk nampak ia sangat menyesal dan ia berdiam saja.
Gauw Lip Sin lalu pergi lewat jendela itu dan tidak lama lagi tubuhnya sudah
menghilang dari pandangan mata,
Besoknya Siau Po ikut gurunya dan A Ko pergi ke utara, The Kek Song dan para
pengikutnya berjalan bersama-sama.
“The kongcu kau hendak ke mana?” tanya Kui Lan.
“Aku hendak pulang ke Taiwan,” sahut si pemuda. “Sekarang aku hendak
mengantarkan perhiasan pada suthay, setelah itu kita berpisah.”
Lewat kira-kira dua puluh li, jauh di belakang mereka nampak rombongan
penunggang kuda yang menuju arahnya, dengan cepat mereka telah sampai, ternyata
rombongan para tani yang di tangannya memegang pacul dan garukan. Salah seorang
dari rombongan itu menunjuk ke arah Kek Song.
“lni dia bocahnya” katanya dengan nyaring.
Siau Po mengawasi orang tersebut dan ia tahu bahwa orang-orang itu orangnya
Gauw Lip Sin.
“Kiranya mereka hendak menyamar,” katanya. “Hendak aku lihat bagaimana mereka
itu.,.”
Rombongan para tani itu melintas di hadapan kereta itu. Lip Sin lalu menunjuk ke
arah Kek Song lalu ia berkata dengan bengis.
“Eh, bocah, tadi malam bagus benar perbuatanmu pada keluarga Thio di desa Thio
kecung, bagaimana kucing habis mencuri makanan, sekarang kau akan meloloskan
diri.”
Kek Song gusar, ia merasa tak karuan di fitnah, entah Lie Ke Cung.

“Apakah itu perbuatan di Teo Ke Cung?” tanyanya keras, “Apakah kau tak punya
mata? Kenapa kau mengaco?”
“Oh, bagus,” kata Lip Sin. “Jadi peristiwa di Lie ke Cung juga perbuatanmu jadi nona
di desa itu telah kau perdayakan Bagus kalau kau mengaku sendiri Oh bocah sungguh
kau bernyali besar Di dalam satu malam kau sudah mendustakan dua orang nonal”
Para pengiring Kek Song menjadi tidak senang, beberapa di antaranya berseru
bersama.
“Inilah Kongcu kami jangan kamu menyangka orang jangan kamu ngomong
sembarangan”
Lip Sin tidak langsung menjawab pertanyaan itu. ia menarik ke luar tangan nona
yang berada di dalam dan menanyakannya,
Melihat hal yang demikian itu Siau Po jadi ingin tertawa karena ia tahu nona itu
pastilah orang belian Lip Sin. Orang itu sangat jelek, Nona itu mengaku bahwa Kek
Song lah yang semalam datang ke rumahnya.
Melihat pengakuan si nona itu seorang petani lalu berkata. “Kau menghina adikku
Enak benar datang-datang kau menjadikan aku toakomu Sungguh kau sangat kurang
ajari Aku ingin mengadu nyawa denganmu”
Siau Po memandangi orang itu satu persatu, ia mengenali bahwa yang tadi berbicara
itu salah satu murid dari Lip Sin dan kata “Toako” yang berarti kakak ipar.
Menyaksikan hal itu A Ko menjadi heran dan tidak percaya dengan apa yang dilihat
Cuma anehnya mengapa tanpa sebab ada orang yang datang mengusulnya dan
menuduh?
A Ko menjadi bingung sebab ia harus berbuat apa. ia lalu bertanya pada gurunya dan
sang guru memberikan jawaban yang kurang enak didengar.
Baik Siau Po maupun Kui Lan diam saja mereka hanya menonton kejadian itu dan
tidak ada reaksi memberikan bantuan pada Kek Song.
Hanya beberapa gebrakan saja Kek Song sudah dapat ditundukkan Setelah itu Kek
Song pun dibawa kabur ke desa orang-orang itu dan orang Kek Song lalu mengejarnya
namun mereka tak berhasil.
“Eh, Sute, coba kau pikirkan bagaimana caranya aku dapat menolong Kek Song itu?”
tanya Siau Po pada A Ko.
“Apa katamu? Kau ingin menolong dia? Dia toh tak terancam bahaya dan juga tak
membunuh orang. jadi ia tak akan mengganti nyawa” kata A Ko dengan sengitnya.

Siau Po tertawa.
“Menikah itu baik dan bagus.” kata Siau Po. “Aku memikirkan akan menikah
denganmu kau malah tak mau.”
A Ko mendelikkan matanya pada kacung itu dan ia berkata dengan sengit “Orang
sedang bingung hingga mau mati kau malah berbicara yang tidak-tidak, Kau lihat saja
nanti, aku mau memperhatikanmu atau tidak.”
Siau Po dapat menerka maksud nona itu karena ia selalu berbuat yang tidak-tidak,
Dan benar saja pada malam harinya nona itu bermaksud ingin pergi menolong Kek
Song hal itu diketahui Siau Po, hingga ia sengaja menegakkan si nona yang sedang
mengeluarkan kudanya untuk pergi ke desa itu.
“Siau Po” tegurnya “Kaulah itu?”
Siau Po tertawa.
“Benar aku” sahutnya sambil tertawa.
“Bikin apa kau di sini?” tanya si nona.
“Aku si orang gunung pandai meramal,” sahut Siau Po sambil tersenyum, “Telah aku
meramalkan bahwa malam ini akan ada seorang yang akan mencuri kuda, Oleh karena
itu malam ini aku tidur di sini untuk menjaganya.
“Cis,” Tetapi hanya sebentar kemudian nona itu berkata kepada Siau Po. “Siau Po
aku ingin meminta bantuanmu…. Mari kau menemani aku menolong dia.”
Puas hati Siau Po mendengar perkataan nona yang lunak itu.
“Kalau dia berhasil aku tolong, lalu apakah upahnya?” tanya Siau Po tanpa malumalu.
“Apa yang kau pinta semua pun boIeh” kata si nona dengan suara ragu-ragu karena
tahu kalau Siau Po akan menikahinya dan itu tak dapat diterimanya maka ia berkata,
“Kau selalu menghinaku, belum pernah kau bersungguh-sungguh mau menolongku.”
Hati nona merasa sedih, dan setelah berkata demikian ia lalu menangis, karena
teringat akan kelakuan Kek Song.
Sebaliknya Siau Po yang melihat dan mendengar nona itu menangis hatinya menjadi
resah dan gelisah.
“Baik…. Baiklah” katanya, “Aku akan menemanimu.”
A Ko girang hingga ia berhenti menangis. “Terima kasih…. Terima kasih” katanya.

“Tak usah kau katakan terima kasih” kata Siau Po. “Namun aku tak mengetahui letak
desa itu.”
Siau Po lalu mengambil kudanya dan mereka berjalan berendeng kembali ke tempat
semula.
“Sebenarnya ada apakah hingga kau begitu sangat menyukainya?” tanya Siau Po.
“Siapa bilang aku menyukainya?” sangkal si nona, “Aku hanya saling mengenal
Karena ia sedang dalam kecelakaan, maka sudah sepantasnya aku menolongnya.”
“Bagaimana jika ada orang yang menawanku dan akan menikahkan aku, sebagai
mana yang terjadi pada diri Kek Song?” tanya Siau Po pada nona itu. “Apa kah kau juga
akan menolongku?”
A Ko tertawa.
“Memangnya kau tampan” katanya, “Siapa yang sudi menawanmu dan memaksamu
untuk menikah?”
Siau Po menarik napas panjang.
“Kau tidak memandang padaku,” katanya, “Siapa tahu ada seorang nona yang
melihatku lain.”
A Ko tertawa lagi.
“Jikalau demikian aku akan bersukur pada langit dan bumi.” katanya, “Karena
dengan demikian arwahmu tak lagi mengejar-ngejar aku dan aku bebas.”
“Baiklah jika demikian halnya, jika nanti ada orang yang menawanmu dan
memaksamu untuk menikah dengannya aku tak akan menolongmu.”
Mendengar perkataan itu A Ko terperanjat karena jika benar terjadi hal yang
dimaksud Siau Po itu, tak ada orang lain yang mau menolongnya selain dari anak muda
itu.
“Pasti nanti kau akan menolongku.” katanya perlahan-lahan.
“Mengapa begitu?” tanya Siau Po.
“Jikalau ada orang yang menghinaku tak mungkin kau diam saja karena aku adik
seperguruanmu.” jawab si nona.
Manis rasanya hati Siau Po mendengar kata-kata si nona.

Sementara itu, tanpa sengaja mereka telah sampai pada tempat mereka bertempur
tadi siang, tetapi di situ sudah banyak orang yang sedang duduk, Rupanya orang-orang
itu yang tadi siang telah menyerang mereka.
A Ko menahan kudanya.
“Mana The kongcu?” tanyanya.
Rombongan itu berjingkrak bangun lalu siap menyerang A Ko.
“Rombongan orang desa itu telah mengundang The kongcu, untuk menikahkannya,
Kongcu menolak tetapi mereka langsung menyerang dengan tendangan dan juga
tonjokan.-.”
Si nona menjadi gusar.
“Kamu…. Kamu. Bukankah kamu semua pandai silat?” teriaknya, “Mengapa dengan
orang desa saja kalian tak dapat mengalahkannya?”
Rombongan itu semuanya tertunduk “Orang-orang itu semuanya pandai bermain
silat.” jawabnya.
“Kamu masih mengaco, masa ada orang desa pandai bermain silat apalagi
seluruhnya?” ia lalu berpaling pada Siau Po. “Sute ayo kita menolong mereka Dan
kalian jalan duluan untuk menemukan jalan”
Salah seorang yang lebih tua berkata, “Kami tak berani datang ke sana karena
mereka mengancam akan memenggal kepala kami jika kami datang ke sana”
“Andaikata kepala kalian yang dipenggal apa yang kalian takuti?” tanyanya, “Kalian
takut mati? Bukankah kalian ditugaskan melindungi kongcu? mengapa sekarang kamu
takut mati?”
“Ya…. Ya” kata si orang tua. “Tetapi nona jangan menunggang kuda agar
kedatangan kita tidak mereka ketahui”
Para pengiring itu lalu mengantarkan si nona dengan meninggalkan lampu, jauh juga
mereka berjalan, maka sampailah mereka ke tempat tujuan, yaitu sebuah rumah besar
yang di dalamnya terdengar bunyi tetabuhan.
Mendengar bunyi tetabuhan yang sangat nyaring itu A Ko menjadi kebingungan.
“Lebih dahulu kita mengintai dari luar” pesan si nona.
A Ko dan Siau Po mengitari rumah besar itu. Tampak salah sebuah pintu rumah itu
yang tidak tertutup rapat, Melalui pintu itu mereka masuk dan sampailah pada sebuah
ruangan besar. Di situlah A Ko menjadi bingung sekali, berbeda dengan Siau Po.

A Ko melihat Kek Song sedang duduk bersanding dengan seorang wanita, Hal itu
yang membuat hatinya menjadi resah dan orang-orang itu terus saja menabuh
gendang.
“Beri hormat lagi,” kata Gauw Lip Sin.
“Apa yang harus dihormati?” kata Kek Song. “Bukankah aku telah menghormati
langit dan bumi?”
Mendengar ucapan itu A Ko hampir saja pingsan, karena itu merupakan kedua
mempelai sudah melakukan pernikahan.
Gauw Lip Sin tertawa.
“ltu sudah aturan kami.” katanya, “Mempelai lelaki harus memberi homat kepada
mempelai wanita sebanyak seratus kali, sedangkan kau baru melakukan tiga puluh kali,
jadi kurang tujuh puluh kali.”
Go Pui sebaliknya, ia lalu menendang pantat Kek Song sehingga pemuda itu
langsung berlutut.
A Ko telah habis kesabarannya, nona itu menendang jendela lalu menyerang orang
yang ada di dalam sambil berteriak.
“Lepaskan dia” ia membentak dengan suaranya yang sangat bengis, “Lepaskan dia
atau aku yang akan membunuh kalian semua?”
“Ah, nona Apakah nona akan minum arak? Dan memberikan kata selamat kepada
kedua mempelai ini? Eh, mengapa nona membawa golok segala?” sahutnya dengan
riang gembira.
Ia tidak menjawab melainkan menyerang dengan goloknya, dan yang diserang hanya
berteriak, “Aduh” Tetapi serangan itu tak menemui sasarannya.
Menyaksikan pertempuran itu Gauw Lip Sin tertawa.
Kek Song yang melihat adanya bala bantuan, lalu berdiri ingin membantu nona itu,
Akan tetapi terdengar ada suara “Duk” dan ia lalu tersungkur ke lantai.
A Ko lalu berbalik menyerang Lip Sin. Akan tetapi nona itu tetap kewalahan meskipun
lawannya tidak menggunakan senjata.
“Sute, cepat” ia panggil Siau Po. “Sute cepat bantu aku”

Bagian 52
Sejak tadi Siau Po terus menonton pertarungan itu dengan matanya yang terus
mengamati gaya silat nona A Ko. Mendengar ucapan gadis itu, Siau Po lalu
mengeluarkan suara yang bengis.
“Sungguh celaka, kamu lihay sekali Baiklah, aku yang tua ini akan mengadu nyawa
denganmu”
Gauw Lip Sin mendengar suara dari luar itu, ia memerintahkan kepada kedua
muridnya agar melayani nona A Ko dan

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s