“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 67

dan kedua muridnya justru duduk di bawah sebatang pohon hoay yang
letaknya agak jauh dari keramaian
Dari empat penjuru, para tamu masih berdatangan Dalam sekejap mata para hadirin
di tanah kosong itu semakin banyak, sementara itu, sang putri malam terus merambat.
Pada saat itulah salah seorang yang duduk di bagian atas segera berdiri dan
merangkapkan sepasang tangannya.
“Para hadirin yang mulia, terimalah hormat dari Phang LanTek”
Para hadirin segera berdiri dan membalas hormatnya.
“Sahabat-sahabat sekalian, tentulah kalian sudah tahu apa maksud pertemuan kita
malam ini. Karena sebuah cita-cita yang luhur Kerajaan Beng yang kita cintai telah
dirampas oleh bangsa Tatcu, Dalam hal ini, orang yang paling jahat, pengkhianat yang
terbesar ialah….”
“Gouw Sam Kui” teriak orang banyak.
“Pengkhianat besar” susul beberapa yang lainnya. “Kura-kura Anak haram Aku
kutuk dia delapan belas turunan” Demikianlah terdengar suara orang banyak memakimaki.
Baru saja suara makian itu agak reda. Terdengar seseorang berteriak.
“Aku kutuk dia sembilan belas turunan” itulah suara Siau Po yang hatinya ikut
bersemangat.

“Mengapa kau ikut mencaci?” tegur A Ko.
“Orang lain boleh mencaci, mengapa aku tidak?” sahut Siau Po.
Ketika terdengar lagi suara Phang Lan Tek. “Pengkhianat itu dibenci oleh orang
banyak Lihat anak itu saja meluap rasa amarahnya Nah, para hadirin, malam ini kita
hadir di sini, maksudnya ialah merundingkan jalan yang baik untuk membunuh
pengkhianat besar itu.”
Orang banyak mengajukan beberapa usul Ada yang mengajak pergi ke In Lam dan
menyerbu istana Peng Si ong, ada yang mengusulkan untuk membunuhnya secara
diam-diam. Ada yang mengusulkan agar menculik selir kesayangannya, Tan Wan Wan,
agar Gouw Sam Kui menderita.
Sementara itu, hidangan mulai diantarkan, Phang Lan Tek menganjurkan agar
semuanya berdahar sambil memikirkan cara yang baik. UsuI itu langsung diterima, Siau
Po langsung makan hidangan itu dengan lahap. Begitu pula para tamu lainnya, Setelah
selesai bersantap, Phang Lan Tek berdiri dan berkata pula.
“Kita semua terdiri dari orang kasar yang hanya bisa menggunakan senjata
membunuh musuh, sedangkan pengetahuan kita dangkal sekali, Untuk itu, sebaiknya
kita meminta petunjuk Kou Teng Lim sianseng. Kou sianseng adalah seorang terpelajar.
Setelah negara kita runtuh, dia menjelajah ke seluruh negeri untuk mencari kawan
sehaluan demi membangun kembali kerajaan kita, Kalian pasti sangat mengaguminya,
bukan?”
Banyak orang bersorak menyatakan persetujuannya karena Kouw Teng Lim ini
sangat terkenal Setelah suara berisik mereda, Kouw Teng Lim segera bangkit dan
memberi hormat kepada Phang Lan Tek.
“Phang tayhiap terlalu memuji, malu aku menerimanya. Aku juga telah mendengar
suara hati para hadirin yang semuanya cinta pada negara dan bersatu hati ingin
menyingkirkan si pengkhianat besar Aku pun kagum terhadap kalian. Memang Kita
harus bersatu Asal kita bekerja sama dengan baik, niscaya usaha kita akan berhasil.”
“Akur Akur…” terdengar sambutan orang banyak,
“Apa yang saudara-saudara sekalian kemukakan tadi, ada benarnya, Tapi kita harus
bisa bekerja mengikuti perkembangan yang ada, agar dapat merubah siasat setiap detik
dibutuhkan Kita pun dapat bekerja sendiri-sendiri. Yang penting urusan yang maha
besar ini jangan sekali-kali dibocorkan.
Kalau tidak, si pengkhianat besar keburu melakukan penjagaan ketat, Kedua, kita
jangan sembrono supaya kita tidak mengantarkan jiwa secara sia-sia. Dan yang ketiga,
karena kita semua sudah seperti saudara, kita jangan berebutan jasa. Hal itu akan
merusak persatuan dan merugikan usaha kita.”

“Benar” kata orang banyak.
“Jumlah kita besar, kita juga terdiri dari berbagai partai, Kalau kita bekerja secara
terpisah, posisi kita menjadi kurang kuat Sebaliknya, kalau kita bekerja berkelompok
jumlah kita menjadi terlalu besar dan kemungkinan mudah diketahui pihak musuh, Kita
harus mencari jalan untuk memecahkan persoalan ini.”
Semua orang terdiam untuk menguras otaknya.
“Bagaimana menurut pemikiran sianseng sendiri?” tanya seseorang.
“Menurut aku, kita terpaksa membagi diri menjadi beberapa kelompok.” kata Kouw
Teng Lim. “Bukankah kita terdiri dari orang-orang gagah dari delapan belas propinsi?
sebaiknya setiap propinsi bekerja sama dengan orang-orang dari propinsi masingmasing,
Dengan demikian usaha kita bisa berjalan dengan lancar Kita menggunakan
nama ikatan Membasmi Pengkhianat.”
UsuI itu lagi-Iagi disambut dengan gembira, Pikiran Kouw sianseng ini diterima
dengan baik.
“Kouw sianseng memang benar. Kalau para hadirin tidak ada yang memprotes, mari
kita buat delapan belas kelompok Setiap propinsi memilih kepala ikatan yang terdiri
dari orang propinsi itu sendiri Bukan menurut asal kediamannya yang terakhir.
Misalnya, seorang hwesio dari Siau Lim Sie, tidak perduli asalnya dari Liau Tong
atau In Lam, dia tetap terhitung orang Ho Lam. Seperti juga setiap murid Hoa San Pay
terhitung orang Siam Say. Bagaimana pemikiran saudara-saudara sekalian?”
“Memang demikian seharusnya” sahut seseorang. “Umpamanya pihak Siau Lim Sie,
kalau kita memakai dasar menyelidiki asal-usul, pasti sulit jadinya.”
Orang banyak menyetujui pemikiran itu, tapi ada seseorang yang berteriak.
“Bagaimana dengan kami, orang-orang dari pihak Tian Te hwe? Cabang kami
banyak sekali dan pusat kami juga berpindah ke sana ke mari….”
Siau Po mengenali orang itu sebagai Cian Lao Pan. Hatinya senang sekali.
“Begini saja” kata Kaow Teng Lim yang menjawab pertanyaan tadi. “Orang-orang
Tian Te hwe yang ada di kuil Kui Tang, masuk ikatan Pembasmi Pengknianat cabang
Kui Tang, demikian seterus-nya. Kita harus bersatu, bukan memecah diri berdasarkan
kelompok atau partai masing-masing, Bagaimana?”
“Bagus” seru orang banyak.

Segera orang banyak mengumpulkan diri menjadi delapan belas kelompok Tapi
dilain pihak ada beberapa juga yang tidak menggolongkan diri dalam kelompok mana
pun seperti halnya Kui Lan serta A Ko.
Beberapa saat kemudian, beberapa propinsi sudah berhasil memilih ketuanya,
propinsi Ho Lam memilih Hui Cong Sian Su dari Siau Lim Sie.
propinsi Ouw Pak memilih Ceng Hoa tojin, ketua Bu Tong Pay. Untuk propinsi Siam
Say, yang terpilih ialah Pat Bin Wi Hong Phang Lan Tek, ketua dari Hoa San Pay.
Rombongan dari In Lam memilih Bhok Kiam Seng dari Bhok Onghu dan bagi propinsi
Ho Kian, orang mengangkat The Kek Song, putera kedua Raja muda Yan Peng Kun
Ong.
Ada beberapa propinsi yang ragu-ragu memilih calon, mereka meminta pendapatnya.
Akhirnya mereka berhasil juga memilih ketuanya masing-masing. Ada tiga propinsi yang
ketuanya semua orang-orang dari Thian Te hwe.
Sampai di situ, Kui lan mengajak kedua muridnya pulang ke penginapan Dia merasa
sudah cukup melihat-lihat setuasi pertemuan itu. The Kek Song tidak turut dengan
rombongan mereka, hal ini membuat Siau Po senang sekali.
Siau Po segera mengoceh tentang Kek Song yang katanya akan membawa
beberapa orang nona untuk berpelesir ke Taiwan, A Ko hampir menangis mendengar
bualannya, hatinya mendongkol sekali.
Mereka tidak jadi pulang ke penginapan melainkan melanjutkan perjalanan seperti
permintaan Pek I Ni. sementara itu, A Ko tampak sedih sekali sejak mendengar ucapan
Siau Po tentang The Kek Song.
Kui Lan menegur murid barunya agar dia berhati-hati dengan mulutnya. Siau Po
terpaksa menurut.
Perjalanan diteruskan sampai tengah hari Kemudian mereka singgah di sebuah
rumah makan untuk bersantap, Baru saja mereka selesai memesan hidangan, tiba-tiba
datang serombongan tamu lainnya yang meluruk masuk memasuki rumah makan
dengan suara bising.
“Lekas potong ayam sediakan hidangan yang enak-enak”
Wajah A Ko langsung berseri-seri.
“Ah The… kongcu” ujarnya.
Rupanya rombongan yang baru masuk itu memang The Kek Song dengan para
bawahannya, Si pemuda mendengar seruan A Ko, dia segera menoleh dan
mengembangkan seulas senyuman seraya menghampiri.

“Oh, nona Tan, suthay Rupanya kalian ada di sini.”
Sementara itu, masuk lagi serombongan orang lainnya yang dikenali Siau Po
sebagai orang-orang dari Tian Te hwe, hatinya senang sekali orang-orang dari Tian Te
hwe itu langsung mengambil tempat duduk di sudut ruangan.
Karena rumah makan itu kecil, terpaksa Kek Song dan yang lainnya bergabung
dengan orang-orang Tian Te hwe itu.
Siau Po sendiri segera menghampiri Ci Thian Coan yang ada dalam rombongan
orang-orang Tian Te Hwe. Dia berkata dengan suara perlahan “Kalian jangan coba
mengenali aku” Ci Thian Coan terkejut ketika mengetahui siapa yang berbicara
dengannya. Namun dia mengerti peringatan itu maka dia diam saja.
“Kita bersikap seperti belum pernah berkenalan Ci toako, kau beri bisikan kepada
yang lainnya” kata Siau Po pula.
Thian Coan menuruti dia segera berdiri dan menghampiri meja Kwan An Ki dan Hoan
Kong serta Cian Lao Pan.
“Wi hiocu kita ada di sini.” Tapi kita tidak boleh menyapanya.
Kwan An Ki dan yang lainnya mendengar, tapi mereka diam saja, Hal ini
membuktikan bahwa mereka menuruti pesan tersebut Sesaat kemudian, orang-orang
dari rombongan Tian Te Hwe telah mengetahui tentang kehadiran hiocu mereka.
Di meja Kui Lan, Kek Song berkata dengan suara keras.
“Suthay, tadi malam dalam rapat, orang-orang telah memilih aku sebagai Bengcu
(ketua) untuk propinsi Ho Kian. Masih banyak urusan penting lainnya yang kami
bicarakan, ketika subuh aku kembali ke penginapan, ternyata suthay sekalian sudah
pergi, untung aku bisa menyusul.”
“Selamat” kata Kui Lan. “Tapi, The kongcu, urusan ini penting sekali, Harap kau
jangan sembarangan mengatakannya di depan umum”
“lya, iya,” sahut si pemuda, “Syukur di sini tidak ada orang luar. Mereka….” Dia
menunjuk pada rombongan Thian Coan. “Mereka hanya orang-orang kasar yang tidak
mengerti apa-apa.”
Sembari makan, Siau Po berkata dengan suara perlahan.
“Makhluk itu sungguh sembrono, kemungkinan kelak dia bisa merusak urusan besar
ini. Ci toako, Hong toako, harap kalian kasih pelajaran kepadanya Selagi kalian
bertarung, aku akan datang menengahi, harap kalian pura-pura kalah….”

Hong Ci Tiong dan Ci Thian Coan segera menganggukkan kepalanya, Pada saat itu,
ada seorang bawahan Kek Song yang menghampiri Hoan Kong, Orang itu
mendorongnya keras-keras.
“Pergi kau duduk di sana”
Inilah alasan yang tepat untuk mencari gara-gara, Ci Thian Coan segera meloncat
bangun dan berkaok-kaok.
“Gila Sudah kami berikan satu meja, masih belum cukup Tuanmu ini paling benci
melihat lagak anak hartawan yang sok pamer” Dia meludah ke arah Kek Song.
Pemuda itu sedang berbicara dengan A Ko, dia tidak bersiap sedia, Ketika ludah Ci
Thian Coan menyambar, dia masih berusaha berkelit, tapi terlambat Tidak sedikit air liur
ini sempat muncrat ke punggungnya, Pemuda itu langsung merasa muak dan cepatcepat
mengeluarkan sapu tangan untuk menyusutnya.
“Ah, segala anak dusun kurang ajar” teriaknya, “Hajar dia”
Salah seorang pengiring Kek Song langsung menyerang Thian Coan.
“Aduh” teriak orang yang dipukul meskipun tinjunya belum sampai Terus dia
menjatuhkan diri sambil berkaok-kaok, “Aduh Mati aku”
The Kek Song yang menyaksikan hal itu langsung tertawa terbahak-bahak, Dalam
hatinya dia berkata, — Dasar orang tua tidak punya guna —
Hong Ci Tiong segera bangun dan menuding Kek Song.
“Binatang, apanya yang lucu?”
Kek Song merasa gusar. “Aku mau tertawa, lalu kau mau apa?”
Ketika Kek Song berbicara, Ci Tiong berkelebat ke depannya dan terdengarlah suara
gaplokan sebanyak dua kali. Kek Song menjadi gelagapan saking nyerinya.
“Coba aku ingin lihat, apakah kau masih dapat tertawa?”
Tidak sampai di situ saja, Thian Coan ikut mendupak pantat Kek Song sehingga dia
teraduh-aduh.
“Kau berani melawan kami, para berandal dari Hok Gu San, Aku, si A Gu akan
memberikan pelajaran kepadamu” teriak Ci Thian Coan.
A Ko menjadi panik melihat Kek Song dihajar berulang-ulang oleh orang-orang kasar
itu.

“Kau berbuatlah sesuatu Mengapa kau diam saja?” tegurnya pada Siau Po.
“Bagimana, suhu?” tanya Siau Po pada Pek I Ni. “Bagaimana kalau aku menasehati
mereka agar jangan memukul The kongcu lagi?”
“Apa kepandaianmu?” sergah A Ko sinis, “Mana mungkin kau dapat menasehati
mereka?”
“Meskipun kawanan berandal itu lihay-lihay, aku lihat mereka juga tetap memiliki
kelemahan. The kongcu tidak tahu kelemahan itu sehingga tidak mampu menghentikan
perbuatan mereka.” kata Siau Po.
A Ko merasa penasaran Akan tetapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi,
sementara itu, terdengar Pek I Ni berkata pula.
“Asal-usul orang-orang itu masih belum jelas, Aku lihat mereka bukan orang-orang
jahat, jangan kau ganggu jiwa mereka, jangan kau merusak nama baik partai kita”
“lya, iya.” sahut Siau Po. “Akan ku ingat pesan suhu baik-baik.”
Tepat pada saat itu, Hong Ci Tiong melancarkan sebuah serangan kepada Kek
Song, Kelima jarinya mencengkeram, tahu-tahu bagian dada pakaian pemuda itu sudah
koyak, kalau dia serius melancarkan serangannya pasti dada pemuda ini sudah terluka
parah.
Bukan kepalang mendongkol dan malunya hati Kek Song. Dikeroyok sedemikian
rupa, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia berusaha mengadakan perlawanan
sebisanya, dia menerjang ke depan, tapi celaka.
Tangannya malah tercekal oleh salah satu Iawannya, Dan itu masih belum seberapa,
orang itu segera menghentakkan tangannya dan melemparkannya ke udara sambil
berseru.
“Sambutlah” Seorang lawan lainnya segera menyambut tubuh Kek Song lalu
dilemparkannya lagi kepada temannya yang lain. Dalam sekejap saja Kek Song sudah
menjadi bulan-bulanan kawanan itu yang melemparkannya ke sana ke mari seperti
sebuah bola.
Menyaksikan kejadian tersebut, Siau Po sampai lupa diri, Dia bertepuk tangan sambil
berseru, “Bagus Bagus” Dia baru berhenti ketika merasa batok kepalanya ditepuk oleh
seseorang.
Rupanya A Ko lah yang menepuknya karena merasa tidak senang melihat sikap Siau
Po.
“Kau… kau cepatlah tolong dia” katanya tersendat-sendat.

Siau Po tersenyum.
“Mereka toh sedang bermain-main, mengapa kau begitu gugup? Suhu sendiri tidak
merasa cemas.”
“Bukan” sahut A Ko. “Mereka ingin menculiknya dan kemungkinan ingin meminta
tebusan dari ayahnya.”
Hong Ci Tiong yang mendengar kata-kata si nona langsung berseru,
“Bagus.” katanya, “UsuI yang bagus sekali, Kita minta tebusan sebanyak satu juta tail
saja.”
Wajah A Ko jadi pucat pasi, Dia sadar dirinya telah kelepasan bicara. sementara itu,
Siau Po tertawa.
“Biar saja” katanya, “Bukankah The kongcu anak orang kaya? Di rumahnya pasti
banyak uang, jangankan hanya satu juta, empat atau lima juta juga tidak menjadi
persoalan baginya.”
A Ko membanting kaki, dia kesal sekali dan hatinya bingung, Siau Po menjadi tidak
sampai hati.
“Mudah untuk menolong dia.” katanya, “Kita harus mengadakan perjanjian. Kau
harus mau menjadi istriku.”
Si nona menjadi gusar.
“Ngaco” katanya.
Tepat pada saat itu, salah satu dari “kawanan berandal itu berteriak dengan lantang.
“Hai, kalian dengar Cepat kalian pulang ke Yan Peng Onghu, raja muda kalian,
Kalian minta uang yang nanti harus kalian antarkan ke Hok Gu San Uang itu untuk
menebus kongcu kamu ini Lebih baik kalau secepatnya, Sekarang ini kami tidak akan
merampas jiwa kongcu kalian, dalam tiga hari kami hanya akan menghajarnya saja,
setiap hari dia akan dirotan sebanyak tiga ratus kali, Kalau uang tebusan cepat datang,
penderitaannya akan berkurang.”
A Ko bingung sekali Dia menarik tangan Siau Po.
“Kau dengar sendiri Bagaimana baiknya sekarang?”
“ltu tidak apa.” kata Siau Po. “Kau jangan khawatir Kalau satu hari dirotan tiga ratus
kali, dua bulan baru tiga kali enam jadi delapan belas, jumlahnya baru seribu delapan
ratus….”

“Bukan.,.” sahut A Ko. “Selaksa delapan ratus….”
Siau Po tertawa.
“lya, iya.” sahutnya, “Aku tidak pandai menghitung, Tapi ada baiknya juga hajaran itu,
nanti pinggulnya menjadi kebal dan tahan pukulan.”
A Ko semakin marah, Dia mendelik pada si bocah.
“Masa bodoh.” katanya, “Aku tidak mau meladeni engkau lagi.”
“Sudah, sudah” kata Siau Po. “Jangan menangis. Nanti aku akan mencari daya
untuk menolongnya.”
“Cepat kau tolong dia” bentak si nona, “Urusan lainnya kita bicarakan nanti.”
Tatkala itu, kedua tangan Kek Song sudah diikat, anak buahnya tidak berani
melakukan apa-apa, karena takut tuan mudanya dicelakai kawanan berandal itu
menaikkannya di atas punggung kuda, terang mereka hendak membawanya ke gunung
Hok Gu San.
Melihat itu, A Ko semakin bingung. Siau Po dapat melihat gelagat sekaranglah
waktunya untuk bertindak, Karena itu, dia segera menghambur ke depan pintu sambil
berseru,
“Hai Hai Tay Ong dari Hok Gu San, mari Aku yang rendah ingin berbicara sedikit
denganmu”
Rombongan Ci Thian Coan memang sedang menunggu panggilan itu, Dengan
tampang keenggan-engganan, mereka menolehkan kepalanya.
“Eh, saudara kecil, apa maumu?” tanya Kho Gan Ciau.
“Tahukah kalian siapa yang kalian tawan itu?” tanya Siau Po,
“Dialah putera kedua dari Yan Peng Kun Ong di Taiwan.” sahut Gan Ciau, “Pasti kau
juga tahu siapa dia. Tapi dia ini benar-benar kurang ajar. Coba kami tidak memandang
kakek dan ayahnya, walaupun dia punya sepuluh kepala, tentu kami akan
mengutungkan semuanya, Dalam tangsi, kami mempunyai banyak anggota, kami
kekurangan biaya, karena itu sekarang kami tawan dia. Maksud-nya untuk ditahan
sementara waktu, Kami ingin meminjam uang dari ayahnya sebanyak satu juta tail.”
“Satu juta tail?” kata Siau Po. “ltu urusan kecil, aku dapat memberikannya kepada
kalian.”
Kho Gan Ciau tertawa.

“Eh, saudara kecil,” katanya, “Apakah she dan namamu yang mulia?”
Siau Po tersenyum. “Aku bernama Wi Siau Po.” sahutnya singkat “Oh” seru Kho
Gan Ciau yang langsung merangkapkan sepasang tangannya untuk menjura, “Kiranya
kaulah Siau Pek Liong Wi Enghiong yang telah membunuh Go Pay, si orang Boan Ciu
paling kuat di jaman ini Namamu sudah sangat terkenal Saudara kecil, kami semua
mengagumimu, pertemuan ini sungguh menggembirakan hati kami.”
Siau Po membalas hormatnya. “Tidak berani aku menerima pujian yang demikian
tinggi.” katanya.
“Saudara kecil,” kata Kho Gan Ciau, “Dengan memandang saudara, kami suka
membebaskan orang she The ini, uang satu juta yang tadinya hendak kami pinjam,
kami tidak mengingatkannya.
Ci Thian Coan mengeluarkan dua potong uang perak dari saku pakaiannya kemudian
diserahkan kepada si anak muda, sikapnya sangat menghormat “Wi Enghiong,
andaikata kau memerlukan uang untuk perjalananmu silahkan ambil uang seratus tail
ini” katanya,
Tanpa sungkan-sungkan lagi, Siau Po menerima pemberian Ci Thian Coan.
“Terima kasih” katanya singkat Kemudian dia berpaling kepada A Ko untuk
menyerahkan uang itu kepada si nona, “Simpanlah yang ini, mungkin kita
membutuhkannya nanti.,,.”
A Ko menjadi heran. Dia benar-benar tidak mengerti Sungguh di luar dugaan, orang
yang sangat dibencinya ini justru mempunyai nama besar, sampai segala berandal dari
Hok Gu San itu pun tahu dan menghormatinya sedemikian rupa, dia tidak tahu, bahwa
si bocah nakal ini justru pemimpin dari kawanan berandal tersebut.
“Ah” Dia sampai mengeluarkan seruan tertahan Di dalam hati, dia merasa gembira
dan heran. Heran karena bocah itu bisa bergaul dengan siapa saja, gembira karena
pemuda pujaan hatinya akhirnya akan dibebaskan oleh kawanan berandal tersebut.
Sementara itu, kawanan berandal dari Hok Gu San semuanya menghampiri Siau Po
dan mengajaknya berkenalan Mereka tampaknya bersungguh-sungguh ingin mengenal
bocah itu lebih dekat saking kagumnya mendengar nama besar yang disandang si
bocah.
Setelah selesai berkenalan Siau Po membalikkan tubuhnya untuk kembali memasuki
rumah makan Tiba-tiba Hong Ci Tiong memanggilnya kembali.
“Tunggu dulu, Wi Enghiong” katanya. Dia memanggil si bocah dengan sebutan
Enghiong yang artinya pendekar “Kau telah berhasil membunuh Go Pay, kami semua
sangat mengagumimu, Tapi kita baru berkenalan kita tidak tahu satu dengan lainnya,
Karena itu kami mana tahu kau ini pendekar sejati atau pendekar palsu, Kalau ada

orang yang memalsukan nama Wi Enghiong dan mengakuinya, kami bisa saja
dikelabui, siapa tahu ada orang yang sengaja melakukannya untuk mencari
keuntungan?”
“Kau benar juga.” kata Siau Po. “Lalu apa yang harus aku lakukan agar kalian bisa
percaya.”
“Maaf kalau kami bernyali besar Wi Enghiong” kata Ci Tiong dengan sikap
menghormat “Aku mohon sudilah kiranya Enghiong memberikan petunjuk kepadaku
barang tiga jurus…. jago Boan Ciu nomor satu saja bisa terbunuh di tangan Enghiong,
pasti kepandaian Enghiong tinggi sekali.”
Siau Po menganggukkan kepalanya.
“Baiklah kalau itu yang kan inginkan.” sahutnya “Tapi aku tidak ingin berkelahi secara
sungguh-sungguh, kita hanya saling mencoba saja, menang atau kalah tidak menjadi
persoalan, kita bermain-main sampai batas saling towel saja.”
Hong Ci Tiong pun menganggukkan kepalanya,
“Benar begitu.” katanya, “Aku harap Wi Enghiong menaruh belas kasihan kepadaku
sehingga aku tidak sampai terluka parah karenanya…”
Di dalam hatinya Siau Po tertawa.
— Biasanya Hong toako ini tidak suka bicara, Tak disangka disaat bermain
sandiwara, dia bisa menjalankan perannya dengan demikian sempurna–
“Saudara, jangan sungkan” katanya kemudian.
“Mungkin aku bukan lawanmu yang setimpal Harap saudara juga jangan berlaku
terlalu keras kepadaku. Nah, mari kita mulai”
Ci Thian Coan segera maju.
“Saudara, biar aku dulu yang mencoba Wi Enghiong”
“Tidak bisa” sahut Ci Tiong, “Aku yang memintanya terlebih dahulu. Jadi akulah
yang harus melawannya dulu, kau boleh menyusul belakangan.”
Setelah berkata, dia menoleh kepada Siau Po dan berkata.
“Saudara, kau boleh mulai sekarang.”
Siau Po langsung melakukan penyerangan Dia mengangkat tangan kirinya ke atas,
telunjuknya diayunkan, disusul dengan satu tepukan oleh tangan kanannya, Tapi baru
setengah jalan, tangan itu sudah diputar balik untuk menyerang dari samping. itulah

sebuah jurus tipuan yang bernama Bu Sek Bu Siang dari ilmu poan Jiak Ciang yang
diajarkan oleh Teng Koan taysu ketika dia berada di kuil Siau Lim Sie.
“Bagus.” kata Hong Ci Tiong sambil mengacungkan jempolnya, “lnilah salah satu
bagian dari Poan Jiak Ciang yang dinamakan Bu Sek Bu Siang….” Dia segera
menangkis dan berhasil menghindarkan diri dari serangan itu.
Siau Po kembali maju selangkah, kaki kirinya ditendangkan ke samping. sekarang
dia menggunakan sebuah jurus yang pernah diajarkan oleh Hay Tay Hu, tapi dia lupa
apa nama jurus itu, Hong Ci Tiong bersikap seakan kurang bersiaga, Dia ingin
mengelakkan diri dari serangan itu, tapi apa daya kakinya telah tersepak sehingga dia
jatuh terguling roboh.
Cepat-cepat dia bangkit kembali sementara itu, Siau Po tertawa lebar.
“Benar, tuan” katanya, “Pandangan tuan sungguh tajam, ilmuku tadi dapat tuan
kenali dengan baik.”
Meskipun mulutnya berbicara, Siau Po kembali melakukan penyerangan Tangan
kirinya diangkat ke samping, Dari kanan dibawa ke sebelah bawah kiri, Mendadak
kelima jari tangannya menyambar.
“Hebat” seru Ci Tiong yang seakan masih belum kapok. Dia juga merasa agak
bingung, inilah pukulan Leng Ciu dari Poan Jiak Ciang juga.”
Dia bergerak mundur, menyusul itu, dia menolakkan kedua tangan nya, gerakannya
perlahan sekali, Dengan demikian, telapak tangannya hanya beradu sedikit dengan jari
penyerangnya.
“Aduh” Dia menjerit seperti orang yang kesakitan dan tubuhnya langsung
berjumpalitan di udara dan terpental ke belakang seakan tidak sanggup bertahan.
Setelah itu, dia berdiri terdiam wajahnya merah padam laksana orang yang habis
meneguk puluhan cawan arak. Dia seperti malu dan bingung, Sampai cukup lama, dia
baru tersentak sadar, langsung jatuh terduduk, Kedua tangannya digoyang-goyangkan
sambil mulutnya berkata.
“Aku sangat kagum kepadamu, Wi Enghiong. Ternyata kau memang lihay sekali,
tidak heran kau sanggup membunuh Go Pay, si jahanam bangsa Boan Ciu itu. Aku
benar-benar takluk kepadamu, Terima kasih karena tidak mengambil selembar jiwaku
ini. Kalau Wi Enghiong memerlukan bantuan kami, silahkan datang ke Hok Gu San,
jangan sungkan-sungkan, meskipun harus terjun ke lautan api atau gunung gotok, aku
pasti rela melakukan apa saja bagi Wi Enghiong.”
A Ko dan Pek I Ni dapat melihat jelas semua kejadian itu, Tapi apa yang tersirat
dalam pikiran mereka sudah tentu berbeda, Pek I Ni dapat melihat dengan jelas bahwa
penyerangan yang dilakukan Hong Ci Tiong hanya pura-pura.

Hatinya jadi bertanya-tanya, permainan apa lagi yang dijalankan bocah ini, Dia juga
tidak percaya kawanan berandal itu berasal dari Hok Gu San sebagaimana pengakuan
mereka.
Sedangkan A Ko menjadi bingung, Dia tidak menyangka Siau Po mempunyai
kepandaian yang begitu tinggi sehingga sanggup merobohkan salah satu dari kawanan
berandal itu, Kalau dilihat dari pertandingan yang berlangsung barusan, tampaknya ilmu
si bocah ini malah lebih tinggi dari Kek Song. Hatinya jadi tidak begitu benci lagi kepada
si bocah. Hanya perasaan mendongkolnya yang masih tersisa terus.
Sementara itu, Kek Song yang terikat di punggung kuda sudah dibebaskan oleh
kawanan Tian Te Hwe. Dia ikut menyaksikan jalannya pertempuran. Untung ilmunya
belum tinggi sekali sehingga dia tidak melihat bahwa sebenarnya Siau Po dan Hong Ci
Tiong hanya pura-pura berkelahi.
Dalam hatinya juga timbul keraguan Benarkah bocah itu demikian lihay? Atau dia
mempunyai ilmu siluman yang bisa membuat semua lawannya menjadi takluk dan
menyatakan menyerah dengan sendirinya? pikirannya kacau, belum lagi kepalanya
yang masih pusing karena diayunkan ke sana ke mari sejak tadi. Dia malas memikirkan
hal itu lebih jauh.
Siau Po sendiri tenang-tenang saja. Bibirnya mesem-mesem. Beberapa pelayan
rumah makan pun menyaksikan jalannya pertarungan sekarang mereka menatap
kepada si bocah dengan pandangan kagum. Hal ini membuat Siau Po semakin bangga.
Dia menjadi besar kepala, Sudah terbayang dalam benaknya akan duduk bersanding
bersama A Ko yang cantik dan manis.
Bagian 51
Sian Po membalas hormat
“Ah dasar kau yang mengalah, saudara silahkan diiduk” katanya, ia pun berlaku
sungkan.
Berkata demikian diam-diam kacung itu mengedipkan mata pada kawannya.
Hong Ci Tiong memainkan peranannya sangat bagus, dia berpura-pura malu,
“Wi Enghiong tersohor gagah. Sungguh itu sangat tepat. Namun enghiong, aku yang
rendah ini ingin juga mencoba barang tiga jurus. Apakab sudi melayani aku?” tanyanya
Siau Po mengangguk

“Baik,” sahutnya singkat dan ia pun maju untuk memutai menyerang. Tangan kirinya
menyambar ke dada orang itu, dan tangan kanannya mencari rusuknya, itulah silat Siau
Lim Sie yang diberi nama Ciam Moa Kimna Chiu.
Tian Coan maju untuk bergurau saja, ia tak menyangka si kacung menggunakan tipu
silat yang terkenal. Diam-diam ia sangat kagum dan ia berkata dalam haii,
“Wie HiocU sangat cerdast” ia hanya menyangka ilmu silat itu sangat cepat sekali
hingga orang yang terkena tidak celaka karena Siau Po menggunakannya tanpa
dukungan tenaga dalam
Dengan sabar ia membalas untuk melayani orang itu dalam berlatih Karena Siau Po
melayaninya dengan sungguh-sungguh maka ia pun sungguh-sungguh pula hingga
tampak mereka sedang bertempur
Lewat beberapa jurus, kelihatan mereka bergumul dan mendadak Tian Coan menjerit
“Aduh” Lalu tangannya pun turun, Orang itu mundur beberapa langkah dan tangan
kirinya dipakai untuk memegangi tangannya yang kanan, ia berlagak seperti orang
terkilir.
“Aku takluk.” katanya sambil ia memegangi tangan sendiri yang keseleo itu. Hingga
sempurna sekali ia memainkan perannya itu,
Menyusul orang Sie Cie itu, Hoan Kong Hian dan Cian Lau pun menantang
bergebrak dengan cara bergantian Siau Po tetap menggunakan jurus itu dan dengan
hanya delapan jurus mereka satu persatu mengalah kalah.
“Kali ini kami melihat ilmu silat Wi Enghiong. Baru mata kami terbuka dan apabila
Enghiong lewat di Hok Gu San kami minta Enghiong sudi mampir barang beberapa
hari” kata Ko Gan Ciau,
Semua kawanan berandal dari Hok Gu San memanggil “Enghiong” yang berarti
pendekar pada Siau Po. ia pun membawa aksi dengan baik,
“Pasti” jawab Siau Po. “Namun harap saja kedatanganku tidak dijadikan
gangguan…”
Lalu kawanan perampok itu memberi hormat dan berlalu dari hadapannya sambil
menuntun kuda mereka, sampai jauh mereka baru menaiki kuda-kuda nya. Mereka
tidak berani menaiki kudanya di depan Siau Po.
Sampai di situ tak dapat The Kek Song tidak takluk, ia lalu menghampiri Siau Po dan
memberikan ucapan terima kasih.
“Jangan sungkan-sungkan, hanya nasib baik saja yang membuatku dapat
mengalahkan mereka itu” kata Siau Po sambil tertawa.

Kali ini Siau Po berbicara dengan sungguh-sungguh akan tetapi dengan cara
merendah itu The Kek Song merasa malu dan hal itu yang membuat mukanya berubah
merah karena malu.
Siau Po lalu melanjutkan perjalanan, dan malam itu Siau Po telah sampai di
kecamatan Hian Koan dan mereka mencari rumah penginapan.
Sewaktu mereka berada berdua Kui Lan berkata pada Siau Po.
“Orang yang bermain sandiwara tadi siang itu apakah sahabatmu?”
Guru itu sangatlah lihay hingga ia dapat melihat orang yang berlatih secara sungguhsungguh
dan orang yang sedang bermain-main, Cuma Kek Song saja yang dapat
dikelabuhinya.
Siau Po tahu kalau gurunya itu dapat mengetahui sandiwaranya, maka ia
memberikan jawaban sambil tertawa.
“Mereka cuma kenalan biasa saja.”
“Mereka semua berilmu sangat tinggi mengapa mereka mau berkelahi denganmu
secara main-main?” tanyanya.
Siau Po kembali menjawab.
“Mereka itu semua tidak puas menyaksikan kejumawaan The kongcu. ia sengaja
meminjam muridmu ini, suhu, buat memberi pelajaran kepada kejumawaan pemuda
takabur itu.” kata Siau Po.
Kiu Lan berdiam sejenak, jawaban itu beralasan juga.
“Tadi ilmu silatmu itu kau jalankan dengan baik juga.” kata Kiu Lan kemudian “ltuIah
gerak-gerik dari ilmu Poan Jiak Ciang.”
“Sebenarnya itu tak ada harganya, itu hanya dapat dipakai untuk menggertak orang.”
kata si anak muda yang tertawa pula.
Pembicaraan itu terhenti karena di luar rumah penginapan terdengar suara kuda
yang berisik, jelas ada orang yang mau bermalam di situ, Menyusul terdengar pula
suara keras dari seseorang.
“Kami membutuhkan sebuah kamar kelas satu yang paling baik, buat yang lainnya
seadanya saja pun boleh”
Siau Po mengenali suara orang yang berbicara itu, ialah Yau Tau Say Cu Gou Lip
Sin.

Lalu terdengar suara pemilik hotel yang menjamin kamarnya terpilih dan tak ada kutu
busuknya meski cuma satu ekor.
“Silahkan Tuan turut aku” kata pemilik itu.
Siau Po lalu menanyakan pada gurunya.
“Suhu bukankah kita akan membinasakan Gouw Sam Kui?”
“Ya,” sahut Kiu Lan. “Akan tetapi bukan sekarang. Aku memerlukan sebuah tempat
sunyi untuk aku beristirahat satu bulan lamanya guna memulihkan seluruh
kesehatanku, Tentang gerak-gerik kita lebih jauh akan aku tentukan nanti saja, Jika
sekarang aku menemukan lawan yang lihay, aku tak dapat melayaninya, Kau tahu
caramu mengacau itu tak cocok bagi kami kaum Tiat Kiam Bun.”
Walaupun ia mengatakan demikian, Pek I Ni tersenyum. ia teringat semua perbuatan
Siau Po yang sangat jenaka.
Siau Po mengangguk. “Benar, Kesehatan suhu paling utama.” katanya.
Kacung ini lantas membuka buntalannya dan mengeluarkan daun Teh Kie Ciou Ling
Ceng yang paling tersohor ia segera menyeduh daun teh itu. Setelah itu ia
menyuguhkannya kepada gurunya sambil berkata.
“Kelak di kemudian hari, apa bila aku sudah berhasil mempelajari ilmu silat dari suhu,
Setiap berhadapan dengan musuh, akan aku gempur musuh itu secara laki-laki sejati.
Suhu, aku ingin pergi ke luar untuk melihat-lihat ada sayuran apa yang masih segar.”
Kiu Lan mengangguk memberikan perkenannya, maka muridnya itu pergi ke luar
Tampak Kek Song dan A Ko sedang berjalan bergandeng tangan. ke luar dari rumah
penginapan Nampaknya pergaulan mereka semakin erat.
Menyaksikan demikian, Siau Po merasa iri hati. Diam-diam ia mengintip mereka itu.
Ketika A Ko menolehkan kepalanya ke belakang, tampak Siau Po yang sedang berjalan
di belakangnya.
“Mau apa kau mengikuti aku?”
“Aku bukan lagi mengikuti kau” sahut Siau Po.
“Aku sedang membeli sayuran untuk suhu.”
“Baik.” kata si nona dengan suara keras, “The kongcu, mari kita pergi ke sana” Dan
dengan tangannya ia menunjuk ke barat kota tempat sebuah bukit kecil.
Panas hatinya Siau Po dan ia berkata.

“Kau harus berlaku sedikit berhati-hati jika kau bertemu orang jahat, aku tak dapat
menolongmu lagi”
Mata si nona terbelalak mendengar ucapan itu.
“Siapakah yang menginginkan pertolonganmu?” tanyanya ketus.
Sementara itu A Ko dan The kongcu merasa tidak puas terhadap Siau Po.
“Hm” terus ia mempercepat langkah nya, untuk meninggalkannya pergi
Siau Po tidak melayani si nona bicara, Anak muda itu mengawasi nona itu menyusul
di pemuda, ia mendengar tawa A Ko dan hatinya menjadi panas. Tanpa terasa ia
meraba pisau belatinya yang sangat tajam, yang sudah sering meminta korban.
Hampir ia lari menyusup tapi baru dua tindak, ia sudah berhenti karena hatinya
berpikir, “Aku bukanlah mereka berdua.”
Dengan menahan hawa amarahnya, Siau Po lalu pergi ke pasar untuk membeli
sayuran, seperti Kuacay dan jamur lalu kembali ke hotel, Ketika itu A Ko berdua masih
belum pulang. Mungkin mereka berdua sedang berkasih-kasihan.
Kembali ia menjadi sangat mendongkol hingga ia berkata seorang diri, lalu ia terkejut
karena ada orang yang menepuk bahunya dengan perlahan seraya orang itu
memeluknya sambil tertawa.
“Eh, Wie Toutong kau ada di sini?” katanya.
Siau Po menoleh dengan cepat, ia mengenali orang itu Gie lim Sie Wie Cong Koan
To Liong kepala pengawal pasukan raja, dari terperanjat ia menjadi girang dan tertawa.
“Eh, kau pun berada di sini?” tanyanya.
Di belakangnya juga tampak beberapa Sie Wie yang mengenakan pakaian seragam
pasukan biasa namun mereka tidak ada yang berani datang.
“Di sini ada banyak orang mari ke kamarku” To Liong berbisik.
Kiranya yang datang tadi itu termasuk rombongan Sie Wie ini.
Siau Po menurut, dan sampainya ia di dalam kamar barulah Sie Wie itu memberi
hormat.
“Sudah…. Sudah,.” sambil berkata demikian ia merogoh sakunya untuk mengambil
uang dan berkata “Pergi kalian minum arak”

Semua Sie Wie tahu jika ia bertemu dengan Siau Po pasti mereka memperoleh uang
dan sekarang ini terbukti Mereka menerima uang dan mengucapkan terima kasih lalu
mereka pergi.
Seberlalunya beberapa orang Sie Wie, To Liong berkata pada Siau Po dengan
sangat perlahan.
“Ada segerombolan pengkhianat yang berniat melakukan pemberontakan dan
mereka sekarang sedang berkumpul di Ho Kan tempat mereka membuat permufakatan.
Sri Baginda dapat tahu maka kami dikirim ke mari untuk melakukan penyelidikan.
Dalam hati Siau Po terkejut juga.
“Si raja cilik itu pandai juga mencari rahasia gerak-gerik pemberontak” pikirnya. Siau
Po berkata pada kepala barisan pengawal pribadi raja itu.
“Aku juga datang ke mari untuk maksud yang sama. Menurut apa yang aku dengar,
rapat mereka apa yang disebut Sat Kui Tay Wie rapat besar untuk membunuh kurakura….”
To Liong mengacungkan jempoInya.
“Hebat…. Hebat.,.” puji nya. “Apa pun tak dapat lewat dari mata Wie Toutong”
Siau Po terdiam.
“Berita apa saja yang telah kalian peroleh?” tanya Siau Po selang sejenak.
“Dua orang anggotaku sudah masuk menelusup ikut rapat besar mereka.” kata To
Liong.
“Kami mendengar halnya, mereka itu akan menentang Gouw Sam Kui, untuk itu
setiap propinsi telah mengangkat ketua ikatan, yang disebut Beng-cu. Kami telah
mengetahui nama mereka itu.”
Hati Siau Po tercekat juga.
“Siapa…. siapakah beberapa Bengcu itu?” tanyanya.
“Merekalah Bok Kiam Seng dari In Lam dan The Kek Song putera kedua dari The
Keng dari taiwan Hokiang.” sahut To Liong dan ia pun menyebutkan nama-nama yang
lainnya.
“Apakah kau pernah lihat atau pernah mendengar Bok Kiam Seng dan The Kek Song
itu?” Siau Po menanya lebih jauh. “Bagaimanakah roman dan potongan tubuhnya?”

“Karena di waktu malam dan gelap, kedua saudara kami itu tidak dapat melihat
dengan jelas.” Si congkoan memberikan keterangan “Mereka berdua juga tak berani
mendekati.”
“Ada titah apa lagi dari Sri Baginda?” tanya Siau Po yang kemudian menanyakan hal
yang lain.
“Sri Baginda memerintahkan pada kami untuk mengadakan penyelidikan secara
diam-diam, supaya kami jangan seperti menggeprak rumput dan membuat ular kabur
Nanti setelah mendapatkan keterangan jelas barulah mereka akan dibasmi semuanya.”
“Sungguh raja sangat cerdas dan pintar” Siau Po memuji.
“To toako, jika nanti kau kembali ke kota raja kau sampaikan pada baginda bahwa
Siau Po budak-nya, tengah mengadakan penyelidikan juga dan nanti setelah
mendapatkan keterangan yang pasti barulah aku pulang dan memberikan laporanku
pada raja”
“Baik…. Baiklah Toutong jikalau kau berhasil tentu Toutong akan mendapatkan
hadiah dari

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s