“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 66

digunakannya untuk menekap wajah Ihama itu. Lhama itu
terkejut dan cepat-cepat menyibakkan rumput itu dari wajahnya, tapi tiba-tiba dia
merasa dadanya nyeri, lalu dia tidak bergerak Iagi. Orang itu hanya sempat
mengeluarkan suara tertahan.
Rupanya itulah hasil kerja Siau Po yang menekap wajah orang dengan rumput,
sekaligus, menikamkan belatinya ke dada orang, Ketika menarik kembali pisau
belatinya, Siau Po mendengar lagi suara berisiknya beberapa orang lhama.
Diam-diam dia mengeluh Karena merasa kali ini mungkin tidak dapat meloloskan diri
lagi, Tapi dia belum mau menyerah begitu saja.
Perlahan-lahan Siau Po berdiri Dia menyimpan pisau belatinya di dalam lengan baju,
Dia mengangkat kepalanya dan berpaling. Tampak Sang Cie bersama sisa empat
lhama lainnya berada di tengah ladang gandum, jarak antara mereka dengan dirinya
kurang lebih tiga tombak.
Sang Cie masih belum tahu sebab musabab kematian temannya, Dia hanya melihat
rekannya roboh dan tidak bangun kembali Dia mengira si bhikuni telah membunuh
temannya itu entah dengan ilmu apa. Dengan demikian dia jadi tidak berani
sembarangan turun tangan.
Tiba-tiba terdengar suara si lhama tinggi kurus itu.
“Hai, bhikuni muda Beruntun kau telah membunuh delapan orang rekanku, maka
permusuhan di antara kita sudah mendalam sekali, Mengapa kau bersembunyi di dalam
gerombolan pepohonan itu? Apakah perbuatanmu itu pantas disebut perbuatan orang
gagah?”
Lhama ini menyebut bhikuni muda, padahal usia Pek I Ni lebih tua daripadanya, Hal
ini karena pandangan matanya yang keliru, Pek I Ni memang awet muda karena tenaga
dalamnya yang sudah mahir.
Telinga Siau Po serasa mendengung mendengar suara lhama itu. Hatinya juga
tercekat.

— Aneh Mengapa dia bisa tahu kalau aku sudah membunuh delapan orang
rekannya? – katanya dalam hati,
Dengan membawa pikiran itu, Siau Po segera menghitung, Ternyata memang benar
jumlah lhama yang telah dibunuhnya ada delapan orang. Tapi yang sebenarnya, satu
diantaranya mati di tangan Pek I Ni.
Karena ketakutan, Siau Po menyurut mundur dua langkah, Tetapi dia segera
menjawab.
“llmu silat guruku lihay sekali, Di kolong langit ini, tidak ada orang kedua yang dapat
menandinginya. Namun guruku itu pemurah hati dan berjiwa mulia. Dia tidak mau
sembarangan membunuh orang, sekarang kalian berlima, lekas angkat kaki, guruku
suka memberikan pengampunannya kepada kalian”
“Tidak demikian mudah, sobat” kata Sang Cie. “Hai, bhikuni muda, dengarlah Cepat
kau kembalikan kitab Si Cap Ji CinKeng. Kalau kau tahu diri, Hudya tidak akan menarik
panjang urusan ini, Tapi sebaliknya, kalau kau mempunyai niat untuk kabur, sampai ke
ujung langit pun akan kukejar”
Mendengar kata-kata itu, Siau Po segera menjawab.
“Apa? Kitab Si Cap Ji Cin Keng? Bukankah kitab itu terdapat di wihara mana pun,
siapakah yang kerakusan mengingatkannya ?”
“Tapi kami menghendaki kitab yang ada di tangan suthay itu” kata Sang Cie.
“Kitab itu telah diserahkan kepada bocah itu oleh guruku,” kata Siau Po sambil
menunjuk kepada Kek Song, “Kau tanya saja kepadanya”
Pada saat itu, Kek Song baru saja merayap bangun. Tiba-tiba dia dihampiri seorang
lhama dan dicekal kedua lengannya, Kemudian seorang lhama lainnya langsung
merobek pakaiannya sehingga terbelah menjadi dua bagian dan uang serta emas
mutiaranya berjatuhan di atas tanah. Tapi kitab yang disebutkan justru tidak ada.
“The kongcu,” kata Siau Po. “Di mana kau sembunyikan kitab itu? Beritahukanlah
kepada mereka, Bukankah kitab seperti itu tidak ada harganya?”
Panas sekali hati Kek Song dibuatnya. “Aku tidak memiliki kitab itu”
“Plok Tiba-tiba pipinya ditampar oleh salah seorang lhama.
“Ayo, kau mau bilang atau tidak?” tanya seorang lhama lainnya dengan bengis,
tangannya pun ikut melayang ke pipi pemuda itu.
Siau Po melihat kedua pipi Kek Song merah dan pengap, hatinya merasa puas
sekali.

“The kongcu, antarkanlah beberapa orang Hudyaya ini mengambil kitab itu, Aku
melihat kau menggali tanah di rumah makan, bukankah kitab itu kau sembunyikan di
sana?”
“Ya, itu benar” kata Sang Cie yang senang sekali, “Kalau anak kecil yang bicara, dia
pasti tidak bohong. Ayo, seret dia kembali ke rumah makan”
Seorang lhama menyahut “lya,” kembali tangannya menggaplok pipi Kek Song.
A Ko dapat melihat semua kejadian itu, Hatinya menjadi tidak tega, Dia juga kurang
senang dengan Siau Po, maka dia memberanikan diri muncul dari tempat
persembunyiannya dan berkata kepada si lhama yang tinggi kurus.
“Bocah ini tukang bohong, jangan percaya dengan kata-katanya sebenarnya The
kongcu tidak memiliki kitab itu, bahkan melihatnya saja pun tidak pernah.”
Mendengar ucapannya, Siau Po segera berbisik kepadanya.
“Aku ingin menolong suthay dan kau, biarkan saja The kongcu yang mengalihkan
perhatian mereka”
“Aku tidak sudi ditolong olehmu Kau sengaja memfitnah The kongcu, kau ingin
membunuhnya”
“Jiwa suthay dan jiwamu lebih berharga daripada jiwanya.” kata Siau Po yang
merasa kurang puas melihat sikap si nona,
“Jangan bunuh dia” kata Sang Cie kepada kawan-kawannya, Kemudian dia menoleh
kembali ke arah gerombolan pohon dan berkata kepada Pek I Ni. “Bhikuni muda, ke
luarlah, kita bersama-sama ke rumah makan untuk mengambil kitab itu”
A Ko tetap marah. Dia tidak menghiraukan kata-kata Sang Cie. ia hanya berkata
dengan suara garang kepada Siau Po.
“Kau sendiri yang takut mampus Sengaja mencari alasan untuk menolong suhu
Kalau kau memang berani, hadapi para Ihama itu dan hajar mereka”
Hati Siau Po jadi panas, Dia berkata dalam hati, — Sampai sedemikian jauh, kau
masih tidak memandang sebelah mata terhadapku Taruh kata aku menghajar mati para
Ihama ini, apa artinya? –Terus dia berteriak “Berkelahi ya berkelahi Aku tidak takut
mati Mati pun aku tetap akan berdaya menolong suhu dan kau. Sebaliknya, bagaimana
kalau aku menang?”
“Hm” seru si nona dengan suara menghina, “Biar kau menjelma sekali lagi, tidak
mungkin kau menang Kalau kau berhasil mengalahkan seorang Ihama saja, untuk
selama-lamanya aku akan tunduk kepadamu.”

“Baik” kata Siau Po. “Kalau aku dapat mengalahkan seorang Ihama saja, kau harus
menikah denganku dan menjadi istriku”
“Ngaco” bentak si nona, Hatinya panas sekali, “Kau seorang hwesio, bagaimana,.,
bagaimana….”
“ltu bukan persoalan.” kata Siau Po. “Aku bisa kembali ke asalku sebagai orang
biasa, pokoknya kau harus menikah denganku”
“Suhu, dengarlah…” katanya bingung. “Sampai saat ini dia masih mengoceh yang
tidak-tidak.”
Pek I Ni menarik napas panjang sekian lama dia diam saja, otaknya bekerja keras.
pikirannya ruwet
“Sebaiknya aku membunuh diri dengan memutuskan nadiku sendiri. Biar bagaimana,
aku tidak dapat membiarkan diriku terhina oleh para Ihama ini”
Dengan membawa pikiran itu, dia segera berkata kepada Siau Po.
“Siau Po, masukkan tanganmu ke dalam sini”
Siau Po mengiakan. Tangannya diulurkan ke dalam gerombolan pohon, dia merasa
tangannya menyentuh segulung kertas kecil, Lalu telinganya mendengar suara Pek I Ni
berkata.
“Inilah peta yang disimpan dalam kitab, jangan perdulikan aku lagi Menyingkirlah
kau seorang diri Kalau kau berhasil mendapatkan ketujuh jilid kitab yang lainnya, maka
berarti ada harapan bagi bangsa Han dan kerajaan Beng kita untuk bangkit kembali, itu
lebih berharga dari satu dua jiwa.”
Semangat Siau Po terbangun mendengar kata-kata si bhikuni. Dia lebih dihargai
ketimbang muridnya sendiri. Tiba-tiba saja satu pikiran melintas dalam benaknya, Dia
segera menghadapi para Ihama dan berkata.
“Kalian semua dengar, guruku orang paling lihay dijaman ini. Beliau tidak sudi
bertempur dengan kalian, Kalau kalian memang berani, hadapi dulu aku Kalau kalian
menang, baru guruku akan turun tangan. Kita duel satu lawan satu. Aku rasa kalian
pasti takut, bukan? Kalau benar, cepat kalian goyangkan ekor dan merat dari tempat
ini”
Selagi berkata, diam-diam dia memasukkan gulungan kertas yang diberikan Pek I Ni
ke dalam saku pakaiannya.
Kelima Ihama itu tertawa terbahak-bahak. Mereka memang agak takut terhadap si
bhikuni, tapi tidak terhadap bocah ini. Salah satu dari mereka segera berkata.

“Dengan satu tonjokan saja kau akan roboh sungsang sumbel, Apa yang hendak
diadu? Angin busuk?”
Siau Po maju satu langkah.
“Mari” tantangnya, “Mari kita bertempur “Terus dia menoleh kepada A Ko seraya
berkata, “Asal aku menang, kau adalah istriku. Awas, jangan kau menyangkal
nantinya”
“Kau tidak mungkin menang.” sahut si nona, “Biar bagaimana juga, kau tidak
mungkin menang.”
“Kau harus tahu,” kata si anak muda, “kalau seorang sudah bertekad, biar selaksa
orang pun tidak dapat menghalanginya, Demi dirimu, demi kau menjadi istriku, baiklah,
aku akan mengadu jiwa denganmu.”
Sementara itu, si Ihama juga sudah maju beberapa langkah, dia tertawa.
“Benarkah kau ingin bertanding denganku?”
“Mana mungkin aku berbohong?” sahut si anak muda, “Mari kita bertempur satu
lawan satu Guru-ku pasti tidak akan membantu aku. Tapi bagaimana dengan keempat
saudara seperguruanmu itu, Apakah mereka tidak membantumu?”
Sang Cie tertawa mendengar ucapan si bocah, “Pasti kami juga tidak akan
memberikan bantuan apa-apa.”
“Bagaimana bila dengan satu tinju aku bisa membuat saudaramu mampus?” ujar
Siau Po meminta penegasan. “Bukankah kalian akan meluruk maju semua untuk
mengeroyok aku? Kalau kalian main keroyok, tentu aku tidak sanggup melawan,
Apabila hal ini sampai terjadi, guruku pasti akan turun tangan.”
Mendengar kata-kata Siau Po, Sang Cie menjadi berpikir. Laki-laki itu memang jeri
terhadap Pek I Ni, sebab dia masih belum tahu mengapa demikian banyak kawannya
bisa mati di tangan bikhuni itu.
Karena itu, dia berpikir, ada baiknya apabila salah seorang saudara seperguruannya
bertarung dengan si bocah. Siapa tahu dari gerakan si anak muda itu, dia bisa
menjajaki sampai di mana kelihayan gurunya atau berasal dari persilatan yang mana.
“Baik, Kalian berdua boleh bertanding.” kata Sang Cie akhirnya, “Siapa yang hidup
atau siapa yang mati, dia harus menerima nasibnya, Orang dari kedua belah pihak
sama-sama tidak boleh membantu.”
“Kalau ada yang membantu, dialah si anak kura-kura.” tukas Siau Po.

“Ya, kau benar.” kata Sang Cie yang tidak sadar dirinya dipermainkan oleh si bocah
cerdik.
“Bagus” seru Siau Po tertawa, “Oh, Ihama besar, kau sungguh cerdas dan mengerti
keadaan, Aku benar-benar kagum kepadamu.”
Sang Cie tersenyum.
“Nah, majulah kau beberapa tindak lagi.,.” katanya. ini disebabkan jarak antara si
bocah dengan persembunyian si bhikuni terlalu dekat Dia khawatir guru si bocah akan
memberikan bantuan tenaga daIam. Apabila hal ini sampai terjadi, sudah pasti adik
seperguruannya akan kalah.
“Kau jangan takut” kata Siau Po. “Kami bangsa Han adalah bangsa yang terhormat
Kalau kami mencapai kemenangan, kami ingin menang dengan cemerlang, Kalau harus
kalah pun, kami akan kalah sebagai laki-laki sejati, Kami tidak akan main curang.”
Pada saat itu, Pek I Ni berkata pada Siau Po dengan suara berbisik.
“Siau Po, kau tidak mungkin menang, sebaiknya setelah kau berkelahi dengannya
lalu pura-pura mundur terus kabur.”
“Ya,” sahut Siau Po seenaknya, karena ia telah mempunyai rencana tersendiri. Dia
segera maju tiga langkah sehingga jaraknya dengan Pek I Ni menjadi kurang lebih tiga
tombak. Dengan demikian, si bhikuni tidak bisa memberikan bantuan tenaga dalam
kepadanya.
Lhama yang mau bertanding dengannya juga maju lagi beberapa tindak, sekarang
dia menjadi berhadapan dengan si bocah, Sambil tertawa dia bertanya.
“Nah, dengan cara bagaimana kita mengadu kepandaian?”
“Cara lunak boleh, cara keras pun boleh” sahut Siau Po.
“Bagaimana caranya?” tanya si lhama. “Apa yang dimaksud dengan cara lunak dan
apa yang disebut cara keras?”
“Cara lunak misalnya begini, aku menghajar kau satu kali, lalu kau juga menghajarku
satu kali,” kata Siau Po menjelaskan. “Setelah itu kau menghajar lagi padaku, demikian
pula sebaliknya sampai tujuh atau delapan puluh kali, Batas berhentinya sampai salah
satu orang roboh tidak berdaya.
Diwaktu kau menghajar aku, aku tidak boleh menghindarkan diri atau menggeser
tubuhku sedikit pun, aku harus berdiam diri sambil mengerahkan tenaga dalamku untuk
menahan pukulanmu. Demikian pula dengan engkau, ketika aku menghajarmu

Kalau cara keras, maksudnya kita berkelahi dengan cara biasa, bebas, boleh
menggunakan senjata tajam, boleh juga hanya mengandalkan kaki dan tangan, Dengan
demikian otomatis kita boleh menangkis atau mengelakkan diri dari serangan.”
Mendengar kata-katanya, Sang Cie berpikir dalam hati.
— Bocah nakal ini bertubuh lincah, kalau dia berkelahi sambil berloncatan, mungkin
adik seperguruanku tidak dapat merobohkannya dalam sekali pukulan saja, Bisa-bisa
dia menang di atas anginl
LagipuIa, ada kemungkinan dia menggunakan tipu muslihat Bagaimana kalau dia
melompat ke gerombolan pepohonan untuk memancing adikku agar di sana secara
diam-diam gurunya bisa turun tangan, Kalau hal ini sampai terjadi, bukankah celaka
namanya?
Bagian 50
Tapi kalau dengan cara lunak, kepalan tangan si bocah begitu kecil, meskipun dia
menghajar tujuh atau delapan puluh kali, pasti rasanya seperti digaruk saja —
Dengan membawa pikiran demikian, Sang Cie segera berkata kepada adik
seperguruannya dalam bahasa Tibet.
“Kau berkelahi dengan cara lunak saja, jangan kau lukai dia. Kalau perlu pancing dia
untuk bertempur agak lama supaya aku bisa mengenali golongan ilmu silatnya.”
Siau Po yang tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan segera berkata kepada
Ihama yang ada dihadapannya,
“Nah, kakak seperguruanmu sudah takut, Bukankah dia mencemaskan dirimu yang
nantinya tidak sanggup menghadapi aku? Tentunya dia menyuruh engkau menyerah
kalah saja, bukan?”
Nada dan sikap Siau Po seakan sedang mengejek. Si lhama tertawa.
“Ah, setan cilik” katanya, “Kau hanya mengoceh sembarangan saja, sebenarnya
kakakku kasihan kepadamu, aku dipesan agar jangan menghajarmu sampai mampus,
Kau masih kecil sekali. Karena itu, ilmu pukulanmu atau ilmu bersenjatamu pasti masih
terbatas, aku tidak mau berlaku curang. Mari aku layani kau dengan cara lunak saja”
“Baiklah.” sahut Siau Po yang langsung berdiri tegak, Dia membusungkan dadanya,
sedangkan kedua tangannya silipatkan di punggung, Sambil tertawa dia menambahkan
“Sekarang kau boleh menyerang aku dulu satu kali, Kalau aku berkelit atau menangkis,
maka aku bukanlah orang gagah.”

Lhama itu tertawa.
“Kau toh anak kecil,” katanya, “Lebih tepat kalau kaulah yang menyerang terlebih
dahulu.”
Lhama ini langsung berdiri tegak, Dia pun membusungkan dadanya, kedua
tangannya di kebelakangkan Dengan berdiri tegak, dia menjadi jauh lebih tinggi
daripada Siau Po. wajahnya tersenyum berseri-seri. Tampaknya dia tidak memandang
sebelah mata kepada si bocah.
Siau Po langsung mengulurkan tangannya dan diluncurkan ke perut lawan Tapi
tangannya itu hanya menempel di perut lawan itu, lantas dia bergaya seakan-akan ingin
mencoba bagaimana mulai melakukan penyerangannya nanti.
Kelima Ihama itu tertawa ketika melihat kepalan kecil Siau Po.
“Baik” seru Siau Po kemudian “Nah, aku mulai”
Lhama yang menjadi lawannya tidak berani sembrono. Dia juga khawatir Siau Po
telah mewarisi ilmu gaib dari gurunya atau tokoh Kangouw lainnya sehingga tenaga
dalamnya sudah mahir sekali perutnya lantas diperkuat dengan memusatkan tenaga
dalam di bagian itu,
Siau Po langsung melakukan penyerangan Mereka sudah sama-sama siap sedia.
Bocah itu menggunakan tangan kanannya, Dia bukan menyerang perut, melainkan
menyerang dada. Dengan demikian tidak tepatlah dugaan si Ihama, lagipula di saat
melakukan penyerangan, lengan bajunya ikut menyerang puIa, sehingga serangannya
tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Sang Cie dan yang lainnya, langsung tertawa terbahak-bahak. Tapi, belum lagi
berhenti suara tawa mereka, tiba-tiba tampak tubuh si lhama yang menjadi lawan Siau
Po itu terhuyung-huyung dan otomatis mereka pun berhenti tertawa.
Ketika itu terdengar Siau Po berkata.
“Nah, sekarang giliranmu menghajar aku.” sikapnya wajar sekali, seakan benarbenar
sedang bertanding.
Lhama itu tidak menjawab kata-katanya, malah setelah terhuyung-huyung,
mendadak tubuhnya jatuh terguling dan tidak berkutik lagi.
Saking kagetnya, Sang Cie sekalian menghambur ke depan
“Tahan” seru Siau Po. Dia melompat mundur ke tempat persembunyian” Siapa yang
maju, dialah si anak kura-kura, manusia busuk yang hina”

Ke empat lhama itu berhenti seketika, Mereka tertegun mengawasi rekannya yang
masih tetap tidak bergeming, Mungkin dia terluka parah, atau napasnya tertutup
sehingga nyawanya tak tertahan lagi.
Siau Po langsung mengacungkan sepasang kepalan tangannya ke atas.
“llmu yang diajarkan guruku ini dinamakan, Ke San Pa Gu Sin Kun. walaupun seekor
kerbau besar,” katanya dengan nada nyaring dan sombong, “Aku bisa menghajarnya
sampai mati, apalagi baru seorang lhama cilik, Nah, siapa yang tidak puas, segera
majulah untuk merasakan kepalan tanganku ini”
Selesai bicara, dia berkata kepada nona A Ko dengan suara perlahan.
“Nah, A Ko, istriku, sekarang kau tidak dapat menolak lagi, bukan?”
A Ko sendiri sedang termangu-mangu dan keheranan melihat si bocah sanggup
menjatuhkan seorang lhama dengan sekali pukul saja, Dia menjadi lupa mencaci maki.
Matanya membelalak menatap si Ihama.
“Kau toh telah menerima baik, istriku yang manis” kata Siau Po pula.
“Tidak” bentak si nona yang bagai tersadar dari mimpi.
“Nah, kembali kau menyangkal” kata si bocah nakal “Kau bukanlah seorang hohan
atau enghiong (Maksudnya orang gagah).”
“Bukan ya, bukan.” sahut si nona ketus, “Memangnya kenapa?”
Pek I Ni yang matanya tajam dapat melihat ada darah yang merembes ke luar
setelah Siau Po menghajar si lhama, Dia langsung menyadari bahwa si bocah pasti
menyembunyikan senjata tajamnya di dalam lengan bajunya. Si bocah hanya pura-pura
menggerakkan tangan kirinya untuk mengelabui si lhama, Rupanya dia meninju sambil
menikam.
Sang Cie segera memanggil-manggil lhama yang jatuh terkulai itu, tapi tidak ada
jawaban sama sekali Dia menjadi heran dan sangsi
Salah seorang lhama merasa penasaran, dia segera menghunus goloknya.
“Eh, setan cilik” tegurnya, “Apa artinya kepalanmu yang lihay itu? Mari Sang Buddha
kamu melayani kau bermain-main dengan menggunakan golok.”
Lhama itu berpikir, kalau Siau Po lihay dalam ilmu tangan kosong, tentu ilmu
menggunakan senjatanya tidak dapat diandalkan Karenanya, dia ingin mencoba.
Siau Po tertawa, Dia berani sekali.

“Mengadu golok juga boleh.” sahutnya, “Nah, kau majulah ke mari”
“Mari kita maju sama-sama” tantang lhama itu,
“Baik,” sahut Siau Po dan dia langsung maju tiga tindak.
Lhama itu juga melakukan hal yang sama, Kemudian dia memutar golok di bagian
atas kepalanya. Dia rupanya jeri terhadap ilmu Ke San Pa Gu Sin Kun dari Siau Po.
“Tak usah takut” kata Siau Po tertawa, “Aku tidak akan menggunakan kepalan
saktiku ini.”
Si ihama tidak percaya dengan kata-katanya. Dia masih memutar-mutar goloknya.
“Kau majulah” katanya setelah melihat Siau Po diam saja. “Cepat kau hunus
golokmu”
“Aku telah melatih diriku dengan ilmu Kim Kong Put Hoai Sin Kang.” kata Siau Po.
“Kau boleh mencoba membacok batok kepalaku, nanti bacokanmu pasti mental kepada
dirimu sendiri. Aku mengatakannya terlebih dahulu agar jangan dianggap curang.”
Lhama itu menjadi ragu. Bukankah kawannya dihajar mati dengan sekali pukul saja?
Bukankah bocah ini memiliki ilmu yang luar biasa hebatnya? Si lhama jadi jeri dan raguragu.
Siau Po memperhatikan orang sambil tersenyum.
“llmu silatmu terlalu rendah.” katanya kemudian “Aku tidak mau mengadu silat
denganmu, Mari, kau bacok saja kepalaku, aku berjanji tidak akan menyerangmu. Tapi
ingat, kau hanya boleh membacok kepalaku, dadaku tidak boleh, sebab ilmuku ini
belum dilatih dengan sempurna, kalau kau membacok dadaku, pasti nyawaku akan
melayang seketika.”
“Benarkah batok kepalamu tidak mempan senjata tajam?” tanya si lhama ragu-ragu.
Siau Po membuka kopiahnya.
“Lihat kepalaku Tidak ada rambut dan kuncir-nya bukan? Semakin aku berlatih ilmu
kebal itu, rambutku semakin pendek, tapi batok kepalaku akan semakin kuat, Kalau
rambut di kepalaku ini sudah botak sama sekali, Biar kau bacok dadaku, aku juga tidak
takut lagi.”
Ketika menjadi hwesio di kuil Ceng Liang Si, rambut Siau Po di cukur sampai gundul
Dan sekarang tumbuhnya belum ada satu dim. Jadi masih pendek sekali.

“Bocah, kau telah membunuh kakak seperguruanku untuk apa aku berlaku sungkan
kepadamu?” kata si lhama, Kemudian dia berpikir – Aku tidak percaya kepalanya kebal
terhadap bacokan —
“Tapi, aku peringatkan, jangan sekali-kali kau membacok batok kepalaku, kalau
golokmu terpental balik maka jiwamu sendiri bisa melayang”
“Aku tidak percayai kata si lhama, “Kau jangan bergerak, aku akan membacokmu”
Siau Po melihat si lhama benar-benar mengangkat goloknya ke atas, Hatinya
menjadi cemas, Kalau dia benar-benar dibacok dari atas kepala, tubuhnya pasti
terkutung menjadi dua bagian.
Tepat pada saat itu, terdengarlah suara Sang Cie yang berbicara dalam bahasa
Tibet.
“Jangan membacok kepala atau leher bocah itu Dia mempunyai ilmu siluman”
“Apa yang ia katakan?” tanya Siau Po pada si Ihama, “Pasti dia melarang kau
membacok batok kepalaku, bukan? Kalian sangat licik. Kata-kata kalian tidak dapat
dipegang.”
“Bukan, Bukan.” sahut si 1hama. “Kakak seperguruanku itu menyuruh aku agar
jangan mempercayai kata-katamu. Dia pasrah walaupun aku membacok kutung batok
kepalamu menjadi dua bagian”
Selesai berkata, dia langsung mengangkat goloknya ke atas.
— Celaka aku –, keluh Siau Po dalam hati. Tanpa sadar dia mengangkat kepalanya
lalu diperengkatkan.
Golok itu turun terus, tapi bukan membacok batok kepala Siau Po, namun menebas
dadanya, Untung Siau Po membungkukkan tubuhnya sehingga golok itu mengenai
pinggangnya, Daam waktu yang bersamaan, tangannya juga bergerak untuk menikam
perut lawan.
Tidak kepalang tanggung, dia bahkan menikam sebanyak tiga kali. setelah itu, dia
menelusup kembali lewat selangkangan lhama itu dan berbalik ke tempat
persembunyiannya sambil berkaok-kaok.
“Kau curang Katamu ingin membacok batok kepalaku, Aduh”
Lhama itu menjerit kesakitan Dia mengira Siau Po menempel terus di tubuhnya,
sehingga dia membacok ke arah dirinya sendiri Tidak tahunya bocah itu sudah ngacir
ke tempat semula sehingga goloknya tepat membacok wajahnya sendiri.

Siau Po sendiri, setelah kembali ke tempatnya semula, Dia segera berteriak dengan
nyaring.
“Suhu, lihat Latihan punggungku telah berhasil Golok lawan mental ke mukanya
sendiri, sehingga dia seperti bunuh diri.”
Sang Cie dan yang lainnya menjadi kaget. Mereka tidak dapat melihat dengan tegas
sehingga mereka percaya temannya membunuh diri sendiri. Mereka langsung
memanggil-manggil tapi tidak terdengar jawaban sama sekali.
Pek I Ni juga merasa puas, Siau Po benar-benar cerdik. Dengan kecerdikannya bisa
mengelabui lawan, sedangkan A Ko tidak tahu Siau Po mempunyai baju mustika.
Tadinya dia merasa agak cemas juga, Dia tidak menyangka si bocah bisa meraih
kemenangan
Biar bagaimana, meskipun tidak terluka, punggungnya terasa nyeri juga, Pek I Ni
mengeluarkan pil soat som pemberian ibu suri dan disodorkannya kepada A Ko.
“Berikan obat ini kepada nya”
A Ko menyampaikan obat itu kepada Siau Po.
“Aku tidak dapat bergerak.” kata si bocah.
A Ko terpaksa menyuapinya, Melihat tangan A Ko yang demikian putih dan halus,
Siau Po menciumnya. Si nona langsung mendelikkan matanya tapi dia tidak berani
mengatakan apa-apa.
Sementara itu, ketiga lhama lainnya segera mengadakan perundingan Kemudian
mereka mengeluarkan pelantik api dan menyulut beberapa batang gandum yang kering.
Mereka segera melemparkannya ke arah Pek I Ni.
Tapi, tiga kali mereka menimpuk, semuanya tidak tepat pada sasaran, Sang Cie
penasaran. Dia menyalakan batang gandum yang keempat, sembari berlari ke depan,
dia melemparkannya kuat-kuat, tapi karena khawatir dengan ilmu silat Siau Po. Dia
segera melompat mundur kembali.
Begitu terkena api, tumpukan rumput langsung menyala. Siau Po tidak sempat
memadamkan api itu. Dia mengajak Pek I Ni untuk diajaknya menyingkir. Dia melihat ke
sekitarnya, di sebelah barat ada sebuah goa. Maka dia berkata kepada A Ko.
“A Ko, lekas papan suhu ke goa itu, aku sendiri akan menghadang para lhama itu”
Tanpa menunggu jawaban si nona, dia segera maju ke depan dan berkata dengan
suara lantang, “Nyali kalian sungguh besar Sang Cie, kau sang pemimpin Majulah ke
mari dan rasakan kepalan tuan kecilmu ini”

Gertakan itu hebat sekali, Sang Cie yang sejak semula memang berhati-hati jadi ragu
untuk menghampirinya. Dia ingat bagaimana kawan-kawannya telah terbunuh oleh
musuh ini. Tapi di samping itu, dia ingin sekali membalas dendam dan mendapatkan
kitab yang ada pada si bhikuni. Dan kalau melihat gerak-gerik wanita itu, tampaknya dia
seperti sedang terluka parah.
Diam-diam Siau Po menolehkan wajahnya, Dia melihat A Ko sudah membawa Pek I
Ni ke tempat persembunyian di dalam goa. Dia berkata lagi kepada Sang Cie.
“Kalau kalian tidak berani mendekat kepadaku, biar aku yang maju menghadapi
kalian, Lihat bagaimana aku nanti membunuh kalian semua, Apakah kalian masih
belum mau kabur?”
Menurut suara hatinya, Siau Po telah mengeluarkan kata-katanya yang terakhir, dia
seakan membuka rahasianya sendiri Sang Cie menjadi berpikir — Kalau kau benarbenar
lihay, mengapa kau tidak segera membunuh kami? Mengapa kau justru
menganjurkan aku melarikan diri? Kalau begitu, tentunya kau yang takut terhadap kami
Tiba-tiba lhama ini memperdengarkan suara tawa yang tidak enak didengar Dia
segera maju dua langkah, Siau Po terkejut
– Celaka Rupanya dia sudah menyadari gertakanku.,., sekarang, akal apa lagi yang
harus kugunakan? –
Akhirnya dia mengambil keputusan untuk bersembunyi terlebih dahulu, Dia
membayangkan dapat berduaan di dalam goa yang gelap dengan nona pujaan hatinya,
Dalam keadaan genting seperti ini, dia masih tidak melupakan hal kecil seperti itu,
Karena itu, kembali dia mengambil tangan Hupian dan disimpannya di dalam saku.
Ketika itu, Sang Cie sudah maju lagi dua tindak.
“Di sini terlalu panas,” teriak Siau Po. “Aku tidak dapat menggunakan kepandaianku
Kalau kau memang berani, kita bertarung di sana” Tanpa menunggu jawaban
lawannya, dia segera berlari ke arah goa.
Di dalam goa, Pek I Ni sedang duduk bersila di atas tanah, Kiranya itu hanya sebuah
lubang biasa, Tidak ada tempat yang dapat dijadikan persembunyian A Ko duduk rapat
dengan si bhikuni, maka Siau Po tidak mungkin menjahilinya.
Siau Po menarik napas dalam-dalam karena putus asa. Tatkala itu, Sang Cie dan
dua lhama lainnya sudah sampai di depan goa, jarak antara mereka hanya kira-kira tiga
tombak, Mereka berhenti dan menatap ke dalam goa.
“Kalian sudah tiba di jalan buntu.” kata si lhama dengan suara lantang, “Kalian tidak
bisa kabur lebih jauh lagi Lekas ambil api” “Kedua lhama lainnya segera mengambil
ikatan gandum dan kemudian diserahkan kepada sang pemimpin Siau Po dapat melihat
gerak-gerik mereka. Tapi dia berlaku tabah.

“Bagus, Lekas kalian lemparkan api itu ke sini Kalau kami yang mampus, tidak apaapa.
Bagai-mana kalau kitabnya yang terbakar dulu?”
Sang Cie jadi ragu mendengar kata-kata si bocah. Dia pikir ucapan Siau Po memang
ada benarnya, Maka dia melemparkan apinya ke tanah dan berkata.
“Lekas serahkan kitab itu kepadaku Hudyaya kamu akan berlaku murah hati dan
membuka jalan kehidupan untuk kalian.”
Siau Po mengeluarkan suara tawa yang penuh ejekan. Sang Cie menjadi gusar Dia
melemparkan batang gandum yang masih menyala ke dalam goa, Kebetulan angin
berhembus, asap yang mengepul semakin tebal dan membuat mata Siau Po dan yang
lainnya menjadi perih dan kerongkongan terasa mampet, Tapi mereka tidak bisa
melakukan apa-apa.
Pek I Ni memiliki ilmu yang tinggi, Dia tidak begitu terganggu, sedangkan kedua
lhama lainnya segera mengikuti tindakan pemimpinnya melemparkan api ke dalam goa.
“Suthay, kitab itu sudah tidak ada gunanya lagi.” kata Siau Po. “Sebaiknya kita
serahkan saja pada mereka.”
“Baiklah.” kata Pek I Ni sambil mengeluarkan kitabnya.
Siau Po menyambut kitab itu, kemudian berkata lagi keras-keras,
“Di sini ada kitab yang kalian inginkan, tapi hanya satu. Aku akan melemparkannya
ke luar. Kalau terkena api dan terbakar, jangan menyesali”
Shang Cie gembira mendengar ucapan si bocah. Dia segera mengambil batu dan
memadamkan api yang masih menyala,
“Lekas lemparkan kitab itu” kata nya.
“Baik.” sahut Siau Po cepat “Kata guruku, kau mau membaca Kitab ini. itulah
tandanya kalian semua pengikut Buddha yang baik. Karenanya, aku dipesan agar
jangan mencelakai kalian….” Sembari berkata, Siau Po mengeluarkan pisau belatinya,
kemudian dia memotong lengan Hupian dan disusunnya di atas kitab itu, Lalu dengan
hati-hati dia menyiramkan obat istimewanya di atas kitab, sembari melakukannya, dia
berkata lagi, “Kata guruku, kitab ini berharga sekali di kota Peking, kalau kalian bisa
memahami artinya, agama Buddha bisa hidup makmur di tempat kalian, Semua orang
di dalam dunia ini akan mencapai kedamaian hidup.”
Sementara itu, Shang Cie merasa senang sekali, Dia sudah tahu kalau kitab itu
berasal dari kotaraja dan di dalamnya mengandung sebuah rahasia besar. Tapi yang
pasti bukan menyangkut agama Buddha, Namun dia tidak mengatakannya kepada Siau
Po.

Sementara itu, terdengar Siau Po berkata lagi.
“Guruku telah memikirkannya selama berhari-hari, tapi beliau belum sanggup
memecahkan arti kitab ini, sekarang kitab ini akan diserahkan kepadamu Guruku
berharap, kalau kau berhasil memecahkan rahasianya, harap kau sebarkan seluruh
ajarannya di daerah Tiong goan agar rakyat kami juga akan mendapat kemakmuran
hidup dalam agama”
“Jangan khawatir, aku berjanji akan melakukannya” sahut Shang Cie.
“Guruku juga berpesan, kalau kau tidak sanggup memecahkan rahasia kitab itu,
sebaiknya kau bawa saja ke biara Siau Lim Sie dan merundingkan isinya dengan para
hwesio di sana, Selain itu, kalau kau memang senang membaca kitab agama Buddha,
di sana masih terdapat kitab-kitab yang lainnya. Kau bisa meminjamnya dan
membacanya sepuas hati.”
“Baik, baik” sahut Shang Cie yang mulai kurang sabar.
Siau Po melihat ke arah kitabnya, Cairan warna kuning itu sudah meresap
seluruhnya, Dia membuka sepatunya dan digunakannya untuk menjumput kitab itu lalu
dilemparkannya ke luar goa.
“lnilah kitab Si Cap Ji Cin Keng, terimalah” katanya,
Shang Cie khawatir Siau Po menggunakan tipu muslihat Dia membiarkan kitab itu
terjatuh di atas tanah, Tapi dua rekannya segera mengambilnya.
“Suheng, benarkah ini kitabnya?” tanya mereka.
“Bawa ke sana, dan periksa yang teliti jangan sampai kita mendapatkan kitab palsu.”
“Toa suheng benar” kata kedua lhama itu yang langsung berjalan beberapa tindak
dan kemudian memeriksa kitab tersebut
“Hati-hati” kata Shang Cie ketika adik seperguruannya membalik-balik halaman kitab
itu.
“Kertasnya agak basah, tampaknya kitab itu persis seperti yang dikatakan orang itu.”
“Memang benar. Kitab ini asli.”
Siang Po dapat mendengar kata-kata mereka, Dia segera berteriak dengan lantang.
“Eh, mengapa di wajah kalian ada kelabangnya?”
Kedua Ihama itu terkejut. Mereka mengusap-usap wajah mereka, Tentu saja tidak
ada kelabang di sana, Maka mereka langsung mengumpat.

“Dasar bocah nakal Kau suka sekali mengoceh yang bukan-bukan.”
Shang Cie juga mendengar kata-kata si bocah, tapi karena tidak merasa apa-apa, dia
tidak mengusap wajahnya, sementara itu, Siau Po masih ber-kaok-kaok.
“Ah, ah Ada belasan kelabang yang menyusup masuk dalam pakaian mereka.”
Lhama yang pertama tidak melayani nya. Namun yang kedua merasakan bagian
lehernya agak gatal, dengan demikian dia menggaruk-garuk, sekejap saja ke sepuluh
jari tangannya juga ikut terasa gatal, Cepat-cepat dia mengulaskan tangannya pulang
pergi di lengannya,
Lhama yang pertama melihat keadaan kawannya. Tiba-tiba saja dia juga merasa
tangannya gatal Demikian pula dengan Shang Cie. Bahkan rasa gatal itu bertambah
dengan cepat Yang membuat mereka terkejut justru ketika melihat jari-jemari tangan
mereka mengeluarkan cairan kuning.
“Aneh” seru mereka serentak, “Benda apa ini?”
Itu masih belum seberapa, Lhama yang pertama dan kedua merasa wajah mereka
juga gatal. Ketika mereka mengusapnya, ternyata wajah mereka juga mengeluarkan
cairan kuning.
“Celaka” teriak Shang Cie. “Kitab ini beracun” Dan dia segera melemparkan kitab
yang dipegangnya. Dia melihat tangannya juga mengeluarkan cairan kuning seperti
kedua saudaranya. Cepat-cepat dia memasukkan tangannya ke dalam lumpur yang ada
di dekatnya dan menggosok-gosoknya,
Memang kedua Ihama lainnya sudah semakin tidak karuan bentuknya, Mereka tidak
dapat menahan rasa gatal yang semakin menjadi-jadi sehingga mereka menggaruk
semakin hebat Akibatnya mereka bergulingan di atas tanah.
Bekas garukan mereka mengeluarkan darah. Darah tersebut langsung berubah
menjadi cairan kuning, Obat yang Siau Po dapatkan dari lemari Hay Tay Hu memang
sangat istimewa, Katanya racun ini datang dari wilayah Sek Hek dan ditemukan oleh
seorang ahli racun, yakni Au Yong Hong seorang tokoh persilatan aneh yang hidup
dijaman kerajaan Song.
Shang Cie menahan diri sebisanya, Dia tidak menggaruk-garuk wajah dan tangannya
yang gatal, Laki-laki itu membuka bajunya dan digunakan untuk membungkus kitab,
setelah itu dia lari terbirit birit meninggalkan tempat itu.
Kedua Ihama lainnya semakin kalap, mereka membentur-benturkan kepala mereka
pada batu, tidak lama kemudian mereka roboh pingsan tanpa dapat berkutik lagi.

Pek I Ni dan A ko dapat melihat semuanya dari tempat persembunyian mereka.
Keduanya tidak tahu racun apa yang digunakan Siau Po sehingga reaksinya demikian
hebat. A Ko sendiri sampai bergidik melihat penderitaan para Ihama itu.
Melihat Sang Cie sudah kabur dan kedua lhama lainnya sudah roboh, Siau Po
menyimpan kembali pisau belatinya lalu menghampiri The Kek Song.
“Nah, The kongcu, bagaimana kepandaianku?” katanya, “Apakah kau ingin
mencobanya?”
Kek Song terkejut setengah mati. Tanpa sadar dia melompat mundur. Pemuda itu
mengepalkan tangannya seakan-akan siap melawan.
“Kau… kau jangan mendekati aku” katanya.
A Ko marah sekali, untuk sesaat dia hanya dapat mendelikkan matanya tanpa
sanggup mengatakan apa-apa. Siau Po tertawa gembira dan segera menghampiri Pek I
Ni yang tampak sedang menarik napas panjang.
“Kalau bukan karena kecerdikanmu, hari ini tentu kita tidak akan terlepas dari maut.
Tapi kau harus tahu, menggunakan racun itu tidak baik, Kau tidak boleh melakukannya
lagi kalau tidak terpaksa.”
“lya, aku juga melakukannya karena terpaksa.” sahut Siau Po. “Sebagai seorang lakilaki
sejati, kalah atau menang, sudah seharusnya dilakukan secara terang.”
Pek I Ni menatap si bocah tanggung lekat-lekat.
“Selama dua hari ini kau selalu menyebut suhu kepadaku, apakah kau ingin
mengangkat aku sebagai guru?” tanyanya.
Siau Po senang sekali mendengar pertanyaan itu, dia segera menjatuhkan dirinya
berlutut di hadapan wanita itu dan memanggilnya suhu.
“Suhu, dia pasti mempunyai niat buruk.” kata A Ko.
Pek I Ni tersenyum.
“Berniat mengangkat seseorang menjadi guru bukanlah niat yang buruk.” katanya
A Ko tidak berani berkata apa-apa lagi, Siau Po segera mengajak Pek I Ni
melanjutkan perjalanan, Kek Song tetap ikut dengan mereka, Secara bergantian
mereka memondong sang bhikuni, Begitu sampai di sebuah kota kecil, Siau Po segera
mencari kereta agar mereka dapat meneruskan perjalanan.
Setelah menempuh perjalanan selama dua hari, mereka sampai di kota Ho Kan,
kesehatan Pek I Ni sudah berangsur-angsur sembuh, Mereka mencari sebuah

penginapan Kek Song segera ke luar untuk mencari keterangan tentang rapat besar
Cham Ku Tayhwe yang akan diadakan di kota itu. Malam harinya dia baru kembali dan
melaporkan barhwa rapat itu akan diadakan pada tanggal lima belas,
Pada malam itu juga Pek I Ni memberikan keterangan kepada Siau Po tentang
perguruannya. Nama sucinya ialah Kui Lan, mereka berasal dari perguruan Tiat Kiam
Bun. Siau Po dipesan agar bersikap baik dan jangan memalukan perguruan mereka.
Tepat pada tanggal lima belas, Kiu Lan menyuruh kedua muridnya berdandan.
Begitu pula dengan dirinya sendiri Siau Po yang cekatan telah menyiapkan segalanya.
Dalam sekejap mata, Kiu Lan sudah berubah menjadi seorang wanita setengah baya
dengan kulit pucat. Kedua muridnya berdandan sebagai para pelayannya.
Kira-kira jam satu kemudian datanglah rombongan yang menjemput Kek Song,
Mereka berangkat dengan sebuah kereta besar. Tempat rapat adalah sebuah tanah
luas yang ada di sekitar perbukitan. Di situ telah berkumpul banyak orang, Setelah
mereka melihat The Kek Song, langsung bersorak-sorai menyambutnya. sebagian
besar malah menghampirinya.
Kiu Lan

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s