“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 65

dapat dilakukan, tapi kalian harus menyamar sebagai
keponakanku…” kata Pek I Ni.
Siau Po senang sekali mendengar ucapan si bhikuni.
“Baik, baik” katanya berkali-kali.
A Ko mendelikkan matanya kepada si anak muda, Dia merasa tidak puas mendengar
suhunya setuju dengan usul si bocah tengik.
“Lhama itu sebaiknya jangan dibiarkan hidup, nanti dia bisa menimbulkan kesulitan
bagi kita, Kita kubur saja dia hidup-hidup di tempat ini.” kata Siau Po pula.
“Tadi kita bertempur karena terpaksa, kau membunuh orang juga karena terpaksa,
sekarang lhama ini sudah tidak berdaya, apabila kita membunuhnya juga, itu berarti kita
terlalu kejam, sebaiknya kita bawa saja dia bersama-sama….”
Bagian 49
Siau Po menurut. Mereka segera menjalankan lagi kereta tersebut sampai sekian
tama menempuh perjalanan, mereka masih belum menemukan satu pun rumah
penduduk desa, Siau Po khawatir mereka akan tersusul oleh rombongan Shang Cie,
karena itu, ketika melihat sebuah gang kecil, dia menyuruh sais membelokkan kereta ke
arah gang itu.
Justru kereta sedang dijalankan perlahan-Iahan, dari belakang mereka terdengar
suara derap kaki belasan ekor kuda. Siau Po menjadi terkejut sekali. Hatinya juga
langsung merasa cemas.
Mungkinkah rombongan lawan sudah menyusul tiba?
– Celaka Rupanya jumlah para lhama itu lebih dari belasan orang — keluhnya dalam
hati.
Suara derap langkah kaki kuda itu semakin cepat. Diam-diam Siau Po mengintai ke
luar jendela, Tampak puluhan penunggang kuda dengan pakaian berwarna hijau
mendatangi kereta.

Ternyata mereka bukan rombongan para Ihama, Dalam waktu yang singkat kereta itu
sudah tersusul sebentar lagi para penunggang kuda itu akan melewati mereka.
Tiba-tiba terdengar suara A Ko memanggil. “The toako The toako”
Salah satu dari penunggang kuda itu, yakni seorang anak muda, langsung
menghentikan kuda tunggangannya. Dibiarkannya kereta itu lewat di sisinya sehingga
mereka berjalan berdampingan.
“Nona Tan ” sapa si penunggang kuda itu.
“Benar, memang aku” sahut A Ko yang dari nada suaranya kentara bahwa hatinya
senang sekali.
“Tidak tersangka kita akan bertemu kembali?” kata si anak muda, “Apakah kau
bersama-sama nona Ong?”
“Bukan,” sahut A Ko. “Kakak seperguruanku tidak ada di sini”
“Apakah kau pun hendak menuju Ho Kan?” lagi-lagi anak muda itu bertanya.
“Tidak” sahut A Ko.
“Kota Ho Kan ramai sekali” kata si penunggang kuda, “Sebaiknya kau ke sana saja”
Pembicaraan itu berlangsung sementara kereta terus berjalan sedangkan Siau Po
yang masih duduk satu kereta dengan si nona terus memperhatikannya.
Tampak kedua pipi si nona bersemu dadu, wajahnya berseri-seri seakan senang
sekali dapat bertemu dengan pemuda pujaan hatinya, Siau Po merasa dadanya seperti
dihantam oleh martil dengan keras.
— Apakah penunggang kuda itu kekasih nona A Ko? –, tanyanya dalam hati Lalu dia
berkata dengan suara perlahan kepada si nona, “Sekarang kita mau menyembunyikan
diri dari kejaran musuh. sebaiknya jangan sembarangan berbicara dengan orang yang
tak ada sangkut pautnya dengan kita.”
A Ko seperti tidak mendengarkan kata-kata Siau Po.
“Ada keramaian apa di kota Ho Kan?” tanyanya kepada si penunggang kuda.
“Apakah kau belum mengetahuinya?” terdengar suara si penunggang kuda yang
sembari mengulurkan tangannya menyingkap tirai kereta sehingga kepalanya dapat
menjulur ke dalam.
Wajah pemuda itu tampan sekali Usianya sekitar dua puluh tigaan tahun, apalagi
wajah itu penuh dengan senyuman sehingga tampak semakin manis dan ganteng.

“Di kota Ho Kan ada keramaian menyembelih kura-kura. Semua orang gagah di
seluruh negeri ini sedang menuju ke sana.” katanya.
“Apa sih maksudnya menyembelih kura-kura?” tanya A Ko. “Kalau hanya
menyembelih kura-kura, apa yang bagus dilihat?”
“Memang yang dilaksanakan di sana menyembelih kura-kura.” kata si penunggang
kuda sambil tersenyum “Tapi yang disembelih bukan kura-kura busuk, melainkan
seseorang yang akhir namanya menggunakan kata-kata Kui seperti bunyinya kurakura.”
A Ko tertawa.
“Ah Mana ada orang yang namanya menggunakan huruf “Kui” kura-kura.” katanya,
“Kau hanya membohongi aku.”
Si penunggang kuda ikut tertawa.
“SebetuInya tulisannya memang tidak sama, Hanya bunyinya saja yang sama, Huruf
itu huruf Kui dari bunga Kui Hoa. Coba kau tebak siapa orangnya?”
Siau Po terkejut setengah mati, Dalam hati dia berpikir.
– Sejak tadi dia terus-terusan menyebut nama dengan huruf Kui, apakah dia bukan
bermaksud mengatakan Siau Kui Cu? Kalau benar, matilah aku —
Sementara itu, A Ko tertawa sambil bertepuk tangan.
“Aku tahu sekarang.” katanya gembira, “Kau maksudkan si pengkhianat besar, Gouw
Sam Kui bukan?”
Penunggang kuda itu lagi-lagi tertawa.
“Benar, Kau cerdas sekali. Satu kali terka saja langsung tepat.” katanya.
“Eh, apakah kalian telah berhasil membekuk Gouw Sam Kui?” tanya A Ko.
“Belum sih,” kata si penunggang kuda, “Kami semua justru ingin merundingkan cara
menyembelihnya.”
Siau Po bernapas 1ega. Jadi bukan dia yang dimaksudkan
— pantas kalau begitu – katanya dalam hati, –Aku si Siau Kui Cu hanya seorang
bocah cilik, untuk apa mereka membunuh aku? Lagi pula, kalau benar mereka ingin
membunuh aku, juga tidak perlu diadakan Cham Ku Tayhwe, pertemuan yang luar
biasa itu. Dasar aku yang apes Mengapa justru kepilih orang yang bernama Siau Kui
Cu? —

Pemuda itu tertawa manis sambil menjalankan kuda tunggangannya. Dia
memiringkan tubuhnya sedikit agar dia dapat melihat wajah si nona sementara
berbicara dengannya. Dari sikapnya ini saja dapat dibuktikan bahwa dia seorang
penunggang kuda yang baik.
Sementara itu, A Ko menoleh kepada Pek I Ni.
“Suhu,” panggilnya dengan suara perlahan “Apakah kita ikut menyaksikan
keramaian?”
Pek I Ni merenung sekian lama sebelum memberikan jawaban sebetulnya dia ingin
sekali menghadiri pertemuan besar itu, tapi dia juga mengingat keadaannya sendiri
yang sedang menjadi incaran musuh, seharusnya mereka menyembunyikan diri, masa
sekarang malah mau tampil di depan umum?
“Bagaimana menurutmu?” tanya Pek I Ni kepada Siau Po akhirnya.
Si anak muda sejak tadi berdiam diri saja, Hatinya masih panas melihat kemesraan A
Ko dengan pemuda yang menunggang kuda itu.
Sebenarnya dia merasa muak mendengar pembicaraan mereka dan mendongkol
melihat sikap si pemuda terhadap A Ko. Dia tidak ingin A Ko terus-terusan dekat
dengan pemuda itu.
“Kalau rombongan Ihama jahat itu tiba, kita pasti kerepotan melayaninya. Lebih baik
kita cari tempat untuk singgah terlebih dahulu.” sahutnya kemudian.
“Apa itu Ihama jahat?” tanya si pemuda.
“The toako, ini guruku.” kata A Ko memperkenalkan. “Di tengah jalan kami bertemu
dengan satu rombongan Ihama jahat, mereka hendak mencelakai guruku ini. sekarang
guruku sedang terluka parah, sedangkan di belakang ada serombongan Ihama jahat
yang mengejar.”
“Oh, begitu” kata si pemuda yang langsung berteriak nyaring kepada rombongan di
belakangnya kemudian menghentikan tunggangannya, Bahkan kedua kereta yang
ditumpangi Siau Po dan yang lainnya juga ikut berhenti.
Pemuda itu segera melompat turun dari keretanya lalu menyingkap tirai kereta
kemudian menjura sambit berkata.
“Boanpwe The Kek Song menghadap cianpwe”
Pek I Ni menganggukkan kepalanya.

“Kalau baru beberapa orang Ihama, rasanya tidak perlu dijadikan bahan kecemasan,”
kata Kek Song kembali. “Cianpwe, boanpwe bersedia mewakili cianpwe membereskan
mereka.”
Mendengar kata-kata pemuda itu, A Ko langsung merasa senang sekali, Tapi di
samping itu, hatinya juga dilanda kekhawatiran….
“The toako, ilmu para Ihama itu tinggi sekali.” katanya,
“Semua kawanku itu juga memiliki ilmu silat yang tidak lemah, Aku percaya mereka
bisa membereskan para Ihama itu,” kata Kek Song. “Kalau enggan main keroyok, satu
lawan satu pun tidak menjadi masalah.”
A Ko menoleh kepada gurunya seakan hendak meminta pendapat wanita itu.
“Tidak bisa” sahut Siau Po cepat sebelum si bhikuni sempat menjawab “Suthay
begini lihay saja masih terluka di tangan mereka, Kalian hanya dua puluh orang lebih
jumlahnya, apa yang bisa kalian lakukan?”
“Aku tidak tanya pendapatmu” bentak A Ko, “Untuk apa kau banyak mulut?”
“Aku hanya mengkhawatirkan keselamatan suthay.” sahut Siau Po.
“Kau sendiri yang takut mati tapi kau menggunakan guruku sebagai alasan.” kata A
Ko yang tetap gusar “Kau si kecil busuk Hatimu selalu mengandung niat yang tidak
baik”
“Apakah orang she The ini kepandaiannya tinggi sekali?” tanya Siau Po yang tidak
memperdulikan caci maki gadis, “Apakah dia lebih lihay dari suthay sendiri?”
“Tapi dia membawa dua puluh orang lebih,” kata A Ko berkeras, “Semua orang itu
lihay-lihay, Mustahil kalau dua puluh orang yang tidak bisa melawan tujuh Ihama?”
“Bagaimana kau bisa tahu kalau kedua puluh orang itu ilmunya lihay-Iihay?” tanya
Siau Po. “Dalam pengamatanku, ilmu mereka justru rendah sekali.”
“Tentu aku tahu.” kata A Ko. “Aku pernah menyaksikan mereka turun tangan, Setiap
orang dari mereka pasti bisa menghadapi seratus orang sebangsamu.”
Sementara kedua bocah itu bersitegang, Pek I Ni tetap berdiam, ia memikirkan
kesehatannya sendiri meskipun dia juga ingin sekali menghadiri pertemuan Cham Ku
Tayhwe itu. Dia ingin tahu apa rencana mereka dalam menumpas Gou Sam Kui.
Tapi para Ihama jahat itu membuatnya pusing, Dia juga tidak sudi menerangkan
bahwa sekarang mereka bermaksud menyembunyikan diri untuk sementara, hal ini
hanya akan membuat dirinya malu saja.

“Silahkan, kongcu silahkan kau lanjutkan perjalanannya.” katanya kemudian “Para
Ihama itu hanya mencari aku, biarlah aku yang melayani mereka. Terima kasih banyak
untuk kebaikanmu, kongcu”
“Harap suthay jangan sungkan” kata Kek Song. “Sudah sepantasnya kalau dalam
perjalanan aku memberikan bantuan sekedarnya kepada orang yang membutuhkan
Apalagi suthay adalah guru nona A Ko, aku lebih-lebih harus membantu.”
A Ko menundukkan kepalanya, wajahnya merah padam Dia merasa jengah karena
namanya disebut-sebut.
“Baiklah kalau begitu.” kata Pek I Ni akhirnya, “Mari kita berangkat bersama ke Hon
Kan untuk menyaksikan keramaian di sana Tapi aku harap kau jangan menyebutnyebut
apa pun tentang aku, sebab aku tidak ingin menemui siapa pun”
Kek Song gembira sekali.
“Baik” Dia memberikan janjinya.
“The kongcu, kau dari golongan mana? Dan siapa nama gurumu yang mulia?” tanya
Pek I Ni.
“Boanpwe telah menerima budi tiga orang guru,” sahut Kek Song. “Guru yang
pertama ialah Sie suhu, ahli silat dari Bu I Pai. Yang kedua Lau suhu, murid tidak resmi
Siau Lim Pay cabang Pou Tian, Ho Kian….”
“Apakah nama mulia Lau suhu itu?” tanya Pek INi.
“Lau suhu bernama Lau Kok Hian.” sahut si pemuda.
Pek I Ni merasa heran, Ketika menyebutkan nama gurunya, Kek Song tidak
menunjukkan sikap yang menghormat sebagaimana biasanya seorang murid, Tiba-tiba
sebuah ingatan melintas dalam benaknya.
“Bukankah nama guru kongcu itu sama dengan nama Lau Toa Ciang Kun dari
Taiwan?”
“Benar.” sahut Kek Song. “Dia memang Lau toa ciang kun yang memangku jabatan
Te-kok di bawah perintah Yan Peng Kun Ong, raja muda dari Taiwan.”
Te-kok berarti pangkat yang setara dengan Komandan utama dalam sebuah propinsi.
“Apakah The kongcu termasuk anggota keluarga Yan Peng Kun Ong yang agung
itu?”
“Aku puteranya yang kedua.”

Pek I Ni menganggukkan kepalanya.
“Kiranya turunan panglima perang yang setia kepada negara.”
Raja muda Yan Peng Kun Ong adalah The Seng Kong yang telah berjasa merampas
pulang kepulauan Taiwan dari tangan bangsa Belanda, Dia dianugerahkan pangkatnya
di tahun Eng Lek kedua belas.
Pangkat militernya Ciau Ciang Kun, panglima perang. Pada tahun Eng Lek ke enam
belas, atau permulaan tahun kaisar Kong Hie bulan kelima, Teh Seng Kong menutup
mata.
Tatkala itu, putera sulungnya, The Keng sedang memangku jabatan di Kim mui dan
He mui. Karena itu, The Sip, adiknya yang mewarisi jabatan sang ayah.
Sementara itu, The Keng mengajak Tay Ciang Kun Ciu Coan Pin, Tan Kin Lam dan
yang lainnya untuk berangkat ke Taiwan dan merampas kembali kedudukan ayahnya
itu, Ternyata dia berhasil The Keng mempunyai dua orang putera, Yang pertama
bernama The Kek Cong, dan yang kedua The Kek Song ini. .
The Keng tidak sudi menakluk pada bangsa Boan, sikapnya itu membuat dirinya
disanjung dan dikagumi oleh para pecinta negara. juga dihormati oleh segala kalangan.
Ketika menyebut nama ayahnya, Kek Song yakin si bhikuni akan menaruh sikap
hormat kepadanya. Ternyata sikap bhikuni itu biasa-biasa saja, Dia hanya
menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Tentu saja dia tidak tahu kalau Pek I Ni justru putrinya kaisar Cong Ceng dan Lau
Kok Hian adalah bekas panglima ayahnya yang telah menakluk pada pemerintahan
Boan Ciu.
Sementara itu, Siau Po berkata dalam hatinya.
– Memangnya apa yang hebat dari Yan Peng Kun Ong? –, dia tahu siapa raja muda
itu, bahkan gurunya sendiri, Tan Kin Lam adalah sebawahannya si raja muda.
Di lain pihak, dia merasa tidak enak hati melihat Kek Song kepada A Ko. Bukankah
pemuda itu putera seorang raja muda dan tampangnya juga jauh lebih ganteng
daripada dirinya sendiri?
Dia juga kalah dalam ilmu silat sedangkan dalam hal kepandaian dan usia, dia juga
tidak ungkuIan, Ada satu hal yang dikhawatirkannya, Kalau gurunya, Tan Kin Lam tahu
dia sedang memperebutkan seorang gadis dengan pemuda itu, bisa-bisa dia mati
digantung.

— Pek I Ni mengatakan, pemuda itu keturunan seorang panglima perang yang setia
kepada negara, Aku sendiri apa? – Demikian pikirnya lebih jauh, Dia kalah derajat,
malah dia anak seorang perempuan hina yang menjajakan diri di rumah pelesiran.
Pada saat itu, terdengar Pek I Ni berkata kembali.
“Jadi gurumu yang pertama adalah Sie Liang yang telah takluk pada bangsa Boan
Ciu?”
“Benar,” sahut Kek Song, “Dia memang orang yang tidak tahu malu, Sudah lama
boanpwe tidak mengakuinya sebagai guru, Bahkan lain kali, apabila kami sempat
bertemu muka, di medan perang boanpwe akan membasminya dengan tangan sendiri.
Ketika berbicara, nadanya bersemangat sekali, malah sepasang tangannya
dikepalkannya erat-erat.
“Selama hampir sepuluh tahun ini,” kata Kek Song pula, “Boanpwe selalu mengikuti
Phang suhu untuk belajar silat, Phang suhu adalah seorang tokoh utama Kun Lun pai
yang mempunyai julukan It Kiam Bu Hiat (Sekali tusukan pedang tanpa darah), Mungkin
suthay pernah mendengar nama beliau….”
“Apakah nama lengkapnya Phang Sek Hoan?” tanya Pek I Ni. “Tetapi mengenai asal
usulnya aku kurang jelas.”
“llmu pedang Phang suhu lihay sekali,” kata Kek Song. “Demikian pula tenaga
dalamnya yang sudah mencapai puncaknya, Dengan ujung lengan bajunya saja Phang
suhu dapat menotok jalan kematian seseorang. Apabila dia menotok, kulit tubuh orang
itu tidak terlihat luka dan tidak mengucurkan darah sama sekali.”
“0h…” seru Pek I Ni kagum, “llmu tenaga dalam yang demikian sempurna, pada
jaman ini mungkin hanya beberapa orang yang menguasainya, Berapa usia Phang
suhu itu?”
Kek Song tampak puas sekali dengan pujian Pek I Ni.
“Pada musim dingin ini, boanpwe akan memberikan selamat kepadanya untuk ulang
tahun yang kelima puluh.”
Pek I Ni menganggukkan kepalanya.
“Usianya belum lima puluh tahun, tapi tenaga dalamnya sudah semahir itu, Sukar
ditemukan orang sehebat dirinya.”
Si bhikuni berdiam diri sesaat Kemudian dia baru bertanya lagi,
“Bagaimana dengan para pengikutmu, kongcu? Apakah ilmu mereka dapat
diandalkan?”

“Mengcnai hal itu, harap suthay legakan hati.” sahut Kek Song, “Mereka semua
merupakan pengikut-pengikut lihay yang telah dilatih dalam istana Yan Peng Kun Ong.”
“Eh, suthay” Tiba-tiba Siau Po nyeletuk, “Mengapa orang-orang lihay di kolong langit
ini demikian banyak? Lihat saja guru kongcu ini Yang pertama ialah jago dari Bu I Pai,
yang kedua dari Siau Lim Pai, Dan yang ketiga dari Kun Lun Pai, Sudah begitu, para
pengiringnya semua lihay luar biasa.”
Panas hati Kek Song mendengar ucapan Siau Po. Dia merasa dirinya sedang disindir
Tapi dia menahan kekesalan hatinya, Dia belum kenal siapa anak tanggung itu. Karena
dia melakukan perjalanan bersama nona Tan dan gurunya, mungkin dia mempunyai
hubungan dengan mereka.
Sementara itu, terdengar A Ko berkata.
“Bukankah ada pepatah yang mengatakan apabila gurunya lihay, muridnya pasti
lihay juga. The kongcu telah dididik oleh tiga tokoh yang terkenal, tentu saja ilmunya
tinggi sekali.”
“Nona benar” sahut Siau Po. “Aku bertanya demikian karena belum tahu sampai di
mana kelihayan The kongcu. Kalau dibandingkan dengan nona, entah ilmu siapa yang
lebih tinggi?”
A Ko menoleh kepada Kek Song.
“Sudah tentu ilmu The kongcu yang lebih tinggi.” sahutnya,
The Kek Song tertawa.
“Ah…. Nona terlalu merendahkan diri sendiri.” katanya.
Siau Po tertawa juga, bahkan dia mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Oh, begitu” katanya, “Tadi Nona mengatakan apabila gurunya lihay, muridnya pasti
lihay juga, Dengan demikian guru nona sendiri pasti kurang lihay sehingga dia kalah
dengan guru-guru The kongcu.”
Wajah A Ko berubah merah padam, Dia tergelincir oleh kata-katanya sendiri.
“Kapan aku mengatakan ilmu guruku rendah? Kau… kau sendiri yang mengoceh
tidak karuan.”
Pek I Ni memperhatikan sikap ketiga muda-mudi itu.
“A Ko,” katanya, “Kalau mengadu lidah dengannya, mana mungkin kau menang?”

A Ko terdiam. Dia merasa malu sekali Kereta terus maju ke arah barat Kek Song
selalu mengiringi di sampingnya. Siau Po mengeluarkan tiga butir pil yang diberikan ibu
suri kepadanya. Dia menyodorkannya kepada Pek I Ni dan meminta wanita itu
menelannya.
“Suthay, ini obat Soat Som, kabarnya bisa untuk memulihkan tenaga.” katanya.
Pek I Ni menyambut pil itu seraya mengucapkan terima kasih, Dia langsung
menelannya sekaligus. Setelah itu, dengan perlahan-lahan dia bertanya kepada
muridnya.
“Bagaimana kau bisa berkenalan dengan The kongcu itu?”
Wajah A Ko kembali menjadi merah padam.
“Pertama kali aku melihatnya di kota Kay Hong.” sahutnya, “Ketika itu aku bersama
kakak dan kebetulan kami sedang menyamar sebagai pria, Karena itu dia menyangka
kami Iaki-Iaki sejati dan kami pun sedang berada di dalam rumah makan. The kongcu
mengundang kami duduk dan bersantap bersama.”
“Nyali kalian benar-benar tidak kecil.” kata Pek I Ni. “Dua orang nona berani
bersantap di rumah makan.”
A Ko menundukkan kepalanya.
“Kami tidak benar-benar minum arak,” sahutnya, “Kami hanya berpura-pura saja,
Kami menganggapnya sebagai permainan yang menarik.”
“Nona A Ko,” tukas Siau Po, “Wajahmu begitu cantik, meskipun menyamar sebagai
laki-laki, setiap orang pasti tahu dan dapat mengenali bahwa kau sebenarnya seorang
gadis, Dan The kongcu itu, aku rasa dia mengandung niat yang kurang baik
terhadapmu.”
“KauIah yang mengandung maksud kurang baik” bentak si nona kesal.
Siau Po terdiam Dia hanya tersenyum simpul. Pek I Ni ikut-ikutan tersenyum
Rupanya dia menganggap tingkah kedua remaja ini sungguh jenaka.
Pada siang hari itu mereka tiba di Hong Ji Cung, dan segera singgah di sebuah
rumah makan besar Ketika melompat turun dari kudanya, Siau Po melihat sikap dan
tampang pemuda itu gagah sekali, Di pinggangnya terselip sebatang pedang yang pada
gagangnya bertaburkan batu permata, sinarnya berkilauan
A Ko menuntun Pek I Ni turun dari kereta, Mereka memasuki rumah makan itu lalu
mengambil tempat duduk, Siau Po hendak duduk di depan Pek I Ni, tapi dia dipelototi
oleh A Ko.

“Di sana banyak tempat kosong, mengapa kau harus duduk di sini? Melihat
tampangmu, aku jadi tidak ada selera untuk makan.” katanya.
Siau Po marah sekali, wajahnya berubah merah padam, Dia membungkam tapi
dalam hatinya dia memaki, — lya, kalau The kongcu yang menemani kau makan, kau
langsung saja ada selera, —
“A Ko, mengapa kau tidak bisa bersikap manis terhadap Siau Po?” tanya Pek I Ni.
“Karena dia orang busuk yang sanggup melakukan kejahatan apa saja,” sahut si
nona.
Siau Po mendongkol sekali, Dia terpaksa berjalan menuju sebuah meja yang ada di
sudut rumah makan itu, Dalam hati dia berkata.
— Terang kau ingin menikah dengan The kongcu yang bau itu, Tapi apa kau kira aku,
Wi Siau Po akan mudah diperlakukan seperti ini? Hm Lihat saja, nanti aku akan
mencari jalan membunuh pujaan hatimu sehingga sebelum menikah kau sudah menjadi
janda. pada saat itu, mau tidak mau kau pasti menjadi isteriku —
Setelah pesanan datang, para pengikut The kongcu segera makan dengan lahap.
Siau Po sendiri segera mengambil delapan butir bakpao dan dibawanya untuk Hupian,
Dia merasa di antara semua orang itu, hanya si Ihama ini yang bisa diajak bicara.
Setelah itu dia kembali lagi ke mejanya sendiri.
Dengan wajah berseri-seri, A Ko berbicara dengan The kongcu sambil menikmati
hidangan di atas meja, Si kongcu juga tampak gembira sekali, Agaknya pergaulan
kedua orang itu semakin akrab dan pemandangan itu membuat Siau Po sukar menelan
hidangannya sendiri.
— Tidak mudah bagiku untuk membinasakan pemuda ini, Lagipula kalau A Ko sampai
tahu aku membunuhnya, bukan saja dia tidak sudi menjadi isteriku, bahkan ada
kemungkinan dia akan mencariku untuk membalas dendam. -, pikir Siau Po dalam hati.
Tiba-tiba, telinga Siau Po mendengar suara riuh derap kaki kuda, Kemudian tampak
serombongan orang tiba di depan rumah makan dan turun dari kuda masing-masing.
Melihat orang-orang yang baru datang itu, hati Siau Po tercekat Merekalah tujuh
orang berpakaian Ihama, Tapi sesaat kemudian hatinya merasa senang juga, Sebab dia
berpikir – Tadi The kongcu membual dengan mengatakan akan membereskan para
Ihama ini. Sekarang aku ingin melihat apa yang dapat dilakukannya, Aku akan
menonton, pasti menarik sekali —
Begitu memasuki rumah makan dan melihat Pek I Ni wajah ketujuh Ihama itu
langsung berubah, Entah apa yang ada dalam hati mereka, Salah seorang yang
bertubuh tinggi kurus segera berkata dalam bahasa mereka, lalu mereka mengambil
tempat duduk di dekat pintu ke luar.

Mereka juga langsung memesan makanan. Selama itu mereka terus menatap ke
arah Pek I Ni. Wajah mereka muram sebagai tanda bahwa hati mereka sedang tidak
senang.
Sementara itu, Pek I Ni juga sudah melihat kehadiran tujuh orang Ihama tersebut,
tapi dia tetap bersikap tenang seakan tidak ada kejadian apa-apa.
Tidak lama kemudian, salah seorang Ihama dari rombongan itu berdiri dan berjalan
ke hadapan Pek I Ni. Wajah orang itu tampak garang sekali.
“Hei, Bhikuni” teriaknya, “Apakah kau yang mencelakai kawan-kawanku?”
Belum lagi Pek I Ni sempat menjawab, Kek Song sudah mencelat bangun.
“Hai, apa yang kau lakukan?” tegurnya. “Mengapa sikapmu demikian kasar dan tidak
tahu aturan?”
“Makhluk apa kau ini?” tanya si lhama, “Aku sedang berbicara dengan bhikuni ini,
Apa urusannya denganmu?”
Melihat kongcunya diperlakukan dengan kasar, beberapa orang pengawal dari Yang
Peng Kun Ongi segera menghambur ke depan. Tangan mereka dijulurkan untuk
mendorong Ihama tersebut.
Sang Ihama segera menangkap tangan dua orang pengawal yang sampai terlebih
dahulu, sedangkan sebelah kakinya menendang seorang lainnya sehingga orang itu
terpental ke luar rumah makan dan terbanting di atas tanah.
Lalu tangannya menonjok hidung, orang yang tertangkap tangannya sehingga hidung
orang itu mengucurkan darah talu terguling pingsan.
Para pengawal yang lain menjadi terkejut dan bangun serentak.
“Maju” teriak mereka sambil menghunuskan senjata masing-masing. Mereka
langsung melakukan penyerangan.
Lima orang Ihama segera bangun dan memberikan perlawanan Tinggal si Ihama
bertubuh tinggi kurus yang tetap duduk di tempatnya dan memperhatikan jalannya
pertarungan.
Pertempuran berlangsung dengan seru. Suara bising beradunya senjata tajam
terdengar di sana-sini. otomatis meja dan kursi dalam rumah makan itu menjadi kacau
balau, Para pelayan dan tamu-tamu lainnya kucar-kacir karena takut kena sasaran.
The Kek Song dan A Ko menghunuskan pedangnya masing-masing dan berdiri di
samping kiri kanan Pek I Ni untuk melindunginya. Mata mereka terpentang lebar-Iebar
untuk menjaga segala kemungkinan.

Begitu kedua belah pihak bergebrak, segera terdengar suara jerita teraduh-aduh atau
suara napas yang tertahan secara mendadak. Semua itu diiringi suara bentakan dan
seruan para Ihama.
Meskipun suasana di dalam rumah makan itu kalang kabut, hati Siau Po masih agak
lega sebab kawanan Ihama itu tidak langsung menyerang si bhikuni, Dan sikap wanita
itu masih tenang seperti sebelumnya. Lain halnya dengan wajah A Ko yang sudah
berubah pucat pasi.
Kek Song sendiri juga menyiratkan kecemasan melihat kelihayan para Ihama itu.
Tidak lama kemudian, si tinggi kurus berdiri dan menghampiri The Kek Song. Pemuda
itu terkejut dan langsung bersiap siaga.
“Apa yang kau inginkan?” tanyanya.
“Kedatangan kami untuk mencari si bhikuni ini. Sama sekali tidak ada urusan
denganmu Apakah kau muridnya?” tanya Ihama itu.
“Bukan” sahut The Kek Song.
“Lalu, apa hubunganmu dengannya?”
“Tidak ada”
“Bagus” kata si Ihama, “Kalau begitu, kau harus tahu diri, cepatlah kau pergi dari
sini”
“Sia… pakah Tuan?” tanya Kek Song gugup, “Sudilah kiranya Tuan memberitahukan
agar kelak di kemudian hari….”
Tiba-tiba lhama itu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
“Namaku Sang Cie” kata si Ihama, “Akulah Hu kau atau pelindung agama dari Dalai
Lhama, Buddha Hidup kami di Tibet, Kau mau apa, anak baik? Apakah kelak kau ingin
mencariku untuk membalas dendam?”
Kek Song mengeraskan hatinya, “Benar”
Sang Cie tertawa lebar Dia mengibaskan ujung baju kirinya ke wajah pemuda itu.
Kek Song menangkis dengan pedangnya, Tapi si lhama lihay sekali, dengan jari
tengahnya dia menyentil dan pedang Kek Song pun terpental dan menancap di tiang
penglari.
Lhama itu tidak berhenti sampai di situ saja, tangan kirinya terus bergerak Punggung
Kek Song kena dicengkeram lalu diangkat dan didudukan di atas sebuah kursi.

“Duduklah baik-baik” Kek Song tidak dapat berkutik, jalan darahnya telah tertotok.
Terpaksa dia menyaksikan saja si lhama kembali ke mejanya.
Siau Po yang menyaksikan kejadian itu langsung berkata dalam hatinya.
— Apalagi yang ditunggunya? Mengapa dia tidak segera turun tangan kepada Pek I
Ni? Apakah dia sedang menunggu datangnya bala bantuan?”
Tiba-tiba Siau Po ingat kepada Hupian yang masih ada di dalam kereta.
— Celaka Kalau keadaannya begini terus, tentu mereka sempat menolong Hupian,
Dan mereka pun akan tahu bahwa aku serombongan dengan bhikuni itu. Mereka juga
pasti tahu bahwa akulah yang mencelakai rekan-rekan mereka, Bisa-bisa aku Wi Siau
Po dikirim pulang ke alam bakal –, pikirnya kemudian.
Dia menoleh kembali kepada si lhama tinggi kurus yang masih duduk tenang-tenang.
— Mungkin dia belum tahu kalau suthay terluka parah sehingga hatinya merasa jeri. -,
pikirnya.
Tatkala itu, pelayan muncul dengan membawa barang hidangan. Tangannya
gemetar menyaksikan jalannya pertarungan Setelah meletakkan barang hidangan di
atas meja Sang Cie, pelayan itu cepat-cepat kembali ke dalam.
Siau Po segera mengintil di belakangnya, Dia melihat pelayan itu sedang mengisi
guci arak.
“Apakah arak itu untuk tuan-tuan galak yang ada di depan?” tanyanya.
Pelayan itu terkejut, Dia menolehkan kepalanya dan melihat yang menegurnya hanya
seorang anak tanggung, hatinya jadi Iega.
“Benar” sahutnya.
“Tanganmu gemetaran, nanti arak itu tumpah ke mana-mana, Biar aku
membantumu. Coba kau lihat sana, apakah para pendeta itu masih berkelahi atau
tidak?”
Pelayan itu memandang Siau Po dengan tatapan berterima kasih, Dia segera menuju
ambang pintu ruangan dan melongok ke luar, Menggunakan kesempatan itu, Siau Po
mengeluarkan dua bungkus Bong Hoan Yok dan dimasukkannya ke dalam arak lalu
diguncang-guncangkannya agar larut.
Sementara itu, si pelayan sudah kembali lagi.
“Mereka masih berkelahi.” katanya.

“Kau berhati-hatilah, Cepat antarkan arak ini. jangan sampai tuan yang galak itu
marah-marah lagi”
Cepat-cepat si pelayan membawa arak itu. setibanya di luar, para lhama itu sedang
tertawa-tawa karena pihak merekalah yang menang di atas angin, Secara bergantian
mereka meneguk arak dari guci besar itu.
Siau Po senang sekali melihatnya, Untung saja para lhama itu masih kurang
pengalaman walaupun sebenarnya ilmu mereka tinggi.
Salah satu lhama menghampiri A Ko dan menowel pipi si gadis dengan sikap ceriwis.
“Nona, apakah kau sudah menikah?”
A Ko gusar sekali, Tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa. Demikian pula Pek I Ni,
wajahnya berubah merah padam karena menahan perasaan amarahnya.
Siau Po melihat gelagat yang kurang baik, Diam-diam dia mengeluarkan pisau
belatinya. Digenggamnya pisau belati itu sehingga tertutup oleh lengan jubahnya yang
lebar.
“Eh, bapak Ihama, apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan tertawa-tawa sembari
menggeserkan langkahnya merapat ke tubuh orang itu. Dengan segap dan gesit dia
menancapkan pisaunya di punggung Ihama itu berkali-kali.
Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun si lhama terjengkang ke belakang dan mati
seketika, Kawan-kawannya heran menyaksikan keadaan itu. A Ko sendiri belum tahu
kalau jiwa si lhama sudah melayang. Dia menatap dengan mata membelalak.
Siau Po segera berkata dengan suara perlahan
“A Ko, cepat ikut aku menyingkir dari sini”
Tanpa menunggu jawaban si nona, Siau Po segera menarik tangan Pek I Ni dan
diajaknya berjalan menuju depan pintu, Tapi beberapa lhama lainnya segera
menghadang langkah mereka.
“Tahan” teriak Siau Po ketika melihat mereka mendekat “Guruku ini mempunyai ilmu
yang istimewa, Lihat saja lhama itu, Dia kurang ajar sekali sehingga dia sudah dihukum
mati, Kalau kalian ingin mendapatkan nasib yang sama, silahkan maju”
Para Ihama itu menjadi ragu-ragu. Lalu terdengarlah suara buk Buk. Dan dua orang
Ihama pun jatuh terkulai di atas tanah, Rupanya obat bius Siau Po sudah
memperlihatkan reaksinya, tapi tentu saja para Ihama itu tidak tahu.

Tidak lama kemudian, dua orang Ihama lagi menyusul roboh. Sang Cie
memperlihatkan tampang bingung. Dia langsung berdiri tegak, Hanya keadaannya yang
lebih baik, mungkin karena tenaga dalamnya lebih tinggi.
Siau Po menggunakan kesempatan itu untuk menarik tangan si bhikuni dan di
ajaknya berlari ke luar. A Ko mengajak Kek Song yang sebelumnya dilepaskan dulu dari
totokannya, Sang Cie berusaha menghalangi langkah mereka, tapi baru berjalan dua
tiga langkah, dia sendiri terhuyung-huyung lalu roboh terkulai seperti rekan-rekannya
yang sudah mendahuluinya.
Kedua sais kereta tidak kelihatan entah ke mana mereka, Dia segera memapah Pek I
Ni menaiki kereta, kemudian dia memegangi tali kendali dan menjalankannya.
Hupain masih ada dalam kereta, A Ko dan Kek Song naik di atas kereta yang
satunya lagi. Setelah berlari belasan li, keledai-keledai mereka sudah letih, terpaksa
kereta berjalan perlahan-lahan.
Tidak lama kemudian, dari belakang terdengar suara derap kaki kuda, Tampaknya
musuh sudah berhasil mengejar mereka.
“Sayang kita tidak mempunyai kuda, kalau tidak, binatang itu larinya lebih kencang
dan para Ihama itu pasti tidak bisa mengejar kita.” kata Kek Song.
“Mana bisa?” sahut Siau Po. “Mana mungkin suthay menunggang kuda? Lagipula,
aku juga tidak mengajakmu naik kereta”
Sembari berbicara, Siau Po menghentakkan tali kendali agar keledainya lari lebih
cepat Kek Song merasa kesal dengan kata-kata si anak muda, tapi dia tidak berani
membantah
Ketika itu, derap kaki kuda di belakang sudah semakin mendekat
“Suthay, sebaiknya kita turun dari kereta dan cari tempat untuk menyembunyikan
diri.” Dia melongokkan kepalanya ke luar jendela, tapi hatinya gundah karena dia tidak
melihat satu pun rumah penduduk. Di kiri kanan hanya tampak sawah dan ladang, Di
sana terdapat banyak pohon gandum dan rerumputan.
“Sebaiknya kita bersembunyi di ladang gandum saja” kata Siau Po yang langsung
menghentikan keretanya.
“Bagaimana kita dapat menyembunyikan diri di tempat seperti ini?” kata Kek Song,
“Apakah tidak malu apabila ada orang yang mengetahuinya? Bukankah itu bisa
menjatuhkan nama besar Yan Peng Kun ong?”
“Kau benar, kongcu” kata Siau Po. “Kami bertiga ingin menyembunyikan diri di sini
silahkan kongcu menjalankan kereta itu untuk kabur dari sini sehingga perhatian musuh
jadi terbagi”

Tanpa menunda waktu lagi, Siau Po menuntun Pek I Ni turun dari kereta. Bhikuni itu
tidak menentang, dia menurut saja. A Ko sempat ragu-ragu sebentar. Kemudian dia
menggapai kepada Kek Song.
“Mari, kau juga ikut bersembunyi” Kek Song tertegun melihat ketiga orang itu
memasuki ladang gandum. Tapi hanya sesaat dia merasa ragu, lalu dia ikut juga
bersembunyi di tempat itu.
Tiba-tiba Siau Po ingat sesuatu, Dia segera ke luar dari tempat persembunyiannya.
Dia menghampiri Hupian dan menikamnya berulang kali, sehingga jiwanya meIayang.
Setelah itu dia mengutungkan sebelah lengan orang itu, setelah itu dia menusuk
paha keledai sehingga binatang itu kesakitan dan lari sekencang-kencangnya.
Ketika para penunggang kuda itu mulai mendekat Siau Po sudah menyelinap
kembali ke ladang gandum, Dia membawa tangan Hupian yang telah dikutungkan,
Maksudnya hendak menakut-nakuti Kek Song.
Dengan tangan kanan dia memegangi lengan Hupian, tangan kirinya meraba-raba
sampai dia berhasil menyentuh kuncir Kek Song, Dia langsung menarik-nariknya.
Dia menghentikan gerakan tangannya dan mulai meraba lagi, Akhirnya dia
memegang sebuah pinggang yang kecil. Hatinya senang sekali. Dia tahu itulah
pinggang A Ko. Tiba-tiba dia mencubit seraya berseru.
“Eh, The kongcu, mau apa kau meraba-raba selangkanganku?”
“Tidak.” sahut Kek Song menyangkal.
“Ah, kau pasti menyangka aku nona A Ko, bukan?” kata Siau Po yang sedang
bersandiwara, Kau sembarangan menggunakan tanganmu Kau benar-benar tidak tahu
adat”
“Ngaco” bentak Kek Song yang hatinya mendongkol sekali
Dengan tangan kirinya Siau Po kembali meraba dada A Ko, lalu cepat-cepat dia
menarik kembali tangannya seraya berteriak.
“Hai, The kongcu Mengapa kau terus-terusan menggerayangi aku?”
Kali ini, selesai berkata, Siau Po menggunakan tangan Hupian untuk mengusap-usap
wajah dan leher si gadis, Selama itu, A Ko merasa ada tangan yang
menggerayanginya, Tapi dia diam saja karena merasa malu dan bingung, Dan dia jadi
terkejut sekali ketika ada tangan yang dingin menyentuh wajahnya.

-Pasti ini bukan tangan Siau Po, – katanya dalam hati — Tangan si bocah tidak
mungkin sebesar ini Pasti ini tangannya The kongcu — Karena itu, dia diam saja, Dia
takut sang guru mengetahuinya, Lekas-lekas dia memalingkan wajahnya.
Siau Po membalikkan tangannya dan menyentil kuping orang,
“Bagus, Nona A Ko” katanya, “Bagus sekali kau menghajarnya. Memang The
kongcu ini tidak tahu adat Eh, eh, The kongcu Kembali kau meraba-raba aku Rupanya
kau ingin memfitnah aku, ya?”
Mendengar kata-katanya, A Ko berpikir lagi.
— Rupanya benda ini bukannya tangan si bocah busuk –
Tetapi pada saat itulah terdengar suara derap kaki kuda yang sedang mendatangi,
Rupanya itulah gerombolan para lhama yang sudah menyusul tiba.
Lhama itu benar-benar tangguh. Obat bius yang diberikan Siau Po tidak membuat
mereka pingsan sampai lama, Ketika terhuyung-huyung, Sang Cie segera teringat
bahwa ada kemungkinan mereka telah dibius.
Dengan sisa kesadarannya dia menyuruh pelayan rumah makan mengambil
seember air dingin yang digunakan untuk mengguyur bagian kepala. Sesaat kemudian
dia merasa keadaannya sudah membaik, Dia segera memerintahkan mengambil air
dingin harus mengguyur kepala teman-temannya,
Setelah semuanya sadar, mereka segera berangkat untuk mengejar si bhikuni.
Sementara itu, A Ko mendongkol sekali dengan perlakuan Siau Po.
“Jangan” katanya ketika merasa kembali ada tangan dingin yang menyentuh
wajahnya.
Dalam waktu yang bersamaan, Siau Po menggerakkan tangannya menampar pipi si
pemuda.
“Bukan aku… Bukan aku” teriak Kek Song yang merasa penasaran.
Justru pada saat itulah rombongan Sang Cie sampai sehingga mereka sempat
mendengar suara teriakan si pemuda.
“Di sini” teriak salah seorang lhama.
Seorang lhama segera melompat turun dari kudanya dan menghampiri pepohonan
yang lebat itu, Sebelah kaki Kek Song agak menjulur ke depan sehingga terlihat oleh
musuh. Lhama itu segera menariknya dan melemparkannya sekuat tenaga sehingga
tubuh anak muda itu terpental.

Setelah itu, tangannya kembali menyusup ke dalam gerombolan tempat Kek Song
bersembunyi dan mulai mencari-cari lagi, Siau Po bingung sekali.
Tiba-tiba dia ingat tangannya Hupian, cepat-cepat dia menyodorkan tangan itu,
Lhama itu merasa berhasil meraba tangan seseorang. Dia mengira pasti bisa menarik
tangan itu seperti halnya menangkap kaki Kek Song tadi, tapi ternyata dia keliru, Begitu
tangan itu ditariknya, dia malah terjengkang ke belakang.
“Ah” serunya setelah melihat tegas apa yang tergenggam di tangannya.
Siau Po senang sekali menyaksikan orang itu jatuh, Dia segera menjumput
setumpukan rumput lalu

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s