“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 63

seribu kali atau sampai mati
sekalipun, aku memang pantas mendapat hukuman ini”
Selesai berkata, si anak muda meraba dagunya, air matanya pun berceceran. Kali ini
bukan pura-pura lagi, Dagunya memang terasa sakit sekali.
“Suhu, hwesio ini sangat busuk, Dia selalu menghina aku.” kata A Ko pada gurunya.
Pek I Ni menatap Siau Po lekat-lekat. “Bagaimana dia menghinamu?”
Wajah si nona jadi merah padam.
“Dia… dia sering kali menghina aku.-.” katanya, “Pokoknya sering sekali….”
“Suthay.” kata Siau Po. “Singkatnya, akulah yang toloI, Lebih-lebih ilmu silatku ini
tidak berarti sama sekali, Baru-baru ini, nona ini berjalan-jalan ke Siau Lim Sie….”
“Oh Kau pergi ke Siau Lim Sie?” tukas si bhikuni.
“Aih Kau kan seorang anak perempuan, untuk apa kau pergi ke Siau Lim Sie?”
Mendengar teguran halus itu, hati Siau Po semakin senang.
“Oh” seru Siau Po. “Rupanya nona ini pergi ke Siau Lim Sie bukan atas titah suthay?
itu lebih bagus lagi, “Dia menghentikan kata-katanya sejenak kemudian baru
melanjutkan lagi, “Dia pergi ke Siau Lim Sie bukan seorang diri, tapi bersama seorang
kakak perempuannya, Si nona ini ikut pergi karena tidak dapat menentang kehendak
dan bujukan nona yang satunya lagi.”
“Eh, bagaimana kau bisa mengetahuinya?” tanya Pek I Ni.
“Sebab saat itu aku berada di dalam kuil,” sahut Siau Po, “Ketika itu aku sedang
menjalankan tugas yang diberikan si raja Tatcu, Aku harus menggantikan dirinya
menjadi hwesio di wihara tersebut. Aku melihat kedatangan nona yang satunya, lalu
nona ini baru menyusul, wajahnya menunjukkan kurang setuju….”
“Apakah A Ki yang mengajakmu?” tanya si bhikuni kepada muridnya, Si nona
menganggukkan kepalanya.
“Para hwesio dari Siau Lim Sie itu galak sekali.” sahutnya, “Menurut mereka, kuil
mereka itu tidak boleh dimasuki kaum wanita.”
“Lalu bagaimana?” tanya sang guru.

“ltu memang benar.” tukas Siau Po cepat “Peraturan Siau Lim Sie itu memang tidak
tepat Mengapa kaum wanita tidak di ijinkan memasuki kuil? Bukankah Kuan Se In Pou
Sat juga seorang wanita?”
“Lalu, apa yang terjadi?” tanya si bhikuni kembali
Siau Po menunjuk kepada A Ko.
“Nona ini mengatakan,” Kalau orang tidak mengijinkan kita masuk, ya sudah. Mari
kita pulang saja Tetapi keempat Ti Kek Ceng dari Siau Lim Sie memang tidak kenal
kesopanan, mereka malah mengoceh tidak karuan sehingga kemarahan kedua nona
jadi bangkit Celakanya, kawanan para hwesio itu benar-benar tidak punya guna, ilmu
mereka terlalu rendah,.,.”
“Apakah kalian bertempur?”
“Dalam hal ini, keempat Ti Kek Ceng itulah yang bersalah,” sahut Siau Po
mendahului si nona, “Aku melihat sendiri peristiwa itu. Mereka menguluran tangannya
mendorong si nona. Nona suthay bayangkan saja, kedua nona ini anak gadis yang
masih suci bersih, mana boleh disentuh oleh tangan kotor para hwesio itu. Karena itu,
kedua nona tersebut langsung menghindarkan diri. Dengan demikian, tangan dan kaki
para hwesio itu melanggar tiang sehingga mereka semua merasa kesakitan….”
“Hm.” Si bhikuni memperdengarkan suaranya yang tawar, “llmu silat Siau Lim Sie
menjagoi dunia persilatan, mana mungkin murid-muridnya demikian tidak punya guna?
Eh, A Ko, coba kau katakan, jurus apa yang kau gunakan ketika menghadapi mereka?”
A Ko tidak berani berdusta, Dengan nada perlahan dia menjelaskan kepada sang
guru.
“Jadi kau telah merobohkan empat orang hwesio Siau Lim Sie?”
“Dengan dia, semuanya berjumlah lima orang.” sahut A Ko.
“Nyalimu sungguh tidak kecil” tegur sang guru, “Kamu sudah berani lancang
mendatangi Siau Lim Sie, kau juga melukai para hwesio di sana sampai patah tangan
dan kakinya.” Pek I Ni menatap muridnya dengan garang.
A Ko takut sekali, wajahnya jadi pucat pasi. Ketika itu, si bhikuni sudah melihat tanda
bekas luka di leher muridnya.
“Apakah lukamu kau dapatkan ketika berhadapan dengan hwesio Siau Lim Sie?”
tanyanya.
“Bu,., kan.,.” sahut A Ko gugup, “Dia,., dia….” Tangannya menunjuk kepada Siau Po.
Matanya menjadi merah, sambil menangis dia melanjutkan kata-katanya. “Dia sangat

menghina aku, maka aku menggunakan senjataku untuk membunuh diri, tapi,., aku
tidak sampai mati karenanya….”
Mengetahui kedua muridnya lancang mendatangi Siau Lim Sie, Pek I Ni gusar sekali
Tapi ketika melihat bekas luka di leher A Ko, hatinya merasa iba juga.
“Bagaimana caranya dia menghinamu?” tanyanya.
A Ko tidak menjawab, dia hanya menangis,
“Memang akulah yang bersalah.” kata Siau Po cepat “Aku bicara tanpa pikir-pikir lagi,
MuIutku lancang sekali, sebaliknya si nona itu hanya menyambar aku dan membuat aku
takut karena dia ingin mengorek kedua biji mataku, Aku begitu takutnya sehingga aku
menggerakkan tanganku dengan serabutan sehingga tanpa disengaja aku menyentuh
tubuhnya…. Maka itu, tidak dapat disalahkan kalau nona itu merasa gusar sekali,…”
Sembari berkata, secara diam-diam si anak muda melirik kepada A Ko. Dia
mendapat kenyataan bahwa wajah si nona menjadi merah padam, Rupanya A Ko
menjadi jengah sendiri, tapi di samping itu hatinya juga agak lega karena Siau Po selalu
membelanya.
Pek I Ni masih menanyakan jalannya pertempuran setelah memperoleh jawaban, dia
baru mengerti duduk perkaranya.
“Kesalahan itu terjadi tanpa sengaja, karenanya urusan ini juga tidak perlu ditanggapi
secara serius.” katanya kemudian,
Dengan perlahan-lahan dia menepuk bahu muridnya sambil berkata kembali.
“Dia masih kanak-kanak, lagipula dia juga seorang thay-kam, jadi tidak ada yang
perlu dijadikan masalah, bukan? Dengan pukulan Leng Yan Kui Cau kau telah
mematahkan kedua tangannya, ini sudah merupakan hukuman yang pantas baginya.”
A Ko menangis sambil berdiam diri. Dalam hati dia berkata:
— Siapa bilang dia masih kanak-kanak, buktinya dia berani pergi ke rumah hina untuk
berbuat busuk…. – Meskipun demikian, dia tidak bisa mencetuskan pikirannya itu,
karena gurunya pasti akan bertanya panjang lebar mengapa dia sendiri bisa masuk ke
tempat seperti itu, Tapi hatinya mendongkol sekali sehingga dia masih menangis terus.
Siau Po berlutut di depan nona itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya seraya
berkata.
“Nona, kalau kau masih belum puas, silahkan silahkan kau tendang lagi aku
beberapa kali. Puaskanlah hatimu”
A Ko menangis.

“Aku tidak akan menendang kamu” katanya.
Tapi Siau Po tidak puas. Dia segera menggaplok kedua pipinya sendiri secara
bergantian sehingga terdengarlah suara Plak Plok Yang nyaring
“Dasar aku memang pantas mati Dasar aku memang pantas mati” katanya.
Pek I Ni mengerutkan keningnya.
“Dalam hal itu, bukan kau yang bersalah” katanya, “Eh, A Ko, kita tidak boleh
menimbulkan kesulitan bagi orang lain, Kita juga tidak boleh menghina orang
sedemikian rupa.”
A Ko menangis sesenggukan.
“Tapi dia terlalu menghina aku.” katanya, “Suhu tahu, dia telah menangkap aku dan
menahan aku dalam kuilnya, dia tidak mau membebaskan aku….”
“Apa katamu?” tanya Pek I Ni. “Sampai terjadi hal sedemikian rupa?”
“Benar, memang benar.” kata Siau Po mengaku. “Dalam hal ini, akulah yang
bersalah. Aku ingin menyenangkan hati nona ini, Aku ingin mengambil hatinya karena
itu aku mengundangnya masuk ke dalam kuil. Ketika itu aku berpikir, nona ini ingin
sekali melihat-lihat keadaan dalam kuil, tapi dilarang oleh para hwesio, tentu saja si
nona menjadi gusar dan mendongkol. Karena itulah aku mengundang nona ini
memasuki pendopo Poan Jiak Tong dan meminta seorang hwesio tua menemaninya
berbicara….”
“Kacau Kacau Kalian berdua benar-benar keterlaluan” tukas Pek I Ni. “Kau
menyebut-nyebut seorang hwesio tua, siapa hwesio itu?”
“Dia Teng Koan taysu, ketua dari Poan Jiak Tong-Hwesio yang pernah mengadu
tangan dengan suthay ketika berada di kuil Ceng Liang Si, Ngo Tay san….”
Pek I Ni menganggukkan kepalanya.
“Taysu itu memiliki ilmu yang tinggi sekali,” katanya memuji, Terus dia menepuknepuk
bahu A Ko seraya berkata kembali “Sudahlah Taysu itu sangat lihay ilmu
silatnya, lagipula usianya sudah lanjut sekali, Siau Po meminta dia menemanimu, hal ini
tidak membuat dirimu terhina, Sekarang, sudah Urusan kalian jangan diperpanjang
lagi”
Mendengar ucapan gurunya, A Ko berkata dalam hatinya.
– Bocah ini sungguh jahat Sayang ada beberapa hal yang tidak dapat ku utarakan,
karena aku khawatir suhu akan menyelidikinya lebih jauh, sedangkan aku bersama enci

memang telah melakukan beberapa kesalahan…. Tapi, meskipun berpikir demikian, dia
tetap berkata, “Suhu, ada yang tidak diketahui oleh suhu, dia.,,.”
Pek I Ni tidak memperdulikan muridnya lagi, Sebaliknya, dia hanya memperhatikan
gundukan tanah di depannya dengan pandangan kosong.
Siau Po menatap si nona, dia menjulurkan lidahnya, tangannya menjungkit hidung
dan wajahnya dibuat-buat seperti badut, Dia sengaja menggoda nona itu.
A Ko mendongkol sekali, Dia mendelik kepada Siau Po yang jahil itu, tetapi dengan
demikian si anak muda justru semakin senang, Walaupun sedang kesal dan marah,
kecantikan si nona tidak berkurang sedikit pun, Bagi Siau Po tidak ada bagian tubuh
gadis itu yang tidak menggiurkan.
A Ko melirik si Siau Po. Tampak Siau Po masih memperhatikannya lekat-lekat, wajah
si nona jadi merah padam, dia merasa malu sekaligus mendongkol. Karena itu tanpa
memperdulikan keadaan gurunya yang masih berdiam diri, dia menarik ujung
pakaiannya sambil berkata.
“Suhu, dia terus memperhatikan aku,.,.” Sang guru masih berdiam diri, Dia sedang
mengenangkan kehidupannya yang telah berlalu di dalam istana kerajaan. Dia seperti
tidak mendengar dan tidak merasakan apa-apa….
Lambat laun, sang surya mulai menggeser diri, dari timur ke barat Pek I Ni masih
berdiam diri. Daam hal ini, Siau Po lah yang paling tidak keberatan. Baginya, semakin
lama Pek I Ni berdiam di makam itu, semakin baik.
Dia dapat melihat si nona dengan sepuas hatinya, Sebaliknya, A Ko menjadi tidak
leluasa sekali Berulang kali dia melihat si anak muda masih meliriknya dengan “mata
maling” nya. Dia jadi malu, bingung dan mendongkol.
Sang waktu masih terus berlalu, Sore sudah mulai menjelang, sementara itu, A Ko
masih merasa kesal sehingga dia berkata dalam hati.
– Bocah ini jahat sekali Entah apa yang dikatakannya kepada suhu sehingga suhu
demikian mempercayainya, Awas Kalau suhu sedang tidak ada, aku akan
menendangmu sampai mati Ya, setelah kau dibunuh, masa bodoh kalau suhu
menyalahkan aku. Aku tidak mau dihina terus-terusan olehnya.”
Akhirnya, terdengar Tiang kongcu menarik napas panjang sembari berkata. “Mari kita
pergi”
Malam itu, mereka tidak pulang ke penginapan melainkan bermalam di rumah
seorang petani.
Siau Po pandai membawa diri. Dia tahu Pek I Ni sangat resik, sebelum bersantap,
dia selalu mencuci mangkok piring serta sumpitnya sampai bersih sekali. Bahkan dia

menyeka meja dan kursi dan sebelum tidur, dia juga membersihkan kamar serta
merapikan tempat tidur pendeta perempuan itu.
Pek I Ni mengangguk-angguk melihat sikap bocah itu.
– Anak ini sungguh cekatan dan mengerti segala hal, kalau dia diajak bepergian, dia
bisa banyak membantu…. katanya dalam hati,
Selesai bersantap malam, Pek I Ni menanyakan tentang A Ki, murid perempuannya
yang satu lagi.
“Sejak hari itu ketika kami berpisah di depan kuil Siau Lim Sie, aku tidak melihatnya
lagi.,” kata A Ko. “A… ku… aku khawatir dia telah dibunuh oleh anak muda ini…”
“ltu tidak mungkin terjadi” sahut Siau Po cepat. “Ketika aku bertemu dengan nona A
Ki, aku melihatnya bersama-sama pangeran Kaerltan dari Mongolia, Bersama mereka
juga ada seorang Ihama dari Tibet serta seorang Cong Peng yang menjadi bawahan
Gou Sam Kui…”
Mendengar disebutkan nama Gou Sam Kui, sepasang mata Tiang kongcu langsung
membelakak, Hawa amarahnya meluap dengan tiba-tiba.
“Aih Mengapa dia bersama-sama orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan
kita?”
“Mungkin ketika rombongan si pangeran tiba di luar Siau Lim Sie, kebetulan nona A
Ki pun sampai di sana.” kata Siau Po. Dia ingin meredakan kemarahan bhikuni itu.
Kalau suthay memang ingin pergi mencarinya, sebaiknya aku ikut Aku yakin nona itu
mudah ditemukan.”
“Mengapa kau begitu yakin?” tanya Pek I Ni.
“Hal ini karena aku mengenal baik pangeran dari Mongolia, si lhama serta perwira
tersebut.” sahut Siau Po. “Cukup asal kita menemukan salah seorang dari mereka,
lagipula mudah bagi kita menanyakan tentang mereka di mana pun sampainya kita.”
“Baik” kata Tiang kongcu, “Kau boleh ikut aku mencari A Ki.”
“Terima kasih, suthay” kata Siau Po yang gembira sekali, “Suthay memang baik
sekali”
Pek I Ni jadi heran melihat sikap Siau Po.
“Kau mau membantu aku, seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih
kepadamu,” katanya, “Mengapa sekarang malah kau yang menyatakan terima kasih
kepadaku?”

“Hal ini karena suthay sendiri. Setiap hari, kalau aku dekat dengan suthay, hatiku
menjadi lega dan terbuka. Karena itu aku berharap dapat mengikuti suthay untuk
selama-lamanya. seandainya tidak bisa, lebih satu hari di dekat suthay kan lebih baik
dari pada tidak?”
“Benarkah?” tanya Pek I Ni.
Tiang kongcu sudah mengambil A Ki dan A Ko sebagai murid, sikapnya biasa-biasa
saja, sedangkan kedua muridnya itu sangat takut kepadanya sehingga mereka tidak
berani mengatakan apa-apa, Lain halnya dengan Siau Po yang baru dikenalnya ini.
Siau Po cerdas dan berani, dia juga dapat memberikan pelayanan yang baik.
Meskipun Pek I Ni sendiri orangnya pendiam dan hatinya sudah tawar, tapi dia senang
juga dengan sikap Siau Po. Karena itu, akhirnya dia tersenyum.
“Suhu” kata A Ko yang terkejut karena gurunya ingin mengajak si bocah melakukan
perjalanan bersama-sama, “Suhu, dia….”
Si nona tahu benar, meskipun mulut Siau Po berkata demikian, tapi tujuan yang
sebenarnya ingin selalu dekat dengannya.
Pek I Ni mendelik kepada muridnya itu.
“Ah Kau tahu apa? Mana kau tahu isi hati orang? Memang aku selalu berpesan
kepada kalian berdua agar jangan sembarangan menghadapi orang-orang dunia
Kangouw, tapi bocah ini lain, Dia tidak bisa disamakan dengan yang lainnya, Sudah
cukup lama dia mengikuti aku, dan aku tahu dia dapat dipercayai.”
A Ko menundukkan kepalanya. “Ya,” sahutnya tanpa berani banyak bicara lagi.
Keesokan harinya, mereka menuju selatan, Di sepanjang jalan mereka bertanyatanya
tentang A Ki. Selama itu, Siau Po juga selalu bersikap baik. Dengan hati-hati dia
melayani guru dan murid itu, Terhadap A Ko, meskipun cintanya kebelet sekali, dia tidak
berani bersikap ceriwis atau sembarangan. Dia tidak ingin perbuatan buruknya
kepergok oleh Pek I Ni dan akibatnya dia pasti tidak disetujui.
Selama dalam perjalanan Siau Po juga tidak pernah berbicara dengan A Ko.
Sebaliknya, apabila ada kesempatan baik, yakni disaat gurunya sedang tidak melihat,
dia suka menendang Siau Po atau menggaploknya berkali-kali. Tapi Siau Po
membiarkan saja. Dia menganggap gadis itu mungkin menjadi senang atas
perlakuannya itu.
Pada suatu hari, ketiga orang itu bermalam di sebuah penginapan kecil di dekat kota
Cong Chiu, Siau Po segera pergi ke pasar untuk membeli sayuran segar dan
memasakkannya untuk si bhikuni, Ketika pulang dari pasar, A Ko sedang berdiri di
depan pintu penginapan dengan mata menatap ke arah jalan besar.

Dia segera menghampiri dengan wajah tersenyum dan tangannya memegang
sebungkus kembang gula Bwe Kui Siong yang dibelinya dari pasar, Sembari
mengasongkan bungkusan permen itu, Siau Po berkata.
“Nona A Ko, barusan aku membelikan sebungkus kembang gula untukmu, Tidak
kusangka di tempat yang begini terpencil ada orang yang menjual kembang gula
sebagus ini.”
A Ko tidak menyambut kembang gula itu, Gadis itu malah mendelikkan matanya
sambil berkata.
“Kembang gula yang kau beli pasti berbau busuk, Aku tidak sudi memakannya.”
“Aih, nona” kata Siau Po dengan maksud membujuk “Kembang gula yang aku beli
ini sama sekali tidak berbau, malah rasanya lezat sekali, Cobalah dulu”
Diam-diam Siau Po sering memperhatikan makanan apa saja yang menjadi
kesukaan nona itu. Biarpun Pek I Ni jarang memberikan uang banyak, tapi kalau
membelikannya, si nona selalu memakannya dengan lahap. Karena itulah, sengaja
Siau Po membelikan sebungkus kembang gula kesukaan gadis itu.
“Aku tidak suka makan kembang gula,” kata si nona yang terpaksa melayani orang
bicara, “Suhu sedang bersemedi, mungkin perlu waktu satu dua jam baru selesai Hatiku
kesal sekali, Aku ingin mencari suatu tempat yang pemandangannya indah, tapi sepi
yang tak ada orang….”
Hampir Siau Po tidak percaya dengan pendengarannya sendiri Darah dalam
tubuhnya langsung mengalir lebih deras dan wajahnya berubah menjadi merah.
“Apakah… kau bukan sedang mempermainkan aku?” tanyanya heran,
“Mempermainkanmu? Untuk apa?” kata A Ko. “Kalau kau tidak suka menemani aku,
sudahlah Aku bisa pergi seorang diri.”
Selesai berkata, nona itu langsung berjalan menuju arah timur yang ada sebuah
gang kecil.
“Pergi Pergi Aku pasti mau pergi denganmu” sahut Siau Po yang senangnya
setengah mati, “Demi engkau, jangan kata menemani jalan-jalan, meskipun harus terjun
ke dalam lautan api sekalipun, aku pasti akan menyertaimu” Dia langsung mengikuti di
belakang si nona.
Begitu ke luar dari daerah pasar, A Ko menunjuk ke arah timur tenggara. Sejauh
beberapa li dari tempat itu tampak sebuah bukit
“Tentu menggembirakan kalau kita berpesiar ke sana” kata si nona.

Bukan main girangnya hati Siau Po.
“lya, iya.” sahutnya cepat.
Mereka langsung menuju bukit tersebut yang keadaannya sepi sekali dan
pemandangannya sama sekali tidak indah, Tapi dalam pandangan mata Siau Po, tidak
ada pemandangan yang lebih indah lagi dari pada tempat itu. Hatinya senang sekali
sehingga tanpa sadar dia memuji.
“Sungguh sebuah tempat yang luar biasa indahnya “
“Apanya yang indah?” kata A Ko. “Lihat sendiri. Pepohonannya kacau dan batunya
berserakan dimana-mana, Tempat ini justru menjemukan.”
“lya, benar juga, pemandangannya memang tidak seberapa bagus.” sahut si anak
muda yang merasa serba salah.
“Tapi baru saja kau memujinya,” kata A Ko kembali “Mengapa?”
Siau Po tersenyum.
“Sebenarnya pemandangan alam di sini tidak indah.” katanya, “Tapi, wajah nona
yang cantik luar biasalah yang menggantikan bunga-bunga yang seharusnya memenuhi
tempat ini. Di sini tidak terlihat seekor burung pun, suara nona yang merdulah sebagai
pengganti burung-burung itu.”
“Hm” A Ko memperdengarkan suaranya yang dingin, “Kau tahu apa maksudku
mengajak kau ke mari? itu bukan karena aku ingin mendengarkan ocehanmu. Aku
justru ingin kau pergi, pergi sejauh-jauhnya dan secepat-cepatnya. Jangan pernah
muncul lagi di depan mataku. Kalau kau berani menampakkan dirimu lagi, hati-hati akan
ku cungkil biji matamu”
Siau Po terkejut setengah mati, Dia melihat wajah si gadis sangat muram.
“Oh, Nona” katanya dengan nada sedih. “Nona, untuk selanjutnya aku tidak akan
berani main gila lagi di hadapanmu, Mohon sudilah kau mengampuni aku”
“Sekarang justru aku sudah memberikan pengampunan kepadamu.” kata A Ko. “Aku
tidak langsung mengambil jiwamu, bukan?” Mendadak dia menghunus goloknya lalu
menambahkan “Kau mau ikut aku ke mari karena kau mengandung niat buruk, bukan?
Apakah kau kira aku tidak mengetahuinya? Kau sangat menghina aku, karena itulah
aku menghukummu, aku tidak perduli kalau nanti suhu akan menghajar aku dengan
rotan sebanyak seribu kali pun.”
Hati Siau Po semakin tercekat, gadis itu membolak-balikkan golok di tangannya
sehingga sinarnya berkilauan. Dia langsung membayangkan watak keras si nona dan
saat ini tentunya si nona tidak sedang bergurau dengannya.

“Nona,” katanya. “Suthay mengajak aku mencari nona A Ki. Baikiah, setelah berhasil
menemukannya, aku tidak akan mengikuti kalian lagi.” A Ko menggelengkan kepalanya,
“Tidak bisa.” katanya keras, “Sekalipun tanpa engkau, kami pasti akan menemukannya,
Lagi-pula, dia bukan anak kecil berusia tiga tahun, memangnya dia tidak punya kaki
untuk pulang sendiri?”
Kembali A Ko menggerakkan goIoknya.
“Kalau kau masih tidak mau pergi, jangan kau sesalkan aku” katanya pula dengan
suara bengis.
Siau Po mencoba tertawa.
“Nona, tampaknya Nona bermaksud tidak baik terhadapku” tanyanya, “Mengapa?”
Nona itu tampaknya gusar sekali.
“Sampai saat ini kau masih berusaha mempermainkan aku?” katanya sambil
menerjang ke depan dan mengirimkan sebuah bacokan.
Siau Po terkejut, dia merasa takut tapi untung-nya dia juga sempat menghindarkan
diri.
“Kau mau pergi atau tidak?” ancam si nona.
“Maaf, Nona” kata Siau Po. “Aku tidak dapat pergi. walaupun kau cincang seluruh
tubuhku sampai hancur lebur, walaupun aku harus menjadi setan gentayangan aku
harus mengikutimu terus.”
Bukan main marahnya hati A Ko, kembali dia melancarkan tiga bacokan.
Dalam hal menghindarkan diri dari serangan Siau Po sudah cukup lihay, Tidak siasia
dia mencangkok pelajaran Teng Koan taysu sekarang dia dapat menggunakannya
dengan baik. Semua serangan si nona menjadi sia-sia. Hal ini justru menambah
kegusaran dalam hati A Ko, dia mengulangi serangannya dengan sadis dan beruntun
Repot juga Siau Po dibuatnya, Akhirnya dia terpaksa menghunuskan pisau belatinya
dan digunakan untuk menangkis serangan si nona sehingga golok A Ko jadi kutung.
A Ko terkejut sekaligus marah, Dengan golok buntungnya, dia menyerang kembali
Kali ini malah secara serabutan.
Menyaksikan orang sudah menjadi kalap, Siau Po tidak berani melayani terus, Dalam
hal ilmu silat, dia masih kalah jauh, Karena itu, terpaksa dia membalikkan tubuhnya dan
lari menuruni bukit.
A Ko mengejar.

“Larilah yang jauh Kalau kau lari jauh-jauh, aku tidak akan membunuhmu”
teriaknya.
Siau Po tidak menyahut, dia hanya berlari terus.
Melihat arah larinya si anak muda, A Ko jadi bingung. Karena Siau Po lari pulang ke
penginapan.
– Ah, dia lari pulang. –, pikirnya dalam hati. –Dia pasti mengadu kepada suhu —
Dengan membawa pikiran demikian, dia mempercepat larinya, Tapi sayangnya ilmu
meringankan tubuh gadis itu juga masih kepalang tanggung, tidak berbeda jauh dengan
Siau Po. itulah sebabnya dia tidak berhasil mengejar si anak muda.
Sesaat kemudian, tampak si anak muda sudah menyelinap ke dalam penginapan.
— Celaka — pikir A Ko. — Kalau dia sampai mengadu kepada suhu, apa boleh buat,
aku akan membeberkan semua perbuatannya kepadaku tempo hari –
Karena merasa sudah terlanjur, si nona melambatkan langkah kakinya dan berjalan
perlahan lahan menuju pintu penginapan
Baru sampai di ambang pintu kamar, tiba-tiba A Ko menjadi terkejut setengah mati,
Karena sekonyong-konyong ada angin atau tenaga keras yang menyerangnya,
membuatnya terhuyung-huyung tiga langkah sampai dia tidak dapat mempertahankan
diri dan jatuh terduduk,
Kembali A Ko terkejut, dia berusaha untuk bangun Karena itu, dia menjulurkan
tangannya untuk menumpu di atas tanah, Tidak tahunya dia malah menyentuh wajah
seseorang. Terpaksa dia menekan terus untuk melompat bangun, Setelah berdiri, dia
baru menolehkan kepalanya dan menoleh kepada orang yang diduduki dan ditekannya
barusan. Kembali dia terkejut karena mengenali Siau Po yang sangat dibencinya.
“Hai, apa yang kau lakukan?” tanyanya kaget dan heran Namun baru selesai dia
mengajukan pertanyaan itu, kembali kedua lututnya terasa lemas dan dia terjatuh
kembali.
“Eh, eh” serunya pula, Tapi sudah terlambat, dia jatuh justru menimpa tubuh Siau Po
sehingga wajah mereka jadi saling berhadapan dan dalam posisi berpelukan.
Bukan main khawatirnya hati A Ko. Dia takut wajahnya dicium oleh si anak muda
yang ceriwis itu, Karena itu dia berusaha untuk bangun kembali Tapi entah mengapa,
seluruh tubuhnya terasa lemas sehingga niatnya menjadi gagal. Dia terpaksa
melengoskan wajahnya.
“Cepat bangunkan aku” katanya dengan terpaksa.

“Aku juga kehabisan tenaga.,.” sahut Siau Po. “Bagaimana baiknya sekarang?”
Meskipun mulutnya bertanya demikian, hati Siau Po justru senang sekali, Dia toh
ditindih oleh si nona cantik, yang tubuhnya lembut dan kulitnya halus, Dalam keadaan
seperti itu, dia masih sempat berkata dalam hatinya.
— jangan kata sekarang tenagaku benar-benar sudah lemah, meskipun tetap kuat
seperti semula, aku tidak akan membangunkan engkau, Bukankah kau sendiri yang
jatuh menimpa aku? jangan kau salahkan atau sesalkan aku —
AKo menjadi bingung.
“Suhu sedang dikepung musuh” katanya, “Kita harus menolongnya”
Barusan, ketika memasuki kamar, A Ko sempat melihat gurunya sedang
mengibaskan sebelah lengan bajunya dan menghantam sebelah tangannya lagi untuk
menolak serangan lawan.
Tapi tadi A Ko belum sempat melihat lawan gurunya dengan tegas. ia hanya tahu
bahwa musuh itu bukan hanya satu orang, Ketika dia ingin melihat lebih tegas, angin
pukulan dari dalam kamar sudah menghantamnya sehingga dia terjatuh dan menimpa
tubuh si anak muda.
Siau Po melangkah terlebih dahulu, Ketika sampai di depan pintu kamar, dia pun
menyaksikan apa yang dilihat A Ko. Dia juga roboh tidak berdaya. Dia merasa kesakitan
tapi hatinya senang sekali. Dia malah berharap si nona menindihnya terus, sampaisampai
dia lupa Pek I Ni sedang bertarung dengan siapa….
A Ko menekan dada orang, Dia terpaksa berusaha bangun. Perlahan-lahan dia
bangkit berdiri kemudian menghembuskan napas lega.
“Mengapa kau berbaring di atas tanah?” tanyanya “Mengapa kau membuat aku jatuh
tersandung?”
Nona ini sudah menduga jatuhnya Siau Po pasti karena alasan yang sama dengan
dirinya, tapi dia tetap mengajukan pertanyaan itu.
“lya, Nona” sahut Siau Po yang menyimpang dari pertanyaan gadis itu. “Kalau aku
tahu kau akan jatuh di sini, seharusnya aku cepat-cepat menyingkir agar kita bisa jatuh
berdampingan.”
“Cis” si nona meludah, Tapi dia mengkhawatirkan keselamatan gurunya sehingga
cepat-cepat dia memperhatikan keadaan di dalam kamar.
Pek I Ni masih duduk bersila di atas tanah, Kedua tangannya digerak-gerakkan untuk
menahan datangnya serangan lawan, jumlah musuhnya ada lima orang, Semuanya

para lhama dengan jubah merah. Setiap lawannya menyerang dengan cepat dan
dahsyat, walaupun demikian, mereka tidak sanggup mendekati bhikuni itu,
A Ko berusaha maju terus, Dia ingin mengetahui apakah masih ada musuh lainnya di
dalam kamar Tapi, baru saja kakinya menindak dua langkah, tiba-tiba serangkum angin
kencang kembali menerpanya sehingga mau tidak mau dia harus menyurut mundur
kembali.
Begitu mundur nona itu menendang Siau Po.
“Eh, cepat bangun” katanya, “Kau masih enak-enakan berbaring di sini. Lihat
musuh-musuh itu, orang dari golongan apakah mereka itu?”
Siau Po menumpu pada dinding dan bangun perlahan-Iahan. Lalu memperhatikan ke
dalam kamar.
“Semuanya ada enam orang lhama dan mereka semua terdiri dari orang jahat.”
katanya.
“Ngaco” bentak si nona. “Sudah tentu mereka orang-orang jahat, untuk apa kau
mengatakannya lagi?”
“Tapi mereka menyerang suthay, itulah yang membuktikan bahwa mereka itu orang
jahat.”
Si nona mendelikkan matanya.
“Aku rasa kau tentunya teman orang-orang itu, Kau yang mengajak mereka ke mari
untuk mencelakai suhu.” tukasnya.
“Mana mungkin, Nona?” kata Siau Po. “Aku justru sangat menghormati suthay
seperti halnya aku menghormati Kuan Im Pousat, mana mungkin aku mencelakainya?”
A Ko segera menoleh ke dalam kamar. Tiba-tiba dia mengeluarkan seruan tertahan
Siau Po pun cepat-cepat memperhatikan keadaan di dalam kamar Tampak keenam
lhama itu, masing-masing menghunus goloknya dan menyerang Pek I Ni.
Tapi mereka tertahan oleh pukulan si bhikuni sehingga mereka tidak bisa maju lebih
dekat. Hanya saja sekarang di atas kepala wanita itu tampak uap putih mengepul,
menandakan dia sudah mengeluarkan tenaganya terlalu banyak dan keadaan ini
membahayakan dirinya.
Dalam hati Siau Po ada niat ingin membantu bhikuni itu, tapi dia tidak dapat
memasuki kamar .Bahkan kalau dia bisa masuk sekalipun, malah bisa membuat Pek I
Ni menjadi kikuk. Bukankah dia tidak berdaya apa-apa menghadapi keenam lhama
yang tangguh-tangguh itu?

Melihat ke sekitarnya, Siau Po mendapatkan ada sebatang sapu tersandar di sudut
tembok, Dia merayap perlahan-lahan ke sana lalu diambilnya sapu itu, Kemudian Siau
Po menjulurkan sapu itu lewat sela pintu dengan maksud menyodokkannya ke wajah
salah seorang lhama sehingga orang itu kurang waspada dan Pek I Ni mempunyai
kesempatan menghajarnya.
Tapi, baru saja sapunya masuk ke dalam, dia sudah mendengar suara bentakan
keras disusul dengan kelebatan sinar golok. Sapu di tangan Siau Po langsung terkutung
menjadi dua bagian, Bahkan dia sendiri ikut terkena sambaran angin sehingga terpental
ke belakang,
“Kau benar-benar sembrono,” kata A Ko, “Mana boleh kau melakukan hal itu?”
Siau Po tidak menyahut otaknya terus bekerja keras, matanya jelalatan ke sana ke
mari, Anak muda itu memperhatikan posisi keenam orang lhama itu lalu mengendapendap
ke belakang mereka, Karena terhalang dinding kamar, lawan tidak dapat melihat
nya. Dia berdiri tepat di belakang salah seorang Ihama, yakni orang yang
mengutungkan sapunya tadi. Dia menikamkan pisau belatinya pada orang itu.
Pisau itu luar biasa tajamnya, sedangkan tebal dinding tidak lebih dari satu dim.
Pisau itu telak mengenai punggung si Ihama, Lhama itu menjerit, lalu tubuhnya terkulai
di atas tanah. Dia sama sekali tidak tahu bagaimana dirinya diserang lawan, sehingga
boleh dikatakan menjadi mati konyol.
Diam-diam Siau Po merasa girang, karena mendengar suara teriakan atau jeritan si
Ihama, Dia tahu tikamannya sudah membawa hasil. Karena itu, dia segera menggeser
ke arah Ihama yang kedua dan kembali menikamkan pisaunya.
“Aduh” jerit lhama itu dan tubuhnya pun terkulai seperti kawannya barusan.
–Bagus –, seru Siau Po dalam hatinya, Dia puas dengan usaha itu walaupun yang
dilakukannya berupa serangan gelap, Tanpa ragu lagi, dia segera melanjutkan
serangannya.
Dalam waktu yang singkat, empat orang lhama telah roboh tidak berkutik Untung
pisau belatinya tidak tembus ke dalam sekali sehingga luka setiap lhama tidak
mengucurkan darah, Dengan demikian kawan-kawannya tidak tahu apa yang telah
terjadi. Saking heran dan khawatir dalam pikiran mereka langsung timbul niat untuk
melarikan diri.
Pek I Ni dapat melihat sikap para lhama itu, Dia menghajar seorang lhama yang
sedang memutar tubuhnya untuk pergi, Robohlah orang itu, mulutnya mengeluarkan
darah dan jiwanya melayang seketika, sedangkan dengan kibasan lengan baju
kanannya, dia membuat seorang lhama lainnya tidak dapat melarikan diri karena lima
jalan darahnya telah tertotok. Dengan demikian lhama itu juga langsung roboh tidak
berkutik.

Pek I Ni menendang kembali tubuh keempat lhama yang sudah rebah di atas tanah,
Bhikuni itu melihat lubang bekas tikaman juga darah yang merembes ke luar dari selaselanya,
maka dia segera mengerti sebab kematian keempat lhama tersebut. Dia lalu
bertanya kepada lhama yang tertotok itu.
“Kau,., siapa?” Tiba-tiba tubuhnya terhuyung-huyung dan jatuh terguling di atas
lantai, dari mulutnya muncrat darah segar.
Rupanya Tiang kongcu sudah menguras tenaganya secara berlebihan ketika
menghadapi keenam orang lhama yang kepandaiannya tinggi-tinggi itu. Untung dia
masih bisa bertahan sampai tahap terakhir dan kemudian baru roboh.
A Ko dan Siau Po terkejut setengah mati, Mereka segera menghambur ke depan dan
memapah bhikuni itu.
“Suhu Suhu” panggil A Ko berulang kali.
Napas Pek I Ni lemah sekali, Matanya terpejam dan mulutnya tertutup rapat-rapat.
Bersama-sama A Ko, Siau Po mengangkat tubuh bhikuni itu ke atas tempat tidur,
Darah masih mengalir dari sudut bibir wanita itu.
A Ko bingung sekali sehingga dia menangis terus. Ketika pertempuran terjadi, para
pelayan serta pemilik penginapan semuanya lari kucar-kacir, sekarang mereka kembali
lagi dan ketika melihat darah berceceran dimana-mana mereka jadi ketakutan.
Beberapa diantaranya malah berteriak-teriak seperti orang kalap,
“Untuk apa kalian berteriak-teriak?” bentak Siau Po sambil memungut sebilah golok,
“Diam Atau kalian semuanya ku bunuh”
Orang-orang itu ketakutan, mereka segera menutup mulut Siau Po mengeluarkan
sejumlah uang lalu menyerahkannya kepada salah seorang pelayan.
“Sekarang cepat kau carikan dua buah kereta besar Yang lima tail ini untukmu”
katanya,
Siau Po mengeluarkan uang lagi sebanyak empat puluh tail, lalu dia berkata kepada
pemilik penginapan.
“Keenam orang lhama ini mati karena saling menyerang antara kawannya sendiri,
kalian semua juga menyaksikan bukan?”
Padahal para pelayan dan pemilik penginapan itu tidak melihat apa-apa, tapi mereka
takut terhadap ancaman Siau Po sehingga serentak mereka menganggukkan
kepalanya dan mengiyakan.

Tidak lama kemudian kedua kereta besar yang dipesan Siau Po sudah datang,
Dengan dibantu oleh A Ko, dia menggotong Pek I Ni ke atas sebuah kereta.
“Kau duduk di atas satu kereta dengan gurumu, aku akan membawa lhama yang
tertotok ini.” katanya kepada A Ko.
“Ke barat daya” kata Siau Po pula kepada sais kereta setelah mereka semua naik ke
atasnya.
Siau Po khawatir lhama itu bisa membebaskan sendiri totokannya, Karena itu dia
mengikat kaki dan tangan orang itu erat-erat.
Sementara kereta berjalan terus, Siau Po melihat si Ihama, sudah sadar. Tanpa
menunda waktu lagi, dia mulai mengajukan pertanyaan kepadanya.
“Kau lihat sendiri, empat orang rekanmu telah terbunuh di tanganku, Kalau kau tidak
menjawab pertanyaanku baik-baik, maka kau akan mengalami nasib yang sama. Malah
aku akan menyiksamu terlebih dahulu, Nah, sekarang katakan, siapa yang menyuruh
kalian mencari keributan dengan suthay kami?”
Lhama itu takut sekali. Apalagi setelah Siau Po mengeluarkan pisau belatinya yang
sinarnya berkilauan dan terus digerak-gerakkan di depan hidungnya.
“Aku bernama Hupain, lhama dari Tibet.” kata orang itu. “Kami mendapat tugas untuk
menangkap hidup-hidup suthay itu. Orang yang memerintahkan kami adalah kakak
seperguruan kami yang tertua, namanya Shang Cie.”
“Suthay ini orang baik-baik,” kata Siau Po. “Dengan kakak seperguruanmu pasti tidak
ada persengketaan apa-apa, Mengapa kakak seperguruanmu memerintahkan kalian
menangkapnya?”
“Menurut kakak seperguruanku suthay itu telah mencuri kitab suci… bukan di pinjam-
Kitab suci itu seluruhnya ada delapan jilid dan mempunyai sangkutan yang penting
dengan Buddha hidup kami. Kami harus meminta pulang kitab tersebut”
“Kitab apakah itu?” tanya Siau Po.
“Kitab Chayen kulu-kulu.”
“Ngaco” kata Siau Po. “Mana ada kitab Chayen kulu-kulu?”
“ltulah bahasa Tibet” sahut si Ihama, “Dalam bahasa Tionghoa, orang menyebutnya
Si Cap Ji Cin Keng.”
“Bagaimana kakakmu yang busuk itu bisa tahu suthay kami memiliki kitab tersebut ?”
tanyanya kembali.

“Tentang itu aku tidak tahu apa-apa.”
“Sekarang aku ingin tanya lagi kepadamu, bersama kakak seperguruanmu yang
busuk itu, orang yang kepandaiannya lebih rendah atau lebih tinggi daripadaku masih
ada berapa lagi?”
“Jumlah kami semua tiga belas orang, suthay telah membinasakan lima di antara
kami, sekarang masih tersisa delapan orang lagi.”
Siau Po mendupak tubuh orang itu.
“Kau sangat busukl Sudah mau mati, masih mengoceh yang tidak-tidak. Jadi
kepandaian mereka semuanya lebih tinggi daripada aku? Kau lihat saja nanti, kalau
bertemu dengan mereka, aku akan menghabisi mereka satu persatu, Biar kau tahu
sampai di mana kelihayanku”
“lya, iya” sahut si lhama yang ketakutan.
Siau Po masih belum puas, dia masih mengajukan beberapa pertanyaan, dan tidak
memperoleh keterangan yang cukup jelas lagi, dia baru menghentikan kereta dan
melaporkan apa yang didapatkan kepada Pek I Ni.
“Suthay, di sana masih ada delapan orang lhama. Kalau mereka datang sekaligus,
mungkin sulit bagi suthay untuk melayaninya, Lain halnya kalau keadaan suthay sehat
seperti sebelumnya.”
Pek I Ni menggelengkan kepalanya.
“Sekalipun dalam keadaan sehat, satu lawan tujuh, tetap saja tidak mungkin menang,
Menurut apa yang aku ketahui, Sang Cie itu merupakan lhama yang kepandaiannya
nomor satu di wilayah Tibet. ilmunya tinggi sekali, Menghadapi dia satu orang saja
masih belum tentu kesudahannya, apalagi kalau dia mengandalkan saudara-saudara
seperguruannya yang lain.” katanya.
“Kalau begitu, sebaiknya kita menggunakan tipu daya kata Siau Po.” Aku mempunyai
akal yang cukup baik, tapi entah suthay mau menjalankannya atau tidak….”
Bhikuni itu menarik napas panjang.
“Sekarang aku sudah tidak berbeda dengan manusia biasa, Coba kau katakan apa
akal mu itu?”
“Aku berpikir agar kita pergi ke sebuah tempat yang sunyi,” kata Siau Po. “Di sana
suthay menyamar sebagai wanita setengah baya yang sedang sakit. Aku dan A Ko
akan menjadi anak-anakmu yang mengurusmu, Entah bagaimana pendapat suthay?
Tentu saja hanya untuk sementara, setidaknya sampai kesehatan suthay pulih
kembali.”

Pek I Ni menggelengkan kepalanya.
“Huh pikiran apa yang kau cetuskan?” bentak AKo. “Sungguh bodoh Suhu adalah
orang gagah di jaman ini, mengapa suhu harus menyembunyikan diri sedemikian rupa?
Bukankah itu berarti takut?”
“Akal ini sebetulnya dapat

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s