“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 62

Coba kalau dia tahu aku ada di sini, tentu
dia tidak berani bicara seperti itu. — Meskipun berpikir demikian, Siau Po tetap tidak ke
luar dari tempat persembunyiannya.
Pek I Ni berdiam diri sekian lama, kemudian baru dia berbicara lagi.
“Hay Tay Hu?” tanyanya. Agaknya dia sedang berpikir “Aku belum pernah
mendengar nama itu, Barusan kau menepuk aku tujuh kali dengan tenaga yang luar
biasa beratnya. Apa nama pukulan itu?”
“Menurut keterangan guruku, itulah pukulan dari Bu Tong pai,” sahut ibu suri,
“Namanya Jiu In Ciang (Tangan awan lunak).”
Pek I Ni menggelengkan kepalanya.
“Bukan,” katanya, “ltu bukan Jiu In Ciang, tapi Hoa Kut Bian Ciang (Tangan kapas
menghancurkan tulang belulang), Bu Tong Pai adalah sebuah partai lurus, tidak
mungkin memiliki ilmu yang begitu sadis.”
“Mungkin suthay benar,” sahut ibu suri, “Aku menyebutkannya karena menuruti
keterangan guruku saja, Benar atau salah, aku tidak tahu….”

Ibu suri melihat bhikuni itu gagah dan cerdas, Dia menjadi kagum sekaligus takluk
serta takut.
Pek I Ni bertanya lagi.
“Dengan ilmumu ini, sudah berapa banyak orang yang kau celakai?”
“Aku…. Boanpwe.,.” sahut ibu suri yang bingung bagaimana harus menjawab
pertanyaan itu dan tidak tahu bagaimana harus menyebut dirinya sendiri “Boanpwe
hidup dalam istana, boanpwe belajar silat hanya untuk membela diri saja, juga untuk
menyehatkan tubuh, boanpwe sama sekali belum pernah mencelakai siapa pun….”
— Muka badak –, maki Siau Po dalam hati.
“Harap suthay ketahui,” kata ibu suri menambahkan “Boanpwe selalu mendapat
pengawalan ke mana saja, Karena itu, Boan pwe belum pernah bertempur dengan
siapa-siapa, Malam ini merupakan pertama kali boanpwe bentrok dengan suthay,
Ternyata ilmu silatku belum berarti apa-apa….”
Pek I Ni tersenyum.
“Sebenarnya ilmu silatmu baik sekali.” katanya.
“Boanpwe seperti katak dalam tempurung,” kata ibu suri merendah. “Coba kalau hari
ini boanpwe tidak menyaksikan ilmu silat suthay yang demikian tinggi, mana mungkin
boanpwe tahu bahwa langit sebenarnya luas sekali….”
“Hm” terdengar Pek I Ni mendengus dingin, “Kapan matinya thay-kam bernama Hay
Tay Hu itu? Siapa yang membunuhnya?”
“Sudah beberapa tahun dia mati… karena usianya yang lanjut….”
“Mungkin engkau sendiri belum pernah melakukan kejahatan,” kata Pek I Ni kembali
“Akan tetapi, kalian bangsa Tatcu sudah merampas dan menduduki kerajaan Beng ku.
Kalian sudah memaksa kaisar kami membunuh diri. Kaulah istrinya raja Tatcu yang
pertama, atau ibunya raja Tatcu yang kedua, karena itu kau tidak boleh hidup lebih lama
lagi.”
Ibu suri terkejut setengah mati sehingga tubuhnya menggigil.
“Suthay…” katanya, “Kaisar yang sekarang bukanlah anak kandungku, ibunya adalah
permaisuri Hau Kong yang sudah lama mati….”
Pek I Ni mengangguk.

“Oh, begitu ” katanya, “Tapi kau tetap istri kaisar Sun Ti. Sun Ti sudah menganiaya
dan membunuh ribuan laksa jiwa bangsaku, bangsa Han. Mengapa kau tidak memberi
nasehat kepadanya atau mencegahnya melakukan pembantaian itu?”
“Harap suthay ketahui,” kata ibu suri yang pandai bicara, “Dalam hal ini, boanpwe
tidak dapat berbuat apa-apa. Mendiang raja Sun Ti sangat menyayangi selirnya, Tang
Gok Hui, karena itu pula, dahulu sulit bagi boanpwe untuk bertemu dengan kaisar
sendiri itulah sebabnya boanpwe tidak menemukan jalan untuk menasehatinya atau
mencegahnya….”
Pek I Ni terdiam sekian lama.
“Bicaramu memang beralasan,” katanya, “Baiklah. Malam ini aku tidak akan
membunuhmu.”
“Terima kasih, suthay” tukas ibu suri langsung, “Boanpwe berjanji, mulai hari ini dan
selanjutnya boanpwe akan berdoa memuji Sang Buddha, Oleh karena itu, harap suthay
kembalikan lagi kitab suciku itu….”
“lnikah kitab Si Cap Ji Cin Keng” kata Pek I Ni. “Untuk apa kau memiliki kitab ini?”
“Boanpwe ingin bersujud terhadap Sang Buddha,” sahut ibu suri, “Karena itu, sejak
hari ini, siang dan malam boanpwe ingin membaca doa.”
“Kitab Si Cap Ji Cin Keng adalah kitab umum, dalam setiap wihara atau kuil, pasti
ada. Mengapa kau justru menginginkan yang satu ini?” tanya Pek I Ni.
“Mungkin suthay belum tahu,” kata ibu suri yang berkeras ingin mendapatkan
kitabnya kembali “Kitab Si Cap Ji Cin Keng yang satu ini, dahulu selalu dibaca siang
dan malam oleh almarhum Sri Baginda, Karena itulah boanpwe tidak dapat
melupakannya, boanpwe selalu menganggap kitab itu seperti almarhum sendiri….”
“Kalau begitu sikapmu, terang kau keliru sekali.” kata Pek I Ni. “Siapa yang membaca
kitab ini, pikirannya harus kosong dan bersih, Tidak boleh ada kenangan apa pun yang
melekat dalam hatinya, Kau membaca kitab suci dan berdo’a tapi di samping itu kau
masih ingat terus pada suamimu, apa gunanya kau berdoa?”
“Terima kasih, suthay petunjuk suthay ini berharga sekali.” kata ibu suri, “Tapi
boanpwe bodoh sekali, tidak mudah boanpwe menerima penjelasanku…”
Sekonyong-konyong saja sepasang mata Tiang kongcu menyorotkan sinar yang
berapi-api.
“Cepat katakan” bentaknya dengan suara keras. “Apanya yang istimewa dari kitab
ini? Cepat katakan”

Hati ibu suri diam-diam jadi tercekat “Sebenarnya.,.” katanya gugup, “Hal ini hanya
karena kekolotan pikiranku dalam beragama. walaupun Sri Baginda almarhum telah
memperlakukan aku dengan tidak selayaknya, tapi aku tetap tidak dapat melupakannya.
Setiap kali memegang kitab ini, hati boanpwe tidak begitu tersiksa oleh kerinduan….”
Pek I Ni menarik napas panjang, “Kalau kau tetap kukuh dengan pendirianmu dan
tidak mau sadar.” katanya, “Apabila kau tetap tidak mau berterus terang, terserah
kepadamu”
Sembari berkata, Pek I Ni mengibaskan ujung lengan bajunya sehingga totokan pada
tubuh ibu suri terbebaskan seketika.
“Terima kasih atas kebaikan suthay” kata ibu suri sambil berlutut dan menyembah
beberapa kali . Setelah itu dia baru bangun.
“Jangan bicara tentang kebaikan hatiku” kata Pek I Ni. “Aku tidak melakukan
kebaikan apa pun terhadapmu sekarang aku ingin bertanya, Yaitu mengenai
kepandaian Hoa Kut Bian Ciang yang kau miliki, bagaimana apabila kelak kau
menggunakan ilmu itu untuk mencelakai orang?”
“Tentang hal itu, guruku tidak pernah memberikan keterangan yang selengkapnya”
sahut ibu suri yang licik itu. “Dia hanya mengatakan ilmu itu hebat sekali dan di dalam
dunia ini hanya ada beberapa orang yang dapat menahannya.”
“Oh, kau tadi menyerang aku sebanyak tujuh kali,” kata Pek I Ni. “Aku toh tidak
melawannya, aku hanya melontarkan kembali seranganmu singkat kata, aku telah
mengembalikan ilmumu sendiri sehingga kau roboh tadi. Siapa yang berbuat jahat, dia
akan menerima akibatnya, Karena itu, jangan kau sesalkan apa pun juga”
Mendengar keterangan itu, semangat ibu suri serasa terbang melayang. Dia insyaf
dengan kehebatan Hoa Kut Bian Ciang, Tidak aneh kalau tadi dia roboh sendiri
Tenaganya seakan tiba-tiba terkuras habis.
Sampai-sampai dia merasa sulit walau ingin menggerakkan satu jari tangannya saja,
Tidak di-sangka-sangka dia termakan serangannya sendiri ini yang dinamakan senjata
makan tuan.
Dahulu dia menggunakan pukulan itu untuk membunuh pangeran Eng, putera selir
Tang Gok Hui serta dua saudara perempuan selir itu, sehingga tiga jiwa melayang
ditangannya.
Ketika itu, dia telah menyaksikan sendiri bagaimana penderitaan ketiga orang itu
ketika jiwanya sekarat Dia tidak menyangka bhikuni ini demikian lihay, pukulan mautnya
dapat dialihkan kepada penyerangnya sendiri.
Saking takutnya, ibu suri menjatuhkan diri berlutut di hadapan Pe I Ni.

“Suthay, tolonglah”
Tang Gok Hui bertiga saja tidak dapat bertahan dari satu pukuIannya, sekarang
dirinya sendiri terkena tujuh pukulan sekaligus, mana mungkin dia dapat menahan
penderitaannya?
Pek I Ni menarik napas panjang.
“Siapa yang berbuat jahat, dia akan menerima akibatnya.” katanya, “Dalam hal ini,
kau sendiri yang harus menyelamatkan dirimu, orang lain tidak berdaya apa-apa.”
Ibu suri mengangguk-anggukkan kepalanya, Dia benar-benar takut sekali.
“Boanpwe benar-benar mengharapkan kebaikan suthay,” katanya, “Boanpwe minta
sudilah kiranya suthay menunjukkan suatu jalan hidup untukku”
“Kau menyembunyikan segalanya, kau tidak mau berbicara terus terang, itu akibat
kesesatan dirimu sendiri.” kata Tiang kongcu, “Bukankah jalan terang terbentang di
hadapanmu? Mengapa kau tidak memilihnya, malah sekarang menyesali orang lain?
seandainya aku memang mempunyai kemurahan hati, tentu akan kupersembahkan
kepada bangsaku sendiri, orang Han. Kau adalah budak Boan Ciu, di antara kau dan
aku terhalang dendam yang dalam, bagaimana aku dapat menolongmu? Sudah bagus
hari ini aku tidak langsung turun tangan sendiri merampas selembar nyawamu. Dengan
demikian, berarti aku telah berbuat kebaikan kepadamu.”
Sembari berkata, Tiang kongcu bangun berdiri ibu suri terkejut sekali Dia mengerti
keadaan yang di hadapinya, Kalau kesempatan baik ini lenyap, pasti celakalah dia. Dia
bakal menderita seperti Tang Gok Hui dan yang lainnya, Dia menggigil sendiri setiap
mengingat penderitaan mereka.
“Su… thay” Akhirnya dia memanggil “A… ku bukan bangsa Tatcu…. Aku… aku….”
“Kau apa?”
“A… ku orang Han….”
Pek I Ni tertawa tawar.
“Hm…. Sampai detik ini kau masih mengoceh tidak karuan, Seorang permaisuri
bangsa Tatcu, mana mungkin bisa orang Han?”
“Boanpwe tidak sembarangan berbicara. Kaisar yang sekarang adalah putera Tong
Ke si. Dan Tong Ke si itu anak perempuan dari Tong Tou, dia orang bangsa Han.”
“Kalau begitu, Tong Ke si mendapat kemuliaan karena mengandalkan puteranya,”
kata Pek I Ni. “Dengan demikian, dia hanya seorang selir bukan permaisuri bahkan

belum pernah diangkat jadi permaisuri justru karena puteranya sudah menjadi kaisar,
dia baru dianugerahkan menjadi ibu suri.”
“lya, memang begitulah.,.” kata ibu suri menganggukkan kepalanya.
Pek I Ni berdiam diri, kemudian dia melangkahkan kakinya untuk meninggalkan
tempat itu.
“Suthay” panggil ibu suri yang bukan main bingungnya, “Dengan sebenar-benarnya
aku bukan orang Tatcu, bahkan aku benci sekali kepada mereka, sebagaimana suthay
membencinya.”
“Apa sebab kebencianmu itu?”
“Sebenarnya ini merupakan sebuah rahasia besar,” kata ibu suri. “Sebenarnya juga
aku tidak boleh membuka rahasia ini, tapi….”
“Kalau rahasia ini memang tidak boleh dibuka, sebaiknya kau simpan saja sendiri….”
Ibu suri tambah bingung. Karena itu, dia tidak memperdulikan apa-apa lagi.
“Suthay” panggilnya kembali “Dengan sebenar-benarnya aku bukan bangsa Tatcu,
Bahkan aku juga bukan ibu suri yang sejati, aku hanya seorang ibu suri palsu, Ya, aku
bukan ibu suri kerajaan Ceng.”
Biar bagaimana, hati Pek I Ni tercengang juga mendengar pernyataan itu, Dia
merasa heran sekali.
Bahkan Siau Po yang bersembunyi di belakang tempat tidur tidak kalah herannya.
Dengan tindakan yang lamban sekali Pek I Ni kembali ke kursinya.
“Kau seorang ibu suri palsu? Mana mungkin? Bagaimana caranya?”
“Duduk persoalannya begini,” kata ibu suri memberikan keterangannya. “Ayah dan
ibuku telah dianiaya sampai mati oleh bangsa Tatcu, Karena itu aku sangat
membencinya, setelah orang tuaku dibunuh, aku pun ditawan dan dipaksa menjadi
dayang melayani permaisuri. Kemudian… aku… aku langsung menyaru sebagai
permaisuri itu….”
Mendengar kata-katanya, Siau Po semakin heran.
— Nenek sihir ini benar-benar berani berbohong, – pikirnya dalam hati, – Bagaimana
dia bisa mengucapkan kata-kata seperti itu? –
Wanita yang mengaku dirinya sebagai ibu suri palsu segera melanjutkan
keterangannya.

“lbu suri yang asli memang orang Boan Ciu.” katanya, “Shenya Po erl Chiteh dan dia
puteri pangeran Koerltsin, Ayahku sendiri she Mo dan bernama Bun Liong, Dia seorang
panglima besar dari kerajaan Beng….”
Pek I Ni tercengang mendengar kata-katanya.
“Kau puteri Mo Bun Liong?” tanyanya menegaskan “Kau maksudkan Mo Bun Liong
yang dulu memangku jabatan tinggi dan berkuasa di pulau Pi to?”
“Benar.” sahut ibu suri sambil menganggukkan kepalanya. “Sepanjang tahun ayahku
menempur bangsa Tatcu, kemudian akhirnya dia malah dihukum mati. Padahal ayahku
itu menjadi korban musuh yang menggunakan tipu daya mengadu domba perwiraperwira
kerajaan Beng.”
“Oh, ini merupakan sebuah berita baru dan aneh.” kata si bhikuni heran. “Yang aneh
justru kau. Bagaimana kau bisa menyamar sebagai permaisuri? Mengapa dalam sekian
tahun rahasia itu tidak pernah terbongkar?”
“Cukup lama aku melayani permaisuri “sahut ibu suri palsu” selama itu aku selalu
mendengarkan suara dan memperhatikan gerak-geriknya dengan seksama, Aku juga
mempelajari semua kebiasaannya. Bahkan wajahku ini adalah wajah palsu.”
Sembari berkata, ibu suri palsu itu menghampiri meja rias. Dia merendam sapu
tangannya dengan air kemudian diusapkannya ke muka, Dalam sekejap mata,
terkelupaslah dua potong kulit wajahnya, Dengan demikian, terlihatlah selembar wajah
yang lain.
Wajah yang tadinya montok dan gemuk berubah menjadi kurus panjang dengan
potongan kuaci, malah matanya agak mendelong.
“Oh” seru Tiang kongcu saking heran dan terkejutnya, “Benar-benar wajahmu jadi
berubah dan berlainan sekali “Dia berdiam sejenak kemudian baru melanjutkan kembali
“Tidak mudah bagimu melakukan penyamaran ini. Apakah dayang atau pelayanmu
tidak ada yang curiga dengan kepalsuanmu ini? Mungkinkah suamimu sendiri tidak
mengetahuinya?”
“Suamiku?” kata ibu suri palsu itu. “Hmm Raja almarhum itu hanya menyayangi
Tang Gok Hui, selirnya yang genit itu. Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah bermalam
di kamar ini. permaisuri yang asli saja dia tidak pernah melirik barang sedikit pun,
Apalagi yang palsu.”
Nada suara ibu suri palsu itu menyiratkan kegetiran hidup dan kepahitan serta
penderitaan yang dalam. Kemudian terdengar dia menambahkan lagi.
“Jangan kata aku telah menyamar dengan demikian sempurna, meskipun hanya
sedikit kemiripan saja, mana mungkin dia mengetahuinya?”

Pek I Ni berdiam diri, Tampaknya dia percaya dengan keterangan ibu suri palsu itu.
“Lalu, apakah tidak ada seorang dayang atau pelayan pun yang mengetahui
kepalsuanmu ini?” tanyanya kembali.
“Begitu aku berhasil mengekang ibu suri, aku segera mengganti semua pelayan dan
dayang yang melayani permaisuri asIi, Aku juga jarang keluar di siang hari, Kalau toh
aku terpaksa ke luar juga, dalam istana ini ada sebuah peraturan yang menguntungkan
aku, yakni para dayang, pelayan atau thay-kam dilarang melihat wajah junjungannya,
Ada kemungkinan mereka memperhatikan dari jauh, tapi mana mungkin mereka
mengetahui penyamaranku ini?”
Pek I Ni terdiam kembali, tetapi tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam benaknya.
“Pengakuanmu itu tidak tepat.” katanya nyaring, “Kau mengatakan bahwa raja tua
tidak memperdulikan dirimu, tapi bukankah kau mempunyai seorang puteri
dengannya?”
“Puteri itu bukan puteri asli si raja tua.” sahut pula si ibu suri palsu, “Di dalam istana
ada seorang laki-laki bangsa Han yang biasa menyamar sebagai dayang dan
senantiasa mendampingi aku, puteri Kian Leng kongcu adalah anak gadisnya, Sayang
sekali belum lama ini tidak beruntung laki-laki itu telah menutup mata….”
To Hong Eng mencekal tangan Siau Po keras-keras ketika mendengar keterangan
ibu suri. Demikian pula si anak muda, mereka sama-sama berpikir keras, memang ada
seorang laki-laki yang menyamar sebagai dayang tapi dia bukan mati sakit
Siau Po pun berpikir lebih jauh.
— pantas tuan puteri demikian centil dan berandalan. Rupanya dia anak campuran si
ibu suri palsu dengan dayang palsu, Raja tua demikian welas asih dan sabar,
bagaimana mungkin menurunkan seorang puteri semacam dia? –
Sementara itu, Tiang kongcu pun berpikir
— Kau hamil dan melahirkan seorang puteri sedangkan si raja tua tidak biasa
bermalam di kamarmu, mana mungkin kecurigaannya tidak timbul? –
Meskipun berpikir demikian, dia tidak berani menanyakannya, Dia sendiri seorang
gadis suci yang belum pernah menikah, Tapi dia juga berpikir lebih jauh, – Karena dia
permaisuri palsu, begitu mengetahui dirinya hamil, tentu dia mencari jalan agar
rahasianya ini jangan sampai terbuka. Dalam hal ini, lebih baik aku selidiki secara
keseluruhannya –
Karena itu, dia menggelengkan kepalanya sambil berkata pula. “Kata-katamu itu
tidak benar semuanya.”

“Tapi, cianpwe” ibu suri menjadi bingung dan khawatir “Bukankah boanpwe telah
membuka semua rahasia yang memalukan ini? Mana mungkin boanpwe masih
menyimpan rahasia lainnya?”
“Kalau ceritamu benar,” kata Pek I Ni. “Berarti permaisuri yang asli telah kau bunuh,
Oh, sungguh tanganmu itu penuh dengan noda darah”
“Boanpwe penganut agama Buddha, setiap hari boanpwe membaca doa dan
bersembahyang. Meski-pun boanpwe benci sekali terhadap bangsa Tatcu, tapi
boanpwe tidak berani sembarangan melakukan pembunuhan permaisuri yang asli
sampai sekarang masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja.”
Keterangannya itu membuat hati Tiang kongcu dan dua orang lainnya yang
bersembunyi di belakang tempat tidur menjadi terkejut setengah mati, Hal ini benarbenar
di luar dugaan mereka.
“Jadi permaisuri itu masih hidup?” tanya Pek I Ni menegaskan. “Di mana dia
sekarang? Kalau dia masih hidup, apakah kau tidak khawatir ia akan membongkar
rahasiamu ini?”
Ibu suri menggelengkan kepalanya, Dia langsung merogoh sebuah anak kunci yang
terbuat dari emas dari dalam sakunya, Kemudian dia berjalan ke samping tempat tidur,
Di situ terdapat sebuah Iemari besi.
Dengan anak kunci itu, dia membuka lemari tersebut Begitu kedua pintunya
terpentang lebar, Tiang kongcu langsung mengeluarkan seruan tertahan.
Tampak di dalam lemari terdapat seorang wanita yang sedang rebah tidak berkutik
dan tubuhnya ditutupi dengan sehelai selimut yang indah.
“Diakah permaisuri yang asli?” tanyanya sambil menunjuk kepada wanita itu.
“Silahkan cianpwe lihat sendiri” kata ibu suri sambil mengambil sebuah tempat lilin
yang dalam keadaan menyala dan dibawanya ke dekat wanita itu untuk menerangi
bagian wajahnya.
Pek I Ni memperhatikan dengan seksama, Dia melihat wajah wanita itu pucat pasi
seakan tidak mengandung darah setetes pun. Tapi tampangnya memang persis dengan
ibu suri palsu ketika penyamarannya belum dibuka.
Mendengar suara pintu lemari dibuka, wanita itu membuka matanya perlahan-lahan
dan dia langsung memejamkannya kembali
“Aku tidak sudi bicara, Lekaslah kau bunuh aku” ujarnya lirih.
“Aku tidak pernah membunuh orang.” kata ibu suri. “Mana mungkin aku
membunuhmu?”

Dengan perlahan, ibu suri palsu itu menutup kembali pintu lemarinya.
“Bukankah kau telah mengurungnya selama belasan tahun?” tanya Tiang kongcu.
“Benar.”
“Tadi dia mengatakan bahwa dia tidak sudi berbicara, dalam hal apakah kau
memaksanya? Apakah karena dia tidak mau berbicara maka kau mengurungnya
demikian lama? Andaikata dia tetap tidak mau berbicara, bukankah akhirnya kau akan
membunuhnya juga? Kau akan membunuhnya, bukan?”
Ibu suri menggelengkan kepalanya.
“Tidak… tidak,” sahutnya, “Boanpwe mengetahui dengan baik sekali bahwa
pantangan utama dalam agama Buddha adalah membunuh Boanpwe juga pantang
makanan berjiwa, boanpwe tentu tidak akan membunuhnya.”
“Hm” Pek I Ni memperdengarkan suaranya yang dingin. “Apakah kau menganggap
aku seperti bocah berusia tiga tahun? Apakah kau pikir aku tidak dapat membaca jalan
pikiranmu? Kau mengurung dia, itu berarti karena setiap saat ada ancaman bahaya
bagimu bukan? Dan pada saat itu kau bisa menggunakannya sebagai barang jaminan,
bukan? Kau belum membunuhnya, hal ini pasti karena kau masih mempunyai rencana
yang lain. Apa itu? Bukankah berbahaya sekali apabila dia berkaok-kaok dalam
lemari?”
“Dia tidak berani berteriak Aku telah memberitahukan kepadanya, kalau dia bersuara
sedikit saja, pertama-tama aku akan membunuh si raja tua, kemudian aku juga akan
membunuh raja yang masih kecil itu. Wanita ini sangat menghormati si raja tua dan
sayang kepada si raja muda. Tidak mungkin dia membiarkan boanpwe mencelakai
mereka.”
“Sebenarnya, urusan apa yang kau tanyakan kepadanya?” tanya Tiang kongcu
kembali, “Urusan apa yang kau minta dia mengatakannya? Karena dia tidak membuka
mulut sampai sekarang, mengapa kau tidak membuktikan kata-katamu dengan
membunuh raja?”
“Hal ini karena dia mengatakan, apabila aku membunuh kedua raja itu, maka dia
akan membunuh diri.” sahut ibu suri. “Dia mengancam tidak mau makan, Karena itu, di
antara kami berdua, saling takut satu dengan yang lainnya, Dia telah berjanji tidak akan
membunuh diri, apabila aku juga tidak membunuh raja.”
Apa yang dikatakan ibu suri palsu itu memang benar Dia belum membinasakan ibu
suri yang asli itu, karena masih ada rahasia yang ingin ia korek dari mulutnya.
Kalau tidak, permaisuri itu pasti sudah dibunuhnya sejak dulu, Tentu mudah saja
baginya melenyapkan bukti, setelah membunuh dia dapat membakarnya sampai
musnah.

“Aku telah bertanya kepadamu, tapi kau masih tidak mau mengatakannya juga,” kata
Tiang kongcu pula. “Sebenarnya urusan apa yang hendak kau korek?”
“Baik,baik.” sahut ibu suri, itulah rahasia yang menyangkut keruntuhannya kerajaan
Boan Ciu. pada mulanya, bangsa Boan Ciu berdiri di daerah Liau Tong. Kalau akhirnya
dia berhasil menyerang dan menduduki kerajaan Beng kita yang Maha Agung, hal ini
karena mereka mengandalkan urat naganya yang berada di daerah makmur itu.”
Tiang kongcu hanya berdiam diri dan mendengarkan dengan seksama.
Ibu suri palsu itu melanjutkan kembali keterangannya.
“Sebegitu jauh yang boanpwe ketahui, di Liau Tong, yakni Gunung Tiang Pek San
terdapat uratnya dari keluarga Aishin Goro, yaitu keluarga asli dari keturunan raja-raja
Boan Ciu, Katanya, asal urat naga itu diputuskan atau dipisahkan dari kepala dengan
ekornya, maka bukan saja bangsa Han kita dapat membangun kembali kerajaan Beng,
sebaliknya bangsa Boan Ciu sendiri akan runtuh habis-habisan sampai dipusatkan di
Kwan Tong.”
Pek I Ni mengangguk Keterangan itu sama dengan keterangan yang diberikan oleh
To Hong Eng.
“Di mana letaknya urat naga itu?” tanyanya kemudian.
Yang dinamakan urat naga sebetulnya ialah garis-garis atau batas-batas letaknya
kedudukan tanah yang makmur dalam suatu wilayah atau daerah.
“Nah, itulah yang dinamakan rahasia besar.” sahut ibu suri, “Si kaisar tua mengetahui
hal itu. Ketika kaisar tua hendak menutup mata, kaisar cilik masih belum mengerti apaapa.
Karena itu, rahasia tersebut hanya diberitahukan kepada permaisurinya.
Menurutnya, permaisuri harus menunggu sampai si raja cilik agak dewasa, rahasia
itu baru boleh disampaikan kepadanya, Ketika kaisar tua berbicara dengan
permaisurinya, boanpwe masih menjadi dayang, Dengan demikian boanpwe berhasil
mendengar pembicaraan mereka.
Tapi sayangnya apa yang boanpwe dengar tidak lengkap, Karena itu, tidak ada jalan
lain bagi boanpwe untuk melakukan penyelidikan lebih jauh. Boanpwe terpaksa
menempuh jalan seperti sekarang ini, supaya kelak dikemudian hari boanpwe bisa
mengumpulkan kawan-kawan seperjuangan untuk pergi ke gunung Tiang Pek San dan
memutuskan urat naga bangsa Boan Ciu, Dengan demikian pula, kerajaan Beng kita
baru bisa dibangun kembali.”
Pek I Ni berdiam untuk berpikir
“Soal urat naga, sebetulnya merupakan masalah yang menyangkut Hong Sui suatu
tempat.” katanya, “ltu juga merupakan urusan yang tidak bisa dipercaya sepenuhnya,

Apa yang aku tahu, runtuhnya kerajaan Beng disebabkan oleh pemerintahannya yang
kurang tepat.
Terutama rakyatnya yang terlalu ditekan sehingga timbul keinginan untuk
memberontak Aku mengetahui hal ini setelah bertahun-tahun aku merantau dan banyak
bergaul dengan rakyat jelata.”
“Meskipun demikian, ada baiknya suthay menaruh sedikit perhatian,” sahut ibu suri.
“Menurut boanpwe, urusan membangun kembali kerajaan Beng kita, soal Hong Sui itu
sebaiknya dipercaya daripada tidak. seandainya kita membongkar urat naga itu dan
tidak membuahkan hasil, berarti kita hanya kehilangan waktu dan tenaga, Kita tidak
menderita kerugian apa-apa. sebaliknya kalau kita berhasil, kita bisa menumpas
kerajaan musuh sekaligus membangun kembali kerajaan kita, Singkatnya, kita bisa
menolong rakyat kita dari penderitaan yang berkepanjangan ini.”
Pek I Ni menganggukkan kepalanya, Dia tertarik juga mendengar alasan ibu suri
palsu itu.
“Kau benar juga,” katanya, “Masalahnya sekarang hanya kepercayaan. Memang,
andaikata kita gagal, kita tidak menderita kerugian apa-apa. Tapi, kalau kita tidak
berhasil dan kegagalan kita tersiar luas, pasti kepercayaan rakyat kita akan goyah,
demikian pula kepercayaan bangsa Boan Ciu.
Bukankah mereka percaya sekali dengan urusan urat nadi naga ini? Hal ini justru
menguntungkan pihak kita, Apakah kau memaksa ibu suri yang asli mengatakan di
mana letaknya urat nadi tersebut?”
Bagian 48
Ibu suri itu mengangguk.
“Benar, tapi sungguh celaka perempuan hina itu? Dia tahu urat nadi itu sangat
penting bagi kejayaan bangsanya, sehingga dia memilih tidak mengatakannya,
meskipun dirinya terancam bahaya maut dan setiap saat jiwanya bisa melayang,
Selama belasan tahun ini, tidak perduli boanpwe menggunakan cara yang halus atau
kasar, juga berbagai akal, dia tetap dengan sikap kepala batunya itu, Dia sengaja
menutup mulutnya erat-erat.”
Pek I Ni mengeluarkan kitab Si Cap Ji Cin Keng.
“Bukankah kau ingin mengetahui di mana letaknya kitab-kitab yang lainnya?”
tanyanya.
Ibu suri terkejut setengah mati sehingga tanpa terasa kakinya menyurut mundur dua
langkah.

“Jadi kau telah mengetahui hal itu?”
“Rahasia besar tentang urat nadi naga bangsa Boan Ciu terletak dalam delapan jilid
kitab Si Cap Ji Cin Keng ini,” katanya terus terang, “Berapa jilid yang telah kau
dapatkan?”
“Suthay benar-benar lihay, Urusan apa pun dapat suthay ketahui,” kata si ibu suri
palsu mengakui “Baiklah. Boanpwe pun tidak mau menyembunyikan apa-apa lagi.
sebenarnya boanpwe sudah berhasil mengumpulkan sebanyak empat jilid, Tapi… tapi
pada suatu malam, telah datang orang yang memasuki istana dan mencoba melakukan
pembunuhan dia telah berhasil menikam aku satu kali, setelah itu dia merampas
keempat jilid kitabku itu…. Coba suthay periksa.”
Selesai berkata, si ibu suri palsu membuka bajunya, juga kutangnya untuk
memperlihatkan tanda bekas tikaman kepada si bhikuni, Lukanya itu cukup besar.
Tiang kongcu tahu tentang To Hong Eng yang menyelundup ke dalam keraton dan
berusaha melakukan pembunuhan atau diri si ibu suri.
Karena itu, dia tidak heran melihat luka tersebut Karena itu, dia yakin keempat jilid
kitab itu berada di tangan dayangnya dan nanti dayang itu pasti akan berbicara terus
terang kepadanya.
Sementara itu, hati Siau Po terguncang ketika mendengar kata-kata si ibu suri palsu.
— Kalau bhikuni ini menyelidiki lebih jauh, kemungkinan kecurigaannya akan jatuh
pada diri-ku. — pikirnya.
Kemudian terdengar Pek I Ni berkata kembali. “Aku tahu siapa orang yang
menyerang dirimu, tapi setahuku, dia tidak mengambil keempat jilid kitabmu itu.”
Ibu suri palsu begitu heran sehingga dia memperdengarkan seruan tertahan.
“Penyerang itu tidak mengambil kitab tersebut?” tanyanya, “Lalu, siapa yang
mencurinya? Sungguh aneh”
Pek I Ni tidak memperdulikan kepusingan ibu suri.
“Kau mau bicara terus terang atau tidak, terserah kepadamu sendiri.” katanya,
“Suthay,” kata si ibu suri palsu itu maklum orang kurang percaya kcpadanya, “Suthay
sangat membenci raja Tatcu, juga bangsanya, Dan kepandaian suthay tinggi sekali.
Sungguh tepat kalau rahasia itu jatuh ke tangan suthay.
Dengan demikian, suthay dapat memimpin tampuk pimpinan untuk membawa orangorang
membongkar urat naga bangsa Tatcu, Suthay, urusan ini minta pun boanpwe
tidak berani, apalagi berbohong?

Ke delapan jilid kitab itu harus didapatkan terlebih dahulu, baru urat nadinya bisa
ditemukan Sekarang suthay baru mendapatkan satu, seandainya digabungkan dengan
empat jilid yang tadinya kumiliki, tetap saja masih belum cukup.”
Sikap Tiang kongcu tetap dingin.
“Sebenarnya, apa yang kau pikirkan dalam hatimu, aku tidak tahu. Aku juga enggan
menduga-duga, Tapi kau anak gadis Ma Bun Liong dari Pi to (Pulau kulit), sekarang kau
katakan terus terang bukankah kau mempunyai hubungan yang erat dengan Sin Liong
Kau?”
“Tidak… tidak,” sahut ibu suri palsu menyangkal “Bahkan boanpwe belum pernah
mendengar tentang partai Naga Sakti itu….”
Pek I Ni menatap tajam wanita di depannya
“Mari aku ajarkan kau semacam kepandaian,” katanya kemudian “Setiap hari, pagi,
siang dan malam, kau harus melatihnya dengan tekun, inilah semacam latihan
menepuk kayu, kau harus menepuknya berturut-turut sembilan kali sembilan, 4 jadi
delapan puluh satu hari, Kalau kau melatihnya dengan baik, maka sisa racun Hoan Kut
Ciang yang tersisa dalam tubuhmu akan musnah secara keseluruhan.”
Senang sekali hati ibu suri mendengar keterangan itu. Dia segera menjatuhkan diri
berlutut di depan puteri kerajaan Beng untuk memberi hormat dan mengucapkan terima
kasihnya berulang kali.
Pek I Ni segera mengajarkan caranya melakukan latihan yang istimewa itu. Kadangkadang
dia berbicara untuk menjelaskannya lebih mendetail. Setelah selesai dia
menambahkan
“Mulai hari ini, apabila kau menggunakan tenagamu untuk mencelakai orang, maka
seluruh tulang belulang dalam tubuhmu akan terlepas dengan sendirinya Kalau hal itu
sampai terjadi, tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menolongmu lagi.”
Ibu suri menyahuti dengan suara perlahan sebagai tanda bahwa dia sudah mengerti
pesan itu. Di dalam hati, dia sangat menyesal dan sedih.
— Kalau begini, percuma saja aku belajar ilmu silat, karena aku tidak boleh
menggunakannya sama sekali –, pikirnya.
Pek I Ni segera mengibaskan lengan bajunya dan menotok jalan darah hun-hiat di
tubuh ibu suri, lalu dia berkata dengan perlahan
“Nah, kau ke luarlah sekarang”
Ibu suri menurut. Dia memberi hormat dan mengucapkan terima kasih kemudian
mengundurkan diri.

Setelah itu, Hong Eng dan Siau Po baru muncul dan tempat persembunyiannya.
“Suthay, kata-kata perempuan itu hanya tiga bagian yang benar, tujuh bagian lainnya
merupakan kebchongan, jangan suthay percaya penuh kepadanya” kata Siau Po.
Pek I Ni menganggukkan kepalanya.
“BetuI,” sahutnya, “lsi kitab ini bukan hanya mengenai urat nadi naga bangsa Tatcu
saja, juga menyangkut harta karun yang besar sekali, Tapi dia sengaja tidak menyebutnyebutnya.”
Sementara itu, Hong Eng sudah membongkar sprei dan tempat tidur Dia menemukan
tempat penyimpanan rahasia si ibu suri palsu, Ketika membukanya, dia menemukan
banyak barang permata juga uang perak, tapi hanya keempat jilid kitab Si Cap Ji Cin
Keng itulah yang tidak berhasil ditemukannya.
“Ambillah semua harta itu” kata Pek I Ni. “Kelak kalau kita merantau, kita akan
membutuhkannya.”
Hong Eng menurut, dia membungkus harta itu lalu diserahkan kepada si bhikuni.
Sementara itu, Siau Po berkata dalam hatinya, , — Kali ini si nenek sihir benar-benar
bangkrut habislah semua hartanya —
“Perempuan tadi menyamar sebagai ibu suri, pasti dia mengandung niat tertentu,”
kata Pek I Ni. “Karena itu, kau boleh berdiam di sini terus untuk memata-matainya, ilmu
silatnya sudah musnah. Tidak perlu kau takut lagi kepadanya.”
Hong Eng mengangguk sebagai tanda menerima tugas itu, Tapi hatinya juga sedih
sekali karena sadar akan berpisah lagi dengan junjungannya yang disayanginya itu.
Pek I Ni segera mengajak Siau Po kembali ke penginapan Di dalam kamar, dia
membuka kitab Si Cap Ji Cin Keng dan memeriksanya halaman demi halaman, Dia
kenal baik dengan kitab agama itu, Setiap lembarnya sudah dihafalnya luar kepala.
Setelah membalik halangannya sampai selesai, dia memulainya dari pertama lagi,
tapi kali ini dia mendekati lilin yang ada di atas meja dan memeriksa halamanhalamannya
dengan teliti.
Tiang kongcu berdiam diri sekian lama, Tampaknya dia sedang memutar otaknya
dan menerka-nerka, Kemudian bhikuni itu mengambil air dan membasahi pinggiran
kitab itu juga tiap halamannya. Dengan demikian, dia bisa membuka bagian kulit kitab
itu. Lalu dia membuka benang jahitannya, Di antara kulit kitab yang terbuat dari kulit
kambing itu, dia menemukan belasan potongan kulit kambing lainnya dengan ukuran
keciI-kecil.
Senang sekali hati Siau Po melihatnya.

“Tidak salah” serunya, “Ternyata kitab ini memang berisi rahasia besar”
Pek I Ni membeberkan semua kulit kambing itu di atas meja, Bentuknya berbedabeda,
ada yang persegi, ada yang segi tiga, ada yang berbentuk bujur sangkar dan lainlainnya.
Yang disayangkan setelah dicoba-coba, ternyata potongan itu tidak dapat
dicocokkan satu dengan lainnya.
Di atas potongan kulit itu terdapat garis-garis halus dan huruf-huruf Boan Ciu yang
ditulis dengan warna hitam Setelah memperhatikan dengan seksama dan berpikir Siau
Po berkata.
“Rupanya setiap jilid kitab mempunyai tanda-tanda rahasia seperti ini. Kiranya benar
bahwa harus didapatkan dulu ke delapan jilid kitab ini, baru tanda-tanda ini bisa
disatukan dan jadilah peta yang sempurna.”
“Tampaknya memang demikian,” kata Pek I Ni yang merapikan kembali semua kulit
kambing itu, lalu di masukkannya ke dalam bungkusan dan di masukkan ke dalam
sakunya.
Besok pagi, Tiang kongcu mengajak Siau Po meninggalkan kotaraja, terus menuju
barat sampai di kecamatan Ciang Peng, di taman makam Su Leng, gunung Kim Peng
San, itulah taman makamnya kaisar Cong Ceng. Karena tidak ada yang mengurus,
rumputnya tumbuh tinggi-tinggi dan keadaannya sungguh mengenaskan.
Sepanjang perjalanan Pek I Ni diam saja, Tapi sesampainya di sana tanpa dapat
dicegah lagi, dia menangis tersedu-sedu,
Siau Po berlutut dan ikut memberi hormat, Tiba-tiba dia melihat berkeebatannya
warna hijau seperti sehelai gaun di sisinya. Dia terperanjat Warna itulah yang sering
terbayang di pelupuk matanya akhir-akhir ini. Kemudian dia mendengar suara yang
nyaring serta halus.
“Ah Akhirnya tidak sia-sia aku menunggu di sini Aku… aku….” Dia menarik napas
panjang kemudian menambahkan “Aku sudah menunggu di sini tiga hari lamanya,
Sudahlah, tidak ada yang perlu disedihkan” Dia berkata demikian, tapi lagi-lagi dia
menarik napas panjang.
Itulah suara si nona berbaju hijau, Suara itu membuat Siau Po senang sekali Sampaisampai
dia merasakan seluruh persendian tubuhnya menjadi lemas, Suara itu demikian
merdu dan meresap di hati. Karena itu, dia cepat-cepat menjawab.
“Ya, kau telah menunggu aku selama tiga hari lamanya, tapi tidak perlu kau bersusah
hati.”
Selesai berkata, Siau Po bangkit dan berpaling kepada si nona yang kecantikannya
luar biasa itu. , tetapi si nona tampaknya terkejut setengah mati melihatnya. Kemudian
tampak mimik wajahnya menunjukkan perasaan kurang senang.

“Aku juga sangat memikirkanmu,” kata Siau Po kembali. “Bahkan aku sangat
menderita….” Tiba-tiba dia harus menghentikan kata-katanya karena perutnya terasa
nyeri sekali dan tubuhnya terpental roboh ke belakang lalu jatuh di atas tanah.
Rupanya secara tiba-tiba dia ditendang oleh gadis itu.
Rupanya juga tidak hanya cukup dengan menendang, gadis itu juga mengeluarkan
pisau Liu Yap tonya dan menikam ke arah Siau Po, Untung anak muda itu cukup gesit.
Dia menggeser sedikit dengan menggelinding sehingga pisau gadis itu menikam di atas
tanah.
Di saat si nona yang masih penasaran itu ingin membacok lagi, terdengarlah teriakan
si bhikuni.
“Tahan”
“Dia jahat Dia… paling pandai menghina aku” Gadis itu melemparkan pisaunya dan
menangis tersedu-sedu, “Suhu, lekas suhu bunuh dia”
Siau Po gembira sekaligus heran mendengar kata-kata si nona berbaju hijau itu.
Namun pikirannya langsung bekerja.
— Oh, rupanya dia murid suthay, jadi kata-kata nya tadi bukan ditujukan kepadaku —
Dia langsung duduk tegak, sementara itu, otaknya terus berputar. Akhirnya dia
mengambil keputusan dalam hati — Aku harus berlagak menjadi orang baik-baik, lebih
bagus lagi kalau aku bisa membuat suthay ini menyukaiku, dengan demikian kelak dia
akan menjodohkan aku dengan muridnya ini. –
Membawa pikiran demikian, si anak muda yang banyak akalnya ini segera berdiri
dan menjura dalam-dalam.
“Nona, seandainya tanpa sengaja aku telah membuat kekeliruan terhadapmu,
dengan kemurahan hatimu, sudilah kiranya kau tidak menjadi kecil hati, Kalau nona
ingin memukul aku, pukullah, asal kau sudi mengampuni jiwaku.,.,”
Nona itu masih memeluk gurunya, Sebelah kakinya di angkat ke atas untuk
menendang dagu Siau Po.
“Aduhl” jerit Siau Po yang kembali terjungkal ke belakang dan tidak bangun lagi,
sedangkan dari mulutnya terus keluar suara rintihan.
“Aih A Ko” kata si bhikuni, “Mengapa kau sembarangan menendang orang tanpa
menanyakan dulu sebab musababnya?”
Siau Po senang mendengar suara si bhikuni yang nadanya mengandung teguran
kepada si nona, Diam-diam dia berkata dalam hati.

– Oh, rupanya kau bernama A Ko Akhirnya aku berhasil mengetahui namamu juga. —
, sementara itu, dia mulai kenal sifat si bhikuni, karena itu, kembali dia menjura dan
berkata. “Suthay, sudah seharusnya nona ini menendang aku dua kali Memang akulah
yang bersalah, walaupun nona ini menendang aku

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s