“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 61

pipinya. Bahkan sekejap kemudian, terdengar dia menangis
tersedu-sedu sampai menjatuhkan dirinya berlutut di bawah pohon itu.
Siau Po heran menyaksikan sikap wanita itu, Sebagai orang yang cerdas, pikirannya
langsung bekerja.
– Mungkinkah dia mengenal kaisar Cong Ceng? — tanyanya dalam hati, Dia langsung
teringat kepada bibi To nya. Karena itu dia berpikir lagi. –Mungkinkah dia juga bekas
seorang dayang dalam istana seperti halnya bibi To? Atau… dia salah seorang selir
raja? Ah, tidak mungkin Usianya tidak tepat Dia malah lebih muda dari pada si
perempuan hina ibu suri. –
Pek I Ni masih menangis terus. Mau tidak mau, Siau Po jadi terharu sekali, Tanpa
terasa dia ikut menjatuhkan diri berlutut di bawah pohon itu bahkan menyembah
beberapa kali untuk menghormati arwah kaisar Cong Ceng yang mati menggantung diri
di sana.
Tidak lama kemudian, Pek I Ni berdiri Dia merangkul pohon itu dan tiba-tiba tubuhnya
jatuh terkulai Rupanya dia tidak sadarkan diri lagi.
Siau Po terkejut setengah mati, Dia berdiri, kemudian berusaha membangunkan
wanita itu.
“Suthay Suthay” panggilnya berkali-kali, “Suthay, sadarlah”
Sejenak kemudian, Pek I Ni siuman juga dari pingsannya, Wanita itu masih berdiam
diri sekian lama, akhirnya dia baru berkata dengan suara lirih.
“Mari kita pergi ke istana untuk melihat-lihat.”
“Baik,” sahut Siau Po. “Kita pulang dulu ke rumah penginapan Di sana aku akan
mencari pakaian thay-kam. Nanti suthay menyamar sebagai seorang thay-kam baru kita
masuk ke dalam istana.”
Pek I Ni tampaknya tidak senang dengan usul itu.
“Mana boleh aku mengenakan pakaian bangsa Tatcu?” katanya dengan nada keras.

Siau Po bingung. Tetapi sesaat kemudian dia sudah mendapat akal.
“Begini saja,” katanya, “Sebaiknya suthay menyamar sebagai seorang Ihama, Sudah
biasa di istana kedatangan pengikut agama asal Tibet itu.”
Pek I Ni menggelengkan kepalanya.
“Tidak” katanya, “Aku tak sudi menyamar sebagai Ihama. Aku akan pergi dengan
pakaianku ini. Siapa yang berani menentang aku?”
“Memang benar, para pengawal dalam istana pasti tidak mungkin bisa merintangi
suthay, tapi kalau sampai terjadi penghadangan, berarti terjadilah pertempuran Dengan
demikian suthay tidak akan mendapat kesempatan untuk melihat-lihat lagi.” Siau Po
tidak ingin kedatangan mereka sampai menimbulkan keonaran.
Pek I Ni mengangguk perlahan.
“Kau benar juga,” katanya, “Sebenarnya kalau hari sudah gelap aku akan masuk ke
dalam istana, Kau tunggu aku di rumah penginapan ini saja, jadi kalau terjadi sesuatu,
dirimu pasti tidak akan terlibat”
“Oh, tidak, tidak” sahut Siau Po cepat “Aku ingin ikut bersama suthay. Aku kenal baik
keadaan dalam istana, tidak ubahnya seperti rumahku sendiri Aku pun mengenal
dengan baik seluruh penghuni istana itu. Pokoknya, apa pun yang ingin suthay lihat,
aku ingin menunjukkannya.”
Bhikuni itu tidak berkata apa-apa, dia hanya diam saja, Siau Po juga membungkam.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua tengah malam , Pek I Ni ke luar dari
kamarnya, dia meloncati genting dan Siau Po mengikuti di belakangnya. Sesaat
kemudian mereka sudah sampai di luar tembok istana.
“Mari kita putar ke arah timur laut” ajak Siau Po. Dua dinding sebelah sana lebih
pendek dari yang lainnya, Di bagian itu, hanya pegawai serabutan yang tinggal disana,
Tidak pernah para pengawal meronda sampai ke bagian itu.
Pek I Ni menurut Dia menuju timur laut seperti yang ditunjuk anak muda itu,
sesampainya di bawah tembok, dia segera mencekal ikat pinggang Siau Po dan
ditentengnya melompati tembok tersebut dan seterusnya turun ke dalam halaman
istana.
“Selewatnya dari sini, kita akan sampai di ruang Lok Siu Tong dan pendopo Yang
Seng Tian,” kata Siau Po memberikan keterangannya, “Bagian mana yang suthay ingin
lihat?”
“Semua bagian pun aku ingin melihatnya,” sahut Pek I Ni yang langsung berjalan
menuju barat Mereka melintasi Lok Siu Tong dan Yang Seng Tian, kemudian memutar

ke sebuah koridor dan sampai di pendopo Han Kiong Potian. Lalu mereka menyusun
keraton Keng Yang Kiong, Ciong Ciu Kiong dan akhirnya sampai di taman bunga.
Walaupun cuaca gelap gulita, nyatanya Pek I Ni dapat berjalan dengan cepat dan
ketika membelok, dia tidak ragu-ragu sedikit pun. Dan di setiap tempat yang ada
penjaganya, dia selalu sudah bersiap siaga dengan menyembunyikan diri dulu di
tempat yang gelap atau di gerombolan pepohonan. Setelah penjaga itu lewat, dia baru
melanjutkan langkah kakinya.
Menyaksikan gerak-gerik bhikuni itu, Siau Po merasa heran.
– Aneh — katanya dalam hati, – Mengapa suthay ini kenal baik sekali keadaan dalam
istana ini? Bahkan tampaknya lebih kenal daripada aku sendiri Aku menyatakan akan
menjadi petunjuk jalan baginya, malah sekarang boleh dibilang dia yang mengantar
aku…. —
Sembari membungkam dan dalam hati menduga-duga, Siau Po membiarkan dirinya
diajak ke arah barat. Mereka ke luar dari pintu Kun Leng Mui dan sampai di keraton Kun
Leng Kiong. setibanya di sana, si bhikuni tampak agak ragu-ragu.
“Bukankah permaisuri tinggal di dalam keraton ini?” tanyanya.
“Sri Baginda toh belum menikah, jadi mana mungkin memiliki permaisuri?” sahut
Siau Po. Tadinya ibu suri yang berdiam di sini, sekarang dia pindah ke Cu Leng Kiong.
Tempat ini tidak ada yang menghuni lagi.”
“Mari kita masuk untuk melihat-Iihat” kata Pek I Ni yang langsung menghampiri
jendela, Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh daun jendela itu, Sekali tarik saja
jendela itu sudah terpentang.
Dengan satu kali loncatan, Pek I Ni masuk ke dalam, Tindakannya diikuti oleh Siau
Po.
Siau Po sendiri belum pernah masuk ke dalam kamar ini. Dapat dipastikan bahwa
kamar ini sudah lama dibiarkan kosong. Begitu masuk ke dalam, hawa pengap
langsung menusuk hidung. Untung ada sinar rembulan yang menyorot lewat jendela,
sehingga keadaan di dalamnya tidak terlalu gelap.
Siau Po melihat Pek I Ni langsung duduk di atas tempat tidur tanpa bergerak sama
sekali. Sesaat kemudian, Siau Po tambah heran, dia melihat wanita itu meneteskan air
mata.
— Tidak salah lagit Dia pasti sama dengan bibi To yang pernah menjadi dayang dan
melayani permaisuri dari dinasti yang terdahulu –
Kemudian tampak Pek I Ni berdiri Dia mendongakkan kepalanya dan memperhatikan
tiang penglari.

“Dulu, permaisuri Cin Hong hou mati gantung diri di sana.-.” katanya perlahan.
“Benar,” sahut Siau Po yang kecurigaannya bertambah-tambah, Karena itu, dia
segera bertanya dengan suara perlahan. “Suthay, maukah kau menemui bibiku?”
“Bibimu?” tanyanya bingung, “Siapakah bibimu itu?”
“Bibiku itu she To, namanya Hong Eng.”
“Hong Eng?” sahut Pek I Ni menegaskan.
“Tidak salah” sahut Siau Po. “Mungkin suthay mengenalnya, Dulu dia menjadi
dayang putri Tiang Kongcu dari kaisar Cong Ceng….”
“Bagus” seru Pek I Ni yang tampaknya tertarik sekali, “Dimana dia sekarang? Suruh
dia menemui aku”
Siau Po tahu biasanya wanita ini tenang sekali sebagaimana ketika dia berusaha
membunuh kaisar Kong Hie. Gerakannya gesit dan sikapnya tidak gugup sedikit pun.
Tetapi kali ini suaranya agak bergetar Hal ini menandakan hatinya tegang sekali.
“Malam ini bibiku itu tidak dapat dipanggil” kata Siau Po.
“Kenapa?” tanya si bhikuni dengan suara mendesak.
“Bibiku itu setia sekali terhadap kerajaan Beng yang agung,” sahut Siau Po. “Dia
pernah berusaha membunuh ibu suri bangsa Tatcu, Sayang dia gagal, ibu suri tidak
sampai mati, Oleh karena itu, bibi terpaksa harus menyembunyikan diri dalam istana,
Bibi To harus melihat dulu tanda rahasia dariku, besok malam baru kita dapat bertemu
dengannya.”
“Baiklah,” kata Pek I Ni, “Hong Eng, budak itu benar-benar pemberani dan
bersemangat, Apakah tanda rahasia yang harus kau buat untuk memanggilnya ?”
“Dengan bibi aku telah berjanji,” kata Siau Po. “Kalau kami hendak bertemu, aku
harus menancapkan sebatang kayu di tempat pembakaran, melihat kayu itu, bibi To
segera akan tahu maksudku.”
“Kalau begitu, mari kita buat tanda itu” kata Pek I Ni yang segera melompati jendela.
Setelah itu dia menarik tangan Siau Po untuk ke luar dari pintu Liong Hok Mui, lalu
melintasi keraton Eng Siu Kiong, melewati pendopo-pendopo Te Goan Tian dan Po Hoa
Tian, kemudian menuju utara di mana terletak tempat pembakaran.
Di sana, Siau Po bermaksud langsung menancapkan sebatang kayu sebagai tanda,
tapi tiba-tiba si bhikuni memberikan isyarat kepadanya.
“Awas Ada orang”

Tempat itu tempat pembakaran sampah atau barang-barang rongsokan yang tidak
dipakai lagi, jarang sekali tengah malam ada orang yang datang ke sana. Siau Po
segera menarik tangan Pek I Ni dan diajaknya bersembunyi di belakang sebuah
jambangan besar.
Segera terdengar suara langkah kaki yang cepat dan ringan, Orang itu berjalan di
atas kerikil, jadi timbul sedikit suara, sebentar saja dia sudah sampai di tempat
pembakaran sampah, Dia melihat kayu yang ditancapkan Siau Po. Sekejap kemudian,
dia menghampiri kayu itu dan mencabutnya.
Ketika orang itu memutar tubuhnya, Siau Po segera melihatnya dengan jelas dan
mengenalinya sebagai To Hong Eng.
“Bibi, aku di sini” panggilnya perlahan Dia pun segera muncul dari tempat
persembunyiannya. Hong Eng segera menghambur ke depan dan memeluk Siau Po.
“Oh, anak yang baik” serunya girang, “Akhirnya kau kembali juga. Kau tahu, setiap
malam aku datang kemari untuk metihat-lihat. Aku selalu berharap dapat menemukan
tanda yang kita janjikan dulu.”
“Bibi,” kata Siau Po kemudian, “Ada seorang yang ingin bertemu dengan bibi….”
Tampaknya Hong Eng merasa heran, Dia melepaskan pelukannya dan menatap Siau
Po lekat-lekat.
“Siapa orang itu?” tanyanya.
Pada saat itu, Pek I Ni sudah ke luar pula dari tempat persembunyiannya.
“Hong Eng,” sapanya, “Hong Eng, apakah kau masih mengenali aku?”
To Hong Eng terkejut setengah mati, Dia tidak menyangka ada orang lain yang
bersembunyi di belakang jambangan besar itu. Tanpa terasa kakinya sampai menyurut
mundur tiga langkah, tangan kanannya segera meraba ke bagian pinggang untuk
menghunus pedang pendeknya.
“Siapa kau?” tanyanya.
Pek I Ni menghela napas.
“Rupanya kau sudah tidak mengenali aku lagi.” katanya perlahan,
Hong Eng memperhatikan dengan seksama, “Kau… kau.,.” katanya sambil maju dua
langkah, “Aku tidak dapat melihat wajahmu dengan jelas…kau.,.,”
Pek I Ni memiringkan tubuhnya sedikit agar wajahnya tersoren cahaya rembulan.
Sembari melakukan hal itu, dia berkata dengan Iirih.

“Wajahmu juga sudah banyak berubah….”
Hong Eng terkejut setengah mati.
“Kau… kau…” Tiba-tiba dia melemparkan pedang pendeknya kemudian menghambur
ke depan Pek I Ni dan menjatuhkan dirinya berlutut serta memeluk pahanya.
“Oh, Tiang kiongcu” seru nya. suaranya bergetar, “Kiranya Kiongcu Aku… aku.,,.”
Dia langsung menangis tersedu-sedu, Tampaknya ia sedih sekali Setelah lewat sesaat,
dia baru memaksakan dirinya berkata lagi, “Kongcu, sekarang aku bertemu lagi dengan
kongcu, walaupun aku harus mati, rasanya aku sudah cukup puas, Hatiku senang
sekali”
Bagian 47
Mendengar To Hong Eng menyebut Tiang kongcu atau puteri Tiang, bukan main
terkejutnya hati Siau Po. Langsung teringat olehnya penuturan bibi To beberapa waktu
yang lalu, To Hong Eng adalah dayang kongcu ini.
Menurut To Hong Eng, kaum pesuruhnya Li Cong menyerbu kotaraja, Kaisar Cong
Ceng bermaksud membunuh puteri kesayangannya ini dengan tangan sendiri, dia tidak
ingin puterinya itu terjatuh ketangan si pemberontak Setelah menebas sebelah lengan
puterinya itu, Cong Ceng berniat mengulangi bacokannya.
Tapi untuk Hong Eng keburu datang dan dia membiarkan punggungnya yang terkena
bacokan itu, Karena itu pula, Hong Eng jatuh tidak sadarkan diri, Tatkala siuman
kembali Cong Ceng dan Tiang kongcu telah lenyap.
Entah ke mana perginya mereka, sekarang ternyata Tiang kongcu masih hidup dan
dia dapat bertemu kembali dengan dayangnya yang sangat setia itu.
Siau Po melirik kepada Pek I Ni dan berkata dalam hati.
— Dia telah kehilangan sebelah lengannya. Dia juga kenal baik keadaan dalam istana
ini dan tadi di dalam keraton Kun Leng Kiong dia juga menangis sedih sekali,
seharusnya sejak semula aku sudah dapat menduga siapa dirinya. Tapi sampai
sekarang aku baru mengetahuinya, aku benar-benar tolol sekali….–
“Apakah selama ini kau terus berdiam dalam istana ini?” Terdengar pertanyaan Tiang
kongcu pada bekas dayangnya itu.
“lya,” sahut To Hong Eng yang masih menangis sesenggukan
“Kata bocah ini, kau pernah mencoba membunuh ibu suri bangsa Tatcu.” kata pula si
tuan puteri, “ltu bagus, Tapi,., hal itu bisa menyulitkan kedudukanmu sendiri.”

Sembari berbicara, tanpa dapat menahan keharuan hatinya, puteri itu meneteskan
air mata.
“Kongcu, dirimu lebih berharga dari laksaan tail emas,” kata Hong Eng. “Kongcu tidak
boleh berdiam di sini terlalu Iama. Bahaya sekali, sebaiknya aku antar kongcu keluar
dari istana sekarang juga.”
Tiang kongcu menghela napas panjang.
“Sedari lama aku bukan kongcu lagi.” katanya,
“Tidak, tidak.” kata To Hong Eng, “Di mata hamba, sampai kapan pun, kongcu tetap
seorang tuan puteri Untuk selama-lamanya tetapi Tiang kongcu hamba.”
Pek I Ni tersenyum pilu, Diantara sinar sang rembulan, tampak air mata membasahi
pipinya yang cantik, Tapi senyumannya itu tampak dipaksakan sekali.
“Apakah keraton Leng Siu Kiong ada yang menempati?” tanyanya pula, ingin sekali
aku melihatnya.”
“Leng Siu Kiong?” suara To Hong Eng agak ragu-ragu. “Sekarang ini Leng Siu Kiong
ditempati oleh Kian Leng kongcu, puteri si raja Tatcu. Namun sudah beberapa hari ini
entah raja, ibu suri dan puterinya pergi ke mana. Mereka tidak berada di kotaraja, jadi di
sana hanya ada beberapa dayang dan thay-kam. sebaiknya aku pergi ke sana
membinasakan mereka semua agar kongcu dapat pergi ke sana.”
“Tidak perlu kau sampai membunuh orang” kata si puteri, “Aku hanya ingin melihatlihat
saja.”
Hong Eng menganggukkan kepalanya.
“Baik.” sahutnya.
Dayang ini tidak tahu tuan puterinya telah memiliki ilmu silat yang tinggi. Dia hanya
merasa terharu dan senang dapat bertemu kembali dengannya. Tentu dia juga senang
sekali dapat mengantarkan tuan puteri nya, sekalipun ke tempat yang penuh dengan
mara bahaya.
“Mari, kongcu” katanya kemudian. Dia langsung berjalan mendahului
Mereka bertiga menuju keraton Leng Siu Kiong. Setelah melalui beberapa pendopo
dan gudang daun teh serta tempat penyimpanan kain sutera, mereka pun sampai di
tempat tujuan.
“Harap kongcu tunggu sebentar” kata Hong Eng setengah berbisik “Nanti hamba
pergi mengusir dulu para thay-kam dan dayang-dayang di sana.”

“Tidak usah,” kata Tiang kongcu yang langsung menghampiri pintu dan dengan
mendadak menubruknya, pintu itu langsung jebol olehnya, sehingga timbul suara
berisik, Dan Tiang kongcu langsung masuk ke dalamnya.
Rupanya, meskipun telah direbut oleh kerajaan Ceng, keadaan di dalam istana itu
masih belum berubah banyak.
Tiang kongcu kenal baik semua kamar-kamar dalam istana itu. Karena itu dia
langsung memasuki kamar para thay-kam dan dayang, Mereka terkejut setengah mati,
Tetapi sebelum mereka sempat mengambil tindakan apa-apa. Mereka sudah ditotok
satu per satu oleh Tiang kongcu.
Dengan demikian, Tiang kongcu tidak menemukan halangan apa pun untuk
memasuki kamar itu.
To Hong Eng merasa heran dan kagum akan kelihayan tuan puteri itu.
“Oh, kongcu” serunya, “Kiranya kongcu sudah demikian lihay sekarang”
Pek I Ni tidak mengatakan apa-apa. Dia langsung duduk di atas tempat tidurnya dan
terpaku karena teringat masa lalunya, Kejadian itu sudah berlangsung kurang lebih dua
puluh tahun yang lalu.
Di sinilah lengan kanannya dikutungkan oleh ayahnya, sekarang negaranya telah
berhasil dirampas oleh musuh dan kamarnya pun menjadi kamar tuan puteri bangsa
Tatcu itu.
Hong Eng dan Siau Po berdiri di kedua sisi tuan puteri itu. Mereka sama-sama
membisu.
“Coba nyatakan lilin” Perintah Tiang kongcu setelah lewat sejenak.
Hong Eng mengiyakan. Dia segera melaksanakan perintah itu. Sekejap kemudian
kamar itu sudah terang benderang, Tampak di dinding, di atas meja terdapat berbagai
senjata tajam seperti golok dan pedang. Ada juga cambuknya.
Hal ini membuktikan bahwa penghuni kamar ini mengerti ilmu silau Tidak mirip
dengan kamar seorang puteri.
Perlahan sekali Tiang kongcu menarik napas panjang.
“Rupanya puteri Tatcu itu gemar ilmu silat.” katanya.
“Puteri Tatcu itu mempunyai watak yang sangat aneh,” kata Siau Po. “Dia bukan
hanya senang menghajar orang, dirinya sendiri pun senang bila mendapat hajaran dari
orang, Tentang ilmu silatnya, sebetulnya belum berarti apa-apa, bahkan masih lebih
rendah dari pada aku.”

Diam-diam Siau Po melirik ke dalam tempat tidur Dia teringat akan peristiwa hari itu
ketika dia terpaksa bersembunyi di dalam selimutnya puteri Tatcu itu sampai akhirnya
dia dipergoki oleh ibu suri dan dibekuknya. Kalau saat itu dia belum mempunyai Ngo
Liong Leng, mungkin saat ini dia sudah tidak hidup di dunia ini lagi
“Semua lukisan dan kitabku mungkin telah dibuang oleh puteri Tatcu itu,” kata Tiang
kongcu yang kembali menarik napas panjang.
“Dia kan puteri Tatcu, aku rasa dia hanya mengenal beberapa huruf saja,” kata To
Hong Eng. “Karena itu, mana mungkin dia mengenal ilmu silat dan seni lukis?”
Tiang kongcu tidak mengatakan apa-apa Iagi, Dia hanya mengibaskan tangan kirinya
sehingga padamlah lilin di depannya.
“Mari ikut aku” katanya kemudian.
“Baik, kongcu” sahut Hong Eng. “Kongcu begini lihay, alangkah baiknya andaikata
kongcu dapat membekuk ibu suri bangsa Tatcu dan memaksa dia menyerahkan
beberapa jilid kitabnya supaya kita dapat merusak otot nadi naganya….”
“Kitab apakah itu?” tanya Pek I Ni. “Dan apa yang kau maksud dengan urat nadi
naganya?”
“Kitab Si Cap Ji Cin Keng,” Hong Eng memberikan keterangannya. “Kitab itu memuat
rahasia urat naga bangsa Tatcu.”
Dayang ini langsung menjelaskan dengan singkat tentang kitab pusaka tersebut yang
semuanya terdiri dari delapan jilid.
Pek I Ni mendengarkan dengan seksama dan otaknya bekerja, Setelah To Hong Eng
selesai dengan ceritanya, dia baru berkata.
“Kalau benar isi kitab itu seperti yang kau katakan, bagus sekali sebaiknya kita
tunggu sampai kembalinya ibu suri bangsa Tatcu itu, baru kita kembali lagi ke sini”
Ketiga orang itu segera ke luar dari Leng Siu Kiong lalu meninggalkan istana itu lewat
pintu utara kembali sebagaimana masuknya tadi. Mereka langsung pulang ke
penginapan.
Malam itu Hong Eng gembira sekali. Dia telah bertemu kembali dengan tuan
puterinya bahkan dapat tidur satu kamar dengannya, Saking senangnya. Hong Eng
sampai tidak bisa tidur.
Sementara itu, otak Siau Po terus berputar
– Dari delapan jilid kitab Si Cap Ji Cin Keng itu, enam di antaranya ada padaku, Yang
satu lagi berada di tangan Sri Baginda, entah di mana jilid yang ke delapan itu,

sekarang si tuan puteri beserta dayangnya ingin memaksa si nenek sihir menyerahkan
kitab itu. Mana mungkin? Tapi ada baiknya kalau mereka berhasil membunuh ibu suri,
dengan demikian aku dan raja tidak pusing-pusing lagi…. –
Selama beberapa hari, Tiang kongcu dan To Hong Eng tidak pernah ke luar dari
kamarnya, sebaliknya Siau Po setiap hari ke luar penginapan untuk menyelidiki apakah
raja telah kembali ke kotaraja.
Pada hari ketujuh, tampaklah Kong Cin Ong, So Ngo Ta dan To Liong memimpin
barisan Gi Cian Sie Wie melindungi beberapa buah kereta kerajaan dan memasuki
halaman istana.
Hal ini menandakan raja sudah pulang, Hal itu lantas diperkuat oleh munculnya
berbagai pwe lek atau pangeran, Mereka pasti ingin menjenguk raja dan menyatakan
selamat atas kembali Sri Baginda dalam keadaan baik-baik saja.
Siau Po bergegas kembali ke penginapan untuk menyampaikan hal itu kepada Tiang
kongcu.
“Bagus” kata si tuan puteri setelah mendengar laporan Siau Po. “Nanti malam aku
akan memasuki istana, Karena raja baru pulang, penjagaan di dalam istana pasti ketat
sekali, sebaiknya kalian berdua diam di dalam rumah penginapan ini saja”
Tuan puteri bermaksud mengatakan bahwa kepandaian Siau Po dan To Hong Eng
masih belum cukup tinggi untuk digunakan sebagai andalan dalam menempuh bahaya
yang demikian besar.
“Suthay, aku ingin ikut.” kata Siau Po.
“Begitu pula hambamu ini, kongcu.” tukas Hong Eng, “Hamba dan anak ini kenal baik
sekali keadaan dalam istana, tidak perlu khawatir akan ada bahaya apa pun.”
Terang dayang ini tidak ingin berpisah dengan tuan puteri yang baru ditemuinya ini.
“Kalau kalian tetap memaksa, baiklah.” kata Tiong kongcu,
Ketika saatnya sudah tiba, ketiga orang itu segera berangkat menuju istana, Mereka
langsung menuju luar Cu Leng Kiong, tempat tinggal ibu suri, Siau Po membekal Ngo
Liong Leng, Dia telah memikirnya matang-matang. seandainya mereka kepergok, dia
akan menunjukkan lencana itu agar ibu suri tunduk kepadanya.
Lencana itu disimpan dalam saku, tapi tangan kirinya terus menyusup ke dalam dan
menggenggamnya erat-erat.
Bagian luar dari keraton Cu Leng Kiong tampak sepi sekali, Tidak tampak seorang
pun di sana. Tiang kongcu mengajak kedua rekannya memutar ke belakang dan

melompati tembok dari sana. Siau Po ditenteng olehnya dan dibawa melompati tembok
bersama-sama.
Dan ketika Hong Eng melompat turun ke halaman dalam, tuan puteri itu menahan
dengan tangan kirinya agar tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Dengan menunjuk ke arah jendela samping dari kamar ibu suri, Siau Po bermaksud
memberikan isyarat kepada si tuan puteri bahwa si “nenek sihir” tinggal di sana.
Kemudian dengan gerakan tangannya, dia mengajak Tiang kongcu dan To Hong Eng
pergi ke halaman belakang yang menjadi tempat tinggal para dayang keraton Cu Leng
Kiong itu.
Dalam keadaan yang gelap gulita, hanya tiga buah kamar yang menampakkan sinar
remang-remang, Tiang kongcu segera menghampiri salah satu kamar tersebut Dia
mengintai ke dalamnya, Tampak belasan dayang sedang duduk seperti sedang
bersemedi.
Dengan perlahan-lahan, Tiang kongcu menyingkap tirai kemudian memasuki kamar
ibu suri, Hong Eng dan Siau Po mengikuti di belakangnya.
Di dalam kamar itu ada empat batang lilin yang dinyalakan, tapi tidak kelihatan
penghuninya.
Sambil menunjuk ke arah tempat tidur, Hong Eng berkata dengan suara lirih.
“Biasanya kitab itu disimpan di tempat rahasia yang ada di bawah tempat tidur….” Dia
langsung maju mendekat untuk menyingkapkan kasur dan mencari tempat rahasia itu,
Tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara langkah kaki. Siau Po segera menarik ujung
baju si dayang dan diajaknya menyembunyikan diri di belakang tempat tidur.
Hong Eng mengerti. Bersama-sama Tiang kongcu, keduanya mengikuti Siau Po
bersembunyi di belakang tempat tidur.
Dari luar kamar segera terdengar suara seorang wanita.
“Mama, aku telah melakukan tugasku, Hadiah apa yang akan kau berikan kepadaku
sebagai imbalannya?” itulah suara Kian Leng kongcu, tuan puteri bangsa Boan Ciu.
Kemudian terdengar pula jawaban si ibu suri.
“Mamamu hanya menyuruh kau melakukan urusan kecil, untuk itu pun kau
mengharapkan hadiah, Benar-benar gila”
Sembari berbicara, keduanya sudah memasuki kamar ibu suri.

“Aha Urusan kecil kata mama?” Terdengar si tuan puteri berkata, “Bagaimana kalau
kakak raja mengetahui akulah yang mengambilnya? Tentu dia akan marah sekali.”
Ibu suri duduk, terdengar kembali suaranya.
“Hanya sebuah kitab agama, apa artinya? Kita pergi ke Ngo Tay san untuk
bersembahyang, maksud kita ingin mendapat perlindungan dari Pou Sat. Karena itu,
sepulang dari sana kita harus bersembahyang lagi, Dengan demikian hati Pou Sat pasti
senang sekali.”
“Kalau hal itu memang urusan kecil seperti kata mama, sebaiknya nanti aku
menemui kakak raja dan mengatakan bahwa mamalah yang menyuruh aku mengambil
kitab Si Cap Ji Cin Keng itu untuk membaca doa guna memohon perlindungan Pou Sat
agar kakak raja dalam keadaan sehat-sehat selalu.”
Mendengar kata-kata si tuan puteri, hati Siau Po senang sekali.
— Bagus Rupanya si nenek sihir telah menyuruh puterinya mencuri kitab Si Cap Ji
Cin Keng itu”
Berpikir demikian, tiba-tiba hati Siau Po merasa kurang puas, ia ingat keadaan
dirinya yang kurang menguntungkan. Mengapa dia justru mendengar berita baik ini
disaat Tiang kongcu berada di sampingnya ? Coba kalau dia mendengarnya sendiri,
bukankah kitab itu akan terjatuh ketangannya. sedangkan sekarang keadaannya jadi
menyulitkan….
“BoIeh kau beritahukan kepada kakak rajamu itu,” terdengar ibu suri berkata kembali
“Tapi kalau raja datang menemuiku, aku akan menjawab bahwa aku tidak tahu menahu
tentang kitab itu. Kata-kata seorang bocah mana boleh dipercaya begitu saja?”
“Oh, Mama Apakah Mama ingin menyangkalnya?” seru si tuan puteri “Bukankah
kitab itu memang ada di tangan Mama?”
Ibu suri tertawa.
“Bukankah masalah itu mudah sekali?” sahutnya. “Aku bisa melempar kitab itu ke
dalam tungku api sehingga tidak meninggalkan bukti apa-apa.”
“Sudahlah, sudahlah” kata si tuan puteri yang kewalahan juga akhirnya. “Aku kalah
bicara, Dasar Mama sudah tidak mau memberikan hadiah malah ingin mempermainkan
aku”
“Sebenarnya, kau toh telah memiliki segalanya, Apa lagi yang kau inginkan?” tanya
ibu suri.
“Memang aku sudah memiliki apa saja, tapi masih ada satu yang kurang.” kata si
tuan puteri.

“Apa?”
“Aku kekurangan seorang thay-kam yang dapat ku ajak bermain-main.”
Ibu suri tertawa,
“Seorang thay-kam?” katanya, “Bukankah di dalam istana ini ada beberapa ratus
orang thay-kam? Bukankah kau bisa memilih salah satu di antaranya untuk kau jadikan
kawan bermain-main? Mengapa kau harus mempersoalkan masalah yang sepele itu?”
“Tidak Aku tidak membutuhkan segala thay-kam yang Mama katakan, Mereka
semua tolol. Persis seperti mayat hidup. Tidak menggembirakan bermain-main bersama
mereka, Aku menginginkan Siau Kui Cu, thay-kam yang selalu mendampingi di sisi
kakak raja.”
Mendengar kata-kata si tuan puteri, hati Siau Po langsung tercekat.
— Aih Rupanya si tuan puteri ini masih belum lupa kepadaku, Tapi mengajaknya
bermain bukan hal yang mudah, bisa-bisa jiwaku melayang karenanya —
“Aku sudah menanyakannya kepada kakak raja,” terdengar si tuan puteri berkata
kembali “Kata kakak, thay-kam itu sedang bertugas ke luar kotaraja dan sampai sekian
lama belum kembali juga, Karena itu, Mama, sebaiknya kau saja yang mengatakan
kepada kakak bahwa aku minta thay-kam itu diberikan kepadaku.”
– Ah, budak yang satu ini –, Siau Po mengeluh dalam hatinya. — Aneh-aneh saja dia
bisa punya pikiran seperti itu, Kalau aku sampai terjatuh ke tangannya, pasti setiap hari
tubuhku akan babak belur dihajarnya.
“Raja menyuruh Siau Kui Cu melakukan suatu tugas?” tanya ibu suri, “Tahukah kau
ke mana perginya anak itu? Dan tugas apa yang harus dilaksanakannya?”
“Menurut apa yang aku dengar dari para Sie Wie,” sahut Kian Leng kongcu,” Kakak
raja menitahkan Siau Kui Cu pergi ke Gunung Ngo Tay san.”
“Oh” seru ibu suri perlahan. “Dia pergi ke Ngo Tay san? Mengapa kita tidak bertemu
dengannya?”
“Aku juga baru tahu setelah kita kembali ke istana ini. Mereka tidak tahu tugas apa
yang diberikan kakak raja kepadanya, Kata para Sie Wie, kakak raja sangat
menyayangi thay-kam itu. Bahkan pangkatnya telah dinaikkan.”
“Oh” terdengar ibu suri kembali mengeluarkan seruan tertahan, Setelah itu keadaan
sunyi senyap, Beberapa saat kemudian, terdengar ibu suri baru berkata kembali.
“Baiklah, Kita tunggu sampai dia pulang, Nanti aku akan membicarakannya dengan
raja.”

Suara ibu suri terdengar tawar sekali.
“Sekarang sudah cukup larut, kembalilah ke kamarmu untuk beristirahat” terdengar
ibu suri melanjutkan kata-katanya.
“Aku tidak ingin kembali ke kamarku.” kata si tuan puteri, “Aku ingin menemani Mama
tidur di sini.”
“Kau toh bukan anak kecil lagi, mengapa tidak mau tidur di kamarmu sendiri?”
“Aku takut, katanya di sana ada hantu.” sahut Kian Leng kongcu.
“Ngaco” bentak ibu suri. “Mana mungkin”
“Tapi, memang benar, Mama Para dayangku dan thay-kam yang mengatakannya,
Mereka mengatakan bahwa beberapa malam yang lalu, mereka telah diganggu setan,
Tiba-tiba saja mereka semua tidak sadarkan diri, sampai keesokkan harinya mereka
baru mendusin Mereka juga mengatakan bahwa mereka seperti bermimpi saja….”
“Mana mungkin jangan kamu dengar ocehan para budak itu” bantah ibu suri. Pasti
selama kita pergi, para dayang dan thay-kam itu jadi ketakutan sendiri dan menduga
yang tidak-tidak. Nah, kembalilah ke kamarmul”
Kian Leng kongcu tidak berani membantah lagi, Segera dia mengucapkan selamat
malam kepada ibunya lalu mengundurkan diri.
Ibu suri duduk sambil bertopang dagu, Matanya terpaku menatap sinar lilin, Lewat
sekian lama, dia baru menolehkan kepalanya, Tiba-tiba dia melihat dua sosok
bayangan yang bergerak-gerak menuruti gerakan cahaya lilin.
Dia terkejut setengah mati dan juga merasa heran sehingga matanya terasa
berkunang-kunang, Namun dia menabahkan hatinya dan memperhatikan dengan
seksama.
Tidak salah lagi, Memang itulah dua sosok bayangan dari tubuh manusia. Tapi
hatinya tetap tercekat.
— Benarkah di dunia ini ada hantu? –, demikian pikirnya dalam hati, sekarang dia
merasa, dari kedua bayangan itu, yang satu adalah bayangannya sendiri dan yang
satunya lagi bayangan orang lain.
Kemudian dia teringat banyaknya korban yang mati ditangannya, umumnya mereka
mati karena terkena fitnahnya, Tanpa terasa, bulu romanya jadi berdiri, tubuhnya
menggigil bergidik itulah sebabnya, meskipun nyalinya besar dan kepandaiannya tinggi,
dia tidak berani bergerak sedikit pun.

Sampai sekian lama, ibu suri tetap berdiam diri, namun sementara itu, otaknya terus
bekerja.
— Ah, tidak, tidak Hantu tidak mempunyai bayangan Yang punya bayangan pasti
bukan hantu, -, demikian pikirnya.
Tapi, setelah memasang telinga sesaat, ibu suri tidak mendengar suara dengus
napas manusia, karena itu dia berpikir kembali.
— Kalau bukan manusia, mungkinkah sesosok mayat? — otomatis seluruh persendian
tubuhnya menjadi lemas, Dia duduk tidak berkutik Matanya terus memperhatikan kedua
bayangan di hadapannya, Hampir saja dia jatuh pingsan saking pusing memikirkannya.
Setelah lewat sejenak, tiba-tiba ibu suri mendengar suara tarikan napas di
belakangnya, Wanita itu merasa pasti sehingga hatinya menjadi senang sekali Dia
segera menolehkan kepalanya.
Di sana, terhalang sebuah meja, dia melihat seorang pendeta perempuan sedang
duduk berdiam diri dengan sepasang mata menatap kepadanya, Bhikuni itu berwajah
putih bersih, mimik wajahnya tampak tenang sekali. Sulit memastikan apakah dia
seorang manusia hidup atau sesosok mayat….
“Siapa kau?” tegur ibu suri “Mengapa kau berada di sini?” suaranya agak bergetar.
Bhikuni berwajah putih bersih itu tidak menjawab pertanyaannya, ibu suri juga
menatap terus, Kemudian dia mengulangi pertanyaannya,
Sesaat kemudian, terdengar bhikuni itu berkata. “Siapa kau? Mengapa kau berada di
sini?”
Pertanyaan itu persis sama dengan pertanyaan yang diajukannya, Namun, sekarang
hati ibu suri jadi lega, Dia dapat mendengar suara orang yang terang dan jelas. Dapat
dipastikan bahwa itulah suara seorang manusia, Karena itu hilanglah seluruh perasaan
takutnya.
“Di sini keraton, istana raja” katanya kemudian, “Besar sekali nyalimu….”
Pek I Ni bersikap dingin, Sahutannya juga tawar sekali.
“Tidak salah, ini memang istana kaisar, keraton permaisuri atau ibu suri. Tapi kau,
makhluk apakah kau ini? Mengapa nyalimu demikian besar sehingga kau berani datang
ke mari?”
Keberanian ibu suri sudah terbangun Dia dapat mendengar dengan jelas bahwa
itulah suara manusia, Bukan suara hantu,

“Aku Hong thayhou.” sahutnya keras, “Tentu aku berhak berdiam dalam keraton ini.
Sedangkan, kau… siluman dari manakah kau ini?”
Pek I Ni mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas kitab Si Cap Ji Cin Keng
yang ada di atas meja, kemudian perlahan-lahan dia mengangkatnya.
“Lepaskan” bentak ibu suri, Tangannya bergerak menghajar tangan Pek I Ni.
Pek I Ni membalikkan tangannya untuk menyambut serangan ibu suri, Dengan
demikian, beradulah tangan kedua orang itu dan akhirnya tubuh ibu suri terhuyunghuyung
sehingga dia langsung melompat turun dari tempat tidurnya.
“Bagus” serunya, “Rupanya kau juga pandai silat”
Sambil berseru, ibu suri menyerang, Berhadapan dengan manusia biasa, dia tidak
takut sama sekali, Bahkan berturut-turut dia telah menyerang sebanyak empat kali.
Sementara itu, Pek I Ni masih duduk di atas kursi. Bahkan dengan tangan kirinya, dia
menyelipkan kitab Si Cap Ji Cin Keng itu ke dalam sakunya, sedangkan tangannya
yang iain dapat membela diri dengan baik sekali, Dalam sekejap mata, pecahlah
keempat serangan lawannya itu.
Ibu suri tambah gusar. Di depan matanya sendiri, dengan mudah orang dapat
merampas kitabnya, Dia merasa penasaran sekali, Dengan lincah ia meraba paha
kanannya untuk mengeluarkan senjatanya, sehingga dilain detik tangannya sudah
menggenggam sebuah senjata pendek yang berkilauan.
Siau Po memasang mata dengan tajam. Dia melihat senjata ibu suri bukan golok
pendek atau pisau belati, melainkan sebuah Pek Kim Tian Kong Ngo Bi Ci atau mirip
dengan trisula pendek dengan bahan dari emas putih bercampur baja.
Senjata itu pula yang digunakan ibu suri untuk membunuh Hay Kong Kong tempo
hari. Dengan senjatanya itu, ibu suri menyerang kembali.
Dalam gusarnya, dia bersikap garang sekali, Senjata dalam genggamannya
berkelebat ke sana ke mari sehingga menimbulkan cahaya yang berkilauan.
“Aku harus ke luar untuk mencegahnya menyerang terus,” katanya kepada To Hong
Eng dengan suara berbisik Dia tidak ingin melihat Tiang kongcu terancam bahaya, “Aku
tidak ingin Tiang kongcu terluka….”
To Hong Eng segera menarik tangan Siau Po.
“Tidak usah” bisiknya.

Pek I Ni masih duduk tegak di atas kursi, ia menggerakkan tangannya untuk menotok
sana dan menekan sini, Dengan cara demikian, semua serangan ibu suri dapat
dipunahkannya, Meskipun setiap serangan itu sangat membahayakan.
Gerakan ibu suri gesit sekali. Begitu dia maju, dia langsung melompat mundur
kembali atau bergeser ke kiri dan kanan dan mendadak dia melakukan penyerangan
lagi, Angin yang terpancar dari gerak-gerik mereka membuat lilin dalam kamar itu terus
bergoyangan.
Ketika pertempuran masih berlangsung, tiba-tiba saja dua dari keempat batang lilin
yang ada dalam kamar itu padam Dengan demikian keadaan di dalam kamar tidak
seterang sebelumnya lagi.
Tidak lama kemudian, dua batang yang lainnya juga ikut padam sehingga kamar itu
menjadi gelap gulita, pertempuran masih berlangsung terus, sebagaimana dapat
diketahui dari suara yang terbit dari pukulan-pukulan keduanya.
Juga terdengar dengus napas ibu suri yang berat, Rupanya dia benar-benar gusar
serta penasaran
Tiba-tiba terdengar Pek I Ni bertanya, “Kau seorang ibu suri, tapi dari mana kau
mempelajari ilmu silatmu?”
Ibu suri tidak menjawab, dia masih menyerang terus, Segera terdengar suara
tepakan nyaring sebanyak empat kali, itulah suara muka ibu suri yang terkena gaplokan
berkali-kali.
Lalu disusul dengan suara jeritan kemarahan dan penasaran kemudian menghilang
Dengan perlahan-lahan suara-suara itu menghilang seiring dengan berhentinya
pertempuran yang aneh dan dahsyat itu. Selama itu Pek I Ni masih tetap duduk di atas
kursinya,
Sejenak kemudian, kamar itu menjadi terang kembali Rupanya Pek I Ni segera
menyatakan sebatang lilin yang ada di dekatnya, Tampaklah ibu suri sedang bertekuk
lutut di hadapan lawannya tanpa dapat berkutik sedikit pun.
Menyaksikan keadaan itu, hati Siau Po senang sekali
— Biar bagaimana, aku harus membunuh setan perempuan itu hari ini –, pikirnya,
Sementara itu, Pek I Ni mengulurkan tangannya untuk menyulut tiga batang lilin
lainnya, Dengan demikian suasana kamar itu kembali terang seperti semula.
Rupanya Tiang kongcu menyalakan lilin dengan Hwe Cip (pemantik api) yang selalu
dibekalnya, Siau Po kagum sekali melihat kelihayan dan kecerdasan puteri itu.
Wajah ibu suri pucat pasi, rupanya dia merasa malu dan tidak berdaya.

“Bunuhlah aku” katanya, “Menyiksa dengan cara seperti ini bukanlah perbuatan
orang gagah.”
“Kau ini benar-benar aneh.” kata Tiang kongcu yang tidak menggubris permintaan
orang, “Bukankah kepandaianmu ini berasal dari Coa To? Mengapa kau yang
merupakan seorang nyonya agung, ibu suri sebuah kerajaan, bisa berhubungan dengan
kawanan Sin Liong kau?”
Diam-diam Siau Po tercekat hatinya.
— Segala apa pun diketahui oleh suthay ini, aku harus berhati-hati — pikirnya, – Aku
tidak boleh sembarangan berbicara atau membohonginya…. —
“Apa itu Sin Liong Kau? Aku tidak tahu.” sahut ibu suri, “Kepandaianku ini aku
dapatkan dari seorang thay-kam.”
“Apa? Seorang thay-kam?” tanya Pek I Ni heran. “Jadi ada seorang thay-kam di sini
yang mempunyai hubungan dengan Sin Liong Kau? Siapa thay-kam itu? Siapa
namanya?”
“Dia bernama Hay Tay Hu, dia sudah lama menutup mata.”
Mendengar jawaban itu, Siau Po tertawa dalam hatinya.
— Nenek sihir ini mengoceh tidak karuan

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s