“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 60

menghafal isi kitab itu, dan memahami isinya.” kata Kiong Lian.
Dalam hati Siau Po berkata.
“Mereka telah menyangka bahwa aku telah berhasil mendapatkan kitab itu.” katanya.
Setelah berbicara kedua orang itu pun berpamitan.
Tiba-tiba Siau Po ingat rombongan pangeran itu lalu bertanya pada utusan itu.
“Tuan-tuan apakah Tuan mengetahui rombongan siapakah yang tadi ke mari?”
tanyanya.
Kiong Lian berdua menggelengkan kepala.
“Tidak” sahutnya.
“Jika demikian kau harus mencari tahu, sebab ia datang ke mari sangat
mencurigakan. Atau mereka akan mencuri kitab ilmu silat Siau Lim Sie terutama si
Cong Peng, dia bekerja untuk siapa dan siapa pemimpinnya. Mengapa ia mau merusak
usaha Baginda? perbuatan mereka itu adalah perbuatan durhaka dan pengkhianat. Jika
kalian dapat mengetahuinya kalian akan berjasa besar pada raja” kata Siau Po.
“lni sangatlah mudah, mereka pergi belum lama dengan demikian kami dapat
mengejarnya dan Cong Peng itu telah aku ketahui nama mereka dan itu pekerjaan yang
sangat mudah” jawab mereka.
Siau Po tahu Cong Peng itu bawahan Gou Sam Kui tetapi ia tak mau mengatakannya
karena dengan demikian itu namanya memfitnah, dengan demikian Siau Po telah
membangun jasa pada raja.
“Dalam rombongan itu ada seorang nona yang menyamar sebagai seorang laki-laki.”
kata Siau Po menerangkan pada mereka yang secara langsung itu perintah panglima.
“Dia bersama rombongannya sedang mencari salah seorang nona yang cantik yang
umurnya kurang lebih enam belas tahun Mereka berdua sangat erat sekali dengan
rombongan Dan kalian juga harus mengetahui nama nona itu dan asal-usulnya dan kau
segera menulis surat padaku” perintah Siau Po pada mereka.
Mereka berdua lalu berjanji untuk bekerja dengan sebaik-baiknya dan untuk tugas
penyelidikan itu tugas mudah bagi mereka.
Setelah mereka pergi Siau Po lalu memberitahukan pada ketua pendeta bahwa ia
akan pergi besok ke Ceng Liang Sie.
Hui Cong Sian Su mengatakan setuju bahkan itu lebih baik.

“Kau cerdas Sute, kau pasti akan dapat memajukan kuil itu sangat disayangkan kita
bersama hanya sampai di sini, Berapa orang yang akan kau ajak pergi ke sana?” tanya
Hui Cong.
“Yang paling penting ialah Teng Koan. Juga delapan belas dari anggota Lohan Tong
dan yang lainnya hanya pelengkap jumlah seluruhnya adalah tiga puluh empat orang”
kata Siau Po menjelaskan
Hui Cong tak berkata apa-apa ia lalu memerintahkan pada pengawalnya untuk
mengumpulkan orang-orang yang dimaksud dan menerangkannya akan tugas ke Ngo
Tay san di kuil Ceng Liang Sie.
Demikianlah keesokan paginya mereka sudah siap dengan peralatan mereka dan tak
lupa sebelum berangkat Siau Po menemui Song Ji.
Sudah kira-kira setengah tahun Siau Po dan Song Ji tidak bertemu dan pertemuan itu
membuat Song Ji sangat terharu, ia lalu menangis, ia tahu kalau Siau Po menjadi biksu
dari Kong Lian ia sangat sedih dan kali ini Siau Po datang dengan kepala botak.
“Song Ji, janganlah kau menangisi Apakah yang kau tangisi? Apakah kau menangisi
karena aku tak pernah menengokmu” tanyanya.
“Bu…. Bukan itu Siangkong. Namun kau telah mensucikan diri” katanya.
“Oh, anak tolol Siangkongmu ini menjadi pendeta hanya pendeta palsu” kata Siau
Po sambil memegang tangan si nona dan lalu dicium.
Song Ji percaya, dan itu yang membuatnya menjadi girang tetapi ia menjadi maIu.
Siau Po menatap wajah nona itu yang sekarang menjadi kurus dan lemah hal itu
menjadikan ia terlihat jangkung.
“Kenapa kau jadi kurus apakah setiap hari kau hanya memikirkan aku saja?”
tanyanya.
Nona itu menjadi merah mukanya dan ia tertunduk.
“Sudah, sekarang kau ganti pakaian, dan menyamar menjadi pria. Kau turut
denganku” kata Siau Po.
Kembali Song Ji menjadi girang, Tanpa berkata apa pun ia lalu masuk ke kamarnya
dan berganti pakaian, Tak berapa lama kemudian ia ke luar dengan pakaian pesuruh
pelajar.
Selesai berganti pakaian ia lalu mendekati Siau Po dan mengajaknya untuk pergi.

Perjalanan ke Ngo Tay san tidak mendapatkan halangan Setelah mereka tiba di kaki
gunung itu, baru saja mereka ingin mendaki tiba-tiba dari atas gunung sudah berlari
beberapa biksu lalu menanyakan apakah mereka dari Siau Lim Sie.
Siau Po mengangguk dan membenarkan pertanyaan itu.
“Jikalau demikian siansu tentu Hui Beng Siansu?” tanyanya.
Siau Po lalu menganggukkan kepala.
Lantas mereka berlutut dan memberi hormat seraya berkata.
“Siansu datang untuk mengepalai kuil ini dan sebenarnya kami telah menanti sejak
beberapa hari yang lalu.” katanya.
Biksu itu benar, raja terlebih dahulu telah mengirim surat ke kuil itu akan
kedatangannya seorang kepala pendeta, tentang diangkatnya Hui Beng baru untuk kuil
itu. Hoat Seng dipesan akan menyerahkan kedudukannya itu jika pendeta ketua yang
baru telah tiba, maka untuk itu ia memerintahkan anak buahnya untuk menanti ketua
yang dijanjikan raja untuk kuil itu.
Sesampainya di atas gunung Siau Po disambut oleh Hoat Seng dan ia lalu
menyerahkan kedudukannya itu pada Siau Po, Semua pendeta dan juga undangan
hadir pada acara penyerahan jabatan itu, hanya ada tiga pendeta yang tak dapat hadir
tetapi mereka itu sudah mengirim surat yang isinya mengatakan bahwa mereka tidak
hadir karena mereka sedang menyendiri.
Para biksu Ceng Liam Sie sudah mengenal Siau Po dan Song Ji mereka mengenal
Siau Po dan juga Song Ji sewaktu mereka sedang mendapat serangan dari musuh dan
Siau Po juga Song Jie yang membantu mengusir orang-orang itu.
Mereka menjadi heran karena mereka telah mengetahui budi biksu cilik itu dan juga
Song Jie yang sekarang menjadi kepala biksu mereka.
Song Ji seorang wanita, walaupun mereka masih kecil ia tak baik berada di dalam
kuil itu.
Siau Po mendapat akal untuk menghindari kecanggungan dari para biksu itu, ia
mencukur botak kepala Song Ji dan si wanita itu menurut saja, tugasnya sebagai
pembantu bagian dalam.
Setelah ia menjadi ketua dan mulai menjalankan segala tugasnya, ia lalu ingat akan
perintah raja yang memintanya untuk merawat sang ayah, Lalu menanyakan pada
pengawalnya tentang ayah raja yang sekarang telah menjadi biksu, ia mendapat
jawaban bahwa sang ayah itu tidak berada di kuil melainkan di sebuah gunung, beliau
tinggal sendiri.

Lalu Siau Po juga mengatakan memerintah para biksu untuk membangun bangunan
gubuk-gubuk di sekitar tempat ayah raja itu dan masing-masing gubuk dihuni oleh enam
orang biksu.
Jika malam telah tiba Siau Po ingat pada nona yang memakai baju hijau, ia lalu
meminta pada Teng Koan untuk mengajari ilmu silat dan Siau Po selalu memuji
kepandaiannya.
Siau Po lalu menyerap semua ilmunya, Karena dirinya cerdas maka dengan waktu
singkat ia dapat menguasai ilmu itu.
Siau Po sekarang sedang menunggu kabar dari utusannya yang ditugaskan untuk
mengetahui nama dan asal usul nona-nona itu, ia sangat khawatir sekali.
“Aku telah makan obat Tok Liong Ie Kin Wan dari kaucu, maka bila aku tak
memberikan kitab itu padanya dalam waktu satu tahun racun itu akan bekerja dan itu
sangat berbahaya, kalau tidak salah waktunya tinggal dua bulan lagi.” katanya dalam
hati.
Siau Po lalu berjalan-jalan di sekitar Gunung Ngo Tay san sepulangnya dari berjalanjalan
ia dikagetkan oleh hadirnya beberapa biksu dengan menggunakan pakaian resmi
dan memegang senjata.
“Berapa jumlah mereka?” tanya Siau Po. “Empat ribu delapan puluh dua Ihama”
jawab Teng Koan.
“Apa yang hendak mereka lakukan?” tanyanya lagi.
“Hamba tidak mengetahuinya,” jawabnya pula.
“Mungkinkah mereka akan menyerang kita?” tanyanya.
“Mungkin juga, tetapi nampaknya mereka tak mungkin menyerang kita sekarang ini.
Sebab mereka penganut Sang Buddha. Tak mungkin mereka menyerang kita pada saat
siang hari. Sebab Sang buddha sangat mencintai kedamaian.-.” jawab Teng Koan.
“Jikalau demikian, kita harus memberitahukan pada para biksu yang berada di
gubuk-gubuk itu. Cepat” perintah Siau Po.
“Sebaiknya aku meminta bantuan pada raja” pikirnya.
“Namun aku khawatir yang dari jauh akan bertindak sia-sia” jawab Teng Koan.
“Jikalau demikian, mari kita melindungi Heng Tie Taysu menyerbu keluar” kata Siau
Po.

“Ya, nampaknya hanya ada satu jalan, kami tiga puluh tujuh murid Siau Lim Sie
mana mungkin dapat menyerang orang sebanyak itu. sebaiknya untuk menerobos lolos
itu sangatlah mudah…” katanya.
“Sebaiknya kita harus dapat menyelamatkan Heng Tie Taysu serta Giok Lin Taysu
walau dengan jalan apapun” kata Siau Po.
Setelah berkata demikian Siau Po pergi ke kamarnya untuk mencari jalan yang
terbaik guna menyelamatkan kuil ini dan juga guru besar mereka, Sambil berpikir Siau
Po akhirnya tertidur.
Belum seberapa lama kemudian Siau Po dibangunkan oleh anak buahnya yang
melaporkan keadaan di luar kuil itu.
Siau Po lalu berpikir keras, dan ia memutuskan untuk menemui guru besar tersebut
satu persatu guna menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya agar mereka mau
ikut meloloskan diri.
Sesampainya mereka di tempat Giok Lim, Siau Po mengalami kekecewaan Biksu
tersebut beranggapan dingin atas usul Siau Po untuk meloloskan diri.
Siau Po menjadi bingung, cara apa yang harus ditempuh guna mencari jalan yang
terbaik.
Sedang berpikir demikian tiba-tiba terdengar suara langkah yang sedang terburuburu,
lalu muncullah Teng Koan dari Siau Lim Sie yang terus memberikan laporannya.
“Harap Susiok ketahui, tadi para Ihama mulai mencari lagi kira-kira seratus tombak”
katanya,
“Mengapa mereka datang secara bertahap? Apakah mereka itu telah terpengaruh
Buddha kita, Merasa menyesal dan sadar bahwa berpaling ke belakang berarti melihat
gili-gili tempat mendarat” kata Siau Po.
“Bukan.,. Bukan demikian. Mereka sedang menanti datangnya sang malam hingga
mereka akan menyerang kita” kata Heng Tian.
Heng Tian adalah salah seorang perwira dan ia juga salah seorang pengawal raja
yang sudah sering kali menghadapi peperangan. Oleh karenanya ia sekarang
berpangkat perwira, ia juga seorang ahli dalam peperangan.
“Baiklah, kita menunggu saja mereka sampai memasuki pendopo dan menyaksikan
Sang Buddha yang bersifat pengasih itu…. Mudah-mudahan mereka menjadi sadar,.,”
kata Siau Po.
“Oh, Heng Tian yang muda, bagaimana kau bicara begini rupa? itu tak mungkin
bukan?” kata Heng Tian.

Giok Lim diam saja sewaktu mereka melihat Siau Po dan Heng Tian berbicara
dengan emosi masing-masing.
“Heng Tian, mengapa kau berpikir seperti itu? Dia benar dan ia telah mendapatkan
keyakinan Buat apa kau berpikir terlalu keras” kata Giok Lim.
Heng Tian terdiam.
“Oh, kiranya kau telah mendapatkan jalannya” katanya.
“Sama sekali aku tak mempunyai daya yang sempurna, aku cuma berpikir jika kita
melarikan diri, inilah saatnya…” kata Siau Po.
Heng Tian dan Teng Sim mengangguk tanda setuju.
“Jika demikian, cepatlah kalian berkemas dan kita berangkat sebelum mereka datang
ke mari Kita harus menyerbu turun guna meloloskan diri, kita menyingkir ke kota Hu
Peng, Aku percaya walaupun Ihama itu berani tapi tak mungkin mereka berani
menyerang kota Hu Peng” berkata pula Siau Po.
Mereka lalu secara bersama menjawab setuju.
Baru saja mereka akan meninggalkan tempat itu Heng Tian berkata.
“Aku orang yang berjubah apes Dahulu sudah banyak korban gara-gara aku dan kali
ini aku dibilang celaka, Biarlah nanti aku akan menunggu tibanya orang-orang itu dan
aku akan membakar diriku dihadapan mereka agar mereka merasa puas, bukankah
yang mereka cari adalah aku agar mereka dapat melakukan sesuatu dengan
kepuasan” kata Heng Tie yang sudah pasrah itu.
“Tidak…. Tidak suheng, lebih baik aku yang menggantikan suheng untuk membakar
diri” teriak Heng Tian.
Heng Tie tersenyum ternyata dia benar-benar berani
“Kau hendak menggantikan aku untuk membakar diri, sedangkan yang mereka cari
adalah aku. itu sangat percuma” kata Heng Tie.
Kembali semua terdiam.
“Heng Tie taysu sudah sadar, benar kata Sang Buddha kalau bukan kita yang masuk
neraka lalu siapa…?” kata Giok Lim.
“Ah biksu busuk Kau mengatakan itulah kesadaran tetapi aku sebaliknya itu bukan
arti yang tulen, itu palsu” Siau Po mencaci dalam hati.

“Kalian tunggu saja nanti bila Ihama itu datang, aku dan dia akan bersama-sama
membakar diri dan kalian janganlah mencegahnya.,.” kata Giok Lim.
Siau Po dan lainnya saling memandang.
Heng Tie pun berkata.
“Dahulu karena aku, rakyat jadi menderita, Banyak mereka yang tewas. Jika
sekarang aku mati dengan seribu kali takkan mungkin aku dapat menebus dosa-dosaku
yang telah lalu aku sudah terlalu banyak dosa dan untuk itu jika aku nanti membakar
diriku itu hanya salah satu cara untuk menebus dosaku.
Untuk itu aku minta kalian supaya mendukung aku, Jika saat ini aku mempunyai
kesalahan, maafkan aku, Aku tak ingin saat ini timbul lagi korban, Aku berharap kalian
dapat memahaminya..” katanya.
Selesai berkata ia lalu memberikan hormat pada Siau Po dan yang lainnya karena
mereka telah berani membelanya.
Melihat kenyataan itu Siau Po dan kawannya masing-masing kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamar Siau Po memanggil beberapa anak buahnya untuk
memberitahukan tentang keputusan Heng Tie.
“Mereka bertiga hendak membakar diri, jika mungkin marilah kita mencegahnya
dengan kekerasan dan melindunginya” kata Siau Po.
“Bukankah kalian akan menyelamatkan mereka bertiga? Jawab, ya atau tidak.,.?”
tanya Siau Po.
“Benar” jawab mereka secara serempak.
“Jikalau demikian itulah yang sangat sulit” kata Siau Po.
“Sekarang kalian dengar perkataanku Kalian pergi menerobos dari sebelah timur,
dengan lagak ingin meloloskan diri turun dari gunung. Lalu bersamaan dengan itu kalian
turun dan balik lagi, tetapi kalian harus membawa beberapa orang Ihama ke mari” kata
Siau Po sambil mengatur siasat.
Mendengar itu Teng Sim berkata.
“Apakah maksud tuan untuk membuat sandera agar mereka itu tak dapat langsung
menyerang? Kalau memang demikian kita harus mencari sandera orang yang
berpangkat” katanya.

“Mungkin sukar untuk membekuk Ihama tingkat tinggi, dan itu dapat menimbulkan
banyak jatuh korban, Aku pikir lebih baik kita menangkap Ihama dari golongan rendah
saja..” ujar Siau Po.
Para biksu itu tak mengerti maksud Siau Po, tetapi karena itu perintah maka mereka
lalu pergi melakukan tugasnya.
Tak lama terdengar suara ribut-ribut, Siau Po naik ke atap di sana ia menyaksikan
muridnya yang sedang menjalankan perintah Terlihat kelebatan sinar pedang.
Biksu-biksu yang diperintahkan Siau Po adalah orang-orang pilihan, tapi Ihama itu
bukanlah lawan mereka dan setelah mereka mendapatkan bantuan dari atas Siau Po
berteriak.
“Musuh terlalu tangguh, sebaiknya kalian mundur.-.” katanya.
Teriakan Siau Po menggunakan tenaga dalam yang cukup sempurna maka suara itu
berkumandang ke segala arah.
“Bagaimana sekarang” tanya Teng Koan.
“Kita cepat kembali dan kita bekuk beberapa orang itu.,.” kata Teng Sim yang lalu
menarik musuh.
Kata-kata itu dilakukan dengan menyambar para Ihama yang tak berdaya, Ada yang
dipanggul dan ada pula yang digendong. Teng Sim dan Teng Koan berlari di belakang,
hingga mereka dapat mencegah orang yang akan mengejarnya.
Dengan tertawa girang Siau Po menyambut kedatangannya di depan pintu yang
selanjutnya mereka dibawa ke dalam wihara untuk selanjutnya akan ditanya, jumlah
mereka yang berhasil ditawan ada empat puluh tujuh orang.
Telanjangi mereka lalu totok jalan darahnya dan masukkan mereka ke dalam gudang
kayu belakang.,.” perintah Siau Po.
Para biksu heran tetapi mereka melakukan juga perintah itu. para Ihama yang
terkurung itu sudah telanjang bulat dan tak dapat bergerak.
“Selesai melakukan tugasnya masing-masing, biksu berkumpul untuk mendengarkan
kata-kata dari ketua mereka itu lalu Siau Po berkata.
“Para keponakan muridku, di dunia ini tak ada yang sempurna, Kalian para biksu
sama dengan para lhama, Untuk itu sekarang buka jubah kalian dan pakailah pakaian
para Ihama itu”
Para Ihama itu menjadi terbengong.

“Song Ji ke mari, lekas kau bantu aku untuk memakai pakaian sebagai mana Ihama
cilik” katanya.
“Kau juga harus menyamar sebagai Ihama cilik” kata Siau Po pada Song Ji.
Si nona cilik yang mendengarkan perintah itu menurut.
“Susiok apakah arti kita menggunakan pakaian lhama ini” tanya Siau Po.
“Mungkin kita akan mengatakan takluk pada pihak musuh atau apakah kita akan
mengganti agama kuning” tanya Teng Koan.
“Bukan, kita sekarang menyamar sebagai seorang lhama dan nanti kita menyerbu ke
kuil di gunung itu. Kita bekuk dan kita totok sedapat mungkin Giok Lim, Heng Tje, dan
Heng Tian lalu kita bawa mereka dan kita ganti pakaian mereka dengan pakaian lhama
ini.
Mendengar keterangan itu mereka semua tertawa, mereka telah mengetahui maksud
dari taktik Siau Po.
“Bagus” kata Siau Po. “Jika kalian telah mengetahuinya, kita bergerak saat orangorang
itu menyerang ke mari. Dengan demikian mereka tak mengetahui mana yang asli
dan mana yang tidak.,.” katanya.
“Dengan begitu kita tak usah melakukan pembunuhan” kata Teng Sim penuh
semangat.
Hampir tengah malam Siau Po dan kawan-kawannya pergi ke tempat ketiga guru
besarnya itu. Sengaja ia memancing keributan hingga ketiga biksu itu tak sempat
berkata lalu para lhama palsu itu sudah menyerbu masuk ke dalam, Langsung ketiga
biksu itu ditotok dan diganti pakaiannya dengan pakaian lhama itu.
Setelah itu Siau Po memerintahkan pada Song Ji untuk membakar tempat itu yang
secara kebetulan telah disiapkan kayu dan jerami untuk membunuh ketiga biksu itu.
Belum beberapa jauh mereka berjalan, terlihat sudah api yang melalap kuil itu sudah
nyala berkobar.
Mereka berlari tanpa ada halangan, hal itu karena mereka menggunakan pakaian
lhama itu.
“Kuil itu sudah terbakar habis dengan demikian mereka tak mungkin dapat
menemukan ketiga orang ini. Lalu dengan begitu mereka tak mungkin dapat mencari
kita” kata Song Ji.
“Kau benar, Sute” kata Teng Koan.

Sesampainya di situ Siau Po meminta totokan tersebut agar dibebaskan, mereka lalu
meminta maaf karena telah berbuat kurang ajar.
Semenjak ditotok mereka melihat dan mendengar Mereka mengetahuinya kalau ini
perbuatan para biksu, yang berusaha menolongnya, Dan setelah membebaskan
totokan Heng Tian berkata dengan suara nyaring tetapi berwibawa.
“Bagus… bagus, akal kalian sungguh sangat bagus, sekarang kita semua sudah
terancam mara bahaya Hong Tio taysu kau telah menolong kami, Untuk mengucapkan
terima kasih saja kami tak terburu, mana dapat kami menggusarimu” kata Heng Tian.
Heng Tie yang tadi ingin membakar diri pun bergembira.
“ltu sangatlah bagus, kita bebas tanpa kerugian sedikit pun” katanya pada Siau Po.
Tiba-tiba saja terdengar suara berisik dari atas gunung.
“Susiok, mereka menyusul kita” seru Teng Koan sambil melihat ke arah atas para
pendeta yang sedang mengejar mereka.
“Mari, kita menemuinya. Kita bicara dengan mereka sampai mereka tak tertawa dan
tersenyum baru kita menunjuk ke arah gunung itu. Walau bagaimana kita tak boleh
menyerang mereka itu” kata Siau Po.
Teng Koan semua maju dan mereka semua ikut bersama.
“Loo Hong ya, dengar titahku dan juga guru Loo Hong ya” kata Siau Po dengan
senang, lalu mereka bertiga dikurung di tengah dan mereka bersama lari ke arah jalan
besar
Belum jauh mereka berlari terlihat ada serombongan sedang menuju ke arahnya dan
pada masing-masing orang itu menggunakan kalung yang isinya sebuah kalimat yaitu
“Mau berziarah dengan sujud.”
Dari rombongan peziarah lalu muncul seorang yang tinggi besar dan menegur
mereka, “Kalian sedang buat apa?” tanyanya, Melihat orang itu Siau Po girang sekali
dia adalah salah seorang pengawal raja yaitu congkoan To Liong, Maka ia lalu
melangkah ke depan dan menyapanya.
“Hay, To Toako Kau lihat siapa diriku ini?” tanya Siau Po.
Orang itu lalu meneliti muka yang lucu itu dengan kepala botak licin.
Siau Po memasang mukanya dan terus tertawa, “Kau,., kau saudara Wie.,.?
Mengapa kau berada di sini dan mengapa kau memakai pakaian lhama?” tanyanya,
Siau Po tertawa.

“Dan kau sendiri, kenapa berada di sini?” Siau Po balik bertanya.
Tak berapa lama kemudian datanglah serombongan Sie Wie yang sebagian mereka
kenal.
“Apakah Sri Baginda yang menyuruh kalian datang ke mari?” tanya Siau Po.
“Sri Baginda dan Thay Hou datang ke Ngo Tay san untuk bersembahyang dan
sekarang ini rombongan Sri Baginda berada di wihara Leng Keng Sie” jawabnya.
Siau Po girang bercampur keheranan “Sri Baginda datang ke Ngo Tay san dan si
molek tua ikut juga, ia mau apa?” tanya Siau Po dalam hati, “Tio Toako, tolong kau
menghadap Kong Cin Ong Katakan padanya aku akan menggunakan pasukan tentara,
guna melakukan suatu gerakan, Namun karena urusan ini sangat penting aku tak
sempat menemui langsung padanya untuk minta ijinnya…” kata Siau Po.
Cee Hian menurut ia lalu beranjak pergi, Dan tak lama datang pasukan dari bendera
kuning lalu Siau Po langsung berkata pada pimpinannya.
“Toa Tong Tayjim, di sini ada beberapa ribu pendeta lhama dan rupanya mereka
sudah mengetahui bahwa raja ingin berziarah sekarang mereka sudah mengurung
wihara itu dan nampaknya mereka akan mengadakan pemberontakan maka itu silahkan
kalian pergi, inilah jasa besar bagi kalian” perintah Siau Po.
Kedua pembesar itu girang sekali dan ia lalu berlari dan mengucapkan terima kasih.
Keduanya percaya dengan keterangan itu.
Setelah memberikan pesan pada beberapa orang pembesar militer Siau Po lalu
mengajak rombongannya untuk beristirahat dan berganti pakaian di salah satu kuil,
Siau Po menyewa kuil itu pada salah seorang pendeta.
Melihat uang sewa yang diberikan Siau Po, pendeta itu merasa gembira.
Siau Po lalu ke luar. Kali ini ingin memberikan kabar yang rahasia, ia juga
memerintahkan pada seratus lebih Sie Wie untuk berjaga-jaga di sekitar kuil itu.
Setelah mengatur siasat Siau Po lalu mengutus beberapa orang Sie Wie untuk
memberitahukan pada raja.
“Budak Wie Siau Po tengah melakukan tugas yang berat. Tak berani budak
meninggalkan tugas itu, maka itu budak hanya bisa menanti di kuil Kim Kok Sie” itulah
isi surat Siau Po.
Siau Po lalu pergi ke kuil yang dimaksudkan itu, Tak lama kemudian ia mendengar
keributan dari atas gunung, itulah suara pertempuran pasukan Sie Wie dengan para
lhama itu.

Setelah keributan itu berhenti tak lama kemudian datang rombongan pasukan raja ke
kuil itu.
“Pastilah raja kecil itu telah tiba.” katanya.
Sambil berkata demikian Siau Po lalu mengambil pisau belatinya guna menjaga
kemungkinan jika yang datang itu bukan rombongan raja.
Suara itu terdengar semakin dekat dan tak lama kemudian muncul rombongan raja
didahului dengan datangnya para Sie Wie dan langsung berbaris.
“Cepat kau simpan senjata tajam itu.,.” kata salah seorang Sie Wie dengan suara
perlahan.
“Selamat Baginda Ayah Baginda berada di dalam” kata Siau Po.
Kong Hie mengangguk.
“Kau tolong aku dengan memberi kabar” katanya dan ia lalu memerintahkan para
Sie Wie itu untuk meninggalkan tempat itu.
“Kalian boleh pergi ke luar” kata raja pada para Sie Wie.
Semua Sie Wie lalu pergi ke luar Siau Po mulai mengetuk pintu kamar ayah raja itu
dengan suara perlahan-Iahan.
“Hui Beng mohon menghadapi- kata Siau Po.
Tetapi dari dalam kamar itu tak terdengar suara apa-apa. Hingga raja menjadi tak
sabaran dan langsung memanggilnya dengan panggilan yang biasa digunakan di
Kerajaan.
Karena dari dalam tak terdengar jawaban akhirnya raja menjadi bersedih, melihat
rajanya menangis Siau Po teringat pada ayah dan ibunya.
Tak lama terdengar pintu itu terbuka, Melihat hal itu raja sangat senang maka ia lalu
segera masuk dan langsung menubruk kaki ayahnya.
Heng Tie perlahan-Iahan mengusap kepala putranya itu.
“Nak…. Nak” kata ayah raja dan ia pun menangis.
Siau Po sudah berhenti menangis, ia telah memasang telinganya untuk
mendengarkan pembicaraan antara raja dengan ayahnya.

Heng Tie mengatakan sesuatu, suaranya sangat perlahan hingga tak terdengar oleh
Siau Po dari luar, ingin ia mendengarkan pembicaraan antara raja dengan ayahnya,
tetapi ia tak berani mengintai dan juga mendengarkan pembicaraan itu dari selah-selah.
Tak lama terdengar suara raja dengan menyebut nama permaisuri Toan Keng Hong
Hau dan disusul dengan suara ayah raja.
“Untuk selama-lamanya jangan menaikkan pajak”
“Jangan menaikkan pajak? Adakah pesan lain yang akan disampaikan raja pada
ayahnya?” tanya Siau Po dalam hati
Tak lama kemudian terdengar lagi pembicaraan mereka.
“Hari ini kita bertemu satu dengan yang lainnya, itu juga sudah tak selayaknya, bukan
sedikit kau menggagalkan pertapaanku, Mulai saat ini kau jangan datang-datang lagi ke
mari” pesan ayah raja.
Raja tak mengucapkan kata-katanya yang terdengar suara ayahnya.
“Kau telah mengutus orang untuk melayaniku, meskipun itu datang dari hatimu yang
paling dalam, kau masih keliru beranggapan demikian. Seorang pertapa ia harus dapat
merasakannya sendiri Hal itu sudah seharusnya mereka terima, maka itu jika kau
merawatku dengan sempurna sekali itu pun tak baik” katanya.
Terdengar suara raja tetapi, tiba-tiba terdengar suara dari ayah raja dengan nada
yang keras.
“Sekarang sebaiknya kau menjaga dirimu sendiri Dengan kau mencintai rakyat,
berarti kau sudah berbakti kepadaku.,.” kata ayah raja.
Agaknya raja merasa sangat berat untuk meninggalkan ayahnya.
Lalu terdengar langkah kaki mendekati pintu kamar Siau Po dengan cepat berpurapura
melihat halaman dan menjauhi dari tempatnya mengintai.
Segera terdengar suara pintu terbuka, ayah raja itu sambil memegangi tangan
anaknya melangkah ke luar dari kamarnya.
Ayah dan anak itu saling mengawasi Anak itu terus memegang erat tangan ayahnya.
Dengan perlahan-lahan raja melepaskan tangan yang memegang tangan ayahnya
itu, lalu ayah raja segera kembali ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam.
Kong Hie menubruk ke pintu dan kembali menangis.
Siau Po berdiri diam menemani raja dan menangis.

Tak lama raja berhenti menangis, ia merasa yakin bahwa ayahnya tak akan
membukakan pintu, walaupun demikian ia tak mau segera berlalu dari kamar itu, Maka
ia mendekati Siau Po dan menarik tangan Siau Po untuk duduk, Dengan sapu tangan ia
menghapus air matanya.
“Menurut Hu Hong kau baik sekali Kau pandai bekerja tetapi Hu Hong tak
menghendakinya lebih jauh, Katanya kalau para menteri melayaninya dengan
sempurna bukan lagi ia seorang pertapa.,.” Menyebut kata “Pertapa” air mata raja itu
mengalir pula.
Senang Siau Po mendengar raja tua itu tak mau dirawatnya lebih lama, akan tetapi
pada wajahnya tak menggetarkan, sebaliknya ia berkata.
“Ada banyak sekali orang yang hendak mencelakai raja yang tua, oleh karena itu raja
harus melindunginya terutama menjaganya secara diam-diam” kata Siau Po.
“Itu pasti” kata raja.
“Kawanan Ihama itu sangat jahat Entah apa maksudnya dan apa pula daya
upayanya.,.?” katanya.
Hampir raja ini mengutuk dengan kata-kata cara rumah hina seperti biasa diucapkan
Siau Po, yang suka meniru, Sebaliknya, ia merubah itu menjadi Nyonya itu.
Siau Po tertawa dan berkata.
“Oh, Sri Baginda, Tuan telah mendapatkan kata-kata baru”
Raja tersenyum.
“Aku dapatkan ini dari mulut adikku, yang mendapatkannya pula dari para Sie Wie
nya Adik-ku itu bersama telah mendaki gunung” kata raja.
Sebelum Siau Po mengatakan sesuatu, raja menambahkan
“Hu Hong juga tak sudi menemukan ibu suri serta adiku itu…” kata sang raja.
Siau Po mengangguk.
“Para lhama itu terang ingin menahan Hu Hong supaya dapat dijadikan jaminan.
Dengan begitu dapat memaksa dan memeras aku,” kata raja kemudian.
“Mana mereka dapat mencapai hati mereka? Siau Po kau baik sekali, kau telah
menolong Hu Hong, jasamu tidak kecil”
“Tetapi itu berkat kecerdasan raja juga” kata Siau Po.

“Sri Baginda pandai memikir jauh, mulanya Sri Baginda sudah menerkanya. Maka
Baginda telah mengirim hamba ini ke mari menjadi biksu sebenarnya aku tak punya
jasa apa-apa, Sebab, siapa pun yang Baginda utus ke mari, dia tentu dapat melakukan
tugasnya” kata Siau Po.
“Bukan soal itu.,.” kata raja.
“Kata Hu Hong kau pandai mengetahui hatinya kau dapat menyelamatkan tanpa ada
yang korban, Dan di antara kita tak ada yang celaka” kata raja.
“Hamba mendengar Lo Hongya hendak membakar diri hal itu membuat aku
khawatir” kata Siau Po. “Lo Hong hendak menebus dosa…”
“Apa, membakar diri?” tanya raja terkejut “Menebus dosa…” Raja itu kaget sehingga
tubuhnya menggigil.
“Begitulah” kata Siau Po, yang mengatakan duduknya peristiwa di saat mereka
bingung sekali, karena pihak lhama akan datang menyerbu.
“Oleh karena tidak ada jalan lain, terpaksa hamba melakukan itu. Hamba merasa
kurang hormat telah menyiraminya”
“Tapi kau berbuat demikian guna menolong ayahanda, itu bagus” raja justru memuji.
Terus raja berdiam untuk menoleh ke pintu ayahnya.
“Hu Hong memesanku untuk menyayangi rakyat. Supaya aku tidak menambah
pajak” kata raja.
“Kata-kata itu akan kuingat dan kau pun pernah menyampaikannya terhadapku tetapi
kali ini pesan pribadi dari Hu Hong nanti aku tak dapat melupakannya.”
“Pajak ialah uang yang dibayarkan kepada negara” sahutnya, menjelaskan.
“Di jaman Ahala Beng, kalau raja mengerjakan angkatan bersenjata untuk berperang
uangnya di-dapat dari memeras rakyat Raja-raja itu sangat royal, uangnya kurang.
Maka rakyatlah yang diganggu dipaksa memenuhi kehendaknya para pembesar Beng
juga busuk sekali, mereka jahat Jika raja membutuhkan seratus juta mereka menambah
menjadi dua ratus juta, Hingga mereka turut me-ngeduk harta Demikianlah rakyat yang
miskin bertambah melarat Raja menambah pajak, lain tahun menambah kenaikan, lalu
rakyat dari mana mendapatkan uang?” kata raja.
Siau Po mengangguk.
“Oh, kiranya begitu” kata Siau Po. “Ayahnya memerintahkan pada raja jangan
menaikkan pajak, itu maksudnya agar tak terjadi huru-hara?” tanya Siau Po.

“Kau menyebut dia Giau Sun” kata raja.
“Hu Hong berkata padaku sebabnya mengapa ia menyucikan diri, bahkan selama
beberapa tahun ia sudah menutup diri, Karena ia malu sendiri atas perbuatannya
selama menjadi raja, Dahulu sebenarnya raja Cong Ceng mati dipaksa oleh si berandal
yang membuat huru-hara dan memberontak karena Gouw Sam Kui datang ke negeri
kita meminta bantuan dan meminjam angkatan perang kita dan si berandal dapat
diruntuhkan.” kata raja.
“Dengan demikian kami membalas sakit hati raja Beng Akan tetapi lain pandangan
rakyat Han, mereka bukan saja berterima kasih pada kami bahkan kami dipandang
sebagai musuh besar. Nah, coba kau katakan apa sebab dari itu” tanya raja.
“Mungkin mereka itu tolol” sahut Siau Po, “Memang di dunia ini ada banyak sekali
manusia toIoI, sebaliknya orang pintar sangat sedikit Atau mungkin mereka itu orang
yang tak berbudi yang melupakan kebaikan orang” kata Siau Po.
“Mungkin mereka beranggapan demikian itu bukannya” kata raja,
Kaisar Kong Hi menghela napas.
“Pembunuhan sepuluh hari Yang-ciu dan tiga hari di Ke Teng di mana orang yang
dibinasakan tak terhitung jumlahnya, itulah perbuatan yang sangat jahat dari Kerajaan
kita.,.” katanya menyesal.
“Maka nanti sepulangnya aku dari kota raja, aku bakal memaklumkan pembebasan
pajak selama tiga tahun pada para penduduk itu”
Mendengar kata-kata raja itu, Siau Po berpikir.
“Kalau penduduk kota Yang Cu dan Keng teng bebas pajak tiga tahun, saku mereka
tentu akan banyak uangnya, Dan Yang Cu pastilah Lecu Wan akan maju dan subur.
Maka itu bagaimana aku dapat berpikir agar raja cilik ini menugaskan aku melakukan
sesuatu di Yang Cu..?”
Sedang berpikir demikian Siau Po ditanya rajanya.
“Hai, bagaimana pikiran itu bagus atau tidak?” tanyanya.
Siau Po terkejut Kemudian raja menceritakan pada Siau Po bahwa ia pernah
memerintahkan pada Sie Wie untuk menyelidiki rombongan yang datang itu, ia pun
menceritakan perihal ibu surinya.
“Sekarang ini kau sudah selesai mewakili aku menjadi Biksu dan sudah saatnya kau
pulang bersama aku ke kotaraja, Untuk itu selain kau menjadi biksu kau juga telah
menjadi lhama besar. Kau boleh pilih untuk kau dua ribu Sie Wie untuk menjadi

anggotamu, Kau dapat membuatkan mereka tempat di sekitar gunung. Di sana kau
akan menjadi lhama dan akan mendapat hadiah yang besar…”
00oo00
Bhiksuni itu tidak suka banyak bicara, Dia diam saja, Tapi ketika si anak muda
mengoceh terus, dia pun berkata,
“llmu silat Siau Lim Pay mempunyai keistimewaan tersendiri katanya, “Kau si bocah
cilik mirip dengan katak dalam tempurung, jangan sembarangan kau berbicara
Memang benar aku tidak mempunyai ilmu kebal seperti kau yang tidak mempan senjata
tajam….”
Siau Po jadi tertarik dengan kepribadian si bhikuni itu.
“SebetuInya ilmu kebalku ini ilmu palsu,” katanya sembari membuka jubah luarnya
untuk memperlihatkan baju mustikanya yang tidak mempan senjata tajam. “Baju inilah
yang membuat tubuhku kebal senjata tajam.”
Bhikuni itu segera meluncurkan tangannya menotok baju mustika Siau Po. Tapi
sampai berkali-kali dia tidak berhasil menotok putus sehelai benangnya sekalipun Dia
pun tersenyum.
“Rupanya begitu Tadinya aku heran Siau Lim Pay memiliki ilmu kebal yang demikian
luar biasa dan engkau yang masih muda sudah berhasil menguasainya”
Senang sekali hati si bhikuni, bibirnya mengembangkan senyuman kemudian
menambahkan.
“Anak, kau benar-benar jujur dan polos”
Di dalam hati Siau Po tertawa. Dalam hidupnya ada juga orang yang mengatakan dia
jujur dan polos. Baginya, pujian itu sungguh langka.
“Suthay,” katanya, “Terhadap lain orang, mungkin aku tidak akan terus terang, tetapi
terhadapmu aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak tahu mengapa aku tidak
berani berdusta kepadamu, mungkin karena aku menganggap kau sebagai…ibuku,.,.”
“Sudah Sudah” tukas si bhikuni, “Lain kali, jangan kau bicara seperti itu lagi, kurang
enak aku mendengarnya”
“Baik, baik, suthay” sahut Siau Po. “Kau telah menyerang aku sampai sekarang rasa
sakitnya masih ada. Tapi tidak apa-apa, aku merasa puas dengan sikapmu ini, lagipula
aku telah menyebutmu sebagai ibu….”
Ibu Siau Po adalah seorang pelacur, dengan memanggil suthay itu sebagai ibu, dia
menganggapnya sebagai seorang pelacur juga, Dasar bocah ini nakal sekali.

Diam-diam Siau Po melirik bhikuni itu. Dia mendapat kenyataan bahwa wajah wanita
itu cantik dan berwibawa, Tanpa terasa timbul perasaan kagum dan hormatnya.
Bocah ini memang luar biasa, Terhadap Sang Buddha saja, tidak ada perasaan
hormatnya sama sekali, Terhadap Tan Kin Lam, gurunya, dia hanya merasa takut.
Terhadap Hong kaucu dan Hong hujin, dia hanya hormat dibibir saja, di dalam hatinya
dia memandang hina.
Tapi aneh, terhadap bhikuni ini, dia tidak berani kurang ajar. Hatinya langsung
merasa menyesal telah mengumpamakan orang seperti pelacur.
Bhikuni berjubah putih itu mengajak Siau Po turun gunung dari sebelah utara, Dari
sana mereka memutar ke timur, akhirnya mereka tibalah di sebuah pasar, Siau Po
membeli seperangkat pakaian baru, Setelah berdandan, dia tampak seperti anak
tanggung seorang hartawan.
Selama menjadi bhiku palsu dan melindungi kaisar Sun Ti, Siau Po memang
membekal uangnya yang jumlahnya beberapa puluh ribu tail perak. Karena itu,
sekarang sepanjang perjalanan mudah saja dia melayani bhikuni itu.
Setiap kali makan, dia selalu meminta barang hidangan yang istimewa, bahkan kalau
perlu dia membantu koki rumah makan tersebut bagaimana harus membuat hidangan
yang lebih lezat. Selama di istana dia sudah sering melayani kaisar dan ibu suri, karena
itu dia tahu makanan apa saja yang terkenal kelezatannya.
Si bhikuni berjubah putih, atau lebih baik kita panggil saja Pek I Ni rupanya pendiam
sekali, dia jarang berbicara, Siau Po segera tahu kebiasaan wanita itu.
Karena itu apabila tidak ada keperluan penting, dia tidak mengajak orang bicara, Dia
hanya melayani dengan telaten dan bersikap manis.
Dengan demikian, pada suatu hari tibalah mereka di tempat tujuan, yakni kotaraja.
Siau Po memilih sebuah hotel yang besar, begitu berbicara dengan si pengurus
hotel, dia langsung memberi hadiah sebanyak dua puluh tail, karena itu dia segera
mendapatkan pelayanan yang memuaskan.
Ketika melihat tamunya seorang pendeta perempuan, pemilik hotel itu merasa heran.
Tetapi dia mengambil sikap tidak perduli..
Hari itu, setelah selesai bersantap, tiba-tiba Pek I Ni berkata kepada Siau Po.
“Aku akan pergi ke bukit Keng San untuk melihat-Iihat.”
“Bukit Keng San?” tanya Siau Po heran, “ltukan bukit tempat bersemayamnya arwah
para mendiang kaisar Cong Ceng dari dinasti Beng Ya, kita memang perlu ke sana
untuk memberikan hormat kita.”

Segera keduanya berangkat, hanya sesaat saja mereka sudah tiba di tempat tujuan,
Mereka sudah berada di sebuah taman yang ada di sisi makam.
Sesampainya di atas bukit, Siau Po menunjuk pada sebatang pohon besar.
“Kaisar Cong Ceng wafat dengan menggantung diri di atas pohon itu.” katanya
menjelaskan.
Pek I Ni mengelus-elus pohon itu. Tangannya bergetar dan air matanya langsung
jatuh berderai membasahi

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s