“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 59

merupakan sarana
untuk menyehatkan tubuh dan membela diri.
Kemudian terdengar pangeran Kaerltan berkata.
“Siau Lim Sie mempunyai tujuh puluh dua macam ilmu silat yang telah menggetarkan
dunia persilatan. Boleh dikatakan sudah tidak ada tandingannya, Karena itu, dapatkah

kiranya Hong Tio meminta beberapa Kho Ceng menunjukkan kepandaiannya agar kami
dapat membuka mata?”
“Yang Mulia,” kata Hui Cong tetap dengan nada merendah “Harap Hong tio ketahui,
tentang ilmu silat partai kami, apa yang tersiar di luaran hanya berlebihan, tidak perlu
dijadikan perhatian Yang benar, kami para pendeta hanya mmepelajari dan mendalami
agama, untuk mencari kebenaran dan mencapai kesempurnaan hidup, Memang ada
beberapa diantara kami yang belajar ilmu silat, tapi tujuannya hanya untuk membela diri
dan menjaga kesehatan pelajarannya sendiri tidak layak mendapat penghargaan….”
“Aih Hong Tio, ternyata kau kurang berterus terang” kata sang pangeran “Tunjukkan
saja ke-tujuh puluh dua macam ilmu silat partai kalian itu, kami pun tak lebih tak kurang
hanya ingin melihatnya saja, Bukankah kami tidak mungkin mencuri mempelajarinya?
Mengapa pandangan Hong tio demikian picik?”
Kejadian seperti ini sudah sering dialami oleh pihak Siau Lim Sie. Bahkan sudah
sejak seribu tahun yang lalu, Masalahnya nama kuil yang satu ini terlalu terkenal Ada
yang datang dengan kesungguhan hati untuk belajar, tapi tidak jarang juga yang
sengaja mencari gara-gara. Biasanya permintaan itu ditampik dengan cara halus serta
ramah tamah.
Sekalipun orang yang kasar, mereka juga menghadapinya dengan sabar. Kalau
sampai ada yang melakukan kekerasan, pihak Siau Lim Sie baru mengambil tindakan
Begitu pula nada bicara sang pangeran, Hui Cong sudah biasa mendengarnya,
karena itu dia hanya tersenyum dan berkata.
“Pangeran Yang Mulia, kalau kedatangan kalian ini untuk membicarakan urusan
agama, maka lolap akan menghimpun seluruh murid untuk merundingkannya bersamasama.”
katanya.
“Tapi tidak demikian halnya kalau yang ingin dibicarakan itu soal ilmu silat, Ada
peraturan yang harus ditaati dalam kuil kami, yakni tidak boleh menunjukkan ilmu silat
di hadapan para tamu yang terhormat.”
“Kalau begitu, nama besar Siau Lim Sie ternyata hanya kosong belaka.” kata si
pangeran dengan suara keras. “Dengan demikian juga, ilmu silat Siau Lim Sie tidak
lebih dari angin busuk.”
Hui Cong tertawa.
“Manusia hidup di dunia, sebetulnya memang hanya menyandang nama kosong.”
katanya, “Jadi ucapan Yang Mulia memang tepat sekali. Nama besar tidak bedanya
dengan angin busuk, tidak berharga sepeser pun. Nama hanya merupakan benda di
luar tubuh sesuatu, jadi ucapan pangeran memang benar sekali.”

Kaerltan terdiam. Dia tidak menyangka hwesio tua ini demikian sabar, Dia berdiri,
untuk sesaat dia masih berdiam diri. Kemudian dia menunjuk kepada Siau Po sambil
bertanya dengan suara lantang.
“Eh, hwesio cilik, apakah kau juga mirip dengan angin busuk anjing dan tidak
berharga sepeser pun?”
Di luar dugaannya, Siau Po justru tertawa geli, dengan gembira dia memberikan
jawabannya.
“Yang Mulia, dapat dipastikan kalau Yang Mulia masih menang jauh dibandingkan
aku, si hwesio cilik ini. Siau Ceng tidak mirip dengan angin busuk anjing dan tidak
berharga sepeser pun. sedangkan yang Mulia justru mirip dengan angin busuk anjing
dan berharga satu tail. Pokoknya, Yang Mulia masih menang satu tingkat.”
Mendengar jawabannya, beberapa hadirin langsung tertawa terbahak-bahak.
Bukan main panasnya hati pangeran Kaerltan, Hampir saja dia maju dan menyerang
si hwesio cilik, untung saja dia masih sadar dengan kedudukannya.
– Hwesio ini masih kecil tapi kedudukannya tinggi, mungkin ada sesuatu yang aneh
pada dirinya…. Siapa tahu? -, pikirnya dalam hati. Karena itu dia menahan
kemarahannya.
“Yang Mulia, harap Yang Mulia jangan gusar,” kata Siau Po yang dapat melihat gerak
gerik orang. “Perlu diketahui bahwa di dunia ini yang busuk bukan hanya kentut anjing
saja tetapi kata-kata manusianya juga. Ada sebagian orang, kalau dia berbicara, angin
busuknya terpancar sampai ke atas langit sehingga baunya mirip… mirip…. Ah
sebaiknya tidak usah kukatakan Lagi pula, kalau tidak berharga sepeser pun, itu toh
bukan nilai yang paling rendah, Manusia yang rendah justru orang yang hutangnya
mencapai laksaan tail tapi tidak sudi membayar satu tail pun, Mengenai Yang MuIia
sendiri, apakah Yang Mutia pernah berhutang kepada orang lain atau tidak, tentu hanya
Yang Mulia sendiri yang mengetahuinya.”
Kaerltan terbungkam, dia tertegun sehingga untuk sesaat dia tidak tahu bagaimana
harus menjawab pertanyaan Siau Po.
“Kata-kata Sute benar sekaIi. Artinya pun sangat dalam.” Sambung Hui Cong, “Lolap
benar-benar merasa kagum, Manusia yang hidup di dunia semua sudah ada karmanya,
perbuatan manusia terdiri dari sebab dan akibat. Siapa yang berbuat jahat, kejahatan
pulalah yang akan diterimanya, itulah yang dikatakan tidak berharga sepeser pun, Yang
lebih baik, kalau seseorang itu tidak berbuat kejahatan, tidak bersikap terlalu mulia dan
juga tidak berhutang.”
“Ya, Susiok Hui Beng memang sangat cerdas,” kata Teng Koan yang ikut memuji
Siau Po. Wajah Kaerltan menjadi merah padam. Dia mengira rombongan hwesio itu
sudah sepakat untuk mempermainkan dan menyindirnya.

Tiba-tiba dia melompat maju ke arah Siau Po dan menerjangnya, jarak diantara
mereka berdua kira-kira satu tombak. Si pangeran mengulurkan kedua tangannya,
Yang satu untuk menyambar wajahnya dan yang satunya lagi untuk mencengkeram
dadanya.
Terlambat sudah rasa terkejut Siau Po. Tidak sempat dia membela diri atau
menghindarkan serangan tersebut.
Hui Cong dapat menyaksikan kejadian yang berlangsung di depan matanya. Dengan
gesit dia mengibaskan lengan bajunya sehingga serangan si pangeran sempat
terhalang bahkan orangnya sendiri merasa nafasnya sesak serta darah dalam tubuhnya
bergolak.
Mula-mula dia terhuyung-huyung kemudian menyurut mundur tiga langkah, dia
memaksakan dirinya untuk berdiri tegak, tapi ternyata dia terhuyung-huyung kembali
lalu mundur lagi tiga tindak, dan akhirnya jatuh terduduk.
– Celaka — serunya dalam hati, – Aku bisa mendapat malu besar — Tetapi ternyata
dia jatuh terduduk di kursinya sendiri.
“Bagus” seru orang banyak.
Lega juga hati pangeran itu. Dia tidak perlu mendapat malu besar. Dia juga merasa
senang ketika menyalurkan pernafasan dan mendapat kenyataan dirinya tidak terluka
sedikit pun.
Siau Po sendiri masih bingung menghadapi kenyataan itu. Hui Cong menoleh dan
berkata kepadanya.
“Sute, semangatmu bagus sekali, hatimu kukuh tidak tergoyahkan Kau bisa bersikap
tenang meskipun ada bahaya yang mengancam. Kau juga cerdas sekali.”
Kaerltan panas sekali mendengar tuan rumah memuji adik seperguruannya, Dia
menoleh ke belakang dan mengeluarkan seruan yang berupa perintah, beberapa
pengawal di belakangnya langsung menggerakkan tangan masing-masing sehingga
terlihatlah sinar kuning berkelebatan bagaikan kilat datang menyambar.
Ternyata itulah senjata rahasia Kim Ci piau atau senjata rahasia uang emas yang
meluncur ke arah Hui Cong, Teng Koan dan Siau Po. sasarannya dada ketiga hwesio
tersebut.
Karena jarak mereka sangat dekat, maka serangan itu dahsyat sekali, Apalagi
Kaerltan bicara dengan bahasanya sendiri sehingga mereka tidak tahu apa artinya.
Yang jelas senjata-senjata rahasia itu meluncur tepat kepada sasarannya.
“Aduh” Terdengar Hui Cong, Teng Koan berseru, tapi sang ketua sempat
mengibaskan tangannya seperti tadi. Dia menggunakan ilmu Poa Lap Kong (llmu Jubah

Rombeng). Dengan demikian, tiga buah Kim Ci piau yang meluncur ke arahnya dapat
dihalangi sehingga dadanya tidak terluka.
Teng Koan menggunakan cara yang lain. Dia menyambut ketiga buah senjata
rahasia itu dengan jurus Keng Le Sam Po (Membalas penghormatan tiga mustika).
Caranya ialah dengan menggerakkan tangannya menangkap senjata rahasia tersebut
Yang hebat justru ketiga buah Kim Ci piau yang meluncur ke arah Siau Po. Selain
tidak bersiaga, kepandaiannya juga masih cetek, sehingga tanpa ampun lagi ketiga
buah senjata rahasia itu tepat mengenai dadanya, Dia pun menjerit seketika.
Meskipun demikian, hwesio cilik ini tidak roboh atau terluka, Yang jatuh justru ketiga
buah senjata rahasia tersebut. Hal ini karena dia mengenakan baju mustikanya.
Para tamu menjadi tertegun saking herannya. Di luar dugaan, seorang hwesio cilik
saja sudah menunjukkan ketangguhannya, Mereka mengira Siau Po menguasai salah
satu ilmu istimewa dari Siau Lim Pai yakni ilmu kebal yang dinamakan Kim Kong Hu Te
Sin Kang.
Zang Chi lama tertawa dan berkata.
“Kho Ceng kecil ini sungguh lihay Tidak mudah melatih ilmu Kim Kong Hu Te Sin
Kang sampai taraf ini. Namun ilmu yang satu” ini juga ada kelemahannya, yakni tidak
sanggup mengelakkan diri dari serangan senjata rahasia, hal ini terbukti dari jubahnya
yang bolong di sana sini.”
— Tidak heran hwesio yang masih kecil sudah menyandang huruf Hui, — pikir
beberapa orang tamu. – pantas kedudukannya bisa seimbang dengan sang ketua,
Ternyata dia memang lihay —
Sebenarnya, walaupun tidak terluka, Siau Po merasa kesakitan juga, serangan itu
cukup hebat Tapi karena dia memang keras kepala dan dapat menahan diri, dia tidak
meringis atau menjerit, justru dia mengembangkan senyuman yang manis. Karena
itulah, dia lebih menjadi perhatian ketimbang Hui Cong atau pun Teng Koan.
Sebetulnya Kaerltan gusar sekali, tapi melihat hwesio cilik itu benar-benar lihay,
kemarahannya langsung buyar. Diam-diam dia berkata dalam hatinya.
– Ternyata ilmu Siau Lim Pai memang hebat -“Sekarang kami telah melihat ilmu Siau
Lim Pai yang ternyata hebat dan tidak dapat disamakan dengan angin busuk seekor
anjing, Tapi, kabarnya di dalam kuil kalian tersimpan seorang wanita, hal ini tidak
pantas dan melanggar peraturan…” kata Zang Chi pula.
Mendengar kata-kata itu, wajah Hui Cong langsung berubah dingin.

“Kata-katamu keliru sekali, bapak lhama besar Wihara kami bahkan tidak menerima
tamu wanita yang ingin bersembahyang sekalipun Darimana datangnya sumber berita
yang tidak dapat dipercaya itu?” katanya dengan nada penuh wibawa.
Zang Chi tertawa dan berkata pula.
“Berita itu sudah tersebar luas di dalam dunia Kangouw dan semua orang
mengetahuinya.”
Hui Cong tersenyum.
“Berita yang tersiar dalam dunia Kangouw tidak usah dihiraukan” katanya, “Paling
bagus seperti Sute Hui Beng, hatinya tidak tergerak oleh apa pun yang datang dari luar,
Dia sudah memperoleh keinsyafan.”
Agaknya Zang Chi masih penasaran, dia berkata lagi.
“Kabarnya Kho Ceng kecil ini menyimpan wanita yang sangat cantik di dalam
kamarnya. Menurut berita yang kami dapatkan, dia sengaja menculik wanita itu, Kalau
benar demikian, mungkinkah hati Kho ceng kecil ini tidak tergiur melihat
kecantikannya?”
Siau Po terkejut setengah mati mendengar kata-kata orang itu.
— Bagaimana mereka bisa tahu aku menyimpan seorang wanita? Tanyanya dalam
hati, Dia jadi berpikir lagi. – Ah Aku tahu sekarang Berita ini tersiar pasti karena
kaburnya si nona berbaju biru, Dia tentu pergi menemui gurunya dan membeberkan
kejadian ini. Malah ada kemungkinan orang-orang ini datang ke mari karena diminta
bantuannya oleh si nona berbaju biru tua. Benarkah kedatangan mereka kemari untuk
menolong calon istriku itu? Tapi sekarang istriku sudah kabur, Rupanya dia tidak
bertemu dengan orang-orang dari rombongan ini. –
Karena si nona berbaju hijau itu sudah melarikan diri, meskipun terkejut, tapi Siau Po
tidak takut. Setelah mendengar kata-kata si lhama dari Tibet, dia pun tersenyum dan
berkata.
“Apakah di kamarku ada wanita cantik atau tidak, tentu kalian dapat mengetahuinya
setelah melihat sendiri Para tamu yang terhormat kalau kalian mempunyai kegembiraan
untuk melongoknya, silahkan”
“Baik” seru Kaerltan, “Mari kita periksa ke sana untuk mendapatkan kepastian”
Selesai berkata, pangeran ini langsung berdiri dan mengulapkan tangannya.
“Geledah kuil ini”

Perintah itu langsung saja dilaksanakan oleh anak buah pangeran itu, mereka segera
bergerak menuju ruang belakang wihara tersebut
“Yang MuIia, sabar dulu” kata Hui Cong. “Yang MuIia hendak menggeledah kuil
kami, entah atas perintah siapakah?”
“Sudah tentu perintahku sendiri.” sahut si pangeran “Mengapa harus menunggu
perintah orang lain?”
“Kalau begitu, pangeran telah berbuat kekeliruan.” kata Hui Cong sabar “Yang MuIia
seorang pangeran dari Mongolia, Kalau Yang MuIia sekarang berada di MongoIia, tentu
Yang MuIia boleh berbuat sesuka hati, Tapi di sini bukan wilayah Mongolia, karena itu
bukan hak Yang Mulia untuk mengurus persoalan Siau Lim Sie. Yang Mulia tidak
mempunyai wewenang itu.”
Kaerltan segera menunjuk kepada Ma Cong Peng.
“Kalau begitu, biar dia saja yang melakukan penggeledahan.” katanya, “Dia orang
dari pemerintahanmu, karenanya dia berhak melakukan penggeledahan.”
Pangeran ini tidak berani sembrono, jumlah orangnya kecil, dia khawatir, kalau harus
menggunakan kekerasan, mungkin pihaknya akan kalah, Para hwesio Siau Lim Sie
rata-rata berkepandaian tinggi dan jumlahnya juga banyak sekali. Karena itu dia segera
menambahkan “Kalau kalian membangkang terhadap perintah seorang pembesar
negeri, maka berarti kalian semua dapat disebut sebagai pemberontak.”
“Menentang perintah pemerintah kami tidak berani.” kata Hui Cong pula, Tapi Bapak
pembesar ini merupakan bawahan Peng Si Ong yang berkuasa di In Lam. Meskipun
sebagai seorang Raja muda, kuasanya besar sekali, namun tidak mencakup wilayah Hu
Lam ini.”
Zang Chi tertawa.
“Bukankah pendeta kecil ini sudah mengijinkan adanya penggeledahan? Mengapa
Hong Tio sendiri menolaknya? Apakah nona cantik itu bukan disembunyikan dalam
kamar si hwesio cilik ini tapi ada di dalam kamar Hong Tio sendiri?”
Hui Cong segera memuji Sang Buddha berulang-ulang.
“Dosa Dosa” katanya, “Taysu, mengapa kau sampai mengeluarkan kata-kata
seperti itu?”
Baru saja selesai Hui Cong berkata, dari belakang Kaerltan terdengar suara seorang
wanita yang berseru dengan lantang.

“Yang MuIia, memang benar adik perempuanku telah ditawan oleh si hwesio cilik itu.
Lekas suruh mereka serahkan adikku itu Kalau tidak, aku tidak mau mengerti, aku akan
membakar ludes kuil ini.”
Suara yang datangnya tiba-tiba itu membuat semua orang menjadi terkejut, lebihlebih
pihak Siau Lim Sie, Yang lebih aneh, suara yang terdengar itu suara seorang
wanita, sedangkan orangnya laki-laki berwajah kuning dan berewokan.
Hanya Siau Po seorang yang segera mengenali bahwa laki-Iaki itu samaran si nona
berbaju biru, Nona itu memulas wajahnya dengan lilin kuning dan memakai kumis serta
cambang palsu.
Rupanya dia datang secara diam-diam sehingga tidak ada orang yang
memperhatikannya, sebaliknya dari khawatir, Siau Po justru senang sekali, Dia berkata
dalam hati.
Selama beberapa hari ini aku terus bersedih, sampai she dan nama istriku sendiri
saja, aku tidak mengetahuinya, sedangkan aku pun bingung ke mana harus
mencarinya, Siapa tahu dia ada di dalam rombongan orang-orang MongoIia ini. Tidak
bisa tidak, pokoknya hari ini aku tidak akan membiarkannya lolos lagi.
Hui Cong juga segera mengenali si nona yang menyamar ini. Maka dia langsung
berkata.
“Oh, nona Kiranya kaulah yang kemarin ini datang melakukan penyerangan ke kuil
kami sehingga ada beberapa muridku yang terluka, memang ada seorang kawanmu
yang berdiam di kuil kami untuk diobati lukanya, tapi dia sudah pergi lagi, bukankah dia
pergi bersama-samamu?”
“Kebenaran itu hanya sebagian.” bantah si nona. suaranya keras karena dia memang
marah sekali, “Akan tetapi kemudian adikku telah ditawan oleh si hwesio cilik itu. Dalam
hal ini dia dibantu pula oleh si hwesio tua.”
Nona itu langsung menuding kepada Teng Koan, Siau Po jadi terkejut setengah mati.
– Celaka –, pikirnya dalam hati, – Teng Koan tidak pandai berdusta, ini berbahaya
sekali Bagaimana kalau rahasiaku sampai terbongkar? –, karenanya Siau Po jadi
kebingungan otaknya langsung berputar keras.
Si nona yang sedang menuding kepada Teng Koan berkata lagi dengan suara keras.
“Eh, hwesio tua Bicaralah Ayo bicara Benar atau tidak apa yang kukatakan
barusan?”
Teng Koan merangkapkan sepasang tangannya, dia tidak menjawab, tapi malah
balik bertanya.

“Nona, ke manakah perginya adik nona itu? Aku harap sudilah kiranya kau
memberitahukan kepada kami Paman guruku ini telah terluka olehnya, bahkan masih
ada sisa racun jahatnya yang mengendap dalam tubuh paman guruku ini. Oh, Li sicu,.,
sukalah kau bermurah hati, cepat kau cari adikmu dan minta obat darinya Dalam hal
ini, paman guruku pasti tidak akan menyalahkannya.”
Kata-kata ketua Poan Jiak Tong ini bagus sekali, Secara tidak langsung dia
mengakui bahwa nona itu pernah ada dalam kuilnya tapi sekarang sudah pergi lagi,
bahkan dia telah melukai paman gurunya dan meninggalkan racun dalam tubuhnya
yang bisa mengancam keselamatan jiwanya.
Semua mata diarahkan kepada Teng Koan, Melihat wajahnya yang lugu serta polos,
orang-orang yang hadir dalam ruangan itu langsung mempercayai kata-katanya.
Bahkan pihak si pangeran pun jadi berpikir.
– Kuil ini demikian besar dan luas, kamarnya saja ada ratusan. Pasti sukar untuk
menggeledahnya satu per satu, Mungkin kita memerlukan waktu yang lama untuk
melakukannya, Lagipula, hwesio tua itu telah menerangkan dengan jelas, seandainya
kami tetap menggeledah mana mungkin wanita itu bisa ditemukan? Bukankah dia telah
pergi? Seandainya kami memaksakan diri lalu tidak berhasil menemukan apa-apa,
bukankah kami akan menderita malu yang besar sekali?
Si nona yang sedang menyamar tetap tidak mau mengerti.
“Sudah terang adikku ditawan dan dibawa masuk ke dalam kuil ini, Kalau dia sampai
hilang, kemungkinan besar kalian telah mencelakainya, Kalian para hwesio yang
mendurhaka terhadap Thian yang maha Kuasa, Kalau kalian melenyapkan adikku itu,
memang tidak ada buktinya lagi,…”
Ketika mengucapkan kata-katanya yang terakhir suara si gadis bergetar, pertanda
hatinya gundah sekali.
“lya, memang benar” tukas Kaerltan sembari menganggukkan kepalanya, Sejak tadi
dia memang diam saja. ” Hwesio cilik itu… pasti bukan orang baik-baik.”
Si nona berhenti menangis, Dia menuding kepada Siau Po.
“Kau… kau memang manusia busuk” makinya, “Tempo hari, ketika berada di rumah
pelesiran, kau bergaul dengan segala pelacur, setelah melihat kecantikan adikku, kau
langsung berubah pikiran, kau berusaha bermain gila dengan adikku itu, Tentu adikku
itu tidak sudi melayanimu sehingga kau membunuhnya. Ke rumah hina saja kau pergi,
perbuatan apalagi yang tidak berani kau lakukan?”
Hui Cong mendengar dengan jelas setiap patah kata yang dikatakan gadis itu. Dalam
hati dia tertawa.
— Mana mungkin — katanya dalam hati.

Teng Koan lebih-lebih tidak percaya kata-kata si nona, Dia melihat sendiri si paman
guru bersungguh-sungguh menjadi hwesio, Apaiagi paman guru itu mewakili kaisar.
Bukankah dia masuk menjadi hwesio secara sah dan resmi? Sejauh ini, dia pun tidak
pernah melihat tindakan yang menyeIeweng dari paman gurunya itu.
Sementara itu, Siau Po masih kebingungan.
Hebat sekali caci maki si nona, Di saat yang genting itu, tiba-tiba seseorang muncul
dari belakang, Ma Cong Peng dan merangkapkan kedua tangannya memberi hormat
kepada si nona sembari berkata
“Ji kounio, hamba tahu sekali bahwa bapak guru kecil ini sangat taat beragama,
patuh kepada peraturan dan pantangan Kalau dikatakan beliau pernah main gila di
rumah hina, hamba… hamba khawatir telah terjadi kekeliruan.”
Semua orang segera menoleh dan mengawasi orang yang berbicara itu, Saat itu
Siau Po sudah mengenalinya, Orang itu ialah Yo Ek Jie yang pernah ditemuinya di Kota
raja.
Ketika itu Yo Ek Jie mengawal Go Eng Him dan Siau Po sempat berkawan
dengannya, Rupanya, setelah Eng Him kembali ke In Lam, Ek Jie kembali lagi
mengiringi Ma Cong Peng.
Sejak tadi dia selalu berada di belakang pembesar negeri itu sehingga tidak dapat
melihat dengan jelas siapa hwesio cilik yang sedang diajak berbicara itu.
Si nona gusar sekali kepada orang yang ikut campur dalam urusannya itu.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya dengan keras, “Tidak mungkin kau kenal
dengannya.”
Yo Ek Jie bersikap hormat sekali ketika menjawab pertanyaannya.
“Hamba kenal dengan sian su muda ini, Bahkan Sicu hamba juga kenal dengannya,
Terhadap istana kami, sian su ini sudah menanamkan budi yang besar, Sebelum
menyucikan diri Siau Su ini adalah seorang Kong Kong dalam istana Sri Baginda.
Karena itulah hamba berani mengatakan bahwa tuduhan ke rumah hina itu atau
memaksa Sam kounio (nona ketiga) pasti bukan kenyataan Ji kounio, hamba harap
sudilah kiranya Ji kounio mengerti.”
Hampir semua hadirin mengeluarkan seruan tertahan Mereka pun jadi tertegun
Diam-diam mereka berpikir.
— Kalau dia benar seorang thay-kam, tentu tidak mungkin dia pergi ke rumah hina,
lebih-Iebih tidak mungkin menyembunyikan seorang wanita di dalam kamarnya untuk
diperkosa —

Nona itu melihat wajah para hadirin, dia menjadi mendongkol jelas orang-orang itu
tidak mempercayai keterangannya lagi, Dia toh tidak sembarangan menuduh? Karena
itu, dengan sengit dia membentak.
“Bagaimana kau tahu dia seorang thay-kam? Kalau dia benar seorang kebiri,
mengapa dia mengatakan kepadaku bahwa dia ingin menikahi adikku? Dan bukan
hanya si hwesio cilik itu saja yang ceriwis, si hwesio tua pun pandai menggoyangkan
lidahnya, Dan mau menang sendiri.”
Sembari berkata, si nona menuding lagi kepada Teng Koan.
Mata para hadirin pun beralih lagi kepada Teng Koan Hwesio itu sudah berusia
delapan puluhan tahun, wajahnya welas asih, gerak-geriknya halus, bahkan
tampangnya ketolol-tololan. Sedangkan, barusan mereka semua mendengar katakatanya
juga kurang lancar, bicaranya agak gugup.
Karena itu, mana ada orang yang percaya kalau dia pandai memutar lidah? sebagian
besar dari mereka langsung merasa menyesal telah mengikuti permintaan si nona
dengan mendatangi kuil ini.
Sementara itu, terdengar Yo Ek Jie berkata kembali
“Ji kounio, kounio tentu belum tahu siapa sian su kecil ini sebenarnya. Sebelum
menjadi hwesio, dia mempunyai nama yang besar sekali. Dialah Kui Kong Kong yang
telah berhasil membunuh Go Pay si menteri durhaka. Ongya kami telah termakan fitnah
orang, untung ada sian su kecil ini yang sudi berbicara dan menjelaskan semuanya di
hadapan Sri Baginda, kalau tidak, mungkin seluruh keluarga Ongya kami bisa mati
penasaran Budi yang besar ini masih belum terbalaskan oleh kami sampai saat ini.”
Para hadirin semuanya sudah pernah mendengar prihal kematian menteri Go Pay di
tangan seorang thay-kam cilik, Semua orang juga tahu, Kui Kong Kong atau thay-kam
cilik itu sangat disayangi raja. Karena itu, ketika mendengar penjelasan Yo Ek Jie
kembali mereka mengeluarkan seruan tertahan Mereka menjadi kagum sekali.
Sementara itu, bukan main leganya hati Siau Po. Dia segera menghampiri Yo Ek Jie.
Sembari tertawa dia berkata.
“Saudara Yo, sudah lama sekali kita tidak bertemu Bagaimana kabarnya Sicu kalian
di In Lam? Apakah beliau baik-baik saja? Aih Saudara, untuk apa kau ungkit lagi
peristiwa yang telah lalu?”
Meskipun Yo Ek Jie mengikuti Ma Cong Peng mendaki bukit Siau Sit san tersebut,
tapi selain orang-orangnya Peng Si Onghu sendiri, baik pengikut si pangeran maupun
para lhama tidak ada yang mengetahui namanya.
Karena itu, begitu mendengar Siau Po memanggilnya dengan sebutan “Saudara Yo,”
mereka langsung percaya bahwa kedua orang itu memang saling mengenal.

Mendengar sapaan Siau Po itu, Yo Ek Jie langsung tersenyum.
“Sian su baik sekali” kata nya. “Sian su menyebut hal itu sebagai peritiwa kecil tapi
Sicu kami justru sangat berterima kasih, Memang Sri Baginda sangat bijaksana dan
pandai membedakan hitam serta putih, tapi kalau waktu itu sian su tidak
menjelaskannya, pasti ongya kami akan mendapat banyak kesulitan sebelum
semuanya menjadi terang.”
“Ah, kau cuma memuji, saudara Yo” kata Siau Po. “Yang benar, ongya kalianlah
yang terlalu sungkan.”
Meskipun di mulutnya Siau Po berkata demikian, tapi di dalam hatinya dia justru
mendumel.
– Aku menyesal tidak berhasil merobohkan ongya kamu itu. sebenarnya Sri Baginda
memang cerdas sekali dan telah tahu semuanya dengan jelas. sedangkan aku hanya
mengikuti arusnya saja, Namun, siapa sangka perbuatanku itu justru mendatangkan
kebaikan sehingga hari ini aku dapa lolos dari mala petaka…. —
Sementara itu, Kaerltan menatap si anak muda dengan seksama, Sesaat kemudian
dia baru berkata.
“Oh, rupanya kaulah si thay-kam cilik yang sudah membinasakan Go Pay. Ketika di
MongoIia, aku telah mendengar namamu yang menjadi buah bibir di mana-mana.
Karena Go Pay jago nomor satu dari Boan Ciu, maka ilmu silatmu pasti berasal dari
partai Siau Lim Sie ini.”
Siau Po tertawa dan menyahut dengan merendahkan diri.
“llmu silatku cetek sekali, tidak ada harganya disebut-sebut, Hanya akan menjadi
bahan tertawaan saja, Sebenarnya, orang yang mengajarkan ilmu silat padaku cukup
banyak, salah satunya ialah saudara Yo ini, dia mengajarkan aku dua jurus Heng Siau
Ciang kun dan Ko San Liu Sui.”
Selesai berkata, Siau Po langsung menjalankan kedua jurus itu, Dia memang tidak
menguasai tenaga dalam, tapi orang tidak akan mengetahuinya Yang penting kedua
jurus yang disebutkan dijalaninya dengan benar.
Setelah Siau Po selesai bersilat, Yo Ek Jie berkata kembali
“Kedua jurus inilah yang menjadi andalan kita ketika itu, Karena siansu menunjukkan
kedua ilmu ini di hadapan Sri Baginda, untuk membuktikan kata-katanya, jadi jelaslah
ongya kami hanya termakan fitnah musuhnya.”
Mendengar pembicaraan itu, hati si nona berbaju biru tidak begitu gusar lagi, Dia
lantas memperhatikan Ek Jie dan bertanya.

“Yo si siok (Paman keempat), benarkan Peng Si Ong berhutang budi sebesar itu
kepada nya ?”
“Benar, Ji kounio,” sahut Ek Jie. “Kalau kounio bertemu dengan Sicu, kounio bisa
menanyakan sendiri duduk persoalannya sehingga jelas.”
Si nona berdiam diri sejenak.
“Lalu,” dia menoleh kepada Siau Po kembali “Kau telah melakukan hal yang
sedemikian terhadap kami kakak adik berdua, apakah kau hanya bergurau atau
memang mengandung maksud tertentu?” suaranya tidak sekeras sebelumnya lagi.
“Bergurau? Sama sekali aku tidak berani, kalau mempunyai maksud tertentu, itu
memang benar,” sahut Siau Po. sementara itu, dalam hatinya dia berkata, — Maksudnya
ingin menikahi adikmu.,., -Tapi dia tidak mengutarakannya, dia hanya berkata, “Tapi di
sini banyak orang, tidak leluasa aku mengatakannya.”
“Apa maksudmu itu?” tanya si nona.
Siau Po tersenyum, Dia tidak memberikan jawaban apa-apa.
Mendengar pembicaraan kedua orang itu dan menilik sikap si hwesio cilik, orangorang
jadi berpikir
— Kalau dia mempunyai maksud tertentu, pasti tidak dapat mengatakannya di depan
orang banyak..,.
Sampai di situ, Zang Chi segera bangkit dan merangkapkan kedua tangannya untuk
memberi hormat.
“Hong tio, Hui Beng Siansu, kedatangan kami ini sungguh sembrono, kami mohon
maaf Perkenankanlah kami mengundurkan diri sekarang” katanya.
Hui Cong segera membalas hormatnya.
“Para tamu yang terhormat sekalian telah datang dari tempat yang jauh, sebaiknya
kita bersantap bersama dulu sebelum kalian mohon diri.” katanya, Kemudian dia
menoleh kepada si nona berbaju biru yang sedang menyamar itu. “Kau seorang wanita,
Kau memang sedang menyamar sebagai pria dan lancang memasuki kuil kami. Urusan
yang sudah lewat tidak perlu kita ungkit kembali, tapi… untuk mengundang kau makan
bersama-sama, rasanya kurang… tepat.”
Zang Chi tertawa lagi dan berkata.
“Terima kasih Terima kasih” katanya, “Harap Hong Tio tidak perlu repot-repot Tidak
perlulah kami bersantap bersama.” Dan dia langsung mengajak rombongannya
mengundurkan diri dari kuil tersebut.

Para hadirin itu langsung memberi hormat Hui Cong, Siau Po dan Teng Koan
mengantarkan sampai di pintu halaman.
Tepat pada saat itulah terdengar suara bisingnya derap kaki belasan ekor kuda ke
arahnya. Dalam sekejap mata rombongan yang terdiri dari enam belas orang Gi Cian
Sie Wie atau pengawal istana raja telah sampai.
Tiba di depan kuil, keenam belas orang Sie Wie itu langsung melompat turun dari
kuda masing-masing kemudian membentuk tiga barisan yang rapi menghampiri Siau
Po.
Dua orang Sie Wie yang jalan paling depan ialah Tio Kong Lian dan Cio Ci Hian.
Begitu melihat Siau Po, mereka segera menyapa dengan suara nyaring.
“Tou… tayjin, apakah tayjin baik-baik saja?”
Sebenarnya mereka hendak memanggil Tou tong tayjin, tapi ketika melihat jubah
pendeta yang dikenakan si anak muda, mereka menjadi ragu. Selesai berkata,
keduanya segera memberi hormat kepada Siau Po.
Senang sekali hati Siau Po melihat kedatangan rombongan itu.
“Tuan-tuan sekalian, silahkan bangun” katanya ramah. “Kalian tidak perlu
melakukan banyak peradatan. justru setiap hari aku sedang menunggu-nunggu
kedatangan kalian.”
Kaerltan merasa heran dan kagum melihat para pengawal istana bersikap demikian
menghormat kepada si hwesio cilik, sekarang dia tidak berani tidak memandang mata
lagi kepada Siau Po.
– Ternyata hwesio cilik ini memang mempunyai kedudukan yang tinggi –, pikirnya,
Kong Lian dan yang lainnya merupakan pengawal-pengawal pribadi raja, Terhadap
para pembesar dari propinsi luar, mereka tidak memandang sebelah mata. Karenanya,
ketika melihat Ma Cong Peng, mereka hanya mengangguk sedikit dan tidak
menghiraukannya lagi, Mereka langsung berbicara dengan Siau Po.
Kelihatan tidak puas melihat sikap para Sie Wie itu. Hatinya menjadi panas.
“Hm” Dia mengeluarkan dengusan dingin, “Ayo berangkat, tidak tahan aku
menyaksikan wajah-wajah yang tidak tahu malu ini” Kemudian dia memberi hormat
kepada Hui Cong dan yang lainnya lalu berjalan dengan langkah cepat dan diikuti oleh
orang-orangnya.
Setibanya di pendopo besar, Tio Kong Lian segera mengeluarkan firman raja yang
langsung dia bacakan. Kaisar menghadiahkan uang sebanyak dua laksa tail kepada
pihak Siau Lim Sie. Untuk digunakan sebagai biaya memperbaiki kuil serta patungTiraikasih
website http://cerita-silat.co.cc/
patung yang rusak, sedangkan kepada Siau Po, dianugerahkan sebutan kehormatan,
yakni “Hu Kok Hong Seng Siansu” (Pendeta terhormat yang membantu negara
menghormati sang nabi).
Hui Cong dan Hui Beng segera berlutut dan menyatakan terima kasihnya.
Selesai menjalankan upacara singkat itu, Kong Lian dijamu air teh. Setelah itu, Siau
Po mengajak pengawal pribadi raja itu ke dalam kamarnya bersama Cio Ci Hian, Di
dalam kamar itu setelah berbicara sebentar, Tio Kong Lian segera berkata.
“Sri Baginda menitahkan agar Tayjin segera menetapkan hari untuk berangkat ke
gunung Ngo Tay san.”
“Baik” sahut Siau Po. Dia memang telah menduga akan datang titah itu.
Kong Lian merogoh sakunya, Dia mengeluarkan apa yang disebut firman rahasia,
dengan kedua tangannya dia menyerahkan firman itu kepada Siau Po.
“Sri Baginda juga mengirimkan firman rahasia ini….”
Siau Po menjatuhkan dirinya berlutut ketika menerima firman tersebut Katanya dalam
hati, -Entah ada perintah apa lagi? Aku buta huruf Bagaimana aku mengenali kata-kata
dalam firman ini? Katanya ini firman rahasia, jadi aku tidak dapat memperlihatkannya
kepada Kong Lian atau Coi Ci Hian, Lebih baik aku minta bantuan Hong To suheng,
tentu dia tidak akan membocorkan rahasia.
Dengan membawa firman itu, Siau Po segera menemui Hui Cong taysu.
“Hong Tio suheng, ada firman rahasia untukku, sudilah kiranya suheng memberi
petunjuk kepadaku” katanya sambil membuka firman tersebut
Rupanya isi firman itu terdiri dari empat helai peta. Gambar yang pertama merupakan
sebuah gunung dengan kelima puncaknya, Siau Po segera mengenalinya sebagai
gunung Ngo Tay san. Di bagian utara dari puncak selatan terdapat sebuah wihara
dengan nama “Ceng Liang si.” Karena sempat berdiam cukup lama dalam kuil itu, Siau
Po jadi mengenali huruf-huruf itu.
Gambar yang kedua melukiskan seorang hwesio cilik tengah memasuki sebuah kuil
dan papan di atasnya juga bertuliskan huruf “Ceng Liang si.”
Di belakang hwesio itu mengiringi serombongan pendeta dan di atas kepalanya
terdapat tulisan “hwesio-hwesio Siau Lim Sie.” Huruf-huruf itu juga dikenal oleh Siau Po.
Gambar yang ketiga adalah gambar sebuah pendopo, yakni Tay Hiong Po Tian. Di
sana ada seorang hwesio cilik yang duduk di kursi pertama dan letaknya di tengahtengah
ruangan.

Hwesio cilik itu bukan lain daripada Siau Po sendiri, Dia mengenakan jubah merah,
jubah seorang Hong Tio atau kepala pendeta. Dia didampingi oleh sejumlah hwesio
Iainnya. Melihat gambar yang telah dia kenal dengan baik itu, Siau Po menjadi tertawa
sendiri.
Sekarang dia membeberkan gambar yang keempat Kali ini tampak seorang hwesio
kecil sedang berlutut di hadapan seorang hwesio lainnya. Usia hwesio itu sekitar empat
puluhan tahun, wajahnya putih bersih, mengandung wibawa besar dan enak dipandang,
Tentu saja hwesio itu dilukiskan sebagai Heng Ti taysu atau kaisar Sun Ti yang telah
menyucikan diri.
Melihat keempat gambar tersebut Siau Po mula-mula tidak mengerti artinya, Dia
memperhatikan dengan seksama, Begitu pula Hui Cong taysu, Mereka sama-sama
menguras otak.
Siau Po membalikkan gambar yang pertama, Dia tahu lukisan itu mengartikan bahwa
dia harus menuju gunung Ngo Tay san. Tapi hal itu memang sudah diketahuinya, untuk
apa Sri Baginda melukiskannya lagi, Siau Po menggaruk-garuk kepalanya yang tidak
gatal
Setelah menerima dan membaca isi surat dari raja yang isinya meminta pada Siau
Po pergi ke Ngo Tay san guna merawat ayah raja di kuil Ceng Liang Sie.
Mulanya Siau Po sangat gembira menerima surat dari raja, Tetapi, setelah diketahui
isinya ia lalu berpikir, sampai kapankah ia harus merawat ayah raja? Apakah ia harus
menjadi biksu sampai tua?
“Sute selamat kau telah diperintahkan raja untuk pergi ke Ngo Tay san, di sana kau
akan menjadi seorang ketua, kau tahu? Usia kuil itu lebih tua dari kuil ini, Sute,
harapanku semoga kau berhasil dalam memajukannya” kata Hui Cong.
Siau Po hanya menggelengkan kepala, “Sebenarnya aku tak sanggup menjadi ketua
di sana, aku akan ditertawakan orang.” keluh Siau Po. “Kau jangan merendah, kau kan
dapat membawa pendeta di sini untuk membantumu dan kau pun di suruh membawa
pendeta itu katanya dalam surat itu dan mereka juga bawahanmu pasti mereka akan
menurut dan membantumu.” jawab Hui Cong memberikan keyakinan.
Siau Po terdiam dan katanya dalam hati, “Raja memang pandai, sebelum aku
disuruh merawat ayahnya yang berada di kuil itu aku disuruh menjadi biksu di kuil ini
agar nanti aku dapat dipindah ke Ngo Tay san dengan membawa biksu pilihanku.
Karena ayah raja sekarang telah menjadi biksu, maka tak mungkin ia mau selalu
dikawal oleh para Sie Wie, hal itu untuk menghilangkan kecurigaan di samping itu juga
salah satu pendeta di sini ada yang berada di sana dan itu sangat memudahkan Orang
tak kan tahu kalau ayah raja masih tetap dikawal, Tetapi kali ini bukan oleh para Sie
Wie melainkan oleh para biksu,” katanya.

Setelah berpikir demikian Siau Po lalu kembali ke kamarnya untuk mengambil uang
dan dihadiahkan pada para pengawal yang telah membawakan surat itu.
Satah satu dari mereka lalu berkata, “Sejak dahulu hingga sekarang ini, baru kali ini
seorang biksu memberikan hadiah pada pengawal raja” katanya gembira. Siau Po
tertawa.
“Biksu tua tidak, tetapi biksu cilik ya” katanya, “Sute, tentang perintah raja kami tak
banyak tanya, tetapi jika sute memerintahkan pada kami, kami akan mematuhi sama
halnya dengan kami menerima perintah dari raja kami akan setia padamu.” katanya.
“Jika Sute akan melakukan sesuatu kami bersedia mewakilinya, Umpamanya saja,
kamu akan mengambil kitab ilmu silat Siau Lim Sie atau membakar perpustakaan itu
kami akan melakukannya.” jawabnya pula.
Bagian 46
Mendengar ucapan itu Kiong Lian tertawa.
“Ya, itulah yang dinamakan merampok, selagi ada kebakaran kita mengambil kitab
itu.” katanya.
Siau Po terkejut lalu berkata dalam hati.
“Ya, mereka menyangka aku dikirim ke mari ada maksud tertentu yaitu untuk
mendapatkan kitab ilmu silat itu dan bukankah raja sangat menyukai ilmu silat?”
katanya dalam hati.
“Jangan khawatir dalam hal itu aku sudah berhasil katanya sambil tertawa.
“Dasar rejeki besar Baginda raja, kau memang sangat cerdik dan kau sudah
membangun jasa.” jawabnya.
“Apakah kau hendak menyerahkan pada raja, dan jika kau dicurigai kau dapat
mengijinkan mereka menggeledah kau.” jawabnya.
Siau Po tertawa lagi.
“Sejauh itu tak usah, kau cukup memberikan laporan pada raja jika suratnya telah
sampai ketanganku, dan aku berjanji akan bekerja dengan sebaik-baiknya.” jawab Siau
Po.
“Kiranya kau telah membaca kitab itu, itu sangat baik karena dengan demikian kau
dapat mengingat-ingat isi kitab silat Siau Lim Sie yang sangat terkenal itu.” kata
seorang Sie To.

“Memang itu yang terbaik, ada buku atau tidak itu tidak mengapa yang penting kau
sudah dapat

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s