“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 58

kakakku orang-orang entah apamu?
Bukankah kau hendak menawan aku dan membawaku pulang ke rumahmu? Kau
benar-benar manusia busuk”
Siau Po tertawa terbahak-bahak.

“Segala wanita busuk itu, apakah yang mereka ketahui?” katanya, “Kelak kalau aku
sudah menikah denganmu, biarpun laksaan pelacur itu berbaris di hadapanku, tidak
akan aku Wi Siau Po meliriknya walau sekilas pun. pokoknya sepanjang hari, selama
dua puluh empat jam, aku hanya memperhatikan kau seorang yang aku sayangi.”
Nona itu tampak cemas kembali.
“Lagi-Iagi… kau memanggiI… aku sebagai istri.” teriaknya marah. “Untuk selamalamanya
aku tidak sudi berbicara lagi denganmu.”
Siau Po malah senang mendengar kata-katanya.
“Baik, baik” katanya cepat, “Aku tidak akan menyebutnya lagi, Aku hanya akan
mengingatnya saja dalam hati.”
“Di dalam hati sekali pun aku larang kau menyebutnya.” kata si nona.
Si bocah iseng jadi tertawa.
“Kalau aku menyebutkan dalam hati, mana kau bisa tahu?”
“Mengapa aku tidak tahu? Dari mimik wajahmu yang luar biasa anehnya itu saja, aku
pasti bisa mengetahuinya.”
“Tentang wajahku ini, asalnya memang sudah begini. Mungkin ketika baru dilahirkan
saja, aku sudah tahu kelak akan menikah denganmu.” sahut Siau Po sambil tersenyum
cengengesan.
Nona itu memejamkan matanya kembali Tidak sudi dia melayani Siau Po berbicara
lebih jauh.
“Eh, aku toh tidak memanggilmu istriku lagi?” kata Siau Po. “Mengapa kau malah
membungkam?”
“Huh kau masih berani menyangkal” teriak si nona, “Baru saja kau mengatakan kau
sudah mengetahui kelak akan,., ah Pokoknya kau tahu sendiri apa yang telah aku
katakan.”
“Baik, baik” kata si bocah iseng, “Aku tidak akan menyebutnya lagi, Aku hanya ingin
mengatakan bahwa kelak aku akan menjadi suamimu.”
Nona itu gusar sekai. Tetapi dia tidak memberikan komentar apa-apa. Bahkan
selanjutnya, apa pun yang dikatakan Siau Po untuk menggodanya, ia tetap
membungkam.
Kewalahan juga si pemuda iseng itu, pernah terlintas dalam benaknya untuk berkata
“Kalau kau tetap membungkam, aku akan mencium pipimu yang halus.” Tetapi

kemudian dia mengurungkan pikiran itu. Dia menarik nafas panjang dan berkata dengan
nada perlahan.
“Aku hanya ingin mengetahui nama dan she mu. Setelah itu aku akan
membebaskanmu.”
“Kau bohong.” kata si nona. “Kau hanya ingin memperdayai aku.”
“Di kolong langit ini, Semua orang dapat aku tipu, tapi engkau tidak.” sahut Siau Po.
“Kata-kataku ini ibarat pepatah “Sekali diucapkan, seekor kuda pun sukar
mengejarnya.” Malah kalau istriku yang manis tidak sudi bicara, jangan kata kuda mati,
kuda hidup pun sulit menyusulnya.”
Kata-kata yang diucapkan Siau Po memang selalu aneh-aneh, pepatah apa pun
yang pernah didengarnya selalu diubahnya seenaknya sendiri Dan si nona pun menjadi
tertegun karenanya.
“Apa artinya kuda mati sukar mengejarnya dan kuda hidup pun sulit menyusulnya?”
“Itulah ujaran yang diajarkan pihak Siau Lim Pay kami,” sahut Siau Po. “Pokoknya
aku tidak mendustaimu, Coba kau bayangkan saja, satu-satunya pikiran yang ada
dalam hatiku ini hanya mengharap cucumu kelak akan memanggil kakek kepadaku
Kalau hari ini aku membohongimu, mungkin anakmu saja tidak mau memanggil aku
sebagai ayah, apalagi cucumu.”
MuIa-mula si nona bingung mendengar ucapan Siau Po yang aneh itu. Namun
akhirnya dia sadar, pulang pergi, Siau Po tetap menyebutnya sebagai istri. Hanya dia
menyatakannya dengan cara yang tidak langsung saja.
“Aku juga tidak berharap kau membebaskan aku, kau sudah mempermalukan aku
sedemikian rupa, aku tidak ingin hidup lebih lama lagi, Kalau kau memang bersedia
berbuat kebaikan, bunuh saja aku.”
Siau Po memperhatikan batang leher. di sana ada tanda merah bekas luka senjata
tajam, Dia jadi tidak enak hati, Karena itu, dia langsung menjauhkan dirinya berlutut dan
menyembah sebanyak empat kali di hadapan si nona, Setiap kali dahinya sampai
membentur lantai.
“Maaf, nona” katanya, “Aku telah memperlakukan engkau dengan buruk.”
Tidak cukup hanya dengan berlutut serta menganggukkan kepalanya, Siau Po malah
menampar pipi kiri dan kanannya sendiri berulang kali sehingga terdengar suara yang
keras dan kedua belah pipinya menjadi merah serta bengap.
“Jangan bersusah hati, nona” katanya kemudian. “Aku memang anak yang kurang
ajar, aku patut dihajar”

Selesai berkata, Siau Po berdiri, Kemudian dia pergi ke ambang pintu dan berkata
dengan lantang.
“Eh, keponakan muridku, aku ingin membebaskan totokan nona ini, ToIong kau
katakan jalan darah mana yang harus ku totok”
Sejak tadi Teng Koan memang terus berdiri menunggu di depan pintu, Dia memiliki
tenaga dalam yang hebat Meskipun Siau Po dan si nona selalu bicara dengan perlahan,
tapi dia dapat mendengar semuanya dengan jelas, karena itu dia percaya paman
gurunya itu memang pandai membujuk si nona.
Bahkan kemungkinan paman guru yang kecil itu masih mempunyai kepandaian lain
yang kelak akan berharga baginya, Ketika mendengar pertanyaan Siau Po, dia segera
menjawab.
“Nona itu tertotok pada jalan darah Thian Ki di kakinya,” sahutnya cepat “Karena itu
kau harus menotok dua jalan darah di pahanya, yakni jalan darah Ki bun dan Hiat Hay.
Asal kedua jalan darah itu diurut, nona itu akan segera terbebas dari totokannya.”
“Di mana letaknya kedua jalan darah Ki Bun dan Hiat Hay?” tanyanya, “Di sini,” sahut
Teng Koan sambil menunjukkan jalan darah yang dimaksud sekaligus mengajarkan
cara mengurutnya, “Susiok tidak mengerti ilmu totokan, usaha Susiok itu akan berjalan
lambat, tapi asal kau mengurutnya perlahan, nanti jalan darah nona itu pasti akan bebas
juga.”
Siau Po mengangguk, kemudian dia kembali ke dalam kamar.
“Tidak perlu kau membebaskan jalan darahku,” kata si nona yang dapat mendengar
jelas penjelasan Teng Koan tadi. “Aku larang kau menyentuh tubuhku.” Terang si nona
tidak sudi dirinya disentuh oleh Siau Po, meskipun hanya bagian kakinya saja.
Siau Po pikir memang kurang pantas kalau dia menyentuh bagian kaki si nona
apalagi mengurutnya, Dia yakin, meskipun tujuannya baik, nona itu tetap akan
mencurigainya dan menganggapnya ceriwis .
— Akan tetapi, dia perlu dibebaskan, –, pikirnya kemudian — Aku juga tidak boleh
kehilangan kesempatan yang baik ini, tapi si nona ini berhati keras, Aku ingin
membebaskannya, tapi bagaimana kalau setelah bebas, dia membenarkan kepalanya
ke dinding? Aku tentu tidak dapat mencegahnya. Dengan demikian, hilang pula
keturunan anak serta cucuku —
“Kecuali dengan urutan, apakah ada cara lain?” tanyanya kemudian kepada Teng
Koan.
“Banyak jalannya,” sahut hwesio yang ditanya.

“Umpamanya dengan kibasan lengan baju untuk menotok dari jarak jauh, Tapi
Susiok tidak mengerti ilmu Tan Ci Sin Kang, tentu sulit melakukannya, Coba tunggu
sebentar, Sutit akan memikirkan cara yang lainnya lagi….”
Sebenarnya, asal dia sendiri yang mengibaskan lengan bajunya dan menotoknya
dari jauh, tentu totokan nona itu akan terbebaskan Tapi hwesio yang satu ini memang
aneh, sedangkan paman gurunya terus mendesaknya, Dia merasa merupakan
kewajiban baginya untuk menjawab pertanyaan paman gurunya itu.
Sedangkan kalau paman gurunya itu harus belajar ilmu menotok dulu, Mungkin akan
memerlukan waktu satu tahun baru cukup mahir menggunakan nya.
Siau Po memperhatikan keponakan muridnya, dia heran sekali, Teng Koan berdiam
diri cukup lama untuk berpikir Karena itu, dia menggunakan kesempatan itu untuk
menatap si nona. Dia merasa aneh mengapa dia harus merasa segan terhadap gadis
yang satu ini.
Kening nona itu tampak berkerut, tampaknya dia sedang merasa sedih, wajahnya
mendatangkan perasaan haru serta kasihan
Dengan membawa kayu Bok Gi (Biasa digunakan untuk membaca doa sambil
diketuk-ketukkan), Siau Po menghampiri nona itu dan berkata.
“Rupanya pada penitisan yang terdahulu, aku Wi Siau Po pernah berhutang budi
kepadamu, mungkin itulah sebabnya aku menjadi penakut di depanmu, sekarang aku
ingin menyatakan bahwa aku takluk kepadamu, Aku ingin membebaskan totokanmu,
tapi aku ingin kau tahu bahwa aku tidak berniat mengambil keuntungan darimu dalam
hal ini.”
Sembari berkata, dia membuka jubahnya untuk digunakan sebagai penutup kaki si
nona lalu, mengetuknya perlahan-lahan sebanyak beberapa kali.
Nona itu menatap Siau Po dengan tajam, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.
“Bagaimana?” tanya Siau Po setelah mengetuk-ngetuk, “Apakah sudah ada rasa nya
?”
Si nona tidak menjawab pertanyaan Siau Po. Dia malah memakinya.
“Kau.,, kau… hanya pandai menggunakan kata-kata busuk seperti buaya darat.”
dampratnya, “Hal lainnya kau tidak sanggup sama sekali.”
Mendongkol juga hati Siau Po mendengar makian si nona, Dia tidak mengerti tenaga
dalam Meskipun totokannya sudah tepat, tapi hasilnya tidak berupa kenyataan itulah
sebabnya si nona mengejeknya, dia mengira Siau Po hanya pandai membual Dalam
keadaan sengit, Siau Po menotok lagi beberapa kali dengan keras.

“Aduh” jerit si nona. “Aduh”
“Kenapa?” tanya Siau Po kaget, “Sakit?”
“Aku… aku.,.” kata nona itu terus berdiam diri lagi.
Siau Po menotoknya kembali Kali ini perlahan-lahan. Tampak tubuh si nona bergerak
sedikit, seperti orang yang menggigil kedinginan.
Melihat hal itu, senang sekali hati Siau Po.
“Bagus” serunya, “Berhasil Siau Lim Pay memiliki tujuh puluh dua macam ilmu yang
istimewa, tapi dengan ditambahnya ilmu totokanku ini, jumlahnya menjadi tujuh puluh
tiga macam, ilmu ini merupakan ciptaan Hui Beng Sian Su dan dinamakan Bok Gi Tui
Kay Hiat Sui Kang (Totokan dengan kayu Bok gi sehingga bebas merdeka)
“Hmm” Puas sekali hati si anak muda sehingga dia mengeluarkan kata-katanya
barusan, Tepat pada saat itulah dia merasa pinggangnya sakit lalu tubuhnya tidak bisa
digerakkan lagi sehingga dia hanya berdiri terpaku.
Sebaliknya si nona sudah berjingkrak bangun, Setelah itu dia merampas pisau belati
dari tangan Siau Po lalu digerakkannya ke arah dada si anak muda.
Bukan main terkejutnya hati Siau Po melihat keadaan itu.
“Aduh” jeritnya, “Kau membunuh suamimu” Dan dia roboh terkulai di atas tanah.
Nona itu menjejakkan kakinya dan melompat ke ambang pintu.
“Li sicu” teriak Teng Koan yang sempat melihat dan mendengar semuanya dengan
jelas, “Kau membunuh paman guruku?”
Nona itu tidak memberi kesempatan kepada hwesio itu untuk menghadang atau
menghalangi jalannya, Baru saja Teng Koan bermaksud menghadangnya, dia sudah
menyerangnya dengan gencar Golok Liu Yap To yang ada di tangan kirinya sudah
dipindahkan ke tangan kanan.
Teng Koan menghindarkan diri, dia menangkis dengan kibasan lengan bajunya,
Nona itu langsung merasa kakinya menjadi lemas kemudian roboh di atas lantai.
Teng Koan sendiri langsung menghambur ke dalam kamar untuk melihat keadaan
paman gurunya. Ternyata pisau belati Siau Po sendiri sudah menancap di dada kanan
si anak muda, Tanpa menunda waktu lagi, dia segera melancarkan beberapa totokan
untuk menghentikan pendarahannya.

“Terima kasih kepada Sang Buddha” puji hwesio itu sambil mencabut pisau belati
tersebut. Darah pun bermuncratan seketika dari luka Siau Po. untung tidak terlalu
banyak karena jalan darahnya sudah ditutup oleh Teng Koan.
Hwesio itu langsung membuka pakaian si anak muda, Diperiksanya luka Siau Po
yang tidak seberapa Iebar, sedangkan dalamnya hanya satu dim. Kembali dia
mengucapkan puji syukurnya,
Siau Po mengenakan baju mustika, seandainya pisau belatinya itu tidak tajam sekali,
tentu dia tidak akan terluka, itulah sebabnya mengapa dia tidak tertuka parah hanya
darahnya mengalir dan sakit saja, Tapi dia menyangka jiwanya masih terancam bahaya
sehingga kembali dia berkoar-koar.
“Mencoba membunuh suami sendiri Mencoba membunuh suami sendiri Aduh”
Si nona rebah tidak berdaya, air matanya sudah mengalir dengan deras membasahi
pipinya.
“Hwesio tua, aku telah membunuhnya.” kata-nya. “Cepatlah kau bunuh aku untuk
membalaskan sakit hatinya agar aku dapat menggantikan selembar jiwanya.”
“Aih. Li sicu” kata Teng Koan, Dia merasa menyesal sekali atas kejadian itu
sehingga dia menarik nafas panjang, “Paman guruku ini baik sekali hatinya, Dia ingin
menolongmu, tapi kau tidak menyadarinya, kau telah tersesat, mengapa kau
membunuh orang? Oh, kau sungguh keterlaluan”
“Aku… aku akan mati….” Terdengar suara keluhan Siau Po. “Ah Dia tega sekali
membunuh suaminya sendiri.”
Teng Koan terkejut setengah mati, Tapi dia segera tersadar Cepat-cepat dia lari ke
luar untuk mengambil obat dan sekejap kemudian dia sudah mengobati luka pamannya
itu.
“Jangan khawatir, Susiok” kata nya. “Kau bermurah hati, Dari bahaya kau akan
memperoleh keselamatan Buddha kami bermata tajam, tidak mungkin kau dibiarkan
mati muda.”
Siau Po menarik nafas panjang.
“Kau… kau lepaskan dia” katanya seperti mengucapkan pesan terakhir “Dia sangat
membenci aku, benci sampai mati.”
“Bebaskan dia?” tanya Teng Koan heran, “Tapi, bagaimana kalau luka Susiok sukar
disembuhkan atau sampai menutup mata?”
Siau Po sangat cerdas, mendadak dia mendapat pikiran baru.

“Kesinikan telingamu” katanya perlahan sembari memberi isyarat, lalu dia menjerit.
“Aduh Mati aku Mati aku”
Teng Koan menghampiri paman gurunya sampai dekat sekali untuk memasang
telinganya.
“Kau bebaskan dia” kata Siau Po dengan berbisik “Tapi jangan biarkan dia ke luar
dari kamar ini. Kau harus berhadapan dengannya sampai ia mengeluarkan seluruh
kepandaiannya, baru… baru.,.,”
“Baru bagaimana?” tanya Teng Koan,
“Baru,., baru,..” sahut si paman guru yang merasa tenaganya menjadi lemah sekali
dan nafasnya kembang kempis, “Kau turuti saja pesanku, Cepat”
Melihat keadaan sang paman guru yang demikian mendesak, meskipun Teng Koan
masih belum mengerti sepenuhnya maksud si bocah, tapi dia toh menuruti pesan nya.
Dia segera menoleh kepada si nona dan dengan sekali kibasan lengan baju dia
membebaskan totokan nona itu.
Sementara itu, si nona berpikir keras, Dia melihat Siau Po berkasak-kusuk dengan si
hwesio tua.
Dia menerka, di saat menjelang kematian, anak muda itu pasti akan menggunakan
akal busuk untuk menghadapinya, Kalau tidak mengapa dia dibebaskan Dia ingin
melompat bangun tapi ternyata tidak ada kemampuan nya. Dia hanya bergerak satu kali
kemudian roboh kembali Hal ini karena darahnya belum dapat berjalan dengan lancar.
Teng Koan menatap si gadis dengan mulut berkomat-kamit membaca doa. Nona itu
takut sekali jadinya.
“Lekas kau pukul aku saja sampai mati” katanya takut tapi nekat “Menyiksa orang
dengan cara demikian bukanlah perbuatan orang gagah.”
Kembali Teng Koan mengucapkan pujiannya.
“Paman guruku mengatakan bahwa sekarang bukan saatnya untuk melepaskan kau
pergi.” katanya. “Dengan demikian, aku pun tidak boleh mem-bunuhmu.”
Nona itu kebingungan wajahnya pun jadi merah padam. Hatinya juga dilanda
ketakutan Dia ingat apa yang dikatakan Siau Po.
– Hwesio cilik ini jahat sekali, Dia pernah mengatakan, biar bagaimana pun dia akan
mengambil aku sebagai istrinya, Kalau tidak, dia akan mati penasaran Mungkinkah,.,
sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia ingin menikah denganku?
Dengan demikian, bukankah aku telah menjadi istrinya? —

Diam-diam si nona memperhatikan keadaan disekitarnya, kemudian dengan
perlahan-lahan dan hati-hati dia mengambil goloknya lalu langsung ditebaskan ke
lehernya sendiri.
Gerakan si nona sangat cepat, tapi Teng Koan memang lihay, Dia sempat melihat
kenekatan si nona, dia langsung mengibaskan lengan baju kanannya serta
mengebutkan lengan bajunya yang satu lagi ke arah wajah si nona dalam waktu yang
bersamaan Si nona terkejut sehingga tanpa sadar mencelat ke belakang, sedangkan
goloknya terlepas dari genggaman dan terpental sehingga menancap di tiang penglari,
Teng Koan mendongakkan kepalanya melihat ke arah golok tersebut.
Si nona segera menggunakan kesempatan baik di saat orang mendongakkan
kepalanya, Dia segera mencelat untuk menghambur ke luar ruangan itu.
Teng Koan segera mengulurkan tangannya untuk mencegah, tapi si nona sudah
langsung menyerangnya dengan kelima jari tangannya yang membentuk seperti cakar
Tapi masih sempat si hwesio menangkap tangan nona itu sambil berkata.
“ln Yan Kwe Gan (Gumpalan asap lewat di depan mata) inilah ilmu keluarga Cio dari
Kang Lam.”
Nona itu tidak menghiraukan kata-kata orang, dia hanya mengangkat kakinya untuk
menendang perut orang di hadapannya itu.
Teng koan mengempiskan perutnya, tubuhnya membungkuk sedikit Dengan
demikian dia berhasil menyelamatkan dirinya, Bahkan sembari meIakukannya, dia
berkata.
“Khong Kok Ciok Im (Lembah kosong menggaungkan suara) ilmu ini berasal dari Cin
Yang di Shoa Say, Entah Si To Jin masih mempunyai sebutan lainnya tidak, lolap yang
sudah tua kurang banyak pendengarannya, Nona, tolong kau jelaskan, Tahu-kah kau
nama ilmu itu yang sebenarnya?”
Nona itu tidak sudi melayani orang bicara, Kembali dia menyerang. Tangan dan
kakinya digerakkan, dia ingin membuat hwesio itu kerepotan.
Kewalahan juga Teng Koan dibuatnya, Dia sampai tidak sempat menyebutkan setiap
jurusnya, dia hanya sempat mengelakkan diri atau menangkis. Tapi disamping itu, dia
mengingat setiap jurusnya baik-baik.
Semua serangannya mengalami kegagalan Dia jadi mendongkol pikirannya menjadi
kacau, Akhir-nya, bukan menyerang, namun malah terkulai lemas dan tidak sadarkan
diri lagi.
“Aih Nona ini benar-benar tamak akan ilmu silat.” kata Teng Koan, “Dia telah
mempelajari tipu-tipu silat dari banyak partai, Tapi dia tidak mengerti ilmu tenaga dalam,
Dengan demikian, dia tidak akan bertahan lama apabila menghadapi Iawan. Nona, kau

harus belajar dari awal lagi, Kau telah kehabisan tenaga, sekarang apabila aku
menyadarkan dirimu dan kau mengajak aku berkelahi lagi, kau bisa terluka dalam, Hal
ini berbahayasekali, Karena itu, sebaiknya kau beristirahat saja, Bagaimana pikiranmu,
Li sicu? Harap kau jangan salah paham, jangan anggap aku si hwesio tua sengaja
membiarkanmu dalam keadaan pingsan, Ha ha ha ha Nona, dasar aku, si hwesio tua
ini sudah pikun, Bukankah kau sedang tidak sadarkan diri? Bagaimana kau bisa
mendengarkan kata-kataku? Dasar tolol, dari tadi aku bicara terus”
Setelah itu, Teng Koan meninggalkan si nona untuk menghampiri Siau Po. Di sisi
tempat tidur bocah itu, dia menghentikan langkah kakinya, Diperhatikannya si paman
guru dengan seksama, wajah Siau Po pucat pasi, nafasnya tersengal-sengal.
Cepat-cepat dia meraba nadi Siau Po. Lega juga hatinya karena denyutan masih
berjalan biasa, Tidak ada tanda-tandanya bahaya mengancam.
“Selamat, Susiok” katanya dengan nada gembira, “Lukamu ini tidak mengancam
jiwa.”
Si hwesio segera meraba punggung bocah itu, yakni di jalan darah Leng Tay, Di situ
dia menekan untuk menyalurkan tenaga dalamnya dan membantu si anak muda agar
lukanya lebih cepat sembuh.
Sekejap kemudian Siau Po sudah sadar dan lebih bersemangat dari sebelumnya.
“Bagaimana, Lo sutit?” tanyanya, “Apakah Sutit sudah mengingat semua jurusnya
baik-baik?”
“Aku sudah ingat, Susiok,” sahut Teng Koan, “Yang sulit justru mempelajari cara
memecahkan semua jurus itu.”
“Cukup asal kau dapat mengingat semua jurus serangannya.” kata Siau Po. Tentang
cara pemecahannya, bisa kita pelajari perlahan-lahan.”
Teng Koan menganggukkan kepalanya.
“Susiok benar.” sahutnya.
Sembari berbicara, si hwesio menghentikan bantuan tenaga dalamnya.
“Kalau jurus-jurus tangan kosongnya sudah terkuras habis, kita harus memancingnya
menyerang dengan senjata tajam.” kata Siau Po pula. “Kalau dia menggunakan
goloknya nanti, Sutit harus mengingat setiap gerakannya baik-baik”
Kembali si hwesio menganggukkan kepalanya.
“Tapi sayang sekali goloknya telah menancap di tiang penglari.” katanya.

“Apakah Sutit tidak bisa mencelat ke atas mengambilnya?” tanya Siau Po.
“lya, benar.” sahut si hwesio kikuk karena dia tidak berpikir sejauh itu.” Sutit memang
tolol sekali
Tawa si hwesio nyaring dan lantang sehingga si nona terjaga dari pingsannya, Tibatiba
dia menumpu tangannya pada lantai dan mencelat bangun. Rupanya hal pertama
yang diingatnya hanya melarikan diri dari tempat tersebut.
Mata Teng Koan sangat awas dan gerakan tangannya juga cepat sekali. Melihat
tindakan si nona, dia segera mengibaskan lengan bajunya.
Nona itu terhuyung-huyung, tubuhnya membentur dinding. Dia tidak bisa meloloskan
diri dari ambang pintu.
Si hwesio terus bergerak tanpa menunggu sedetik pun. Kali ini dia menggerakkan
tangan kirinya untuk menghadang seandainya si nona akan menerjang ke bagian pintu
kembali sedangkan tangannya yang lain membantu si nona berdiri.
Dengan demikian si nona jadi berdiri tegak. pikirannya ruwet sekali Dia langsung
sadar bahwa sia-sia saja dirinya berusaha melakukan perlawanan Dia sudah melihat
bahwa hwesio itu lihay sekali. Akhirnya dia menyurut mundur dua langkah dan duduk di
atas sebuah kursi.
Teng Koan menatapnya dengan heran.
“Eh, apakah kau tidak akan menyerang lagi?”
Nona itu menjawab dengan nada penasaran. “Aku toh tidak dapat menandingimu,
untuk apa aku menyerang terus?”
Dengan tampang ketolol-tololan, Teng Koan berkata.
“Kalau kau tidak menyerang lagi, mana aku bisa tahu jurus apa saja yang kau
kuasai? Dengan demikian mana mungkin aku memikirkan cara untuk memecahkannya?
Ayo, cepat maju lagi, seranglah aku”
Bagian 45
Diam-diam si nona jadi berpikir
-Bagus, ya Rupanya kau sengaja memancing aku turun tangan, dengan demikian
kau bisa mengetahui asal-usul silatku, Tidak Aku justru tidak sudi memperlihatkannya
kepadamu –

Dengan membawa pikiran demikian, si nona bangkit kembali Lalu dia mulai
melakukan penyerangan Baik dengan satu kepalan atau keduanya sekaligus, Dia
menyerang kalang kabut, sama sekali tanpa menggunakan jurus silat mana pun. Teng
Koan menjadi heran.
“Aneh Luar biasa Sungguh istimewa Mengherankan”
Semua pukulan dan tendangan yang dilancarkan si nona, dia belum pernah
melihatnya. Saking bingungnya pikirannya pun menjadi kacau, Apakah itu ilmu silat?
Mengapa gerakannya demikian kacau? Dia tidak pernah mengira bahwa nona itu
memang sengaja menyerang dengan kalang kabut, Dia juga tidak menyangka si nona
berani berbuat demikian karena tidak takut lagi dirinya akan dibunuh atau dilukai,
paling-paling dia ditotok.
Kalau orang lain pasti akan melihat tingkah si nona yang lucu, tapi Teng Koan terlalu
naif, dia malah merasa aneh dan heran Otaknya berpikir keras, Setelah lewat belasan
jurus, dia masih terbenam dalam keragu-raguan.
“Aneh Aneh” gumamnya seorang diri. Matanya dipertajam Biar bagaimana dia
harus membela diri, Dia menduga gadis itu menggunakan ilmu Bu Tong Pai atau Kong
Tong Pai, tapi dia belum bisa memastikannya.
Karena sangsi, hwesio tua itu tidak berani sembarangan menangkap tangan atau
kaki lawan, dia takut tipuan jurus yang digunakan si gadis masih asing baginya, Yang
membingungkan, nona itu juga menjambak bagian kepalanya, padahal dia tahu benar
seorang hwesio pasti berkepala gundul.
Semakin lama, serangan si nona semakin kacau, akhirnya Teng Koan jadi risih
sendiri.
Siau Po yang berbaring di atas tempat tidur menyaksikan jalannya pertempuran
dengan memiringkan tubuhnya sedikit Dia menyaksikan gadis itu menyerang dengan
serabutan dan Teng Koan repot membela diri.
Dia merasa pertarungan itu aneh sekali sehingga tanpa sadar dia tertawa. justru
karena tertawa, lukanya terasa nyeri kembali sehingga dia menjerit perlahan. Dia
menahan rasa sakitnya dan terus menonton pertarungan yang lucu. Baginya,
pertarungan itu merupakan suatu pemandangan yang menarik.
Wajah Teng Koan memerah mendengar suara tawa paman gurunya.
– Tentu susiok menertawakan aku karena dia menyangka aku tidak mengenali jurusjurus
yang digunakan nona ini. — Demikian pikirnya dalam hati, — Aku khawatir nanti dia
akan menyuruh si nona menjadi ketua Poan Jian Tong untuk menggantikan aku….–

Dia melirik kepada paman gurunya yang menunjukkan wajah sedih, padahal Siau Po
bukan bersusah hati, tapi sedang merasa sakit dan berusaha menahannya, Tapi Teng
Koan berpikir kembali
– Hati Susiok sangat baik, Rupanya tidak tega mengatakannya kepadaku, sebaiknya
aku sendiri yang menyerahkan kedudukanku ini kepada si nona…. “
Meskipun otaknya sedang berpikir, si hwesio tetap sibuk melayani nona berbaju hijau
itu. Dia repot menangkis ke sana ke mari untuk melindungi dirinya, tapi dia tidak
membalas menyerang karena khawatir akan melukai si nona. Karena itu, dia benarbenar
repot jadinya.
Pertarungan yang tidak karuan itu terus berlangsung. Lama-lama si nona menjadi
letih sendiri, dia selalu memukul dan menendang dengan serampangan, gerakannya
pun cepat sekali.
Dia khawatir nanti akan dikalahkan lagi oleh si hwesio, pikirannya menjadi tidak
tenang, Apalagi sampai sekian lama dia tetap tidak berhasil mengalahkan Teng Koan,
akhirnya setelah bertarung sekian lama, tiba-tiba dia menjatuhkan dirinya sebelum
terhuyung-huyung sejenak.
Teng Koan merasa terkejut dan heran.
– Apakah ini juga sebuah jurus tipuan? — pikirnya, — Sungguh luar biasa akal muslihat
yang digunakannya Bagaimana kalau aku tidak … dan dalam keadaan terduduk di atas
tanah tiba-tiba dia melakukan penyerangan kepadaku? —
Pusing kepala Teng Koan memikirkannya, karena itu tanpa terasa ia ikut terjatuh
duduk di atas lantai.
Nona itu girang sekali melihat orang terjatuh dengan sendirinya. Tapi dia tidak berani
maju atau mendekat karena khawatir Teng Koan hanya menggunakan akal Tanpa
menunda waktu lagi, dia segera melompat bangun dan lari ke luar menurutnya, lari
adalah jalan yang terbaik.
Di luar kamar ada beberapa orang hwesio yang sedang berkumpul Mereka melihat
nona itu ke luar dari ruangan Pan Jiak Tong, tapi mereka tidak berani menghadang atau
mencegahnya, Hal ini disebabkan mereka tidak mendapat perintah apa-apa dari sang
ketua, Mereka hanya merasa heran…
Sementara itu, Siau Po masih berbaring di atas tempat tidur Dia melihat nona itu
melarikan diri, tapi dia tidak berdaya melakukan apa-apa, dia hanya bisa menatap
dengan pikiran kalut.

Tidak lama kemudian Teng Koan baru tersentak sadar wajahnya menjadi merah
padam. Hal ini membuktikan bahwa ia merasa malu sekali.
“Susiok, aku malu.,.” katanya kemudian Dia merasa tidak sanggup mengalahkan si
nona.
Siau Po tertawa sumbang.
“Sutit, sebenarnya apa yang menjadi pikiranmu?” tanyanya.
“llmu silat nona itu aneh sekali,” kata Teng Koan, “Aku tidak dapat mengenali jurusjurus
yang digunakannya, Maksudku, ketika dia menyerang aku belakangan.” Dia masih
merasa jengah, Dia masih tidak sadar si nona menyerang tanpa menggunakan jurus
ilmu mana pun.
Siau Po tertawa.
“Apakah kau bermaksud mengatakan ilmu silat si nona itu lihay sekali?” tanyanya,
“Sungguh menggelikan Bukankah serangannya itu hanya ngawur saja?”
Sang keponakan murid menatap Siau Po dengan tajam.
“Apa Susiok maksudkan bahwa serangannya itu hanya sembarangan? Apakah
gerakannya tadi bukan karena ilmu silatnya yang aneh?” tanyanya kembali
Siau Po ingin tertawa, tapi dia mengurungkannya, Sebab lukanya sakit sekali, dia
hanya menyeringai lalu terbatuk-batuk, Keringat dingin juga membasahi keningnya.
“llmu yang digunakannya pasti di kuasai setiap bocah cilik” katanya.
Teng Koan tertegun, Tampak dia masih merasa ragu-ragu, Kemudian dia menarik
nafas dalam-dalam untuk melegakan hatinya.
“Benarkah serangannya hanya ngawur saja?” tanyanya lagi setelah lewat sesaat.
“Di dalam biara Siau Lim Sie, pasti tidak ada ilmu silat seperti itu.” katanya sambil
tertawa, Untuk sesaat, dia sampai lupa tentang sakit dan kesedihan hatinya.
Teng Koan berdiam diri Tampaknya dia sedang berpikir keras,
“Aih” tiba-tiba dia berseru sambil menepuk pahanya, Ah Aku memang tolol sekali
Iya Serangan-serangan itu memang tanpa ada juntrungan, Dengan ilmu silat Tiang Kun
yang paling rendah sekalipun pasti dapat aku merobohkannya, Namun….” Dia terdiam
lagi sejenak, lalu melanjutkan kembali.
“Nona itu sungguh aneh Mengapa dia menggunakan gerakan seperti itu? Bukankah
dengan demikian dia hanya mempermalukan keluarga atau partai nya sendiri?”

“Aku justru merasa tidak ada yang aneh pada nona itu,” sahut Siau Po. “Dia memang
sengaja tidak menggunakan ilmu silat apa pun tapi menyerang secara membabi buta.”
Paman guru itu kembali tertawa, sedangkan Teng Koan tetap berdiam diri, dia tidak
tahu apa yang harus dikatakannya.
Belasan hari telah lewat, Siau Po pun sudah sembuh dari lukanya, Obat luka Siau
Lim Pay memang terkenal mujarab, Di dalam biara itu, kedudukannya tetap tinggi sekali
karena dia merupakan wakil raja, Asal dia mau, apa pun dapat dilakukannya dan tidak
ada seorang pun yang berani menegur apalagi melarangnya, kecuali dia
mengatakannya sendiri, tidak ada seorangpun yang berani menanyakan apa yang
dilakukannya.
Kali ini Siau Po berbeda dari sebelumnya, Dia tertarik pada apa saja, tapi dia tidak
tekun belajar atau berlatih, Dia memang bengal dan nakal Dia selalu mengikuti
kemaunnya sendiri. Tan Kim Lam memberikan sejilid kitab ilmu silat kepadanya, dia
hanya mempelajarinya satu dua kali, kemudian dia menjadi malas melihatnya lagi.
pelajaran peninggalan Hay Tay Hu lebih mudah dipahaminya, tapi dia hanya
mempelajarinya satu hari, sedangkan sepuluh hari lainnya dia lebih banyak bermainmain.
Enam jurus yang lihay dari Hong kaucu dan Hong hujin juga dipelajari seenaknya,
begitu meninggalkan pulau Sin Liong To, dia tidak mengingat-ingatnya lagi.
Sekarang, dia diajarkan oleh Teng Koan, sebaliknya dari biasa, dia justru belajar
dengan sungguh-sungguh, Karena ilmu-ilmu itu dapat digunakan untuk menaklukkan si
gadis berbaju hijau.
Teng Koan mengingat baik-baik setiap jurus yang digunakan si nona berbaju hijau
lalu berusaha memecahkannya satu persatu, Dia mengajari paman gurunya jurus-jurus
pemecahannya, meskipun dia merasa heran dengan sikap Siau Po. Suatu saat dia
bahkan pernah berkata.
“Susiok, untuk apa Susiok mempelajari semua ini? Menurut Sutit, sebaiknya Susiok
belajar dari awal, yakni dari ilmu Tiang Kun. Dengan demikian, kelak kepandaian Susiok
bisa mencapai taraf yang tinggi.”
“Mengapa kau menganggap pelajaran ini tidak ada faedah nya ?” tanya Siau Po.
“Karena pelajaran ini tidak mempunyai landasan tenaga dalam.” sahut Teng Koan,
“llmu silat seperti ini, asal Susiok bertemu dengan lawan yang kepandaiannya tinggi,
pasti Susiok tidak dapat menghadapinya. Kecuali kalau hanya digunakan untuk
menghadapi kedua nona itu….”
Siau Po tertawa, hatinya senang sekali.
“Bagus” serunya, “Aku memang ingin menghadapi kedua nona itu.”

Teng Koan menoleh kepada si paman guru dan menatapnya lekat-lekat Dia benarbenar
tidak mengerti jalan pikiran Siau Po.
“Susiok, kalau dikemudian hari Susiok tidak bertemu lagi dengan kedua nona itu,
bukankah pelajaran Susiok ini sia-sia belaka? Bukankah percuma saja Susiok
mempelajarinya dengan susah payah? Hanya membuang-buang waktu dan tenaga
saja. Sedangkan, waktu yang dihabiskan ini dapat digunakan untuk mempelajari ilmu
silat yang sesungguhnya.”
Siau Po menggelengkan kepalanya.
“Kalau aku tidak bertemu lagi dengan kedua nona itu, tentu aku bisa mati.” katanya,
“Karena itu, untuk apa aku mempelajari ilmu silat yang sesungguhnya?”
Teng Koan semakin heran.
“Susiok,” katanya, “Apakah Susiok telah terkena racun jahat nona itu sehingga biar
bagaimana pun Susiok harus menemukan mereka? Apakah tanpa obat penawar
mereka, Susiok akan menemui ajalnya?”
“Benar.” sahut Siau Po tersenyum Dalam hati dia menertawakan keluguan si hwesio
yang tidak kenal asmara. “Aku memang telah terkena racun jahatnya, bahkan sudah
merasuk ke dalam tulang sumsum, Apabila aku tidak berhasil menemukan mereka, aku
pasti akan mati.”
“Oh, begitu rupanya” kata Teng Koan. “Sute Teng Ciau merupakan ahli pengobatan
dalam kuil kami. sebaiknya aku undang dia untuk memeriksa keracunan dalam
tubuhmu….”
“Tidak, tidak usah” cegah Siau Po cepat “Racun ini bersifat Iamban. Hanya dia
sendiri yang dapat menyembuhkannya, Orang lain tidak mungkin bisa, lebih-Iebih Teng
Ciau.”
“Oh, jadi hanya dia sendiri yang memiliki obat pemunahnya…” kata Teng Koan raguragu.
“Ya… aku khawatir hanya dia yang memiliki obat penawarnya,” sahut si paman guru.
Selanjutnya, Siau Po kembali belajar dengan serius. Dalam tempo dua bulan, dia
sudah mempelajari semua jurus yang dapat memecahkan ilmu si nona. Dia selalu
mengajak Teng Koan berlatih, Keponakan muridnya itu harus menyerangnya dengan
ilmu-ilmu yang dimiliki kedua nona itu.
Siau Po memang nakal Dia sering menjahili keponakan muridnya itu dan pura-pura
menganggapnya sebagai si nona berbaju hijau yang menawan hatinya itu.

Teng Koan yang polos tidak menghiraukan sikap paman gurunya, Dia malah mengira
Siau Po yang cerdik dapat mengubah jurus-jurus yang diajarkannya.
Pada suatu hari, ketika paman dan keponakan muridnya ini sedang berlatih dan
merundingkan ilmu golok si nona berbaju hijau, muncullah seorang hwesio dari Poan
Jiak Tong yang memberitahukan bahwa ada undangan dari Hong Tio atau ketua
mereka. Diharapkan Susiok cou dan supeknya itu hadir dalam pendopo besar
secepatnya,
Siau Po dan Teng Koan langsung pergi ke Tay Hiong Po Tian, pendopo besar yang
dimaksudkan Di situ sudah berkumpul beberapa puluh orang tamu, Hui Cong Siansu,
ketua Siau Lim Sie sedang menemani mereka duduk, Sebagai tuan rumah, si hwesio
tua duduk si sebelah bawah.
Tampaknya ada tiga orang tamu yang dianggap terhormat Yang pertama seorang
pangeran Mongolia berusia kurang lebih dua puluh tahunan, Yang kedua seorang
lhama berusia sekitar lima puluhan tahun dan tubuhnya pendek serta kurus kering dan
kulitnya hitam sekali Yang ketiga seorang perwira berusia empat puluhan tahun. Dari
pakaian seragamnya, dapat diduga bahwa kedudukannya seorang Cong Peng atau
Brigadir jendral.
Di belakang mereka berdiri puluhan tamu lainnya. Para perwira sebawahan atau
lhama biasa, Bahkan ada beberapa di antaranya yang berdandan seperti rakyat jelata,
Tapi dari bentuk tubuh mereka, dapat dipastikan bahwa mereka semua mengerti ilmu
silat.
Begitu Hui Beng siansu atau Siau Po muncul, Hui Cong langsung bangkit
menyambut seraya memperkenalkan.
“Sute, para tamu agung telah bersedia mengunjungi kuil kami inilah pangeran
Kaerltan dari suku Cunkaerl di Mongolia. Dan ini lhama besar Tay Hoat su Zang Chi
dari Tibet, ini yang mulia Ma tayjin, Cong Peng sebawahan Raja muda Peng Si ong dari
In Lam. Dan saudara-saudara sekalian, ini Hui Beng siansu, adik seperguruan lolap.”
Kemudian dia memperkenalkan adik seperguruannya itu kepada para tamunya.
Ketiga tamu itu memperhatikan orang yang diperkenalkan tersebut. Selain masih
muda usianya, Siau Po juga baru sembuh dari lukanya sehingga dia tampak kurus dan
lesu.
“Ah Khoceng ini sungguh menarik hati” Demikian terdengar si pangeran berkata
sambil tertawa-tawa. “Aneh Aneh”
Siau Po merangkapkan sepasang tangannya untuk memuji Sang Buddha, lalu dia
berkata.
“Pangeran ini juga sangat lucu, Hi hi hi hi Aneh sekali”

Tiba-tiba wajah pangeran itu menunjukkan mimik kurang senang,
“Apanya yang lucu?” tanyanya, “Apanya yang aneh pada diriku?”
“Apa yang aneh pada diri Siau Ceng, itulah keanehan Yang Mulia,” sahut Siau Po
yang membahasakan dirinya “Siau Ceng” atau hwesio cilik. “lbarat pinang di belah dua
Silahkan Silahkan” katanya kemudian duduk di samping kakak seperguruannya atau
ketua biara Siau Lim Sie itu.
Teng Koan tidak diperkenalkan Dia duduk di belakang paman gurunya.
Pangeran beserta para tamu lainnya mendengar jawaban si hwesio cilik, mereka
merasa heran. Mereka menyangka hwesio cilik itu pasti luas sekali ilmu
pengetahuannya.
Sementara itu, Hui Cong segera menanyakan maksud kedatangan para tamunya.
Zang Chi lhama yang memberikan jawaban.
“Sebenarnya kami bertiga hanya kebetulan bertemu dalam perjalanan. Kami telah
mendengar prihai ilmu silat yang ibarat gunung Thay san di wilayah Tiong goan. Kami
menjadi kagum sekali Kami bertiga tinggal di tanah perbatasan karenanya pendengaran
kami sangat terbatas. itulah sebabnya kami berseri untuk melakukan kunjunganmu
merantau. Untung sekali kami dapat bertemu dengan Kho ceng”
Seperti yang diketahui, Kho Ceng artinya hwesio yang berilmu-tinggi.
Walaupun Jiang chi seorang lhama dari Tibet, tapi dia berbicara bahasa Tionghoa
dengan aksen Pe King. Kata-katanya jelas dan lancar. Gerak-geriknya pun sabar dan
halus, Coba dia tidak mengenakan baju jubah kuning, orang pasti mengira dia
penduduk Pe King dari kalangan atas.
“Pujian itu terlalu tinggi, tidak pantas kami menerimanya.” kata Hui Cong merendah
“Sebaliknya kami mengagumi Mongolia, Tibet dan In Lam. Di ketiga tempat itu, umat
Buddha hidup rukun, maju dan subur. Mengingat pangeran bertiga telah menerima sinar
terang dari Sang Buddha, kami justru ingin memohon petunjuknya.”
Hwesio ini pandai membawa diri. Ketika si lhama membicarakan ilmu silat, dia
mengalihkan kepada agama Buddha, Dia memang berpegang pada pokok tujuan Siau
Lim Sie yang mengutamakan agama, sedangkan ilmu silat hanya

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s