“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 57

ia menunggu agar
orang yang ada di hadapannya itu berlalu, sebab ia pikir lebih baik aku menemui Teng
Koan untuk membicarakan hal itu kepadanya.
Sesampainya Siau Po ke kamar Teng Koan, ia mendapatkan biksu itu sedang
berjalan bolak-balik sambil mulutnya tidak mau diam.
“Melihat hal itu, Siau Po tak ingin mengganggunya. ia menunggu, tetapi sudah lama
biksu itu masih seperti itu.
Siau Po pura-pura terbatuk karena kedatangannya tak dihiraukan oleh biksu itu.
Hingga habis kesabarannya dan lalu mendekati biksu itu. Namun biksu itu masih tetap
diam saja.
Siau Po lalu menepuk punggung biksu itu, tetapi biksu itu malah terpental ke dinding
hingga ia terduduk. Siau Po sangat kaget, begitu juga biksu itu.
“Oh Susiok, Sutit bersalah, Sutit akan menerima hukuman dari mu. Aku harus mati…”
kata Teng Koan.

“Silahkan bangun, jangan pakai adat segala Aku yang bersalah, bukan kau” kata
Siau Po setelah hatinya mendapatkan ketenangan.
Teng Koan tetap berlutut dan tak henti-hentinya minta maaf.
“Ilmu apa yang kau gunakan hingga kau berakibat seburuk ini?” tanya Siau Po.
“Inilah ilmu Hu Tie Sin Kang dari Poan Ciak Ciang yaitu ilmu membela diri.” jawab si
biksu.
“Bagaimana apakah kau sudah berhasil mencari jalan untuk dapat belajar lebih
cepat?” tanyanya.
“Aku sudah memikirkannya, tetapi tanpa kita mempelajari dari awal, tak mungkin
dapat aku menurunkan ilmu yang kau maksud.” kata Teng Koan penuh kecewa.
“Kita harus memerlukan waktu yang cukup lama kira-kira tiga puluh tahun atau lebih.”
lanjutnya,
“Dan itu pun aku masih khawatir, takut itu masih belum cukup.” jawabnya.
“Baiklah kau tunggu saja, nanti aku akan memikirkan cara yang mudah. Aku akan
mencoba dengan ilmu -.:\vi dari Ci?ii Ciu Kim Na Ciu.” kata si biksu untuk memberikan
semangat. Siau Po lalu berpikir, biksu itu tentunya telah bekerja dengan keras.
“Loo Su Tit kedua orang itu berusia sangat muda tetapi mereka telah mendapatkan
ilmu silat yang cukup tinggi” katanya.
“Orang lain dapat melakukan pelajaran dengan tidak mengikuti aturan urutan ilmu
silat.” kata Siau Po.
“Karena itu mengapa kita harus mati-matian menuruti aturan, Dan mereka pun tak
mempunyai aturan juga namun ilmu silat mereka itu menjadi tangguh dan itu terbukti
bahwa kita tak berani ke luar menghadapinya.”
Teng Koan tersentak kaget mendengar ucapan itu.
“Belajar silat tanpa pokok dasar, itu sama saja dengan ilmu silat yang sesat Peng
Bun Co To…” jawab si biksu itu.
“Kedua nona itu bukannya Peng Bun Co To, mereka dari Bu Bun Buto, maka itu
menghadapi mereka kita dapat menggunakan ilmu silat yang serupa.” kata Siau Po.
“Aku tak mengerti Bu Bun Bu To.,.” katanya,
Siau Po tertawa. “Jika kau tak mengerti, baiklah akan kuajarkan pada kau tentang
ilmu itu.” kata Siau Po.

Teng Koan memberi hormat.
“Silahkan Susiok mengajari aku” katanya, Biar bagaimana biksu itu akan mencoba
ilmu paman gurunya yang tidak mengetahui ilmu tenaga dalam.
“Bukankah kau katakan ilmu silat itu dari partai Kun Ley Pay atau Ngo Bay Pay?
Bukankah ilmu kepandaian mereka itu dari ilmu campuran? Jadi kalau ilmu itu dipadu
dengan ilmu Siau Lim Pay kita, yang mana lebih lihay?” tanya biksu itu.
“Mungkin dari pihak kita yang lebih lihay atau sedikitnya kita ada kelemahan.” kata
biksu.
“Kalau demikian mudah, berarti tidak membutuhkan tenaga dalam, kita gunakan saja
salah satu jurus kita dan kita akan menang.”
Teng Koan merapatkan alis matanya.
“Tanpa dasar tenaga dalam semua jurus itu tak ada gunanya. Kalau kita menghadapi
lawan yang tangguh mudah saja kita dirobohkan olehnya, hingga tulang bisa patah dan
otot bisa putus.” kata biksu.
Siau Po tertawa.
“Habis kedua nona itu apakah sempurna tenaga dalam mereka?”
“Tidak …”
“Habis apa yang membuat kau khawatir?”
“Perbedaan ilmu silat kita dengan yang lain, pada ilmu silat kita terdapat beraneka
ragam, dan banyak jurusnya, jumlah semua macam itu ada seribu, Karena itu meskipun
tak membutuhkan tenaga, tetapi kita masih membutuhkan waktu yang lama.” kata Teng
Koan.
— Hwesio tua ini benar-benar kukuh dan kolot pendiriannya, — Kata Siau Po dalam
hati, Kemudian dia tertawa dan berkata, “Untuk apa kita harus mempelajari semua ini?
Cukup asal kita tahu apa kepandaian nona itu, lalu dengan jalan yang sama kita
menghadapinya, seperti serdadu datang, perwira menghadang, Air datang, tanggul
menampung. Kalau nona itu mengerahkan sebuah jurus, kau gunakan sejurus lainnya,
Pasti dia akan lari terbirit-birit.” Teng Koan menganggukkan kepalanya berkali-kaIi,
pikirannya mulai terbuka.
“Bukankah kau mengatakan nona itu menggunakan jurus “Kang Ho Jit Hi” dari Lau
San Pai? Tentang hal itu, kau mengatakan ada enam atau tujuh cara untuk
memecahkannya, Untuk apa repot-repot? Yang utama, kau harus mengerti satu jurus
saja untuk memecahkan ilmunya itu. Yang lainnya tidak perlu kau pusingkan.” kata Siau
Po kembali.

Tampaknya Teng Koan gembira sekali mendengar usul itu.
“Benar” serunya. Ketika si nona mematahkan tangan-tangan Susiok serta Ceng Ci
berempat, dia menggunakan jurus Hun Kin Co Kut Hoat. Jurus itu merupakan jurus
campuran dari enam partai persilatan. Memang kita bisa menggunakan salah satu saja
untuk memecahkannya. Begitu?
Teng Kong langsung memasang kuda-kuda, kaki dan tangannya digerakkan.
Pertama-tama dia menjalankan jurus si nona, kemudian menjalankan jurus
pemecahannya, semuanya dilakukan dengan baik agar Siau Po dapat melihat dengan
tegas.
Siau Po sendiri merasa kagum terhadap daya ingat si hwesio.
Setelah selesai, Teng Koan mengulanginya sekali lagi, Kemudian dia menyuruh Siau
Po mencoba menjalankannya.
Siau Po mencoba, tapi dia mendapat kesulitan untuk mengingat semuanya dengan
baik, Dia merasa pelajaran itu terlalu rumit. Karena itu dia minta cara pemecahan yang
lebih sederhana.
Teng Koan menurut, dia menunjukkan beberapa jurus ilmu yang dapat memecahkan
pukulan si nona, Asal si bocah tanggung itu menggelengkan kepalanya, dia segera
menggantikannya dengan yang lain.
Demikianlah sampai berulang kali, akhirnya sang paman guru mengerti juga
beberapa jurus tipu untuk memecahkan “Hun Kin Co Kut Hoat” kedua nona tersebut
seandainya si nona menyerangnya kembali dengan jurus yang sama, pasti dia dapat
menghadapinya bahkan menggagalkan serangan itu.
Teng Koan juga merasa kagum terhadap kecerdasan si paman guru kecil yang dapat
belajar dengan cepat itu. Jurus-jurus itu memang tidak sama dengan Tan Ci Sin Kang,
tapi lumayanlah untuk digunakan menghadapi nona-nona itu.
Ketika keduanya sedang bergembira, tiba-tiba si hwesio menarik nafas panjang dan
berkata.
“Sayang Sayang”
Siau Po merasa heran, dia memperhatikan keponakan muridnya lekat-lekat.
“Berbahaya Sungguh berbahaya” Kembali Teng Koan menggumam seorang diri,
dia juga menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apanya yang sayang?” tanya Siau Po. “Apanya yang berbahaya?”

“Begini, Susiok.” sahut si hwesio tua, “Seandainya Susiok beserta Ceng Ci berlima
menghadapi si nona lagi, bagaimana kalau Susiok ternyata berhasil dikalahkannya
bahkan mendapat luka yang lebih parah dan cacad untuk seumur hidup? Bukankah hal
itu harus disayangkan? Andaikata kedua nona itu berwatak kejam dan membunuh
Susiok sekalian, bukankah hal itu berbahaya sekali?”
“Mengapa kita harus menghadapi mereka dengan berbarengan?” tanya Siau Po.
“Untuk menguji kedua nona itu,” sahut Teng Koan, “Siapa tahu mereka masih
memiliki ilmu lain yang lebih lihay. Aku yakin kepandaian mereka bukan hanya
beberapa jurus itu saja, Kalau Susiok berlima tidak dapat memecahkan jurus mereka
yang lainnya, bukankah berbahaya sekali? Sebaliknya, kalau Susiok hanya
menghadapi mereka seorang diri, mana mungkin kita bisa tahu ilmu mereka yang
lainnya?”
Mendengar keterangan itu, Siau Po tertawa.
“Kalau itu yang menjadi kekhawatiran sutit, masih ada jalan untuk menghindarinya,”
katanya, “Kau sendiri saja yang melawannya, dengan demikian, bukankah tidak ada hal
yang perlu disayangkan atau membahayakan keselamatanku?”
Bagian 44
Teng Koan tertegun, Tampaknya dia merasa serba salah.
“Aku seorang yang sudah menyucikan diri sehingga tidak boleh mengeluh maupun
gusar.” sahutnya, “Mana mungkin tanpa sebab musabab aku bertarung dengan kedua
nona itu? perbuatan demikian sungguh tidak pantas”
“Ada jalannya untuk itu, jangan khawatir” kata Siau Po. “Begini, kita pergi ke luar kuil.
Syukur kalau kedua Li sicu itu sudah pergi, jadi kita bisa berpegang pada semboyan,
“Orang tidak mengganggu kita, kita pun tidak boleh mengganggu orang lain.” Dengan
demikian, perduli amat berapa banyak pun jurus yang mereka kuasai, kita toh tidak
perlu menghadapi mereka.”
“Benar Benar” kata si hwesio, “Tapi, biasanya… sutit tidak pernah ke luar kuil,
sekarang sulit harus ke luar dengan niat menimbulkan keonaran pula, ini sungguh tidak
layak, Sama artinya kita mengandung niat buruk.”
“Kita juga tidak perlu ke luar sampai jauh-jauh,” kata Siau Po. Dia berusaha
membujuk keponakan muridnya itu. “Kita berjalan-jalan di sekitar kuil saja, Lebih bagus
lagi kalau kita tidak bertemu dengan mereka.”
Teng Koan segera memuji sang Buddha.

“ltu memang yang paling baik dan paling bagus.” sahutnya, “Kalau Susiok berniat
melakukan sesuatu hal yang mengandung kebaikan, suka sekali sutit menirunya.”
Di dalam hatinya Siau Po tertawa, Kena hwesio tua ini diakalinya,
“Mari” ajaknya kemudian Dia mencekal tangan hwesio itu dan menariknya, Mereka
meninggalkan Poan Jian Tong kemudian ke luar dari pintu samping sehingga sekejap
saja mereka sudah berada di luar kuil.
Teng Koan belum pernah ke luar dari kuil itu, karena itu dia menjadi kagum sekali,
Dia melihat banyak sekali pohon cemara yang daunnya hijau segar pemandangannya
juga indah sekali.
“Aneh sekali pohon-pohon cemara itu bisa tumbuh menjadi satu.” katanya, “Di dalam
halaman Poan JianTong hanya ada dua batang.”
Baru selesai ucapan si hwesio, dari arah belakangnya sudah terdengar suara yang
halus dan nyaring.
“Di sini rupanya si bangsat gundul” Menyusul itu, terlihat sesosok bayangan
berkelebatan, disertai dengan membiasnya cahaya putih dari sebatang golok yang
meluncur ke arah Siau Po.
“Inilah jurus Beng Hou Hi San dari ilmu Ngo Hou Toan Bun To” seru si hwesio yang
merasa terkejut juga heran. Tetapi dia tetap cukup gesit untuk melihat gerakan tangan
orang yang menyerang itu sehingga dia tahu itulah jurus yang dinamakan “Macan turun
gunung”,
Dia langsung mengangkat tangannya untuk menyambut serangan tersebut dengan
jurus Cian Kim Na Jiu. Tetapi mendadak dia menarik tangannya kembali dan berkata.
“Aih, tidak boleh” Dia merasa perlawanannya itu kurang sopan.
Ternyata penyerang itu si nona berbaju biru, Dia melihat Teng Koan menarik kembali
serangannya, segera memutar goloknya untuk ditebaskan ke pinggang Teng Koan.
Bertepatan dengan itu, si nona berbaju hijau melompat ke luar dari sela-sela
pepohonan dan terus menyerang Siau Po dengan satu bacokan.
Siau Po sempat menghindarkan diri, dan langsung berlari ke belakang Teng Koan
untuk menyembunyikan diri.
Si nona menjadi penasaran Dia maju dan menebas lagi, Karena Siau Po terhalang,
goloknya jadi mengincar bahu kiri si hwesio tua.

Teng Koan sempat melihat datangnya serangan itu. “inilah jurus Thay Kek To”
serunya, “Serangan ini dapat dielakkan dengan jurus yang sederhana saja” Dia
langsung mengelakkan tubuhnya sehingga terbebas dari ancaman bacokan.
Kedua nona itu maju kembali Kali ini Teng Koan berkaok-kaok semakin keras.
“Susiok, hebat, hebat sekali” katanya, “Gerakan kedua Li sicu ini terlalu cepat
sehingga aku tidak sempat memikirkan jurus pemecahannya, Karena itu, cepat kau
minta kedua nona ini jangan bersikap terlalu keras”
Panas hatinya si nona berbaju biru, Beberapa kali serangannya mengalami
kegagalan, sekarang dia mendengar ucapan si hwesio itu yang dianggapnya sebagai
ejekan, Hatinya semakin panas, dia menyerang lebih hebat lagi.
Siau Po berada di tempat yang aman, dia tertawa terbahak-bahak dan berkata
dengan suara lantang.
“Eh, nona-nona sekalian Keponakan muridku ini menyuruh kalian jangan menyerang
terlalu keras. sebaiknya kalian tidak perlu terburu-buru. Perlahan-lahan saja”
“lya, iya” sambung Teng Koan. “lya, jangan terlalu keras, otakku ini kurang cerdas,
dalam waktu yang sesingkat ini aku tidak dapat menemukan jurus untuk memecahkan
serangan kalian”
Si nona berbaju hijau gusar sekali terhadap Siau Po. Karena itu, setelah beberapa
kali gagal menyerang si hwesio tua, dia mulai menyerang si hwesio muda.
Melihat keadaan itu, Teng Koan segera menggerakkan tangan kirinya untuk
menangkis.
“Jangan, Li sicu” teriaknya, “Paman guruku ini belum pernah belajar ilmu silat, Kau
jangan membacoknya.”
Si nona semakin kesal Dia memperhebat serangannya.
“Jangan, Li sicu” teriak Teng Koan kembali. “sebaiknya kau tunggu sampai dia
sudah mempelajarinya dan sanggup melayanimu, baru kau boleh membacoknya Aih,
Susiok Semua jurusku tidak ada hasilnya, Tidak ada satu pun yang dapat kugunakan
dengan baik, Karena itu, nanti saja kita mempelajarinya perlahan-lahan”
Walaupun mulutnya berkoar-koar, tangan si hwesio tua tetap bergerak untuk
menyingkirkan bahaya yang mengancam Siau Po. Dan perbuatannya itu selalu
membuahkan hasil sehingga kedua nona itu bagai terkurung oleh tangkisannya dan
tidak sanggup mendekati Siau Po.
Kalau tadinya Siau Po merasa khawatir, sekarang dia dapat tertawa-tawa, Dia
melihat dirinya sudah tidak terancam bahaya lagi. Kedua nona itu tidak berdaya

menghadapi keponakan muridnya yang demikian polos serta jujur sehingga mirip
dengan orang tolol.
“Ha ha ha ha” Dia terus tertawa sambil memperhatikan si nona berbaju hijau yang
menarik perhatiannya itu, Dia dapat menontoni kecantikan si nona dengan leluasa
sebab sekarang dia sudah berhasil menyembunyikan diri di balik sebatang pohon yang
besar.
Si baju hijau mengira hwesio muda itu sudah melarikan diri. Tetapi suatu kali, ketika
dia menolehkan kepalanya, dia sempat melihat sinar mata pemuda itu sehingga hatinya
semakin kesal. Dia segera meninggalkan Teng Koan dan menerjang ke arah orang
yang dibencinya itu.
Sedangkan pada saat itu, Teng Koan sedang meluncurkan tangannya, Dia tidak
menyangka nona itu akan meninggalkan dengan cara mendadak seperti itu, Tanpa
ampun lagi, jari tangannya langsung menyentuh sasarannya yakni iga si gadis berbaju
hijau.
“Aduh” jerit si nona yang langsung rubuh di atas tanah.
“Oh” seru si hwesio tua terkejut “Maaf, maaf sebenarnya totokanku ini, Ciau Ci
Thian Lam tidak terlalu hebat dan membahayakan Asal nona menangkisnya dengan
jurus Ok Hou Lan Lou dari Ngo Hou Toan Bun to, kau sudah bisa menghadapinya, Si
nona berbaju biru tadi sudah melakukannya, aku kira kau juga bisa, tidak tahunya…
maaf Maaf”
Sementara itu, hati si baju biru semakin gusar.
Kembaii dia menyerang hwesio tua itu, Tetapi dia tidak berdaya, seranganserangannya
selalu mengalami kegagalan.
Ketika kedua orang itu bertarung, tidak lebih tepat dikatakan seorang menyerang,
lainnya menangkis, Siau Po pun ke luar dari tempat persembunyiannya, Dia
menghampiri si nona berbaju hijau.
“Nona cantik seperti kau ini, di dalam dunia ini pasti hanya ada satu.” katanya, “Kau
benar-benar membuat semangatku terbang sampai ke luar angkasa.” Si pemuda
tanggung yang nakal ini pun mengulurkan tangannya untuk mengelus-elus pipi si nona
yang putih dan halus.
Nona itu dalam keadaan sadar, namun tidak berdaya, Karena itu, dia menjadi gusar
sekaligus mendongkol Setelah menatap Siau Po dengan mata mendelik, tiba-tiba dia
jatuh tidak sadarkan diri.
“Aih” seru Siau Po. Dia terkejut setengah mati, tapi sesaat kemudian dia tahu nona
itu hanya pingsan, sehingga dia tidak merasa khawatir lagi.

Lalu dia menoleh kepada Teng Koan dan berkata dengan nyaring.
“Sutit Teng Koan, cepat kau kemari Nona ini telah tertotok olehmu, sebaiknya kau
tanyakan saja kepadanya agar dia dapat menjelaskan kepadamu jurus-jurus yang
dikuasainya, Kita harus hidup rukun, tidak boleh bermusuhan dengan sesama kita”
Teng Koan merasa ragu-ragu, dia tidak langsung menjawab permintaan Susioknya.
Sementara itu, hati si nona berbaju biru semakin gusar, Tapi dia tidak berdaya,
Tampaknya dia juga khawatir akan dirobohkan seperti rekannya, Apabila itu sampai
terjadi, pasti mereka kehilangan akal.
Karenanya, dia hendak menyingkir dulu, Dia pikir kawannya itu tidak mungkin
dicelakai itulah sebabnya dia langsung berkata dengan suara lantang.
“Jangan kau celakai adikku Awas kalau kalian ganggu selembar rambutnya pun,
Kalau tidak, aku akan membakar seluruh Siau Lim Sie ini sampai ludes rata dengan
tanah”
Berkata demikian, si nona mencelat untuk menyingkir dari Teng Koan.
Teng Koan dapat mendengar setiap patah kata si nona dengan jelas, dia sampai
tertegun karena ancaman nona itu hebat sekali.
“Sebetulnya, mana berani aku mengganggu nona ini?” katanya, “Tapi bagaimana
kalau rambutnya rontok sendiri satu lembar saja? Apakah kau tetap akan membakar
kuilku?”
Nona itu melompat lebih jauh lagi, kemudian dia mendamprat
“Bangsat gundul tua, lidahmu tajam juga Dan kau, bangsat gundul cilik….”
Hampir saja si nona menggunakan kata-kata yang kotor, tapi untung saja dia insaf,
karena itu dia membatalkan nya dan lari memasuki hutan.
Siau Po hanya melihat saja nona itu pergi, kemudian dia menoleh kembali kepada si
gadis berbaju hijau yang masih terkulai di atas tanah, Dia memperhatikan wajahnya
yang cantik dan tangannya yang indah, dia seakan melihat Dewi Kuan Im sehingga
untuk sesaat dia terpana.
Pada saat itu, Teng Koan sudah mengham-pirinya,
“Li sicu, kakakmu sudah pergi,” katanya kepada si nona berbaju hijau, “Sebaiknya
kau juga pergi saja, jaga rambutmu agar jangan sampai rontok selembar juga, Kakakmu
tadi sudah mengancam akan membakar ludes kuil kami.”

Sementara itu, Siau Po berkata dalam hati.
– Ini merupakan kesempatan yang baik, aku tidak boleh menghilangkannya, Si cantik
sudah terjatuh ke dalam tanganku, dia tidak boleh dibiarkan lolos, Biar bagaimana, aku
tidak boleh membebaskannya, —
Membawa pikiran demikian, paman guru ini menoleh kepada Teng Koan, Dia
merangkapkan sepasang tangannya dan memuji
“Amitabha Kita telah dilindungi oleh Nya ilmu Siau Lim Sie akan maju pesat,
Namanya yang sudah harum akan terus berlangsung sampai ribuan tahun, Sutit, kau
benar-benar seorang menteri setia dari partai kita”
Teng Koan menatap si paman guru, Dia merasa heran.
“Eh, Susiok,” katanya, “Mengapa kau berkata demikian?”
Siau Po segera menjalankan siasatnya.
“Sebenarnya pikiran kita sekarang sedang kusut memikirkan ilmu silat kedua nona
ini,” katanya, “Di lain pihak, kita masih belum tahu apakah mereka masih memiliki ilmuilmu
lainnya? Karena itu, syukurlah Sang Buddha kita sangat welas asih sehingga
kedua nona ini seperti sengaja dikirim ke mari agar mereka dapat memperlihatkan
kepandaiannya, Sekarang, sutit, sebaiknya kita cepat-cepat pulang.”
Sembari berkata, dia tidak menunggu jawaban Teng Koan, Siau Po langsung
membungkukkan tubuhnya untuk memondong tubuh si nona.
Teng Koan menjadi bingung, Dia merasa perbuatannya kurang tepat, tapi semuanya
telah terjadi Apa lagi yang dapat dilakukannya? Tetapi dia tetap berkata.
“Tidak pantas rasanya kita minta Li sicu ini masuk ke dalam kuil kita.”
“Untuk apa membicarakan soal pantas atau tidak?” kata Siau Po. “Bukankah dia
sudah pernah masuk sebelumnya? Ketika dia datang, apakah Hong Tio tidak
mengetahuinya? Bukankah kepala bagian Kay Lut Ih juga mengetahuinya? Bukankah
Hong Tio dan kepala Kay Lut Ih juga tidak mengatakan apa-apa? Karena itu, perbuatan
kita ini tidak bisa dikatakan kurang pantas, bukan?”
Teng Koan menganggukkan kepalanya, Dia kalah bicara sehingga dia diam saja dan
berjalan mengikuti paman gurunya itu dari belakang.
Siau Po cerdik sekali Dia segera membuka bajunya untuk membungkus si nona.
Setelah itu dia menggendongnya ke dalam, jalan yang diambil tetap pintu samping jalan
mereka ke luar tadi.

Siau Po berjalan sambil menundukkan kepalanya. Tampaknya otak si pemuda
tanggung itu sedang berputar keras.
Sebetulnya hati Siau Po sedang berdebar-debar. Dia takut perbuatan mereka akan
kepergok oleh yang lainnya, Memang si nona sudah dibungkus rapat-rapat dengan
jubahnya, tapi apabila bertemu dengan hwesio lainnya, mereka pasti curiga.
Dia tidak mengharapkan hal itu sampai terjadi Dia berjalan dengan cepat. Hatinya
cemas sekaligus senang, sekarang dia dapat menggendong si nona cantik.
Setibanya di dalam Poan Jian Tong, ada hwesio Cip Su ceng yang menyambutnya.
Dia melihat ketuanya itu dan memberi hormat tapi tidak menanyakan apa-apa.
Sampai di dalam kamar Teng Koan, si nona masih belum sadar juga, sementara itu,
tangan Siau Po basah oleh keringat dingin karena kekhawatirannya.
“Bagus” serunya sambil menarik nafas lega.
“Apakah nona ini akan ditempatkan dalam kamarku?” tanya Teng Koan ragu-ragu.
“Benar” sahut Siau Po. “lni kan bukan untuk pertama kalinya dia ada dalam kuil kita,
Ketika yang pertama kali, lehernya terluka dan ia ditempatkan di kamar sebelah timur,
bukan?”
Sang keponakan murid itu menganggukkan kepalanya.
“Tapi waktu itu dia sedang terluka, kita harus mengobatinya untuk menyelamatkan
jiwanya. Karena itu… kita harus memberikan kelonggaran kepada nya.”
“Urusan ini mudah.” kata Siau Po kembali Dia langsung mengeluarkan pisau
belatinya yang tajam. “Cukup asal kita tikam dia satu kali supaya jiwanya terancam
bahaya lagi Dengan demikian, dia akan mendapatkan kelonggaran untuk berdiam di
sini.”
Selesai berkata, Siau Po langsung menghampiri si nona, Dia mengangkat tangannya
yang menggenggam pisau belati itu seakan siap ditikamkan.
“Ja… ngan” cegah Teng Koan, “Ti., dak perlu kita melakukan hal itu.”
“Tapi,” kata Siau Po. “Seperti yang kau katakan tadi, tanpa terluka, tidak leluasa dia
ditempatkan di sini Bagaimana kalau hal ini diketahui oleh Hong Tio dan Teng Cit
suheng? Bukankah kita akan disalahkan nanti? Aku rasa, sebaiknya kita tikam atau
bacok dia beberapa kali agar ia terluka. Yang penting jiwanya tidak terancam bahaya
kematian Kau toh tahu kalau pisauku ini tajam sekaIi….”
Mendadak Siau Po menebas ujung meja sehingga gompal.

“Ja… ngan… jangan kau lukai dia” seru Teng Koan yang hatinya lemah.
“Lalu bagaimana?” tanya Siau Po. “Melukainya tidak boleh, membiarkannya di sini
pun tidak boleh”
“Akan kuatur” kata Teng Koan.
“Kalau begitu, baik.” sahut Siau Po. “Kuserahkan saja kepadamu. Bagiku, yang
penting, tidak ada orang yang tahu tentang kehadiran nona ini. Kita juga akan
membebaskannya setelah dia menjelaskan semua jurus silatnya kepada kita, agar kau
dapat memecahkannya, Kita akan keluarkan dia secara diam-diam Kalau tidak
sebaiknya dia dilukai saja….”
“Jangan khawatir,” kata Teng Koan, “Nanti aku akan menyimpan rahasia.”
Teng Koan sudah tua, tetapi terpaksa dia harus menunduk kepada paman gurunya
yang jauh lebih muda, Dia kalah cerdik, Dia juga berpikir urusan ini tidak akan bocor
kalau dia menuruti apa yang dikatakan oleh paman gurunya.
Siau Po segera berkata kembali
“Li sicu ini wataknya keras kepala, Kau dengar sendiri, dia hendak merebut
kedudukan Poan Jiak tong. Oleh karena itu, aku harus dapat membujuknya baik-baik.”
Si hwesio tua ini memang aneh, mendengar ucapan paman gurunya, dia malah
berkata.
“Kalau memang dia mau menjadi ketua di sini, biarkan saja….”
Siau Po tertegun Tidak disangka hwesio ini demikian polos dan baik hati.
“Dia kan bukan hwesio di sini?” katanya kemudian “Kalau dia berhasil merebut
kedudukan ketua Poan Jik Tong, kemana muka kita kaum Siau Lim Sie harus ditaruh?
Tidak bisa Lagipula, kalau kau mengijinkannya, malah kau telah berbuat dosa besar
terhadap Siau Lim Sie.”
Berkata demikian, Siau Po menunjukkan wajah bersungguh-sungguh. sikapnya
menjadi penuh wibawa, Keponakan muridnya sampai terkejut melihatnya.
“Iya… iya.,.” katanya ketakutan.
Siau Po segera berkata kembali.
“Sebentar kalau si nona sudah siuman, aku akan menasehatinya, Ketika itu mungkin
dia akan gusar dan menyerang aku. Sebagai pendeta, bukankah kita harus bermurah
hati terhadap sesamanya? Kalau dia bersikap kasar, mana boleh aku membunuhnya
atau melukainya bukan?”

Teng Koan menganggukkan kepalanya.
“Benar, benar.” katanya, “Kita harus mengasihi sesamanya, itu memang tujuan suci
Sang Buddha kita.”
Siau Po pun ikut mengangguk.
“Sekarang begini,” katanya, “Kau ajari dulu aku beberapa jurus ilmu Kim Na Jiu.
Dengan demikian, kalau dia menyerang aku, aku bisa menolong diriku sendiri atau
menotok jalan darahnya agar tidak bisa melukai aku, Dengan demikian, di dalam
ruangan Poan Jiak tong ini tidak akan terjadi pertumpahan darah. Kalau hal ini sampai
terjadi, celakalah Siau Lim Sie. Apa kata orang apabila seorang gadis muda berhasil
menghajar seorang hwesio angkatan Hui dari Siau Lim Sie? Bukankah itu merupakan
hal yang buruk sekali? Sebaliknya, juga merupakan hal yang buruk kalau seorang
hwesio Siau Lim Sie sembarangan menghajar seorang nona, bukan?”
“Benar.” sahut Teng Koan yang kembali menganggukkan kepalanya.
Tapi dia masih sempat ragu-ragu sejenak, kemudian baru mengajarkan tiga jurus
ilmunya itu. Siau Po belajar dengan bersungguh-sungguh.
Sementara itu, tampak tubuh si nona berbaju hijau mulai bergerak-gerak sedikit Siau
Po sempat melihatnya dan dia tahu nona itu mulai mendusin, Karena itu, dia segera
menutupi wajah si gadis dengan jubahnya, Setelah itu dia kembali berlatih, Dia tidak
mau si nona melihatnya dalam keadaan berlatih.
Dalam mempelajari ketiga jurus tersebut, Siau Po mengalami sedikit kesulitan, sebab
dia mempunyai kelemahan yakni belum pernah mempelajari ilmu tenaga dalam.
Untunglah, tenaga dalam si nona juga belum terlalu berarti. Karena itu, dia dapat
mengimbangi si nona, itulah sebabnya dia harus menghapal ketiga jurus itu baik-baik.
Ada baiknya selama dalam istana, Hay Kong Kong pernah mengajarinya ilmu Kim Na
Jiu tersebut dan dia pun sering berlatih dengan raja cilik. Karena itu, sekarang ini dia
belum terlalu membutuhkan tenaga dalam.
“Mari kita coba” ajak Siau Po setelah merasa sudah hafal, Dia mengajak Teng Koan
berlatih dengannya.
“llmu itu tidak bisa kau coba atas diriku, Susiok,” kata Teng Koan. “Kau tidak
mengerti tenaga dalam, Kalau kau coba atas diriku, mungkin kau sendiri yang akan
terpental mundur atau roboh, dan kemungkinan lenganmu bisa.,, bisa.,.,”
Siau Po tertawa.
“Lenganku bisa patah?” tanyanya.

Teng Koan menganggukkan kepalanya, “Kira-kira begituIah,” sahutnya. Tentu saja
sutit tidak berani berbuat demikian.”
Siau Po tersenyum.
“Baiklah.” katanya, “Sekarang silahkan kau ke luar dulu, Si. nona sudah siuman, Aku
ingin menasehatinya….”
“lya,” sahut Teng Koan yang langsung memberi hormat kepada paman gurunya
kemudian pergi ke luar lalu merapatkan pintunya kembali.
Siau Po langsung menyingkapkan jubah yang digunakannya untuk menutupi wajah si
nona, Gadis itu bermaksud membuka mulutnya memaki, tapi hal itu dibatalkannya
karena dia melihat pisau belati yang tajam mengancam di depan hidungnya, muIutnya
yang mungil hanya sanggup melongo saja.
Siau Po tertawa.
“Nona kecil,” katanya, “Kalau kau menurut kepadaku, tidak mungkin aku
mengganggumu walaupun hanya seujung rambut saja, Sebaliknya, kalau terpaksa, aku
akan menebas hidungmu setelah itu aku baru membebaskanmu dan mengusirmu dari
kuil ini. Siapa yang sudah kehilangan hidungnya, dia hanya dapat mencium bau yang
busuk. Tentunya kau tidak ingin hal ini sampai terjadi, bukan?”
Nona itu gusar sekali, Dia juga merasa mendongkol Namun dia tetap membungkam.
wajahnya tampak pucat pasi seakan tidak mengandung darah setitik pun.
“Nah, apakah kau mau mendengar perkataanku ?” tanya Siau Po.
“Lekas kau bunuh saja aku” teriak si nona dalam murkanya.
Siau Po menarik nafas daIam-daIam.
“Kau begini cantik sehingga mirip dengan bunga dan rembulan, Mana mungkin aku
tega membunuhmu?” katanya, “Tapi kalau aku melepaskanmu, tentu siang dan malam
aku akan memikirkanmu, Mungkin aku akan mati tercekam perasaan rinduku padamu,
Bukankah hal itu buruk sekali dan bertentangan dengan kehendak Thian Yang Maha
Kuasa?”
Dari pucat, wajah si nona berubah menjadi merah. Namun sekejap kemudian
berubah lagi, Tapi dia tetap membungkam.
Siau Po menatap wajah si gadis lekat-lekat.
“Ada satu jalan,” katanya kemudian, “Kalau aku menebas putus hidungmu, tentu
wajahmu tidak akan cantik lagi dan aku pun tidak akan merindukanmu pula.”

Nona itu memejamkan matanya rapat-rapat. tapi dari sela bulu matanya tampak air
mata mengucur dengan deras, melihat keadaan itu, hati Siau Po jadi lemas.
“Jangan menangis” katanya, “Asal kau mau mendengarkan kata-kataku, aku lebih
suka memotong hidungku sendiri ketimbang melukaimu Bolehkah aku mengetahui
namamu?”
Nona itu menggelengkan kepalanya. Air matanya masih terus mengalir.
“Oh, rupanya kau bernama Yau Tau Miau (Kucing yang menggelengkan kepalanya).”
kata Siau Po. “Tapi nama itu kurang enak didengar.,,.”
Nona itu membuka matanya dan menatap Siau Po dengan pandangan tajam.
“Siapa yang mengatakan aku bernama Yau Tau Miau?” katanya sengit, Dia masih
menangis sesenggukan. “Kaulah si Yau Tau Miau.”
Mendengar kata-kata si nona, hati Siau Po justru girang sekali, Selain dapat
mendengar suaranya yang merdu, berarti dia juga sudah berhasil memancing si nona
membuka mulutnya, Dia langsung tertawa lebar.
“Baik, baik” katanya, “Akulah si Yau Tau Miau. Lalu, bagaimana aku harus
memanggilmu?”
Kembali si nona menggelengkan kepalanya dengan air mata masih bercucuran.
“Aku tidak akan memberitahukannya kepadamu ” bentaknya.
“Kalau kau tidak mau memberitahukannya, terpaksa aku harus mencari nama
untukmu.” kata Siau Po. “Mungkin sebaiknya aku memanggilmu Apa Miau (Si kucing
gagu).”
“Ngaco” bentak si nona kembali, “Aku toh tidak gagu.”
Siau Po memperhatikan si gadis dengan seksama, Dia mendapat kenyataan
Meskipun sedang gusar atau menangis, wajahnya tetap cantik dan menarik.
“Oh, nona yang baik” katanya. “Siapakah she dan namamu yang mulia?”
“Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak sudi memberitahukannya kepadamu.”
teriak si nona, “Aku tidak mau bicara.”
“Jangan begitu, nona manis.” kata Siau Po yang tidak memperdulikan kemarahan si
nona, “Sebenarnya ada yang hendak ku bicarakan denganmu, Kalau kau tidak
mempunyai she atau pun nama, bukankah pembicaraan kita menjadi canggung? Kalau
kau tetap tidak mau mengatakannya, baiklah, Aku terpaksa mencarikan nama untukmu,
Oh, nama apa ya kira-kira yang indah dan enak didengar?”

“Tidak Tidak” teriak si nona, “Aku tidak mau”
“Oh, ada.” kata Siau Po. Dia memang jahil dan tidak memperdulikan protes orang,
“Sebaiknya aku panggil kau Wi-bun Yau Si.”
Nona itu tertegun.
“Aneh” sahutnya, “Aku toh bukan dari keluarga Wi.”
Wi-bun Yau Si artinya si tukang menggeleng kepala dari keluarga Wi.
Kembali Siau Po menatap si nona, Kali ini dia berkata dengan serius.
“Raja langit di atas, Ratu bumi di bawah, dengan ini aku berjanji apa pun yang akan
terjadi, baik di atas gunung golok, atau pun dalam kuali minyak, atau dihukum mati
seluruh keluarga, biar bagaimana pun aku harus mengambil kau sebagai istriku, Iya,
tidak boleh tidak”
Nona itu terkejut setengah mati, Dia sampai terpaku, Sumpah itu hebat sekali, Dan
kata-kata Siau Po yang terakhir membuatnya mendongkol.
“Cis” Dia meludah dan wajahnya menjadi merah padam
Siau Po juga mendelikkan matanya seraya berkata dengan nada ngotot,
“Aku she Wi.” katanya, “Karena kau telah ditakdirkan menjadi jodohku, maka kau pun
terhitung kelurga Wi. Aku tidak tahu siapa she dan namamu karena kau hanya
menggelengkan kepala kalau ditanya, itulah sebabnya aku memanggilmu Wi-bun Yau
Si.”
Nona itu memejamkan matanya.
“Kau gila.” katanya sengit, “Di dalam dunia ini, aku belum pernah mendengar
seorang hwesio berbicara dengan kata-kata seperti itu. Kau mengoceh yang tidak-tidak,
Kau toh orang yang sudah menyucikan diri, mengapa kau selalu bicara tentang
pernikahan? Apakah kau tidak takut mendapat hukuman dari Pou Sat yang Agung?
Kalau kau mati, pasti kau akan dimasukkan ke dalam neraka yang ada delapan belas
lapisannya.”
Siau Po merangkapkan sepasang tangannya dan menjatuhkan diri berlutut.
Si nona mendengar suara seakan ada orang yang menggabruk terjatuh, Dia merasa
heran, karenanya dia membuka mata, Dia melihat Siau Po sedang berlutut menghadap
ke jendela dan kemudian dia mendengar si bocah berkata.
“Buddha kami, Ji Lay Hud, Koan Si Im Pou Sat, Giok Hong Tayte, Bun Cu Pou Sat,
Pou Hian Pou Sat, keempat Kim Kong Agung, Hakim Giam Ong, para hantu kecil Bu

Siang, mohon dengarkan Aku Wi Siau Po harus menikahi nona ini, tidak boleh tidak,
Meskipun aku harus dimasukkan ke dalam neraka delapan belas lapis, dipotong
hidungku, digorok leherku, dicabut lidahku, atau tidak dapat menitis lagi untuk laksaan
kali, aku tidak perduli semua itu. Di masa hidup, tidak ada hal apa pun yang aku takuti,
kalau sudah mati juga sama saja, pokoknya, aku harus mengambil nona ini menjadi
istriku.”
Tiba-tiba saja timbul perasaan takut dalam hati si nona, karena dia melihat Siau Po
demikian bersungguh-sungguh, bukan bergurau atau bermain -main lagi seperti
sebelumnya.
“Sudah, sudah” katanya beruIang-uIang, Kemudian dia menambahkan dengan nada
penasaran. “Kau boleh bunuh aku, Kau boleh hajar aku setiap hari, Pendek kata,
walaupun aku harus mati penasaran aku tetap tidak sudi menikah denganmu.”
Siau Po berdiri.
“Baiklah.” kata Siau Po. “Tidak apa-apa kalau kau menolak sekarang, Bagiku,
sekarang atau pun delapan puluh tahun kemudian, sama saja, Aku tetap akan
menikahimu Kalau sampai akhirnya aku tetap tidak berhasil mengambil kau menjadi
istri, aku akan mati penasaran, mataku tidak bisa terpejamkan.”
“Aih Kau benar-benar celaka” seru si nona, “Mengapa kau menghina aku
sedemikian rupa? Lihat saja Pasti ada kesempatan bagiku untuk membunuhmu Iya,
aku akan membunuhmu terlebih dahulu, kemudian aku baru membunuh diri.”
“BoIeh saja kau membunuh aku.” sahut Siau Po seenaknya, “ltu yang dinamakan istri
membunuh suami, Kau tahu, kalau aku tidak menjadi suamimu aku tidak akan mati
dengan cara demikian.” Ketika mengucapkan kata-katanya yang terakhir, suara Siau Po
agak bergetar dan urat-urat di dahinya menonjol.
Si nona menjadi ketakutan, cepat-cepat dia memejamkan matanya dan tidak berani
melihat lagi.
Siau Po maju menghampirinya beberapa tindak, Tiba-tiba dia merasa tubuhnya
menjadi lemas, kaki dan tangannya gemetar MuIutnya dibuka seakan ingin mengatakan
sesuatu, tetapi tidak ada sepatah kata pun yang sanggup diucapkannya, suaranya lebih
mirip dengan rintihan binatang.
Dia mengulurkan kedua tangannya seprti hendak menyentuh si nona, matanya
menatap tajam.
Nona itu semakin takut melihat tampang Siau Po. Tanpa sadar dia menjerit perlahan.
Siau Po sendiri kelihatannya juga terkejut Dia menyurut mundur dua tindak,
kemudian terkulai di atas tanah, tapi pikirannya masih sadar.

— Ketika berada dalam istana, aku sering menyebut Pui Ie dan Kiam Peng sebagai
istriku. Ketika itu hatiku bangga sekali dan aku selalu tertawa senang, Rasanya aku
bebas dan leluasa sekali, Aku bisa memeluk mereka bahkan mencium mereka kalau
aku mau. Tapi wanita ini, aneh sekali.,., Bukankah dia dalam keadaan tertotok dan tidak
berdaya? Mengapa aku merasa jeri terhadapnya? Mengapa aku merasa sungkan?
Sampai-sampai tangannya pun tidak berani kusentuh. Sungguh gila –, demikian
pikirnya dalam hati, Tanpa sadar dia menjerit “Edan”
Nona itu heran mendengar suara Siau Po sehingga dia membuka matanya dan
menatap dengan tajam.
Wajah Siau Po menjadi merah padam saking jengahnya.
“Aku memaki diriku sendiri yang seperti hantu cilik tanpa nyali, Aku bukan mencaci
engkau.,,.”
“Nyalimu kecil, aku justru merasa nyalimu terlalu besar sehingga kau selalu lancang
melakukan hal apa pun tanpa dipikirkan lagi. Kalau orang seperti engkau dikatakan
bernyali kecil, maka langit bisa ambruk dan terjadi gempa bumi yang dahsyat”
Mendengar kata-katanya, tiba-tiba Siau Po berjingkrak bangun.
“Baik.” teriaknya, “Aku memang bernyali besar Aku akan membuktikannya dengan
membuka pakaianmu sehingga kau menjadi telanjang bulat.”
Nona itu terkejut setengah mati, Hampir saja dia semaput mendengar ucapan Siau
Po.
Kembali Siau Po menghampirinya, Dia menatap gadis itu lekat-lekat dan melihat
sinar matanya yang mengandung kekhawatiran serta ketakutan.
“Sudahlah Sudahlah” katanya kemudian, “Biar jadi apa pun, aku suka mengalah
terhadapmu” Dia batal mewujudkan ancamannya, Malah dia berkata dengan nada
sabar. “Seumur hidup, aku paling takut istri, karena itu, sebaiknya aku bebaskan saja
kau….”
Nona itu memperhatikan dengan tajam, Hilang sudah rasa takutnya, yang tertinggal
hanya rasa marah.
“Kau,., kau….” Ketika di kota, apa saja yang kau bicarakan dengan para wanita busuk
itu? Bukankah kau mengatakan bahwa kau dan

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s