“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 56

Bhok yang menyelusup dan menyerbu
ke dalam istana, Kong Lian dan kawan-kawannya tidak mengetahui akal bulus Siau Po,
makanya ia sangat senang dan gembira karena Siau Po telah berjasa.
Sudah merupakan suatu peraturan jika panglima sedang menjalankan tugasnya ia
tak boleh kembali ke kota raja. Maka untuk itu ia mengutus beberapa Sie Wie untuk
menyampaikan berita itu pada raja dan tahanan yang tertangkap itu pun dibawa serta.
Besok paginya mereka berangkat secara perlahan-lahan, magrib mereka beristirahat
para serdadu yang diperintahkan untuk menyampaikan kabar itu telah sampai dan
bergabung kembali.
“Ada surat rahasia dari baginda” kata salah seorang Sie Wie yang diutus tersebut.
Siau Po gembira sekali, tetapi setelah ia mengetahui kalau isi surat itu sangatlah
mengejutkan yang hadir Siau Po dan kawan perwira itu menjadi pucat.
Utusan yang membawa surat perintah itu lalu mendekat pada Siau Po yang lalu
berkata secara perlahan-lahan.
“Sri Baginda memerintahkan agar dalam segala hal tuanku harus selalu berhatihati.,.”
katanya.

“Ya, aku mengerti. Terima kasih pada Sri Baginda.” kata Siau Po yang lalu
mengambil uang seribu tail untuk mereka.
Sambil berpikir Siau Po berkata dalam hati.
“Mungkinkah tawanan itu telah memutar balikkan keterangan itu sehingga baginda
raja tak percaya dengan keteranganku…”
Sesampainya di Kuil Siau Lim Sie mereka disambut dengan gembira, penyambutan
itu langsung dipimpin oleh kepala pendeta. Lalu Siau Po diundangnya masuk ke kuil. Di
sana dibacakan isi surat raja, Di situ disebutkan bahwa raja sangat memuji pendeta itu
dan ia pun menyampaikan hadiah untuk para pendeta yang baik. Dan setelah itu, ia
mendapatkan ucapan terima kasih dari para pendeta itu.
Pada akhir suratnya di situ disebutkan
“Wie Siau Po, aku hadiahkan baju Na Wa kuning untuk menjadi pendeta di Siau Lim
Sie, agar ia mempelajari kitab-kitab suci untuk dapat menyebarkan agama Buddha, Dan
kepadanya telah dihadiahkan untuk keperluan suci dan kepalanya harus dibotakkan…”
Mendengar kata terakhir dari surat itu Siau Po menjadi pucat memang sebelumnya ia
berjanji bersedia menjadi biksu tetapi di Gunung Ngo Tay san. ia menjadi bingung tidak
karuan.
“Wie Tay jin mewakili raja untuk bersuci, itu merupakan suatu kehormatan bagi kuil
kami,” kata Hui Cong.
Tak lama kemudian Siau Po mulai dicukur gundul dan mulailah ia menggunakan baju
pemberian raja.
Siau Po banyak mendapatkan kata selamat dari para biksu dan para pendeta.
Setelah dicukur dan diberi kata selamat dari para pendeta itu Siau Po lalu menangis.
Selesai para biksu itu mendoakan, Siau Po diberitahu dari keturunan mana Su Ci dan
para pendeta Siau Lim Sie ialah delapan hurup Tay Kay Koan Hay teng Ceng Hoa
Giam.
Setelah mendapatkan keterangan itu Siau Po lalu diberitahu, bahwa ia sekarang
sebagai paman guru jadi dengan kepala pendeta itu adalah sebagai adik seperguruan.
Siau Po ingat Song Ji. ia adalah wanita jadi dia tak dapat berada dalam kuil itu.
Segera ia memberikan uang lima ratus tail pada Kong Lian, agar ia mencarikan rumah
sewaan untuk Song Jie.
Karena dia sebagai pengganti kaisar maka ia mendapatkan kedudukan yang sangat
enak dan juga memiliki empat orang kacung,

“Su Te, dalam kuil ini kau bebas, Kau boleh melakukan apa saja asalkan jangan
melakukan yang lima larangan ini, yaitu minum arak, membunuh, jinah, dusta dan
mencuri..” pesan Hui Tong,
“Keempat-empatnya mungkin dapat aku laksanakan tetapi untuk tidak berbicara
dusta rasanya aku suit” katanya dalam hati.
Siau Po lalu bertanya.
“Bagaimana kalau berjudi, apakah itu juga merupakan tantangan? Dalam kuil ini?”
tanyanya.
“Apakah itu berjudi.,.?” tanya si pendeta,
“Judi adalah mengadu keuntungan baik dengan dadu atau pun dengan kartu.,.” Siau
Po memberikan keterangan
Hui tong itu lalu tersenyum.
Hm dalam lima tantangan itu tak terdapat judi, untuk itu jika orang lain ingin
membatasi diri, Su Te sendiri terserah” jawabnya,
“Sri Baginda mengutus aku menjadi pendeta hanya karena aku akan ditugaskan
menjaga raja yang tua itu. Tetapi mengapa di sini bukan di Ngo Tay san, mengapa”
katanya dalam hati.
Selesai berkata demikian Siau Po lalu berjalan-jalan mengitari kuil itu, ia dapat
melihat ada beberapa orang yang sedang berlatih silat ia menjadi sangat tertarik.
Melihat kedatangan Siau Po, mereka langsung menjura memberi hormat Hal itu
membuat Siau Po menjadi risih.
“Sering aku mendengar bahwa ilmu silat di kuil ini begitu dahsyat Apakah itu yang
dimaksud oleh baginda raja? Agar aku berlatih silat yang nantinya untuk menjaga ayah
raja itu.-.?” kata Siau Po dalam hati.
“Ah, aku mengerti sekarang, Ketua di sini mengangkat aku sebagai adik
seperguruannya, dengan demikian aku sudah tak mempunyai guru lagi sebab guru itu
sudah lama meninggal Sungguh licik dia… tetapi aku menjadi orang kepercayaan raja.
Atau mungkin ia sungkan untuk mengajarkan aku ilmu silat. Kalau memang demikian
aku toh dapat belajar sendiri dengan melihat mereka berlatih aku dapat menirunya…”
kata Siau Po dalam hatinya.
Beberapa bulan telah berlalu semenjak Siau Po berada di tempat ini. Musim dingin
telah berlalu dan berganti dengan musim semi, tetapi ilmu silat yang dia miliki belum
seberapa, Hanya pada pergaulan Siau Po sangat disenangi oleh para pendeta, hal itu
dikarenakan Siau Po dapat bergaul dengan siapa saja.

Pada suatu hari Siau Po merasakan tubuhnya sangatlah nyaman, Lalu ia pergi tanpa
diketahui para pendeta yang lain. Dia terus saja berjalan, Siau Po ingat akan Song Cie.
Dengan siapa dia tinggal dan bagaimana keadaannya.
Selagi Siau Po berjalan ia mendengar keributan dari orang yang sedang mengadu
mulut Melihat itu Siau Po tersenyum. Siau Po lalu bergegas ingin cepat sampai dan
bertemu dengan Song Cu, wanita yang selalu menyebarnya itu.
Belum jauh Siau Po melangkah terdengar lagi suara ribut-ribut, Setelah mengetahui
kedatangan Siau Po para biksu muda itu lalu menghampiri dan bertanya padanya.
Siau Po mengetahuinya kalau biksu muda itu tadi sedang bertengkar mengadu mulut
dengan seorang wanita yang memiliki wajah cantik dan manis pula.
Mendengar Siau Po datang dan dipanggil paman guru, si wanita itu lalu tertawa
berbarengan sambil mengejeknya.
Melihat nona-nona yang cantik itu hati Siau Po jadi tak menentu, pikirannya
melayang-layang dan berhayal jika saja ia dapat menjadikan nona itu sebagai istrinya
dia bersedia menukar dengan kedudukannya.
Keempat biksu dan kedua wanita itu heran melihat Siau Po yang terdiam mematung
itu.
“Susiok Cou…. Susiok Cou.,.” para biksu itu memanggil-manggil Siau Po.
Siau Po tetap saja diam.
“Susiok Cou…. Susiok Cou.,.” panggilnya lagi.
Dan masih tetap Siau Po diam saja, hal ini yang membuat biksu dan juga wanita itu
menjadi bingung.
“Apakah pendeta cilik ini Susiok Cou kalian?” tanya si nona yang mengenakan baju
biru.
“Nona harap, nona berbicara dengan sedikit sopan” tegur salah seorang biksu itu
pada si nona yang pakaian baju biru.
“Biksu ini berderajat tinggi, Dia juga salah seorang pemimpin kami. Dialah adik
seperguruan dari ketua kami yang sekarang memegang tempuk pimpinan pada wihara
kami.,.” jawab biksu itu.
Lalu si nona yang mengenakan baju hijau tertawa dan berkata pada kawannya.
“Kakak dia mencoba mendustai kita. Dia kira kita dapat percaya begitu saja Coba
pikir biksu semuda ini sudah mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi.,.?”

“Eh, apakah benar kau berderajat tinggi dari Siau Lim Sie?” tanyanya dengan suara
mengejek.
“Pendeta ya tetap pendeta tak usah ditambah dengan kata-kata tinggi. Kau lihat aku,
bukankah aku si pendeta kate?” kata Siau Po dengan nada merendah.
Alis si nona terangkat dan berkata.
“Paman guru kami mengatakan bahwa Siau Lim Sie menjadi pusat ilmu silat sejagat
ini. Kami kakak beradik datang ke mari, siapa sangka ilmu silatnya sama saja, Bahkan
pendeta-pendetanya tak dapat menjaga mulutnya, Lihat dia, Omongannya sama saja
dengan para laki-laki hidung belang yang ada di mana-mana Hingga membuat orang
hilang harapan. Adikku mari kita pulang…” kata si kakak.
“Sie Cue, kau telah datang ke tempat kami dan kau telah melakukan sesuatu yaitu
telah memukul orang. Andaikata kau akan pergi sedikitnya kau harus memberitahu
nama yang mulya gurumu”
Siau Po berpikir kalau saja biksu-biksu itu telah tertampar oleh tangan si nona berarti
si nona itu memiliki kepandaian yang tidak dapat dianggap enteng.”
“Semua pendeta Siau Lim Sie kepandaiannya sangat tinggi, tetapi mereka sekarang
kena hajar. itu bertanda kalau kedua nona itu memiliki kepandaian silat yang cukup
tinggi” kata Siau Po dalam hati,
Lalu si nona yang berbaju biru itu berkata.
“Dengan ilmu silat yang dimiliki kalian, masihkah kalian menghendaki kami
meninggalkan nama besar guru kami? Lalu apakah kalian pantas untuk mengetahui
nama besar guru kami?”
“Nona, tugas kami hanya menjemput nona-nona dan tugas itu sudah kami lakukan,
Kami diharuskan untuk selalu sopan, sabar, dan ramah. Karenanya mana mungkin kami
dapat dengan lancang menyerang nona? jikalau nona-nona ingin menguji ilmu silat
kami datanglah atau silahkan nona menanti sebentar Kami akan memanggil beberapa
paman guru kami supaya nona dapat bertemu dan berbicara dengan beliau….”
Habis berkata begitu sang biksu lalu membalikkan tubuhnya untuk memanggil
beberapa paman gurunya.
Baru saja beberapa langkah, nona itu sudah langsung menyerangnya dan serangan
itu berhasil dengan baik.
Ceng Ci gusar dan ia lalu berlompat untuk bangun dan langsung menyerang si nona
itu dengan tipu silat.
Nona itu menangkis dengan cepat, lalu ia memutar tangan biksu tersebut.

Tiga biksu itu kaget dan gusar Mereka lalu menyerang si nona dengan serempak.
Tetapi dengan satu gebrakan si nona dapat melumpuhkan ketiga biksu tersebut.
Siau Po kaget sekali, sehingga ia diam saja tahu-tahu ia dikagetkan dengan orang
yang telah memukul punggungnya dan tenaganya langsung hiIang, Rupanya ia sudah
ditotok jalan darahnya.
Oleh karena itu di depannya terlihat si nona dengan baju biru tengah berdiri, maka
Siau Po tahu bahwa orang yang menotok si nona yang berbaju hijau.
Ia menjadi girang sekali, hingga ia berseru.
“Bagus, bagus.,.” ia pikir, tak kecewa orang yang mengakalinnya itu. Ditendang pun
ia akan merasa puas lalu ia pun berkata.
“Harum…. Harum.,.” Sebab hidungnya mencium bau yang harum
“Ini kepala gundul cilik ini busuk sekali, Adik tebaslah batang hidungnya.,.” kata si
nona berbaju biru.
“Baik, lebih dahulu aku akan mengorek kedua biji matanya”
Siau Po kaget Lalu ia merasakan jari tangan yang lembut merayap ke mata kirinya.
“Perlahan-Iahan mengoreknya, jangan terlalu cepat-cepat” kata Siau Po.
“Kenapa begitu?” tanya si nona yang berbaju hijau.
“Sebab lebih baik kau cekik saja, Kau lebih baik cekik saja seperti ini” kata Siau Po.
“Oh, biksu cilik” berseru si nona.
“Jiwamu bakal melayang, kau masih berani bicara gila padaku.,.”
Siau Po kaget sekali, Mata kanannya terasa nyeri, Terang si nona mengorek
matanya itu, Siau Po tidak menjerit tetapi ia tertunduk, ia takut sekali, hingga ia
melupakan tipu silat yang diajarkan Hu Jin, Bagaimana cara membebaskan cekalan
Iawan. ia juga membawa tangan Siau Po kebelakang buat mencoba melepaskan diri
dari tangan si nona. Tapi ia telah ditotok jalan darahnya hingga tenaganya sudah tidak
ada, Tak berdaya ia melepaskan diri.
“Aduh” Demikian ia malah berteriak merasakan nyeri, itu disebabkan si nona
menghajar punggungnya.
“Aduh emak.,” ia meronta dengan mencoba menggerakkan kedua tangannya.
Tiba-tiba ia menyentuh sesuatu yang lembut Kiranya itulah buah dada si nona.

“Kurang ajar” berseru nona itu.
Dia menjadi malu berbarengan gusar sekali.
kembali Siau Po menjerit kesakitan, Kali ini si nona menggerakkan kedua tangannya
pada kedua tangan Siau Po, membuatnya patah tulang atau salah urat, itulah tipu silat
“Leng Yan Kui Cau,” artinya walet pulang sarang dari si nona.
“Aduh” Siau Po menjerit untuk kesekian kalinya, dan kali ini kakinya terkait sehingga
tubuhnya roboh terbanting, ia habis daya bagaimana ia bagaikan benda apa saja waktu
tubuhnya itu didupak si nona yang sedang kalap itu.
Karena begitu gusarnya, si nona lalu mengambil golok dan bersiap untuk
membunuhnya. Siau Po menjadi tersentak ia lalu berguling beberapa kali membuat
golok itu nyaris mengenai lantai.
Dengan satu tendangan susulan membuat Siau Po terguling ke lantai
“Adik jangan bunuh dia” Tiba-tiba nona yang berbaju biru itu berseru.
Si nona yang berbaju hijau seperti tak mendengarkan apa-apa terus menghajar tubuh
Siau Po.
Tiba-tiba si nona menghajar dua kali, untunglah Siau Po menggunakan pakaian
wasiat itu, Melihat Siau Po tidak mati-mati, si nona menjadi kesal.
Crang.-.
Si nona yang berbaju biru itu lalu menangkis pedang kawannya yang sedang kalap
itu dengan pedangnya sendiri hingga senjata mereka beradu dan mengeluarkan suara
yang sangat nyaring.
“Pendeta itu tak mungkin dapat hidup dengan lama, dan mari kita menyingkir…”
Si nona yang berbaju biru itu beranggapan kalau mereka membunuh anggota Siau
Lim Sie adalah cara yang kurang baik.
Nona yang berbaju hijau tidak lagi menyerang lebih jauh, sebaliknya ia menangis
kemudian mengangkat sebelah tangannya yang menggenggam pedang untuk
membabat leher sendiri.
Lalu nona yang berbaju biru menangkis tangan kawannya yang hendak membunuh
dirinya itu, Tetapi tak ayal, golok itu telah mengiris sedikit lehernya dan darah pun
menetes.
Nona yang berbaju hijau itu lalu ambruk tak sadarkan diri ia lalu melepaskan
pedangnya dan menolong kawannya yang sedang sekarat.

“Amitabha Buddhaf” Tiba-tiba terdengar suara dari balik si nona yang datang dari
arah belakangmu Suara itu sangatlah lembut terdengar.
“la, harus cepat ditolong.-” katanya,
“Dia…. Dia tak tertolong lagi…” kata si nona.
Segera saja si nona menyingkir dan memberikan peluang pada biksu itu, Lalu ia
menotok jalan darah pada leher dan di sekitar luka si nona itu.
Orang itu lalu menyobek bajunya dan membalut luka di leher si nona itu. Dan lalu
mengangkat tubuh itu.
Pendeta itu berlari membawa nona itu ke wihara.
Siau Po lalu ke luar dari kolong meja itu dan ternyata kedua tangannya sudah tak
dapat digerakkan.
“Ah, si adik itu sangat lihay ia juga berhati keras? Kenapa dia hendak membunuh
dirinya? Bagaimana dia benar-benar mati paling baik aku menghindar dari tempat ini.-.”
kata Siau Po dalam hati.
Maka, dengan dahi yang banyak mengeluarkan keringat ia terus mendaki gunung itu.
Tangannya yang patah itu sulit baginya untuk berlari Namun untung saja ada beberapa
biksu yang lalu menolongnya.
Tiba di kuil itu ia lalu diobati dan untunglah pada kuil itu terdapat orang yang pandai
mengobati luka.
“Meski aku menengok mereka” pikirnya dalam hati.
Di tengah perjalanan ia berpapasan dengan delapan orang biksu yang semuanya
memegang golok Kay Too. Mereka ternyata bertugas di ruang Kat Lut Ih.”
“Susiok Cou diundang Bapak Ketua segera” kata salah seorang biksu yang
sebelumnya memberikan hormat pada Siau Po.
“Baik, sekarang aku hendak melihat dahulu kedua nona itu apakah ia dapat ditolong
atau tidak?” kata Siau Po.
Tiba di kamar ia lalu menanyakan tentang nona itu dapat ditolong atau tidak pada
biksu yang menjaganya.
“Sekarang Siau Ceng yang menanganinya, dan semoga dapat tertolong jiwanya”
kata biksu itu pada Siau Po.
“Semua ini gara-gara biksu cilik itu” kata si nona yang berbaju biru itu.

Siau Po setelah melihat nona itu ia lalu menghadiri undangan dari sang ketua.
Betapa kagetnya Siau Po sesampainya di ruang pertemuan itu. Ternyata semuanya
sudah ada di tempat itu, menjadikan tempat itu semacam akan diadakan sidang umum
saja.
“Su Te, silahkan menghormat pada Jie Lay kita” kata Hu Cong.
Siau Po lalu menuruti perintah itu.
“Sekarang Su Te, ceritakan duduk perkaranya agar Jie Lay dapat mengetahui duduk
persoalannya” katanya pula.
“Aku mendengar ada suara ribut-ribut lalu aku mendekat dan ingin mengetahui apa
yang terjadi, Tetapi peristiwa tengah terjadi, aku tak mengetahui sebab-sebabnya, Nah,
Ceng Ci sebaiknya kau saja yang menceritakannya” kata Siau Po.
“Baiklah, aku mendengar akan kedatangan nona-nona itu lalu aku menjemputnya.
Dan aku menerangkan bahwa di kuil kami tak menerima pengawal wanita, Lalu yang
lebih tua itu mengatakan bahwa Siau Lim Sie adalah pusat ilmu silat yang di jaman ini
tanpa tanding, maka itu mereka datang untuk mencoba ilmu kita.”
“Lalu kami menjelaskan bahwa kami tak berani mengatakan hal yang demikian Dan
pun kami menjelaskan bahwa ilmu silat di lain partaipun mempunyai keistimewaan
masing-masing” katanya.
“Atas penjelasanku itu Sie Ju tertawa dingin, lalu nona itu berkata, bahwa nama Siau
Lim Sie adalah nama kosong dan kepandaian Siau Lim Sie adalah kepandaian kucing
kaki tiga yang harus ditertawakan? Lalu kami bertanya mereka berasal dari mana dan
siapa nama guru mereka”
“Kau benar dan ternyata si nona hendak mengacau, dan memandang kita dengan
sebelah mata, pasti mereka dari orang yang tak sembarangan. Untuk itu kita memang
harus mengetahui nama guru dan dari partai mana mereka berasal” kata Hui Cong.
“Karena pertanyaanku itu ia lalu menampar muka Le Cu dan Ceng Ceng kami tak
menyangka akan adanya serangan itu. Lalu Su Te Ceng Ceng bertanya mengapa nona
itu begitu kasar, aku jawab itu karena pertanyaanku tentang pertanyaanku itu.”
Selesai sidang Siau Po lalu berkata.
“Menurut apa yang aku tahu ilmu silat Siau Lim Pay hanya begini saja. Terbukti
dengan beberapa gebrakan saja orang partai kita sudah pada kocar-kacir” katanya.
“Buktinya Ceng Ceng yang sudah belajar lebih dari dua puluh tahun dibuat tak
berdaya.,.” sambungnya.

Mendengar kata-kata itu memang sangat tidak enak didengar tetapi memang itulah
kenyataannya.
Mereka lalu pergi ke ruang di mana terdapat nona-nona itu yang sedang dirawat.
Siau Po lalu bertanya pada kakak seperguruannya.
“Apakah ia akan dapat disembuhkan?” tanyanya.
“Kelihatannya dia akan dapat disembuhkan…” jawab si biksu.
Si nona yang berbaju hijau itu terbaring dengan mata tertutup dan terlihat seperti
pucat. Lehernya dibalut dengan kain putih dan tangannya sangat bagus.
Hati Siau Po sangat sedih dan hatinya tak tenang melihat tangan si nona yang
tergeletak itu Siau Po lalu memegangi tangan itu dan lalu ia berkata.
“Apakah nadinya masih bekerja?” tanyanya.
Si nona yang satunya, sejak Siau Po masuk ia sudah panas hatinya dan sewaktu
Siau Po memegangi tangan itu Siau Po lalu dibentaknya.
“Jangan raba-raba tangan adikku” kata si nona.
Mendengarkan hal itu Siau Po lalu menarik tangannya.
Teng Koan lalu mengurut tangan si nona itu dan membebaskan totokannya sambil
berkata.
“Jurusmu itu jurus tangkapan tangan Kim Na Chiu, dari keluarga Hek Shoasay”
katanya.
Melihat itu si nona lalu menarik tangan yang sedang diobati itu dan Teng Koan
kembali menyentil tangan nona yang angkuh itu dan kali ini mengarah pada jalan
darahnya.
Si nona lalu menyerang dengan tangan kirinya dan kembali tangan itu disentilnya.
Melihat itu si nona lalu mundur beberapa langkah, dan karena penasaran ia lalu
menyerang dengan kedua tangannya, Maksudnya agar ia tak dapat menyentilnya.
Melihat itu semua biksu itu tertawa sambil berkata. “Bagus…. Bagus.,.” katanya.
Selesai berkata si biksu lalu meladeni serangan itu, Anehnya tangan-tangan itu
masih dapat ditotoknya meskipun dengan kedua tangannya, Kali ini biksu itu langsung
mengarah pada jalan darah si nona yang membuat dia gusar.

“Oh, biksu apakah kau mau mampus” dampratnya.
“Aku masih hidup, Kalau aku mati tak mungkin aku dapat menyentil tanganmu” kata
biksu dengan tenang.
“Sekarang kau hidup besok kau akan mati” jawabnya.
“Hai, Nona Bagaimana kau akan tahu kalau aku akan mati besok apakah kau pandai
ilmu nujum..?” tanyanya.
Nona itu sangat jengkel dan ia tahu kalau orang yang ada dihadapannya itu adalah
orang pandai juga.
“Pergi keluar jangan kau ganggu yang sedang sakit itu” pinta si nona.
Sewaktu Teng Koan mengajak Siau Po pergi ia tak mendengarnya karena ia sedang
memandang tubuh yang tergeletak itu. Dan ketika nona yang satu itu mendekati dan
langsung menendangnya untuk keluar dari kamar itu Siau Po sangat kaget.
Melihat hal itu Teng Koan lalu mendekati Siau Po yang sedang terjatuh itu dan
berkata.
“Siau Susiok, pukulan Nona itu terdiri dari tiga belas jurus dan jika kau tak sudi untuk
melayaninya ada enam cara untuk menghindarinya, Kau dapat menyerangnya dengan
mengkaitkan tangannya, sambil menyentuh sikunya atau menyentilnya, menotok, dan
mencekuk tangannya. Atau kau dapat dengan menendangnya Semua itu dapat
digunakan untuk menghindarinya”
Karena Siau Po sedang merasakan nyeri maka ia berkata, “Baru sekarang kau
mengatakannya, itu percuma” katanya.
“Susiok benar Memang Susiok yang salah, coba aku memberitahukannya siang tadi
tentulah Susiok tak akan jatuh tersungkur di tanah seperti itu”
Mendengar kata-kata itu Siau Po lalu berkata.
“Nona-nona yang di dalam itu galak-galak, jika nanti aku bertemu ia di luar pasti nanti
aku akan dihajarnya Aku harus dapat menghindar darinya tetapi biksu tua ini tahu ilmu
silat nona-nona itu dengan tangannya ternyata dia dapat melumpuhkan nona-nona itu.
Agar aku dapat menikah dengan dia aku harus menjadikannya sebagai pengawalku
Tapi ia sudah tua dan kemungkinan dalam beberapa hari lagi ia akan meninggalkan
dunia ini. Dan jika biksu ini telah mati apakah aku akan dapat selamat dari ancaman
nona-nona ini” tanyanya dalam hati.
“Hanya dengan sentilan tanganmu saja kau dapat menaklukkan nona itu, apakah
nama ilmumu itu” tanya Siau Po.

“ltuIah ilmu Tan Cie San Kang, apakah kau tak mengetahui ilmu itu” tanya si biksu.
“Aku tak mengerti Lebih baik kau ajari aku ilmu itu”
“Asalkan kau perintahkan tak berani aku menolaknya dan ilmu itu tak sukar untuk
dipelajari Cukup dengan kita mengetahui jalan darah serta tepat juga sentilan atau
totokan itu” kata biksu itu.
Mendengar semua itu Siau Po menjadi girang.
“Jika tak sukar untuk dipelajari sebaiknya kau cepat ajari aku tentang ilmu itu”
“Siau Susiok kau mempelajari Ie Tin Keng sudah sampai mana dan sebaiknya
Susiok belajar menyentil terlebih dahulu”
“Bagaimana aku harus menyentilnya?” tanya Siau Po.
Setelah memberi contoh biksu itu meminta Siau Po untuk memperagakannya, Dari
hasil percobaan itu biksu dapat mengetahuinya kalau Siau Po belum pernah
mempelajari Ie Tin Keng. Dan ia menyarankan agar Siau Po mempelajari ilmu Ie Tin
Keng terlebih dahulu dan barulah ia dapat mempelajari ilmu yang dimintanya.
“Poan Jiak Ciang aku pun tak dapat” katanya.
“ltu tak apa. Mari, kita coba ilmu Cam Hoa Kim Na Ciu” ajak biksu itu pada Siau Po.
“llmu apa itu, aku belum pernah mendengarnya” kata Siau Po.
Teng Koan menunjukkan muka yang sangat kecewa karena sulit bagi dia untuk
menerangkannya.
“Sekarang, marilah kita mencoba dengan ilmu yang lebih ringan yaitu Kongkong Sin
Ciam apakah ilmu itu juga kau tidak tahu?” tanya biksu itu.
Sang paman menggeleng kepala
“Bagaimana kalau kita coba dengan ilmu yang sangat mudah yaitu Polobit Cu?”
Kembali Siau Po menggeleng kepala, Si keponakan murid berbicara terus tetapi
tetap saja pamannya menggeleng kepalanya Kewalahan juga ia. Namun dengan
demikian biksu tua itu memiliki seratus kesabaran, ia tak berkecil hati dan berkata.
“Kita kaum Siau Lim Pay pelajaran kita menanjak menurut urutannya dari yang
rendah menanjak terus sampai pada yang tinggi, Dengan demikian kita akan
mendapatkan tenaga yang sangat dahsyat. Baru nanti ilmu Wieto Ciang, ilmu ini harus
dipelajari selama lima tahun dan jika ia cerdas dapat sekalian mempelajari San Hoa
Ciang sehingga ia dapat menandingi partai lain,.,”

Mendengar keterangan itu Siau Po menarik napas berat Dia menjadi sangsi pada
dirinya.
“Tadi kau katakan bahwa Tan Cie Sin Kang tak sukar untuk mempelajarinya. Tetapi
mengapa aku harus mempelajarinya dari yang paling dasar Harus memakan waktu
berapa tahun aku mempelajari ini semua?” tanya Siau Po.
“Untuk mendapatkan ilmu-ilmu itu kita memerlukan waktu yang cukup lama”
jawabnya.
Mendengar jawaban itu Siau Po lalu tertawa, Teng Kong menganggukkan kepalanya
sambil tersenyum dan berkata.
“Waktu empat puluh tahun adalah waktu yang sangat cepat, selama seribu tahun, Su
Tit yang berhasil mempelajari ilmu menyentil atau menotok itu. Namun tenaga
dalamnya masih tergolong biasa saja” kata si biksu menjelaskan pada Siau Po.
Memikirkan hal itu Siau Po menjadi bingung sendiri ia lalu mencari akal bagaimana
caranya agar ia dapat mempelajari ilmu itu dalam waktu yang singkat.
Dalam hati Siau Po berkata. “Aku harus memancing agar ia panas hatinya.”
Lalu Siau Po mendapat akal maka ia lalu berkata.
“Kau menjadi ketua poan Cik Tong, jika kau tak mencari jalan untuk mempercepat
waktu belajar dan berlatih, apakah kau tak merasa malu pada leluhur Siam Lim Sie,
yang telah ribuan tahun Iebih. seandainya kau mati dan bertemu oleh leluhurmu dan
kau akan ditanya apa yang telah kau perbuat untuk partai kita? Bagaimana kalau ia
mengatakan kalau kau hanya pandai makan dan minum saja. Dan kau tidak
memperdulikan apa-apa yang ada di sekitarmu, terutama kau tak memikirkan untuk
kemajuan Siau Lim Sie? Apakah kau tak merasa malu?” tanya Siau Po pada biksu itu.
Mendapat pertanyaan demikian muka biksu itu menjadi merah karena menahan rasa
malu.
“Susiok benar, baiklah aku akan mencari cara yang paling cepat untuk dapat
menguasai ilmu silat tersebut” katanya.
Siau Po merasa senang mendengar jawaban itu.
“Memang jika kau tak berhasil lebih baik kita jangan muncul ke muka umum dan lebih
baik kita meminta pada nona itu untuk menjadi ketua di kuil ini. Aku nanti akan meminta
padanya diajari ilmu silat agar kita dapat cepat menjadi pandai.” kata Siau Po
memanaskan biksu itu.
Ternyata siasat Siau Po berhasil terbukti biksu itu menjadi pucat mukanya dan panas
hatinya.

Baru saja ia ingin berlalu Siau Po memanggil biksu itu dan mengatakan.
“Tunggu dulu,” katanya menahan biksu itu. “Kau harus dapat merahasiakan terlebih
dahulu usaha kita ini jangan langsung kita menyebarkannya. Ingat, lain orang tak boleh
ada yang mengetahui rencana kita” pesan Siau Po.
“Mengapa demikian?” tanyanya tak mengerti
“Orang akan tidak menaruh kepercayaan pada kita, sebab kita belum tentu dapat
berhasil. Bukankah si nona itu masih berada di kuil kita? Dan hati kita semua belum ada
yang tenang” katanya.
Teng Koan mengangguk.
“Susiok benar, memang urusan ini untuk kepentingan partai tetapi rahasia tak dapat
langsung saja dibuka”
Besok paginya sewaktu Siau Po bangun dari tidurnya ia lalu pergi ke kamar si nona.
ia bertemu dengan biksu yang bertugas merawat si nona yang sedang sakit.
“Selamat pagi, Susiok” Demikian biksu itu memberikan hormat pada Siau Po.
“Bagaimana luka si nona apakah ada perkembangan atau mulai membaik?” tanya
Siau Po pada biksu tua itu.
“Kira-kira tengah malam tadi nona itu siuman, dan setelah diketahui kalau ia berada
di kuil kita ia lalu meronta dan meminta saudaranya untuk memapahnya ke luar dari kuil
ini. Ketika aku membujuknya ia mengatakan tidak ingin mati di kuil ini” kata si biksu.
Siau Po melihat orang itu yang berbicara tak lancar ia lalu menerka kalau si nona
sewaktu sadar tadi mungkin ia telah mencarinya.
“Lalu bagaimana…?” tanya Siau Po.
“Sutit masih membujuknya, dan ia tampaknya masih penasaran ia dibantu kakaknya
keluar dari kuil ini, sia-sia Sutit mencegahnya dan akhirnya dibiarkannya pergi dengan
luka-luka itu. Dan aku lalu melaporkan hal itu pada ketua” jawabnya.
Tiba di kamar biksu itu ia mendapatkan si biksu sedang duduk bersila, Di depannya
sudah banyak tergeletak buku-buku dan matanya pun cekung, pertanda bahwa
semalam ia tak tidur.
Dengan perlahan Siau Po meninggalkan kamar itu sebab ia tak ingin mengganggu
konsentrasi biksu itu dan biksu itu pun tidak melihat akan kedatangannya.
Satu bulan sudah berlalu, Pada suatu hari Hui Beng ingin menyegarkan tubuhnya ia
lalu melewati kamar Teng Koan, ia sangat heran mengapa akhir-akhir ini Teng Koan

sangat kurus dan matanya sangat cekung jika ia berlatih silat hanya sebentar ia
melakukannya lalu ia pun terduduk bagaikan orang yang tak bertulang.
Tak ada minat untuk hidup lebih lama juga semangat hidup pun pudar Melihat
keadaan itu Hui Beng sangat kasihan.
Demikianlah pada suatu hari ia membawa uang yang cukup banyak, ia ingin sekali
bermain judi maka ia lalu pergi turun gunung,
“Sekarang aku akan mencari rumah judi aku akan berjudi dengan sepuas hatiku”
katanya dalam hati.
Karena menerka rumah perjudian itu berada dalam gang maka ia lalu pergi ke ganggang
yang ada di sekitar kuil itu.
Itulah rumah yang ditujunya itu.
Saking girangnya ia lalu berlari mendekati rumah itu, Tengah ia mendorong pintu itu
ia dihadang beberapa orang yang ditugaskan sebagai penjaga.
Siau Po bukanlah anak yang tidak memiliki pengalaman dalam hal seperti itu, ia lalu
merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa uang.
“Aku ingin mengalahkan beberapa uangku untuk berjudi sebab tanganku sudah
sangat gatal.” kata Siau Po.
“Tapi anak kecil, ini bukan tempat judi ini tempat orang bermain wanita.,.” kata si
penjaga.
“Kau tolong carikan aku pelayan untuk menemaniku minum dan berbicara…” kata
Siau Po yang lalu mengeluarkan uang untuk diberikan pada penjaga itu.
Pria itu sangat senang sekali ia mendapatkan uang yang begitu banyak dan ia
berkali-kali mengucapkan kata terima kasih.
“Terima kasih, Tuan.,.” ucapnya.
“Anak itu pasti anak orang yang sangat kaya, ia lalu mencuri uang ayahnya itu untuk
digunakan berpoya-poya, sebaiknya aku meladeni dia agar dapat mengeluarkan
uangnya dan aku mendapatkan uang yang banyak” kata Nyonya pemilik rumah itu.
Menyambut tamu yang masih muda itu si nyonya lalu tertawa dan ia memperlihatkan
para wanita yang ada di sana.
“Kalau kau ingin menemui nona kami terlebih dahulu kau harus membayar uang
buka mulut pada-ku” katanya.

“Apakah kau menghina aku karena kau melihat aku masih kecil ini jangan kau lihat
aku dari keciInya. Di kampung halamanku aku justru memiliki tempat itu” kata Siau Po
dengan penuh semangat
“Sekarang kau kumpulkan nona-mu aku akan memilihnya sebagai teman berbicara”
kata Siau Po.
Orang yang disuruh mengumpulkan itu lalu pergi dengan memberikan kabar itu pada
para wanita itu, Dan dalam waktu yang singkat dia sudah berhasil mengumpulkan orang
yang dimaksud itu.
Siau Po sangat senang walaupun tidak ada yang menarik hatinya yang sedang
dilanda kekangenan wanita itu. Lalu Siau Po menarik salah seorang wanita yang akan
dijadikannya sebagai teman bicara dan tanpa malu-malu lagi ia mencium wanita-wanita
itu.
Sewaktu orang sedang ramai-ramai berbicara dan bercanda maka kamar tersingkap
tanpa ada yang mengetahuinya.
“Kedua adik mari aku cium” kata Siau Po tanpa menoleh.
Kedua nona itu adalah nona-nona yang diharap oleh Siau Po Siang dan malam.
Kedua nya berbaju merah dan hijau.
“Selekas kau meninggalkan desa aku terus mengikuti kau, aku akan mengetahui apa
yang akan kau lakukan” kata si nona yang berbaju biru sambil tertawa.
Punggung Siau Po mengeluarkan keringat, dan tetapi ia berusaha untuk dapat
menguasai diri.
“Nona-nona bagaimana dengan luka-luka yang ada di leher kau apakah itu sudah
sembuh?” tanya Siau Po.
“Kami berdua kakak beradik setiap hari kami selalu mengikutimu dari kejauhan aku
berniat akan menghukum mati kau, Aku akan membalas sakit hati adikku dan ternyata
Tuhan telah mencabut nyawamu melalui diriku”
Siau Po mengeluh dalam hati yang sedang berhadapan dengan gadis-gadis cantik
itu.
“Sebenarnya aku tak terlalu bersalah terhadapmu karena saat itu aku tak bermaksud
menyentuhnya, Apakah itu aku bersalah.,.?” tanya Siau Po pada gadis-gadis itu.
Mendengar jawaban itu si nona yang menggunakan baju biru timbul murkanya.

“Apa kau bilang?” tegurnya dengan bengis.
“Ah, maaf Nona Tadinya aku menyangka nona-nona dari tempat ini aku mengaku
bersalah” kata-nya.
“Ah, Kakak mengapa kau berbicara terus dengan manusia seperti dia. Dialah si
kepala gundul yang jahat, Untuk itu hukumannya ia harus mati.” kata nona yang
berbaju hijau.
Gadis itu lalu menebaskan pedangnya diarahkan pada Siau Po dengan sangat cepat.
Siau Po menjerit sambil menunduk Dan tak ayal lagi topinya habis terbabat dan
terlihatlah kepala yang gundul.
Yang hadir di situ kaget dan semuanya pada berlarian
“Pembunuhan…. Pembunuhan…” Demikian teriak mereka.
Siau Po lalu bersembunyi pada orang yang dituju sebagai tukang pukul dan ia
berkata.
“Eh, ini rumah hina siapa yang masuk ke tempat ini berarti ia seorang pelacur Hayo,
kamu berdua pergi dari sini kalau kau tidak mau apa yang dikatakan orang-orang itu”
katanya.
Nona-nona itu lalu mempermainkan senjatanya karena ia tak berani membacok
orang yang ada di sana.
“Kamu masih belum mau juga pergi. Apakah kau ingin membukakan bajuku atau kau
ingin membukakan celanaku.,.?” tanya Siau Po.
Kedua nona itu menjadi gusar ia khawatir jika orang itu benar-benar membuka baju
dan celananya. Dan kedua nona itu lalu berlarian keluar, hingga hampir saja menubruk
orang yang ada di sana.
Hati Siau Po menjadi agak aman tetapi ia masih merasakan kekhawatirannya itu. ia
khawatir nona itu menungguinya di luar.
“Kamu semua jangan berisik, kalian jangan ada yang takut aku akan membagikan
padamu uang…” kata Siau Po pada wanita itu.
“Lekas kau pergi membeli seekor kuda dan kau tunggu aku di sana, Nanti aku akan
pergi segera” kata Siau Po setelah itu ia pun menyerahkan uangnya untuk membeli
kuda,
“lni uang dua puluh tail untukmu dan kau buka pakaianmu aku akan menggunakan
pakaianmu untuk pulang.,.” pinta Siau Po.

“Mereka itu adalah istri dan gundikku dan mereka yang mencukur rambutku hingga
aku sampai begini, Dan ia pun melarang aku untuk pergi ke tempat seperti ini.,.” jawab
Siau Po pada mereka,
“Oh, begitu” jawab mereka,
Ternyata keterangan Siau Po dapat dipercaya, lalu ada juga yang tertawa
mendengar istri yang menggunduli kepala suaminya.
Siau Po berdandan dengan cepat hal itu membuat nona-nona yang ada di sana
semuanya tertawa, maka mereka membantu Siau Po menggunakan bedak.
“Tuan, kuda sudah tersedia, hanya tuan harus berhati-hati sebab istri dan gundik
tuan menjaga di sana” kata orang yang disuruh membeli kuda itu.
“Celaka, dasar wanita-wanita galak” kata Siau Po dalam hati.
Sebelum keluar Siau Po mengatur siasatnya. Bahkan mereka lalu diminta
mengalihkan perhatian si nona sedangkan yang lainnya menerobos ke luar bersama
dengan dia.
Si nona yang berbaju biru melihat kejadian itu lalu ia mengejar tetapi di gang itu
penuh sesak dengan nona yang menggunakan kesempatan itu untuk kabur, Lalu ia
berteriak akan menyingkirkan nona-nona itu.
“Hay harimau betina, jantanmu sudah menunggang kuda dan kabur Mana kau dapat
mengejarnya.,.” Ejek yang lainnya.
Nona itu gusar dan hampir saja mengamuk dengan golok yang sudah siap mencari
darah.
Ternyata nona-nona itu tak menyerang mereka, hanya mengomel.
“Hay perempuan jahat, perempuan galak” katanya.
Sebelum sampai ke kuil Siau Po terlebih dahulu membersihkan diri lalu ia memasuki
kuil itu. Diam-diam Siau Po masuk lewat pintu samping.
“Jika mereka datang dan mengatakan hal itu pada pendeta aku akan
menyangkaInya…” katanya dalam hati.
Sampai malam tiba ia tidak menemui si nona yang tadi mengejarnya dan
keesokannya ia kembali memikirkan nona yang menggunakan baju biru.
“Bagaimana aku dapat melihatnya barang satu kali saja” katanya dalam hati.

“Susiok Cau, selama beberapa hari ini jangan ke luar Karena suasana di sana sangat
tidak enak.,.” kata seorang biksu.
“Ada kejadian apa di luar sana” tanya Siau Po.
“Tadi tukang masak memberitahukan aku sewaktu ia pergi ke pintu belakang, ia
melihat nona-nona itu membawa golok dan menanyakan tentang dirimu padanya” kata
si biksu.
“Mereka menanyakan apakah dia mengenalmu, biasanya ia pergi jam berapa dan ke
mana perginya? Aku melihat mereka itu mempunyai maksud jahat pada mu. Asalkan
kau tak pergi ke luar pasti mereka tak berani masuk ke mari” katanya.
Siau Po menggaruk-garuk kepalanya,
“Benar, benar dia wanita jahat.” katanya.
“Memang ketika tukang masak itu berkata, dia tidak mengenalmu, dia lalu
menghajarnya hingga tukang masak itu luka-luka, dia pun berkata jika ia menceritakan
hal ini pada yang lain ia akan memotong lidahnya, Sungguh gila dia beraninya datang
pada Siau Lim Sie. Memangnya mereka memakan nyali harimau?” tanyanya.
“Memang, kita orang-orang Siau Lim Sie tak berani padanya, Terbukti kita semua tak
berani keluar dari kuil ini.” kata Siau Po.
Biksu itu menjelaskan bahwa dalam hidup kita harus berdamai dan hal itu sudah
dilaporkan pada ketua pendeta kuil itu.
Mendengar penjelasan itu, Siau Po menganggukkan kepalanya,

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s