“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 55

untuk
belajar membaca dan juga menulis, agar nanti jika aku berikan pangkat kepadamu kau
sudah dapat membaca dan menulis, Kau akan lebih mudah untuk naik pangkat.
Kelak di belakang hari aku berpangkat besar atau tidak, itu urusan belakang,
Pikirnya.Tetapi sekarang toh aku mesti menjadi biksu, Siau Po berpikir keras. Jika ia
sampai di sana akan mengelabui kaisar yang tua itu. “Aku akan mengatakan padanya
bahwa tanpa layananku raja tak akan dapat makan dan tidak enak minum. sehingga
setelah aku meninggalkannya ia menjadi kurus, Aku tahu bahwa raja itu sangat
menyayangi putranya itu dan ia pasti akan menyuruhku pulang.”
Setelah berpikir demikian, ia dapat mengurangi kesedihannya. Lalu Siau Po berkata
pada raja itu.
“Segala titah Baginda akan hamba laksanakan Hamba tidak akan menolak segala
perintah Baginda, meskipun hamba harus binasa, jangankan untuk menjadi biksu,
menjadi telur busuk sekali pun hamba tak akan menolak, Sri Baginda boleh melegakan
hati karena hamba akan berangkat ke Ngo Tai San, untuk merawat ayah Raja dengan
sebaik-baiknya. Agar ayah Raja dapat hidup berbahagia dan panjang umur”
Kaisar Kong Hi merasa gembira lalu tertawa dan berkata.
“Baru dua bulan kau meninggalkan kota raja kau sudah bertambah pengalaman,”
katanya memuji.
“Kau juga dapat menggunakan pepatah, Eh, mengapa kau berdiam begitu lama di
Ngo Tay San, apakah kau mengalami kesusahan dalam mencari Hu Hong?”
Siau Po menganggap lebih baik diam dan tak mau menceritakan pengalamannya
pada raja itu. Maka ia menjawab apa adanya.
“Ya, benar, Biksu Ceng Liang Si, juga si tua Giok Lim Lo Hoat Su, menyangkal
adanya Lo hongya di dalam kuil itu. sedangkan hamba tidak dapat dengan segera
membuka rahasia, Dan hamba menggunakan akal yaitu setiap hari hamba berziarah ke
tempat-tempat suci, Berbagai tempat suci di Ngo Tay San hampir seluruhnya hamba
ziarahi, Hampir seribu pendeta yang hamba kenal, dan jika tidak ada pendeta lhama
pasti saat ini hamba masih berada di Ngo Tay San untuk terus bersujud di berbagai kuil
itu,” kata Siau Po.
Siau Po menceritakan keadaan di Gunung Ngo Tai san yang menurutnya sangat
indah itu, sehingga hati raja menjadi sangat tertarik untuk berkunjungke tempat itu
sekaligus ingin menjenguk ayahandanya.
“Siau Kun Cu, sekarang kau pergilah terlebih dahulu, nanti aku akan menyusulmu
dan menjenguk ayahanda, Kita harus dapat mengajak ayahku agar mau ke sini,
Misalkan ia tak ingin kembali ke sini nanti akan aku buatkan sebuah kamar khusus
untuknya, bukankah dengan demikian sama saja?” ujar Raja itu kepada Siau Po.

“Mungkin itu sangatlah sulit,” jawab Siau Po.
Kata-katanya terhenti oleh suara nyaring tetapi halus yang terdengar dari luar ruang
baca itu.
“Hong Te Koko, apakah kau tidak ingin berlatih bertempur denganku?”
Dan tantangan itu disusul dengan gedoran daun pintu secara beruntun.
Mendengar suara itu raja tersenyum, karena ia mengetahui bahwa yang memanggil
itu adiknya. Hong Te Koko tadi berarti “Kakak Raja.”
“Buka pintu” perintahnya.
Siau Po menurut ia melangkah ke pintu tetapi dalam hatinya ia bertanya.
“Siapakah wanita ini? Apakah ia Kian Leng Kong Cu?”
Ia lalu membuka pintu kamar baca itu, Tetapi dari luar pintu itu telah dibuka, sehingga
daun pintu mengenai dahi Siau Po.
“Aduh” teriak Siau Po kesakitan, sambil menahan rasa nyerinya.
Setelah pintu terbuka maka masuklah seorang nona yang memakai mantel bersulam
merah sebagian penutup wajahnya.
“Sudah lama aku menanti Hong Te Koko, mengapa engkau tak datang-datang juga.
Apakah mungkin kau takut kepadaku?” tanya nona itu pada sang raja.
Sambil memegangi dahinya yang terbentur daun pintu, Siau Po menatap si nona
yang menurutnya berusia kurang lebih empat atau lima belas tahun. Menurutnya lebih
muda darinya, si nona mukanya mirip biji kuaci dan cantik serta memiliki bibir tipis,
hingga sangat menggairahkan.
“Siapa yang takut kepadamu? Kau tahu, menurut penglihatanku sekalipun muridku
kau tak mungkin sanggup untuk mengalahkannya, apalagi aku, mana mungkin?” kata
Kaisar Kong Hi sambi tertawa.
“Eh, apakah Koko telah menerima murid, lalu siapakah itu?” tanyanya sambil melirik
pada Sia Po.
“lnilah muridku Namanya Siau Kui Cu. Ilmu silat yang dimilikinya adalah hasil
pengajaranku. Nah, nak lekas kau menghadap Kian Leng Kong Cu yang menjadi
Sukoh-mu”
Kata-kata yang belakang itu ditujukan pada Siau Po. Kata “Sukoh” itu berarti bibi
guru.

“Ah, benar-benar tuan putri Kian Leng,” kata Siau Po dalam hati. Memang Kian Leng
Kong berarti anak tuan Kian Ling.
Siau Po mengetahui kaisar Sun Te mempunyai enam orang putri, Di mana yang lima
telah menutup mata, Hingga sekarang hanya tinggal Kian Leng Kong Cu. Putri ini jarang
datang ke kamar baca, Siau Po tak berani melintasi keraton Cu Leng Kiong, yang
merupakan keratonnya Hong Thai Hau.
Yang tinggal di sana ibu suri dan Tuan Putri sendiri, sekarang ia sudah mengerti,
bahwa kakak beradik itu tengah bergurau, maka Siau Po mendekatinya dan
menghormat serta berkata merendah.
“Sutit memberi hormat kepada Sukoh Tay jin, Hamba mengharap semoga Sukoh
selalu dalam keadaan sehat dan berbahagia”
Putri Kian Leng tertawa karena ada orang yang memanggilnya Sukoh, Mendadak ia
menendang dagu orang yang memanggil itu. Siau Po kaget sebab itu hadiah yang tak
terduga hingga giginya terkatup dan terasa nyeri bukan main, Siau Po menjerit dan
darah mengucur melalui mulutnya.
“Ah…. Kau..” Raja terperanjat
Si tuan putri sebaliknya tertawa terbahak-bahak.
“Ah Koko, muridmu sangat tak ada gunanya Aku menendang untuk mencobanya,
Ternyata dia tak dapat berkelit Karena itu, aku hanya mencoba dan pastilah ilmu silat
Koko pun sama, tak berarti”
Siau Po sangat mendongkol hingga dalam hati ia mengupatnya, berulang kali ia tak
dapat berbuat apa-apa. Sekali pun tuan putri hendak menghukumnya ia tak berdaya.
“Bagaimana, apakah kau merasa nyeri pada lidahmu?” tanya si nona pada Siau Po.
Itulah pertanyaan yang mengejek sekali, tetapi Siau Po hanya menyeringai dan
menjawab.
“Tidak apa… tidak apa” suaranya tidak tegas karena sambil meringis kesakitan.
“Tidak apa… tidak apa” Kian Leng Kong Cu meniru suara Siau Po.
“Cuma jiwanya baru hilang separuh lebih,” ia tertawa lalu menarik tangan sang raja.
“Mari-mari, kita mengadu kepandaian”
Tuan putri ini belajar silat sewaktu Hong Thayhou mengajarkan silat pada raja, ia
berada di sana dan tertarik ingin belajar ilmu silat, Hanya tidak berbarengan ia diajar
tidak sungguh-sungguh ia ingin mengalahkan kakak, Selain pada ibunya pun belajar

dengan beberapa guru yang terdiri dari Sie Wie, pengawal istana kerajaan ia belajar
sudah tiga tahun, tetapi baru menerima belasan jurus ilmu silat Kim Na Chiu, ia pernah
menguji kepandaiannya itu dengan beberapa Sie Wie, sengaja berpura-pura kalah.
Karenanya ia menjadi tidak puas, maka ia pergi pada raja, untuk menguji raja itu.
Raja sudah lama tidak berlatih dengan adiknya. Tangannya merasa gatal, maka
segera menyambut tantangan itu. Tak lama kemudian mereka sudah berada di luar
kamar baca, Adiknya itu lantas mengadu kepandaian
Pertarungan dilakukan dalam lima babak, Raja bertempur dengan main-main, tidak
urung ia menang empat kali, Kian Leng Kong Cu menjadi tidak puas ia lari pada ibunya,
ia meminta si ibu mencobanya, Kebetulan sang ibu sedang kurang sehat.
Namun tetap melayani juga, ia merobohkan putrinya, lalu pergi pada gurunya untuk
meminta pelajaran lebih jauh. ia memperoleh pelajaran baru, maka kembali menantang
raja. Namun raja yang repot dengan urusannya telah melupakan janjinya.
Tak ada gairah raja melayani sang adik, Berita tentang ayahnya membuat dirinya
banyak berpikir.
“Sekarang aku sedang banyak urusan penting, tak dapat aku bertanding denganmu.
Kau lebih baik belajar dahulu dan baru aku akan melayanimu,” kata sang raja.
Sepasang alis lentik tuan putri berdiri Dia merasa tidak puas terhadap sang raja,
kakaknya.
“Kita kaum kangouw, Jika kita mengadu kepandaian, sebelum ada yang mati tak
akan ada yang pergi Kalau kau tidak menepati janji datang tepat pada waktunya, apa
kau tidak akan ditertawakan semua orang gagah di kolong langit ini? jikalau kau tidak
datang sebaiknya kau mengaku kalah saja”
Kata-kata putri itu menjadi kata-kata umum dalam dunia kang ouw. Dia pasti
mendapatkan dari Sie Wie, Di kalangan istana tak ada kata-kata demikian.
“Baik, baiklah aku mengaku kalah” sahut sang raja
“Kian Keng Kong Cu, orang nomor satu dalam ilmu silat di kolong langit ini. Yang
akan dapat menghajar harimau galak dari gunung selatan dan kakinya dapat
menendang naga dari laut utara” ujar sang raja memuji.
Kian Leng tertawa.
“Yang kakinya dapat menendang kutu dari kutub utara” katanya dan kembali kakinya
menendang Siau Po.

Kali ini Siau Po dapat membaca gerakan si nona, ia memang selalu waspada, maka
dengan satu geseran tubuh ia dapat berkelit, sehingga tendangan itu mengena tempat
kosong.
Tuan putri tercengang karena tendangannya itu gagal. Apabila raja jadi tidak
melayaninya Di menjadi panas hati terhadap Siau Po.
“Bagus, gurumu tak mau melayaniku, maka itu kau saja yang maju Nah, mari kau
ikut denganku” kata sang Putri.
Sebenarnya raja sangat menyukai anak itu, gesit dan lincah tak ingin ia membuat
kecewa. Karenanya ia lalu berkata pada Siau Po.
“Siau Po, kau pergi temani tuan putri main-main barang beberapa jurus, Besok saja
kau datang menghadap.”
Baru raja menutup mutut, adiknya sudah berseru dengan mendadak, “Awas” Dan
mendadak pula ia menyerang kepada raja menggunakan kedua tangannya, ilmu silat
yang ia gunakan ialah “Ciong Kau Ci Beng,” Gong dan tambur berbunyi berbarengan
Dan sasarannya kedua pipi raja.
“Bagus” Raja menyambut serangan itu dengan mengangkat sepasang tangannya
untuk menangkis serangan Tubuhnya digeser ke samping dan tangannya menyerang
ke punggung adiknya yang ia tolak dengan tipu silat, “Twi Cong Bong Goat,” menolak
jendela memandang si putri malam.
Kian Leng Kong Cu tidak berdaya karena raja bergerak cepat luar biasa, maka
penolakannya itu membuat tubuhnya terhuyung beberapa langkah dan terus roboh
tanpa sanggup mempertahankan diri lagi.
Menyaksikan itu mau tak mau Siau Po tertawa.
Bukan main gusarnya si tuan putri.
“Thay-kam, mau mampus” bentaknya. “Kau tertawakan apa?” Dia maju seraya
menjulurkan sebelah tangannya ketelinga Siau Po untuk memegang terus menarik,
hingga Siau Po terbentur ke luar kamar.
Siau Po dapat menangkis atau berkelit melepaskan diri asal ia mau. Namun hal itu
tidak dilakukan karena ia tahu si putri majikannya, ia khawatir menyebabkan tuan putri
itu kalap.
Kian Leng Kong Cu terus saja menarik telinga Siau Po sampai keluar pada sebuah
lorong.

Di luar terdapat beberapa Sie Wie dan Thay-kam. Menyaksikan kejadian itu mereka
tertawa, Hanya karena mereka takut pada Siau Po maka tertawa sambil mendekap
mulut agar tak terdengar.
“Sudah, lepaskan telinga hamba Ke mana aka dibawa hamba turut dengan Tuan
Putri,” ujar Sia Po sambil terus mengikuti.
“Kaulah si penjahat yang tak menghiraukan undang-undang negara, maka hari ini
kau telah aku tangkap, Apa kau sangka aku akan begitu muda untuk
membebaskanmu? Terlebih dahulu aku akan menotok jalan darahmu, setelah itu baru
kita berbicara” jawab tuan putri.
Benar saja sehabis berkata, Kian Leng menotok Siau Po pada leher dan perut nya.
Karena tak mengetahui ilmu totok ia menotok sebisa-bisanya dengan menggunakan
tenaga yang cukup berat Dan tentu saja Siau Po merasa kesakitan.
“Aduh, aku terkena jalan darahku…” teri Siau Po lantas saja tubuhnya jatuh, Mata
serta mulutnya terbuka dengan tubuh tak bergerak lagi.
Kian Leng kaget bercampur girang, lalu menendang dengan perlahan, Siau Po tak
bergerak.
Tiba-tiba Kian Leng tertawa.
“Bangun” bentaknya.
Tetapi Siau Po diam saja. Kian Leng lalu menerka, mungkin ia tel benar-benar
menotok secara kebetulan mengena jalan darahnya,
“Mari, aku akan membebaskan totokan itu” katanya, Setelah itu menendang Siau Po.
Siau Po yang berpura-pura itu lantas berpikir
“Jikalau nona ini ingin membebaskan totokannya dan tak berhasil maka ia akan
menendangku lagi.” Karenanya ia lalu berteriak, “Aduh” dan terus bangun.
“Kong Cu sungguh lihay menggunakan ilmu totok pada jalan darah, Mungkin Sri
Baginda juga tak sanggup melakukan hal ini”
“Mh” Tuan putri itu mengeluarkan suaranya yang dingin.
“Thay-kam cilik, kau sangat licik, dulu aku memang belajar ilmu totok, Sekarang, kau
ikut dengan ku” katanya dingin.
Siau Po mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun yang terlontar dari
mulutnya. Si nona yang anggun itu mengajaknya ke suatu tempat yang biasa digunakan
untuk berlatih silat dengan raja.

“Tutup pintu, agar tak ada yang melihat kita” kata putri itu.
Siau Po tertawa dalam hati dan pikirnya.
“Kepandaian semacam ini siapa yang sudi melihat dan mempelajarinya.” Namun ia
tetap menjalankan perintah putri itu.
Selagi Siau Po menutup pintu, Kian Leng mengangkat kayu lalu menyerang Siau Po.
Dan mendadak kepala Siau Po terasa nyeri bukan kepalang-nya. Sebab, ia telah dihajar
secara tiba-tiba, Tubuh Siau Po roboh tak sadarkan diri, Ketika sesaat kemudian ia
sadarkan diri matanya melihat Kian Leng tengah berdiri mengawasinya sambil tertawa.
“ToIol siapa belajar silat maka matanya harus dapat melihat ke enam penjuru.
Telinganya pun harus mendengar kedelapan jurusan, Aku menghajar kau dengan
palangan pintu, mengapa kau tak dapat menjaga dirimu? Kalau begitu untuk apa kau
belajar silat?”
“Aku…. Aku,” kata Siau Po yang tak dapat bicara terus, sebab mendadak ia merasa
nyeri pula, Hal itu karena mata kiri dan hidungnya terluka terkena pukulan palang pintu,
Tampak darah mengalir ke matanya.
Kian Leng mengangkat palang pintu lalu membentak Siau Po agar bangun.
“Kalau kau laki-laki sejati, mari kita bertempur pula” bentaknya.
Namun itu bukan tantangan belaka, Si putri melancarkan serangan mendadak
ditujukan pada bahu Siau Po.
“Aduh” Siau Po menjerit lalu berkelip karena si tuan putri sudah meneruskan
serangannya menyerang kakinya, Melihat itu Siau Po berlompat untuk menghindari
serangan itu. Kemudian dengan cepat dirampasnya palang pintu itu dari tangan si tuan
putri.
“Bagus” kata Kian Leng seraya menarik palang pintu itu, dan diteruskan menusuk
dada Siau Po.
Siau Po berkeiit ke kiri, Namun di luar dugaannya palang pintu telah melayang ke
wajah Siau Po. Seketika tubuhnya terhuyung-huyung dengan mata berkunang-kunang.
“Hay, kaulah penjahat besar dari rimba hijau” teriak Kian Leng, “Kau harus dibunuh
habis” Kem-bali ia menggerakkan palang pintu ditangannya.
Siau Po segera menyadari maka langsung mengelak Namun si tuan putri yang terus
melakukan serangan hanya mengenai tempat kosong, Dengan cepat Siau Po
menjatuhkan tubuh seperti tidur, untuk menghindari diri dari serangan itu, Tuan putri itu
terus saja menyerangnya, Tubuh Siau Po menggelinding, Terdengar suara teriakan si
nona karena telah menghajar lantai dengan palang pintu itu.

“Aduh” si Tuan putri terpekik karena tenaga yang digunakan untuk menyerang Siau
Po ternyata memukul lantai dan berbalik Tangan si Tuan putri terasa nyeri dan hampir
patah. Kakinya kembali menendang telak pinggang Siau Po.
“Aduh” teriak Siau Po ketika tendangan itu mendarat telak di pinggangnya.
“Menyerah.,. Menyerah, hamba tak mau bertempur lebih jauh.,.”
Namun Tuan putri itu terus menyerang berulang-ulang sedangkan mulutnya
berteriak.
“Thay-kam, apakah kau mau mati? Aku hendak menghajarmu dan kau berani
berteriak.,.”
Memang Siau Po berkelit terus-terusan, sebab jika tidak, palang pintu itu sudah
menghajarnya habis-habisan.
Kali ini Tuan putri menyerang lagi. Siau Po terkena serangan itu pada leher dan
bahunya, Mulutnya meringis merasakan kesakitan
Tuan putri sudah tampak kehabisan tenaga, tetapi hawa amarahnya belum juga reda.
ia hendak mengulangi serangannya, Melihat kemarahan lawannya Siau Po cepat
melompat bangun. Ketika palang pintu itu hampir mengenai mukanya dia cepat
menangkis dengan tangan kirinya.
“Aduh” Siau Po menjerit kesakitan karena tangannya terbentur palang pintu itu. Kali
ini hatinya mulai sadar, ternyata si Tuan putri tidak mau berhenti menghajarnya.
“Tentu ada maksud dari si Tuan putri ini. pasti ia tidak sedang main-main. Kenapa ia
akan menghajar mati diriku? Tidak salah lagi, dia tentu telah menerima perintah dari
Tay Hou yang menghendaki nyawaku..” gumam Siau Po dalam hati.
Karena memikirkan hal yang demikian, Siau Po tidak ingin mengalah terus, Dia
melihat palang pintu itu telah menyerangnya kembali Kali ini sambil berkelit ia
menyerang lawannya dengan langkah sambil menjerit Dengan cepat Siau Po
menendangkan kakinya membuat putri itu roboh.
“Hay, Thay-kam mau mampus kau? Berani benar kau melawanku” teriak Tuan putri
kian marah.
Siau Po tidak menjawab ia terus merampas palang pintu itu untuk digunakan
menghajar kepala Tuan putri.
Kian Leng Kong Cu kaget dengan mata terbelalak lebar Tampak dari sinar matanya
menampakkan ketakutan
Melihat wajah Tuan putri, Siau Po terkejut ia lalu berpikir.

“Di sini aku tak dapat menghajarnya, Kecuali aku menghajarnya sampai mati dan
tidak terdapat bukti, tidak seperti ini. Hh… sangat berbahaya bagi diriku.”
Mendapatkan pikiran begitu Siau Po berhenti menyerang.
Setelah hilang kagetnya Tuan putri itu mengawasi dengan tajam.
“Thay-kam, apakah kau ingin mampus? Lekas bantu aku bangun”
Siau Po berpikir cepat lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Tuan Putri itu
bangun.
“Kalaupun ia akan mematikan aku, itu bukanlah hal yang mudah,” pikir Siau Po.
“Dalam ilmu silat kau tak dapat melawan aku, Barusan aku terpeleset jatuh, Dan tadi
kau telah mengaku kalah, kau sampai menjerit menyerah, Mengapa sekarang kau
melawan? Kau kan laki-laki, mengapa tidak memakai aturan golongan kang ouw.,.?”
Siau Po mengawasi putri itu yang tampak manja, ia pun mengusap darah yang
mengalir di dahinya.
Si Putri berbalik mengawasi, lalu ia tertawa,
“Kau sudah kalah, mahluk tak berguna…. Mari aku susuti darahmu” Tuan Putri
mengeluarkan saputangan putih dari sakunya, Lalu mendekati Siau Po dan mengusap
darah yang mengalir di muka Siau Po.
Siau Po mundur satu langkah.
“Jangan, hamba tak berani menerima itu” katanya.
“Kita sama-sama orang kangouw sejati Sudah seharusnya kita sama merasakan
Rejeki kita sama-sama rasakan, sengsara kita sama menderita” kata sang putri pada
Siau Po.
Keduanya sangat dekat sekali, dengan demikian hidung Siau Po dapat mencium
wangi harum dari tubuh putri itu, Siau Po pun dapat melihat wajah tuan putri yang
sangat cantik dan halus itu.
“Sebenarnya Tuan putri itu sangat cantik,” pikirnya.
“Kau berbalik, aku akan melihat belakang kepalamu” kata si Nona.
Siau Po menurut dan segera memutar tubuhnya, sedang dalam hati ia berkata.

“Tadi aku salah sangka, Aku menyangka jelek terhadapnya, Sekarang, ternyata
benar-benar ia sedang bergurau Dia hanya tidak mengenal batas, Dia menggunakan
tenaga berlebihan….”
“Aduh….” Kemudian ia menjerit, ia merasakan tangan Tuan Putri telah mengenai
lukanya.
Kian Leng Kong Cu tertawa.
“Apakah lukamu itu telah mendatangkan rasa sakit.?” tanyanya
“Tidak seberapa,” jawab Siau Po lalu mendadak ia menjerit, Tubuhnya tiba-tiba
roboh. kakinya terikat.
Kiranya di luar dugaan Kian Leng mengambil pisau belati Siau Po selanjutnya
digunakan untuk menikam punggung dan paha.
“Sakitkah.,.? Bukankah kau mengatakan lukamu itu tidak seberapa dan aku telah
menambahkan untuk beberapa kali lagi.?”
Siau Po kaget sekali, “Mati aku…”
Walaupun tak terlalu parah luka pada tubuh Siau Po ia merasakan sakit yang bukan
main. sedangkan untuk melawan ia tak berani, Kali ini pun ia merasa sakit bukan
kepalang, Setelah itu ia merasa lemas sekali karena sudah banyak darah yang keluar.
“Apakah sekarang kau merasakan sakit.,.?” tanya Si Tuan Putri.
“Sangat nyeri Kung Cu lihay sekali, Hamba bukan lawan Kong Cu.,. Kalau jadi
orang gagah, menghadapi orang tak berdaya harus mengampuni-nya.,.”
“Asal kau bergerak aku akan membuhuhmu…” bentak Tuan Putri.
“Hamba tak akan bergerak,” jawab Siau Po sambil merintih, sebab ia diduduki oleh
Tuan Putri tepat pada lukanya.
Selagi Siau Po diam saja putri itu mengambil ikat pinggang lalu mengikat kaki Siau
Po dengan pinggangnya, hingga terbelenggu kedua kakinya.
“Kaulah orang tawananku, Sekarang, mari kita mencoba melatih semacam ilmu silat
baru, Nama-nya Cukat Liang Cit Kim Beng Hek.,.,” kata si Putri sambil tertawa.
Siau Po mengetahuinya bahwa itu hanya sebuah lakon sandiwara yang biasa
dipertunjukkan
“Ya… ya, cukat liang menawan Beng Hek dengan tujuh kali menahan dan tujuh kali
melepaskannya. Namun tidak demikian dengan Kong Cu. Kong Cu hanya menawan

saya sekali dan melepaskannya hanya sekali, Dan jika Kong Cu membebaskan hamba
maka hamba tak mungkin dapat melawan Kong Cu. Sebab, Kong Cu lebih pandai dan
lebih lihay dari hamba….”
“Tidak, Tidak dapat” kata sang putri sambil tertawa.
“Cukat Liang juga menggunakan api untuk membakar pasukan musuh yang
menggunakan pakaian seragam dengan tilitan rotan”
Siau Po kaget sekali.
“Tapi.,., tapi hamba tidak menggunakan pakaian lilitan rotan,” tukasnya.
“Kalau begitu sama saja jika aku membakar bajumu,” sahutnya.
“Tidak…. Tidak dapat, Kong Cu”
“Tidak dapat apa, jika Cukat Liang mau membakar, dia lalu membakar pasukan rotan
itu tidak banyak bicara,” bentak Tuan Putri.
“Cukat Liang tidak membakar mati Beng Hek. Jika Kong Cu membakar hamba berarti
Kong Cu bukan Cukat Liang, tetapi Cu Coh” kata Siau Po.
Kong Cu tidak menghiraukan ucapan Siau Po. Dia lalu mengambil baju yang
dipakainya. Tetapi setelah membakarnya tiba-tiba ia melihat kuncir pada rambut Siau
Po, ia lalu membakar kuncir itu.
Siau Po kaget, karena ujung kuncirnya sudah terbakar Siau Po berteriak minta
tolong.
“ToIong…. Tolong…, Cu Coh membakar Cukat Liang”
Tetapi Tuan Putri sebaliknya malah tertawa.
“Api telah menyala… inilah obor Bagus… bagus….
Api menyala dengan cepatnya dan hampir mengenai tangan Tuan Putri. Karena itu ia
lalu melepaskan pegangannya, Siau Po kelabakan lalu melompat dengan sekuat
tenaganya dan menubruk dada Tuan Putri.
Repot juga Kian Leng Kong Cu memadamkan api yang menyala pada dadanya
karena ketika ditubruk ia tidak sempat mengelak Saking kesalnya ia menendang Siau
Po hingga pingsan.
Ketika siuman Siau Po telah berada di atas pembaringan dalam keadaan tak
mengenakan baju.

Dia mendapati Tuan Putri tengah memegang bubuk garam.
“Hai, kau tengah membuat apa?” tanyanya, “Para Sie Wie mengatakan padaku, jika
mendapatkan seorang musuh yang tidak mau mengaku maka para Sie Wie
memberikan garam pada luka-nya. Maka nanti musuh akan mengaku, Karena bubuk
garam bila ditaburkan pada luka rasanya sangatlah perih.”
Siau Po memang merasakan lukanya sangatlah pedih.
“Tolong,., Tolong.,., aku mengaku” jerit Siau Po.
Tuan Putri tertawa secara terbahak-bahak.
“Hai kantong nasi” bentak si Putri “Kau begit cepat mengaku.”
Bagian 42
“Bagiku hal itu kurang menarik…. Sekarang seharusnya kau mengatakan aku
sekarang telah jatuh ke tanganmu Terserah padamu mau diapakan diriku ini, Lalu aku
mengatakan, aku bukannya orang gagah. Aku menyayat-nyayat tubuhmu dan
memberikan bubuk garam itu pada luka itu, kau memohon ampun berulang-ulang. itu
barulah menarik,,.” kata si Putri.
“Celaka, perempuan bau Ya, aku bukanlah orang gagah dan aku mengaku kalah”
seru Siau Po ketakutan
Kian Leng menghela napas, ia hendak me buang garam itu tetapi segera dibatalkan
Lalu memberikan garam itu pada tubuh Siau Po. Sambil tertawa ia berkata,
“Akulah ketua dari Partai Kian Peng Pay yang kepandaiannya nomor satu di dunia,
sekarang kau menjadi tawananku, manusia yang tak berguna dan tak ada arti.,.”
“Yah, aku penjahat yang tak berguna, dan sekarang aku ditawan Ketua partai Kian
Peng Pay yang ilmu silatnya nomor satu di dunia, Bagianku sekarang hanya satu…
mati, tetapi aku mengaku kalah,” keluhnya.
Senang hati Tuan Putri mendengar kata-kata itu dan berkata. “Bagus kalau begitu”
Di dalam hati Siau Po mengumpat Tuan Putri, Dia menerka-nerka tuan putri itu
sedang bergurau atau sedang menjalankan tugas dari ibu suri yang menyuruh untuk
membunuhnya.
“Walau bagaimanapun aku harus mencari akal, agar dapat meloloskan diri,” pikir
Siau Po.

“Aku tidak puas dengan kau, kalau memang benar kau sebagai ketua dari partai itu,
bebaskan aku dan nanti kita akan bertempur sampai mati, jika aku mati aku akan
menggodamu dan berusaha menghisap darahmu”
Kong Cu sangat takut pada setan, maka ia sangat kaget sekali. “Untuk apa aku
membunuhmu.,.?” tanyanya kaget.
“Kalau demikian, cepat kau bebaskan aku.,.” jawab Siau Po.
Kian Leng mengambil lilin, Lalu digunakannya untuk membakar wajah Siau Po. Siau
Po kaget lalu mendorong tubuhnya menyerang Tuan Putri, Lilin yang ada di tangannya
pun jatuh dan mati.
Hal itu membuat Tuan Putri murka, Gadis itu lalu mengambil kayu dan menghajar
tubuh Siau Po.
Dalam menghadapi hal itu Siau Po mendapat akal, Lalu pura- pura mati, Hal itu
membuat Tua Putri terkejut dan takut, Namun kepura-puraan Siau Po tercium, Tuan
Putri segera membentaknya agar bangun dan jika mau bangun ia akan mencongkel
matanya.
Siau Po takut kalau-kalau ancaman Tuan Putr benar, sebab ia tahu tabiat putri raja
ini aneh sekali.
Siau Po mengadakan perlawanannya, Dia membanting tubuh Putri yang lalu
pingsan, Setelah it Siau Po membuka tali yang mengikat kedua kakinya. Namun secara
tidak disengaja kakinya menendang jalan darah si nona, Maka Tuan Putri sadar dari
pingsannya, Lalu Siau Po segera menghajarnya. Anehnya setiap kali Siau Po
menghajar lebih keras ia semakin tertawa.
Bukan main herannya Siau Po melihat tingkah wanita cantik itu. Karena takut ditipu
lagi Siau Po menginjak dada Kian Leng, Tuan Putri itu tetap berusaha melepaskan diri
dari ancaman ttu. Namun tetap saja ia mengalami kegagalan.
Kian Leng lalu meratap agar Siau Po mau membebaskan dirinya, Siau Po terus
memaki Tuan Putri, Setelah sadar ia lalu membebaskannya.
Setelah dibebaskan Kian Leng berkata sambil tertawa.
“Hey, besok siang kau harus datang ke mari untuk bermain denganku”
“Tidak, aku tak ingin main lagi denganmu” jawab Siau Po.
“Jika kau tak datang, aku akan mengadukan pada raja.,, bahwa kau telah
menganiaya aku.,.,” ancam Tuan Putri Kian Leng itu.

Siau Po berpikir Kemudian memutuskan untuk menyanggupi keinginan Kian Leng
dan sehabis berkata begitu Kian Leng lalu mendekati Siau Po dan menciumnya, Lalu ia
pun pergi.
Keesokan paginya Siau Po menghadap pada raja, Sang Raja terkejut melihat muka
Siau Po babak belur, Juga pada rambut dan alis matanya terlihat habis terbakar.
Namun raja sangatlah cerdas karena ia segera dapat menerka penyebabnya.
“Bukankah kau habis dihajar Kong Cu?” tanyanya kemudian.
“Guru, muridmu membuatmu malu, Muridmu harus merebut kembali muka yang
terang ini dengan lebih banyak belajar” jawab Siau Po.
Mendengar jawaban Siau Po hati raja sangatlah girang, Sebab sebelumnya raja
beranggapan kalau kedatangan Siau Po akan menuntut keadilan Jika itu benar, sulit
bagi dirinya menghukum adik sendiri.
“Kau baik sekali, kau harus kuberi hadiah besar…”
Siau Po menjawab dengan cepat
“Suhu, kau tak menegur hamba. Hamba sudah sangat bersyukur, maka itu janganlah
Tuanku menghadiahkan apa pun pada hamba” jawabnya.
“Paling baik suhu mengajarkan pada hamb ilmu silat, agar nanti jika hamba
menghadapi musuh tidak membuat malu suhu dan hamba dapat menjaga diri” katanya.
Mendengar kata-kata Siau Po dan panggila “Suhu” membuat raja menjadi tertawa,
Dia menyanggupi untuk mengajarkan pada Siau Po beberapa ilmu silat yaitu jurus Kim
Na Ciu, tangan menangkap, yang ia dapat dari ibu suri.
Beberapa jurus itu bukanlah jurus sembarangan. Akan tetapi jika dipadukan dengan
beberapa jurus dari Hong kaucu dapat menjadi ampuh. Karena cerdasnya, Siau Po
dengan cepat dapat menimba ilmu dari Sang raja yang ia panggil suhu, “Guru.”
Mendapatkan pelajaran dari raja, Siau Po sangatlah senang.
“Suhu, bagi muridmu ini, Wi Siau Po dengan diangkatnya menjadi murid kepala itu
sudahlah cukup…” kata Siau Po.
Mendengar ucapan Siau Po raja merasa gembira.
“Seorang raja tak dapat berbicara dengan main-main, Untuk itu aku mengangkatmu
menjadi muridku,” ujar raja sambil menepuk tangan, Kemudian beberapa orang
berdatangan mendekati raja.

“Putar tubuhmu” Raja berkata dan keempat orang yang dipanggil tadi memutar
tubuhnya.
Kong Hi bangkit dari duduknya dan ia mengambil sebilah pisau, digunakan untuk
memotong salah seorang Sie Wie yang memiliki kuncir cukup panjang dan juga hitam
kelam. Raja cepat memotongnya.
Thay-kam yang dipotong tadi sangatlah kaget, lalu dengan cepat berlutut di hadapan
raja.
“Hamba harus mati.,. Hamba harus mati” kata itu diucapkan berulang.
Raja tertawa melihat Sie Wie itu.
“Jangan takuti Aku beri hadiah padamu tiga puluh tail perak, dan sekarang kau pergi
keluar…”
Setelah keempat Sie Wie pergi raja lalu memberikan kuncir itu pada Siau Po.
“Tidak lama lagi kau akan menjadi biksu, Untuk itu pakailah kuncir palsu ini untukmu,
agar tak terlihat jelek di dalam istana.”
Siau Po mengangguk perlahan.
“Baik Suhu, Suhu sangatlah baik sekali.,.” ujarnya kepada sang raja.
“Aku mengangkatmu menjadi muridku, jangan sampai orang lain mengetahuinya,
Aku sangat percaya padamu, Dan bila kau melanggar janjimu aku akan mencabut ilmu
silatmu, Aku pun akan mengusirmu dari istanaku,.” pesan gurunya pada Siau Po.
“Baik, Guru. Murid tak berani melakukan itu.,.” sahut Siau Po,
Raja memberikan pesan tersebut pada Siau Po, karena setiap kali ia berlatih dengan
Siau Po, tak ada orang lain yang melihatnya selain dari ibu suri dan Hay Kong Kong.
Setelah terduduk, raja lalu berkata lagi.
“Aku telah menurunkan ilmu yang ada padaku, ilmu itu kudapat dari ibu suri.
sekarang ini kepandaianku sama dengan kepandaianmu juga kepandaian ayahku,
Tetapi ia masih dapat dikalahkan oleh pendeta dari Tibet itu. Untung ayahku di tolong….
sekarang kau pergi berobat dan beristirahat, Besok kau kembali lagi menghadapku.,.”
Siau Po lalu pergi meninggalkan istana dan kembali ke kamarnya, Dia lalu pergi
memang tabib istana untuk mengobati luka-lukanya. Setelah mendapatkan jawaban
dari tabib itu ia lalu tertidur Dan bangun dari tidur ia lalu pergi memenuhi janjinya
dengan Kong Cu untuk bermain-main.

Sewaktu ia pergi untuk menemui Kong Cu hatinya mulai dijalari rasa takut dan rasa
senang, Takut kalau-kalau ia dihajar habis-habisan. Dan senangnya jika dapat bertemu
dengan putri yang cantik dan manis itu.
Ketika Siau Po mengunci pintu, ia mendengar teriakan Kian Leng yang sudah siap
untuk menyerangnya, Mengetahui hal itu Siau Po menerima serangan yang dilakukan
secara mendadak itu. Siau Po menggeser tubuhnya dan kaki serta lengannya cepat
menyambut serangan itu. Dia berhasil menyambar leher si gadis dan langsung
menekan ke bawah.
Menerima itu semua Kong Cu hanya tertawa-tawa.
“Oh, Thay-kam apakah kau ingin mati.,.?” katanya nyaring.
“Apakah kau ingin mati, dan bagaimana mungkin hari ini kau dapat menahan
seranganku?”
Siau Po lalu memegang tangan kiri Tuan putri dan berusaha membuat tak berdaya.
“Bagaimana? Jika kau tak mau memanggilku kakak yang baik aku akan membuat
tanganmu menjadi patah.”
“Fui, budak, apa kau mau mampus?” dampratnya.
Siau Po memutar tangan Kian Leng sambil berkata.
“Jika kau tak memanggilku kakak yang baik aku akan membuat tanganmu patah…”
Mendapat ancaman itu sang putri malah tertawa. Hal ini membuat ia menjadi gusar
juga, Akhir-nya karena sang Putri yang sangat nakal itu tetap tidak mau menuruti katakata
Siau Po pun menghajarnya berulang-ulang kali sampai dirinya tak sanggup untuk
berdiri.
Ketika Siau Po berhenti memukulnya, Kian Leng berkata dengan tersengal-sengal.
“Baik, cukup sudah sekarang giliranku untuk menghajarmu”
Siau Po menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku tak ingin dihajar olehmu Kalau aku
sampai dihajar olehmu mungkin aku akan mati…” Kian Leng terus saja memohon pada
Siau Po. Dan tetap Siau Po tidak mau untuk bergantian memukul Hingga akhirnya Kian
Leng berkata.
“Kakak yang baik, berilah waktu guna menghajarmu Sekali saja aku berjanji tak akan
melukaimu” Sambil berkata, ia memegang kaki Siau Po. Suara itu sangat merdu sekali,
membuat hat Siau Po goncang, Ketika hendak menjawab tiba tiba Kian Leng berkata
lagi,

“Kakak yang baik, kau lihat tubuhku yang penuh dengan darah. Melihat itu hatiku
sangat senang…”
“Lepaskan kakiku…” kata Siau Po sambil menendang Kian Leng,
“Cepat kau lepaskan, Aku akan pergi dengan hidup bersamamu pada suatu hari aku
akan binasa ditanganmu…”
“Jadi kau tak sudi main-main denganku?” kata Kian Leng.
“ltu berbahaya, setiap waktu nyawaku bisa melayang”
“Baiklah kalau begitu tolong papah aku, kau telah menghajarku sampai-sampai tak
dapat ber-jalan….”
“Tidak, aku tak mau mengganggu,” tolak Siau Po.
Kian Leng berusaha berdiri dengan berpegangan pada tembok, Lalu ia terpeleset.
Melihat Kian Leng terpeleset, Siau Po langsung menangkapnya, Dan menahannya
agar Kian Leng tidak jatuh, Akhirnya Kian Leng memohon pada Siau Po agar
memanggilkan dayang-dayangnya, Mendengar permintaan Kian Leng, Siau Po lalu
berpikir dan berkata dalam hati.
“Jika ia memanggil thay-kam tentulah ibu suri akan mengetahuinya dan nanti dia
akan mencari tahu siapa penyebab semua ini. Aku nanti bisa dihajar oleh ibu suri itu.
Maka lebih baik aku yang mengantarkan ia ke kamarnya.,.”
Ketika mengantarkan Kian Leng, Siau Po ingat pada ibu suri yang tabiatnya sangat
jahat Maka iapun menjadi takut Apa lagi setelah melewati lorong dekat kamar ibu suri,
Namun tiba-tiba dia dikagetkan oleh Kian Leng yang ingin menggigit telinganya.
“Jangan, jika kau menggigit telingaku kau tak akan datang lagi padamu untuk
selama-lamanya. Ingat, aku tak akan tarik kata- kataku itu”
Sebenarnya Kian Leng ingin menggigit telinganya, setelah mendengar ancaman itu
ia membatalkan keinginannya.
Sesampainya di kamar Kian Leng, segera Siau Po hendak berlalu, akan tetapi
ditahan oleh Kian Leng.
“Mari masuk Aku akan memperlihatkan padamu sesuatu mainan”
Di dalam kamar telah terdapat empat orang dayang, Siau Po menanti di luar dan ia
tak berani berlaku sembarangan.

Kian Leng menarik tangan Siau Po dan dua orang dayang turut masuk guna
menyiapkan sapu-tangan hangat untuk membasuh muka, Kian Leng mengambil
saputangan itu dan diberikannya pada Siau Po, Siau Po lalu segera membersihkan
mukanya.
Melihat hal itu para dayang tercengang. Tuan Putri memperlakukan thay-kam yang
satu ini demikian sabarnya, Hingga sangatlah berbeda jika ia mengurus ibu surinya,
Kian Leng memperhatikan kedua dayangnya itu.
“Apakah ada yang menarik untuk ditonton?” tanyanya,
Kedua dayangnya itu kaget dan mereka ingin cepat pergi, tapi terlambat sebab
tangan Tuan Putri sudah lebih dulu menyambar muka dayangnya itu. Tentu saja si
dayang jadi kelabakan karena matanya mengeluarkan darah segar.
Menyaksikan hal itu Kian Leng tertawa dan berkata.
“Lihat kawanan budak itu Mereka hanya bisa menjerit Maka itu mana ada
kegembiraanmu berkumpul dengan mereka…?”
Menyaksikan hal itu Siau Po mengumpat dalam hatinya.
“Maaf, Sri Baginda memerintahkan aku untuk melakukan sesuatu pekerjaan Dan aku
harus secepatnya pergi dari sini” kata Siau Po.
“Ah, buat apa terburu-buru?” kata si Putri sambil ia mengunci pintu.
Hati Siau Po berdebar-debar. ia menduga-duga apa yang akan Tuan Putri lakukan
atas dirinya.
“Aku menjadi majikan di sini sudah lima belas tahun, Selalu orang melayaniku, itu
yang membuat hatiku sangat tak enak untuk itu. Aku ingin kita menukar tempat kau jadi
majikan dan aku menjadi budak….”
“Kau menolak? Awas kalau kau tak menerimanya aku akan berteriak Akan aku
laporkan pada raja, bahwa aku telah berbuat tak sopan kepadaku dan kau telah
menghajar aku hingga aku tak dapat bergerak…” sambil berkata begitu Kian Leng lalu
berteriak Hal itu membuat Siau Po menjadi kelabakan.
Mereka berada dalam kamar putri raja, Dan kalau Kian Leng berteriak pasti ada
orang yang masuk, Berbeda dengan tempat mereka berlatih silat, Di tempat itu sangat
sepi, tidak seperti di sini yang selalu dekat dengan para dayang dan para Thay-kam.
Kian Leng tersenyum.
“Hai, orang hina dina Aku berbicara denganmu kau tak menerimanya, itu yang
namanya orang yang tak mau diberi rejeki” katanya.

“Kaulah yang hina dina itu” balas Siau Po dalam hati. ia sangat heran sudah menjadi
putri malah ingin menjadi budak.
Kian Leng lalu duduk bersimpuh dengan sangat hormat terhadap Siau Po.
“Tuan, apakah hendak beristirahat baiklah, hamba nanti akan membantu Tuan
membukakan pakaian…”
“Aku tak ingin tidur, lebih baik kau memijatku dengan perlahan” kata Siau Po

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s