“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 55

sambil
bersikap angkuh.
“Baiklah,” Kian Leng lalu mengangkat kaki Siau Po dan diletakkan pada pahanya ia
kemudian mulai memijat Siau Po secara perlahan-lahan.
Kian Leng dalam memijat sangat berlaku hati-hati hingga ia tak menyentuh luka yang
ada pada tubuh Siau Po.
“Kau pandai bekerja, budak. Kau baik sekali dalam merawatku.,.” kata Siau Po yang
lalu ingin mencubit pipi Kian Leng.
Kian Leng merasakan kepuasan diperlakukan seperti itu.
“Tuan sangat pandai memujiku, Tuan silahkan rebah di pembaringan hambamu
hendak mengurut punggung Tuan” ujar Kian Peng sambil ia membuka sepatu dan kaus
kaki Siau Po.
Siau Po menuruti, senang ia diuruti si cantik, putri istana itu. Namun dalam hatinya
Siau Po masih terus bertanya-tanya dan menerka.
“lni hanyalah sandiwara, dan ia masih tak mau melepaskan aku.,..”
Sementara itu Siau Po tiduran di atas pembaringan, Hidungnya mencium bau
wewangian dari tempat tidur itu. Hingga ia berpikir pula,
“Si wanita ini hidup begitu mewah dalam istana. Berbeda dengan di tempat-tempat
pelesiran, meskipun kamar nomor satu tak mungkin indah dan sebagus ini.”
Tengah merasakan nikmatnya dipijat wanita cantik itu tiba-tiba terdengar suara
berisik dari luar kamar Tuan Putri, Hong Tay Hau datang.
Kian Leng dan Siau Po sangatlah kaget lalu ia berkata pada Siau Po dengan suara
bergetar.
“Sudah tak keburu, Sudah kau diam saja di sini dan gunakan selimutku itu”
Siau Po menurut saja dan ia lalu menutupi tubuh dengan kain selimutnya.

Kian Leng lalu menutup kelambu itu, lalu membuka pintu, ibu suri itu lalu masuk.
“Siang-siang kau menutup pintu, Buat apa-kah.-.?” tanyanya bernada curiga.
“Aku sangatlah ngantuk, dan hari ini tampaknya Thai Hou sehat-sehat saja.,.” sahut
si putri sambil tertawa.
“Hari ini kau main apa saja, dan mengapa mukamu begitu pucat..?” tanya ibu suri
penuh selidik.
Kian Leng memang terlihat pucat ia lalu berkata.
“Seperti yang kukatakan, hari ini aku sangatlah mengantuk.-.”
Thai Hau tertunduk, lantas ia dapat melihat sepatu Siau Po yang terdapat pada
pembaringan.
Hatinya heran melihat kelambu bergerak-gerak maka timbullah kecurigaannya.
“Kalian semua keIuar…” perintahnya pada para dayang dan thay-kam.
“Dan kau cepat tutup pintunya dan palang.-.” katanya pada Kian Leng.
Kian Leng tertawa.
“Ah, ibu juga mau main apa.,.?” tanyanya setelah ia menutup pintu itu, Kemudian
Kian Leng mendekati ibu suri dan mengikuti arah matanya memandang, ia pun kaget
setelah diketahui bahwa ibunya melihat sepatu Maharani di depan pembaringannya.
“Ah, Ibu justru aku sedang memikirkan seandainya saja aku memakai pakaian lakilaki
aku terlihat tampan atau tidak dan itu akan aku perlihatkan pada ibu…” ujarnya
berkilat.
Tay Hou menjawab perkataan Kian Leng dengan dingin.
“ltu tergantung pada anak yang ada pada pembaringan itu, dia tampan atau tidak.,.”
Selesai berkata ibu suri mendekati pembaringan putrinya.
“Tay Hou, bersamanya aku hanya bergurau” kata Kian Leng bingung.
Belum habis putrinya berbicara, dengan satu kibasan tangan ibu suri membuat Kian
Leng terjatuh. Setelah itu ia menyingkap kelambu dan menarik selimut yang menutupi
tubuh Siau Po. Lalu Thay hou memekik kaget itu membuat Siau Po terbangun.
Siau Po berpaling ke arah pembaringan. Dia tak berani memandang mata ibu suri,
Tubuhnya bergetar.

“Tay Hou dialah thay-kam cilik yang paling disayang oleh kakak raja” kata Kian
Leng.
Ibu suri menyadari bahwa putrinya itu sudah mulai dewasa dan membutuhkan napsu
birahi, sehingga ia menyembunyikan pria dalam kamarnya, Syukurlah pria itu masih
kecil. Tentu hubungan itu tidak mempunyai arti, Dan ibu suri memegang tangan Siau Po
dan memutar tubuhnya hingga Siau Po berhadapan padanya.
Siau Po lalu ditampar oleh ibu suri dengan kerasnya muka kanan dan kiri sambil
membentak dengan bengis.
“Lekas pergi, jika suatu hari aku melihat kau dengan putriku aku akan
menghajarmu…”
Mendadak saja ibu suri menghentikan ancamannya sebab ia mengenali wajah anak
itu, hingga lantas ia menegur.
“Oh, kiranya kau…” ujarnya perlahan.
“Bukan aku…” kata Siau Po sambil melengos dan ia menjawab sejadi-jadinya.
“Ada jalan ke surga kau tidak ambil, justru kau mengambil jalan ke neraka yang tak
ada pintunya, Kau berlaku tak pantas terhadap tuanmu, maka hari ini jangan
persalahkan dan sesalkan aku” kata ibu suri itu.
Kian Leng bingung sekali ia lalu berkata.
“Jangan kau persalahkan dia AkuIah yang menghendaki ia tidur di sini…”
Tay Hou tidak menggubris putrinya, Hanya dengan tangan kirinya dia mengusapusap
kepala Siau Po. sementara tangan kanannya diangkat tinggi bersiap untuk
menghajar dengan keras.
Siau Po kaget dan bingung sekali, ia tahu bagiannya adalah hanya mati, Akan tetapi
ia ingat tipu silat ajaran Hong kaucu. “Tek Ceng Hau ki” Siau Po menundukkan muka
cepat ia meraba dada ibu suri.
Melihat itu Tay Hou merasa kaget dan segera ia menarik cepat dadanya.
Lalu Siau Po mengulurkan kakinya untuk menjejak dan tubuhnya jungkir balik, Dalam
beberapa detik ia sudah duduk di atas punggung ibu suri.
Kedua tangannya digunakan untuk memegang pipi ibu suri itu dan ia mengancam
dengan keras.
“Jika kau bergerak, aku akan mengorek biji matamu…”

Menyaksikan hal demikian Kian Leng menjadi tertawa girang dan ia meminta pada
Siau Po untuk turun dari punggung ibu suri. Sebelum turun, Siau Po mencabut belatinya
untuk mengancam ibu suri Tetapi setelah ia turun dari punggung ibu suri itu terdengar
sesuatu yang terjatuh seketika ia mengenali benda yang jatuh itu, ia ingat kalau ibu suri
pernah berhubungan dengan Song Beng Gie.
Mengetahui hal itu Siau Po lalu memberitahukan bahwa dirinya adalah Peng Liong
Su yang baru, Setelah mengetahui Siau Po adalah Peng Liong Su maka ibu suri
menjadi ketakutan sekali.
Setelah itu ibu suri memerintahkan pada putrinya untuk meninggalkan mereka
berdua, Kemudian diajaknya Siau Po untuk datang ke kamarnya, agar pembicaraan
mereka tidak ada yang mendengarkan.
Siau Po atau Peng Liong Su mengikuti permintaan Tay Hou, tapi sebelumnya Siau
Po memikirkan hal itu.
Di dalam kamar Siau Po dan ibu suri itu duduk berhadapan Siau Po heran, mengapa
ibu suri yang kedudukannya sangat terhormat, menjadi anggota partai Sin Liong Kau.
Sementara Tay Hou pun merasa heran melihat Siau Po yang masih muda ini
mempunyai kedudukan yang cukup terhormat itu. Hatinya merasa ragu apa benar, Siau
Po itu seorang Peng Liong Su.
Karena keraguan itu ibu suri menjadi sangsi, dan murkanya mulai datang, itu terlihat
dari sorot matanya tajam
Melihat kenyataan itu Siau Po sudah dapat mengetahuinya. Dengan cepat ia
meyakinkan ibu suri dengan berkata.
“Kau tahu tipu silat yang tadi kuperlihatkan padamu? ilmu itu kudapat dari kaucu.”
Ditanya seperti itu Tay Hou menjadi kaget Dalam hati ia berkata.
“Memang aneh cara ia bergerak dan itu aku tidak memilikinya…”
“Mungkin kaucu yang mengajarkannya padamu,” tanyanya dengan suara bergetar.
“Ya, kaucu sendiri yang mengajarkan itu padaku, Kaucu menurunkan tiga puluh
macam tipu silat yang dinamakan Kim Na Ciu atau tangan menangkap, sedangkan Hu
Jin menurunkan padaku juga tiga puluh macam tipu silat yang dinamakan Sat Ciu atau
tangan membunuh, ilmu silat yang kupelajari dari kaucu dan Hu Jin sangatlah ampuh,
jika digunakan pasti akan meminta korban Karena aku tadi hanya menggunakan salah
satu dari ilmu yang diturunkan Hu Jin dan aku tidak berniat untuk membunuhmu maka
aku tak membunuhmu itu tadi yang dinamakan Hui Yen Kiong Hu.”

Mendengar keterangan dari Siau Po, ibu suri itu menjadi yakin dan merasa takut
pada Siau Po. Dalam hati ia berkata.
“Hebat ilmu silat anak ini Jika tadi ia menggunakan ilmu silat yang diturunkan kaucu
tentu nyawaku sudah melayang.”
Melihat itu Siau Po lalu menyombongkan hati.
“Untung, aku tak jadi mengorek matamu, Jika aku tak menaruh kasihan padamu
mungkin aku sudah mengorek matamu…”
Melihat bekas tamparan yang masih berbekas di muka Siau Po, ibu suri itu pun
berkata.
“Hamba telah melakukan kesalahan pada Pek Liong Su. Untuk itu hamba mohon
kiranya Pek Liong memaafkan hamba dan semoga Cun Su dapat hidup berbahagia dan
panjang umur”
Siau Po tersenyum.
“ltu tak menjadi soal, Tio Yam Gaot bertugas tidak bersungguh-sungguh, Kaucu dan
Hu Jin sangatlah gusar lalu ia mengutusku untuk mencari kitab itu”
Siau Po diberi beberapa butir obat penawar racun, ia juga disuguhi arak yang
langsung ibu suri yang menyuguhinya, Sambil minum arak ia berbicara banyak dan
Siau Po menanyakan asal mulai ibu suri itu masuk menjadi anggota partai Sin Liong
Kau.
Belum sempat ia menanyakan hal itu Tay Hou bertanya padanya.
“Apakah Cun Su membawa obat penawar racun untuk tahun ini?”
Siau Po lalu tertawa,.
“Mana mungkin kaucu memberikan itu padaku, aku kan orang baru pada partai itu”
kata Siau Po.
Mendengar jawaban itu ibu suri menjawab.
“Dengan demikian Cun Su sangatlah pandai, Kita berdua sama- sama telah
memakan racun itu. Dan pasti Cun Su tak boleh membawanya untukku…”
Melihat Siau Po diam saja, ibu suri menjadi gelisah, Dia lalu melaporkan mengenai
kitab itu pada Siau Po.
“Cun Su, ketiga kitab itu sudah hamba serahkan pada Song Beng Gi dan Lin Yun
untuk selanjutnya diserahkan pada kaucu…”

Siau Po telah mengetahui bahwa kedua orang itu ternyata telah mati dan keduanya
tidak ada yang membawa kitab yang dimaksud,
Karena merasa kurang yakin Siau Po menanyakan lagi.
“Tadi kau katakan kitab itu sudah kau serahkan pada mereka, tetapi mengapa
sampai saat ini kaucu belum juga menerimanya? Oleh sebab itu ia lalu memerintahkan
aku untuk mencari ketiga kitab itu…”
“Bukankah Song Beng yang menyamar sebagai dayang di istana itu.-.?” tanya Siau
Po.
“Benar, dia sebaiknya jika Cun Su kembali ke sana langsung saja tanyakan pada
mereka” kata ibu suri.
Mendengar kata-kata itu Siau Po berkata dalam hati.
“Sekarang aku mengerti, pastilah ia menyangka kalau Song Beng dan Liu Yan telah
mati. Song Beng mati oleh bibi To dan Liu Yan mati olehku. Dengan demikian ibu suri
sudah tak mempunyai saksi lagi, Mana ia tahu kalau ketiga kitab itu sudah ada padaku,
Tetapi biarlah untuk sementara aku tak membongkar rahasia itu.”
“Kau telah mendapatkan tiga buah kitab itu dan untuk itu jasamu sangat besar Kau
juga harus dapat mencari kelima kitab yang lainnya dan nanti jika kembali aku akan
menceritakan hal ini pada kaucu agar ia memberimu obat penawar racun itu,” kata Siau
Po,
“Tentang masalah itu sebawahan turut memikirkannya siang dan malam. Dan
dengan demikian hamba sudah dapat membalas sedikit budi baik dari kaucu” sahut ibu
suri.
“Kau sudah sangat setia pada partai dan sudah selayaknya kau dibebaskan dari
racun itu” jawab Siau Po.
“Budi Cun Su tak mungkin sebawahan takkan mungkin dapat melupakan budi Cun
Su tersebut.”
Siau Po lalu menanyakan sebab hingga ibu suri menjadi anggota dari partai Sin
Liong Kau.
“Aku ingin mengetahui mengapa kau juga menjadi anggota dari partai Sin Liong Kau,
Kau harus menceritakannya secara beruntun dan jangan ada yang kau sembunyikan…”
pintanya,

“Terhadap Cun Su sebawahan tak mungkin dapat menyembunyikan atau bicara yang
tak benar..” kata Tay Hou.
Baru saja ibu suri itu akan menceritakan tentang dirinya, tiba-tiba dari luar kamar
terdengar suara.
“Harap Tay Hou mengetahuinya, bahwa hamba diperintahkan oleh Baginda agar
memanggil Kui Kong Kong untuk menghadap, Sebab ada urusan yang akan
diselesaikan jadi ia harus segera menghadap.”
Mendengar demikian Siau Po mengangguk pada ibu suri seraya berkata secara
perlahan-lahan.
“Baik, kau jangan khawatir Di lain waktu aku akan menanyakan sesuatu kepadamu”
Selesai berkata demikian ibu suri berkata dengan keras.
“Sri Baginda memerintahkan kau untuk menghadap, cepat kau pergi”
Siau Po pun segera berkata dengan keras, “Baik Tay Hou, semoga Tay Hou
berbahagia…” itu dilakukannya agar dayang-dayang itu tak mengetahui bahwa dia
adalah anggota partai Sin Liong Kau.
Sesampainya di luar kamar Siau Po sangat kaget, karena yang datang itu ternyata
pasukan khusus kerajaan dalam jumlah banyak, Hal itu membuat Siau Po menjadi
bertanda tanya dalam hati.
“Mungkinkah ada perkara yang besar di kerajaan?”
Sesampainya di sana Siau Po langsung masuk ke kamar baca.
“Syukurlah kau tak kurang suatu apa. Tadi aku merasa sangat khawatir sebab kau
dipanggil oleh ibu suri, Aku takut kau nanti disiksa si tua bangka dan hina dina itu….”
“Terima kasih atas perhatian Suhu. sebenarnya tadi hamba dipanggil oleh ibu suri.
Hamba hanya ditanyakan mengenai kepergianku ke Ngo Tay san. Dia pun menanyakan
tentang keadaan Sri Baginda, Dan kesemuanya itu tidak hamba jawab dengan benar”
ujar Siau Po.
“Bagus, jawaban kau itu pasti akan datang, Suatu hari nanti aku akan membalas
sakit hati Baginda Hu Hong serta Bu Hau Aku khawatir kau dicelakai olehnya untuk itu
aku mengutus beberapa Sie Wie untuk memintamu, Jika ia tidak memberikan agar para
Sie Wie itu menerobos masuk. Tak apalah jika aku harus bentrok dengan si tua bangka
dan hina dina itu. Aku sangat dendam” kata sang raja sambil menggenggam kepalan
tangannya.
Melihat itu Siau Po menjadi kasihan, ia lalu berkata pada raja itu dan sambil berlutut.

“Hong Te suhu telah melepas budi begitu besar walaupun tubuh hambamu ini hancur
sukar buat membalasnya,” kata Siau Po ia memanggil raja dengan sebutan “Hong te
suhu” yang artinya guru yang menjadi raja atau raja yang menjadi guru,
“Asal kau merawat baik-baik ayahanda, itu sudah merupakan balas budimu padaku”
ujar sang raja.
Dan Siau Po menyanggupinya.
Raja lalu mengambil amplop besar dan berwarna kuning, Sambil menyerahkan ia
berkata.
“lni adalah kiriman hadiah dariku untuk para pendeta di wihara Siau Lim Sie. Cepat
kau pergi dan sampaikan pada mereka itu Kau berangkat dengan mengepalai ratusan
Sie Wie istana dan dua ribu serdadu, Cepat kau pergi ke sana sekarang pangkatmu
aku naikkan menjadi Jiau Kieng Cia Oey Kie Hu Tau Tong itu berarti kau pembesar
tingkat tinggi kedua, Aku pun mengangkat kau sebagai Boan Ciu. pasukan itu adalah
pasukan raja dan kau beserta perwira pergi ke sana..”
“Terima kasih, Asal aku dapat sering berada dekat dengan raja, itu sudah merupakan
suatu kebahagiaan sekarang aku sudah menjadi orang Han dan siapa tahu aku nanti
menjadi orang Boan Ciu” ujar Siau Po.
Raja segera memanggil Tou Tong yaitu seorang gubernur militer dari pasukan
bendera kuning untuk memberitahukan sebenarnya Siau Kui Cu bukan thay-kam. Dia
telah diangkat menjadi orang Boan Cu dan dikarunia pangkat Hu Tou Tong.
Gubernur Tsa Ert Cu semasa berkuasa, Go Pay sudah dijebloskan ke dalam penjara,
untunglah Go Pay gagal karena telah dibunuh oleh Siau Po. sekarang ia mendapat
panggilan dari raja, bahwa anak tersebut telah diangkat menjadi orang keduanya,
Sudah pasti ia merasa senang karena sebelumnya ia pernah diselamatkan oleh Siau
Po. Berulang kali ia memberikan selamat pada Siau Po sambil menambahkan dengan
kata-katanya.
“Saudara Wie kita berdua bersaudara, Kita bakal bekerja sama dan tidak ada orang
di antara kita yang lebih istimewa. Kau justru orang muda yang gagah dan mungkin
pasukan berkuda kita akan mendapatkan nama yang baik…”
Terhadap atasannya Siau Po merasa berterima kasih, sebab ia telah diberikan katakata
selamat.
“Hanya, hal ini tak dapat diumumkan, sebab saat ini pula Siau Kui Cu harus
berangkat dan tak usah kau datang lagi ke mari untuk memohon diri padaku” kata raja.
Siau Po lalu mengucapkan kata terima kasihnya karena ia telah dipercaya untuk
memimpin pasukan Namun ia tetap saja memikirkan ibu suri yang belum diketahui
bahwa ia masuk ke dalam partai Sin Liong Kau.

To Liong mendampingi Siau Po untuk memilih Sie Wie yang akan mereka bawa itu.
“Saudara Wie, kau hendak memilih Sie Wie yang mana? silahkan kau pilih dan jika
kau menghendaki aku untuk turut denganmu, aku siap mengikuti dan selalu
bersamamu”
Siau Po lalu tertawa.
“Itulah yang membuatku tak dapat memenuhi keinginanmu jika kau ikut bersamaku
lalu siapa yang akan melindungi Baginda, Tugas itu lebih berat daripada tugas yang aku
jalankan ini. Kau tak usah memikirkan untuk ikut bersamaku”
To Liong tertawa.
“Biarlah nanti aku meminta pada raja untuk kita bertukar tempat yakni kau menjadi
kepala sedangkan aku menjadi bawahanmu, Agar nanti jika ada tugas keluar dari kota
raja, aku yang berangkat”
Siau Po tersenyum. ia lalu mencatat nama-nama Sie Wie dan juga pasukan yang
akan ikut bersamanya, Dengan cepat pasukan- pasukan itu datang mendekat dan
sudah siap untuk berangkat.
Sementara itu kaisar sudah siap menyediakan berbagai macam hadiah untuk para
biksu dari Siau Lim Sie.
Wie Siau Po seharusnya muncul dengan mengenakan pakaian pemimpin. Namun
karena ia baru saja diangkat, belum ada pakaian yang sesuai dengan dirinya.
Raja lalu memerintahkan pada tukang jahit untuk ikut serta bersama rombongan
sambil menyelesaikan pakaian Siau Po. Dan ia memerintahkan pada para tukang jahit
itu untuk tidak pulang jika belum selesai membuat pakaian Siau Po.
Sebelum berangkat ia menempatkan diri untuk singgah ke Poan Ji Ho Tong untuk
menemui Liok Ko hian, untuk memesan mereka agar jangan sembarangan pergi,
Karena untuk mencuri kitab itu.
Sewaktu ia akan pergi Siau Po mengajak Song Ji bersamanya, Dan ia meminta pada
Song Ji untuk memakai pakaian pria.
Sewaktu akan berangkat Siau Po melihat cuaca sudah gelap, Akan tetapi karena raja
memerintahkan untuk pergi, maka ia harus pergi juga, Dan sewaktu ia akan berangkat
memang cuaca sudah gelap, sehingga baru saja berangkat beberapa lie mereka harus
berhenti untuk mendirikan tenda.
Keesokan harinya, selesai bersantap, ia mengundang beberapa kepala pasukan dan
juga bawahannya.

Para kepala pasukan yang diundang itu merasa heran mendapat undangan tersebut
Mereka bertanya dalam hati masing-masing, Siau Po mengajak mereka bermain judi,
Para pemimpin itu tak percaya ketika melihat Siau Po mengeluarkan dadu dan mereka
pun siap melakukan judi.
Rupanya saat ini Siau Po sedang bernasib baik ia selalu menang dalam perjudian itu.
Para kepala pasukan akhirnya terkuras habis uangnya, Namun ketika mereka hendak
bubar karena uang sudah terkuras habis.
“Tunggu dulu Kalian tahu, ini adalah untuk pertama kali aku memimpin pasukan,
Oleh karena itu semua kemenanganku ini tak akan kuambil dan tolong kalian bagikan
uang hasil kemenanganku ini.”
Mendengar ucapan dari Siau Po kembali mereka terheran, tetapi setelah itu mereka
bergembira bersama karena uang mereka dikembalikan.
Sedang gembira-gembira, mereka dikagetkan oleh suara orang yang datang secara
tiba-tiba. Kedatangan orang-orang itu tak ada yang mengetahuinya.
Melihat kedatangan tamu yang tak diundang itu kepala pasukan memerintahkan para
Sie Wie agar menangkapnya, Hanya dengan sekali gebrakan saja mereka sudah dapat
menggagalkan serangan para Sie Wie itu.
Melihat kejadian itu para kepala pasukan terheran-heran, pada saat mereka itu
terheran ketua dari tamu yang tak diundang itu memerintahkan pada keempat anak
buahnya untuk mengurung Siau Po.
Tamu yang tak diundang itu ternyata ingin ikut serta dalam permainan itu, tetapi
sekarang menggunakan taruhan bukan dengan uang.
“Aku hendak bertanya, Jika aku kalah aku harus membayar dengan apa dan jika aku
menang aku harus membayar dengan apa pula?” tanya Siau Po pada ketuanya.
“Mengapa ditanya lagi? Kalah pedang harus dibayar dengan pedang jika kalah
kepala harus dibayar dengan kepala.,.” jawab sang ketua.
Pemuda yang menjadi ketua itu menyangka mendengar taruhannya mereka akan
takut, tetapi kenyataannya lain, Siau Po menyanggupi pertaruhan itu.
“Baiklah, kalah pedang harus membayar dengan pedang, kalah kepala harus
membayar dengan kepala, Karena itu siapa yang kalah ia celaka dan siapa yang
menang ia akan senang, Nah, untuk itu mulailah kau yang melemparkan dadu itu” kata
Siau Po mantap.
Musuhnya tercengang, ternyata anak sekecil itu sudah mempunyai nyali yang besar.
Si ketua tamu itu lantas berbisik.

“Jangan di luar jikalau nanti kita menang dikhawatirkan nanti terjadi perubahan
karena di luar banyak pasukan Iawan…”
Anak muda itu lalu mengawasi Siau Po. Dia tak melihat adanya tanda-tanda takut
pada anak itu.
Pada permainan pertama Siau Po menang, sedangkan pada permainan yang kedua
Siau Po kalah, juga pada permainan yang ketiga, Hingga akhirnya Siau Po ditantang
bertempur.
Siau Po lalu berkata dalam hatinya.
“Kalau Loo Cu ingin takluk ia sudah menyerah sejak mereka datang ke kemah itu.
Dan jika sekarang aku harus menyerah itu tidak dapat diterima dan jasaku selama
inipun akan hilang, Seorang laki-laki sejati jika ia sudah bersipat keras maka harus
bersipat keras untuk selama-lamanya.”
Dengan si ketua itu Siau Po menganggap derajatnya lebih tinggi Dan setelah berpikir
Siau Po tertawa dan berkata.
“Loo Cu adalah Hu Tou Tong sedangkan nama Loo Cu ialah Hoa Ca Hoa Siau Po.
jikalau kau hendak membunuh aku maka bunuhlah dan jika ingin bermain, marilah kita
bermain lagi, jangan yang tua menghina yang muda itu bukanlah perbuatan Ho Han,
dan laki-laki sejati” tantang Siau Po pada mereka.
Si anak muda itu tersenyum.
“Ya. Memang benar yang tua menghina yang muda itu bukan Ho Han. Nah, Siau Su
Moay, usiamu lebih muda dari anak ini, lebih baik kau yang mengajaknya bertempur.,.”
kata si anak muda itu.
Kata “Siau Su Moay” adalah adik wanita yang cantik, si nona muda itu tertawa.
“Baik, jendral besar Hoa Ca Hoa Siau Po, aku akan belajar mengenalmu dengan
jurus-jurus silatmu” kata si nona.
“Lekas maju untuk bertempur..” kata musuh yang berada di samping Siau Po sambil
menyerahkan pedangnya.
Si anak muda langsung melemparkan pedangnya dan langsung menancap di atas
meja dekat Siau Po.
Tetapi Siau Po berpikir cepat ia berkata dalam hati.
“Aku tak mengetahui ilmu pedang, pasti aku akan dengan mudah dapat dikalahkan si
nona itu.,.” pikirnya.

Setelah berpikir demikian Siau Po lalu berkata.
“Dengan yang tua menghina yang muda dia bukanlah Hu Hong Aku lebih tua dari dia
mana dapat aku menghinanya?”
Si anak muda itu sudah habis kesabarannya lalu tangan kirinya dipakai untuk
mencekik leher Siau Po dan ia lalu berkata.
“Jika kau tak berani dengannya maka kau harus berlutut padanya dan memohon
ampun” kata si anak muda itu dengan bengisnya.
“Baiklah jika hal itu yang kau inginkan sebenarnya jika berlutut di hadapan seorang
laki-laki yang banyak mempunyai uang emas, itu ada baiknya. Namun untuk berlutut
pada seorang wanita.,.?” kata Siau Po tetapi ia lalu menekuk kakinya untuk berlutut.
Menyaksi kan hal itu kawanan penjahat tertawa, justru pada saat seperti itu yang
sangat di-tunggu-tunggu Siau Po. ia lalu melakukan gerakan dengan sangat lincahnya
dan tahu-tahu sudah berada di punggung anak muda itu sambil mengancam dengan
pisau belatinya yang sangat tajam.
“Kau menyerah atau tidak?” ancamnya.
Semua orang terkejut, terutama si anak muda itu, Meskipun sangat lihay tetapi ia pun
tak berdaya, Tentu saja mereka semua tak menyangka kalau Siau Po demikian
hebatnya, Dan mereka pun tak mengetahui kalau Siau Po menggunakan Hui Yan Kiong
Sing yang didapat dari kaucu.
Kekagetan itu hanya sesaat, Kawanan pemuda itu sudah ingin menyerang Siau Po
dengan pedang-nya, namun Siau Po membentaknya.
“Lekas minggir.,.” Mereka semua minggir.
“Jika kalian tak ingin kehilangan nyawa teman kalian, cepat.,.”
Siau Po mengancamnya karena mereka semua sudah siap menghunus pedang.
“Tak ada yang aneh, bukan? Sekarang kalian boleh tertawa dengan sepuas hati
kalian”
Habis berkata demikian Siau Po mengebaskan pisau belatinya pada pedang lawan
dan mendadak saja semua pedang itu terpotong ujungnya dan ia lalu mengancam anak
muda itu.
Semua orang berbaju biru itu kaget, serempak mereka maju dan serempak pula ia
mundur
“Kembalikan uangku.,.” kata Siau Po. “Nanti akan aku bebaskan pemimpin kaIian…”

Orang yang tadi mengambil uang itu tanpa ragu-ragu mengembalikan uang yang
dimintanya.
Tepat pada waktunya dari luar tenda terdengar suara ratusan pasukan yang
berteriak-teriak.
“Jangan biarkan penjahat itu lolos…” Mari kita gempur.,. Hayo kalian cepat
menyerah…”
Teriakan itu terdengar berulang-ulang dari pasukan yang sedang kalap itu.
Kiranya tadi itu ada seorang Sie Wie yang dapat meloloskan diri dan mengatakan
pada kawan-kawan yang lainnya bahwa ada bahaya.
“Mari, kita bunuh dulu Loo Cu cilik itu.,.” teriak pemuda, lalu menyambar pedang
yang ada di atas meja dan langsung menyerang Siau Po tetapi apa yang terjadi.
“Aduh Aku tak tertikam mati.,.” kata Siau Po.
Semua yang ada menjadi heran dan kaget,
Melihat kejadian itu si pemuda yang menjadi ketua berseru.
“Semua jangan perdulikan aku, kalian pergilah untuk meloloskan diri” Dia terlambat,
para Sie Wie itu sudah mengepung mereka dan dengan begitu, sulit baginya untuk
meloloskan diri.
Maka Siau Po berpikir panjang lalu mengambil keputusan untuk melakukan
permainan dadu lagi dengan taruhan kepala mereka.
“Aku yang menjadi bandar, masing-masing maju satu persatu, Maka jika ia
memenangkan taruhan ia dapat pergi dan membawa uang saku seratus tail”
Yang pertama si nona cilik cantik itu. Tetapi ia menolaknya untuk pergi dan
membawa uang itu, tanpa bertaruh.
“Jika demikian, nona ini yang mengadu denganku dan taruhannya adalah kepala
kalian…” kata Siau Po.
Sang ketua memberikan isyarat pada si nona tanda menyetujui pertarungan itu.
Tanpa ragu-ragu lagi ia mengadu dadu dengan Siau Po dengan taruhan kepala temantemannya.
Setelah dikocok ternyata yang ke luar dadu tiga-tiga. Jika bandar sanggup
mendapatkan angka empat-empat bandar akan menang dan bila mendapat angka tigatiga
pun bandar akan menang.

Sebelum mereka mengadu dadu yang kini tinggal bagian Siau Po, Siau Po mengajak
mereka untuk minum bersama, mendadak seorang pria yang mengenakan baju buru itu
mengeluarkan kata-kata.
“Untuk kepalaku akulah yang akan memberikan taruhan padamu, Aku tak sudi
kepalaku menjadi taruhan kalian…”
Sang ketua lalu menolak karena mereka sebelumnya sudah berjanji untuk hidup dan
mati bersama, itulah janji kaum Ong Ok Pay. Pria itu tetap berkeras tidak menyetujui
taruhan itu, Lalu ketua mereka memutuskan untuk mengeluarkan pria itu dari
anggotanya dan dinyatakan sebagai penghianat kaum Ong Ok Pay.
Mendengar jawaban tersebut si Imam merasa tak puas ia lalu menambahkan katakatanya.
“Adik kita telah mengadu dadu dan mendapatkan angka tiga Mengapa kau baru
berbicara sekarang? Dalam kaum Ong Ok Pay tidak ada orang yang sepertimu…” kata
si Imam.
“Susiok Ong Ho, jika aku tak menjadi murid Ong Ok Pay toh aku tak kurang suatu
apa pun” jawab pria itu.
“Tadi jendral muda itu mengajak kita untuk bertaruh satu lawan satu, tetapi kau
menyanggupi menjadikan perwakilan saja, sekarang aku bertanya, kalian setuju atau
tidak dengan perjanjian seperti ini. Aku tahu kalian tadi tidak semuanya memberikan
jawaban” kata orang muda itu pada kawan-kawannya.
Siau Po talu mengetengahkan lagi dia bersedia menjadikan pertandingan itu menjadi
dua babak.
Selesai minum arak Siau Po melanjutkan pertandingan dan ia berkata dalam hatinya.
“Sebenarnya bagiku tidak sulit untuk mempermainkan dadu-dadu ini aku tinggal
memilih angka berapa yang aku inginkan, Tetapi sekarang aku sudah lama tidak
bermain lagi, maka agak sulit buatku untuk mempermainkan dadu-dadu ini, Jika aku
salah angka, nona ini akan ikut mati bersama kawan-kawannya.”
Selesai dadu-dadu itu diputar Siau Po lalu memastikan dengan jari kirinya angka
berapa yang akan ke luar, ia lalu mempermainkan lagi dadu itu. Dan setelah
mendapatkan kepastian, bahwa si nona dan kawan-kawannya itu dapat memenangkan
pertandingan itu ia lalu membukanya.
“Kalian yang menang, ambillah ini dan pergi Mengapa kalian masih diam saja,
apakah kalian akan bertaruh lebih jauh lagi denganku.,.?” tanya Siau Po pada mereka.
“Uang itu tak dapat aku terima, ternyata kata-katamu itu dapat dipegang” kata si
ketua itu.

“Eh, eh tunggu Kalian telah memenangkan permainan itu. Bukankah dengan kau
tidak mau menerima uang ini berarti kau tidak menghormatiku?” kata Siau Po dengan
cepat.
“Baiklah kalau itu sudah menjadi keinginanmu,” kata si pemuda yang menjadi
pimpinan mereka.
Semua orang itu lalu meraup uang yang ada pada meja dan pergi meninggalkan
arena itu.
Siau Po terus mengawasi si nona cilik itu sewaktu ia mengambil uang mata mereka
bertemu pandang, Dan hati keduanya berdebar-debar. Si nona itu merasa malu sambil
berkata, “Terima kasih.”
Begitu menutup mulut si nona lalu membalikkan tubuhnya, Setelah beberapa langkah
mereka berjalan, si nona memutar tubuhnya dan berkata.
“Jendral kecil, dapatkah aku meminta dadu-dadu itu?” Sambil berkata dengan malumalu.
“Tentu dapat mengapa tidak, apakah kau akan bermain dengan kawan-kawanmu di
sana?” tanya Siau Po dengan mantap.
“Bukan, aku akan menyimpannya, tadi ada peringatan bagiku, Aku sangat kaget
dengan peristiwa itu,” katanya malu.
Siau Po lalu mengambil dadu-dadu untuk diberikan pada nona yang cantik itu. Nona
itu pun sudah menyodorkan tangannya.
Goan Gie Hong menyaksikan semua kejadian itu dan sewaktu ia hendak pergi
mengikuti yang lainnya Siau Po lalu menahannya.
“Bukankah aku belum bertarung denganmu?” kata nya.
“Dasar aku yang salah, kalau aku tahu ia pandai memainkan dadu-dadu itu aku tak
mungkin jadi manusia seperti ini. Memang aku manusia yang rendah” pikirnya dalam
hati.
Dan ia lalu berkata.
“Bukankah kau sudah tak memiliki dadu lagi? Aku menyangka kau tak akan bertaruh
lagi denganku” katanya,
“Apapun dapat dijadikan sebagai alat untuk bertaruh, kita dapat menggunakan jari
tangan kita atau dengan uang itu. Coba kau terka jumlah uang itu ada berapa…?” Siau
Po balik bertanya.

“Mana dapat aku menerka” jawabnya dengan nada menghina.
“Bandit ini kurang ajar Seret dia dan penggal lehernya” kata Siau Po.
Mendengar itu beberapa orang Sie Wie lalu mendekati orang tersebut dan
membawanya.
“Tunggu dulu sekarang aku akan bertanya dan kau harus menjawab dengan benar,
Jika kau berdusta aku akan memenggal lehermu” ancam Siau Po.
Siau Po lalu mencari tahu tentang kaum Ong Ok Pay. Siapa ketuanya? Di mana
markasnya dan mereka itu siapa serta berapa jumlah mereka semuanya?
Sambil diikatkan kaki dan tangannya orang itu menghadapi Siau Po yang terus
bertanya.
Ketika pertanyaan sudah dimulai Kong Lian yang mencatat semua jawabannya.
“Sejarah bermula pada waktu itu. Gou sam Kui ditugaskan untuk melindungi Kota
San Hay Kam, ia telah menolak penyerbuan angkatan perang Bon Cu yang telah
memasuki wilayah kota Tiongguan. Ketika berperang itulah Suto Pek Lui mempunyai
banyak jasa, Dan takkala lawan menyerbu dan mematahkan Kota Bakia, barulah ia
mengajak angkatan Bung Cu untuk membantu menumpas pemberontakan Pek Lui
yang lebih dulu datang, maka ia yang membebaskan kota itu.
Ketika itu Pek Lui beranggapan kalau pasukan itu hanya akan menumpas
pemberontakan saja, untuk membalas sakit hati rajanya, Siapa tahu dia datang hanya
akan membalas dan merampas Kota Tionggoan. Kedatangan pasukan itu dibiarkannya,
dan mulai saat itu orang Sie Gau yang semula mencintai kerajaan berbalik
menghianatinya.
Pek Lui gusar dan ia meletakkan jabatannya lalu pergi ke gunung tempat sekarang
dijadikan markas mereka itu, ia memang sangat lihay dalam ilmu silat, dalam beberapa
saat saja ia mengalami kemajuan.
Dalam hidup menyendiri itu bukanlah berarti ia sendiri Orang yang simpatik padanya
pun ikut, bersamanya dan juga berlatih ilmu silat, pemuda yang memimpinnya tadi
adalah putra nomor tiga dari Pek Lui.
Dan yang lainnya adalah murid-muridnya, sedangkan si nona yang cantik itu
bernama Can Jiu. Dialah putri salah seorang sebawahannya, Paman tua dan yang
muda itu Pee Hu dan Siok Hu. Waktu ayah si nona akan meninggal dunia ia
menitipkannya pada bekas pemimpinnya dan sekarang nona itu telah menjadi
muridnya.
Dia mendapat keterangan bahwa rombongan Gou Eng Him telah meninggalkan Kota
Pakia, Maka segera memerintahkan putranya untuk menemui Eng Him. Di tengah

perjalanan ini ia menemui pasukan Siau Po, putra Pek Lui Seng dan ia mengajak
beberapa orang untuk menyelusup masuk ke daIam. ia melihat ada yang sedang
berjudi Maka dia bukannya ingin berjudi Tetapi ia sangat benci pada suku Bou Cu, yang
telah mengubah kerajaan dan seluruh Tiong Goan, Akhirnya mereka bertemu dengan
Siau Po dan tak jadi membunuh Gou Sam Kui.
Gio Hong tidak berkelit dan Siau Po lalu menendangnya.
“Hamba meskipun berada dalam suatu wilayah orang-orang jahat tetapi hamba
masih mencintai negara. Hamba hanya membutuhkan bantuan Tuan, Dan hamba sudi
dijadikan budak Tuan. Hamba akan setia pada Tuan” katanya sambil merasakan
dadanya sakit terkena tendangan itu.
“Lalu berapa jumlah mereka itu?” tanya Siau Po.
“Jumlah mereka kira-kira tiga puluh ribu orang berikut keluarganya.” jawabnya.
“Jumlahmu tiga puluh ribu orang dan semuanya pandai bermain silat Dan apakah
masih banyak yang anak-anaknya pandai bermain silat?”
“Banyak benar yang pandai bermain silat” jawabnya.
“Mengapa kau tidak langsung ke sana dan menanyakannya, Apa alasannya ia tak
mau langsung menemuinya, jawab?” tanya Siau Po.
“Hamba tidak mengetahuinya” jawabnya.
“Di mana tempat gunung itu..?” tanya Siau Po.
“Gunung Ong Ok San terletak di Kecamatan Ce Goan, di dalam propinsi Hoolam”
“Bagus, kamu kaum pemberontak Bagaimana mungkin kamu dapat menempatkan
pasukanmu di dekat Pakia, Apakah kau akan menyerang secara tiba-tiba pada kota
raja, Lalu kau akan memenangkannya ?” tanya Siau Po.
“ltulah taktik pemberontak, Hamba tak bersangkut paut dengan mereka” jawabnya.
“Dalam partai kamu ada berapa yang menjadi bawahan Gou Sam Kui? jelaskan satu
persatu” tanya Siau Po.
Bagian 43
“Jumlahnya sangatlah banyak” jawabnya, yang terus menyebutkan namanya satu
persatu.

“Sekarang, catatlah satu persatu nama dan pangkat mereka semasa ia bekerja pada
Gouw Sam Kui…” perintah Siau Po.
“Sekarang hamba sudah tak mengenali mereka” katanya lalu memandang Siau Po.
“Banyak di antara mereka yang sudah hamba lupa”
“Kalau kau tak ingat mudah saja kau harus dipukul dahulu baru kau dapat
mengingatnya lagi…” ujar Siau Po dengan tenang.
“Jangan… jangan… Sekarang…. sekarang hamba sudah mulai mengingatnya,”
jawabnya dengan gemetar.
Seorang serdadu lalu mengambilkan pen untuk menulis nama dan pangkat orang
yang dimaksud itu.
Siau Po menanti Gi Hong, tapi tak sabaran, lalu berkata.
“Aku meminta catatan orang itu, awas jika aku bertanya kau menjawabnya dengan
tidak sungguh-sungguh, kepalamu menjadi taruhannya, kau akan kehilangan kepalamu
itu” katanya.
Setelah selesai Siau Po memerintahkan agar membawa pergi tawanan itu.
Setelah tawanan dibawa pergi Siau Po memanggil empat orang perwiranya dan ia
berkata.
“Saudara-saudara sekalian, kita telah mengetahui bahwa akan ada pemberontakan.
Untuk itu pasti kita akan mendapatkan hadiah yang sangat besar” kata Siau Po.
“Kalian jangan takut, semua akan mendapatkan bagian yang sesuai” kata Siau Po.
“Katanya Peng See Ong akan mengadakan pemberontakan apakah bukti-bukti kita
sudah cukup?” tanya Ci Hian.
Kawanan Ong Ok Sam ingin memberontak, itu sudah merupakan bukti untuk apa
mereka mengadakan pertemuan jika tak ingin mengadakan suatu masalah yang sangat
penting” kata Siau Po.
“Mereka berkata bahwa mereka ingin menculik anak Gouw Sam Kui. Hal itu
dilakukan untuk memaksa Gouw Sam Kui, agar mau bergabung dengan mereka untuk
berontak…” kata Kong Lian.
“Tio Toako, kau mempunyai banyak hubungan dengan istana Peng See Ong dan kau
mengetahui banyak tentang mereka itu? Bukankah jika mereka berhasil dalam
pemberontakan itu yang menjadi raja adalah Gouw Sam Kui sendiri.” tanya Siau Po.
Mendengar perkataan Siau Po, Kong Lian kaget sekali.

Tak ada seorang pun yang aku kenal dalam istana itu, Tou Tong Tay Jin. ia seorang
pendurhaka dan kita harus secepatnya melaporkan kejadian ini pada raja…” katanya
cepat.
Siau Po menganggukkan kepalanya.
“Sekarang kalian menemui Su Ya untuk memberikan laporan pada raja…” kata Siau
Po.
Kong Lian menurut dan mereka lalu pergi untuk menemui Su Ya. Dan tak lama
kemudian mereka sudah kembali dengan membawa Su Ya dari Tiong Kun. Dengan
rencana yang sudah dituliskannya, ia lalu membacakan laporannya pada Siau Po.
Mendengar demikian Ci Hian bertiga berkata dengan serempak.
“Oh, dengan dimerdekakannya kedelapan belas orang itu merupakan rencana raja”
serunya.
“Aku masih muda, mana mungkin aku dapat secerdik ini bila tak ada rencana dari
baginda, Dan mana mungkin rencana ini dapat terbongkar dengan tuntas” kata Siau
Po.
Akal muslihat Siau Po ini didapat dari Kaisar Kong Hi takkala ia ingin memerdekakan
beberapa budak, guna menyelidiki rombongan

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s