“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 54

tak menyukaimu,
maka akan timbul keinginan membunuh dalam hati mereka, Bila mereka ingin
melakukannya, hanya semudah membalikkan telapak tangan, Pek Liong Su Tio Ci Leng
menjadi bukti di depan mata. Bagaimana dengan mudah di dibunuh begitu saja,
meskipun jasanya sudah banyak terhadap partai ini. Lekas kau bunuh saja kaucu dan
Hu Jinnya itu, Nanti kami akan mengangkat dirimu menjadi kaucu”
Mendengar ucapan si tabib, Ay Cun cia, Kh Soat Teng, dan Bu Kin tojin jadi tercekat
hatinya. Namun kemudian mereka berpikir. Mulanya mereka memang tak setuju dengan
usul itu, Tapi kalau bukan Siau Po yang diangkat menjadi ketua, Di sana tak ada orang
lain yang lebih cocok Iagi.
Bukankah keselamatan jiwa mereka semua ada di tangan anak muda ini?
Yang penting sekarang mereka harus hidup, urusan lainnya bisa dipikirkan
kemudian.
“Akur Akur” akhirnya seru mereka bersa sama, “Kami semuanya mendukung Wi
Kongcu menjadi ketua atau kaucu dari Sin Liong Kau”
Tapi Siau Po meleletkan lidahnya waktu mendengar ucapan mereka.
“Aku tidak dapat menjadi kaucu,” katanya tertawa, “Dengan ucapan kalian ini, kalian
sudah mengurangi rejekiku, Menurut aku, sebaiknya be saja, Kaucu beserta Hu Jin dan
semua lainnya yang ada di sini hidup akur bersama-sama, Apa yang telah terjadi, kita
lupakan saja Anggap saja pernah terjadi, Harap kaucu sudi melepas dengan
melupakan perbuatan Liok Sin Se dan yang lainnya, Bukankah bagus usulku ini?”

Hong kaucu terdiam beberapa saat, Ada sesuatu yang tengah dipikirkan.
“Baik,” katanya kemudian, “Keputusanku sudah tetap, Urusan ini kita sudahi sampai
di sini saja”
“Nah, kalian sudah dengar sendiri, Liok Sin Se, Bagaimana pendapatmu?”
Liok Sin Se berpikir sejenak, Akhirnya dia merasa memang tak ada jalan lain yang
lebih bagus.
“Baiklah,” katanya, “Kami percaya kaucu tak akan menarik kembali kata-katanya
sendiri” Dia langsung mengeluarkan sebotol obat yang kemudian dicampurkan dengan
air, lalu diminumkan kepada orang banyak.
Kurang lebih satu kentungan kemudian, semuanya sudah membaik, Hong kaucu
juga tak menyebut-nyebut lagi kejadian tadi, Dia hanya berkata kepada Siau Po.
“Sekarang siapkan meja upacara Kita akan mengangkat Wi Siau Po sebagai Pek
Liong Su yakni Ciang bunsu dari Pek Liong Bun”
Perintah itu segera dilaksanakan.
Dalam sekejapan mata meja sembahyangan dan keperluan lainnya telah
dipersiapkan. Caranya berlainan dengan cara yang dilakukan Tian Te hwe. Di sini Siau
Po harus memberi hormat kepada sebuah kotak berisi lima ekor ular dengan warna
yang berlainan Setelah itu Hong Hu Jin mengangkat cawan araknya dan berkata,
“Kau harus minum tiga cawan arak” katanya sambil tertawa, “Dengan demikian, ularular
di pulau ini tidak akan mengganggumu lagi.”
Siau Po tidak mengatakan apa-apa. Dia meneguk habis tiga cawan arak yang
disodorkan Hong Hu Jin. Setelah itu para anggota Sin Liong Kau yang lainnya segera
memberi selamat kepada Siau Po. Tidak ketinggalan Liok Sin Se dan yang lainnya.
Hong kaucu menanyakan keadaan Chi Liong su. Liok Sin Se menyatakan luka yang
diderita saudaranya itu parah sekali, sehingga belum tentu dapat disembuhkan Hong
kaucu mengeluarkan sebuah botol kecil dan menuangkan tiga butir isinya.”
“Berikan pil ini kepadanya, Obat ini mujarab sekali, Tapi karena lukanya cukup parah,
perlu waktu lama apabila keadaannya ingin membaik.”
“Oh, ya.,.” ujar Hong Hu Jin. “Pek Liong Su apabila kau kembali ke kotaraja nanti,
kau harus menyelidiki tentang Siau Kui cu, apa maksud Sri Baginda mengutusnya
datang ke Gunung Ngo Tai san?”
Mendengar kata-katanya, Siau Po terkejut setengah mati. Untung saja dia cukup
cerdik sehingga tak tampak perubahan pada wajahnya.

“Baik Baik” jawabnya.
“Kaucu menginginkan kitab Si Cap Ji Cin Ken kata Hong Hu Jin kemudian “Maka itu
menjadi tugasmu untuk mendapatkannya, Di dalam kitab itu katanya ada rahasia untuk
panjang umur. Pek Lio su, kaucu kami telah mendapatkan berkah dari Thian Yang
Maha Kuasa, Sudah selayaknya beliau mendapatkan kitab tersebut. Kalau engkau
berhasil jasa mu besar sekali, Kaucu tidak akan melupakannya, Kaucu pasti akan
memberikan hadiah besar kepadamu”
Siau Po berdiri, kemudian menjura dalam-dalam kepada kaucu dan Hu Jin.
“Biarpun tulang di tubuh hambamu ini akan hancur tebur, hamba tetap akan bersetia
kepada kaucu dan Hu Jin” katanya.
“Bagus” kata Hong Hu Jin, “Kau boleh memilih beberapa orang rekan sebagai teman
seperjalananmu nanti, Nah, Pek Liong Su, siapa yang akan kau pilih sebagai
rekanmu?”
“Hamba memilih….” Siau Po berpikir sejenak, Matanya memperhatikan orang-orang
dalam ruangan itu, kemudian menjawab dengan tegas, “Hamba memilih Ay tosu dan
tabib Liok sebagai rekan dalam perjalanan”
“Baik” sahut Hong Hu Jin. “Aku memberikan tiga butir pil ini untuk ditelan oleh kalian
masing-masing, Namanya Tok Liong I Kin Wan”
Ay Cun cia dan Tabib Liok segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan ketuanya,
Meskipun tidak mengerti, Siau Po ikut berlutut juga.
Mereka masing-masing menyambut sebutir pil dan mengucapkan terima kasih,
Kemudian di depan ketuanya itu, mereka langsung menelan pil tersebut.
“Pek Liok Su, kau menggunakan senjata apa?” tanya Hong Hu Jin tiba-tiba.
“Kepandaian hamba buruk sekali,” sahut Siau Po. “Hamba belum pernah belajar
menggunakan senjata apapun, kecuali pisau belati kecil ini” Dia segera mengeluarkan
pisau belatinya yang tajam dan memperlihatkannya kepada Hong Hu Jin.
“Oh, pisau yang bagus sekali Bukan main tajamnya” gumam Hong Hu Jin setelah
memperhatikan pisau itu dengan seksama, “Baiklah Aku akan mengajarkan tiga jurus
ilmu kepadamu Harap kau perhatikan baik-baik ilmu ini bernama Bi Jin Sam Ciau”
Tanpa menunggu komentar dari Siau Po, dia langsung menggerakkan kedua tangan
dan kakinya serta mulai melangkah Siau Po cepat-cepat memusatkan perhatiannya
untuk menyimak baik-baik.
Siau Po merasakan gerakan wanita itu bagus sekali Dia berusaha mengingat setiap
langkah yang dijalankannya, Setelah selesai jurus pertama, Hong Hu Jin menyuruh

Siau Po menirukannya. Ternyata Siau Po sanggup meskipun masih banyak kesalahan
yang dilakukannya.
Selesai jurus pertama, Hong Hu Jin langsung menjalankan jurus kedua dan ketiga,
semuanya ditiru baik-baik oleh Siau Po. Hong Hu Jin dengan sabar menunjukkan di
mana letak kesalahan yang dilakukannya.
Setelah cukup lama, Siau Po mulai bisa menjalankannya dengan baik. Hong Hu Jin
tersenyum.
“Bagus” katanya, “Pek Liong Su, ternyata otakmu cerdas sekali”
“Sebetulnya otak hamba tidaklah cerdas, hal ini bisa terjadi karena Hu Jinlah yang
pandai mengajarkannya.”
Hong Hu Jin tertawa senang, Hong kaucu berdiri dari kursinya,
“Karena istriku telah mengajarkan tiga jurus ilmu kepadamu, ada baiknya aku pun
mengajarkan satu jurus kepadamu,” Dia menoleh kepada istrinya, “Hu Jin, sini
sebentar Kau tangkislah seranganku ini Dan Pek Liong Su, kau perhatikan baik-baik.”
Hong Hu Jin memenuhi permintaan suaminya, Dia segera maju ke depan, Hong
kaucu segera menggerakkan kedua tangannya dengan perlahan-lahan agar Siau Po
dapat melihat gerakannya dengan jelas.
Meskipun demikian, ternyata Hong Hu Jin tak sanggup menahan serangan kaucu itu.
Siau Po merasa kagum sekali sehingga dia mendecakkan mulutnya, Sebuah jurus yang
demikian sederhana saja ternyata begitu ampuh, apalagi ilmu lainnya.
“llmu ini terdiri dari banyak jurus dan perubahannya, Yang pertama baiknya kita
namakan Ngo Cu Si mengangkat kaki. Dan yang kedua ini…. Ti Cim Poat Liu yaitu Ti
Cim mencabut pohon Liu….”
“Bagus” seru Hong Hu Jin. “Ti Cim memang seorang gagah, Tapi jurusmu yang
ketiga ini tidak mirip dengan perbuatan seorang gagah atau pendekar umumnya”
“Kau harus tahu, tak semua pendekar terdiri dari orang yang gagah, Tidak jarang
yang berjiwa pengecut” kata Hong kaucu sambil tersenyum.
Tapi si nyonya tidak dapat tertawa… karena seakan ditampar wajahnya mendengar
sindiran suaminya.
Hong An Tong tertawa.
“Mengapa itu tidak dapat dinamakan orang gagah?” dia balik bertanya, Tapi tak
apalah, namakan saja Tio Ciang Hoa Bi atau Tio Ci ” menyipat alis….”

Sembari berkata, dengan tangannya Kaucu memberi contoh dengan pura-pura
menyipat istrinya.
Hong Hu jin tertawa.
“Kau aneh” katanya, “Tio Ciang bukan orang gagah Apakah dia seorang pendekar
yang khusus menolong istrinya menyipat alis?”
Hong An Thong tertawa Iagi.
“Tapi dia orang gagah dari lain kalangan” katanya, “Apakah bukan orang gagah
kalau dalam kamar dia sanggup menguasai istrinya dan menyipat alis istrinya itu?”
Mau tidak mau, wajah Hong Hu Jin jadi merah padam.
“Kau bisa saja” katanya.
Siau Po berpikir dalam hati, Dia tak tahu siapa itu Tio Ciang. Menurutnya, menyipat
alis istri bukan perbuatan laki-laki yang gagah, pasti kaucu itu hanya bergurau, Maka dia
turut bicara, “Kau cu, bukankah lebih tepat kalau jurus itu dinamakan In Ciang atau Siok
Po menunggang kuda?”
“Nama itu sebetulnya dapat dipakai, tapi masih kurang tepat,” kata Hong Kau cu.
“Apa sebabnya? Sebab kuda Kwan In Tiong itu asalnya milik Lu Pou, sedangkan
kudanya sendiri telah dijual Aku pikir sebaiknya menggunakan nama Tek Ceng Hang Ki
saja, sebab Tek Ciang telah menaklukkan kuda naganya.”
“Bagus” seru Hong Hu Jin sembari bertepuk tangan, Tek Ciang adalah seorang
pendekar. Dia pernah membuat musuhnya terkejut dan melarikan diri”
“Sampai di situ, Siau Po kembali mengulangi pelajaran ilmu Bi Jin Sam Ciau itu, dan
Hong Hu Jin selalu memberi petunjuk mana yang masih belum sempurna, pelajaran itu
sebenarnya suIit, tapi untungnya bocah kita ini bisa mengingat setiap jalannya,
sehingga dia dapat berlatih terus.
Sementara itu, waktu sudah menjelang tengah hari.
“Pek Liong Su,” kata Hong Hu Jin kemudian “Kau sungguh beruntung. Kau tahu,
orang dalam partai ini yang mendapat pelajaran langsung dari Kau cu, selain aku
sendiri, kau merupakan orang satu-satunya”
“ltu karena peruntunganku yang bagus” sahu Siau Po. “Hambamu sangat berterima
kasih kepada Kau cu dan Hu jin”
“Karena itu,” kata Hong Hu Jin kembali “Kau harus belajar sungguh dan kelak di
kemudian hari harus bisa membalas budi kebaikan Kau cu ini. Terutama, kau harus
bekerja sesungguh hati terhadap Kau cu”

“lya, Hu Jin” sahut Siau Po.
“Nah, sekarang kau boleh mengundurkan diri” kata Hong Hu Jin. “Kau harus
mempersiapkan diri agar besok kau bisa mulai menjalankan tugasmu. Besok pagi-pagi
kau harus berangkat bersama Po Tauto dan Liok Kho Hian, tanpa perlu berpamit lagi
pada kami”
Siau Po mengangguk. Kemudian dia memberi hormat pada ketua dan nyonyanya itu,
Setelah itu dia membalikkan tubuh untuk mengundurkan diri. Tetapi ketika sampai di
ambang pintu, dia berkata.
Bagian 41
“Hu Jin, kalau hambamu nanti berumur delapan puluh tahun, waktu itu Kau cu dan
Hu Jin bisa mengajarkan aku tiga jurus ilmu lagi”
Mendengar kata-katanya, Hong Hu Jin tertegun, namun sesaat kemudian, dia
mengerti maksud si bocah, Dia sadar Siau Po sedang menyatakan pujian dan ucapan
selamat panjang umur kepada mereka.
Kalau bocah itu berusia delapan puluh tahun, berarti dia masih akan hidup enam
puluh tahun lebih bukankah hal itu berarti Siau Po sedang mendoakannya? Karena itu,
dia menjadi berbahagia sekali, Dia tertawa dan berkata.
“Baiklah Kalau usiamu delapan puluh tahun nanti, Kau cu dan aku akan
mengajarkan tiga jurus ilmu lagi kepadamu, Dan nanti, kalau kau masuk usia seratus
tahun, kami akan mengajarkan lagi tiga jurus ilmu yang dinamakan Lau Siu Chi Sam
Ciau, Bintang panjang umur dan Lau Popo Sam Ciau, si nyonya tua”
“Oh, tidak tua, sama sekali tidak tua” sahut Siau Po, “Mungkin waktu itu Hu Jin
masih akan tetap muda dan secantik sekarang, Bahkan Kau cu pun akan tetap muda
atau bisa jadi lebih muda dari sekarang, sedangkan ilmu yang akan diwariskan
kepadaku, namanya Kim Tong sam Ciau dan Giok Li Sam Ciau”
Kim Tong dan Giok Li merupakan sebutan bagi sepasang bocah laki-laki dan
perempuan yang biasa mengikuti dewa.
Hong An Thong dan Sou Coan merasa girang sekali mendengar perkataannya.
Tatkata Siau Po sampai di luar ruangan, dia sudah ditunggu Liok Kho Hian dan Ay
Cun Cia. Mereka itu mengkhawatirkan si anak muda, sehingga mereka gembira sekali
melihat ia muncul dalam keadaan baik-baik saja. Tapi mereka tak berani menanyakan
mengapa pemuda itu tertahan begitu lama di dalam.

“Kau cu dan Hu Jin telah mengajarkan aku banyak ilmu silat baru” kata Siau Po
menjelaskan tanpa diminta.
“Selamat, Pek Liong Su” seru kedua orang itu. “Di dalam partai kita, kecuali Hu Jin,
tidak ada seorang pun yang mendapat ajaran langsung dari kaucu”
“lya, Hu Jin juga berkata demikian” sahut si bocah tanggung yang merasa senang
sekali.
“Pek Liong Su dapat membuat Kaucu gembira, hal ini belum pernah terjadi
sebelumnya” kata tabib Liok, “Apakah Kau cu pun mengajari kau rahasia membuat pil
Tok Liong I Kin Wan?”
“Tidak Apakah Liok Sin Se mengerti caranya?”
“Aku bisa membuatnya, tapi kalah jauh mujarabnya dengan buatan Kau cu sendiri”
sahut Liok Sin si.
Sementara itu, mereka kembali ke rumah si tabib, Liok Kho Hian memang baik hati,
Dia langsung mewariskan kepandaiannya membuat pil Tok Liong I Kin Wan kepada
Siau Po. Dia menyatakan bahwa setiap hari pemuda itu harus duduk beristirahat
setengah jam agar obat itu bisa meresap ke dalam seluruh tubuhnya, Dia juga diajari
ilmu bersemedi dan meluruskan pernafasan.
Sementara itu pula, Siau Po bingung menyaksikan raut wajah Ay Cun cia dan Liok
Kho Hian, Mereka juga pernah menelan pil Tok Liong I Kin Wan, tapi wajah mereka
tidak segar dan gembira, malah lebih sering kelihatan murung dan gundah, dia
menganggap nama obat itu juga kurang bagus, karena mirip dengan nama racun,
Karena itu dia langsung mengutarakan jalan pikirannya itu kepada kedua rekannya.
Ay Cun cia menarik nafas panjang, “Tok Liong I Kin Wan itu racun atau obat yang
mujarab, kita lihat saja nanti Yang jelas, jiwa kami berdua berada dalam
genggamanmu, Pek Liong Su” katanya.
Siau Po heran dan tersentak kaget.
“Kenapa begitu?” tanyanya.
Ay Cun cia menoleh kepada Liok Kho Hian dan tabib itu menganggukkan kepalanya.
“Pek Liong Su,” katanya, “Orang yang merasa segan kepadaku menyebut aku Ay
Cun cia. Sebaliknya, orang yang tidak memandang sebelah mata kepadaku, memanggil
aku Poan Tauto, seperti kau tahu, Ay Cun cia artinya si Buddha kate dan Poan Tauto
artinya si tosu gemuk. Namun kenyataannya tidak demikian Aku bertubuh kurus dan
tinggi, tapi orang toh menyebut aku si gemuk pendek, karena itu coba kau bilang, aneh
tidak?”

“Benar, aku memang merasa heran” sahut Siau Po. “Aku mengira orang hanya
bergurau denganmu, tapi aku dengar Kaucu sendiri menyebutmu demikian. Beliau tidak
mungkin bergurau, bukan?”
Ay Cun cia menarik nafas panjang.
“lni merupakan kedua kalinya aku makan pil Tok Liong I Kin Wan,” katanya, “Aku
seperti orang yang sudah mati lalu hidup kembali. Kalau mengingat hal itu, aku seperti
orang yang bermimpi Kau tahu, asalnya aku memang pendek gemuk? itulah sebabnya
orang menyebutku Ay Cun cia atau Poan Tauto, Sebutan itu bukan hanya gurauan atau
kosong belaka”
Siau Po bertambah heran.
“Ah” serunya, “Jadi setelah makan obat itu, kau menjadi tinggi dan kurus seperti
sekarang ini? Kalau begitu, bagus sekali sekarang kau tampak gagah, Aku yakin ketika
masih pendek gemuk, tampangmu tidak seperti sekarang ini”
Ay Cun cia tertawa sumbang.
“Kau benar juga” katanya, “Tapi, coba kau pikir, tubuh yang pendek dan gemuk
berubah menjadi tinggi kurus hanya dalam waktu tiga bulan saja. Lagi pula kulit tubuhku
berubah menjadi merah seperti darah, Coba bayangkan bagaimana rasanya”
Siau Po merasa hatinya kaget bercampur bingung.
Sekali lagi Ay Cun cia menarik nafas panjang, “Untung saja aku telah lama mengikuti
Kaucu. Aku diberikan obat penentangnya, kalau tidak mungkin sekarang aku sudah
bertambah jangkung tiga kaki lagi” katanya kemudian.
Hati Siau Po sampai berdegup-degup mendengarnya.
“Lalu bagaimana dengan kita sekarang?” tanyanya. “Bagiku, tentu tidak menjadi
persoalan kalau aku bertambah tinggi tiga kaki, Tapi lain halnya dengan engkau, kalau
kau bertambah tiga kaki lagi, aku sungguh tak berani membayangkannya”
“Tapi, Tok Liong I Kin Wan memang sangat mujarab,” kata Ay Cun cia. “Siapa yang
makan pil itu, dalam waktu satu tahun tubuhnya akan bertambah sehat dan kuat, Tapi
kalau dalam satu tahun, orang tidak makan obat penentangnya, racun itu pasti bekerja,
dan belum tentu dia menjadi jangkung, Hal itulah yang terjadi pada kakak seperguruan
Kho Cun cia, tiba-tiba saja dia menjadi pendek”
Siau Po tertawa geli.
“Kalian berdua sungguh aneh,” katanya, “Ay Cun cia berubah menjadi Kho Cun cia,
sebaliknya Kho cun cia berubah menjadi Ay Cun cia. Tidakkah itu lucu dan bagus?
Dengan demikian, mudah saja bagi kalian untuk bertukar nama”

“Tidak bisa” sahut Ay Cun cia dengan suara keras, Dia juga menggelengkan
kepalanya berulang kali.
“Oh, Ay Cun cia,” kata Siau Po. “Aku telah salah bicara, janganlah kau marah”
“Kau memegang Ngo Liong Leng,” kata Ay Cun cia kemudian, “Dengan demikian aku
menjadi orang sebawahanmu, Kalau kau mencaci atau menghajar aku sekali pun, aku
tak akan melakukan perlawanan Lagipula, kau juga tak bermaksud mengejek atau .
menghina kami ketika mengucapkan kata-katamu itu. Tetapi, antara aku dengan kakak
seperguruanku itu, semuanya tidak sama, Baik ilmu silat kami mau pun sifatnya, jadi
bentuk tubuh kita itu tidak dapat dijadikan bahan untuk bertukar nama”
Siau Po menganggukkan kepalanya.
“Oh, begitu.”
“Lima tahun yang lalu,” kata Ay Cun cia, “Bersama kakakku itu, aku telah dititahkan
untuk melaksanakan sebuah tugas yang sebetulnya sulit sekali, Ketika kami berhasil
menyelesaikan tugas kami, tak mau batas waktunya sudah lewat Cepat cepat kami
pulang ke pulau dengan menumpan perahu, Ketika kami tiba, racunnya sudah bekerja.
Bukan main hebatnya derita yang kami rasakan benar-benar sulit diuraikan dengan
kata-kata Si kho langsung menjadi kalap. Dia menghajar dan menendang tiang perahu
sehingga patah, dengan demikian perahu kami jadi terombang ambing tengah lautan,
sementara itu, tubuhku semakin hari semakin tinggi dan kurus, sedangkan tubuh
saudaraku semakin hari semakin pendek dan gemuk. Pada saat itu, timbul perasaan
bahwa kami tidak dapat hidup lebih lama lagi, Apalagi perbekalan makanan juga sudah
habis, Untungnya kami bertemu sebuah perahu yang akhirnya membantu kami dengan
memberikan makanan sehingga kami dapat pulang ke pulau Sin Liong To ini. Kau cu
menganggap kami telah bekerja dengan baik sehingga kami diberikan obat penawarnya
untuk sementara.”
Mendengar penuturan tosu itu, hati Siau Po menjadi dingin, pengalaman itu sungguh
hebat sekali Penuh bahaya dan maut. Kemudian dia menoleh kepada tabib Liok dan
melihat wajah orang itu menyiratkan ketegangan yang luar biasa. Hal ini membuktikan
bahwa apa yang dikatakan Ay Cun cia bukan dusta
“Kalau begitu,” ujar Siau Po kemudian “Dalam waktu satu tahun, kita harus bisa
mendapatkan Kitab Si Cap Ji Cin Keng itu Setelah itu, kita baru pulang ke pulau ini…”
“Bicara memang mudah, tapi cara kerjanya?” tukas Ay Cun cia, “Bagus kalau kita
berhasil mendapatkan satu atau dua jilid kitab itu, sehingga kita bisa pulang dulu dan
meminta obat penawarnya kepada Kau cu….”
Siau Po berpikir dalam hati.

– Di tanganku sekarang ada tujuh jilid kitab Si Cap Ji Cin Keng, kalau tahun depan
aku memberikan satu jilid saja, apa masalahnya? — Karena berpikiran seperti itu, hati
Siau Po merasa sedikit tenang, Kemudian dia tertawa dan berkata.
“Kalau Kau cu tidak memberikan obatnya kepada kita, mungkin yang muda akan
menjadi tua dan sebaliknya yang tua akan menjadi muda. Ya…. Aku akan menjadi
kakek berusia delapan puluh tahun dan kalian akan berubah menjadi bocah cilik,
bukankah hal itu menarik sekali?”
“Memang hal itu ada saja kemungkinannya…” jawab tabib Liok, Hatinya tidak tenang,
tentu saja dia merasa takut sekali.
“Tuan-tuan jangan khawatir,” kata Siau Po. “Serahkan saja tanggung jawabnya
kepadaku, Aku jamin Kau cu akan memberikan obat penawarnya kepada kita, sekarang
kalian duduk dulu, aku ingin berbicara dengan nona Pui Ie”
Bocah itu sudah bertemu dengan Bhok Kiam Peng. Namun dia hendak
memberitahukan hal itu kepada Pui Ie. Tapi Kho Hian segera mencegahnya.
“Hong Hu jin sudah memanggil nona Pui,” katanya, “Nyonya berpesan supaya Pek
Liong Su tak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Asal kau bekerja dengan sungguhsungguh,
di pulau ini nona Pui pasti akan mendapat banyak keuntungan”
Mendengar kata-kata itu Siau Po terkejut setengah mati.
“Apa nona Pui tidak pergi bersama-sama kita?” tanyanya.
“Tidak,” sahut tabib Liok. “Hong Hu Jin telah memanggil nona itu, demikian pula
dengan nona Bhok Kiam Peng”
Di dalam hati Siau Po mengeluh, dia sudah mengatakan akan mengajak beberapa
orang Iainnya. Yang dimaksudkan ialah Kiam Peng dan Pui Ie, siapa sangka Hong Hu
Jin telah mencurigainya. Karena itu dia bertanya.
“Apakah Hong Hu Jin tak percaya kepadaku?”
“lni merupakan peraturan partai,” Kho Hian menjelaskan “Siapa saja yang keluar
melaksanakan tugas, tidak boleh membawa keluarganya”
Siau Po tertawa menyeringai. “Tetapi nona-nona itu bukanlah anggota keluargaku,”
katanya.
“Walaupun demikian kan sama-sama saja,” kata Hong Kian.
Bukan main malunya Siau Po, karena esok hari ia ingin mengajak Kiam Peng dan
Phui Ie berangkat bersamanya maka ia berkata.

“Benar, kaucu dan Hu Jin sangat lihay sekali Bukan hanya tak mempan dengan Tok
Liong Ie Kim Wan saja, mereka juga menahan kedua nona itu agar aku dapat
dikekangnya”
Besok paginya sewaktu bangun dari tidurnya ia mendengar suara terompet dan
teriakan dari luar kamar.
“Murid dari Pek Liong Bun bersiap mengantarkan Ciang bungsu berangkat guna
mewakilkan dan bekerja pada kaucu, “Kata-kata itu disusul dengan bunyi-bunyian yang
ramai.
Cepat Siau Po keluar dari kamarnya, Anggota Pek Liong Bun yang semua
menggunakan baju putih tampak menghadap sang ketua dan mereka berseru.
“Semoga Cang Bung Su memperoleh kemenangan dan keberhasilan”
Biar bagaimana pun, Siau Po segera terbangun Lalu ia mengajak Liok dan Ay Cun
cia untuk naik perahu guna mencari keselamatan.
Ketika sampai di tepi sungai ia mendengar suara derap kaki kuda, Setelah ia
mengetahui bahwa yang menunggangnya adalah Bhok Kiam Peng dan Phui Ie hatinya
sangat girang.
“Tak mungkin pikiran Hu Jin berubah untuk mengijinkan mereka ikut denganku
bertugas,” gumam Siau Po dalam hati.
Keduanya tampak turun dari kuda. Kemudian mereka berkata.
“Aku ditugaskan untuk memberimu ucapan selamat jalan dari kaucu dan Hu Jin.”
Dalam hati Siau Po berkata.
“Hm… ternyata hanya ingin mengucapkan selamat jalan saja.”
Tetapi Phui Ie menambahkan kata-katanya lagi.
“Atas perintah Hu Jin, kami dari Cek Liong Bun dipindahkan ke Pek Liong Bun, serta
diharuskan bekerja di bawah perintah Pek Liong Su….”
Segera Siau Po melangkah Hatinya merasa kecewa.
“Oh, Phui Ie. Rupanya kau telah bermain sandiwara, Kau sedang menjalankan tugas
dari kaucu, Karena Ay Cun cia tak berhasil memperdaya aku dengan kekerasan, lalu ia
mengutus kau untuk memperdaya aku dan kau berhasil,” gumam Siau Po dalam hati.

Di depan umum rupanya Siau Po tak dapat berbicara lebih leluasa, maka ia hanya
diam, Kemudian tangannya dikatupkan dan memberi hormat pada nona itu. ia lalu ingat
akan sesuatu, ia pun berbicara.
“Liok Sin Se, cepat kau pergi, dan katakan supaya ia melepaskan budak Song Ji,
yang biasa memberiku jajan. Aku hendak mengajaknya pergi bersama denganku”
“Tapi…” sahut si tabib ragu-ragu.
“Tapi apa..?” bentak Siau Po dengan wajah gusar.
“Cepat, kau pergi dan lepaskan dia”
“Baik, baik.” Liok Sin Se segera beranjak untuk berbicara dengan anak buah di
perahu itu. Orang itu lalu secepatnya pergi sambil berlari.
Belum lama utusan itu pergi, datanglah seorang dengan menunggang kuda dengan
cepatnya, Siau Po melihat si penunggang kuda yang juga melihatnya. secepatnya si
penunggang kuda itu melompat ke atas perahu dengan lincahnya.
Si penunggang kuda memanggil namanya “Siau Po” sambil melompat turun dari
kepala perahu dan mendekatinya. ia sangat lincah dan gesit sekali.
Bi Kin sangat kagum, Bukan terhadap lompatannya, melainkan orang yang melompat
itu. seorang anak kecil dan perempuan lagi, ia pun berseru memujinya.
Siau Po tadinya sangat khawatir kalau-kalau ia jatuh ke tangan orang-orang jahat itu.
Nona itu sangat pandai dalam ilmu silatnya tetapi ia kurang pengalaman ia lantas
memegang tangan Siong Cu dan menatap matanya.
Siau Po sangat sedih bahkan tampak matanya seperti menangis.
“Apakah ada orang yang menghinamu?” tanyanya.
“Ti… tidak-.” sahut si nona dengan perlahan
Siau Po menatapnya dengan perasaan cemas terhadap wanita muda belia itu.
“Aku… Aku cuma memikirkanmu. Mereka… mereka telah… mereka telah mengurung
aku.”
“Nah, sudahlah, sekarang kita akan pulang,” kata Siau Po.
“Di sini banyak sekali ular berbisa,” katanya sambil menangis.

“Jangan takut Tidak apa-apa,” kata Siau Po meyakinkan gadis itu. Dia sangat benci
pada Non Phui Ie. Karenanya ia sampai tergigit ular dan segera ia memerintahkan para
awak kapal itu untuk berangkat.
Mendengar perintah itu awak kapal segera menarik jangkar dan di barat terdengar
bunyi petasan, Orang-orang berseru mengucapkan kata-kata.
“Semoga Pek Liong Su menang dan dapat membangun jasa besar dari kaucu”
Angin laut membuat kapal perang itu cepat meninggalkan pulau.
Dalam perjalanan Siau Po berpikir dan berkata dalam hatinya.
“Jika saja aku tidak mengetahui Phui Ie menjadi anggota Sin Liong Kau, tentu saat ini
aku masih memikirkan dirinya, sekarang aku tak perlu lagi mengingat-ingat akan
dirinya, Tetapi ia sangat baik dan juga cantik.”
Lewat beberapa hari kapal teliti sampai di Cin Hong To, maka Siau Po
memerintahkan agar kapal merapat. Tibalah rombongan Sin Liong Kau di kota Pakhia.
“Aku hendak mencoba masuk ke istana raja,” kata Siau Po pada kawan-kawannya.
“Oleh karena itu, aku membutuhkan waktu yang cukup lama, agar dapat berhasil.
Kalian harus mencari tempat menyimpan kapal yang aman” perintahnya kepada para
awak buah kapal.
Kho Hian menurut dan ia lalu mencari tempat untuk menyembunyikan kapal, ia
berhasil menyewa sebuah rumah yang besar beserta koki dan pelayannya, jumlah
mereka belasan orang.
Setelah mengatur anak buahnya, Siau Po pergi seorang diri.
MuIanya ia pergi ke tempat kediaman orang-orang Cian Ti Wi. Di sana terdapat
saudagar teh. Sewaktu Siau Po mengajak bicara, saudagar itu nampak ketakutan
sekali, Maka teranglah kalau di itu orang luar.
Karena itu ia lalu pergi ke Cian Kio ia pikir kalau tidak ada Ci Cian Coan tentu yang
lainnya, seperti Hoan Kong, Kho Gan Tiau, atau Cian Lau Pun. Dan ia pun tidak
didapatkannya maka Siau Po harus mondar mandir dengan tangan hampa. Akhirnya
Siau Po mencari hotel yang pernah ia singgahi, Lantas ia menaruh uang di atas meja
kasir.
Melihat uang yang begitu banyak Siau Po pun diberi kamar kelas satu dan mendapat
pelayanan yang sangat baik.

Siau Po meminta kamar nomor 8 yang pernah dipakainya, Setelah pelayan berlalu
dari kamarnya Siau Po merebahkan tubuhnya. Dia menghirup secangkir teh dan ia
beristirahat dengan tenang sambil otaknya terus berpikir.
Beberapa lama kemudian setelah keadaan tenang ia mengambil pisau belatinya
untuk mengorek tembok tempat ia pernah menyimpan kitab penting. Kitab itu masih ada
dan tak kurang suatu apa pun, ia mengambil dan memasukkannya ke dalam saku. ia
lalu pergi keluar hotel untuk menuju ke istana raja.
Tiba di istana, seorang Sie Wie yang bertugas jaga menegurnya,
“Eh, kau sedang apa di sini?” tanya seorang penjaga melihat seorang anak muda
dengan pakaian yang sederhana menuju ke pintu istana.
Siau Po lalu tertawa dan berkata.
“Ah… Apakah kau tak mengenali aku lagi? Aku kan Kui Kong Kong dari istana.,.?”
Pengawal itu menatap dan dengan cepat mengenali orang yang menjadi pelayan
raja, keningnya agak berkerut sambil menatap Siau Po.
“Oh, Kui Kong Kong mana aku mengenalimu, Orang berbadan aneh seperti ini.,.”
“ltuIah sebabnya aku tak sempat menyalin pakaian lagi, Sri Baginda memerintahkan
aku melakukan sesuatu, Aku mesti buru-buru pulang dan melaporkannya,” ujar Siau Po
kemudian
“Jika demikian, pastilah Kong Kong telah berhasil menjalankan tugas dengan baik
dan kau pasti akan mendapatkan hadiah yang cukup besar” sahut Sie Wie itu.
Siau Po tertawa, ia lalu pergi masuk ke istana kerajaan. Di ruang Gi Sin Pong ia
dikerumuni Thay-kam yang girang dengan kembalinya dia.
“Kong Kong pergi lama sekali kami jadi kangen Kami selalu berdoa agar Kong Kong
selamat dan dapat berhasil Tanpa Kong Kong segalanya jadi tak teratur”
Siau Po tertawa dan berkata.
“Aku pun selalu ingat dengan kalian Di Gie San Pong ini ada gadisku yang aku
belum terima. Nah ambillah ini semua untuk kalian bagi rata”
Semua Thay-kam menjadi girang sekali Mereka berulang-ulang mengucapkan kata
terima kasih pada Siau Po.
Siau Po masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Kitab pun dibungkus dengan
rapih. Kemudian ia pergi ke Lam Si Pong, kamar baca sebelah selatan.

Sebelumnya ia minta pada pengawal untuk memberitahukan pada raja akan
kedatangannya.
Kaisar Kong Hi gembira bukan main mendengar orang kepercayaannya telah tiba di
istana.
“Lekas, suruh dia masuk… Lekas… suruh dia masuk” perintahnya pada pengawal
berulang-ulang.
Siau Po cepat berangkat setelah mendapatkan laporan dari pengawal. Dia berjalan
dengan cepat dan setelah sampai di depan pintu, raja sudah menyambut
kedatangannya.
“Oh, Siau Kui Cu cepat masuki Kenapa kau pergi begitu lama.,.?”
Siau Po menjatuhkan diri sambil menghormat.
“Selamat Sri baginda… Selamat”
Raja merasa hatinya tegang, jelas maksud sebenarnya ayahnya masih hidup,
Karenanya ia m rasa sangat tegang sekaIi.
“Mari, masuk Kau bicaranya pelan-pelan saja..”
Raja merasa terharu, hampir ia meneteskan matanya karena terharu.
Siau Po masuk ke kamar kerjanya dan segera menguncinya. Siau Po terlebih dahulu
memeriksa kamar tulis itu. Hatinya khawatir ada orang yang ikut mendengarkan
pembicaraannya itu, Kemudian ia mendekati raja dan berkata dengan pelan sekali.
“Sri Baginda, di atas Gunung Ngo Tai San hamba bertemu dengan Lo Hong Ya….”
Lo Hong Ya, tak lain orang tua dari raja.
Raja lalu menyambar tangan Siau Po.
“Jadi, benar Hu Hong berada di Ngo Tay San.,.?” tanyanya dengan suara bergetar.
“Apa… Apa kata Hu Hong.,.?”
“Hu Hong” adalah nama panggilan pada ayah raja”
Siau Po mengangguk lalu segera menceritakan perjalanannya ke Ngo Tay San
sampai ia bertemu dengan bekas kaisar di kuil itu, ia pun menceritakan tentang pendeta
dari tibet yang ingin mencelakai bekas raja itu. Namun raja masih dapat diselamatkan
dan itu berkata bantuan kedelapan belas arhat dari Siau Lim Sie.

Siau Po memang pandai berbicara, penuturannya cerita itu menjadi sangat rapih dan
menarik hati, Dengan demikian ia dapat menunjukkan jasanya terhadap kerajaan.
“Sungguh berbahaya…” gumam raja yang tangannya penuh dengan keringat “Biar
nanti saya perintahkan satu pasukan untuk menjaga keselamatan raja,” 1anjutnya.
“Jangan, raja tak menghendaki itu” kilah Siau Po.
Setelah itu Siau Po menerangkan tentang bekas raja itu yang mengatakan bahwa
sang putra tidak ingin menjenguknya.
Mendengar perkataan Siau Po, raja itu berkata.
“Sungguh Hu Hong maha bijaksana Dia lebih menjunjung tinggi kepentingan
pemerintahan dibanding dengan kepentingan dirinya, Tidak seperti aku.” Mendadak ia
berhenti berbicara untuk menangis, Namun kemudian melanjutkan kata-kata-nya
dengan suara pelan.
“Aku mesti menjenguk Hu Hong… Aku harus ke sana,” katanya.
“Sabar Sri Baginda.,.” Siau Po membujuk raja yang sedang sedih, lalu ia
memberikan Kitab pada raja itu.
“Segala urusan pemerintahan supaya berjalan dengan wajar dan jangan
menggunakan kekerasan. Lebih baik memberikan kebahagiaan pada rakyat. Apabila
rakyat menghendaki kita untuk pergi, kita harus pergi ke tempat asal kita, Dan pesan
yang lainnya, jika Sri Baginda menghendaki negara ini aman, agar jangan menaikkan
pajak. Jika pesan-pesan itu dilaksanakan dan diturut, maka hanya itu yang membuat
hati beliau merasa bangga dan bahagia.”
Kaisar itu menjadi sedih mendengarkan kata-kata dari ayahandanya, Air matanya
terus menetes membasahi kitab yang ada di tangannya, ia lalu membuka bungkusan
itu, Lembar demi lembar kitab itu ia buka, pada lembaran pertama ia mendapatkan
pesan dari ayahandanya yang berbunyi.
“Buat selamanya, jangan menaikkan pajak” Tulisan itu sangat bagus, Tulisan tangan
ayahandanya.
“Hu Hong, pesanmu tak akan kulupakan,” katanya sambil menangis.
Setelah dapat menenangkan hatinya, ia lalu bertanya pada Siau Po tentang keadaan
ayahandanya, sehatkah ia, sengsarakah ia. Semua pertanyaannya dijawab oleh Siau
Po, Raja mendengarkannya sambil menangis tersedu-sedu.
Mendengar kesedihan raja, Siau Po menjadi berpikir dan berkata dalam hati.

“Aku juga harus turut menangis, pasti aku akan mendapatkan hadiah besar
Mengeluarkan air mata pun aku tak membelinya”
Dan Siau Po pun turut menangis dengan raja.
Kong Hi menangis sambil mengusap air matanya ia berkata.
“Aku teringat akan ayahku, sehingga aku menangis, tetapi mengapa engkau ikut
menangis, kenapa?”
Memang raja itu menangis dengan pilu sekali, tetapi ia masih dapat menahan
tangisnya, walaupun di depan Siau Po, kacungnya, Raja merasa heran melihat Siau Po
turut menangis dengan sangat pilu.
Ia tidak tahu kalau Siau Po pandai bermain sandiwara, Anak muda itu berpura-pura
menangis agar mendapatkan hadiah dari raja.
Ditanya demikian Siau Po menjawab dengan tenang.
“Hamba melihat Tuanku sangat bersedih, hamba jadi turut bersedih, sebab, hamba
teringat pada ayah Baginda yang mengatakan bahwa hamba sangat cerdik, Beliau pun
sangat suka pada saya..” jawab Siau Po.
“Jikalau hamba tidak harus melaporkan pada raja, tentunya hamba akan lebih suka
tinggal bersama dengan ayahanda raja, untuk melayani dan melindungi ayah raja dari
gangguan orang jahat.”
“Siau Kui Cu, kau baik sekali Aku akan memberimu hadiah besar.”
Bukan main girangnya Siau Po, tetapi ia masih saja menangis.
“Sri Baginda baik sekali, Hamba sangat senang-walaupun tidak diberi hadiah hamba
masih senang asalkan ayah Raja dan Raja sehat Sebab, hanya itu yang dapat
membuat hati hamba senang,” ujarnya sambil menangis.
Siau Po sangat pandai berbicara, ia hanya belajar sewaktu di Sin Liong To
menyanjung-nyanjung atasan.
“Aku juga khawatir kalau ayahku tidak ada yang melayaninya,” kata raja.
“Bukankah kau telah mengatakan Heng Tia pendeta dari tibet itu sangat kejam dan
sembrono? itulah yang menyebabkan hatiku tidak tenang, untung ayah sangat
menyukai engkau,” kata raja pada Siau Po.
Siau Po sangat kaget mendengar kata-kata raja itu.

“Oh.-.” serunya dalam hati,
“Celaka… celaka kalau kau menugaskan aku pergi ke sana untuk merawat raja tua
bangka itu, bukankah aku akan seperti dalam penjara seumur hidup?” gumam Siau Po
dalam hati.
“Nah, begini saja, kau pergi ke Ngo Tai San, di sana kau masuk menjadi biksu. Kau
dapat berdiam diri di sana dan dapat mengurus ayahku.”
Bukan main kagetnya hati Siau Po mendengar perkataan dari raja itu dan belum
berhenti raja itu berbicara ia sudah menyelanya.
“Merawat ayahanda Raja itu baik, tetapi untuk menjadi biksu hamba harus
mensucikan diri hamba terlebih dahulu.”
Raja itu pun tertawa.
“Tetapi jadi biksu juga bukan untuk selama-lamanya,” kata sang raja, “Jadi biksu
bukan untuk selama-lamanya, ayah sedang mensucikan diri. Nanti jika kau ingin
menjadi orang yang tidak suci, kau sudah mendapatkan kemerdekaan, di samping itu
pula kau dapat merawat ayahku di sana.”
Maksud raja itu ialah jika ayahnya sudah wafat ia dapat kembali menjadi orang biasa
lagi.
Walaupun Siau Po sangat cerdik ia tetap merasa putus asa, karena jika menolak
keinginan raja tentunya raja akan murka, bahkan mungkin raja akan memerintahkan
pengawal untuk memenggal leher-nya. Namun ia masih dapat berkata dengan nada
mengelak.
“Tetapi…. Tetapi Sri Baginda… hamba tak tega meninggalkan Sri Baginda sendiri
saja…” ujarnya terbata-bata.
Kali ini Siau Po menangis dengan sungguh-sungguh, ia tak lagi menangis dengan air
mata buaya.
Hati raja menjadi terharu.
“Begini saja, kau tetap menjadi biksu untuk beberapa tahun, Nanti aku akan
memerintahkan seseorang untuk memintamu kembali dan menggantikanmu, Ayahku
melarang aku menjenguknya, tetapi aku akan mengutus seseorang untuk
mengurusnya, Aku tak jadi berangkat kesana, Suatu saat nanti aku ke sana kita akan
bertemu lagi? Siau Po, ingat pesanku, kau berlaku baiklah pada ayahku Kelak jika kau
kembali aku akan memberimu pangkat yang sangat berharga padamu.”
Masih saja Siau Po menangis dan raja melanjutkan perkataannya.

“Selama berada di dalam kuil kau harus dapat menggunakan waktu luangmu

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s