“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 53

Jin tertawa mereka jadi tenang dan ketegangan
mereka pun hilang.
“Jadi itulah kata-kata yang kau tambahkan sendiri ?” kata sang ratu.
“Benar Hu Jin,” sahut Siau Po.
“Kata-kata itu tak dapat dihindarkan, sebab di dalam tulisan batu yang mirip dengan
anak-anak katak itu juga terdapat nama Hu Jin.”
Liok Sin Si kaget sekali mendengar ocehan Siau Po. Tubuhnya merasa dingin
bagaikan es karena si bocah telah menambahkan kata “Hu Jin” itu, ia sendiri sudah
menambahkannya, Siau Po benar-benar lancang sekali, Bukankah dengan demikian
rahasianya akan terbongkar?
Hong Hu Jin heran mendengar jawaban Siau Po.
“Kau bilang namaku terukir dalam tulisan itu.” tanyanya,
“Benar,” katanya, Di lain waktu dia sadar dan mengingat perintah yang mengatakan
agar ia menghapal kalimat tersebut Bersyukur sekali Siau Po karena Hu Jin tidak
menanyakan lebih jauh lagi.
“Kau Si Wi, datang dari pakia, bukan?” tanya si nyonya.
“Menurut Poan Tou To kau pernah bertemu dengan seorang nyonya gemuk yang
disebut Liu Yan, bahkan Liu Yan pernah mengajari mu ilmu silat, benarkah itu?” si
nyonya Hu Jin bertanya.
Ditanya begitu Siau Po berpikir dengan cepat.
“Apa yang Hu Jin bicarakan dengan Ay Cun cia, Ay Cun cia telah menyampaikan
pada kaucu dan Hu Jin. Maka itu aku harus bersikap cepat karena Liu Yan sudah mati
dan saksinya tak ada?” Maka ia cepat menjawab.
“Benar, Bibi Liu dulu sahabat kekal pamanku, baik di waktu siang maupun di waktu
malam, ia sering ke rumahku.”
Hong Hu Jin tertawa.
“Mau apakah dia dengan kedatangannya itu?” tanyanya.

“Dia suka bergurau dengan pamanku, sering mereka merangkul satu dengan yang
lainnya, mereka menyangka aku tidak melihatnya tetapi aku sering mengintainya.”
Hu Jin pun tertawa pula.
Siau Po pandai sekali berbohong, Dia berpikir semakin banyak berbicara semakin
mudah untuknya berbohong, sebab ia mengira orang akan percaya akan kata-katanya
yang dilakukan secar wajar.
Lagi-lagi Hu Jin tertawa.
“Eh, Nak Kau cerdik sekaii, begitu beraninya kau mengintip pamanmu yang sedang
berciuman dan berpelukan itu.” ia lalu menoleh pada He Liong Su dan berkata.
“Nah, kau dengar atau tidak anak ini tak mungkin berdusta.”
Diam-diam Siau Po melirik pada Hek Liong Su Dia melihat wajah orang itu menjadi
pucat dan menggigil, suatu tanda ia sangat ketakutan. Dia harus menjatuhkan diri dan
berlutut sambil mengangguk-angguk.
“Hamba… hamba kurang penilikan… hamba harus mati… hamba mohon kaucu dan
Hu Jin dapat memberikan ampunan pada hamba dapat menebus dosa ini….”
Siau Po merasa heran juga, Diam-diam dia berpikir dalam hatinya.
– Tua bangka ini aneh juga, Aku toh cuma mengatakan bahwa si Liu Yan berpelukan
dan berciuman dengan pamanku, apa hubungannya dengan dia ini? Mengapa dia jadi
demikian ketakutan?
Hong Hu Jin tertawa.
“Membuat jasa guna menebus dosa?” katanya “Jasa apakah yang kau miliki? Aku
mengira orang yang kau beri tugas itu sudah melaksanakan tugasnya dengan baik, Tak
disangka di kota kerajaan dia malah bermain asmara?”
Hek Liong Su mengangguk lagi berulang kali, bahkan kepalanya sampai membentur
batu sehingga dahinya berdarah.
Melihat demikian, Siau Po tidak sampai hati. Akan tetapi dia tidak menemukan katakata
yang baik untuk meredakan suasana.
Hek Liong Su merayap kehadapan kaucu.
“Kaucu” katanya, “Hambamu ini sudah cukup lama mengikuti kaucu bercapek lelah,
biar pun tidak berjasa apa-apa, banyak bahaya yang sudah hamba tempuh demi….”

Belum lagi kaucu itu memberikan jawaban apa-apa, Hong Hu Jin sudah tertawa
dingin.
“Untuk apa kau menyebut-nyebut pekerjaanmu yang dulu-dulu?” tegurnya, “Usiamu
sudah begini tua, masih berapa tahun lagi kau sanggup menyumbangkan tenagamu
untuk kaucu? Karena itu, ada baiknya kau tidak usah menjabat lagi kedudukanmu
sebagai Hek Liong Su. Bukankah demikian lebih menyenangkan?”
Hek Liong Su mengangkat kepalanya untuk menatap sang kaucu.
“Kaucu” katanya dengan suara bergetar “Apakah benar terhadap hambamu yang
lama yang sudah seperti saudaramu ini, kau tidak mempunyai sedikit pun rasa
menyayangi?”
Sejak semula sikap Hong kaucu tetap tenang, dengan tawar dia menjawab.
“Di dalam partai kita banyak sekali orang-orang tua yang kerjanya sudah tidak
karuan, maka itu ada baiknya sejak sekarang kita mulai melakukan penertiban.”
Inilah untuk pertama kalinya Siau Po mendengar suara si kaucu yang perlahan dan
kurang tegas, justru ketika otaknya sedang bekerja, terdengar para pemuda pemudi
memperdengarkan suaranya yang nyaring dan lantang.
“Ajaran kaucu senantiasa kami ukir dalam hati. Kami akan membangun jasa Kami
akan mengalahkan setiap musuh agar dapat melindungi diri dan hidup panjang umur”
Mendengar suara itu, Hek Liong Su menarik nafas panjang, Dengan tubuh masih
bergetar, dia bangkit
“lnilah yang dinamakan, habis manis sepah dibuang” katanya, “Kami merupakan
orang-orang yang sudah tua dan tidak berguna, memang sebaiknya kami mati saja” dia
langsung memutar tubuhnya kemudian berkata kembali “Marilah”
Empat pemuda sudah langsung maju ke depan, Tangan mereka masing-masing
membawa sebuah nampan kayu yang di atasnya terdapat sebuah kotak yang berisi
sejenis kopiah dari bahan kuningan
Mereka maju ke depan dan meletakkan nampan-nampan itu di hadapan Hek Liong
Su kemudian mereka kembali lagi ke tempat semula.
Begitu juga dengan orang-orang lainnya, mereka masing-masing menyurut mundur
dua langkah.
Terdengar suara Hek Liong Su yang lantang.

“Ajaran Kaucu senantiasa kami ukir dalam hati Kami akan membangun jasa Kami
akan mengalahkan setiap musuh agar dapat melindungi jiwa kami dan hidup…. Hm
Tapi, tidak apa-apa meskipun jiwaku yang tua ini tidak dilindungi.”
Sembari berkata, Hek Liong Su memegang bagian atas dari sebuah kotak, kemudian
dia menariknya, Setelah itu dari dalam kotak tampak mencelat bayangan sesuatu benda
dan disusul dengan berkelebatnya sinar keputihan.
Ternyata cahaya dari sebatang golok yang membacok bayangan yang mencelat tadi
sehingga terkutung menjadi dua bagian dan terjatuh ke dalam nampan, namun masih
terus berkutik-kutik.
Rupanya itulah seekor ular kecil panca warna.
Menyaksikan hal itu, Siau Po terkejut setengah mati, Dia bahkan sampai
mengeluarkan seruan tertahan. Lalu terdengar suara teriakan banyak orang.
“Siapa? Siapa yang berani menentang atasan. Bekuk dia Siapa si murid murtad
yang berani menentang kaucu?”
Menyusul itu, terdengar suara Hong Hu Jin yang keras. “Ngo Liong Siau Lian Lekas
turun tangan”
Ngo Liong Siau Lian yang dimaksudkannya ialah barisan pemuda “Lima Naga”
Ternyata nyonya itu tidak dapat dilihat dari sudut kecantikan ataupun sikapnya yang
centil. Begitu dia mengeluarkan suaranya yang keras, suara-suara bising lainnya
langsung sirap, sebaliknya para pemuda-pemudi itu langsung bergerak.
Hal ini membuktikan, bahwa selain wajahnya yang cantik dan sikapnya yang centil,
nyonya itu mempunyai tenaga dalam yang dahsyat. Suaranya mengandung pengaruh
yang besar. Begitu mendengar perintahnya, ratusan pemuda-pemudi langsung
menghunus pedangnya masing-masing sehingga timbullah suara berdesingan yang
riuh, Setelah itu mereka lantas mengurung para orang tua yang tadinya merupakan
rekan mereka juga.
Semua pemuda-pemudi itu bergerak dengan rapi menurut warna seragamnya
masing-masing. Mereka terdiri dari kelompok-kelompok, Ada lima atau enam orang
yang mengepung satu orang tua.
Di bagian lain ada juga yang terdiri dari delapan atau sembilan orang, sedangkan
pedang mereka masing-masing mengancam bagian tubuh yang mematikan dari para
orang tua itu, Dengan demikian para orang tua itu seakan sudah tidak mempunyai jalan
untuk meloloskan diri lagi.
Tabib Liok dan Ay Cun cia juga tidak terkecuali, mereka juga ikut terancam.

Seorang imam berkumis hitam dan usianya kurang lebih lima puluh tahun tertawa.
“Hu Jin.” katanya, “Entah berapa bulan waktu yang kau habiskan untuk melatih
barisanmu yang istimewa ini. Tapi kalau tujuannya untuk menghadapi para saudara
tuamu ini, sebetulnya tidak perlu kau sampai menggunakan cara ini”
Begitu dia selesai berkata, dua dari delapan orang nona yang mengurungnya segera
maju selangkah dan mengancam dada orang itu dengan pedang masing-masing.
“Jangan kau bersikap kurang ajar terhadap Kaucu dan Hu Jin” katanya garang.
Si imam tertawa lagi.
“Hu Jin” katanya kepada nyonya kaucu itu.
“Sebaiknya aku katakan terus terang bahwa naga Ngo Cay Sin Liong itu, akulah yang
membunuhnya.” Yang ia maksudkan tentunya ular kecil panca warna tadi namun
disebutnya naga, “Kalau Hu Jin ingin menjatuhkan hukuman atas dosaku itu, silahkan
Hu Jin turun tangan kepada diriku Harap jangan merembet orang lain yang tidak
bersalah”
Hong Hu Jin tersenyum.
“Bagus Kau telah mengakuinya sendiri” katanya. “Totiang, bukankah selama ini
perlakuan kaucu terhadapmu tidak dapat dikatakan buruk? Bukankah kau telah
dipercayakan tugas Cia Lioi Bun, Ciang Bun Su? Bukankah kedudukan itu hanya di
bawah kaucu seorang, tapi di atas ribuan orang lainnya? Mengapa sekarang kau justru
berkhianat?”
“Aku yang rendah sama sekali tidak berniat mengkhianati” kata si imam, “Hek Liong
Su To Yam Goat telah berjasa besar terhadap partai sekarang hanya karena kesalahan
kecil yakni kurang waspada terhadap sebawahannya, Hu Jin ingin merampas selembar
jiwanya, Tindakan Hu Jin ini benar-benar membuat aku tidak puas. Aku mohon agar
kaucu dan Hu Jin memberikan keringan kepadanya”
Hong Hu Jin tertawa kembali. “Bagaimana kalau aku menolaknya?”.
Sejak semula selalu si nyonya muda ini yang berbicara, sedangkan kaucunya hanya
diam saja.
“Sin Liong Kau dibangun oleh kaucu,” sahut Bu Kin Tojin. “Tetapi, di samping itu,
kami ribuan saudara lainnya juga turut berjasa dengan mempertaruhkan nyawa bekerja
tanpa menghiraukan marabahaya, Semula jumlah kita semuanya ada seribu dua puluh
tiga orang, sampai sekarang orang lama hanya tersisa beberapa ratus saja, Saudara
kami yang lainnya telah tiada, ada yang terbinasa di tangan musuh, ada juga yang
dihukum mati oleh kaucu sendiri.

Karena itu, aku mohon kaucu sudi mengampuni jiwa kami yang sisanya tidak
seberapa ini, Pecatlah kami dan keluarkanlah kami dari partai Apabila kaucu dan Hu
Jin sudah jemu melihat kami yang sudah tua-tua ini, serta berniat memakai orang-orang
baru, silahkan kaucu dan Hu Jin mengusir kami agar kami berlalu dari sini”
Hong Hu Jin tertawa dingin.
“Semenjak partai Sin Liong Kau didirikan, belum pernah ada orang yang keluar dari
partai dalam keadaan hidup-hidup, Karena itu, Bu Kin tojin, tidaklah kata-katamu itu luar
biasa sekali?”
“Kalau begitu, apakah berarti Hu Jin tidak sudi menerima baik permintaan kami?”
kata Bu Kin tojin.
“Maaf partai kita tidak mempunyai peraturan seperti itu.” sahut si nyonya tegas.
Bu Kin Tojin tertawa terbahak-bahak.
“Kalau begitu, tentunya Hu Jin dan kaucu akan membunuh habis kami semuanya.”
katanya nyaring.
Hong Hu Jin hanya tersenyum.
“Tidak sepenuhnya betul.” katanya, “Para anggota yang sudah tua, asalkan masih
setia terhadap kaucu, tetap kami anggap sebagai saudara. Kami tidak mementingkan
usia muda atau tua, yang penting kesetiaannya, Nah, sekarang kalian semua dengar
Siapa yang masih setia kepada kaucu, silahkan angkat tangan”
Si nyonya langsung bertanya kepada para anggota partainya. Para muda-mudi yang
jumlahnya ratusan orang itu langsung mengacungkan tangannya. Para orang tua yang
terkepung itu pun ikut mengangkat tangannya tinggi-tinggi, tidak terkecuali Bu Kin tojin.
Kemudian terdengar suara teriakan dari para anggota partai itu,
“Kami semua setia terhadap kaucu, Kami tidak akan berhati dua.”
Bahkan Siau Po pun ikut mengangkat tangannya. Hong Hu Jin yang menyaksikan
keadaan itu langsung menganggukkan kepalanya.
“Bagus sekali.” katanya gembira, “Rupanya setiap orang setia terhadap kaucu,
Bahkan adik kecil yang baru datang ini pun tidak terkecuali ia juga mengatakan
kesetiaannya.”
Mendengar ucapan si nyonya muda, Siau Po berpikir dalam hati.
– sebetulnya aku hanya setia kepada si kura-kura dan si jahanam hina dina, –

Hong Hu Jin berkata kembali.
“Semuanya setia kepada kaucu, Kalau begitu, di sini tidak terdapat seorang
pengkhianat pun, Benarkah? Bukankah keadaannya jadi tidak tepat? Karena itu, aku
harus menanyakannya satu persatu dengan teliti, Saudara sekalian, sudilah kiranya
kalian menyerahkan diri di belenggu sementara”
“Baik.” sahut beberapa ratus pemuda-pemudi itu.
“Tunggu dulu” tiba-tiba terdengar suara lantang seorang pria, Tubuhnya tinggi besar
dan orangnya penuh wibawa.
“Hai, Liong Su” sapa Hong Hu Jin. “Apakah kau mempunyai pemikiran yang
sempurna?”
“Pemikiran yang sempurna memang tidak ada.” sahut orang yang ditegur.
“Apa yang hamba pikirkan adalah masalah ketidakadilan.”
“Hm Hm” Si nyonya muda mengeluarkan suara mengandung keheranan “Apakah
kau bermaksud mengatakan bahwa tindakanku ini tidak adil?”
“Hal itu, hamba tidak berani mengatakannya.” sahut pria tinggi besar itu, “Hamba
telah mengikuti kaucu selama dua puluh tahun, selama itu persoalan apa pun, hamba
selalu ke depan, tidak pernah menyurut mundur.
Ketika hamba mempertaruhkan nyawa demi partai ini, bocah- bocah yang hadir di
sini pasti belum lahir, Karena itu, mengapa mereka yang masih muda mendapat
prioritas dengan dikatakan setia terhadap kaucu, sedangkan kami yang tua tidak?”
“Dengan kata-katamu ini, Pek Liong Su, berarti kau telah membeberkan jasamu
sendiri.” katanya, “Sama saja artikan kau mengatakan, bahwa tanpa jasamu Tio Ci
Leng si Naga Putih, Sin Liong Kau tidak dapat berdiri sampai sekarang, bukankah
begitu?”
Orang bertubuh tinggi besar itu memang bernama Tio Ci Leng. Dia segera
menjawab.
“Berdiri serta bertahannya Sin Liong kau sampai sekarang ini, semuanya berkat jasa
kaucu sendiri Kami semua hanya memberikan sedikit bantuan, tidak pantas di katakan
sebagai jasa, Akan tetapi….”
“Akan tetapi apa?” tukas Hong Hu Jin.
“Akan tetapi, kalau kami yang sudah tua ini dikatakan tidak mempunyai jasa apa-apa,
anak-anak yang masih bau kencur ini.” sahut Ci Leng dengan berani.

“Usiaku sendiri belum mencapai tiga puIuh, apakah aku juga terhitung orang yang
belum mempunyai jasa apa-apa. Mendirikan partai dan menjalankannya itu jasa kaucu
sendiri.”
Tidak tampak kegusaran pada mimik wajah Hong Hu Jin. Dia hanya berkata dengan
perlahan.
“Kalau semua memang tidak ada jasanya, seandainya kau kubunuh, tentu kau juga
tidak akan penasaran, bukan?”
Tiba-tiba sinar mata nyonya muda ini menyorotkan kebencian dia berteriak.
“Kalau hanya aku orang she Tio yang di bunuh, tidak apa. Tapi aku khawatir, bila kau
membunuh para menteri-menteri yang setia dan sudah lama mengikuti kaucu, maka Sin
Liong Kau akan hancur di tanganmu seorang.”
“Bagus Bagus” seru si nyonya muda, sikapnya masih tenang sekali “Aih, aku
merasa letih sekali.”
Kata-kata itu di ucapkan dengan seenaknya. orangnya pun tampak lesu, siapa tahu
rupanya itulah isyarat rahasia untuk segera melaksanakan hukuman, Tujuh orang
pemuda segera menghunjamkan pedangnya ke tubuh si Naga Putih, Ketika pedang
mereka di cabut kembali, darah pun ber-cipratan ke mana-mana,
“Kaucu, kau… tega seka… li” seru Tio Ci Leng. Hanya sekian kata-katanya dan
tubuhnya roboh di atas tanah dengan jiwa melayang, sedangkan ke tujuh pemuda itu
sudah kembali ke tempatnya semula.
Sebetulnya Tio Ci Leng terhitung salah satu anggota yang lihay sekali dari Sin Liong
Kau, tapi ketika ke tujuh pemuda itu menikamnya, dia tidak berdaya sama sekali, Hal ini
membuktikan bahwa ilmu ketujuh pemuda itu sudah dilatih sedemikian rupa sehingga
mencapai kesempurnaan.
Hong Hu Jin menguap, dengan tangan kirinya dia menutup bibirnya yang mungil
seperti buah ceri, Tampaknya dia mengantuk serta letih sekali.
Bagaimana dengan Hong kaucu? dia tetap berdiam diri seperti tidak melihat
bagaimana Tio Leng dibinasakan.
Kemudian dengan sikap seenaknya pula Hong Hu Jin bertanya.
“Chi Liong Su, Oey Liong Su, bagaimana pendapat kalian tentang Pek Liong su yang
berani berniat berkhianat? Bukankah dia sudah selayaknya mendapat hukuman atas
dosanya itu?”
Seorang tua yang tubuhnya pendek segera menjura dan berkata,

“Sebenarnya niat Pek Liong Su berkhianat kepada kaucu dan Hu Jin sudah
berlangsung lama. Beberapa kali hamba melaporkan hal ini kepada Hu Jin, tetapi Hu
Jin selalu mengatakan, selaku sesama saudara, Hu Jin ingin membiarkan saja agar
tersadar dengan sendirinya, Kaucu dan Hu Jin ya berhati mulai masih berharap dia
insyaf dengan kesalahannya itu dan dapat memperbaiki diri. Siapa tahu hatinya yang
busuk dan tidak selayaknya mendapatkan pengampunan sekarang dia telah menerima
hukuman yang pantas baginya, sesungguhnya kami semua bersyukur atas tindakan Hu
Jin dan kaucu ini”
Mendengar ucapan si kate itu, Siau Po berpikir dalam hati.
— ini dia yang dinamakan si raja menepuk-nepuk kempolan kuda —
Hong Hu Jin tersenyum.
“Ternyata Oey Liong Su pandai melihat suasana. Nah, Chi Liong su, bagaimana
pikiran Anda?”
Seorang tua berusia kurang lebih lima puluhan tahun dan bertubuh tinggi
memandang bengis kepada delapan pemuda yang mengurung dan mengancamnya.
Dia berkata dengan suara keras.
“Kalian semua mundur Kalau kaucu hendak membunuh aku, kalian kira aku tidak
dapat melakukannya sendiri?”
Delapan pemuda itu bukannya menyurut mundur, mereka malah menjulurkan
pedangnya sehingga menempel di dada orang.
Orang jangkung kurus itu tertawa dingin beberapa kali, Dengan perlahan dia
mengangkat tangannya untuk memegang leher bajunya, kemudian dia berkata dengan
suara lantang.
“Kaucu Hu Jin Dahulu hambamu bersama ke empat Ciang Bun Su Merah, Putih,
Hitam, dan Kuning telah mengangkat tali persaudaraan Kami bersatu hati untuk menjual
jiwa demi Sin Liong Kau, tak disangka sekarang bisa ada kejadian seperti hari ini?
Kalau Hu Jin ingin membinasakan aku si orang she Kho, sama sekali tidak aneh. Yang
aneh ialah kakek tua she In yang memangku jabatan Oey Liong Su ini, dia tamak akan
kehidupan, takut menghadapi kematian. Maka barusan dia telah mengucapkan katakatanya
yang hina dan busuk, Dia telah memfitnah saudaranya sendiri.”
Berkata sampai di situ, tiba-tiba si jangkung kurus merobek bajunya sendiri sehingga
koyak menjadi dua bagian kemudian dilepaskannya dan secepat kilat diayunkannya ke
depan seperti selembar selendang.
Dalam sekejap mata dia sudah berhasil merampas dua batang pedang, Tanpa
berhenti sedikit pun, tangannya yang sudah menggenggam pedang digerakkan secepat
kilat.

Di lain saat ke delapan pemuda yang berdiri di hadapannya dan mengepungnya
sudah roboh di atas tanah bermandikan darah dan mati seketika, Gerakannya sungguh
hebat dan mengagumkan.
Hong Hu Jin terkejut sehingga dia berjingkrak bangun dari kursinya, Dia menepuk
kedua belah tangannya, dua puluhan pemuda berseragam hijau dengan pedangnya
masing-masing segera menghadang di depan Chi Liong Su, sedangkan beberapa puluh
pemuda lainnya langsung mengambil sikap mengepung.
Chi Liong Su atau si Naga Hijau tertawa terbahak-bahak.
“Oh, Hu Jin” serunya nyaring, “Kawanan bocah asuhanmu ini semuanya dogol
sekali. Sungguh kecewa kaucu mengandalkan mereka untuk menghadapi musuh.”
Sungguh luar biasa juga ketenangan kaucu Sin Liong Kau itu. Tadi, ketika ke tujuh
pemudanya membinasakan Pek Liong Su, dia seakan tidak melihatnya, sekarang Chi
Liong Su berbalik membunuhi delapan orang anggotanya yang muda, dia juga diam
saja, dia seperti tidak menghiraukan kejadian apa pun.
Ketika Hong Hu Jin melihat sikap suaminya, dia menjadi jengah sendiri. Akan tetapi,
dia menabahkan hatinya dan tetap tersenyum Kemudian dengan tenang dia duduk
kembali di kursinya.
“Chi Liong Su” katanya, “llmu pedangmu lihay sekali Hari ini aku….”
Belum habis ucapan si nyonya, tiba-tiba terdengar suara yang memusingkan
suasana yang mencekam, karena beratus-ratus pedang di tangan pemuda pemudi itu
terlepas sendiri dan secara aneh sekali berjatuhan di atas tanah.
Ketika orang-orang lainnya masih merasa aneh, para pemuda pemudi itu pun terkulai
di atas tanah menyusul jatuhnya pedang-pedang mereka, Para anggota yang tenaga
dalamnya lebih mahir roboh belakangan dengan tubuh terhuyung-huyung terlebih
dahulu,
Tiba-tiba saja mereka merasa kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang dan
kedua lututnya menjadi lemas seperti orang yang kehabisan tenaga dan tidak sanggup
lagi berdiri
“Ka,., lian kenapa?” teriak si nyonya muda yang langsung berjingkrak bangun roboh
kembali dan melorot dari atas kursinya.
Chi Liong Su tetap berdiri tegak, Kedua pedang yang berhasil direbutnya dari para
pemuda tadi masih digenggamnya erat-erat, Dia mengeluarkan suara tertawa dingin
kemudian berkata.
“Kaucu Kau telah membinasakan saudaramu sendiri secara kejam, Siapa sangka
akan datang hari seperti ini bagimu.”

Kata-katanya ditutup dengan dibenturkannya kedua batang pedang di tangan kanan
kirinya sehingga menimbulkan suara yang nyaring, Setelah itu, dia berjalan ke depan
melewati para pemuda yang terkulai di atas tanah untuk menghampi ketuanya.
“Hm Belum tentu” sahut si ketua yang baru memperdengarkan suaranya kembali
Tangannya segera bergerak, palang kursi yang terdapat bagian belakang tempat
duduknya langsung ditarik dan terputus lalu dicekal erat-erat olehnya.
Chi Liong Su terkejut setengah mati sehingga tanpa sadar kakinya menyurut mundur
satu tindak, diam-diam dia berpikir
— Hebat kaucu ini Ternyata dia dapat melawan pengaruh obat Aku harus mencari
jalan membiarkannya agak lama sehingga dia roboh sendiri,., — Karena itu, untuk
mengulur waktu, dia sengaja berkata, “Kaucu Sin Liong Kau begini besar dan
berpengaruh tetapi sekarang menjadi hancur lebur seperti ini, sebenarnya siapakah
yang menyebabkannya ? Tentunya kaucu sudah mengerti sendiri, bukan?”
Hong kaucu mengeluarkan seruan tertahan dan tubuhnya merosot jatuh bersama
kursinya, Dia terduduk di atas lantai disebabkan kaki kursi itu patah sendiri.
Menyaksikan keadaan itu, senang sekali hati Chi Liong Su, Dia langsung menerjang
ke depan.
Tepat pada saat itulah, Serrrrr, Sreettt Sebuah benda menyambar ke arah dada si
Naga Hijau ini sehingga dia terkejut setengah mati, Dengan gesit dia menggerakkan
pedangnya dan berhasillah dia menyelamatkan diri karena benda itu terpapas kutung
olehnya.
Ternyata benda itu sebuah pegangan kursi yang ditimpukkan si kaucu dengan
tenaganya yang terakhir Karena kayu itu kena dikutungkan ujung yang satunya tetap
meluncur Si Naga Hijau yang baru saja merasa lega karena mengira dirinya telah bebas
dari ancaman, langsung menjerit ngeri karena dadanya telah tertikam kutungan kayu
itu. Enam potong tulang rusuknya patah dan tembus sampai ke paru-parunya.
Saking kaget dan nyerinya, Chi Liong Su menjerit keras-keras, namun baru sampai
setengah jalan, pernafasannya telah tertutup, mulutnya tidak sanggup menimbulkan
suara lagi, dan tubuhnya terhuyung-huyung sesaat kemudian dia pun roboh.
Yang sial justru dua orang pemuda yang sedang roboh tidak berdaya, Kedua batang
pedang yang tadinya digenggam si Naga Hijau jatuh menancap di tubuh mereka
sehingga mereka berkaok-kaok kesakitan namun tidak sanggup bangun atau pun
menyelamatkan diri.
Para pemuda yang roboh di atas lantai itu menyaksikan kegagahan si kaucu,
serentak mereka bersorak kembali menyatakan pujiannya.

Hong kaucu berusaha untuk bangun, tangan kanannya menumpu pada lantai, kaki
kanannya digerakkan juga, tetapi tetap saja dia tidak sanggup melakukannya. Kedua
kakinya terasa lemas sekali. Dia roboh kembali bahkan tubuhnya berguling seperti labu
air.
Menyaksikan hal itu, sadarlah para pemuda itu bahwa kaucunya telah menjadi
korban semaca racun yang digunakan pihak lawan.
Tapi yang roboh bukan hanya para pemuda beserta kaucu dan Hu Jinnya saja,
orang-orang yang tua pun ikut roboh. Dilain detik, setelah sekian lama yang berdiri
tinggal satu orang saja, Dia bertubuh kecil, bahkan termasuk kate, tetapi setelah
semuanya roboh di atas lantai, dia justru menjadi orang yang paling jangkung di antara
yang lainnya. Dia jadi mirip seekor burung bangau di antara burung-burung kecil
lainnya.
Dialah Wi Siau Po, thay-kam kita, Mulanya dia berdiri terpaku sebab dia heran sekali
atas peristiwa yang berlangsung di hadapannya, Baru kemudian dia sadar lalu cepatcepat
menarik tangan tabib Liok.
“Liok Sin Se, bagaimana ini?” tanyanya bingung.
Si tabib sendiri juga heran. Karenanya, dia bukan menjawab malah bertanya.
“Eh, apa kau tidak keracunan?”
“Keracunan?” tanya si bocah, “Aku.,, tidak tahu,.,.”
Ketika masih merasa heran, Siau Po membantu si tabib bangun dan berdiri Tetapi
kemudian menegakkan tubuhnya sedikit, tabib itu langsung terjatuh kembali.
Ketika itu, Chi Liong Su masih belum mati, Dia dapat bergerak dan berusaha bangun,
Tubuhnya terhuyung-huyung, mulutnya mengeluarkan suara gumam yang tidak jelas,
Dia juga terus terbatuk-batuk.
Liok Sin she memperhatikan orang itu.
“Saudara Kho,” tanyanya, “Racun apa yang kau gunakan?”
“Sayang… sayang..” sahut orang she Kho itu, Dia bukannya menjawab tapi
menggumam seorang diri, “Sayang usahaku cuma berhasil sebagian, akhirnya toh aku
gagal juga… sayang,., aku sudah tidak berguna lagi…”
“Apakah kau menggunakan Sip Hiang Joan atau Cian Li Siau Hun?” tanya Liok Sin
Se. “Ataukah itu racun Hoa Hiat Hu Kut Hun?”
Ketiga obat yang ditanyakannya semua merupakan racun. Di waktu menyebut nama
obat yang terakhir, si tabib jadi menggidik sendiri, terang dia merasa takut sekali.

Chi Liong su terluka pada bagian paru-paru kanannya, Dia terus terbatuk-batuk,
sebab itu dia tidak dapat menjawab pertanyaan si tabib. Liok Sin si pun menoleh
kembali kepada tamunya, si bocah tanggung.
“Eh, eh, Wi Kongcu,” tanyanya, “Mengapa kau tidak terkena racun? Oh, ya.”
Mendadak dia berhenti berkata, seakan ada suatu ingatan yang melintas dalam
benaknya. “lya, aku ingat sekarang, Pada ujung pedang pendek itu telah kuolesi obat
Pak Hoa Hok. Wi Kong Cu, coba kau cium ujung pedangmu Bukankah berbau wangi
bunga?”
“Ujung pedang itu ada racunnya, mana sudi aku menciumnya.” kata Siau Po dalam
hati tetapi ia menjawab.
“Sekarang aku mencium wangi bunga yang begitu menyengat.”
Mendengar jawaban itu, Liok Sin Se menjadi sangat senang.
“Benar-benar Pak Hoa Hok” serunya.
“Obat itu kalau dipakai dan ditelan serta bercampur dengan darah akan berbau
harum yang sangat keras sekali, Sebab yang dipakai sari wangi-wangian. Dan yang
menciumnya akan mendapatkan kesegaran dari wanginya itu, Namun kami yang tinggal
di pulau ini memakainya untuk mengobati orang yang terkena ular berbisa, Namun
sebaliknya, jika wangi-wangain itu tercampur dengan arak warangan, akan
menyebabkan orang menjadi lemas selama seharian Saudara Kho memang bagus
sekali dan sebenarnya Pak Hoa Hok itu benda terlarang, Siapa tahu kau telah
menyimpannya secara diam-diam. Dan bukankah sudah beberapa bulan ini kau tidak
minum Hong Hok Tau Yung Cu itu.”
Ci Liong Su duduk merebahkan diri di samping seorang anak muda. Atas pertanyaan
itu ia menggelengkan kepala dan ia sangat menyesali lalu berkata.
“Perhitungan manusia tak dapat melawan nasib dan takdir Akhirnya aku pun terkena
tangan beracun itu.”
“Oh, murid jahanam yang berhati besar.” Dia mendamprat anak muda.
“Bagaimana kau berani-beraninya menyebutku dengan nama suci dari kaucu?”
Chi Liong Su tertawa dingin sambil perlahan ia bangun dari duduknya, lalu
mengambil sebilah pedang, kemudian langkah demi langkah ia mendekati Hong kaucu.
“Apa?” katanya.
“Tak dapatkah kau menyebut nama Hong An Tong? Aku justru akan
membinasakannya mengapa aku tak dapat menyebut nama itu?”

Lewat beberapa detik terdengarlah suara dari dalam yaitu suara si naga sakti.
“Kakak, jika kau berhasil membunuh Hong An Tong, kami semua akan
mengangkatmu menjadi kaucu dari Sin Liong Kau. Mari ramai-ramai kita menyebutkan
Khau kaucu, kami setia dan tidak berhati dua”
Hanya sejenak keadaan menjadi sunyi dan tak lama kemudian berkatalah semua
yang hadir di situ.
“Kami bersedia menerima perintah dari Khau kaucu, Kami semua akan setia dan tak
akan berhati dua” Suara itu tidak sama, ada yang keras ada puIa yang lembek.
Chi Liong Su berjalan beberapa langkah, dia luka parah tetapi masih ingin
membinasakan ketuanya yang jahat itu.
Tiba-tiba Hong Hu Jin tertawa cekikikan.
“Chi Liong su, kau telah kehabisan tenaga, katanya.
“Lihat kakimu sudah mengucurkan darah, begitu pula dadamu, sebentar lagi kau
akan kehabisa darah, Duduk, duduklah Kau hidup pun percuma mendingan kau mati,
Kalau kau sudah mati baru kau merasakan enak sekali,” katanya.
Kau Sou Teng, demikian Ching Liong su memberikan suaranya.
“Oh,., Oh.,.” Beberapa kali ia mengungkapkannya lalu jatuh terduduk dan tak bangkit
lagi, Namun pikirannya masih tetap sehat dan cepat sadar karena jika ia tetap duduk
saja tak mungkin dapat membunuh Hong kaucu di antara mereka yang jumlahnya
ratusan itu, Hong kaucu saja yang tenaganya paling mahir, karena itu pasti hanya dia
yang mampu menghilangkan racun itu, dan dia pula yang akan menolong kawan-kawan
mereka dari racun itu dan mereka semua akan merasa menjadi tangan kanannya kaucu
itu.
“Liok… Liok Sin Se, tolong kau berikan aku pilihan mana yang harus aku jalani
karena aku sudah tak dapat bergerak lagi, coba kau tolong pikirkan sesuatu untuk aku”
Liok Sin Se tidak menjawab dan ia hanya berkata pada Siau Po.
“Wi kaucu itu sangat jahat dan kejam kalau dia dapat menghilangkan racun ular itu
dari dalam tubuhnya ia akan membinasakan kita semua, Kau pun tak akan dapat hidup
lebih lama lagi karena itu kau harus dapat membinasakan kaucu dan istrinya Hu Jin”
Kata-kata itu telah dapat menginsapkan dirinya dan karena itu ia lalu mengambil
pedang dan melangkah dengan ringan sekali ke arah kaucu.
Berkata pula Liok Sin si.

“Wi Kong Cu awas dengan Hu Jin ia pandai membuat orang hilang ingatan, jangan
pandang wajahnya terutama matanya jangan percaya dengan kata-katanya karena itu
dapat membuatmu menjadi celaka, dan pertama kau datang hadiahkan untuknya
sebuah tusukan atau tebasan pedangmu itu”
“Ya,” sahut Siau Po yang maju terus pada Hu Jin.
Sementara itu Hu Jin menatap terus anak it terutama matanya.
“Hai anak kecil Coba kau bilang aku cantik atau tidak,” katanya.
Suara itu terdengar sangat merdu dan orangnya pun sangat lemah lembut serta
gerak-geriknya sangat bagus.
Hati Siau Po merasa berdebar dan ia ingin melihat mata dan wajah Hu Jin yang
cantik itu tetapi ia sadar akan teriakan Ay Cun cia.
“Jangan lihat matanya itu mata celaka yang akan menghancurkanmu”
Siau Po terkejut lalu ia memejamkan matanya
Hong Hu Jin tertawa perlahan dan berkata.
“Anak kecil coba kau buka matamu dan lihat mataku Di mataku ada bayang-bayang
dirimu.”
Siau Po sangat tertarik sekali ingin membuka matanya tetapi ia masih dapat
menahan diri untuk tidak melihat, Anak tanggung itu sudah siap menghunjamkan
pedangnya, namun tiba-tiba.
“Kakak yang baik jangan bunuh dia” itu teriakan yang suaranya sangat ia kenali.
Sambil membatalkan tikamannya itu ia menoleh mencari arah suara itu.
Tampak di sebelah kiri tergeletak seorang nona cantik bergaun merah, Nona itu
ternyata Sio Kuncu Bhok Kiam Peng yaitu seorang putri pangeran Bhok dari In Lam, ia
sangat terkejut sekali mengapa putri itu ada di markas Sin LiongKau dan dalam
keadaan seperti itu pula.
Siau Po cepat-cepat menghampiri nona bangsawan itu dan membantunya untuk
bangun.
“Eh Nona, mengapa kau berada di sini?”
Nona bangsawan itu tidak menjawab pertanyaan Siau Po, malah dengan nada
bingung ia berkata.

“Kau tak dapat membinasakan Hu Jin dan kau pun tak dapat membinasakan
kaucu…”
Siau Po diam dan ia terus menatap nona itu.
“Apakah kau telah masuk ke dalam Sin Liong Kau?” tanyanya heran. “Dan mengapa
kau bisa jadi begini?”
Kiam Peng bersandar pada tubuh Siau Po. Nona itu sangat lemas dan mulutnya
yang mungil itu dekat dengan kuping Siau Po dan ia berkata.
“Aku minta pada kakak sudi kiranya kakak mengabulkan permintaanku Yaitu kakak
jangan membunuh Hu Jin dan juga kaucu, Jika saja Su Ci ada di sini tentu ia pun
memohon padamu untuk tidak membunuhnya.”
“Su Ci” adalah kakak seperguruannya yang perempuan.
Siau Po terdiam, ia sangat senang sekali karena nona bangsawan itu telah lama
tidak berjumpa dan kali ini ia berada dalam dekapannya bahkan mulutnya yang mungil
itu berada di telinganya.
“Bagaimana sekarang? Jika aku tak membunuh kaucu, nanti setelah ia terbebas dari
racun itu ia yang akan membunuh aku,” kata Siau Po yang memeluk nona itu dan
berbicara di telinganya.
“Kau menolong kaucu dan Hu Jin, mana mungkin ia mau membunuhmu.”
Siau Po berpikir, benar juga kata-kata itu namun ia memikirkan tabib Liok, Ay Cun cia
dan Bun Kin Tojin, Bukankah ia akan dibinasakan oleh kaucu, Liok Sin Si dan Ay Cun
cia adalah sahabat barunya yang baik sedangkan Bun Kin Cun adalah imamnya yang
sangat gagah. Tidakkah sangat disayangkan jika mereka itu sampai dibinasakan ole
kaucu dan Hu Jin?
“Yang paling baik, jangan membunuh kaucu dan Hu Jin tetapi juga dia harus dapat
melindung kawan-kawannya bertiga.,.” demikian pikirnya.
“Kami semua orang-orang Hu Jin,” kata Kiam Peng dengan suara berbisik, “Kalau
Chi Liong Su berhasil mempengaruhi yang lainnya dan ia diangkat menjadi kaucu, kita
semua pasti tidak bisa hidup lebih lama lagi.”
“Kau benar, istriku yang baik” kata Siau Po “Aku pasti akan membantumu.” Dia
mencium pipi kiri si nona yang halus.
Kiam Peng menjadi jengah sehingga wajahnya merah padam. Tapi matanya
menyorotkan cahaya yang menandakan bahwa hatinya senang sekali.
Sambil merangkul Kiam Peng, Siau Po berkata kepada kawannya.

“Liok Sin Se, kaucu tidak boleh dibunuh, demikian pula Hu Jin, Bukankah di atas batu
berukir telah dinyatakan bahwa kaucu dan Hu Jin akan kekal berbahagia dan usianya
sama dengan usia tangit? Mana boleh aku mencelakai mereka? Lagi-pula kedua orang
itu sakti sekali, taruh kata ada niat kita mencelakakannya, belum tentu hal itu akan
kesampaian.”
Liok Sin Se bingung sekali.
“Huruf-huruf yang ada di atas batu itu palsu semuanya.” katanya, “Mana boleh hal itu
dianggap benar? Kita juga tidak boleh berpikir yang tidak-tidak, Lekas kau bunuh kedua
orang itu Kalau tidak, kita semuanya bakal celaka, mungkin kita bisa mati tanpa liang
kubur.”
Berulang kali Siau Po menggelengkan kepalanya.
“Liok Sin Se, tidak boleh kau mengucapkan kata-kata yang mendurhakai itu,”
katanya, “Apakah kau mempunyai obat pemunah racun? Cepat kita tolong kaucu dan
Hu Jin”
“Ya, benar sekali, saudara kecil” kata Hong Hu Jin. Sekian lama ia berdiam diri
mendengarkan pembicaraan mereka, “Sungguh kau berpemandangan luas. Jelas
Tuhan telah mengutus kau yang muda belia turun ke dunia untuk membantu dan
menunjang kaucu, Dengan adanya pahlawan muda seperti kau ini, Sin Liong kau pasti
akan mencapai masa kejayaannya.”
Kata-kata itu sepertinya diucapkan dengan sungguh-sungguh, bibirnya juga
menyunggingkan senyuman yang manis sekali, suaranya juga merdu di telinga.
“Hu Jin aku bukannya orang Sin Liong Kau,” kata Siau Po sambil tertawa.
Hong Hu Jin tertawa senang.
“Oh, oh… saudara kecil” katanya. “Kau sampai berpikir sejauh itu. sekarang juga kau
bisa masuk menjadi anggota Sin Liong Kau dan aku akan menjadi si juru antar kaucu”
Nyonya itu menambahkan pada suaminya, “Saudara kecil ini sudah memberikan jasa
besar sekali bagi partai kita, Coba kau pikir, jabatan apa yang pantas kita berika
kepadanya”
“Ciang Bun su dari Pek Liong Bun, Tio Ci Le telah mengkhianati kita dan dihukum
mati.” sahut si kaucu, “Karena itu, aku pikir sebaiknya anak muda ini menggantikan
kedudukannya sebagai Pek Liong su.”
Hong Hu Jin tertawa.
“Bagus” serunya, “Saudara kecil, orang teragung dalam partai adalah kaucu sendiri,
Dibawahnya ada lima naga yang terdiri dari naga Hijau, Merah, Putih, Hitam dan
Kuning. Orang seperti kau yang baru masuk langsung diangkat sebagai anggota

bahkan menjabat sebagai Liong Su, baru pertama kali ini terjadi. Hal ini membuktikan
bahwa kaucu sangat menghargaimu, Saudara, kami tahu kau she Wi, tapi kami ingin
mengetahui nama lengkapmu.”
“Aku bernama Wi Siau Po.” sahut si bocah, “Di dunia kangouw, orang menyebut aku
Siau Pek Liong atau si Naga putih kecil.”
Bocah itu menyebut nama gelaran tersebut karena tiba-tiba dia teringat julukan yang
pernah diberikan oleh Mau Sip Pat, Dia tidak menyangka wanita itu akan menanyakan
namanya.
Hong Hu Jin tampak girang sekali.
“Kau lihat” katanya. “lni merupakan suatu hal yang telah diatur oleh Thian Yang
Maha Kuasa Kalau tidak, tak mungkin terjadi kebetulan seperti ini kaucu bermulut
emas, apa yang pernah diucapkannya tak pernah ditarik kembali”
Liok Sin Se mendengarkan semuanya, Hatinya menjadi bingung dan resah.
“Eh, Wi Kongcu Wi Kongcu” serunya, “Jangan sampai dirimu diakali oleh mereka
sekalipun kau diangkat menjadi Pek Liong Su, tapi sekali saja mereka

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s