“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 52

itu pun akan datang.” hibur sang penolong,
yang dapat menerka keadaan hati Siau Po.

“Yang penting sekarang kau istirahat dengan tenang, ular berbisa di pulau ini ganas
sekali, paling sedikit kau harus beristirahat selama tujuh hari baru racun itu dapat
dikuras habis.”
Kemudian tuan rumah itu menanyakan she dan nama Siau Po serta ia pun
menyebutkan she dan namanya sendiri yaitu Phoa Hiong,
Lewat tiga hari barulah Siau Po dapat turun dari pembaringan dan dapat berjalan
dengan berpegangan pada dinding, Kemudian Bhoa Kiong mengajaknya menengok Pui
Ie yang berada di ruangan bersama seorang wanita yang merawatnya.
Setelah bertemu mereka merasa girang sekali kemudian keduanya saling merangkul
dan bertangis tangisan karena merasa haru bercampur bahagia.
Sejak itu, Siau Po dan Pui Ie selalu bersama dan mereka berbincang-bincang
membicarakan ular yang telah membuat mereka pingsan dan sakit beberapa hari.
Pada hari keenam, Siau Po dan Pui Ie didatangi tuan penolongnya.
“Tabib Liok dari pulau kami telah datang pada kami. Dia sengaja kami undang untuk
melihat keadaan saudara she.”
“Terimakasih, Kakak Phoa” ucap Siau Po.
Tak lama kemudian datang laki-laki yang usianya kurang lebih empat puluh tahunan,
Laki-laki itu mengenakan pakaian pelajar, raut wajahnya ramah dan gerak-geriknya
sangat sopan, Laki-laki setengah baya itu bertanya kepada Siau Po tentang masalah
ular itu, kemudian ia tertawa.
“Kalian menderita karena kalian tidak mengetahui kebiasaan penduduk di sini, di sini
orang tak pernah digigit ular bahkan ular takut mendekati penduduk. Kebiasaan
penduduk di sini selalu membawa bekal belerang,” katanya.
“Oh.” seru Siau Po yang baru tahu, “Pantas Kakak Phoa dan yang lainnya tak takut
ular”
Tabib Liok memeriksa luka-luka Siau Po dan Pui Ie lalu memberikan obat kepada
Siau Po seraya berkata.
“Kau makan tiga butir dan yang tiga untuk kawanmu, satu hari makan satu butir saja.”
Siau Po menerima obat itu sambil mengucapkan terimakasih, kemudian ia
menyerahkan uang dua ratus tail,
“Aku minta kiranya Tuan sudi menerima uang yang tak seberapa ini” ujar Siau Po.
Tabib Liok heran, tetapi ia tertawa dan ber-kata.

“Mana dapat aku memakai uang begini banyak? Buatku sudah cukup kalau Kong Cu
memberiku dua tail perak.”
“Saya harap agar Tuan tidak menolak” kata Siau Po mendesak “Tuan telah
menolong kami, jumlah ini tidaklah berarti, bukan?”
Karena dipaksa, tabib itu pun menerima uang itu dan ia pun mengucapkan
terimakasih.
“Kong Cu, terpaksa aku menerima uangmu ini. Kalau tidak aku dikira kurang hormat
sekarang aku minta Kong Cu beserta kawanmu sudi kiranya datang ke rumahku untuk
minum barang secawan arak, Bagaimana?”
Siau Po bersyukur dan merasa girang sekali maka ia menerima baik undangan tabib
itu. Kembali ia mengucapkan terimakasih.
Benarlah di waktu magrib mereka menyiapkan sebuah tandu untuk menyambut
kedatangan tamu-nya. Mereka memikul Siau Po dan Pui le dengan sebuah tandu dan
dibawa jalan melewati kali kecil di kaki gunung yang airnya jernih dan berbunyi nyaring
sebab alirannya yang deras, Siau Po dan Nona Pui merasa puas melihat pemandangan
di sepanjang kali kecil itu. Akan tetapi mereka merasa takut setelah melihat rerimbunan
pohon. Keduanya teringat ketika diserang ular berbisa.
Setelah perjalanan tujuh atau delapan lie, mereka sampai didepan sebuah rumah
yang tiang dan dindingnya semua terbuat dari bambu, Rumah ini memiliki tiga ruangan
yang rapih dan sangat bersih, Buat wilayah Kang Lam dan Hoo Pak, sukar untuk
melihat bangunan seperti itu.
Tampak laki-Iaki setengah baya keluar dari rumah itu dengan wajah ramah dan
gerak-gerik yang sangat sopan, Laki-Iaki itu Tabib Liok yang telah beberapa saat
menunggu kedatangan tamunya. Tabib itu menyambut dan mengajak mereka masuk.
Rombongan itu disambut juga oleh seorang wanita berusia tiga puluhan, yaitu
nyonya tabib, Dengan ramah sekali nyonya itu mengajak Pui le masuk.
Tabib Liok mengajak tamu-tamunya ke kamar tulisnya, Di dalam kamar itu banyak
buku, kitab-kitabnya, dan lukisan-lukisan yang membuktikan bahwa tuan rumah gemar
karya sastra dan seni.
“Tinggal di pulau ini, kami terasing dengan dunia luar.” kata tuan rumah dengan
ramah dan rendah hati, “Tidak demikian halnya Kong Cu berdua, yang datang dari
dataran luas dan ramai, dan Kong Cu pun dari keluarga besar. Bagaimana pendapat
Kong Cu tentang lukisan-lukisan itu.”
Siau Po merasa sulit menangkap kata-kata tuan rumah ini, Bocah itu tidak terpelajar
dan buta huruf, sebaliknya tuan rumah seorang pintar dan halus gerak-geriknya, Dia

lalu mengamati lukisan-lukisan yang berupa pesona alam pegunungan burung, dan
kura-kura.
“Kura-kura itu bagus,” pujinya sambil tertawa.
Tabib Liok heran lantas ia menunjuk sebuah gambar
“Wi Kong Cu,” tanyanya, “Bagaimana kau lihat hurup-hurup ini.”
Siau Po mengamati hurup-hurup itu, dan ia mendapatkan beberapa hurup yang
bentuknya melengkung mirip sebuah jimat,
“Bagus,” pujinya pula, “Bagus sekali.”
Tabib Liok menunjuk tulisan yang lainnya,
“Bagaimana dengan yang ini?”
“Ah, ini kurang bagus” sahutnya sambil ia menggelengkan kepalanya.
Tuan rumah segera mengambil sikap hormatnya.
“Jikalau dapat, aku minta Kong Cu menunjukkan mana kelemahannya”
Siau Po tidak mengenal huruf mana yang baik dan mana yang buruk. Dia menjawab
seadanya Demikian pula sewaktu ia ditanyakan lukisan yang lainnya.
Sampai di situ, adem hatinya, tuan rumah, Ha tuan rumah itu merasa tenang,
“Kiranya Kong Cu tidak kenal satu hurup pun, dan awam tentang lukisan.”
Tabib itu masih penasaran maka ia menunjuk lukisan lainnya,
“Dan yang ini bagaimana,” tanyanya pula.
Siau Po mengamati hurup-hurup yang mirip cacing itu.
“Oh, aku kenal beberapa hurup ini” sahutnya Dirinya merasa pernah melihat hurup
semacam itu di Gunung Ngo Tay san.
“Hong Kauw Cu dan Sin Liong Kauw selama tahun tidak pernah tahu dan selamanya
memperoleh kebahagiaan bagaikan dewa berilmu sakti. Usianya sama dengan usia
langit.” Suara Siau Po seperti membaca hurup-hurup itu,
Mendengar demikian, tiba-tiba saja tabib Liok menjadi girang sekali.
“Berterimakasihlah pada langit dan bumi. Benar-benar kau mengenal dengan hurup
ini,” ujarnya dengan girang sehingga bergetar suaranya.

Siau Po heran hingga timbul rasa curiganya.
“Kenapa dia begitu girang lantaran aku kenal hurup itu? Apakah dia orang Sin Liong
Kauw? Oh celaka ular berbisa Apakah ini pulau Sin Liong To?”
Karena berpikir demikian tak terasa ke luar kata-kata itu, “Ay Cun cia dimana kau?”
Tabib Liok terkejut sekali sehingga dia menyurut satu langkah ke belakang.
“Oh… kau telah mengetahuinya?” tanyanya heran.
Siau Po menganggukkan kepalanya, walaupun sebenarnya dia tidak tahu apa-apa
mengenai si tosu,
“Bagus kalau kau telah mengetahuinya” kata tabib Liok, Dia segera menghampiri
meja tulisnya lalu mengosok bak tinta serta membeberkan kertasnya, kemudian dia
berkata kembali, “ToIong kau jelaskan setiap huruf yang ada di sini, Yang mana huruf
Hong dan yang mana huruf Kau”
Mendengar permintaannya, hati Siau Po tercekat. Diam-diam dia mengeluh dalam
hati, wajahnya langsung berubah. Tapi dia memaksakan diri untuk berjalan ke meja tulis
dan mengambil pit, Luar biasa caranya memegang pit, karena dia melakukannya seperti
orang yang memegang sumpit makan.
Diam-diam tuan rumah jadi mengeluh dalam hati menyaksikan sikap tamunya, Hal itu
sampai tampak pada perubahan air mukanya, Tapi dia masih berusaha untuk sabar.
“Sekarang terlebih dahulu kau tuliskan dulu she dan namamu” katanya.
Siau Po langsung berjingkrak bangun untuk berdiri tegak, sedangkan pitnya yang
sudah dicelup ke tinta dilemparkannya sehingga tintanya bermuncratan kemana-mana.
Kemudian dia berteriak dengan suara lantang.
“Lohu tidak kenal dengan segala huruf anjing. Kentut anjingpun aku tidak tahu
bagaimana cara menulisnya Apa itu Hong kaucu usianya sama dengan usia langit?
Lohu hanya mengoceh sembarangan untuk mengelabui si tosu, Kalau kau ingin aku
menulis huruf, sebaiknya kau tunggu sam aku menitis kembali Kalau kau hendak
membunuh Lohu, bunuhlah Tidak akan aku mengernyit kening, kalau sampai terjadi,
aku bukanlah seorang laki-laki sejati”
“Benarkah kau tidak mengenal huruf sama kali?”
“Memang tidak” sahut Siau Po tegas, ” tidak tahu huruf telur busuk”
Saking terdesak, tegang rasanya syaraf Siau Po sehingga dia jadi marah-marah tidak
karuan, Dia tidak kenal lagi kata takut meskipun berada di pulau Ular yang sangat
beracun ini.

Tabib Liok terdiam lalu mengambil pitnya dan menulis beberapa huruf.
“Coba baca, huruf apa ini?” tanyanya,
“Gila” seru Siau Po. “Aku bilang aku tidak kenal surat, aku serius Kau kira aku
bohong?”
Tabib Liok menganggukkan kepalanya dengan kesal.
“Bagus” katanya, “Jadi kau berhasil mempermainkan Ay Cun cia Tapi urusan ini
telah disampaikan kepada Hong kaucu Oh, kau Dasar bangsat cilik.”
Mendadak si tabib melompat ke depan untuk mencekik leher Siau Po, seraya berkata
dengan sengit.
“Kau mencelakai kami sehingga kami mendustai kaucu Sama artinya kau membuat
kami mati tanpa tahu di mana kami akan dikuburkan Karena itu, sebaiknya kita mati
bersama-sama saja. Dengan demikian aku tidak perlu mengalami penderitaan dan
siksaan”
Siau Po benar-benar tersiksa, wajahnya pucat kebiru-biruan dan lidahnya menjulur
ke luar Kalau dia dicekik lebih keras sedikit lagi, pasti nyawanya akan melayang. Tetapi
tepat pada saat yang genting itu, tiba-tiba tabib Liok mengendurkan cekikannya dan
mendorong tubuh Siau Po sehingga bocah itu terjerambab jatuh lalu dia
meninggalkannya.
Sesaat kemudian, Siau Po baru sanggup menenangkan dirinya, Setelah benar benar
sadar, dia mencaci maki dengan sembarangan.
“Kura-kura mau mampus ibumu bangsat” Namun sekarang dia harus berpikir keras,
“Aku berada di atas pulau, ke mana aku harus menyingkir? Kala aku kabur ke hutan, hal
itu malah akan mempercepat kematianku Tapi, aku cukup puas kalau bisa mati
bersama-sama Pui Ie.,.” katanya seorang diri.
Kemudian Siau Po pergi ke pintu dan berusaha membukanya, Ternyata pintu itu
terkunci dari lua Karena itu dia pergi ke jendela untuk melongok ke luar, Dia mendapat
kenyataan bahwa jendela itu menghadap ke arah lembah yang curam, Di sana pun
tidak ada jalan untuk meloloskan diri.”
Siau Po memalingkan wajahnya kembali ke dalam kamar dan memperhatikan
beberapa gambar yang tergantung di dinding.
– Apanya yang bagus dari pigura-pigura ini? –pikirnya dalam hati.
Saking panasnya hati Siau Po, dia segera menambil pit tulis kemudian digunakannya
untuk mencoreng gambar-gambar yang tergantung di dinding. Lukisan itu diganti
dengan gambar kura-kura besar dan sejumlah kura-kura kecil, Tentu saja dia melukis

secara sembarangan sehingga banyak lukisan-lukisan yang berharga itu rusak
karenanya.
Setelah merasakan tangannya pegal, Siau Po melemparkan pit itu terus menjatuhkan
diri untuk duduk di atas sebuah kursi. Dia menyenderkan tubuhnya dan melenggutlenggut.
Sesaat kemudian dia sudah tertidur pulas.
Dia tertidur sampai cuaca remang-remang. Tidak ada seorang pun yang datang
mengganggunya, sehingga kemudian dia merasa perutnya keroncongan karena minta
diisi.
– Rupanya kura-kura hijau itu mengharap Lo-hu mati kelaparan di sini — pikirnya
kemudian, Dia menyebut tuan rumahnya sebagai “kura-kura hijau” dan tetap
membahasakan dirinya sebagai Lohu,
Tepat pada saat itulah dia mendengar suara langkah kaki dari luar kamar, disusul
dengan masuknya cahaya terang api dari sela-sela pintu. Bahkan daun pintu pun
segera terbuka dan muncullah tabib Liok dengan sebatang lilin yang menyala di
tangannya, Dia melirik si bocah tanpa mengatakan sesuatu pun. Tidak terlihat apakah
dia sedang marah atau senang.
Mau tidak mau, Siau Po menjadi tidak enak hati dan merasa khawatir.
Tabib Liok meletakkan lilin nya di atas meja, kemudian melirik ke arah dinding yang
penuh dengan lukisan itu. Tiba-tiba saja dia menjadi gusar sekali.
“Kau Kau” teriaknya setengah kalap. Tangannya sudah diangkat tinggi-tinggi
dengan maksud ingin menghajar tamunya, Akan tetapi dia tidak meneruskan niatnya itu,
sebab dapat menguasai dirinya.
“Kau… kau.-.” berhentilah suaranya.
Di lain pihak, Siau Po dapat mengendalikan dirinya, justru melihat si tabib gusar, dia
tertawa lebar.
“Nah, lihat” katanya, “Bagaimana menurut pendapatmu? indah tidak lukisanku itu?”
Tabib Liok menarik nafas panjang, Perlahan lahan dia menurunkan tangannya lalu
menjatuhkan dirinya duduk di atas kursi.
“Bagus.” katanya kemudian, “Lukisanmu bagus sekali.”
Siau Po menjadi heran. Orang itu bukannya menghajar dia lagi tapi malah
memujinya, Dia juga menjadi tidak enak hati menyaksikan tuan rumah itu menjadi kesal
dan sedih.

“Tuan Liok, maaf… maaf.,.” katanya kemudian “Aku telah membuat lukisanmu
menjadi kotor….”
Tabib Liok menggelengkan kepala dan menggoyangkan tangannya.
“Tidak.,, tidak apa…” sahutnya sabar, Dia memegangi kepalanya lalu mendekam di
atas meja.
Sesaat kemudian….
“Kau tentunya sudah lapar bukan?” tanyany lantaran Siau Po diam saja, “Nah, kau
makanlah dulu, nanti kita bicara lagi”
Di ruang tamu sudah disediakan hidangan yang terdiri dari empat macam lauk, Ada
ikan, daging, juga ayam.
Pui Ie muncul dengan ditemani oleh Nyonya Liok, Mereka berempat duduk
mengelilingi meja dan mulai bersantap.
Siau Po merasa heran sekali, Diam-diam dia berpikir dalam hati.
— Mungkinkah lukisanku benar-benar demikian indah sehingga hati tabib Liok
menjadi senang dan menjamu aku? – Akan tetapi sesaat kemudian dia sudah
menyangkal pemikirannya itu, Tidak mungkin Tidak mungkin orang yang lukisannya
dirusak malah menjamunya Bocah itu bermaksud menanyakannya kepada si tabib, tapi
akhirnya dia membatalkannya pula, Dia melihat tampang si tabib yang lesu dan tidak
bersemangat Dia khawatir tabib itu marah.
Tanpa banyak bicara mereka terus bersantap, Setelah itu, Tabib Liok kembali
membawa Siau Po ke kamar tuIisnya, Seorang kacung segera datang untuk
mengantarkan teh hangat.
Tabib Liok mengambil pit yang dilemparkan Siau Po, lalu menulis tiga huruf “Wi Siau
Po” di atas kertas.
“lni namamu,” katanya. “Apakah kau bisa menulisnya?”
“Dia dapat mengenali aku, tapi aku tidak mengenalinya, Mana bisa aku menulis.,.”
“Oh” seru si tabib yang lalu menengok ke luar jendela, agaknya dia berpikir
Kemudian dia mengangkat tempat lilin dan huruf huruf yang berupa anak katak lalu
dibawanya ke depan dan dibacanya Setelah itu dia kembali lagi ke meja untuk
mengambil sehelai kertas dan mulai menuIis, Tuan rumah itu menulis dengan cepat
sekali, setelah itu lalu dibacanya.
“Ketiga huruf itu sama dan aku harus cepat membacanya dan menulis,” katanya.

Setelah selesai tabib Liok mengoreksi tulisannya, kali ini ia merasa gembira sekali.
“Sekarang baru sempurna,” katanya.
Siau Po merasa heran dan si tabib tetap dia saja tak bergerak, Kemudian tabib itu
kembali mengambil kertas dan mulai menulis. Hanya kali ini ia menulis agak pelan
terlihat dengan gelengan-gelengan kepalanya seraya membaca tulisan ini dengan
perlahan.
Siau Po mendengar dengan samar-samar kata yang diucapkan oleh tabib itu yakni
“Sin Liong To yang berarti pulau malaikat atau naga sakti dan ka “Hong Kaucu”, serta
usianya sama dengan usia langit” dan yang terakhir yaitu kata “Bahagianya pertama di
gunung… dan yang ke dua di gunung.. sama sekali tidak menyebutkan nama gunung d
nama tempatnya.
“Ah, aku ingat,” pikir anak muda itu. Dia berbicara sendiri setelah itu ia berbicara
dengan Cun Cia di kuil Pao Ci Si, sewaktu ia ingin loloskan diri, hingga ia berbicara
secara sungguh-sungguh, tetapi siapa sangka ia malah mendapatkan pujian, pikirnya
pula.
Ketika itu aku diajak Ay Cun cia untuk menghadap Hong Kau Ju di Si Liong To. Aku
tidak sudi ikut padanya dan ternyata aku dapat sampai pada pulau ini…. Bagaimana jika
Hong Kaucu gusar? Jangan-jangan aku dan Pui akan dimasukkan ke dalam lobang
ular, dan aku akan dikeroyok oleh ular-ular itu hingga tak tersisa daging dan tulangku..
Mengingat demikian, Siau Po jadi bergidik, ia dapat membayangkan seandainya
dirinya dililit beribu-ribu ular.
Lalu tampak tabib Liok berpaling, wajahnya terlihat sangat gembira.
“Wi Kong cu kau kenal huruf-huruf yang bagaikan katak itu, kau sungguh
menggembirakan dan sepatutnya diberi selamat itu pun bertanda yang sangat baik
bagi Hong kaucu mirip dengan langit dan Tuhan telah menjelmakan engkau sebagai
anak gaib karena engkau dapat membaca tulisan pada batu itu,” katanya sambil
tersenyum.
Siau Po merasa tak enak hati.
“Jangan kau permainkan aku” katanya.
“Sebenarnya aku hanya bicara sembarangan untuk menipu Tautoo cebol, Karena
kau telah mengetahui kepalsuanku, sebaiknya kau secepatnya membunuh diriku.,.”
Tabib Liok tertawa.
“Jangan terlalu merendah Siau Po” katanya pula, Dia lalu memanggil “Kong Ju”
suatu sebutan untuk anak muda hartawan dan berpangkat, “lt kata-kata yang Kong Ju

bacakan di luar kepala sedangkan aku mencatatnya, Kong Ju tunjukkan mana yang
salah? Nah dengarkan aku membacakannya”
Benar-benar Tabib Liok membaca tulisan itu.
“Bagaimana ada yang salah atau tidak,” tanyanya setelah selesai membaca.
“ltu toh tulisan pada batu pada jaman kerajaan Tong. Bagaimana dapat diketahui
yang jelek? Di kemudian hari dapat terjelma seorang Gou Sam Kui yang hidup sebagai
raja muda Peng Si Ong?”
“Siang Te Maha cerdas dan maha pandai, tidak ada yang tidak diketahuinya?” jawab
si tabib dengan menyebut nama Tuhan Allah yang maha Ku (Siang Te).
“Karena bakal ada seorang Hong Kou Cu, pasti akan ada pulau Gou Sam Kui itu.”
Siau Po tertawa sendiri sambil mengangguk dan berkata.
“Ya, itu benar juga” di dalam hatinya.
“Entahlah apa yang sedang kau pikirkan sebenarnya….”
Tabib Liok berpikir dan berkata.
“Tulisan di batu itu tak dapat dibaca asal meskipun hanya satu hurup, Kong Ju
cerdas meskipun demikian pasti Kong Cu telah dibantu oleh Siang Te, maka Kong Cu
dapat membacanya, Aku pikir Kong Cu membacanya, sebab nanti jika Kong Cu
dipanggil Hong Kaucu, Kong Cu dapat membacanya diluar kepala dengan lancar dan
jelas, tanpa ada salah, jika itu benar pasti Kong Cu akan mendapatkan hadiah yang
sangat besar.”
Mendengar demikian Siau Po mengerti dan memahaminya bahwa Ay Cun cia dan
tabib Liok pasti sudah melaporkan pada Hong Kaucu, Tentang janji itulah sangat
berbahaya, Bagaimana kalau rahasianya terbuka? Rupanya mereka jadi khawatir jika
nanti terjadi, maka mereka sengaja merencanakan itu.
Lalu tabib Liok berkata.
“Sekarang mari aku bacakan, baris demi baris dan kamu mendengarkan lalu yang
salah kamu perbaiki, aku tidak ingin ada satu huruf pun yang salah dari tulisanku ini.”
Mau tidak mau Siau Po harus menurut, sebab ia sedang dalam ancaman maut,
Dasar ia cerdas ia dapat membaca, hanya ada beberapa yang salah, tetapi ia membaca
terus, sedangkan si tabib mendengarkan dan memperbaikinya maka akhirnya, setelah
ia membaca lebih dari sepuluh kali akhirnya tidak terdapat kesalahan lagi.

Malam itu Siau Po tidur di rumah tabib Liok, Paginya selesai bersantap ia menghapal
kembali kata-kata itu.
Tabib Liok gembira mendengar Siau Po dapat membacanya, tapi ia belum merasa
puas, Dia menulis lagi dan mengajarkan huruf demi huruf agar ia mengenal mana “wi”
dan “Ceng” dan semuanya.
Di dalam hati Siau Po mengeluh, Dia harus dapat menyatukan huruf yang satu
dengan huruf yang lainnya, Kecuali itu ia tidak tahu apakah tabib Liok menulis
sembarangan saja, maksudnya aga nanti dapat menyenangkan hatinya.
Lama juga Siau Po mengenali kata demi kata. Sampai siang hari ia baru dapat
menghapal enam huruf, sore tujuh huruf dan malamnya enak huruf. Selama itu ia
mengalami kesulitan hingga ia melempar penanya, dan tabib Liok mengambilkannya.
sedangkan Pui Ie diminta duduk di dekatnya untuk menemaninya.
Sambil mengajari, hati tabib Liok selalu khawatir kalau-kalau ia dipanggil Hong
kaucu, Kalau Siau Po belum mengenal huruf-huruf itu ia akan mendapatkan bahaya,
begitu juga dengan keluarganya.
Dalam belajar Siau Po sangat sulit ia ingin secepatnya dapat memahami kata demi
kata, lewat beberapa hari ia baru dapat mengenal seratus huruf dan tiba-tiba dia
mendengar suara orang memanggilnya.
“Liok Sin Se, Kau cu memanggil Wi Kongcu datang menghadap.” itulah suara Ay Cun
cia.
Tabib Liok kaget sekali hingga mukanya mendadak kaget dan tangannya bergetar
hingga pena yang ada di tangannya jatuh ke bajunya,
Habis memanggil, Ay Cun cia lalu masuk.
Siau Po menyambutnya sambil tertawa dan berkata.
“Eh, Ay Cun cia, kenapa baru kali ini aku kau jemput? Kau tahu, aku sudah lama
menantimu menjemputku”
Sementara itu Ay Cun cia menatap wajah Tabib Liok. Dia menerka ada suatu
kesulitan.
“Memang aku mengetahui kau mengacau balau, Kau main gila, tetapi kau ingin
membangun jasa besar. Aku khawatir kau nanti akan mati lebih awal.”
Tabib Liok tertawa dingin dan berkata pula pada si tamu tadi.
“Kau pun sama saja. Aku si orang Si Liok, rumah tanggaku terdiri dari delapan jiwa,
biarlah semuanya ikut denganku ke lain dunia…” katanya.

Ay Cun cia menarik napas lalu ia pun berkata.
“Kalau nasib kita begini kita memang sukar untuk meloloskan diri. Tetapi kau harus
tahu meski tak ada peristiwa ini, tak mungkin kaucu membiarkan kita hidup lebih lama
meski beberapa hari…”
Tabib Liok melirik Siau Po dan berkata.
“Ya kalau nasib apa mau dikata dasar mau mati….”
Mendengar suaranya tabib ini merasa putus asa.
Ay Cun cia menghela nafas pula dan berkata.
“Aku tadinya mengira, karena dia masih kecil. Dia membawa sukanya kaucu, namun
tak disangka…”
“Dia kecil, bahkan masih terlalu kecil.” kata tabib Liok.
Siau Po bingung, dia tidak dapat membaca perkataan itu dan terdengar pula suara
Ay Cun cia.
“Saudara Liok, karena hal ini akan terjadi, apa yang harus kita lakukan. Kita berjanji
susah dan senang kita tanggung bersama, bagi laki-laki sejati Mati ya mati…”
Siau Po menepuk tangan.
“Ay Cun cia benar” katanya. “Kalau seorang laki-laki sejati, apa yang harus ditakuti?
Aku tidak merasa takut. Oleh karena itu kalian tak perlu takut.”
Liok Sin Se tertawa dingin.
“Siau Po tak tahu apa-apa,” katanya dengan suara keras.
“Kau tidak tahu langit itu jauh dan bumi itu tebal. Nanti, setelah kau mengetahui apa
itu tak kau baru berkata itu biasa” ia lalu menoleh pada Ay Cun cia dan berkata pula.
“Ay Cun cia tunggulah sebentar, aku akan memberikan pesan pada istri dan
keluargaku”
Habis berkata ia pun lalu masuk, Ketika le beberapa detik Liok pun ke luar, tampak
ada bel air mata di pipi nya.
Melihat demikian Ay Cun cia jadi tertawa. “Nyata terkaanku sama dengan terkaan
malaikat katanya.”

“Aku telah menduga bahwa suatu waktu akan datang hari yang seperti ini dan untuk
itu aku tak ingin menikah dan tidak ingin mempunyai anak, jadi bagiku tidak ada yang
diberati.”
Tabib Liok gusar hingga ia mengangkat sebelah tangannya dan mengancam. Siau
Po kaget sekali dan ia berseru.
Perlahan-lahan tabib Liok menurunkan tangannya yang sudah diangkat. Tampak
telapak tangannya sudah berubah warna kecoklatan, itu yang membuat Siau Po
menjadi khawatir.
“Apakah pada waktu begini kita masih dapat bergurau?” tanya si tabib.
Ay Cun cia malah tersenyum, “Ya. Aku yang salah.” ujarnya.
“Saudara Liok, mari bagi aku pil Tok Liong Wan buatanmu barang sebutir…”
Tabib Liok mengangguk dan ia pun merogoh kantung untuk mengambil pil yang
diminta itu.
“Asal obat ini sudah masuk ke dalam mulut dan tertelan, orang akan segera mati,
untuk itu jangan kau sembarang dalam menggunakannya” ujarnya.
Ay Cun cia mengambil sebutir.
“Terimakasih” katanya sambil tertawa. “Poan Tau To juga memandang jiwanya
sendiri berharga sekali.”
Siau Po mengamati gerak-gerik orang itu, ia lalu sadar akan gentingnya suasana itu,
Selama mengalami perjalanan dari Siau Lim Pai, tampak nyata kegagahannya, akan
tetapi saat ini ia meminta pil racun untuk dirinya cuma disebabkan ia takut pada Hong
kaucu. Jadi ia pikir orang itu akan membunuh diri bila saatnya telah tiba, baru ia
mengerti keadaan dan ia pun takut.
Selagi mereka berjalan ke luar rumah Siau Po mendengar samar-samar suara tangis
dari dalam rumah itu.
“Apakah Nona Pui tidak ikut bersama mereka?” pertanyaan itu yang didengar dari
dalam rumah, dan ia pun ingat pada Pui Ie.
“Kau masih begini kecil tapi sudah pandai bermain asmara.” kata Ay Cun cia tertawa.
“Di gunung Ngo Tay san ada Song Ji dan di sini adapula Nona Pui.”
Selesai berbicara dia memegang tangan Siau Po dengan tangan kirinya dan lalu
berkata dengan suara keras.

“Mari berangkat” Lantas dia berjalan dengan langkah lebar ke arah timur.
Liok Sin Se mengikutinya dengan wajah suram dan terus mendampingi si kakek
gagah itu.
Siau Po menjadi kagum sekali, Tak disangka si tabib yang berbadan lemah itu
ternyata mempunyai ilmu silat yang cukup sempurna dan itu terbukti dengan larinya
yang sangat cepat sekali.
Siau Po lalu berkata sendiri.
“Liok San Se, Ay Cun cia, kalian memiliki ilmu silat yang sangat sempurna, mengapa
kalian harus takut pada Hong Kau cu?”
Ay Cun cia mengulurkan tangan kanannya untuk membekap mulut Siau Po.
“Di atas pulau Sin Liong to ini kau berani mengeluarkan kata-kata dan kau
mendurhakai ini,” tegurnya bengis, “Apakah kau sudah bosan hidup?”
Siau Po diam saja, dia hanya dapat mengeluarkan kata-katanya dalam hatinya saja
dan merasa dongkol.
“Setan alas Kau berani menyindir aku secara tajam. Apakah dengan demikian kau
dapat disebut seorang enghiong? Kau justru lebih hina dari anjing”
Mereka bertiga menuju sebuah puncak gunung di sebelah timur pulau, puncaknya
tinggi dan ramping. Belum begitu lama mereka berjalan, Siau Po menyaksikan sesuatu
yang menggidikkan hatinya, Di segala tempat terdapat ular berbisa tetapi anehnya
kesemuanya takut pada Ay Cun Cia dan Liok sin she.
Dan setelah berjalan jauh mereka sudah hampir sampai, tampak di depan mereka
sebuah bangunan di atas puncak, Bangunan itu terbuat dari bambu dengan atap yang
besar. Di sana mereka dibawa dan tetap saja Ay Cun cia dan sang tabib itu berlari
seperti semula cepat dan tangkas.
Hanya beberapa waktu saja mereka telah sampai pada puncaknya dan mereka
disambut oleh empat orang anak muda yang tangannya saling berpegangan dan
semuanya menggendong pedang Usia mereka kurang lebih dua puluh tahun.
“Poan Tau To, mau apa bocah cilik ini?”
Dia masih muda, tapi memanggil Siau Po, A Cun dan tabib itu bocah.
Ay Cun cia menurunkan Siau Po yang sewaktu naik ke puncak digendongnya.
“Kaucu memerintahkan untuk memanggil Siau Po, beliau ingin menanyakan sesuatu
kepadanya.”

Dan dari arah lain datang tiga orang wanita berbaju merah. Mereka datang dengan
wajah berseri dan menanyakan kepadanya.
“Eh, Poan Tau To, apakah anak ini yang kau dapatkan dari istrimu yang di luar
pernikahan itu.” Sambil berkata itu ia pun mencubit pipi Siau Po.
“Ah, Nona bergurau saja” sahut Ay Cun cia.
“Anak ini sengaja dipanggil kaucu karena ada masalah penting yang akan ditanyakan
padanya.”
Baik anak muda itu maupun wanitanya memanggil “Poan Tau To” pada Ay Cun cia,
jelas mereka mengira ia bersenda gurau.
Seorang nona mencubit pipi kanan Siau Po sambil berkata.
“Anak ini mempunyai wajah yang tampan dan pasti ini anak dari Poan Tau dengan
wanita itu dan tak usah menyangkalnya.”
Kalau tadi Siau Po diam saja, kali ini sudah tak tahan menerima penghinaan itu dan
ia pun berkata.
“Akulah anak di luar pernikahan yang dilahirkan olehmu, Kau telah berlaku serong
dan main gila dengan Poan Tau To maka itu lahirlah aku.”
Semua muda mudi itu diam saja dan mereka berdiri terpaku. Hebat perkataan bocah
itu, tetapi hanya sebentar dan mereka semuanya tertawa, lain halnya dengan si nona
yang menyapa itu, Wanita itu menjadi marah.
“Cis.” Dia meludah dengan suara dongkol.
“Kau mau mampus yah” Sambil berkata begitu tangannya melayang ke arah Siau
Po.
Siau Po mengelit dari serangan itu.
Dan ketika itu pula, Datanglah segerombolan muda mudi yang mendengar berisik.
Mereka lalu mendekat dan menggoda si nona yang berwajah merah sedang menahan
amarah, Nona itu menyerang dengan tendangan ke arah pinggul Siau Po.
“Oh, ibu Mengapa kamu menyerang anakmu?” seru Siau Po yang berkelit dan terus
menggodanya.
Maka lagi-lagi mereka semua tertawa geli, justru itu mendadak terdengar suara
teriakan dan mereka semua berhenti tertawa lalu berlarian menuju rumah bambu.
“Kaucu cia hendak berkotbah.” kata Ay Cun cia lalu membimbing Siau Po.

“Sebentar lagi kita akan menghadap kaucu cia dan kuminta agar kau jangan
sembarang berbicara”
Siau Po mengangguk, di dalam hatinya merasa kasihan, muda mudi itu tadi sama
sekali tak menghormati pada Ay Cun cia.
Lalu dari keempat penjuru lari berdatangan ke gubuk bambu itu.
Tabib Liok dan Ay Cun cia menuntun Siau Po menuju rumah itu dan memasukinya.
Mulanya mereka berjalan di sebuah lorong panjang kemudian sampai di sebuah
ruangan, Ruangan itu besar sekali dapat memuat seribu orang.
Sudah lama Siau Po tinggal di istana, tapi tak pernah melihat ruangan yang sebesar
itu, Maka mau tak mau dia merasa hormat dan kagum.
Di dalam ruangan itu terdapat muda mudi, Mereka semuanya duduk berkelompok
menurut warna pakaian mereka yaitu, hitam, kuning, hijau, dan putih. Ada satu lagi yaitu
merah, dan itu yang dipakai oleh para wanitanya.
Semua muda-mudi itu memegang golok masing-masing, dan setiap kelompok terdiri
dari seratus orang atau lebih.
Di tengah-tengah Toa Tia terdapat dua buah kursi. Kursi itu juga terbuat dari bambu,
tetapi dihiasi dengan ukiran yang indah dan bagus serta dilapisi dengan alas sulam. Di
kanan dan kirinya berbaris puluhan orang laki-laki dan wanita, Usia mereka yang muda
kira-kira tiga puluhan, dan yang tua kira-kira lima puluh sampai enampuluh tahun,
Hanya mereka tidak memegang senjata.
Jumlah yang hadir kira-kira enam ratus orang, Ruangan itu sunyi bahkan yang batuk
atau berdehem pun jarang.
Siau Po heran dan berkata dalam hatinya.
“Sunggun gila Sungguh bertingkah ini berIebih-lebihan seperti seorang raja saja.”
Tak lama kemudian terdengar suara gendang dipukul dan bersamaan dengan itu
terdengar pula derap suara kaki yang datangnya dari arah ruangan dalam menuju
ruangan tengah.
Pikir Siau Po dalam hati. “Pastilah yang datang itu si kaucu, Hantu sedang keluar”
Kira-kira yang muncul itu sepuluh orang pria yang usianya kurang lebih tiga puluh
tahun dan mengenakan pakaian dengan lima warna, Kemudian mereka menempati
tempat di samping kursi itu.
Lewat beberapa detik kembali terdengar suara gendang, dan kali ini disambut
dengan suara kelenongan yang mungkin jubahnya seratus buah.

Setelah suara kelenongan itu berhenti semua yang ada di ruangan itu bertekuk lutut
sambil berkata.
“Semoga kaucu berbahagia dan panjang usia sama dengan langit”
Siau Po ikut berlutut hanya tidak ikut dengan puji-pujian itu. Bahkan sebaliknya ia
mencuri pandangan hingga ia melihat dari ruang dalam muncul dua orang pria dan
wanita yang terus duduk berdampingan pada tempat yang telah disediakan itu.
Kembali suara kelenongan dan para hadirin bangun dari berlututnya secara
perlahan-lahan.
Si laki-laki berwajah buruk sekali kumis dan janggutnya putih panjang sampai dada
serta pada wajahnya terdapat codet bekas luka, Siau Po pun menerka, mungkin ini
yang disebut kaucu atau raja agama.
Wanita yang mendampingi laki-laki berjanggu panjang itu sangat cantik, genit, penuh
senyum dan usianya kira-kira dua puluh limaan.
Dalam hati Siau Po berkata. “Wanita itu cantik dan lebih cantik dari kakakku.”
Lalu di sebelah kirinya tampak seorang laki-laki membacakan sebuah surat dari
kertas hijau.
“Membacakan dengan hikmat ajaran Hong kau cu karena pengaruhnya sudah
sampai keempat penjuru dunia bunyinya, kemustajaban pil emas sudah tak dapat
ditandingi lagi.”
Serentak para hadirin mengikuti pembacaan itu dengan suara keras.
Siau Po heran sekali, dia terkejut dan bagaikan guntur Siau Po mendengar kata-kata
itu.
Si baju hijau membaca lebih keras lagi.
“Sunggun beruntung kita menemukan guru yang maha pandai, kita diajarkan
bersemedi dengan duduk bersila untuk menyingkirkan kesulitan agar kita dapat hidup
lebih lama.”
Di dalam hati Siau Po tertawa.
“lni mirip pembacaan doa oleh seorang pendeta, apa sih Kaucu.” Kembali bacaan itu
diulangi oleh para hadirin dengan suara lantang.
Selesai membaca itu para hadirin menambahkan lagi. “Ajaran kaucu selalu kami
ingat dalam hati kami dan kami doakan agar kaucu panjang umur.”

Diam-diam Siau Po memperhatikan para muda mudi. Mereka sangat bersungguhsungguh.
Lain halnya dengan si kaucu, dia tampak tenang saja dan dingin, Yang lebih
aneh lagi para wanitanya, mereka mengikuti dengan sungguh-sungguh tetapi sambil
senyum-senyum, Setelah itu suasana kembali tenang.
Dalam saat sunyi itu si wanita terus saja memandang ke barat dan timur, wajahnya
berseri dan berkata.
“Hek Liong Su dari Hek Liong Bun hari ini telah tiba hari perjanjian dan untuk itu
silahkan kau persembahkan kitab-kitabmu”
Suara wanita itu tenang tetapi jelas dan juga merdu, sangat indah didengarnya,
Kemudian ia menjulurkan tangan kirinya untuk menerima kitab yang ia sebutkan itu.
Siau Po mengamati tangan yang putih dan mulus itu hingga tak terasa ia pun berkata
dalam hatinya.
“Wanita itu telah berusia cukup tua tetapi tidak ada cacatnya, jika saja ia menjadi
istriku,,., Coba pergi ke Li Cun Wan untuk jadi pelacur, pastil para hidung belang itu
pada lari ke tempat itu dan pastilah tempat itu akan penuh oleh orang itu dan
kemungkinan pintunya akan jebol karena terlalu banyak orang yang datang.”
Setelah itu si tua maju dua langkah sembari membungkuk pada si nyonya itu dan
melaporkan.
“Harap Hu Jin mengetahui Menurut berita dari kerajaan, sekarang ini sudah diketahui
di mana sebenarnya keempat jilid kitab itu dan sekara sedang dicari dengan sungguhsungguh
buat menuruti ajaran dari kaucu, Untuk itu kami tak menghiraukan jiwa kami,
pasti kitab tersebut akan dicari sampai dapat, guna dihaturkan pada kaucu serta Hu
Jin.”
Orang itu membahas tentang “Hu Jin” nyona yang dimuliakan. Dia berbicara dengan
suara bergetar, itu pertanda bahwa ia sangat takut sekali.
Si Hu Jin sebaliknya tersenyum dan ia berkata.
“Kaucu sudah menambah waktu tiga hari, Liong Su mengapa kau masih panik?
Kenapa kau tidak bekerja dengan sungguh-sungguh? Bukankah itu bertanda kau tidak
setia pada kaucu?”
Hek Liong Su menjura dalam dan katanya, “Hamba telah menerima budi sangat
besar dari kaucu dan Hu Jin, biarkanlah tubuh ini hancur lebur, sebab budi itu sukar
untuk dibalas, Maka itu hamba tak berani untuk tidak bekerja dengan sungguh-sungguh,
sebenarnya hal ini sangat sulit, dari enam orang hamba yang diperintah menyelidiki
istana, dan dua diantaranya Song Beng Gi dan Liu Yan telah mengorbankan jiwanya
dan untuk itu hamba mohon agar Hu Jin dapat memberikan waktu yang cukup lama
lagi.”

Bagian 40
Mendengar disebut nama Liu Yan hati Siau Po bergetar.
Teranglah Liu Yan orang Sin Liong Kau, entah siapa itu Song Beng Gi apakah ia
bukannya si dayang keraton?”
Tengah Siau Po berpikir, si nyonya menggapai tangan kirinya memanggil Siau Po
sambil tertawa.
“Eh, adik kecil kemarilah” panggilnya.
“Aku,” katanya, ia pun heran sekali.
Nyonya itu pun tertawa. “Benar.” sahutnya, “Aku memanggil engkau.”
Cepat-cepat ia menoleh pada tabib Liok dan Ay Cun cia yang ada di sampingnya
dengan bermain mata sebagai isyarat.
“Hu Jin memanggilmu Cepat kau pergi dan beri hormat” kata si tabib.
Di dalam hati Siau Po berkata-kata.
“Aku tak mau menghormatinya, apa yang akan ia lakukan jika ia tidak memberikan
hormat padanya,” tetapi ia tetap saja memberikan hormatnya seraya berkata.
“Semoga kaucu dan Hu Jin berbahagia dan panjang umur sama dengan langit”
Hong Hu Jin pun girang sekali.
“Nak kau masih kecil tetapi kau cerdas sekali, Siapa yang mengajari kau kalau
disamping kaucu kau juga harus menghormatiku?”
Memang biasanya dalam Sin Liong Kau orang cuma memujikan ketua-nya, dan tak
pernah ada orang yang menambahkannya meskipun hanya satu kata, Maka untuk itu
Siau Po berlagak lain dari pada yang lain, dalam hati dia merasa tak puas tetapi dia
tidak menampakkannya.
Dia melihat wanita cantik dan berpengaruh maka sudah selayaknya ia mengalah,
Demikian juga bila si nyonya yang cantik itu bertanya ia pun lalu menjawabnya.
“Kaucu, sudah sepantasnyalah jika usia Hu Jin harus sama dengan usia kaucu, jika
tidak nanti jika Hu Jin dipanggil yang maha kuasa tentunya kaucu merasa kesepian.”

Hu Jin tertawa terpingkal-pingkal begitu juga kaucu, Sambil tertawa ia mengusap
jenggot dan kumisnya yang putih dan panjang itu.
Semua anggota Sin Liong Kau ngeri melihat mereka yang sebagai ketuanya itu,
bagaikan tikus melihat kucing, Mereka sudah ketakutan jikalau mereka salah dalam
berbicara. Tetapi melihat kaucu dan Hu

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s