“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 51

keledai bandel itu,” kata sais kereta, “Setelah sampai di jalan
menuju luar kota tak mau ia memutar dan berbalik arah.”
Siau Po tertawa begitu juga Song Ji. Mereka menganggap binatang itu lucu.
“Ah, sekalipun keledai di kota itu banyak lagaknya,” kata Ie Pat.
Dari gerbong kota, kereta menuju utara, sudah kira-kira satu lie jauhnya, sang
keledai tak mau kembali, Demikian melihat Siau Po menjadi curiga.
“Eh, Kusir” sapanya, “Jangan main gila Ayo kembali”
Kusir itu menyahut, lalu membentak keledainya.

“Kembali Tak Jie. Kembali Ayo kembali”
Tak Jie nama sang keledai, Setelah itu ber-getarlah cambuk itu berulang-ulang kali,
tetapi binatang itu tetap lari ke utara.
“Hai Keledai busuk” teriak kusir mengumpat binatang piaraannya itu. “Aku suruh
kau kembali, kenapa kau lari terus? Tak Jie berhenti Berhenti Berhenti. Oh, binatang
celaka”
Keledai itu kabur terus.
Tiba-tiba muncul dua penunggang kuda di tengah-tengah jalan, Dari sisi jalan
mereka ingin memotong jalan kereta, tubuh mereka besar dan keren-keren.
Siau Po melihat dua penunggang kuda itu.
“Turun tangan” ia berkata pada Song Ji. ia sendiri pun sedang bersiap karena
adanya gelagat buruk, Memang lagak si kusir sudah mengundang kecurigaannya.
Si nona kecil mengerti dan segera bertindak ia menotok pinggang si kusir dan kusir
itu pun jatuh terhuyung-huyung dari atas kereta, Sedang mulutnya mengeluarkan
jeritan. Hampir dia menimpa si penunggang kuda, Si penunggang kuda melompat dari
kudanya untuk naik ke atas kereta.
Tanpa banyak bicara Song Ji menyambut orang itu dengan satu totokan, Orang itu
rupanya lihay, Dia dapat berkelit sambil ingin menangkap tangan si nona.
Si nona berlaku cerdik, dia memutar telapak tangannya dan tangan yang satunya
dipakai menepuk muka orang itu. Si penunggang kuda itu menangkis dengan tangan
kirinya, dan tangan kanan nya menjulur ke bahu si nona.
Sama-sama mereka bertarung di atas kereta Sulit mereka itu bertarung dan tak dapat
lebih leluasa.
Kereta pun kabur terus.
“Bagaimana, eh?” tanya penunggang kuda yang lain, “Apa yang terjadi?”
Pertanyaan itu tidak ada jawabannya. Sebaliknya terdengar suara menggelebuk
disusul denga jatuhnya si teman dari atas kereta, Sebab Song Ji telah menghajar orang
itu dengan satu tonjokan keras.
Orang itu kaget dan gusar, segera ia menyambuk rambut si nona. Song Ji yang
melihat datangnya cambuk itu segera memapak menyambut dengan cekalannya, dan
menyusul dengan lemparannya yang membuat sang penunggang kuda itu tersungkur
dari punggung kudanya.

Saking kaget dan khawatirnya penunggang kuda itu melepaskan cambuknya dan
berteriak-teriak.
Song Ji tidak menghiraukan ia menyambar tali kendali keledai lalu diserahkannya
kepada Ie pat seraya berkata, “Kau kendalikan kereta ini”
“Aku,., aku… tak bisa.” sahut orang itu.
Song Ji ke depan untuk mewakili menjadi kusir sebenarnya ia tak dapat memegang
kendali, namun ia terus mencoba, ia menarik tali kendali seraya berseru, “Tak Ji, Tak
Jie” Seperti si kusir tadi, sedangkan tangan kirinya dikendorkan dan tangan kanannya
dikeraskan.
Keledai itu pun memutar haluan, sama sekali ia tidak bandel.
Di saat itu tampak penunggang kuda itu menghambur mendatangi suara derap
langkah kaki kuda terdengar nyata.
Siau Po kaget sekali, ia menarik keretanya untuk dilarikan ke samping, Para
penunggang kuda itu pun memutar kudanya lalu mengejar terus.
Tidak lama kemudian kereta keledai itu pun telah dapat dikurung oleh para
penunggang kuda yang jumlahnya lebih sepuluh orang.
Siau Po melihat belasan penunggang kuda itu masing-masing memegang senjata.
“Sekarang ini hari terang benderang, Di sini pula termasuk tempat kakinya sri
baginda raja, Apakah benar kalian berani melakukan perampokan?”
Salah seorang penunggang kuda tertawa.
“Kami utusan-utusan yang ditugaskan mengundang tamu-tamu.” katanya, “Kami
bukannya kawanan perampok atau berandal, Wie Kong Cu Tuan kami mengundang
kalian untuk minum arak”
Siau Po tetap curiga dan menatap semua penunggang kuda itu.
“Siapa majikan kalian itu?” tanyanya.
“Jikalau Kong cu sudah bertemu, Kong cu pasti mengenalnya.” sahut orang itu.
“Jikalau majikan kami bukan sahabat Kong cu, mana dapat Kong cu mengundang
minum arak?”
Siau Po tetap saja mencurigainya.
“Jikalau kalian tidak menjawab siapa majikan kalian, undangan ini bukan undangan
yang setulus nya.” katanya.

“Nah Kalian bukalah jalan untuk kami.”
Seorang lainnya tertawa dan berkata. “Mudah untuk membuka jalan”
Terus ia menggerakkan tangannya untuk menyerang keledai hingga binatang itu
roboh dan mati seketika.
Siau Po turun dari kereta, disusul oleh Song Ji. Bahkan Song Ji bergerak cepat lalu
menyerang penunggang kuda itu. Nona itu kecil dan kate sedangkan si penunggang
kuda itu jangkung maka susah diserangnya. Oleh karena itu ia hanya menotok mata
kudanya, Dan serangannya itu dilakukan terus menerus bergantian ke arah kuda yang
lainnya.
Hingga dalam beberapa waktu saja ramailah suara kuda tak hentinya disusul dengan
teriakan si penunggangnya.
Sementara jalan besar itu bukanlah jalan sepi, maka banyak pejalan kaki menonton
pertarungan yang luar biasa itu.
Para penunggang kuda itu berlompatan turun dari kudanya, semuanya
menggunakan senjatanya masing-masing menyerang nona Song. Akan tetapi Si nona
sangat gesit dan lincah, dia menyerang sambil berlompatan ke segala arah.
Menyerang dan berkelebat akhirnya dalam tempo yang pendek delapan lawan sudah
roboh, sedangkan empat penunggang kuda yang lainnya tidak lagi berani bergerak
hanya saling memandang dengan temannya karena terheran-heran.
Tengah keadaan diam itu, kembali terdengar suara roda-roda kereta, ternyata yang
datang sebuah kereta kecil, Kereta itu dilarikan dengan cepat, hingga dalam waktu
singkat kereta itu pun sudah sampai, dan dari dalam kereta itu segera terdengar
teriakan seorang wanita.
“Jangan turun tangan terhadap kawan sendiri”
Siau Po mengenali suara itu, hatinya senang sekali.
“Oh, istriku datang” serunya gembira.
Song Ji beserta ke empat penunggang kuda lainnya segera menoIeh. Nona itu
merasa heran karena sekali tidak menyangka kalau Siau Po sudah beristri. Meskipun di
jaman itu biasa terjadi pernikahan usia dini.
Banyak pemuda-pemudi berusia empat belas atau lima belas tahun yang sudah
menikah. Tapi Song Ji merasa heran karena selama ini dia belum pernah mendengar
Siau Po membicarakannya.

Sementara kereta kecil yang berjalan kencang itu sudah sampai. dari dalamnya
muncul seoran gadis, siapa lagi kalau bukan Pui Ie.
Dengan wajah berseri-seri, Siau Po menghampiri gadis itu. Dia langsung menyambar
tangan gadis dan menggenggamnya erat-erat.
“Oh, kakak yang baik” serunya, “Kakak, aku sudah rindu sekali terhadapmu
sehingga rasanya ingin mati, Ke mana kakak selama ini?”
Pui Ie tersenyum.
“Nanti perlahan-lahan saja kita bicara.,.” katanya dengan nada sabar “Oh ya,
mengapa kalian berkelahi?” Dia heran sekali melihat beberapa orang telah roboh di
atas tanah dengan darah berceceran
Salah seorang di antaranya menjura dan menjawab.
“Nona Pui Ie, kedatangan kami ke mari sebetulnya untuk mengundang Wi kongcu
minum arak. Tapi rupanya sikap kami kurang sopan sehingga menimbulkan
kegusarannya. Untung Nona datang sendiri….”
Pui Ie masih bingung. Dia menoleh kepada Siau Po.
“Kaukah yang telah merobohkan mereka semua? Oh, tidak disangka ilmu silatmu
telah mengalami kemajuan yang pesat sekali”
“Seandainya ada kemajuan juga tidak mungkin sepesat ini,” kata Siau Po terus
terang, “Semua ini dilakukan oleh Nona Song Ji yang telah melindungi diriku, Karena itu
pula, dia terpaksa memamerkan kepandaiannya.”
Siau Po berkata sambit menunjuk kepada kawannya.
Pui Ie menolehkan wajahnya untuk melihat Song Ji. Dia merasa heran sekali, Nona
cilik itu kemungkinan baru berusia tiga atau empat belas tahun tapi aneh kalau dia
sudah sedemikian lihay.
“Adik, kau she apa?” tanyanya.
Song Ji tidak kenal dengan gadis yang menyapa-nya itu. Meskipun ketika berada di
rumah keluarga Cung, mereka pernah ada dalam satu atap tapi mereka tidak sempat
bertemu, Mendengar pertanyaan itu, ia segera melangkah maju dan menjatuhkan diri
berlutut di hadapan Pui Ie.
“Nyonya muda, terimalah hormat Song Ji” katanya.
Siau Po tertawa terbahak-bahak mendengar panggilan Song Ji kepada Pui Ie.
sedangkan wajah Pui le langsung berubah merah padam saking jengahnya, Dia lekasTiraikasih
website http://cerita-silat.co.cc/
lekas menyingkir agar tidak perlu menerima sujud Song Ji sembari mengajukan
pertanyaan kembali.
“Eh, kau memanggil apa kepadaku? Aku… aku bukan….”
Song Ji berdiri.
“Siauya mengatakan bahwa kau adalah nyonya,” sahut si gadis cilik, “Karena aku
melayani Siauya, maka sudah sewajarnya aku memanggil kau nyonya muda.”
Mendengar jawabannya, Pui le langsung membelalakkan matanya kepada Siau Po.
“Orang ini hanya bisa mengoceh yang bukan-bukan” katanya, “Jangan kau percaya
kata-katanya, Sudah berapa lama kau melayaninya? Masa kau belum kenal sifatnya?
Oh ya, aku bernama Pui Ie.”
Song Ji tersenyum, Dia menganggukkan kepalanya.
“Baiklah,” sahutnya, “Untuk sementara aku tidak akan memanggil kau nyonya muda,
tapi nanti…”
Wajah Pui le menjadi merah kembali.
“Lain kali…” katanya, tapi kemudian dia tidak sanggup meneruskan kata-katanya
kembali.
Sebaliknya, Song Ji memperhatikan Siau Po Dia melihat pemuda itu senang sekali,
Wajahnya berseri-seri dan bibirnya terus menyunggingkan senyuman, Tiba-tiba
wajahnya juga berubah merah, Dia ingat apa yang pernah dialaminya ketika berada di
Gunung Ngo Tay san.
Di sana Siau Po juga pernah menyatakan kepada Ay Cun cia bahwa dia adalah
istrinya. Rupanya Siau Po hanya bergurau, Pemuda tanggung itu suka sekali menyebut
nona yang masih muda sebagai istrinya.
“Eh, mana istriku yang satu lagi?” tanya Siau Po kemudian Dia tertawa lebar
Rupanya dia menanyakan si nona cilik, Bhok Kiam Peng.
Song Ji yang mendengarnya tidak merasa heran lagi, Tapi Pui le justru membelalak
lagi kepada Siau Po.
“Sudah lama kita tidak bertemu, kau bukan bicara soal yang serius, malah berkata
yang bukan-bukan. Sudah, mari kita berangkat” katanya.
Siau Po tertawa lagi.

“Kalau sejak semula aku tahu kau yang mengundang, Tentu aku menyesal tidak
mempunyai sayap agar dapat cepat-cepat terbang menemuimu”
Kembali Pui le membelalakkan matanya.
“Dasar kau yang telah melupakan aku” katanya, Tentu kau tidak mengira bahwa aku
akan mengundangmu”
Senang sekali hati Siau Po mendengar nada suara si nona, Rasanya manis sekali di
dalam hati.
“Mana mungkin aku melupakanmu?” katanya, “Kalau kau yang mengundang aku,
jangankan untuk minum arak, biar untuk minum air kencing kuda sekalipun aku tidak
akan menolaknya. Bahkan aku rela meminum racun, Bagiku, kapan saja kau
mengundang, aku pasti akan datang.”
Dengan matanya yang indah, Pui Ie memperhatikan Siau Po.
“Jangan bicara manis-manis” katanya, “Bagai mana kalau aku menyuruh kau pergi
ke ujung langit atau tepi laut dan minum racun di sana?”
Siau Po membalas tatapan gadis itu. Dia melihat Pui Ie bicara setengah serius dan
setengah bercanda, hatinya merasa puas, Nona itu tampak semakin cantik dan semakin
manis, perasaannya sampai tegang menatapnya.
“Jangankan baru ujung langit atau tepi pantai”, sahutnya, “Biar meski mendaki
gunung golok atau terjun ke panci panas aku pasti akan pergi juga.”
“Bagus,” kata nona Pui Ie. “Seorang laki-laki sejati, sekali mengeluarkan katakatanya,
kuda apa pun tak dapat mengejarnya.”
Sengaja nona Pui Ie menggojoki kata-kata yang pernah diucapkan oleh Siau Po.
Siau Po menepuk dada.
“Ya.” katanya, “Satu kali seorang laki-laki telah mengeluarkan kata-katanya, kudapun
tak dapat menangkapnya.”
Pui Ie tertawa maka tertawa pula si bocah.
Lantas si nona memerintahkan seseorang untuk mengambil seekor kuda buat Siau
Po dan seekor lagi buat Song Ji- Song Ji dipersilahkan naik ke atas kereta, sedangkan
ia sendiri menunggang kuda untuk bergandeng bersama Siau Po. Mereka mengambil
arah menentang matahari, dan semua orang yang tadi datang menjemputnya mengikuti
dari belakang.

“Kau lihay,” kata Pui Ie sembari berjalan “Kepandaian apakah yang kau miliki hingga
kau berhasil mendapatkan seorang budak yang demikian lihaynya itu?”
Orang yang datang itu berlagak pilon.
“Kepandaian apa?” katanya balik bertanya, “Tidak sama sekali, Soalnya dia sendiri
yang ingin merawat dan mengikutiku.”
Pui Ie tertawa pula, ia mengerti Siau Po muda usianya tetapi dia sangat cerdas dan
banyak uangnya pula, hingga ia dapat menggunakan fasilitas itu dengan leluasa, Maka
ia pun menerka Song Ji tentu telah dibelinya. Yang lebih aneh lagi Song Ji sangat
lincah.
Kemudian Siau Po balik bertanya tentang Cie Than coan serta Bhok Kiam Peng.
“Sewaktu kalian ditawan orang-orang Sin Liong kauw di dalam rumah hantu itu,
bagaimanakah kalian dapat meloloskan diri? Apakah Sam Nay Nay dari keluarga
Chung yang menolong kalian?”
Pui Ie heran mendengar nama Chung Sam Nay Nay disebutkan Dia pun
menggelengkan kepalanya.
“Siapakah Sam Nay Nay dari keluarga Chung itu?” tanyanya,
“Dialah yang memiliki desa keluarga Chung itu” sahut Siau Po.
“Memiliki desa keluarga Chung?” si nona mengulangi, “Sejak semula hingga akhir,
belum pernalh aku mendengar dan melihatnya. sebenarnya orang yang dicari Sin Liong
Kauw itu ialah kau sendiri. Terhadapmu mereka tak bermaksud jahat. Dulu Chiang Loo
Sam tidak berhasil mencarimu, dia lalu memerdekakan kami semua, Kuncu kecil dan Ci
Loo Yat Ju semua berada di sana dan tak lama lagi kita akan bertemu dengan mereka.”
Berkata begitu si nona menoleh dengan matanya yang jeli lalu menatap Siau Po.
“Yang kau senantiasa ingat dalam hatimu ialah menuju kaucu kecil.”
“Baru kita bertemu beberapa saat, kau sudah menanyakan tujuh atau delapan kali.”
Siau Po tertawa.
“Kapan aku menanya tujuh atau delapan kali tanyanya, “Sungguh aku penasaran,
coba aku bertemu dengannya dan tak melihat engkau, Pasti aku akan menanyakan
engkau, Mungkin sampai tujuh atau delapan puluh kali.”
Pui Ie tersenyum, sekarang sudah tak ada rasa muak atau yang menjemukannya
terhadap bocah yang nakal dan beraneka macam ini.

“Meski kau bermulut sepuluh tak mungkin kau menanyakan sampai tujuh atau
delapan puluh kali.” katanya, “Namun sekarang, meskipun kau bermulut satu
nampaknya kau lebih lihay dari pada bermulut sepuluh”
Siau Po pun tersenyum.
BegituIah sembari berjalan mereka mengobrol satu dengan yang lainnya hingga tak
terasa mereka sudah melalui sepuluh lie lebih.
“Apakah kita akan lekas sampai?” tanya Siau Po, walau bagaimana pun dia sudah
tak sabar lagi.
Mendengar pertanyaan itu, Pui Ie kurang puas.
“Masih jauh sekali,” katanya, Taruhlah kau rindu pada kuncu kecil tak usah kau
menjadi tak sabaran, Kalau aku tahu begini, kubiarkan kuncu kecil memapakmu,
supaya kau tak keras memikirkannya sampai begini.”
Siau Po mengeluarkan lidahnya, dia dapat mengerti kenapa nona ini merasa kurang
puas.
“Baiklah,” katanya, “Sepatah kata pun aku tak akan menanyakannya.”
“Di mulut kau tak menanyakannya namun di hati lain,” kata nona Pui, “Hatimu tentu
tak sabaran, itu membuatmu menjadi dongkol.”
Siau Po mendengar suara nona yang terang dan jelas itu, Maka ia tertawa dan
berkata, “Jikalau aku tidak sabaran, aku bukan suamimu, Aku putramu yang nakal.”
Mau tak mau si nona tertawa.
“Oh anak,.,” katanya dalam hati, dan mendadak kata-katanya berhenti untuk
menyebut kata itu.
“Oh anak yang manis….” ia mengerti meski kata kata itu hanya bersifat bergurau
namun kata-kata itu kurang tepat untuk diucapkan.
Perjalanan ditunda sesudah tengah hari, mereka singgah di sebuah tempat yang
ramai. Kali in Siau Po tidak berani menanyakan apa-apa. ia tidak menanyakan kapan
sampai dan bagaimana Kiam Peng, yang terpenting ia sudah jauh dari kerajaan hingga
hari itu ia tak dapat bertemu dengan raja.
“Tak apalah aku tak dapat langsung bertemu dengan raja.” Demikian pikirnya. “Aku
pun tak memberikan batas waktu pada Siauw Hian cu. Katakanlah aku jalan-jalan di
Ngo Tai San atau aku tertahan oleh Ay Cun cia, buatku sama saja.”

Selanjutnya muda-mudi itu membicarakan hal-hal yang tak penting selama dalam
keraton, meski mereka berdua di dalam kamar, sebab mereka bersama Bhok Kiam
Peng, Pui Ie mengekang diri. Dia harus dapat menjaga harga dirinya, sekarang ini
mereka hanya berdua.
“Mereka berjalan berdampingan dan kuda mereka berjalan berendeng, Demikianlah
mereka dapat bergurau dengan bebas, Rombongan pun sengaja berjalan jauh di depan
mereka.
Siau Po masih muda tetapi pergaulannya membuat mereka mulai mengerti arti
asmara. Sering menyebut Pui Ie sebagai istrinya, itu dilakukan sambil bergurau,
sekarang ia mendapat anggapan lain, ia tertarik lagak nona itu yang tertawa sebentar
cemberut.
Sesudah menjalani perjalanan yang cukup jauh, Pui Ie tampak letih, dua belah
pipinya yang halus menjadi merah dan keringat pun mulai bercucuran itu yang
membuatnya lebih menarik. Ternyata Siau Po terlena memandangi wajah itu.
Nona Pui berpaling pada orang yang mengawasinya dengan mendadak dan ia pun
tertawa.
“Eh, eh, kau kenapa?” tanyanya, “Kenapa kau diam saja?”
Siau Po terperanjat dan kaget.
“Oh, kakak, kakak yang baik,” katanya sambil tersenyum. “Kakak, sungguh kau
manis sekali di-pandangnya. Aku pikir Aku pikir…”
“Kau pikir apa?” tanya si nona.
“Akan aku jawab tetapi kamu jangan marah, ya.,.” sahut Siau Po.
“Asal kau bicara dari hal yang benar pasti aku tak marah,” sahut Pui Ie. “Tetapi
jikalau kamu bicara tak karuan tentu aku tidak senang dan marah. sekarang katakanlah
apa yang sedang kau pikirkan.,.?”
Siau Po menatap dan ia pun menjawab.
“Aku memikirkan,” katanya, “Jika benar kakak menjadi istriku betapa bahagianya
hatiku ini.”
Tiba-tiba saja mata Pui Ie melotot dan wajahnya berubah menjadi bengis. Akan tetapi
ia tak berkata apa pun dan ia menoleh ke lain arah.
Siau Po menjadi kebingungan.
“Oh kakak…” katanya, “Oh kakak yang baik ” apakah kakak ragu padaku?”

“Pasti aku gusar” sahut si nona, “Ya. Aku gusar sekali”
“Tapi aku…. aku bersungguh-sungguh, kakak” kata Siau Po. “Tidak ada kata-kata
yang terlebih sungguh-sungguh dari pada itu.”
“Tapi kau harus ingat” kata si nona. “Selama di dalam keraton aku telah bersumpah
bahwa seumur hidupku, aku akan turut padamu, melayanimu, apakah itu palsu belaka?
sekarang kau menginap begini, apakah itu berarti bahwa kata-katamu telah berubah?”
Mendengar jawaban itu Siau Po girang bukan main, Kalau mereka tidak sedang
menunggang kuda, mungkin mereka sudah berpelukan sambil berciuman. Maka itu
mereka hanya mengulurkan tangan kanannya dan menarik tangan kirinya untuk
berpegang-pegangan dengan erat.
“Mana dapat hatiku berubah?” katanya sambi menatap si nona. “Seribu tahun,
selaksa tahun tak mungkin hatiku dapat berubah.”
“Dengan katamu ini, terang kau sudah berubah,” kata si Nona. “Coba saja kamu pikir,
mana ada manusia berumur seribu atau selaksa tahun? Kecuali kura…”
Mengucap kura itu Pui Ie tidak meneruska menjadi “kura-kura” ia sudah tertawa dan
menoleh ke lain arah, tetapi tangan yang dipegang Siau Po dibiarkannya tetap tidak
ditarik.
Siau Po merasa puas memegang tangannya yang halus dan licin,
“Kau baik sekali padaku kakak,” katanya sambil tertawa.
“Karena itu untuk selamanya, aku tak akan menjadi kura-kura yang sangat
menjijikkan.”
Kura-kura itu mempunyai arti lain, bukan binatang kura-kura. sebenarnya seorang
suami yang istrinya berlaku serong dengan laki-lain dialah kura-kura, Arti kura-kura
sudah sangat umum buat wilayah Kang lam dan Pui Ie mengerti sekali, lantas ia
memperhatikan wajah keren.
“Rupanya bagimu sudah tidak ada kata-kata lainnya lagi Kenapa kata-kata demikian
keluar dari mulut anjingmu?”
Tetapi Siau Po tertawa.
“Kau ingat kata-kata ayam turut ayam dan anjing menikah dengan anjing.” katanya,
“Apakah kau mengharap melihat dari mulut suamimu akan muncul cacing gajah?”
Mau tak mau si nona tertawa, dan tangan kirinya balas memegang tangan kanan
Siau Po.

Demikianlah mereka bergurau di sepanjang jalan, sampai waktu magrib mereka telah
sampai pada suatu tempat yang ramai dan megah dan mereka bermalam di tempat itu.
Keesokan harinya Siau Po menyuruh Ie Pat mencari kereta kuda untuk mereka dan
Pui Ie duduk di dalamnya, hingga mereka dapat bergaul dengan leluasa sekali. Saat itu
Siau Po telah berani merangkul dan menyiumi Pui le dengan tak ada bosan-bosannya.
Pui le tidak menentangnya, ia membiarkan saja, Tetapi lebih dari itu, ia tidak
memberikan balasan, hingga di antara mereka tidak terjadi pertentangan dengan pri
kesopanan Siau Po pun puas sampai d situ sebab dalam soal asmara ia belum tahu
banyak ia hanya menuruti suara hatinya yang polos.
Apa yang diketahui Siau Po agar kereta berjalan terus, jangan berhenti, agar ia dapat
berduaan terus dengan si nona manis mungkin sampai langit atau ke ujung laut.
Pengalaman itu membuat Siau Po lupa untuk menghadap pada raja guna
memberikan laporannya, ia sampai lupa juga pada Si Cap Jie Cing Ken kitab yang
penting itu, juga kaisar tua yang berada di Ngo Tay San. Bahkan ia lupa hari, karena
sudah beberapa hari dan malam ia sudah lewati di sepanjang jalan itu.
Pada suatu sore, akhirnya kereta sampai pada suatu tempat di tepi laut Di sana Pui
le mengajak Siau Po turun dari kereta dan menyewa sebuah perahu sambil
berpegangan tangan.
“Adikku mari kita ke perahu dan berpesiar empat penjuru laut, guna melewatkan harihari
ibaratnya kitalah dewa dewinya, bagaimana menurutmu, bukankah bagus begitu?”
Menutup kata-katanya, nona menarik tangan Siau Po hingga tubuh mereka rapat,
dan ia meletakkan kepalanya di dada Siau Po hingga mereka tampak mesra sekali.
Siau Po merangkul pinggul si nona agar tak jatuh, sedangkan rambut si nona terus
bermain di mukanya, Dia lupa bahwa perjalanan di laut banyak bahayanya, hingga tak
dapat ia mengeluarkan kata-kata menolak.
Di tepi laut itu tengah berlabuh sebuah perahu besar, dan setelah mereka
mengetahui kedatangan perahu Pui le segera mereka mengibarkan sapu tangan hijau,
pertanda ia akan mengirim perahu kecil untuk menyambut kedatangan Pui le dan Siau
Po yang naik perahu kecil itu untuk segera naik ke perahu yang besar.
Setelah Siau Po menyaksikan ruang dalam kapal tersebut, ia kaget sebab kapal itu
dan semua peralatan terbuat dari benda-benda yang berharga, bahkan lantainya
dilengkapi dengan permadani perlengkapan kapal ini lebih mirip sebuah pendopo atau
tempat raja sedikitnya menteri muda.
“Kakak menyambutku secara begini, tidak mungkin ia menyimpan maksud yang tidak
baik atas diriku,” pikir Siau Po.

Dua orang bujang datang menyerahkan sapu tangan hangat untuk mengusap
keringat Dan menyusut dua mangkuk mie guna mengisi perutnya yang dilihatnya begitu
nikmat Di samping itu perahu sudah mulai berlayar.
Berada dalam perahu Siau Po merasa puas, Pui Ie menemani makan dan minum
arak, sambil bermain tebak-tebakan tangan atau berbicara sambil tertawa ria,
sedangkan jika malam telah tiba, Siau Po diantarkan ke tempat tidur, setelah itu Pui Ie
baru kembali ke kamarnya sendiri.
Bagian 39
Malam itu Siau Po dapat tidur nyenyak, sedangkan besok paginya begitu ia
mendusin, nona Pui sudah datang kepadanya dan membantunya menyisir rambut.
Menyaksikan kelakuan si “calon istri”, Siau Po tersenyum, Diam-diam dia berpikir
dalam hati:
— sekarang dia belum tahu bahwa aku buka thay-kam yang sebenarnya, Dia mengira
kelak kami akan menjadi suami istri hanya dalam nama saja. Sampai kapan aku baru
bisa membuka rahasia ini kepadanya? –
Setelah itu, selanjutnya sepasang pemuda mudi itu selalu berduaan di dalam kamar,
Mereka duduk berdampingan, makan bersama, Dari jendela perahu mereka dapat
melihat keindahan mentari pagi, kecantikan alam, Di permukaan laut terlihat pantulan
sang surya yang gemilang bagaikan emas permata.
“Ketika belum lama ini aku masuk ke dalam istana bangsa Boan Ciu untuk
membunuh kaisarnya,” kata Pui Ie sambil menarik nafas panjang “Aku kira aku tidak
mungkin hidup lagi, mungkin aku akan kehilangan nyawaku di sana. Tak disangka
Tuhan yang Maha Kuasa masih melindungi diriku, Di sana aku bertemu denganmu
Dengan demikian sampai sekarang kita masih bisa menikmati keindahan alam ini.
Adikku yang baik, sungguh, mengenai dirimu, sedikit pun aku tidak tahu apa-apa.
Dapatkah kau menjelaskan kepadaku bagaimana kau bisa masuk ke dalam istana dan
segala hal yang menyangkut ilmu silatmu?”
Ditanya demikian, Siau Po tertawa.
“Semua hal itu, justru aku telah berpikir untuk menceritakannya kepada kakak,”
katanya, “Hanya aku khawatir, kau nanti akan terkejut sehingga berjingkrak atau
mungkin jatuh pingsan saking kagetnya .”
Pui Ie menggeser tubuhnya agar rapat dengan pemuda di sisinya.

“Kalau aku mendengar ceritamu, aku pasti akan senang sekali,” sahutnya,
“Sekalipun keteranganmu itu merupakan sesuatu yang tidak aku sukai, asal kau tidak
berbohong, aku tidak perduli….”
“Baik, kakak,” kata Siau Po. “Baiklah kalau itu yang kakak inginkan, Aku ini kelahiran
kota Yang-ciu dan ibuku dari kalangan rumah pelesiran….”
Pui Ie terkejut setengah mati sehingga dia memalingkan wajahnya dan menatap Siau
Po lekat-lekat.
“Apa kerja ibumu di dalam rumah pelesiran itu?” tanyanya penasaran. Suaranya rada
gemetar.
“Apakah ibumu bekerja mencuci pakaian atau memasak nasi di sana? Atau mungkin
tukang sapu atau pelayan yang mengantarkan makanan?”
Hati Siau Po ikut tegang menyaksikan perubahan wajah si gadis. Terang nona itu
memandang hina rumah pelesiran.
— Kalau aku menjelaskan yang sesungguhnya bahwa ibuku adalah seorang pelacur,
dia pasti tidak memandang sebelah mata kepadaku, — pikirnya dalam hati. — Dia tentu
tidak akan memperlakukan aku dengan baik lagi –, maka itu dia langsung tertawa.
“Selama ibuku berada dalam rumah pelesiran usianya baru enam atau tujuh tahun,”
sahutnya menerangkan. “Mana mungkin sekecil itu ibu bisa mencuci pakaian atau
memasak nasi?”
Mendengar jawaban itu, hati Pui Ie agak lega perasaan tegangnya menjadi lenyap.
“Oh, ibumu baru berusia enam atau tujuh tahun ketika itu?”
Dalam hal berdusta, Siau Po memang ahli. Dengan cepat dia dapat memberikan
keterangan yang masuk akal.
“Ketika bangsa Boan Ciu berhasil melintas perbatasan San Hay kwan, tidak sedikit
penduduk kota Yang-ciu yang menjadi korban. Tahukah peristiwa itu?”
Pui Ie menganggukkan kepalanya.
“lya,” sahutnya.
“Kakek luarku seorang pembesar dari dinasti Beng.” Siau Po menjelaskan lebih jauh,
“Ketika bangsa Tatcu itu menyerbu dan menghancurkan kota Yang-ciu, kakek luarku
roboh sebagai korban, Karena saat itu ibuku masih kecil sekali sehingga terlunta-lunta,
Di dalam rumah pelesiran itu ada seorang tamu yang baik hatinya, dia segera mengajak
ibuku pulang dan diambilnya sebagai pelayan. Tatkala tamu itu menanyakan nama
serta she keluarga ibuku, ibuku menyebut nama kakek luarku itu, Ternyata tamu itu

sangat menghormati kakek dan karena itu, dia mengangkat ibuku sebagai anaknya.
Kemudian ibu menikah dengan ayahku, seorang pemuda terkenal dari kota Yang-ciu….”
“Oh, rupanya begitu.,.” kata Pui Ie. “Tadinya aku kaget sekali ketika mendengar kau
mengatakan ibumu dari kalangan rumah pelesiran, ternyata ibumu menjadi pelayan di
sana dan melayani segala wanita hina yang tidak tahu malu itu,.,.”
Tidak puas hati Siau Po mendengar ucapan Pui Ie. Diam-diam dia berpikir dalam
hati.
— Apakah kau kira semua wanita yang berasal dari Bhok onghu pasti istimewa dan
luar biasa? Aku malah merasa wanita yang tidak tahu malu ada di mana saja… –
Karena menyaksikan sikap Pui Ie yang demikian, Siau Po batal menceritakan riwayat
hidupnya yang sebenarnya, Sebaliknya, kumat lagi tabiatnya, dia membual panjang
lebar dengan mengatakan bahwa ia berasal dari keluarga besar Dan dia menceritakan
bahwa rumahnya di Yang-ciu besar sekali serta mewah, Tapi dia menuturkannya
dengan mencontoh rumah pelesiran yang ditempati ibunya sekarang.
Setelah mendengarkan semuanya, Pui Ie bertanya.
“Apakah keterangan ini yang kau katakan akan membuat aku terkejut setengah mati
bahkan bisa berjingkrak atau pingsan?”
“Benar.” sahut Siau Po. “Apakah kau tidak senang mendengarnya?”
“Aku senang,” kata Pui Ie. Tapi nadanya tawar sekali, pertanda bahwa dia
menjawabnya dengan terpaksa.
Mata Siau Po memandang ke luar jendela perahu, Dia memikirkan persoalan lain
untuk dijadikan bahan pembicaraan tetapi tiba-tiba dia melihat sebuah daratan di arah
timur tenggara, Ketika itu perahu sedang melaju dengan pesat sekali.
“Eh, tempat apakah itu?” tanya Pui Ie dengan nada heran, Dia juga sudah melihat
tanah daratan itu.
Tepat pada saat itu, dengan cepat perahu suda melaju mendekati tanah daratan
tersebut, sehingga tampak jelaslah pepohonannya dan pesisiran yan penuh dengan
pasir putih.
“Mari kita mendarat,” ajak si nona, “Sudah berhari-hari kita berdiam di atas perahu,
kepalaku sudah terasa pusing sekali, Bukankah ada baiknya kita turun dan melihat-Iihat
pulau ini?”
“Aku setuju,” sahut Siau Po menganggukkan kepalanya, “Rupanya pulau ini cukup
besar. Entah ada apanya yang menarik hati untuk dipandang di dalamnya…”

Pui Ie memanggil tukang perahu dan menanyakan nama pulau tersebut,
“Nona, inilah pulau Sim Sian To yang terkenal di lautan timur,” sahut orang yang
ditanya, “Katanya di atas pulau itu terdapat semacam buah dewa, siapa yang memakan
buah itu akan panjang umur, dan hidup sepanjang masa, Tapi, siapa yang berjodoh
mendapatkan buah yang langka itu? Entahlah Tapi, tidak ada halangannya apabila
nona dan Wi Kongcu ingin mencoba peruntungannya.”
Pui Ie menganggukkan kepalanya, Setelah tukang perahu itu mengundurkan diri, Dia
berkata kepada Siau Po.
“Aku tidak berharap untuk makan buah dewa yang dapat membuat orang hidup
sepanjang masa, Bagiku, hidup sekarang ini sudah memuaskan Aku menganggapnya
lebih menyenangkan dari pada kehidupan para dewa.”
Senang hati Siau Po mendengar kata-kata si nona,
“Oh, kakak yang baik” katanya, “Kakak, marilah kita tinggal di pulau ini untuk seumur
hidup, Kalau kita dapat menemukan buah mukjijat itu, syukur, tapi kalau tidak, ya sudah
Bagiku sendiri, yang penting aku bisa bersama-sama kakak untuk selama-lamanya.”
“Aku juga begitu,” kata Pui Ie. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Siau Po.
suaranya merdu dan halus.
Keduanya segera naik ke atas sebuah perahu kecil untuk menuju tepian daratan.
Ketika melangkah di pesisir yang berpasir halus itu, mereka sudah mencium bau
segarnya pepohonan yang ada di sana. Semua itu terbawa oleh hembusan angin.
Mereka juga mencium bau air.
“Entah pulau ini ada penghuninya atau tidak…, kata Pui Ie kemudian.
“Manusia lainnya tidak ada,” kata Siau Po sembari tertawa, “Yang pasti ada seorang
dewi yang cantik dan manis tiada tandingannya dan datan membawa budak-budaknya
ke pulau ini.”
Pui Ie tertawa.
“Oh, Adikku yang baik” katanya dalam hati berbunga, “Bagiku asal kelak di
kemudian hari kamu tidak menganggapku sebagai seorang budak, dalam mimpiku juga
aku dapat tersenyum.”
Dengan bergandengan tangan muda mudi itu berjalan memasuki rimba, hingga
hidung mereka sudah diserang harum bunga.
“Bunga ini harum baunya, maka sangatlah mustahil kalau pulau ini pulau dewata,”
kata Siau Po

Pui Ie tersenyum.
Keduanya maju terus, tiba-tiba menyusul berbagai suara di rerumputan yang ada di
depan mereka, mendadak dari dalam rumput itu ke luar tujuh atau delapan ekor ular
yang warnanya kuning mengkilap yang terus menyambar mereka.
Siau Po berseru kaget, tangannya menarik tangan Pui Ie untuk diajaknya mundur
Tetapi di depan mereka telah menghadang tujuh atau delapan ular, yang semuanya
menjulurkan lidahnya.
“Lekas menyingkir,” kata Nona Pui, yang sedang menghunus belati, “Nanti aku yang
mengitari sarangnya.”
Siau Po sebaliknya tidak mau lari sendiri, malah menghunus pisau belatinya.
“Mari” ia mengajak menyingkir dari belasan ular yang ada di depan dan di
belakangnya.
Baru saja beberapa langkah, Siau Po kaget sekali lehernya telah digigit ular, yang
turun dari dahan pohon.
“Celaka” Siau Po berseru.
Pui Ie menyambar tubuh ular itu niatnya untuk ditarik dan di1emparkannya.
“Jangan” Siau Po berseru mencegahnya.
Sudah tentu ular yang ditangan Pui Ie menggigit tangannya, bahkan ular itu tidak
segera melepaskan gigitannya.
Siau Po khawatir bercampur gusar, ia lalu menghunus pisaunya dan mengiris tubuh
ular itu.
Justru di bawah, ular lainnya sudah melilit kaki mereka berdua.
Muda-mudi itu merasa kaget Siau Po berhasil menebas ular di betisnya, dan ia pun
kaget karena betis yang lain digigit ular juga dan seketika itu juga betisnya beku dan tak
dapat digerakkan.
Pui Ie bingung hingga ia melepaskan goloknya untuk terus memeluk Siau Po.
“Hari ini kita akan mati sebagai pasangan suami istri di sini….” keluhnya menangis.
Siau Po tetap tabah meskipun kakinya beku tetapi tangannya masih dapat bekerja,
dia masih dapat menepis setiap ular yang mendekat atau menyambarnya dengan pisau
belati yang cukup tajam itu.

Namun anehnya ular di dalam rimba itu cukup banyak, mati yang satu datangnya
yang lain-Iainnya dan semuanya galak-galak, Ketika Siau Po dan Pui Ie telah sampai
pada batas rimba, mereka suda digigit tujuh sampai delapan ular, Selain nyeri kepala
mereka sudah mulai terasa pusing bahkan mereka sudah mulai merasa was-was,
Sewaktu mereka menatap ke laut, perahu yang mereka tumpangi sudah jauh
meninggalkan mereka dan sia-sia saja mereka berteriak memanggil. Buktinya perahu
mereka semakin menjauh.
Pui Ie menggulung celana Siau Po, ia membungkuk hendak mengisap darah dan
racun yang ada di kaki Siau Po.
“Jangan” teriak Siau Po. “Jangan”
Mendadak Siau Po mendengar langkah kaki hingga suaranya berhenti, dan
menyusul ia mendengar teguran
“Eh, siapa kalian, buat apa kalian datang ke mari, apakah kalian tidak takut mati?”
Siau Po menoleh seraya mengangkat kepalanya, Dengan demikian dia dapat melihat
ketiga orang itu dan ketiganya tidak mereka kenal. Usia mereka sekitar pertengahan.
“Paman tolong” ia lantas memohon “Kami digigit ular”
Salah seorang mengeluarkan obat lalu dibubuhkan pada luka bekas gigitan ular di
kaki Siau Po.
“Kau… kau tolong dahulu, dan obati dia.,.” ujar Siau Po kepada orang itu.
Pui Ie menerima obat yang diberikan oleh orang itu.
“Kakak…” Siau Po memanggil tetapi belum sempat dia meneruskan kata-katanya,
matanya sudah gelap dan tubuhnya roboh ke tanah.
Ketika Siau Po sadar ia merasa mulutnya kering dan dadanya nyeri hingga ia
merintih saking tak kuatnya menahan sakit, ia pun kemudian mendengar orang berkata.
“Bagus dia telah sadar”
Perlahan-lahan Siau Po membuka mata hingga ia melihat orang membawa
semangkuk obat untuk diminumnya, ia lalu meminum obat itu walaupun dengan rasa
yang kurang enak,
“Terima kasih atas pertolonganmu ini, paman” ujarnya.
“Bagaimana dengan kakakku, apakah ia tidak apa-apa…”

“Syukur, ia tertolong” jawab orang yang ditanya. “Kalau kita terlambat sedikit saja
kalian sudah tak dapat tertolong lagi. Kalian bernyali besar kenapa kalian datang
ketempat ini?”
Siau Po merasa berlega hati mendengar kabar bahwa Pui le tidak apa-apa.
“Terimakasih…. terimakasih” katanya berulang-ulang.
Sekarang Siau Po merasa terharu menemuk dirinya terbaring di pembaringan
dengan pakaian yang telah dibuka, dan ia ditutupi selimut, kedua kakinya terasa mati,
tak dapat digerakkan.
Siau Po menghela napas panjang ketika melihat wajah orang yang menolongnya.
Wajah orang ini amatlah buruk, namun hatinya penuh rasa kasih sayang.
“Tukang perahu mengatakan pulau ini memiliki buah kemuzijatan, jika seseorang
memakan buah itu, dia akan tetap muda,” ujar Siau Po.
“Hm” seru si penolong sambil tertawa dingin. “Jika memang benar pulau ini memiliki
buah yang kamu bilang itu, mustahil tukang-tukang perahu itu tidak ikut mengambilnya.”
“Oh Jika demikian tukang-tukang perahu itu bermaksud jahat, pantas mereka
membawa perahu kami pergi, lalu bagaimana dengan kawan-kawan kami yang berada
di perahu besar itu? Jangan-jangan mereka jatuh ke tangan orang-orang itu Paman
bagaimana caranya agar kami dapat menolong kawan-kawan kami?”
Laki-laki yang bermuka jelek itu pun menggelengkan kepala.
“Mereka sudah pergi sejak tiga hari yang lalu, kemana mereka harus kita kejar?”
katanya.
Siau Po menjadi lemas.
“Sudah tiga hari?” tanyanya mengulangi ucapan orang-orang itu, ia menjadi bingung
sendiri.
“Ya, Kau telah pingsan selama tiga hari tiga malam.” orang-orang itu menjelaskan
“Jangan heran jika engkau tidak mengetahui itu”
Siau Po terdiam, lalu ingat Song Ji. ia khawatir benar, sebab meskipun nona itu lihay,
namun kurang pengalaman sedangkan ia berada di tengah laut dan bersendiri saja.
Mana mungkin ia dapat melawan anak buah kapal yang jumlahnya cukup banyak itu?
Makin jauh berfikir Siau Po semakin bingung.
“Sekarang kau bingung dan rasa khawatir

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s