“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 50

tersimpan kitab ke empat?” tanyanya.
Siau Po pura-pura mengawasi batu itu. Dia menolehkan kepala ke kanan ke kiri,
kemudia menggeleng beberapa kali.
“Aku tidak dapat melihat hurufnya dengan tegas…” sahutnya
Ay Cun cia menenteng tubuh bocah itu dan dibawanya maju tiga langkah sehingga
jarak mereka dengan batu itu semakin dekat, kemudian dia menatap Siau Po lekat-lekat
seakan bertanya dengan sinar matanya.
“Aduh… kepalaku gatal sekali” teriak Siau Po tiba-tiba,
“Apa katamu?” tanya tosu itu.

“Kuil ini banyak kutunya, ada kutu yang melompat ke atas kepalaku,” sahut si bocah
yang cerdik. “Dia menggigit kulit kepalaku sehingga aku kegatalan, Ay Cun cia, coba
kau cari dan tangkap kutu itu. Kepalaku gatal sekali sehingga aku tidak dapat melihat
dengan jelas….”
Ay Cun cia membuka kopiah bocah itu, kemudian mengacak-acak rambut Siau Po
dengan jari tangannya yang panjang-panjang. Maksudnya tentu ingin mencari kutu
yang dikatakan Siau Po.
“Bagaimana? Apakah gatainya sudah berkurang?”
“Belum,” sahut Siau Po. “Aih… aih… kutu itu pindah ke sebelah kiri, sedangkan kau
menggaruk sebelah kanan. Ya percuma saja, gatalnya semakin bertambah-tambah….”
Ay Cun cia menggaruk sebelah kiri,
“Eh, eh” seru si bocah sekali lagi, “Eh, dia pindah ke bawah, Di dekat tengkuk,
apakah kau melihatnya?”
Ay Cun memperhatikan Tosu itu bukan orang toloI, Dia langsung menyadari bahwa
Siau Po sedang mempermainkannya. Tapi dia ingin mengetahui bunyi huruf-huruf yang
tertera di atas batuI itu, karena itu, dia menepuk punggung Siau Pol untuk
membebaskan jalan darahnya, Kecuali itu dia pun meletakkan tangan kirinya di atas
bahu bocah itu agar dia tidak melarikan diri.
“Nah Kau garuk saja sendiri” katanya karena tidak ingin dipermainkan terus oleh
Siau Po.
“Aduh Kutu ini jahat sekali Mungkin sudah ada tiga tahun dia tidak pernah
menghisap darah manusia. Tadinya dia pasti pendek gemuk dan sekarang dia menjadi
kurus kering, Sialnya dia menumpahkan kemarahannya kepadaku dan menggigit aku
habis-habisan”
Sembari berkata, Siau Po menyusupkan tangan nya ke balik pakaian dan menggaruk
di sana sini.
Ay Cun cia tahu, secara tidak langsung bocah ini sedang menyindirnya. Tapi dia
membiarkan saja Tosu itu pura-pura tidak tahu. Dia hanya bertanya kembali.
“Di mana letaknya kitab yang ke empat?”
“Kitab yang ke empat terletak di propinsi Hi Lam, di gunung Siong.” sahut Siau Po
yang menghentikan ucapannya sejenak dan berpura-pura memperhatikan ukiran di
punggung kura-kura itu dengan serrius, “Entah gunung apa, di dalam kuil Siau Lim Sie,
di Tat… entah apa ih….”

“Apa?” seru Ay Cun cia terkejut “Di simpan dalam kuil Siau Lim Sie, ruang Tat Mo
Ih?”
Sengaja Siau Po memberikan keterangan yang ngawur itu, Karena dia melihat
kenyataan bahwa Ay Cun cia tidak suka terhadap para hwesio dari Siau Lim Sie dan dia
yakin tosu itu tidak berani menyatroni ruang Tat Mo Ih yang terdapat dalam kuil Siau
Lim Sie.
“Entahlah, pokoknya tulisannya Tat entah apa ih…” sahutnya, “Eh, Ay Cun cia, kalau
kau tahu semua tulisan ini, untuk apa kau menyuruh aku membacanya? Kalau kau buta
huruf, katakan saja terus terang Ah, aku tahu sekarang Tentunya kau sedang menguji
aku, bukan? sayangnya banyak huruf yang aku tidak tahu,…”
Tosu itu diam saja. Rona wajahnya berubah-ubah. Hal ini membuktikan bahwa dia
merasa jengah Beberapa kali dia melirik ke arah para hwesio dari Siau Lim Sie,
tentunya hatinya merasa bimbang.
Siau Po memperhatikan sikap tosu dengan seksama, Dia juga melirik ke sekitarnya,
lalu diam-diam dia menarik ke luar pisau belatinya dari dalam kaos kakinya untuk
disimpan di dalam sakunya, Gerakannya lincah sekali.
“Di mana tersimpan jilid yang ke lima?” tany Ay cun cia kemudian,
Perihal Siau Lim Sie yang merupakan sebuah partai persilatan terbesar yang ada di
dunia kangouw, sebenarnya Siau Po mendengar dari mulut Ha Tay Hu. Selain itu, dia
juga tahu Bu Tong Pai da Kong Tong Pai pun termasuk partai persilatan yang besar dan
ternama, Sebab si nenek sihir pernah berusaha meyakinkan Hay kongkong bahwa
dirinya berasal dari partai Bu Tong pai, sedangkan Hay kongkong sendiri berasal dari
Kong Tong Pai. Itulah sebabnya dia segera memberitahukan bahwa atas punggung
kura-kura itu tertulis bahwa kitab lima ada di partai Bu Tong Pai dan kitab ke enam ada
di Kong Tong Pai.
Mendengar keterangannya, wajah Ay Cun cia yang sudah muram berubah semakin
kelam.
Kemudian dia menanyakan tentang kitab yang ke tujuh dan yang terakhir.
“Kitab yang ke tujuh didapatkan oleh keluar Bhok yang ada di Inlam,” sahut Siau Po,
Dia mmang cerdik, dan tidak kenal takut “Dan kitab yang ke delapan, katanya ada di
dalam istana yang sebut Peng Si onghu yang ada di propinsi In lam juga….”
Siau Po sengaja menyebut Bhok onghu, karena dia sangat benci kepada Pek Han
Hong yang pernah menyakitinya, Dia berharap Ay Cun cia akan datang ke sana dan
menimbulkan kesulitan bagi mereka, Karena itu pula, dia sekalian menyebut Peng Si
onghu,

Mendengar keterangan tentang tempat tersimpannya kitab ke delapan, Ay Cun cia
agak heran.
“Kau mengatakan kitab yang ke delapan ada di dalam istana Peng Si onghu?”
tanyanya menegaskan
“Entahlah, Peng si onghu atau bukan…” sahut Siau Po. “Aku tidak begitu kenal
dengan huruf-hurufnya….”
“Ngaco” bentak Ay Cun cia dengan nada garang, “Batu berukiran itu setidaknya
sudah berusia seribu tahun, sedangkan berapa usia Go Sam Kui sekarang? Di atas
batu berusia seribu tahunan, mana mungkin terukir nama Peng Si Ong?”
Memang warna batu serta kura-kura itu sudah tua dan berlumut pula, Dalam hal ini,
dasar usia Siau Po masih terlalu muda, dia tidak pernah berpikir sejauh itu, Menyebut
nama berbagai partai, memang masih bisa diterima, tapi menyebut namanya Go Sam
Kui, lain sekali
– Ah, celaka celaka –, keluhnya dalam hati, Dia insyaf atas kekeliruannya, Dasar
otaknya cerdik, dia tidak jadi panik, Dengan tenang dia berkata. “Aku sudah
mengatakan bahwa aku tidak kenal semua huruf itu, Kalau sekarang ada Peng Si Ong,
mungkin saja jaman dulu ada Kau Si Ong, Miau Si ong atau Ku Si Ong, Oh, Ay Cun cia,
biar aku katakan terus terang kepadamu, Huruf-huruf miring ke sana-sini, banyak sekali
lekukannya, kai nanya jadi sulit dikenali Kau sendiri mengal mengerti, mengapa kau
tidak membacanya sendii Kalau memang tidak tahu, katakan saja tidak tahu, tidak usah
berpura-pura, Di depan ada para hwesio yang semuanya berpendidikan tinggi, kalau di
depan mereka kau membaca secara serampangi apakah kau tidak takut menjadi bahan
tertawaan.
Kata-kata Kau, Miau dan Ku yang diucapkan Siau Po tadi artinya anjing, kucing dan
kura-kura. Sengaja Siau Po menyebutkan kata-kata itu untuk mempermainkan si tosu.
Ay Cun cia membungkam. Rona wajahnya kembali berubah-ubah. Memang benar
apa yang dikatakan Siau Po. Kali ini dia tidak menjadi marah. Malah ia menganggukkan
kepalanya.
“Memang benar Aku tidak kenal satu huruf-huruf yang seperti cacing itu.” ujarnya
kemudian, “Jadi, kemungkinan itu bukan huruf Pengsi Ong, lalu bagaimana dengan
huruf-huruf selanjutnya?”
– Sungguh berbahaya – keluh Siau Po dalam hatinya, — Untung aku bisa
mengelabuinya. sekarang aku harus menggunakan kata-kata yang biasa dan ucapan
yang manis agar hatinya menjadi tenang, Tadi dia mengatakan tentang pulau Coa yang
sama dengan Sin Liong To, dia juga kenal dengan si gendut Liu Yan, kemungkinan dia
berasal dari Sin Liong kau… —

Dengan membawa pikiran itu, Siau Po segera menelengkan kepalanya dan berpurapura
memperhatikan batu berukiran itu lagi.
“Huruf-huruf yang ada di bawah mirip dengan tulisan Siu (umur) serta huruf Thian
(langit),” katanya kemudian “Aih Thian apa ya?”
Tampaknya Ay Cun cia tertarik sekali dengan keterangannya.
“Coba lihat yang tegas” katanya memerintahkan “Huruf Siu dan Thian, lalu apa
lagi?”
“Tampaknya mirip dengan huruf Ci,,.” kata Siau “o. “Ah itulah huruf Siu I Thian Ci”
Mendengar keterangan itu, tiba-tiba wajah Ay Cun cia jadi berseri-seri, Siu I Thian Ci
artinya berusia panjang seperti langit, Dia sampai menggosok-gosokkan kedua
tangannya.
“Benar Benar” serunya gembira, “Apa tulisan lainnya?”
“Huruf-huruf ini sudah tua dan aneh pula,” kata tiau Po. “Sungguh susah
mengenalinya, Ya, ya… ada luruf Hong, ada tiga huruf Hong kaucu, Ada juga dua huruf
Sin dan Liong, Nah, lihat ini Ada huruf “in Tong Kong Tay (Artinya kepandaian yang
dahsyat)
Tiba-tiba si tosu berjingkrak kegirangan.
“Benarkah Hong kaucu demikian beruntung sehingga usianya sama dengan usia
langit?” katanya, benarkah ukiran ini sudah tua sekali umurnya?”
“Di batu ini terdapat peringatan bagi Kaisar Tong Thay Cong Lie Si Bin. Beliau
memerintahkan Cin Siok Po beserta Tia Kau Kim membuat batu peringatan ini. Di sini
pun tertera jelas nama guru besar atau penasehat agung jaman dinasti itu, yakni Kunsu
Ci Bou Kong yang pandai meramal kejadian yang akan terjadi seribu tahun mendatang
atau pun seribu tahun yang telah lalu.
Beliau telah meramalkan bahwa pada seribu tahun kemudian akan muncul seorang
Hong kaucu, yakni ketua sekti agama dari Sin Liong kau yang kesaktiannya bagai dewa
dan usianya panjang seperti usia langit.”
Siau Po mengetahui nama-nama kaisar seperti menteri-menteri besar di jalan dahulu
kala karena sering menonton pertunjukan wayang orang ketika masih di Yang-ciu. Dia
sendiri tidak menyangka ocehannya itu akan berhasil mengelabui tosu itu sedangkan
tentang kesaktian dan kesetiaan para pengikut Hong Kaucu, Siau Po mendengarnya di
rumah keluarga Cung ketika ciong losam berbicara dengan rekan-rekannya.
Ay Cun cia menggaruk-garuk kepalanya denga mulut melongo.

“Entab di belakang batu itu masih terdapat tulisannya atau tidak?” kata Siau Po
kemudian.
“Ya, mungkin saja,” kata Ay Cun cia yang tertarik sekali Dia segera berjalan ke
belakang bat itu untuk memeriksanya.
Bagian 38
Tepat pada saat itu, Siau Po segera melompat satu tindak untuk mundur ke
belakang,
Tosu itu terkejut setengah mati, Dia mengulurkan tangannya untuk menjambret
bocah itu, Tapi empat orang hwesio dari Siau Lim Sie yang ada di kiri dan kanan segera
maju mengibaskan tangannya yang sedang meluncur itu.
Dengan demikian, dia terpaksa membela dirinya terlebih dahulu,
Siau Po berhasil lolos, dia segera bersembunyi di belakang para hwesio lainnya,
sedangkan empat hwesio lagi segera berhambur ke depan untuk memberikan bantuan
kepada para rekannya. sekarang Ay Cun cia dikepung oleh delapan orang hwesio yang
langsung melancarkan serangan kepadanya.
Kena atau tidak, dia tetap diserang, Dengan demikian ke delapan hwesio itu seperti
bukan menghadapi lawan, mereka seakan sedang mengajak si tosu berlatih silat.
Ay Cun cia mengadakan perlawanan sepasang tangannya digunakan untuk
melindungi diri dari serangan delapan orang lawan, Kadang kala dia membalas
menyerang, Tampaknya dia sanggup mempertahankan diri, Tidak tampak tanda-tanda
dia keteter atau kewalahan Satu kali dia menoleh ke arah batu besar berukiran itu,
tangannya langsung terhajar oleh seorang hwesio, tapi dengan lincah dia bisa
membalasnya.
Hwesio yang satu ini segera mengundurkan diri untuk digantikan oleh seorang kawan
nya.
Lewat beberapa jurus, paha Ay Cun cia kena tendangan. Dia segera membalas
dengan menghantamkan kedua tangannya ke depan berulang-ulang. Dengan demikian
ke delapan hwesio itu menyurut mundur.
“Tahan” teriaknya kemudian
Delapan hwesio itu menyurut mundur lagi dua langkah, kemudian mereka
memperhatikan si tosu lekat-lekat.

“Hari ini aku yang hanya seorang diri tidak dapat melawan kalian yang jumlahnya
jauh lebih banyak,” kata Ay Cun cia terus terang, “kitab ini aku serahkan kepada kalian.”
Dia langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan kitab yang dimaksudkan.
Teng Sim mengerahkan tenaga dalam untuk mempersiapkan diri apabila terjadi halhal
yang tidak diinginkan Kemudian dia baru mengulurkan tangan kanannya untuk
menyambut kitab yang disodorkan.
Di luar dugaan, ternyata Ay Cun ia benar-benar menyerahkan kitab itu tanpa
melakukan tindakan apa-apa, malah tosu itu tersenyum
“Teng Kong taysu” katanya, “Kalian delapan belas Lo han dari Siau Lim Sie
mempunyai nama yang telah menggetarkan kolong langit Kalau kalian delapan belas
orang menghadapi aku seorang diri, apakah kalian tidak merasa merendahkan diri
sendiri?”
Teng Kong yang ditegur segera merangkapkan sepasang tangannya.
“Maaf” katanya sambil membungkuk dalam-dalam “Kalau kami menghadapimu satu
per satu, terus terang kami bukan tandinganmu,” kemudian dia mengulapkan tangan
kirinya, Rekan-rekannya yang lain langsung mengundurkan diri melihat isyarat itu.
Mereka khawatir si tosu akan mencekal Siau Po lagi, Karenanya, enam orang hwesio
segera mengelilinginya dengan maksud melindungi.
Ay Cun cia membalikkan tubuhnya ke arah Siau Po.
“Wi sicu,” katanya dengan nada sabar. “Ada sebuah permintaan yang ingin aku
ajukan Aku harap kau bersedia mengabulkannya.”
“Urusan apa?” tanya Siau Po,
“Aku ingin mengundang kau ke pulau Sin Liong to selama beberapa hari sebagai
tamuku.” Tosu itu menjelaskan permintaannya,
Siau Po terkejut setengah mati. Para hwesio dari Siau Lim Sie pun heran
mendengarnya,
“Apa?” tanya Siau Po. “Kau ingin mengundang aku ke pulau Sin Liong to? Untuk
apa? Tempat itu….”
“Harap kau jangan salah paham, Wi sicu,” kata Ay Cun cia, “Aku sudah menyerahkan
kitabmu kepada Teng Kong taysu, dengan demikian urusan di antara kita telah selesai
Kalau kau bersedia datang ke Sin Liong to, kami para anggota Sin Liong kau, baik yang
tua maupun yang muda akan menerimamu dengan penuh kehormatan. Setelah kau
bertemu dengan Hong kaucu, kami akan meng antarkan kau pulang dengan selamat
tanpa kurang sesuatu apa pun.” Sembari berkata, tosu itu menatap Siau Po lekat-lekat.

Dia sadar bocah itu masih merasa ragu-ragu atau kurang percaya. Cepat-cepat dia
melanjutkan kata-katanya.
“Aku harap Teng Kong taysu bersedia menjadi saksi Kata-kata yang telah diucapkan
Ay Cun ci bukan sekedar bualan belaka.”
Teng Kong tahu tosu itu memang termasuk golongan sesat, tapi dia tidak pernah
melakukan kejahatan besar. Dia bersama sahabatnya yang bertubuh pendek gemuk
memang selalu memegang teguh kata-katanya.
“Apa yang Cun cia katakan, memang dapat di percaya. Hal ini diketahui baik oleh
semua orang, Tapi, Wi sicu ini sedang mempunyai urusan yang penting, Mungkin untuk
sementara belum sempat dia datang ke pulau Sin Liong To.,,.”
“BetuI Aku memang mempunyai urusan yang penting sekali.” tukas Siau Po cepat.
“Lain kali apabila aku mempunyai waktu luang, aku pasti akan datang ke pulau Sin
Liong to untuk menjenguk Ay Cun cia serta Hong kaucu.”
“Kau harus mengatakan Hong kaucu dan Poa tauto sebawahannya,” cela Ay Cun
cia. “Di kolong langit ini, tidak ada seorang pun yang boleh ada di atas Hong kaucu,
jangan sekali-kali menyebut nama orang lain di depan nama beliau, perbuatan itu
benar-benar tidak menghormat dan merupakan hal penting yang harus diingat”
Siau Po tertawa.
“Bagaimana dengan Sri Baginda raja?”
“Tetap Hong kaucu terlebih dahulu baru kaisar.” sahut Ay Cun cia, Nadanya jelas dan
tegas, seakan sebuah pernyataan yang tidak dapat diganggu gugat. “Hal kedua yang
harus diperhatikan adalah, di hadapan Hong kaucu, tidak boleh memanggil seseorang
dengan sebutan Cun Cia atau cin jin. Di dunia ini hanya ada seorang Hong kaucu yang
kedudukannya paling tinggi dan agung.
Siau Po sampai meleletkan lidahnya saking heran dan kagum
“Kalau Hong kaucu benar-benar begitu hebat, aku semakin tidak berani
menemuinya,” katanya.
“Tapi Hong kaucu orangnya penuh welas asih dan penyayang.” kata Ay Cun cia
menjelaskan “Beliau telah melepas budi ke seantero dunia ini, Orang seperti engkau ini,
Wi sicu, berotak cerdas, gesit dan masih muda, Hong kaucu pasti senang melihatmu
Kalau kau mengadakan perjalanan ke Sin Liong To, aku yakin sepulangnya kau akan
mendapatkan banyak keuntungan Hong kaucu pasti akan memberikan hadiah yang
istimewa buatmu. Hal itu tidak perlu dikatakan lagi. Bahkan, ada kemungkinan, bila hati
Hong kaucu sedang gembira, dia akan mengajarkan kau satu dua jurus ilmu yang sakti,
Dengan demikian, kelak kau akan menjadi orang yang paling gagah dan jago di kolong
langit ini, seumur hidupmu kau akan merasakan kesenangan yang tidak terkirakan “

Ay Cun cia bicara dengan tampang serius, perubahan sikapnya ini sungguh
mengejutkan Padahal tadinya dia tidak memandang sebelah mata pada Siau Po,
bahkan ingin menginjak kepalanya sehingga hancur lebur seperti bubur.
Sekarang dia memuji Siau Po gagah dan cerdas. Dia juga selalu memanggil Siau Po
dengan sebutan sicu, malah dia takut suaranya kurang jelas sehingga ketika berbicara
dia membungkukkan tubuhnya sedikit agar dekat dengan telinga si bocah.
Sementara itu, Siau Po teringat akan pesan To Hong Eng. Terutama ketika berada di
rumah keluarga Cung, dia telah melihat gerak gerik Ciong losam dan rekan-rekannya,
Dia juga teringat akan ibu suri, Liu Yan serta laki-Iaki yang menyamar sebagai dayang,
Karena itu, kesannya terhadap Sin Liong kau memang sudah kurang baik.
Tapi dia harus mengakui bahwa di antara para anggota Sin Liong kau yang pernah
dia temui, Ay Cun cia inilah terhitung yang paling jujur dan poIos. Dia juga sportif, hanya
sayang dia juga agak sembrono dan wataknya keras kepala.
– Sekarang dia mengundang aku ke Sin Liong To, tampaknya dia mengandung
maksud kurang baik….- pikirnya dalam hati, – Kata-katanya sekarang memang manis
dan sungkan, mungkin saja karena dia jeri menghadapi ke delapan belas Lo han dari
Siau Lim Sie ini, Tapi kalau para hwesio ini sudah pergi, kemungkinan dia akan
memperlakukan aku dengan sewenang-wenang Kalau hal itu sampai terjadi, siapa
yang dapat mengendalikannya lagi? Siapa yang dapat menolong aku? –Karena berpikir
demikian, dia segera menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak mau pergi,” katanya menolak undangan si tosu.
Wajah Ay Cun cia langsung berubah kelam dan mengandung penyesalan. Perlahanlahan
tosu itu menegakkan tubuhnya dan matanya menatap ke arah delapan hwesio
dari Siau Lim Sie dan berkata dengan suara lirih.
“Sicu kecil,” katanya, “Bagaimana menurut pandanganmu bila ilmu silatku
dibandingkan dengan ke delapan belas orang taysu ini?”
“Masing-masing ada kelebihannya.” sahut Siau Po.
“Masing-masing ada kelebihannya?” tanyanya mengulangi dengan nada gusar dan
mata mendelik, “Bagaimana kalau mereka disuruh bertarung denganku satu per satu?”
“Kalau satu lawan satu, mungkin kau yang menang,” sahut Siau Po. “Tapi kalau satu
lawan delapan belas, sudah pasti kau yang kalah, itulah sebabnya mengapa aku
mengatakan kalian mempunyai kelebihan masing-masing. Kalau satu lawan satu masih
kau yang kalah juga, apalagi yang harus dibandingkan?”
Meskipun ucapan Siau Po selalu berputar balik ke sana ke mari, tapi Ay Cun cia tidak
menjadi marah, dia malah tertawa.

“Pernahkah kau melihat orang yang ilmunya setinggi ilmuku?” tanyanya pada Siau
Po.
“Tentu saja pernah,” sahut Siau Po cepat dan lancar “llmu kepandaianmu juga biasabiasa
saja: Orang yang kepandaiannya lebih hebat sepuluh kali lipat darimu saja, aku
sudah cukup banyak melihatnya.”
Siau Po masih saja memutar lidahnya yang tajam. Bocah itu memang pandai melihat
gelagat sembari berbicara, dia memperhatikan orang tosi itu lekat-lekat, Tidak tampak
perasaan takut sedikit pun pada dirinya,
Tiba-tiba Ay Cun cian menjadi marah kembali sekonyong-konyong dia menjulurkan
tangannya ke depan untuk membekuk Siau Po.
Begitu tosu itu melompat ke depan, empat orang hwesio segera mengeluarkan suara
pujian kemudian maju menghadang sehingga gagallah serangan si tosu.
“Ayo, katakan” teriak Ay Cun cia. “Siapa yang lebih lihay sepuluh kali lipat dari aku?”
Sebenarnya Siau Po hanya sembarangan mengoceh saja, Ditanya sedemikian rupa,
dia jadi terdiam. Memang dia belum dapat membayangkan siapa orangnya yang lebih
jago dari tosu ini. Kemungkinan gurunya sendiri, Tan Kin Lam, belum tentu sanggup
mengalahkan Ay Cun cia.
Melihat bocah itu terdiam, puaslah hati si tosu, “Lihat” katanya, “Kau tidak sanggup
menyebutkan siapa orangnya, bukan? Kau memang sembarangan mengoceh, bukan?”
Siau Po cerdas sekali, Dalam keadaan terdesak, memang dia sempat bingung, Tapi
otaknya langsung berputar. Sesaat kemudian, dia segera berkata.
“Siapa bilang aku tidak bisa menyebutkannya? Tadinya aku hanya berpikir tidak ingin
memberitahukannya kepadamu Aku khawatir kau akan terkejut setengah mati. Baiklah,
sekarang aku akan memberitahukannya kepadamu, Orang yang jauh lebih gagah dan
hebat dari padamu yakni Tan Kin Lam, Cong tocu dari Tian Te hwe. Aku pernah
menyaksikan dia bertarung melawan empat orang tosu di kota Pe King, Dengan kedua
tangannya dia menyambar ke empat tosu itu. Bayangkan saja, setiap tosu beratnya
mungkin paling tidak dua atau tiga ratus kati. Tapi begitu menghentakkan kakinya, dia
sanggup melompati tembok kota dengan menenteng empat orang tosu itu.
Dibandingkan dengan Cong tocu itu kau pasti masih kalah jauh.”
“Huh” Ay Cun cia mendengus dingin, Dia memang pernah mendengar nama besar
Tan Kin Lam, tapi dia ragu kalau orang itu demikian lihay sehingga sanggup menenteng
empat orang tosu sekaligus sedangkan tangannya hanya sepasang.
Apalagi sambil melompati tembok kota. Karena itu dia tertawa mengejek. “Kau hanya
membual”

Orang kedua yang ilmu silatnya tinggi sekali ialah seorang nyonya muda yang
disebut Sio Kian (si kaki kecil) dari Kang-lam. Sembari berbicara Siao Po melirik ke arah
Song Ji. Gadis itu menggoyang-goyangkan tangannya agar dia jangan melanjutkan
kata-katanya.
Tapi Siau Po tidak memperdulikannya. “Nyonya muda itu pernah bertarung melawan
tiga puluh enam orang tosu dari Bu tong pay. Dia dikurung oleh tiga puluh enam orang
tosu itu. Entah apa nama barisan mereka itu…”
“Para tosu itu bertangan kosong atau mengunakan senjata?” tanya Ay Cun cia.
“Pedang.” sahut Siau Po.
“Barisan itu dinamakan Cin Bu Kiam Tin, ilmu barisan rahasia dengan pedang Cin
Bu.” kata Ay Cun-cia menjelaskan.
“Oh, Poan tauto, ternyata pengetahuanmu luas sekali dan kaupun sudah banyak
pengalaman, sehingga kau tahu tentang barisan Cin Bu Kiam. Ketiga puluh enam tosu
itu mengurung si nyonya muda dengan masing-masing mencekal sebatang pedang.
Sedangkan di pihak si nyonya, selain bertangan kosong, dia juga menggendong
seorang anak…”
Ay Cun ia tertegun mendengar keterangan Si Po.
“Apa ?” tanyanya seakan kurang percaya dengan pendengarannya sendiri. “Nyonya
muda itu menggendong seorang anak. Dan dia melakukannya sembari bertarung
dengan para tosu dari Bu tong pay?”
“Benar.” sahut Siao Po. “Memang apanya yang aneh? Nyonya muda itu malah
menggendong sepasang anak kembar. Kedua-duanya lucu dan montok-montok.”
Sengaja Siao Po membual dengan mengangkat tinggi si Nyonya muda. Bahkan anak
yang tadinya seorang sekarang malah menjadi sepasang anak kembar.
Kemudian dia menambahkan lagi. “Sembari berkelahi, nyonya muda itu juga harus
membujuk kedua anak kembarnya agar jangan menangis. Dia berkata: “Anak-anak
manis, jangan menangis. Kalian lihat ibumu bermain sulap” selesai berkata, nyonya
muda itu langsung menerjang ke arah para tosu itu. Gerakannya lincah sekali,
tangannya menjulur ke sana kemari dengan cepat. Dalam sekejap mata dia berhasil
merampas pedang para tosu itu lalu satu persatu dia menotok mereka sehingga tidak
berdaya. Si Nyonya muda membiarkan anaknya membetot-betot janggut dan kumis
para tosu itu sehingga mereka menjadi gusar. Sedangkan kedua anaknya justru tertawa
kegirangan.”
Bu Tong Pai sama terkenalnya dengan Siau Lim Pai, mungkin hanya kalah usia saja,
ilmu silatnya lihay, karena itu, sengaja Siau Po memilih partai itu sebagai bahan
ceritanya sebab dia mendapat kenyataan bahwa Ay Cun cia tidak mungkin sanggup
memecahkan- barisan Lo han tin.

Ay Cun cia berdiam diri, tampaknya dia sedang berpikir keras, Kemudian dia menarik
nafas dalam-dalam.
“Aih Di kolong langit ini ternyata ada ilmu silat yang demikian lihay” katanya kagum
dan takluk “Kepandaian nyonya muda itu pasti lebih tinggi daripada Tan Kim Lam yang
hanya sanggup menenteng empat orang lawan sambil melompati tembok kota”
Siau Po merasa puas melihat si tosu percaya dengan ocehannya.
“Biar aku katakan terus terang kepadamu, nyonya muda itu adalah ibu angkatku,”
katanya kemudian.
Sementara itu, hati Song Ji menjadi lega mendengar cerita Siau Po. Tadinya dia
mengira Siau Po akan mengatakan tentang nyonya ketiga dari keluarga Cung yang
pernah menjadi majikannya.
Tapi setelah mendengar kelanjutan cerita Siau Po tentang si nyonya yang
mempunyai anak kembar bahkan mengakui si nyonya sebagai ibu angkatnya, dia
langsung sadar bahwa Siau Po hanya membual untuk mempermainkan tosu tersebut.
Mana mungkin ada nyonya selihay itu di dunia ini?
Ay Cun cia justru percaya penuh dengan ocehan Siau Po. Hatinya menjadi kagum
juga tercekat.
“Apa? Nyonya muda itu ibu angkatmu?” tanyanya, “Apakah nyonya muda itu dari
keluarga she? Di kolong langit ini ternyata ada seorang nyonya muda yang demikian
lihay tapi aku kok belum pernah mendengarnya?”
Siau Po tertawa.
“Di dalam dunia persilatan orang yang kepandaiannya tinggi, jumlahnya banyak
sekali,” katanya, “Umpama saja istriku ini….” Siau Po menunjuk ke arah Song Ji. “Kau
lihat tubuhnya kecil langsing, tampaknya lemah tetapi tidak disangka dia begitu lihay,
bukan?”
Wajah Song Ji jadi merah padam.
“Bukan.” katanya jengah. “Wi siauya, jangan kau bicara yang bukan-bukan?”
Ay Cun cia menyadari bahwa ilmu silat gadis itu memang hebat sekali Apabila dia
sendiri kurang lihay, mungkin sudah sejak semula dia roboh di tangan Song Ji. Karena
kata-kata Siau Po memang ada benarnya, ia pun menganggukkan kepalanya.
“Kau benar,” katanya, “Karena Sicu tidak bersedia memenuhi undangan ke pulau Sin
Liong To, ya sudahlah Tidak apa-apa. Tuan-tuan sekalian, di sini Poan tauto
mengucapkan selamat jalan.”

“Taysu, silahkan taysulah yang berangkat terlebih dahulu” kata Siau Po cepat.
Sikap Siau Po sungkan dan penuh hormat padahal dia memang ingin tosu itu
berangkat terlebih dahulu atau lekas-lekas mengangkat kaki dari tempat itu. Dengan
demikian, kalau si tosu menuju ke timur, dia akan mengambil arah sebelah barat Dan
kalau dia menuju ke utara, Siau Po akan mengambil arah selatan Dengan kata lain, dia
tidak ingin bertemu dengan tosu itu lagi
Tapi Ay Cun cia menggelengkan kepalanya.
“Sicu, silahkan sicu berangkat terlebih dahulu” katanya, “Aku ingin mencatat dulu
bunyi huruf-huruf yang terukir di atas batu ini.”
Siau Po yakin ucapannya bukan hanya sekedar dusta, Dia tadinya tidak menyangka
si tosu akan percaya sepenuh hati terhadap apa yang diocehkannya, Tanpa menunda
waktu lagi, dia segera mengajak Song Ji serta kedelapan hwesio meninggalkan puncak
Kim Siu Hong tersebut.
Teng Sim mengeluarkan kitab Si Cap Ji Cin keng dan mengembalikannya kepada
Siau Po.
“Sicu, apakah sicu benar-benar langsung pulang ke kota Pe King?” tanyanya.
“Benar.” sahut si bocah, “Ada apa, taysu?”
“Kami menerima perintah dari Giok Lim taysu untuk mengantarkan sicu sampai di
kerajaan,” sahut hwesio itu.
Mendengar kata-katanya, Siau Po senang sekali.
“Bagus, Bagus sekali,” katanya, “Aku justru sedang bingung kalau tosu tadi tidak mau
menyudahi urusan ini dan mengganggu aku lagi dalam perjalanan Tapi, kalau taysu
sekalian melindungi aku dalam perjalanan, siapa yang menjaga keselamatan Heng Ti
taysu?”
“Sicu tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu,” kata Teng Sim. “Giok Lim taysu
telah mempunyai rencana tersendiri.”
Siau Po menganggukkan kepalanya, sekarang dia percaya penuh terhadap Giok Lim
taysu, meskipun hwesio itu bersemedi dengan memejamkan mata, tapi dia memang
telah mengatur segala sesuatunya dengan sempurna. Kalau ditilik dari keadaan
luarnya, dia bersemedi dengan khusyuk sekali Mungkin langit runtuh pun dia tidak akan
perduli Tapi sebetulnya dia tenang dan hebat. Satu hal yang pasti, dengan diantar oleh
para hwesio ini, dia tidak mengkhawatirkan apa pun lagi.

Mereka segera melakukan perjalanan menuju kerajaan. Pada suatu hari, tibalah
mereka di luar tembok kerajaan. Di sana kedelapan belas Lohan dari Siau Lim Sie
berpamitan dengan Siau Po.
“Sicu, kita sudah sampai di tujuan, sekarang kami akan kembali ke kuil kami,” kata
Teng Sim.
“Terima kasih, Taysu sekalian” kata Siau Po. “Kalian sudah bercapek lelah
mengantarkan aku. Kalian baik sekali Nah, terimalah hormatku” Dia langsung
menjatuhkan dirinya berlutut dan menyembah.
Teng Sim mengulurkan tangannya membangunkan Siau Po. Dia mencegah anak itu
memberi hormat secara berlebihan
“Perjalanan yang kita lakukan tidak bedanya dengan berpesiar, Sicu, Sedikit pun
kami tidak merasa lelah, Sungguh menarik hati melihat pemandangan alam yang indah
dari Shoa Say ke kota Pe King ini. Sicu tidak perlu sungkan atau pun banyak
peradatan”
Siau Po mempunyai uang dalam jumlah yang banyak sekali. Sejak berangkat dari
Ngo Tay san dia sudah menyewa sembilan belas buah kereta, Dia dan Song Ji duduk di
atas sebuah kereta, sedangkan para hwesio dari Siau Lim Sie masing-masing
menduduki sebuah kereta, Ie Pat diperintahkan berangkat sehari sebelumnya untuk
mempersiapkan makanan, minuman, atau penginapan Para hwesio itu dilayani dengan
baik sepanjang perjalanan, meskipun mereka semua Cia Cai atau berpantang daging
dan makanan sayur mayur saja, tapi mereka merasa puas. Apalagi sepanjang
perjalanan Siau Po memberikan tip dengan royal kepada para pelayan rumah makan
maupun penginapan.
Kedua belah pihak sama-sama berat untuk berpisah, Para hwesio itu sangat
menyukai Siau Po yang sikapnya hormat serta pandai membawa diri. Bahkan bicaranya
pun selalu menyenangkan. Bocah itu sendiri merasa berat berpisah dengan para
hwesio itu, dia sampai mengeluarkan air mata.
“Siancay Siancay” Teng Sim mengeluarkan kata pujian “Sicu kecil, janganlah kau
bersedih hati Kalau ada jodoh, sudilah kiranya kau berkunjung ke Siau Lim Sie agar kita
dapat berjumpa lagi”
“Aku pasti akan datang” kata Siau Po sambil menangis terisak-isak.
“Sicu,” kata Teng Sim kemudian “Kita akan berpisah, ijinkanlah aku berbicara terus
terang, Menurut penglihatanku, tampaknya sicu terkena semacam racun. Secara diamdiam
aku pernah berusaha mengusir racun itu, tapi tidak berhasil. Karenanya aku jadi
heran, apa jenis racun itu sebenarnya?”
Siau Po menganggukkan kepalanya, Memang benar, sejak diracuni oleh Hay Tay
Hu, sering dia merasakan nyeri di dadanya, atau lambungnya, Dan rasa nyeri itu

semakin terasa serta menjadi sering, Kalau datangnya cepat, perginya cepat pula,
Karena itu penderitaannya agak berkurang, Namun, sejak dihajar oleh ibu suri, luka itu
semakin parah, Tapi dia tidak menghiraukannya. Pertama karena dia masih muda,
selain itu pikirannya juga terbuka dan tidak begitu mengkhawatirkannya, Sekarang,
setelah mendengar ucapan Teng Sim, dia baru teringat kembali sehingga tanpa sadar
dia mengucurkan air mata kembali.
“Aku dicelakai oleh dua orang jahat,” katanya menjelaskan “Yang pertama
menaburkan racun dalam makananku, yang kedua menghajar aku sehingga terluka
parah.”
Teng Sim berdiam diri sejenak, kemudian dia baru berkata lagi.
“Kalau begitu, sicu, sebaiknya kau harus banyak melakukan amal, Dengan demikian
diharapkan segala yang buruk dapat diubah menjadi kebaikan Mengenai racun yang
mengendap dalam tubuh seandainya kau tidak sanggup menyembuhkann silakan kau
datang ke Siau Liam si, di sana aku hwesio tua akan berusaha menyembuhkannya”
Senang sekali hati Siau Po mendengar janji ini. Dia berlutut dan menganggukkan
kepalanya berkali-kali serta mengucapkan terima kasih.
“Bangunlah, sicu” kata Teng Sim sembari membangunkannya sekali lagi.
Sampai di situ, kedua belah pihak pun berpisah.
Sementara itu, Song Ji bingung mendengar pembicaraan kedua orang itu tentang
luka serta racun yang mengendap dalam tubuh Siau Po.
“Siauya,” katanya dengan merubah panggil nya yang sebelumnya Kongcu itu.
“Ternyata kau keracunan dan terluka puIa, Bagaimana keadaan sekarang? Apakah kau
masih merasakan sakitnya?”
Selesai bertanya, tanpa sempat menunggu jawaban Siau Po, gadis kecil itu sudah
menangis tersedu-sedu, Hal ini membuktikan bahwa dia cemas sekali terhadap
keselamatan Siau Po.
Si bocah tanggung tertawa.
“Eh, kenapa kau menangis?” tanyanya, “aku tidak merasa sakit sedikit pun.” Dia
mengangkat lengan bajunya kemudian digunakan untuk menghapus air mata Song Ji.
Wajah gadis kecil itu berubah merah padam, ia merasa jengah sekali.
“Siauya,” katanya, “Aku rasa sebaiknya beberapa hari lagi kita pergi ke Siau Lim Sie
dan minta taysu tadi mengobatimu.”

“Baik.” kata Siau Po memberikan janjinya, “Kebetulan Teng Tong si hwesio muda
baik sekali kepadaku, aku ingin bermain-main dengannya.”
Di antara kedelapan belas hwesio dari Siau Lim sie yang tergabung dalam Cap Pek
Lo Han, usia Teng Tong yang termuda, Dia baru berumur dua puluh empat tahun,
Tetapi dia cerdas, giat, rajin, serta tekun, Belakangan ilmu silatnya mengalami banyak
kemajuan sehingga terpilih menjadi salah satu anggota Lo Han Tin. Selama dalam
perjalanan, ia memang cocok sekali dengan Siau Po.
Begitu tiba di kota kerajaan, Song Ji mendecak kagum, Kota itu begitu ramai dan
indah, Dia sampai terpana menyaksikan segalanya.
Semasuknya ke Se Mui, pintu kota sebelah barat, Siau Po langsung mengajak Song
Ji menuju hotel Ji Kwi. Dia minta disediakan kamar kelas satu dan telah merencanakan
untuk membiarkan Song Ji menetap di sana saja, Dengan demikian keesokan harinya,
bila dia menemui junjungannya, dia tidak kan mengalami kerepotan Dia harus
memberikan laporan tentang hasil perjalanannya.
Malam itu, setelah menyuruh Songj Ji kembali ke kamarnya, gadis itu mendapatkan
kamar yang terpisah Siau Po sendiri mulai bekerja, Sejak siang harinya dia memang
sudah merencanakan apa yan harus ia lakukan dan semuanya pun telah dipersiapkan,
Setelah mengunci pintu, Siau Po mengeluarkan pisau belatinya yang tajam. Setelah
menggeser meja, ia membuat lobang di kolong meja itu untuk menyimpan kitabnya,
Kitab Si Cap Ji Ci keng telah dibungkus rapih dengan kain minjak dan dimasukkan
dalam kotak baju itu segera disimpannya dalam lubang itu. Setelah dimasukkan kitab itu
ke dalamnya temboknya pun dipelester kembali dengan semen yang telah disiapkan
sebelumnya.
Habis menyimpan kitabnya Siau Po dapat mengeluarkan napas lega, Dia berpikir
dari suatu perangkat terdiri dari delapan jilid, Dia sudah menyelesaikan tujuh jilid, Maka
dia tinggal menyelesaikan satu jilid lagi kemudian dia dapat pergi ke tempat simpanan
harta bangsa Boan Ciu guna mencari. Menggali dan mendapatkannya,
“Tetapi aku harus mengelabui kaisar Kong Hi” pikirnya kemudian,
“Tegakah aku mendustainya?”
Siau Po merasa tidak enak sendiri menipu Kaisar, yang menyayangi dan
menyukainya, hingga ia pun menyukainya sebagai sahabat layaknya.
“Dengan susah payah aku mendapatkan kitab ini dari tangan Ay Cun cia. jika tidak
diselesaikan tentu kitab ini akan jatuh entah pada tangan siapa. Tak apa toh sekarang
kitab ini sudah jatuh ke tanganku.”
Berpikir demikian, Siau Po dapat menenangkan hatinya, lantas membuka pintu
kamarnya, Tiba-tiba dia merasakan nyeri pada lambungnya.

“Oh celaka si kura-kura dan si moler bangkotan itu.” Dia mendamprat dalam hati
sebab tiba-tiba saja luka dalam tubuhnya kumat, nyerinya bukan main, Maka dia harus
menungkuli diri guna melawan penyakit tersebut.
Besok paginya, Siau Po memerintahkan Ie Pat pergi dan mencari kereta, Dia ingin
mengajak Song Ji makan di rumah makan besar agar gadis itu terbuka matanya, Buat
Siau Po sendiri ia ingin membeli pakaian thay-kam lengkap dengan topinya agar ia
dapat menghadap raja dengan pakaian baru.
Jika pakaian thay-kam sukar didapatkan dia akan berdandan saja selaku siwi,
pengawal raja, Kalau ia memasuki istana dengan pakaian sebagai siwi, pasti semua
siwi lainnya akan memperhatikannya. Tapi itu tidak mengapa, ia toh siwi sejati, Dan raja
sendiri yang mengangkatnya menjadi Gie Cian Siwi Hu Cokoang.
Berpikir demikian, lega rasanya dan Song Ji pun girang.
“Ya begini saja,” katanya dalam hati, “Buat apa berdandan sebagai Thay-kam,
seorang kebiri? Betapa agungnya seorang pengawal pribadi raja, Lohu akan memasuki
istana dan keraton dengna memakai baju Makwa kuning.”
Demikian bersama Song Ji, thay-kam ini menaiki kereta yang dipesannya, Sewaktu
berbicara dia juga meniru lagu orang Pakha, Orang kota, bahkan orang kaya raya.
“Lebih dahulu kita pergi ke rumah makan Kweeseng,” kata Siau Po pada kusir kereta.
“Masakan di sana semua lezat.”
Sang kusir menyahut “ya” lantas naik dan duduk di sisinya, Dia memuji keledai
penarik kereta yang disewa ini. Keledai semacam ini didapat dari propinsi Soa Sai.
Siau Po gembira sekali, ia tidak memperhatikan jalannya kereta, Dan ia baru terkejut
setelah kereta itu tiba di luar kota.
“Eh, eh, aku ingin pergi ke See Tan kenapa sekarang keluar kota?”
“Ya, ini sebab si

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s