“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 49

kedua bocah yang berteriak-teriak itu.
Larinya cepat sekali seakan dia tidak membawa beban apa pun.
Ie Pat dan yang lainnya berdiri terpaku, Mereka bingung juga takut.
Setelah mendaki beberapa tombak, si tosu masih terus berlari, Baginya, jalanan yang
mendaki itu seperti jalanan yang datar saja, Dia seakan tidak mengalami kesulitan apa
pun.
Siau Po hanya dapat mendengar suara bersiurnya angin, Dalam hati ia berkata.
– Tosu ini lihay sekali, Apakah dia malaikat atau siluman gunung ini? —
Setelah berlari sekian larna, tiba-tiba tosu itu melepaskan cekalannya, Kedua
tawanannya dilepaskan ke atas tanah, kemudian dia menuding sambil membentak.
“Sekarang kalian bicara Kalau kalian berkeras kepala, aku akan membawa kalian ke
puncak gunung ini kemudian melemparkan kalian ke dalam jurang”
Tosu itu menunjuk ke arah puncak yang tinggi, yang sebagiannya tertutup awan yang
tebak.
“Baik, suhu, Aku akan bicara terus terang, “Dia adalah… aku….”
“Bicara yang benar Dia, kau apa?” bentak si tosu yang berangasan itu.
“Dia adalah,., istriku.” sahut Siau Po terpaksa.
Mendengar ucapannya, baik tosu itu maupun Song Ji sama-sama terkejut Bahkan
wajah si gadis cilik menjadi merah padam.
Sedangkan si tosu menjadi heran, bagaimana seorang bocah cilik sudah mempunyai
istri?
“Apa? Istri?” tanyanya menegaskan.
Siau Po menganggukkan kepalanya.
“Suhu, biarlah aku berbicara terus terang kepadamu,” katanya pula, “Sebenarnya
aku seorang kongcu, putera seorang hartawan dari Kota Pe King, Aku tertarik kepada
nona, putri tetanggaku ini. karenanya kami telah sama-sama berjanji untuk hidup
bersama-sama sampai hari tua, janji itu kami buat secara diam-diam di taman bunga,
Ayah nona ini tidak menyetujui hubungan kami, karena itulah aku mengajak nona ini
minggat dari rumah, Suhu lihat sendiri, dia seorang gadis, Mana mungkin menjadi thaykam?
Tentu saja dia marah Kalau suhu tetap tidak percaya, buka saja kopiahnya”

Tosu itu mengikuti perkataan Siau Po. Dia membuka kopiah Song Ji sehingga
tampaklah rambutnya yang panjang dan indah.
Di jaman kerajaan Ceng, kecuali imam (tosu) atau hwesio, setiap laki-laki harus
mencukur bagian depan rambutnya sehingga hanya tersisa bagian belakangnya untuk
dijadikan kuncir panjang.
Tapi rambut Song Ji lengkap, bagian depannya masih penuh dan bagian
belakangnya juga terurai panjang sehingga dapat dipastikan bahwa dia memang
seorang perempuan.
“Suhu, aku mohon,” kata Siau Po yang pandai bicara, “Janganlah serahkan kami
kepada pihak pembesar negeri, sebab aku bisa kehilangan nyawaku Suhu, aku
bersedia memberimu uang sebanyak seribu tail asal kau membebaskan kami….”
“Sekarang terbukti sudah bahwa kalian bukan thay-kam,” kata tosu itu kemudian.
“Thay-kam tidak mungkin melarikan anak gadis orang. Ha ha ha ha Kau masih kecil
tapi nyalimu sudah besar sekali” Sembari berkata, tosu itu melepaskan cekalannya
pada bahu Siau Po.
“Untuk apa kalian datang ke Ngo Tay san?” tanyanya kembali.
“Kami pergi ke Leng Keng si untuk bersembahyang pada Sang Bodhisatva.” sahut
Siau Po yang tidak pernah kehilangan akal “Kami memohon perlindunganNya, Semoga
aku, pemuda yang malang ini berhasil menjadi Conggoan, dan dia… kelak setelah
menjadi istriku akan dipanggil It Pin hujin….”
Siau Po memang pandai berbicara, Kata-katanya tentang pemuda hartawan yang
malang dan mengikat janji di taman bunga, semuanya ia cangkok dari tukang cerita di
Kota Yang-ciu. sedangkan Cong goan artinya mahasiswa yang lulus pertama dalam
ujian di istana dan It Pin hujin adalah sebutan untuk para isteri seorang menteri atau
jenderal.
Tosu itu berpikir sejenak.
“Kalau begitu, aku yang salah duga, kalian pergilah” katanya kemudian.
Bukan main senangnya hati Siau Po.
“Terima kasih, suhu, terima kasih” katanya berulang-ulang, bersama-sama Song Ji,
dia memberi hormat kemudian diajaknya turun gunung.
“Aih, tidak benar” tiba-tiba tosu itu berseru. Setelah kedua pemuda-pemudi itu
berjalan beberapa langkah, “Eh, kalian kembali”
Mau tidak mau, Siau Po terpaksa kembali bersama Song Ji.

“Eh, nona kecil” Tegur tosu itu. “llmu silatmu baik sekali Kau telah menotok dan
menendang aku satu kali juga, Sampai sekarang aku masih merasa sakit.” Dia
langsung meraba jalan darahnya yang tadi ditotok Song Ji. Kemudian tosu itu bertanya
lagi, “Nona, siapakah yang mengajarkan ilmu silat kepadamu? Tergolong partai
manakah kepandaianmu itu?”
Wajah Song Ji jadi merah, Gadis itu tidak biasa berbohong sehingga sulit baginya
menjawab pertanyaan itu, Dia juga tidak suka menjelaskan golongan partai
persilatannya, Karena itu, dia hanya menggelengkan kepalanya.
Siau Po yang cerdas, segera mewakili gadis itu menjawab.
“Dia mewarisi ilmu silat keluarganya yang diajarkan turun temurun. Ibunyalah yang
mengajarkannya.”
“Apa she nona ini?” tanya tosu itu kembali.
“Ini… ini… aih” sahut Siau Po ragu-ragu. “Rasa-nya kurang leluasa menyebut she
keluarganya….” Si bocah nakal mengembangkan seulas senyuman.
“Apanya yang tidak leluasa?” bentak tosu itu, “Lekas katakan”
“Kami dari keluarga Cung.” sahut Song Ji mendahului Siau Po.
“Keluarga Cung?” ulang si tosu sambil menggeleng gelengkan kepalanya, “Tidak
benar Kau pasti berbohong Di kolong langit ini tidak ada keluarga Cung yang ilmu
silatnya terkenal Apalagi mengajarkan seorang anak perempuan sampai begini lihay”
“Aneh” kata Siau Po yang menjadi berani dan tertawa lebar. “Suhu, di kolong langit
ini, banyak sekali orang yang pandai ilmu silat, Bagaimana kau bisa mengenal mereka
semuanya?”
“Diam kau” bentak tosu itu dengan nada gusar “Aku sedang bertanya kepada si
nona kecil ini, jangan kau ikut campur” Selesai berkata, tosu itu bahkan mendorong
tubuh Siau Po dengan perlahan.
Si bocah takut terluka, dia tahu tosu ini lihay sekali, Karena itu, sebelum tangan
orang itu sempat menyentuhnya, dia sudah menghindarkan diri terlebih dahulu, Dia
menggunakan tipu jurus “Hong Heng Cau Yan” (Angin berhembus, rumput rebah)
sehingga dia berhasil menyelamatkan dirinya, sementara itu, dia juga menggerakkan
kedua tangannya. Tangan kirinya diangkat ke atas untuk melindungi dirinya, sedangkan
tangan kanan melancarkan serangan.
Tosu itu terkejut setengah mati. Dia mengulurkan tangannya untuk menyambar dada
Siau Po. Sebelumnya, dia menghindarkan diri terlebih dahulu dari serangan si bocah.

Siau Po cerdik sekali, Gerakannya sangat lincah Dia memiringkan dadanya ke
samping, begitu tubuhnya bebas, tangannya melayang lagi, jurus yang digunakannya
kali ini ialah “Leng Coa Jut Tong” (UIar sakti keluar dari goa).
Dia memainkannya dengan bagus sekali, Tidak syak lagi, lehernya tosu itu langsung
terkena tamparannya, Namun dalam waktu yang bersamaan, dia pun menjerit sekeraskerasnya
karena tangannya seperti menghantam besi sehingga ia merasa kesakitan.
Mendengar majikannya menjerit kesakitan, Song Ji segera melompat maju untuk
menyerang tosu itu.
Sementara itu, dada Siau Po sudah terkena sambaran tosu itu. Hal ini karena si tosu
gesit sekali, sembari menghindarkan diri, dia balas menjambak dada Siau Po. Dengan
demikian, sekaligus juga dia sanggup melayani si nona cilik.
Song Ji melakukan pertarungan dengan hati-hati, dia sadar betapa lihaynya lawan
yang satu ini. Gadis itu memperlihatkan kegesitan dan kelincahannya, Meskipun
demikian, dia tetap kewalahan, sebab tubuh tosu itu kebal terhadap pukulan, ilmu tosu
itu bernama Kim Cung Tiau (Tudung lonceng emas) dan Tiat Pou San (Baju besi)
sehingga dia tidak usah khawatir terhadap totokan, tinju atau pukulan yang dilancarkan
lawan.
Dalam beberapa jurus saja, Song Ji sudah tidak berdaya dibuatnya, Kepandaiannya
tidak berarti banyak bagi si tosu, Sesaat kemudian, tosu itu sudah menatap Siau Po
lekat-lekat dan bertanya kepadanya.
“Kau mengatakan bahwa kau anak seorang hartawan tapi mengapa kau mengerti
ilmu “Kim Na Jiu” dari golongan Sin Liong To di Liau Tong?”
Siau Po memang pemberani Dengan suara lantang dia menjawab
“Aku toh anak seorang hartawan, lalu mengapa aku tidak boleh mempelajari ilmu Sin
Liong To? Apakah hanya anak orang miskin yang boleh mempelajari ilmu itu?” Dia
sengaja mengucapkan kata-kata itu untuk memperpanjang waktu. Maksudnya ingin
mencari jalan untuk melarikan diri, Diam-diam dia berpikir dalam hati.
— ilmu Sin Liong To di Liau Tong? ilmu apakah itu? Oh.,, Aku ingat sekarang Hay
Tay Hu si kura-kura tua pernah mengatakan bahwa Thay Hou berusaha menutupi
dirinya seakan-akan orang dari Bu Tong Pai, padahal dia sebenarnya memiliki ilmu Coa
To yang terletak di Liau Tong. Coa To itu pasti sama dengan Sin Liong To. Apa
bedanya naga dan ular? Iya… dapat dipastikan bahwa si nenek sihir itu mempunyai
hubungan dengan orang Sin Liong To. Tentu saja, nama ular tidak enak didengar, maka
mereka menggantinya dengan nama Sin Liong (naga sakti) ilmu silat Siau Hian cu
diajarkan oleh si nenek sihir. Karena aku sering berlatih bersamanya, sedikit banyaknya
aku jadi memahami ilmu Sin Liong To juga —

Begitu bencinya Siau Po kepada Hong Thay Hou sehingga terus-terusan dia
menyebutnya sebagai perempuan hina dan si nenek sihir
Sementara itu, terdengar suara bentakan si tosu yang mengandung kegusaran
“Ngaco Ayo katakan yang sebenarnya, siapakah gurumu?”
Siau Po berpikir cepat
– Kalau aku mengakui bahwa Thay Houlah yang mengajarkan ilmu silat kepadaku,
sama saja aku mengakui diriku seorang thay-kam., – Karena itu dia segera
menggunakan alasan yang lain.
“Aku diajarkan ilmu silat olah teman pamanku…. Dia bernama bibi Liu Yan. orangnya
gemuk….”
“Nona Liu Yan?” tanya tosu itu mengulangi kata-kata Siau Po. “la sahabat
pamanmu? siapakah pamanmu itu?”
“Pamanku itu bernama…. Wi Toa Po,” sahut Siau Po sembarangan. Dia
mengimbangi Toa Po dengan namanya sendiri, Toa Po artinya mustika besar,
sedangkan Siau Po artinya mustika kecil, “Pamanku itu mata keranjang, Di kerajaan
kawan wanitanya banyak sekali dan dia termasuk orang royal, Menghamburkan uang
sebanyak seribu tail sehari bukan masalah bagi nya. Dia tampan seperti artis pemain
sandiwara di panggung pertunjukan Karena itulah bibi Liu tergila-gila kepadanya sering
nona yang gemuk itu datang ke rumah kami pada jam tiga tengah malam dan masuknya
melompati tembok taman bunga yang ada di belakang, Memang aku yang merengekrengek
kepadanya agar diajarkan ilmu silat Kemudian aku memang diwarisinya
beberapa jurus.”
Tosu itu ragu-ragu mendengar cerita Siau Po.
“Bagaimana dengan pamanmu sendiri? Apakah dia mengerti ilmu silat?” tanyanya.
Siau Po tertawa lebar mendengar pertanyaan itu.
“Pamanku pandai ilmu silat asmara, Dia sering dipiting batang lehernya oleh nona
Liu, tapi dia malah kesenangan Bahkan ketika nona itu mengangkat tubuhnya naik
turun, dia mendiamkan saja, Tapi pamanku itu memang lucu sekali, Sekali waktu aku
pernah mendengarnya mengatakan: “Nah, ini yang dinamakan anak mengangkat ayah”,
mendengar kata-katanya nona Liu ikut tertawa bahkan membalasnya dengan
mengatakan “lni belum apa-apa, kelak pasti ada cucu yang menenteng kakeknya”
Kata-kata Siau Po itu sebenarnya hanya sembarangan mengoceh, Dia sedang
mempermainkan tosu itu yang karena peraturan agama tidak boleh berdekatan dengan
kaum wanita, Tapi tosu itu tidak gusar Dia malah minta penjelasan yang lebih lanjut
tentang Liu Yan.

Dengan senang hati Siau Po melanjutkan ceritanya.
“Bibi Liu Yanku itu senang memakai sepatu sulam merah. Oh, suhu, aku menduga
kau pasti mencintainya…. Benar bukan? Kapan saja kalau suhu bertemu dengannya,
suhu boleh tidur dengannya dan aku yakin keesokan harinya dia tidak akan bangun lagi
untuk selama-lamanya”
Gusar sekali tosu itu mendengar ocehan si bocah, Dia memang tidak tahu Liu Yan
sudah mati dan tidak mungkin bisa bangun kembali, Dan bocah itu memang sengaja
mempermainkannya.
“Bocah cilik, kau mengoceh sembarangan” bentaknya, Tapi dia mulai mempercayai
keterangan yang diberikan oleh Siau Po. Perlahan-lahan dia menepuk perut Siau Po
untuk membebaskannya dari totokan, Dan dia tidak berhasil karena tangannya
menyentuh kita Si Cap Ji Cin Keng yang disimpan Siau Po di balik pakaiannya.
“Eh, barang apa itu?” tanyanya,
“Oh, ini uang yang aku curi dan kubawa kabur dari rumah,” sahut Siau Po dengan
hati tercekat
“Ngaco Mana mungkin kau membawa uang begitu banyak?” Tanpa menunda waktu
dia segera mengulurkan tangannya dan merogoh-rogoh tubuh Siau Po dan
mengeluarkan bungkusan kitab itu. Ketika dia membukanya, saat itu juga dia jadi
tertegun, kemudian wajahnya menjadi berseri-seri.
“Si Cap Ji Cin keng Si Cap Ji Cin keng”
Kemudian tosu itu membungkus kembali kitab itu sampai rapi lalu dimasukkannya ke
dalam saku pakaian, Kembali dia menjambak dada Siau Po dan diangkatnya tinggitinggi.
“Dari mana kau mendapatkan kitab ini?” tanyanya dengan suara garang.
Sulit sekali menjawab pertanyaan itu, apalagi hati Siau Po sedang terkejut dan
khawatir kehilangan kitabnya itu, Tapi untung saja otaknya cerdas sekali, Dia
menabahkan hatinya dan berusaha tertawa lebar.
“Kau menanyakan kitabku itu? Oh, ceritanya panjang sekali, Akan memakan waktu
lama untuk menceritakannya….”
Siau Po terus mengulur waktu, Selain ingin mendapatkan kebebasan, Siau Po juga
berharap dapat merebut kitabnya kembali, Karena itu, dia perlu mengasah otaknya
untuk mencari keterangan yang masuk akal…
“Cepat katakan Dari mana kau mendapatkan kitab itu?” bentak tosu itu sekali lagi,
“Siapa yang memberikannya kepadamu?”

Belum lagi Siau Po sempat menjawab pertanyaan itu, dari kejauhan tampak
serombongan hwesio sedang berjalan mendatangi Tampaknya mereka Cap Pek Lohan
dari biara Siau Lim Sie yang membantu Heng Ti mengusir para Ihama dari Tibet, Ketika
dia menoleh ke arah barat, ternyata dari sana juga sedang datang beberapa orang
hwesio sehingga jumlahnya menjadi belasan orang.
— Bagus — seru Siau Po dalam hatinya, Dia merasa senang — Tosu bangsat, biar
pun kepandaianmu lebih hebat lagi dari sekarang, tidak mungkin kau sanggup melawan
Cap Pek Lohan dari Siau Lim Sie —
“Cepat katakan” bentak tosu itu. “Ayo, cepat katakan”
Sekarang tosu itu juga melihat munculnya beberapa orang hwesio dari arah timur,
barat dan utara. Dia tidak memperdulikan orang-orang itu tapi dia bertanya kepada Siau
Po.
“Mengapa beberapa orang hwesio itu datang ke mari?”
Tampaknya Siau Po sudah memikirkan pertanyaan itu. Dengan seenaknya dia
menjawab .
“Para hwesio itu telah mendengar tentang kehebatanmu, sekarang mereka datang
untuk mengangkat kau menjadi guru.”
Sudah sampai di hadapan si tosu dan sepasang muda-mudi itu. Bahkan hwesio yang
usianya sudah lanjut dan aliasnya panjang langsung memberi hormat dan menyapa.
“Taysu, apakah taysu ini Poan Toato Ay Cun cia dari Liau Tong?”
Ketika itu tubuh Siau Po masih diangkat tinggi-tinggi oleh si taysu, tapi mendengar
pertanyaan itu dia jadi tertawa terbahak-bahak, Menurutnya, pertanyaan itu aneh sekali.
Poan tauto artinya tosu gemuk, sedangkan Ay Cun cia berarti Cun cia pendek, Cuncia
adalah sebutan suci bagi para pengikut Buddha, Tetapi kenyataannya tosu itu bertubuh
tinggi kurus, Apakah hwesio itu matanya buta? Tidak Terang dia bisa melihat Lalu,
mengapa dia menyebut tosu itu dengan sebutan yang demikian menggelikan? Ataukah
hwesio itu sengaja mengejeknya?
Tosu itu menggelengkan kepalanya,
“Betul Akulah Poan Tauto Ay Cun cia Kalian bisa mengetahui namaku, Hal ini
berarti kalian bukan orang sembarangan Nah, taysu, siapakah kau sebenarnya?”
“Gelar lolap Teng Sim dari Siau Lim Sie,” sahut hwesio beralis panjang itu,
“Kedudukanku di dalam biara sebagai ketua dari ruang Tat Mo Ih. Dan ketujuh belas
suhu ini rekan-rekan lolap yang juga anggota ruang Tat Mo Ih.”

sedang mendatangi itu dan berseru, “Lebih baik kalian menggelinding pergi dari sini,
jangan ganggu aku dengan segala macam kerewelan”
Suaranya yang keras bergema di sekitar lembah itu kedengarannya penuh wibawa.
Rombongan ke delapan belas Lohan dari Siai Lim Sie itu tidak menghiraukan
seruannya, Mereki seakan tidak mendengar apa-apa. Para Lohan iti terus mendaki ke
atas dan tidak lama kemudian
“Aku tidak pernah menerima murid,” katanya
Mendengar pertanyaan itu, tosu itu segera menjawab dengan suara lantang.
Kemudian dia menghadap ke arah para hwesio yan
“Oh” seru tosu itu yang nadanya tidak garang lagi seperti sebelumnya, “Kiranya
delapan belas Lohan dari Tat Mo Ih telah berkumpul di sini, Aku hanya seorang diri,
tidak bisa aku melayani kalian semua….”
Teng Sim segera merangkapkan sepasang tangannya,
“Di antara kita satu dengan yang lain tidak terlibat permusuhan atau persengketaan
apa pun, bahkan kita sama-sama merupakan pengikut Buddha. Bagaimana taysu bisa
mengatakan soal perkelahian?” katanya dengan nada sabar “Kedua Cun cia gemuk dan
kurus dari Liau Tong mempunyai nama yang terkenal sekali karena ilmu silatnya yang
lihay, Kami justru merasa kagum sekali, Kami juga merasa gembira atas keberuntungan
kami dapat bertemu dengan taysu di sini.”
Setelah Teng Sim selesai berkata, ketujuh belas rekannya yang lain segera memberi
hormat sehingga tosu itu repot membalas penghormatan mereka.
“Untuk apakah kalian datang ke Ngo Tay san ini?” tanya tosu itu kemudian.
Teng Sim tidak menjawab pertanyaan Ay Cun cia, dia malah menunjuk kepada Siau
Po.
“Sicu kecil ini mempunyai hubungan yang erat dengan biara Siau Lim Sie kami, oleh
karena itu, kami mohon sudilah kiranya taysu bermurah hati membebaskannya….”
Ay Cun cia memperhatikan hwesio itu. Dia tampak ragu-ragu. Tapi pihak lawan
adalah ke-delapan belas Lohan yang sudah terkenal dari Siau Lim Sie, sedangkan dia
hanya seorang diri, sanggupkah dia melawan mereka? Tentu lain halnya kalau mereka
berkelahi satu lawan satu.
“Baiklah,” sahutnya kemudian, “Dengan memandang wajah taysu, aku akan
melepaskannya,” tosu itu langsung menurunkan tubuh Siau Po. setelah itu dia menepuk
perut bocah itu untuk membebaskan totokannya.

Begitu berdiri tegak, Siau Po mengulurkan tangannya ke hadapan tosu itu.
“Mana kitabku?” katanya, “Kitab itu merupakan pemberian sahabat dari delapan
belas suhu ini agar aku membawanya ke Siau Lim Sie dan akan diserahkan kepada
Hong Tio biara itu.”
“Apa?” tanya Ay Cun cia gusar “Apa hubungannya kitab ini dengan pihak Siau Lim
Sie?”
“Pokoknya kau telah merampas kitab milikku” sahut Siau Po dengan berani “Kitab itu
diserahkan oleh seorang suhu tua yang meminta aku menyerahkannya kepada
seseorang, Urusan ini penting sekali, Biar bagaimana kau harus mengembalikan kitab
itu”
“Kau mengoceh tidak karuan” kata tosu itu yang langsung mencelat ke bawah untuk
turun gunung.
Tiga orang hwesio Siau Lim Sie segera lompat ke depan dengan tangan terulur guna
menyambar orang itu.
Ay Cun cia tidak ingin melayani, dia menggeser tubuhnya ke samping untuk
menghindarkan diri. Tubuhnya tinggi kurus, meskipun tampaknya kaku tapi gerakannya
justru gesit dan lincah sekali walaupun sambaran tangan ke tiga hwesio itu lihay sekali
namun tidak mengenai sasarannya
Menyaksikan keadaan itu, empat orang hwesio lainnya segera turun tangan, Mereka
menghambur ke depan untuk menghadang dengan merentangkan kedua tangannya.
Terdengar seruan nyaring dari mulut Ay Cun cia, kedua tangannya didorongkan ke
depan dengan jurus “Ngo Teng Kay san”, setelah itu dia mencelat lagi.
Keempat hwesio itu berusaha merintangi kembali Mereka menyerang serentak
Ketika mereka menangkis, merasa tenaga tolakan lawan keras sekali sedangkan si tosu
merasa serangan yang dilancarkan keempat hwesio itu berbeda-beda, Dua yang di kiri
menyarang dengan tenaga yang kuat, sedangkan dua yang di kanan menyerang
dengan tenaga lunak, Begitu lunaknya sehingga mirip membentur tumpukan kapas.
– Ah –, seru tosu itu dalam hatinya, — Aku sudah mendengar bahwa ilmu silat Siau
Lim Pai lihay sekali, sekarang aku telah membuktikannya sendiri Mereka benar-benar
tidak Boleh dianggap enteng.
Tosu itu segera berusaha membebaskan diri, tapi tiga hwesio lainnya sudah
mendesaknya dari belakang. Dia menjejakkan kakinya di atas tanah untuk mencelat ke
atas dan menghindarkan diri dari serangan empat kepalan tangan.

Sembari melompati dia menolehkan kepalanya ke belakang. Ternyata serangan yang
dilancarkan mereka memang berbeda-beda dan dari arah yang berlawanan pula, itulah
serangan cengkeraman Naga, Kuku Hari-mau, dan Cakar Garuda.
Diam-diam hatinya merasa jeri Dia tidak berani berlaku ayal Dia memutar tubuh
sambil melompat ke arah Siau Po untuk menyambar bocah itu dengan tangan
kanannya, Setelah mendarat di atas tanah, dia membentak dengan nada bengis.
“Kalian ingin melihat dia mati atau hidup?”
Gerakan tosu itu cepat sekali dan tahu-tahu Siau Po telah tercekal olehnya.
Ke delapan belas Lohan dari Siau Lim Sie itu segera mengambil posisi mengurung.
Teng Sim merangkapkan sepasang tangannya dan berkata.
“Kitab sicu ini merupakan kitab yang sangat penting, oleh karena itu, kami mohon
sudilah taysu mengembalikannya. Dengan demikian taysu telah mendirikan pahala,
Atas itu, kami semua juga akan merasa bersyukur dan berterima kasih”
Ay Cun cia mengangkat tubuh Siau Po tinggi-tinggi, tangannya yang sebelah lagi
mengancam batok kepala bocah itu, Tosu itu tidak menghiraukan Teng Sim, malah
tanpa berkata apa-apa lagi, dia membawa Siau Po lari ke arah utara.
Ancaman itu hebat sekali, seandainya pihak Siau Lim Sie memaksakan kehendak
mereka untuk meminta kembali kitab Si Cap Ji Ciang Keng, maka dia akan menghajar
batok kepala Siau Po agar mati seketika.
Dalam keadaan seperti ini, beramai-ramai mereka menyebut nama Sang Buddha
kemudian mundur serempak untuk membuka jalan.
Tosu itu langsung berlari sambil membawa Siau Po. Gerakannya gesit dan cepat
Tujuannya ke arah utara.
Meskipun sempat ragu-ragu, akhirnya ke delapan belas Lo han dari Siau Lim Sie itu
menyusul juga, Mereka segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh agar tidak
ketinggalan terlalu jauh atau kehilangan jejak orang yang disusul itu.
Pada saat itu, Song Ji juga sudah lari menyusul Dia dibebaskan totokannya oleh
salah seorang hwesio. Saking khawatirnya, dia berlari kencang sekali. Tapi dia
mengalami kesulitan untuk mengejar apalagi menyusul tosu itu, Hal ini karena dia kalah
tenaga dalam disebabkan usianya yang masih muda.
Gadis cilik itu bingung sekali sehingga tanpa sadar dia menangis, namun tidak
menghentikan langkah kakinya.

Sebaliknya, di sebelah depan, para hwesio itu juga belum berhasil mengejar Ay Cun
cia.
Tidak lama kemudian, baru tampak Ay Cun cia membawa Siau Po mendaki puncak
sebelah utara, para hwesio tetap mengejarnya, Hanya ada satu jalan untuk mendaki
puncak itu dan sempit pula, Karena itu, mereka terpaksa berlari dengan antri atau
berbaris satu per satu.
Ketika Song Ji menyusul sampai di kaki bukit itu, tenaganya sudah habis. Dia
mendongakkan kepalanya untuk melihat ke atas, Tampak puncak bukit itu bagai
menyusup ke dalam gumpalan awan yang tebal.
Hatinya khawatir sekali, kalau tosu itu sampai tergelincir tamatlah riwayatnya
bersama-sama Siau Po, Tidak jadi masalah kalau hanya tosu itu yang mati, tapi,.,
bagaimana kalau Siau Po yang….
Ketika gadis cilik ini sedang melihat ke atas, tiba-tiba terdengarlah suara yang
bergemuruh, disusul dengan berloncatannya para hwesio, Rupanya dari atas
bergelindingan puluhan batu yang ukurannya berbeda-beda.
Tentunya Ay Cun cia mendupak batu di sana sini agar para hwesio itu mengalami
kesulitan mengejarnya.
Di antara para hwesio itu, Teng Kong tertinggal di bagian paling belakang, Lukanya
yang terjadi karena bertarung dengan Hong Hu Kok masih belum sembuh betuI,
tenaganya jadi jauh berkurang.
“HongTio” teriak Song ji memanggilnya, “Hong Tio”
Teng Kong menoleh, kemudian dia menghentikan langkah kakinya, Dihampirinya
Song Ji yang tampaknya sudah letih sekali dan tampangnya menyiratkan kekhawatiran,
Teng Kong segera menghiburnya.
“Jangan cemas, tidak mungkin dia mencelakai kongcumu” katanya, Setetah itu dia
menarik tangan gadis cilik itu. Dia tidak merasa jengah, pertama karena usia Song Ji
masih belia, kedua gadis itu juga memerlukan bantuannya, Dengan ditarik olehnya,
Song Ji bisa mendaki terus, Bagi Song Ji, keadaan dirinya ibarat seorang yang
terombang ambing di tengah lautan dan tiba-tiba menemukan selembar papan untuk
dijadikan pegangan sehingga perasaannya menjadi agak lega.
“Hong Tio,” kembali Song Ji bertanya, “Benarkah dia tidak akan mencelakai
kongcu?”
“Tidak, tidak mungkin,” sahut Teng Kong yang terpaksa menjawab demikian
meskipun dia tahu watak Ay Cun cia kejam sekali

Puncak yang mereka daki merupakan puncak bagian selatan, Lam tay dari Ngo Tay
san. Dapat dimengerti bahwa puncak itu membahayakan tapi untungnya jalan tidak
terjal hanya berkelok-kelok sehingga akhirnya Teng kong dapat juga menyusul rekanrekannya.
Tampak mereka tengah mengurung sebuah kuil Dapat dipastikan bahwa Ay Cun cia
sudah membawa Siau Po ke dalam kuil tersebut
Ngo Tay san mempunyai lima puncak dan setiap puncak terdapat sebuah kuil. Di
puncak gunung itu bersemayam seorang tokoh Bodhisatva yakni Bun cu Pou sat. Dari
sanalah dahulu kala sang Dewi menyiarkan khotbahnya.
Ke lima puncak itu masing-masing dididami seorang tokoh Bodhisatva atau Buncu
Pou sat yang berlainan Hal ini karena Bun cu Pou sat memiliki kepandaian yang tinggi
sekali dan sering memperlihatkan wujud yang berlainan di bagian Tong Tay, yakni
puncak sebelah timur, ada sebuah kuil yang bernama Bong Hay Si, yang dipuja Cong
Beng Bun cu.
Di Tiong Tay, puncak yang terletak di tengah-tengah, yakni puncak Cui Giam Hong,
ada kuil bernama Yau Kau si, yang dipuja di sana ialah Ji Tong Bun cu.
Di Si Tay, yakni puncak barat atau lebih terkenal dengan nama puncak Kwa Goat
Hong, terdapat kuil Hoat Lui si dan di Lam Tay, puncak selatan atau disebut juga
puncak Kim Siau hong, terdapat kuil Pou Ci si dan yang dipuja di sana adalah Ti Hui
Bun cu. Yang terakhir inilah yang didatangi para hwesio karena mengikuti jejak Ay Cun
cia.
“Kongcu Kongcu” teriak Song ji begitu berkumpul dengan para hwesio lainnya.
Dari dalam kuil tidak terdengar sahutan apa-apa, Hati Song Ji jadi tegang, Dia
mengkhawatirkan keselamatan Siau Po. Karena itu, dia langsung menghambur ke
depan untuk memasuki kuil
“Jangan” cegah Teng Kong sambil mengulurkan tangannya untuk menarik Song Ji.
Tapi Song Ji lincah sekali, Teng Kong tidak berhasil mencekalnya, Dia lari terus ke
dalam pendopo, tampak Ay Cun cia sedang berdiri dengan tangan kiri memegang Siau
Po.
“Kongcu” Teriak Song Ji. “Apakah tosu jahat itu mencelakaimu?”
“Jangan khawatir” sahut si bocah nakal, “Tidak mungkin dia berani mengganggu
seujung rambut ku.”
Ay Cun cia marah mendengar kata-katanya.
“Siapa bilang aku tidak berani?” tanyanya dengan suara garang.

Siau Po memang pemberani Dia malah tertawa lebar.
“Kalau kau mencelakai aku,” katanya, “Walau pun hanya seujung rambutku saja,
nanti kau aka diringkus oleh ke delapan belas Lo han di depan sana dan kau akan
dibuat menjadi manusia gemuk dan kate, Kalau hal itu sampai terjadi, celakalah kau
seumur hidupmu. Bisa-bisa kau malah pulang ke asalmu.”
Tampak Ay Cun cia terkejut setengah mati.
“Apa katamu?” tanyanya, “PuIang ke asalku Bagaimana kau bisa tahu?”
Siau Po mengawasi tosu di depannya, Sebenarnya dia tidak tahu apa-apa. Katakatanya
tadi hanya ingin mempermainkan si tosu dan menggertaknya saja, Tidak
tahunya dia malah mengetahui borok di dalam hati si tosu. Tapi pada dasarnya dia
memang pandai melihat mimik wajah orang,
“Tentu saja aku tahu,” jawabnya sembarangan
Setelah melihat si tosu cemas sekali, Dia sengaja memperlihatkan senyuman ejekan.
Ay Cun cia berusaha menenangkan dirinya, “Mereka pasti tidak sanggup
melakukannya,” sahutnya masih dengan nada yang garang, Meskipun demikian, Siau
Po dapat merasakan tangan tosu itu agak bergetar.
“Mereka memang tidak tahu, tapi lain halnya dengan Giok Liam taysu.” kata Siau Po.
“Asal mereka pergi ke Ceng Liang si untuk menanyakannya, mereka pasti akan tahu.”
Hati Ay Cun cia semakin tercekat “Giok Lim taysu ada di Ceng Liang si?” tanyanya.
Siau Po menganggukkan kepalanya.
“Kalau kau tidak percaya, pergilah kau ke sana dan buktikan sendiri Di sana kau
akan mendapat kenyataan.”
Tiba-tiba Ay Cun cia menjadi gusar.
“Untuk apa aku ke sana?” katanya dengan suara keras, “Walaupun harus mati, aku
tidak akan kesana.”
“Kitab Si Cap Ji Cin Keng itu, Giok Lim taysu yang memberikannya kepadaku.” kata
Siau Po, “Meskipun kau tidak menemuinya, dia pasti akan mencarimu.,” Ay Cun cia
mendadak bersikap seperti orang kalap, Dengan kaki kanannya, dia mendupak sebuah
batu besar yang terdapat di depannya sehingga tembok kuil itu retak dan pasir-pasir
berhamburan Kemudian dia berkaok-kaok dengan keras.

“Kalau Giok Lim taysu datang ke puncak gunung ini, aku yang akan membunuhnya
terlebih dahulu, Kata-kataku berat seperti gunung Ngo Ta san ini Sekali aku
mengucapkannya, aku akan melaksanakannya.”
Di dalam hatinya Siau Po mengeluh
— Celaka Aku telah salah bicara, Entah mengapa dia begitu membenci Giok Lim
taysu, Kalau hwesio itu benar-benar datang ke puncak gunung ini, jangan-jangan jiwaku
sendiri sulit dipertahankan lagi –
“Untuk apa kau ikut ke mari?” tanya Ay Cun cia kepada Song Ji yang sejak tadi
mendengarkan percakapan di antara mereka berdua, “Apakah kau juga sudah bosan
hidup?”
“Dengan kongcu, aku telah berjanji sehidup semati.” sahutnya dengan berani “Kalau
kau mencelakai dia, aku akan mengadu jiwa denganmu.”
“Setan alas” teriak si tosu. “Apa sih keanehan bocah ini? Hh, bocah cilik, apakah kau
mencintai nya?”
Wajah Song Ji menjadi merah padam mendengar pertanyaan tosu, Untuk sesaat
gadis itu membungkam, sejenak kemudian dia baru berkata.
“Kongcu orang baik, sedangkan kau jahat.”
Bersamaan dengan ucapan Song Ji, ke delapan belas Lo han di luar kuil
memperdengarkan suara pujian.
“Amitabha Amitabha Buddha maha pengasih dan penyayang”
Mendengar pujian itu, wajah si tosu jadi pucat pasi Kembali terdengar suara ke
delapan Lo han dari Siau Lim Sie itu, kali ini ditujukan kepada tosu.
“Ay Cun cia Bebaskanlah sicu kecil itu dan kembalikanlah kitabnya”
Tubuh Ay Cun cia bergetar Tosu itu melepas cekalan tangan kiri nya. Dengan
demikian, Siau Po jadi bebas, kemudian dia menutupi kedua telinganya dengan
sepasang tangannya, Hal ini karena suara para hwesio itu seakan memekakkan
gendang telinganya dan dia tidak suka mendengarnya.
Peluang itu digunakan Songji untuk memeluk dan mengangkat tubuh Siau Po yang
kemudian dibawanya kabur.
Ay Cun cia melihat perbuatan Song Ji. Tosu itu segera mengulurkan tangannya untuk
mencengkeram, tapi mengalami kegagalan Gerakan tubuh Song Ji lincah dan licin
seperti seekor belut Tetapi tosu itu memang lihay sekali Ketika dia menjambak untuk
kedua kalinya, Song Ji tidak dapat menghindar lagi, dan langsung mencengkeram.

Lagi-lagi terdengar suara pujian para hwesio di luar kuil.
“Amitabha Amitabha Buddha maha pengasih dan Penyayang Ay Cun cia, kau
seorang tokoh berkenamaan di dunia Bu lim, sekarang kau melayani seorang gadis
cilik, apakah kau tidak takut dirimu akan menjadi bahan tertawaan?”
Pertanyaan itu diajukan dengan nada yang penuh kesabaran, Siau Po yang
mendengarnya merasa kurang puas, Dia merasa sikap para hwesio itu terlalu lunak.
Kembali hati Ay Cun cia bagai ditikam mendengar ucapan itu. Hawa amarah dalam
dadanya seakan meluap-luap.
“Kalau kalian tetap menggunakan ilmu siluman itu,” teriaknya keras kepada para
hwesio itu. “AwasI Aku tidak akan berlaku sungkan lagi Aku akan mengambil tindakan
tegas Aku akan membunuh bocah ini kemudian merusak kitabnya, Aku ingin tahu, apa
yang dapat kalian lakukan”
Ternyata ancaman itu berhasil. Para hwesio itu langsung berhenti mengeluarkan
suara pujiannya.
“Ay Cun cia,” terdengar suara Teng Kong bertanya, “Apa yang kau inginkan agar kau
mau melepaskan bocah itu dan mengembalikan kitabnya?”
“Asal kalian berjanji tidak mengganggu aku lagi aku segera melepaskan bocah ini,”
sahut Ay Cun cia. “Tetapi mengenai kitabnya, maaf, aku tidak bisa mengembalikannya”
Para hwesio itu membungkam, Tentu mereks sedang berpikir keras.
Ay Cun cia kembali menotok jalan darah Siai Po dan Song Ji, kemudian dia melihat
ke sekitarnya yang sunyi sekali, Dia ingin mencari jalan untuk meloloskan diri, justru
pada saat itulah tampak ke delapan hwesio itu berjalan mendekai tempatnya. Lima
orang hwesio memisahkan dirinya di sebelah kiri, lima lainnya di kanan, mereka
mengambil sikap mengepung.
Melihat hal itu, Ay Cun cia jadi mendongkol sekali.
“Kalau kalian berani, mari kita bertarung satu lawan satu” teriaknya, “Dengan satu
per satu, kalian boleh menguji kepandaianku sekalipun kalian menghadapi aku secara
bergiliran, aku tidak takut”
Teng Kong merangkapkan kedua tangannya.
“Maafkan kami” katanya, “Maaf kalau sikap kami kurang hormati Kami akan maju
bersama-sama.”

Ay Cun cia mengangkat kaki kirinya untuk dijejakkan di atas kepala Siau Po.
Kemudian dia mendengus dingin, “Hm Hm” Dia bermaksud memperingatkan, asal
hwesio itu maju lagi, terlebih dahulu dia akan membunuh Siau Po.
Siau Po tercekat hatinya dan cemas ketika mencium bau busuk dari sepatu tosu itu,
Tiba-tiba saja pikirannya menjadi gelap sehingga dia tidak tahu bagaimana harus
menyelamatkan diri, Totokan tosu itu membuatnya tidak bisa berkutik.
Song ji juga tidak berdaya, Bersama-sama kong-cunya, dia memperhatikan Ay Cun
cia yang sedang mengawasi para hwesio dengan tatapan tajam, Semuanya berdiam diri
untuk memutar otaknya,
Mata Siau Po jelalatan di sekitar pendopo. Dia ingin mencari sesuatu yang dapat
digunakan untuk mengalihkan perhatian tosu dan dengan demikian para hwesio itu
dapat maju serentak menolongnya, Dia sengaja menghindarkan diri dari tatapan tosu
yang tajam.
Tapi, karena kaki tosu itu ada di atas kepalanya, Siau Po tidak leluasa melihat ke
sekitarnya kecuali keluar justru pada saat itulah dia melihat sebuah batu besar
berbentuk kura-kura di luar kuil, Di punggung arca kura-kura itu terdapat sebuah batu
lainnya yang penuh dengan ukiran huruf, Selain itu, dia tidak bisa melihat apa-apa lagi,
Tapi dasar otaknya memang cerdas, batu itu saja sudah cukup baginya untuk
memikirkan sebuah akal.
“Eh, Ay suhu” demikian katanya, “Kau lihat ayahmu tengah mendekam di halaman
dengan punggungnya menggendong sebongkah batu besar yang beratnya mungkin
mencapai ribuan kati, Tidakkah dia terlalu capek? Kalau kau tidak cepat-cepat
menolongnya, kau sungguh anak yang tida berbakti”
“Apa yang kau maksudkan dengan ayahmu mendekam di halaman luar?” bentak
tosu itu. “Janga ngoceh sembarangan”
Siau Po tidak memperdulikannya, dia hanya bertanya.
“Kitab Si Cap Ji Cin Keng terdiri dari delapan jilid, kau hanya mendapatkan satu,
masih sisa tujuh lainnya. Apa gunanya kalau hanya memiliki satu jilid saja?”
“Di mana tujuh jilid lainnya?” tanya tosu itu segera. “Apakah kau mengetahuinya?”
“Tentu saja aku tahu,” sahut Siau Po kalem.
“Di mana tempatnya?” tanya tosu itu dengan nada mendesak “Lekas beritahukan
kepadaku, kalau tidak aku akan menginjak batok kepalamu biar jadi bubur”
“Tadinya aku tidak tahu,” sahut Siau Po. “Baru saja aku mengetahuinya.”
“Baru saja kau mengetahuinya?” tanya si tosu bingung. “Apa maksudmu?”

Di punggung arca kura-kura itu terdapat banyak ukiran hurufnya. Siau Po tidak tahu
apa bunyinya, sebab dia buta huruf, karena itu dia pura-pura membaca dengan
perlahan-lahan.
“Kitab Si Cap Ji Cin keng semuanya terdiri dari delapan jilid, Kitab yang pertama
terletak di propinsi Ho Lam, entah di kuil apa atau gunung apa, sebab ada beberapa
huruf yang tidak aku kenal….”
“Huruf-huruf mana?” tanya Ay Cun cia yang ikut memperhatikan punggung kura-kura
itu, “Toh semua tulisannya jelas sekali..?”
Siau Po tidak menjawab pertanyaannya, dia masih memperhatikan punggung kurakura
itu dengan seksama.
“Kitab yang kedua terletak di propinsi Sho Say di gunung Pit Ki san,” kembali dia
pura-pura membaca. “Entah dalam wihara apa…. Suhu, dua huruf itu aku tidak kenal,
ukirannya pun samar-samar Kepandaianmu tinggi dan kau pun berpendidikan tinggi,
coba kau ke sana melihatnya sendiri…”
Ay Cun cia percaya dengan kata-kata Siau Po Dia mengangkat tubuh bocah itu dan
dibawanya ke dekat batu kura-kura itu. Tetapi huruf yang terukir di batu itu adalah huruf
Toan Ji. Dia sendiri tidak mengerti huruf model itu.
“Kitab yang ketiga terletak di propinsi Su Coan wilayah kota Seng Tou, tapi apa nama
gunungnya aku tidak tahu, Aku tidak kenal huruf-huruf itu… kata Siau Po yang
melanjutkan bacaannya.
Memang Ay Cun cia pernah mendengar tentang kitab Si Cap Ji Cin Keng yang terdiri
dari delapan jilid, Dan ke delapan jilid kitab itu harus disatukan baru ada gunanya, tetapi
di mana adanya kitab-kitab tersebut, dia sama sekali tidak tahu, itulah sebabnya dia
percaya dengan ocehan Siau Po. Dia segera menggeser kakinya dari kepala si bocah
dan membangunkannya.
“Di mana

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s