“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 48

merampas toya
hwesio itu.
Heng Tian tidak berdaya lagi, Perlahan-tahan tubuhnya terkuIai, bahkan sebelah
kakinya menindih toyanya sendiri, sebab sulit bagi Song Ji memeganginya terusterusan.
Tepat pada saat itulah, Siau Po menghambur ke depan pintu untuk
menyingkirkannya dan masuk ke dalam,
Seluruh ruangan itu gelap gulita, meskipun demikian, samar-samar tampak sesosok
bayangan yang sedang duduk bersila, Siau Po merasa yakin bahwa orang itulah si raja
tua Sun Ti yang telah menjadi hwesio dan mengganti namanya menjadi Heng Ti. Dia
segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan hwesio itu dan menyembah kepadanya
sambil berkata.

“Lo ongya, budakmu ini bernama Wi Siau Po. Orang yang tadi siang menolong Lo
hongya dari ancaman maut, Oleh karena itu, harap Lo hongya tidak terkejut melihatku”
Siau Po bersikap sopan sekali Dia menyebut hwesio tua itu dengan panggilan Lo
hongya atau si raja tua.
Heng Ti diam saja, Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, Siau Po tetap
bersabuk. Dia berkata kembali.
“Lo hongya bersemedi di sini, memang bagus sekali ini merupakan tempat suci dan
tenang, Tetapi di luar sana banyak orang jahat, mereka ingin menawan Lo hongya,
Mereka akan melakukan sesuatu yang merugikan Lo hongya, Karena itu, budakmu ini
bermaksud melindungi Lo hongya, agar Lo hongya dapat pindah ke suatu tempat yang
aman, Dengan demikian orang-orang jahat itu tidak dapat menemukan Lo hongya atau
pun menawan Lo hongya lagi.”
Hwesio itu masih berdiam diri saja, “Lo hongya, sudilah kiranya Lo hongya berangkat
bersama-sama budakmu ini” kata Siau Po kembali.
Heng Ti masih berdiam diri. Tidak sepatah kata pun ke luar dari mulutnya, Siau Po
memperhatikan hwesio itu lekat-lekat Dia melihat hwesio itu duduk bersila dan gayanya
persis dengan Giok Lim taysu, Dia tidak bisa menduga apakah hwesio itu pura-pura tuli
atau memang sudah kosong pikirannya .
Setelah menunggu sekian lama dan belum terlihat hasil apa-apa, Siau Po berkata
kembali.
“Lo hongya, rahasia Lo hongya telah terbuka, Tidak ada seorangpun dalam kuil Ceng
Liang si ini yang dapat melindungi Lo hongya. sedangkan pihak musuh, setelah
rombongan yang pertama pergi, pasti datang lagi rombongan yang kedua. Demikianlah
seterusnya dan akhirnya, Lo hongya Karena itu sebaiknya Lo hongya pindah semedi di
tempat lain saja”
Heng Ti masih tetap membungkam.
Tiba-tiba, Heng Tian yang ditotok oleh Song Ji membuka suaranya,
“Kalian berdua masih kanak-kanak, kalian adalah orang baik-baik.” katanya, “Tadi
siang kalian sudah menolong aku. Tentang suhengku ini, dia sedang melakukan apa
yang dinamakan semedi Ko Sian, karenanya dia tidak boleh berbicara dengan siapa
pun, Ke mana kalian hendak membawanya pergi?”
“Kemana pun boleh, asal tempat yang disuka oleh suhengmu ini” sahut Siau Po
cepat “Kau akan mengantarkannya. Asal tempat itu aman dan tidak terjangkau oleh
orang-orang jahat, Dengan demikian beliau bisa melanjutkan semedinya dengan
tenang, kalian pun bisa membaca doa sesuka hati.”

“Kami berdua bukan membaca doa” sahut Heng Ti menjelaskan
“Baik, bukan baca doa, ya bukan baca doa” kata Siau Po yang kemudian berkata
kepada Song Ji. “Lekas kau bebaskan totokan taysu ini”
Song Ji menurut Dia segera menepuk punggung Heng Tian beberapa kali, Dengan
demikian totokannya pun terbebas, Dia dapat menggerakkan seluruh tubuhnya Iagi.
Heng Tian tidak lalu bersikap keras atau garang. Dia memberi tempat kepada kaisar
Sun Ti.
“Suheng, kedua bocah ini meminta kita berdua meninggalkan tempat itu untuk
sementara”
“Tapi, suhu tidak menyuruh kita meninggalkan Ceng Liang si.” sahut Heng Ti
menjawab ucapan adik seperguruannya, padahal ketika Siau Po menyapa nya berulang
kali, dia malah diam saja,
Baru sekarang Siau Po berhasil mendengar suara Heng Ti yang jelas dan terang.
“Bukannya begitu.” kata Heng Tian, “Kalau musuh datang kembali dengan jumlah
yang lebih banyak, kedua bocah ini pasti tidak bisa melindungi kita lagi.”
“Suasana itu muncul dari dalam hati.” kata Heng Ti. “Bicara tentang bencana,
bencana itu bisa timbul dimana pun juga. Asal hati merasa tenang, dimana pun kita
berada, kita akan memperoleh ketenangan.”
Heng Tian jadi tertegun mendengar kata-katanya. “Apa yang dikatakan suheng benar
juga.” katanya kemudian, Kemudian dia menoleh kepada Siau Po dan Song Ji. “Suheng
tidak mau pergi. Kalian sudah mendengarnya sendiri….”
Sepasang alis Siau Po menjungkit ke atas.
“Bagaimana kalau musuh-musuh jahat itu datang kembali lalu mereka menawan
kalian dan menyiksa kalian berdua? Apa yang dapat kalian lakukan saat itu?”
“Manusia di dalam dunia ini, tidak ada yang tidak mati.” sahut Heng Tian, “Hidup
lebih lama beberapa tahun atau kurang beberapa tahun, tidak ada perbedaannya.”
“Kalau begitu, semua juga tidak ada perbedaannya.” kata Siau Po yang mulai kesal.
“Tidak ada perbedaan antara orang hidup dan orang mati, Orang laki-laki dan orang
perempuan juga sama saja, Kalau begitu, apakah tidak ada perbedaan apa-apa antara
hwesio, kura-kura atau ayam?”
“Semua makhluk di dunia ini sama, tidak ada yang berbeda dimata Sang Buddha.”
sahut Heng Tian.

Siau Po berdiam diri, Dalam hatinya dia ber-kata.
“Pantas mereka mendapat gelar yang aneh. Yang satu disebut Heng Ti, si dungu dan
satunya lagi Heng Tian, si edan, Mereka memang dungu, toloI, gila sekaligus edan,
Karena itu, rasanya tidak mungkin memaksakan kehendak pada diri kedua orang ini.
Kalau Heng Ti ditotok sehingga tidak berdaya, kemudian dibawa pergi, perbuatan ini
sungguh tidak sopan, lagipula mudah dipergoki orang…”
Siau Po menjadi kebingungan dan habis kesabarannya, Dengan sengit dia berkata.
“Kalau semua tidak ada perbedaannya, berarti Hou Kong Honghou dan Toan Keng
Hong hou juga sama saja, buat apa menyucikan diri menjadi pendeta?”
Tiba-tiba Heng Ti melonjak bangun.
“Kau… apa yang kau katakan barusan?” tanyanya dengan suara bergetar.
Setelah mengeluarkan kata-kata itu, Siau Po menjadi menyesal. Ketika ditanyakan
oleh Heng Ti, dia segera menjatuhkan dirinya berlutut dan menjawab.
“Hamba hanya mengoceh sembarangan harap Lo hongya tidak menjadi gusar….”
Memang benar, saking sengitnya Siau Po menyebut nama kedua permaisuri raja tua
itu,
“Segala yang telah berlalu, sejak lama aku sudah melupakannya.” kata Heng Ti,
“LagipuIa, mengapa kau memanggil aku dengan sebutan seperti itu? Lekas kau
bangun, ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu”
“lya,” sahut Siau Po yang langsung bangkit, Di dalam hatinya, diam-diam dia merasa
senang, Akhirnya kau kena diakali juga dan bersedia bicara, Mungkin aku akan
berhasil…
“Dari mana kau mendengar tentang kedua permaisuri itu?” tanya Heng Ti.
“Budak mendengarnya dari pembicaraan antara Hay Tay Hu dan Thay hou.” sahut
Siau Po.
“Oh, kau kenal dengan Hay Tay Hu?” tanya mantan raja itu, “Bagaimana keadaannya
sekarang?”
“Dia telah dibunuh oleh Hong Thay hou.” sahut Siau Po.
“Apa? Dia telah mati?” seru Heng Ti saking terkejutnya.
“Dengan pukulan Hoa Kut Bian Ciang, Thay hou telah membinasakannya.” sahut
Siau Po dengan nada yang jelas.

“Bagaimana kau bisa tahu Hong thay hou mengerti ilmu silat?” tanya Heng Ti dengan
perasaan heran.
“Hay Tay Hu dan Hong Thay Hou bertarung di dalam taman bunga Cu Leng kiong,
ketika itu budakmu menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.” sahut Siau Po terus
terang.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya mantan raja itu kembali.
“Hamba adalah Gi ri suwi Hu Congkoan, Wi Siau Po.” sahut si bocah tanpa menutupi
lagi, Rupanya dia merasa kata-katanya itu perlu didukung bukti yang cukup kuat,
Karena itu dia segera mengeluarkan surat yang ditulis oleh kaisar Kong Hi. “Pangkat itu
dianugerahkan oleh Sri Baginda yang sekarang, Di sini pun ada sepucuk surat yang
ditulis Sri Baginda sendiri.”
Siau Po menyodorkan surat itu, Heng Ti hanya berdiri terpaku, Dia tidak menyambut
surat yang disodorkan Siau Po.
“Di sini selamanya tidak ada penerangan.” kata Heng Tian mewakili suhengnya
menjawab.
Heng Ti menarik nafas panjang, Kemudian dia baru bertanya.
“Bagaimana keadaan si raja kecil, apakah dia baik-baik saja? Senangkah dia menjadi
raja?”
Siau Po menjawab dengan cepat.
“Ketika Sri Baginda mengetahui Lo hongya masih hidup, dia menyesali dirinya yang
tidak mempunyai sayap agar bisa terbang ke mari secepatnya, Di dalam istana, Sri
Baginda menangis menggerung-gerung, tetapi di samping kesedihannya, dia juga
merasa gembira, Sri Baginda langsung mengatakan bahwa dia akan datang ke Ngo Tay
san ini, namun akhirnya dia membatalkan niatnya karena khawatir urusan pemerintahan
jadi berantakan apabila ditinggalkan oleh beliau, itulah sebabnya Sri Baginda mengutus
budakmu ini datang terlebih dahulu untuk menjenguk dan menanyakan kesehatan Lo
hongya, Nanti, sekembalinya budakmu ke istana, Sri Baginda sendiri yang akan datang
ke mari.”
“Dia… dia tidak perlu datang” kata Heng Ti dengan suara bergetar “Dia seorang raja
yang bijaksana, yang dapat mendahulukan kepentingan negara. Tidak seperti aku,.,.”
Sampai di sini, si raja tua menangis terisak-isak, Air matanya mengalir dengan deras
sehingga jubahnya basah kuyup.
Mendengar suara tangisan itu, tanpa sadar Song Ji juga mengalirkan airmata,
Rupanya dia teringat akan kedua orang tuanya dan dirinya yang sudah sebatang kara.

Siau Po merasa kesempatan yang baik itu tidak boleh disia-siakan Bukankah hati si
raja tua ini sedang tergugah? Karena itu, dia segera berkata lagi.
“Hay Tay Hu telah mengadakan penyelidikan yang jelas, Mula-mula Hong thayhou
menganiaya pangeran Eng Cin Ong sampai mati, Kemudian dia membunuh Toan Keng
Honghu dan dia juga membunuh adiknya yakni selir Ceng Hui. Ketika Hong Thayhou
mengetahui rahasia telah bocor, dia membunuh Hay Tay Hu sekalian. Terakhir dia
mengirim orang-orangnya dalam jumlah yang banyak ke Ngo Tay san ini untuk
mencelakai Lo hongya.”
“Aih, bicaramu berlebihan..” kata Heng Ti sembari menarik nafas panjang, “Sudah
terang Toan Keng Honghou mati karena sakit, mengapa kau mengatakan Hau Kong
Honghou yang membunuhnya?”
Siau Po tidak mau kalah bicara.
“Kalau seseorang mati sakit, seluruh tubuhnya tentu akan lurus tanpa cacad sedikit
pun.” katanya, “Tidak mungkin tulang belulang di tubuhnya patah dan uratnya putus.”
Mendengar kata-kata si bocah, Heng Ti membayangkan kembali saat kematian
permaisurinya, Ketika itu jari-jemari tangan Toan Keng Hongho tidak dapat digerakkan
Bahkan ketika dia memondongnya, tubuh itu lemas sekali seperti tidak bertulang.
Tadinya, dia mempunyai dugaan, hal ini terjadi karena penyakit yang diderita
permaisurinya terlalu parah. Sekarang, setelah mendengar keterangan Siau Po, hatinya
tercekat. Dia teringat saat-saat yang telah berlalu itu.
Tanpa terasa, keringat dingin membasahi keningnya.
“Ya, ya… rasanya memang tidak wajar.” katanya lirih.
Siau Po menuturkan kembali pembicaraan antara Hay Tay Hu dan Thay hou yang
didengarnya malam itu, Dia memang pandai bicara, ceritanya menjadi jelas dan
menarik, Kata-katanya meresap dalam hati si raja tua yang sudah menjadi hwesio itu.
Kaisar Sun Ti sangat menyayangi Teng gok hui. Setelah selirnya itu menutup mata,
dia tidak sudi lagi menjadi raja, ia meninggalkan kedudukannya yang maha mulia untuk
pergi mengasingkan diri dalam ruang yang sunyi senyap serta menjalani hidup dalam
kesengsaraan
Meskipun sedang bersemedi bayangan Teng Gok hui masih sering hadir di dalam
pelupuk matanya, Sekarang, setelah mendengar cerita Siau Po, dia sampai lupa bahwa
dirinya saat ini sudah menjadi biku, Dia merasa sedih serta penasaran, nafasnya jadi
sesak membayang kan Hay Tay Hu dan Thay hou.
Selesai bercerita, Siau Po menambahkan.

“Hong Thay hou ternyata tidak mau bekerja kepalang tanggung, setelah mencelakai
Lo hongya, dia juga berniat membinasakan Sri Baginda, bahkan dia juga bermaksud
membongkar kuburan Toan Keng honghou, Dia ingin membakar sampai musnah buku
Toan Keng Honghou yang menurutnya isi di dalamnya hanya segala angin busuk, Dia
telah mengeluarkan ancaman, barang siapa yang menyimpan buku itu, selain akan
disita, seluruh keluarganya pun akan dijatuhi hukuman mati.”
Kata-kata Siau Po yang belakangan hanya karangan belaka tapi justru menikam hati
mantan kaisar Sun Ti. Raja yang telah menjadi hwesio itu langsung dilanda kegusaran
yang tidak terkatakan. Sambil menepuk pahanya keras-keras, dia berseru.
“Oh, perempuan hina itu Seharusnya.,, aku… aku pecat dia sejak dulu Tidak
disangka, karena kebimbangan sesaat, akibatnya jadi begini….”
Dulu, Kaisar Sun Ti memang mempunyai pikiran untuk memecat permaisuri dan
mengangkat Teng Gok hui selir kesayangannya sebagai penggantinya, Tapi
keinginannya selalu ditentang oleh Hong Thay hou. seandainya Teng Gok Hui tidak
menutup mata, mungkin sekarang dialah yang menjadi permaisuri
Siau Po melanjutkan kembali kata-katanya.
“Hati Lo hongya telah tawar sehingga memilih kehidupan seperti sekarang ini,
mungkin bagi Lo hongya sekarang, mati atau hidup tidaklah ada perbedaannya, Namun,
tidak demikian halnya dengan Sri Baginda yang masih muda, Kuburan Toan Keng
honghou tidak boleh di rusak dan buku catatannya sama sekali tidak boleh
dimusnahkan”
“Benar Apa yang kau katakan memang benar,” sahut Heng Ti yang sudah terkena
pengaruh cerita si bocah.
“Oleh karena itu, Lo Hongya, sudah seharusnya Lo Hongya berlalu dari tempat ini
untuk menyelamatkan diri, Lo hongya harus menyingkir dari tangan jahat Thay hou,”
kata Siau Po kembali “Rencana Hong thay hou yang pertama adalah menyingkirkan Lo
hongya, kemudian Sri Baginda yang masih muda, Dan yang terakhir adalah
membongkar kuburan Toan Keng honghou, Asal rencananya yang pertama mengalami
kegagalan, dia pasti tidak berani mewujudkan rencananya yang lain lagi.”
Mendengar sampai di sini, habis sudah kesadaran pikiran mantan Kaisar Sun Ti.
“Untung ada engkau,” katanya pada si bocah. “Kalau tidak, semua bisa celaka. Adik,
mari kita pergi”
“Baik.” sahut Heng Tian. Tangan kanannya mencekal senjatanya yang berat,
sedangkan tangan kirinya menolak daun pintu,
Begitu daun pintu terbentang, tampak seorang hwesio berdiri menghadang jalan ke
luar itu.

“Siapa?” tegur Heng Tian sebelum sempat melihat wajah orang itu. Malah senjatanya
sudah diangkat dan siap digerakkan
“Mau ke mana kalian?” tanya hwesio itu tanpa memperdulikan teguran Heng Tian,
Heng Tian terkejut.
“Oh, suhu” serunya tertahan Dia segera melemparkan senjatanya dan
merangkapkan sepasang tangannya untuk memberi hormat.
“Suhu” Heng Ti juga segera menyapa hwesio itu yang ternyata Giok Lim taysu.
“Aku sudah mendengar semua pembicaraan kalian,” katanya dengan nada sabar.
— oh, celaka –, gerutu Siau Po yang merasa menyesal
“Urusan penasaran dalam dunia ini harus dipecahkan dengan kesabaran, semuanya
harus dihilangkan dan dilupakan,” kata Giok Lim taysu kembali “Menyingkir bukan jalan
ke luar yang sempurna, Ada sebab, pasti ada akibat, Sekali dosa sudah menyertai
tubuh kita, maka seluruh yang ada dalam diri kita merupakan dosa.”
Heng Ti menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan Giok Lim taysu,
“Suhu benar, tecu (murid) sudah mengerti sekarang.” katanya.
“Mungkin masih belum mengerti sekali,” kata Giok Lim taysu, “Kalau bekas istrimu itu
datang mencarimu, biarkanlah dia datang. Sang Buddha kita maha Pengasih, Beliau
dapat membawa pengikutnya ke tempat yang aman. Katanya dia masih penasaran
kepadamu, membencimu, bahkan ingin membunuhmu Kalau kau menyingkir dosa itu
tetap ada. Kalau kau mengutus orang membunuhnya, dosamu semakin berat.”
“lya, benar” sahut Heng Ti yang tubuhnya basah oleh keringat dingin.
– Ah Dasar bangsat gundul tidak tahu diri –maki Siau Po dalam hatinya, Dia merasa
panas sekali karena hwesio tua ini bermaksud menggagalkan usahanya, — Kalau aku
mencacimu, menghajarmu dan membunuhmu, apakah kau akan membiarkan nya ?
Apakah kau mengijinkan aku memenggal kepalamu yang gundul itu? —
Terdengar Giok Lim taysu berkata kembali
“Mengenai Ihama dari Tibet yang ingin menawanmu, berarti ia mencari dosa untuk
dirinya sendiri Dia ingin mencelakai rakyat jelata, dia ingin merampas dunia, Dalam hal
ini, kita memang tidak boleh membiarkan ia berbuat sesuka hatinya, sekarang ini, kalian
tidak bisa tinggal lebih lama lagi di sini sebaiknya kalian ikut aku ke kuil kecil di
belakang”

Selesai berkata, Giok Lim taysu langsung membalikkan tubuhnya lalu berjalan pergi
Heng Ti dan Heng Tian segera mengikuti di belakang gurunya, Siau Po yang hatinya
panas, langsung berpikir – Kalau usahaku ini sampai gagal, sekembalinya kerajaan
nanti, aku tidak bisa memberikan pertanggungjawaban kepada-sang raja cilik, percuma
aku dianugerahi baju Makwa kuning. sebaiknya aku ikut saja dengan mereka —
Siau Po mengajak Song Ji berjalan di belakang ketiga hwesio itu. setibanya di kuil
kecil yang dimaksudkan, Giok Lim taysu tetap tidak memperdulikan Siau Po dan Song
Ji. Malah seakan dia tidak melihat mereka berdua sama sekali. Hwesio itu langsung
duduk bersemedi dan Heng Ti pun mengikuti tindakannya itu.
Heng Tian melihat ke sekitarnya, dia mencari alas duduk untuk bersemedi tetapi dia
tidak berhasil menemukan satu pun. Terpaksa dia duduk bersemedi tanpa alas
disamping kakak seperguruan nya.
Kalau Giok Lim taysu bersemedi dengan memejamkan kedua matanya dan tanpa
bergeming sedikit pun, Heng Tian justru sempat celingak-celinguk ke sana ke mari, dan
menatap ke atas. Akhirnya dia baru memejamkan kedua matanya dan meletakkan
kedua tangannya di atas dengkul kakinya, namun sikapnya tetap tidak bisa khusuk
karena sesekali tangannya meraba senjata yang dikhawatirkan akan hilang.
Heng Ti sendiri duduk mematung seperti gurunya. Siau Po memberi isyarat kepada
Song Ji dengan gaya yang lucu, dia segera duduk bersila di dekat Heng Tian, Song ji
menuruti perbuatannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Watak Siau Po memang mirip si Raja kera Sun Go Kong yang tidak pernah biasa
diam. Duduk berdiam diri terlalu lama merupakan siksaan yang tak terkatakan baginya,
Mungkin lebih menderita dari pada kehilangan jiwanya sekali pun, Dia juga bingung
menghadapi perubahan sikap Heng Ti yang dipengaruhi gurunya itu, Setelah duduk
berdiam diri sekian lama, akhirnya dia menoleh ke sana ke mari, lalu menarik telapak
tangan Song Ji dan digelitikinya.
Song Ji kegelian, tapi gadis itu berusaha untuk menahan dirinya agar jangan sampai
tertawa.
Sementara itu, Siau Po berpikir kembali dalam hatinya.
— Tampaknya Heng Ti sudah berniat mengikuti ucapan gurunya, bagaimana baiknya
sekarang? sebaiknya aku tunggu terus, masa hwesio tua itu tidak ingin membuang air
kecil atau air besar? Asal dia pergi, aku akan membujuk Heng Ti agar melarikan diri dari
tempat ini….
Dengan membawa pikiran demikian, Siau Po menguarkan hatinya untuk duduk terus
bersama yang lainnya.
Ruangan itu sejak semula tetap sunyi senyap, Tidak lama kemudian terdengar suara
derap langkah kaki sedang mendatangi. Bahkan semakin lama suara itu semakin jelas,

Kalau ditilik dari suaranya, jumlah orang yang datang itu tidak sedikit dan tujuannya
sudah pasti kuil Ceng Liang si.
Rupanya Heng Tian juga sudah mendengar suara itu. Dia segera menyambar
senjatanya dan mementangkan matanya lebar-lebar untuk mengawasi keadaan di luar
kuil kecil itu.
Tampak Giok Lim taysu, si hwesio tua itu masih duduk bersemedi tanpa bergerak
sedikit pun. Ketika Heng Tian melihat sikap gurunya itu, dia segera meletakkan
senjatanya kembali dan duduk bersemedi dengan mata terpejam.
Sementara itu, Siau Po juga sudah mendengar suara gemuruh langkah kaki orangorang
berlarian ke sana ke mari, Rupanya orang-orang itu sedang mencari sesuatu,
Mungkin karena tidak berhasil menemukan apa yang dicarinya, sampai sekian lama
suara itu masih terdengar juga.
— jelas mereka datang ke kuil Ceng Liang si ini untuk mencari Lo hongya – pikirnya,
Kalau mereka tidak berhasil menemukannya dimana-mana, akhirnya mereka pasti
mencari ke tempat ini juga, Baiklah, bangsat tua berkepala gunduI Aku ingin lihat
bagaimana caramu menghadapi orang itu nanti –
Keadaan di kuil itu masih demikian mencekam, Giok Lim taysu masih bersemedi
dengan tenang, Beberapa saat kemudian, suara berisik itu tidak terdengar lagi, Hanya
terdengar langkah kaki orang-orang yang mendatangi kuil kecil itu, Bahkan dalam
sekejap mata, mereka pun sudah sampai.
“Geledah kuil itu” terdengar seseorang berteriak dengan suara lantang.
Heng Tian langsung melompat bangun, Dia menyambar senjatanya kemudian
menghambur ke depan pintu kuil serta berdiri tegak di tengah-tengahnya dengan sikap
menghadang.
Siau Po juga langsung berdiri, lalu berlari ke jendela untuk melihat ke luar. Di bawah
cahaya rembulan tampak segerombolan orang yang seakan hanya bagian kepalanya
yang terlihat jelas, Bocah tanggung itu menoleh kepada Giok Lim taysu, Tampak
Hwesio tua itu bersama Heng Ti tetap duduk tanpa bergeming sedikitpun.
“Bagaimana sekarang?” Tanya Song Ji kepada tuan mudanya, Gadis itu juga ikut
pergi ke bawah jendela.
“Kita tunggu sampai gerombolan itu menyerbu masuk,” kata Siau Po. ucapannya lirih
sekali, “Setelah itu kita tolong si Raja tua dan kita bawa lari lewat pintu belakang.”
Song Ji menganggukkan kepalanya, Siau Po melanjutkan kembali kata-katanya.
“Kau ingat, apabila sebentar lagi kita terpaksa berpisah, nanti kita harus berkumpul
lagi di kuil Leng Keng si.”

Kembali Song Ji mengganggukkan kepalanya,
“Tapi… aku khawatir tidak kuat menggendong si Raja tua terlalu lama,” katanya,
“Kalau keadaannya terpaksa sekali, kau seret saja.,.” kata Siau Po.
Tepat pada saat itulah di luar kuil terdengar suara yang berisik.
“Hai, siapa itu yang bergerak sembarangan?”
“Bekuk dia”
“Jangan biarkan dia lolos”
“Celaka Cepat tangkap”
Kemudian Siau Po melihat dua sosok bayangan yang berkelebat melewati Heng Tian
dan terus menerobos ke dalam kuil, setibanya di dalam, mereka segera memberi
hormat kepada Giok Lim taysu lalu duduk bersemedi di sampingnya.
Ternyata mereka dua orang hwesio berjubah abu-abu. Anehnya, meskipun ada Heng
Tian yang tubuhnya begitu tinggi besar, kedua hwesio itu bisa menyusup masuk tanpa
menemui kesulitan apa-apa.
Tiba-tiba di luar kuil terdengar lagi suara teriakan
“Ada lagi orang yang datang”
“Halangi”
“Cepat bekuk”
“Buk Buk” Yang terdengar belakangan ini adalah suara tubuh orang yang terbanting
di atas tanah.
Setelah itu, kembali tampak dua sosok berjubah abu-abu menerobos memasuki kuil
seperti kedua orang yang pertama, mereka juga memberi hormat kepada Giok Lim
taysu lalu duduk bersila di sudut ruangan.
Sejak awal hingga akhir tidak terdengar seorang pun dari mereka yang membuka
muIutnya.
Lalu, setiap kali terdengar suara bentakan yang berisik, pasti ada pasangan hwesio
yang menerobos memasuki kuil dan meniru tindakan keempat orang hwesio yang
pertama. Dengan demikian, ruang yang kecil itu menjadi sempit pasangan hwesio yang
menerobos ke dalam sudah mencapai pasangan ke sembilan jadi jumlah semuanya
ada delapan belas orang hwesio.

Siau Po segera mengenali, salah satu dari para hwesio itu justru Teng Kong, kepala
hwesio di Ceng Liang si. Diam-diam dia menjadi heran juga gembira. Hatinya agak lega,
dan kagum melihat kepandaian para hwesio tersebut.
Kalau tujuh belas hwesio yang lainnya mempunyai kepandaian yang setaraf dengan
Teng Kong saja, biarpun musuh berjumlah lebih banyak lagi, rasanya tidak perlu
dikhawatirkan — pikirnya.
Di luar kuil itu, gerombolan tadi kembali menimbulkan suara yang gaduh, tetapi tidak
seorang pun yang berani menerobos ke dalamnya, Mereka hanya berkaok-kaok di luar.
Setelah lewat sekian lama, dari luar terdengar suara seseorang yang dapat
dipastikan orangnya sudah berusia lanjut dan berbeda dengan suara-suara yang
berkaok-kaok sebelumnya.
“Pihak Siau Lim Sie bersikeras hendak membela kuil Ceng Liang si. Apakah hal ini
berarti Siau Lim Pai juga bersedia memikul segala tanggung jawabnya?”
Dari dalam kuil tidak terdengar suara sahutan. Sesaat kemudian, terdengar si orang
tua berkata kembali.
“Baiklah, Hari ini kami memandang muka terangnya Cap Pek Lohan dari Siau Lim
Sie. Nah Mari kita pergi”
Gemuruh suara diluar menyusul ucapan si orang tua, tetapi hanya sebentar saja,
kemudian suasana menjadi hening kembali Ternyata mereka benar-benar pergi.
Sementara itu, secara diam-diam Siau Po memperhatikan ke delapan belas hwesio
yang disebut Cap Pek Lohan (delapan belas Lo han) dari Siau Lim Sie oleh orang tua
tadi, Hwesio yang tertua berusia sekitar tujuh atau delapan puluh tahun, Dan yang
termuda berusia kurang lebih dua puluhan tahun, Tinggi pendek tubuh mereka tidak
sama, demikian pula gemuk atau kurusnya. Wajah mereka pun ada yang buruk dan ada
yang tampan, jubah mereka agak melembung menandakan bahwa mereka membekal
senjata masing-masing.
Orang tua tadi menyebut mereka delapan belas lohan, tentunya Teng Kong termasuk
salah satu anggota lohan tersebut – pikir Siau Po kembali — Giok Liam taysu, si keledai
gundul merasa yakin akan keselamatan Heng Ti. Dia mengandalkan delapan belas
Lohan ini. Rupanya sejak semula dia sudah mengadakan perjanjian dengan pihak Siau
Limsi, Entah sampai kapan mereka akan duduk bersemedi seperti itu? Masa aku harus
mengikuti cara-cara mereka? —
Dengan membawa pikiran demikian, Siau Po segera bangkit dan menghampiri Heng
Ti. Dia memberi hormat dengan menekuk kedua lututnya.

“Lo suhu, di sini ada Cap Pek Lohan yang menjaga keselamatan Lo suhu, Aku yakin
Lo suhu akan baik-baik saja, Karenanya, sekarang aku hendak memohon diri. Apakah
Lo suhu mempunyai pesan sesuatu?”
Heng Ti membuka kedua matanya, Dia tersenyum.
“Aku sudah merepotkan dirimu,” katanya, “Pulanglah kau ke kerajaan dan sampaikan
pada majikanmu bahwa dia tidak perlu datang ke Gunung Ngo Tay san ini karena
hanya akan mengganggu ketenanganku saja. seandainya dia berkeras hendak datang,
aku tetap tidak akan menemuinya. Harap kau sampaikan kepadanya, Untuk mencapai
keamanan dan ketenangan dalam suatu negara, ada beberapa patah kata yang harus
diingatnya baik-baik. Yakni “Jangan menambah pajak untuk selama-Iamanya. Kalau dia
dapat menuruti pesanku ini, berarti dia sudah berbakti kepadaku dan hatiku sudah tidak
kepalang gembiranya.”
“lya, baik,” sahut Siau Po singkat.
Heng Ti mengeluarkan sebuah kitab dari balik jubahnya,
“Di sini ada sejilid kitab,” katanya, “Serahkanlah pada majikanmu Katakan
kepadanya bahwa segala urusan di dunia ini sebaiknya biarkan berkembang dengan
wajar, jangan sekali-sekali dipaksakan. Paling bagus kalau kita bisa membuat rakyat
merasa damai dan sejahtera Dan, seandainya rakyat di seluruh negeri ini
menginginkan kepergian kita, sebaiknya kita pergi dan kembali ke tempat asal kita”
Sembari berkata Heng Ti menepuk bungkusannya perlahan-lahan.
Siau Po segera teringat apa yang pernah dikatakan oleh To Hong Eng.
— Mungkinkah isinya juga sejilid kitab Si Cap Ji Cin keng? Bibi To mengatakan
bahwa ketika bangsa Boan Ciu memasuki kota perbatasan, mereka selalu ingat jumlah
rakyatnya yang kecil sekali bila dibandingkan dengan bangsa Han yang jumlahnya
besar sekali Jadi, bangsa Bong Ciu belum tentu bisa menduduki Tiong goan untuk
selamanya. Apabila bangsa Bong Ciu berhasil diusir kembali ke Kwan gwa, kitab Si Cap
Ji Cin keng itu sangat diperlukan, karena di dalamnya tertera tempat penyimpanan harta
karun yang besar. Asal bisa mendapatkan kembali harta itu, bangsa Bong Ciu dapat
hidup sejahtera di negeri asalnya, – Dengan berpikir demikian, Siau Po segera
mengulurkan tangannya menyambut kitab tersebut
“Sekarang kau boleh pergi” kata Heng Ti setelah Siau Po menerima kitab yang
disodorkannya.
“Baik.” sahut Siau Po sambit menyembah kembali.
“Tidak berani aku menerima penghormatanmu ini” kata Heng Ti. “Sicu, silahkan
bangun”

Siau Po bangun kemudian membalikkan tubuhnya, Baru berjalan dua langkah, tibatiba
suatu ingatan melintas dalam benaknya, timbul sifat kekanak-kanakannya, sifat
yang nakal dan jahil. Dia segera berpaling kepada Giok Lim taysu.
“Lo hwesio” sapanya, “Kau sudah duduk bersila begitu lama, Apakah kau tidak ingin
membuang air kecil?”
Giok Lim taysu diam saja, Dia seakan tidak mendengar pertanyaan itu, Siau Po
merasa hwesio itu jenaka sekali. Dia melanjutkan langkah kakinya menuju pintu.
“Katakan juga kepada majikanmu,” tiba-tiba kembali terdengar suara Heng Ti.
“Apabila ibunya kembali melakukan kejahatan, seorang ibu untuk selamanya tetap
merupakan ibu. jangan sekali-sekali dia melanggar peraturan adat dan jangan sekalisekali
merasa penasaran atau menyesalinya”
“Baik” sahut Siau Po. Dalam hatinya dia justru meyakinkan dirinya sendiri — Pesan
seperti ini tidak mungkin aku sampaikan kepada Sri Baginda.
Sekembalinya ke Leng Keng si, Siau Po langsung masuk kamarnya, Mula-mula dia
mengunci pintu, kemudian membuka bungkusan yang diserahkan oleh Heng Ti.
Ternyata isinya memang kitab Si Cap Ji Cin keng.
Yang satu ini kain pembungkusnya berwarna kuning, Dia segera teringat keterangan
yang diberikan oleh To Hong Eng mengenai mantan kaisar tua itu. Tetapi dia
mendengar sendiri Heng Ti mengatakan “Apabila seluruh rakyat menginginkan
kepergian kita, maka kita harus pulang ke tempat asal dari mana kita datang”
Bangsa Boan Ciu berasal dari Kwan gwa, yakni Mancuria. Dari sana mereka
menyerbu Tiong goan dan mendudukinya, Apabila mereka pulang tentu tujuannya
Kwan gwa. Mantan kaisar itu menepuk-nepuk bungkusannya ketika mengucapkan
pesannya. Tentu dia ingin mengatakan bahwa setelah kembali ke Kwan gwa, bangsa
Boan ciu bisa mengandalkan kitabnya yang menyebutkan tempat penyimpanan harta
karun itu.
Siau Po berpikir pula dalam halinya, — Lo hongya menyuruh aku menyerahkan kitab
ini kepada Siau Hian cu. sekarang tinggal keputusanku sendiri, aku mau
menyerahkannya atau tidak? Di tanganku sudah ada enam jilid kitab Si Cap Ji Cin keng
ini, ditambah yang satu ini, jumlahnya jadi tujuh. Untuk melengkapkan keseluruhannya
yang berjumlah delapan, aku tinggal mencari satu lagi, Kalau kitab ini aku serahkan
kepada Siau Hian cu, maka ke enam jilid kitab yang ada padaku menjadi tidak berharga
lagi, Bukankah Lo hongya sendiri yang melarang Siau Hian cu datang ke Ngo tay san?
Bahkan dia mengatakan apabila Sri Baginda memaksa juga untuk datang, dia juga tidak
akan menemuinya, Dengan demikian, berarti sampai mati pun tidak ada saksi, bukan?
Bukankah kitab ini seakan diberikan secara suka rela kepadaku ? Maka, kalau aku tidak
menelannya sendiri, mungkin sikapku akan dicela oleh leluhur-leluhur keluarga Wi.”

Meskipun benaknya sudah berpikir panjang lebar, tapi hatinya masih dilanda
kebimbangan. Dia ingat perlakuan kaisar Kong Hi kepadanya sangat baik, dia disayang
serta dipercaya penuh. Dengan menelan kitab ini, bukankah dia seperti tidak
menghargai raja yang merupakan sahabatnya juga? perasaannya benar-benar tidak
tenang…
Tapi, otaknya kembali berputar untuk menenangkan hatinya yang bimbang.
– Hari ini, kalau aku tidak menyuruh Song Ji menolong si raja tua, pasti dia sudah
ditawan oleh para lhama dari Tibet dan dibawa pergi, Kalau hal itu sampai terjadi, kitab
itu pasti dibawa sekalian. Karena itu, perbuatanku mengambil kitab ini sama saja aku
boleh merampasnya dari tangan para lhama itu.
Dengan demikian, apa yang kulakukan tidak bisa dikatakan keterlaluan bukan? Boleh
juga dikatakan bahwa Lo hongya merasa berterima kasih kepadaku sehingga dia
menghadiahkan kitab ini untukku, Pantas, bukan? Lebih penting mana, jiwa atau sejilid
kitab?
Tentunya jiwa lebih penting seratus kali lipat dari pada sejilid kitab, Dengan
memberikan kitab ini saja, Lo hongya baru membalas budiku sebanyak seperseratus
bagian, Berarti dia masih berhutang padaku sebanyak sembilan puluh sembilan bagian.
Tentu saja kelak dia harus memikirkan cara untuk membalas budiku yang masih tersisa
banyak itu —
Setelah berpikir sampai sejauh ini, hati Siau Po baru lega, Karena itu, keesokan hari
nya, dia mengajak Song Ji dan Ie Pat turun gunung, Dalam perjalanan, hatinya
berbunga-bunga, Bukankah dia telah berhasil menemui kaisar Sun Ti bahkan
menyelamatkannya dari ancaman maut? Bukankah dia juga memperoleh kitab yang
berharga ini? Di pihak lain, tanpa disangka-sangka dia juga mendapat seorang
pembantu selihay dan secantik Song Ji serta menurut?
Mereka baru menempuh perjalanan sejauh sepuluh li. Saat itu mereka masih berada
di pegunungan dan tengah berjalan terus, tiba-tiba Siau Po melihat di depannya ada
seorang tosu yang bertubuh tinggi sekali sedang berjalan menghampirinya.
Tinggi tosu ini sangat luar biasa, hampir seimbang dengan Heng Tian, kecuali
tubuhnya yang kurus, Si pendeta kepala Teng Kong sudah terhitung kurus, tapi tosu ini
masih lebih kurus lagi, wajahnya demikian cekung seakan hanya terbungkus kulit tanpa
daging sedikit pun.
Kedua matanya dalam sekali sehingga mirip mayat hidup, sedangkan jubah yang
dikenakannya begitu besar sehingga tampangnya seperti gantungan baju.
Biar bagaimana, tercekat juga hati Siau Po melihat tampang tosu itu, dia sampai tidak
berani menatapnya, wajahnya sengaja dipalingkan ke arah yang lain. Dia juga jalan di
pinggiran dan membiarkan tosu itu melewatinya.

Bagian 37
Lalu, tibalah saat yang mendebarkan hati si bocah tanggung. Tepat di depan Siau
Po, tosu itu menghentikan langkah kakinya,
“Apakah kau baru datang dari Ceng Liang si?” Tiba-tiba tosu itu bertanya sambil
menatap Siau Po lekat-lekat.
“Bukan,” sahut Siau Po cepat “Kami datang dari Leng Keng si.” Apa yang
dikatakannya memang benar. Bukankah semalam dia menginap di Leng Keng si?
Sekonyong-konyong tosu itu mengulurkan tangannya untuk memegang bahu kiri
Siau Po lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat Dengan demikian mereka jadi berdiri
berhadapan dan tidak menyamping seperti sebelumnya.
“Apakah kau Siau Kui Cu, thay-kam dari kerajaan?” tanya tosu itu kembali, (Tosu
adalah pendeta agama To),
Hati Siau Po tercekat Apalagi dia merasa cekalan tangan si pendeta yang masih
memelihara rambutnya itu membuat seluruh tubuhnya menjadi lemas seakan tidak
mengandung tenaga sedikit pun.
“Kau ngaco” sahutnya dengan berani. sedangkan mimik wajahnya tidak
menunjukkan perubahan apa-apa. “Kau lihat sendiri, apakah tampangku ini mirip
seorang thay-kam? Aku Wi kongcu dari Yang-ciu.”
Tepat pada saat itu, Songji pun turut bicara.
“Lekas lepaskan tanganmu” tegurnya pada tosu itu, “Mengapa kau begitu tidak tahu
aturan terhadap kongcuku?”
Tosu itu mengulurkan tangannya yang satu lagi dengan maksud menekan bahu Song
Ji.
“Kalau mendengar dari nada suaramu, tampaknya kau juga seorang thay-kam cilik,”
katanya.
Song Ji menggeser tubuhnya sedikit, dengan demikian serangan tosu itu tidak
mengenai sasarannya. Di samping itu, dia sendiri mengulurkan tangannya untuk
menotok jalan darah Thian Hou di tubuh tosu tersebut Song Ji memang lihay sekali.
Sekali saja jari tangannya bergerak, tepat mengenai tubuh si tosu sehingga terdengar
suara Tukk

Tapi dalam waktu yang bersamaan pula, Song Ji mengeluarkan seruan tertahan,
sebab dia merasa jari tangannya seperti menotok lempengan besi yang keras, jari
tangannya sakit sekali serasa seperti mau patah.
Tepat pada saat dia mengeluarkan seruan tertahan itulah, bahunya pun terasa nyeri,
Sebab di luar dugaannya, tahu-tahu bahunya sudah kena dicengkeram oleh tosu itu.
Tangan yang jarinya panjang-panjang dan besarnya seperti kipas.
“Hm Hm” Tosu itu mendengus dingin, “Thay-kam cilik, usiamu masih muda, tapi
kepandaianmu sudah tinggi, Ya, kau sudah lihay sekali.”
Song Ji tidak menyahut, sebelah kakinya membentur benda yang keras dan sakitnya
tidak terkatakan.
“Thay-kam cilik, ilmu silatmu benar-benar hebat Benar-benar hebat” terdengar tosu
itu memuji kembali.
Song Ji merasa penasaran, hatinya panas sekali.
“Aku bukan thay-kam ciik” teriaknya marah. “Kaulah yang thay-kam cilik Aduh” Dia
menjerit lagi.
Tosu itu tertawa.
“Coba kau pandang aku Apakah aku mirip seorang thay-kam cilik?” tanyanya sambil
tertawa lagi.
“Lekas lepaskan cekatan tanganmu” bentak Song Ji. Dia tidak mau melayani tosu itu
berbicara, Meskipun Song Ji kesakitan tapi dia sama sekali tidak takut, “Kalau kau tidak
melepaskan cekalan tanganmu, waspadalah Aku akan mencaci maki dirimu”
Tosu itu tidak menghiraukan kata-kata Song Ji.
“Kau sudah menotok aku bahkan menendang tulang keringku, tapi aku toh tidak
takut, Masa sekarang aku harus takut mendengar caci makimu? ilmu silatmu lihay
sekali, tentunya kau orang dari istana, Aku harus menggeledah dirimu terlebih dahulu”
Song Ji memang berani, dia tidak mau kalah bicara.
“llmu silatmu lebih lihay dari aku, tentunya engkaulah orang dari istana” katanya
membalikkan kata-kata si tosu.
“Aih Thay-kam cilik” tegur si tosu. “Kenapa kau cerewet sekali?”
Selesai berkata, tosu itu naik ke atas gunung, Tangan kirinya mengangkat tubuh Siau
Po, sedangkan tangan kanannya menenteng si gadis yang bernyali besar. Langkah

kakinya ringan sekali, Dia tidak memperdulikan

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s