“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 47

besi.” sahut Bayan cepat, “Kalau kau
membacok aku satu kali saja, aku akan mati seketika.”

“Ah… belum tentu kau begitu gampang mati.” kata Siau Po kembali “Kalau baru
ditusuk dua tiga dim saja, masa kau bisa mati? Eh, Lhama besar, aku akan membacok
kepalamu satu kali saja, yakni dengan membeset kulitnya, aku ingin mengintip otakmu.
pernah aku dengar seseorang berkata, bahwa seorang lhama yang jujur, otaknya pasti
diam saja, Tidak ada denyutan sedikit pun. Sebaliknya, kalau lhama itu suka
berbohong, otaknya pasti akan bergolak terus, seperti air yang baru mendidih, Aku
hendak berbicara denganmu Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan Kalau aku tidak
melihat otakmu terlebih dahulu, aku mana tahu kau akan mengatakan yang sejujurnya
atau tidak?”
“Jangan kupas kulit kepalaku” teriak Bayan, “Aku akan berbicara terus terang
kepadamu.”
Kembali Siau Po mengusap-usap kepala Bayan, malah mengetuknya perlahanlahan.
“Habis, mana mungkin aku tahu kau bicara yang sebenarnya atau sedang
membohongi aku?” tanyanya.
“Kalau aku berdusta, kau boleh mengupas kulit kepalaku dan melihat otakku, Saat itu
toh masih belum terlambat.” kata Bayan dengan suara bersungguh-sungguh.
Siau Po berdiam diri beberapa saat. Tampaknya dia sedang berpikir keras.
“Baiklah” katanya kemudian, “Sekarang, mari aku tanyakan dulu kepadamu, Siapa
yang menyuruh kau datang ke kuil Ceng Liang si ini?”
“Aku diperintahkan oleh Lhama besar Sinlata dari wihara Wajah asli di puncak
Bodhisatva.”
“Omitohud” ucap Teng Kong yang merasa heran sekali “Kuil hijau Ngo Tay san
selamanya tidak berhubungan dengan kuil kuning. juga belum pernah ada permusuhan
apa pun. Mengapa pihak puncak Bodhisatwa justru menitahkan kau datang ke mari
melakukan penyerbuan?”
“Kedatangan kami bukan untuk menyerbu atau mengacau.” sahut Bayan. “Kakak
Sinlata menitahkan aku mencari seorang biku berusia kurang lebih empat puluhan
tahun. Katanya biku itu sudah mencuri kitab pusaka dari Sang Buddha Hidup kami dari
Lhasa dan sekarang dia bersembunyi di kuil Ceng Liang si. Karena itulah, kami harus
menawannya”
“Amitabha Buddha” seru Teng Kong kembali “ltu toh tidak mungkin.”
Siau Po mengancam lagi dengan pisaunya, “Kalau kau berbohong, aku akan
mengupas kulit kepalamu” katanya dengan nada bengis.

“Tidak, aku tidak berbohong.” sahut Bayan, “Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja
pada kakak Sinlata, Menurut kakakku itu, kami harus mengaku bahwa kami telah
kehilangan seorang lhama cilik, padahal tujuan kami ingin mencari biku tua itu, Dia juga
mengatakan bahwa Tuan Honghu mengenal biku itu, Kami harus meminta Tuan
Honghu menemani kami apabila datang ke kuil Ceng Liang si ini.
Kakak Sinlata juga menegaskan bahwa biku itu sudah mencuri kitab kami, kitab
pusaka Sang Buddha puIa, maka ini bukanlah urusan kecil Padaku, kakak Sinlata
menjelaskan apabila aku berhasil membekuk biku itu, maka jasaku besar sekali Apabila
aku kembali ke Lhasa nanti, Buddha hidup kami pasti akan memberikan hadiah
besar kepadaku.”
Siau Po menatap wajah lhama itu lekat-lekat. Dia merasa orang itu tidak berdusta,
Lhama ini pasti sudah dikelabuhi orang, Tentu orang yang menyuruhnya tidak
mengatakan dengan terus terang bahwa yang dicarinya adalah kaisar Sun Ti yang
sudah mengundurkan diri dari tahta kerajaan. Dia segera mengeluarkan sepucuk surat
dari dalam saku pakaiannya, itulah surat yang ditemukan Song Ji dari lhama yang
berhasil dibekuknya ketika melakukan perjalanan. Dia membeberkan surat itu di
hadapan Bayan lhama.
“Kau baca surat ini agar aku dengar” Perintahnya, “Apa yang tertulis di dalamnya?”
“lya, iya.” sahut Bayan yang segera mulai membaca.
Siau Po menganggukkan kepalanya, “Tidak salah,” katanya, “Kau dapat
membacanya dengan baik. Tapi bapak kepala pendeta di sini tidak mengerti bahasa
Tibet, tolong kau terjemah-kan bunyi surat itu dalam bahasa sini”
“Isi surat ini mengatakan….” Tiba-tiba Bayan lhama jadi sangsi. Sejenak kemudian
dia baru melanjutkan kembali “Katanya… orang itu adalah orang besar dan dia berada
di kuil Ceng Liang si, Gunung Ngo Tay san. Menurut kabar terakhir yang kami terima,
pihak Sin Liong kau ingin mengundangnya, karena itu kami harus mendahuluinya…”
Mendengar disebutkan nama perkumpulan Sin Liong kau, Siau Po merasa yakin
orang itu tidak sembarangan menerjemahkan arti surat tersebut Tetapi, kembali dia
bertanya.
“Apakah surat itu masih mengatakan hal lain nya?”
Bayan meneruskan terjemahannya, “Dalam surat dikatakan, bahwa tidak sulit
sebenarnya mengundang orang besar yang berada di kuil Ceng Liang si, Ngo Tay san
itu. Yang dikhawatirkan justru pihak Sin Liong kau keburu mendengar berita ini dan
datang merebutnya, Karena itu, kakak Sinlata meminta kakak seperguruan kami, Dahur
yang berada di kota kerajaan untuk selekasnya mengirim orang-orangnya yang lihay
untuk memberikan bantuan….”
“Apakah masih ada yang lainnya lagi?” tanya Siau Po.

“Tidak ada lagi,” sahut Bayan. “Hanya sekian isi surat ini.”
“Siapa sebenarnya Honghu Kok itu?” Tanya Siau Po kembali,
“Dialah salah seorang pembantu kami yang diundang oleh kakak Sinlata.” kata
Bayan lhama menjelaskan “Baru tadi malam dia sampai.”
Siau Po menganggukkan kepalanya.
“Lo suhu,” katanya kepada Teng Kong, “Sekarang aku hendak memeriksa Hong Tio
dari Hud Kong si. Kalau Lo suhu merasa tidak leluasa, silahkan menuju luar jendela dan
memasang telinga di sana”
“Bagus” kata Teng Kong yang langsung melangkah ke luar sambil menyuruh
orangnya membawa Bayan kembali ke depan, dan sebaliknya membawa Sim Ke
masuk ke dalam pendopo agar dapat diperiksa oleh si bocah tanggung, Dia sendiri
langsung kembali ke kamarnya, karena dia tidak mau memasang telinga di luar jendela
yang menurutnya merupakan perbuatan yang tidak layak.
Begitu digiring masuk ke dalam ruangan pendopo, dengan wajah berseri-seri Sim Ke
langsung mengeluarkan pujian kepada kedua pemuda-pemudi tersebut.
“Kedua sicu, kalian masih muda sekali, tetapi ilmu kalian sudah lihay sekali, Hal ini
belum pernah aku si hwesio tua lihat atau dengar sekali pun. Kalianlah anak-anak muda
yang gagah perkasa.”
“Hebat nenek moyangmu” maki Siau Po. “Siapa yang sudi mendengar pujianmu?”
Dia mengangkat kakinya dan menyepak selangkangan hwesio itu.
Sim Ke merasa kesakitan tapi dia masih memaksakan dirinya tersenyum.
“lya, ya…. Memang benar,” katanya, “Seorang laki-laki sejati paling benci mendengar
pujian bagi dirinya, Tapi, aku si hwesio tua berkata dengan sungguh-sungguh, aku
bukan hanya sekedar memuji….”
“Sekarang aku tanyakan kepadamu,” kata Siau Po. Dia tidak menghiraukan kata-kata
hwesio itu. “Kau datang ke kuil Ceng Liang si ini dengan lagakmu yang konyol. Siapa
yang menyuruh kau datang ke mari?”
“Sicu bertanya kepadaku, tentu aku harus menjawab yang sebenar-benarnya.” sahut
hwesio itu.
“Lhama besar Sinlata di Tibet telah mengirim orangnya untuk mengantarkan uang
sebanyak dua ratus tail kepadaku, Dia meminta aku menemani adik seperguruannya
datang ke kuil Ceng Liang si ini. Katanya untuk mencari seseorang. Aku toh tidak bisa
menerima imbalan tanpa melakukan apa-apa. Karena itulah aku menyertai Bayan
lhama datang ke mari.”

“Ngaco” bentak Siau Po. “Kau ingin membohongi aku? Cepat katakan hal yang
sebenarnya “
“lya, iya.” sahut si hwesio, “Aku tidak akan membohongi kau, sicu, sebetulnya Ihama
besar itu memberikan aku uang sebanyak tiga ratus tail…”
“Oh, kau masih berbohong juga?” bentak Siau Po. “Sudah terang dia memberimu
seribu tail.”
“Tidak, tidak, sicu” sahut si hwesio tua. “Sebenarnya cuma lima ratus tail, kalau
sampai lebih dari satu tail saja, anggaplah aku bukan manusia lagi”
Siau Po memperhatikan dengan tajam. “Dan, mahluk apakah Honghu Kok itu?”
tanyanya kembali.
“Dia seorang hina dina, Dia bukanlah manusia baik-baik.” sahut Sim Ke. “Bayan
Ihama yang membawanya ke mari, Kalau sicu membebaskan aku, segera aku akan
membawanya ke kantor kecamatan di Ngo Tay san dan meminta bapak camat
memberikan hukuman kepadanya, Ceng Liang si adalah tempat suci murid Buddha,
mana boleh dikotori manusia busuk seperti dirinya? Sicu kecil, beberapa jiwa korban
akan kutimpakan seluruh kesalahan di bahunya.”
Siau Po memperlihatkan tampang berwibawa.
“Sudah jelas kau yang membunuh mereka, bagaimana kau bisa menimpakan
kesalahan itu pada orang lain?” tanyanya.
“Baiklah,” kata Sim Ke, “Sicu kecil, aku harap kau sudi mengampuni aku”
Siau Po menyuruh orang membawa hwesio itu pergi, sekarang giliran Honghu Kok
yang dibawa masuk. Orang yang satu ini memang keras kepala, Tidak ada satu pun
keterangan yang didapatkan dari orang ini, Dia tidak bersedia mengatakan apa-apa.
Song Ji segera menotok jalan darah Thian tok orang itu. Dalam sekejap mata dia
merasa kegatalan serta sakit, Dia segera menjerit keras-keras. Meskipun demikian, Dia
tetap berkepala batu, Tidak ada satu pun pertanyaan Siau Po yang dijawabnya.
“Kalau kau memang laki-laki, bunuhlah aku” tantangnya, “Kau bunuhlah Tuan
besarmu ini, Siapa yang hanya pandai menyiksa, bukanlah orang yang gagah.”
Biar bagaimana, Siau Po menghormati keberanian orang itu.
“Baik, aku tidak akan menyiksamu lagi.” kata nya. Dia, menyuruh Song Ji
membebaskan totokannya. Setelah itu, dia meminta orang membawa Honghu sianseng
itu ke luar, sebaliknya Teng Kong diundang masuk kembali.

Tidak lama kemudian, Teng Kong sudah datang.
“Urusan ini agak sulit.” kata Siau Po kepada kepala pendeta itu, “Aku rasa, sebaiknya
aku berunding dengan orang besar itu.”
Teng Kong menggelengkan kepalanya, “Sulit” katanya, “Beliau pasti tidak bersedia
bertemu dengan orang luar.”
Siau Po merasa kurang puas mendengar jawaban Teng Kong.
“Mengapa beliau tidak mau bertemu dengan orang luar?” tanyanya, “Bukankah tadi
dia sudah menemuinya? Bukankah beliau akan tertawan dan dibawa pergi, apabila
kami lepas tangan tadi? Untuk selanjutnya, beliau tetap tidak akan merasakan
kedamaian Beberapa hari kemudian, pasti akan datang lagi orang-orang suruhan si
Ihama besar dari kota Pe King. Belum lagi perkumpulan Sin Liong kau dan partai kurakura
lainnya. Mereka tentu tidak sudi menyudahi urusan ini begini saja. Sekalipun kami
mau membantu kalian, tapi belum tentu kami sanggup menghadapi lawan sebanyak
itu.”
Teng Kong menganggukkan kepalanya,
“Apa yang dikatakan sicu ada benarnya juga.” katanya,
“Karena itu, sebaiknya Lo suhu mendatangi beliau dan ceritakan gentingnya suasana
yang dihadapi saat ini. Biar bagaimana, kita harus berunding dan memikirkan jalan
untuk menyelamatkan diri kita semua.”
Tapi Teng Kong tetap menggelengkan kepalanya.
“Persoalan ini sulit.” katanya, “Lolap telah berjanji, baik lolap sendiri maupun muridmurid
lolap di sini, tidak ada yang boleh berbicara dengannya.”
“Tidak apa-apalah kalau begitu,” kata Siau Po. “Aku toh bukan hwesio atau anggota
kuil kalian, Biar aku saja yang berbicara dengannya”
“Tidak, tidak bisa, sicu” cegah Teng Kong. “Kalau sicu masuk ke dalam rumah
pertapaannya, tentu sicu akan dirintangi adik seperguruannya, Heng Tian, Dia seorang
hwesio yang tabiatnya keras dan berangasan Bisa-bisa sicu terhajar mati olehnya.”
Siau Po tertawa.
“Tidak mungkin dia sanggup menghajar aku sampai mati.” sahutnya.
Teng Kong melirik ke arah Song Ji.
“Meskipun sicu menitahkan pembantumu ini menotok Heng Tian sehingga dia roboh
tidak berdaya, Heng Ti sendiri belum tentu sudi berbicara dengan sicu.”

“Heng Ti?” tanya Siau Po menegaskan sekali Iagi. “Oh, kiranya itu nama sucinya
kaisar Sun Ti.”
“Benar Aku tidak menyangka sicu tidak mengetahui nama sucinya.”
Siau Po menarik nafas panjang.
“Kalau begitu, habislah dayaku.” katanya perlahan “Sayang sekali kuil Ceng Liang si
yang suci dan sudah tua ini harus musnah di tanganmu, Lo suhu”
Teng Kong terkejut. Dia nampak berduka sekali, Untuk sesaat dia menjadi bingung.
“Nanti aku tanyakan kepada Giok Lim suheng,” katanya kemudian Tampak sepasang
alisnya menjungat ke atas seakan sedang berpikir keras, “Suhengku itu mempunyai
jalan keluarnya…”
“Siapakah Giok Lim taysu itu?” tanya Siau Po.
“Beliau adalah guru Heng Ti.” sahut Teng Kong.
“Bagus” Kata Siau Po. Dia tampak senang sekali. “Nah, mari Lo suhu ajak aku
menemuinya”
Teng Kong menerima baik permintaan itu, Dia langsung mengajak Siau Po ke ruang
belakang yang terdapat sebuah kamar untuk bersemedi. Bahkan di sana tampak
seorang pendeta tua sedang duduk bersila dengan mata dipejamkan Pendeta itu sudah
putih alis dan janggutnya, Dia tidak tahu ada tiga orang yang memasuki kamarnya.
Teng Kong memberi isyarat dengan kedua tangannya, kemudian dengan hati-hati
duduk di sisi hwesio tua itu. Dia memejamkan matanya dan merapatkan sepasang
telapak tangannya.
Di dalam hati, Siau Po tertawa menyaksikan tindak tanduk hwesio itu. Tapi dia
menurut, tanpa menimbulkan suara sedikit pun, dia ikut duduk di sisi hwesio itu.
Seperti ketika mereka masuk, wihara itu demikian hening sehingga tidak terdengar
suara sedikit pun. Wihara itu seakan hanya dihuni oleh hwesio tua itu seorang diri.
Setelah lewat sekian lama, hwesio itu masih duduk berdiam diri. Dia mirip dengan
mayat hidup, Dan Teng Kong juga ikut mematung.
Siau Po menjadi kewalahan, dia merasa kaki dan tangannya mulai kesemutan
Akhirnya dengan terpaksa, dia bangkit Tapi karena kedua orang itu tetap berdiam diri,
dia pun terpaksa duduk kembali Beberapa kali dia bangkit dan duduk kembali, tetapi
kesunyian tetap saja mencekam.

— Aih, celaka dua belas –, keluhnya dalam hati, Saking mendongkolnya, dia memaki
si hwesio tua dalam hatinya.
Dia masih harus menunggu cukup lama, namun akhirnya si hwesio tua membuka
matanya dengan perlahan-lahan, Dari mulutnya terdengar suara lirih seperti sedang
menarik nafas panjang. Dia melihat ada beberapa orang dalam kamarnya, namun dia
tidak menunjukkan perubahan apa-apa, kecuali menganggukkan kepalanya sedikit.
“Suheng.” Teng Kong lantas menyapanya, “Jodoh Heng Ti dengan dunia luar
rupanya belum selesai Ada beberapa orang yang datang menjenguknya, Harap suheng
sudi melepaskannya”
Hwesio yang ternyata Giok Lim taysu itu berkata dengan suara perlahan.
“Suasana disebabkan hati sendiri Karena itu, untuk membebaskan diri, orang juga
harus mengandalkan dirinya sendiri…”
Teng Kong menganggukkan kepalanya,
“Hantu dari luar datang bertubi-tubi, Ceng Liang si menghadapi malapetaka yang
tidak kepalang besarnya.”
Dia segera menuturkan usaha Sim Ke, Bayan dan Honghu Kok yang datang mencari
Heng Ti dan berusaha menawannya, Untung ada Siau Po datang bersama
pembantunya, Mereka memberikan bantuan sehingga Heng Ti terlepas dari ancaman
maut Tapi, di dalam pertempuran, kedua belah pihak sama-sama ada yang jatuh korban
jiwa.
“Meskipun demikian, pihak sana masih belum mau menyudahi urusan ini.” kata Teng
Kong mengakhiri ceritanya.
Giok Lim taysu mendengarkan keterangan itu dengan berdiam diri, Tidak sekali pun
dia menukas, sepasang matanya kembali dipejamkan untuk ber semedi lagi,
Keheningan pun kembali menceka kamar itu.
Menyaksikan keadaan itu, habis rasa sabar Sia Po. Dia segera berjingkrak bangun
untuk mencaci Tapi belum juga sepatah kata ke luar dari muIutnya, Teng Kong sudah
menggoyangkan tangannya mencegah.
Terpaksa dia menahan sabar dan duduk kembali Kali ini Siau Po harus menunggu
lebih lama lagi, sampai dia mencaci dalam hatinya,
— Di kolong langit, yang paling brengsek adalah Hay kong kong dengan si nenek
sihir, tapi mereka masih tidak begitu menjemukan seperti si kepala gundul ini —
Baru si bocah tanggung berpikir demikian, tampak Giok Lim taysu membuka
matanya, Sembari tertawa dan menganggukkan kepalanya dia ber tanya dengan sopan.

“Apakah sicu ini datang dari Pe King?”
“Benar” sahut Siau Po singkat.
“Apakah di kotaraja sicu bekerja memdampingi Sri Baginda?” tanya Giok Lim taysu
kembali.
Siau Po merasa heran. Hampir saja dia melonjak bangun saking terperanjatnya.
“Bagaimana… taysu bisa tahu?” tanyanya kembali.
Giok Lim taysu tersenyum.
“Lolap hanya menduga-duga saja.”
Mau tidak mau, Siau Po jadi berpikir dalam hatinya,
— Hwesio ini agak aneh, jangan-jangan dia menguasai ilmu…., Dengan membawa
pikiran demikian, Siau Po segera duduk dengan diam, Dia tidak berani mencaci lagi,
meskipun hanya dalam hati.
Terdengar Giok Lim taysu bertanya lagi, “Apakah ada sesuatu pesan yang penting
sehingga Sri Baginda menitahkan sicu datang ke kuil Ceng Liang si ini?”
– Aih, hwesio ini… –, pikirnya kembali — Apa pun diketahuinya, karenanya aku tidak
bisa sembarangan berbohong…. –, karenanya dia segera menjawab “Sri Baginda
mengetahui bahwa Raja tua masih hidup dalam dunia ini, beliau merasa gembira
sekaligus berduka, itulah sebabnya aku ditugaskan datang menjenguknya, untuk
menyampaikan rasa hormat Sri Baginda sekaligus menanyakan kesehatannya. Dan
seandainya.,., Sri Baginda raja tua bersedia kembali ke istana, itulah hal yang paling
baik.”
Sebenarnya kaisar Kong Hi menitahkan Siau Po datang ke gunung Ngo Tay san
untuk mencari bukti kebenaran bahwa si raja tua masih hidup di dunia ini. Kalau benar,
maka nanti Sri Baginda Kong Hi sendiri yang akan datang ke Ceng Liang si untuk
menjenguknya, Tapi Siau Po justru mengubahnya sendiri.
“Apakah Sri Baginda membekali sesuatu sebagai tanda bukti kepada sicu?” tanya
Giok Lim taysu kembali Tampaknya hwesio tua ini teliti sekali
Siau Po merogoh ke dalam sakunya untuk mengeluarkan surat yang ditulis oleh
kaisar Kong Hi.
“Silahkan taysu baca surat ini” katanya sembari menyerahkan surat itu yang
disodorkan dengan kedua belah tangannya.

Surat ini bukan surat yang ditujukan Sri Baginda untuk ayahandanya, Memang kaisar
Kong Hi sudah menulis surat itu, tapi kemudian dia membakarnya, Dia khawatir surat itu
terjatuh ke tangan orang lain dan hal ini berbahaya sekali.
Sebagai gantinya, kaisar Kong Hi menuliskan sepucuk surat perintah atau firman
Raja. Begini bunyi surat perintah tersebut:
“Dengan ini dititahkan kepada Gi cian siwi Hu congkoan Wi Siau Po yang
dianugerahkan baju makwa kuning untuk pergi ke gunung Ngo Tay san dan sekitarnya
untuk suatu urusan dinas, Dengan demikian semua pembesar sipil dan militer setempat
harus melakukan segala perintahnya, ini merupakan firman kaisar.”
Giok Lim taysu menyambut surat itu kemudia dibacanya dengan seksama, Tidak lupa
dia memeriksa cap kerajaan yang tertera di bawahnya Setelah itu dia baru
mengembalikannya kepada Siau Po dan berkata.
“Kiranya lolap berhadapan dengan Tuan paduka Gi cian siwi Hu congkoan Maaf”
Puas hati Siau Po melihat sikap hwesio tua itu serta mendengar nada suaranya yang
penuh hormat, Di dalam hati dia berkata.
— Nah, sekarang kau tentu tidak berani menganggap ringan diriku lagi –. Meskipun
demikian, dia tidak menunjukkan sedikit perubahan pun di-wajahnya, Tapi, ketika dia
melihat sikap si hwesio tua itu tidak berubah, hatinya menjadi tawar sendiri
Terdengar hwesio itu bertanya kembali.
“Wi sicu, kalau menurut sicu, tindakan apa yang harus kita ambil sekarang?”
“Aku ingin menghadap Sri Baginda raja tua untuk mendengarkan perintahnya” sahut
Siau Po.
“DuIu, beliau memang mempunyai kekayaan yang tidak terhitung dan kedudukan
yang mulia, tapi sejak menyucikan diri menjadi pendeta, semuanya sudah musnah dan
hubungannya dengan dunia luar sudah putus, Karena itu, panggilan Sri Baginda raja
tua jangan disebut-sebut lagi jangan sampai orang lain yang mendengarnya menjadi
kaget dan ketenangannya terganggu karenanya”
Siau Po diam saja, Dia tidak menyatakan komentar apa-apa.
“Sekarang sebaiknya kau pulang saja dan sampaikan kepada Sri Baginda bahwa
Heng Ti tidak bersedia menemuimu Heng Ti juga tidak bersedia menemui orang luar,
biar siapa pun orangnya” kata hwesio tua itu.
“Sri Baginda Kong Hi adalah putranya, bukan orang luar,” sahut Siau Po dengan
berani.

Bagian 36
“Tahukah kau apa artinya Jut-ke?” tanya Giok Lim taysu….
Siau Po memperhatikan hwesio tua itu lekat-lekat Jut-ke artinya ke luar rumah, Tapi
dalam arti kiasan, maksudnya menyucikan diri menjadi pendeta.
“Siapa yang sudah menyucikan diri,” kata Giok Lim taysu kembali “Rumah sudah
bukan rumah lagi, anak dan isteri pun menjadi orang lain.”
Mendengar kata-katanya, Siau Po segera berpikir
– Semua ini tentu kau sendiri yang bermain gila dengan berbagai akal muslihat. Kau
ingin menghalang-halangi orang yang ingin menemui kaisar Sun Ti, Andaikan kaisar
Sun Ti tidak bersedia kembali ke istana, tidak mungkin dia tidak bersedia bertemu
dengan putranya sendiri – Dia tidak mengutarakan apa yang tersirat dalam hatinya,
hanya berkata, “Kalau begitu, aku memanggil pasukan tentara untuk melindungi Sri
Baginda raja tua. Mereka bisa melarang siapa pun yang bermaksud melakukan
pengacauan di sini.”
Giok Lim taysu tersenyum.
“Kalau sicu melakukan hal itu, maka Ceng Liangsi langsung berubah menjadi istana
kerajaan.” katanya, “Dengan kata lain, Ceng Liang si berubah menjadi istana kantor
pembesar negeri. Kalau demikian halnya, bukankah lebih baik Heng Ti kembali saja ke
istananya di Pe King? Oh, Wi sicu, dengan demikian berarti juga seorang Gi cian siwi
hu congkoan menjadi seorang hamba dalam kuil Ceng Liang si.”
“Oh, oh…. Rupanya taysu telah mempunyai daya upaya yang lebih sempurna untuk
melindungi keselamatan Baginda.,., Baginda raja yang tua? Taysu, aku yang muda
masih kurang pengalaman sudilah kiranya taysu mengatakan upaya yang baik itu, agar
aku dapat menyuci bersih telingaku ini?” Kembali Giok Lim taysu tersenyum.
“Wi sicu,” katanya, “Kau memang masih sangat muda, tapi kau benar-benar lihay,
Tak heran kalau dalam usia yang begini muda kau telah menjabat pangkat yang tinggi.”
Hwesio itu menghentikan kata-katanya sejenak, kemudian baru melanjutkan kembali
“Sebenarnya, daya upaya yang sempurna, lolap belum punya, Yang benar, sebagai
orang-orang yang sudah menyucikan diri, kami menghindari perselisihan dan pertikaian,
kami menyambut kekerasan dengan kelunakan. Terima kasih atas kebaikan hati sicu
yang bersedia melindungi kami. Tapi, seandainya Ceng Liang si harus mengalami
bencana, ini yang dinamakan takdir Siapa pun tidak dapat menghindarinya.”
Sembari berkata, hwesio tua itu kembali merangkapkan sepasang tangannya,
kemudian dia memejamkan matanya untuk bersemedi lagi.

Melihat keadaan itu, Teng Kong segera berdiri, terus memberi isyarat kepada Siau
Po dengan mengedipkan matanya dan menggerakkan tangannya, Setelah itu, dia
mengundurkan pintu ke sisi pintu dan menjura kepada Giok Lim taysu.
Siau Po menoIehkan wajahnya untuk menatap Giok Lim taysu sekali lagi, Kemudian
dia memencet hidungnya serta mencibirkan bibirnya sebagai tanda mengejek si hwesio
yang diartikan bau sekali, Tapi Giok Lim taysu sudah memejamkan kedua matanya
sehingga dia tidak melihat apa-apa.
Teng Kong mengajak Siau Po dan pengiringnya ke luar dari kamar itu, sesampainya
di luar, dia baru membuka mulutnya.
“Giok Lim taysu adalah seorang hwesio yang berbudi luhur dan usianya juga sudah
lanjut sekali.” katanya, “Dia telah mencapai kesempurnaan Tentunya dia juga sudah
mendapatkan suatu petunjuk. sekarang lolap akan membebaskan Sim Ke, Hon Tio dan
yang lainnya, Sicu, di sini saja kita berpisah”
Selesai berkala, hwesio itu merangkapkan sepasang tangannya untuk memberi
hormat. Denga demikian dia mengartikan bahwa Siau Po dilarang masuk lagi ke dalam
kuil Ceng Liang si.
Panas sekali hati Siau Po jadinya.
“Bagus” teriaknya lantang, “Kalian sudah mempunyai upaya yang bagus, dasar aku
sendiri yang banyak mulut”
Dia segera menyuruh Song Ji mengajak Ie Pat dan yang lainnya turun gunung,
Mereka kembali ke kuil Leng Keng si dan bermalam di sana. Dia disambut dengan
hormat dan dilayani dengan baik. Mungkin karena malam itu kembali dia menderma
sebanyak seratus tail.
Tampak Siau Po berdiam di dalam kamarnya, duduk di samping meja sambil
bertopang dagu, perasaannya kacau sekali otaknya bekerja keras, Dalam hatinya dia
berkata.
— Sri Baginda raja tua telah berhasil ditemukan, namun dia dalam keadaan yang
membahayakan. Lhama dari Tibet hendak membekuknya dan pihak Sin Liong kau ingin
menawannya, Di samping itu ada Giok Lim taysu yang banyak macam-macamnya
sedangkan kepandaiannya tidak ada. Tinggal Teng Kong seorang, Apa yang dapat
dilakukan oleh kepala hwesio ini? Aku khawatir beberapa hari lagi Sri Baginda raja tua
akan kena diringkus orang dan dibawa pergi. Kalau hal ini sampai terjadi, bagaimana
aku bisa pulang ke Kerajaan dan memberikan pertanggungan jawabku kepada Siau
Hian cu? —
Berpikir demikian, Siau Po menoleh kepada Song Ji. Dia mendapatkan gadis itu
berdiri diam dengan sepasang alisnya dirapatkan. Tandanya dia sedang berduka sekali
atau perasaannya kurang puas.

“Eh, Song Ji, mengapa kau kelihatan kurang puas?” tanyanya,
“Tidak apa-apa.” sahut si gadis cilik, Siau Po masih memperhatikan lekat-lekat “Kau
pasti sedang memikirkan sesuatu,” kata-nya. “Lekas kau beritahukan kepadaku”
“Aku benar-benar tidak memikirkan apa pun.”
“Ah, aku tahu,” kata Siau Po. “Kau tentunya merasa tidak puas karena di Kerajaan
aku memangku jabatan tinggi, tapi sejauh ini aku tidak mengatakannya kepadamu.”
Mata si gadis mejadi merah. Dia seperti hendak menangis.
“Kaisar bangsa Tatcu adalah manusia paling jahat di dunia ini.” katanya dengan
tersendat-sendat. “Siangkong, mengapa kau menerima jabatan itu dan sudi menjadi
hambanya?”
Sembari berbicara, airmata si Song Ji sudah bercucuran di kedua belah pipinya yang
halus, Siau Po merasa heran.
“Lalu, mengapa kau malah menangis?” tanyanya. “Aih, benar-benar anak tolol.”
Song Ji menangis tersedu-sedu. “Sam nay nay rela menyerahkan aku pada sian
kong, dia berpesan agar aku merawatmu. Mendengar kata-katamu, tapi… tapi…
ternyata kau bekerja di Kerajaan dan menduduki jabatan yang tinggi pula, Padahal ayah
ibuku, ketiga orang saudaraku, semuanya mati di tangan para pembesar jahat bangsa
Tatcu.”
Saking sedihnya, Song Ji tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi, Siau Po
memang cerdas otaknya, tetapi melihat si gadis menangis demikian sedihnya, mau
tidak mau dia jadi bingung. “Ada apa dengan gadis ini?”
“Sudah, sudah” katanya kemudian, “Sekarang, aku tidak akan menyembunyikan
apa-apa darimu lagi, Biar aku katakan terus terang kepadamu. Memang aku menduduki
jabatan yang cukup tinggi di Kerajaan, tapi sebenarnya semua itu hanya sandiwara,
Kau tahu, aku sebenarnya menjadi hiocu cabang Ceng Bok Tongnya Tian Te hwe.
Mengertikah kau makna dari Tian Te hu bo, Hoan Ceng hok Beng” (Langit dan bumi
adalah ayah ibu, Ceng digulingkan Beng bangkit kembali)? Guruku adalah Cong tocu
dari Tian Te hwe Tentang hal itu aku telah mengatakannya kepada Sam nay nay.
Tujuan utama Tian Te hwe kami adalah menentang pemerintahan Ceng, Suhuku
menitahkan aku menyelundup ke dalam istana untuk mencari tahu rahasia pemerintah
inilah tugas rahasia, kalau sampai bocor, jiwaku akan terancam maut.”
Rupanya Song Ji mengerti apa arti kata-kata Tian te hu bo, Hoan Ceng Beng, dia
segera mengulurkan tangannya yang halus dan menutup mulut Siau Po.
“Sudahlah, jangan kau berbicara lagi” katanya. “Aku lah yang bersalah, Sebelum
mengerti apa-apa, sudah sembarangan menuduh, Aku seperti memaksa kau bicara

terus terang….” Mendadak dia tertawa dan berkata kembali “Kau orang baik, siangkong,
Tidak mungkin kau melakukan perbuatan jahat. Dasar aku memang tolol”
Siau Po tertawa.
“Kau justru anak cerdik” katanya sembari menarik kedua tangan Song Ji dan
diajaknya duduk berdampingan. Kemudian dengan suara berbisik, dia menceritakan
hubungan dan urusan yang menyangkut kaisar Sun Ti dengan Sri Baginda Kong Hi.
“Kau tentu pernah mendengar bahwa raja yang sekarang baru berusia belasan
tahun,” kata Siau Po melanjutkan keterangannya, “Dalam usia yang masih begitu belia,
dia telah kehilangan ayahandanya yang telah menjadi hwesio. Kaisar Sun Ti tidak
memperdulikannya lagi, Coba kau pikir, tidak patutkah dia dikasihani? Hari ini, orangorang
yang menangkap si raja tua adalah orang-orang jahat, Untung saja kau turun
tangan menoIongnya”
Song Ji menarik nafas lega.
“Kalau demikian, aku telah melakukan sesuatu yang baik.” katanya.
“Namun, ada pepatah yang mengatakan “Mengantar Sang Buddha, harus sampai di
langit barat” kata Siau Po. “Orang-orang itu sudah dilepaskan oleh Teng Kong hwesio,
pasti mereka tidak puas Lain kali mereka akan datang kembali untuk melanjutkan
niatnya menawan di raja tua. Coba pikir, kalau mereka berhasil meringkus si raja tua,
kemudian membawanya pergi dan memotong-motong tubuhnya untuk dimasak dan
dimakan, bukankah celaka dua belas jadinya?”
Siau Po tahu hati Song Ji masih polos sekali, Dengan ucapan dia bermaksud
membakar hati orang agar si gadis mengerti kesulitan yang dihadapi kaisar Sun Ti dan
menaruh kesan baik terhadap raja yang sudah mengundurkan diri itu serta suka
memberikan pertolongan lebih jauh.
Tampaknya si gadis bergidik mendengarkan kata-kata majikannya.
“Mereka mau makan dagingnya si raja tua?” tanyanya gugup. “Kenapa begitu dan
untuk apa?”
“Pernahkah kau mendengar kisah tentang si hwesio dari kerajaan Tong yang
berangkat ke Tanah barat untuk mengambil kitab suci?” Bukannya menjawab, Siau Po
malah bertanya,
“lya, aku pernah mendengarnya.” sahut Song Ji. “Selain hwesio itu, masih ada Sun
Go Kong dan Ti Pat Kay….”
“Kau benar. Di sepanjang perjalanan banyak siluman yang ingin makan dagingnya
hwesio itu, Menurut cerita itu, hwesio tersebut adalah salah satu dari manusia paling
suci di dunia, siapa yang bisa memakan dagingnya, bisa menjadi dewa atau Buddha…”

“Aku mengerti sekarang. Kawanan orang jahat itu ingin menyamakan si raja tua
dengan pendeta Tong, kawanan orang jahat itulah para silumannya, sedangkan aku
adalah Sun Go Kong dan kau,., kau,.,.”
Siau Po mengangkat kedua telapak tangannya dan direntangkan di bawah telinga
kemudian digoyang-goyangkannya, Song Ji yang melihat lagaknya tidak menjadi
marah, dia malah tertawa.
“Oh, kau maksud aku adalah Ti Pat Kay, si siluman babi?” katanya.
Siau Po tertawa dan berkata dengan cepat
“Wajahmu secantik Kwan In Pou sat, tapi kau sedang menjalankan peranan si
siluman babi….”
Song Ji tersenyum sambil menggoyangkan tangannya.
“Jangan sembarangan menyebut nama Kwan Im Pou sat yang maha suci,” katanya
mencegah, “Justru engkau, siangkong, yang mirip dengan Siancay Tong-cu Ang Hay ji
yang selalu mendampingi dewi Kwa Im itu, aku sendiri hanya….”
Berkata sampai di sini, ucapan si Song Ji jadi berhenti dengan sendirinya, wajahnya
menjadi merah padam saking jengahnya.
Siau Po tersenyum.
“Tepat, tepat” katanya, “Aku menjadi Sianca Tongcu Ang Hay ji dan kau adalah Siau
Liong Kita berdua akan selalu bersama-sama, siapa pun tidak bisa memisahkan kita.”
Siancay Tongcu Ang Hay Ji dan Siau Liong adalah sepasang pelayan laki-laki dan
perempuan yang mengikuti dewi Kwan Im.
Wajah Song Ji semakin merah.
“Aku pasti akan melayani kau,., untuk selama-lamanya…” katanya dengan suara lirih,
“Ke.,, cuali kau sudah tidak menginginkan… aku lagi dan mengusirku….”
Siau Po mengangkat tangannya ke arah leher dan dibuat seakan sebilah pisau yang
akan menggorokannya,
“Meskipun batang leherku ini dipotong, tidak mungkin aku mengusirmu, Ke… cuali
kau sendiri yang tidak sudi mengikuti aku lagi dan kabur secara diam-diam.”
Si gadis cilik mengikuti gerakan tangan Siau Po. .: “Meskipun batang leherku ini
dipotong, aku tidak akan pergi darimu.” katanya.

Siau Po memperhatikan Song Ji. sedangkan si gadis cilik itu juga menatap ke
arahnya, Kemudian keduanya tertawa geli.
Semenjak diserahkan oleh Sam nay nay kepada Siau Po, Song Ji selalu pandai
membawa dirinya sebagai seorang budak. Dia tidak berani bercanda secara kelewatan
atau bergurau dengan majikannya.
Sekarang, setelah mengetahui rahasia Siau Po. Dia baru berani bersikap jenaka dan
tertawa bersama. Dalam hatinya, dia juga merasa senang, Dia percaya penuh kepada
Siau Po.
Dengan demikian, otomatis hubungan mereka semakin erat
“Sudahlah,” kata Siau Po kemudian, “Urusan mengenai kita berdua telah
diselesaikan Sekarang, bagaimana caranya kita menolong pendeta Tong?” Yang
dimaksudkan tentu saja bukan pendeta Tong yang sebenarnya, tapi kaisar Sun Ti.
Song Ji tertawa.
“Menolong pendeta Tong adalah tugas Ci Thian Tayseng.” katanya, Ci Thian
Tayseng adalah gelar Sun Go Kong yang artinya Nabi besar setara Langit “Karena itu,
seharusnya Ci Thian Tayseng yang mengutarakan jalan pikirannya, Ti Pat Kay tinggal
menurut saja”
Siau Po tertawa.
“Kalau Ti Pat Kay secantik dirimu, aku khawatir pendeta Tong itu tidak mau menjadi
hwesio lagi. katanya.
“Kenapa?” tanya Song Ji.
“Karena pendeta Tong itu pasti mengambil T Pat Kay untuk menjadi istrinya.” Song Ji
tertawa geli,
“Ti Pat Kay adalah siluman babi, siapa yang sudi menikah dengannya?” katanya.
Mendengar kata-kata Song Ji, Siau Po langsung terdiam. Dia ingat Jin Som Hok
Leng Ti, babi yang dikirim Cian laopan yang di dalamnya berisi Kia Peng. otaknya
langsung memutar, di mana kira-kira Kiam Peng dan Piu Ie sekarang berada. Apakah
keadaan mereka baik-baik saja?
Song Ji heran melihat sikap Siau Po yang tiba-tiba berubah. Gadis itu
memperhatikan secara diam-diam Tidak berani dia mengganggunya, Hanya sekejap
saja, terdengar bocah tanggung itu berkata kembali.
“Benar Kita harus memikirkan upaya yang baik, Tidak bisa kita biarkan si raja tua
dibekuk oleh orang-orang jahat Nah, Song Ji, coba, aku ingin mendengar pendapatmu,

umpamanya kita mempunyai suatu barang yang sangat berharga dan banyak penjahat
yang mengincarnya, apa yang harus kita lakukan agar penjahat itu tidak berhasil
mencurinya?”
“Kalau kita memergoki para penjahat itu sedang bekerja, kita bekuk saja mereka
semua” sahutnya singkat.
Siau Po menggelengkan kepalanya.
“Akalmu itu kurang sempurna.” katanya, “Seharusnya kita sendiri yang menjadi
pencurinya”
Song Ji heran mendengar ucapannya sehingga dia menatap Siau Po dengan tajam.
“Kita sendiri yang menjadi pencurinya?” tanyanya menegaskan.
“Benar” kata Siau Po tegas, “Kita mendahului mereka turun tangan, itu baru akal
yang bagus”
Song Ji masih belum mengerti juga.
“Kalau kita mendahului orang-orang itu mencurinya, bukankah para penjahat itu tidak
bisa mendapatkan apa-apa?” kata Siau Po sambil memperhatikan wajah pelayannya
yang cantik itu.
Song Ji bertepuk tangan sambit tertawa, sekarang dia baru mengerti maksud Siau
Po.
“Aku mengerti sekarang” serunya, “Kau bermaksud menyuruh aku menculik si raja
tua, bukan?”
“Dugaanmu tepat sekali” kata Siau Po membenarkan “Kita tidak boleh membuang
waktu, sebaiknya kita bekerja sekarang juga”
Song Ji setuju, Dia segera berdiri dan bersama-sama Siau Po, keduanya ke luar
kamar dan menuju luar kuil Ceng Liang si.
“Cuaca masih belum gelap.” kata Siau Po, Dia memperhatikan langit “Sebaiknya kita
tunggu saja sebentar lagi”
Song Ji menurut saja. Keduanya segera mencari pepohonan yang rimbun untuk
tempat menyembunyikan diri.
Waktu perlahan-lahan merayap, Akhirnya sang malam yang gelap datang juga, Siau
Po mengajak Song Ji ke luar dari tempat persembunyian. Pada saat itu, keadaan di
seluruh pegunungan itu sudah sunyi senyap.

“Di dalam kuil hanya Teng Kong Hong tio yang mengerti ilmu silat.” kata Siau Po
kepada pembantunya, “Tapi sekarang dia dalam keadaan terluka, dan tampaknya luka
hwesio itu tidak ringan Kemungkinan dia sedang beristirahat atau mengobati lukanya
dalam kamar. Dengan demikian, tugasmulah melayani si hwesio bertubuh raksasa itu.
Kau harus menotoknya sehingga tidak berdaya supaya aku bisa menculik si raja tua.
Namun kau harus berhati-hati, senjata Heng Tian si raksasa besar sekali dan berat
pula, dia dapat menggunakan senjata itu dengan sempurna….”
Song Ji menganggukkan kepalanya.
“Aku mengerti.” sahutnya, Tampaknya dia tidak takut sama sekali.
Setelah merasa yakin di sekitarnya tidak ada siapa-siapa, Siau Po mengajak Song Ji
menghampiri tembok pekarangan wihara tersebut Dengan mudah mereka
melompatinya, lalu masuk ke halaman dalam. Mereka langsung menuju rumah tempat
Heng Ti bersemedi.
Tampak pintu rumah itu sudah ditutup kembali, Hanya bagiannya yang rusak akibat
penyerbuan di siang harinya masih belum sempat diperbaiki. Jadi pintu itu seperti untuk
menghalangi angin saja.
Song Ji berjalan di depan, mendekati pintu rumah kemudian menggesernya ke kiri
perlahan-lahan. Baru saja pintu itu bergerak, tiba-tiba berkelebatan bayangan berwarna
kuning keemasan. Ternyata toya Kim Hong Cu sudah menyerangnya dengan hebat
Song Ji melihat datangnya bahaya, tapi dia dapat menghindarkan diri dengan
mudah, Gadis itu bukannya mencelat mundur, tetapi sepasang kakinya menutul lalu
menerjang memasuki rumah. Dengan demikian, dia jadi menghampiri Heng Tian
penyerangnya itu yang tenaganya seperti raksasa, Dengan mudah Song Ji berhasil
menotok dada Heng Tian sambil berkata dengan perlahan.
“Maaf” sedangkan tangannya yang satu lagi digunakan untuk

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s