“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 46

dilihat dan Ihama kecil itu tetap tidak berhasil
ditemukan, dan seandainya para Ihama suci ini ingin melongok Hud Kong si juga, tentu
aku akan menyambutnya dengan hati gembira.” katanya.
Terdengar Ihama Bayan berkata pula.
“Ada orang yang melihat dengan mata kepala sendiri bahwa muridku Yincu
disembunyikan dalam kuil Ceng Liang si ini. itulah sebabnya kami datang ke mari
menanyakannya, Kalau tidak ada keterangan tersebut, pasti kami tidak berani lancang
datang ke sini dan kami tidak akan berlaku demikian sembrono.”
“Siapa orangnya yang katanya melihat dengan mata kepala sendiri itu?” tanya Teng
Kong.
Bayan menunjuk kepada Honghu sianseng.
“Tuan Honghu inilah orangnya.” sahut Ihama tua itu, “Dia merupakan seorang tokoh
yang sudah mempunyai nama besar, tidak mungkin dia berbohong.”
Mendengar keterangan itu, Siau Po langsung berkata dalam hati
— Kalian merupakan orang-orang satu rombongan mana boleh salah satu dari kalian
menjadi saksi? — Karena berpikir demikian dia segera bertanya tanpa dapat mengekang
diri lagi.
“Berapa usianya lhama cilik yang hilang itu?”

Sampai sebegitu jauh, Bayan dan rombongannya tidak ada yang memperhatikan
Siau Po maupun Song Ji. Tapi begitu Siau Po mengajukan pertanyaan serempak
mereka menolehkan kepalanya, Mereka melihat seorang bocah tanggung yang
mengenakan pakaian indah, kopiahnya berhias batu kumala dan kancing bajunya
terbuat dari mutiara.
Sudah barang tentu bahwa dia putra seorang hartawan sedangkan pelayan yang
berdiri di sampingnya saja mengenakan pakaian sutera juga.
“Usia lhama kecil itu hampir sebaya denganmu, Tuan kecil” sahut Sim Ke sembari
tertawa.
Siau Po menoleh kemudian berkata.
“Benarlah kalau demikian, sudah jelas tadi aku melihat lhama kecil itu Dia masuk ke
dalam sebuah kuil yang di atasnya tertera tiga huruf, yakni Hud Kong si”
Mendengar ucapan si bocah, Bayan dan lainnya menjadi heran sekali. Untuk sesaat
mereka memandanginya dengan wajah tertegun
Teng Kong menyaksikan hal itu, Hatinya senang sekali. Dia tidak menyangka
tamunya akan ikut bicara dan memberi penjelasan seperti itu.
“Kau mengoceh sembarangan” Bentak Bayan “Ngaco belo”
Siau Po tidak marah, dia malah tertawa.
“Betul Bicara sembarangan Mengoceh tidak karuan Ngaco belo” katanya
beruIang-ulang.
Bayan menjadi gusar, tiba-tiba dia menjulurkan sebelah tangannya untuk menyambar
ke arah dada si bocah tanggung.
Justru ketika tangannya bergerak, tangan Teng Kong juga terjulur ke depan. Ujung
bajunya berkibaran menimbulkan suara berkesiurnya angin Tangannya meluncur ke
arah sikut si lhama itu,
Bayan sempat melihat gerakan si hwesio, Dia berniat menolong dirinya sendiri Ketika
tangan kanannya ditarik kembali, tangan kirinya bergantian meluncur, kelima jari
tangannya tajam bagai kuku garuda dan disambarnya ujung baju Teng Kong.
Teng Kong menarik tangannya kembali kemudian mengelakkan diri. Dengan
demikian, luputlah serangan si lhama itu.
“Hai” teriak Bayan, “Kau sudah menyembunyikan lhama cilik yang menjadi pesuruh
Buddha hidup, kau berani turun tangan pula Apakah kau benar-benar ingin melanggar
pantangan membunuh? Celaka Celaka”

“Jangan menggunakan kekerasan. Kalau ada apa-apa, kita bicarakah baik-baik
saja” kata Honghu sianseng,
Baru selesai orang itu berbicara, tiba-tiba dari luar kuil terdengar suara teriakan yang
riuh.
“Honghu sianseng mengatakan agar jangan menggunakan kekerasan Ada apa-apa,
sebaiknya dibicarakan secara baik-baik”
Kalau ditilik dari nadanya, kemungkinan suara itu diteriakkan oleh beberapa ratus
orang, Kemungkinan, sejak tadi mereka memang sudah mengepung kuil itu, hanya saja
mereka tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Rupanya mereka juga suda terlatih baik,
sehingga ucapannya juga dicetuskan dengan kompak sekali.
Teng Kong mempunyai watak yang sabar dan tenang, tapi mendengar suara itu, tak
urung di menjadi terkejut juga.
Honghu sianseng tertawa perlahan.
Teng Kong Hongtio,” terdengar dia berkata “Kau adalah seorang cianpwe (angkatan
tua) yang sudah mempunyai nama besar, orang yang selalu dihormati. Karena itu,
apabila Bayan lhama ingin melihat-lihat kuil, sebaiknya kau ijinkan saja, Hongtio biasa
berkelakuan baik dan tindakannya juga benar, Lagipula, dalam kuil Ceng Liang si tidak
ada sesuatu yang tidak boleh dilihat orang, bukan karenanya, untuk apa kita
mempertaruhkan kerukunan kaum dunia persilatan?”
Kata-kata itu sopan dan halus namun mengandung desakan, Di balik ucapannya,
Honghu sianseng bermaksud mengatakan, apabila Teng Kong tidak mengijinkan Bayan
lhama menggeledah kuilnya, maka suatu pertempuran tidak dapat dihindarkan lagi.
Teng Kong menjadi bingung sekali. Dia memang mengerti ilmu silat, tapi di dalam
kuil Ceng Liang si, dia hanya seorang hwesio atau guru agama, Dia tidak pernah
mengajarkan ilmu silat kepada para muridnya.
Diantara empat ratus lebih hwesio di dalam kuil Ceng Liang si, hanya ada beberapa
orang saja yang mengerti ilmu silat, Karena itu, mau tidak mau dia menjadi gentar juga,
Barusan dia telah berhadapan dengan Bayan, Dia merasa lhama yang satu ini lihay
sekali, sekarang dia mendengar ucapan Honghu sianseng, dia mendapat kenyataan
bahwa tenaga dalam orang ini pasti sudah dilatih sampai mahir sekali, Karena itu dia
menganggap, jangan kata ratusan orang yang ada di luar, sedangkan kedua orang
yang ada di hadapannya ini saja sudah sulit dilayani.
Honghu sianseng memperhatikan hwesio yang sedang berpikir itu. Sejenak
kemudian, dia tersenyum lalu berkata kembali.

“Seumpamanya di dalam kuil Ceng Liang si benar-benar tersembunyi wanita-wanita
cantik, itu toh bukan sesuatu yang buruk. Anggaplah pemandangan yang indah bagi
kami semua”
Kali ini berbeda dengan sebelumnya, terang-terangan Honghu sianseng
mengeluarkan kata-kata yang ceriwis, Terang dia tidak memandang muka Teng Kong
lagi.
Sementara itu Teng Kong masih berpikir keras, Dia yakin ilmu silat Bayan merupakan
ilmu partai Bit Cong di Tibet, tetapi entahlah dengan Honghu sianseng ini, dia tidak
pernah mendengar atau mengenalnya.
Tampaknya orang itu juga tidak gentar terhadap Siau lim pai. Meskipun dia sudah
tahu Teng Kong menguasai ilmu partai tersebut, dia tetap tidak memandang sebelah
mata, Mengapa Honghu sianseng begitu berani?
Saking kerasnya si hwesio memutar otaknya, sampai tidak mendengar suara tawa
Sim Ke hwesio dan Bayan lhama. Mereka tertawa setelah mendengar ucapan Honghu
sianseng yang mereka anggap jenaka.
“Hong tio suheng,” kata Sim Ke kepada kepala pendeta di kuil Ceng Liang si itu.
“Karena keadaan sudah begini rupa, sebaiknya kau ijinkan saja Baya lhama melihatlihat
ke dalam kuil”
Sembari berkata, hwesio ini memonyongkan mulutnya kepada Bayan, dan si lhama
yang melihat isyarat itu langsung melangkah ke dalam kuil.
Bagian 35
Teng Kong siansu menarik nafas panjang, Dia berusaha mengendalikan emosinya,
Dia memperhatikan orang itu melangkah ke dalam kuil kemudian dia mengikuti dengan
perlahan-lahan.
Bayan beserta Honghu sianseng dan Sim hwesio rupanya telah merundingkan
bagaimana orang-orang mereka akan melakukan penggeledahan di dalam kuil Ceng
Liang si.
Diantara sekian banyaknya hwesio Ceng Liang si, ternyata tidak ada seorang pun
yang berani mencegah tindakan Bayan lhama, Mereka tidak mendapat isyarat apa-apa
dari kepala guru mereka. Terpaksa mereka menyaksikan dengan sinar mata
menyiratkan kegusaran.
Wi Siau Po dan Song Ji mengintil di belakang Teng Kong. Mereka melihat lengan
jubah hwesio itu bergetar. Hal ini menandakan bahwa tangan Teng Kong sedang
gemetar karena berusaha menahan hawa marah dalam hati nya.

Tiba-tiba dari arah barat terdengar suara yang nyaring.
“Diakah orangnya?”
Mendengar kata-kata itu, Honghu sianseng segera berlari ke depan, Tampak dua
orang lhama sedang menangkap atau meringkus seorang hwesio berusia kurang lebih
empat puluhan dan tubuhnya kurus kering.
“Mengapa kalian menangkap aku?” tanya hwesio itu bingung.
Honghu sianseng menggelengkan kepalanya dan kedua lhama itu pun langsung
melepaskan cekalannya. Sembari tertawa mereka berkata.
“Maaf”
Menyaksikan kejadian itu, Siau Po semakin yakin yang dicari rombongan Bayan
bukan seorang lhama cilik tapi kaisar Sun Ti yang sudah mengundurkan diri,
Teng Kong sendiri tertawa tawar ketika bertanya.
“Hwesio muridku ini, apakah dia si lhama cilik yang kalian cari itu?”
Honghu sianseng tidak menjawab, Dia malah memperhatikan arah lainnya, Ketika itu
dua orangnya kembali meringkus seorang hwesio berusia setengah baya, Setelah
melihat orang itu dengan seksama, kembali dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
– Oh, rupanya kau tahu bagaimana tampang raja Sun Ti? –, kata Siau Po dalam hati,
Sejak semula dia selalu memperhatikan Honghu sianseng dan kawan-kawannya,
Karena itu, dia berpikir lebih jauh.
— Kalau mereka mencari dengan cara demikian lama kelamaan mereka pasti akan
berhasil menemukan raja Sun Ti. Dia adalah ayahanda dari si raja cilik. Aku harus
mencari akal menolongnya…. Tapi, bagaimana aku harus melakukannya? jumlah
mereka banyak, kepandaian mereka juga hebat-hebat…
Sia-sia saja Siau Po mengasah otaknya, Dalam tempo yang begitu singkat, dia tidak
berhasil menemukan jalan yang baik untuk ditempuhnya.
Ketika itu, ada beberapa puluh orang yang menggeledah ke arah timur laut, Dimana
ada sebuah rumah kecil tempat para pendeta, Letaknya di sebelah depan kuil, Pintu
kamarnya tertutup rapat “Buka pintu Buka pintu” teriak beberapa orang dengan suara
yang garang.
“ltu kamar bersemedi biku kami yang sudah lanjut sekali usianya.” kata Teng Kong
memberikan keterangannya, “Kamar itu sudah tertutup selama tujuh tahun. Harap sicu
sekalian jangan mengganggu semedinya”

Sim Ke tertawa.
“lni pasti ada orang luar yang masuk dan bersembunyi di dalam kamar, Bukan biku
tua yang sedang bersemedi, Kalau tidak, tentu dia telah membuka pintunya sendiri,
bukan? Tapi ini bukanlah persoalan bagi kami.” katanya.
Seorang lhama bertubuh tinggi besar segera menghampiri pintu rumah tersebut.
“Mengapa pintu ini tidak dibuka? Pasti dia bersembunyi di dalamnya” katanya sambil
menendang pintu rumah itu keras-keras.
Tiba-tiba tubuh Teng Kong berkelebat Dia melompat ke pintu untuk mencegah lhama
itu menendang. Dia tidak ingin pintu rumah itu sampai rusak karena kekasaran orang
itu. Dia berhasil tiba di depan pintu, tapi perutnya terkena tendangan lhama itu sebab
dia tidak melindunginya sedikitpun.
Tapi mendadak lhama yang menendang pintu terjungkal roboh ke belakang, Dia
yang mengirimkan tendangan, tapi dia pula yang roboh dengan kaki patah.
Bayan terkejut setengah mati Dia langsung berkaok-kaok, tubuhnya segera
menerjang ke depan ke arah tuan rumah. sedangkan kedua tangannya segera
digerakkan dengan gaya seperti cakar ayam yang sedang menggaruk.
Teng Kong tetap berdiri di depan pintu ketika serangan itu tiba, ia menghadapi
lawannya dengan kedua tangan direntangkan sedangkan lawannya itu juga menyerang
dengan dua tangannya, tapi dengan bentrokan keras itu.
“Kepandaianmu ternyata hebat sekali” puji Hong-hu sianseng, Tangan Honghu
sianseng segera menghantam ke depan. Terasa angin menghempas-hempas dari
pukulannya ke arah wajah Teng Kong.
Teng Kong menghindarkan diri dan di saat yang lain terdengar suara yang keras
karena pukulan itu tepat menghajar pintu rumah tersebut.
“Pukulan yang lihay” puji Teng Kong kembali.
Di dalam hatinya, dia merasa terkejut juga, Ternyata kepandaian Honghu sianseng
tidak dapat dipandang ringan. Teng Kong segera mempersiapkan diri untuk melayani
lebih jauh, Walau pun demikian, dalam hati dia sudah mengambil keputusan.
Tujuannya hanya melindungi pintu rumah tersebut tidak ada niatnya untuk
mencelakai siapa pun. Kalau keadaan memang mendesak, dia sudah siap
mengorbankan jiwanya agar tugasnya sebagai pelindung dapat dijalankan dengan baik.
Ternyata Honghu sianseng masih penasaran, dia menyerang kembali. Kali ini dia
malah dibantu oleh Bayan.

Dikeroyok oleh dua orang, Teng Kong melakukan perlawanan yang dahsyat. Kedua
tangannya seakan digerakkan secara sembarangan saja, namun setiap serangannya
yang seperti tidak mengandung tenaga itu, justru menimbulkan angin yang kencang.
Puluhan pengikut Honghu sianseng segera bersorak-sorak, Mereka seakan
memberikan semangatnya kepada sang pemimpin, namun tidak ada seorang pun
diantara mereka yang berani maju ke tengah arena. Rupanya mereka telah mendapat
pesan agar tidak lancang maju apabila belum mendapatkan isyarat dari pimpinannya,
Beberapa kali Bayan mendesak, serangannya hebat sekali. Tapi tiap kali dia selalu
terpukul mundur Hal itu membuat hatinya gusar Dia merasa penasaran.
Satu kali dia berhasil menjambret janggut Teng Kong sehingga segumpal rambut
didagu yang putih itu terbang berhamburan. Tapi, di samping itu, bahu kanannya sendiri
kena ditepuk oleh lawan, Bayan terkejut hatinya, MuIa-mula dia memang tidak
merasakan apa-apa, Tapi beberapa saat kemudian, sebelah lengannya terasa semakin
berat dan akhirnya sukar digerakkan lagi, Hatinya mendongkol sekali,
Tiba-tiba Ihama itu berteriak keras, lalu mendadak dia mencelat mundur. Sebagai
gantinya, empat orang Ihama lainnya yang bersenjatakan golok menerjang ke depan
dan menyerang Teng Kong.
Sejak semula Teng Kong sudah meningkatkan kewaspadaannya, Dia melompat ke
atas dengan kedua kakinya ditutulkan di atas tanah. Disambutnya kedatangan lawan
dengan kedua kaki yang disepakkan secara bersamaan.
Dengan demikian, robohlah dua orang lawannya, Setelah itu, dengan tangan kirinya
dia menepuk dada si Ihama yang ketiga, Lhama itu terkejut setengah mati dan sambil
menjerit, tubuhnya terpental mundur ke belakang.
Tepat pada saat itu, sampailah golok Ihama yang keempat, serangan itu disambut
Teng Kong dengan mengibaskan ujung lengan jubahnya untuk melilit tangan orang itu.
Bayan yang penasaran dan kesal maju kembali Bukankah keempat orangnya telah
mengalami kegagalan? sekarang tangan kanannya dapat digerakkan lagi dan dia
melakukan penyerangan dengan kedua lengannya.
Teng Kong menghindari serangan itu dengan menggeser tubuhnya agak ke kanan.
Tiba-tiba dia mengeluh dalam hati.
— Celaka –, tapi terlambat sudah, percuma dia berusaha menepuk lawannya, Tahutahu
pipi kanannya terasa nyeri dan gatal, Tahulah dia bahwa dirinya telah terkena
tutulan jari tangan Honghu sianseng, serangannya sendiri mengenai iga orang sehingga
lengan Honghu sianseng itu tidak sampai patah.
Song Ji melihat wajah Teng Kong penuh dengan noda darah.

“PerIukah aku membantunya?” tanya nona cilik itu kepada Siau Po. Dia memang
masih kecil, tapi tidak kenal arti kata takut walaupun jumlah musuh begitu banyaknya,
Mungkin malah mencapai ratusan orang.
“Tunggu sebentar lagi” kata Siau Po dengan suara lirih, Tadi si nona sendiri
berbicara dengannya dengan suara berbisik.
Bocah itu berharap dapat menemui kaisar Sun Ti. Dia merasa percuma seandainya
Song Ji bisa menghalau musuh-musuh itu tapi kaisar Sun Ti tidak dapat ditemukan.
Sampai saat itu barulah sejumlah pendeta Ceng Liang si turun tangan, Mereka tidak
dapat membiarkan Teng Kong siansu diserang secara bergantian sedangkan guru itu
sudah terluka wajahnya, Di antara mereka ada yang menggunakan tongkat, toya,
maupun besi penyungkit arang.
Tapi, sayangnya mereka itu tidak mengerti ilmu silat Dengan demikian, mereka
malah terhajar oleh pihak lawan sampai babak belur.
“Semuanya berhenti” Tiba-tiba terdengar seruan Teng Kong yang berwibawa itu.
Bayan sedang gusar sekali, Dia tidak menghiraukan seruan itu.
“Semua maju” teriaknya kepada orang-orangnya. Tidak usah perdulikan si kepala
gundul itu. Bunuh saja”
Benar saja, Mendengar saran itu, para Ihama segera menyerang dengan sadis.
Dalam sekejap mata, empat orang hwesio sudah terkapar di atas lantai, Bahkan satu di
antaranya mati dengan kepala terpenggal.
Sementara itu, Teng Kong melakukan pertarungan dengan pikiran kacau, Dia tidak
bisa berkonsentrasi karena hatinya sedih juga bingung, Kembali dia terhajar jari tangan
Honghu sianseng, Kali ini dada kanannya yang menjadi sasaran sehingga tampak
darah mengalir dengan deras.
Menyaksikan serangannya yang membuahkan hasil, Honghu sianseng tertawa
senang.
“Rupanya poan Jiak ciang dari Siau Lim pai begini saja” katanya, “Ayo, hwesio tua,
menyerahlah”
Teng Kong menyebut nama Buddha.
“Sicu, dosamu besar sekali” katanya penuh penyesalan
Tepat pada saat itulah, dua orang lhama menerjang ke depan untuk membacok kaki
Hong Cu itu.

Melihat datangnya ancaman bahaya, Teng Kong segera mendahului dengan
menendang musuh, tapi tiba-tiba dia merasa dadanya nyeri sekali, Kakinya jadi urung
diangkat, hanya tangan kirinya yang meluncur ke depan.
Tangan itu tepat mengenai kepala kedua lhama yang menyerang bagian kakinya
sehingga mereka roboh tidak sadarkan diri.
“Keledai gundul kepingin mampus” maki Bayan saking gusarnya, Dia lantas
menyerang dengan kedua jari tangannya ke bagian bawah, Tanpa dapat dipertahankan
lagi, cengkeramannya mengenai paha kiri Teng Kong dan hwesio tua yang gagah itu
pun terkulai di atas lantai.
Menyaksikan keadaan itu, Bayan tertawa terbahak-bahak, Sebelah kakinya segera
menendang pintu rumah sehingga menjublak dan terbuka lebar Si lhama itu kembali
tertawa nyaring sambil berseri
“Keluarlah Aku ingin lihat bagaimana tampangmu yang sebenarnya”
Rumah itu gelap gulita, Tidak tampak seorang pun yang ke luar, malah tidak
terdengar suara sedikit juga.
Sementara itu, Honghu sianseng menotok beberapa bagian jalan darah Teng Kong
agar hwesio tua itu tidak berkutik lagi, perbuatan itu membuat para hwesio lainnya
menjadi gusar, tapi mereka hanya bisa berkaok-kaok dari kejauhan Hal ini disebabkan
mereka tidak berani mengadakan perlawanan maupun penyerangan
“Coba seret dia ke luar” Bayan memerintahkan beberapa orangnya agar memasuki
rumah yang gelap itu lalu menyeret penghuninya ke luar.
Dua orang segera tampil ke depan kemudian memasuki rumah. Tiba-tiba tampak
sebuah cahaya berwarna kekuningan berkelebatan Rupanya itulah bayangan toya Kim
Hong Cu yang digunakan untuk menyambut kedua penerjang itu. Masing masing
terhajar bagian kepalanya sehingga terdengarlah suara keras dan nyaring dua kali
berturut-turut kemudian disusul robohnya tubuh mereka berdua, Dalam waktu yang
bersamaan, cahaya kuning itu telah melesat masuk kembali.
Celakalah kedua orang lhama itu. Kepala mereka pecah remuk dan tubuh mereka
terkulai depan pintu.
Semua orang merasa tercekat hatinya, tidak terkecuali Bayan, Tetapi pemimpin ini
sudah mejadi marah sekali. Kembali dia berteriak keras menyuruh beberapa orangnya
yang lain maju kembal Tiga orang segera melompat ke luar untuk menerobos ke dalam
rumah itu.
Para lhama itu menerjang ke depan dengan golok masing-masing diputar ke atas,
maksudnya untuk melindungi bagian kepala, Ternyata penjagaan mereka itu tidak ada
gunanya, Meskipun mereka menjaga bagian kepala, toya itu berhasil menghajar

mereka juga, bahkan lebih parah lagi golok yang sedang berputaran itu terhajar dan
menimpa kepala mereka, akibatnya kepala mereka bukan hanya pecah, tapi malah
terbacok tidak karuan karena golok di tangan mereka sedang berputaran ketika turun ke
bawah.
Lhama yang kedua masih berusaha mengadakan perlawanan, tapi akhirnya, Dia pun
menerima nasib seperti rekannya.
Bagus peruntungan si lhama yang ketiga, saking terkejutnya, tanpa terasa goloknya
terlepas dari tangan. Tubuhnya pun mencelat mundur Karenanya, kepala lhama itu
bebas dari hantaman. Dia hanya mendapat caci maki dari pimpinannya.
Meskipun hatinya gusar sekali, Bayan yang licik tidak mau masuk sendiri ke dalam
rumah yang gelap itu.
“Naik ke atas genteng” kata Honghu sianseng memberi perintah ketika melihat
kedua serangan itu gagal “Buka semua genteng di atas, kemudian timpukkan ke bawah
sebagai senjata”
Perintah itu segera dilaksanakan Empat orang lompat naik ke atas genteng dan mulai
menyerang dengan senjata yang aneh itu.
Honghu sianseng belum puas juga, Dia memerintahkan kembali
“Bawa batu dan pasir ke mari Kemudian gunakan untuk melakukan penyerangan”
Perintah itu lagi-Iagi diturut dan orang-orangnya pun segera mencari batu serta pasir
Kemudian mereka gunakan untuk menyerang rumah yang gelap itu.
Serangan itu hebat sekali. Bagaimana orang bisa menghindarkan diri dari begitu
banyaknya genteng, batu, serta pasir?
Karena itu, segera terdengarlah sebuah suara yang menggelegar. Kemudian muncul
seorang hwesio yang sebelah tangannya memutar toya Kim Hong Cu. Tangannya yang
sebelah lagi menarik seorang hwesio lainnya, Yang luar biasa adalah tubuhnya yang
besar dan tingginya melebihi orang kebanyakan. senjatanya mengeluarkan kilauan
cahaya yang berkelebat terus, Keadaannya saat itu mirip seorang malaikat yang
sedang menghalau iblis.
“Apakah kalian sudah bosan hidup? Ayo maju semua sekalian saja” teriaknya
dengan suara bengis.
Siau Po segera teringat kepada kaisar Sun Ti. Namun perhatian orang-orang lainnya
justru tertarik pada raksasa bertubuh besar itu, Selain bentuk tubuhnya yang luar biasa,
wajahnya berwarna merah tua dan janggut serta rambutnya kusut seperti tidak pernah
diurus, pakaiannya pun rombeng sekali.

Dari celah-celah pakaiannya yang rombeng, terlihat ukuran pinggangnya yang besar
dan lengan serta jari tangan yang kasar
Tanpa terasa Bayan dan Honghu sianseng langkah mundur. Namun Bayan berteriak
dengan suara lantang.
“Jangan takut Maju terus”
Tapi saat itu juga, Honghu sianseng berteriak “Hati-hati jangan sampai melukai
hwesio yang di sampingnya”
Mendengar ucapan Honghu sianseng, otomatis perhatian semua orang tertuju pada
hwesio yang dimaksudkan. Usianya kurang lebih empat puluh tahun, Tubuhnya tinggi
kurus. Meskipun kulit wajahnya pucat, tapi ketampanannya masih tampak jelas. Hanya
saja saat itu dia menundukkan wajahnya dan memejamkan matanya. Dia seakan tidak
menghiraukan bahaya yang sedang mengancam dirinya.
– Pasti dialah ayahanda si raja cilik –, pikir Siau Po dalam hatinya, Biar bagaimana,
jantungnya berdebar-debar juga, – Tapi wajahnya kok lain dengan Sri Baginda Kong Hi.
Dia malah lebih tampan….
Ketika itu, belasan Ihama sudah menerjang ke arah si hwesio bertubuh tinggi besar.
Orang itu tetap melayani dengan memutar toyanya, Setiap kali dia menggerakkan
toyanya, pasti ada seorang atau dua orang Ihama yang roboh di tangannya.
Menyaksikan keadaan itu, Honghu sianseng mengeluarkan joan pian atau senjata
ruyungnya yang lunak kemudian dia maju menyerang dengan senjatanya yang luar
biasa itu.
Bayan Ihama turut menerjang dengan menggunakan sepasang gembolan Mereka
melakukan penyerangan dari dua arah yakni kiri dan kanan.
Joan pian di tangan Honghu sianseng langsung mengenai leher si hwesio tinggi
besar itu sehingga dia berkaok-kaok. Meskipun begitu, tangannya masih sempat
menangkis sepasang gembolan Bayan, Lhama itu terkejut setengah mati. Dia yang
melakukan penyerangan, namun tangannya pula yang terasa kesemutan dan sepasang
senjatanya pun terlepas dari cekalan.
Justru pada saat itu, joan pian yang seperti dibiarkan terlepas dari leher si hwesio
kembali menghajar bahunya, Dari kejadian ini, orang segera beranggapan bahwa ilmu
silatnya tampak biasa-biasa saja. Hanya tenaganya yang besar dan berani.
Saking banyaknya Ihama yang melakukan penyerbuan salah seorang diantaranya
berhasil menjambret lengan kiri si hwesio setengah baya yang sedang memejamkan
matanya. Mulutnya mengeluarkan seruan perlahan, Mungkin dia merasa terkejut atau
kesakitan. Tapi matanya tidak dibuka dan tidak terlihat dia meronta.

“Lindungi hwesio itu” Bisik Siau Po kepada Song Ji.
“Baik.” sahut si gadis yang tubuhnya langsung mencelat ke depan, Dengan satu kali
lompatan saja dia sudah sampai di depan Ihama yang mencekal lengan si hwesio,
Sebelum orang itu menyadari apa-apa, pinggangnya sudah terkena totokan Song Ji dan
roboh seketika.
Setelah Ihama itu terkulai lemas, hwesio itu dengan sendirinya menjadi bebas, tapi
Song Ji bukan menolongnya, dia malah membalikkan tubuhnya dan menyerang kepada
Honghu sianseng dengan mengirimkan sebuah totokan.
Orang she Honghu itu terkejut setengah mati, dia segera menggeser tubuhnya ke
kanan sehingga dengan demikian dia dapat menyelamatkan diri.
Song Ji tidak menyerangnya lagi atau mendesaknya lebih lanjut ia membalikkan
tubuhnya kembali untuk menotok dada Bayan, sebab lhama itu berada dalam jarak
yang dekat sekali dengannya.
“Celaka” seru Bayan kaget serta gusar. Tapi dia hanya sempat menegakkan
sepatah kata itu saja, sebab kemudian tubuhnya sudah jatuh terkulai di atas tanah.
Nona cilik itu tidak berhenti sampai di situ saja, dia bukannya mundur, tetapi malah
menerjang terus ke depan, Dia mengirimkan serangan totokan kepada setiap Ihama
yang ada di dekatnya, demikian juga orang-orangnya Honghu sianseng, Setiap orang
yang tersentuh jari tangannya pasti roboh terkulai di atas tanah, sehingga dalam waktu
yang singkat sudah tidak sedikit lawan yang dijatuhkannya.
Sim Ke menjadi heran juga tercekat hatinya.
“Eh, eh, sicu kecil” panggilnya, Rupanya dia ingin berbicara dengan nona itu yang
dikiranya seorang hwesio cilik segolongan dengan dirinya.
“Ya, hwesio tua” sahut Song Ji sambil tertawa, Jari tangannya segera meluncur ke
depan mengincar pinggang Sim ke.
Honghu sianseng terkejut setengah mati melihat kejadian itu, Dia segera memutar
joan piannya untuk melindungi dirinya sendiri. Dia pikir, tentu tidak lucu kalau dia
sampai tertotok juga, Karena itu, dia berusaha membuat jarak kira-kira setombak untuk
melindungi dirinya sendiri.
Namun Song Ji tidak menghiraukannya, dia terus melakukan penyerangan Namun
sekarang dia berputar ke luar dari lingkungan ujung joan pian yang dapat digunakan
seperti cambuk.
Sementara itu, Hong Tio Teng Kong sudah duduk bersila di atas lantai Dia merasa
bingung, Diam-diam dia berkata dalam hati.

— Honghu Kok itu lihay sekali Aku tidak tahu dia berasal dari partai mana, tapi si
nona.,, itu juga aneh, dia sangat lihay, Dalam sekejap mata dia berhasil merobohkan
lawan, Entah murid siapa di itu? —
Honghu Kok bergerak dengan cepat. Setiap kali ujung senjatanya mengancam tubuh
nona cili itu, setiap kali pula si nona dapat menghindarkan diri.
“Oh, dasar bocah cilik” teriak Honghu Ko ujung senjatanya kembali mengancam
dada si nona. Tampaknya dia merasa penasaran sekali. Karena itu, dia mengerahkan
tenaga yang lebih besar.
Serangan itu hebat sekali Song Ji mengelakkan diri sembari maju terus ke depan,
Dia seperti terjembab, tapi sebenarnya, sembari terhuyung ke depan dia menggunakan
kesempatan untuk menotok perut lawannya.
Honghu Kok tercekat hatinya, Dengan panik dia menggerakkan tangan kirinya untuk
menangkis totokan Song Jl Di samping itu, joan piannya juga menyambar ke arah
punggung lawannya.
Song Ji berusaha menghindarkan diri, tapi joan pian Honghu Kok telah berhasil
melilit tubuhnya, Dan ketika joan pian itu dihentakkan, otomatis tubuhnya juga tertarik
bahkan terangkat ke atas, Rupanya Honghu sianseng bermaksud mengayunkan tubuh
si nona cilik ke arah tembok untuk diadukannya.
Dengan tubuh dililit joan pian, Song Ji tidak berdiam diri, Dia berusaha melindungi
dirinya, Dengan lincah, tangannya berhasil mencengkeram joan pian itu dan
menguasainya, Tubuhnya tetap terapung di udara, Namun begitu dia menarik sekali
joan pian yang berhasil dicekalnya, tubuhnya jadi terasong ke depan, dan dia
menggunakan kesempatan itu untuk mendupak wajah lawannya.
Honghu Kok terkejut Setelah mengaduh satu kali, tubuhnya terkulai dengan
perlahan-lahan.
Song Ji segera melompat turun untuk merebut senjata joan pian lawannya.
“Bagus” Puji Siau Po merasa gembira dan kagum sekali “Kepandaian yang hebat”
Dia segera mengeluarkan pisau belatinya dan menggunakan untuk mengancam mata
kiri lawan, “Lekas turunkan perintah. Tidak ada seorang pun yang boleh datang ke
mari” katanya.
Bukan main bingungnya perasaan Honghu Kok. Kecuali sudah tidak berdaya, pisau
belati yang berkilauan itu mengancam di depan matanya pula. Dalam keadaan
demikian, terpaksa dia berteriak kepada orang-orangnya.
“Semua jangan bergerak Dengarkan baik-baik, jangan ada yang bergerak jangan
ada yang masuk ke dalam rumah ini”

Akibat totokan Song Ji, Honghu Kok sulit mengeluarkan suaranya, Kata-katanya itu
jadi tidak seberapa nyaring, Si hwesio raksasa menatap Song Ji dengan termangumangu.
“Oh, anak yang baik” katanya kemudian. setelah itu dia membimbing hwesio berusia
setengah baya itu kembali ke dalam rumah yang gelap.
Siau Po menghambur ke depan, ingin berbicara dengan si hwesio setengah baya,
tapi dia ketinggalan.
Sementara itu, Song Ji langsung menghampiri Teng Kong, dia segera
membebaskannya dari totokan lawan. Sekejap kemudian hwesio itu sudah bisa berdiri
kembali.
Sembari menolong pendeta itu, Song Ji tersenyum manis.
“Kawanan telur busuk itu sungguh jahat sekali, Mereka berani mempermainkan Lo
suhu yang maha suci”
Teng Kong memberi hormat dengan merangkapkan sepasang tangannya.
“Terima kasih, sicu” katanya. “Kau benar-benar lihay sekali dan kau telah menolong
kuil kami dari bencana, Maafkan lolap yang usianya sudah lanjut dan matanya sudah
lamur sehingga sejak semula tidak melihat ada gunung tinggi yang menjulang di depan
(Maksudnya tidak mengenali orang yang berkepandaian tinggi).”
“Jangan banyak peradatan, Lo suhu” sahut si nona, “Kau justru bersikap baik sekali
terhadap tuanku.”
Teng Kong langsung menoleh kepada Siau Po.
“Wi kongcu, bagaimana urusan ini harus diselesaikan sekarang?” tanyanya.
Song Ji memang sudah berhasil merobohkan banyak lawan, terutama tiga orang
yang menjadi pemimpinnya, Tapi di luar kuil masih banyak teman-teman mereka, biar
bagaimana urusan ini memang harus diselesaikan.
Siau Po hanya tertawa, Dia segera menghadap Honghu Kok, Bayan dan Sim Ke. Dia
tersenyum kepada mereka bertiga dan berkata.
“Tuan-tuan bertiga, bagaimana kalau aku meminta Tuan menyuruh orang-orang
kalian mengundurkan diri dari tempat ini?”
Honghu Kok menyadari situasi yang mereka hadapi, Dia sudah menduga Siau Po
atau pihak lawan akan mengajukan permintaan itu, Karena itu, tanpa menunggu si
bocah menyelesaikan ucapannya, dia sudah berteriak.

“Kalian semua boleh pergi. Tunggu kami di kaki gunung”
“Ya” terdengar sahutan dari beberapa ratus orangnya, disusul dengan suara riuh
derap langkah kaki yang berlarian turun gunung.
Menyaksikan hal itu, hati Teng Kong menjadi agak lega, Dia segera menghampiri
Sim Ke dan tangannya diulurkan, Dia berniat membebaskan totokan pada tubuh Hong
Tio dari Hud Kong si itu.
“Hong Tio, sabar sebentar” kata Siau Po mencegah “Aku masih ingin berbicara
denganmu.”
“Tetapi beberapa saudara ini masih dalam keadaan tertotok,” kata si hwesio yang
murah hati, “Kalau terlalu lama membiarkan mereka dalam keadaan tidak bergerak,
kaki mereka bisa menjadi kaku dan bahkan bisa mengakibatkan kelumpuhan.
sebaiknya mereka ini dibebaskan terlebih dahuIu”
“Jangan terburu-buru, Hong Tio.” kata Siau Po sembari tertawa, “Waktu kita masih
banyak, sebaiknya kita duduk dulu di dalam ruangan pendopo untuk berbincangbincang
sejenak”
Mau tidak mau, Teng Kong terpaksa menurut Dia menganggukkan kepalanya,
Kepandaian hwesio tua ini memang tinggi, tapi hatinya lemah. Kalau melakukan
sesuatu, dia tidak bisa bersikap tegas. “Suheng, harap sabar sebentar, nanti aku akan
membebaskan totokanmu” katanya kepada Sim Ke. Selesai berkata, dia mengajak
Siau Po ke pendopo sebelah barat.
“Hong Tio, benarkah orang-orang rombongan tadi sedang mencari seorang lhama
cilik?” tanya Siau Po.
Teng Kong membungkam. Dia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Hal ini karena
dia mengetahui dengan baik tujuan Bayan dan yang lainnya datang ke kuil Ceng Liang
si dan dia sulit menjelaskannya kepada Siau Po.
Siau Po mengerti kesulitan orang, Dia mendekati telinga hwesio itu dan berkata
kepadanya dengan suara berbisik.
“Aku tahu siapa yang mereka cari, mereka mencari pendeta yang tadinya seorang
kaisar…”
Tubuh Teng Kong bergetar mendengar kata-kata Siau Po. Dia sempat terhuyunghuyung
namun dia menganggukkan kepalanya juga.
“Oh, kiranya sicu juga mengetahui urusan ini.” katanya, “sebenarnya lolap pun sudah
merasa heran dengan kedatangan sicu ke Ceng Liang si untuk bersembahyang, Aku
merasa tidak wajar sekali….”

Siau Po tidak menanyakan apa-apa lagi tentang kaisar Sun Ti, dia mengalihkan
pembicaraannya tentang Bayan dan rombongannya.
“Honghu Kok dan Bayan memang sudah tertawan tapi mereka mendatangkan
kesulitan bagi kita Bukankah mudah membekuk seekor harimau, namun berbahaya
apabila kita melepaskannya? Kalau sekarang kita membebaskan mereka, lalu dalam
waktu beberapa hari mereka datang lagi, bagaimana ? Bukankah kita dilanda kesulitan
kembali?”
“Meskipun demikian, kita toh tidak bisa membunuh orang seenaknya” kata Teng
Kong yang hatinya welas asih, “Sekarang saja sudah beberapa orang yang jadi korban
Amitaba Buddha Omitohud”
“Membunuh orang juga tidak ada gunanya,” kata Siau Po. “Aku lihat, sebaiknya kita
atur begini saja, kau perintahkan beberapa orang untuk meringkus mereka dan kita
minta keterangan dari mereka, sebenarnya mereka mempunyai tujuan apa sehingga
mencari kaisar yang sudah mengundurkan diri dari tahta kerajaan itu?”
Teng Kong merasa serba salah.
“Tempat lolap ini adalah tempat Buddha yang maha suci dan welas asih” katanya
kemudian “Kami adalah orang-orang yang beribadat, mana boleh kami meringkus orang
dan mengadakan pemeriksaan perbuatan itu sungguh tidak pantas bagi orang yang
sudah menyucikan diri.”
“Apa yang dikatakan pantas atau tidak pantas?” tanya Siau Po. “Lalu apakah
perbuatan mereka datang ke mari dan melakukan penggeledahan seenaknya dapat
disebut sebagai sesuatu yang pantas? Apakah pantas mereka membunuh para hwesio
yang menjadi muridmu atau seluruh penghuni kuil ini? Kalau kita tidak memeriksa
mereka sampai jelas, kelak mereka pasti berani datang lagi untuk melakukan
pembunuhan atau mungkin pembakar-n atas kuil Ceng Liang si. Apa yang akan kau
lakukan apabila hal itu sampai terjadi?”
Teng Kong merenung sejenak, Selang sekian lama, dia baru menganggukkan
kepalanya.
“Kalau begitu, terserah kepada sicu saja” sahutnya kemudian Lalu dia menepuk
tangannya dua kali,
Segera muncul beberapa orang hwesio dari luar pendopo.
“Pergi kau, undang Tuan Honghu itu datang ke mari” katanya, “Bilang bahwa kami
ingin berbicara dengannya untuk mendapatkan beberapa petunjuk.
“Tampaknya orang she Honghu itu agak licik,” kata Siau Po. “Aku khawatir kita tidak
akan mendapat keterangan apa-apa. Lebih baik kita minta dulu keterangan Bayan
Ihama yang tinggi besar itu”

“Benar, benar” kata Teng Kong, “Mengapa aku tidak berpikir sampai ke sana?”
Hwesio itu segera menyuruh muridnya mengundang Bayan Ihama, Tidak lama
kemudian, muncullah Bayan dengan dibimbing oleh dua orang hwesio, Begitu sampai di
dalam ruangan pendopo, rupanya kedua orang hwesio itu menjadi sengit mengingat
beberapa kawannya yang telah menjadi korban si Ihama gemuk ini. Mereka
melepaskan bimbingannya dengan setengah mendorong sehingga orang itu jatuh
terjerembab dengan keras.
“Aih Mengapa kalian begitu tidak tahu aturan terhadap seorang lhama besar?” seru
Teng Kong menegur muridnya.
“Maaf, suhu” sahut kedua orang itu, Mereka segera mengundurkan diri.
Siau Po mengambil sebuah kursi, kemudian dia memotong salah satu kakinya dan
diraut berulang-ulang dengan pisau belatinya. Dalam sekejap mata kaki meja itu sudah
menjadi runcing, Dia lalu memotong kaki meja yang lainnya dan melakukan hal yang
sama, Karena pisau belatinya tajam sekali, beberapa saat saja keempat kaki kursi itu
sudah teraut menjadi pasak kayu yang runcing.
Teng Kong heran menyaksikan tindak tanduk bocah tanggung itu, Apa yang sedang
dilakukannya?
Setelah selesai meraut kaki kursi, baru Siau Po menghampiri Bayan, Dia mengusap
kepala orang itu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan nya membolangbalingkan
pisau belatinya dengan gaya yang persis seperti dia meraut kaki kursi tadi.
“Jangan” teriak Bayan yang mengira dirinya akan dibunuh.
“Jangan” Teng Kong ikut mencegah.
“Jangan apanya?” bentak Siau Po dengan suara garang, “Aku tahu di Tibet, semua
lhama besar kaum Bit Cong mempelajari semacam ilmu kebal yang dinamakan ilmu
kepala besi, Orang yang menguasai ilmu itu tidak mempan terhadap tombak maupun
goIok, Ketika di Pe King, aku pernah membacok kepala seorang Ihama, setengah
harian aku membacoknya berulang kali, akhirnya tanganku sampai pegal sendiri, tapi
orang itu malah seperti tidak merasakan apa-apa. Golokku tidak mempan terhadapnya.
Karena itu, lhama besar, aku ingin tahu kau ini barang palsu atau barang asli? Tanpa
diuji terlebih dahulu, bagaimana aku dapat membuktikannya?”
Mendengar kata-kata Siau Po, Song Ji tersenyum-senyum, Dia merasa tuan
mudanya ini jenaka sekali.
“Aku belum pernah mempelajari ilmu kepala

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s