“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 45

para lhama diundang untuk membaca doa.
Karena istana raja sendiri berbuat demikian tentu para pangeran dan menteri lainnya
juga menirunya, Hal ini membuat para lhama di Kerajaan raja besar kepala dan sering
melakukan hal-hal yang menentang hukum.
Siau Po sudah berpikir untuk menyiksa para lhama itu dan memberi mereka
pelajaran Setelah itu dia baru membebaskan mereka, Tidak tahunya, ia melihat tingkah
laku para lhama itu yang mencurigakan. Dia menduga bahwa mengandung maksud
tertentu dan bukan pergi ke Kerajaan hanya untuk membaca doa saja.
“Oh, rupanya kalian bertiga sedang bermain gila” katanya dengan suara garang.
“Song Ji, tendang lagi mereka masing-masing satu kali, biar mereka menjerit-jerit
kesakitan Setelah itu kita baru melanjutkan perjalanan”

“Baik” sahut Song Ji. Dia juga mencurigai gerak gerik si lhama gemuk dan segera
dia menendang keras-keras. Yang diincarnya jalan darah yang tadi juga.
Lhama itu kontan menjerit keras, Song Ji menghampiri lagi lhama yang menjadi
korbannya tadi dan siap menendang pula, Lhama itu ketakutan setengah mati. Dia
sudah merasakan penderitaannya yang hebat, karena itu, sebelum ditendang, si lhama
langsung berkata.
“Jangan tendang aku, jangan tendang aku. Nanti aku akan bicara Se… benarnya
guru kami mengirim kami ke Kerajaan untuk membawa dan menyampaikan sepucuk
surat….”
“Surat?”
“Iya….”
“Mana surat itu?”
“Surat itu bukan untukmu, jadi aku tidak dapat menyerahkannya kepada kalian
berdua, Kalau guru kami mengetahuinya, kami pasti akan celaka, Kemungkinan kami
malah akan dibunuhnya….”
“Keluarkan surat itu” bentak Siau Po. Dia tidak menghiraukan keberatan lhama itu.
“Kalau tidak, akan kusuruh nona ini menendang lagi jalan darahmu.”
Siau Po berkata sambil menghampiri lhama itu, Orang itu ketakutan setengah mati.
Dia tahu anak muda itu bukan hanya sekedar menggertak. Dia takut jalan darahnya
ditendang lagi, Karena itu dia menjadi bingung sekali.
“Jangan tendang aku” teriaknya panik, “Surat itu tidak ada padaku.”
“Jangan banyak bicarat Pokoknya, keluarkan surat itu”
Lhama itu ketakutan. Dia segera menghampiri kedua kawannya dan mengajak
mereka berbicara dengan bahasa Tibet. Si lhama gemuk juga menjawab dengan
bahasa yang sama, Tidak jelas apa yang mereka katakan, tapi Siau Po dapat menduga
bahwa si gemuk itu melarang rekannya memberikan surat itu kepada mereka, Siau Po
menjadi sengit sekali, Dihampirinya lhama bertubuh gemuk itu kemudian didupaknya
bagian belakang kepalanya dengan keras sehingga orang itu terkulai tidak sadarkan
diri.
Pendeta yang ketiga dapat melihat dengan jelas semua yang terjadi di depan
matanya, Dia segera merogoh kantongnya dan mengeluarkan surat yang dimaksud
Surat itu terbungkus rapi dengan kertas minyak, Dengan kedua tangannya dia
menyerahkan surat itu kepada Siau Po.

Siau Po segera menerima surat itu dan Song Ji merogoh kantongnya sendiri
mengambil sebuah gunting kecil dan digunakannya untuk membantu Siau Po membuka
pembungkus surat itu.
Memang benar, bungkusan itu berisi surat yang bagian luarnya terdapat dua baris
huruf dalam bahasa Tibet.
“Kepada siapa surat ini ditujukan?” tanya Siau Po.
“Untuk paman guru kami.” sahut lhama gemuk itu.
Siau Po segera merobek amplop surat tersebut. Melihat tindakannya, kedua lhama
yang masih sadar langsung mengeluarkan seruan tertahan saking bingungnya.
Surat itu ditulis dengan sehelai kertas kuning. Tulisannya menggunakan bahasa
Tibet, Di bawahnya ada tulisan panjang yang menggunakan tinta merah seperti hu atau
(kertas penangkal setan), Entah apa bunyinya, jangankan surat itu ditulis dalam bahasa
Tibet, meskipun ditulis dalam bahasa Cina sekalipun, Siau Po juga tidak bisa membacanya.
Dia segera menyerahkan surat itu kepada Song Ji.
Song Ji mengulurkan tangannya menyambut surat itu, Gadis itu melihatnya dengan
seksama, tapi dia juga tidak mengerti arti tulisan itu. Namun dia memang cerdas, dia
segera menoleh pada si lhama yang pendek dan berkata.
“Siangkong menanyakan arti tulisan dalam surat ini. Apa bunyinya? Kalau kau
berbohong, aku akan menendangmu sekali lagi, Dan kali ini, aku tidak akan
membebaskan dirimu, kau akan kubiarkan dalam keadaan tertotok untuk selamalamanya.”
Sembari berkata, Song Ji menyodorkan surat itu, Si lhama menerimanya, dan
melihatnya berulang kali, tapi tidak membacanya, “Ini… ini…” katanya dengan gugup,
“Apanya yang ini… ini terus? Cepat bicara” bentak Siau Po.
“Iya.,, iya,” kata si lhama ketakutan “Surat in berbunyi: Apa.,, yang kakak tanyakan
tentang orang itu….”
Baru berkata beberapa patah kata, kawannya yang satu lagi, bukan si gemuk, segera
berbicara dengan menggunakan bahasa mereka, Tapi dia juga hanya sempat berbicara
beberapa patah kata saja.
Tiba-tiba Song Ji menggerakkan kakinya menendang lhama itu. Meskipun gadis itu
tidak mengerti apa yang dikatakan orang itu barusan, tapi dia yakin tujuannya pasti ingin
mencegah rekannya berbicara lebih lanjut.
Orang yang kena tendangan itu langsung menjerit keras dan berkaok-kaok. Dia
ditendang jalan darahnya yang sama, jadi dia juga merasakan penderitaan seperti
rekannya tadi.

Si lhama yang membaca isi surat itu jadi ketakutan setengah mati, wajahnya pucat
pasi.
“Da… lam… surat itu dikatakan bahwa… orang yang kita cari tidak berhasil
ditemukan, karena itu tentu tidak ada di gunung Ngo Tay san….”
Siau Po menatap orang itu dengan pandangan tajam, Dia melihat orang itu membaca
dengan tersendat-sendat dan matanya terus berputaran ke sana ke mari.
“– Aku tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan, tapi dapat dipastikan bahwa dia
sedang berdusta.” pikirnya dalam hati, — Oh, pendeta tolol, berdusta saja tidak bisa –,
karena itu dia segera berkata, “Manusia ini sedang membohongi aku.”
“Hai manusia busuk” teriak Song Ji. “Dia benar-benar tidak boleh diampuni.”
Sebelah kakin langsung diangkat dan menendang jalan darah Thia hoat si Ihama itu
sehingga orang itu langsung menjerit sekeras-kerasnya.
“Kau… kau bunuhlah aku. Kakak seperguruan ku tadi sudah mengatakan apabila isi
surat itu dibertahukan, maka kami bertiga akan kehilangan nyawa, Maka itu, kau bunuh
saja aku”
“Jangan perdulikan dia Mari kita pergi” ka Siau Po, Selesai berkata, Siau Po
melompat naik ke atas keretanya, Song Ji mengikutinya.
Sementara itu, si kusir benar-benar kagum. Dia telah menyaksikan semuanya, Dia
tidak menyangka nona tanggung itu sanggup melawan tiga orang lhama tersebut.
Di atas kereta, Siau Po membisiki Song Ji “Di depan sana, bila kita sampai di sebuah
pasar atau pun kota, kau harus mengganti pakaian untuk menyamar sebaiknya kalung
mutiara itu kau simpan saja.”
“Baik.” sahut Song Ji. “Bagaimana aku harus merubah dandananku?” Siau Po
tertawa. “Kau menyamar menjadi seorang bocah laki-laki” katanya.
Song Ji ikut tertawa.
Kereta berjalan kurang lebih tiga puluh li dan sampailah mereka di sebuah pasar.
Siau Po turun dari kereta, tidak memperpanjang sewaannya.
Setelah mendapatkan penginapan dia memberi uang pada Song Ji dan
menyuruhnya membeli pakaian.
Nona cilik itu menurut. Tidak lama dia pergi, ternyata dia sudah kembali dengan
barang belanjaannya, setibanya di dalam kamar, dia langsung berdandan Sesaat
kemudian dia sudah berubah menjadi seorang Sitong atau kacung pelayan seorang
sastrawan

Dengan demikian, perjalanan selanjutnya membuat Song Ji tidak lagi menarik
perhatian. Namun ada satu hal yang patut disayangkan, meskipun kepandaiannya
cukup tinggi, tapi pengalamannya kurang sekali Begitu pula pengetahuan umumnya. Di
dalam segala hal, dia selalu menurut apa yang dikatakan Siau Po. Sebaliknya, Siau Po
cerdas dan sudah cukup banyak pengalaman tapi dia lemah dalam ilmu membaca dan
menulis.
Pada suatu hari, tibalah mereka di tapal batas propinsi Shoa Say. Dari tempat ini,
dari kecamatan Hu Peng yang masih termasuk wilayah Tit-le, mereka menuju ke barat
Setelah melewati tembok besar Ban Li tiang ceng, mereka sampai di kota Liong Ki
kwan. inilah jalan untuk menuju ke bagian timur dari gunung Ngo Tay san. jalannya
penuh dengan bebatuan. Di sana juga terdapat banyak tebing dan puncak yang tinggi,
Kemudian mereka juga mampir di kuil Yong Coan si, untuk mencari keterangan tentang
kuil Ceng Liang si.
Ngo Tay san luas dan lebar, Kuil Ceng liang si terdapat di antara kedua puncak Lam
tay dan Tion tay. Terpisah dari kuil Yong Coan si, letak kuil Cen Liang si sendiri masih
cukup jauh.
Siau Po bermalam di dusun Lou Ki Cung yan terletak di sisi kuil Yong Coan si, Malam
itu, selesai bersantap, dia merenungkan kembali gerak-gerik pendeta Yong Coan si
yang melayaninya berbicara.
Dia merasa pendeta itu kurang begitu memperhatikannya, Mungkin karena dia hanya
seorang kacung yang tidak dihargai Ketika dia meminta keterangan dari si pendeta
tentang jalanan menuju kuil Ceng Liang si, hwesio itu mengatakan.
“Jalanan ke sana jauh dan sulit ditempuh, Untuk apa kau pergi ke kuil Ceng Liang
si,.?”
– Rupanya perjalanan menuju kuil Ceng Lian si agak sulit ditempuh – Demikian
pikirnya dalam hati — Aku harus menemukan jalan keluarnya. Kalau sulit mencapai
tempat itu, berarti sukar pula bagiku untuk bertemu dengan kaisar Sun Ti. —
Sembari menikmati teh hangatnya, otak Siau Po terus bekerja.
— Dengan uang, setan pun dapat diperintah. –pikirnya kemudian – Mustahil para
pendeta di kuil Yong Coan si tidak menyukai uang? Aku ingat kisah yang dituturkan
tukang cerita yang ambil bagian peranan Lou Ti Cim yang naik ke puncak gunung Ngo
Tay san untuk menjadi pendeta dalam kisah Sui Hu Coan. Dalam cerita itu, dikatakan
dermawan Tio telah banyak menyumbangkan uang untuk kuil itu. Lou Ti Cim suka
mengacau, Dengan seenaknya dia makan daging dan minum arak, tapi si pendeta tua
yang menjadi gurunya tidak marah. Mungkin ada baiknya bila aku datang kembali untuk
pura-pura melakukan amal Aku akan menyebarkan uang-ku di sana, kemudian aku
akan menetap di kuil itu, Mustahil si pendeta tua akan memaksakan diri mengusirku? —

Siau Po sudah memikirkan rencahanya, tapi untuk melaksanakannya masih
memerlukan sedikit waktu, Di tempat itu dan sekitarnya, uang goan pio seharga lima
ratus tail saja sulit di tukar. Karena itu, terpaksa mereka kembali ke Hu Peng untuk
menukar uang kecil. Mereka juga membeli beberapa perangkat pakaian baru untuk
menyalin dandanannya.
– Aku tidak mengerti urusan sembahyang, mungkin aku akan membuka kedokku
sendiri –pikirnya lebih jauh, – sebaiknya aku belajar dulu di kuil lain…. —
Dengan membawa pikiran seperti itu, Siau Po segera menuju sebuah kuil yang
terdapat di kecamatan Hu Peng. setibanya di sana dia berlutut dan menyembah di
depan Pou Sat, setelah itu datang seorang pendeta yang menyodorkan buku derma
kepadanya.
— Aku ingin menderma, tapi apa yang harus kutuliskan? –, tanya Siau Po dalam
hatinya, Akhir-nya dia mengeluarkan sehelai goan pio senilai lima puluh tail perak
sehingga si pendeta menjadi terkejut setengah mati melihat jumlah yang demikian
besar.
— Tuan ini sungguh murah hati, jarang ada orang yang seperti ia di jaman ini — pikir
pendeta itu.
Karena itu, pendeta tersebut segera mengundang Siau Po bersantap dalam kuilnya,
Dia mengucapkan terima kasih dan melayani Siau Po dengan baik sekali, Dia duduk
menemani dan tidak lupa memuji sang tamu yang dikatakan pasti akan mendapat
berkah karena kemurahan hatinya itu.
Dia mengatakan tamunya akan mendapat perlindungan dari Pou Sat dan
Bodhisatwa, bila sudah dewasa kelak akan berhasil lulus dalam menempuh ujian di
istana dan akan hidup bahagia bersama banyak anak cucunya.
Di dalam hatinya, Siau Po tertawa geli.
— Ya, kau boleh saja menepuk-nepuk pinggulku, — pikirnya. – Aku toh buta huruf,
man mungkin aku lulus dalam ujian, apalagi ujian di Istana Sama saja kau menyindir
aku secara terang-terangan. — Tapi di luarnya, dia tidak menunjukkan perasaan apaapa,
hanya bertanya.
“Lo suhu, aku berniat mengadakan upacara sembahyang besar di gunung Ngo Tay
san, tapi aku tidak mengerti apa-apa tentang hal itu, Karena itu, sudilah kiranya Lo suhu
memberikan petunjuknya”
“Bagus sekali, sicu.” kata si pendeta, “Tapi kuil yang memuja sang Buddha ada di
mana-mana dan semuanya sama saja, Kalau hanya ingin mengadakan upacara
sembahyang, sebaiknya sicu bikin di sini saja. Kuil kami dapat menyiapkan semuanya
dengan sempurna. Untuk apa harus melelahkan diri ke gunung Ngo Tay san yang
begitu jauh letaknya?” Siau Po segera menggelengkan kepalanya.

“Tidak bisa” katanya. “Aku harus bersembahyang di gunung Ngo Tay san, karena
itulah janji yang sudah kuucapkan, sekarang begini saja, Lo suhu tolong carikan satu
orang untuk menjadi pembantuku Dan tentu saja aku akan memberikan uang sebagai
upahnya, Ini”
Tidak kepalang tanggung, Siau Po menyodorkan uang sebanyak lima puluh tail
perak, Tentu saja pendeta itu menjadi senang sekali.
“Gampang Gampang” katanya, Dia ingat saudara misannya yang membantu di kuil
Meskipun bukan seorang pendeta, tapi urusan mengadakan upacara sembahyang saja
tidak menjadi masalah baginya. pasti dia dapat membantu tamunya ini.
Karena itu, dia langsung memanggil saudara misannya untuk dipertemukan dengan
tamunya itu.
Saudara misannya itu bernama le Pat. Dia pandai berbicara, Siau Po senang
mendapat pembantu seperti itu, Dia langsung mengajaknya pulang ke penginapan
kemudian dia mengeluarkan uang menyuruh le Pat membelikan segala macam
keperluan yang dibutuhkan.
le Pat pandai berbelanja. Bahkan dia membeli seperangkat pakaian untuk dirinya
sendiri Dia juga membelikan pakaian yang mentereng untuk Siau Po. Katanya, sebagai
pengikut seorang hartawan dia harus menyesuaikan dirinya, Harga pakaiannya sendiri
hanya lima tail.
Alasan itu memang masuk akal Siau Po dapa menerimanya, Dia juga menyuruh le
Pat membelikan lagi beberapa perangkat pakaian untuk Song Ji. Setelah itu bersamasama
mereka berangkat ke Liong Coan Kwan Sesudah melintasiny mereka langsung
menuju selatan, menuju Gunung Ngo Tay san.
Barang-barang keperluan bersembahyang digotong oleh delapan orang kuli.
perjalanan ini melalui banyak kuil, Malamnya mereka singgah di kuil Le Keng si,
keesokan harinya rombongan itu menuju ke utara, Setelah sampai di kuil Kim Kok si,
beberapa li di sebelah barat terletak kuil Ceng Lia si yang letaknya di puncak bukit Ceng
Liang san.
Siau Po kecewa ketika melihat kuil itu, melihat keadaannya tidak berbeda dengan
kuil-kuil lainnya dan jauh sekali dari bayangan Siau Po sebelumnya.
— Kalau raja tua ingin menyucikan diri, seharusnya beliau memilih kuil yang besar
dan namanya tersohor. Masa dia memilih kuil seperti itu? Pasti Hay kong kong
mengoceh sembarangan Kemungkinan kaisar Sun Ti tidak berada di sini. — pikirnya
dalam hati.
le Pat yang pertama-tama masuk ke dalam pintu gerbang kuil, Dia langsung
menemui Ti Kek Ceng (Pendeta yang bertugas menyambut tamu), memberitahukan

tentang kedatangan seorang hartawan besar dari Kerajaan yang ingin bersembahyang
di kuil itu,
Pendeta itu senang sekali, dia segera mengabarkan berita itu kepada gurunya, yakni
pendeta Teng Kong yang usianya sudah lanjut, Siau Po langsung dipertemukan dengan
pendeta itu, pendeta itu menanyakan maksud Siau Po mengadakan upacara
sembahyang.
Kembali Siau Po merasa kecewa melihat tampang si pendeta. orangnya bertubuh
jangkung dan kurus kering, kedua matanya agak tertutup, seperti orang yang tidak
mempunyai semangat sedikit pun. Tapi Siau Po tetap menjawab pertanyaannya.
“Aku ingin bersembahyang selama tujuh hari tujuh malam untuk arwahku dan temantemannya
yang telah meninggal dunia.”
Tampaknya Teng Kong merasa heran mendengar jawaban itu.
“Di Kotaraja terdapat banyak kuil yang besar, mengapa sicu justru datang ke kuil
sejauh ini?” tanyanya.
“Tentu saja ada sebabnya, suhu.” sahut Siau Po. “Pada tanggal lima belas bulan
yang lalu, ibuku bermimpi bertemu dengan arwah ayahku, Beliau mengatakan agar aku
mengadakan upacara sembahyang di kuil Ceng Liang si, Ngo Tay san. Menurut ibuku,
ayah mengatakan hal ini demi menebus dosa ayah agar mereka tidak tersiksa lebih
lama dalam neraka,”
Siau Po hanya mengoceh sembarangan Sebab dia sendiri tidak tahu siapa ayahnya
dan dia juga tidak tahu apakah ayahnya itu masih hidup atau sudah mati. Ketika
memberikan jawaban, dalam hatinya dia tertawa sendiri.
“Oh, begitu rupanya.” kata Teng Kong. Tapi ada satu hal yang perlu sicu ketahui,
mimpi adalah sesuatu yang sulit dijelaskan. Kebanyakan orang percaya, bila di siang
hari kita mengingat sesuatu terlalu dalam, maka malam hari kita akan memimpikannya,
Kita tidak dapat mempercayai sebuah mimpi begitu saja…”
“Tapi, suhu.,.” kata Siau Po. “Masih ada persoalan lainnya, Pepatah mengatakan,
lebih baik percaya dari pada tidak, Karena itu, katakanlah impian ibuku itu tidak benar,
toh lebih baik aku menyembahyanginya. Bagaimana kalau ternyata impian itu benar dan
aku tidak menurut? Bagaimana kalau arwah ayahku di dalam neraka disiksa oleh Gu
tau be bin (Mahluk-mahluk berkepala kerbau dan berwajah kuda)? Bagaimana hatiku
bisa tenang? Lagipula, aku sedang melaksanakan titah ibuku yang mengatakan bahwa
beliau berjodoh dengan kepala pendeta kuil Ceng Liang si. Biar bagaimana,
sembahyang besar ini harus dilakukan di sini.”
Berkata demikian, si anak aneh ini pun berpikir dalam hatinya.

– Kalau kau memang berjodoh dengan ibuku, pergilah ke Li Cun wan di Yang-ciu dan
bersenang-senang di sana…
Teng Kong segera memperdengarkan suara yang kurang puas.
“Sicu, ada sesuatu hal yang sicu tidak mengerti.” katanya, “Sebetulnya kuil kami ini
termasuk golongan Sian Cong (Khusus menerima orang-orang yang ingin menyucikan
diri), kami tidak biasa melakukan upacara sembahyangan, sembahyang seperti itu
biasanya diadakan dalam kuil golongan Ceng Tou Cong. Kuil sejenis itu banyak
terdapat di daerah Ngo Tay san ini. Umpamanya kuil Kim Kok si, kuil Pau Ci si, kuil Tay
Hud si, dan kuil Yan Keng si. sebaiknya sicu pergi saja kesalah satu kuil tersebut.
Siau Po merasa heran pendeta di Hu Peng saja memandang tinggi kuil Ceng Lang si.
Di balik semua ini pasti ada sebab-musababnya, Dia mencoba meminta lagi, tapi Teng
Kong tetap menolaknya. Bahkan pendeta itu bangkit dan berkata kepada pendeta yang
bertugas menyambut tamu.
“Tunjukkanlah jalan pada sicu ini bagaimana mencapai kuil Kin Kok si, Maafkan lolap
(panggilan seorang pendeta untuk dirinya sendiri), aku tidak dapat menemani sicu lebih
lama lagi.” Siau Po jadi kebingungan “Lo suhu, kalau begitu, sudilah kiranya kau
menerima barang-barang yang diperlukan para pendeta di sini” katanya, “Di dalamnya
ada jubah, kopiah, serta uang yang hendak kami amalkan…”
“Terima kasih, sicul” kata Teng Kong yang tampaknya tidak tertarik meskipun barang
bawaan Siau Po banyak sekali
Siau Po benar-benar penasaran. Dia berkata kembali
“lbuku berpesan, aku harus menyerahkan barang-barang ini langsung ke tangan
setiap suhu yang ada di sini. Tidak terkecuali tukang masak, tukang kebun dan yang
lainnya. Semua sudah disediakan bagiannya masing-masing. Barang yang aku sedia
kan cukup untuk delapan ratus orang. Kalau masih kurang, aku harus membelinya
lagi….”
“lni pun sudah cukup, sicu, Malah kebanyakan. sahut si pendeta, “Jumlah pendeta di
dalam kuil kami hanya empat ratus lima puluh orang, Kalau sicu tetap mendesak,
baiklah, Sicu tinggalkan saja bagian untuk empat ratus lima puluh orang.”
Siau Po menganggukkan kepalanya, tapi dia masih berkata.
“Dapatkah Lo suhu memanggilkan semua anggota kuil agar berkumpul di sini?
Dengan demikian, aku bisa menyerahkannya dengan kedua tanganku sendiri inilah
pesan yang dititipkan ibuku, aku tidak berani melanggarnya.”
Tiba-tiba Teng Kong mengangkat kepalanya, sekilas tampak matanya menyorotkan
sinar berkilau bagai kiiat, tapi hanya sekejap kemudian dia menundukkan kepalanya
kembali setelah itu dia merangkapkan sepasang tangannya dan memuji Sang Buddha.

“Baiklah Aku akan mengiringi kehendak sicu,” katanya kemudian, Dia langsung
membalikkan tubuhnya dan melangkah ke dalam
Siau Po merasa heran, Dia memperhatikan tubuh si pendeta yang tinggi dan kurus.
Dia jadi mendongkol sendiri melihat sikap si pendeta itu, Dia mengangkat cawan tehnya
kemudian meneguknya sampai kering.
Ie Pat yang berdiri di belakang si bocah tanggung berkata dengan suara perlahan
“Seumur hidup aku baru melihat pendeta seaneh itu. pantas saja, meskipun kuilnya
besar, tapi tubuh suci Sang Bodhisatwa rusak tidak terurus” Tidak lama kemudian,
terdengar bunyi lonceng, Kemudian si Ti Kek Ceng berkata.
“Sicu, silahkan sicu masuk ke dalam”
Siau Po menganggukkan kepalanya dan langsung melangkah ke da1am. Si pendeta
menjadi petunjuk jalan, setibanya di pendopo besar, para pendeta sudah berkumpul di
sana, semuanya berbaris dengan rapi, Tanpa menunda waktu lagi, Siau Po membagibagikan
hadiahnya.
Sembari bekerja, Siau Po memperhatikan wajah para pendeta itu satu persatu. Di
dalam hatinya dia berkata: Aku tidak pernah melihat wajah raja Sun Ti, tapi dia toh ayah
si raja cilik, kemungkinan tampangnya tidak sama dengan para pendeta lainnya. Atau
mungkin saja ada sedikit kemiripan dengan kaisar Kong Hi…
Ternyata harapan Siau Po sia-sia belaka, sampai ia selesai membagi-bagikan
amalnya, tetap tidak ditemuinya orang yang dicari Bahkan yang mirip pun tidak ada.
Saking kecewa, dia berkata dalam hati.
“Tapi, beliau adalah orang agung, mana mungkin dia sudi menerima hadiah seperti
ini? Benar-benar sebuah rencana yang bodoh “
Siau Po masih tetap penasaran, dia bertanya sekali lagi apakah tidak ada hwesio
yang ketinggalan menerima hadiah berupa jubah dan kopiah itu.
“Semuanya sudah mendapat bagian, sicu. Dan semuanya berterima kasih sekali
terhadap sicu.” sahut si pendeta penyambut tamu.
“Benarkah semuanya sudah menerima hadiah?” tanya Siau Po menegaskan “Siapa
tahu ada salah seorang di antaranya yang tidak sudi menerima hadiah ini?”
“Sicu bergurau” kata pendeta itu. “Mana mungkin ada kejadian seperti itu?”
“Orang yang sudah menyucikan diri tidak boleh berdusta.” kata Siau Po. “Kalau kau
membohongi aku, setelah kau mati, di dalam neraka nanti, kau akan disiksa, Lidahmu
akan dibetot ke luar….”

Mendengar kata-kata Siau Po, wajah pendeta itu menjadi pucat pasi, Siau Po melihat
dan dapat menerka sebabnya. Karena itu dia segera berkata, “Kalau masih ada yang
belum mendapatkan hadiah, lekas undang dia keluar”
“Hanya guru kepala kami yang belum mendapatkan bagiannya.” sahut si pendeta,
“Tapi aku rasa sebaiknya beliau tidak usah diundang ke luar.”
Belum sempat Siau Po mengatakan apa-apa, tampaklah seorang pendeta
menghambur ke dalam dan memberikan laporannya dengan sikap gugup.
“Suheng, di luar ada belasan lhama yang memohon bertemu dengan ketua kita….
Mereka membawa senjata, dan berulang kali mengayunkan tinjunya di depan kami.
Tampaknya mereka mempunyai niat yang kurang baik.”
Kata-katanya yang terakhir diucapkan dengan perlahan sekali, Ti Kek Ceng itu
mengernyitkan sepasang alisnya.
“Di Gunung Ngo Tay san ini, antara kuil hijau dan kuil kuning, biasanya belum pernah
berhubungan.” katanya, “Lalu ada apa mereka datang kemari? pergilah kau lapor
kepada Hong Tio (ketua), aku akan menemui mereka.”
“Maafl” katanya kepada Siau Po kemudian membalikkan tubuhnya untuk bertindak ke
luar.
Siau Po tertawa, sembari memandangi punggung pendeta itu dia menggumam
seorang diri.
“Pasti para lhama itu sudah datangi Meskipun demikian, Siau Po sama sekali tidak
takut. Dia yakin kalau baru belasan lhama, Song Ji pasti sanggup menghadapinya.
Dari arah pintu gerbang segera terdengar suara yang bising, disusul dengan
masuknya serombongan orang ke dalam pendopo besar tersebut.
“Mari kita lihat keramaian” ajak Siau Po.
Setibanya di ruang pendopo besar, mereka melihat belasan lhama sedang
mengerumuni di Ti Kek ceng dan berbicara dengan suara yang berisik.
“Tidak bisa tidak pokoknya kuil ini harus digeledah” kata salah seorang pendeta
yang berasal dari Tibet itu, “Ada orang yang melihat dia masuk ke dalam kuil Ceng
Liang si ini.”
“Dalam urusan ini, kalianlah yang tidak benar, Tegur lhama lainnya, “Apakah kalian
menyembunyikan orang itu?”
“Sebaiknya kalian serahkan saja orang itu” kata lhama yang ketiga, “Kalau tidak,
awas”

Siau Po berjalan ke samping pendopo otaknya bekerja,
— Lohu berada di sini, majulah kalian ke mari –, katanya dalam hati,
Tapi tidak ada seorang pendeta pun yang memperdulikannya, Mereka hanya
menuding Ti Kek Ceng dengan tuduhan-tuduhan.
Tidak lama kemudian, ke luarlah Teng Kong, si kepala pendeta, ia melangkah
dengan perlahan.
“Ada apa?” tanyanya dengan nada sabar
“Harap Hong Tio ketahui….” Kata-katanya segera terhenti sebab belasan lhama itu
sudah menghampiri Teng Kong dengan posisi mengurung.
“Apakah kau yang menjadi kepala pendeta di sini?” tanya mereka, “Bagus”
“Lekas serahkan orang itu kepada kami” bentak lhama yang kedua. “Kalau kau tidak
bersedia, akan kami bakar kuil ini sampai rata menjadi tanah”
“Gila Benar-benar perbuatan gila” teriak lhama yang ketiga.
“Apakah setelah menjadi pendeta, orang boleh berbohong?” bentak lhama yang
keempat.
“Para suheng sekalian,” kata Teng Kong yang masih bisa menenangkan hatinya,
“Lolap mohon tanya, sebenarnya suheng sekalian berasal dari kuil mana dan apa
maksudnya datang ke tempat kami ini?” Dia benar-benar pantas menjadi kepala para
hwesio di Ceng Liang si, sikapnya penyabar, Dia tidak memperdulikan sikap orang yang
kasar dan tidak sopan, bahkan dia memanggil mereka suheng (Kakak seperguruan,
dalam hal ini mengenai agama) Seorang lhama yang mengenakan pakaian ku ning
serta jubah merah segera ke depan dan menjawab.
“Kami datang dari Tibet, Kami sedang menjalankan tugas yang diperintahkan oleh
Buddha Hidup untuk menyelesaikan suatu urusan penting di wilayah Tionggoan, kami
datang ke mari untuk mencari seorang hwesio bajingan, sebab dia telah menculik
seorang lhama cilik kami dan disembunyikannya dalam kuil kalian ini. Karena itu, Hong
tio cepat kau keluarkan lhama cilik kami itu, Kata tidak, kami tidak akan menyudahi
urusannya begitu mudah”
“Urusan ini aneh sekali” seru Teng Kong. “Kami dari pihak rumah suci Sian Cong
yang putih bersih, selamanya tidak ada hubungan apa pun dengan pihak Bit Cong
kalian dari Tibet, Karena itu kalau kalian kehilangan seorang Ihama, mengapa tidak
mencarinya di kuil kalian sendiri?”
Mendadak si lhama menjadi gusar. “Ada orang yang melihat bahwa lhama cilik kami
itu berada di kuil Ceng Liang si ini.” katanya “ltulah sebabnya mengapa kami datang ke

mari dan menanyakannya Kalau tidak, kalian kira kami kekurangan pekerjaan sehingga
sengaja mencari keributan di sini? Kalau kau tahu diri, cepat kau serahkan anggota cilik
kami itu, Dengan demikian taruh kata kami tidak menaruh hormat pada para pendeta di
sini, kami tetap akan memandang wajah suci Sang Bodhisatwa dan tidak akan menarik
panjang urusan ini.”
Teng Kong menggelengkan kepalanya, sikapnya tetap sabar.
“Kalau lhama cilik kalian memang ada dalam kuil ini, meskipun suheng sekalian tidak
menanya-kannya ke mari,” sahutnya, “Lolap juga tidak akan membiarkan dia berdiam di
sini….”
“Sudahlah…” teriak beberapa lhama lainnya, “Kalau memang betul apa yang kau
katakan, kau pasti membiarkan kami menggeledah kuilmu ini”
Kembali Teng Kong menggelengkan kepalanya.
“Tempat ini merupakan kuil suci Sang Buddha, mana boleh sembarangan di
geledah?”
“Kalau kau bukan seperti pencuri yang belum apa-apa sudah ciut hatinya, mengapa
kau tidak membiarkan kami menggeledah kuil ini? Penolakanmu ini seakan
membenarkan bahwa kau memang menyembunyikan lhama cilik kami itu di kuil ini”
Kembali Teng Kong menggelengkan kepalanya.
Dua orang lhama jadi kehabisan sabar. Mereka menyambar leher jubah kepala
pendeta itu dan membentak dengan suara keras.
“Kau mengijinkan kami menggeledah atau tidak?”
“Eh, Pendeta tua,” tegur lhama lainnya, “Mungkinkah kuilmu ini menyembunyikan
perempuan baik-baik sehingga kau khawatir rahasiamu itu akan diketahui orang? Kalau
tidak, tentu tidak ada halangan bagi kami untuk menggeledah kuil ini, bukan?”
Pada saat itu, belasan murid Teng Kong juga sudah muncul di ruangan tersebut. Tapi
mereka langsung dihadang para lhama yang tidak membiarkan mereka mendekati
gurunya.
Song Ji memperhatikan sejak tadi. Hatinya panas sekali. Dia menganggap para
lhama itu sudah keterlaluan sedangkan Teng Kong kelewat sabar. Karena itu dia segera
berbisik kepada tuan mudanya.
“Siangkong, perlukah orang-orang kasar itu diusir pergi?”
“Tunggu dulu” sahut Siau Po. “Sabar sebentar” Meskipun mencegah Song Ji, tapi
dalam hatinya si bocah tanggung ini berpikir — perbuatan para lhama ini sungguh tidak
pantas. Tanpa hujan tanpa angin membuat keonaran di sini. Mana mungkin kuil ini

menyembunyikan seorang lhama cilik seperti yang mereka tuduhkan? Atau…
mungkinkah maksud kedatangan mereka sebetulnya sama dengan tujuanku sendiri,
yakni mencari kaisar Sun Ti.
Ketika pikirannya masih bekerja, mata Siau Po melihat berkelebatan dua titik cahaya,
Ternyata ada dua orang lhama yang sudah menghunuskan senjatanya masing-masing
dan mengancam dada Te Kong.
“Kalau kau tidak mengijinkan kami menggeledah, maka kami akan membunuhmu
terlebih dahulu”
Teng Kong tetap sabar, bahkan di wajahnya tidak tersirat rasa takut sedikit pun, Dia
merangkapkan sepasang tangannya dan memuji nama Sang Buddha.
“Bukankah kita sama-sama murid Sang Buddha yang maha suci? Mengapa kita
harus menggunakan kekerasan di antara orang-orang kita sendiri?” tanyanya.
Tampaknya kedua lhama itu tidak dapat menahan luapan emosi dalam dadanya lagi.
“Eh, pendeta tua, terpaksa kami membuat kesalahan terhadapmu” bentak mereka
sambil menikamkan goloknya ke dada Teng Kong.
Teng Kong menghindarkan diri, Kedua bilah golok itu langsung bersatu dengan
lainnya sehingga menimbulkan suara yang nyaring, sedangkan getarannya membuat
tubuh kedua lhama itu terhuyung ke belakang, Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya
tenaga kedua lhama itu sangat kuat.
Saking terkejut dan penasarannya, beberapa lhama lainnya segera berkaok-kaok
seperti orang kalap.
“Pendeta kepala kuil Ceng Liang si berbuat kejahatan Dia menyerang orang Dia
membunuh orang”
Hebat sekali akibat teriakan para lhama itu, dari luar pendopo segera menerobos
masuk tiga puluhan sampai empat puluhan orang. Diantaranya ada Ihama, hwesio, dan
beberapa orang lainnya yang mengenakan jubah panjang tapi bukan dari golongan
pendeta mana pun.
Salah seorang lhama yang kumis serta janggutnya panjang dan sudah memutih
langsung mengajukan pertanyaan.
“Apakah benar Hong Tio dari Ceng Liang yang melakukan kejahatan dan membunuh
orang?”
Teng Kong segera merangkapkan sepasang telapak tangannya dan menjura kepada
tamu yang baru datang itu.

“Orang yang beragama, berpokok pada welas asih, sama sekali tidak boleh
sembarangan melanggar pantangan membunuh, biar terhadap seekor binatang sekali
pun” katanya dengan suara halus, “Para suheng dan sicu sekalian, dari manakah asal
kalian?” Selesai bertanya dia menoleh ke arah seorang pendeta atau hwesio yang
usianya kurang lebih lima puluh tahun
“Rupanya Hong Tio Sim Ke dari Hud Kong si juga ikut datang berkunjung. Harap
maafkan lolap yang tidak menyambut dari jauh”
Hud Kong si atau Kuil Cahaya Buddha merupakan salah satu kuil terbesar dan tertua
di Gunung Ngo Tay san. Karena itu banyak penduduk sekitarnya yang mengatakan:
“Terlebih dahulu ada kuil Hud Kong si, baru ada Gunung Ngo Tay san
Nama asli gunung Ngo Tay san tadinya ialah Ceng Liang san, tapi karena di
puncaknya ada lima bukit tinggi, orang-orang lalu merubahnya menjadi Ngo Tay (lima
panggung) dan nama Ngo Tay san digunakan sampai sekarang, Ketika itu Hud Kong si
sudah dibangun. Nama kecamatan Ngo Tay juga telah diubah sejak jaman Kerajaan
Sui. Karena bentuknya yang besar dan usianya yang sudah tua, kedudukan kuil Hud
Kong si jadi lebih tinggi dari usianya yang lebih tua, kedudukan kuil Hud Kong si jadi
lebih tinggi dari pada kuil Ceng Liang si. otomatis ketuanya, Sim Ke juga menjadi
pendeta yang sangat terkenal di daerah Ngo Tay san dan sekitarnya.
Sim Ke yang bentuk kepalanya besar, bertubuh gemuk dan wajahnya berminyak ini
langsung mengembangkan seulas senyuman dan berkata.
“Teng Kong suheng, mari aku kenalkan kau dengan dua orang sahabat” Dia
menunjuk kepada seorang lhama dan berkata kembali inilah Lhama besar Bayan yang
datang dari Lhasa, Tibet. Dialah lhama besar yang menjadi kesayangan Buddha hidup
dan pengaruhnya besar sekali.”
Teng Kong menjura pada lhama itu.
“Sungguh aku yang tua berjodoh dengan Tuan Lhama yang agung” katanya.
Sim Ke kemudian menunjuk kepada orang yang berdandan sastrawan. Dia
mengenakan jubah panjang berwarna hijau dan usianya sekitar tiga puluhan tahun.
“Dan ini Honghu Kok sianseng, sastrawan terkenal dari Kwan Tung.” katanya
memperkenalkan.
Sastrawan itu segera memberi hormat kepada Teng Kong dan berkata dengan
merendah.
“Sudah lama aku mendengar nama besar Teng Kong taysu dari kuil Ceng Liang si di
gunung Ngo Tay san ini, Terutama kedua ilmunya yakni Poan jiak Ciang dan Ki Yap Jiu
yang menjagoi dunia persilatan. Karena itu, aku merasa gembira sekali dapat bertemu
hari ini, ini merupakan keberuntunganku selama tiga kali penitisan.”

Teng Kong dan Sim Ke sama-sama menjadi heran.
— Mengapa dia dapat mengetahui ilmu silatku dengan demikian jelas? — pikir Teng
Kong,
— Kabarnya Poan Jiak Ciang dan Ki Yap Jiu merupakan dua dari jurus terlihay si Siau
Lim Sie yang jumlah keseluruhannya tujuh puluh dua macam. Benarkah hwesio yang
tampaknya tidak punya semangat hidup ini menguasai ilmu sehebat itu? Apakah tidak
mungkin kalau Honghu siansen hanya menyindir.,.” pikir Sim Ke.
Kembali Teng Kong merangkapkan sepasang tangannya untuk memberi hormat.
“Usia lolap sudah tua sekali. walaupun ketika muda, aku yang rendah pernah belajar
ilmu silat beberapa tahun, tapi sekarang semuanya sudah terlupakan. Sebaliknya,
Honghu kisu memiliki kepandaian rangkap yang hebat, baik ilmu silat maupun ilmu
sastra, Hal inilah yang membuat lolap merasa kagum sekali.” katanya merendah.
Mendengar pembicaraan kedua belah pihak yang saling merendahkan diri, Siau Po
menduga tentu tidak akan terjadi pertempuran. Kemudian terdengar Bayan lhama
berkata kembali.
“Lo taysu, aku datang dari Tibet bersama seorang muridku yang masih kecil,
namanya Yin Cu. Menurut kabar yang kami peroleh, dia ditawan oleh orang-orang dari
pihakmu, Karena itu, dengan memandang wajah emas dari Buddha hidup, harap kau
sudi melepaskannya. Kami semua akan bersyukur terhadap budi kebaikanmu ini”
Teng Kong tersenyum.
“Beberapa suheng ini telah membuat kegaduhan di kuilku, tapi aku tidak mau
berpandangan seperti mereka itu.” katanya. “Aku justru merasa heran, taysu adalah
seorang yang penuh pengertian mengapa taysu percaya saja dengan perkataan orang
yang belum terbukti kebenarannya? semenjak dibangunnya kuil Ceng Liang si, baru
hari ini kami mendapat kunjungan kehormatan dari para lhama yang maha suci, Dari
mana datangnya cerita bahwa pihak kami menyimpan muridmu itu?”
Lhama Bayan langsung mendelikkan matanya. “Kau kira kami sembarangan
menuduh?” tanyanya bengis, “Jangan kau tidak minum arak kehormatan justru minum
arak dendaan”
Bahasa Cina para Ihama memang kurang lancar. Maksudnya, dia ingin mengatakan,
“Jangah k tolak arak kehormatan, namun mengharap arak hukuman”
Sim Ke tertawa dan langsung ikut memberikan komentar.
“Tuan-tuan berdua, janganlah kerukunan kalian jadi terusik karena hal ini Menurut
aku, hwesio tua, urusan si Ihama cilik ada atau tidak dalam kuil ini, tidak dapat
diselesaikan dengan kata-kata saja. Kata-kata tidak mengandung bukti yang penting

menyaksikan dengan mata kepala sendiri Karena itu, Honghu sianseng dan aku hwesio
tua akan menjadi saksi. Marilah kita masuk ke dalam kuil untuk meninjau setiap
bagiannya ya indah. Bertemu Sang Buddha, kita menyembah bertemu pendeta kita
menjura. Kalau kita sudah melihat setiap ruangan dan bertemu dengan setiap
hwesionya, namun si Ihama cilik tetap tidak diketemukan, bukankah urusannya akan
beres dengan sendirinya?”
Biarpun hwesio itu berbicara dengan halus sopan, namun makna yang tersirat
dibaliknya, tentu saja mereka akan menggeledah Ceng Liang si. Oleh karenanya,
kesabaran Teng Kong habis juga, namun dia masih berusaha mengendalikan diri untuk
berkata dengan sopan.
“Beberapa Tuan Ihama ini datang dari Tibet, karenanya mereka tidak memaklumi
peraturan ini, maka kami juga tidak bisa menyalahkannya. Tapi tidak demikian halnya
dengan Sim Ke taysu, Kau adalah seorang tokoh agama yang sudah banyak
pengetahuannya dan berbudi luhur, Mengapa taysu mewakili kisu ini berbicara?
Sekarang, mengenai Ihama cilik dari Tibet itu, kalau benar dia lenyap di daerah gunung
Ngo Tay san, lolap rasa pemeriksaan harus dimulai dari kuil Hud Kong si”
Sim Ke tertawa manis.
“Kalau seluruh Ceng Liang si sudah

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s