“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 44

sesaat kemudian, sebuah ingatan melintas dalam benaknya,
— Benarkah dia hendak menyuguhkan kembang gula untukku? Bagaimana kalau dalam
kembang gula itu dicampur cacing atau binatang serangga lainnya? –
sementara itu, Song Ji segera melaksanakan perintah nyonyanya, Dia masuk ke
dalam dan sebentar kemudian sudah kembali lagi dengan membawa sebuah nampan di
tangan, Di atas nampan itu tampak beberapa macam kembang gula, Dengan bibir
menyunggingkan senyuman dia berkata.
“Kui kong kong, silahkan” Siau Po mengiyakan sampai berkali-kali, tapi tidak
menjulurkan tangannya untuk mengambil kembang gula itu. Di dalam hati dia berkata.
— Biar bagaimana, aku tidak boleh rakus. celaka kalau segala macam belatung
menari-nari dalam perutku, —
Siau Po hanya berharap agar fajar cepat-cepat menyingsing Lewat sekian lama, Siau
Po merasa aneh, Dia mendengar suara berkibarnya ujung pakaian, kemudian secara

samar-samar dia mendapatkan banyak pasang mata yang mengintai ke arah nya. Apa
yang diinginkan orang-orang itu?
Tepat disaat Siau Po sedang menduga-duga, tiba-tiba dari belakang jendela dia
mendengar suara seorang wanita yang usianya pasti tidak muda lagi.
“Kui kongkong, kau telah berhasil membunuh Go Pay, Kau telah membalaskan sakit
hati kami yang sedalam lautan, Budimu besar sekali, bagaimana kami harus membalas
nya ?”
Menyusul kata-kata itu, daun jendela pun terpentang lebar-lebar. Di sana tampak
berpuluh-puluh wanita yang mengenakan pakaian serba putih sedang menjatuhkan diri
berlutut ke arahnya.
“Ah” seru Siau Po terkejut, Cepat-cepat dia membalas penghormatan itu.
Para wanita itu berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya menyembah, dan
Siau Po terpaksa mengangguk-angguk juga untuk membalas penghormatan mereka.
Setelah saling menyembah, daun jendela mendadak tertutup kembali lalu disusul
dengan terdengarnya suara wanita tua tadi,
“ln kong (tuan penolong), janganlah In kong memakai banyak peradatan, kami tidak
pantas menerima penghormatan In kong itu.”
Setelah wanita itu selesai bicara, terdengarlah isak tangis para wanita lainnya, Siau
Po merasa heran dipanggil In kong yakni tuan penolong, Diam diam dia merasa bulu
romanya meremang, Kemudian suara isak tangis itu semakin kecil dan akhirnya lenyap,
rupanya para wanita itu sudah pergi jauh Siau Po merasa dirinya seperti baru terjaga
dari mimpi.
– Arwah-arwah siapakah sebenarnya yang kulihat tadi? -, tanyanya kepada dirinya
sendiri
Tidak lama kemudian, ketika Siau Po masih termangu-mangu, Nyonya Cung dan
Song Ji telah muncul kembali.
“Kui siangkong, aku harap kau jangan heran atau bingung.” kata nyonya ketiga itu,
“Mereka-mereka yang tinggal di sini, semuanya merupakan korban-korban keganasan
Go Pay semasa hidupnya. Mereka berasal dari keluarga orang-orang gagah dan
pecinta negara, Rata-rata mereka sudah tidak bersuami, dan si manusia jahat Go Pay
itulah yang mencelakai itulah sebabnya mereka datang kemari untuk menyampaikan
rasa terima kasih dan bersyukur karena Kui siangkong telah membalaskan sakit hati
mereka.”
“Kalau begitu,” tanya Siau Po yang masih juga merasa bingung, “Apakah Cung
samya juga telah menjadi korban keganasan Go Pay?”

Yang di maksud dengan Cung samya, sudah pasti almarhum suami Sam nay nay itu.
Nyonya Cung menundukkan kepalanya.
“Benar” katanya dengan suara lirih dan wajahnya menunjukkan perasaan duka yang
dalam. “Di sini, boleh dibilang setiap hari kami menangis sampai mengeluarkan air mata
darah memikirkan sakit hati yang belum terbalaskan. Kami benar-benar tidak
menyangka si penjahat besar itu akhirnya mati di tangan Kui siangkong dalam waktu
yang begitu cepat.”
“Sebenarnya aku tidak berjasa apa-apa.” kata Siau Po merendah “Boleh dibilang aku
berhasil membunuh Go Pay hanya karena kebetulan saja, Kalau benar-benar ingin
melakukannya, tentu tidak begitu mudah.”
Pada saat itu Song Ji yang membawa sebuah buntalan di tangannya segera
meletakkannya di atas meja, Siau Po mengenali buntalan itu sebagai miliknya.
Terdengar Nyonya Cung berkata kembali
“Kui siangkong, kau telah berjasa kepada kami, Budimu besar sekali Sudah
selayaknya apabila kami melayanimu sebaik-baiknya, Tapi kami yang tinggal di sini,
semuanya kaum wanita dan sudah menjadi janda pula, Dengan demikian, banyak sekali
kekurangan pada diri kami, Karena itu, setelah kami berunding, kami mengambil
keputusan untuk menghadiahkan sedikit barang bingkisan sebagai tanda terima kasih
kami terhadap Kui siangkong. Namun dalam hal ini, kami juga menemui sedikit
kesulitan, Apa yang harus kami berikan, kalau dilihat dari isi buntalan Kui siangkong,
terang kau sudah tidak membutuhkan apa-apa. Dan kami yang merupakan orang-orang
desa, mana mempunyai barang berharga untuk diberikan Mengenai kitab ilmu silat dan
yang lainnya, Kui siangkong juga tidak membutuhkan karena sudah memiliki seorang
guru yang kepandaiannya tinggi seperti Tan congtocu dari Tian Te hwe. Dengan kitab
yang siangkong miliki, asal siangkong bisa memahaminya serta giat berlatih, mungkin
siangkong bisa menjadi seorang jago tanpa tandingan. Setidaknya lebih dari cukup bagi
kong kong kalau hanya untuk membela diri, itulah sebabnya, kami benar-benar bingung
bingkisan apa yang harus kami berikan kepada siang-kong….”
Siau Po merasa terharu mendengar kata-kata Nyonya Cung, sekarang dia sudah
mengerti semuanya.
“Sudahlah, jangan kalian berlaku sungkan” katanya kemudian, “Bagiku sendiri,
sudah lebih dari cukup apabila Sam nay nay bersedia mengatakan di mana kawankawanku
berada sekarang.”
Nyonya Cung merenung sejenak sebelum menjawab
“Inkong sudah menanyakan perihal mereka, sesungguhnya tidak berani kami
menutupinya.” sahut wanita itu, “Hanya ada satu hal yang memberatkan kami, yakni
apabila inkong mengetahuinya, maka hanya kerugianlah yang akan inkong dapatkan
Maka dari itu, kami hanya menjelaskan secara singkat Mereka adalah sahabat-sahabat

In-kong, karena itu kami akan melakukan apa saja agar tidak terjadi apa-apa pada diri
mereka itu. Nanti, apabila saatnya sudah sampai, kami akan berusaha agar mereka
dapat bertemu lagi dengan inkong.”
Mendapat jawaban yang luar biasa itu, Siau Po jadi berpikir ia menganggap
sebaiknya dia turuti saja kata-kata wanita itu, Nyonya ini pasti dapat dipercaya, Karena
itu dia menganggukkan kepalanya dan matanya menatap ke arah jendela.
– Aih Hari belum terang juga… — pikirnya dalam hati,
Tampaknya nyonya Cung mengerti apa yang dipikirkan Siau Po.
“lnkong, ke mana tujuan inkong besok?” tanyanya.
” Siau Po berpikir dengan cepat, — Dia pasti sudah mendengarkan pembicaraanku
dengan Ciong losam, tidak mungkin lagi aku membohonginya…. Maka dia segera
menjawab, “Aku hendak pergi ke gunung Ngo tay san di propinsi Shoa say.”
“Dari sini ke Ngo Tay san bukan perjalana yang dekat,” kata si nyonya, “Dan
melakukan perjalanan seorang diri lebih banyak bahayanya, Oleh karena itu, aku
berniat menghadiahkan sesuatu kepada inkong dan harap inkong jangan menolaknya.”
Siau Po tertawa.
“Kalau orang menghadiahkan sesuatu denga niat baik, mana mungkin aku bisa
menolaknya.” sahutnya,
“Bagus” kata Nyonya Cung, Kemudian dia menunjuk kepada Song Ji. “Budak Song
Ji ini sudah mengikuti aku sejak lama, sekarang aku hendak menghadiahkan nya
kepada inkong, Aku harap inkong sudi mengajaknya agar dalam perjalanan ada orang
yang mengurus dan melayanimu”
Siau Po tidak menyangka akan mendapat hadiah yang demikian. Hatinya terkejut
berbareng senang, Sejak pertama bertemu, dia memang sudah menyukai budak ini,
Dengan mempunyai seorang pelayan, dia jadi tidak perlu repot-repot, Tapi perjalanan
menuju gunung Ngo Tay san cukup jauh, Malah bisa berbahaya, apakah tidak
menyulitkan apabila dia membawa gadis cilik itu turut serta dengannya?
“Nyonya…” katanya kemudian, “Aku senang sekali nyonya menghadiahkan Song Ji
kepadaku, untuk itu, terlebih dahulu aku mengucapkan terima kasih, tapi….”
Song Ji menundukkan kepalanya, namun ekor matanya melirik ke arah Siau Po.
wajahnya tampak merah padam saking jengahnya,
“Apakah yang menjadi kesulitanmu, inkong?” tanya Nyonya Cung,

“Aku pergi ke gunung Ngo Tay san untuk menyelesaikan sebuah tugas yang tidak
mudah.” sahut Siau Po. “Oleh karena itu, aku khawatir diriku jadi kurang leIuasa…”
“Kalau hanya itu yang menjadikan keberatan di hati inkong, tidak perlu inkong
memusingkannya.” kata Nyonya Cung pula, “Meskipun usia Song Ji masih kecil, tapi dia
sudah pandai bekerja, Otaknya cerdas dan orangnya lincah, Tidak mungkin di
merepotkan inkong atau menimbulkan kesulitan apa-apa. Mengenai hal ini, sebaiknya
inkong tenangkan hati”
Siau Po menoleh kepada Song Ji.
“Song Ji.” tanyanya langsung kepada si gadis cilik itu, “Apakah kau bersedia ikut
denganku?”
“Sam nay nay telah memerintahkan agar aku mengikuti siangkong supaya dapat
memberikan pelayanan.” sahut Song Ji. “Sudah tentu aku haru menuruti perintah itu.”
“Bukan begitu.” kata Siau Po yang ingin mendapatkan ketegasan “Yang penting kau
sendiri apakah kau bersedia atau tidak, Aku khawatir banyak kesulitan yang akan kita
temui dan kita hadapi..”
“Aku tidak takut terhadap kesulitan apa pun.” sahut si nona cilik tegas.
“Kau baru menjawab pertanyaanku yang kedua tapi yang pertama belum kau jawab.”
kata Siau Po “Kau memang tidak takut bahaya karena Sam nay nay telah
menghadiahkan kau untukku, Tapi kau belum mengatakan apakah kau sendiri bersedia
ikut denganku atau tidak.”
“Kami hanyalah para budak, mana mungkin ada kata untuk menyatakan pikiran
kami.” sahut Song Ji. “Siangkong mengajukan pertanyaan seperti ini, artinya siangkong
sangat memperhatikan diriku, Nyonya menyuruh aku melayani siangkong, apa pun
akan kulakukan agar aku dapat melaksanakan tugasku itu dengan sebaik-baiknya,
Kalau siangkong bersikap baik kepadaku berarti nasibku memang baik pula,
Sebaliknya, apabila siangkong bersikap buruk kepadaku, artinya nasibku memang
buruk….”
Mendapat jawaban seperti itu, Siau Po jadi tertawa.
“Sudah pasti nasibmu baik, aku tidak akan membiarkan kau menderita.” katanya.
Song Ji tersenyum tersipu-sipu. Dalam hatinya dia bersyukur.
“Song Ji.,.” terdengar Nyonya Cung berkata pula, “Berilah hormat kepada Kui
siangkong dan ucapkan terima kasih. selanjutnya kau merupakan orangnya sendiri.”
Song Ji mengangkat wajahnya, sepasang matanya tampak merah, Dia segera
menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan Nyonya Cung dan menangis terisak-isak.

“Nyonya… aku… aku.,., “Dia tidak sanggup meneruskan kata-katanya karena
tenggorokannya serasa tersendat.
Nyonya Cung mengusap-usap kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang.
“Kui siangkong muda dan gagah, Namanya juga sudah terkenal sekali.” katanya,
“Kau harus melayaninya baik-baik Barusan Kui siangkong telah menjanjikan bahwa dia
akan memperlakukanmu baik-baik.”
“Baik, Nyonya” sahut Song Ji yang langsung memutar tubuhnya dan berlutut kepada
Siau Po.
“Sudah, jangan sungkan-sungkan” kata Siau Po yang memegang tangan Song Ji
dan membangunkannya, Kemudian dia membuka buntalannya dan mengeluarkan
seuntai kalung mutiara, Sembari tertawa dia menyerahkan kepada Song Ji. “Nah, inilah
hadiah dariku untuk pertemuan kita yang pertama ini”
Setidaknya mutiara itu berharga empat ata lima ribu tail perak, Kalau dengan harga
itu orang ingin membeli budak, maka dia bisa mendapatka beberapa puluh orang.
Song Ji menerima dengan kedua tangannya.
“Terima kasih, siangkong” katanya, Kemudian dia langsung mengenakan mutiara itu
di lehernya yang putih, Meskipun dia mengenakan pakaia yang kasar, tapi mutiara itu
tetap demikian bercahaya dan membuat wajahnya semakin cantik dan manis.
Nyonya Cung memperhatikan sambil tersenyum
Kemudian dia bertanya kepada Siau Po.
“lnkong, kau hendak menuju gunung Ngo Tay san, bagaimana caramu melakukan
tugas di sana, secara terang-terangan atau dirahasiakan?”
“Tentu saja secara rahasia.” sahut Siau Po.
“Kalau begitu, sebaiknya inkong bertindak hati-hati dan waspada” pesan nyonya itu.”
Di gunung Ngo Tay san, banyak kuil yang terpecah dalam beberapa golongan hijau dan
kuning, Di sana juga berdiam orang-orang yang biasa mendapat sebutan harimau tidur
atau naga bersembunyi….”
“Aku mengerti.” sahut Siau Po. “Terima kasih atas nasehat Nyonya”
Nyonya Cung segera berdiri.
“Nah, inkong, selamat jalan dan sampai bertemu lagi” katanya, “Maaf, aku tidak
mengantar lebih jauh.” Kemudian dia menoleh kepada budak-nya dan berkata, “Song Ji,
begitu kau ke luar dari pintu rumah ini, kau bukan lagi orang keluarga Cung, karena itu,

selanjutnya, apa pun yang kau lakukan dan kau ucapkan, tidak ada sangkut pautnya
lagi dengan aku, majikan lamamu, Andaikata di luar rumahku ini, kau berani bertindak
sembarangan atau main gila, keluarga Cung kita tidak bisa melindungimu lagi”
Kata-kata itu diucapkan dengan nada serius dan penuh wibawa.
“lya” sahut Song Ji sembari menganggukkan kepalanya.
Nyonya rumah itu menoleh kembali kepada Siau Po dan menjura dalam-dalam
kemudian membalikkan tubuhnya masuk ke dalam, Siau Po cepat-cepat membalas
penghormatan itu lalu memperhatikan nyonya itu pergi.
Tidak lama kemudian, pada kertas jendela tampak sinar keputihan, itu tanda sang
fajar tela menyingsing Song Ji segera masuk ke dalam untuk mengambil
perbekalannya, lalu dia mengambil buntalan Siau Po yang digondolnya menjadi satu.
“Mari kita berangkat” ajak Siau Po.
“Baik” sahut nona cilik yang menundukka kepalanya, Tampaknya dia bersedih
karena harus meninggalkan rumah yang dihuninya sejak keci Dia juga berduka
meninggalkan Nyonya Cung yang telah memperlakukannya dengan baik sekali.
Siau Po ke luar dari pintu gerbang dan si nona cilik mengikutinya, Hujan deras sudah
lama be henti tapi air di daerah pegunungan itu masi mengalir dengan cepat. Suaranya
terdengar jelas dan berkumandang di mana-mana.
Setelah berjalan beberapa tindak, Siau Po menoleh ke belakang, ke arah rumah
yang baru saja ditinggalkannya, Dia melihat kabut melayang-layang di depan rumah,
Dan dalam waktu yang singkat, seluruh rumah itu tidak tampak lagi kare tertutup kabut
yang tebal.
“Aih” Terdengar bocah itu menarik nafas dalam-dalam. “Pengalaman tadi malam
benar-benar seperti sebuah impian, Song Ji, apa maksud kata-kata terakhir nyonya
Cung kepadamu tadi?”
“Sam nay nay menekankan kepadaku, bahwa selanjutnya aku harus melayanimu.
Karena itu, segala perbuatanku maupun kata-kata yang kuucapkan tidak ada
sangkutannya lagi dengan keluarga Cung.”
“Lalu, bagaimana dengan kawan-kawanku sekalian? Ke mana perginya mereka itu?
Dapatkah kau memberikan keterangan kepadaku?” tanya Siau Po kembali.
Ditanya sedemikian rupa, Song Ji jadi tertegun
“Kawan-kawan siangkong itu telah ditawan oleh pihak Sin Liong kau.” sahutnya
selang sejenak, “Tapi nay nay telah berjanji akan berusaha menolong mereka.”

“Apakah majikanmu itu pandai ilmu silat?”
“lya, Bahkan kepandaiannya hebat sekali.” sahut Song Ji.
Siau Po menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“Tubuhnya kelihatan begitu lemah sehingga akan roboh bila tertiup angin yang agak
kencang saja, Bagaimana dia bisa berkepandaian tinggi? Dan seandainya dia benarbenar
pandai, mengapa Sam siauya bisa terbunuh di tangan Go Pay?” tanya Siau Po
tidak mengerti.
“Disaat tuan besar dan tuan ketiga dan yang lainnya terbunuh, jumlah
keseluruhannya mungkin ada puluhan jiwa, mereka semua tidak ada yang mengerti
ilmu silat,” kata Song Ji menjelaskan “Para laki-laki dibawa ke Kota Pe King untuk
dihukum mati dan kaum wanitanya dibuang ke Ningkuta untuk dijadikan budak,
untunglah di tengah jalan mereka bertemu dengan seorang tuan penolong, para
pengiring yang akan membawa mereka untuk dibuang, berhasil dibunuh dan para
perempuan desa kami dibebaskan kemudian dibawa dan ditempatkan di rumah besar
tadi, Bahkan Sam nay nay diajar ilmu silat oleh tuan penolongnya…”
Mendengar keterangan itu, Siau Po baru mengerti persoalan yang sebenarnya. Pada
saat itu cuaca sudah cerah sekali Matahari telah memperlihatkan kejayaannya di ufuk
timur Hujan besar sepanjang malam seakan dedaunan tampak lebih hijau dan
pemandangan lebih segar. Hampir saja Siau Po percaya bahwa yang ditemuinya tadi
malam adalah para hantu perempuan
“Di dalam salah satu kamar di rumah Nyonya Cung itu, terdapat banyak meja abu
dan abu jenasah.” kata Siau Po kemudian “Apakah semua itu abu jenasah dari tuantuan
tua dan muda kalian?”
“Benar.” sahut Song Ji. “Kami tinggal di dalam gunung, Kami tidak pernah
berhubungan dengan orang luar. Karena itu, apabila ada orang dusun yang ingin tahu
dan datang melongok, kami tidak menghiraukannya, Mula-mula memang ada beberapa
orang dusun yang datang dan melihat-lihat tapi mereka kabur sendiri setelah melihat
banyak meja abu dalam kamar Kalau ada yang lebih nekat dan ingin mencari tahu, kami
pun menyamar sebagai hantu untuk menakut-nakuti mereka agar tidak berani kembali
lagi, itulah sebabnya rumah itu kemudian dikenal sebagai rumah hantu dan selama satu
tahun belakangan ini, tidak ada orang yang berani menginjakkan kakinya di rumah itu.
Di luar dugaan kami, siangkong dan rombongan kalian datang tadi malam Nay nay
segera berpesan, sakit hati belum terbalaskan, maka segala sesuatu yang menyangkut
diri kita harus dirahasiakan Karena itulah nama-nama di atas meja abu segera
disingkirkan katanya tidak baik kalau nama-nama itu sampai diketahui pihak luar.”
“Mungkin itulah sebabnya kalian menawan orang-orangku dan juga anggota Sin
Liong kau?” tanya Siau Po.
Song Ji menganggukkan kepalanya.

“Ketika tadi malam siangkong menanyakan urusan ini kepadaku, aku tidak berani
memberikan jawabannya.” sahut gadis cilik itu, “Tapi tadi Nay nay telah mengatakan
bahwa selanjutnya aku harus melayani dan mengurusi Kui siangkong, karena itu, tidak
ada halangannya apabila sekarang aku berkata terus terang.”
Senang sekali hati Siau Po mendengar kata-kata gadis itu.
“Kau benar” katanya, “Sekarang aku juga ingin berterus-terang kepadamu. Namaku
yang sebenarnya Wi Siau Po dan Kui kong kong itu hanya samaran belaka, Karena itu,
sekarang kau adalah orang keluarga Wi, bukan keluarga Kui.”
Song Ji sendiri senang mendengar keterangan itu.
“Siangkong telah memberitahukan kepadaku she dan nama yang sebenarnya, hal ini
membuat aku benar-benar bersyukur ini berarti siangkong percaya penuh kepadaku
dan aku berjanji tidak akan membocorkan rahasia siangkong ini.”
Siau Po tertawa.
“Sebetulnya, nama asliku ini juga bukan suatu yang harus dirahasiakan.” Katanya
menjelaskan pula. “Diantara saudara-saudaraku dalam perkumpulan Tian Te hwe,
hampir sebagian besar telah mengetahuinya.”
“Beberapa orang kawan siangkong itu mula-mula kena diringkus oleh orang-orang
Sin Liong kau. Sam nay nay mengetahui hal tersebut dan mengintip jalannya
pertarungan Beliau mendapatkan bahwa orang-orang Sin Liong kau memang hebat
sekali, Mereka pandai ilmu menjampi….”
“lya, mereka memang pandai membaca-baca mantera,” kata Siau Po sambil tertawa.
“Bunyi manteranya begini Ang kaucu memiliki kepandaian yang luar biasa, Usianya
sama dengan usia langit Aku sendiri juga pandai membaca mantera sepert itu.,.,”
“Menurut Sam nay nay, mula-mula dia merasa heran, mengapa setelah menjampi
tenaga mereka berubah menjadi semakin kuat Nay nay mengintai dan memasang mata
dari luar jendela. Setelah itu nay nay mengambil tindakan Dia menyuruh orang
memadamkan api dan kemudian menggunakan jala untuk membekuk mereka.”
“Bagus” Puji Siau Po sembari menepuk paha-nya. “Tentunya menarik sekali
membekuk orang dengan menggunakan jala”
“Menurut Sam nay nay, sebetulnya kepandaian Ciong losam dan yang lainnya biasabiasa
saja.” kata Song Ji yang ikut tertawa, “Di belakang gunung kami ada sebuah
telaga besar Diwaktu malam hari kami biasa pergi menjala ke telaga, Ketika masih
tinggal di Ouw Ciu, rumah kami juga dekat dengan telaga. Bahkan telaga Thay Ouw
yang terkenal sekali, Kami mempunyai banyak perahu yang kami sewakan kepada para
nelayan Nay nay sering memperhatikan bagaimana mereka menebarkan jalanya
kemudian dia mempelajarinya.”

“Jadi kalian benar-benar orang Ouw Ciu” kata Siau Po. “Pantas saja bacang buatan
kalian lezat sekali Sekarang coba kau jelaskan lebih terperinci bagaimana duduknya
persoalan sehingga Sam siauya kena ditawan dan dibunuh oleh Go Pay?”
“Menurut Sam nay nay, urusan ini menyangkut perkara Bun ji yok.” kata Song Ji
menjelaskan.
“Bun cu jiok?” seru Siau Po menegaskan “Aneh sekali, Masa nyamuk mempunyai
daging?” Bun Cu jiok artinya daging nyamuk.
Sebetulnya yang dikatakan Song Ji adalah Bun ji yok yakni pelanggaran karena
tulisan yang menentang pemerintahan. Jadi ada hubungannya dengan politik, tapi Siau
Po yang tidak pernah sekolah mana mungkin mengerti. Dia hanya mengambil
kesimpulan dari bunyi lafal yang didengarnya.
“Bukan Bun cu jiok, tapi Bun ji yok.” kata Son Ji menjelaskan “Toa siauya kami
adalah seorang yang terpelajar Setelah matanya menjadi buta, di menulis sebuah buku
yang isinya mencaci maki bangsa Boan Ciu….”
“Hebat betuI” puji Siau Po. “Sudah buta saja masih bisa menulis karangan,
sedangkan aku yang tidak buta, kalau membaca surat malah aku tidak mengenalinya,
Rupanya aku ini yang dinamaka buta melek”
Song Ji tersenyum, tapi dia tidak mengataka apa-apa,
“Menurut Sam nay nay, jamannya tidak te” jaman sekarang ini, lebih baik orang buta
huruf, dalam rumah kami, setiap orang, baik yang tua maupun yang muda, asalkan
kaum pria semuanya berpendidikan tinggi Dan setiap tulisan yang mereka hasilkan,
tidak ada yang tidak terkenal. Tapi justru karena karangannya itu pula, mereka menjadi
celaka, Yang laki-laki dihukum mati dan yang perempuan harus dibuang ke Ningkuta
untuk dijadikan budak, Tapi, meskipun demikian, Nyonya tetap mengatakan bahwa
karena adanya larangan dari pemerintah Boan Ciu yang tidak mengijinkan siapa pun
membuat karangan, kita justru harus belajar ilmu sastra lebih giat Dengan demikian,
niat pemerintah Boan Ciu yang hendak mengekang kita dan menjadikan kita sebagai
bangsa yang bodoh tidak tercapai.”
“Bagaimana dengan engkau sendiri?” tanya Siau Po. “Apakah kau juga mengerti ilmu
surat dan bisa membuat karangan?”
Song Ji tersenyum manis.
“Aih Siangkong memang pandai bergurau,” katanya, “Sebagai seorang budak kecil,
mana mungkin aku bisa membuat karangan? Sam nay nay memang mengajari aku ilmu
membaca dan menulis, tapi aku baru mempelajari tujuh delapan jilid buku saja.”

“Ah” Siau Po mengeluarkan seruan tertahan “Kalau begitu, kau lebih hebat
dibandingkan aku. Kau sudah mempelajari tujuh delapan jilid buku, sedangkan aku
hanya mengenal tujuh delapan huruf saja”
Kembali Song Ji tertawa.
“Siangkong tidak mengerti ilmu sastra karena itulah Nyonya menyukaimu” katanya
pula, “Menurut Nyonya, hanya anak yang mencelakai keluarganya saja yang belajar
ilmu sastra sekarang ini.”
“Menurut pandanganku si jahanam Go Pay itu tidak mengerti ilmu sastra.” kata Siau
Po. “Jangan-jangan semua perbuatannya hanya merupakan hasutan dari orang-orang
yang pandai mengambil muka saja”
“Memang benar.” sahut Song Ji. “Kitab yang dikarang Toa siauya kami berjudul Beng
Si, yakni hikayat kerajaan Beng, Di dalamnya terdapat tulisan yang mencaci maki
bangsa Boan Ciu. Konon di kerajaan ada seorang manusia busuk bernama Gou Ci Eng,
dia membawa kitab itu dan diserahkannya kepada Go Pay. Dialah yang melaporkan
apa yang tersirat di dalam kitab itu, sehingga malapetaka pun terjadi, Beberapa ratus
jiwa menjadi korban, Dan penjual buku sampai pembeli dan pembacanya di tangkap,
Mereka ditawan kemudian dipenggal kepalanya, Siangkong, selama di kota raja,
apakah ka pernah mendengar nama Gouw Ci Eng itu?”
“Tidak, aku belum pernah mendengar nama orang itu apalagi bertemu dengannya.”
sahut Sia Po. “Perlahan-lahan saja kita cari dia nanti, Akhir nya pasti akan kita temukan,
Eh, Song Ji… ak hendak menukar kau dengan seseorang.”
Si nona cilik terkejut setengah mati Dia langsung mengangkat wajahnya dan
memperhatikan Siau Po lekat-lekat.
“Kau hendak mempersembahkan aku kepada orang lain?” tanyanya dengan suara
bergetar.
“Bukan dipersembahkan tapi ditukar dirimu dengan seorang lainnya.” kata Siau Po
membetulkan
Nona cilik itu masih menatapnya tajam, Mata-nya merah, hampir saja dia menangis.
“Ditukar dengan seseorang?” tanyanya tidak mengerti “Bagaimana caranya?”
“Begini.” kata Siau Po menjelaskan “Sam nay nay menghadiahkan kau untukku.
Karena itu aku hendak membalas budinya dengan cara yang sama. Sebab budi seperti
ini memang sulit dibalasnya, Sekarang, setelah mendengar ceritamu, aku mungkin bisa
mendapat kesempatan Aku akan berusaha membekuk Gouw Ci Eng untuk
dipersembahkan kepada Sam nay nay. Dengan demikian, bukankah aku telah
membalas budi kebaikannya?”

Mendengar penjelasan Siau Po, hati Song Ji menjadi lega, Dari hampir menangis,
dia menjadi tertawa gembira.
“Aih, kau membuat aku terkejut saja” katanya, Tadinya aku mengira siangkong tidak
menyukai aku lagi.”
Hati Siau Po senang sekali, Dia tersenyum.
“Kalau aku tidak menyukaimu, kau langsung saja menjadi bingung.” katanya,
“Sudahlah, kau tidak perlu khawatir Tenangkan saja hatimu. Biar-pun orang meletakkan
gunung emas di hadapanku, tidak akan aku menukarnya dengan dirimu.”
Selagi berbicara, mereka sudah berjalan sampai di kaki bukit Udara tampak cerah
sekali, Memang demikianlah halnya kalau habis turun hujan deras, Dunia seakan baru
berganti rupa, Suasana jadi berbeda jauh dibandingkan ketika mereka sampai di rumah
Nyonya Cung yang disebut rumah hantu.
Untuk sejenak, Siau Po sempat merenung dan mengerti mengapa keluarga Cung
demikian membenci bangsa Boan Ciu. Dia juga memikirkan rombongan Ci Tian Coan
yang tentunya berada di tempat yang berbahaya sekali.
Tidak lama kemudian, tibalah mereka di sebuai pasar, Siau Po segera mencari kedai
mi. Mereka masuk ke dalam dan Siau Po langsung duduk di sebuah kursi, Song Ji juga
ikut masuk, tapi dia hanya berdiri disamping Siau Po.
Melihat sikap gadis cilik itu, Siau Po tertawa.
“Jangan kau sungkan-sungkan” katanya, “Mari duduk di sini, kita makan bersamasama”
Tidak bisa” sahut Song Ji. “Aku hanya seorang budak, mana boleh aku duduk
semeja denganmu Tidak ada aturannya”
“Perduli amat dengan segala peraturan” kata Siau Po. “Kalau aku bilang boleh, tentu
saja boleh. Lagipula, kalau kau harus menunggu sampai aku selesai makan, kau baru
makan, berapa banyak waktu yang harus tersia-sia karenanya?”
“Bukan begitu, siangkong” sahut Song Ji. Dia menyadari sekali kedudukannya
sebagai seoran budak, “Setelah siangkong selesai makan, kita boleh langsung
berangkat Bagiku tidak jadi masalah, aku bisa membeli beberapa biji bakpao dan
makan sembari melakukan perjalanan Dengan demikian kita tidak perlu membuangbuang
waktu, bukan?”
Siau Po menatap Song Ji kemudian menarik nafas panjang,

“Aku mempunyai kebiasaan yang aneh, Kalau aku makan sendirian, perutku ini
langsung ngadat, Kalau aku makan tanpa ditemani, sebentar lagi perutku pasti mulas
dan sakit sekali.”
Song Ji tertawa, Terpaksa dia menarik sebuah bangku dan duduk di ujung meja.
Siau Po segera memakan minya, Baru dia menyumpit tiga kali, tampak beberapa
orang Ihama (pendeta-pendeta yang beragama Buddha di Tibet) memasuki kedai itu
dan langsung duduk di meja yang dekat dengan jalan besar.
“Cepat sediakan mi untuk kami Cepat” teriak seorang pendeta dengan suara
nyaring. sedangkan pendeta yang satu lagi memperhatikan kalung mutiara di leher
Song Ji. Kalung itu memang menarik perhatian karena ukurannya besar-besar dan
cahayanya menyilaukan mata, Pendeta itu menyikut kawannya yang ketiga dan orang
itu pun ikut memperhatikan
— Celaka — Keluh Siau Po dalam hati, Dia dapat menduga gerak-gerik orang yang
mencurigakan Tanpa menunda waktu lagi dia memanggil pelayan kedai itu dan
diberikannya uang sebanyak satu tail serta minta dicarikan kereta yang besar. Dia
menyantap minya cepat-cepat.
Tidak lama kemudian, kereta pesanannya pun datang, Siau Po segera mengajak
Song Ji naik kereta tersebut untuk melanjutkan perjalanan Mereka tidak berjalan kaki
Kereta itu dilarikan dengan kencang.
Baru menempuh beberapa li perjalanan dari bagian belakang sudah terdengar derap
langkah kaki kuda, Mendengar suara itu, Siau Po segera menolehkan wajahnya dan
tampak ketiga pendeta Ihama tadi sedang menghambur ke arah mereka dengan
kudanya masing-masing.
“Ketiga manusia jahat itu ingin merampas kalungmu, kau berikan saja.” katanya
kepada Song Ji “Nanti aku belikan lagi yang lebih besar dan lebih indah”
“Baik” sahut Song Ji sambil menganggukkan kepalanya.
“Berhenti Berhenti” Segera terdengar suara bentakan berulang-utang dari ketiga
lhama te sebut “Kusir kereta Berhenti”
Kusir kereta itu menurut Dia segera menahan gerakan keretanya, Siau Po dan Song
Ji juga tidak melarang, Dengan demikian, dalam sekejap mat ketiga lhama tadi sudah
maju melewati kereta mereka dan menghadang di depannya.
“Bocah-bocah berdua, turunlah kalian dari kereta” Terdengar suara bentakan bengis
dari salah seorang lhama itu.
Siau Po membungkam, tapi dia juga tidak turun dari keretanya, Song Ji segera
melepaskan kalung rnutiaranya dan menyodorkan nya ke luar kereta.

“Kalian toh cuma mengincar kalung ini. Siang-kongku mengatakan agar aku
menyerahkannya kepada kalian, Ambillah”
Salah seorang pendeta yang tubuhnya tinggi besar dan gemuk tidak segera
menyambut kalung itu, justru dengan tangannya yang besarnya seperti kipas itu, dia
menyambar tangan Song Ji kemudian ditariknya, Gerakannya gesit sekali, Tahu-tahu
dia sudah mencekal kedua lengan gadis itu.
Siau Po terkejut setengah mati, Dia langsung berteriak
“Kalian mau uang? Ambillah jangan kalian bersikap kasar”
Justru ketika dia berkaok-kaok itulah, dia melihat sesosok bayangan besar berwarna
kuning berjumpalitan di tengah udara dan melesat cepat sekali.
“Sungguh kepandaian yang lihay sekali” puji Siau Po. Dia tidak terkejut, hanya
merasa kagum saja.
Bagian 34
Tapi aneh, Ihama itu bukan mendarat dengan kaki terlebih dahulu, tapi justru
kepalanya yang ada di bagian bawah. Bukankah itu berarti dia akan jatuh nyungsep?
Tidak ampun lagi, kepala itu amblas ke dalam tanah yang lembek dan masuk sampai
sebatas dada, Yang tampak hanya bagian pinggang dan kedua kakinya yang merontaronta.
Dari kagum, Siau Po menjadi kaget dan heran, Dia tidak mengerti tipuan apa yang
dipamerkan Ihama itu.,.,
Kedua Ihama lainnya juga terkejut setengah mati, Mereka segera menerjang ke
depan untuk menolong kawannya yang melesak ke dalam tanah, Ketika di angkat ke
atas, tampak bagian atas tubuhnya, terutama di bagian wajah dan kepala penuh
dengan lumpur hitam, Untung saja hujan deras tadi malam telah membuat tanah di
daerah itu menjadi lunak, kalau tidak, kepala Ihama itu pasti sudah pecah terhantam
tanah yang keras.
Biar bagaimana, Siau Po jadi tertawa menyaksikan hal itu. Tapi ia ingat diri mereka
yang masih dalam keadaan berbahaya, Karena itu, dia segera berkata kepada si kusir
kereta.
“Kau masih belum melarikan kereta juga?” sementara itu, tangan Song Ji masih
menggenggam kalung mutiaranya.
“Siangkong” katanya kepada Siau Po. “Apakah kalung ini tetap diberikan kepada
mereka?”

Belum sempat Siau Po memberikan jawaban. Kedua lhama yang membantu
rekannya ke luar dari tanah berlumpur, sudah langsung saja menghunus goloknya dan
menghambur ke arah kereta.
Song Ji segera merebut cambuk yang dipegan kusir kereta dan dalam sekejap mata,
tahu-tahu golok pendeta itu sudah terlilit dan tertarik Son Ji mengulurkan tangan kirinya
dan dengan mudah dia berhasil merampas golok tersebut Sedangkan cambuk di tangan
kanannya digerakkan kembali Kali ini golok pendeta yang satunya lagi ikut terlepas dari
genggaman dan berhasil dirampas olehnya.
Lhama yang ketiga berdiri terpaku, Pandangan matanya menyorotkan sinar
kekaguman Sesaat kemudian dia baru berteriak
“Ayo” Tubuhnya langsung menerjang ke dep dan tahu-tahu ngusruk ke depan kereta
karena cambuk Song Ji sudah melilit lehernya, sedang golok ditangannya juga ikut
terampas,
Hebat sekali penderitaan lhama yang satu ini. Matanya terbelalak yang kelihatan
hanya bagian putihnya saja, Lidahnya menjulur ke luar karena Iilitan di lehernya ketat
sekali.
Kedua lhama lainnya segera bergerak, mereka menyerang dari kiri dan kanan,
Tampaknya mereka hendak memberikan pertolongan kepada kawannya yang terlilit
cambuk di tangan Song Ji itu,
Meskipun diserang dari dua arah, Song Ji segera menyingkir dengan mencelat ke
atas, Sebelah kakinya bertumpu pada atap kereta, sedangkan kakinya yang sebelah
lagi menginjak kepala salah seorang lhama itu, Song Ji tidak berdiam diri Kakinya
langsung terangkat naik dan mendupak kedua lhama lainnya, Mereka langsung
terjungkal roboh. sementara itu, Song Ji berjumpalitan di udara, Cambuk di tangan
kanannya menghajar lhama yang barusan kepalanya diinjak olehnya. Dalam sekejap
mata ketiga lhama itu sudah terkulai tidak sadarkan diri di atas tanah.
Siau Po dapat menyaksikan peristiwa itu dengan jelas, hatinya menjadi senang sekali
sehingga dia berjingkrakan, Sebab sekarang dia baru mengerti apa yang telah terjadi.
“Oh, Song Ji” teriaknya. Ternyata kau begitu lihay” katanya.
Nona cilik itu tersenyum, “Kepandaianku belum berarti,” sahutnya, “Dasar ketiga
pendeta itu saja yang tidak berguna”
“Kalau tahu begini,” kata Siau Po kembali “Tidak perlu aku merasa khawatir atau
kebingungan. Barusan aku mencemaskan keselamatanmu.”
Selesai berkata, Siau Po melompat turun dari keretanya dan menghampiri salah
seorang lhama itu kemudian mendupaknya keras-keras.

“Hei, kalian bertiga, apa pekerjaanmu?” Lhama itu dalam keadaan tidak sadarkan
diri, Tentu saja dia tidak bisa menjawab pertanyaan Siau Po.
Song Ji juga menghampiri lhama itu kemudian menendang punggungnya, Dengan
demikian si lhama itu tersadar dari pingsannya,
“Kau dengar atau tidak?” tanya nona itu. “Siang-kong bertanya kepadamu, apakah
pekerjaan kalian sebenarnya?”
Pendeta itu menatap Song Ji lekat-lekat “Nona…” katanya, “Apakah nona mengerti
ilmu dewa?”
Song Ji tersenyum.
“Cepat katakan” bentaknya dengan suara garang. “Apa sebenarnya pekerjaan
kalian?”
“Aku,., aku.” sahut si lhama dengan suara g gup. “Kami… adalah para lhama dari kuil
Bun Cu I di puncak Ngo Tay san….”
“Apanya lama-lama?” bentak Song Ji. “tidak menanyakan engkau lama atau
sebentar? Mengapa kau mengoceh yang bukan-bukan?”
“Lhama artinya pendeta Agama Buddha di Tibet.” kata Siau Po menjelaskan.
“Oh, jadi kalian ini kaum pendeta?” tanya Song Ji kembali, “Kalau memang seorang
pendeta, mengapa kau tidak mencukur gundul kepalamu?”
“Kami para Ihama, bukan pendeta.” sahut orang yang ditanya.
“Apa? Kau masih membandel juga?” kata Song Ji yang kembali menendang pantat
lhama itu. Kali ini dia menendang urat darah orang itu yang membuat dirinya seperti
digigit oleh ribuan ekor semut. Tanpa dapat dipertahankan lagi, lhama itu menjerit dan
mengerang karena seluruh tubuhnya terasa gatal sekali, suaranya semakin lama
semakin lirih….
Kedua lhama lainnya tersadar sendiri mendengar suara erangan kawannya itu.
Mereka merasa heran dan terkejut kemudian terdengar mereka berbicara dalam bahasa
Tibet Setelah itu, lhama yang menderita kegatalan itu berkata kepada Song Ji.
“Nona… nona yang baik,” katanya, “Kami adalah kaum pendeta, Apa pun yang nona
katakan, kami akan menurutinya. Tapi, cepat… nona bebaskan jalan darahku ini.,.”
Song Ji tertawa.
“Apa yang nonamu katakan, tidak ada hitungannya. Apa yang benar adalah
perkataannya siang-kongku ini. Nah, siangkong. Apa yang ingin kau katakan?”

Siau Po merasa geli sekali, tapi dia menahan tertawanya.
“Kalian adalah orang-orang yang menyucikan diri, mengapa kalian ingin merampas
milik orang lain?”
“Iya… kami memang patut mati” kata salah seorang lhama tersebut. “Lain kali kami
tidak berani lagi…”
“Apa kalian pikir masih ada lain kali?” tanya Siau Po.
“Sekali kami katakan tidak berani, biar pun seratus tahun kemudian, artinya kami
tidak berani lagi melakukan hal ini.” sahut salah seorang lhama.
“Kalian bukan berdiam di dalam kuil membaca doa di sana, malah keluyuran ke
mana-mana, apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Siau Po.
“Kami… kami dititah guru kami turun gunung….”
“Apakah guru kalian menitahkan kalian turu gunung untuk merampas harta benda
milik orang lain?”
“Bukan…. Kami akan pergi ke Kotaraja….” Kata-kata si lhama yang gemuk jadi
berhenti karena seorang rekannya memberi isyarat dengan memperdengarkan suara
terbatuk-batuk..
Siau Po sangat cerdik, mendengar suara batuk batuk itu, dia segera melirik. Dia
sempat melihat salah seorang lhama mengedipi kawannya dan mencegahnya bicara
lebih lanjut.
Tadinya Siau Po menduga pendeta itu ingin merampas kalung mutiara Song Ji
sehingga dia ketakutan sebetulnya para lhama pergi ke Kerajaan bukanlah suatu hal
yang aneh.
Dia tahu para lhama dari Tibet sangat dihormati bangsa Boan Ciu. Kalau didalam
istana ada upacara keagamaan, pasti

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s