“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 43


Terdengar si orang tua berkata kembali,
“Saudara kecil, sebaiknya kau jangan menutupi urusan apa pun dariku, sekarang kau
katakan padaku, kepergianmu ke Ngo Tay san ini disebabkan mendapat perintah atau
untuk urusanmu pribadi?”
Siau Po menjawab dengan cepat.
“Aku toh seorang thay kam dalam istana, Tanpa perintah, mana berani aku lancang
meninggalkan kerajaan? Apakah kau pikir aku ini sudah bosan hidup?”
“Dengan demikian, berarti kau menerima titah dari Sri Baginda, bukan?”
Siau Po memperlihatkan tampang keheranan.
“Sri Baginda?” tanyanya menegaskan “Sri Baginda katamu? Ha… ha… ha… Kali ini
berita yang kau terima tidak benar. Sri Baginda mana tahu urusan di Ngo Tay san?”
Orang tua itu menatap Siau Po dengan tajam.
“Kalau bukan Sri Baginda, lalu siapa?”
“Nah, coba kau terka” kata Siau Po yang senang mempermainkan orang tua itu.
“Mungkinkah kau dititah oleh ibu suri?” tanya orang tua itu kembali.
Siau Po tertawa.
“Ternyata Ciong samya pintar sekali” pujinya, “Sekali tebak saja langsung mengenai
sasaran, Di dalam istana, orang yang mengetahui urusan di Ngo Tay san ini cuma ada
dua orang dan satu setan.”
Ciong samya merasa heran.

“Dua orang dan satu setan?”
“Betul Dua orang dan satu setan.” sahut Siau Po memberikan kepastian.
“Siapa-siapa saja mereka itu?” tanya si orang tua kembali.
“Dua orang itu, yakni ibu suri dan aku sendiri.” sahut Siau Po.
“Dan setan yang kau katakan?”
“Setan itu, tentu saja arwah penasarannya Hay kong kong.” sahut Siau Po. “Dia kena
pukulan Hoa Kut Bian Ciangnya ibu suri.”
Si orang tua terkejut setengah mati.
“Hoa Kut Bian Ciang?” tanyanya, “Kau bilang Hoa Kut Bian Ciang?”
“lya, tidak salah.” sahut Siau Po, “Memang Hoa Kut Bian Ciang.”
“Jadi kau diutus oleh ibu suri?” tanya si orang tua kembali, “Apa yang harus kau
lakukan?”
Siau Po tersenyum.
“Thay hou dan kau orang tua terhitung orang sendiri, maka sebaiknya kau tanyakan
saja kepadanya”
Si orang tua terdiam, Hatinya menjadi bingung.
“Oh, jadi ibu suri yang menyuruh kau ke gunung Ngo Tay san?” dia menggumam
seorang diri seakan sedang mengajukan pertanyaan kepada Siau Po.
“Thay hou juga berkata padaku,” kata Siau Po kembali. “Katanya, urusan ini telah
dibicarakan dengan Ang koucu dan Ang kaucu setuju sekali.
Thay hou juga berpesan kepadaku agar aku bekerja hati-hati, Asal aku berhasil maka
aku akan mendapatkan hadiah besar dan Ang kaucu sendiri akan memberikan aku
sesuatu yang sangat berharga.”
Sengaja berkali-kali Siau Po menyebutkan nama Ang kaucu, Dia menduga si orang
tua takut sekali terhadap ketuanya dan kalau dia sering menyebutnya, mungkin orang
tua ini tidak berani mencelakainya…”
Kenyataannya, meskipun dalam Ciong samya meragukan kata-kata Siau Po, tapi dia
tidak berani sembarang bertindak Dia merasa lebih baik dirinya percaya daripada tidak
sama sekali, Karena itu, dia tidak segera turun tangan.

“Keenam orang yang ada di luar itu, apakah semuanya bawahanmu?” tanya orang
tua itu kembali.
“Mereka semua orang-orang dari istana,” sahut Siau Po. “Kedua gadis itu merupakan
dayang-dayangnya Thay hou, sedangkan keempat laki-laki yang ikut bersamaku adalah
para gi cian siwi, pengawal-pengawal pribadi Thay hou, ibu suri pula yang
memerintahkan mereka ikut aku melaksanakan tugas ini. Tapi mereka tidak tahu
menahu urusan Sin Liong kau, karena ini merupakan rahasia besar. Tidak mungkin
Thay hou memberitahukan urusan ini kepada mereka.”
Ketika berbicara, Siau Po sempat melihat orang tua itu tertawa mengejek, hatinya
langsung mempunyai dugaan yang buruk, Maka dia lantas bertanya.
“Kenapa? Kau tidak percaya keteranganku ini?”
Orang tua itu memperdengarkan suara tertawa dingin.
“Orang-orangnya Bhok onghu dari In Lam setia sekali terhadap kerajaan Beng, mana
mungkin menjadi Gi cian siwi dari kerajaan kami? Kalau kau hendak membual, carilah
alasan yang lebih tepat” katanya.
Siau Po tertawa terbahak-bahak.
“Hei, apa yang kau tertawakan?” tanya si orang tua. Dia tidak tahu bahwa dirinya
telah berhasil memecahkan kebohongan orang, Karena itu, Siau Po sengaja tertawa
terbahak-bahak agar orang tua itu menjadi bimbang kembali.
Siau Po masih tertawa, Sesaat kemudian dia baru berkata.
“Orang yang paling dibenci oleh keluarga Bhok bukan Thay hou atau Sri Baginda,
mungkin kau sendiri tidak tahu.”
“Mana mungkin aku tidak tahu? Yang paling dibenci oleh keluarga Bhok sudah pasti
Gouw Sam Kui.”
Sekali lagi Siau Po menunjukkan mimik kagum.
“Hebat” serunya, “Ciong samya memang benar-benar lihay.” Tanpa menunggu
komentar dari orang tua itu, dia segera melanjutkan kata-katanya. “Ciong samya,
biarlah aku berkata terus terang kepadamu. Orang Bhok ongya bekerja pada Thay hou,
tujuan utamanya adalah untuk mencelakai Gouw Sam Kui agar dihukum mati beserta
seluruh keIuarganya. Kalau perlu, segala anjing dan ayam peliharaannya pun tidak
ketinggalan jangankan di dalam istana kaisar, di dalam istana Peng Si Ong pun ada
orangnya Bhok onghu, sebetulnya ini merupakan rahasia besar, tapi tidak apa-apa aku
memberitahukan kepadamu, asal kau jangan membocorkannya saja”
Ciong samya menganggukkan kepalanya.

“Oh, rupanya begitu.” katanya, Tapi di dalam hati dia hanya percaya setengahnya
saja, Diam-diam dia mengambil keputusan — sekarang biar aku periksa dulu beberapa
orang yang di luar itu untuk mendapat kenyataan Aku ingin tahu apakah pengakuan
kedua belah pihak sama atau tidak, sebaiknya aku mulai dari si nona muda, anak masih
bau kencur begitu biasanya jarang berdusta.”
Karena itu dia segera membuka pintu dan melangkah ke luar, Siau Po terkejut
setengah mati.
“Eh, kau mau ke mana? ini kan rumah hantu. jangan kau tinggal aku sendirian di
sini”
“Aku akan segera kembali.” sahut si orang tua meneruskan langkah kakinya.
Siau Po benar-benar bingung, Sesaat kemudian terdengar suara teguran yang
nyaring.
“Hei Kalian semua pergi ke mana?”
Kembali Siau Po terkejut hatinya, Dia mengenali suara si orang tua yang
mengandung kekhawatiran
“Apakah me… reka semua tidak… ada di depan?” tanyanya.
“Ke mana kalian?” teriak si orang tua kembali “Kalian ada di mana?”
Pertanyaan itu diajukan dengan suara yang lebih keras lagi, tetapi keadaan tetap
sunyi senyap, tidak terdengar jawaban dari seorang pun.
Sesaat kemudian, Siau Po mendengar suara langkah kaki berlari-lari, lalu suara pintu
ditendang dan terakhir kembali terdengar suara langkah kaki yang berlari, tapi arahnya
kembali ke tempat semula, Dan ternyata pada saat itu juga tampak si orang tua
menerobos masuk.
Hati Siau Po terkejut Dia melihat wajah orang tua itu berubah menjadi pucat pasi,
seakan tidak ada setetes pun darah yang mengalir di dalamnya, Matanya membelalak
dam menyiratkan sinar kebingungan.
“Me… reka… semua te… lah lenyap” Akhirnya orang tua itu dapat bersuara juga
setelah berdiri terpaku sekian lama.
“Apa,., kah mere… ka dilarikan setan?” tanya Siau Po dengan nada takut, “Ce… pat
Cepat kita tinggalkan tempat ini”
“Mana bisa?” bentak si orang tua, Tangannya bertumpu pada meja dan meja itu
bergetar Hal ini menandakan betapa khawatir dan bingungnya hati orang tua itu.
Kemudian dia melangkah ke arah pintu dan melongok ke luar.

“Hei Di mana kalian? Di mana kalian semua?”
Meskipun dia mengulangi lagi pertanyaan itu, tetap saja tidak terdengar adanya
jawaban, Tapi si orang tua masih memasang telinga, Kesunyian masih mencekam
rumah itu.
Walaupun usianya sudah tua dan pengalamannya banyak, tetap saja hatinya gelisah,
Sekian lama dia berdiri terpaku, akhirnya dia melangkah mundur ke dalam, pintu kamar
dirapatkan lalu dipalangkan. Matanya melirik kearah Siau Po yang sedang ketakutan.
Siau Po menatap orang tua itu lekat-lekat, Tampak dia menggertakkan giginya eraterat
dan kulit wajahnya berubah-ubah, Sekilas tampak pucat pasi, sekejap kemudian
kebiru-biruan.
Sebetulnya hujan sudah berhenti cukup lama, tetapi tiba-tiba menjadi deras kembali
seperti ada berputuh-puluh ember air yang dijatuhkan dari langit
“Oh Hujan lagi?” terdengar orang tua itu menggumam seorang diri. Tampaknya dia
terkejut sekali.
Sesaat kemudian, terdengar suara seseorang dari arah ruangan pendopo, Meskipun
hujan lebat sekali, tapi suara itu bisa terdengar jelas.
“Ciong losam, kemarilah”
Suara itu suara seorang wanita dan terdengar merdu sekali, Tapi Siau Po dapat
mengenali bahwa itu bukan suara Kim Peng atau pun Pui Ie.
“Setan perempuan” teriak Siau Po dalam kagetnya, Rasa takutnya muncul kembali.
“Siapa yang memanggil aku si orang tua?” tanya orang tua itu sengaja mengeraskan
suaranya.
Namun tidak terdengar suara sahutan dari arah pendopo, hanya suara tetesan air
hujan yang membisingkan.
Si orang tua menolehkan wajahnya menatap Siau Po. Si bocah juga sedang
memperhatikannya, Untuk sesaat mereka saling menatap, Keduanya berdiam diri,
Seluruh bulu kuduk mereka seakan meremang.
Namun kesunyian tidak berlangsung lama, kembali terdengar suara wanita tadi.
“Ciong losam, ke luarlah” Demikian katanya, Suara itu membuat perasaan menjadi
tidak enak.
Dalam keadaan seperti itu, si orang tua masih dapat menabahkan hatinya, Mendadak
dia menendang pintu kamar sehingga menjublak, Setelah itu dia mencelat ke luar,

Rupanya dia ingin menyusul suara panggilan itu agar orangnya tidak keburu
menghilang.
“Jangan ke luar” teriak Siau Po.
Tapi orang itu sudah menghilang di balik pintu, sesampainya di ruangan pendopo,
orang tua itu tertegun, Keadaan di sana tetap sunyi senyap, Tidak ada seorang pun
yang ada di sana, Tidak terdengar suara apa pun, juga suara langkah kaki orang yang
sedang berlari.
Kalau toh ada suara yang masuk, hanyalah suara angin yang membawa tampiasan
air hujan, Hawa dalam ruangan itu menjadi dingin sekali.
Siau Po sampai menggigil seluruh tubuhnya, dia bermaksud berteriak tapi tidak
berani. Suasana mencekam di sekitarnya membuat hatinya takut.
Braakkk Tiba-tiba terdengar suara menggabruk.
Rupanya pintu pendopo itu tertutup sendi karena hembusan angin yang kencang,
Keduanya terdiam, mata mereka membelalak tapi otak mereka bekerja. Dalam hati
mereka menduga-duga Suara siapakah yang terdengar tadi? Dari mana datangnya?
Dan ke mana orangnya menghilang?
Pikiran Siau Po sendiri ikut melayang-layang.
— Ah Aku tahu sekarangl Setan hanya menganggu orang dewasa, tidak
mengganggu anak kecil — hiburnya sendiri Atau… sudah banyak manusia yang mereka
makan sehingga perut mereka sudah kenyang, Aih Yang penting hari cepat pagi.,., –
Sekonyong-konyong berhembus lagi angin yang dingin tadi Lilin dalan ruangan itu
sampai padam sehingga keadaan menjadi gelap gulita.
Siau Po ketakutan sehingga dia menjerit-jeri, tiba-tiba dalam ruangan itu bertambah
lagi satu setan…
Dalam pandangan Siau Po, setan itu berdiri tepat di depannya. Ruangan itu memang
gelap dan tubuh setan itu bagai sesosok bayangan hitam.
“Eh, jangan… jangan kau ganggu aku” katanya gugup, “A… ku sendiri juga sudah
menjadi setan seperti engkau, Kita adalah orang sendiri…. Tak ada gunanya kau….”
“Jangan takut” kata setan itu dengan nada dingin, “Aku tidak akan mengganggumu.”
Terdengar jelas bahwa suara itu ke luar dari mulut seorang wanita, Mendengar suara
itu, hati Siau Po menjadi agak tenang.

“Kau sudah mengatakan tidak akan menggang-guku, aku yakin kau akan memegang
janjimu.” kata Siau Po. “Seorang yang gagah harus menjaga ucap-annya, Kalau kau
sampai mengganggu artinya kaulah yang setan….”
“Aku bukan setan, aku juga bukan segala macam orang gagah.” kata wanita itu, “Aku
ingin bertanya kepadamu, di kerajaan, Go Pay yang berpangkat tinggi itu, apakah
benar-benar mati di tanganmu?”
“Benarkah kau bukan setan?” tanya Siau Po tanpa menjawab pertanyaan wanita itu.
“Kau musuh Go Pay atau sahabatnya?”
Dibalas dengan pertanyaan sedemikian rupa, wanita itu tidak memberikan
jawabannya. itulah sebabnya Siau Po menjadi ragu lagi Benarkah dia bukan setan?
Kalau dia musuh Go Pay, paling baik memang berterus terang, tapi kalau dia
sahabatnya Go Pay, jiwanya bisa terancam bahaya, otaknya bekerja keras memikirkan
langkah yang harus diambilnya.
– Aih Sudahlah –, pikirnya lebih jauh, — Biar, aku pertaruhkan nyawaku, Kalau
dugaanku benar, dia tentu akan menganggap aku sebagai seoran pahlawan,
Sebaliknya, kalau aku salah, paling-paling selembar nyawaku ini akan melayang di
tangan nya. —
Dengan membawa pikiran demikian, dia segera berkata dengan suara lantang.
“Memang benar Lohulah yang membunuh Go Pay. Apa yang kau inginkan? Dengan
satu tikaman di perut nya, lohu mengirim dia pulang ke alam baka, Rohnya langsung
menghadap Raja Akherat, Kau ingin membalaskan dendamnya? Silahkan Kalau lohu
sampai mengernyitkan kening sedikit saja, aku bukannya seorang eng hiong atau
hohan.”
Wanita itu tidak menjawab, dia malah bertanya ragu, suaranya masih dingin seperti
sebelumnya.
“Mengapa kau membunuh Go Pay?”
Kembali pikiran Siau Po bergerak dengan cepat,
— Kalau kau memang sahabat Go Pay, biar pun aku timpakan kesalahan pada Sri
Baginda, tidak ada gunanya juga, kau pasti tidak akan mengampuni aku. Kalau kau
musuhnya, hm…. – Dengan membawa pikiran demikian, dia segera menjawab dengan
berani.
“Go Pay mengangkangi pemerintahan tidak terhitung banyaknya rakyat yang mati
gara-gara dia. Oleh karena itu, meskipun aku masih muda sekali, aku sangat membenci
nya. Kebetulan sekali dia berbuat kesalahan terhadap Sri Baginda, maka aku
menggunakan kesempatan itu untuk membunuhnya. Seorang laki-Iaki, berani berbuat,
berani pula bertanggung jawab, Aku akan mengatakan terus terang kepadamu,

walaupun seandainya Go Pay tidak berbuat kesalahan terhadap raja, aku tetap akan
mencari kesempatan untuk membunuhnya, Demi membalaskan sakit hati rakyat.”
Apa yang diucapkan Siau Po sebenarnya hanya meniru kata-kata para anggota Ceng
Bok Tong. Untuk membunuh Go Pay, dia mendapat perintah dari raja, Apa yang terjadi
berlainan dengan ceritanya.
Mendengar keterangan Siau Po, untuk sesaat wanita itu membungkam, jantung Siau
Po berdegup-degup, hatinya bertanya-tanya, Dia sebetulnya musuh atau sahabat Go
Pay? Dugaannya tepat atau salah?
Sesaat kemudian terasa ada angin yang berhembus lewat, tampak wanita itu, entah
setan atau bukan, melesat ke luar dari kamar itu.
Siau Po berusaha menggerakkan tubuhnya, di terkejut setengah mati, ternyata dia
tidak bisa berkutik sedikit pun. Rupanya wanita itu telah menotoknya.
Celaka pikirnya dalam hati, Sekarang, setelah ditinggal sendirian, Siau Po dapat
berpikir denga tenang, Dia yakin wanita itu bukan setan, melain kan seorang manusia
seperti dirinya, Tiba-tiba serangkum angin menghembus kembali, tubuhnya menggigil
kedinginan sebab pakaiannya belum kering sama sekali.
Ketika hatinya dilanda kegelisahan dan kebingungan, tiba-tiba ia melihat sinar api
yang sedang menuju ke arahnya dengan perlahan-laha Dia segera memperhatikan
dengan seksama, Hati nya tercekat
“Setan jangkung Setan jangkung” serunya lirih. Dia berdiam diri dan menatap ke
arah api it lekat-lekat
Semakin lama api itu semakin mendekat, cahayanya tidak terlalu tajam, hatinya
menjadi agak lega, Ternyata hanya sebuah lentera yang ditenteng oleh seorang
perempuan atau setan bergaun putih Meskipun demikian, cepat-cepat dia merapatkan
kedua matanya, dia tidak berani memperhatikan terlalu lama.
Meskipun sepasang matanya telah dipejamkan tapi telinganya masih dapat
mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat dan akhirnya berhenti tepat di
depannya, jantung Siau Po berdegup semakin kencang.
Tiba-tiba Siau Po mendengar suara tawa seorang gadis yang kemudian bertanya
kepadanya.
“Eh, kenapa kau memejamkan matamu?”
Suara itu halus dan merdu.
“Jangan kau takut-takuti diriku” kata Siau Po dengan suara gemetar “Aku tidak
berani melihat ke arahmu.”

Setan perempuan itu kembali tertawa.
“Apakah kau takut melihat darah mengalir dari hidung dan mataku? Atau kau takut
melihat lidahku yang menjulur ke luar?” tanyanya, “Cobalah berani-kan dirimu melihat
aku sebentar saja.,.”
“Aku tidak akan kena diperdayakan olehmu” teriak Siau Po. “Pasti rambutmu riapriapan
dan wajahmu penuh dengan noda darah, apanya yang bagus dilihat?”
Setan perempuan itu tertawa geli. Tiba-tiba dia meniup Siau Po.
Mula-mula Siau Po terkejut, kemudian dia merasa angin yang timbul dari hembusan
mulut perempuan itu terasa hangat sebagaimana umumnya ke luar dari mulut manusia,
Hidungnya juga mencium bau harum yang tipis, ia merasa heran, karena itu dia
membuka matanya sedikit untuk mengintip.
Apa yang dilihatnya? Wajah penuh noda dengan rambut panjang beriap-riap? Tidak
Justru kebalikannya, Dia melihat selembar wajah putih halus, alis bak bulan sabit dan
bibir yang mungil Wajah yang cantik dan penuh dengan senyuman yang manis.
Siau Po mengintip lagi. Dia membuka sepasang matanya lebar-lebar. sekarang dia
dapat melihat dengan tegas, bahwa yang di pikirnya sebagai setan perempuan, ternyata
seorang nona cilik yang wajahnya manis sekali Siau Po menduga usianya paling banter
empat belas atau lima belas tahunan, wajahnya cantik, Rambutnya digelung menjadi
dua. Nona itu sedang menatapnya dengan bibir tersenyum.
Bagian 33
“Kau benar-benar bukan hantu?” tanyanya kemudian.
Nona itu tertawa.
“Aku setan.” sahutnya, “Setan yang menggantung diri.”
Siau Po memperhatikannya kembali dengan seksama, Nona itu tertawa lagi dan
berkata.
“Kau sanggup membunuh seorang penjahat, dapat dikatakan nyalimu besar sekali,
Mengapa kau justru takut menghadapi setan yang mati menggantung diri? Mengapa
nyalimu jadi begitu kecil?”
Siau Po menarik nafas untuk melegakan hatinya.
“Aku tidak takut pada manusia, Aku hanya takut kepada setan.”

Lagi-lagi nona itu tertawa geli.
“Kau tahu jalan darah mana pada tubuhmu yang tertotok?” tanyanya.
“Mana aku tahu?” sahut Siau Po.
Nona muda itu menekan bahu Siau Po beberapa kali, kemudian menepuk
pinggangnya sebanyak tiga kail
Setelah itu, Siau Po dapat menggerakkan kaki dan tangannya kembali Dia
mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Hatinya senang sekali sehingga dia tertawa
lebar.
“Rupanya kau pandai ilmu menotok, bagus” katanya.
“Belum lama aku mempelajarinya,” sahut si nona, “Malah hari ini baru pertama kali
aku mempraktekkannya.”
Sembari berkata, nona itu menekan lagi ketiak Siau Po dan pinggangnya sehingga
bocah itu berjingkrakan karena kegelian
“Jangan Jangan” katanya sembari tertawa geli
Kedua kakinya juga sudah dapat bergerak dengan leluasa,
“Kau menggetitiki aku sampai aku kegelian.” katanya, “Sekarang aku akan membalas
menggelitikmu.” Dia benar-benar melangkah maju mendekati nona itu.
Gadis cilik itu melangkah mundur dan menjulurkan lidahnya, Dia bermaksud menyaru
sebagai setan untuk menakut-nakuti Siau Po, tapi dia gagal.
Tampangnya justru lucu sekali, dan menarik hati,
Siau Po menjulurkan tangannya untuk menarik lidah gadis itu, tapi gadis itu
menghindarkan diri, dia tertawa,
“Nah, kau sekarang tidak takut lagi pada setan gantung diri,”
“Kau mempunyai bayangan dan hawa yang ke luar dari mulutmu terasa hangat.” kata
Siau Po. “Jadi kau manusia biasa, bukan setan?”
Nona itu memperhatikannya lekat-lekat.
“Aku kuntilanak, bukan setan biasa.” katanya.
Siau Po tertegun Dia memperhatikan gadis itu, wajahnya cantik, halus dan kulitnya
mulus.

“Bukan” katanya, “Kuntilanak tidak bisa berbicara dan kakinya tidak dapat ditekuk.”
Nona itu tertawa.
“Kalau begitu, aku siluman musang.” katanya kembali.
Siau Po juga tertawa.
“Aku tidak takut siluman musang.” katanya, Tapi dalam hati ia sempat ragu, –
Benarkah dia siluman musang? –, diam-diam dia berjalan ke belakang nona itu dan
memperhatikan pinggulnya.
Kembali nona itu tertawa.
“Aku adalah siluman musang yang sudah berusia seribu tahun, ilmuku sudah
mencapai kesempurnaan karenanya aku tidak mempunyai ekor lagi.” katanya.
Siau Po tersenyum.
“Kalau aku dipermainkan oleh siluman musang secantik engkau, mati pun aku tidak
menyesal.”
Wajah si nona menjadi merah padam. Dia menjadi jengah,
“Ah, kau genit” katanya, “Tadi kau takut setan, sekarang kau malah jadi nakal.”
Siau Po memang takut terhadap setan penasaran atau kuntilanak, tapi dia tidak
begitu takut kepada siluman musang. Sebaliknya, dia suka sekali terhadap nona cilik
yang baru dikenalnya ini. Dia mendapat kenyataan bahwa nona ini lebih menarik dari
pada Kiam Peng atau pun Pui Ie. Rasanya dia langsung saja akrab dengannya.
“Nona, siapakah namamu?”
“Namaku Song Ji.” sahut nona itu, Song artinya sepasang.
“Bagus” kata Siau Po. “Tapi, sepasang kaki yang harum atau sepasang kaos kaki
yang bau?”
Si nona tidak marah, malah tertawa.
“Kaki yang harum atau kaos kaki yang bau, sama saja.” katanya, “Terserah engkau
sendiri Tapi Kui kong kong, pakaianmu basah kuyup, pasti tidak enak dikenakan
silahkan kau pergi ke sana untuk mengeringkannya, Tapi kami mempunyai sedikit
kesulitan di sini.”
“Apa itu?” tanya Siau Po,

“Kami tidak mempunyai pakaian laki-laki.” sahut Song Ji.
Hati Siau Po kembali terkejut.
– Ah, — serunya dalam hati. – Apakah rumah ini benar-benar dihuni oleh setan
perempuan semua? —
Tentu saja Song Ji tidak dapat menduga jalan pikirannya, Dia segera mengangkat
lenteranya tinggi-tinggi.
“Silahkan masuk” katanya.
Siau Po berdiri dengan tegak. Hatinya meras bimbang. Nona itu terus berjalan,
sampai di ambang pintu, dia menoleh dan tersenyum.
“Kalau kau memakai baju perempuan, tentu kau takut ketimpa sial, bukan?” katanya.
“Kala tidak, begini saja. Kau naik ke atas tempat tidur dan tunggu di balik selimut
mengeringkan pakaian bukan pekerjaan yang memakan waktu lama.”
Siau Po merasa gadis cilik itu baik sekali dan sarannya juga bagus, Dia tidak bisa
menolaknya dia akhirnya dia masuk ke dalam kamar.
“Bagaimana dengan kawan-kawanku yang lain ke mana mereka semuanya?” tanya
Siau Po.
Song Ji melambatkan langkah kakinya agar mereka bisa berjalan berdampingan.
“Sam nay nay telah berpesan kepadaku agar aku tidak berbicara terlalu banyak
denganmu.” katanya “Kau sabarlah sebentar, setelah kau mengisi perut nanti Sam nay
nay sendiri yang akan mengatakannya kepadamu.”
Siau Po menganggukkan kepalanya, Memang dia sudah lapar sekali. ingin sekali dia
mengisi perutnya dengan makanan Dia juga tidak menanyakan siapa yang dipanggil
Sam nay nay itu. Dialah nyonya ketiga yang pernah bertemu dengannya tadi.
Song Ji mengajak Siau Po menelusuri sebuah koridor panjang yang gelap, Mereka
sampai di dalam sebuah kamar. Di sana mula-mula Song Ji menyulut sebatang lilin,
Tampak kamar itu diperlengkapi dengan sederhana, Hanya ada sebuah meja dan
sebuah tempat tidur, Semua terlihat bersih, Tempat tidurnya juga sudah dipasang sprei
serta kelambu.
Sambil menyingkapkan kelambu, Song Ji berkata.
“Kui siangkong, maril Naiklah ke atas pembaringan setelah itu kau lemparkan
pakaianmu kepadaku”

Siau Po sekarang sudah percaya penuh terhadap si nona, dia menurut Dia segera
naik ke atas tempat tidur kemudian menurunkan kelambunya, Dia membuka
pakaiannya dan melemparkannya kepada si nona, Dia sendiri menarik sehelai selimut
untuk menutupi tubuhnya.
“Aku akan pergi mencari makanan untukmu sekalian Kau suka makan bacang yang
manis atau yang asin?” tanya Song Ji sambil menerima pakaian Siau Po dan berjalan
ke arah pintu.
Siau Po tertawa.
“Aku sedang kelaparan, makan yang mana pun boleh.” sahutnya, “Mungkin bacang
tanah lempungpun aku bisa makan saat ini.”
Nona itu tertawa geli mendengar kata-kata Siau Po. Dia langsung meninggalkan
kamar itu.
Siau Po tidak perlu menunggu terlalu lama. Sekejap kemudian, hidungnya sudah
mencium bau harum daging yang lezat, Song Ji muncul di pintu kamar dan membawa
sebuah nampan di tangannya, Dia segera mendekati tempat tidur dan menyingkap
kelambunya.
Siau Po melihat ada empat buah bacang yang sudah dibuka pembungkusnya, Bukan
main senang nya hati si bocah. Segera dia menyambar sumpit dari atas nampan dan
digunakan untuk menyumpit bacang itu.
Tanpa menunda lebih lama lagi dia seger memasukkan bacang itu ke dalam
muIutnya, Di mengunyah dengan cepat, terasa bacang itu leza sekali.
“Song Ji,” katanya setelah menikmati setengah dari bacang itu. “Bacang ini enak
sekali seperti bacang Ouw Ciu.”
Memang, kalau bicara soal bacang, bacang dari Ouw Ciu Ciat Kanglah yang paling
terkenal. Yang-ciu ada orang yang menjual bacang sepert itu. Para tamu yang
berpelesir di Li Cun Wan sering menyuruh Siau Po membelinya. Bacang itu te bungkus
rapat, tapi setiap kali disuruh, dia mengorek ujungnya untuk mencoba rasanya. Selama
tinggal di utara, dia tidak pernah mendapat kesempatan untuk mencicipinya lagi.
Song Ji heran mendengar kata-kata bocah itu.
“Ah Rupanya kau kenal juga makanan Iezat” katanya. “Bagaimana kau bisa tahu ini
bacang dari Ouw Ciu?”
“Ah Jadi ini benar-benar bacang dari Ouw Ciu?” serunya sembari mengunyah “Di
tempat ini, di mana bisa membeli bacang seperti ini?”

“Bukannya boleh beli.” kata Song Ji tertawa geli Dia merasa bocah itu jenaka sekali
“Bacang ini buatan siluman musang.”
Siau Po pun tertawa.
“Benar-benar seorang siluman musang pandai memasak” Tiba-tiba dia ingat tingkah
Ciong samya, karena itu dia segera menambahkan “Usianya sama seperti usia langit.”
Song Ji ikut tertawa, Tapi dia segera berkata.
“Nah, kau makanlah perlahan-lahan, aku akan mengeringkan pakaianmu.,,.” Dia baru
berjalan satu langkah ketika menoleh kembali memandang Siau Po. “Apakah kau
merasa takut?”
Rasa takut Siau Po memang sudah berkurang setengahnya.
“Asal kau lekas kembali” katanya, “Baikl” sahut Song Ji. Dia langsung meninggalkan
kamar itu.
Siau Po makan bacang dengan perlahan-lahan. Tidak lama kemudian dia
mendengar suara langkah kaki, dia mengintai Ternyata si nona telah kembali dengan
sebuah setrikaan yang sudah diisi bara arang untuk menyetrika pakaiannya, Dengan
demikian, si nona bisa bekerja sembari menemaninya,
Dari keempat bacang itu, ada dua yang rasanya manis dan dua lagi rasanya asin,
Siau Po menghabiskan tiga biji.
“Apakah kau yang membungkus sendiri bacang ini?” tanyanya setelah kenyang
makan.
“Sam nay nay yang membuat bumbunya, aku hanya membantu.” sahut Song Ji.
Siau Po dapat mengenali aksen nona itu seperti aksen orang Kang Lam. Karena itu
dia segera bertanya.
“Apakah kau berasal dari Ouw Ciu?” Song Ji agak ragu menjawab pertanyaan itu,
“pakaianmu hampir kering,” katanya kemudia “Sebentar lagi kalau kau bertemu dengan
Sam na nay, kau bisa menanyakan kepadanya sendiri sama saja bukan?”
Suara itu lembut dan kata-katanya sopan sekali “Tentu saja boleh.” kata Siau Po
cepat “Mengapa tidak?” ia menyingkapkan kelambunya dan memperhatikan gadis cilik
itu bekerja.
Song Ji mengangkat wajahnya dan menoleh. Dia memandang Siau Po seraya
tersenyum manis Kemudian dia berkata dengan suara penuh perhatian.
“Kau tidak berpakaian hati-hati masuk angin”

Tiba-tiba kambuh lagi penyakit Siau Po yang suka menggoda orang itu, Dia tertawa
dan berkata
“Kalau aku melompat ke luar, meskipun tanpa berpakaian, aku tidak akan masuk
angin….”
Nona itu terkejut sekali mendengar ucapan Siau Po, dia segera menundukkan
kepalanya, kemudian dia melirik sedikit, akhirnya dia tertawa geli, Siau Po tidak
melompat turun, tapi dia justru menutup seluruh tubuhnya dari atas kepala sampai ke
ujung kaki dengan selimut.
Sekejap saja, pekerjaan nona itu sudah selesai Dia membawa pakaian Siau Po ke
tempat tidur dan menyodorkannya ke dalam kelambu.
“Cepat kau berpakaian” katanya.
Siau Po menurut Setelah dia mengenakan bajunya kembali, Song Ji membantu
mengancinginya, Kemudian dia mengambil sisir.
“Sini Aku jalin kembali kuncirmu yang sudah kusut itu” katanya sekali lagi.
Siau Po senang sekali Dia membiarkan rambutnya disisir lalu dikepang. Selama itu
dia dapat mencium bau harum tubuh seorang gadis.
“0h…. Rupanya siluman musang mempunyai hati yang demikian baik Kalau
semuanya seperti engkau, tentu aku tidak perlu merasa takut lagi.”
Song Ji tertawa perlahan.
“Kau menyebut-nyebut siluman musang, sungguh tidak enak didengar.” katanya,
“Aku toh bukan siluman musang,”
“Oh ya? Kalau kau bukan siluman musang, tentu kau seorang dewi yang agung.”
kata Siau Po.
“Aku juga bukan dewi.” sahut Song Ji tertawa. “Aku hanya seorang budak cilik.”
“Aku seorang thay kam kecil dan kau seorang budak cilik.” kata Siau Po. “Kalau
begitu, kita sama-sama bekerja melayani orang, kita benar-benar merupakan pasangan
yang cocok.”
“Tetapi kita tidak dapat disamakan.” sahut Song Ji. “Kau melayani seorang raja dan
aku hanya melayani seorang nyonya, perbedaan kita bagai bumi dan langit.”
Sementara itu, Song Ji sudah selesai mengepang rambut Siau Po. ia berkata
kembali.

“Aku tidak biasa mengepang rambut seorang laki-laki, entah ada kesalahan atau
tidak?”
Siau Po menarik kuncirnya ke depan kemudia melihatnya sekilas,
“Bagus” pujinya, “Sebenarnya, aku paling segan menguncir rambutku sendiri Lebih
baik lagi kalau kau dapat membantu aku menjalin rambut setiap pagi.”
“Aku tidak mempunyai rejeki melayani sian kong.” kata Song ji. “Kau seorang
pahlawan besar. Hari ini aku mendapat kesempatan menguncir rambutmu, berarti
peruntunganku sudah bagus sekali.”
“Aih jangan suka merendahkan diri sendiri” kata Siau Po. “Kau seorang gadis yang
cantik dan baik hati, Kau mau menjalin rambutku, meskipu hanya satu kali, berarti
peruntungankulah yangbagus.”
Wajah si nona menjadi merah saking jengahnya.
“Aku bicara yang sesungguhnya, mengapa kau justru menggoda aku?”
“Tidak, tidak” kata Siau Po cepat “Aku juga bicara setulus hati.”
Song Ji tersenyum.
“Sam nay nay berpesan,” katanya kemudian, “Kalau Kui siang kong tidak keberatan,
nay nay mengundangmu duduk di ruangan belakang.”
“Bagus” kata Siau Po. “Tapi, apakah sam siau ya (Tuan nomor tiga) mu tidak ada di
rumah?”
Mendengar pertanyaan itu, Song Ji mengeluarkan seruan tertahan yang perlahan.
“Oh Sam siau ya sudah menutup mata.” katanya.
Tiba-tiba saja serangkum perasaan dingin menyelinap dalam hati Siau Po. Dia ingat
di dalam rumah itu terdapat banyak meja abu. Tapi dia tidak berani menanyakan apaapa.
Setelah mengiakan, dia mengikuti nona itu menuju ruangan dalam.
Mereka tiba di sebuah aula yang tidak seberapa besar Di sana dia dipersilahkan
duduk oleh si nona cilik yang langsung menyuguhkan secangkir teh hangat untuknya.
Beberapa menit kemudian, terdengarlah suara langkah kaki yang ringan, Lalu disusul
dengan munculnya seorang wanita bergaun putih sebagai tanda bahwa dia sedang
berkabung.
“Ah, Kui kong kong tentu sudah letih sekali dalam perjalanan.” katanya ketika sampai
di dalam aula kecil itu. Dia juga menjura dengan sikap yang hormat sekali.

Siau Po cepat-cepat berdiri dan membalas penghormatan si nyonya.
“Maaf, cayhe tidak pantas mendapat kehormatan yang semakin tinggi.” katanya,
“Kui kong kong, silahkan duduk” ujar nyonya muda itu.
“Terima kasih” kata Siau Po. Dia melihat usia nyonya itu paling banter dua puluh
lima tahunan. Tanpa memakai bedak pun, wajahnya sudah putih sekali, bahkan
menjurus kepucat-pucatan, Kedua matanya merah, hal ini membuktikan bahwa dia baru
saja menangis, Di bawah cahaya lentera, tampak bayangan tubuh nyonya muda itu.
— Dia bukan setan –, pikir Siau Po dalam hati, Meskipun demikian, ketika duduk,
hatinya merasa kurang tenang juga, Dia segera berkata, “Terima kasih atas bacang
yang disediakan Nyonya, bacang itu benar-benar lezat.”
“Aku tidak berani menerima panggilan itu, Ku kong kong,” kata wanita itu, “Suamiku
almarhum she Cung. Sudah berapa lamakah Kui kong kon tinggal dalam istana?”
Mendengar pertanyaan itu, Siau Po berpikir dalam hatinya.
– Dalam kegelapan tadi ada seorang wanita yang bertanya kepadaku tentang urusan
Go Pay, aku telah mengaku terus terang bahwa akulah yang membunuhnya, Kemudian
budak Song Ji dititahkan untuk menemui aku dan mengantarkan bacang untuk mengisi
perut.
Perlakuannya pun ramah, Ternyata dugaanku tidak salah sedikit pun. Karena
mendapat pikiran itu, dia segera menjawab, “Baru sekitar dua tahun.”
“Kong kong, apakah kau bersedia menceritakan kepadaku lebih jelas jalannya
kejadian ketika kau membunuh pengkhianat Go Pay itu?” tanya si nyonya muda
kembali.
Hati Siau Po tenang mendengar nyonya muda ini menyebut Go Pay sebagai si
pengkhianat, karena itu pula dia mau memberikan keterangan yang selengkapnya,
Yakni bagaimana raja menitahkan-nya menawan Go Pay, tapi orang itu mengadakan
perlawanan Karena itulah para thay-kam yang lainnya segera turun tangan sehingga
orang itu berhasil dibekuk dan dibunuh, Mula-mula ia menyiram matanya dengan abu.
Dia menutupi urusan kaisar Kong Hi yang ikut mengeroyok.
Nyonya Cung mendengarkan dengan penuh perhatian hanya sekali-kali dia
mengeluarkan seruan kagum dan heran ketika Siau Po menceritakan bagaimana dia
menghempaskan abu ke mata Go Pay, Padahal Siau Po mengisahkannya dengan cara
mengikuti lagak si tukang cerita yang sering didengarnya sehingga menarik sekali.
peristiwa itu memang dialaminya sendiri sehingga dapat dimengerti kalau dia dapat
menuturkannya dengan baik.

“Kalau demikian, cerita yang tersebar di luaran tidak sepenuhnya benar.” kata
nyonya Cung. “Menurut apa yang kudengar, ilmu silat Kui kong kong tinggi sekali, Kong
kong telah melayani Go Pay sampai tiga ratus jurus, lalu dengan sebuah tipu jurus yang
lihay, akhirnya Kui kong kong baru berhasil menaklukkannya. Memang aneh kalau
mengingat Go Pay adalah jago nomor satu bagi bangsa Boan Ciu, tapi ternyata dia bisa
dikalahkan dengan mudah. Padahal usia Kui kong kong masih demikian muda, biarpun
kepandaian Kong kong lebih tinggi sepuluh kali lipat dari sekarang, tidak mudah juga
bagi kong kong untuk merobohkannya.”
Siau Po tertawa lebar, Kemudian dia berkata.
“Kalau kami berhadapan secara biasa, mungkin seratus orang Siau Kui cu sekali pun
belum tentu sanggup membekuknya.”
“Lalu, bagaimana si jahanam Go Pay itu sampa menemui kematiannya?” tanya
Nyonya Cung,
Kembali benak Siau Po bekerja.
– Sudah terang nyonya ini bukan siluman atau setan perempuan, dia pasti seorang
tokoh dunia kang ouw yang kepandaiannya tinggi sekali, Kalau aku menyebut nama
Tian Te hwe, mungkin akan membawa manfaat baik bagiku, —
Karena itulah Siau Po menjelaskan lebih jauh bahwa raja menyuruhnya menyelidiki
perihal Go Pay. Bagaimana kebetulan pihak Tian Te hwe juga mengirim orangorangnya
menyerbu ke dalam istana Kong Cin ong, Tadinya dia menyangka komplotan
itu merupakan orang-orangnya Go Pay. Dia menceritakan bagaimana dia menyelundup
ke dalam istana dan akhirnya berhasil membunuh Go Pay.
“Kemudian aku baru tahu bahwa komplotan itu juga memusuhi Go Pay dan
merupakan anggota-anggota Tian Te hwe, Ketika mengetahui aku telah berhasil
membunuh Go Pay, mereka merasa bersyukur sekali sebab orang itu sudah banyak
menyebabkan penderitaan bagi rakyat Dan boleh dikatakan aku juga telah membantu
mereka membalaskan sakit hati.”
Nyonya Cung itu menganggukkan kepalanya.
“Jadi, itulah sebabnya Kui kong kong diterima menjadi murid Tan Cong tocu dari Tian
Te hwe serta diangkat pula menjadi ketua dari bagian Ceng Bok Tong.” katanya.
— Aih –, dalam hatinya Siau Po mengeluh, –ternyata urusan apa pun telah kau
ketahui, tapi kau masih menanyakannya juga, – Meskipun demikian, dia segera berkata,
“Semua itu hanya kebetulan saja, sebenarnya aku tidak mempunyai kebisaan apa-apa.
Dan aku menjadi ketua bagian Ceng Bok Tong sebetulnya hanya menyandang sebuah
nama saja.”

Dengan berani Siau Po mengatakan hal itu, meskipun dia belum jelas di pihak
manakah si nyonya itu berada.
Nyonya Cung berdiam diri sekian lama, Akhirnya dia baru berkata kembali.
“Kui kong kong, ketika kau menyerang Go Pay tempo hari, jurus apakah yang kau
gunakan? Dapatkah kong kong menunjukkannya kepadaku?”
Siau Po memperhatikan wajah wanita itu sejenak, dia melihat mata Nyonya Cung itu
menyorotkan sinar yang tajam sekali, Diam-diam dia berpikir dalam hati.
– Nyonya ini agak aneh, Dia seakan mengerti ilmu sesat, Apabila aku mengoceh
sembarangan mungkin dia akan mengetahuinya, Mungkin ada baiknya aku berterus
terang saja. —
Dengan membawa pikiran demikian, Siau P segera berdiri
“Sebetulnya seranganku itu tidak patut dianggap sebagai jurus silat.” katanya, Dia
segera men gerakkan kedua tangannya dan menambahkan “Karena kaget dan bingung,
aku menyerangnya secara sembarangan saja. Begini….”
Nyonya muda itu menganggukkan kepalanya, ,
“Kong kong, silahkan duduk kembali” katany Kemudian dia menghampiri budaknya,
“Eh, Song Ji mengapa kau tidak mengeluarkan kembang gula Kui Hoa tong buatan
kita?” Tanpa menunggu jawaban si gadis cilik, ia segera membalikkan tubuhnya dan
masuk ke dalam.
— Dia ingin menghadiahkan kembang gula untukku, tentu dia tidak mengandung niat
jahat, –pikir Siau Po dalam hati, Dia hanya mengangguk sedikit ketika nyonya itu
meninggalkannya, Namun

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s