“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 42

menjulurkan lidahnya
dan membelalakkan matanya, wajahnya menunjukkan seakan dia pun ketakutan.
Siau Po bergidik, Dia menggenggam tangan Pui Ie erat-erat. Telapak tangannya
terasa dingin sekali, karena itu Pui Ie juga menggenggamnya erat-erat agar dia bisa
merasakan sedikit kehangatan

“Lau… suko” panggil Kiam Peng, “Kau jangan menakut-nakuti orang” Tentu saja dia
dapat menduga maksud hati pemuda itu. sedangkan dia sendiri pun merasa agak takut.
“Siau kuncu, kau tidak perlu khawatir” kata Lau It Cou. “Kau putri seorang
bangsawan, setan apa pun tidak akan berani mendekatimu. Setiap setan yang melihat
kau pasti akan lari terbirit-birit Mereka tidak akan berani mengganggumu, Kau tahu,
setan jahat paling sebal melihat thay-kam yang perempuan bukan, laki-laki pun bukan.”
Sepasang alis Pui le langsung menjungkit ke atas, Dia mendongkol sekali melihat
tingkah kakak seperguruannya yang semakin konyol Hampir saja dia membuka
mulutnya memaki Untung saja dia masih bisa mengekang diri.
Tidak lama kemudian, terdengarlah suara ramai langkah kaki yang mendatangi
Ternyata orang-orang yang masuk kedalam tadi sudah ke luar kembali.
Melihat tampang orang-orang itu, hati Siau Po menjadi agak lega, sehingga dia
menarik nafas panjang.
“Memang benar.” kata Tian Coan kepada rombongannya dengan suara perlahan
sekali “Di dalam setiap kamar ada empat puluh meja abu. Dan disetiap meja dirawat
enam atau tujuh buah leng wi (Tempat abu jenasah), Rupanya di atas setiap meja
disimpan abu jenasah sebuah keluarga….”
“Hm Hm” Lau It Cou memperdengarkan suaranya yang tawar, “Dengan demikian,
berarti di dalam rumah ini terhuni beberapa ratus setan jahat?”
Tian Coan menggeleng-gelengkan kepalanya, Seumur hidupnya, baru kali ini dia
menghadapi pengalaman yang demikian aneh, Sesaat kemudian dia baru berkata
kembali dengan nada sabar.
“Yang anehnya, di atas setiap meja terpasang lilin….”
Kiam Peng, Siau Po, dan Pui le merasa heran sehingga serentak mengeluarkan
seruan terkejut.
“Ketika kami sampai di ruangan dalam tadi, lilin itu masih belum dinyalakan.” salah
seorang dari rombongan penunggang kuda yang tadi masuk kedalam memberikan
keterangan.
“Apa kau tidak salah ingat?” tanya si orang tua.
Keempat pengikut itu saling memandang sejenak, kemudian sama-sama
menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu, kita bukan bertemu dengan setan.” kata si orang tua setelah lewat
sejenak, “Sebaliknya, kita justru bertemu dengan orang-orang yang lihay sekali Bukan
hal yang mudah apabila ingin menyalakan lilin dari empat puluh buah leng tong,

siapakah kiranya orang yang demikian hebat? Kho loyacu, bagaimana pendapatmu,
benar atau tidak apa yang kukatakan ini?”
Pertanyaan itu ditujukan kepada Ci Tian Coan yang mengaku dirinya she Kho.
Ci Tian Coan berlagak tolol.
“Kemungkinan kita telah melanggar peraturan tuan rumah tanpa setahu kita.”
sahutnya. “Tidak ada salahnya kalau kita memberi hormat dihadapan leng tong-leng
tong itu….”
“Hm” Orang tua itu mendengus dingin, Sesaat kemudian dia baru berkata dengan
suara lantang. “Tuan-tuan yang terhormat Kami sedang melakukan perjalanan Ketika
lewat di tempat tuan ini, kami terhalang oleh hujan deras, oleh karena itu kami lancang
masuk ke rumah Tuan ini untuk berlindung, Tuan yang terhormat apakah Tuan sudi
menemui kami?”
Sesaat kembali berlalu, meskipun suara si orang tua lantang sekali, bahkan
menggaung di dalam rumah, tetapi tetap saja tidak ada jawaban.
Si orang tua menggeleng-gelengkan kepalanya, Dia menunggu lagi beberapa saat,
lalu berkata lagi dengan suara yang lebih keras.
“Kalau tuan rumah tidak bersedia bertemu dengan kami yang hanya terdiri dari
orang-orang kasar ini, harap Tuan sudi memaafkan kami yang lancang berlindung di
sini. sebentar lagi, apabila hujan sudah reda, kami semua akan berangkat melanjutkan
perjalanan.”
Sembari berkata, orang tua itu menggerakkan tangannya memberi isyarat kepada
rekan-rekannya agar jangan membuka suara, Dengan demikian mereka bisa samasama
memasang telinga.
Bagian 32
Akan tetapi, sampai sekian lama tetap saja tidak ada jawaban atau pun teguran.
“Ciong losam,” kata seseorang. “Perduli apa dia manusia atau hantu, kita tunggu saja
sampai pagi, lalu kita pergi saja dari sini. sebaiknya sebelum kita berangkat, kita bakar
saja dulu tempat ini sampai ludes.”
Tampaknya orang yang satu ini agak berangasan dan tidak sabaran.
Si orang tua menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Urusan penting kita masih belum terlaksanakan, jangan kita mencari kesulitan lain.”
katanya, “Marilah kita duduk bersama”
Mereka pun duduk beristirahat Pakaian mereka basah kuyup, Mereka duduk
mengitari api unggun untuk mengeringkan pakaiannya, Salah satu orang dari
rombongan itu mengeluarkan poci araknya, Dibukanya tutup poci itu kemudian
diserahkannya kepada orang tua tadi untuk meneguknya agar perutnya hangat
Setelah menenggak beberapa teguk arak, si orang tua kembali menolehkan
kepalanya ke arah rombongan Siau Po. Sinar matanya berhenti pada diri Ci Tian Coan.
“Kho loyacu, tadi kau mengatakan bahwa kalian terdiri dari orang-orang sendiri,
tetapi mengapa aksen bicara kalian berlainan?” tanyanya.
Ci Tian Coan tertawa.
“Loyacu, telingamu sangat tajam.” pujinya. “Anda tentunya seorang tokoh dunia kang
ouw yang sudah banyak pengalaman dan luas pengetahuannya. sebenarnya
keponakanku ini telah menikah di propinsi In Lam. sedangkan adik perempuanku yang
kedua menikah di propinsi Shoa Say. Begitulah kami terpencar Satu di timur, satu di
barat. Selama belasan tahun juga sukar mendapatkan kesempatan untuk bertemu.”
Orang tua itu menganggukkan kepalanya, kembali dia meneguk arak yang ada dalam
poci. Sekali-sekali matanya masih melirik kearah rombongan Ci Tian Coan.
“Apakah Tuan-tuan ini datang dari Pe King?” tanyanya kembali.
“Betul.” sahut Tian Coan.
“Numpang tanya, selama dalam perjalanan apakah kalian melihat seorang thay-kam
muda yang usianya sekitar lima belas tahun?” tanya orang tua itu pula.
Mendengar pertanyaan itu, jantung Ci Tian Coan langsung berdegup keras. Untung
saja dia sudah berpengalaman menghadapi bahaya sebesar apa pun sehingga dia
dapat menyembunyikan perasaan hatinya dengan baik.
Orang tua itu tidak menaruh curiga apa-apa meskipun pada saat itu sedang
menatapnya. Sebaliknya, wajah Go Piu dan Kiam Peng langsung berubah hebat,
Untungnya, justru tidak ada orang yang memperhatikan mereka.
“Thay-kam?” Tanya Ci Tian Coan berlagak pilon. “Di kerajaan thay kam-thay kam
memang banyak sekali, Ada yang tua dan ada juga yang muda, aku sendiri sempat
bertemu dengan beberapa di-antaranya.”
“Yang aku tanyakan ialah yang kau temui dalam perjalanan menuju ke sini.” kata si
orang tua menjelaskan “Bukan yang ada di Kotaraja.”

“Oh, loyacu, pertanyaanmu itu benar-benar tidak tepat.” kata Ci Tian Coan yang terus
memainkan peranannya, “Menurut peraturan dari pemerintah Ceng kita yang agung,
sekali saja seorang thay kam berani melangkahkan kakinya ke luar dari Kotaraja, dia
akan segera mendapat hukuman mati. Thay-kam jaman sekarang tidak bisa
dibandingkan dengan thay kam kerajaan Beng yang lagaknya sok benar. Karena itu
pula, sekarang tidak ada seorang thay-kam pun yang berani meninggalkan Kotaraja
dengan sembarangan.”
Sengaja Ci Tian Coan memuji kerajaan Ceng yang agung dan mencela kerajaan
Beng.
“Oh” seru si orang tua yang langsung sadar bahwa dia telah salah bicara. Cepatcepat
dia menambahkan “Siapa tahu dia ke luar dengan cara menyamar?”
Tian Coan menggelengkan kepalanya dengan penuh keyakinan.
“Tidak mungkin” katanya. “Mana ada thay kam yang nyalinya begitu besar? Tapi,
eh…. Loyacu, mohon tanya, bagaimana tampang thay-kam muda yang kau maksudkan
itu? Siapa tahu sekembalinya dari Shoa say, aku bisa membantu mencari tahu tentang
dirinya….”
“Hm” orang tua itu mendengus dingin, “Terima kasih, Entah pada saat itu, umurnya
masih panjang atau sudah terputus”
Diam-diam otak Ci Tian Coan langsung berputar
“Dia mencari thay kam cilik, Mungkinkah Wi hiocu yang di maksudkannya?
Rombongan orang tua ini bukan orang-orang dari pihak Tian Te hwe atau Bhok onghu,
sudah pasti mereka mempunyai maksud buruk, sebaiknya aku meminta penjelasan dari
mereka, Tapi aku harus hati-hati agar mereka jangan sampai curiga, Lebih baik aku
memancingnya dengan akal saja…”
Dengan membawa pikiran demikian, Ci Tian Coan segera berkata.
“Loyacu, mengenai thay-kam cilik di kerajaan hanya ada satu yang terkenal sekali
Namanya tersohor sampai ke mana-mana. Mungkin kau juga pernah mendengar
tentang dirinya, Dialah si thay-kam cilik yang memotong leher Go Pay dan sudah
membangun jasa besar sekali.”
Orang tua itu membelalakkan matanya Iebar-lebar.
“Oh? Apakah yang kau maksudkan itu thay kam cilik yang bernama Siau Kuicu?”
“Kalau bukan dia, siapa lagi?” sahut Tian Coan seenaknya, “Nyali bocah itu sungguh
besar, ilmu silatnya juga lihay sekali, Pokoknya, dia bukan sembarang orang.”

“Bagaimana tampang bocah itu?” tanya si orang tua, ” Apakah kau pernah
melihatnya?”
“Ya” sahut Tian Coan, “Kui kong kong itu paling sering mondar-mandir di dalam kota
Pe King. Aku rasa hampir setiap orang yang tinggal di Kotaraja pernah meIihatnya. Kui
kong kong itu berkulit hitam, tubuhnya gemuk pendek dan usianya paling sedikit sudah
ada delapan belasan, pasti tidak ada yang percaya bahwa usianya baru lima belasan.”
Ketika itu Pui Ie masih menggenggam tangan Siau Po erat-erat, sedangkan sikut
Kiam Peng menempel di punggung bocah itu, Meskipun agak tegang, tapi hampir saja
mereka tertawa geli mendengar lukisan Ci Tian Coan tentang Siau Po.
Otak Siau Po sendiri sedang berputaran Kalau tadi dia selalu memikirkan soal setan,
sekarang dia malah memikirkan sikap orang tua she Ciong itu.
“Oh, begitu?” kata si orang tua, “Tapi menurut yang aku dengar, justru kebalikannya,
Kabarnya usia Kui kong kong baru empat belas atau lima belas tahunan, hanya saja
otaknya cerdas dan licik, Menurut aku malah ada sedikit kemiripan dengan
keponakanmu itu….”
Sembari berkata, si orang tua tertawa terbahak-bahak dan matanya menatap tajam
kearah Siau Po.
Orang tua itu menyebut Siau Po keponakan Ci Tian Coan, karena memang
demikianlah pengakuan tokoh Tian Te hwe tersebut sedangkan Gouw Lip Sin diakui
sebagai moayhu, suami adik perempuannya.
Tepat pada saat itulah, terdengar Lau It Cou ikut berbicara.
“Menurut apa yang kudengar, Kui kong kong itu orangnya jelek, hina dina, dan tidak
tahu malu, Dia juga pandai menggunakan Bong Hoan Yok. Ketika membinasakan Go
Pay, sebelumnya dia sudah membiusnya dulu, Kalau tidak, mana mungkin bangsat
bernyali kecil dan takut setan itu sanggup menghabisi nyawa orang itu”
Dia langsung menoleh kepada Siau Po dan berkata dengan wajah menunjukkan
kegembiraan “Piaute (saudara misan), coba kau katakan, bukankah apa yang
kuucapkan ini benar adanya?”
Gouw Lip Sin marah sekali, mendadak sebelah tangannya melayang untuk
menampar pipi pemuda itu.
Tapi It Cou sudah terbebas dari belenggu Siau Po. Dia dapat melihat datangnya
serangan dan berhasil mengelakkan diri, Setelah itu dia langsung berjingkrak bangun.
Lip Sin juga bangkit. Dia ingin melakukan penyerangan kembali. Secara berturutturut
dia mengerahkan tipu jurus Tiau Thian Cui (Menghadap kaisar) dan “Kim Ma Su
Hong” (Kuda emas meringkik di antara hembusan angin), Kedua jurus itu merupakan

ilmu keluarga Bhok, Dia melakukannya tanpa perpikir panjang lagi karena hatinya
panas mendengar Lau It Cou menghina tuan penolongnya.
Meskipun demikian, Lau It Cou tetap dapat menghindarkan diri tanpa melakukan
serangan balasan Dan saat itu, justru orang tua she Ciong itu langsung mencelat
bangun dari kursinya dan tertawa terbahak-bahak.
“Bagus Bagus” serunya, “Tuan-tuan sekalian, sungguh sempurna penyamaran
kalian”
Begitu orang tua itu bangun, kawan-kawannya yang lain pun langsung ikut bangkit.
Gouw Lip Sin terkejut setengah mati. Dia mengerti bahaya, Karena itu, dia segera
menghunus golok pendeknya lalu langsung di tebaskan ke arah kiri, kepala salah satu
orang dari rombongan itu segera terlepas dari batang lehernya. Setelah itu dia menusuk
ke kanan sehingga seorang lagi tertembus tenggorokannya dan mati seketika.
Menyaksikan hal itu, si orang tua segera meraba pinggangnya, mengeluarkan
sepasang poan koan pit (senjata pendek dengan ujung runcing seperti potlot), Kedua
senjata itu diadukan satu dengan lainnya sehingga menimbulkan luara dentingan yang
memekakkan telinga, Siapa saja yang mendengar suara itu pasti merasa giginya ngilu.
Setelah membentrokkan senjatanya, si orang tua tidak hanya berdiri diam, Dia
segera bergerak dan melakukan penyerangan dengan sepasang senjatanya yang
istimewa itu, Dengan pit kiri dia mengincar tenggorokan Gouw Lip Sin, sedangkan pit
kanannya mengancam dada Ci Tian Coan.
Serangan bukan serangan biasa, tampaknya seperti tusukan, tapi sebenarnya
merupakan sebuah totokan.
Sungguh hebat orang tua ini, dalam waktu yang bersamaan, dia telah mengirimkan
serangan sekaligus kepada dua orang.
Ci Tian Coan dapat menghindarkan diri dari serangan yang lebih pantas disebut
bokongan itu, sementara itu, tangan kirinya langsung meluncur ke mata salah seorang
lawannya, sedangkan tangan kanannya menyambar ke tangan orang itu untuk
merampas goloknya.
Orang yang mendapat serangan mendadak itu panik sekali, Tahu-tahu goloknya
sudah berpindah tangan dan menjerit histeris sebab di saat itu, golok itu sendiri sudah
amblas ke dalam perutnya.
Setelah berhasil merobohkan orang itu, Ci Tian Coan membinasakan seorang musuh
lagi yang menerjang ke arahnya, Dia merasa sudah kepalang tanggung, Gouw Lip Sin
tidak dapat menahan kesabaran sehingga rahasia mereka terbongkar. Terpaksa dia
pun harus memberikan perlawanan Dia tahu jumlah pihak lawan lebih besar, sedangkan
di pihaknya sendiri, ada dua orang yang terluka dan tidak dapat diandalkan.

Pada saat itu, Go Piu juga sudah turun tangan, sedangkan Lau It Cou sempat raguragu
sejenak, tapi akhirnya dia mengeluarkan juga joan piannya (Sejenis ruyung yang
sifatnya tunak) dan turun ke arena pertarungan.
Siau Po juga sempat bimbang, Dia juga ikut terjun ke arena, tapi hatinya merasa
ngeri terhadap si orang tua. Disamping itu, dia yakin dirinya sanggup melayani yang
lainnya, Siau Po segera bersiap sedia dengan pisau mustikanya, Tapi, ketika
bermaksud maju, Pui Ie menarik tangannya.
“Pihak kita pasti menang, kau tidak perlu ikut campur” katanya kepada si bocah.
Mendengar kata-katanya, Siau Po berpikir dalam hati.
“Aku juga sudah menduga pihak kita yang akan menang, justru karena itu aku mau
turun tangan agar perkelahian ini dapat diselesaikan dengan cepat Kalau gelagatnya
pihak kita yang akan kalah, tentu aku sudah memikirkan cara untuk meninggalkan
tempat ini.”
Tiba-tiba terdengar suara yang melengking, ternyata si orang tua menggesekkan
sepasang poan koan pitnya dan tampaklah rekan-rekannya segera berlarian
menghampirinya. Dalam sekejap mata semuanya sudah berkumpul dan terbentuklah
sebuah tim atau barisan. Mereka tidak berhimpitan satu dengan yang lainnya,
melainkan posisinya agak berjauhan.
Ci Tian Coan dan Gouw Lip Sin merasa heran, keduanya lantas mundur satu
langkah, Mata mereka memperhatikan pihak lawan lekat-lekat.
Go Piu penasaran Dia maju ke depan. Tiba-tiba dia diserang oleh empat orang
lawannya, Yang dua membacok ke arah bahunya sedangkan dua yang lainnya segera
menerjang ke arahnya untuk menangkis serangan goloknya.
Go Piu menjerit keras sebab salah satu golok lawannya telah berhasil mengenai
bahunya.
“Anak Piu, mundur” teriak Gouw Lip Sin.
Muridnya itu segera mencelat ke belakang, Hanya dalam waktu sekejap mata saja,
keadaan jadi terbalik sekarang pihak lawanlah yang lebih unggul.
Ci Tian Coan berdiri di depan Siau Po dan kedua gadis itu. Maksudnya untuk
melindungi mereka sembari bersiaga menghadapi serangan tawan. Matanya melirik ke
sana ke mari.
Orang tua dari pihak lawan mengangkat senjatanya tinggi-tinggi sambil berseru.

“Ang kaucu selaksa tahun tetap awet muda. Untuk selama-lamanya merasakan
kebahagiaan ibarat para dewata Umurnya sama dengan Thian” Suara itu begitu keras
sehingga seisi rumah itu seakan bergetar karena nya. sedangkan tingkahnya lebih mirip
orang kalap.
Thian Coan merasa terkejut juga bingung, Apa sebenarnya yang sedang di lakukan
oleh orang tua itu?
Sebaliknya, Siau Po justru terkejut mendengar orang tua itu menyebut nama Ang
kuacu, Mendadak dia ingat terhadap kaucu itu. Tanpa dapat dipertahankan lagi dia
berteriak.
“Sin Liong kau Mereka adalah anggota dari Sin Liong kau”
Kali ini, bukan hanya pihaknya sendiri, bahkan orang tua dan rekan-rekannya juga
terkejut mendengar seruannya itu. Wajah si orang tua langsung berubah pucat pasi.
“Eh, kau juga tahu tentang Sin Liong kau?” tanyanya heran, Tapi dia tidak menunggu
jawaban dari Siau Po. Dia segera berseru lagi, malah lebih keras dari sebelumnya,
“Kepandaian Ang kaucu sungguh luar biasa Setiap kali bertarung setiap kali pula kita
meraih kemenangan. Tak ada benteng sekokoh apa pun yang tidak dapat kami
hancurkan Tidak ada musuh yang tidak dapat dikalahkan Bagai angin topan yang
melanda, musuh-musuh lari ketakutan dan kabur sejauh-jauhnya”
Kembali Tian Coan dan yang lainnya dilanda kebingungan bahkan hati mereka
menjadi ngeri. Mereka merasa musuh-musuh yang dihadapi kali ini aneh sekali, Belum
pernah ada musuh seperti ini. Berhadapan dengan lawan sambil berteriak seperti
sedang membaca mantera.
“Mereka mengerti ilmu sesat.” kata Siau Po memperingatkan “Awas jangan sampai
terpengaruh Cepat kita maju serentak”
Suara orang tua yang sedang membaca mantera aneh itu semakin lama semakin
keras. Bahkan sekarang di ikuti oleh kawan-kawannya.
“Di bawah bimbingan Ang kaucu, para murid mempunyai kegagahan seratus kali lipat
Satu orang dapat menghadapi seratus lawan, Seratus orang dapat menghadapi selaksa
lawan, Mata Ang kaucu laksana mata dewa, seperti cahaya mentari yang menerangi
empat penjuru angin, Seluruh murid berdaya membasmi musuh, Ang kaucu sendiri
yang akan menaikkan pangkat atau kedudukannya, seluruh murid rela mati membela
agamanya, semuanya akan naik ke langit menuju surga”
Kali ini, setelah berteriak, merekapun melakukan penyerangan serentak.
Tian Coan dan yang lainnya segera maju menyambut. Tapi mereka merasa bukan
main herannya. Berbeda dengan semula, pihak musuh tiba-tiba berubah jauh lebih
gagah dan perkasa, Setiap serangan dan bacokan mereka hebat sekali, Seakan dalam

waktu singkat, kepandaian mereka telah mengalami kemajuan dua kali lipat Mereka
bertempur dengan kalap.
Baru beberapa jurus saja, Go Piu dan Lau It Cou sudah berhasil dirobohkan,
Menyusul Siau Po, Kiam peng, dan Pui Ie terhajar jatuh, Kiam Peng terluka di bagian
lengan, sedangkan Pui Ie terhajar di bagian kakinya dan Siau Po terpukul di bagian
punggung.
Untung saja dia mengenakan baju mustikanya sehingga tidak terluka parah, Hanya
merasakan sedikit nyeri saja, Tubuhnya bergulingan diatas tanah, Sejenak kemudian,
Gouw Lip Sin dan Ci Tian Coan juga dapat dirobohkan dengan mudah. Kedua orang itu
ditotok oleh musuhnya yang sudah tua.
Setelah itu, si orang tua kembali berkaok-kaok dengan nyaring.
“Kepandaian Ang kaucu sungguh luar biasa, Usianya sama dengan usia langit”
Namun, berbeda dengan tadi, setelah berteriak-teriak kali ini, orang-orang itu langsung
jatuh terduduk dengan keringat bercucuran di dahi, Nafas mereka tersengal-sengal
sebagai bukti bahwa mereka baru saja menguras tenaga habis-habisan.
Padahal, pertempuran tadi hanya memakan waktu yang singkat sekali, tapi keadaan
mereka seperti baru saja bertarung selama berjam-jam….
Untung Siau Po dan yang lainnya tidak terluka parah, Diam-diam si bocah berpikir
dalam hatinya.
“Rupanya mereka menggunakan ilmu gaib, Mereka pandai ilmu siluman, pantas saja
bibi To ketakutan mendengar disebutnya nama Sin Liong kau. Kenyataannya, mereka
memang luar biasa lihay”
Si orang tua duduk bersila untuk beristirahat, matanya di pejamkan Tetapi tidak lama
kemudian, dia bangkit kembali. Mula-muIa dia menyusutkan keringatnya, kemudian
berjalan mondar-mandir dalam ruangan pendopo.
Beberapa saat kemudian, teman-temannya yang lain ikut berdiri pula, Terdengar si
orang tua berkata kepada Ci Tian Coan.
“Kalian semua ikut aku membaca doa. Pertama-tama kalian harus dengarkan dulu
baik-baik. Aku membaca sepatah, kalian mengikuti Nah Kita mulai sekarang Ang
kaucu kepandaiannya sungguh luar biasa dan usianya seperti usia langit.”
Tapi Ci Tian Coan bukannya membaca doa seperti yang di perintahkan dia malah
membuka mulut memakinya.
“Kalian semua bangsa siluman Kalian ingin berlagak menjadi dewa atau kaum
dedemit, itu terserah kalian. Tapi kalau meminta lohu menuruti lagakmu yang konyol itu,
sama saja kalian sedang bermimpi di tengah hari bolong.”

Orang tua itu menjadi gusar, Dengan Poan koan pitnya, dia mengetok dahi Tian
Coan sampai mengucurkan darah, Tapi Ci Tian Coan tetap memaki.
“Bangsat anjing Turunan siluman”
Orang tua itu tidak memperdulikannya. Kali ini dia menoleh kepada Gouw Lip Sin.
“Bagaimana engkau? Kau mau membaca doa yang ku ajarkan atau tidak?” tanya
nya.
Orang tua ini memang benar-benar aneh, belum lagi Gouw Lip Sin memberikan
jawabannya, dahinya juga sudah kena ketokannya, Setelah itu dia langsung menoleh
kepada Go Piu.
“Usia nenekmu sama dengan umur anjing” Teriak Go Piu sebelum si orang tua
bertanya ke-padanya,
Pemuda itu sama sekali tidak takut meskipun dia sudah melihat contoh yang
ditunjukkan si orang tua di hadapannya, Orang tua itu marah sekali, langsung
menghajar Go Pui dengan senjatanya yang khas. Bahkan kali ini dia mengerahkan
tenaga se-kuatnya sehingga pemuda itu roboh seketika dan tidak sadarkan diri.
“Begitukah cara dan tingkah laku seorang laki-laki sejati?” teriak Gouw Lip Sin gusar,
“Oh, ibumu bau Lebih baik bunuh saja aku”
Orang tua itu tetap tidak menghiraukannya, Dia juga tidak memukul Gouw Lip Sin
lagi, senjatanya di angkat ke atas tinggi-tinggi dan di tudingkannya kepada Lau It Cou.
“Bagaimana engkau? Kau mau membaca doa atau tidak?”
“Aku.,, aku.,.” pemuda itu kebingungan
“Ayo baca” bentak orang tua itu. “Kepandaian Ang kaucu sungguh luar biasa,
usianya sama dengan usia langit.”
“Ang kaucu…. Ang kaucu…” kata Lau It Cou dengan suara terputus-putus.
Orang tua itu langsung menggerakkan senjatanya mengetok dahi Lau It Cou.
“Baca terus” perintahnya bengis, “Cepat”
“Iya,., iya.,.” sahut Lau It Cou gugup, “Ang kaucu.,, usianya seperti usia langit.”
Orang tua itu tertawa terbahak-bahak.

“Beginilah orang yang mengenal selatan.” pujinya. “Begini baru patut disebut sebagai
orang gagah. Bocah cilik, dengan demikian kau tidak usah merasakan banyak
penderitaan”
Sekarang si orang tua mendekati Siau Po.
“Hai, setan cilik Kau mau membaca doa atau tidak?”
“Tidak usah” sahut Siau Po.
“Tidak usah?” tanya si orang tua heran, “Kenapa?”
“Sebab Wi kaucu lihay luar biasa, usianya seperti usia langit, Untuk selama-lamanya
dia akan mendapat kebahagiaan abadi dan rejekinya menyerupai sang dewa, Setiap
kali berperang, Wi kaucu tidak pernah kalah, Kekalahan tidak pernah terjadi karena
tidak ada perang. Menyerang dia tidak pernah kalah, mengalahkan dia tidak perlu
menyerang, Wi kaucu mengangkat kalian semuanya naik ke surga bersama-sama.”
Sengaja Siau Po mengganti kata-kata Ang kaucu dengan “Wi kaucu”, Selesai berdoa
dia selalu berdehem dan pembacaan doanya dilakukan dengan cepat sekali sehingga
orang tidak mendengar perbedaan ucapannya.
“Anak ini cerdas sekali.” puji orang tua itu senang, “Anak pintar.”
Kemudian orang tua itu menghampiri Pui Ie. Dia meraba-raba dagu gadis itu, “Oh,
anak manis, wajahmu tidak ada celanya.” katanya, “Kau ikutlah aku membaca doa”
“Aku tidak mau” kata Pui Ie sambil membuang muka.
Orang tua itu mengangkat senjatanya tinggi-tinggi dan siap di ketokkan, tapi tiba-tiba
dia membatalkannya karena tertarik pada kecantikan Pui Ie. Dia mengarahkan poan
koan pitnya pada pipi si gadis yang halus.
“Kau mau membaca doa atau tidak?” tanya si orang tua sekali lagi.
“Biar aku saja yang mewakilinya,” Tukas Siau Po, “Aku jamin doaku lebih enak
didengar daripada doanya.”
“Siapa sudi kau yang mewakilkan?” bentak si orang tua. Dia mengetok bahu Pui Ie
sehingga gadis cantik itu menjerit kesakitan
Justru pada saat itulah salah seorang rekan orang tua itu mengeluarkan suara
tertawa yang menyakitkan telinga dan berkata,
“Ciang samya, kalau gadis itu tidak mau berdoa, kita buka saja pakaian nya”
“Bagus Bagus” seru yang lainnya. “lde itu bagus sekali.”

“Eh, mengapa kalian menghina seorang anak perempuan? Bukankah kalian ingin
mencari si thay kam cilik? Aku tahu di mana dia berada.” kata Lau It Cou.
“Kau tahu?” tanya si orang tua cepat “Di mana dia? Lekas katakan”
“Asal kau berjanji untuk tidak mengganggu gadis itu, aku akan mengatakannya
kepadamu.” sahut Lau It Cou. Tapi kalau tidak, meskipun kau bunuh aku, aku tidak
akan membuka mulut.”
“Suko” teriak Pui Ie dengan setengah menjerit “Jangan kau perdulikan aku”
Orang tua itu tertawa.
“Baik” sahutnya. “Aku berjanji tidak akan mengganggu gadis itu.”
“Apakah kata-katamu itu dapat di percaya ?” tanya Lau It Cou.
“Apa yang pernah tercetus dari mulutku, Ciong samya, pasti benar.” jawab si orang
tua. “Thay-kam yang ku maksudkan ialah thay-kam yang telah membinasakan Go Pay.
Namanya Siau Kui Cu. Kau benar-benar tahu di mana dia berada?”
It Cou menganggukkan kepalanya.
“Benar” sahutnya. “Dia itu jauh di ujung langit, dekat di depan mata.”
Si orang tua senang bukan main sehingga hampir saja dia berjingkrakan, Kemudian
telunjuknya menunjuk kepada Siau Po.
“Diakah yang kau maksudkan?”
Pui Ie segera ikut bicara,
“Bocah cilik seperti dia ini mana mungkin sanggup mengalahkan Go Pay?” katanya,
“Jangan kau dengarkan ocehannya”
“Memang dialah orangnya” seru It Cou dengan nada ingin meyakinkan Dengan
berani dia menentang perkataan Pui Ie yang pernah menjadi pacarnya. “Dia pandai
menggunakan Bong Hoan Yok. Tanpa obat bius itu, tentu dia tidak sanggup membunuh
Go Pay si orang gagah nomor satu dari bangsa Boan Ciu.”
Orang tua itu tampak bimbang sejenak, Kalau dia harus percaya, memang
kelihatannya Siau Po masih kecil sekali Tapi nada bicara Lau It Cou begitu serius.
“Benarkah kau yang membunuh Go Pay?” tanya si orang tua kepada Siau Po.
“Benar,” sahut bocah cilik itu, “Lalu, kau mau apa? Dan kalau bukan aku yang
membunuhnya, apa pula yang akan kau lakukan?”

“Nenek moyangmu bejat” maki si orang tua. “Tampaknya kau ada sedikit keturunan
sesat, Ayo geledah tubuhnya”
Dua orang anak buahnya segera menghampiri Siau Po. Mereka merebut buntalan
Siau Po dan menuangkan isinya di atas meja,
Si orang tua merasa heran dan kagum sekali, Di dalam buntalan Siau Po ternyata
terdapat banyak mutiara, intan permata, uang perak, dan uang emas.
“Aih ini pasti barang-barang dari istana.” katanya. “Dan ini….” Dia melihat setumpuk
Goan pio atau cek yang nilai setiap lembarannya paling rendah lima ratus tail.
jumlahnya mungkin mencapai laksaan tail, “Tidak salah lagi. Dia pasti Siau Kui cu”
Kemudian dia juga melihat dua jilid kitab ilmu silat, Orang tua ini langsung
mengucapkan seruan.
“Sedikit pun tidak salah. Lihatlah…. ini kitab warisan Hay kong kong, kitab ilmu
tenaga dalam dari Kong Tong pai. Nah, bawa dia ke kamar sana, aku ingin memeriksa
lebih lanjut”
Seseorang langsung memondong tubuh Siau Po, di bawa nya ke dalam, Dua orang
lainnya membungkus kembali buntalan yang ada di atas meja, sedangkan orang yang
keempat menyalakan lilin untuk dipakai menerangi jalan.
Mereka menuju kamar sebelah timur
“Kamu semua boleh mundur duIu.” kata si orang tua setelah masuk ke dalam kamar.
Keempat orang itu langsung mengundurkan diri dan pintu kamar pun dirapatkan,
Tampaknya si orang tua gembira sekali, Dia berjalan mondar-mandir dalam kamar itu
sambil memainkan tangannya. wajahnya berseri-seri, dia menggumam seorang diri.
“Dicari sampai sepatu besi rusak, tidak bisa ditemukan Sekalinya sudah jodoh, begitu
mudah bertemunya, Tidak perlu mengeluarkan tenaga, tanpa perlu membuang waktu,
Kui kong kong, hari ini aku dapat bertemu denganmu di sini, benar-benar seperti sudah
mati dan hidup kembali.”
Siau Po tertawa.
“Aku juga beruntung sekali dapat bertemu denganmu di sini.” katanya dengan berani
“Aku seperti hidup kembali untuk keenam kalinya, iya,., malah seperti hidup kembali
untuk kesembilan kalinya, “
Dalam hatinya Siau Po berpikir, barangnya toh sudah dilihat, percuma bila dia
menyangkal terus, Sekarang, yang paling penting baginya hanya mencari akal untuk
melarikan diri, Dia harus melihat-lihat situasi dalam mengambil tindakan, Atau seperti

pepatah orang yang sedang berperang, prajurit datang, panglima menghadang, Banjir
datang, ambil tanah untuk menguruknya.
Si orang tua menjadi bingung mendengar jawaban Siau Po, Apa sih artinya hidup
kembali untuk keenam atau kesembilan kalinya? Tanyanya dalam hati, Tapi otaknya
bekerja dengan cepat Dia langsung bertanya kepada Siau Po.
“Kui kong kong, bukankah kau sedang menuju kuil Ceng Liang si di gunung Ngo Tay
san?”
Siau Po sengaja memperlihatkan tampang kagum dan heran.
“Apa saja kau tahu, benar-benar orang yang sulit dihadapi,” pikirnya dalam hati, Tapi
dia segera tertawa geli dan berkata, “Tuan, kau benar-benar hebat ilmunya tinggi sekali,
kau juga pandai menjampi sehingga melebihi kehebatan seorang imam yang berasal
dari gunung Mau san. pantas saja nama perkumpulan agama kalian, yakni Sin Liong
kau terkenal sampai ke seantero dunia, Sudah lama aku yang rendah mendengar
tentang ilmu perkumpulan kalian yang sakti, Hari ini aku menyaksikannya dengan mata
kepala sendiri Aku benar-benar kagum sekali.” Demikianlah Siau Po yang cerdik
mengalihkan bahan pembicaraan.
Tanpa disadari, orang tua itu terbawa arus.
“Dari mana kau tahu tentang Sin Liong kau?” tanya si orang tua.
“Aku mendengarnya dari putera Gouw Sam Kui, yakni Gouw Eng Him.” sahut Siau
Po seenaknya, “Gouw Eng Him datang ke Kota raja karena menerima perintah ayahnya
untuk mengantarkan upeti. Dia mempunyai seorang bawahan yang bernama Yo Ek Ci,
orangnya gagah sekali, Mereka telah merundingkan urusan membasmi Sin Liong kau.
Mereka tahu di dalam Sin Liong kau ada seorang Ang kaucu yang kepandaiannya tinggi
sekali, Kaucu itu juga mempunyai pengikut yang banyak sekali, Tapi mereka tidak takut
Mereka telah mendapatkan sebuah kitab yang berjudul Si Cap Ji Cin Keng yang
menurut mereka hebat sekali, Kitab itu didapatkan dari seorang kepala pemimpin
bendera sulam biru.”
Mendengar keterangannya, si orang tua semakin heran, Dia pernah mendengar
kedua nama Gouw Eng Him dan Yo Ek Ci. Dan memang benar, ada seorang anggota
Sin Liong kau yang menjadi pemimpin bendera sulam biru, Hal itu dia ketahui secara
kebetulan kurang lebih satu bulan yang laIu. Ketika itu dia mendengar disebut-sebutnya
nama kitab Si Cap Ji Cin Keng itu, tetapi mengenai isinya, dia tidak tahu sedikit pun.
Karena itu, hatinya menjadi tertarik mendengar keterangan Siau Po.
“Antara Peng Si Ong dengan pihak Kami tidak ada permusuhan apa-apa, mengapa
dia ingin menimbulkan masalah? Mengapa dia ingin menumpas kami? Bukankah itu
berarti dia sudah bosan hidup?”

“Menurut Gouw Eng Him,” kata Siau Po. “Memang benar di antara Peng Si Ong dan
Sin Liong kau tidak ada permusuhan apa-apa. Bahkan mereka sangat mengagumi
kepandaian Ang kaucu, persoalannya terletak pada Sin Liong kau yang sudah berhasil
mendapatkan kitab Si Cap Ji Cin Keng, Menurutnya, kitab itu sangat aneh dan
berharga, biar bagaimana kitab itu harus dirampas, Bukankah di dalam perkumpulan
kalian ada seorang wanita yang tubuhnya gemuk dan namanya Liu Yan? Bukankah dia
sekarang berada di dalam istana?”
Orang tua itu semakin heran.
“Eh, bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?”
Siau Po sebetulnya sedang mengaco belo, tapi apa yang dikatakannya memang
beralasan.
“Aku kenal dengan Liu toaci itu,” katanya mengarang terus, “Kami merupakan
sahabat baik. Pada suatu hati, Liu toaci melakukan kesalahan terhadap ibu suri, karena
itu Hong thay hou ingin membunuhnya, Untung saja aku berhasil mengetahui hal
tersebut. Aku segera menolongnya, aku menyembunyikan Liu toaci di bawah kolong
tempat tidur, Dengan demikian, sia-sia belaka ibu suri mencarinya di seluruh istana,
Karena kejadian itu, Liu taoci merasa bersyukur sekali Dia juga menasehati aku untuk
masuk saja menjadi anggota Sin Liong kau. Menurutnya, kaucu Sin Liong kau sangat
suka terhadap anak kecil dan pasti akan menyukai aku, Kalau hal itu sampai terjadi,
maka aku akan memperoleh banyak keuntungan.”
“Oh” seru si orang tua yang dengan sendirinya semakin percaya terhadap apa yang
diocehkan oleh Siau Po.
“Coba kau katakan, mengapa ibu suri ingin membunuh Liu Yan?”
“Menurut keterangan yang aku dengar dari Li taoci, urusannya menyangkut sebuah
rahasia besar.” sahut Siau Po. “Dia mau mengatakannya kepadaku, apabila aku berjanji
tidak akan mengatakannya atau memberitahukan kepada siapa pun juga. itulah
sebabnya sekarang aku tidak bisa mengatakannya kepadamu Tapi secara singkat aku
dapat memberitahukan bahwa urusannya berhubungan dengan kedatangan seorang
laki-Iaki yang menyamar sebagai dayang dalam istana dan orang itu ternyata berkepala
gundul.”
“Eh? itulah Teng Peng Lam” seru si orang tua tanpa sadar “Jadi kau juga tahu
urusan Teng toako yang menyelinap ke dalam istana?”
Sungguh kebetulan bagi Siau Po. jadi si dayang palsu itu rupanya kakak seperguruan
si orang tua ini, Tapi Siau Po tidak menunjukkan perubahan apa-apa. Dia hanya
tersenyum dan berkata kembali.
“Ciong samya, hal ini menyangkut rahasia yang besar sekali jangan sampai kau
bocorkan kepada orang lain. Kalau tidak, kau akan menghadapi ancaman bahaya yang

besar sekali Tidak apa-apalah kalau kita bicara berdua, tapi kalau sampai ada orang
lain mendengarnya, bisa gawat. Meskipun kepada orang yang paling kau percaya, kau
tetap harus berhati-hati Kalau rahasia ini sampai bocor dan diketahui oleh Ang kaucu,
aku yakin kau sendiri tidak sanggup bertanggung jawab.”
Setelah berdiam di dalam istana sekian lama, Siau Po sudah paham apa yang
disebut rahasia, yakni sesuatu yang sekali-sekali tidak boleh dibocorkan taruhannya
berat Bahkan batang leher juga bisa dipenggal, atau setidak-tidaknya pangkat bisa
copot sekarang dia menggunakannya untuk menggertak si orang tua, ternyata dia
berhasil.
Tapi si orang tua she Ciong ini sendiri mempunyai pikiran yang lain.
“Mengapa aku begitu bodoh bicara secara terbuka dengan bocah ini?”, pikirnya
dalam hati,. Ternyata banyak urusan mengenai perkumpulan kami yang diketahuinya,
Ah Biar bagaimana, dia sebaiknya disingkirkan saja.
Meskipun sudah mempunyai pemikiran demikian, dia tidak segera turun tangan. Dia
masih ingin mengorek keterangan dari Siau Po.
“Apa yang kau bicarakan dengan Teng toako?” tanyanya sambil pura-pura tertawa.
“Mengenai pembicaraanku dengan Teng toako-mu itu,” sahut Siau Po. “Antara
lainnya adalah pesannya kepadaku, bila kelak aku mendapat kesempatan bertemu
dengan Ang kaucu, maka aku harus menceritakan semuanya sampai jelas.”
“Oh, begitu?” kata si orang tua, Dalam hatinya dia kebingungan apakah dia harus
mempertemukan bocah ini dengan kaucunya? Lalu dia ingat dengan tugasnya sendiri
Kaucu memerintahkan dia untuk mencari seseorang, Karena itu dia berpikir lagi, —
Untuk menemukan orang itu, mungkin aku bisa berhasil lewat perantara bocah ini. —
Dia segera memasang wajah ramah dan suara yang manis untuk berkata kepada
Siau Po. “Saudara kecil, kau hendak pergi ke Ngo Tay san, di sana kau pasti bertemu
dengan Sui Tong yang pangkatnya Hu congkoan, bukan?”
Mendengar pertanyaan itu, Siau Po berpikir dengan cepat
— Dia tahu aku hendak pergi ke Ngo Tay san dan dia juga tahu perihal Sui Tong,
semua ini pasti diketahuinya dari si nenek sihir, Thay hou menyuruh si laki-laki
berkepala gundul itu menyamar sebagai dayang dan ternyata laki-laki itu seorang
anggota Sin Liong kau dan bahkan kakak seperguruan orang tua ini pula, Dengan
demikian, sudah terang Thay hou juga anggota Sin Liong kau sekarang aku terjatuh ke
tangan orang-orang dari perkumpulan ini, kemungkinanku untuk dapat hidup jauh lebih
tipis dari pada kesempatan untuk mati, aku harus pandai-pandai membawa diri Dia
sengaja menunjukkan mimik wajah orang yang terkejut sekali.

“Oh, Ciong samya, sumber beritamu hebat sekali” katanya memuji. “Rupanya kau
juga tahu tentang Sui Hu cong koan?”
Si orang tua tersenyum Rupanya hatinya senang sekali mendapat pujian dari Siau
Po.
“Malah aku juga tahu perihal orang yang kedudukannya lebih tinggi berlaksa kali lipat
dibandingkan dengan Sui Tong.”
— Aih Celaka, celaka –, Siau Po mengeluh dalam hati, rupanya persoalan apa pun
sudah dibeberkan oleh si nenek sihir, Kecuali kaisar Sun Ti, siapa lagi yang
kedudukannya demikian tinggi?

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s