“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 40

dengan hati mendongkol.
Sebaliknya Siau Po masih kabur terus dengan keretanya, Dia melongokkan
kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak, tangannya melambai-lambai kepada Lau Itcou.

“Lau toako Kau belum pandai menunggangi kuda, Biar aku nasihati, sebaiknya kau
tangkap seekor kura-kura kemudian kau tunggangi untuk mengejar aku”
Meskipun hatinya panas sekali, Lau It-cou tidak memperdulikan Siau Po. Dia
menggunakan segenap tenaganya untuk mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya
guna mengejar kereta Siau Po.
Si bocah khawatir juga, Kembali dia menghentakkan tali laso kudanya, Beberapa kali
di menoleh ke belakang dan mendapatkan lawannya masih mengejar terus, Tampaknya
lari It Cou cepat sekali. jarak di antara keduanya tinggal dua tiga puluh tombak, dia
malah mempercepat langkah kakinya.
“Celaka kalau sampai tersusul olehnya” pikir Siau Po. “Rasanya sulit bagiku untuk
meloloskan diri”
Kembali Siau Po mengasah otaknya. Kemudian dia mengeluarkan pisaunya sekali
lagi untuk menusuk pantat kuda itu. Maksudnya agar larinya lebih cepat lagi, Ternyata
dugaan keliru, Kuda itu panik sekali karena kesakitan Binatang itu memutar tubuhnya
dan malah lari ke arah Lau It-cou
“Celaka Celaka” teriak Siau Po dalam hati, Dia segera menarik tali laso kereta itu
kuat-kuat, maksudnya agar kereta itu tertahan dan berputar ke arah semula, Tapi
tenaganya kalah kuat, kereta masih meluncur terus.
“Benar-benar celaka” lagi-lagi Siau Po berteriak dalam hati,
Melihat gelagat yang kurang baik itu, Siau Po jadi nekad, Dia melepaskan tali laso
kuda itu kemudian melompat turun dari keretanya, Setelah itu dia lari ke tepi jalan untuk
menyelusup ke dalam hutan, Dia bermaksud menyembunyikan diri di balik pepohonan
yang rimbun.
Karena kereta itu kaburnya ke arah Lau It-cou, jarak antara kuda dan kereta semakin
dekat. Begitu Siau Po melompat turun, Lau It-cou pun menyusulnya
Sekarang jarak mereka semakin dekat, hanya tinggal beberapa tindak saja, Dengan
sekali lompatan saja, tangan Lau It-cou sudah menjulur ke depan untuk mencengkeram
bagian belakang leher baju Siau Po.
Si bocah cilik tercekat hatinya, Dia merasa takut, tapi berpikir untuk membela diri, Dia
harus melakukan perlawanan. Dengan pisau belatinya ia menikam ke belakang.
Lau It-cou adalah murid pertama dari Tiat-pwe Cong Liong Liu Tay-hong yang
merupakan jago nomor satu di antara keempat ke-ciang atau pelindung keluarga Bhok.
Dapat dibayangkan kehebatan ilmu silatnya dan tentu jauh diatas Siau Po. Dengan satu
gerakan tangan kanan yang menggunakan jurus “Heng-in Liu-sui (Awan berarak,
sungai “mengalir) secara mudah dia berhasil mencekal lengan Siau Po yang kemudian

langsung ditelikungnya. Dengan demikian, otomatis pisau yang tadinya mengincar Lau
It-cou sekarang malah mengancam dirinya sendiri.
“Bangsat kecil Kau masih berani melawan?” bentak pemuda itu.
Siau Po terkejut juga takut, Lengannya terasi nyeri dan lehernya juga terancam pisau
belatinyi sendiri Dia maklum sekali ketajaman pisau itu Apabila Lau It-cou menekan
tangannya sedikit lagi tenggorokannya pasti bolong oleh pisau belatinyi sendiri Tapi
dasar anak bengal dan otaknya cemerlang, bukannya memohon pengampunan dia
malah tertawa.
“Lau toako” katanya, “Mari kita bicara baik-baik Kita kan orang sendiri Mengapa kau
memperlakukan aku seperti ini?”
“Fuh” Lau It-cou membuang ludah ke atas tanah, “Masih berani kau mengatakan
orang sendiri? Ketika di dalam istana, berani sekali kau mengelabui Pui sumoay,
Mengapa kau berani tidur di atas tempat tidur dengannya? Tidak bisa tidak, kau harus
kubunuh”
Ketika berbicara, urat-urat hijau di pelipisnya bertonjolan, Matanya menyorotkan sinar
kemarahan Tampangnya sungguh menyeramkan
Sekarang Siau Po baru mengerti apa sebab kemarahan Lau It-cou. Dia hanya
merasa heran bagaimana Lau It-cou bisa tahu apa yang terjadi antara dirinya dengan
Pui Ie. Dia juga sadar dirinya tengah menghadapi ancaman maut. Tangannya tercekal
erat, sedangkan pisau belati mengancam lehernya, Dia tidak berkutik sama sekali, tapi
masih saja Siau Po tertawa.
“Lau toako, nona Pui adalah jantung hatimu,” katanya, “Bagaimana aku berani
bersikap kurang ajar terhadapnya? Di dalam hati nona Pui hanya ada kau seorang, Kau
tahu? Siang malam hanya engkau yang dipikirkannya”
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya It-Cou. Dia jadi suka bicara dan hawa amarahnya
agak mereda.
“Karena dia memohon padaku agar membebaskan kau dari penjara,” sahut Siau Po.
“Seperti kau ketahui, kau toh benar-benar bebas sekarang, Aku tidak bisa melukiskan,
betapa senangnya nona Pui ketika mengetahui kau sudah selamat”
Mendadak hati It Cou jadi panas kembali Dia menggertakkan giginya erat-erat.
“Kau si telur anjing Lohu tidak sudi menerima budimu” teriaknya garang, “Kau
tolong aku, syukur. Tidak kau tolong juga tidak apa-apa. Tapi, mengapa kau harus
menipu adik seperguruanku agar sudi menikah denganmu, menjadi istrimu?”

“Ah, toako” seru Siau Po yang cerdik, “Mana ada kejadian seperti itu? Siapa yang
mengatakannya ? Nona cantik dan manis laksana bunga seperti nona Pui Ie hanya
pantas bersanding dengan Lau toako yang gagah dan tampan”
Kembali hawa amarah dalam dada Lau It-cou reda tiga bagian. Hatinya senang
mendengar pujian bagi dirinya serta kekasihnya.
“Masih kau menyangkal tanyanya pula, “Benar atau tidak kalau adik Pui-ku itu sudah
menyatakan kesediaannya untuk menikah denganmu?”
Siau Po bukannya menjawab, malah tertawa terbahak-bahak.
“Apa yang kau tertawakan?” bentak It Cou i heran, matanya menatap si bocah
dengan tajam.
“Eh, Lau toako, ke sini dulu, Aku ingin bertanya kepadamu,” sabut Siau Po. “Apakah
seorang thay-kam atau orang yang sudah dikebiri bisa menikah?”
Lau It-cou langsung berdiri terpaku mendengar pertanyaan bocah itu. Dia menatap
Siau Po Iekat-lekat, pikirannya kacau, Dia mengasah otaknya dan akhirnya dia tertawa
terbahak-bahak, Memang benar, mana mungkin seorang thay-kam bisa menikah?
Meskipun tertawa, It Cou tidak segera melepaskan cekalannya pada tangan Siau Po.
“Sekarang giliran aku yang bertanya,” katanya. “Mengapa kau membohongi adik Pui
sehingga dia menyatakan kesediaannya menikah denganmu? Mengapa kau
mengatakan padanya bahwa kau ingin menikahinya?”
Kembali Siau Po tertawa.
“Lau toako, bolehkah aku bertanya kepadamu?” kata Siau Po. “Dari mana kau
mendengar hal ini?”
“Aku mendengar sendiri ketika adik Pui berbicara dengan Siau kun cun” sahut It
Cou. “Kau pikir aku berbohong?”
“Toako, mereka sedang berbicara berdua atau kakak Pui sendiri yang
mengatakannya kepadamu?” tanya Siau Po ingin mendapat kepastian.
It Cou diam. Hatinya ragu-ragu.
“Mereka berdua sedang berbicara,” sahutnya selang sejenak.
Sebetulnya duduk persoalannya begini: Ketika Ci Tian-coan mengantarkan nona Pui
dan nona Bhok menuju dusun Cioki cung, di tengah perjalanan mereka bertemu dengan
Gouw Lip-sin dan Go Piu. Ketika ditahan dalam istana, Gouw Lip-sin mengalami
berbagai siksaan. Tubuhnya terluka di sana-sini. Untung saja ototnya tidak ada yang

putus, Karena itu dia naik kereta dan bermaksud mencari tabib di dusun Cioki cung,
Tentu saja pertemuan itu menggembirakan kedua belah pihak, Cuma, tampak
perbedaan pada diri It Cou serta Pui Ie. Sikap mereka tawar sekali, Tidak akrab dan
ramah sebagaimana biasanya.
It Cou justru merasa heran. Dia merasa penasaran dan kurang puas, Dia ingin
mengetahui apa yang menyebabkan perubahan si nona. Beberapa kali dia mengajak
Pui le memisahkan diri dengan yang lainnya agar mereka bisa bicara berdua, tapi Pui le
selalu mencari alasan dan selalu berada di samping Kiam Peng seakan tidak sudi
berpisah sedetik pun dengan Siau kuncu itu.
Lama-lama It Cou semakin bingung. Dia tidak tahu apa sebabnya dan tidak dapat
menerkanya, Saking penasaran, satu kali dia mencoba mendesak Tidak disangkasangka
Pui le justru berkata terus terang bahwa hubungan mereka selanjutnya hanya
antara kakak dan adik seperguruan saja, lain tidak. Pui le juga meminta dia jangan
mengungkit yang telah lalu dan menyuruh It Cou melupakannya
Pada saat itu hati It Cou tercekat Dia juga merasa bingung.
“Sumoay, ada apa sebenarnya?” tanyanya penasaran.
“Tidak apa-apa,” sahut Pui le dingin dan singkat.
It Cou menarik tangan gadis itu dan menggenggamnya, “Su… moay…” katanya,
“Kau…?”
Pui le mengibaskan tangan sukonya itu,
“Berlakulah sopan sedikit, Lau suko” katanya ketus.
It Cou tertegun Dia merasa kecewa dan malu.
Malam itu, di dalam kamarnya Lau It-cou sulit pulas, Dia bergolek kesana kemari.
pikirannya ruwet. Ada apa dengan kekasihnya? Akhirnya dia turun dari tempat tidur dan
berjalan keluar, Kemudian dia menuju kamar Pui le dan Kiam Peng, Di dekat jendela,
dia memasang telinga.
Kebetulan sekali, kedua nona itu sedang berbincang-bincang.
“Cici, kau perlakukan dia demikian tawar, apakah kau tidak khawatir hatinya menjadi
sedih?” terdengar suara Kiam Peng bertanya.
“Habis, apa lagi yang dapat kulakukan?” sahut Pui Ie. “Biarlah sekarang hatinya
sedih. Lama-lama dia akan biasa kembali. Waktu akan menyembuhkan segala macam
duka…”

“Apakah… cici… sudah yakin akan menikah dengan si bocah Wi Siau-po?” tanya
Kiam Peng kembali, “Dia masih begitu muda, mana mungkin cici menjadi istrinya?”
Ditanya seperti itu, Pui le menatap Kiam Peng lekat-lekat
“Kau sendiri ingin menikah dengan kunyuk kecil itu sehingga kau menganjurkan aku
kembali kepada Lau suko, benar bukan?”
“Bukan Bukan” sangkal Kiam Peng cepat “Kau saja yang menikah dengan kunyuk
kecil itu”
Pui Ie menarik nafas panjang. “Aku sudah berjanji, bahkan bersumpah” katanya.
“Mana mungkin aku melupakannya? Pada saat itu, aku bilang begini: Raja Langit di
atas dan Ratu Bumi di bawah, kalau Kui kongkong berhasil menoIong Lau suko
sehingga dapat meloloskan diri dengan selamat, aku Pui Ie bersedia menikah
dengannya dan menjadi istrinya untuk seumur hidupnya Andaikata aku mengingkari
janjiku ini, biarlah aku merasakan berlaksa penderitaan terlebih dahulu sebelum
menjelang kematian Bahkan aku juga menambahkan, “Siau kuncu menjadi saksinya”
Bukan? Nah, aku tidak melupakan apa yang pernah kuucapkan, dan tentunya kau juga
tidak melupakannya, bukan?”
“Memang kau telah mengucapkan sumpah itu,” kata Kiam Peng, “Tapi aku rasa si
kunyuk kecil itu hanya bergurau, bukan serius”
“Main-main atau serius, sama saja bagiku” kata Pui Ie tegas. “Kita kaum perempuan,
sekali kita sudah berjanji akan menyerahkan diri, tidak dapat kita tarik pulang kembali
Sudah selayaknya kita mengikuti seorang laki-laki untuk selama-lamanya. Lagipula…
lagipula….”
“Lagipula apa?” tanya Kiam Peng.
“Aku telah memikirkannya matang-matang,” sahut Pui Ie. “Seandainya dia tidak
serius dan janjiku itu dapat ditarik kembali, tapi… kita sudah pernah berbaring di atas
satu tempat tidur dengannya dan sama-sama mengenakan sehelai selimut….”
Tiba-tiba saja Kiam Peng tertawa geli.
“Kunyuk itu memang luar biasa nakalnya,” katanya. “Malah dia membawa-bawa
cerita Eng Liat-toan yang katanya sama dengan apa yang kita alami. Saat itu dia
mengatakan: Bhok ongya mengamankan propinsi Inlam dengan tiga batang anak
panahnya, Kui kongkong merangkul sepasang nona cantik dengan kedua belah
lengannya, Suci, waktu itu dia benar-benar memelukmu, bukan?”
Pui Ie menghela nafas agar dadanya tidak begitu sesak.
Sementara itu, bukan main bingungnya perasaan It Cou mendengar pembicaraan
kedua gadis itu. Hatinya menjadi panas sekaligus sedih, Urusan ini terasa sulit baginya,

Pui Ie bersedia menyerahkan diri pada Siau Po atau Kui kongkong karena telah
menolong dirinya bebas dari tempat musuh.
Tanpa pertolongan bocah itu, kemungkinan sekarang kepalanya sudah terpisah dari
batang lehernya dan jadi setan gentayangan Kepalanya menjadi pusing dan kedua
lututnya terasa lemas dan tubuhnya terhuyung-huyung hampir jatuh. Dia berusaha
menekan hawa amarah dalam dadanya.
Kemudian dia mendengar lagi suara Pui Ie yang berkata:
“Memang dia masih muda sekali, tapi dia pandai bicara, Tidak kalah dengan orang
dewasa, Yang terutama, dia memperlakukan kita dengan baik sekali, Budinya terhadap
kita besar sekali, bukankah dia yang menolong kita melarikan diri dari istana? Bahkan di
dalam istana, dia tidak memperdulikan segala ancaman maut untuk melindungi kita,
sekarang kita telah berpisah dengannya, Entah kapan kita baru bisa berjumpa
kembali..?”
Kembali Kiam Peng tertawa.
“Suci, rupanya kau sedang memikirkannya?” tanyanya, “Apakah kau merasa rindu
padanya?”
“Lalu, kalau aku memang memikirkannya dan rindu kepadanya, bagaimana?” Pui Ie
balik bertanya.
“Sebenarnya, suci,” kata Kiam Peng, “Aku juga tengah memikirkannya, Beberapa kali
sudah aku mengajaknya datang bersama-sama ke dusun Cioki ji cung ini, tapi dia selalu
menolak, Katanya dia mempunyai tugas yang penting sekali, Cici, coba kau terka,
apakah dia berbicara yang sebenarnya atau hanya ingin mengelabui kita?”
“Ketika singgah di rumah makan, aku pernah mendengar dia berbicara dengan kusir
kereta,” kata Pui Ie, “Dia menanyakan jalanan menuju Shoa Say, Mungkin dia akan
pergi ke sana…”
“Dia masih muda sekali dan sekarang melakukan perjalanan seorang diri, Bukankah
berbahaya sekali ?” kata Kiam Peng, “Bagaimana kalau dia bertemu dengan penjahat?”
Pui Ie menarik nafas panjang.
“Pernah terpikir olehku untuk berbicara dengan Ci loyacu agar dia tidak usah
mengantarkan kita, ingin aku meminta orang tua itu untuk melindungi dia, tapi Ci loyacu
pasti tidak akan menerimanya….”
“Cici….”
“Apa, moaymoay?”

“Ah, tidak apa-apa.,,.” Tampaknya Kiam Peng membatalkan apa yang ingin
dikatakannya.
“Sayangnya kita berdua masih sama-sama terluka…” kata Pui Ie, Kalau tidak, pasti
kita bisa pergi bersamanya ke Shoa Say.,,.”
Mendengar pembicaraan kedua nona itu, kepala Lau It-cou semakin berat,
mendadak tubuhnya limbung dan kepalanya membentur jendela, Kakinya tidak dapat
berdiri tegak.
“Siapa?” bentak Kiam Peng dan Pui Ie yang merasa terkejut sekali.
It Cou tidak sampai jatuh, Rasa sakit di kepalanya yang terbentur menyadarkannya.
Hatinya panas sekali sehingga tidak mendengar suara bentakan kedua nona itu, Dia
malah berteriak dalam hati.
“Aku akan membunuh bocah itu Aku harus membunuhnya”
Lau It-cou segera lari keluar rumah untuk mencari kudanya dan terus melarikannya,
Dia mengambil arah barat karena menurut pembicaraan Pui le tadi, bocah kurang ajar
itu berangkat ke Shoa Say.
Sampai terang tanah, Lau It-cou masih melarikan kudanya, tapi sekarang dia sering
bertanya kepada orang-orang mana jalan menuju ke Shoa say. Setiap kali bertemu
kereta yang sedang bergerak, dia selalu bertanya pada kusirnya: “Apakah
penumpangmu seorang bocah cilik?”
Demikianlah Lau It-cou memberikan keterangannya ketika Siau Po meminta
penjelasan sekarang Siau Po tahu bahwa Lau It-cou hanya mendengar sebagian saja
dari pembicaraan antara Pui le serta Kiam Peng.
Karena itu, dia segera tertawa dan berkata, “Lau toako, ternyata kau sudah ditipu
oleh adik seperguruanmu itu”
“Aku ditipu Pui Ie?” tanya Lau It-cou bingung, “Bagaimana caranya?”
“Duduk persoalan yang sebenarnya begini, Lau toako,” kata Siau Po dengan nada
sabar “Ketika terkurung di dalam istana, nona Pui pernah berkata kepadaku, bahwa dia
sungguh-sungguh berniat menolongmu tapi sebaliknya selama ini kau selalu bersikap
acuh tak acuh kepadanya, Menurutnya kau kurang perhatian.” It Cou heran sekali.
“Mana ada kejadian seperti itu?” katanya. “Mana mungkin aku bersikap acuh tak
acuh kepadanya?”
“Bukankah kau pernah menghadiahkan sebuah tusuk konde kepadanya?” tanya Siau
Po. “Tusuk konde itu berbentuk bunga Bwe?”

“Benar” sahut It Cou penuh semangat “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”
“Ketika bertempur di istana, tusuk konde itu terjatuh,” kata Siau Po. “Nona Pui
kebingungan setengah mati, karena tusuk konde itu merupakan hadiah dari kekasihnya,
Menurutnya, tusuk konde itu tidak boleh hilang, Biar bagaimana dia harus
mendapatkannya kembali Demi tusuk konde itu, dia bersedia mengadu jiwa”
It Cou terdiam, pandangannya termangu-mangu.
“Oh, dia begitu baik kepadaku?” tanyanya kemudian
“Pasti” sahut Siau Po. “Masa dia berbohong dalam keadaan seperti itu?”
“Lalu, bagaimana?” tanya It Cou yang jadi tertarik. “Kau mencekal aku begini keras,
aku kesakitan setengah mati” kata thay-kam palsu yang cerdik ini. “Mana mungkin aku
berbicara dengan leluasa?”
“Baik” kata Lau It-cou yang kemarahannya sudah reda setengah bagian. Dia juga
yakin bocah itu tidak sanggup meloloskan diri dari tangannya.
Setelah melepaskan cekalannya dia bertanya, “Apa yang terjadi kemudian?”
Perlahan-Iahan Siau Po menyimpan pisau belati di dalam kaos kakinya, Kemudian
dia juga menggunakan kesempatan itu untuk mengurut tangannya yang biru matang
serta bengkak karena cekalan Lau It-cou yang keras. Setelah itu dia berkata.
“Orang-orangnya Bhok onghu paling pintar dan gemar memencet tangan lawan,”
katanya, “Kau begitu, Pek Han-hong juga begitu lya, memang benar Mengapa aku
sampai lupa ilmu Ku-jiau jiu dari keluar Bhok memang sudah terkenal sekali”
Kata-kata Siau Po itu merupakan sindiran tajam. Karena Ku-jiau jiu artinya “llmu
cakar kura-kura.”
Lau It-cou tidak menaruh perhatian pada ucapan Siau Po itu. Dia juga tidak dapat
menangkap makna yang terselip di dalamnya.
“Bagaimana sikap Pui sumoay setelah kehilangan tusuk konde pemberianku itu?”
“Dengan ilmu Ku-jiau jiu, kau telah membuat tanganku bengkak dan sakit Aku harus
mengatur pernafasan dulu baru bisa bicara dengan lancar.” Kata Siau Po yang masih
juga mempermainkan si pemuda keblinger itu. Dia sengaja memperpanjang waktu agar
otaknya bisa bekerja mencari akal, pokoknya dia harus bisa meloloskan diri tanpa
kurang apa-apa. “Biarkan aku beristirahat sebentar Urusan ini penting sekali dan
menyangkut apakah kau akan mendapatkan istrimu atau tidak”
Dia terus mengurut-urut tangannya yang biru matang, sementara itu, Lau It-cou
sekarang sudah mengerti apa artinya kata Ku-jiau jiu yang diucapkan Siau Po, tapi dia

tidak memperdulikannya, perhatiannya sedang terpusat pada hal lainnya, Apalagi Siau
Po mengatakan “ada sangkutannya apakah kau akan mendapatkan istrimu atau tidak?”
“Cepat kau ceritakan” desak It Cou, “Sudah, jangan bertele-tele lagi”
“Mari duduk dulu.,.” ajak Siau Po dengan saban lari kita istirahat sejenak. Setelah
pernafasanku lurus, tentu aku bisa bercerita dengan lancar, Kau pasti mendapatkan
keterangan yang kau inginkan.?”
Lau tidak mau, It Cou terpaksa menuruti ajakan si bocah tersebut
Siaupo berjalan ke bawah sebatang pohon yang rimbun dan duduk di sana, It Cou
menghampiri dan duduk di sisinya, Dia tidak mau jauh-jauh dengan Siau Po karena
khawatir bocah yang licin itu akan kabur darinya.
Siau Po menarik nafas panjang beberapa kali, “Sayang… sayang,.,” katanya
berulang kali.
“Apanya yang sayang?” tanya It Cou sambil mengawasi wajah bocah itu.
“Sayang sekali nona Pui tidak ada di sini.,.” sahut Siau Po sambil memperlihatkan
tampang muram, “Coba kalau dia ada di sini dan duduk berdampingan denganmu, tentu
bahagia sekali bila kalian dapat berbicara berduaan dengan mesra”
Senang sekali hati It Cou mendengar ucapan bocah itu. Tanpa sadar ia tersenyum.
“Bagaimana kau mempunyai pikiran seperti itu?” tanyanya,
“Karena aku pernah mendengar perkataan nona Pui,” sahut Siau Po, “Hari itu, ketika
tusuk kondenya hilang, nona Pui langsung nekat Dia menerjang tiga pos dalam istana
yang dijaga para siwi, Meskipun dia sendiri terluka, tapi dia juga merobohkan tiga orang
pengawal Akhirnya dia berhasil mendapatkan tusuk kondenya kembali, Tahukah kau
apa bagaimana pikirannya saat itu?”
It Cou menggelengkan kepalanya, Dia masih menunggu kata-kata Siau Po.
“Saat itu aku berkata kepadanya: “Nona, mengapa kau begitu bodoh? Berapa sih
harganya sebuah tusuk konde sampai kau harus menempuh bahaya sebesar ini? Nanti
aku akan memberimu uang sebanyak seribu tail dan kau bisa memesan tusuk konde
seperti itu sampai empat ribuan batang. Biarpun nona memakainya secara bergantian
siang dan malam, berarti dalam satu tahun setiap hari kau akan memakai tusuk konde
baru, Nah, tahukah kau apa jawaban nona Pui?”
Sekali lagi It Cou menggelengkan kepalanya.
“Nona itu langsung berkata begini kepadaku: “Kau anak kecil tahu apa? ini hadiah
dari Lau suko yang baik hati dan sangat mencintaiku Meskipun kau menghadiahkan

seribu batang atau selaksa batang tusuk konde yang dibuat dari emas murni dan
bertaburan mutiara, tetap saja tidak bisa menyamai tusuk konde pemberian Lau sukoku
ini Bagiku, yang penting hadiah ini dari Lau suko, tidak perduli bahannya dari perak,
tembaga atau besi rongsokan sekalipun Nah, Lau toako, coba kau pikir, bukankah nona
Pui itu tolol sekali?”
Bukannya mendongkol atau marah, Lau It-cou malah tertawa lebar ia merasa katakata
bocah di sampingnya itu lucu sekali.
“Aku ingin bertanya kepadamu,” kata It Cou. “Apakah sepanjang malam itu sumoay
hanya membicarakan soal tusuk konde saja?”
“Lau suko, Siau Po tidak menjawab, dia malah bertanya, “Lau toako, kau mencuri
dengan pembicaraan mereka hampir sepanjang malam?”
Wajah It Cou jadi merah padam, Dia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan
seperti itu dari Siau Po.
“Sebenarnya aku tidak bermaksud mencuri dengar pembicaraan mereka,” katanya
dengan maksud membersihkan diri, “Malam itu aku terbangun karena ingin membuang
air kecil, Ketika lewat di sisi kamar mereka, aku mendengar suara pembicaraan
mereka….”
“Nah, Lau toako perbuatanmu itu tidak dapat dibenarkan” kata Siau Po. “Masa kau
tidak bisa membuang air kecil di tempat lain? Kenapa kau justru memilih bawah jendela
kamar kedua nona itu? Apakah kau tidak khawatir air senimu itu akan memancarkan
bau harum semerbak sehingga nona pujaan hatimu itu jadi mabuk kepayang
karenanya, sedangkan kedua nona itu begitu cantik dan rupawan?”
It Cou semakin jengah.
“lya, iya. Kau benar” sahutnya, “Kemudian, apalagi yang dikatakan adik
seperguruanku itu?”
Rupanya pemuda ini tertarik sekali dengan cerita Siau Po sehingga dia tidak jemujemunya
mengajukan pertanyaan.
“Perutku kosong, aku lapar sekali,” kata Siau Po. “Aku kehabisan tenaga untuk
bercerita. Sudilah kiranya kau pergi membelikan makanan agar aku bisa mengisi perut
Setelah perutku kenyang, aku bisa bercerita panjang lebar dan hatimu pasti akan
tergetar mendengarnya”
“Apanya yang menggetarkan hati?” tanya It Cou. “Pui sumoay adalah seorang gadis
yang polos dan tulus, Belum pernah dia mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh….”
“Betul” kata Siau Po. “Dia memang tulus dan polos. Dia tidak pernah mengucapkan
kata-kata yang tidak sopan, tapi aku ingat dia pernah mengatakan “Lau sukoku yang

baik hati, Lau sukoku yang gagah dan tampan” Nah, kata-kata itu manis sekali bukan?
Entahlah bagaimana perasaanmu, menurutku kata-katanya itu enak sekali
kedengarannya.”
Hati It Cou benar-benar senang mendengar keterangan Siau Po. Tapi dia masih
belum yakin.
“Benar?” tanyanya, “Benarkah Pui sumoay pernah berkata demikian?”
“Benar atau tidak, terserah dirimu sendiri, Lau toako” kata Siau Po. “Aku hanya
mengatakan apa yang menjadi kenyataan Nah, sudahlah, aku akan pergi mencari
makanan, Maafkan aku, toako”
Selesai berkata Siau Po langsung berdiri, It Cou sedang penasaran mendengar
cerita bocah itu, mana mau dia melepaskannya begitu saja? Dia segera menekan bahu
bocah itu.
“Sabar saudara Wi,” katanya, “Jangan terburu-buru pergi. Aku membekal ransum
kering, silahkan makan Nanti, kalau kau sudah selesai bercerita, aku akan
mengajakmu ke kota di depan sana, Kita cari sebuah rumah makan, Aku ingin
mengundangmu makan dan minum sebagai permintaan maaf atas kesalahan pahaman
ini,” Lau It-cou segera mengeluarkan sebuah bungkusan yang berisi kue kering, Lalu
disodorkannya ke hadapan bocah itu.
Siau Po mengambil satu potong kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya. Setelah
dikunyah, dia merasa kue itu tidak ada sari manisnya, Rasanya tawar sekali.
“Kue apa ini?” tanyanya sembari mengambil sepotong lagi dan diserahkannya
kepada Lau It-cou.
Lau It-cou menyambut kue itu dan memasukkannya ke dalam mulut.
“Kue ini memang keras, tidak enak, Tapi lumayanlah untuk mengganjal perut,”
katanya,
Siau Po memeriksa kue lainnya, semuanya terdiri dari beberapa jenis.
“Bagaimana dengan yang ini?” Dia mengambil beberapa potong kemudian dibolakbalikkannya
satu per satu, “Ah Ada-ada saja” Aku mau buang air kecil,” katanya
sambari berjalan menuju belakang pohon dan membuka celananya.
It Cou membiarkan Siau Po pergi, tapi dia tetap mengawasinya, sebentar saja Siau
Po sudah kembali lagi dan duduk di samping Lau It-cou. Dia membolak-balik lagi
sepotong kue kemudian memasukkannya ke dalam mulut untuk dicicipi.

It Cou sendiri sudah merasa letih karena mengejar bocah itu sepanjang malam, Dia
menjemput sepotong kue dan memakannya, Perutnya juga sudah lapar, tapi dia masih
ingin tahu kelanjutan cerita Siau Po.
“Apa benar Pui sumoay berkata begitu di hadapan Siau kuncu? Mungkinkah dia
hanya mempermainkan perasaanku?”
“Aku toh bukannya belatung dalam perut sumoaymu itu, mana aku tahu apa yang
dipikirnya?” sahut Siau Po, “Kan kau kakak seperguruannya yang paling baik dan dekat.
Mengapa kau tidak tahu sifatnya? Kok, kau malah tanya kepadaku?”
“Sudahlah, adik,” kata It Cou. “Tadi aku salah paham kepadamu. Aku harap kau suka
memaklumi perasaanku Saudaraku, aku minta kau mau menceritakan semuanya
kepadaku.”
“Kalau begitu, baiklah aku bicara terus terang,” kata Siau Po. “Nona Pui, adik
seperguruanmu itu memang manis dan cantik sekali seandainya aku bukan seorang
thay-kam, tentu aku suka sekali bisa menikah dengannya, tapi ada satu hal yang perlu
aku jelaskan, Meskipun aku tidak bisa menikah dengannya,.. aku khawatir kau juga
tidak mempunyai kesempatanmu.”
It Cou merasa heran, Dia menatap Siau Po lekat-lekat.
“Kenapa?” desaknya.
“Jangan terburu nafsu, sobat” katanya saban “Nanti perlahan-lahan aku akan
menjelaskan sebabnya….”
“Ah Kau sengaja main gila Caramu ini benar-benar membuat nafsu makanku
hilang” bentak It Cou. Baru saja selesai berkata, tiba-tiba tubuhnya terhuyung-huyung.
“Eh, kenapa kau?” tanya Siau Po dengan tampang keheranan “Apakah kau tiba-tiba
jadi sakit? Atau kuemu itu kurang bersih?”
“Apa katamu?” tanya It Cou. Dia berusaha untuk bangun, tapi mendadak dia
merasakan tubuhnya lemas, tenaganya tidak ada sehingga dia menggeletak di atas
tanah dekat bawah pohon.
Tiba-tiba saja Siau Po tertawa terbahak-bahak Dengan sebelah kakinya, dia
menendang pantat Lau It Cou.
“Eh, mengapa di kuemu ada obat biusnya? Aneh bukan ?”
It Cou roboh dengan mengeluarkan seruan tertanam Ketika Siau Po menendangnya,
dia tidak merasakan apa-apa lagi.

TAMAT (Bagian Pertama)
Apa sebenarnya yang terjadi pada diri Lau it-cou? Apakah dia pun kena diperdayai
oleh Wi Siau Po, si bocah nakal? Bagaimana ke lanjutan kisah asmara antara Pui Ie,
Lau It-cou dan Wi Siau Poyang terlibat cinta segi tiga itu? ikutilah bagian ke II dari kisah
Kaki Tiga Manjangan ini

Bagian Kedua
Bagian 31
Pada kisah yang terdahulu, diceritakan tentang Lau It Cou, murid Tiat Pwe Cong
Liong Liu Tay Hong tiba-tiba merasa kepalanya pusing setelah makan kue kering
bersama si Thay-kam cilik, Wi Siau Po.
Bahkan ketika bocah nakal itu menendangnya berkali-kali, Lau It Cau tidak
merasakan apa-apa lagi, Siau Po langsung memperlihatkan senyum penuh
kebanggaan. Dia membuka ikat pinggang Lau It Cou kemudian digunakannya untuk
membelenggu tangan orang itu.
Di dekat sebatang kayu ada sebuah batu besar Siau Po berusaha menggesernya,
kebetulan di bawah batu besar itu ada sebuah lubang, karena itu Siau Po
menggesernya terus sehingga mulut lubang itu terbuka lebar Setelah itu dia
mengeluarkan bebatuan yang terdapat di dalam lubang itu dan menggali tanahnya
sehingga lubang itu menjadi bertambah dalam dan lebar
“Hari ini Lohu akan menguburmu hidup-hidup di dalam lubang ini.” kata Siau Po
sembari tertawa, meskipun dia bicara seorang diri, Kemudian ia mengangkat tubuh Lau
It Cou, dimasukkannya ke lubang itu dengan posisi berdiri dan punggung bersandar
pada dinding lubang. Setelah itu dia menimbuni lubang itu kembali dengan pasir dan
bebatuan sampai batas leher Lau It Cou.
Sekali lagi Siau Po tertawa senang, Tampaknya dia puas sekali dengan hasil
kerjanya sendiri, Perlahan-lahan dia berjalan ke tepi sungai, dibukanya jubah luarnya
kemudian dicelupkannya ke dalam air. Dia berjalan balik kembali, lalu berhenti di depan
anak muda yang sedang tidak sadarkan diri itu.
Siau Po mengangkat jubah basah itu tinggi-tinggi kemudian diperasnya sehingga
airnya mengalir turun dan membasahi seluruh kepala dan wajah Lau It Cou.
Dengan demikian, lambat laun Lau It Cou siuman, Dia kebingungan matanya
jelalatan ke sekitarnya, Dia ingin menggerakkan kaki dan tangannya tapi tidak ada
kesanggupan sama sekali. Hal ini membuat hatinya tercekat Dia mulai menerka-nerka
apa yang terjadi pada dirinya. Di hadapannya duduk bersila Siau Po dengan wajah
penuh senyuman, bahkan sekali-sekali tampak dia tertawa geli, kedua tangannya
berpangku di atas lututnya,
Pasti aku telah di akali olehnya.,., pikir Lau It Cou dalam hati, Dia menyesal dirinya
sendiri yang ceroboh, tapi dia berusaha menenangkan dirinya.
“Hai, saudara kecil, jangan main-main” katanya sambil tertawa, Sia-sia dia berusaha
mengerahkan tenaganya untuk memutuskan ikat pinggang yang membelenggunya.

“Oh, dasar bangsat gila perempuan” maki Siau Po. “Tahukah kau betapa pentingnya
urusan yang sedang aku hadapi? Kau kira aku ada waktu bergurau dengan engkau, si
bangsat bau”
Bocah ini memang luar biasa, Sembari memaki, kakinya mengayun pula menendang
rahang pemuda itu sehingga darah bercucuran. Mulutnya tidak berhenti mencaci.
“Nona Pui itu istriku, Orang seperti kau berpikir untuk menikahinya? Hm Bangsat
bau Kau sudah menghajar lohu sehingga lohu kesakitan serta menderita, sekarang
lohu akan menuntut balas padamu Pertama-tama aku akan memotong telingamu
kemudian menebas hidungmu, Iya, aku akan mengerat satu per satu”
Selesai berkata Siau Po mencabut pisau belatinya, lalu dia membungkuk dan
mengacung-acung-kan pisaunya di depan wajah Lau It Cou dengan tampang
mengancam.
Bukan kepalang terkejutnya hati Lau It Cou.
“Oh, saudara,., saudara Wi yang baik,” katanya, “Wi hiocu, sudilah kau memandang
keluarga Bhok dan berlaku murah hati”
“Bagus sekali kau, ya” maki Siau Po. “Manusia macam apa engkau ini? Dari dalam
tahanan di istana aku menolong dirimu sehingga mendapatkan kebebasan kembali
seperti sekarang ini. Mengapa kau membalas air susu dengan air tuba? Kenapa kau
ingin membunuhku? Hm, orang yang kepandaiannya seperti kau ini, mana mungkin
sanggup membunuh aku seorang tokoh besar? sekarang kau malah meminta aku
memandang muka keluarga Bhok, tapi bagaimana ketika kau meringkusku? Mengapa
kau sendiri tidak memandang muka Tian Te hwe kami?”
“lya, aku telah berbuat kekeIiruan…” sahut Lau It Cou mengakui
“Aku akan membacok kepalamu sebanyak tiga ratus enam puluh kali.” kata Siau Po.
“Dengan cara demikian, barulah hilang rasa penasaran dihatiku.”
Siau Po menarik kuncir It Cou kemudian di tebasnya dengan pisau belati sehingga
putus, setelah itu dia mengayunkan pisaunya bolak-balik dan dalam sekejap mata
rambut di kepala Lau It Cou jadi tidak karuan bentuknya, Sebagian besar botak dan di
beberapa bagian tersisa rambutnya sedikit-sedikit.
Rupanya hati Siau Po masih panas.
“Bangsat gundul kepingin mampus” makinya untuk kesekian kali. “Hati lohu paling
panas kalau melihat biksu (pendeta), apalagi yang gundulnya kepalang tanggung,
Kemarahan di dalam dada ini seakan-akan meluap-luap, karena itu tidak bisa tidak, aku
harus membunuhmu”

Meskipun takut setengah mati, Lau It Cou masih berusaha untuk tertawa. Dia
berharap anak nakal itu hanya bergurau dengannya.
“Oh, Wi hiocu yang baik, cayce (aku yang rendah) bukan pendeta,” sahutnya. Dia
berusaha menentramkan hatinya yang terguncang keras.
“Setan alas” bentak Siau Po. “Bagaimana kau berani mengatakan bahwa dirimu
bukan pendeta? Lalu mengapa kepalamu di cukur plontos seperti itu? Apakah kau ber
maksud mendustai aku tuan besarmu ini?”
Li it Cou menjadi bingung, Hatinya juga cemas sekali, Kuncirnya sudah hilang dan
kepalanya tiga per empat botak, Dalam hatinya dia mengeluh.
“Kan kau yang memotong rambutku, mengapa kau malah memaki-maki aku? Tapi
dia masih menyayangi jiwanya sendiri, tidak berani dia menyahut karena takut Siau Po
akan semakin marah, Dia berusaha tertawa dan berkata. “Wi hiocu, seribu salah
selaksa kekeliruan, semuanya aku yang melakukannya, Wi hiocu, kau adalah seorang
yang berbudi luhur, aku mohon sudilah kiranya kau bersikap murah hati..”
Kali ini It Cou mengucapkan kata-kata yang merendah Dia sudah kewalahan
menghadapi bocah yang luar biasa ini, Dia sangat menyayangi jiwanya dan tidak sudi
mati konyol dengan cara sedemikian rupa.
“Baiklah” kata Siau Po kemudian “Sekarang aku ingin bertanya dulu kepadamu, Kau
kenal Nona Pui Ie, bukan? Jawablah, istri siapa nona itu?” Bukan main bingungnya hati
It Cou.
“Dia… dia…” ucapannya terputus-putus, Dia tidak dapat melanjutkan ucapannya
seperti orang yang kehabisan kata-kata saking takut dan cemas. Baginya sulit sekali
menduga isi hati Siau Po. Dia sedang bergurau atau benar-benar marah?
“Dia,., dia… apa?” bentak Siau Po. “Lekas jawab”
Kembali pisau belatinya yang tajam di gerak-gerakkan di depan muka Lau It Cou.
It Cou semakin bingung, Dia berpikir keras, Celaka kalau sampai dia kehilangan
telinga atau hidungnya, urusannya bisa gawat Selain sakit, dia juga harus menderita
malu.
“Dia… dia tentu istrimu, Wi hiocu” katanya dengan susah payah,
Siau Po tertawa.
“Dia,., siapa?” tanyanya sekali lagi, “Bicara yang jelas Siapa dia yang kau katakan?
Lohu ingin mendapatkan kepastian darimu”

“Aku…. Maksudku.,., Pui sumoay.” sahut Lau It Cou dengan terpaksa, “Dia adalah
istri Wi hiocu.”
Siau Po tertawa lagi.
“Sekarang kita bicara blak-blakan.” katanya, “Lekas kau katakan, apakah aku ini
sahabatmu?”
Lega juga hati Lau It Cou mendengar nada suara Siau Po yang sudah mulai lunak,
Lekas-lekas dia menjawab.
“Sebenarnya siaujin (orang yang hina ini) tidak berani mengangkat diri sendiri terlalu
tinggi, siaujin tidak pantas mengagulkan diri, Tapi kalau Wi hiocu sudi menganggap
siaujin sebagai sahabat, siaujin ibarat mendapatkan rembulan jatuh….”
“Baik Aku suka menjadi temanmu.” kata Siau Po kemudian “Di dalam dunia kang
ouw, orang harus mengingat istri sahabatnya sendiri. Lain kali, bila kau berani main gila
lagi, awas Jaga botak kepalamu baik-baik sekarang coba kau bersumpah dan buktikan
bahwa kau benar-benar sudah tobat, Aku ingin mendapat keyakinan bahwa lain kali kau
tidak berani main gila lagi. Bersumpahlah”
Di dalam hatinya, Lau It Cou mengeluh. Hebat sekali desakan si bocah nakal ini. Dia
menyesali dirinya yang begitu bodoh sehingga kena diakali olehnya dan berbalik kena
ditawan.
“Tidak apa-apa kalau kau tidak sudi bicara.” Kata Siau Po. “Memang aku sudah tahu
lagak setanmu. Kau mengandung maksud buruk. Di dalam hatimu kau sudah mengatur
rencana untuk mempermainkan istriku.”
Tanpa kepalang tanggung lagi, Siau Po langsung saja menyebut Pui Ie sebagai
istrinya, It Cou ngeri melihat pisau belati Siau Po masih terus digerak-gerakkan.
“Tidak Tidak” katanya, “Terhadap Nyonya Wi hiocu, tentu aku tidak berani main
gila….”
“Awas” ancam Siau Po, “Tapi bagaimana kelak? Bagaimana bila kau menatapnya
terus dan mengajaknya bicara, meskipun hanya sepatah kata?” Bocah ini masih
mendesak terus..
“Tidak mungkin aku melupakannya,” sahut Lau It Cou, “Aku bersumpah, kalau aku
sampai melakukannya, biarlah aku dihukum Langit (Thian atau Tuhan) dan di kutuk
Bumi.”
“Kalau kau berani melakukan hal itu, kaulah si kura-kura, kaulah si manusia hina”
kata Siau Po.
“Ya, ya.,.” sahut Lau It Cou dengan wajah meringis,

“lya, iya apanya?” tanya si bocah yang selalu iseng itu.
“lya,” sahut Lau It Cou, “Kalau kelak aku mendekati Pui sumoay atau mengajaknya
bicara, akulah si kura-kura, Akulah manusia hina”
Siau Po tertawa terbahak-bahak.
“Kalau begitu, baiklah.” katanya, “Aku akan mengampunimu. Tapi kau harus
merasakan air kencingku terlebih dahulu” Sembari berkata, Siau Po pura-pura akan
membuka celananya, Tepat pada saat itulah terdengar suara seruan seseorang.
“Me… mengapa kau terlalu menghina orang?”
Terkejut sekali hati Siau Po, terlebih-lebih dia mengenati suara perempuan itu,
Sekejap kemudian dia merasa senang sekali, Segera dia menoleh ke arah hutan dari
mana suara itu berasal.
Tampak tiga orang muncul dari dalam hutan, yang berjalan paling depan adalah Pui
Ie, adik seperguruan Lau It Cou, Yang nomor dua adalah Bhok Kiam Peng, Siau kuncu
dari Bhok onghu, sedangkan orang yang berjalan paling belakang bukan lain daripada
Ci Tian Coan, Ah… ternyata di

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s