“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 41

belakangnya mengiringi dua orang Iainnya, Mereka
adalah Gouw Lip Sin beserta muridnya Go Piu.
Kiranya sudah cukup lama mereka berlima berdiam dalam hutan dan menyaksikan
serta mendengar semua yang berlangsung antara Siau Po dan Lau It Cou, Dan ketika
Siau Po hendak menyiram wajah pemuda itu dengan air kencingnya, terpaksa Pui Ie
mengeluarkan suara memperingatkannya lalu menampilkan diri.
Dengan demikian, Kiam Peng, Tian Coan, Gouw Lip Sin dan Go Piu terpaksa
mengikutinya.
“Oh, rupanya kalian sudah ada disini?” kata Siau Po. Dia merasa gembira sekali,
“Baiklah Dengan memandang Gouw loya cu, aku akan membebaskanmu dari guyuran
air kencing.”
Tian Coan tidak mengatakan apa-apa, Dia segera berjalan ke depan It Cou dan
menolongnya ke luar dari lubang itu, It Cou merasa malu sekali, Dia hanya berdiam diri
dengan kepala di tundukkan.
“Keponakanku” kata Lip Sin kepada pemuda she Lau itu, “Mengapa kau membalas
kebaikan dengan kejahatan? Bukankah jiwa kita sama-sama telah diselamatkan
olehnya? Mengapa kau yang lebih tua justru menghina yang muda? Mengapa kau
meringkusnya? Bagaimana kalau gurumu sampai mengetahui urusan ini?”
Gouw Lip Sin menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil menarik nafas panjang,
Hal ini membuktikan bahwa hatinya kecewa sekali melihat tindak-tanduk Lau It Cou.

“Kita yang berkecimpung di dalam dunia kang ouw.”. katanya kembali suaranya
tawar dan tidak enak didengar oleh Lau It Cou. “Yang harus kita utamakan adalah Gi Ki
(menyayangi sesamanya dan mencintai negara, Dengan kata lain berjiwa sportif atau
berjiwa patriot), Sebagai tokoh dalam dunia kang ouw, apalagi dari golongan lurus, kita
harus berbudi luhur. Mengapa jiwamu justru demikian rendah, suka berprasangka dan
sirik? Mengapa kau menurunkan tangan jahat terhadap orang sendiri? Mengapa kau
melupakan budi dan menyia-nyiakan kepribadianmu? sikapmu yang demikian, bahkan
tidak pantas disamakan dengan babi atau pun anjing.”
Gouw Lip Sin membuang ludah saking marahnya.
“Kau telah menelikung tangan Wi hiocu, kau bahkan mengancam tenggorokannya
dengan senjata tajam” kata orang tua itu kembali dengan nada sengit, “Bagaimana
kalau kau berbuat sedikit kesalahan dengan menggerakkan tanganmu tadi dan Wi hiocu
jadi terluka karenanya? Bagaimana kalau jiwanya sampai melayang karena
perbuatanmu yang konyol itu? Coba jawab”
It Cou merasa malu sekali Tiba-tiba hatinya jadi panas dan dia pun lupa diri.
“Satu jiwa ditukar dengan satu jiwa” teriaknya keras, “Aku akan mengganti jiwanya
itu”
Lip Sin semakin marah melihat sikap pemuda itu.
“Hm” terdengar dia mendengus dingin. “Enak saja kau bicara Apakah dirimu
seorang eng hiong (pahlawan) atau hohan (orang gagah)? Dengan selembar jiwamu,
kau kira dapat menggantikan jiwa Wi hiocu dari Tian Te hwe? Lagipula, bicara tentang
jiwamu,.. dari mana datangnya jiwa yang masih menyangkut dalam tubuhmu itu?
mungkinkah kau masih hidup sampai sekarang ini kalau kau tidak di tolong oleh Wi
hiocu? Kau melupakan budi besar orang, kau bukan membalasnya saja sudah
merupakan sikap yang tidak terpuji Apalagi kau melakukan perbuatan yang demikian
rendah. perbuatanmu itu sungguh terkutuk….”
It Cou menyesal Dia jadi malu berbareng kesal. Dia sadar bahwa apa yang
dilakukannya memang salah, Tapi dia menganggap paman gurunya itu terlalu
mendikte, Lagipula, rahasianya telah di ketahui oleh Pui Ie.
Mereka pasti telah mendengar pembicaraannya dengan Siau Po. Dia juga ditegur
sedemikian rupa oleh Gouw Lip Sin di depan Pui Ie dan yang lainnya, Karena menderita
malu besar, di tidak memandang lagi paman gurunya.
“Gou susiok (paman guru Gouw), semuanya telah terjadi, ibarat nasi telah menjadi
bubur. katanya nyaring, “Apalagi yang dapat kulakukan sekarang? Bukankah orang she
Wi itu dalam keadaan baik-baik saja? Bagiku, memang tidak ada jalan lain lagi, silahkan
susiok sendiri saja yang melakukan”

Lip Sin sampai berjingkrak-jingkrak saking marahnya, Tangannya menuding wajah
Lau It Co dengan gemetar.
“Lau It Cou” bentaknya keras, “Begini rupanya kau memperlakukan paman gurumu?
Tentunya di matamu tidak ada lagi orang yang lebih tua atau lebih muda dari padamu
Apakah kau ingin bertarung dengan aku?”
“Aku tidak berkata demikian dan aku juga bukan tandinganmu.” sahut Lau It Cou.
“Lalu,., kalau kau merasa dirimu cukup hebat untuk menandingi aku, maka kau pasti
akan melawan aku, bukan?” kata Gouw Lip Sin denga suara menyindir “Lau It Cou,
perbuatanmu sungguh tidak pantas Selama di dalam istana saja, kau sudah
menunjukkan sikap tamak akan kehidupan, sebaliknya takut menghadapi kematian.
Begitu mendengar kepalamu akan dipenggal, cepat-cepat kau memohon pengampunan
dan menyebut namamu, Karena memandang Liu suko, aku tidak memberitahukan soal
kepengecutanmu itu padanya, Tapi sekarang? Hm Syukur kau bukan muridku,
nasibmu masih cukup bagus.”
Dengan kata-katanya, Gouw Lip Sin seakan bermaksud mengatakan, seandainya
Lau It Cou adalah muridnya, tentu dia sudah mengambil tindakan dengan menghukum
mati pemuda itu.
It Cou menundukkan kepalanya, Dia merasa malu sekali, Dia tidak menyangka
paman gurunya akan membuka rahasia tentang kepengecutannya ketika berada dalam
istana, wajahnya menjadi pucat pasi dan terbungkam.
Siau Po melihat keadaannya sudah menang di atas angin, dia segera tertawa dan
berkata dengan nada manis.
“Sudah Sudah Gouw loyacu, Lau toako dengan aku hanya bergurau saja, kami
bukan bersungguh-sungguh, Gouw loyacu, aku mohon kepadamu Segala urusan yang
sudah lalu, harap jangan kau sampaikan kepada Liu loyacu”
“Kalau demikian kemauanmu, Wi hiocu, aku tinggal menurut saja.” sahut Gouw Lip
Sin. Kemudian dia menoleh kepada Lau It Cou dan berkata, “Nah, kau lihat Betapa
luhur kepribadian Wi hiocu. perbuatannya selalu mengagumkan dan hatinya juga luar
biasa sabar.”
Siau Po tidak ingin urusan ini semakin panjang. Dia sengaja mengalihkan pokok
pembicaraan dengan menoleh pada Kiam Peng serta Pui Ie.
“Bagaimana kalian bisa sampai di sini?” tanyanya sambil tersenyum.
Bhok Kiam Peng belum sempat menjawab, Pui Ie sudah mendahuluinya.
“Kau ke mari” katanya kepada Siau Po. “Aku ingin berbicara denganmu.”

Siau Po memperlihatkan senyuman yang manis ketika dia menghampiri gadis itu,
Hati Lau It Cou semakin panas menyaksikan keakraban Pui Ie dengan si bocah nakal,
Rasa cemburunya meluap tanpa dapat ditahan lagi, Biar bagaimana, nona itu adalah
tunangannya, Karena itu tangannya segera meraba gagang golok dengan niat
menghunusnya segera….
Tiba-tiba….
Plokkk Terdengar sebuah suara yang nyaring sekali Siau Po terkejut setengah mati
dan pipinya terasa sakit Ternyata Pui Ie sudah menempeIengnya. Dia langsung
melompat mundur sambil membekap pipinya.
“Kau… mengapa kau memukul aku?” tegurnya pada Pui Ie. Hatinya langsung saja
menjadi panas.
Pui Ie menatapnya dengan sorotan tajam, wajahnya pun garang sekali. Tapi kulit
wajahnya merah padam karena sekaligus dia juga merasa jengah.
“Kau menganggap aku orang macam apa?” tanyanya sinis, “Apa yang kau katakan
pada Lau suko? Di belakang orang, mengapa kau suka bicara tidak karuan?”
“Tidak.” sahut Siau Po. “Aku tidak membicarakan hal yang buruk tentang dirimu.”
“Kau masih berani menyangkal?” bentak Piu Ie. “Aku telah mendengar semuanya
dengan jelas, Kamu berdua.,., Iya… kamu berdua memang bukan manusia baik-baik.”
Sembari berkata, air mata Pui Ie telah mengucur dengan deras membasahi pipinya.
Ci Tian Coan sejak tadi diam saja, Dia merasa dirinya tidak boleh berpihak pada
siapa pun. Dia harus menganggap muda-mudi itu sedang bergurau sebagaimana
biasanya orang yang tengah dilanda asmara, sebentar baik, sebentar bertengkar Dan
hal ini harus dihentikan apabila tidak ingin menjadi persoalan yang berlarut-larut, Dia
juga harus menjaga agar tidak terjadi pertikaian antara Tian Te hwe dan keluarga Bhok
hanya karena urusan muda-mudi ini, Karena itu dia segera tertawa dan berkata.
“Wi hiocu, Lau suheng, kalian telah sama-sama merasakan sedikit penderitaan,
sebaiknya urusannya diselesaikan sampai di sini saja, Aku si orang she Ci ini sudah
tua, perutku tidak kuat menahan lapar, Ayolah kita cari sebuah rumah makan untuk
mengisi perut dam minum arak sampai puas”
Seiring dengan ucapan orang tua itu, tiba-tiba saja angin bertiup kencang dari barat
daya dan tetesan air hujan sekonyong-konyong berjatuhan dari langit.
“Aneh” kata Toan Coan, “Sekarang kan bulan sepuluh, mengapa tidak karu-karuan
turun hujan?” Dia segera menoIehkan kepalanya ke arah barat daya. Di kejauhan
tampak angin sedang berhembus mengarak gumpalan awan-awan hitam, “Mungkin
hujan akan turun deras sekali, Cepat kita cari tempat berlindung”

Semua orang setuju dengan usul Ci Tian Coan, pembicaraan pun dihentikan untuk
sementara. Dengan tergesa-gesa mereka segera meninggalkan tempat itu dan menuju
barat mengikuti jalan besar.
Pui le dan Kiam Peng dalam keadaan belum sehat menemui kesulitan Mereka tidak
dapat berjalan cepat sebaliknya sang hujan turun semakin deras.
Tian Coan mengerti kesulitan yang dihadapi kedua nona itu, karenanya dia tidak
berani berari-lari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, Siau Po dan yang
lainnya juga terpaksa mengimbangi kedua orang nona itu.
Celakanya di tempat itu tidak tampak apa-apa. jangan kata rumah penduduk, sebuah
gubuk atau sebuah tempat persinggahan yang biasanya suka tersedia di pinggir jalan
pun tidak ada.
Tidak berapa lama kemudian, mereka basah kuyup, Meskipun demikian, semuanya
tetap berjalan perlahan-lahan mengimbangi Pui le dan Kiam Peng.
Mungkin hanya Siau Po sendiri yang tidak merasa kesal atau bingung, Dengan
berjalan bersama kedua nona manis itu, hatinya malah senang sehingga berulang kali
dia tertawa,
“Lebih baik kita jalan perlahan-Iahan, Bagi kita toh sama saja, sudah kepalang
tanggung, jalan perlahan-Iahan, basah, jalan cepat, basah juga.”
Tian Coan semua berdiam diri, Tidak ada yang memberikan komentar apa-apa. Tapi
mereka memang tidak tergesa-gesa lagi.
Tidak berapa lama kemudian, telinga rombongan itu mendengar suara gemericiknya
air yang sedang mengaIir. Dalam sekejap mereka sudah tiba di tepi sebuah sungai,
Mereka segera berjalan menyusun tepi sungai tersebut.
Berjalan kurang lebih setengah li. Mata Siau Po dan yang lainnya melihat ada
sebuah perkampungan di hadapan mereka, Karena itu semuanya menjadi gembira
sekali Tanpa terasa, mereka mempercepat langkah kaki, Tapi setelah mendekat,
mereka menjadi kecewa.
Rupanya rumah yang mereka lihat dari kejauhan tadi, merupakan rumah berhala
yang tersebar di sana sini dan keadaannya sudah tua serta rusak, Apa lagi bagian
pintunya, sudah keropos dan bobrok,
Tapi meskipun demikian, tempat itu masih lumayan untuk dipakai sebagai peneduh
dari air hujan,
Mereka segera memilih salah satu kuil yang keadaannya agak baik, Begitu mereka
sampai di dalam, hidung Pui le langsung mencium bau lembab yang tidak enak,
Mendadak gadis itu mengernyitkan sepasang alisnya, Karena memaksakan diri berjalan

terlalu cepat, luka di dadanya terasa sakit kembali. Dia berdiam diri sambil
menggertakkan giginya.
Tian Coan memang sudah tua, tapi orangnya rajin, Dia segera mencari kayu bakar.
Orang tua itu tidak menemukan kesulitan sama sekali, sebab di sana terdapat banyak
meja dan kursi bobrok. Dia segera mengambil beberapa buah dan dipatah-patahkannya
kaki-kaki meja serta kursi tersebut Ke-mudian dia menumpukkannya di
tengah-tengah ruangan lalu dinyalakannya.
Sesaat kemudian, api unggun mulai berkobar Mereka segera duduk berkeliling di
sekitarnya agar pakaian mereka cepat kering dan tubuh mereka terasa hangat.
Di luar kuil, udara semakin gelap dan hujan semakin menjadi-jadi, Ci Tian Coan
memang pandai bekerja, Dia segera mengeluarkan ransum kering kemudian dibagibagikan
kepada setiap orang, Dengan demikian, paling tidak perut mendapat sedikit
ganjalan serta tidak menjadi sakit karenanya.
Sembari mengunyah kue kering, Kiam Peng menatap Siau Po seraya tertawa.
“Apa yang kau lakukan pada kue Lau suka tadi?” tanyanya.
Siau Po mengedipkan matanya pada gadis cilik itu.
“Tidak.” katanya, “Aku tidak melakukan apa-apa.”
“Kau masih menyangkal?” kata si nona, “Lalu, kenapa tiba-tiba Lau suko tidak
sadarkan diri seperti orang yang kena Bong Hoan Yok?”
“Oh, dia kena Bong Hoan Yok?” Siau Po balik bertanya dengan sikap pura-pura
bodoh, “Kapan dia terkena obat bius itu? Mengapa aku tidak tahu? Ah Tidak mungkin
Bukankah barusan dia masih baik-baik saja dan duduk menghangatkan tubuhnya?”
“Hm” Kiam Peng mendengus dingin, “Sudahlah Kau memang pandai berpura-pura,
Aku tidak sudi berbicara denganmu”
Pui Ie duduk berdiam diri, telinganya mendengar percakapan kedua orang itu.
otaknya terus berputar, hatinya bimbang dan menduga-duga.
Pertama-tama ketika Lau It Cou meringkus Siau Po, jarak Pui Ie masih jauh dari
kedua orang itu, Dia tidak dapat melihat dengan tegas, Setelah keduanya duduk
berdampingan di bawah pohon dan berbincang-bincang, Pui Ie baru mengendap-endap
mendekati sehingga dia dapat melihat keadaan kedua orang itu serta dapat mendengar
pembicaraan yang berlangsung dengan jelas. Dia melihat dengan tegas kue kering itu
dikeluarkan dari buntalan milik Lau It Cou. Kemudian Lau It Cou selalu mengawasi Siau
Po agar tidak melarikan diri, Yang aneh justru tiba-tiba saja Lau It Cou terkulai roboh.
Sementara itu, Siau Po tertawa dan berkata.

“Mungkinkah Lau suko mengidap semacam penyakit seperti ayan yang dapat
membuatnya pingsan sewaktu-waktu?”
Mendengar ucapan Siau Po, Lau It Cou gusar sekali Dia langsung menjingkrak
bangun.
“Kau.,, kau.,.” bentaknya hanya sepatah kata saja,
Pui Ie mendelik kepada si bocah nakal.
“Kemari kau” panggilnya.
“Apakah kau ingin menampar aku lagi?” tanya Siau Po. “Aku tidak sudi dekat
denganmu”
“Bukan” sahut Pui Ie. “Lain kali kau jangan bicara yang bukan-bukan lagi di hadapan
Lau suko. Kau masih kecil, kau harus hati-hati dengan kata-katamu, Dari mulut juga,
orang bisa mendapatkan kesan baik di dirimu”
Siau Po meleletkan lidahnya, Dia membungkam.
It Cou merasa puas melihat Pui Ie telah membelanya sebanyak dua kail Di dalam
hatinya dia berkata….
Setan cilik ini benar-benar busuk, justru hati Pui sumoay baik sekali…
Di dalam rombongan itu, usia Ci Tian yang paling tua. Tapi dia terhitung bawahan
Siau Po. Karena itu dia tidak berani turut campur Gouw Lip Sin dan Go Piu juga lebih
tua dari Siau Po, namun mereka telah berhutang budi sehingga tidak leluasa
mengatakan apa pun. Nona Bhok sendiri sudah mengatakan dia tidak sudi berbicara
banyak lagi. dengan si bocah, Maka di tempat itu, hanya Pui Ie seorang yang bisa
mengendalikannya dan meredakan suasana yang tidak enak pada kedua pihak.
Ketujuh orang itu tetap duduk mengelilingi api unggun, Cuaca tetap gelap dan hujan
masih mengucur deras, Karena kuil itu sudah tua sekali, terdapat kebocoran di sana sini
yang membuat lantainya menjadi basah, Hampir tidak ada bagian yang kering, Tiba-tiba
air hujan menetes membasahi bahu Siau Po sehingga dia terpaksa menggeser sedikit,
namun disitu pun bocor.
“Kemari kau” panggil Pui Ie. “Disini tidak bocor.”
Siau Po tidak menyahut Hanya matanya saja yang melirik ke arah si nona.
“Kemari” Panggil Pui Ie sekali lagi. “Jangan takuti Aku tidak akan memukulmu lagi.”
Siau Po tertawa kecil, Perlahan-lahan dia pindah ke samping gadis itu.

Pui Ie segera membisiki Kian Peng dan gadis cilik itu pun menganggukkan kepalanya
sambil tertawa. Kemudian dia membisiki Siau Po.
“Barusan Pui suci mengatakan bahwa dia dan engkau adalah orang sendiri itulah
sebabnya dia berani memukul dan memarahi dirimu, Dia juga berharap selanjutnya kau
jangan mengganggu Lau suko lagi. Dan Pui suci meminta aku menanyakan kepadamu,
apakah kau sudah mengerti maksudnya?”
Siau Po mengawasi Siau kuncu dengan pandangan termangu-mangu.
“Apa sih artinya orang sendiri?” tanyanya dengan berbisik-bisik juga di telinga si
nona yang kulitnya putih serta lembut “Aku tidak mengerti….” Kiam Peng sendiri tidak
tahu apa artinya, karena itulah dia berbisik lagi kepada Pui le untuk menanyakannya.
Mendengar pertanyaan yang diajukan si bocah nakal, Pui le mendelikkan matanya,
tapi dia berbisik juga kepada Kiam Peng.
“Kau katakan kepadanya bahwa aku telah bersumpah dan sumpah itu berlaku untuk
seumur hidup. Karena itu dia tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi”
“Kembali Kiam Peng membisiki Siau Po apa yang dikatakan Pui Ie,
“Baik” sahut Siau Po. “Jadi Nona Pui dengan aku adalah orang sendiri? Lalu,
bagaimana dengan dirimu?”
Wajah Siau kuncu jadi merah padam ditanya sedemikian rupa.
“Fuh” Sebelah tangannya langsung melayang.
Siau Po menghindar dengan gesit, kemudian tertawa dan menoleh kepada Pui Ie.
Dia menganggukkan kepalanya kepada gadis itu.
Pui le membalas tatapannya, merasa agak jengah tapi hatinya senang sekali
wajahnya semakin cantik dan mempesona sementara itu, Lau It Cou hanya
memperhatikan tingkah laku ketiga remaja itu, Dia tidak dapat mendengar pembicaraan
mereka, Duduknya memang agak jauh dan mereka berbicara dengan berbisik-bisik
pula.
Apa yang sempat tertangkap oleh telinganya hanya kata-kata “Lau suko” dan “orang
sendiri”
Rupanya mereka menganggap aku orang luar.,., pikirnya, Hatinya panas sekali.
Mendadak saja rasa cemburu memenuhi dadanya, Dalam pandangannya, Pui le itu
tetap kekasihnya.
“Coba kau tanyakan kepadanya,” bisik Pui le kepada Kiam Peng, “Sebenarnya akal
apa yang digunakan olehnya sehingga Lau suko jadi tidak berdaya?”

Nona Bhok menurut Dia menanyakannya kepada Siau Po. Bocah nakal itu
memperhatikan Pui Ie. Dia mendapat kenyataan gadis itu ingin sekali mengetahui
persoalan yang sebenarnya, Karena melihat nona itu tidak marah lagi, Siau Po pun mau
menjelaskannya, Dia berbisik di telinga Siau kuncu.
“Ketika aku membuang air kecil, aku membelakanginya, Aku menggunakan tangan
kiri untuk menaburkan Bong Hoan Yok pada kue keringnya, sedangkan kue yang
kumakan, kugenggam dengan tangan kananku, karenanya tidak terkena obat bius itu,
Nah, sekarang kau sudah mengerti, bukan?” sahutnya sambil tersenyum.
“Oh, rupanya demikian.” kata Kiam Peng yang langsung menyampaikan penjelasan
Siau Po kepada Pui Ie.
“Dari mana kau mendapatkan obat bius itu?” tanya Kiam Peng kemudian.
“Aku mendapatkannya dari salah seorang siwi di istana.” kata Siau Po menjelaskan
“Justru obat bius itu pula yang digunakan ketika aku menyelamatkan Lau suko
meloloskan diri dari istana.”
Kiam Peng mengangguk sekarang dia benar-benar sudah mengerti. Pada saat itu
hujan masih turun, bahkan semakin deras, Suara di atas genting bising sekali, Karena
itu, Siau Po terpaksa mengeraskan suaranya ketika membisiki si gadis.
It cou masih memperhatikan bagaimana kedua nona itu saling berbisik kemudian
Siau kuncu berbisikan lagi dengan Siau Po. Dia menjadi gelisah sendiri. Akhirnya dia
berjingkrak bangun untuk berdiri, lalu menyenderkan tubuhnya pada sebuah tiang
dengan keras karena perasaannya sengit sekali, sekonyong-konyong terdengar suara
derakan yang keras dari atas genteng, rupanya beberapa genteng jatuh karena
goncangan pada tiang tadi.
“Celaka” teriak Ci Tian Coan, “Kuil ini akan rubuh, cepat keluar”
Semua orang merasa terkejut Tidak terkecuali Lau It Cou sendiri ia memang sudah
mengelak ketika beberapa genteng terjatuh tadi. semuanya langsung melonjak bangun
dan berhamburan lari ke luar dari kuil tua itu.
Belum seberapa jauh mereka berlari, tiba-tiba terdengarlah suara yang bergemuruh
dan memekakkan telinga. Ternyata seluruh sisa bangunan kuil itu ambruk sehingga
tidak berbentuk lagi.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, dari kejauhan terdengar suara samar-samar
derap kaki kuda datang ke arah mereka, Kalau ditilik dari suaranya, kemungkinan
jumlahnya mencapai belasan ekor, dan datangnya dari arah timur laut Bahkan dalam
sekejap mata, belasan penunggang kuda itu pun sudah tiba di hadapan mereka.
Terdengar suara seseorang yang usianya sudah lanjut berkata,

“Sayang sekali Di sini ada sebuah kuil yang cukup besar, tapi sudah roboh.”
“Hai, sahabat” mendadak salah seorang penunggang kuda menegur Ci Tian Coan
yang maaih berkumpul menjadi satu dengan rekan-rekannya karena mereka memang
belum sempat ke mana-mana, “Sedang apa kalian di sini?”
“Barusan kami meneduh di dalam kuil,” sahut Ci Tian Coan. “Apa mau dikata, tibatiba
kuil itu roboh terlanda hujan deras dan angin kencang, Hampir saja kami semua
mati tertimpanya.”
“Kurang ajar benar” Terdengar gerutuan penunggang kuda yang ketiga. “Sudah
hujan besar, tempat meneduh pun tidak ada Lihat saja, kuil yang lainnya pun tidak ada
yang utuh”
“Tio losam, bagaimana sekarang?” Terdengar suara orang ke empat, “Kuil di sini
sudah rubuh semuanya, apakah masih ada tempat meneduh yang lainnya ?”
Tempat untuk meneduh sih ada, tapi tidak berbed jauh dengan kuil-kuil rusak itu.,.”
kata orang tua yang pertama.
“Yang betul, ada atau tidak?” bentak seorang lainnya, Ditilik dari suaranya,
tampaknya orang yang satu ini lebih berangasan.
“Ada. Letaknya di sebelah barat daya, Di dalam lembah.” sahut orang yang di tegur
“Sebenarnya tempat itu merupakan sebuah rumah hantu. Hantu yang menghuni di
dalamnya juga jahat sekali, Tidak ada seorang pun yang berani berdiam di tempat itu
itulah sebabnya aku mengatakan tidak berbeda dengan kuil-kuil rusak itu….”
Mendengar kata-kata si orang tua, beberapa temannya langsung tertawa terbahakbahak.
Beberapa teman yang lain mencaci dan menggerutu.
“Lohu tidak takut setan” teriak seseorang.
“Malah lebih bagus kalau ada hantunya,” teriak seorang lainnya lagi, “Kita tangkap
saja dan kita jadikan hidangan pengisi perut”
“Lekas tunjukkan jalannya Kita toh bukan sedang mandi, untuk apa kita berdiam di
sini lama-lama? Memangnya enak ditimpa air hujan terus-terusan?”
Orang yang dipanggil Tio losam berkata kembali
“Tuan-tuan, aku yang tua tidak menyayangi selembar jiwa ini tetapi sesungguhnya
aku tidak berani Tuan-tuan, aku ingatkan, kita jangan pergi ke tempat itu. Lebih baik kita
menuju utara saja, kurang lebih tiga puluh li lagi ada sebuah pasar….”

“Hujan begini lebat kita harus menempuh perjalanan sejauh tiga puluh li lagi?” bentak
beberapa penunggang kuda serentak “Sudahlah, jangan banyak bacot jumlah kita toh
banyak, mengapa kita harus takut kepada setan?”
“Baiklah kalau begitu” kata Tio losam. “Mari kita pergi ke barat daya, setelah
membelok ditikungan bukit sana, kita memasuki Iembah. Disana hanya ada sebuah
jalan, tidak mungkin kita ke-sasar”
Para penunggang kuda lainnya tidak menunggu kata-katanya selesai, mereka segera
melarikan ku-da-kudanya ke arah yang disebutkan tadi. Tio losam justru sebaliknya. Dia
menunggang keledai, setelah ragu-ragu sejenak, dia memutar balik keledainya ke arah
tenggara, arah mereka datang tadi.
“Gouw jiko, Wi hiocu” panggil Ci Tian Coan, “Bagaimana kita?”
“Menurut aku,.,” sahut Gouw Lip Sin yang langsung menghentikan kata-katanya.
Sebab dia merasa seharusnya Siau Po menentukan keputusan yang harus mereka
ambil, Karena itu dia melanjutkan “Sebaiknya Wi hiocu saja yang mengambil
keputusan….”
Siau Po memang aneh. Dia cerdas dan berani, tetapi terhadap setan atau hantu,
justru paling takut, Mungkin karena usianya masih terlalu muda dan pengaruh sejak
kecil sering ditakut-takuti cerita setan.
“Biar paman Gouw saja yang memutuskan.,.” sahutnya cepat.
“Sebenarnya apa sih yang dinamakan setan?” kata Gouw Lip Sin. “ltu toh hanya
ocehan orang kampung yang pikirannya masih bodoh, Kalau pun benar ada setan, kita
pun tidak perlu takut, Kita pasti bisa melawan”
“Bukan begitu…” kata Siau Po. “Ada setan yang tidak berwujud dan tahu-tahu muncul
di depan kita sehingga kita tidak sempat lari lagi…”
Lau It Cou merasa tidak puas mendengar ucapan Siau Po, saingannya, Karena itu
dia segera menukas dengan suara keras.
“Kita berkecimpung di dalam kang ouw, mana ada yang takut terhadap hantu atau
setan? Mana bisa kita kehujanan terus seperti ini? Bisa-bisa kita semua jatuh sakit.,,.”
Tubuh Kiam Peng menggigil Kebetulan Siau Po melihatnya, pikirannya segera
terbuka.
“Baiklah Mari kita pergi kesana Tapi, aku ingatkan kalian agar berhati-hati apabila
bertemu dengan setan”

Kemudian mereka bertujuh pun berjalan menuju barat daya seperti yang dikatakan
Tio losam tadi, Cuaca masih gelap, agak sukar bagi mereka menemukan jalanan,
Untung saja mereka melihat sesuatu yang berkilauan Rupanya sebuah saluran air.
“Kalau kita tidak berhasil menemukan jalanan.,.” kata Siau Po. “lni yang dinamakan
“Setan menghajar tembok” artinya, setan telah menyesatkan langkah kita.”
“Tapi saluran ini justru menunjukkan jalan,” kata Tian Coan, “Kita tinggal
mengikutinya saja”
“Benar” Sahut Lip Sin yang segera mendahului lainnya.
Mereka bertujuh pun berjalan mengikuti saluran air itu. Meskipun lambat, tapi mereka
toh bisa meneruskan perjalanan.
Tidak lama kemudian, dari arah sebelah kiri yang terdapat banyak pepohonan lebat,
terdengar suara ringkikan kuda. Mereka yakin itulah suara kuda-kuda rombongan tadi.
“Entah siapa orang-orang itu,.,” tanya Tian Coan dalam hatinya, Hatinya diliputi
kecurigaan Tapi ada Gouw Lip Sin bersama kami, meskipun seandainya mereka berniat
jahat, asal kepandaiannya tidak terlalu tinggi, maka tidak perlu terlalu dicemaskan,
Karena itu dia pun jalan terus tanpa mengutarakan perasaannya.
Mereka tetap berjalan terus mengikuti aliran sungai, Tapi sekarang arahnya menuju
dalam hutan, jalanan di sana tidak rata, kadang-kadang tinggi, kadang-kadang rendah.
Begitu melangkah ke dalam lembah, mereka dapat merasakan kegelapan yang
terlebih parah, Tiba-tiba telinga mereka mendengar suara gedoran pintu, Hal ini
membuktikan bahwa di sana memang terdapat rumah penduduk.
Siau Po terkejut sekaligus senang, Dia terkejut bila mengingat tentang setan yang
dikatakan Tio losam tadi. Hatinya senang karena mengetahui adanya rumah untuk
berteduh.
Tiba-tiba Siau Po merasa ada sebuah tangan yang menjamahnya. Tangan yang
halus dan lembut itu langsung menariknya kemudian telinganya mendengar suara yang
merdu.
“Jangan takut” Siau Po segera mengenalinya sebagai suara Pui Ie.
Suara gedoran pintu masih terdengar Hal ini menandakan bahwa pintu masih belum
dibukakan juga, Siau Po dan yang lainnya maju terus. Akhirnya mereka tiba di dekat
rombongan itu. Mungkin karena kesal menunggu, sekarang mereka pun berteriakteriak.
“Lekas bukakan pintu Cepat Kami orang-orang yang kehujanan dan ingin numpang
berteduh.

Teriakan itu tidak mendapat jawaban. Pintu tetap tidak dibukakan, Dari dalam rumah
tidak terdengar suara apa pun. Keadaan di tempat itu tetap sunyi senyap.
“Rupanya rumah itu kosong, Tidak ada penghuninya” teriak seseorang.
Tio losam sudah mengatakan bahwa inilah rumah hantu.” kata seseorang. “Mungkin
dia benar. Siapa yang berani sembarangan masuk ke dalam rumah ini? Mungkin kita
harus melompat lewat tembok apabila ingin masuk ke dalamnya.”
Seiring dengan ucapan itu, tampak dua berkas cahaya berkelebat. Rupanya dua
orang segera melompat naik ke atas tembok pagar sembari menghunus golok masingmasing.
Sesaat kemudian pintu pekarangan sudah terpentang lebar karena di buka oleh
kedua orang tadi, Dengan demikian semua orang yang ada di luar bisa masuk kedaIam.
Begitu masuk, tampaklah sebuah halaman, Ci Tian Coan mengajak rekan-rekannya
masuk ke dalam. Diam-diam dia berpikir.
“Mereka orang-orang dari dunia kang ouw, tapi kalau di tilik dari gerak-geriknya,
kepandaian mereka tidak seberapa tinggi.”
Di hadapan mereka terdapat sebuah pendopo yang luas, Rombongan itu segera
masuk ke dalam. Salah seorang dari penunggang kuda itu membuka buntalannya dan
mengeluarkan batu api kemudian menyulut lilin yang terdapat di atas meja, Dalam
sekejap mata ruangan itu jadi terang. perasaan setiap orang pun terasa lebih lega.
Meja dan kursi yang terdapat dalam ruangan itu terbuat dari kayu cendana, Hal ini
membuktikan bahwa bekas penghuni rumah itu seseorang yang berperasaan halus,
Seleranya untuk perabotan rumah tangga pun cukup tinggi.
Tian Coan memperhatikan keadaan di dalam ruangan itu, dalam hatinya dia berpikir.
“Meja dan kursi-kursi di sini bersih tanpa debu sedikit pun. Lantai pun tersapu bersih.
Mengapa rumah ini tidak ada penghuninya?”
Ternyata bukan hanya Tian Coan saja yang berpikiran demikian Salah seorang dari
penunggang kuda itu pun mengeluarkan seruan heran.
“Rumah ini bersih sekali, pasti ada penghuninya “
“Hai Hai” teriak seseorang lainnya, “Hai Apakah ada orang yang menghuni rumah
ini? Apakah ada orang di dalam?”
Ruangan pendopo itu besar serta tinggi, Suara teriakan orang tersebut langsung
berkumandang ke mana-mana menimbulkan gema, Tapi lambat laun suara itu
menghilang dan kesunyian kembali melanda, Hanya suara air hujan yang berderai jatuh
di atas genteng menimbulkan kebisingan yang mencekam.

Untuk sesaat orang-orang dari rombongan itu berdiam diri dan saling memperhatikan
Mimik wajah mereka menyiratkan perasaan heran.
Kemudian salah satunya yang sudah lanjut usia dan rambutnya penuh uban menegur
Ci Tian Coan
“Tuan-tuan sekalian, apakah kalian orang-orang dunia Kang ouw?”
Ci Tian Coan hanya menggelengkan kepalanya.
“Aku yang rendah she Kho.” sahutnya kemudian “Rombongan kami terdiri dari sanak
saudara dan keluarga, Kami ingin pergi ke Shoa say untuk menjenguk famili, sayangnya
hujan turun dengan deras sehingga kami terpaksa singgah di sini, Bagaimana dengan
tuan-tuan sendiri? siapakah she dan nama tuan besar yang mulia?”
Orang itu menganggukkan kepalanya, tapi dia tidak langsung memberikan jawaban
Diam-diam dia memperhatikan rombongan Ci Tian Coan, Dia mendapat kenyataan
bahwa di antaranya ada beberapa wanita dan ada bocah cilik pula. Dia tidak merasa
curiga sedikit pun. Tapi dia tetap tidak memberikan jawaban dan hanya berkata dengan
suara menggumam.
“Rumah ini aneh sekali”
Kembali terdengar seseorang lainnya berteriak lantang,
“Hai Apakah di dalam rumah ada penghuninya? Atau para penghuninya sudah
mampus semua?”
Tak perlu diragukan lagi kalau orang itu sudah kesal sekali sehingga tegurannya jadi
sengit. Beberapa menit kembali berlalu, tetap saja tidak ada jawaban dari dalam rumah.
Akhirnya orang tua tadi menunjuk enam orangnya seraya memerintahkan.
“Kalian berenam masuk terus sampai ke dalam dan lihat, apakah rumah ini benarbenar
kosong?”
Orang tua itu langsung menghampiri sebuah kursi dan duduk di sana, Enam orang
yang ditunjuknya segera mengiyakan, Mereka mencabut senjatanya masing-masing
lalu terus melangkah ke dalam. Salah satu diantaranya membawa sebatang lilin
sebagai penerangan Ketika mereka berjalan ke dalam, langkah mereka perlahan sekali,
Agaknya mereka bersikap hati-hati dan teliti.
Hal ini juga menunjukkan bahwa mereka sudah siap menghadapi segala
kemungkinan Setelah masuk jauh ke dalam, terdengarlah suara panggilan dan gedoran
dari keenam orang itu, Rupanya mereka memeriksa setiap ruangan dan mencoba
memanggil-manggil untuk meyakinkan bahwa dalam rumah itu tidak ada penghuninya.

Setelah lewat beberapa detik, suara panggilan dan gedoran pun tidak terdengar lagi.
Tentunya keenam orang itu sudah pergi jauh ke belakang.
Sambil menantikan, si orang tua menunjuk kepada empat orang lainnya sambil
memerintahkan.
“Kalian pergi mencari kayu untuk obor, kemudian susul mereka ke dalam”
Mereka menuruti perintah itu, Keempat orang itu segera ke luar melaksanakan tugas
yang di perintahkan itu.
Siau Po dan yang lainnya tidak mengambil tindakan apa-apa. Dia hanya
memperhatikan gerak-gerik rombongan penunggang kuda itu. Mereka duduk berkumpul
di bawah jendela besar ruangan pendopo, semuanya memang sengaja memisahkan diri
dari rombongan tersebut.
Dengan kepergian sepuluh orang tadi, dalam ruangan itu masih tersisa delapan
orang dari rombongan tersebut Mereka semua mengenakan pakaian yang serupa,
Kemungkinan seragam dari suatu perkumpulan tertentu. Mungkin juga para piau su
(pegawai sebuah ekspedisi) yang sedang menjalankan tugas mengawal semacam
barang.
Cukup lama Siau Po berdiam diri, akhirnya dia bertanya juga kepada Pui Ie.
“Cici, coba kau katakan, apakah benar rumah ini berhantu?”
“Kemungkinan memang ada.” sahut gadis itu. “Mana sih ada rumah yang belum
pernah kematian penghuninya?”
Tubuh Siau Po bergidik Dia meringkukkan tubuhnya sedikit padahal dia tidak pernah
takut terhadap apa pun, tetapi mendengar setan, nyalinya langsung ciut.
“Para setan di dunia ini paling benci kepada orang yang menghina sesarang yang
berhati baik dan suka terhadap orang yang benar-benar jahat.
Apalagi bocah tanggung, Sebab kalau orang dewasa hawanya hangat, setan jadi
takut Bahkan segala setan, baik yang mati dibunuh atau pun yang menggantung diri,
jarang berani mendekati orang dewasa” kata Lau It Cou menggunakan kesempatan itu
sebaik-baiknya,..
Diam-diam Pui Ie menjulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Siau Po.
“Manusia takut kepada setan, tapi setan lebih takut lagi kepada manusia, Asal ada
cahaya api atau terang, setan pasti akan lari ketakutan.” katanya menghibur hati Siau
Po.

Kemudian terdengar suara langkah kaki yang riuh, Ternyata ke enam orang yang
pertama pergi tadi sudah muncul kembali Tampak jelas wajah mereka menyiratkan
perasaan yang heran tidak kepalang tanggung, Hampir serentak mereka memberikan
laporannya
“Tidak tampak seorang pun di mana-mana, tapi setiap ruangan terawat dengan baik.”
“Seluruh tempat tidur di alasi sprei dan kelambu, semuanya bersih, Di depan setiap
pembaringan ada sepasang sandal wanita.”
“Di dalam lemari yang ada dalam setiap ruangan, penuh dengan pakaian wanita,
Tidak tampak sepotong pun pakaian pria.”
Tiba-tiba Lau It Cou berteriak dengan nyaring.
“Setan perempuan Setan perempuan Tidak salah lagi rumah ini dihuni oleh setan
perempuan”
Suaranya begitu keras sehingga pandangan semua mata tertuju padanya, tapi tidak
ada seorang pun yang memberikan komentar.
Setelah hening sejenak, si orang tua baru mengajukan pertanyaan.
“Ada barang apa saja yang terdapat di dapur?”
“Piring-piring dan mangkok-mangkok telah tercuci bersih.” sahut salah seorang
bawahannya, “Tetapi tidak ada sebutir beras pun di dalam pendaringan.”
Tepat pada saat itu, dari dalam rumah terdengar suara berisik keempat orang yang
menjadi rombongan kedua tadi, Mereka berteriak-teriak aneh sambil berlari serabutan,
Ketika masuk ke dalam, mereka semua membawa obor yang masih menyala, sekarang
obor mereka telah padam semua.
“Orang mati Banyak orang mati” Terdengar suara teriakan mereka yang jelas,
Wajah mereka menyiratkan perasaan terkejut sekaligus takut.
“Kalian hanya membuat keributan Aku kira kalian telah bertemu dengan lawan yang
tangguh.” tegur si orang tua. “Ternyata kalian hanya melihat orang mati. Kalau hanya
mayat, apa yang perlu di takuti?”
“Bukan takut” sahut orang-orang itu, “Kami hanya merasa aneh.”
“Apanya yang aneh?” tanya orang tua itu kembali “Cepat katakan”

“Di ruang sebelah timur… terdapat banyak leng tong (meja abu orang mati), Di manamana
ada, entah berapa banyak jumlahnya.-.” sahut seseorang.
“Apakah ada jenasah atau peti matinya?” tanya si orang tua kembali.
Dua orang yang terakhir langsung saling lirik.
“Tidak… tidak jelas…” sahut mereka. “Rasanya tidak ada….”
“Kalau begitu, cepat kalian persiapkan obor-obor lagi Kita masuk bersama-sama.
Kemungkinan tempat ini merupakan sebuah rumah abu. Bukan-kah tidak
mengherankan kalau banyak leng tong-nya?”
Cara bicara si orang tua enak sekali, tapi nadanya mengandung sedikit
kebimbangan. Rupanya dia sendiri ikut terpengaruh bahwa tempat itu bukan rumah
sembarangan.
Orang-orang dari rombongan itu segera bekerja, Tidak sulit bagi mereka untuk
membuat obor, sebab mereka tinggal mematahkan kaki meja dan kursi, Dalam sekejap
mata pekerjaan mereka pun selesai Beramai-ramai mereka masuk ke dalam.
“Biar aku ikut pergi melihat” kata Tian Coan “Gouw toako, harap kalian tunggu dulu
di sini” selesai berkata, Ci Tian Coan segera menyusul orang-orang rombongan itu.
“Suhu,” tanya Go Pi kepada gurunya. “Siapakah orang-orang dari rombongan itu?”
“Entahlah” sahut Gouw Lip Sin. “Aku tidak mengenali atau membedakan orangorang
dari golongan mana mereka itu. Kalau ditilik dari aksen-nya, tampaknya, mereka
orang-orang dari Ki barat. Tampang mereka juga tidak mirip dengan pembesar sipil
Mungkinkah mereka rombongan orang-orang yang sering menyelundupkan barang
gelap? Tapi mereka semua berkosong tangan Tidak ada yang membawa apa pun.”
“Rombongan itu bukan orang-orang yang perlu diperhatikan secara istimewa.”
terdengar suara Lau It Cou menukas, “Yang perlu dikhawatirkan justru para hantu
perempuan di rumah ini. Mereka tentunya lihay-lihay sekali.”
Pemuda ini selalu menyebut-nyebut soal setan, seakan sengaja ingin menimbulkan
perang dingin dengan Siau Po. Rupanya dia masih merasa panas dan mendendam
dalam hati.
Sembari berbicara, Lau It Cou melirik ke arah si bocah sambil

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s