“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 39

kata Siau Po, “Aku pernah melihat kitab milik thayhou serta
dua jilid lainnya yang disita dari rumah Go Pay, Semua kita itu berlainan warnanya. Ada
yang bertali putih, ada pula yang bersulam tepian merah.”
“Tentang tali atau sulamannya yang warnanya berbeda-beda, aku tidak tahu,” kata
To kionggo, “Aku sendiri belum pernah melihatnya.”
Sementara itu, Siau Po berpikir.
“Aku telah memiliki enam jilid kitab itu, berarti masih kurang dua jilid Iagi, Entah apa
keistimewaan kitab itu? Tentunya bibi To mengetahui rahasia itu. Aku harus mencari

akal untuk menanyakannya, Tapi harus tanpa dicurigai atau diketahui maksudku yang
sebenarnya….” Karena itu dia segera berlagak pilon dan berkata:
“Oh, rupanya nenek guru memuja pousat dan Sang Buddha Kitab dari istana itu
tentu luar biasa sekali, kemungkinan hurufnya ditulis dengan air emas”
“Bukan” sahut To kionggo, “Keponakanku yang baik, biarlah aku memberitahukan
kepadamu, Tapi ini merupakan sebuah rahasia besar jangan sekali-sekali kau
membocorkannya… Ada baiknya kita mengangkat sumpah.”
Siau Po menurut Dia segera mengucapkan sumpah. Baginya bersumpah merupakan
makanan sehari-hari, Sekarang bersumpah, besok dia sudah melupakannya, Dia juga
tidak sudi memberitahukan bahwa dia sudah mempunyai enam jilid kitab Si Cap Ji cinkeng,
Terpaksa dia berbohong, sekalipun terhadap bibi yang menyayanginya itu.
Beginilah bunyi sumpahnya: “Raja Langit dan Ratu Bumi, kalau tecu, Wi Siau-po,
membocorkan rahasia kitab Si Cap Ji cin-keng, biarlah tecu disambar geledek atau
ditikam ribuan kali dan mati tersiksa seperti kakak seperguruannya si kura-kura
thayhou, malah lebih menderita sepuluh kali lipat”
To kionggo tertawa.
“Sumpah ini cara yang baru dan aneh” katanya, “Nah Ketika bangsa Tatcu
menyerbu masuk wilayah perbatasan, dia mengakui secara terang-terangan bahwa dia
akan menyerbu lebih dalam sehingga berhasil merampas kerajaan Beng yang maha
besar, sebenarnya jumlah mereka kecil dan mulanya mereka sudah merasa puas dapat
menduduki tanah perbatasan, itulah sebabnya mula-mula mereka hanya main rampas
dan merampok harta benda untuk dibawa ke Kwan gwa. (Luar perbatasan), Tatkala itu,
yang berkuasa dalam pemerintahan Ceng adalah pangeran Sit Cin ong, pamannya
kaisar Sun Ti. Dialah yang mengatur tempat persembunyian harta rampasan itu.
Tempat penyimpanannya sangat rahasia sekali dan dia membuat petanya yang terbagi
menjadi delapan bagian, Setiap Ki cu (pemimpin bendera) dari Pat ki (delapan bendera)
masing-masing menyimpan satu helai.”
“Oh Aku mengerti sekarang” seru Siau Po yang tiba-tiba berdiri namun terjungkal
jatuh kembali karena dia lupa kalau kereta sedang bergerak “Tentunya gambar peta itu
disimpan dalam delapa jilid kitab Si Cap Ji cin-keng.”
“Rasanya memang demikian, tapi hal yang sebenarnya hanya diketahui oleh setiap
Ki cu dari Pat ki,” kata To kionggo, “Jangan kata kita bangsa Han, mungkin pangeranpangeran
dan menteri-menteri bangsa Boanciu sendiri jarang yang mengetahuinya,
Menurut penuturan guruku, gunung di mana harta karun itu disimpan disebut Liong meh
(nadi naga)-nya bangsa itu, Menurutnya pula, bangsa Tatcu berhasil menduduki
Tionggoan karena mengandalkan “nadi naga” itu….”
“Sebenarnya, apa artinya Liong meh?” tanya Siau Po.

“Liong meh itu artinya hampir sama dengan Hongsui, atau kedudukan tanah yang
bagus, untuk membangun rumah, pemakaman dan sebagainya,” kata To kionggo
menjelaskan “Leluhur bangsa Tatcu dimakamkan di gunung itu, dan menurut orang
pandai, anak cucunya akan bangkit, makmur dan berhasil menduduki Tionggoan,
Guruku mengatakan apabila kita bisa memutuskan nadi naga itu, kemudian kita gali dan
bongkar kuburan leluhur bangsa Tatcu itu, bukan saja raja bangsa itu tidak bisa
memegang kekuasaan lagi, bahkan seluruhnya akan terbinasa di tangan kita, Demikian
pentingnya gunung itu sehingga nenek guru serta guruku sudah berusaha mencarinya
selama puluhan tahun. Katanya, rahasia gunung itu ada dalam kitab Si Cap Ji cinkeng.”
“Bibi,” Siau Po masih kurang mengerti “Kalau memang hal itu merupakan rahasia
besar bangsa Tatcu, bagaimana nenek guru serta guru bibi bisa mengetahuinya?”
“Terlalu panjang untuk menceritakannya,” kata To kionggo, “Perlu diketahui bahwa
nenek guruku adalah seorang bocah perempuan bangsa Han yang diculik seorang Ki
cu dari bendera biru sulam bangsa Boan. Mereka merasa bingung karena mereka
mendapatkan kenyataan Tionggoan begitu luas, rakyatnya banyak dan tanahnya indah.
Mereka senang sekaligus khawatir Banyak hari-hari yang mereka lewati dengan
mengadakan rapat untuk membicarakan tindakan mereka selanjutnya, dalam rapat itu
tidak jarang mereka bertengkar karena berselisih pendapat.”
“Mengapa?”
“Di antara mereka ada beberapa yang mengajukan usul untuk merebut Tionggoan,
tapi ada sebagian yang bimbang dan cemas, Hal ini disebabkan saking banyaknya
penduduk bangsa Han. Apabila bangsa Han memberontak ibarat seratus orang
melawan satu. Mana mungkin orang-orang dari Bendera itu dapat melawannya? Dalam
rapat, ada pula yang mengusulkan melakukan perampokan habis-habisan dan
membawa hasilnya ke asal mereka. Akhirnya Sit Ceng ong yang mengambil keputusan
Dia menyatakan untuk menggunakan cara “Sambil menyelam minum air”, yakni
merampas sekaligus menduduki Tionggoan, seandainya rakyat Han memberontak,
mereka bisa mundur keluar dari Sanhay kwan, tanah mereka sendiri.”
“Kalau begitu,” kata Siau Po. “Sejak dulu kala bangsa Tatcu sudah agak takut
menghadapi bangsa Han kita”
Yang dimaksud dengan bangsa Tatcu ialah bangsa Boanciu (Mancu), Dan Boan
Ceng merupakan panggilan untuk kerajaan Ceng. sedangkan bangsa Han adalah
bangsa Cina asli, penduduk yang dilahirkan di Tionggoan, Bangsa Cina terdiri dari
berbagai suku, termasuk suku Mongolia, Suku Mongolia tinggal di Mongol, sebab pada
saat itu Mongol luar sudah terpisah dari daratan Cina (Kalau zaman sekarang kita
katakan sudah merdeka dan membangun negara sendiri). Meskipun suku Mongol dan
Boanciu pernah menyerbu serta merampas negara Tionggoan dan bahkan menduduki
nya, tapi akhirnya mereka sendiri terpengaruh oleh budaya Han dan semua menjadi
bangsa Cina pada akhirnya.

To kionggo melanjutkan ceritanya.
“Bagaimana tidak takut? Bahkan sampai sekarang mereka masih juga merasa takut,
Kecacatan kita justru karena kita tidak bersatu padu, kita terpecah belah, Nah,
keponakanku, raja Tatcu sangat menyayangimu dan menyukaimu. Kau harus mencari
jalan untuk mendapatkan kitab Si Cap Ji cin-keng itu. Kalau kau berhasil, kita bisa
mencari harta karun itu dan digunakan untuk biaya perbekalan pasukan perang dan
merobohkan kerajaan Ceng, Dengan demikian kita bisa membangun kembali kerajaan
Beng kita.”
Siau Po mengangguk walaupun perhatiannya tidak tertarik sama sekali tentang
memutuskan nadi naga atau memberontak melawan pemerintah Ceng, Yang membuat
perhatiannya tertarik, justru harta karun yang disimpan dalam gunung itu. Semangatnya
jadi terbangun membayangkan hal itu.
“Bibi,” tanya Siau Po. “Benarkah rahasia letak gunung Liong meh itu ada dalam kitab
Si Cap Ji cin-keng?”
“Mengenai pertanyaanmu itu, aku hanya dapat memberi penjelasan begini,” kata To
kionggo, “Menurut keterangan nenek guruku, setelah mengadakan rapat selama
beberapa hari berturut-turut, Sit Ceng-ing pulang ke istananya dengan membawa
sebuah buntalan yang disimpannya dengan hati-hati sekali, Pada suatu hari, setelah
minum arak sampai mabuk, Sit Ceng ong berkata kepada istri mudanya, apabila dia
wafat nanti, buntalan itu harus diserahkan kepada putera istri mudanya itu dan jangan
sekali-sekali diserahkan kepada putra Toa hokcin (istri tua).
Tentu saja istri mudanya itu menjadi tidak senang. Apa gunanya beberapa jilid kitab
agama Buddha? Demikian pikirnya, Tapi Sit Ceng ong menjelaskan bahwa beberapa
kitab itu justru merupakan titik penting dalam kehidupan Pat ki mereka, itulah sebabnya
kitab-kitab itu lebih berharga dari apa pun.
Secara ringkas pangeran itu menjelaskan lebih jauh tentang riwayat kitab itu, pada
saat itulah nenek guruku mencuri dengar pembicaraan mereka dari luar jendela
sehingga dia mengetahui betapa pentingnya kitab itu.
Ketika itu ilmu silat nenekku sudah tinggi sekali dan guruku juga sudah beberapa
tahun belajar dengannya, Karena itulah nenek guruku menyuruh guruku masuk ke
dalam istana dan menyamar sebagai dayang, Tidak lama setelah guruku masuk ke
dalam istana, keluarlah peraturan baru yang melarang keras para thay-kam dan para
dayang sembarangan keluar masuk istana.
Dengan demikian, guruku itu bahkan belum pernah melihat wajah, itulah sebabnya
beliau mendapat kesulitan untuk mencari kitab tersebut. Mula-mula guruku senang
kepadaku ketika aku menceritakan pengalamanku bersama Tiang kongcu, akhirnya
beliau menerima aku sebagai murid dan mengajarkan ilmu silat kepadaku.”

“Pantaslah thayhou bertekad mendapatkan kitab-kitab itu,” kata Siau Po. “Dia orang
Boanciu, jadi tidak mungkin dia memutuskan nadi naga itu, Tentu dia hanya berminat
pada harta karun yang tersimpan di dalamnya, Yang aneh, dia kan ibu suri Apa yang
diinginkannya pasti dapat dimilikinya Mengapa dia masih menginginkan harta itu?”
“Mungkin di dalam gunung itu ada sesuatu yang aneh,” kata To kionggo, Tentang hal
itu, nenekku juga tidak tahu apa-apa. Kemudian nenek guruku itu berusaha mencuri
kitab dari tangan Sit Ceng ong, sungguh malang ia kepergok dan terkepung. Dalam
pertempuran dia kehabisan tenaga dan dibunuh oleh musuh. Tidak lama kemudian,
guruku di istana juga jatuh sakit dan menutup mata, sebelum menghembuskan nafas
terakhir, guruku berpesan bahwa bila aku bekerja seorang diri, tentu sulit bagi diriku,
sebaiknya aku mengambil seorang murid yang dapat kuandalkan Dengan demikian,
turun temurun kitab itu jangan dilupakan, dan harus berusaha terus sampai
mendapatkannya”
“Benar” Siau Po jadi semakin bersemangat “Kalau rahasia itu lenyap, lenyap pula
harta yang demikian banyaknya Sungguh harus disayangkan” To Hong-eng
tersenyum.
“Hilang harta tidak menjadi masalah,” katanya, “Yang penting, ialah jangan sampai
bangsa Tatcu menduduki negara kita untuk selama-Iamanya. inilah yang membuat kami
bangsa Han jadi penasaran”
“Kata-kata bibi memang benar” sahut Siau Po, tapi dalam hatinya dia justru berpikir
“Katanya harta itu jumlahnya besar sekali. Kalau harta itu tidak ditemukan dan
digunakan, barulah merupakan penyesalan”
Siau Po masih muda sekati, dia juga buta huruf, Jadi pandangan hidupnya lain
dengan orang banyak Sekian lama dia tinggal di istana, dia banyak melihat dan
mendengar Tentang keganasan bangsa Boanciu yang membunuh rakyat Han dan
merampas wilayah Tionggoan, Dia hanya mendengarnya dari cerita, semua itu tidak
dialaminya sendiri.
Sebaliknya, selama berada dalam istana kerajaan Ceng, kecuali thayhou yang
sangat membencinya, semua orang memperlakukannya dengan baik dan hormat
Bahkan kaisar Kong Hi sendiri memandangnya bagai saudara, Dengan kata lain, dia
tidak melihat atau merasakan kejahatan bangsa Boanciu.
Para pembesar tinggi dan menteri-menteri mungkin memandang padanya karena dia
adalah orang kesayangan raja, tapi biar bagaimana dia merasakan keramahan mereka,
Soal permusuhan dan dendam negara, merupakan urusan yang tidak menarik baginya .
To kionggo tidak tahu apa yang dipikirkan Siau Po, atau apa yang akan ia lakukan.
“Selama tinggal di dalam istana bertahun-tahun, aku tidak pernah mempunyai murid.
Banyak dayang muda yang aku lihat, tapi biasanya mereka bodoh, tidak cerdas dan
genit Apa yang mereka harapkan hanya disuka dan disayang oleh raja, malah ada yang

berkhayal akan diangkat menjadi selir itulah sebabnya pernah timbul rasa khawatir
dalam hati ini bahwa sampai akhir hidup aku tidak akan mendapat seorang murid pun.
Dengan demikian, bila aku mati, rahasia ini akan ikut masuk dalam kuburanku dan
bangsa Tatcu akan kekal menguasai Tionggoan, Kalau hal ini sampai terjadi, bagi
nenek guru dan guruku di alam baka, aku merupakan orang yang paling berdosa,
Arwah mereka tidak akan tenang untuk selamanya Keponakanku, di luar dugaan, kita
dapat bertemu, Hal inilah yang membuat hatiku lega dan gembira”
“Aku juga gembira, bibi Meskipun aku tidak begitu tertarik dengan urusan kitab itu,”
sahut Siau Po.
“Kenapa kau merasa gembira?”
“Karena aku pun tidak mempunyai orang yang dekat denganku,” sahut Siau Po.
“Memang ibuku masih hidup, tapi sifat kami berlainan dan jarak antara kami juga jauh
sekali, Masih ada guruku, tapi beliau sangat sibuk sehingga sukar menemuinya, Tapi,
sekarang aku mempunyai orang yang dekat denganku, yaitu bibi, Tentu saja aku
merasa gembira sekali.”
Senang sekali hati To kionggo mendengar ucapan keponakannya yang pandai bicara
ini. Bibirnya menyunggingkan seulas senyuman.
“Sejak kecil aku tinggal di istana, meskipun aku mempunyai guru yang mengajarkan
aku ilmu silat tapi mengenai urusan dunia kangouw, boleh bilang pengetahuanku sedikit
sekali,” katanya, “Tadi aku melihat ada dua buah kitab dalam bungkusanmu isinya ilmu
silat, tapi alirannya berbeda dan agak bertentangan Apakah itu ajaran dari gurumu?”
Siau Po menggelengkan kepalanya. “Bukan dua-duanya,” sahutnya, “Yang satu
memang kitab yang diberikan oleh guruku, tapi yang satu lagi milik Hay kongkong, si
kura-kura tua”
“Siapakah gurumu?” tanya To Hong-eng.
“Guruku merupakan Cong tocu dari Tian-te hwe,” sahut Siau Po terus terang. “Beliau
she Tan dan namanya Kin Lam.”
Nama Tan Kin-lam sudah terkenal sekali, tapi bagi To Hong-eng yang separuh
hidupnya dilewatkan dalam istana, baru pertama kali inilah dia mendengarnya.
“Kalau gurumu adalah seorang ketua dari perkumpulan Tian-te hwe, ilmunya pasti
tinggi sekali “
“Memang Tapi, sayangnya aku belum lama mengikutinya,” sahut Siau Po. “Masih
banyak pelajarannya yang belum aku pahami dan setiap kali kami bertemu, waktunya
selalu terlalu singkat Bagaimana kalau bibi To mengajarkan aku beberapa jurus ilmu?”
To Hong-eng tampak bimbang.

“Kalau asalnya kau belum pernah belajar ilmu silat, tentu aku akan mengajarkannya,”
kata To kionggo, “Bahkan aku bisa mengangkat kau sebagai murid. Tapi kau sudah
mempunyai guru, aku khawatir aliran ilmu kami berbeda, hal itu malah akan
membahayakan kesehatanmu. Coba kau bilang, bagaimana ilmu silat gurumu kalau
dibandingkan dengan kepandaianku? Siapa yang lebih hebat?”
Siau Po hanya berpura-pura saja meminta To Hong-eng mengajarinya ilmu silat, dia
hanya ingin membuat hati wanita itu menjadi senang, Coba kalau sang bibi mau
mengajarkannya, tentu dia akan mencari berbagai alasan untuk menolaknya, Karena
dia sadar, dengan mempelajari ilmu silat di bawah bimbingan bibinya itu, pasti gagailah
dia berangkat ke Ngo Tay san.
Siau Po memang senang sekali berpesiar kemana-mana. Dengan demikian
berkuranglah minatnya pada ilmu silat, waktunya juga tidak terbagi.
“Bibi,” katanya kemudian. “Di hadapan bibi, aku tidak berani berbohong….”
“Anak kecil memang tidak boleh berbohong,” sahut To kionggo,
“Urusannya begini,” kata Siau Po. “Pernah aku menyaksikan guruku bertarung
melawan seseoran yang kepandaiannya tinggi sekali, Dalam tiga jurus saja, lawannya
itu sudah tidak berkutik, Karena itu aku.,, rasa bibi bukan tandingannya… guruku itu.,.,
To Hong-eng tersenyum
“Benar” katanya, “Aku percaya bahwa aku masih kalah jauh. Ketika melawan lakilaki
yang menyamar sebagai dayang dalam kamar thayhou tempo hari, kalau kau tidak
membantu aku menyerangnya dari belakang, mungkin sekarang sudah tamat wayat
hidupku Gurumu itu, tidak mungkin begitu tidak berguna seperti diriku”
“Tapi, dayang palsu itu memang lihay sekali” kata Siau Po. “Setiap kali mengingat
dia, sampai sekarang aku masih takut….”
To kionggo menatap Siau Po dalam-dalam, kemudian dia menarik nafas panjang.
“Anak, ilmu silatmu sekarang masih rendah sekali, Kau harus banyak berlatih
Dengan kepandaianmu ini, untuk menjadi thay-kam memang sudah cukup, malah
mungkin berlebihan Tapi bila kau melakukan perjalanan di dunia kangouw, masih jauh
dari kurang, Kau tidak ada bedanya dengan orang yang tidak mengerti ilmu silat sama
sekali…”
Wajah Siau Po jadi merah padam mendengar ucapan bibinya yang hebat itu.
“lya.,.” sahutnya lirih, Dalam hatinya dia justru menggerutu “Memang kepandaianku
belum berarti, tapi aku tidak mengerti mengapa dikatakan sama dengan orang yang
tidak mengerti ilmu silat sama sekali?”

“Kalau kau tidak mengerti ilmu silat sama sekali, mungkin malah lebih baik daripada
kepalang tanggung seperti sekarang ini,” kata To kionggo. “Sebab musuh tidak akan
sembarangan membunuh orang yang tidak berdaya, Tapi kalau kau mengerti, pasti
musuh akan berjaga-jaga terhadap dirimu. Sekali mereka turun tangan, pasti tidak akan
bermurah hati, Nah, kalau begitu bukankah kau menghadapi ancaman bahaya yang
lebih besar?”
“Andaikata kita singgah di penginapan gelap dan bertemu dengan penjahat kelas teri,
bagaimana?” tanya Siau Po.
Hong Eng terdiam. Dia tidak langsung menjawab, Setelah merenung sejenak, dia
baru menganggukkan kepalanya,
“Kau benar Di dalam dunia kangouw, memang lebih banyak orang yang
kepandaiannya tidak berarti ketimbang yang benar-benar lihay”
To Hong-eng tampaknya gelisah terus, Kemudian dia menunjuk ke arah sebuah
pohon besar di sebelah depan.
“Mari kita istirahat di sana Nanti kita baru melanjutkan perjalanan kembali,” katanya,
“Kuda kita juga perlu makan rumput” Dia menjalankan keretanya ke bawah pohon itu
kemudian dihentikan di sana.
Keduanya melompat turun dari kereta dan duduk berdampingan, kembali Hong Eng
berdiam diri, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.
Siau Po juga diam saja, Dia heran melihat sikap bibinya sehingga ia bertanya-tanya
dalam hati, apa kiranya yang menyebabkan wanita itu gelisah terus.
Lewat beberapa saat, tiba-tiba dia bertanya.
“Apakah dia berbicara?”
Siau Po semakin bingung. Dia tidak mengertii apa maksud pertanyaan itu sehingga
dia menoleh kepada bibinya, Untuk sesaat mereka jadi saling pandang, sedangkan
yang mengajukan pertanyaan juga tidak memberikan penjelasan apa-apa.
“Apakah kau mendengar dia berbicara?” tanya To Hong-eng kembali setelah mereka
tertegun sesaat, “Apakah kau melihat gerakan bibirnya?”
Mata Siau Po masih memandang terpaku, Dari heran, hatinya mulai merasa takut.
Sikap bibinya aneh sekali Mungkinkah dia terpengaruh roh jahat?
“Bibi kok jadi aneh?” pikirnya kemudian “Apakah dia terkena pengaruh jahat atau
melihat hantu?” Saking bingungnya, dia langsung bertanya. “Bibi, apakah kau melihat
seseorang?”

“Siapa?” sang bibi malah balik bertanya, “Itu… si dayang palsu… laki-laki yang
menyamar sebagai perempuan….”
Tanpa dapat ditahan lagi, rasa takut melanda hati Siau Po.
“Apakah kau melihat dayang palsu itu?” tanyanya dengan suara bergetar Matanya
celingak-celinguk kesana kemari, kemudian kembali menatap bibinya, “Di mana dia?”
Mendapat pertanyaan itu, To Hong-eng seperti tersentak sadar sikapnya mirip orang
yang baru terbangun dari mimpi. Dia langsung tersenyum.
“Aku menanyakan engkau tentang kejadian malam itu ketika berada di kamar tidur
thayhou,” katanya menjelaskan “Ketika aku bertarung dengannya, apakah kau pernah
melihatnya membuka mulut atau berbicara?”
Siau Po menarik nafas lega.
“Oh Rupanya bibi menanyakan peristiwa malam itu?” sahutnya, “Bibf menanyakan
apakah dia bersuara atau tidak? Aku tidak mendengarnya.”
Hong Eng berdiam diri kembali, Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya,
“llmu silatku terpaut jauh dengannya, Untuk menghadapi aku, tidak perlu dia
menggunakan ilmu gaib,” katanya.
Siau Po semakin bingung.
“Sudahlah, bibi, Tidak usah bibi pikirkan lagi tentang dia.,.” kata Siau Po. “Bukankah
kita sudah berhasil membunuhnya? Dia tidak akan hidup kembali”
“Ya… orang itu sudah kita bunuh dan tidak bisa hidup kembali” kata To kionggo
mengulangi Tampaknya dia ingin membuat hatinya lega, tapi kenyataannya gagah. Dia
tetap terlihat gelisah dan khawatir walaupun dia berusaha menutupinya.
“Oh, bibi To…” kata Siau Po dalam hatinya, “Kau begitu gagah, tapi takut setan, Baru
bunuh satu orang saja, kau sudah gelisah tidak karuan, Kenapa sejak tadi kau terus
termangu-mangu? Lagipula, aku yang membunuh dayang palsu itu, bukan kau Kau
memang berusaha membunuh thayhou, tapi nyatanya kau gagal, Sampai sekarang dia
masi hidup”
“Kalau seseorang sudah mati, dia sudah tidak berarti lagi, bukan?” tiba-tiba To Hongeng
ber tanya kembali,
“Betul” sahut Siau Po. “Meskipun dia sudah jadi setan, kita juga tidak perlu takut”
“Apa sih setan?” kata Hong Eng. “Aku hanya mengkhawatirkan muridnya Sin-Liong
kaucu itu. Dia… bukankah thayhou menyebutnya suheng? Tidak Kalau melihat gerakTiraikasih
website http://cerita-silat.co.cc/
geriknya, dia tidak mirip dengan orang yang sedang bersilat. Ya, bukan Apakah benar
ketika bertarung denganku, mulutnya tidak bergerak-gerak? Benar atau tidak?”
Pertanyaan Hong Eng seakan diajukan pada dirinya sendiri suaranya bergetar
Tampaknya dia ingin mendapat kepastian dari Siau Po agar dugaannya tidak keliru.
Sebaliknya dengan Siau Po, kepandaiannya memang masih rendah, dia tidak
mengetahui ilmu apakah yang digunakan dayang palsu itu ketika menghadapi bibinya
ini. Ketika memberi jawaban, suaranya sengaja diperkeras.
“Jangan khawatir, bibi,” katanya, “Mengenai pertanyaan bibi, aku bisa membenarkan.
Memang cara berkelahi orang itu aneh sekali, Ketika bertarung dengan bibi, gerakgeriknya
tidak mirip orang yang mengerahkan ilmu silat. Dia juga tidak mengucapkan
sepatah kata pun. Bibi, sebetulnya benda apakah Sin Liong kaucu itu?”
Bocah ini memang luar biasa sekali, Kalau bicara, dia tidak pernah memikirkan katakata
yang baik atau tidak, tidak perduli apakah ucapannya aneh atau tidak bagi orang
yang mendengarnya, Tapi kadang-kadang, dia bisa juga bicara sopan dan penuh
hormat.
“Anak, kau belum tahu siapa itu Sin Liong kaucu” kata To kionggo, “Kepandaiannya
tinggi dan bermacam ragam. Baik ilmu silat maupun ilmu gaib semua dikuasainya
dengan baik, Oh, anak… sekalipun di belakangnya, kau tidak boleh sembarangan
bicara Dengan kata lain, jangan sekali-sekali berbuat kesalahan terhadapnya, Kaucu
ini mempunyai banyak murid dan juga cucu murid. Sumber beritanya luas dan gosip
apa pun cepat sampai ke telinganya, Kalau dia sampai mendengar kata-katamu tadi,
hidupmu akan segera menjadi kenangan masa lalu”
Siau Po merasa heran, Mengapa wanita segagah ini bisa demikian takut terhadap
seorang kepala sekte agama yang diberi nama Naga Sakti? Mengapa selain bicara,
matanya juga melirik kesana kemari? Dia seakan khawatir kaucu itu ada di
belakangnya.
“Benarkah Sin Liong kaucu itu demikian lihay?” tanya Siau Po saking penasarannya,
“Mungkinkan kekuasaannya melebihi seorang raja?”
“Kekuasaannya sih tidak melebihi seorang raja,” sahut To kionggo, “Tetapi
pengaruhnya lebih luas dan selalu tepat. Bersalah terhadap raja, orang masih bisa
melarikan diri jauh-jauh atau bersembunyi. Dengan demikian belum tentu kena dibekuk
tapi kalau bersalah terhadap Sin Liong kaucu, meskipun kau lari sampai ke ujung dunia,
tetap saja tidak bisa melepaskan diri dari maut”
“Kalau demikian, sudah tentu Sin-liong kaucu lebih banyak anggota dan
kekuasaannya lebih besar dari Tian-te hwe kami”
“Secara keseluruhannya bukan begitu, anak,” kata To kionggo, “Tujuan Sin-liong kau
juga berbeda dengan cita-cita Tian-te hwe. Tian-te hwe ingin menghancurkan kerajaan

Boan untuk membangun kembali kerajaan Beng, Cita-cita itu luhur dan suci serta
dihargai oleh orang banyak, jauh sekali bedanya dengan Sin-Liong kau”
“Bukankah bibi tadi bermaksud mengatakan bahwa setiap orang dunia kangouw
pasti merasa takut terhadap Sin-Liong kau?” tanya Siau Po setengah memaksa.
To Hong-eng merenung sejenak sebelum menjawab. “Sebenarnya mengenai urusan
dunia kangouw, pengetahuanku terlalu sedikit,” sahutnya kemudian “Apa yang aku
ketahui, kebanyakan hanya mendengar dari guruku saja. Dan setahuku, nenek guruku
yang demikian lihay saja, terpaksa menelan pil pahit dengan dikalahkan oleh Sin-Liong
kaucu”
“Kurang ajar” teriak Siau Po emosi, “Kalau begitu, Sin Liong kaucu adalah musuh
kita, mengapa kita harus takut kepada nya ?”
To Hong-eng menggelengkan kepalanya.
“Menurut keterangan guruku,” katanya dengan perlahan dan sabar “Kepandaian Sin
Liong kaucu itu memang luar biasa sekali, di dalamnya terkandung banyak perubahan
yang tidak terduga. Apalagi dia juga lihay dalam ilmu gaib, Mereka pandai membaca
mantra dan bila hal itu dilakukan ketika berhadapan dengan musuh, maka lawannya itu
akan terpengaruh dan hatinya terguncang serta takut Sebaliknya, mereka sendiri akan
semakin kuat dan gagah, Ketika nenek guru berusaha mencuri kitab Si Cap Ji cin-keng,
beliau tertangkap basah dan bertarung melawan salah satu murid Sin Liong kaucu,
Mula-mula nenek guru sudah menang di atas angin, namun tiba-tiba mulut orang itu
berkomat kamit membaca mantra dan serangan-serangan nenek guru pun jadi semakin
mengendur. Dalam satu kesempatan, perutnya sempat terhajar oleh musuh yang mana
mengakibatkan kematiannya. sebenarnya pada saat itu guruku mendampingi nenek
guru sehingga dia dapat menyaksikan segalanya dengan jelas.
Guruku gusar sekali melihat kenyataan tersebut Tanpa berpikir panjang lagi dia
menerjang ke depan dengan niat membalaskan sakit hati nenek guruku itu, Tapi tibatiba
saja lututnya menjadi lemas dan pikirannya berubah, beliau malah menyembah dan
menyerah kalah, Setiap kali memikirkan hal itu, guru merasa malu sekali dan juga takut
Karena itulah beliau berpesan, jangan sekali-sekali aku bertarung dengan orang-orang
dari Sin Liong kau sebab berbahaya sekali”
Siau Po masih penasaran, Diam-diam dia ber pikir dalam hati.
“Gurumu seorang wanita, tentu saja nyalinya kecil sekali, Dasar perempuan Mudah
merasa takut lalu tunduk dan menyerah kalah — Kemudian dia bertanya. “Bibi, apa
yang dijampi oleh musuh nenek guru itu? Apakah guru bibi mendengarnya?”
“Beliau tidak mendengarnya,” sahut To Hong-eng. “Mengenai dayang palsu itu, aku
curiga dia adalah murid Sin Liong kaucu. itulah aku bertanya kcpadamu, apakah
mulutnya bergerak-gerak ketika bertarung melawan aku?”

“Oh, begitu rupanya” kata Siau Po yang kemudian segera mengingat kejadian
malam itu. sesaat dia merenung, akhirnya dia menjawab, “Tidak, bibi, Aku tidak melihat
atau mendengar apa-apa. Apakah bibi mendengarnya?”
“Kepandaian dayang palsu itu jauh lebih tinggi daripadaku,” sahut To Hong-eng. “Aku
kesibukan melayaninya sehingga tidak memperhatikan apakah mulutnya bergerakgerak
atau tidak, Beberapa kali aku menyerangnya dengan jurus mematikan, tetapi baru
dimulai hatiku sudah merasa sangsi dan takut Aku merasa kepandaian lawan terlalu
tinggi dan aku tidak sebanding dengannya, Rasanya ingin sekali menekuk lutut dan
menyerah saja. Mendapat pikiran seperti itu, gerak-gerikku jadi lamban dan otomatis
seranganku selalu gagal di tengah jalan. Belakangan aku menduga bahwa dayang
palsu itu pandai membaca mantera mempengaruhi lawan, Tapi aneh ilmunya toh lebih
tinggi daripada aku, mengapa dia harus menggunakan ilmu gaib?”
Siau Po mengangguk.
“Bibi,” katanya, “Bolehkah bibi memberitahukan kepadaku, sejak mempelajari ilmu
silat, seringkah bibi menghadapi lawan? Apakah bibi pernah membunuh orang? Kalau
pernah, berapa orang lawan yang pernah bibi bunuh sebelumnya?”
To Hong-eng menggelengkan kepalanya.
“Selama ini aku belum pernah bertarung dengan siapa pun, apalagi membunuh
orang?” sahutnya. “Sedangkan waktu itu saja aku melakukannya saking terpaksa,
karena harus membela diri”
“Kalau begitu, inilah sebab kegelisahan bibi” kata Siau Po. “Sebaiknya lain kali bibi
bunuh lagi beberapa orang jahat agar bibi terbiasa dan tidak perlu khawatir dan waswas
seperti sekarang ini”
Bagian 30
“Mungkin ucapanmu benar, nak,” sahut To kionggo, “Tapi, kalau keadaan tidak
terpaksa lagi, sebetulnya aku tidak suka berkelahi dengan orang, apalagi
membunuhnya. Aku hanya ingin hidup dalam ketenangan serta kedamaian. Cita-citaku
sekarang hanya ingin mendapatkan kitab Si Cap Ji cin-keng agar dapat merusak nadi
naga bangsa Boan agar tidak menjajah kita terus menerus, Hanya itu saja, hatiku sudah
merasa puas”
Di dalam hatinya, Siau Po justru menertawakannya.
“Oh, bibiku yang baik, enak saja kau bicara, Gara-gara mencari kitab itu, entah
sudah berapa nyawa yang dikorbankan. Kau kira kitab itu bisa didapatkan dengan
mudah?”

Pada saat itu To Hong-eng sedang menyamar wajahnya dipoles sedemikian rupa
sehingga tidak terlihat mimik perubahan apa-apa, hanya sinar matanya yang
menyorotkan sinar kekhawatiran.
“Bibi, ada baiknya bibi masuk saja menjadi anggota Tian-te hwe?” kata Siau Po
kemudian. Dalam hatinya dia berpikir, jumlah anggota Tian-te hwe banyak sekali,
sehingga bibinya tidak perlu merasa takut
Hong Eng merasa heran dan menatap Siau Po lekat-lekat
“Mengapa kau menyuruh aku masuk menjadi anggota perkumpulanmu?” tanyanya.
“Tujuan Tian-te hwe ialah hendak menumbangkan pemerintah Boanciu serta
membangun kembali kerajaan Beng,” katanya, “Jadi sejalan dengan cita-cita bibi
sendiri”
“lya, tujuan itu memang baik sekali, tapi sebaiknya urusan ini kita bicarakan kelak
saja, sekarang aku akan pulang ke kotaraja, Bagaimana dengan kau sendiri? Kau akan
kemana?”
Siau Po merasa heran mendengar ucapan wanita itu.
“Bibi akan kembali ke kotaraja?” tanyanya, “Apakah bibi tidak takut terhadap ibu
suri?”
To kionggo menarik nafas panjang.
“Sejak kecil aku sudah tinggal di istana dan terus sampai sekarang ini,” sahutnya,
“Karena itu, setelah kupikirkan bolak-balik, sebaiknya aku tetap di sana saja, Dengan
berdiam di dalam istana, aku tidak pernah merasa takut, sedangkan di luar aku tidak
mempunyai kenalan dan buta sama sekali dengan seluk-beluknya, istana sangat besar,
banyak tempat bagiku untuk bersembunyi ibu suri tidak mungkin menemukan aku.”
“Baiklah,” kata Siau Po. “Bibi kembali saja ke istana, kalau ada kesempatan, aku
akan menjenguk bibi di sana. sekarang aku sedang menjalankan tugas yang
diperintahkan oleh guruku”
Karena urusan yang dikatakan Siau Po menyangkut perkumpulan Tian-te hwe, To
kionggo merasa tidak enak untuk menanyakannya.
“Kelak bila kau datang ke istana, bagaimana kau akan menemui aku?” tanyanya.
Siau Po memberikan jawaban tanpa berpikir lagi.
“Kalau aku kembali ke istana, aku akan menancapkan sebatang kayu di dekat
tumpukan batu tempat pembakaran sampah, kayu itu berukir seekor burung kecil. Kalau

bibi melihatnya, tentu bibi akan tahu kalau aku sudah pulang, Malam harinya aku akan
datang ke tempat itu menunggu bibi”
To Hong-eng menganggukkan kepalanya.
“Bagus Demikianlah perjanjian kita” serunya, “Anak yang baik, dunia kangouw
penuh dengan marabahaya, kau harus berhati-hati dalam melakukan hal apa pun”
Siau Po menganggukkan kepalanya dengan perasaan terharu.
“Terima kasih, bibi To,” katanya, “Pesan bibi akan senantiasa aku perhatikan
Demikian pula dengan bibi sendiri, Bibi harus berhati-hati, Si perempuan hina itu kejam
dan jahat sekali, Hatinya beracun Berjaga-jagalah agar bibi jangan sampai terjatuh ke
tangannya”
Kembali To kionggo mengangguk Dia bersyukur sekali mendapatkan seorang
keponakan yang begitu baik dan menyayanginya.
Sampai di situ, mereka naik kembali ke atas kereta untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah menempuh beberapa li, kereta dihentikan dan Siau Po pun melompat turun Dia
menyewa kereta sendiri untuk meneruskan misi yang diembannya. Tujuannya ke arah
barat, sedangkan Hong Eng ke sebelah timur.
Beberapa kali Siau Po menolehkan kepalanya menatap kepergian wanita itu. Dalam
hatinya dia berkata:
“Dia bukan bibi asliku, tapi dia baik sekali kepadaku”
Dalam perjalanan, Siau Po berusaha tidur sebentar Ketika dia tersadar, dia
mendapatkan hari sudah senja. Tepat pada saat itu, dia mendengar derap kaki kuda.
Dia melongokkan kepalanya dan melihat seorang penunggang kuda sedang berusaha
mengejar keretanya, Tiba-tiba terdengar suara sapaannya.
“Hai kusir Apakah penumpangmu seorang bocah cilik?”
Hampir saja Siau Po melonjak bangun saking terkejutnya, Untung saja dia segera
mengenali suara Lau It-cou. Tanpa memberi kesempatan kepada si kusir untuk
menjawab, dia langsung berteriak.
“Lau toako Apakah Lau toako mencari aku?”
Ketika itu, seluruh tubuh Lau It-cou bermandi keringat wajahnya kotor oleh debu.
Ketika mengenali si bocah, dia berteriak dengan suara nyaring.
“Bagus Akhirnya aku berhasil juga menemukan engkau” kemudian dia melarikan
kudanya lebih cepat lagi dan akhirnya menghadang ke depan kereta, Sekali lagi
terdengar suara teriakannya, “Cepat kau menggelinding dari keretamu itu”

Hati Siau Po tercekat Dia melihat sikap Lau It-cou lain dengan biasanya, Caranya itu
tidak bersahabat sama sekali bahkan terselip rasa permusuhan
“Eh, Lau toako” tanya Siau Po. “Apa salahku? Mengapa kau marah-marah?”
It Cou tidak menjawab, cambuknya mengayunkan ke depan dan mengenai kepala
kuda yang menarik kereta itu, Binatang tersebut kesakitan dan meringkik nyaring
kemudian menghentak-hentakkan sepasang kaki depannya sehingga kereta itu
terjungkir ke belakang serta membuat si kusir terjengkang
Bukan main mendongkolnya hati si kusir,
“Hai teriaknya, “Tengah hari bolong bertemu setan? Kenapa tidak juntrungan
menyerang kereta orang?”
Tampaknya It Cou sedang marah sekali, “Memang aku kejam Memang aku jahat
Kau mau apa?” teriaknya berulang-ulang.
Kusir kereta itu mati kutu, Dia tengkurap terus di atas tanah agar tidak menjadi
sasaran cambuk Lau It-cou, tapi pemuda itu sedang kesal dan penasaran Dan mencaci
maki kalang kabut, Cambuk di tangannya terus diayunkan sehingga akhirnya tubuh
kusir kereta itu terlilit dan dihentakkan keras-keras, serangannya ini hebat sekali, Bukan
hanya pakaian kusir itu saja yang koyak, bahkan dagingnya juga pecah dan darah pun
bercucuran.
Siau Po heran sekali sampai-sampai dia jadi tertegun.
“Sudah pasti dia mencari aku” katanya dalam hati. “Aku bukan tandingannya,
Setelah menghajar kusir kereta itu, dia pasti akan mencari aku. Oh Kalau hal itu sampai
terjadi, bahaya sekali”
Berkat kecerdikannya, dia segera mengeluarkan pisau belatinya yang tajam.. Diamdiam
dia menusuk pantat kuda itu sehingga kesakitan dan lari sekencang-kencangnya.
Melihat kereta itu kabur, Lau It-cou segera meninggalkan si kusir yang membuatnya
kesal dan lari menyusul kereta sambil berulangkali mengayunkan cambuk ke bagian
belakang kuda tunggangannya.
“Bocah” teriak Lau It-cou. “Kalau kau laki-laki, jangan lari”
Kereta masih terus melaju, Siau Po melongokkan kepalanya.
“Bocah yang baik” sahutnya menggoda, dia meniru logat suara Lau It-cou. “Kalau
kau seorang laki-laki, jangan mengejar aku”
Bocah ini memang jenaka, Orang menyuruhnya jangan lari, dia malah meneriaki agar
orang jangan mengejarnya

It Cou gusar sekali, Dia mencambuki kudanya keras-keras sehingga binatang itu
kesakitan dan semakin cepat larinya, Gerakan kereta sudah terhitung cepat, tapi tentu
kalah dengan kuda tunggangan Lau It-cou. Dalam sekejap mata kereta yang ditumpangi
Siau Po sudah tersusul.
Siau Po bingung juga. Dia ingin menyambit orang dengan pisau belatinya, tapi tidak
yakin akan berhasil. Hatinya juga menjadi berat mengingat Pui Ie. Bukankah si nona
cantik itu pacarnya Lau It-cou? Mana mungkin dia sampai hati mencelakai kekasih hati
gadis pujaannya? Sebaliknya, kalau sampai gagal, dia menyayangkan pisau
mustikanya itu….
Tidak ada jalan lain bagi Siau Po. Dia meng-hentakkan tali laso kudanya agar kereta
di jalankan lebih kencang lagi.
Tiba-tiba Siau Po merasakan sambaran angin dan tahu-tahu dia kesakitan. Ujung
cambuk Lau It-cou mengibas pipinya.
Rupanya jarak Lau It-cou sudah dekat sekali Begitu cambuknya digerakkan,
luncurannya tepat mengenai sasaran, meskipun hanya pipi lawannya
Walaupun sudah berusaha mengelakkan diri, Siau Po tetap merasakan pipinya nyeri
dan panas, Dia menahan rasa sakitnya, Sambil menunduk matanya melirik keluar
Kuda Lau It-cou sudah hampir menempel dengan keretanya, Tentu dengan mudah
pemuda itu bisa meloncat ke atas keretanya dan hal itu berbahaya sekali, Dia harus
mencegahnya,
Bocah kita memang cerdas sekali, Dia segera merogo sakunya dan mengeluarkan
uang perak sebanyak tujuh delapan potong, Mendadak dia menundukkan kepalanya
dan menyambitkan potong-an-potongan uang perak itu ke arah kepala kuda Lau It-cou.
sebetulnya Siau Po tidak pernah belajar ilmu menyambitkan senjata rahasia, tetapi
karena dia sekaligus menimpuk beberapa potong uang perak, jadi kebetulan salah
satunya mengenai mata kiri kuda yang ditunggangi Lau It-cou.
Kuda itu tersentak kaget saking nyerinya, Binatang itu langsung kabur tanpa dapat
dikendalikan lagi. Malah arah yang diambilnya ialah tepi jalan yang ada tanjakannya,
Lau It-cou khawatir kudanya akan terjungkal dan dirinya pasti akan luka-luka terbanting
dari atas kuda.
Karena itu dia segera melompat turun dari kudanya dan membiarkan binatang itu lari
terus.
“Kurang ajar” teriak pemuda itu

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s