“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 38

keburu mencurigai kusir itu. jangan kata tiba di dusun Cioki
cung, mereka sekarang baru terpisah dari kotaraja sejauh belasan li.
“Tentunya dia jago dari istana” pikir Ci Tian-coan dalam hati. Tentunya dia mendapat
tugas melakukan penangkapan….”
Mengingat demikian, lekas-lekas Ci Tian-coan memberi isyarat kepada Siau Po
bertiga yang perhatiannya sudah tertarik, Dia ingin mereka bertiga menyingkir terlebih
dahulu agar dia bisa leluasa menghadapi kusir itu.
Siau Po bertiga terdiri dari orang-orang gagah. Meskipun Pui Ie sedang terluka dan
tidak dapat berkelahi, namun ketiganya sudah menghunus senjata masing-masing serta
menerjang ke depan untuk mengepung kusir itu.
Sang kusir meloncat turun dari kereta dan duduk di atas tanah. sekarang dia
menoleh ke arah Ci Tian-coan dan sembari tertawa manis dia berkata:
“Sungguh tajam mata Pat-pi Wan Kau” suaranya kecil, tapi agak melengking.

Siau Po berempat memperhatikan kusir itu, Mereka melihat wajahnya agak tembem
seperti bengkak, kulitnya kuning, pipi dan dahinya kotor, pakaiannya juga dekil Sulit
menaksir berapa kira-kira usianya.
Tian Coan heran mendengar orang itu bisa menyebut julukannya, Dia segera
merangkapkan sepasang tangannya menjura,
“Tuan, siapa Anda?” tanyanya, “Mengapa tuan menyamar menjadi kusir kereta dan
mempermainkan aku si orang tua?”
Sampai waktu itu, barulah si kusir berdiri kembali Dia bangun perlahan-lahan dan
sambil tertawa dia berkata.
“Mempermainkan? Aku yang rendah benar-benar tidak berani Aku yang rendah
adalah sahabatnya Wi hiocu Aku mendengar kabar Wi hiocu sudah meninggalkan
kotaraja, karena itu aku datang untuk mengantarkan.”
Siau Po mengawasi orang itu, Kemudian dia menggelengkan kepalanya.
“Maafkan…” katanya, “Kenyataannya… aku tidak kenal dengan tuan.”
Kusir itu kembali tertawa.
“Kita berdua telah menghadapi musuh tangguh tadi malam,” katanya, “Hiocu yang
baik, masa kau begitu pelupa?”
Siau Po terkejut.
“Oh” serunya, “Rupanya kau To….” Siau Po segera menyimpan pisau belatinya, Dia
menghambur ke depan untuk meraih tangan kusir itu.
Rupanya kusir itu merupakan samaran dari To kionggo, Dia memoles wajahnya
sedemikian rupa sehingga tidak mudah dikenali
“Aku khawatir hiocu mendapat rintangan di tengah jalan dari bangsa Tatcu, dan aku
menyamar dengan niat mengantarkan kau barang selintasan” kata orang she To itu
menjelaskan.
Kemudian tampak dia menarik nafas panjang, “Di luar dugaanku, mata Ci loyacu
begitu tajam sehingga tidak dapat aku mengelabuinya”
Ci Tian-coan memperhatikan kedua orang itu. Hatinya menjadi lega dan sekaligus
malu, Rupanya kusir itu adalah penyamaran sahabatnya sang hiocu, Dia juga menjadi
jengah mengetahui kepandaian orang begitu tinggi, bahkan sepuluh kali lipat dari
dirinya sendiri.

“Aih Kalau dia benar-benar seorang musuh, pasti kami berempat sulit meloloskan
diri dari maut,” pikirnya dengan hati jeri.
Membawa pikiran demikian, Ci Tian-coan segera memberi hormat Sambil tertawa dia
berkata.
“Tuan, sungguh aku merasa kagum dengan kelihayanmu Dan kau, Wi hiocu, rejeki
dan jodohmu sungguh bagus, di mana-mana kau mendapatkan kawan yang hebat”
To kionggo tertawa.
“Ci toako hanya memuji,” katanya, “Tidak sanggup aku menerimanya, tapi aku
mohon tanya, kelemahan apakah yang Ci toako lihat sehingga samaranku ini bisa
ketahuan?”
“Dalam hal dandanan, aku tidak menemukan kelemahan apa pun,” sahut Ci Tiancoan.
“Tetapi kecurigaanku timbul sejak keberangkatan tadi. Aku heran menyaksikan
gerakan tanganmu ketika mengendalikan kuda dan menggunakan cambuk, Gerakan
tanganmu tidak mirip dengan kusir lainnya, Aku lihat cambukmu meluncur lurus, tapi
lenganmu tidak bergetar sebagaimana biasanya orang sedang mengayunkan cambuk.
Ketika cambuk itu ditarik kembali, tanganmu juga tidak menekuk sebagaimana
umumnya, Kalau aku tidak keliru, gerakan lengan itu dinamakan Kim-liong Ciong ho
(Naga emas menerobos sungai) suatu ilmu tenaga dalam yang istimewa, Setahuku, di
antara para kusir di kotaraja, tidak banyak yang menguasai ilmu tenaga dalam
semacam itu.”
Mendengar kata-katanya, Siau Po dan kedua nona dari keluarga Bhok tertawa,
Demikian pula To kionggo dan Ci Tian-coan sendiri Mereka merasa orang she Ci ini
benar-benar teliti juga cerdas, Sampai gerakan tangan orang mengayunkan cambuk
pun dia perhatikan, sehingga dapat terlihat perbedaannya dari kusir-kusir lain.
Setelah tertawa, Tian Coan berkata.
“Aku yang rendah benar-benar tidak mempunyai mata, seharusnya aku tidak boleh
sembarangan turun tangan sehingga perbuatanku menjadi kurang hormat, sayangnya
aku si tua bangka ini sungguh tidak tahu diri dan sudah berlaku lancang.”
“Jangan berkata demikian, Ci toako,” kata To kionggo, “Tidak berani aku
menerimanya, Sebaliknya, aku sangat mengagumimu karena kau berani bertanggung
jawab melindungi Wi hiocu sekalian.”
“Terima kasih, tuan. Pujian mu terlalu tinggi, Tuan, bolehkah aku tahu she dan
namamu yang muIia?”
“Sahabatku ini she To,” Siau Po mendahului memberi jawaban “Dengan aku sudah
seperti saudara sehidup semati”

“Tidak salah,” kata To kionggo membenarkan “Kamilah sahabat sehidup semati Wi
hiocu telah menolong selembar nyawaku”
“Oh, cianpwe janganlah cianpwe berkata demikian,” ujar Siau Po cepat, “Yang
benar, kita berdua telah bekerja sama dengan baik bertarung dan membunuh seorang
telur busuk yang maha besar.”
To kionggo tersenyum.
“Saudara Wi, Ci toako, nona Pui dan nona Bhok, sampai di sini saja kita berpisah”
Habis berkata, dia memberi hormat dan lompat naik ke keretanya,
“To… To toako” panggil Siau Po gugup, To toako kau hendak kemana.
To toako tersenyum
“Dari mana aku datang, kesanalah aku akan pergi” sahutnya.
Siau Po mengangguk “Baik” katanya, “Sampai jumpa”
To kionggo hanya tersenyum. Dia langsung melarikan keretanya. Siau Po dan rekanrekannya
hanya mengawasi kepergian orang itu. Hati mereka merasa kagum sekali.
“Ci loyacu, benarkah kepandaian orang itu tinggi sekali?” tanya Kiam Peng yang
masih penasaran.
“Kepandaiannya lebih hebat sepuluh kali lipat daripadaku,” sahut Tian Coan, Terangterangan
dia mengakui kehebatan lawannya tadi. “Apalagi sebagai seorang wanita,
lebih-lebih luar biasa”
“Apa?” tanya Kiam Peng yang saking herannya sampai tertegun untuk sesaat, “Dia
wanita?”
“lya,” sahut Ci Tian-coan. “Ketika dia melompat naik ke atas kereta, gerakan
tubuhnya begitu gesit dan lincah serta menarik untuk dilihat”
“Sebenarnya, aku juga mendengar suaranya tajam, tidak mirip dengan suara lakilaki,”
kata Kiam Peng pula, “Wi toako, dia… apakah wajahnya yang asli… cantik?”
“Empat puluh tahun yang lalu, kemungkinan dia cantik dan lucu,” sahut Siau Po. Tapi
kalau di bandingkan dengan engkau, empat puluh tahun kemudian kau akan tetap
cantik seperti sekarang.
Bukannya cemburu atau malu, Kiam Peng malah tertawa geli.
“Ah” serunya, “Mengapa kau membanding bandingkan aku dengannya? Rupanya
dia sudah tua”

“Memang betul, mestinya usia wanita ini tidak muda lagi,” kata Tian Coan ikut
memberikan komentar, “llmu Kim-liong ciong ho yang dimilikinya pasti sudah dilatih
lebih dari tiga puluh tahun, kala tidak, mana mungkin begitu lihay?”
Sementara itu, hati Siau Po sedih sekali, baru saja dia berpisah dengan To kionggo,
sekarang di harus berpisah lagi dengan Kiam Peng dan Pui Ie. Dua orang nona yang
cantik dan manis, Selanjutnya dia akan sendirian. Entah mengapa, tiba-tiba saja dia
menjadi takut.
Di istana, meskipun thayhou sangat membencinya, tapi dia sudah terbiasa dengan
tempat itu, lagipula banyak orang yang di kenalnya, Dibantu dengan kecerdasannya, dia
selalu bisa terhindar dari marabahaya, Tapi sekarang Dia harus pergi ke gunung Ngo
Tay san yang masih asing baginya, sedangkan tugasnya penting serta berat, Seumur
hidupnya, dia juga belum pernah menempuh perjalanan sejauh itu seorang diri. Pada
dasarnya dia memang masih seorang bocah cilik.
Ci Tian-coan mengira sang hiocu akan kembali ke istana, karena itu dia berkata:
“Wi hiocu, hari sudah senja, Cepat kau puIang, Nanti sebentar lagi pintu kota akan
ditutup”
“lya,” sahut Siau Po.
Pui Ie menyerahkan sebuah buntalan kepada si thay-kam cilik.
“lni bajumu, kau saja yang memakainya” katanya.
“Tidak” tolak Siau Po, “Lebih baik kau yang memakai”
“Kami diantar oleh Ci loyacu,” kata Pui Ie. “Tentu tidak ada apa pun yang terjadi pada
diri kami, mengapa kau masih merasa berat dan khawatir?”
Terpaksa Siau Po mengulurkan tangannya menyambut buntalan itu, Dia tidak
mengatakan apa-apa, hatinya bingung sekali.
Tian Coan segera mempersilahkan kedua nona itu naik ke atas kereta. Kemudian dia
duduk di samping pak kusir, Begitu dia memberi isyarat, kereta itu langsung dijalankan
menuju selatan.
Siau Po berdiri terpaku di pinggir jalan, matanya menatap ke arah kereta yang
sedang melaju tanpa berkedip sedikit pun. Dia melihat kedua nona itu melongokkan
kepalanya dan melambaikan ta-ngannya, Tidak lama kemudian, kereta itu pun lenyap
dari pandangan Setelah melaju kurang lebih tiga puluh tombak, jalan di sana membelok
dan pemandangan pun terhalang oleh pohon Yang Liu yang rimbun.
Akhirnya, Siau Po pun naik ke atas keretanya sendiri Dia menyuruh kusir itu
menjalankan keretanya menuju barat, bukan kembali ke kota Peking.

Kusir itu bingung sehingga dia memandang Siau Po dengan tertegun, Siau Po
mengeluarkan uang sebanyak sepuluh tail dan disodorkannya kepada kusir kereta itu.
“lni uang sebanyak sepuluh taiI. Cukup untuk sewa kereta selama tiga hari bukan?”
Bukan main senangnya hati kusir itu.
“SepuIuh tail cukup untuk menyewa kereta ini selama satu bulan. Baiklah, kongcu ya,
aku yang rendah akan melayanimu. Kongcu mau berjalan atau minta berhenti, harap
diperintahkan saja.”
Berbeda dengan semula, kusir itu memanggil Siau Po dengan sebutan kongcu ya
yakni tuan muda dari kalangan atas.
Siau Po tidak mengatakan apa-apa, dia hanya tersenyum,
Malam itu dia singgah di sebuah dusun yang letaknya kurang lebih dua puluh li dari
kota Peking, Dia memilih sebuah penginapan kecil, Di dalam kamar, dengan bantuan
cahaya lilin, dia membuka, buntalan yang diberikan oleh Pui Ie. Dikeluarkannya baju
mustika berwarna hitam itu, kemudian dikenakannya sebagai pakaian dalam lalu ia
berangkat tidur.
Besok paginya, Siau Po terjaga dari tidur, dia terkejut setengah mati. Kepalanya
terasa berdenyut-denyut dan matanya berat sekali. Untuk sekian lama dia tidak
sanggup membuka matanya, Yang lebih celaka, seluruh tubuhnya justru terasa lemas
seakan tidak mempunyai tenaga sedikit pun. Dia merasa dirinya seperti sedang
bermimpi buruk, Dia ingin membuka mulutnya untuk berteriak, tetapi tidak ada sedikit
pun suara yang keluar Akhirnya, ketika dia mulai bisa membuka matanya, hatinya
langsung tercekat Dia melihat ada tiga sosok mayat menggeletak di depan tempat
tidurnya.
Saking kagetnya, Siau Po diam terpaku, Setelah agak sadar, dia mencoba
menenangkan diri. Dipaksakannya otaknya untuk berpikir. Dia berusaha bergerak dan
bangun, sekarang dia melihat di dalam kamarnya sudah bertambah satu orang lainnya.
Orang hidup, Dan saat itu sedang duduk memperhatikannya sambil tersenyum simpul
“Oh” serunya terkejut sekaligus gembira, “Kau rupanya”
Orang itu tertawa.
“lya” sahutnya, “Kau baru terjaga?”
Rupanya orang itu bukan lain dari To kionggo
Dalam sekejap saja, hati Siau Po jauh lebih lega.
“To cici” katanya, “To… ie ie… apa sebetulnya yang telah terjadi?”

To kionggo tidak langsung menjawab, Dia menunjuk ke arah tiga mayat yang
menggeletak di atas lantai,
“Coba kau lihat Siapa mereka?”
Siau Po mencoba turun dari tempat tidur, tapi baru saja dia menginjakkan kaki ke
lantai, kedua lututnya terasa lemas dan dia jatuh terduduk. Dengan berusaha sekuat
tenaga akhirnya dia bisa berdiri juga, punggungnya bersandar pada tiang tempat tidur,
Dia memperhatikan ketiga orang yang sudah menjadi mayat itu. Tidak ada satu pun
yang dikenalinya.
“Bibi To, kau telah menolong jiwaku?” tanyanya sambil mengawasi wanita itu.
To kionggo balas menatapnya lekat-lekat
“Sebenarnya kau memanggil aku kakak atau bibi?” tanyanya tertawa, “Ayo, jangan
memanggil tidak menentu”
Siau Po ikut tertawa.
“Kau.,, kau adalah bibi To” sahutnya kemudian.
To kionggo tertawa lagi. Lalu dia berkata:
“Kau melakukan perjalanan seorang diri, lain kali kalau makan atau minum, kau
harus hati-hati. Coba kau jalan bersama-sama Pat-pi Wan Kau, tentu tidak ada yang
perlu kau khawatirkan.”
“Jadi tadi malam aku telah diracuni orang dengan Bong Hoan-yok?” tanya Siau Po.
“Kurang lebih begitulah” sahut To kionggo tertawa.
“Mungkin obat itu dicampur ke dalam air teh,” sahut Siau Po. Ketika aku minum,
memang aku rasa ada sedikit beda, ada sari asam dan manisnya.”
Sembari berkata, bocah itu mengangkat teko teh. Dia ingat, tadi malam isi teko itu
masih setengah, tapi sekarang sudah kosong, tidak ada isinya setetes pun.
“Oh? jadi ini sebuah penginapan gelap?” tanyanya.
“Tadinya sih penginapan bersih, sejak kau datang kemari, langsung saja berubah
menjadi penginapan gelap” kata To kionggo menjelaskan.
Siau Po meraba kepalanya yang masih terasa nyeri.
“Aku benar-benar tidak mengerti” katanya.

“Tidak lama setelah kau masuk ke dalam penginapan ini,” kata To kionggo kembali,
“Segera ada orang yang menyusul kemari dan membekuk pemilik penginapan ini.
Mereka terdiri dari sepasang suami istri dan seorang pelayan Salah seorang penjahat
itu langsung menyamar sebagai pelayan dengan mengganti pakaiannya lalu menyeduh
teh dan membawakannya untukmu. Aku melihat kau berganti pakaian, tapi sampai lama
kau hanya berdiam diri, entah apa yang sedang kau pikirkan Aku berlalu sebentar
dengan pikiran sesaat lagi aku akan kembali, Tidak tahunya kau sudah minum teh yang
mengandung obat bius itu, Untung saja yang dicampurkannya bukan racun.”
Wajah Siau Po jadi merah padam Dia merasa malu dan jengah, Dia menyesal
bertindak kurang hati-hati dan ceroboh sehingga berhasil dikerjai orang, Tadi malam,
ketika’mengenakan baju mustikanya, dia ingat baju itu pernah dikenakan nona Pui yang
cantik dan manis.
Dulu nona itu sangat membencinya, tapi sekarang sikapnya baik sekali. Mengingat
dia mengenakan pakaian yang baru dikenakan gadis itu, dia menjadi tidak enak, Dia
juga malu mengetahui To kionggo melihatnya berganti pakaian tadi malam. Memang
usianya sudah lanjut, tapi To kionggo masih seorang nona, sebab dia belum menikah.
To kionggo melanjutkan keterangannya, “Setelah kita berpisah kemarin, aku
langsung kembali ke istana, Aku heran sekali mendapatkan keadaan di istana sunyi
senyap dan tidak ada perkabungan bagi thayhou, Cepat-cepat aku mengganti pakaian
kemudian pergi ke Cu-leng kiong, Sejak dari luar keraton, keadaan biasa-biasa saja.
Segera aku memperoleh kepastian bahwa thayhou belum mati, itu suatu hal yang buruk
bagi kita. Mulanya aku pikir, asal thayhou mati, kita berdua bisa berdiam terus di istana.
sekarang ternyata dia masih hidup, hal ini berarti mau atau tidak kita harus
meninggalkan istana, Terutama aku harus memperingatkan kepadamu, agar kau jangan
kembali ke istana, karena perbuatan itu berarti kau mengantar nyawamu sendiri”
Siau Po yang cerdik pura-pura terkejut “Oh” serunya, “Ternyata si nenek sihir belum
mati? Wah Berbahaya sekali” Dalam hati sebetulnya dia tidak enak karena mendustai
wanita ini. Dia berkata dalam hati, Aku meninggalkan istana dengan tergesa-gesa,
karena itu aku lupa memberitahukan urusan itu”
“Setelah mendapat keterangan bahwa thayhou belum mati, aku segera membalikkan
tubuh untuk pergi, Tapi, tiba-tiba aku melihat tiga orang siwi keluar dari Cu-leng kiong.
Tindak-tanduk mereka mencurigakan sekali. Aku menduga thayhou mengirim mereka
untuk menangkap aku, Namun setelah aku ikuti, ternyata mereka tidak menuju ke
kamarku, sayangnya aku tidak sempat mengikuti lebih jauh. Cepat-cepat aku kembali
ke kamar untuk berkemas dan meloloskan diri dari samping dapur Gisian pong”
“Rupanya bibi menyamar sebagai petugas dapur,” kata Siau Po. Di sana memang
banyak sekali pekerjaan Seperti membelah kayu, menggotong arak, memotong ayam,
mencuci sayur-mayur dan sebagainya, semuanya dilakukan oleh pegawai rendahan,
sehingga tidak banyak orang yang memperhatikan mereka.
To kionggo melanjutkan kata-katanya.

“Begitu aku keluar dari istana, aku segera melihat ketiga orang siwi itu, mereka
sudah mengganti pakaian dan pergi dengan menunggang kuda, Hal ini membuktikan
bahwa mereka akan menempuh perjalanan jauh….”
“Oh” seru Siau Po sambil menendang salah satu mayat tersebut “Jadi mereka inilah
ketiga saudara baik hati yang membuka penginapan gelap ini?”
To kionggo tertawa.
“Karena itu kau harus mengucapkan terima kasih kepada mereka,” katanya, “Kalau
bukan mereka yang memimpin jalan, bagaimana mungkin aku bisa menemukanmu?
Siapa yang menyangka kau akan memutar arah ke barat? Mereka ini justru menuju ke
barat sepanjang perjalanan mereka selalu menanyakan tentang seorang bocah laki-Iaki
berusia kurang lebih lima atau enam belas tahunan yang melakukan perjalanan seorang
diri. Karena itulah aku menduga mereka mendapat tugas untu menangkapmu Mereka
tiba di sini ketika magrib dan aku berhasil mengejar mereka tepat waktunya.”
Siau Po merasa terharu sekali.
“Kalau bibi tidak datang menolongiku, kemungkinan sampai di alam baka pun aku
tidak bisa menjawab pertanyaan Raja akherat mengenai kematianku,” sahutnya
bersyukur “Kalau aku ditanya kan tentang cara kematianku, aku sendiri akan
terbingung-bingung”
To kionggo tersenyum, Senang hatinya berbicara dengan bocah ini. Sudah berapa
puluh tahun dia mengeram di dalam istana, jarang dia berbicar secara akrab dengan
orang lain. Bocah ini sungguh menarik, Mendengar kata-katanya, To kionggo sampai
tertawa geli,
“Pasti Raja akherat akan berkata: “Bawa dia pergi dan hajar lagi”
Siau Po juga tertawa.
“Memangnya tidak?” katanya, “Pasti raja akherat akan marah, Pasti dia tidak sudi di
dalam nerakanya ada setan yang asal-usulnya tidak jelas, Dia juga tidak mau mengurus
hantu yang kematiannya tidak karuan”
Lagi-lagi To kionggo dan Siau Po tertawa.
“Bibi To, apa yang terjadi kemudian?” tanya Siau Po.
“Aku mencuri dengar pembicaraan mereka di dapur di mana mereka berkumpul.
Tentu saja setelah membuat pemilik rumah penginapan dan pelayannya tidak berdaya,
Menurut mereka, thayhou menitahkan kau hidup atau mati, sebaiknya ditangkap hiduphidup,
tapi kalau terpaksa bunuh saja. Kalau kau sudah mati, semua barang milikmu
harus dibawa pulang dan diserahkan kepada thayhou, Tidak boleh ada yang kurang
Katanya kau mencuri kitab suci milik thayhou, kitab yang biasa digunakan untuk

membaca doa bagi Sang Buddha, Nah, adikku, benarkah kau mencuri kitab suci milik
thayhou? Apakah Cong tocu yang menitahkan kepadamu?”
Sembari bertanya, To kionggo menatap Siau Po lekat-lekat
“Aih Tidak salah lagi” pikirnya, “Dayang ini pernah menggeledah kamar thayhou,
tentu dia mencari kitab Si Cap Ji cing-keng.,.” Siau Po sadar dia tidak boleh
membiarkan To kionggo menunggu lama untuk jawabannya, Dia memperlihatkan
tampang terkejut dan balik bertanya,
“Apa? Kitab Buddha apa? Cong tocu kami tidak memuja dewi Pousat dan kami tidak
pernah melihatnya membaca doa”
To kionggo percaya dengan keterangannya, Wanita itu memang gagah, tapi dia
kalah cerdas dengan Siau Po. Di dalam istana kenalannya cukup banyak, tapi
sahabatnya hampir tidak ada. Dia hanya kenal baik dua dayang tua lainnya, Dia juga
mendapat kenyataan bahwa thay-kam ini cerdas dan polos. Diam-diam dia berpikir
dalam hati.
“Aku telah menolongnya dan tentu saja dia bersyukur sekali kepadaku, Mustahil dia
berbohong, LagipuIa, aku telah memeriksa buntalan nya..”
Karena itu dia menganggukkan kepalanya dan berkata,
“Aku melihat mereka membuka buntalanmu dan memeriksa isinya, mereka
mendapatkan dua jilid kitab ilmu silat, tampaknya mereka merasa bimbang dan tidak
bisa memastikan apakah itu kitab yang dimaksudkan ibu suri”
“Oh” teriak Siau Po. Dia memang terkejut, taa terus menjalankan sandiwaranya,
“Kitab ilmu silat itu merupakan tulisan guruku, celakalah kalau sampai diambil oleh
mereka.”
To kionggo tersenyum
“Jangan khawatir” katanya, “Kitab itu masih ada dalam buntalanmu Sebaliknya,
mereka justru keblinger melihat uangmu yang begitu banyak, Bahkan mereka sudah
berdamai untuk membagi hasil dan menyembunyikannya. Aku jadi marah sekali, saat
itu juga aku langsung masuk dan membereskan mereka, sekarang soal kitab agama
Buddha itu, Aku yakin kitab itu penting sekali artinya, Aku juga tidak percaya kalau kau
menyerahkannya kepada Ci loyacu atau kedua nona yang pergi ke dusun Cioki cung,
Karena ketiga musuh itu sudah mati dan kau tidak kurang suatu apa pun, menggunakan
waktu saat kau beristirahat aku langsung menyusul Ci loyacu, Aku pergi dengan
menunggang kuda. untung saja aku berhasil menyusul mereka yang sedang beristirahat
dalam sebuah penginapan. Mula-mula aku berpikir untuk melakukan penyelidikan
secara diam-diam Tapi nyatanya Pat pi Wan Kau memang lihay sekali. Baru saja aku
naik ke atas genteng, dia sudah tahu, terpaksa sekali lagi kita bertempur….”
“Dia kan bukan tandinganmu” kata Siau Po.

“Sebenarnya aku tidak berminat melakukan kesalahan terhadap pihak Tian-te hwe,
tapi kali ini aku benar-benar terpaksa,” sahut To kionggo dengan nada penuh
penyesalan “Setelah bertarung beberapa saat, aku berhasil merobohkannya, kemudian
baru aku beri penjelasan dan memohon agar dia tidak salah mengerti atas apa yang
kulakukan serta sudi memberi maaf. Karena itu pula, aku harap kalau kau bertemu
dengannya, tolong kau jelaskan sekali lagi dan minta agar dia jangan mendendam
terhadapku Aku berbuat begitu saking terpaksa, Aku telah memeriksa buntalan mereka
bertiga, aku juga menggeledah seluruh kamar, tapi aku tidak berhasil mendapatkan apa
pun. Dan ketika aku akan meninggalkan penginapan tersebut, aku melihat seorang dari
dunia kangouw yang gerak-geriknya mencurigakan. Dia sedang mendekam di
wuwungan atap kamar Ci loyacu, Dari gerak-geriknya itu pula, aku mempunyai
keyakinan kepandaiannya tidak seberapa tinggi dan Ci loyacu bertiga tentu sanggup
menghadapinya, Maka dari itu, aku segera meninggalkan mereka dan kembali ke sini.”
Siau Po memperlihatkan tampang sedih dan menyesal
“Kalau demikian, akulah yang benar-benar tolol” katanya, “Kau telah melakukan
banyak hal untukku, tapi aku tetap tidak tahu”
To kionggo berdiam diri sekian lama. Tampaknya dia sedang merenung.
“Adik,” katanya kemudian “Kau sudah cukup lama tinggal di dalam istana, apakah
kau pernah mendengar soal kitab Si Cap Ji cin-keng?”
“Kalau aku tidak salah, ibu suri dan Sri Baginda sangat menghargai kitab agama
Buddha itu, Tapi dalam pandanganku, apa gunanya? Buktinya thayhou begitu kejam
dan jahat, Biarpun dia membaca kitab suci laksaan kali, tidak mungkin Dewi pousat
akan melindunginya”
Tanpa memberi kesempatan kepada Siau Po untuk melanjutkan kata-katanya, To
kionggo segera menukas.
“lbu suri dan Sri Baginda sangat memperhatikan kitab itu? Apa saja yang pernah
mereka katakan?”
“Sri Baginda pernah menitahkan aku ikut dengan So tayjin untuk menggeledah
tempat tinggal Go Pay. Aku dipesan mencari dua buah kitab entah Si… Keng… apa.
Kalau tidak salah memang ada huruf Cap dan Ji….” Mendengar keterangan itu, To
kionggo semakin bersemangat.
“Benar” serunya, “ltulah kitab Si Cap Ji Cin-keng, Lalu, apakah kau berhasil
mendapatkannya?”
Dalam hal berbohong, Siau Po memang jagonya. walaupun usianya masih muda,
tetapi ketika di Yangciu, pengalamannya sudah banyak, karena dia dibesarkan di
tempat pelesiran yang setiap hari penuh dengan kepura-puraan dan kebohongan.

Dia tahu, kalau dia bohong secara keseluruhan, orang bisa curiga, Karena itu,
kebohongannya harus dicampur dengan sedikit kebenaran Dengan demikian orang
tidak akan ragu atau bimbang mengambil keputusan. Karena itu dia langsung
menjawab.
“Sayang aku buta huruf, sehingga tidak tahu kitab itu Si Cap Ji cin-keng atau Ngo
Cap cin-keng. Akhirnya kitab itu memang berhasil ditemukan oleh So tayjin, kemudian
aku membawa dan menyerahkannya kepada ibu suri. Bukan main senangnya hati
perempuan hina itu Aku dihadiahkan kue-kue dan kembang gula, juga manisan. Oh
Dasar nenek sihir Dianggapnya aku seorang bocah cilik sehingga tidak perlu diperseni
uang, Kalau tahu dia sepelit itu, dari semula saja kubuang kitab itu ke dalam perapian di
dapur Gisian pong”
“Oh, tidak Tidak Kitab itu jangan dibakar” seru To kionggo saking tegangnya
sehingga lupa apa yang diceritakan Siau Po sudah lama berlalunya.
“Aku tahu” sahut Siau Po. “Ketika Sri Baginda menanyakan kitab itu pada So tayjin,
aku langsung mengerti bahwa kitab itu penting sekali”
To kionggo merenung sejenak.
“Kalau begitu,” katanya kemudian. “Paling sedikit thayhou mempunyai tiga jilid kitab
yang sama….”
“Empat” sahut Siau Po.
“Apa? Empat?” tanya To kionggo terkejut “Bagaimana kau bisa tahu?”
“Sebenarnya thayhou sendiri sudah memiliki satu,” kata Siau Po menjelaskan “Ketika
aku membawakan dua jilid yang didapatkan dari gedung Go Pay, dia meletakkannya di
atas meja dan berdampingan dengan yang satu itu, jadi saat itu jumlahnya ada tiga,
Kemarin malam, ketika aku bersembunyi di kolong tempat tidur, aku mendengar
pembicaraannya dengan si dayang palsu, Kitab yang keempat ada di rumah salah
seorang pangeran dan thayhou sedang menitahkan Sui Tong, congkoan dari barisan
pengawalnya untuk mengambilnya.”
“Kalau begitu, benar saja thayhou memiliki empat jilid kitab tersebut,” kata To
kionggo, “Bisa jadi… lima atau enam jilid… dia berdiri dan berjalan beberapa tindak,
Matanya menatap Siau Po lekat-lekat “Adik, malam itu kau bersembunyi di kolong
tempat tidur thayhou, apa sebetulnya yang sedang kau lakukan?”
“Bibi To, biar aku katakan terus terang ke-padamu” sahut sang bocah. “Tapi aku
harap jangan kau katakan lagi kepada orang lain, kalau rahasia ini sampai bocor, aku
akan terancam bahaya, Tentu kau maklum, aku bisa dibunuh oleh guruku”

Bagian 29
“Kalau urusan itu menyangkut rahasia Tian-te hwe, lebih baik tidak perlu kau
katakan” kata To kionggo.
“Tapi.,.” sahut Siau Po. “Kau orang baik-baik, aku rasa tidak ada halangannya
memberitahukan kepadamu, Thian-te hwe kami sudah membuat perjanjian dengan
pihak Bhok onghu, kami akan bekerja sama tapi untuk itu kami harus berlomba, Siapa
yang lebih dulu berhasil menumpas Go Sam-kui, maka pihak yang satu harus tunduk
pada perintah pihak yang berhasil itu. Karena itulah Suhu menyuruh aku menyelundup
dalam istana untuk mencari berita rahasia yang bisa menjatuhkan Go Sam-kui. Dengan
demikian Bhok onghu akan tunduk pada Tian-te hwe. Karena itulah aku selalu mencuri
dengar pembicaraan ibu suri”
“Oh, begitu” kata si dayang. “Bagiku sendiri, tidak perduli pihak mana pun yang
berhasil menjatuhkan Go Sam-kui, tetap merupakan hal yang menggembirakan”
Tapi, bibi To,” kata Siau Po dengan suara memohon. “Kau harus membantu kami,
jangan kau membantu pihak Bhok onghu”
To kionggo ragu-ragu, tapi akhirnya dia berkata.
“Sebetulnya aku tidak bermaksud berpihak kepada siapa pun, tapi, baiklah, kalau
ada kesempatan aku membantu pihakmu”
“Terima kasih, bibi Terima kasih” kata Siau Po gembira sekali
To kionggo menarik nafas panjang, “Sayang sekali kita tidak dapat kembali ke istana
lagi, Kalau tidak, tentu kita bisa bekerja sama dan saling membantu” katanya.
“Tapi,” tukas Siau Po. “Sri Baginda sangat menyayangi aku. Kalau aku kembali
secara diam-diam, aku percaya beliau tidak akan memberitahukan kepada thayhou,
LagipuIa, seranganmu terhadap thayhou cukup berat, meskipun sekarang belum mati,
entah bagaimana keadaannya, belum tentu lukanya bisa disembuhkan…”
Sepasang alis To kionggo langsung berkerut mendengar ucapan Siau Po.
“Benar, adik. Apa yang kau katakan memang benar” katanya, “Sekarang, adikku,
ada sesuatu yang ingin kubicarakan…. Aku harap kau bersedia membantu aku mencuri
beberapa jilid kitab Si Cap Ji cin-keng itu”
Siau Po pura-pura berpikir
“Seandainya umur thayhou tidak panjang, tentu kitab-kitab itu akan dimasukkan ke
dalam peti matinya apabila beliau wafat” katanya setelah lewat sejenak.

“Tidak, tidak mungkin” kata To kionggo yakin, “Aku hanya khawatir didahului oleh
Sin Liong kaucu yang cerdik itu. Kalau hal ini sampai terjadi, celaka”
Siau Po heran mendengar disebutnya nama Sin Liong kaucu yang berarti ketua atau
pemimpin dari sebuah perkumpulan bernama Naga sakti, Baru pertama kali ini dia
mendengarnya.
“Siapa dia?” tanya Siau Po.
To kionggo tidak menjawab, dia hanya berjalan mondar-mandir di dalam kamar
Ketika dia melihat fajar mulai menyingsing di luar jendela, dia segera membalikkan
tubuhnya dan menatap Siau Po.
“Kita tidak dapat bicara terlalu banyak di sini, mungkin saja dinding di sini ada
telinganya, Mari kita pergi”
Selesai berkata, To kionggo segera membungkukkan tubuhnya dan memondong dua
sosok mayat yang tergeletak di atas lantai untuk dinaikkan ke atas kereta yang ada di
depan penginapan tersebut.
Siau Po mengikuti perbuatannya, Dia menggotong mayat yang ketiga, Untung saja
ketiga siwi itu mati karena totokan, jadi ditubuh mereka tidak terdapat bekas luka dan
tidak ada setetes noda darah pun yang ketinggalan.
Di luar penginapan, To kionggo berkata.
“Pemilik penginapan beserta pelayannya ditotok oleh ketiga siwi ini. Sampai
waktunya jalan darah mereka akan bebas sendiri, mari kita pergi”
Siau Po setuju, Dia menganggukkan kepalanya, Keduanya melompat naik ke atas
kereta. Mereka duduk berdampingan di depan Si dayang yang mengendalikan tali kuda,
Kereta segera dilarikan ke arah barat.
Setelah lewat tujuh delapan li, hari sudah terang sekali, Di sisi jalan terdapat banyak
kuburan tua. To kionggo melemparkan ketiga sosok mayat siwi itu, kemudian dia
menindihnya dengan batu-batu besar dan naik lagi ke atas kereta serta menjalankannya
kembali.
“Sekarang, sembari menjalankan kereta, kita dapat berbicara dengan tenang,”
katanya kemudian “Kita tidak perlu khawatir ada orang yang mendengarnya.”
Siau Po tertawa.
“Bagaimana kalau ada orang yang bersembunyi di kolong kereta?” tanyanya.
To kionggo terkejut

“Kau benar” katanya kagum “Ternyata kau lebih teliti daripada aku”
Dia langsung mengayunkan cambuknya berkali-kali ke bawah kereta sehingga
terdengar suaranya yang nyaring dan berisik, tetapi tidak ada reaksi apa pun dari
bawah kereta, Hal ini membuktikan bahwa tidak ada orang yang bersembunyi di sana.
Jalanan yang mereka lalui adalah jalan raya, tapi keadaannya sunyi sekali.
“Kau pernah menolong jiwaku dan aku juga pernah menolong jiwamu,” kata To
kionggo kemudian “Dengan demikian kita telah menjadi sahabat sehidup semati, Hari
depan kita masih panjang, masih banyak kesempatan bagi kita untuk saling membantu,
Adik kecil, usiamu masih muda sekali, sebenarnya pantas bagi aku untuk menjadi
ibumu, Aku bersyukur kau mau memanggilku bibi, Tapi aku mempunyai usul, entah kau
setuju tidak, Bagaimana kalau aku menjadi bibimu yang sah? Aku akan mengakui kau
sebagai keponakanku”
“Bagus” sahut Siau Po. Dia berpikir dalam hati. “Tidak ada salahnya menjadi
keponakan perempuan ini, aku toh sudah memanggilnya bibi” kemudian dia
menambahkan “Tapi ada satu hal yang menjadi masalah. Kalau kau sudah tahu,
mungkin kau tidak sudi lagi menganggap aku sebagai keponakan mu….”
To kionggo menatapnya lekat-lekat Dia merasa agak heran,
“Apa itu?” tanyanya.
“Aku tidak mempunyai ayah,” sahut Siau Po terus terang, “Lebih dari itu, ibuku tinggal
di rumah pelesiran menjadi perempuan penghibur.”
To kionggo tertegun saking herannya, Tetapi sesaat kemudian dia tertawa, wajahnya
berseri-seri.
“Keponakanku yang baik, hal itu bukan persoalan” katanya. “Seorang enghiong tidak
perlu mengkhawatirkan asal-usunya yang rendah. Bukankah Beng thaycou, leluhur
kerajaan Beng kita tadinya juga seorang bikhu, bahkan pernah menjadi gelandangan?
Anak, urusan seperti ini pun tidak kau sembunyikan dari ku. Hal ini menandakan
kejujuran hatimu, Baiklah Aku juga tidak akan merahasiakan siapa diriku..”
Mendengar ucapan wanita itu, Siau Po berpikir dalam hati.
“lbuku memang seorang pelacur Mau Sip-pat toako juga sudah tahu, tapi dia pun
tidak mengatakan apa-apa. Bukankah urusan ini tidak mungkin disembunyikan untuk
selamanya? Untuk apa aku menutupinya? Lebih baik aku bersikap terus terang”
Membawa pikiran demikian, segera dia melompat turun dari kereta, kemudian
menjatuhkan diri berlutut di depan To kionggo sambil menjura dan menganggukkan
kepalanya.

“Bibi, harap bibi sudi menerima hormat Wi Siau-po, keponakanmu ini”
Menyaksikan hal itu, bukan main terharunya hati To kionggo Sudah berapa puluh
tahun dia mengeram dalam istana tanpa sanak atau orang yang dekat dengannya
sehingga dia merasa kesepian. Hatinya langsung tergerak mendapat perlakuan
sedemikian rupa dari si bocah. Dia langsung melompat turun dari kereta dan
membangunkan Siau Po.
“Oh, keponakanku yang baik Anak, mulai detik ini, aku mempunyai seseorang yang
dekat denganku”
Tak sanggup To kionggo melanjutkan kata-katanya, air matanya langsung mengucur
dengan deras. Lewat sesaat, dia baru tertawa, Hatinya senang sekali.
“Anak, kau lihat sendiri, benar-benar memalukan Tanpa karu-karuan bibimu
menangis.
Setelah itu keduanya melompat ke atas kereta lagi, To kionggo duduk dengan tangan
kanan memegang tali kendati kereta dan tangan kirinya menggenggam tangan Siau Po
erat-erat. Perlahan-lahan, kereta itu pun dijalankan.
“Anak,” setelah sekian lama, terdengar dayang itu berkata kembali “Aku she To,
nama lengkapku Hong Eng. Aku masuk ke dalam istana sejak berusia dua belas tahun
dan di tahun kedua aku mulai melayani Tiang kongcu….”
“Tiang kongcu?” tanya Siau Po menegaskan “Benar” sahut To kionggo, “Pada waktu
Sri Baginda Cong Ceng meninggalkan istana, dengan satu tebasan dia mengutungkan
lengan Tiang kong-cu. Ketika itu aku menyaksikannya dengan mata kepala sendiri Aku
langsung menghambur ke arah tuan putri untuk menolongnya, justru pada saat itulah
Sri Baginda mengayunkan goloknya kembali dan tepat mengenai punggungku Aku pun
roboh dan pingsan, Ketika akhirnya aku tersadar kembali, aku tidak melihat Tiang
kongcu lagi, Keadaan di istana sudah kacau balau, Tidak ada orang yang
memperdulikan diriku, Tidak lama kemudian muncullah pengkhianat yang menyerbu
istana, Setelah itu datang bangsa Tatcu yang mengusir pengkhianat itu dan akhirnya
bangsa Boan yang memerinta negara ini, Yah… urusan itu sudah terjadi lama sekali….”
“Oh, rupanya bibi masuk ke dalam istana semenjak Sri Baginda Cong Ceng dari
dinasti Beng masih memegang tampuk pemerintahan” kata Sia Po dengan pandangan
kagum.
“Benar, anak” sahut To kionggo.
“Tapi.,.” kata Siau Po. “Bukahkah Tiang kongcu itu puteri Sri Baginda Cong Ceng?
Mengapa raja membacok anaknya sendiri?”
To kionggo menarik nafas panjang.

“Memang Tiang kongcu putrinya sendiri, bahkan raja sangat menyayanginya,” sahut
To kionggo, “Tapi karena kotaraja sudah terjatuh ke tangan musuh dan sudah
menduduki istana, Sri Baginda Cong Ceng ingin mengorbankan dirinya, Dia tidak
sanggup membela diri lagi, namun tidak rela putrinya terjatuh ke tangan musuh, Karena
itulah, beliau mengambil jalan pendek dengan maksud membunuh Tiang kongcu”
“Oh, begitu.,.” kata Siau Po. “Bukankah belakangan Sri Baginda Cong Ceng mati
menggantung diri di bukit Bwe San?”
“Di kemudian hari, memang berita itulah yang kudengar Bangsa Tatcu bisa masuk ke
Tionggoan karena ada Go Sam-kui yang membukakan pintu setelah pengkhianat
penyerbu berhasil diusir Setelah bangsa Boan menduduki istana, di antara para dayang
dan thay-kam yang masih ada hanya tinggal beberapa orang saja, Yang lainnya dipecat
karena diragukan kesetiaannya, sedangkan aku sendiri masih kecil, juga terluka, Aku
dibiarkan berbaring dalam sebuah kamar yang remang-remang, Singkat-nya, tiga tahun
kemudian aku baru bertemu dengan guruku.”
“Bibi, ilmu silat bibi tinggi sekali, tentunya guru bibi luar biasa lihaynya” kata Siau Po.
“Tentang kepandaian, tidak bisa dipastikan Di dalam negeri kita ini, entah ada berapa
banyak tokoh-tokoh berilmu tinggi. Guruku itu juga menerima perintah dari gurunya lagi
untuk menyelundup ke dalam istana dan menyamar sebagai dayang”
Sembari berkata, To kionggo mengayunkan cambuknya lebih keras agar kereta
berjalan lebih cepat.
Tujuan guruku masuk ke dalam istana adalah untuk mencari ke delapan perangkat
kitab Si Cap Ji cin-keng,” katanya menjelaskan lebih jauh.
“Jadi… kitab itu terdiri dari delapan perangkat?”
“Benar, Bangsa Boan Ciu terdiri dari Pat ki (delapan bendera), Warna kuning, putih,
merah dan biru disebut Suki (empat bendera) dan ada ia Siang suki (Empat bendera
bersulam), Setiap Ki Ciu (Pemimpin bendera) mengepalai satu bagian atau kelompok,
semuanya terdiri dari delapan kelompok dan otomatis kitabnya juga ada delapan.”
“Aku mengerti sekarang,”

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s