“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 37

di sini untuk memperkokoh
kedudukanku. Aku harus bersiap menghadapi perempuan hina yang jahat itu Setelah
kau mendapatkan hasil dan kedudukanku di sini sudah cukup aman dan kuat, barulah
kita pergi bersama”
Siau Po berpikir cepat. Usul raja itu memang cukup bagus, Tampaknya raja sudah
bertekad untuk menentang ibu suri.
“Ada baiknya kita bekerja masing-masing,” pikirnya, Karena itu dia segera
menganggukkan kepalanya, “Baik Aku akan pergi ke Ngo Tay san”

“Ada sebuah aturan dalam kerajaan Ceng, seorang thay-kam tidak bisa
meninggalkan istana se orang diri, kecuali secara resmi atau ikut bersama ku. Tapi,
Siau kui cu, sekarang kau berbeda, karena kau bukan thay-kam, Kau boleh pergi, asal
buka sebagai seorang thay-kam, sebaiknya kau berdanda sebagai siwi saja, Hal ini
mungkin menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan orang-orang dalam istana, Karena
selama ini kau dikenal mereka sebagai thay-kam, Bagaimana baiknya sekarang?”
Raja termenung sejenak, kemudian baru di berkata lagi: “Begini saja, Siau kui cu,
akan kujelaskan pada orang-orang bahwa demi membunuh Go Pay, aku
menugaskanmu agar menyamar sebagai thay-kam, sekarang tugasmu sudah selesai,
kau tidak perlu menjadi thay-kam lagi, Siau kui cu, sebaiknya setelah ini kau rajin
belajar ilmu surat agar kelak aku bisa menghadiahkan kau pangkat yang tinggi”
Siau Po tertawa.
“Baik” serunya, “Bagus sih bagus Tapi setiap kali melihat buku, kepalaku langsung
jadi pusing”
Raja pun tersenyum, Dia segera duduk di meja dan mengeluarkan kertas serta alat
tulisnya untuk membuat surat pada ayahnya, Dia ingin menjelaskan bahwa bukan
dirinya tidak berbakti (put hau), tapi sampai sekarang ia baru mengetahui bahwa
ayahnya masih hidup dan menetap di gunung Ngo Tay san. Keterangan itu membuat
hatinya senang sekali, karenanya dia berjanji akan mengatur persiapan untuk
menyambut kepulangan ayahnya ke kotaraja, Dengan demikian mereka ayah dan anak
dapat berkumpul bersama-sama lagi.”
“Siau kui cu, kau harus berhati-hati,” pesan kaisar Kong Hi ketika menyerahkan surat
itu kepada Siau Po. “Kalau surat ini sampai terjatuh ke tangan orang, kemungkinan kau
akan diringkus dan dibunuh….”
“Aku mengerti” sahut Siau Po.
Raja mengambil sehelai kertas lagi kemudian menulis kembali, Bunyinya begini:
“Diperintahkan kepada Wi Siau-po, Gi-cian siwi hu congkoan yang dihadiahkan baju
Ma kwa kuning untuk pergi ke gunung Ngo Tay san dan sekitarnya untuk melakukan
tugas kenegaraan, Semua pembesar setempat sipil dan militer harus bersedia
menerima segala titahnya.
Firman atas nama kaisar Kong Hi.
Selesai menulis, raja menyerahkan surat pengangkatannya pada Siau Po dan
berkata sambil tertawa:
“Aku memberimu sebuah pangkat. Nah, kau lihat sendiri, pangkat apa itu?”

Siau Po menyambuti kertas itu dan membelalakkan matanya untuk membaca surat
itu. Tidak, di hanya melihat, bukan membaca Sebab yang dikenalnya hanya beberapa
huruf seperti Ng (lima), san (gunung), It (satu) dan Bun (sipil lainnya tidak, Karena itu
dia menggelengkan kepalanya sambil menyahut.
“Aku tidak tahu pangkat apa. Tapi karena kau yang menganugerahkan, tentunya
pangkat ini tidak rendah, bukan?”
Raja tertawa, kemudian dia membacakan firmannya, Mendengar apa yang tertulis di
dala kertas itu. Siau Po menjulurkan lidahnya.
“Oh pangkat Gi-cian siwi hu congkoan?” katanya. “Sungguh hebat Sungguh hebat
Malah aku mengenakan baju Ma kwa kuning”
Pangkat yang diberikan raja adalah Pemimpin muda dari pasukan pengawal pribadi
kaisar.
Raja tersenyum dan berkata.
“Walaupun To Lung menjadi congkoan, tapi dia tidak dianugerahkan baju Ma kwa
kuning, sedangkan kau, bila kau berhasil menjalankan tugasmu dengan baik,
sekembalinya nanti, pangkatmu akan kunaikkan lagi, Sayang sekali usiamu masih
terlalu muda, karena itu rasanya tidak pantas kau menjadi menteri Tapi biarlah urusan
itu kita bicarakan lagi perlahan-lahan bila kau sudah kembali nanti”
“Bagiku sendiri, pangkat tinggi atau rendah sama saja,” sahut Siau Po. Dia memang
pandai bicara dan berotak encer “Bagiku sudah lebih dari cukup kalau aku bisa
senantiasa mengikutimu.”
Di dalam hatinya kaisar Kong Hi senang sekali mendengar ucapan hambanya itu.
“Kau harus berhati-hati dengan kepergianmu ini,” kata kaisar Kong Hi. “Semua
gerak-gerikmu harus dirahasiakan. Mengenai firmanku ini bila tidak dalam keadaan
terpaksa, jangan kau perlihatkan pada siapa pun Nah, kau pergilah”
Siau Po mengucapkan terima kasih, dia memberikan janjinya, Setelah itu dia
memberi hormat dan memohon diri. Ketika kembali ke kamarnya di mana kedua nona
Bhok dan nona Pui bersembunyi dia berpikir.
“Tentu mereka memikirkan aku sampai bingung dan khawatir….”
Tatkala itu fajar sudah mulai menyingsing. sampai di kamarnya, Siau Po mendorong
pintu perlahan-lahan. Dia segera melihat kedua nona itu sedang duduk berdampingan
dengan punggung menyandar tembok, Pui Ie tidak tidur.
“Oh, kau sudah kembali” sapanya.

“Bagus sekali, selamat” kata Siau Po tanpa menjawab kata-kata gadis itu. “Mari kita
keluar dari tempat ini sekarang juga”
Berbeda dengan Pui Ie, Kiam Peng sedang tertidur pulas. Mendengar suara orang,
dia membuka matanya sambil berkata.
“Kau tahu, suci merasa khawatir sekali, dia takut kau menghadapi ancaman
bahaya…”
“Tidak apa-apa, tak ada bahaya apa-apa,” sahut Siau Po.
Pada saat itu terdengar suara bunyi genta sebagai tanda pintu istana telah dibuka
dan ratusan pembesar sipil maupun menteri-menteri hadir seperti biasanya untuk
memberi hormat dan mengikuti rapat umum bersama Sri Baginda setiap paginya.
Siau Po mendengar suara itu, tapi dia tidak memperdulikannya, Dia malah
menyalakan lilin sehingga keadaan kamar menjadi terang dan dia dapat melihat wajah
kedua nona itu, Dandanan mereka, benar-benar sempurna.
“Kalian berdua terlalu cantik,” katanya, “Sebaiknya wajah kalian diolesi tanah sedikit
agar tidak terlalu putih”
Kiam Peng kurang setuju dengan saran Siau Po, tapi Pui Ie langsung mencoret tanah
dan mengolesi wajahnya sendiri, terpaksa Kiam Peng pun mengikuti kelakuannya,
Dengah demikian rona wajah mereka jadi agak gelap.
Siau Po membungkus ketiga kitab Si Cap Ji cin-keng menjadi satu kemudian dia
mengeluarkan tusuk konde perak dan menyerahkannya kepada Pui Ie.
“Bukankah ini tusuk konde yang kau maksudkan?”
Pui Ie jadi terharu sehingga wajahnya menjadi merah, cepat-cepat ia berpaling ke
arah lain.
Siau Po tersenyum.
“Sebenarnya tidak ada bahayanya sama sekali,” katanya, sedangkan dalam hatinya
dia berkata, ini yang dinamakan, berbuat baik mendapat pembalasan yang baik pula,
Kalau aku tidak pergi mengambil tusuk konde ini, mana mungkin aku mendapat hadiah
baju Ma kwa kuning seperti sekarang?”
Siau Po segera mengajak kedua kawannya meninggalkan istana, Mereka keluar Sinbu
mui, yakni pintu belakang kota terlarang, Ci-kiam sia.
Tatkala itu hari baru mulai terang, cuaca masih suram, penjaga kota melihat yang
keluar adalah Siau kui cu bersama dua orang thay-kam lainnya. Dia tidak berani
mencegah, bahkan bertanya pun tidak, Malah dia bersikap mengambil hati Siau Po

yang dia tahu merupakan thay-kam kesayangan raja, Dengan demikian, tanpa menemui
kesulitan sedikitpun mereka berhasil keluar dari Ci-kiam sia.
Setelah berjalan belasan tombak, Pui Ie menoleh ke belakang, kemudian dia menarik
nafas lega. Banyak yang dipikirkannya, sejak menyerbu ke dalam istana, dia telah
mengalami berbagai peristiwa, Dia seperti sudah mati dan menjelma kembali…
Setibanya di jalan raya, Siau Po segera menyewa tiga joli kecil untuk membawa
mereka bertiga, Masing-masing naik ke dalam sebuah joli, Dia menyuruh tukang joli
membawanya ke jalan Tiang An barat Di sana mereka turun dan berganti dengan joti
lainnya, sekarang mereka baru menuju ke tempat cabang kantor Tian-te hwe
Setelah sampai dan turun dari joIi. Siau Po berkata kepada kedua nona itu.
“Rekan-rekan kalian dari Bhok onghu sejak kemarin sudah keluar dari kota ini.
Karena itu, aku harus berunding dulu dengan kawan-kawanku untuk mengambil
keputusan kemana kalian harus diantar.”
Pada saat ini, sikap Siau Po sudah berubah, sekarang dia sudah menjadi Gi-cian siwi
hu cong koan (Pemimpin muda dari pengawal pribadi raja). Mendadak dia merasa
seperti orang dewasa, Apa lagi sekarang dia sedang menerima tugas penting dari raja,
Dia harus menyelidiki suatu urusan besar karena itu dia tidak bersikap sembarangan,
sedangkan saat itu gurunya masih ada di sana sehingga dia tidak berani banyak
tingkah.
“Aku tidak berani berdiam di kotaraja ini lama-lama,” kata Siau Po terus terang.
“Bagiku, mungkin pergi semakin jauh semakin baik, Aku harus menunggu sampai
thayhou mati dan keadaan aman, baru aku kembali lagi ke sini”
“Kami mempunyai sahabat yang tinggal di dusun Cioki cung, wilayah Ho Pak,” kata
Pui Ie. “Kalau kau tidak keberatan, seba… iknya kau ikut kami pergi ke sana untuk
menyingkirkan diri sementara, Bukankah ini merupakan jalan yang baik?”
“Baik, sih baik” kata Kiam Peng sebelum orang memberikan jawabannya, “Kau
adalah penolong kami, jadi kau adalah orang sendiri, Bahkan dengan mengadakan
perjalanan bersama-sama, kita bisa bergembira”
Kedua nona itu menatap Siau Po dengan sorot mata berharap, Kiam Peng
tampaknya bernafsu sekali, tapi sikap Pui Ie agak malu-malu.
Bukan main senangnya hati Siau Po dapat berjalan bersama kedua gadis cantik itu,
apalagi perjalanan yang jauh. Tetapi dia ingat akan tugasnya, Dia harus menanti
perintah raja dan terpaksa menolak ajakan kedua nona itu, Karena itu dia menjawab
dengan menggunakan alasan yang masuk akal.
“Aku telah berjanji kepada seorang sahabatku untuk melakukan sesuatu, Karena itu
aku tidak pergi bersama kalian ke dusun Cioki cung. Kalian sedang menyembuhkan

luka dan tidak dapat melakukan perjalanan jauh, karena itu, aku berpikir untuk meminta
pertolongan sahabatku yang dapat dipercaya untuk melindungi kalian sepanjang
perjalanan, sekarang mari kita singgah dulu di suatu tempat untuk bersantap dan
beristirahat. Kalau perlu nanti kita rundingkan kembali.”
Kedua nona itu menyatakan persetujuannya. Siau Po langsung mengajak mereka ke
cabang markas Tian-te hwe.
Anggota Tian-te hwe yang berjaga di ujung lorong segera mengenali Siau Po dan
mengajaknya masuk, Di dalam, mereka disambut oleh Kho Ga tiau yang heran melihat
hiocunya membawa dua orang thay-kam bersamanya.
Siau Po mengerti perasaan rekannya itu. dia segera membisikkan.
“Kedua nona ini…. Yang satu ialah Putri dari Bhok onghu, sedangkan yang satu ini
adalah kakak seperguruannya, Aku baru saja menolong mereka meloloskan diri dari
istana.”
Gan Tiau segera mempersilahkan kedua nona itu duduk dan menyuguhkan air teh.
Kemudian dia menarik Siau Po ke samping dan berkata kepadan dengan nada berbisik:
“Tadi malam Cong tocu sudah meninggalkan kotaraja.”
Mendengar berita itu, bukan main senangnya hati Siau Po. Hal ini berarti untuk waktu
agak ia dia tidak akan bertemu dengan gurunya, Dia paling takut bertemu dengan Tan
Kin-Iam, sang guru, dia juga tidak tahu, apabila bertemu dengan gurunya itu, haruskah
dia menceritakan tugas yang diberikan kaisar Kong Hi kepadanya.
Sekarang dia bebas, hatinya lega sekali, Tapi, di hadapan Gan Tiau sengaja dia
memperlihatkan sikap lain, Dia seakan kecewa dan menyesalkan hal itu, Dia
membanting-banting kakinya seraya berkata.
“Ah Kenapa suhu begitu cepat meninggalkan kotaraja?”
“Cong tocu telah berpesan kepada sebawahanmu ini untuk memberitahukan hiocu,”
kata Gan Tiau, “Katanya Cong tocu telah menerima berita kilat dari Taiwan, karena itu,
mau tidak mau dia harus kembali kesana untuk mengurusnya, Cong tocu berharap,
dalam segala hal hiocu harus bertindak seksama dan pandai melihat situasi Cong tocu
juga mengatakan, seandainya hiocu tidak leluasa berdiam lagi di kotaraja, sebaiknya
hiocu pergi untuk sementara, Pesan lainnya ialah agar hiocu rajin berlatih silat,
sedangkan mengenai racun yang mengendap dalam tubuh hiocu, seandainya
bertambah parah, harap hiocu segera mengabarkan pada Cong tocu.”
“Ya, aku mengerti,” sahut Siau Po. “Suhu memang sangat prihatin terhadap ilmu silat
dan racun yang mengendap dalam tubuhku, Syukurlah aku mendapatkan seorang suhu
yang begitu baik.”

Ucapan Siau Po yang terakhir adalah kata-kata yang keluar dari hatinya yang paling
tulus, Bukankah dalam keadaan yang demikian genting, Ta Kin-lam juga masih
demikian memperhatikannya?
“Sebenarnya apa yang terjadi di Taiwan?” tany Siau Po kemudian.
“Katanya dalam keluarga The, terjadi perselisihan antara ibu dan anak, Malah
menyebabka terbunuhnya seorang menteri,” kata Gan Tiau.”Rupanya di sana terjadi
kekacauan di dalam, Cong tocu sangat dihormati, karena itu, dengan kembalinya beliau,
mudah-mudahan urusan bisa dijernihkan Hiocu tidak perlu khawatir Hoan toako, Ho
toako dan Hian Ceng tojin ikut dengan Cong tocu ke sana. sedangkan Ci samko dan
sebawahanmu ini disuruh menetap dulu di kotaraja untuk menerima titah dari hiocu.”
Siau Po mengangguk.
“Baiklah,” katanya, “Sekarang tolong kau panggilkan Cisamko”
Di dalam hatinya, diam-diam Siau Po berpikir.
“Kepandaian Ci samko tinggi sekali dan otaknya pun cerdas. Lagipula usianya sudah
lanjut dan banyak pengalamannya, Kalau dia disuruh mengantarkan kedua nona ini ke
dusun Cioki cung, pasti tepat sekali…”
Sedangkan mengenai urusan di Taiwan, dia berpikir juga,
“Di Taiwan juga terjadi perselisihan antara ibu dan anak, tidak berbeda keadaannya
dengan thayhou serta kaisar Kong Hi, namun entahlah kalau masalahnya….”
Seberlalunya Gan Tiau, Siau Po mengajak Kiam Peng dan Pui Ie makan mi. Baru
bersantap setengah mangkok, Bhok Kiam-peng tidak dapat menahan keinginan hatinya
untuk bertanya pada Siau Po.
“Benarkah kau tidak bisa ikut kami ke dusun Cioki cung?”
Siau Po tidak langsung menjawab. Matanya memperhatikan Pui Ie yang sedang
asyik makan mi. Meskipun sedang makan, gadis itu mengangkat wajahnya sehingga
pandangan mata mereka bertemu satu dengan lainnya, Siau Po dapat melihat bahwa
mata itu juga menyorotkan sinar berharap sebagaimana halnya mata Kiam Peng.
“Aih” keluhnya dalam hati, “Mereka berharap aku dapat menemani, tapi bagaimana
mungkin? Tugasku ini penting sekali. Aku juga tidak dapat mengajak mereka, Keduanya
sedang terluka, bukankah akhirnya malah akan merepotkan aku? Lain kalau mereka
dalam keadaan sehat, Kecuali dapat membela diri apabila ada apa-apa, mereka juga
dapat memberikan bantuan kepadaku, sekarang justru aku yang harus melindungi
mereka berdua, Dan perjalanan bersama mereka pasti menarik perhatian umum”
Karena itu, akhirnya dia menarik nafas panjang.

“Begini saja, setelah tugasku selesai, aku akan pergi ke dusun Cioki Cung untuk
menjenguk kalian. siapakah she dan nama kawanmu itu dan apa nama kampungnya?”
Pui Ie menundukkan kepalanya, Tangannya menyumpit mi, tapi dia tidak langsung
membawa ke mulutnya, dia hanya berkata dengan suara perlahan.
“Sahabat kami itu tinggal di dusun Cioki cung, di sebelah barat pasar. Dia membuka
sebuah perusahaan pengangkutan dengan keledai dan kuda, Dia mendapat julukan
Koay Ma Ti-sam atau si Kuda Cepat “
“Koay Ma Ti-sam” Siau Po mengulangi nama itu sekali lagi. “Baiklah, Nanti aku akan
menjenguk kalian.” Dia memperlihatkan tampangnya yang berseri-seri dan bergurau
lagi sebagaimana biasanya, “Mana bisa aku meninggalkan sepasang istri tua dan muda
yang demikian cantik cantik bagai batu kumala yang indah?”
Kiam Peng tertawa.
“Belum apa-apa, kau sudah mempermainkan lagi lidahmu yang tajam itu,” katanya,
Dia tahu Siau Po hanya bergurau sehingga dia tidak merasa jengah atau malu.
Pui Ie juga tidak merasa jengah, malah dia berkata.
“Kalau kau benar-benar menganggap kami sahabat karib, setiap hari kami akan
mengharapkan kedatanganmu…. Sebaliknya, bila kau tidak memandang sebelah mata
kepada kami, lebih baik kau tidak usah datang.”
Siau Po tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Dia menjadi tidak enak
sendiri lekas-lekas dia berkata.
“Baiklah Baik Kalian tidak suka bercanda, lain kali aku akan bersikap serius”
Pui Ie senang mendengar janji itu.
“Bicara main-main tentu boleh saja, tapi harus ada batasnya,” katanya sambil tertawa
manis, “Untuk bercanda, orang harus tahu waktu dan tempat yang tepat. Kau… kau…
apakah kau marah?”
Hati Siau Po senang sekali, Dia berkata dengan penuh semangat
“Tidak Sebaliknya, aku justru berharap kau tidak marah….”
Pui Ie tertawa.
“Menghadapi orang sepertimu, siapa pun tidak bisa marah”
Dengan demikian, suasana dalam ruangan itu menjadi ceria. Hubungan mereka pun
semakin akrab.

Di wilayah utara, meskipun pagi hari, udara sudah dingin sekali, Begitu pula yang
dirasakan ketiga orang muda itu.
Siau Po menghirup kuah mi di mangkuknya, Dia seperti tidak sempat mengatakan
apa-apa lagi, Tepat pada saat itu, dari halaman luar terdengar suara langkah kaki berat
yang mendatangi Siau Po segera menoleh dan tampaklah Pat-pi Wan kau (Si kera
bertangan delapan) Ci Tian-coan masuk ke dalam ruangan.
Begitu sampai di depan Siau Po yang usianya jauh lebih muda, Tian Coan segera
menjura dalam-dalam memberi hormat, wajahnya berseri-seri dan dia menyapa dengan
ramah.
“Apakah Nilo (tuan yang terhormat) dalam keadaan baik-baik saja?”
Tian Coan sudah tua dan banyak pengalaman Dia juga orang yang berhati-hati,
Melihat sang hiocu datang bersama dua orang yang tidak dikenal, ia tidak menyebutnya
sebagai ketua, tetapi menyapanya dengan panggilan Tuan yang terhormat
Siau Po merangkapkan tangannya membalas hormat dan berkata sambil tertawa
manis.
“Ci toako, mari aku kenalkan kau dengan dua orang sahabatku, Yang ini nona Pui,
dan yang ini nona Bhok, Siau kuncu dari Bhok onghu. Mereka adalah murid-murid
berbakat dari Tiat-pwe cong liong Liu Tay-hong” kemudian dia menoleh kepada kedua
nona itu, “Nona-nona, inilah Ci toako yang sudah kenal baik dengan guru kalian serta
Siau ongya.,.” Dia khawatir kedua nona itu masih memendam atau penasaran,
karenanya dia segera menambahkan “Dulu memang terjadi kesaah-pahaman, tetapi
sekarang semuanya sudah beres.”
Kedua belah pihak saling memberi hormat.
Setelah itu Siau Po berkata kepada Ci Tian-coan.
“Ci toako, kali ini aku hendak memohon bantuanmu….”
Sekarang Tian Coan percaya kedua nona itu sudah mengetahui siapa adanya Wi
Siau Po, karena itu dia langsung berkata,
“Wi hiocu, sebawahanmu akan mentaati apa pun perintahmu”
Terkaan Tian Coan keliru, sebenarnya Kiam Peng dan Pui Ie belum tahu bahwa thaykam
yang menolong mereka adalah hiocu dari Tian-te hwe. Karena itu mereka merasa
heran mendengar orang tua yang sudah mempunyai nama itu memanggil Siau Po
dengan sebutan hiocu. Mereka segera menoleh dan memperhatikan Siau Po lekat-lekat
saking herannya.

Siau Po mengerti kebingungan kedua nona itu, dia langsung tersenyum dan
menjelaskan.
“Nona-nona, perlu kalian ketahui bahwa Gouw Lip-sin loyacu dan muridnya serta Lau
It-cou telah berkumpul kembali bersama Bhok siau ongya dan sudah meninggalkan
kotaraja ini. Kamilah yang mengatur semua itu.”
“lya, betul,” kata Ci Tian-coan menambahkan, “Bhok ongya kemarin sudah
meninggalkan kotaraja dan keadaannya baik-baik saja.”
“Jadi kakak Lau It-cou juga bersama dengan toako sekarang?” tanya Kiam Peng
mewakili nona Pui yang kemalu-maluan.
“Benar,” sahut Tian Coan. “Aku sendiri yang mengantarkan mereka keluar pintu kota,
tapi mereka berpencar menjadi dua kelompok Lau It-co berjalan bersama dengan Liu
loyacu.”
Pui Ie menundukkan kepalanya. Wajahnya merah padam.
Melihat sikap nona itu, Siau Po berkata dalam hatinya.
“Kau mendengar kabar tentang pacarmu yang berhasil meloloskan diri dengan
selamat, tentu saja kau kesenangan setengah mati..”
Tetapi, sebenarnya dugaan Siau Po keliru, Pu Ie justru merasa sedih dan bingung,
Dia berpikir dalam hati.
“Aku sudah berjanji dengannya, bila dia berhasil menyelamatkan Lau suko, maka aku
bersedia menikah dengannya, Meskipun aku rela, tapi dia kan seorang thay-kam, mana
mungkin aku menikah dengannya? Dia juga masih terlalu muda, meskipu tingkahnya
berlebihan sekarang dia malah menjadi Wi hiocu entah apa.”
Siau Po tidak memperdulikan pikiran nona itu, dia berkata lagi dengan cepat.
“Kedua nona itu sempat berhadapan dengan para siwi istana sehingga keduaduanya
terluka, sekarang mereka ingin pergi ke dusun Cioki cung di mana tinggal salah
seorang sahabat mereka, Aku berpikir untuk memohon bantuan Ci toako agar sudi
mengantarkan sampai tujuan dengan selamat.”
“Urusan itu mudah” sahut Tian Coan, “Malah aku merasa senang sekali hiocu
memilih aku yang menjalankan tugas ini. Sebawahanmu ini merasa menyesal terhadap
apa yang pernah terjadi antara sebawahanmu dengan keluarga Bhok, Bukankah Siau
ongya telah menolong aku? Aku merasa bersyukur sekaligus malu, karena itu aku
senang sekali menerima tugas ini. Aku harap aku dapat mengantar kedua nona ini
sampai di tujuan tanpa kurang sesuatu apa pun. Dengan demikian perasaanku menjadi
agak lega….”

Bhok Kiam-peng memperhatikan Ci Tian-coan. Dia melihat orangnya sudah tua dan
tubuhnya juga kecil kurus, punggungnya agak membungkuk. Dia jadi mempunyai
dugaan bahwa orang ini pasti roboh tertiup angin yang rada kencang saja, mengapa
orang tua semacam ini diberi tugas mengantarkan mereka berdua? Bisa jadi nanti
bukan mereka berdua yang dilindungi malah mereka berdualah yang harus melindungi
si tua bangka itu.”
Justru karena Siau Po mengatakan bahwa dia tidak dapat turut serta, Kiam Peng
menjadi tidak puas, Hal ini tersirat jelas pada wajahnya.
Sebaliknya Pui Ie tidak memperlihatkan reaksi apa pun. Dia hanya berkata.
“Ci toako, kami benar-benar tidak berani merepotkan dirimu,” katanya merendah
“Bagi kami, sudah lebih dari cukup apabila disediakan sebuah kereta yang besar agar
dapat melanjutkan perjalanan. Luka kami sudah tidak terlalu mengkhawatirkan…”
Ci Tian-coan tertawa.
“Nona Pui, tak usah nona sungkan-sungkan” katanya, “Hiocu sudah menitahkan aku
dan aku harus menjalankan tugasku sebaik-baiknya, Nona berdua sangat gagah,
sebetulnya kalian tidak memerlukan pelayanan kami yang mungkin menjemukan
Lagipula aku sudah tua, tidak pantas dikatakan mengantarkan, tapi setidaknya aku
cukup berguna untuk disuruh-suruh. Aku bisa mencarikan penginapan untuk
beristirahat, menyewakan kereta, membelikan barang-barang yang dibutuhkan Aku
senang dalam melakukan semua itu. Dengan ikutnya aku si orang tua, nona berdua
tidak perlu capekkan diri melakukan sendiri pekerjaan kasar apa pun.”
Mendengar ucapan si orang tua yang ramah itu, Pui dan Kiam Peng sadar mereka
tidak enak untuk menolak terus, Akhirnya Pui Ie berkata.
“Ci loyacu sangat baik hati, entah bagaimana kami dapat membalasnya kelak?”
Kembali Tian Coan tertawa,
“Apanya yang harus dibalas?” sahutnya ramah, “Bicara terus terang, nona berdua,
kekaguman aku si orang tua terhadap hiocu kami yang satu ini tidak pernah habishabisnya,
jangan nona-nona memandang remeh terhadap usianya yang masih muda,
kenyataannya banyak yang dapat dilakukannya, Kemarin hiocu telah membantu aku
melegakan dadaku yang sesak ini, dan di saat aku sedang berpikir bagaimana caranya
untuk membalas budi, tahu-tahu begitu kebetulan aku mendapat tugas ini.
“Nona berdua, meskipun kalian tidak sudi diantar olehku, aku bisa tahu diri. Nanti aku
akan berangkat terlebih dahulu agar dapat berjalan di depan kalian dan si orang tua ini
bisa mengatur segalanya, seandainya bertemu gunung, aku akan membuat jalannya,
bertemu sungai, aku akan membangun jembatannya, dengan demikian tanpa kesulitan
nona-nona berdua bisa tiba di dusun Cioki cung, jangan kata mengantar nona berdua
sampai dusun itu, yang hanya makan waktu beberapa hari, sekalipun harus

mengantarkan sampai ke Inlam, aku juga akan menjalankannya dan baru berhenti
apabila kaitan sudah sampai di tujuan”
Kiam Peng tertarik juga mendengar kata-kata Tian Coan wajahnya memang tidak
enak dilihat, tapi orang tua ini berani dan bicaranya polos, Kiam Peng jadi suka
berbicara dengan nya.
“Dalam urusan apakah kemarin dia membuat dada loyacu jadi lega?” tanyanya,
“Ke… marin kan dia ada dalam istana?”
“Persoalannya begini…” sahut Tian Coan sambil tertawa, “Di bawah pemerintahan
Go Sam-kui dari propinsi Inlam ada seorang pembesar anjing bernama Yo It-hong. Dia
telah menangkap aku si orang tua. Di tempat tahanannya aku dimaki-maki seenak
perutnya dan disiksa secara bergantian. Hampir saja selembar jiwaku yang tua ini
melayang, Untung kakakmu, Bhok siau ongya telah mengirim orang untuk menolong
aku. Pada waktu itu Wi hiocu berjanji akan menyuruh orang menghajar kaki pembesar
anjing itu sampai patah,.”
Kebetulan putra Go Sam-kui datang ke kota-raja dengan membawa banyak
pengikutnya, Ter-masuk Yo It-hong. sebelumnya dia pernah makan hantamanku,
karena itu dia menjadi tidak puas, tapi dia tidak dapat menemukan aku karena tidak
tahu di mana aku berada, Beberapa hari yang lalu, ternyata datanglah bintang gelap
yang menimpaku. Ketika aku berada di toko obat di sebelah barat kota, dia menculikku,
Tentu saja dengan mengandalkan orang-orangnya yang banyak dan saat itu aku masih
dalam keadaan terluka. Setelah ditolong oleh Bhok siau ongya, aku terus mencari jalan
untuk membalaskan sakit hatiku, Sampai sekian jauh belum datang juga kesempatan
itu. Eh, tida tahunya kemarin aku bertemu dengan seorang sahabat yang menjadi tabib
khusus patah tulang.Dialah yang memberitahukan padaku bahwa orang-orang Peng Si
ong menggotong seorang pembesar negeri yang terluka, Dia seperti diarak ke setiap
tabib di kota, Anehnya, meskipun telah mendatangi tiga puluhan tabib, tidak ada
seorang pun yang bersedia mengobatinya.
Dia dibiarkan kesakitan orang-orang yang menggotongnya menjelaskan bahwa
pembesar anjing yang luka itu bernama Yo It-hong dan lukanya itu didapatkan karena
baru saja dihajar oleh puteranya pengkhianat Go Sam-kui, yakni Go Eng-him dengan
toya, Katanya pembesar anjing itu dibiarkan menderita selama tujuh hari tujuh malam
baru akan diobati”
Bagian 28
Kiam Peng dan Pui Ie merasa heran. Hal itu benar-benar aneh bagi mereka, Untuk
apa pembesar itu diarak ke setiap tabib kalau bukan untuk diobati?
“Apa arti perbuatan orang-orang yang menggotongnya itu?” tanya kedua nona itu
kepada Siau Po.

Orang yang ditanya tertawa,
“Yo It-hong, pembesar anjing itu telah bersalah kepada Ci toako,” sahutnya,
“Perbuatannya sungguh keterlaluan sekarang dia harus diberi pelajaran agar tahu rasa
dan menderita”
“Lalu, mengapa dia digotong kesana kemari oleh anjing Peng Si ong? Apakah
sengaja dilakukan agar dilihat oleh orang banyak?”
Siau Po tertawa.
“Go Eng-him, si bocah busuk itu melakukan hal tersebut supaya aku mendengarnya,”
sahutnya, “Aku yang menyuruh dia menghajar kaki pembesar anjing itu dan ternyata dia
telah melakukannya dengan baik.”
Kiam Peng semakin heran.
“Lalu, mengapa Go Eng-him harus mendengar kata-katamu?” tanyanya kembali.
Kembali Siau Po tertawa.
“Aku hanya mengoceh sembarangan di hadapannya untuk mengelabuinya,”
sahutnya, “Rupanya dia percaya dengan ocehanku.”
“Tadinya aku ingin membunuh pembesar anjing itu, tapi setelah dipikir-pikir, aku
membatalkannya. Dia toh sudah diarak kesana kemari dalam keadaan terluka, Kakinya
yang patah itu tidak boleh diobati dulu. Kalau dia langsung dibunuh begitu saja, tentu
terlalu enak baginya. Karena itulah aku membiarkannya, Kemarin sore aku melihatnya
sendiri. Menurut pandanganku meskipun masih hidup, tapi nyawanya tinggal satu dua
bagian saja, Kedua kaki celananya digulung ke atas sampai ke paha, Kakinya yang
terluka pun sudah membengkak dan biru matang. Aku yakin paling-paling dia bisa
bertahan beberapa hari lagi Nah, nona-nona berdua, coba kalian pikir, apakah aku tidak
merasa puas melihat kenyataan itu?”
Kedua nona itu tersenyum, Demikian pula dengan Siau Po.
Tidak lama kemudian muncul Kho Gan-tiau yang melaporkan bahwa dia sudah
mencarikan dua buah kereta besar dan sekarang sudah menunggu di depan pintu, Dia
termasuk seorang anggota penting dalam perkumpulan Tian-te hwe, tetapi menurut
peraturan partai itu, dia tidak boleh sembarangan diperkenalkan dengan orang, itulah
sebabnya dia tidak diajak kenal dengan kedua nona itu, Tian-te hwe bertujuan
menentang pemerintahan Boan, karena itu anggota-anggotanya dianggap tidak perlu
terlalu menonjolkan diri.
Menerima laporan itu, Siau Po berpikir dalam hati.

“Dalam buntalanku sudah terkumpul enam jilid kitab Si Cap ji cin-keng. Apa
faedahnya kitab-kitab itu? Aku sama sekali tidak tahu, Mengapa orang lain selalu
menginginkannya, sampai-sampai menempuh jalan mencuri bahkan mengorbankan
jiwa orang lain? Di balik semua ini, pasti ada sebabnya, Karena itu, aku harus menjaga
baik-baik agar kitab ini jangan sampai hilang.”
Hanya sejenak Siau Po berpikir Kemudian dia mendapat akal, Dia menggapaikan
tangannya kepada Kho Gan-tiau.
“Kho toako,” bisiknya, “Selama di istana aku mempunyai seorang sahabat yang telah
dibunuh oleh para siwi. Karena dia merupakan sahabat karibku, maka aku menyimpan
tulang belulangnya, Ada niatku untuk menguburnya baik-baik. Karena itu, tolong kau
beli sebuah peti mati yang bagus untuk menempatkan abunya.”
Orang she Kho itu menerima perintah itu dengan mengangguk Ketika mengundurkan
diri, dia berpikir.
“Sahabat hiocu itu pasti seorang gisu yang menentang kerajaan Boan, karena itu aku
harus mencari peti mati dengan kayu pilihan dari Liu Ciu.”
Gan Tiau cerdas juga pandai bekerja, Dia diberikan uang sebesar lima ratus tail
perak, tapi masih bersisa tiga puluh tail lebih. Kecuali peti mati, dia juga membeli
pakaian, guci, semen, kertas, lengpay dan lain-lainnya. Menuruti pesan sang hiocu dia
juga membeli pakaian serta sepatu untuk Pui Ie dan Kiam Peng, Tidak lupa pula ia
membeli ransum kering untuk perbekalan dalam perjalanan.
Sampai sekembalinya Kho Gan-tiau, Siau Po, Kiam Peng dan Pui Ie mendapat
kesempatan tidur selama kurang lebih dua jam. Siau Po yang pertama-tama mengganti
pakaian, dia tidak berdandan sebagai seorang thay-kam lagi. Dia sendiri yang
mengurus penyimpanan kitab-kitabnya, Mula-mula dia membungkus keenam kitab itu
dengan kertas yang berlapis-lapis, kemudian dimasukkannya ke dalam guci lalu
dipenuhi dengan abu gosok.
Paling bagus kalau peti mati ini aku isi denga kerangka manusia,” pikirnya dalam hati
“Seandai nya ada orang yang curiga, dan membuka tutup pe mati ini, mereka tidak akan
ragu 1agi. Tapi, dalaim waktu yang singkat, kemana aku harus mencar kerangka
manusia atau mayat yang utuh? Di mana aku harus mencari orang jahat yang patut
dibunuh?
Ketika akan keluar dari kamarnya dengan membawa guci, Siau Po membasahi matanya
dengan air. Dia muncul dengan tampang sedih, Peti mati diletakkan di ruangan
belakang dan memang tempat itulah tujuannya, Dia memasukkan guci berisi “abu
jenasah. Setelah selesai, dia menjatuhkan dirinya berlutut untuk memberikan
penghormatan yang terakhir kepada “sahabat’nya itu. Dia melakukannya sambil
menangis pilu.

Di ruang itu telah berkumpul Ci Tian-coan, Kho Gan-tiau juga kedua nona dari
keluarga Bhok, Tidak ada seorang pun dari mereka yang menaruh kecurigaan Bahkan
semuanya ikut memberikan penghormatan terakhir.
Siau Po pernah melihat upacara sembahyang di rumah keluarga Pek, maka dia pun
menirunya, Dia berlutut di depan keempat orang itu dan menghaturkan terima kasih.
“Hiocu, siapakah nama sahabatmu itu?” tanya Kho Gan-Tiau. “Nama dan she dia
harus ditulis dengan jelas.”
“Dia… dia.,.” kata Siau Po pura-pura menangis, padahal dia bingung karena belum
memikirkan nama sahabatnya itu. Dia… she Hay bernama Kui Tong.”
Siau Po memang cerdas sekali, Dalam waktu yang singkat dia bisa memikirkan
sebuah nama yang diambilnya dari nama Hay thayhu, Siau Kui cu, dan Sui Tong, Dia
berpikir dalam hati.
“Aku telah membunuh kalian bertiga dan sekarang aku bersembahyang untuk arwah
kalian. Uang ini boleh kalian gunakan di dalam alam baka, Tapi arwah kalian tidak boleh
mengganggu aku, ya” Kiam Peng melihat Siau Po menangis dengan sedih. Dia segera
menghibur.
“Bangsa Tatcu telah membunuh para gisu dan sahabat kita, Suatu hari pasti akan
tiba saatnya kita membalaskan sakit hati mereka, Dan sakit hati gisu ini pun akan
terbalaskan”
Abu jenasah palsu itu disebut “gisu” panggilan yang luar biasa hormatnya, Karena
“gisu” berarti “Patriot pecinta negara”
“Memang bangsa Tatcu harus dibasmi” kata Siau Po dengan nada sengit “Kalau
tidak, arwah para gisu tidak akan tenang dan sakit hatinya tidak terlampiaskan”
Selesai upacara sembahyang, semua orang berdiam untuk beristirahat. Kemudian
mereka mengucapkan selamat berpisah kepada Kho Gan-tiau untuk melanjutkan
perjalanan.
“Biar aku antar kalian barang selintasan,” kata Siau Po kepada kedua nona dari
keluarga Bhok itu.” Tentu saja Kiam Peng dan Pui Ie menjadi gembira mendengarnya.
Kedua nona itu duduk dalam satu kereta, sedangkan Ci Tian-coan dan Siau Po
duduk dalam keretanya masing-masing, Kereta itu keluar dari pintu timur dan menuju
arah timur juga, Setelah lewat beberapa li, baru mereka mengambil arah selatan.
Kurang lebih menempuh perjalanan sejauh delapan li, Tian Coan menyuruh keretakereta
itu dihentikan Kemudian dia berkata kepada Siau Po:
“Ada pepatah yang mengatakan mengantar sahabat sejauh seribu li”. Tapi meskipun
demikian, akhirnya toh harus berpisah juga, Begitu pula dengan kita. sekarang hari

sudah siang, Mari kita singgah untuk minum teh, setelah itu kita melanjutkan perjalanan
masing-masing.”
Siau Po setuju, mereka mampir di sebuah kedai teh yang letaknya di pinggir jalan
Ketiga sais kereta juga diajak serta, mereka duduk bertiga di meja lain.
Ci Tian-coan tahu diri. Dia menerka kedua nona itu tentu ada apa-apanya dengan
hiocu perkumpulan mereka. Mungkin ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan.
Dengan mencari alasan, dia mengundurkan diri, Dia berdiri memangku tangan dan
menyaksikan pemandangan alam di luar kedai.
“Kui.. Kui.,.” kata Kiam Peng membuka mulut, tapi dia segera mengganti katakatanya,
“Oh, bukan, bukan. sebenarnya kau she Wi bukan? Dan kau juga seorang…
entah hiocu apa?”
Siau Po tertawa.
“Aku she Wi dan namaku Siau Po,” katanya terus terang, “Di tempat ini aku adalah
seorang hiocu dari Ceng-bok tong yang merupakan bagian dari Tian-te hwe. sekarang
aku tidak dapat berbohong lebih lama lagi.”
“Oh” seru nona Bhok heran. Kemudian dia menarik nafas panjang.
“Mengapa kau menarik nafas?” tanya Siau Po.
“Kau adalah seorang hiocu bagian Ceng-bok tong dari Tian-te hwe,” kata si nona,
“Tetapi… mengapa kau menjadi thay-kam dalam istana Boan? Bukankah hal itu….”
Pui Ie menduga Kiam Peng akan mengatakan bukankah hal itu sayang sekali?”
Untuk mence-gahnya, dia segera menukas, Dia tidak ingin Siau Po menjadi tidak enak
hati.
“Kalau seorang yang berjiwa gagah dan bersemangat patriot sudi bekerja untuk
negaranya,” katanya, “Dia tidak akan memperdulikan jalan apa pun. walaupun hal itu
menentang sanubarinya sendiri, dia tetap akan menjalankannya. Kita justru harus
menghormati orang seperti itu”
Nona Pui menduga Siau Po mendapat tugas dari perkumpulannya untuk menyelinap
ke dalam istana kerajaan Ceng untuk menjadi mata-mata. Demi keberhasilannya, dia
rela menjadi thay-kam, pengorbanan semacam itu baginya besar sekali
Siau Po dapat menerka isi hati kedua nona itu. Dia tersenyum. Dalam hatinya dia
bertanya pada dirinya sendiri
“Apakah sebaiknya aku menjelaskan bahwa aku bukan seorang thay-kam asli?”

Tepat pada saat hiocu ini sedang berpikir keras, tiba-tiba dia dikejutkan suara
bentakan Ci Tian-coan.
“Hm Sahabat yang baik Apakah sampai detik ini kau masih tidak mau
memperlihatkan dirimu?” Teguran itu ditujukan pada salah seorang sais kereta yang
duduk di sampingnya. Tangannya segera meluncur untuk menepuk bahu orang itu.
Tapi tepukannya itu gagal, karena si sais berhasil memiringkan bahunya dengan
gesit sekali. Tangan kiri Tian Coan segera meluncur lagi untuk menghajar pinggang kiri
orang itu.
Ternyata sais atau kusir itu memang lihay sekali Dia menangkis sambil menggeser
tubuhnya sehingga terbebas dari serangan itu.
Tian Coan merasa penasaran, sikut kanannya menyusul ke arah belakang leher si
kusir.
Tukang kereta itu memang hebat Dia mengelakkan bagian belakang lehernya sambil
membalas dengan meluncurkan tangan kanannya ke wajah penyerangnya.
Menyaksikan hal itu, Tian Coan mencelat mundur Dia merasa heran sekaligus
kagum. Kelihayan orang itu benar-benar di luar dugaannya, Apalagi selama
mengelakkan diri maupun menyerang. Kusir itu tetap duduk di atas kereta, Bukankah
kepandaiannya sendiri cukup tinggi dan serangannya selalu membahayakan?
Dari tiga jurus yang sudah berlangsung, kentara jelas Ci Tian-coan yang keteter, dia
menjadi tercekat hatinya sekaligus gusar, Bukankah dia mendapat tugas untuk
mengantar kedua nona dari keluarga Bhok dan keselamatan mereka harus terjamin?
Tapi sekarang, baru menempuh perjalanan sebentar saja, dia telah menemui rintangan
hebat. Untung saja dia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s