“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 36

berdekam di kolong tempat tidur Hong thayhou sehingga
pakaiannya kusut semua.
Pada saat itu, muncul dua orang siwi,
“Ada orang jahat yang menyerbu Cu-leng kiong” lapor salah satunya, “Seorang thaykam
dan seorang dayang terbunuh”
“Apakah thayhou terkejut karena kejadian ini?” tanya kaisar Kong Hi dengan nada
khawatir.
“Sekarang seluruh istana telah dikurung rapat” sahut siwi itu. “To congkoan sudah
mengepalai barisan pengawalnya”
Hati raja menjadi agak lega mendengar keterangan itu. Tidak demikian halnya
dengan Siau Po. Dalam hatinya dia berkata.
“Meskipun To congkoan memimpin seluruh pasukan berkuda pun sudah terlambat”
Jarak antara Kian-ceng kiong dengan Cu-leng kiong tidak seberapa jauh, Raja tiba di
kamar ibu suri setelah melewati pendopo Yang-sim tian dan Tay-kek tian, Cu-leng kiong
memang dijaga ketat Bahkan mungkin seekor lalat pun sulit menyelina ke dalamnya.
Melihat tibanya raja, para siwi segera memberi hormat dengan berlutut Raja
mengibaskan tangannya kemudian dia berjalan masuk ke pendopo.
Siau Po mendahului raja untuk menyihgkapka gorden, Kaisar Kong Hi segera
berjalan ke dala kamar Dia melihat semuanya dalam keadaan kacau. Darah
berceceran, dua sosok mayat tergeletak di lantai, Hatinya bingung juga melihat situasi
kamar itu,
“Thayhou Thayhou” panggilnya berulang-ulang.
“Rajakah di sana?” Terdengar suara dari tempat tidur yang kelambunya tertutup,
“Jangan khawatir, aku tidak apa-apa”
Itulah suara ibu suri, Siau Po merasa tercekat hatinya.
“Oh, rupanya si nenek sihir belum mampus juga” katanya dalam hati. “Aih Dasar
aku yang teledor Kenapa aku tidak memeriksanya dan menikamnya sampai mati?
sekarang dia masih hidup, hal ini berarti akulah yang akan mati….”

Si thay-kam cilik langsung mempunyai pikiran untuk lari, Tapi ketika menoleh, dia
melihat penjagaan ketat sekali, Runtuhlah keinginannya. Kepalanya menjadi pusing dan
pandangan matanya menjadi kabur, hampir saja dia semaput.
Kaisar Kong Hi tidak memperhatikan keadaan Siau Po. Dia langsung mendekati
tempat tidur.
“Apakah thayhou kaget?” tanya kaisar Kong Hi prihatin, “Sungguh menyesal
penjagaan di sini kurang sempurna sehingga hal ini sampai terjadi, Semua siwi kantung
nasi ini harus mendapat hukuman berat”
Terdengar ibu suri menarik nafas panjang.
“Tidak, aku tidak kaget Aku tidak apa-apa,” sahutnya, “Hanya seorang dayang dan
seorang thay-kam yang bertengkar sehingga terjadi perkelahian dan kedua-duanya
mati, otomatis dalam hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan para siwi.”
“Jadi thayhou tidak apa-apa?” tanya kaisar Kong Hi menegaskan
“Tidak. Tidak apa-apa,” sahut ibu suri. “Aku hanya merasa kesal saja, Anak,
kembalilah ke kamarmu dan perintahkan para siwi agar bubar”
Raja mengiakan kemudian langsung memerintahkan.
“Lekas undang Tabib istana untuk memeriksa keadaan thayhou”
Siau Po bersembunyi di belakang kaisar Kong Hi. Dia tidak berani bersuara, Dia
khawatir ibu suri akan mengenali suaranya dan memanggilnya.
“Tak usah” kata thayhou pada kaisar Kong Hi. “Tidak perlu memanggil tabib, Asal
aku bisa tidur dan beristirahat cukup, tentu hatiku akan tenang kembali Kedua mayat itu
tidak usah diangkat Hatiku sedang kacau…. Nah, kau suruh semuanya bubar”
Suara ibu suri lemah dan terputus-putus, Hal ini membuktikan bahwa dia pun terluka
cukup parah, Kaisar Kong Hi merasa berat meninggalkannya, tapi dia tidak berani
menenteng kehendak ibunya, sebetulnya dia ingin menanyakan sebab musabab
pertengkaran antara thay-kam dan dayang yang mati itu, tapi khawatir ibu suri akan
sedih atau mendongkol.
Karena itu dia membatalkan niatnya, padahal sudah selayaknya dia mengetahui
sebab terjadinya perkelahian yang sampai mengorbankan jiwa. Lagipula keluarga
kedua korban harus diberi kabar, Narnun thayhou tidak mengijinkan kedua mayat itu
disingkirkan Hal ini berarti dia tidak mau berita ini tersebar luas. Akhirnya dia memberi
hormat dan memohon diri.
Bukan main senangnya hati Siau Po, tetapi sepasang kakinya menjadi lemas
sehingga dia harus berjalan dengan menumpu pada tembok.

Kaisar Kong Hi memutar otaknya, Hatinya ber-tanya-tanya, peristiwa ini hebat dan
luar biasa, Sesekali dia menoleh ke belakang dan melihat Siau Po masih mengikutinya.
“Eh, thayhou meminta kau melayaninya, mengapa sekarang kau kembali
mengikutiku?”
Siau Po sudah menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu, Tapi ia pikir bahwa
ia akan meninggalkan istana secepatnya, karena itu tidak menjadi persoalan apabila dia
menjawab sekenanya saja.
“Barusan hamba mendengar ucapan thayhou sedang pusing dan banyak pikiran
Thayhou juga menyuruh semuanya bubar, Hal ini berarti thayhou tidak ingin melihat
siapa pun itulah sebabnya hamba berpikir untuk menyingkir sementara, Besok pagi
barulah hamba menemui beliau lagi….”
Raja menganggukkan kepalanya, Apa yang dikatakan thay-kam cilik itu memang
beralasan Dia berjalan terus menuju kamar tidurnya. Begitu sampai dia segera
menyuruh seluruh pelayannya mengundurkan diri, Kemudian dia berkata kepada Siau
Po.
“Siau Kui cu, kau tunggu sebentar”
“Baik” sahut Siau Po. Hatinya terasa kurang enak, Dia berpikir “Kalau Raja
menyuruhku tidur di sini untuk menemaninya, kedua mustika hidup dikamarku bisa
kebingungan setengah mati”
Kaisar Kong Hi berjalan mondar-mandir dari timur ke barat, kemudian dari barat ke
timur lagi. Hal ini membuktikan otaknya sedang bekerja keras, Akhirnya dia berkata
kepada Siau Po.
“Bagaimana pikiranmu? Menurut pendapatmu kira-kira apa sebabnya thay-kam dan
dayang itu bisa berkelahi sampai mati bersama-sama?”
“Hamba tidak dapat menerkanya, Sri Baginda,” sahut Siau Po. “Memang di dalam
istana banyak thay-kam dan dayang yang tidak cocok, Sedikit persoalan saja bisa
timbul pertengkaran. Tapi biasanya mereka tidak berani melakukannya di hadapan Sri
Baginda ataupun thayhou.”
Raja mengangguk.
“Sekarang kau pergi memberitahukan semua orang agar urusan ini jangan
dibicarakan lagi, Dengan demikian thayhou tidak akan kesal dan marah lagi”
“Baik, Sri Baginda,” sahut Siau Po.
“Nah, kau pergilah”

Siau Po memberi hormat, kemudian dia mengundurkan diri, Di dalam hatinya dia
berkata:
“Dengan kepergianku ini, untuk selama-lamanya kita tidak akan berjumpa lagi”
Dengan membawa pikiran demikian, dia menolehkan kepalanya, Dilihatnya kaisar Kong
Hi sedang menatap ke arahnya dengan wajah berseri-seri.
“Kemari” panggil kaisar Kong Hi.
Siau Po memutar tubuhnya untuk menghampiri
Kaisar membuka sebuah kotak emas yang ada dekat bantal kepalanya, ia mengambil
dua potong kue. Sembari tertawa dia berkata.
“Kau tentunya letih dan lapar, ambillah kue ini”
Siau Po menyambut kue-kue itu dengan kedua tangannya, Dia mengucapkan terima
kasih. Dalam hati dia merasa bersyukur dan terharu, Dia merasa tidak tega
meninggalkan raja itu. Dia berkata dalam hati:
Thayhou sangat kejam dan jahat, Lagipula dia berani mengeram laki-laki dalam
kamarnya, Mungkin suatu hari dia bisa mencelakai Sri Baginda pula…. Bukankah Sri
Baginda tidak tahu apa-apa? Sri Baginda memperlakukan aku sebagai seorang sahabat
baik, kalau aku menyimpan rahasia ini dan dia sampai dicelakai oleh thayhou,
bukankah berarti aku tidak kenal budi dan tidak memperhatikannya sedikit pun?”
Membawa pikiran demikian, tiba-tiba saja di pelupuk mata Siau Po membayangkan
raja yang sudah mati. Mayatnya menggeletak di atas tanah dalam keadaan mengerikan
Keadaannya sungguh mengenaskan sehingga tanpa sadar air mata Siau Po jatuh
bercucuran.
“Eh, kenapa kau?” tanya raja heran melihat si thay-kam cilik menerima kue
pemberiannya sambil menangis, Kemudian dia menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.
Kau ingin tetap melayani aku, bukan? Soal itu mudah Tunggu beberapa hari lagi,
setelah keadaan thayhou tenang kembali, aku akan berbicara dengannya agar kau
boleh tetap mengikuti ku. sebenarnya aku sendiri tidak sampai hati ber pisah
denganmu”
Siau Po berpikir dengan cepat Dia ingat kata kata To kionggo bahwa kalau sampai
dia membuk rahasia, kelak Sri Baginda pasti akan membunuh nya. Hal ini demi
membungkam mulutnya aga rahasia tidak sampai terbongkar.
“Tapi, biarlah” pikirnya kemudian “Seoran laki-laki berani berbuat, berani pula
bertanggun jawab, Kalau memang harus mati, biar saja mati”
Dia sudah mengambil keputusan Karena itu dia segera meletakkan kue pemberian
kaisar kemudia mencekal tangan junjungannya itu seraya berka dengan suara bergetar.

“Siau hian cu. Kali ini aku memanggilmu Si hian cu, boleh bukan?”
Raja tertawa meskipun merasa heran Thay-kam itu memanggil nama kecilnya dan
membahasakan dirinya dengan kamu,
“Tentu saja boleh” katanya sambil tertawa lagi, “Aku toh sudah mengatakan
kepadamu, Kalau di tempat yang tidak ada orang lainnya, kau boleh memanggil aku
dengan sebutan itu. Apakah kau ingin berlatih silat lagi denganku? Begitu? Mari, mari.
Aku temani kau”
Raja segera memutar tangannya dan mencekal kedua lengan Siau Po.
“Jangan jangan terburu-buru berlatih silat” kata Siau Po menolak ajakan raja,
“Sekarang aku mempunyai urusan besar dan rahasia yang ingin kuberitahukan kepada
sahabatku, Siau nian cu Rahasia ini jangan sekali-sekali diketahui oleh Sri Baginda,
junjunganku yang Mulia dan Maha Agung. Sebab, kalau raja sampai mendengarnya, dia
pasti akan menghukum mati diriku dengan memenggal batang leherku ini. Siau hian cu
menganggap aku sebagai sahabat sejatinya, karena itu kurasa tidak ada halangannya
kalau aku bicara dengannya.”
Raja heran Dia tidak dapat menduga urusan apakah yang demikian penting dan
harus dirahasiakan tapi hal ini justru menambah rasa ingin tahu-nya, Karena itulah dia
segera menarik tangan Siau Po dan mengajaknya duduk berdampingan di atas tempat
tidur,
“Cepat kau beritahukan kepadaku Cepat”
Siau Po tidak mau langsung bercerita, sebaliknya dia menegaskan sekali lagi.
“Sekarang kau adalah Siau hian cu. Bukan raja kan?”
Raja bertambah heran, tapi dia tersenyum.
“Benar” sahutnya, “Sekarang ini aku adalah Siau hian cu, sahabat karibmu, bukan
raja Kau toh tahu, dari pagi sampai malam aku menjadi raja yang selalu disanjungsanjung,
Selama ini aku belum pernah mempunyai seorang pun sahabat sejati,
sungguh tidak enak”
“Kalau demikian, baiklah Aku akan memberitahukan kepadamu,” kata Siau Po pula,
“Kalau toh akhirnya kau tetap akan memenggal batang leherku, ya,., apa boleh buat,
aku toh tidak ber-daya….”
Raja kembali tersenyum
“Untuk apa aku membunuhmu?” tanyanya, “Lagipula mana mungkin seorang
sahabat akan membunuh teman yang sudah seperti saudara baginya?”

Siau Po menarik nafas panjang.
“Baiklah sekarang aku akan bicara” kata nya. “Siau hian cu, aku bukanlah Siau Kuin
cu yang sebenarnya, aku juga bukan seorang thay-kam Siau hian cu, Siau… Kui cu
yang asli… telah mati di tanganku”
Meskipun berusaha untuk menenangkan diri, mau tidak mau Kaisar Kong Hi
terkesiap juga mendengarnya.
“Apa katamu?” tanyanya heran.
“Betul, Siau hian cu. Aku bukan Siau Kui cu. Aku juga bukan seorang thaykarn”
sahut Siau Po tegas, Dia lalu menceritakan bagaimana dirinya dipaksa masuk ke dalam
istana, Bagaimana dia mencelakai Hay kongkong dengan membutakan sepasang
matanya, lalu dia menyamar sebagai Siau Kui cu yang sebelumnya telah dibunuhnya
terlebih dahulu, Dia juga menceritakan bahwa Hay kongkong yang mengajarkan ilmu
silat kepadanya.
Mendengar semua itu, mula-mula Kaisar Kong Hi tertegun, kemudian ia malah
tertawa.
“Oh, rupanya kau bukan seorang thaykarn” katanya, “Kau hanya membunuh
seorang Siau Kui cu, apa artinya? itu toh bukan urusan besar Tapi selanjutnya tidak
pantas lagi kau berdiam di dalam istana, Kau bisa ku angkat menjadi congkoan dari
barisan pengawal pribadiku To Lung memang gagah, tapi dalam pekerjaan dia sering
sembrono dan otaknya kurang cerdas”
Bagian 27
“Kau baik sekali, aku mengucapkan terima kasih kepadamu,” kata Siau Po. “Tapi,
meskipun demikian, aku tidak bisa menjadi congkoan, Siau hian cu, aku ada
mendengar beberapa urusan penting yang ada kaitannya dengan diri thayhou.”
Kembali raja merasa heran, Dia menatap Siau Po lekat-lekat.
“Urusan yang ada kaitannya dengan thayhou?” tanyanya menegaskan “Urusan
apakah itu?”
Walaupun dia mengajukan pertanyaan ku dengan sabar, tapi hatinya merasa kurang
tenteram, Dia seperti mendapat firasat yang kurang baik.
Siau Po menggigit bibirnya keras-keras untuk menabahkan hatinya, Kali ini dia
menceritakan percakapan yang terjadi antara Hay kongkong dengan thayhou di taman
bunga, Dia menceritakannya dengan terperinci.

Mendengar keterangan itu, kaisar Kong Hi menjadi terperanjat heran juga gembira,
Jadi, ayahnya, kaisar Sun Ti masih belum wafat, Dan sekarang ayahnya itu malah
menyucikan diri menjadi pendeta di gunung Ngo Tay san Saking tegangnya, tubuh
kaisar Kong Hi sampai menggigil Dia menggenggam tangan Siau Po erat-erat.
“A,., pa.,, apakah yang kau katakan itu benar adanya?” tanyanya gugup. “Apakah
kau tidak ber-bohong? 0h…. Ayah… ayahku masih hidup…?”
“BegituIah menurut apa yang kudengar dari pembicaraan antara thayhou dan Hay
kongkong berdua,” sahut Siau Po memberikan kepastiannya.
Raja turun dari tempat tidurnya untuk berdiri
“Siau Kui cu… bagus Bagus sekali” serunya berulang kali, “Siau Kui cu, begitu fajar
menyingsing, mari kita berangkat ke gunung Ngo Tay san untuk menjenguk ayahku itu,
Aku akan memintanya kembali ke istana”
Kong Hi adalah seorang raja, Apa pun kehendaknya dapat terpenuhi, tapi ada
sesuatu yang dirasakannya kurang, yakni dalam usia yang demikian muda, dia telah
kehilangan kedua orang tuanya, Memang ada ibu suri, tapi thayhou adalah seorang ibu
tiri, Meskipun demikian, dia memperlakukannya dengan penuh bakti, Dia
menganggapnya sebagai ibu kandung, namun ayahnya yang telah menutup mata, tiada
penggantinya, Karena memikirkan dan merindukan seorang ayah, kaisar Kong Hi
pernah sampai menangis. sekarang dia mendengar berita rahasia dari Sfau Po bahwa
ayahandanya itu masih hidup. Benar dia merasa gembira sekali, tapi terselip juga
sedikit keraguan dalam hatinya, karena itu dia ingin pergi ke gunung Ngo Tay san untuk
membuktikannya.
“Tapi, masih ada satu hal lagi, Siau hian cu,” kata Siau Po. “Aku khawatir thayhou
tidak menyukai kepergianmu Sampai sebegitu jauh thayhou telah menyembunyikan
urusan ini kepadamu, tentunya hal ini menyangkut urusan yang besar sekali.”
Kaisar bingung juga. Dia harus mengekang diri, supaya kegembiraannya tidak terlalu
meluap.
“Urusan besar di dalam istana, apalagi yang penting-penting, semuanya tidak jelas
bagiku,” kata Siau Po. “Apa yang aku tahu hanya apa yang kudengar dari pembicaraan
antara thayhou dengan Hay kongkong dan semua itu dapat kuceritakan dengan jelas.”
“Baik, baik,” kata raja. “Nah, kau ceritakanlah.”
Kali ini Siau Po menceritakan tentang bagaimana kedua permaisuri Toan Keng
honghou dan Hau Kong honghou telah dibunuh oleh thayhou.
Kaisar Kong Hi langsung melonjak bangun.
“Kau… kau bilang Hau Kong honghou telah… dibunuh?”

Siau Po terkejut, hatinya ciut, Dia melihat wajah raja garang sekali, matanya
mendelik, daging di pipinya sampai bergerak-gerak.
“Aku… ku tidak tahu.,.” sahutnya bingung. “Aku hanya mendengar percakapan antara
Hay kongkong dan thayhou…”
“A… pa yang mereka katakan?” tanya raja. “Co,., ba kau ulangi sekali lagi”
Ingatan Siau Po memang kuat sekali, Dia mengulangi ceritanya sekali lagi, Kali ini
dengan perlahan-lahan dan jauh lebih jelas, Diulanginya setiap patah kata dari
pembicaraan antara ibu suri dengan Hay kongkong.
Kaisar Kong Hi tertegun sekian lama, Otakny terus bekerja. Dia benar-benar
bingung.
“I… bu… ibu kandungku… telah dibunuh orang… katanya.
“A… pakah Hau Kong honghou itu ibu kandungmu?” tanya Siau Po.
Raja mengangguk.
“Benar” katanya, “Teruskanlah ceritamu, jangan sampai ada yang ketinggalan”
Suara raja terdengar bergetar, satu bukti bahwa dia sedang menahan guncangan
hati sekuatnya, tapi tak urung air matanya mengalir juga.
Siau Po melanjutkan ceritanya, Dia menjelaskan seperti apa yang didengarnya, yakni
kedua permaisuri Toan Keng honghou dan Hau Kong honghou mati akibat pukulan
“Hoa-kut bian ciang.” Demikian pula dengan putera Toan keng honghou, pangeran
Yong Cin ong serta selir Tang Gok ceng-hui, serta bagaimana mayat mereka diperiksa
sebagaimana permintaan Hay kongkong.
Setelah itu Hay kongkong berangkat ke Ngo Tay san untuk menyampaikan berita
tersebut kepada kaisar Sun Ti. itulah sebabnya kaisar Sun Ti memerintahkan Hay
kongkong pulang ke istana untuk mengadakan penyelidikan lebih lanjut.
Kemudian Siau Po juga menjelaskan jalannya pertempuran yang berlangsung antara
thayhou dan Hay kongkong, Tentu saja dia tidak sudi mengaku bahwa Hay kongkong
mati di tangannya, Dia hanya mengatakan bahwa mata Hay kongkong sudah buta.
Karena itu dia tidak dapat melawan ibu suri sehingga berhasil dibunuhnya.
Raja berdiam diri sambil memikirkan keseluruhan cerita itu. Dia juga berusaha
menenangkan hatinya agar bisa berpikir dengan kepala dingin, Beberapa kali dia
mengajukan pertanyaan yang semuanya dijawab dengan jelas oleh Siau Po. Akhirnya
dia menarik kesimpulan bahwa Siau Kui cu tidak mungkin membohonginya.

“Sekarang aku tanya lagi kepadamu,” kata kaisar Kong Hi kemudian, “Mengapa
sampai hari ini baru kau menceritakan semuanya kepadaku?”
“Urusan ini besar sekali, mana mungkin aku berani lancang mengingatkannya ?”
sahut Siau Po. Dia bicara seenaknya seakan menghadapi seorang teman saja.
“Lagipula besok pagi aku akan kabur meninggalkan istana ini dan untuk selamanya aku
tidak akan kembali lagi” Siau Po bicara terus terang tanpa kepalang tanggung.
Raja merasa heran.
“Eh, kau ingin meninggalkan istana?” tanyanya, “Kenapa? Apakah kau takut akan
dicelakai oleh thayhou?”
“Biarlah aku bicara terus terang kepadamu,”
Kata Siau Po yang secara tidak langsung menjawab.
Pertanyaan kaisar Kong Hi itu. “Tahukah kau siapa kiongli (dayang) yang mati di Culeng
kiong? Dia adalah seorang dayang palsu, sebenarnya dia seorang laki-laki, bahkan
masih suhengnya ibu suri sendiri”
Raja tertegun Dia merasa heran sekali, Sekarang dia baru mengetahui bahwa
ayahandanya kaisar Sun Ti masih belum mati, Hau Kong honghou atau ibu kandungnya
sendiri justru mati di tangan thayhou, Dan sekarang dia mendengar tentang seorang
dayang yang ternyata seorang laki-laki. Semua ini benar-benar aneh baginya
“Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?” tanyanya kemudian.
“Malam itu, seperti apa yang kuceritakan tadi, aku telah mendengar pembicaraan
antara Hay kongkong dan ibu suri,” sahut Siau Po. “Meskipun aku berusaha
menutupinya, thayhou tetap curiga, Berutang kali thayhou berusaha membunuh aku.”
Kemudian Siau Po menceritakan bagaimana thayhou telah menitahkan Sui Tong lalu
Liu Yan dan beberapa orang thay-kam untuk menawan dan membunuhnya, Dia juga
menceritakan bagaimana dia mencuri dengar pembicaraan thayhou dalam kamarnya
dengan seorang pria, Bagaimana keduanya berselisih mulut dan ternyata dia adalah
seorang dayang palsu atau seorang laki-laki yang menyaru sebagai dayang dan
akhirnya setelah melalui suatu perkelahian yang sengit, thayhou berhasil
membunuhnya, namun ibu suri sendiri pun terluka.
Dalam hal ini, Siau Po bicara hal yang sebenarnya, kecuali ada beberapa bagian
yang ia hilangkan. Dia tidak menceritakan perihal To kionggo. Dia juga tidak mengakui
soal Liu Yan dan Sui Tong yang mati di tangannya, Apalagi persoalan kitab Si Cap Ji
Cin-keng yang telah diambil alih olehnya.

Untuk sesaat kaisar Kong Hi berdiam diri, otaknya terus bekerja, Dia bingung
mendengar sepak terjang ibu suri yang biasanya ia hormati dan sayangi, Kalau menilik
cerita Siau Po, seharusnya ibu tirinya itu kejam dan jahat sekali.
“Benarkah dayang itu suhengnya ibu suri?” ta nya nya kemudian “Mungkinkah ada
orang lain yan mendalangi perbuatan thayhou? Kalau meman ada, siapa kira-kira orang
di balik layar itu?”
Siau Po menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak tahu,” sahutnya, “Aku benar-benar tidak dapat menerkanya.”
“Sekarang pergilah kau panggilkan To Lung kemari” kata kaisar Kong Hi
memerintahkan.
“Baik” sahut Siau Po yang langsung berlalu. Di dalam hati dia justru berpikir
“Mungkin raja akan berbentrok dengan ibu suri, Dia memanggil To Lung untuk
membekuk si nenek sihir dan memenggal lehernya, Bagaimana dengan aku?
Sebaiknya aku cepat-cepat meninggalkan tempat ini atau menunggu lagi untuk
memberikan bantuan kepada raja?”
Sementara itu To Lung sedang berduka dan bingung, Di dalam istana sudah
berulang kali terjadi peristiwa yang hebat dan dialah yang harus bertanggung jawab,
Celaka kalau sampai jabatannya copot apalagi batang lehernya putus, Dia terkejut
setengah mati ketika mengetahui raja memanggilnya, dengan perasaan kurang tenang
dia datang juga menghadap junjungannya.
Begitu sampai di kamar tidur raja, kaisar Kong Hi langsung berkata kepada pemimpin
barisan pengawalnya itu.
“Di keraton Cu-leng kiong sudah aman. sekarang juga kau tarik seluruh penjagaan
barisan siwi dari tempat itu. Thayhou merasa kesal dan pusing mendengar banyak siwi
yang berkumpul di sana”
“Baik” sahut To lung, Diam-diam dia merasa senang, Tadinya dia mengira panggilan
raja adalah akan menegurnya. Dia segera mengundurkan diri untuk melaksanakan
perintah Sri Baginda.
Pikiran kaisar Kong Hi masih terus berputar. Dia ragu-ragu mengambil tindakan
sementara itu, thay-kam gadungan kesayangannya juga sedang bimbang, apakah
sebaiknya dia menetap di istana atau segera melarikan diri?
Setelah sekian lama, kaisar Kong Hi merasa seluruh barisan siwi sudah ditarik dari
keraton Cu-leng kiong, Dia segera berkata kepada Siau Po.

“Siau Kui cu, mari kau ikut aku ke keraton Cu-leng kiong, Malam ini kita akan
mengadakan penyelidikan secara diam-diam.”
“0h… Kau mau pergi sendiri?” tanya Siau Po.
Hubungan kedua orang ini memang sudah seperti sahabat karib,
“lya,” sahut raja, Dia menganggap urusan ini sangat besar dan dia tidak dapat
mempercayai keterangan seorang thay-kam begitu saja. walaupun thay-kam itu adalah
Siau Kui cu yang sangat disayanginya. Dia masih dilanda kebimbangan, sebab selama
ini dia merasa sikap thayhou terhadapnya sangat baik. Mungkinkah dia dapat
melakukan semua perbuatan ini? Baginya, penyelidikan di malam hari dan secara diamdiam
adalah cara yang paling tepat untuk membuktikan semuanya.
Dia juga ingin mencoba kepandaiannya, Dia ingin mencicipi bagaimana rasanya
menjadi “Ya heng-jin” (Orang yang mengendap-endap di malam hari) seperti yang biasa
dilakukan oleh orang-orang dunia kangouw,
“Tapi,” tukas Siau Po. “Thayhou sudah membunuh suhengnya itu. sekarang dia pasti
sedang tidur atau mungkin sedang mengobati lukanya, Apa yang bisa kita selidiki?”
“Kalau kita tidak menyelidiki dari mana kita bisa mendapat penjelasan tentang semua
ini?” kata Raja.
Siau Po terdiam, Dia bersedia mengikuti junjungannya itu.
Kaisar Kong Hi segera berdandan, Selain baju yang singset, dia pun memakai
sepatunya yang ringan, itulah pakaian yang selalu dipakainya dulu ketika masih berlatih
silat dengan Siau Po. Selesai berpakaian, mereka keluar dari pintu samping da terus
menuju keraton Cu-leng kiong.
Beberapa orang siwi dan thay-kam melihat kemunculan sang raja, Mereka langsung
mengiringi.
“Semua diam di tempat” kata raja dengan suara berwibawa, “Siapa pun tidak boleh
sembarangan bergerak”
Ucapannya merupakan firman atau perintah seorang kaisar Para thay-kam dan siwisiwi
itu langsung berdiri tegak dan tidak ada seorang pun yang berani mengikuti lagi.
Kaisar mengajak Siau Po berjalan terus sampai di taman keraton Cu-leng kiong,
Suasana di tempat itu sunyi sekali. Tidak terlihat seorang pengawal atau thay-kam.
Dengan mengendap-endap, raja menghampiri jendela kamar ibu suri, Di sana dia
memasang telinga, Dari dalam terdengar suara batuk-batuk ibu suri.

Hati kaisar Kong Hi berdebaran, itulah suara ibu tirinya, Dia merasa bingung juga.
Dia penasaran mengingat kekejaman dan kejahatan thayhou, tapi dia juga sedih dan
kasihan mendengar suara batuk-batuk itu, yang menandakan penderitaannya.
Dua macam perasaan yang berbeda berkecamuk dalam hati kaisar Kong hi. Antara
benci dan sayang, Rasanya dia ingin masuk ke dalam kamar itu untuk memeluk dan
menanyakan keadaannya, Di lain pihak, dia juga ingin menerjang ke dalam untuk
menanyakan kebenaran yang didengarnya tentang segala perbuatan thayhou yang
kejam dan jahat, Dia ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi atas diri ayah kandung dan
ibu kandungnya?
Di satu pihak, dia juga berharap apa yang dikatakan Siau Po adalah kebohongan
belaka. Namun ada juga terselip perasaan bahwa ingin apa yang dikatakan Siau Po
adalah hal yang sebenarnya, Demikianlah untuk sesaat dia dilanda dua macam
keinginan yang terus bertentangan
Di dalam kamar thayhou, penerangan belum dipadamkan Cahaya lilin bergoyangan
Sebentar gelap, sebentar terang.
Raja tidak perlu memasang telinga terlalu dalam Dia mendengar suara seorang
perempuan.
“Thayhou, hamba telah selesai menjahit….”
“Oh” seru ibu suri, “Ma… yat., nya dayang itu,., kau masukkan ke dalam kantung….”
“Baik, thayhou,” sahut perempuan itu. Dapat dipastikan bahwa dia juga seorang
dayang. “Bagaimana dengan mayatnya thay-kam itu?”
“Kau gila” bentak thayhou, “Aku menyuruh kau mengurus mayat dayang itu
mengapa kau menyebut-nyebut soal mayatnya thay-kam?”
“Baik, baik thayhou,” sahut si dayang berkali-kali, kemudian terdengar suara seperti
benda berat yang digeser.
Raja ingin melihat. Kalau tadinya dia hany memasang telinga, sekarang dia
mengintai. Tadinya dia tidak berani melihat ke dalam, karena sebaga seorang raja,
perbuatan itu tidak pantas, Tapi ternyata dia tidak dapat melihat apa-apa. Semua sela
jendela ditempel dengan kertas sehingga tertutup rapat.
“Bagaimana baiknya sekarang? Biar bagaimana, aku ingin melihatnya,” katanya
dalam hati.
Akhirnya dia mengambil keputusan untuk melakukan tindakan seperti yang biasa
diambil oleh orang-orang kangouw bila ingin melakukan pengintaian yakni dengan
membasahi telunjuk dengan air ludah dan kemudian ditusukkan pada kertas jendela
sehingga koyak dan terbentuk lubang.

Raja langsung bekerja, Tidak lama kemudian hasilnya sudah terlihat Di depan
matanya terlihat sebuah sela kecil. Dari sana dia dapat mengintai ke dalam, usahanya
pun tidak menimbulkan suara apa-apa.
Apa yang terlihat olehnya?
Tempat tidur thayhou tertutup dengan kelambu sehingga tubuh thayhou tidak terlihat
sebaliknya di depan tampak seorang dayang yang usianya masih muda sekali sedang
berusaha memasukkan sesosok mayat ke dalam sebuah kantong besar.
Mayat itu mengenakan pakaian yang sama seperti dayang tersebut, tetapi kepalanya
gundul plontos tanpa sehelai rambut pun,
Setelah memasukkan mayat itu ke dalam kantong, si dayang mengambil sebuah
rambut palsu yang sejak tadi tergeletak di lantai, Mula-mula dia agak ragu, tapi akhirnya
dia melemparkan rambut palsu itu juga ke dalam kantong berisi mayat.
“Thayhou, sudah selesai.” katanya kemudian dengan suara perlahan.
“Apakah siwi di luar sudah pergi semua?” tanya thayhou, “Aku seperti mendengar
suara orang….”
Dayang itu menuju pintu dan melongok keluar
“Sudah pergi semuanya,” katanya melaporkan “Di luar tidak ada sepotong manusia
pun….”
“Kau bawa kantong ini ke tepi kolam,” kata thayhou menitahkan “Nanti kau masukkan
empat potong batu besar ke dalamnya, kemudian kau ikat mulut kantong itu dengan tali
yang kuat, lalu kau.,.” kembali thayhou terbatuk-batuk, “Kau dorong kantong itu agar
tenggelam ke dasar koIam…”
“Baik, thayhou,” sahut dayang itu, Kali ini suaranya gemetar, menandakan hatinya
yang ketakutan.
“Setelah kantong itu masuk ke dalam air, kau timbun bagian atasnya dengan tanah
agar tidak kelihatan” kata thayhou lagi.
“Baik, thayhou,” sahut dayang itu, ia langsung menarik kantong mayat itu menuju
taman.
Raja memperhatikan dalam hatinya dia berpikir.
“Siau Kui cu mengatakan bahwa dayang itu sebenarnya seorang laki-laki, ternyata
dia tidak berdusta, Agaknya di balik semua ini memang benar terselip rahasia yang
besar sekali, Kalau tidak, mengapa thayhou ingin menenggelamkan mayat itu agar
buktinya hilang?”

Siau Po berada di samping raja. Tiba-tiba kaisar Kong Hi menggenggam tangannya
erat-erat. Rupanya tangan kedua-duanya sama-sama basah oleh keringat dingin saking
tegangnya hati masing-masing. Hebat sekali apa yang mereka saksikan apalagi bagi
seorang raja.
Tidak lama kemudian terdengarlah suara ceburan air, lalu menyusul dengan
kembalinya si dayang ke kamar ibu suri.
Raja tidak kenal siapa adanya dayang itu. Tidak demikian dengan Siau Po. Dia tahu
dayang itu Lui cu adanya.
“Sudah beres semuanya?” tanya thayhou ingin mendapatkan keyakinan.
“Ya, thayhou,” sahut Lui cu.
“Di sini tadinya ada dua sosok mayat, sekarang tinggal satu,” kata thayhou, “Kalau
besok pagi ada yang menanyakannya kepadamu, bagaimana kau menjawabnya?”
“Ham… ba… hamba akan menjawab tidak tahu,” sahut Lui cu gugup.
“Kau selalu mendampingi dan melayani aku, bagaimana kau bisa mengatakan tidak
tahu?” tanya ibu suri kembali.
“Iya… iya,” sahut si dayang kebingungan Tampaknya dia tidak biasa berdusta.
“Apanya yang iya… iya?” bentak ibu suri gusar.
Dibentak sedemikian rupa, tiba-tiba saja kecerdasan si dayang tergugah. Dia segera
menjawab.
“Hamba… melihat dayang yang sudah mati itu tiba-tiba bangun kembali, rupanya dia
hanya ter-luka, Ke… mudian dengan perlahan-lahan… dia berjalan keluar kamar Saat…
itu thayhou sedang tidur nyenyak, ham… ba tidak berani mengganggu, da… yang itu
ke… luar dari…. Cu-1eng… kiong, 1a… lu pergi entah… ke… mana….”
Thayhou menarik nafas panjang.
“Oh, begitu.,.” katanya, “Amitaba.,. Kiranya di belum mati, ia menyingkir sendiri….
Nah, bagus begitu”
“Terima kasih kepada Langit dan Bumi karena dia belum mati” kata Lui cu yang
mengikuti nada bicara ibu suri.
Raja dan Siau Po masih mencuri dengar pembicaraan mereka. Untuk beberapa saat
keduanya berdiam diri, kamar itu menjadi sunyi, Kaisar Kon Hi menduga tentunya ibu tiri
itu sudah tidur, Diam diam raja melangkahkan kakinya untuk pulang ke kamarnya

sendiri Dia mendapatkan para siwi dan thay-kam masih berdiri tegak di tempat semula,
Di jadi tertawa melihatnya.
“Sekarang kalian bebas bergerak” katanya.
Meskipun tertawa, nada suara raja tawar sekali. Hal ini disebabkan perasaannya
yang juga tawar sekali, Apa yang ia dengar dan saksikan di kamar thayhou merupakan
pukulan berat bagi bathinnya. Ternyata keterangan Siau Po memang benar Sepak
terjang ibu tirinya hebat sekali
Setelah berada di dalam kamar, kaisar Kong Hi menatap kepada Siau Po yang masih
terus mengikutinya, Siau Po pun tengah memperhatikan junjungannya itu dengan hati
bertanya-tanya, Tindakan apakah kira-kira yang akan diambil raja setelah mengetahui
rahasia ibu tirinya itu?
Tiba-tiba air mata kaisar Kong Hi mengucur dengan deras.
“Thayhou… Thay… hou…” panggilnya dengan nada sedih.
Siau Po diam saja, Dia tidak tahu bagaimana harus menghibur junjungannya itu.
Raja masih berdiam diri sekian lama. Kemudian dia menepuk tangan satu kali. Dua
orang siwi segera muncul di depan pintu, Mereka memberi hormat kepada kaisar Kong
Hi lalu berdiri menunggu perintahnya.
“Ada dua urusan penting dan rahasia, kalian harus mengerjakannya,” kata kaisar
Kong Hi kepada kedua pengawalnya itu. “Kalian harus ingat, rahasia ini jangan sekalisekali
sampai bocor Di dalam taman Cu-leng kiong, di dasar kolam teratai ada sebuah
kantong yang besar sekali, Kantong itu harus kalian angkat dan bawa kemari. Kalian
harus bekerja dengan hati-hati, jangan menimbulkan suara berisik. Thayhou sedang
tidur, jagalah jangan sampai beliau mendusin. Kalau hal itu sampai terjadi, awas batang
leher kalian”
Kedua orang siwi itu menerima baik perintah tersebut Setelah memberi hormat,
keduanya langsung mengundurkan diri.
Kaisar Kong Hi duduk di atas tempat tidur, otaknya masih terus bekerja. Tentu
hatinya masih belum tenang juga, Dia menantikan hasil kerja kedua orang siwi itu
dengan berdiam diri.
Tidak lama kemudian, kedua siwi itu muncul kembali. Mereka menggotong sebuah
kantong yang basah kuyup dan airnya masih terus menetes. Kantong itu diletakkan di
depan kamar.
“Apakah thayhou kaget atau terjaga?” tanya kaisar Kong Hi. Hal itulah yang selalu
dikhawatirkan nya sejak tadi.

“Tidak Hamba tidak berani menyebabkan hal itu terjadi” sahut kedua pengawal itu.
Kaisar Kong Hi mengangguk
“Baik sekarang bawalah kantong itu ke dalam” perintah itu segera dilaksanakan.
“Sekarang kalian boleh pergi” kata raja menitahkan,
Kedua siwi itu langsung mengundurkan diri, Siau Po segera menutup pintu, Tidak
lupa di menguncinya, Setelah itu dibukanya ikatan kanton tersebut dan dengan berani ia
menarik keluar mayatnya.
Mayat itu berkepala licin, demikian pula wajahnya, Tidak ada sehelai rambut atau
cambangpun, tetapi ada bayangan hitam dari bekas cukurannya dan di tenggorokannya
juga ada tonjolan sebagaimana biasanya kaum pria, Dadanya rata, Tidak perlu
diragukan lagi dia memang seorang laki-laki, bahkan tubuhnya berotot keras dan jeriji
tangannya kasar-kasar.
Hal ini membuktikan dia pandai ilmu silat, Kalau ditilik dari wajahnya, tampaknya
belum lama dia menyaru sebagai dayang dalam istana, kalau tidak, rahasianya pasti
sudah lama terbongkar.
Kaisar Kong Hi sangat teliti, Dia menghunus golok di pinggangnya dan digunakannya
untuk mengoyak celana orang itu. Setelah melihat dengan jelas, hawa amarahnya
langsung meluap. Meskipun yang dihadapinya hanya sesosok mayat, namun dia
melampiaskan kemarahannya dengan membacoknya berkali-kali. Sekejap kemudian
bagian dada dan pinggang mayat itu tidak karuan lagi bentuknya.
“Thayhou.,.” Siau Po ingin mengatakan sesuatu melihat kemarahan junjungannya itu.
“Thayhou apa?” kata kaisar Kong Hi dengan nada gusar “perempuan hina itu sudah
mencelakai ibu kandungku sampai mati, dia juga menyebabkan ayahandaku
meninggalkan istana ini. perbuatan busuknya benar-benar mengotori istana, Dia benarbenar
jahat A… ku ingin membacoknya ratusan kali, Seluruh keluarganya harus
dibunuh”
Siau Po menghela nafas, Dia terdiam namun hatinya lega, Biar bagaimana, perasaan
jerinya terhadap ibu suri tetap ada. sekarang lain, Dia berpikir dalam hati.
“Sekarang raja tidak mengakui thayhou sebagai ibunya lagi, Karena itu, walaupun
thayhou akan mengambil tindakan yang bagaimana busuknya sekalipun asal aku
mengetahuinya, tidak mungkin raja akan membunuhku untuk menutup mulutku ini….”
Saking sengitnya, raja masih membacok mayat itu beberapa kali. Bahkan hampir
saja dia tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk memerintahkan beberapa siwi
menangkap ibu suri agar dihadapkan ke padanya. Untung saja di lain saat ada suatu
hal yang terlintas di benaknya.

“Ayahanda belum wafat, sekarang beliau ber ada di gunung Ngo Tay san untuk
menyucikan diri pikirnya dalam hati, “lni merupakan urusan besar yang harus
dirahasiakan Kalau rakyat sampai mengetahui hal itu, tentu akan terjadi pergolakan.
Tidak, Aku tidak boleh sembrono” Karena itu di menoleh kepada Siau kui cu sambil
berkata, “Sia Kui cu, besok pagi-pagi, mari kita berangkat bersama ke Ngo Tay san
untuk mencari keterangan dan bukti di sana”
“Baik, Sri Baginda” sahut Siau Po. Hatinya senang sekali. Baginya perjalanan itu
seperti pesiar saja. LagipuIa, keselamatannya di luar lebih terjamin daripada berada
dalam istana.
Raja berkata demikian hanya mengikuti suara hatinya saja. Sesaat kemudian, dia
berpikir lain, Ketelitiannya dapat membuatnya berpikir jauh, Dia sadar bahwa dia tidak
bisa pergi berdua saja dengan Siau Po. Kalau dia pergi secara terang-terangan, tentu
banyak hal yang harus dipersiapkan Para menteri dan pembesar di setiap kota harus
mengetahuinya, dengan demikian mereka bisa mengatur penyambutan terutama demi
menjaga keselamatannya.
Tapi, yang terpenting adalah masalah di kota-raja sendiri. Dia masih muda sekali,
Tidak semua menteri setia kepadanya, Bagaimana kalau di saat dirinya sedang
melakukan perjalanan lalu thayhou menggunakan kesempatan ini untuk merampas
kedudukannya dan mahkotanya dicopot? Lalu, bagaimana seandainya ia tidak berhasil
menemukan ayahandanya di Ngo Tay san? Apakah ayahnya itu benar-benar masih
hidup atau sudah mati? Kalau dia sampai gagal menemukan ayahnya, sedangkan hal
ini sudah terbuka, bukankah dia akan menjadi bahan tertawaan? Setelah berpikir boIakbalik,
akhirnya dia menggelengkan kepalanya.
“Tidak, Siau kui cu” katanya yang masih memanggil “Siau Kui cu pada sahabatnya
itu, “Aku tidak bisa meninggalkan kotaraja, sebaiknya kau pergi saja sendiri”
Siau Po heran, hatinya agak kecewa.
“Aku sendirian?” tanyanya.
“lya, kau sendiri saja,” kata kaisar Kong Hi tegas, “Kau lakukan penyelidikan untuk
mendapatkan kepastian bahwa ayahku benar-benar masi hidup dan sedang
menyucikan diri di gunung Ng Tay san, Aku harus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s