“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 35

aku perbaiki lagi”
“Tidak usah,” kata Siau Po. “Waktunya sudah tidak ada. Hari sudah mulai gelap, Kita
tidak bisa keluar dari istana, Mungkin sebentar lagi si nenek sihir akan mengirim orang
lainnya karena Liu Yun masih belum kembali juga. Kita harus mencari tempat untuk
menyembunyikan diri, besok pagi-pagi baru kita keluar dari istana”
“Apakah thayhou tidak akan menyuruh orangnya menggeledah seluruh keraton?”
tanya Pui Ie. “Dia toh bisa melakukan hal itu?”
“Bisa sih bisa, tapi belum tentu dia akan me-lakukannya” sahut Siau Po. “Kita lihat
saja nanti. sekarang kalian ikut aku”
Siau Po teringat kamar di mana dulu dia sering berlatih gulat dengan kaisar Kong Hi.
Setahunya kamar itu cukup aman karena tidak pernah di-masuki orang lain.
Kaki Kiam Peng tidak terlalu nyeri lagi, dia bisa berjaian, Pui Ie juga bisa jalan, tetapi
setiap kali melangkahkan kakinya, dia harus menahan rasa sakit di dadanya, Karena
itu, Siau Po segera membimbingnya untuk berjalan setindak demi setindak, Untung saja
seluruh tempat itu sudah gelap dan sunyi Mereka tidak bertemu dengan seorang thaykam
pun. Begitu sampai di kamar tempat Siau Po dan kaisar Kong Hi berlatih, baru
ketiganya dapat menghembaskan nafas lega.

Tadi jantung mereka berdebaran dan hati mereka tegang sekali Siau Po segera
memalang pintu kamar dan membawa Pui Ie untuk duduk di atas sebuah kursi.
“Di sini sebaiknya kita jangan berbicara kalau tidak perlu sekali,” kata Siau Po.
“Kamar ini dekat sekali dengan koridor panjang dan tidak sesunyi kamarku.”
Pui Ie menganggukkan kepalanya, begitu juga Kiam Peng.
Malam makin gelap, Ketiga orang itu sampai tidak dapat melihat wajah temantemannya.
Ketika berdiam diri, Kiam Peng segera membuka kuncirnya kemudian
merapikannya kembali.
Pui Ie ikut meraba kuncirnya, tetapi tiba-tiba saja dia mengeluarkan seruan tertahan.
“Kenapa kau?” tanya Siau Po heran. Dia ter-kejut sekali
“Tidak apa-apa…” sahut Pui Ie. “Aku hanya kehilangan tusuk kondeku….”
“lya, aku ingat sekarang” kata Kiam Peng. Ketika aku melepaskan tusuk kondemu,
aku meletakkannya di atas meja, selesai mengepang rambutmu, aku jadi lupa
memasangnya kembali Celaka betul Tusuk konde itu kan pemberian Lau suko”
“Sudahlah,” kata Pui Ie “sebatang tusuk konde toh tidak berarti apa-apa”
Dalam telinga Siau Po, ucapan Pui Ie justru berarti banyak sekali sebatang tusuk
konde memang tidak berarti apa-apa, tapi nada suara si nona lain sekali. Jelas nona itu
sangat menyayangi tusuk konde yang merupakan pemberian Lau It-cou, kakak
seperguruan sekaligus kekasih hatinya itu.
“Berbuat kebaikan jangan kepalang tanggung,” pikirnya dalam hati “Sebaiknya aku
kembali lagi ke kamar untuk mengambilnya.”
Setelah berpikir demikian, Siau Po berdiam diri sejenak, Sesaat lagi dia baru berkata.
“Aku lapar sekali, Kalau sebentar lagi fajar menyingsing, aku tidak akan kuat
berjalan, Kalian tunggu di sini, aku akan pergi mencari makanan”
“Kau harus kembali cepat-cepat” pesan Kiam Peng.
“lya” sahut Siau Po. Kemudian dia membuka pintu dengan hati-hati dan melongok ke
kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada orang lain disekitar tempat itu. Setelah
yakin, dia cepat-cepat merapatkan pintu kamar kembali dan kembali ke tempatnya
sendiri
Dia tidak berani lancang memasuki kamarnya, Pertama-tama dia mengambil jalan
memutar dan memasang telinga, Dia khawatir ibu suri sudah mengirim orang lain ke

kamarnya, Setelah mendapat kenyataan bahwa di sana sepi-sepi saja, dia baru
mendorong daun jendela dan melompat ke dalam.
Sinar rembulan membuat tusuk konde Pui Ie yang tergeletak di atas meja
memancarkan cahaya yang berkilauan Benda itu terbuat dari perak dan harganya
paling banyak dua tail. Buatannya juga kasar, tapi Siau Po mengerti bahwa tusuk konde
itu berarti sekali bagi Pui Ie.
“Hm” pikir Siau Po. “Dasar Lai It-cou itu bocah melarat Barang sejenak ini
dihadiahkannya juga kepada nona Pui”
Dia meludahi tusuk konde itu beberapa kali, Kemudian dia menyekanya dengan
ujung baju dan menyimpannya dalam saku, Kemudian dia juga mengambil kue kering
yang selalu tersedia di mejanya.
Ketika hendak berlalu, dia melihat bayangan berwarna merah di atas lantai, itulah
sepasang sepatu yang masih lengkap dengan kakinya, Kaki-nya Liu Yan
Rupanya lantai kamarnya tidak rata dan bubuk obat yang mencairkan tubuh itu
mengalir ke dalam lekukan sehingga sebagian kaki Liu Yan tidak ikut mencair Mulamulanya
Siau Po memang terkejut, namun kemudian dia sadar apa sebabnya.
Setelah berdiam sejenak, dia berpikir lagi.
“Bagaimana baiknya sekarang?” dia kebingungan “Obat itu ada dalam buntalan
buntalan dan dipegang oleh Pui Ie, Tanpa obat, kaki dan sepatu ini tidak dapat
dimusnahkan. Dibawa juga mere-potkan….”
Sesaat kemudian dia sudah mendapat pikiran yang bagus,
“Kali ini, begitu keluar dari istana, aku tidak akan kembali lagi, Dengan demikian aku
juga tidak akan bertemu lagi dengan si nenek sihir Karena itu, ada baiknya sepasang
kaki ini aku lemparkan ke dalam kamarnya agar dia kaget setengah mampus”
Membawa pikiran itu, Siau Po segera mengambil secarik kain yang digunakannya
untuk membungkus kaki itu, Kemudian dia melompat keluar lewat jendela serta
langsung menuju keraton Cu-leng Kiong.
Begitu jaraknya dengan kamar ibu suri sudah dekat, dia tidak berani langsung
meneruskan langkah kakinya, Untuk sesaat dia berputaran di taman bunga sambil
memasang telinga.
“Kalau aku kurang berhati-hati sedikit saja, tentu aku bisa kepergok si nenek sihir dan
kali ini aku tidak bisa menyelamatkan diri lagi,” pikirnya dalam hati,

Setengah khawatir, setengah mendongkol mengingat kebencian ibu suri, Siau Po
perlahan-lahan mendekati kamarnya ibu suri itu. Tangannya sampai berkeringat saking
tegangnya,
“Akan kuletakkan sepasang kaki ini di depan undakan tangga,” kata Siau Po dalam
hati. “Nanti pagi dia pasti akan melihatnya. sedangkan bila dilempar ke dalam
kamarnya, hal ini terlalu riskan bagiku”
Siau Po maju dua tindak lagi, Langkahnya ringan sekali, Tiba-tiba dia mendengar
suara seorang laki-laki dalam kamar thayhou.
” Ah, aneh si A Yan, Mengapa dia belum kembali juga?”
Siau Po bingung.
“Eh, kenapa di dalam kamar thayhou ada suara laki-laki?” tanyanya, “Suara itu juga
tidak sama dengan suara para thay-kam, Apa mungkin nenek sihir itu mempunyai
simpanan? Ha,., ha,.,. Lohu ingin menangkap basah orang yang sedang main asmara”
Di dalam hatinya, Siau Po mengatakan ingin menangkap basah thayhou, tapi belum
tentu dia berani melakukannya, jangan kata memergoki ibu suri, melihatnya saja dia
ngeri, Di lain pihak, dia juga tidak sudi melepaskan sepasang kaki Liu Yan begitu saja,
Dengan mengendap-endap, Siau Po maju lagi beberapa tindak lagi. Langkah kakinya
semakin ringan dan perlahan Dia harus berhati-hati agar jangan sampai menginjak
ranting pohon yang mana akan menerbitkan suara.
Kembali terdengar suara pria itu.
“Jangan-jangan telah terjadi sesuatu Kau tahu sendiri, setan cilik itu sungguh licik,
Kenapa kau membiarkan A Yan sendiri saja yang membawanya?”
“Ah, mereka tengah membicarakan diriku,” pikir Siau Po. “Mesti aku dengarkan
terus.,.” karena itu dia terus memasang telinga.
Kali ini dia mendengar suara sahutan seorang wanita,
“llmu silatnya A Yan sepuluh kali lipat lebih tinggi daripada dia. Dia juga cerdik dan
selalu siap siaga, mana mungkin terjadi apa-apa pada dirinya?”
Siau Po segera mengenalinya sebagai suara ibu suri dan wanita itu melanjutkan
kata-katanya kembali.
“Mungkin kitab itu disimpan di tempat yang jauh sehingga A Yan harus membawa
bocah itu mengambilnya”

“Bersyukurlah kalau kitab itu masih bisa didapatkan,” kata yang Iaki-1aki. “Kalau
tidak, hm… hm.,.”
Nada suara laki-laki itu keras dan berwibawa. Tampaknya dia tidak begitu
menghormati ibu suri, Saking herannya, Siau Po jadi ingin lebih tahu.
“Di kolong langit ini siapa orangnya yang berani bicara begitu kurang ajar terhadap
ibu suri? Mungkinkah dia si raja tua yang sudah kembali dari Ngo Tay san?” pikirnya
dalam hati.
Memikirkan kemungkinan kaisar Sun Ti yan sudah kembali ke istana, diam-diam hati
Siau Po jadi senang, kegembiraannya muncul secara tiba tiba. Dia menganggap dirinya
akan menonton suatu pertunjukan yang hebat.
Kembali terdengar suaranya ibu suri.
“Kau toh tahu, aku sudah menggunakan segala macam cara, Orang dengan
kedudukan seperti aku ini kan tidak mungkin menentengnya kemana mana? Mustahil
aku harus mondar-mandir dengan menggiringnya. Apabila aku melangkah keluar satu
tindak saja dari Cu-leng kiong ini, para thay-kam dan dayang-dayang akan
mengiringiku, Karena it mana mungkin aku berbuat demikian?”
“Tidak dapatkah kau menunggu sampai malam tiba baru membawanya?” kata si lakilaki.
Nadanya mendesak sekali, “Kalau memang itu yang menjadi alasanmu, mengapa
kau tidak memberitahukann kepadaku agar aku sendiri yang akan membawanya untuk
mengambil kitab itu?”
“Tidak berani aku membuatmu letih,” sahut thayhou, “Keberadaanmu di sini, biar
bagaima tidak boleh ada orang yang mengetahuinya”
Laki-laki itu tertawa dingin.
“Urusan ini toh besar dan penting sekali,” katanya tajam “Menghadapi urusan
semacam inipun tidak perlu kita perdulikan lagi. Aku tahu apa sebabnya kau tidak
bersedia memberitahukan kepada kita Kau khawatir aku akan merebut jasa yang telah
kau tanamkan”
Suara itu mengandung kemarahan dan penasaran.
“Apa jasaku?” tanya ibu suri, “Ada jasa, begini. Tidak ada jasa, toh begini juga.”
Suaranya justru mengandung penyesalan.
Coba kalau Siau Po tidak kenal baik dengan suara ibu suri, tentu dia tidak akan
percaya bahwa wanita itu bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu. Dalam anggapannya,
pasti salah seorang dayang yang mengatakannya.

Kedua orang itu bicara dengan perlahan, tapi jarak Siau Po sudah dekat sekali
sehingga dia dapat mendengar dengan jelas, Apalagi malam itu sunyi sekali.
Siapakah pria itu? sekarang Siau Po menyangsikan kalau itu adalah kaisar Sun Ti.
Bukankah sang kaisar telah mensucikan diri di gunung Ngo Tay san?
Saking kerasnya keinginan dalam hati Siau Po untuk mengetahui siapa orang itu, ia
memberanikan diri mendekati jendela, Dia mengintai di sela-selanya. Dilihatnya ibu suri
sedang duduk di atas tempat tidur, sedang seorang dayang sedang berjalan mondarmandir
dalam kamar itu dengan memangku sepasang tangannya di depan dada. Selain
mereka berdua, tidak ada orang lainnya lagi di dalam kamar itu
“Eh, kemana perginya laki-laki itu?” tanya Siau Po dalam hati, Dia menjadi
kebingungan Matanya celingak-celinguk, hatinya terus bertanya-tanya.
Tiba-tiba si dayang membalikkan tubuhnya.
“Sudah Tidak perlu kita menunggunya lagi” katanya. “Aku akan pergi melihatnya”
Mendengar suara orang itu, Siau Po terkejut setengah mati, Suara itu bukan lain dari
suara si laki-laki tadi, tapi bentuk orangnya sendiri seperti dayang yang biasa melayani
putri atau ibu suri dalam kerajaan. Rupanya dia seorang laki-laki yang menyamar
sebagai dayang
“Mari kita pergi bersama” kata ibu suri.
Dayang itu tertawa datar. “Apakah kau merasa khawatir?” tanyanya.
“Bukannya hatiku tidak tenang,” kata ibu suri, “Aku bingung dan cemas telah terjadi
sesuatu atas diri A Yan. Dengan berdua, kita bisa menghadapinya bersama apabila
terjadi apa-apa”
Dayang itu menganggukkan kepalanya.
“Ya, apa yang kau katakan ada benarnya juga” sahutnya, “Memang kita harus
waspada, agar perahu kita tidak berbalik haluan dan tercebur atau karam Mari kita pergi
bersama”
Thayhou menganggukkan kepalanya, Kemudian dia berdiri untuk menyingkapkan
kasurnya, Kemudian tampak dia mengangkat sehelai papan. Diterangi oleh cahaya lilin
dalam kamar, tampak tangannya telah mencekal sebatang pedang, Yang mana
kemudian dimasukkannya ke balik pakaian
“Oh, rupanya di bawah tempat tidur itu ada tempat rahasianya,” kata Siau Po dalam
hati, Tentunya untuk menjaga segala kemungkinan, dia menyembunyikan pedang itu di
tempat tersebut Dengan demikian mudah diambilnya bila terjadi apa-apa.”

Ibu suri dan dayang gadungan itu segera keluar dari kamar, Lilinnya tidak
dipadamkan Sembari memperhatikan otak Siau Po terus bekerja.
“Sebaiknya aku letakkan sepasang kaki Liu Yan ini di tempat rahasianya, pikirnya
kemudian “Kalau sebentar dia kembali lagi dan menyimpan pedang-nya. Pasti dia akan
menyentuh sepasang kaki ini dan kaget setengah mati.
Karena menganggap siasat itu bagus sekali, tanpa bimbang lagi Siau Po masuk ke
dalam kamar ibu suri, Dia langsung menuju tempat tidur dan menyingkapkan kasurnya,
Di bawah situ ada gelang besar yang digunakan untuk menarik papannya, Dan Siau Po
langsung melihat tiga jilid kitab Si Cap Ji cin-keng
Bocah itu segera mengenali ketiga kitab tersebut. Yang satu memang milik ibu suri
sendiri, yang kedua didapatkannya dari rumah Go Pay, demikian pula yang ketiga.
“Entah ada manfaat busuk apa dari kitab ini?” pikir Siau Po dalam hatinya, namun
hatinya senang sekali dengan penemuannya itu. “Mengapa setiap orang demikian
menghargainya? Lebih baik aku ambil saja semuanya, biar si nenek sihir kelabakan
setengah mati dan langsung jatuh semaput”
Di dalam kotak rahasia itu masih ada beberapa macam barang lainnya, tetapi Siau
Po tidak berani membuang-buang waktu untuk memeriksanya. Hanya sekilas dia
melihat ada beberapa jilid kitab lainnya.
Dia hanya mengambil ketiga jilid kitab itu yang dibungkusnya dengan sobekan kain
taplak meja, Sebagai gantinya, dia memasukkan sepasang kaki Liu Yan ke dalam kotak
rahasia tersebut Kemudian dia menutup papannya kembali dan menurunkan kasurnya,
Ketika dia membalikkan tubuhnya dan bersiap untuk pergi, tiba-tiba terdengar suara
pintu dibuka lalu didorong.
“Celaka” seru Siau Po dalam hatinya, Dia tidak menyangka bahwa ibu suri dan
dayang palsu itu akan kembali demikian cepat, Tidak ada jalan lainnya, Dia segera
menyusup ke dalam kolong tempat tidur untuk bersembunyi jantungnya berdebar-debar,
hatinya ketakutan setengah mati, Kalau dia sampai kepergok….
Dalam hatinya, Siau Po berharap ibu suri kembali karena ketinggalan sesuatu, dan
setelah menemukannya dia akan keluar lagi, Tentu saja dia berharap barang itu tidak
disimpan dalam kotak rahasia.
Pintu kamar segera terbentang lebar dan seseorang melompat masuk, Gerakannya
cepat dan langkahnya ringan.
Rupanya orang itu bukan ibu suri, tetapi seorang wanita bersepatu hijau muda,
celananya juga berwarna sama, Kalau dilihat dari celananya, dapat dipastikan bahwa
dia seorang dayang.

“Entah Lui Cu atau bukan yang datang ini.,.” Siau Po menerka-nerka dalam hati. Dia
belum sempat melihat wajah orang itu. “Kalau dia tidak cepat-cepat pergi, terpaksa aku
harus membunuh-nya…. Tunggu sampai dia mendekati tempat tidur ini….”
Siau Po mengeluarkan pisau belatinya yang tajam, Dia bersiap menikam perut orang
itu agar tewas seketika, Siau Po memang tidak bisa melihat dengan jelas, tapi dia dapat
mendengar. Dia mendengar suara lemari dibuka, Kerjanya cepat, entah apa yang
dicarinya, Dia tidak mendekati tempat tidur, Kemudian dia juga mendengar suara
gerakan senjata tajam yang merusak dua buah peti kayu,
“Ah, dia pasti bukan sembarangan dayang” kata Siau Po dalam hati. Dia menjadi
bertanya-tanya sendiri. Hatinya juga dilanda perasaan heran. “Dapat dipastikan bahwa
tujuannya masuk ke kamar ibu suri ini adalah untuk mencuri. Mungkinkah dia juga
mencari kitab Si Cap Ji cin-keng? Dia membawa senjata tajam. Hal ini membuktikan
bahwa dia mengerti ilmu silat Aku tidak boleh keluar. Bisa-bisa dia membunuhku
terlebih dahulu.”
Dengan membawa pikiran demikian, Siau Po terus mendekam di kolong tempat tidur.
Dayang itu masih mengacak di sana-sini. Beberapa peti kembali dirusaknya, Siau Po
menjadi khawatir sekaligus mendongkol.
“Kalau kau tidak cepat-cepat berlalu, sebentar lagi si nenek sihir itu pasti akan
kembali Tidak apa kalau kau sendiri yang mampus, bagaimana kalau aku sampai
terbawa-bawa dan selembar jiwa Wi Siau-po ini terpaksa harus pulang ke alam baka?”
makinya dalam hati
Tampaknya wanita itu sibuk sekali Dia masih belum berhasil menemukan apa yang
dicarinya, Hal ini terbukti dari tindakannya yang kembali merusak beberapa buah peti
Suaranya juga bising sekali.
“Mungkin dia memang sedang mencari kitab Si Cap Ji cin-keng ini,” pikir Siau Po
bingung, “Apa sebaiknya aku lemparkan saja sebuah kitab ini agar dia cepat-cepat
pergi?”
Tapi, tepat pada saat itu juga, terdengar suara langkah kaki mendatangi.
“Aku yakin Liu Yan, si perempuan hina itu telah berhasil mendapatkan kitab tersebut
dan membawanya kabur” segera terdengar suara ibu suri.
Siau Po terkejut setengah mati Dia merasa mendongkol juga bingung, Si wanita yang
berdandan seperti dayang tidak mempunyai kesempatan untuk kabur lagi Dia segera
menyelinap ke dalam lemari yang kemudian ditutupnya dari dalam.
“Apakah kau benar-benar mengirim Liu Yan untuk mengambil kitab itu?” Terdengar
suara 1aki-laki tersebut “Bagaimana aku bisa tahu bahwa apa yang kau katakan adalah
hal yang sebenarnya?”

“Apa katamu?” tanya thayhou dengan nada gusar “Aku tidak menyuruh Liu Yan
mengambil kitab itu? Lalu, apa yang kusuruh ia lakukan?”
“Bagaimana aku bisa tahu peran apa yang sedang kau mainkan? Siapa tahu
sebenarnya kau hanya ingin menyingkirkan Liu Yan yang menjadi duri di matamu?”
“Hm” terdengar suara thayhou yang bukan main marahnya, “Bagus Begini rupanya
kelakuanmu sebagai seorang suheng (kakak seperguruan)? Bagaimana kau bisa
berkata begitu? Liu Yan kan sumoayku Mana mungkin aku tega mencelakakan nya?”
Siau Po berpikir dalam hati.
“Dia menyebut-nyebut soal suheng dan sumoay. “Rupanya dayang palsu ini
suhengnya, sedangkan Liu Yan adalah sumoaynya….”
Si dayang berkata lagi, “Nyalimu memang besar dan hatimu juga keji Hal apa yang
tidak dapat kau lakukan?”
Siau Po semakin heran, Kedua orang itu berjalan masuk ke dalam kamar, Begitu
mereka melihat keadaan dalam kamar, keduanya langsung bingung serta terperanjat
sehingga mengeluarkan seruan tertahan, Terutama ibu suri. Kamar itu kacau sekali,
semua peti dirusak dan dibongkar, isinya berantakan kemana-mana
“Ah ada orang mencuri kitab” teriak ibu suri tercekat hatinya ketika teringat kitab
yang disimpannya, Dia langsung menghambur ke tempat tidur untuk menyingkapkan
kasurnya serta membuka kotak rahasia.
“Aduh” jeritnya, Kitab yang disimpannya benar-benar lenyap, sebaliknya di situ, dia
mendapatkan sepasang kaki yang mengenakan sepatu sulam, “Lihat ini”
Laki-laki yang menyaru sebagai dayang segera menyambuti.
“Sepasang kaki orang” serunya heran.
“Kaki Liu Yan” teriak ibu suri. “Oh, dia telah dibunuh oleh seseorang”
“Nah, apa kataku?” kata si dayang yang langsung tertawa dingin, “Tidak salah,
bukan?”
Thayhou merasa bingung dan juga tercekat hatinya, Di samping itu, dia semakin
marah.
“Apanya yang tidak salah?” tanyanya.
“Tempat penyimpanan kitabmu itu. Di kolong langit ini, hanya kau seorang yang
tahu” kata laki-laki yang menyaru sebagai dayang itu. “Kalau bukan kau yang

membunuh Liu sumoay, lalu siapa? Mengapa sepasang kakinya bisa berada di kotak
rahasiamu itu?”
“Percuma kalau kita hanya berdebat saja di sini” tukas thayhou, “Pencuri kitab itu
pasti belum pergi jauh. Cepat kita kejar”
“Benar” kata si dayang, “Mungkin dia masih ada di sekitar Cu leng kong ini”
Meskipun berkata demikian, thayhou tidak segera keluar mengejar. Dia malah
menghampiri lemarinya yang tertutup, Hal ini membuktikan bahwa dia menaruh
kecurigaan.
Siau Po mengintai dari kolong tempat tidur, Hatinya berdebar-debar dan hampir saja
dia menjerit saking khawatirnya.
Tiba-tiba terlihat bayangan golok berkelebat Tentunya thayhou yang melakukan hal
itu. Dengan tangan kiri dia membuka pintu lemari dan tangan kanan yang
menggenggam golok berniat menebas ke dalamnya.
Memang benar, setindak lagi thayhou akan sampai di depan lemari itu. Tapi, tiba-tiba
pintu lemari itu menjublak lalu menghantam ibu suri. Thayhou terkejut setengah mati.
Dia tidak menyangka akan terjadi hal itu. Untung saja matanya awas dan gerakannya
cepat Dengan lincah dia mencelat mundur Namun di saat itu juga, kepalanya tertutup
beberapa potong pakaian yang dilemparkan dari dalam lemari, Dengan panik dia
menyingkirkan pakaian-pakaian itu.
Kembali menyusul sepotong baju yang menyambar ke arahnya, Kali ini dia langsung
menjerit keras. Ternyata di balik baju itu bersembunyi seseorang.
Mulanya si dayang palsu berdiam diri saja, Dia hanya berdiri memperhatikan. Begitu
mendengar suara jeritan ibu suri, dia langsung menerjang ke depan, ke arah baju yang
sedang menyambar itu.
Siau Po yang bersembunyi di kolong tempat tidur merasa khawatir sekali, Dia sempat
melihat gumpalan baju itu bergulingan di atas tanah sehingga rada tersingkap sedikit
dan tampaklah pakaiannya yang berwarna hijau. Entah senjata apa yang tergenggam di
tangannya, Saat ini dia menggunakannya untuk menyerang si dayang palsu.
Laki-laki yang menyamar itu mengeluarkan seruan tertahan Setelah menghindarkan
diri, dia balas menyerang. Dayang bercelana hijau itu juga mengelak lalu mengulangi
serangannya, Tampaknya gerakan perempuan itu cukup gesit.
Siau Po masih mengintai Dia tidak bisa melihat wajah mereka, hanya bagian kaki
yang terlihat Si dayang palsu mengenakan celana berwarna abu-abu, sepatunya hitam,
Kedua orang itu bertempur dengan sengit sebegitu jauh, tidak terdengar suara
beradunya senjata tajam. Hal ini membuat Siau Po menduga bahwa si dayang palsu

tidak menggunakan senjata dalam perkelahian Namun suara angin yang terpancar dari
pukulannya justru terdengar jelas.
Lilin di ruangan itu tinggal setengah, namun kedua orang itu masih tetap bertarung,
sebetulnya jumlah lilin dalam ruangan itu ada tiga, tapi yang satu sudah padam karena
terhempas angin kencang dari pukulan si dayang palsu.
“Terima kasih kepada Langit dan Bumi,” Siau Po berdoa dalam hati. “Semoga kedua
batang lilin lainnya juga padam sehingga kamar ini menjadi gelap gulita dan aku bisa
meloloskan diri….”
Baru berdoa sampai di sini, tiba-tiba lilin yang kedua pun padam. Di lain pihak, kedua
dayang itu masih bertempur terus, Tiada seorang pun yang bersuara, Rupanya mereka
khawatir menimbulkan kebisingan yang akan menyebabkan datangnya para pengawal
thay-kam maupun dayang-dayang istana tersebut.
Culeng kiong mempunyai banyak dayang dan thay-kam, Tetapi saat itu tidak ada
satu pun yang muncul karena tadi thayhou sudah berpesan bahwa mereka tidak boleh
mendekati kamarnya, kecuali bila ada panggilan.
Di samping suara berkesiurnya angin dari pukulan dan gerakan tubuh keduanya,
suara bising lainnya timbul dari kursi serta meja yang terjungkir balik.
“llmu silat si laki-Iaki yang menyaru sebagai dayang itu hebat sekali,” pikir Siau Po.
Tapi pikirannya tidak sempat berlanjut sebab dia melihat benda yang berkilauan
mencelat ke atas langit-langit kamar dan menimbulkan suara keras.
Siau Po menduga bahwa benda itu kemungkinan senjata si dayang bercelana hijau
yang terlepas dari cekalannya, Senjata itu terlontar ke atas dan menancap di langitlangit
Kemudian, kedua pasang kaki orang-orang itu tidak terlihat lagi. Hal ini disebabkan
keduanya sudah bergulingan di lantai. Mereka saling mencekal meronta dan bergumul.
Sekarang Siau Po dapat melihat, kedua-duanya menggunakan ilmu Kim Na-hoat,
ilmu memegang tangan lawan. ilmu itu dikenal baik olehnya karena dia pernah
mempelajarinya bersama-sama kaisar Kong Hi.
Pertempuran masih terus berlangsung, Siau Po tetap jadi penonton gelap, Dia hanya
berharap lilin ketiga juga akan padam. Dengan demikian dia bisa pergi secara diamdiam.
Akhirnya, mendadak saja lilin yang ketiga pun padam, Kamar itu jadi gelap gulita
seketika, Namun pada saat itu juga, ternyata pertempuran juga sudah sampai pada
tahap akhir.

Dayang perempuan itu kalah ulet Dia kalah tenaga, Dengan demikian si laki-laki
berhasil menguasainya, Dayang perempuan itu kena ditindihnya. Tangan dan kakinya
tidak berdaya lagi. Tapi si pria juga tidak dapat melakukan hal lainnya, karena kedua
tangannya sibuk mengendalikan perempuan itu. Tangan kirinya mencekik bagian leher,
sedangkan tangan kanannya sibuk menangkis kedua tangan si perempuan yang terus
menerus menyerangnya.
Beberapa saat kemudian, habislah tenaga si dayang perempuan. Gerakan
tangannya semakin lemah dan nafasnya tersengal-sengal, Hal ini disebabkan cekikan
di lehernya yang membuat nafasnya jadi sesak, Kedua kakinya memang masih bisa
bergerak, tapi sudah tidak ada artinya lagi.
“Kalau si dayang bercelana abu-abu berhasil membunuh si dayang bercelana hijau,
celakalah aku” pikir Siau Po dalam hatinya, “Setelah membunuh lawannya, dia pasti
akan memeriksa kolong tempat tidur dan aku Wi Siau-po akan berubah menjadi mayat”
Berpikir demikian, si thay-kam cilik gadungan ini jadi nekat. Tanpa ragu sedikit pun,
dia segera merayap keluar dari kolong tempat tidur, Setelah dapat bergerak dengan
bebas, mendadak dia menerjang ke arah dayang gadungan dan menghunjamkan
pisaunya ke punggung orang itu.
Serangan itu benar-benar di luar dugaan si celana abu-abu. Hatinya tercekat, dia
menjerit dan meronta.
Setelah menikam, Siau Po mencelat mundur Karena itu, si celana abu-abu dapat
bangkit berdir kemudian melakukan serangan kepada pembokongnya, Gerakannya
cepat sekali, sekali lompa saja dia sudah mencapai lawannya dan menceki leher si
bocah, Siau Po menjadi bingung. Dia mencoba untuk melepaskan diri sehingga untuk
sesaat dia lupa untuk menikamnya kembali
Sekarang wanita bercelana hijau itu sudah bebas. Dia dapat mengatur
pernafasannya sekejap kemudian melihat apa yang terjadi .Tanpa membuang waktu
agi, dia menerjang ke arah musuhnya. Tangan kanannya membacok pipi kiri orang itu
sedangkan tangan kirinya menjambak rambut orang itu sehingga tertarik ke belakang.
Di saat itu terjadi sesuatu yang luar bias. Rambut si dayang bercelana abu-abu copot
karena tertarik keras. Rupanya dia mengenakan rambut palsu, sedangkan kepalanya
sendiri gundul plontos tanpa rambut sehelai pun. Rupanya dia seorang biksu yang
menyaru sebagai dayang.
Hebat sekali serangan dayang bercelana hijau itu, Orang itu sampai tersungkur jatuh.
Dara mengalir deras dari punggungnya kemudian dia terkulai di atas lantai
Ternyata di saat dayang bercelana hijau it menjambak rambutnya sehingga ia
tersungkur, Siau Po segera menggunakan kesempatan itu untuk bangun dan menikam
punggung orang itu, Padahal dia mengerahkan sisa tenaganya yang terakhir, tapi
untung saja berhasil

“Terima kasih, kongkong kecil,” kata si dayang bercelana hijau kepada Siau Po.
“Kongkong telah menolong aku.”
Siau Po menganggukkan kepalanya, tidak sempat dia memberi jawaban, Tangan
kirinya repot mengusap-usap lehernya yang dicekik dayang palsu tadi.
“Dia… dia…?” tanyanya sambil menunjuk kepada si biksu,
“Dia seorang pria yang menyelundup ke dalam istana dan menyamar sebagai
seorang dayang,” sahut wanita itu, Belum sempat dia meneruskan kata-katanya,
mendadak dari luar kamar terdengar suara teriakan.
“Mana orang? Cepat di sini telah terjadi pembunuhan”
Nada suara orang itu bukan nada suara seorang laki-laki atau perempuan, tapi suara
seorang thay-kam, (Para thay-kam adalah laki-laki yang sudah dikebiri, mereka tidak
dapat berhubungan dengan perempuan sebagaimana laki-laki normal. Tingkah mereka
juga jadi tidak wajar Kalau zaman sekarang, mungkin hampir sama dengan waria).
Wanita itu terkejut, ia segera memberi isyarat kepada Siau Po, kemudian dia
melompat lewat jendela. Hampir dalam waktu yang bersamaan, terdengarlah suara
jeritan tertahan disusul dengan suara ambruknya tubuh seseorang, Rupanya thay-kam
yang berteriak tadi sudah disambit dengan senjata rahasia sehingga mati seketika.
“Mari” wanita itu mengajak Siau Po yang telah mengikuti perbuatannya melompati
lewat jendela, Siau Po menurut saja karena tangannya memang dipegangi, Dia dibawa
lari ke arah utara dengan melalui tiga halaman kemudian sampai Yang-hoa mui.
Setelah itu mereka memutar lewat pendopo I-hoa kok dan pendopo Po-hoa tian dan
sampai di samping keraton Hok-kian kiong yang merupakan sebuah tempat untuk
mengadakan pembakaran,
Sampai di sini baru tangan Siau Po dilepas.
Bocah cilik itu memperhatikan si wanita lekat-lekat.
“Hebat sekali” pujinya dalam hati, Siau Po merasa kagum sekali, Bentuk tubuh
wanita itu tidak berbeda banyak dengan dirinya, tapi dengan mudah dia menenteng
Siau Po dan membawanya berlari.
Tempat di mana mereka berada adalah tempat untuk membakar segala macam
sampah dan barang-barang yang tidak terpakai lagi. Pada malam hari, tempat ini sepi
sekali.
“Kongkong kecil, siapakah nama kongkong?” tanya wanita itu.
“Aku bernama Siau Kui cu” sahut Siau Po.

“Oh” seru wanita itu heran, “Rupanya kaulah Siau Kui cu yang telah menawan Go
Pay dan sangat sayang oleh Sri Baginda”
Siau Po tersenyum.
“Tidak berani aku menerima pujian setinggi itu” katanya merendah, Dia
memperhatikan wanita itu sekali Iagi. Usianya mungkin sekitar empat puluhan tahun,
Siau Po tidak mengenalnya, Lagi-pula selama di istana ia jarang memperhatikan para
dayang.
“Kakak, siapakah nama kakak sendiri?” tanyanya kemudian.
Dayang itu tampak ragu-ragu sejenak. Kemudian dia baru menjawab.
“Kita merupakan orang senasib. Tidak boleh aku mendustaimu, Aku she To, karena
aku seorang dayang, orang-orang biasa memanggilku To kiong-go (panggilan untuk
dayang) Eh, apa yang kau lakukan sehingga bersembunyi di kolong tempat tidur ibu
suri?”
“Aku mendapat firman Sri Baginda untuk memergoki perbuatan ibu suri,” sahut Siau
Po ber-bohong, Dia tidak ingin memberikan keterangan yang sebenarnya.
To kionggo terperanjat.
“Apa?” serunya, “Apakah Sri Baginda sudah mengetahui ada laki-laki yang
menyamar sebagai dayang di keraton Cu-leng kiong?”
“Sri Baginda sudah mengetahuinya, hanya belum jelas saja.”
Dayang itu terdiam sejenak, kemudian dia berkata:
, “A… aku telah membunuh ibu suri, urusan ini gawat sekali, sebentar lagi pasti keluar
perintah untuk menutup seluruh pintu istana dan melakukan penggeledahan Oleh
karena itu aku harus berlalu dari sini secepatnya. Sahabat kecil, sampai jumpa”
Siau Po berpikir cepat.
“Kalau ibu suri sudah mati, aku aman berdiam dalam istana, Tapi berbahaya sekali
kalau semua pintu ditutup dan dilakukan penggeledahan Bagaimana dengan kedua
nona Bhok dan nona Pui? Aku harus mencari akal.”
Cepat-cepat Siau Po berkata kepada To kionggo,

“To cici, aku mempunyai akal,” katanya, “Sekarang juga aku akan menghadap Sri
Baginda untuk melaporkan bahwa aku melihat sendiri ibu suri dibunuh dayang palsu itu
Bukankah ibu suri sudah mati dan di sini tidak ada saksi lainnya lagi?”
To kionggo merenung sejenak.
“Akalmu bagus juga,” katanya kemudian Tapi, thay-kam itu, siapa yang
membunuhnya?”
“Mudah saja,” sahut Siau Po. “Aku akan mengatakan kepada Sri Baginda bahwa
dayang palsu itulah yang membunuhnya”
“Saudara kecil, urusan ini berbahaya sekali,” kata To kionggo, “Meskipun Sri Baginda
sangat menyayangimu, tetapi aku khawatir dia akan membunuhmu untuk menutup
mulut.”
Mendengar kata-katanya, seluruh tubuh Siau Po langsung bergetar Apa yang
dikhawatirkan memang mungkin bisa terjadi.
“Sri Baginda akan membunuh aku?” tanyanya. “Tapi, apa sebabnya?”
To kionggo tertawa dingin.
“lbu suri berbuat serong dengan seorang laki-laki yang tidak dikenal. Kalau peristiwa
ini sampai bocor keluar dan menjadi gunjingan rakyat, bagaimana raja bisa
mempertahankan kewibawaannya lagi? Taruh kata kau berjanji akan menutup rahasia
ini rapat-rapat, tetapi setiap kali Sri Baginda melihat wajahmu, tentu otaknya berputar.
Pasti hatinya ragu Iagi atau paling tidak dia merasa malu sendiri, itulah sebabnya, cepat
atau lambat, dia pasti akan membunuhmu”
Siau Po tertegun.
“Be… narkah… dia begitu kejam?” tanyanya ragu, Tapi si dayang memang benar.
Kekhawatiran dan dugaannya memang beralasan Jadi, dia tidak dapat membuka
rahasia ibu suri kepada raja.
Ketika keduanya sedang berdiam diri, tiba-tiba mereka mendengar suara tabuhan
dari arah selatan, yang disusul dengan sambutan dari tiga arah lainnya Seluruh tempat
itu jadi bising oleh suara tersebut itulah isyarat bahwa di dalam istana telah terjadi
kebakaran atau bencana lainnya, Karena adanya tanda bahaya itu, seluruh pengawal
harus bersiap sedia.
“Nah, kau dengar” kata To kionggo.
“Sekarang tak sempat lagi kita menyingkir pergilah kau membantu mereka
menangkap orang jahat, tentu saja hanya berpura-pura. Dan aku sendiri akan kembali
ke kamar untuk tidur,” kata wanita itu kemudian.

Selesai berkata, wanita itu langsung mengulurkan tangannya untuk memeluk
pinggang Siau Po kemudian dibawanya lari seperti ketika mereka keluar tadi. Mereka
menuju pendopo Eng-hoa tian, Begitu sampai di sampingnya, To kionggo berbisik
kepada Siau Po.
“Hati-hatilah” Tanpa menunggu jawaban Siau Po, dia segera menyelinap ke tempat
yang gelap.
Siau Po memikirkan Pui Ie dan Kiam Peng. Dia segera menuju tempat
persembunyian kedua gadis itu. Begitu sampai dia segera berkata: “Aku yang datang”
Maksudnya agar mereka tahu dan mengenali suaranya.
“Apa yang terjadi?” tanya Kiam Peng cemas, “Di luar berisik sekali dengan suara
tabuhan, Apakah mereka akan menawan kita?”
“Bukan,” sahut Siau Po, “Kita kembali dulu ke kamarku, di sana lebih aman”
Kiam Peng terkejut mendengarnya.
“Kembali ke kamarmu?” tanyanya menegaskan “Bukankah di… sana kita sudah
membunuh orang?”
“Jangan takut” hibur Siau Po. “Tidak akan ada yang tahu Cepat”
Siau Po berjongkok untuk menggendong Pui Ie, kemudian dia menarik tangan Kiam
Peng dan mengajaknya pergi dengan tergesa-gesa.
Belum berapa jauh mereka berjalan, di sebuah lorong, tampak serombongan siwi
yang sedang mendatangi dengan cepat, Salah satunya yang menjadi pemimpin segera
mengangkat obornya tinggi-tinggi.
“Siapa?” bentaknya.
“Aku” jawab Siau Po. Suaranya keras dan mantap. “Cepat kalian lindungi Sri
Baginda, Apakah telah terjadi kebakaran?”
Siwi itu langsung mengenali Siau Po. Cepat-cepat dia menyerahkan obornya kepada
salah seorang bawahannya dan berdiri tegak dengan sikap menghormat
“Kui kongkong,” katanya, “Telah terjadi sesuatu di Cu-leng ki-ong….”
“lya, iya,” kata Siau Po. “Kalian jalanlah duluan, nanti aku susui.”
“Baik” sahut siwi itu menganggukkan kepaanya. Kemudian dia berlalu dengan
mengajak orang-orangnya.

“Tampaknya mereka takut kepadamu,” kata Kiam Peng. “Barusan aku khawatir
sekali kita akan tertimpa bencana….”
Siau Po sebenarnya ingin mengucapkan kata-kata gurauan, tapi dia ingat mereka
dalam keadaan sedemikian rupa, maka dia membatalkannya danberkata dengan
sungguh-sungguh.
“Mari” ajaknya, dia mendahului berjalan di depan
Satu kali lagi mereka sempat bertemu dengan serombongan siwi lainnya, tapi
rombongan siwi itu juga tidak berani banyak bertanya. Karena itu dalam waktu yang
singkat mereka telah kembali lagi ke kamar Baru semuanya sempat menarik nafa lega.
Untung saja Pui le dan Kiam Peng berdandan sebagai thay-kam Dengan demikian tidak
ada yang mencurigainya.
“Sekarang kalian diam di sini” kata Siau Po “lngat, jangan ganti dulu pakaian kalian”
Dia ke luar dan mengunci pintu, setelah itu dia berjala menuju Kian-ceng kiong, kamar
tidurnya raja.
Kaisar Kong Hi sudah terjaga karena riuhnya suara tabuhan Dia segera turun dari
tempat tidur lalu mengenakan pakaiannya, Tepat pada saat itu lah seorang siwi masuk
dan melaporkan bahwa telah terjadi keonaran di Cu-Leng kiong, tapi belum jelas apa
masalahnya.
Raja kebingungan Saat itulah muncul Siau Po Karena itu kaisar Kong Hi langsung
bertanya kepadanya.
“Apa yang terjadi? Apakah thayhou baik-baik saja?”
“Thayhou menitahkan hamba pulang dan tidur di kamar hamba sendiri,” sahut Siau
Po mulai mengarang-ngarang, “Katanya besok baru hamba pindah. Siapa sangka telah
terjadi sesuatu di Cu-leng kiong, entah apa. sekarang juga hamba akan melihatnya “
“Aku juga ingin melihat thayhou,” kata kaisar Kong Hi. “Ayo, kau ikut denganku”
“Baik,” sahut Siau Po.
Raja sangat berbakti. Dia tidak sempat mengenakan pakaian kebesarannya.
Disambarnya sehelai jubah panjang dan kemudian pergi dengan tergesa-gesa dengan
diikuti oleh Siau Po. Sembari berjalan dengan cepat, dia bertanya kepada Siau Po.
“Thayhou minta kau melayaninya, mengapa kau malah kembali kepadaku?”
“Hamba mendengar suara tabuhan, tadinya hamba kira mungkin telah terjadi
kebakaran atau ada penyerbu yang datang lagi,” sahut Siau Po dengan cerdik, “Tanpa
sadar hamba langsung datang kepada Sri Baginda yang tidak dapat hamba lupakan Ya,
hamba memang bersalah….”

Kaisar Kong Hi tidak mengatakan apa-apa, Dia terus berjalan, sekeluarnya dari
kamar dia lantas diiringi para siwi dan beberapa orang thay-kam. Belasan lentera
menerangi jalan sehingga dia melihat pakaian Siau Po yang tidak karuan dan
rambutnya acak-acakan Dia menyangka thay-kam cilik itu sangat setia kepadanya
sehingga begitu terjaga dari tidur langsung menemuinya. Dia tidak tahu bahwa bocah
cilik itu justru baru dari

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s