“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 34

kepandaiannya
tinggi sekali, julukannya Tiat Pwe-cong Liong Liu Tay-hong, Masih ada beberapa orang
lainnya, di antara mereka ada Sin-jiu Kisu Sou Kong, Pek Han-hong, jago nomor dua
dari Pek Si Siang hiap, Mereka bermarkas di dua tempat yang berlainan, yakni Yang-ciu
hou tong dan Mo-ji hou tong.”
“Jadi kau telah bertemu dengan mereka?” tanya sang raja menegaskan.
“Ya,” sahut Siau Po. “Kata mereka, rakyat negeri ini menganggap, meskipun usia Sri
Baginda masih muda sekali, tetapi kebijaksanaannya sudah kentara. Selama beberapa
generasi terakhir, jarang ada raja seperti Sri Baginda, Mereka mengatakan bahwa
meskipun nyali mereka sangat besar, tidak mungkin mereka berani mencelakai Sri
Baginda, seandainya apa yang mereka katakan hanya pujian belaka, hamba tetap
senang mendengarnya”
Kembali kaisar Kong Hi percaya penuh dengan keterangan thay-kamnya, sebetulnya
Siau Po hanya meniru apa yang pernah didengarnya dari tukang cerita ketika masih di
Yangciu dulu.
“Sri Baginda, mereka mengumpamakan Sri Baginda sebagai Niau-seng Hi-tong,
Bukankah itu artinya burung hidup dan Sup ikan? Hampir saja hamba marah
karenanya, kalau tidak memikirkan bahwa hamba sedang menjalankan perintah untuk
mencari tahu siapa pemimpin mereka itu”

Sri Baginda sampai tertegun mendengar Siau Po mengatakan “Niau Seng dan Hi
tong.” Untuk sesaat dia menjadi bingung, tetapi setelah berpikir sejenak, dia langsung
tersenyum.
“Apaan Niau Seng Hi tong?” serunya, “Yang mereka maksudkan pasti Giau Sun Ie
tong”
“Sri Baginda” Siau Po merasa puas karena raja tampak senang, “Apakah artinya
Niau Seng Hi Tong itu yang sebenarnya ?”
“Aih kau masih mengatakan Niau Seng Hi Tong juga” kata kaisar Kong Hi. “Kau
benar-benar kurang pendidikan itulah marga keempat maharaja yang bijaksana dahulu
kala dan sangat dihormati oleh rakyatnya pada jaman kejayaannya masing-masing”
“Pantas Pantas” seru Siau Po. “Tampaknya beberapa orang pemberontak itu cukup
terpelajar juga”
“Meskipun demikian, mereka tidak boleh diberi kesempatan untuk meloloskan diri,”
kata kaisar Kong Hi. “Lekas panggilkan To Lung untuk menghadap”
Siau Po segera mengiakan kemudian mengundurkan diri. Dia pergi memanggil To
Lung. Dalam waktu yang singkat, kepala siwi itu sudah menghadap raja di kamar
tulisnya.
“Ternyata kawanan penyerbu itu memang orang-orang dari keluarga Bhok di Inlam,”
kata kaisar Kong Hi kepada To Lung, “Sekarang juga kau pimpin pasukan pengawal
untuk meringkus mereka. Kau, Siau Kui cu, coba kau jelaskan segala sesuatu yang kau
ketahui mengenai para pemberontak itu”
Siau Po menurut Dia segera menjelaskan apa yang diketahuinya, seperti yang
diceritakannya kepada kaisar Kong Hi tadi, Dia juga menyebut nama Bhok Kiam seng
serta para pembantunya,
Ketika To Lung mendengar nama Liu Tay-hong, dia memperlihatkan mimik wajah
terkejut.
“Apa?” tanyanya heran. “Tiat-pwe Cong Liong juga ada di antara mereka? Dengan
demikian, dapat dipastikan bahwa mereka bukan orang-orang sembarangan Nama Yau
Tau Saycu Gouw Lip-sin juga pernah hamba dengar. Tidak disangka, meskipun telah
ditahan satu hari satu malam, hamba masih belum berhasil mengetahui siapa nama
mereka, Aih Asal hamba teliti sedikit saja, seharusnya hamba sudah mengetahuinya
begitu melihat orang tersebut sering menggelengkan kepalanya. Oh, Sri Baginda,
seandainya Sri Baginda kurang bijaksana, tentu kita sudah menuduh Go Sam-kui
sebagai biang keladi peristiwa ini”
“Tapi… aku khawatir mereka sudah kabur sekarang” kata kaisar Kong Hi. “Mungkin
kita tidak akan berhasil menangkap mereka.” Sri Baginda menghentikan kata-katanya

sejenak, kemudian baru melanjutkan kembali: “Yang penting kita sudah tahu siapa
adanya orang-orang itu. seandainya hari ini kita gagal, tidak jadi masalah kalau hari ini
kita gagah Yang ditakutkan justru apabila kita buta sama sekali dan dapat dipermainkan
oleh pihak musuh seenaknya Nah, kau pergilah”
To Lung berlutut serta menganggukkan kepalanya, Kemudian dia mengundurkan diri.
Saat itu juga dia mengumpulkan para bawahannya untuk melaksanakan tugas yang
diperintahkan
“Sekarang, Siau Kui cu,” kata kaisar Kong Hi pada thay-kamnya, “Mari kau ikut aku
menjenguk Ibusuri”
“Baik, Sri Baginda” sahut Siau Po. Padahal dalam hati, dia justru khawatir sekali,
jantungnya berdebar-debar, Hatinya takut berhadapan dengan Hong thayhou, wajahnya
langsung tampak kelam.
“Eh, kenapa kau mengernyitkan alismu?” tanya kaisar Kong Hi. ia merasa heran
melihat tampang si bocah, “Kau tahu… Dengan mengajakmu menghadap Hong
thayhou, aku justru ingin menyelamatkan batok kepalamu agar tetap menempel di
batang lehermu itu”
“Iya… iya, Sri Baginda,” sahut Siau Po yang terpaksa mengikuti raja itu.
Begitu sampai di keraton Cu-leng kiong, Raja langsung memberi hormat kepada
ibunya, Lalu dia memberi laporan tentang siapa orangnya yang melakukan penyerbuan
ke dalam istana, Dia menceritakan bagaimana Siau Po menggunakan akal yang bagus
melepaskan para tawanan itu kemudian diikuti sampai ke markasnya sehingga akhirnya
dia bisa mengetahui siapa adanya sang pemimpin dari pada pemberontak itu.
Thayhou tersenyum setelah kaisar Kong Hi selesai dengan ceritanya.
“Siau Kui cu, kau memang pandai sekali bekerja ” pujinya.
Si thay-kam kecil segera menjatuhkan dirinya berlutut dan menganggukkan
kepalanya berkali-kali.
“Semua ini berkat terkaan Sri Baginda yang tepat sekali semuanya telah
diperhitungkan dengan seksama, Sedangkan hamba hanya menjalankan perintah raja.”
Lagi-lagi thayhou tersenyum.
“Biasanya kalau seorang anak kecil keluar rumah, dia senang sekali keluyuran
kemana-mana,” katanya. “Apakah kau pergi ke Tiankio untuk menonton pertunjukkan
suIap? Atau mungkin kau membeli kembang gula di sana?”
Hati Siau Po cemas sekali mendapat pertanyaan demikian.

“lya, memang benar,” sahutnya cepat Hatinya berdebar Dia teringat akan pedagangpedagang
yang ditangkapi tentara kerajaan, Semua itu pasti atas perintah ibu suri.
Wanita ini pasti takut ada orang yang akan membawa berita ke Ngo Tay san. Karena
itu, setiap orang yang mencurigakan harus dibasmi sampai tuntas, Siau Po bergidik
mengingat kekejaman dan kejahatan ibu suri.
Kembali Hong thayhou tersenyum.
“Aku ingin tanya, apakah kau makan kembang gula hari ini?”
“Harap thayhou maklum,” sahut Siau Po yang cerdik. Dia memberikan keterangan
yang tidak merupakan jawaban atas pertanyaan ibu suri. “Selama berada di luar istana,
hamba telah mendengar berita tentang wilayah Tiankio yang kurang aman. Para Kiubun
te tok sudah menitahkan orang-orangnya untuk melakukan penangkapan sebab
menurut mereka, ada orang-orang jahat yang membaur di sana. Karena itu, sekarang
para pedagang kembang gula, sudah menukar usahanya, Ada yang menjual kue, ada
yang menjual kacang tanah dan buah-buahan, orang-orang seperti itu sudah sering
hamba lihat Karena itu ada beberapa wajah yang hamba kenal. Mereka mengatakan
bahwa sekarang mereka tidak menjual kembang gula lagi, Malah salah satu di
antaranya lucu sekali. Dia mengatakan bahwa dia ingin pergi ke gunung Ngo Tay san
atau Liok Tay san untuk menjual bakso tanpa daging bagi para pendeta”
Panas hati thayhou mendengar sindiran Siau Po.
“Kalau menilik dari ucapan bocah ini, berarti orang yang dicurigai itu telah gagal
ditangkap” Tapi wanita ini memang licik, Lagi-lagi dia tersenyum.
“Bagus Bagus sekali” katanya. “Kau sangat pandai bekerja. Sri Baginda, aku ingin
dia bekerja untukku saja, Bagaimana menurut pemikiranmu?”
Siau Po terkejut setengah mati. sedangkan raja merasa heran dan bimbang, Dia tahu
Siau Po memang pandai bekerja dan telah dianggap sebag pembantu dekatnya,
sekarang thayhou menghendaki Siau Po untuk bekerja baginya, Kaisar KongHi adalah
seorang anak yang berbakti Meskipun thayhou bukan ibu kandungnya, namun dia
sudah dibesarkan dan dididik semenjak kecil oleh wanita ini, Mana mungkin dia bisa
menentang kehendak ibu suri? Akhirnya dia tersenyum dan berkata kepada thaykamnya.
“Siau Kui cu, ibu suri telah memilihmu, kenapa kau tidak cepat-cepat mengucapkan
terima kasih?”
“Iya,., iya” sahut Siau Po gugup, Dia memang tercekat hatinya, Bahkan kalau ada
kesempatan rasanya dia ingin sekali melarikan diri dari tempat itu, sekarang terpaksa
dia menjatuhkan diri berlutut serta menyembah beberapa kali.
“Terima kasih atas budi besar Sri Baginda serta Hong thayhou” katanya.

“Bagaimana, heh?” tanya thayhou sambil mendengus dingin, Dia dapat melihat sikap
Siau Po yang mengucapkan kata-katanya dengan terpaksa sekali, “Apakah kau hanya
ingin melayani Sri Baginda dan tidak sudi melayani aku?”
“Melayani Sri Baginda maupun thayhou sama saja,” sahut Siau Po. “Hamba akan
sama setianya dan hamba akan menggunakan seluruh kesanggupan hamba untuk
menjalankan tugas….”
“Bagus” kata ibu suri. “Selanjutnya, tugasmu di Gi si pong tidak usah diteruskan lagi,
selebihnya kau hanya bekerja di Cu-leng Kiong ini”
“lya, iya, thayhou” sahut Siau Po cepat, Tentu saja isi hatinya hanya Thian yang
tahu, “Terima kasih atas budi kebaikan thayhou”
Raja merasa tidak puas melihat thay-kam kesayangannya diminta oleh ibu suri.
Setelah berbincang-bincang sedikit, dia pun mohon diri dari hadapan thayhou.
Siau Po segera menggerakkan kakinya untuk mengikuti kaisar Kong Hi.
“Siau Kui cu, kau diam di sini saja” kata thay-hou. “Biar orang lainnya yang
mengantarkan Sri Baginda, Ada urusan yang akan kuperintahkan kepadamu”
“Ya, thayhou” sahut Siau Po. Hatinya ketakutan, namun dia berusaha untuk
menenangkan diri, Sambil memperhatikan kepergian raja, otaknya bekerja. “Sri
Baginda, dengan kepergianmu ini, celakalah aku Entah aku masih bisa bertemu lagi
atau tidak dengan Sri Baginda…”
Thayhou minum teh perlahan-lahan. Sepasang matanya memperhatikan Siau Po
dengan tajam, Hati si bocah cilik semakin terguncang karenanya.
Lewat beberapa detik kemudian, ibu suri baru berkata lagi.
“Bagaimana dengan pedagang yang menjual bakso tanpa daging di Ngo Tay san?”
Siau Po berlagak pilon.
“Maksud thayhou?”
“Kapan dia akan kembali lagi ke kota Peking?” tanya ibu suri.
“Hamba tidak tahu,” sahut Siau Po.
“Kapan kau akan menemui dia lagi?” tanya ibu suri lagi,
“Hamba telah berjanji dengannya untuk bertemu kembali satu bulan kemudian,”
sahut Siau Po. Dia sengaja menjawab seenaknya, karena otaknya sedang memikirkan

jalan untuk meloloskan diri dari tangan ibu suri yang kejam sebab dia tahu dirinya tidak
mungkin dibebaskan “Tapi tempat pertemuannya bukan di Tiankio.”
“Lalu di mana kalian akan mengadakan pertemuan?” tanya ibu suri.
“Dia akan memberitahu apabila waktunya sudah dekat,” sahut Siau Po. Dengan
mengucapkan kata-kata ini, Siau Po berharap dia dapat menunda waktu kematiannya.
Thayhou menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, baiknya kau berdiam saja di Cuceng kiong sampai datang kabar
darinya” kata ibu suri, Kemudian dia menepuk tangannya dan muncullah seorang
dayang yang usianya kurang lebih empat puluh lima tahun, Tubuhnya gemuk, tetapi
langkah kakinya ringan sekali. Bentuk mukanya bundar dan manis pula, Dia tersenyum
ramah, Begitu masuk, dia segera menjura kepada ibu suri.
Thayhou menunjuk kepada Siau Po sembari berkata.
“Thay-kam cilik ini bernama Siau Kui cu. Dia bernyali besar dan suka main gila, Aku
suka sekali kepadanya”
“lya,” sahut dayang itu. Tampangnya memang cerdas sekali, Eh, saudara kecil, aku
bernama Liu Yan, sebaiknya kau memanggil kakak saja kepada-ku.”
“Celaka Kau adalah si babi gendut” makinya dalam hati, tapi dia segera tertawa dan
berkata, “Baik, kakak Liu Yan, Nama kakak bagus sekali, Disebutnya enak dan tubuh
kakak memang mirip sekali dengan batang Yang Liu, sedangkan jalanmu ringan seperti
burung walet kecil”
Yan artinya burung walet sesuai dengan nama dayang itu.
Di depan ibu suri, tidak ada dayang lain yang berani bicara sedemikian rupa
mengenai Liu Yan, Tidak demikian halnya dengan Siau Po, si thay-kam baru di Cuceng
kiong, Siau Po memang sengaja berkata demikian, sebab dia mengganggap biar bicara
seperti apa pun, tidak akan merubah nasibnya dan membebaskan dirinya dari ancaman
bahaya.
Liu Yan tertawa.
“Ah, adik kecil, mulutmu sungguh manis sekali” katanya.
“Selain mulutnya manis, kakinya juga gesit” tukas ibu suri, “Liu Yan, apakah kau
mempunyai jalan agar dia tidak keluyuran kesana kemari dan mengelilingi seluruh
keraton ini?”
“Thayhou, serahkan saja dia padaku,” sahut Liu Yan. “Biarlah hamba mendidiknya
secara baik-baik”

Ibu suri menggelengkan kepalanya.
“Kunyuk kecil ini licin sekali seperti belut,” katanya. “Aku telah menitahkan Sui Tong
memanggilnya, tetapi dengan mulutnya yang manis dia justru membuat hantu bernyali
kecil itu lari ketakutan Ketika aku mengirimkan empat orang thay-kam lagi, dia malah
bersekongkol dengan para siwi untuk membinasakan mereka. Dan waktu aku
mengirimkan empat orang yang lainnya lagi, Dia berhasil juga mencelakakan Tang Kimkwe
ber-empat”
“Oh, oh, saudara kecil” kata Liu Yan sambil mendecak kagum, “Kalau demikian, kau
ini memang sukar diurus, Thayhou, menurut hambamu ini, tidak ada jalan lain yang
dapat ditempuh agar dia tidak belari kesana kemari kecuali mengutungkan sepasang
kakinya Bukankah dengan demikian dia akan menjadi kalem dan tenang?”
Ibu suri menarik nafas panjang.
“Tampaknya memang hanya ada satu jalan itu saja” katanya.
Bukan main tercekat dan takutnya hati Siau Po, Dia langsung mencelat bangun dan
lari ke pintu, Tapi baru kaki kirinya melewati pintu, dia merasa kepalanya nyeri sekali
Rupanya kuncirnya telah ditarik oleh seseorang sehingga kepalanya tersentak dan
tubuhnya berjungkir balik ke belakang, Setelah itu dia juga merasa dadanya sakit sekali,
sebab ada sebelah kaki yang menginjak dadanya itu. Dia melihat kaki itu besar dan
gemuk serta mengenakan sepatu ber-sulam.
Ternyata Liu Yan yang bergerak cepat meringkusnya.
“Perempuan bau Lekas singkirkan kakimu yang bau itu” damprat Siau Po saking
putus asanya, Dia pun menjadi berani karenanya.
Liu Yan tidak menjawab Dia malah menekan kakinya semakin keras sehingga Siau
Po dapat mendengar suara retakan dan dia merasa nafasnya menjadi sesak.
“Ah, saudara kecil.” kata Liu Yan sambil tertawa, “Kakimu justru harum sekali
sampai-sampai aku ingin mengutungkannya untuk mengendusnya sepuas hati”
Siau Po berpikir keras, Thayhou sangat membencinya, Kemungkinan sepasang
kakinya benar benar akan dikutungkan dan dayangnya itu yan akan menggendongnya
pergi mencari Sui Tong Atau mungkin ibu suri akan mengirim orang yang
kepandaiannya tinggi sekali dengan maksud mem bunuh Sui Tong apabila tiba di Ngo
Tay san. Hal ini sekali-sekali tidak boleh terjadi. Di kolong langit ini orang bernama Sui
Tong sudah tidak ada, dia suda mati sehingga tidak mungkin bisa ditemukan lag
Dengan demikian, rahasianya pasti akan terbongkar.

“Yang paling penting sekarang adalah bagaimana menyelamatkan sepasang kakiku
ini,” pikirnya dalam hati, “Bagaimana sekarang? Aku tidak boleh menggertaknya, lebih
baik menggunakan akal saja.”
Dengan membawa pikiran demikian dia segera berkata.
“Thayhou, tidak ada gunanya mengutungkan sepasang kakiku ini, Taruh kata leherku
yang dipatahkan sekalipun, paling-paling tubuhku terpotong menjadi dua bagian, Apa
artinya? Sebaliknya, kitab Si Cap Ji cin-keng itu harus disayangkan hm”
Mendengar disebutnya nama kitab itu, Thayhou langsung melonjak bangun.
“Apa katamu?” tanyanya ingin menegaskan.
“Yang ku maksudkan adalah beberapa jilid kitab Si Cap ji cin-keng” sahut Siau Po
mengulangi “Dan aku mengatakan bahwa kitab-kitab itu harus disayangkan….”
“Lepaskan dia” ibu suri segera memberi perintah kepada Liu Yan.
Si dayang segera mengangkat kakinya dari dada Siau Po. Dengan sigap tangan
kanannya menjambret bagian belakang leher baju bocah itu kemudian
menghempaskannya keras-keras ke samping.
Siau Po terpaksa berdiam diri diperlakukan demikian, Dia tidak sanggup membela
diri. Dayang itu terlalu tangguh baginya, Dalam keadaan seperti ini, dia juga tidak berani
memakinya dengan kata-kata “Perempuan bau” ucapan yang sudah di ujung lidah,
terpaksa ditelannya kembali.
Terdengar thayhou bertanya kepadanya.
“Dari siapa kau dengar tentang kitab Si Cap Ji cin-keng?”
“Karena kau akan mengutungkan kedua kakiku, aku tidak akan mengatakan apa
pun” sahut Siau Po yang mulai menjalankan siasatnya, “Biar kita sama-sama
mengalami kerugian, Aku kehilangan sepasang kakiku dan kau tidak akan
mendapatkan kitab Si Cap Ji cin-keng itu”
“Aku peringatkan kepadamu sebaiknya kau jawab pertanyaan thayhou dengan baikbaik”
ancam Liu Yan.
Tapi Siau Po tetap keras kepala.
“Kalau aku jawab, aku akan mati, tidak kujawab, paling-paling mati juga. Karena itu,
untuk apa aku menjawab pertanyaannya? Atau, kalian ingin menyiksaku sampai
mengaku? Aku tidak takut”
Liu Yan segera menyambar tangan Siau Po. Bibirnya menyunggingkan senyuman.

“Saudara kecil,” katanya sembari tertawa, “Jari tanganmu indah sekali. Runcing dan
panjang”
“Walaupun demikian, paling-paling kau akan mematahkannya” sahut Siau Po yang
mengerti dirinya digertak, “Apa yang harus disayangkan?”
Belum lagi kata-katanya selesai, tiba-tiba terdengar suara gemerutuk yang
membuatnya kesakitan. Tanpa dapat dipertahankan lagi Siau Po menjerit.
“Aduh”
Ternyata Liu Yan benar-benar menjepit telunjuk Siau Po dan menekuknya keraskeras.
Wajah dayang itu memang manis dan suaranya juga merdu sekali, tapi hatinya
sangat keji, sedangkan jepitan tangannya tidak kalah dengan capitan besi.
Dalam keadaan demikian, Siau Po terpaksa membiarkan airmatanya mengalir jari
telunjuknya terasa remuk oleh jepitan Liu Yan.
“Thayhou, cepat bunuhlah aku” teriaknya dengan air mata tetap meleleh. “Masalah
kitab itu, jangan harap aku mengatakannya Kau akan kubunuh seperti kucing yang
mengendus bau harum ikan, tetapi tidak dapat menikmatinya. Ya… Kau hanya bisa
mencium baunya saja”
“Kalau kau bicara yang sebenarnya tentang kitab itu, aku akan mengampuni jiwamu”
kata thayhou.
“Aku tidak membutuhkan pengampunanmu,” kata Siau Po. “Mengenai kitab itu,
jangan harap aku akan bicara”
Ibu suri langsung mengernyitkan keningnya, Dia tahu bocah itu keras kepala dan
berani, Mungkin akan sia-sia apabila dia menggunakan penyiksaan sebagai jalan
keluarnya.
“Dia menyebut Si Cap Ji cin-keng, mungkin dia tahu asal-usul kitab itu,” pikir thayhou
dalam hatinya. “Cara apa yang harus kugunakan agar dia mau membuka mulut? Benarbenar
sulit”
Thayhou berdiam sekian lama, Akhirnya dia berkata dengan suara perlahan kepada
Liu Yan.
“Karena dia tetap tidak mau bicara, kau boleh cungkil kedua biji matanya”
“Baik, thayhou,” sahut Liu Yan, “Pertama-tama aku akan mencungkil dulu sebuah biji
matamu. Eh, adik kecil, bola matamu indah sekali, warnanya hitam, bundar dan jernih
pula, Setelah dicungkil keluar, aku akan menyimpannya sebagai kenang-kenangan”

Selesai berkata, jari jempol dan telunjuk kanannya segera menarik kelopak mata
Siau Po.
Tentu saja hal ini membuat Siau Po kesakitan.
“Jangan korek mataku, nanti aku akan bicara” teriaknya ketakutan.
Liu Yan menarik tangannya kembali Dia tertawa .
“Nah, ini baru sikap anak yang baik” katanya, “Sekarang kau bicaralah baik-baik,
Aku tahu ibu suri sangat menyayangimu”
Siau Po tidak menjawab. Dia hanya mengucek-ngucek matanya karena masih terasa
nyeri. Kemu-dian dia menoleh kepada si dayang, kepalanya digeleng-gelengkan,
“Celaka Celaka” teriaknya berulang-ulang.
“Apanya yang celaka?” tanya Liu Yan. “Sudahlah, jangan kau berpura-pura lagi.
Thayhou ingin mengajukan pertanyaan kepadamu, mengerti? Nah, kau jawablah secara
baik-baik”
“Kau telah melukai mataku” kata Siau Po. “Sekarang kalau aku melihat orang,
tampangnya jadi lain, wajahnya saja sekarang lain dari sebelumnya, sekarang tubuhmu
tetap seperti manusia, tetapi kepalamu besar seperti babi”
Liu Yan tidak gusar, dia malah tertawa.
“Bagus, kalau begitu akan kurusakkan juga matamu yang sebelah lagi,” katanya.
Siau Po mundur satu tindak.
“Sudahlah, jangan” katanya, “Lebih baik aku ucapkan terima kasih saja”
Dasar Siau Po bandel dan cerdas, Dalam keadaan seperti itu, dia masih berlagak
konyol Dia merapatkan mata kanannya, dengan mata kiri dia menatap ibu suri.
Kemudian dia menggoyang-goyangkan kepalanya,
Berbeda dengan Liu Yan, thayhou justru marah sekali, Diam-diam dia berpikir dalam
hati
“Setan cilik ini tadi melihat Liu Yan dengan sebelah matanya, Dia mengatakan
tampangnya sudah berubah, bentuk kepalanya seperti seekor babi yang gemuk,
sekarang dia juga melihat padaku sedemikian rupa. Mulutnya tidak mengatakan apaapa,
tapi dalam hatinya entah apa yang diejek-kannya kepadaku”
Karena itu dengan nada dingin dia berkata.

“Liu Yan, kau cungkil saja matanya, paling baik kedua-duanya, Dengan demikian dia
tidak bisa melirik kesana kemari” katanya,
“Jangan, Kalau tidak ada biji mata, Bagaimana aku bisa mencari kitab Si Cap Ji cinkeng….”
“Kau mempunyai kitab Si Cap ji cin keng?” tanya ibu suri, “Dari mana kau
mendapatkannya?”
“Sui Tong yang menyerahkannya kepadaku, Dia meminta aku menyimpannya baikbaik.
Kalau bisa di tempat yang aman dan tersembunyi Lalu dia berkata: “Adik kecil, di
dalam istana banyak orang jahat, Kau harus berhati-hati, seandainya terjadi sesuatu
pada dirimu, seandainya ada orang yang ingin mencungkil matamu, Biarkan saja.
Matamu tidak bisa melihat lagi, Kau tidak bisa menemukan tempat di mana kau
menyimpan kitab tersebut sedangkan orang yang mencelakaimu juga sama ruginya.
Matanya bisa melihat tapi dia tidak akan menemukan tempat kau menyembunyikan
kitab itu. Karena itu, perbuatannya yang ingin mencelakai orang lain sama saja
mencelakakan diri sendiri”
Thayhou tidak percaya Sui Tong akan berkata demikian, tetapi memang dia pernah
menitahkan orang itu membinasakan seorang keluarganya untuk merampas kitab Si
Cap Ji cin-keng. Hanya saja ketika itu, Sui Tong melaporkan bahwa dia tidak berhasil
menemukan kitab itu, Siapa sangka ternyata Sui Tong mengangkangi kitab itu
Mendengar kata-kata Siau Po, hati ibu suri mendongkol sekaligus gembira. Dia
mendongkol sekali karena Sui Tong berani main gila. Dan dia merasa gembira karena
ternyata kitab itu benar ada dan sekarang dia akan tahu di mana letaknya.
“Kalau demikian,” kata thayhou. “Liu Yan, pergi kau ajak hantu cilik ini mengambil
kitab itu untukku seandainya kitab itu asli, kita ampuni saja selembar nyawanya dan dia
boleh dikembalikan kepada Sri Baginda, untuk selama-lamanya dia dilarang masuk ke
dalam keraton Cuceng kiong lagi. Dengan demikian aku tidak perlu lagi melihat
wajahnya yang menyebalkan itu”
“Liu Yan segera menarik tangan kanan Siau Po. Dia tertawa manis.
“Adik, mari kita pergi” ajaknya.
Siau Po mengibaskan tangannya.
“Aku kan laki-laki dan kau wanita” bentaknya, “Tapi kau justru memegang-megang
tangan orang, apa-apaan?”
“Laki-laki macam apa kau ini?” tanya Liu Yan sambil tertawa pula, “Umpama kata kau
seorang laki-laki sejati sekalipun, untuk menjadi anakku saja, kau masih terlalu muda”
Siau Po segera mengejeknya.

“Benar? Kau benar-benar ingin menjadi ibuku? Aku memang merasa kau sama dan
persis seperti ibuku dalam segala hal”
“Fui” kata dayang itu dengan nada menghina. “Kau tahu, nonamu ini seorang
perawan, jangan kau mengoceh sembarangan”
Meskipun dcmikian, Liu Yan tidak tahu makna ucapan Siau Po. Sccara tidak
langsung Siau Po memakinya sebagai perempuan hina, karena ibunya bekerja sebagai
pelacur di Li Cun wan.
Selesai berkata, Liu Yan segera menarik tangan bocah itu untuk diajak pergi.
Tiba di lorong yang panjang, rasanya hati Siau Po semakin tidak karuan, Dia bingung
sekali karena belum mendapatkan akal untuk meloloskan diri dari dayang yang lihay ini,
Dia ingat pisau belatinya disembunyikan dalam kaos kaki, Kalau dia menggunakan
tangan kirinya untuk mengambil, mungkin bisa ketahuan. Lagipula dia merasa bimbang
menggunakan senjata tajam itu. Mana sanggup dia melawan dayang itu? Mungkin
dalam tiga jurus saja, dia akan kena dirobohkan,
“Aih, celaka” pikirnya dalam hati, “Dari mana sih munculnya si gendut ini? Tiba-tiba
saja dia muncul Rupanya ketika si nenek sihir melawan Hay kongkong baru-baru ini, si
gendut ini tidak ada di tempat, Kalau tidak, tentu si kura-kura tua itu akan mudah
dirobohkan oleh mereka berdua, Mungkin dia baru muncul dalam satu dua hari ini.Coba
kalau sejak saat beberapa hari yang lalu dia ditugaskan ibu suri untuk membunuhnya,
pasti saat ini jiwanya sudah melayang.”
Tepat di saat dia berpikir sampai di sini, tiba-tiba saja dia mendapatkan akal yang
bagus. Tanpa menunda waktu lagi dia segera mengajak Liu Yan menuju ke timur
mereka melewati samping kamar tulis dari keraton Kian-ceng kiong. Dia berpikir, satusatunya
jalan untuk menyelamatkan diri adalah memohon pertolongan Sri Baginda, Dia
mempunyai dugaan bahwa si gendut ini mungkin belum kenal dengan seluk-beluk
istana karena dia baru datang tidak berapa lama.
Baru saja Siau Po menindakkan sebelah kaki-nya. Tiba-tiba dia merasa bagian
belakang lehernya kena dicekal, kemudian terdengarlah suara tertawanya Liu Yan.
“Eh, adik manis kau mau pergi kemana?”
“Ke kamarku untuk mengambil kitab,” sahut Siau Po. otaknya yang cerdik dapat
mencari jawaban dengan cepat
“Lalu kenapa kau malah mengambil arah kamar tulisnya raja?” tanya si dayang yang
lihay, “Atau, mungkin kau ingin meminta pertolongannya raja?”
Saat itu juga, habislah kesabaran Siau Po.
“Oh, babi kau” makinya, “Rupanya kau kenal baik seluk-beluk istana ini?”

Liu Yan tidak marah, sebaliknya dia malah tertawa.
“Bagian lainnya aku tidak kenal, Tapi Kian-ceng kiong, Cu-leng kiong dan kamarmu
ini tidak mungkin salah kukenali” Dan dia menarik tangan si bocah agar membalik dan
melanjutkan kata-katanya: “Lebih baik kau ikut aku dengan baik-baik. jangan macammacam”
Suara si dayang terdengar manis dan merdu, tetapi cekalannya bukan main
kerasnya, Apalagi ketika leher Siau Po yang dicekal, dia merasa batang lehernya
seperti patah,
Dua orang thay-kam dari istana ada di dekat sana. Mereka mendengar suara jeritan
Siau Po. Mereka langsung berpaling dan mengawasi.
Melihat keadaan itu, Liu Yan segera berkata dengan suara perlahan.
“Thayhou telah berpesan kepadaku, seandainya kau berniat kabur atau berkaokkaok
sembarangan, aku harus segera membunuhmu”
Siau Po diam. Dia sadar bahwa sia-sia saja dia berteriak-teriak memanggil raja.
Menghadapi ibu suri, raja tidak perdaya, Tidak mungkin dia menyuruh para siwi
membunuhnya tanpa alasan yang kuat.
Tepat di saat dia sedang berpikir tiba-tiba dia merasa pinggangnya nyeri sekali,
Rupanya Liu Yan telah menyikutnya dengan keras kemudian terdengar dia berkata lagi
dengan suara perlahan.
“Apakah kau sedang memikirkan akal bulus lainnya?”
Saat itu, Siau Po benar-benar tidak mempunyai akal lain, Terpaksa ia melangkahkan
kaki ke kamarnya sendiri, tapi dia berpikir kembali:
“Di dalam kamarku, aku mempunyai dua orang kawan, tapi sayangnya Pui Ie sedang
terluka, De-mikian juga Siau kuncu. Kami bertiga mungkin tidak sanggup melawan si
babi gendut ini. Sebaliknya, kalau dia sampai memergoki kedua gadis itu, artinya aku
mengundang bencana besar.”
Sekejap saja mereka sudah sampai di depan pintu kamar Siau Po mengeluarkan
anak kuncinya, Sengaja dia membenturkan anak kunci itu agar bunyinya nyaring, Dia
sengaja berkata dengan suara keras.
“Perempuan bau Kau begini menyiksa aku, Awas kau Nanti pada suatu hari aku
akan membuatmu mati penasaran”
Liu Yan tertawa dan menjawab,

“Untuk menjaga dirimu sendiri agar mati baik-baik saja kau masih tidak mampu,
Bagaimana kau masih sanggup mengurus kematian orang lain?”
Siau Po tidak menjawab, Dia membuka pintu kamarnya keras-keras.
Dia berkata lagi dengan suara lantang, “Kitab itu, aku berikan kepada thayhou atau
tidak, sebetulnya sama saja. Kau pasti akan membunuhku juga, Kau sangka aku begitu
dungu dan tetap mengharapkan kehidupan?”
Sekali lagi Liu Yan tertawa.
“Thayhou sudah menjanjikan akan memberikan pengampunan terhadapmu
Kemungkinan dia akan menepati janjinya itu, Paling-paling sepasang biji matamu akan
dicungkil atau sepasang kakimu yang dikutungkan”
“Hm” Siau Po memperlihatkan sikap yang berani sekali, “Apakah kau kira thayhou
akan memperlakukan kau secara baik dengan terus menerus? Kau tahu, setelah
membunuh aku, thayhou juga akan membinasakan dirimu untuk membungkam
mulutmu”
Liu Yan tertegun, Kata-kata itu tepat menusuk hati kecilnya, Tapi hanya sebentar
saja, tiba-tiba dia mendorong tubuh Siau Po dengan keras sehingga membentur daun
pintu.
Selama pembicaraan di antara mereka berlangsung, Pui le dan Kiam Peng dapat
mendengar dengan jelas, Karena itu mereka segera menduga bahwa orang yang
datang dengan si bocah cilik itu pasti orang jahat. Keduanya segera menyembunyikan
diri di bawah selimut Mereka bahkan menahan nafas dan tidak berani bersuara.
Terdengar kembali suara tawa Liu Yan.
“Lihat hari sudah siang sekali dan aku tidak mempunyai waktu untuk menunggumu
lama-lama, Cepat kau keluarkan kitab itu” katanya sambil mendorong tubuh Siau Po
sehingga bocah itu menjadi terhuyung-huyung.
Justru pada saat itulah, Siau Po melihat sepasang sepatu sulam di kolong tempat
tidurnya, Dalam hati dia sampai menjerit celaka, Sepatu itu bisa membahayakan
jiwanya, Untung saja saat itu sudah agak siang dan lilin di dalam kamar tidak
dinyalakan, Liu Yan juga tidak melihatnya. Karena itu dia sengaja menjatuhkan diri,
seperti orang yang terpeleset, Sepatu itu didorongnya ke dalam lorong tempat tidur,
sekaligus dia sendiri juga menyelinap ke dalamnya.
“Akan kubunuh si babi hutan yang gemuk ini, seperti aku membunuh Sui Tong,”
pikirnya, justru di saat dia menekuk kakinya sedikit untuk mencabut pisau belati, tapi
saat itu juga dia merasa kakinya ditarik oleh seseorang kemudian telinganya
mendengar suara Liu Yan yang membentaknya.

“Hei, apa yang kau lakukan?”
“Aku mau mengambil kitab itu,” sahut Siau Po yang cerdik. “Kitab itu aku simpan di
kolong tempat tidur ini”
“Baiklah,” kata Liu Yan yang langsung melepaskan cekalannya, ia pikir bocah itu toh
ada di dalam kamar sehingga tidak mungkin meloloskan diri darinya.
Senang sekali hati Siau Po. Dia segera menarik kaki kanannya kemudian mencabut
pisau belati itu, Dia menggenggam pisau itu dengan tangan kirinya,
“Mana kitabnya?” tanya Liu Yan. “Ke sinikan”
“Ah, celaka” teriak Siau Po dari dalam kolong, “Rupanya ada si buntut panjang yang
menggigit buku ini sampai robek tidak karuan”
“Jangan main gila di hadapanku” bentak Liu Yan. “Percuma Lebih baik kau
serahkan kitab itu” karena mendongkol dia segera mengulurkan tangannya ke kolong
tempat tidur Dia ingin menyambar kitab itu, tapi ia hanya mengenai tempat yang
kosong.
Siau Po sudah menyusup lebih dalam lagi. Dia merapatkan tubuhnya di dinding
kamar
Liu Yan merasa penasaran Dia menjulurkan tangannya lebih dalam lagi Dengan
demikian dia harus berjongkok terlebih dahulu, Tangannya sudah menyusup cukup
jauh.
Siau Po menggeser tubuhnya sehingga Liu Yan tidak bisa mencapainya, Dua kali dia
lolos dari sambaran orang, tetapi yang terakhir dia bukan hanya menghindar tetapi
sekalian menikam tangan orang itu.
Liu Yan lihay sekali, Begitu gagal menyambar dia langsung menarik pulang
tangannya sehingga dia tidak sampai tertikam, Dan rupanya gerakan dayang itu hanya
siasat saja, hampir dalam waktu yang bersamaan dia mengulurkan tangannya untuk
mencekal tangan Siau Po.
Siau Po terkejut setengah mati, pisau belati nya langsung terlepas, Liu Yan tertawa.
“Kau ingin membunuhku bukan?” tanya nya. “Sekarang aku akan mencungkil
sebelah matamu terlebih dahulu”
Dengan gesit Liu Yan mencekik kerongkongan lalu tangan kirinya menjulur ke mata
bocah itu.
“Ada ular berbisa” teriak Siau Po tiba-tiba lalu dia menjerit

Liu Yan tercekat hatinya,
“Ada apa?” tanyanya gugup, “0h…” terdengar dia mengeluarkan seruan tertahan
Cekikannya pada tenggorokan Siau Po mengendur, kemudian tubuhnya terkulai lalu
menggelepar-gelepar seperti orang kena sakit ayan dan akhirnya tidak berkutik lagi.
Siau Po terkejut juga senang, Dia segera merayap keluar dari kolong tempat tidur.
“Apakah kau tidak terluka?” tanya Siau kuncu.
Siau Po berdiri sebelum menjawab pertanyaan itu, dia menyingkap kelambu tempat
tidurnya, Dia melihat Pui Ie sedang duduk di atas tempat tidur, kedua tangannya
menggenggam gagang pedang erat-erat, nafasnya tersengal-sengal. Tubuh pedangnya
sendiri amblas dari atas tempat tidur sampai ke kolong.
Rupanya nona Pui inilah yang telah menikam Liu Yan karena dia sadar si thay-kam
cilik sedang terancam bahaya, Dan hunjaman pedangnya tepat mengenai punggung
wanita itu serta amblas sampai depan dadanya.
Siau Po segera mendupak pinggul Liu Yan yang bulat, Setelah itu ia baru berkata.
“Bagus Bagus Kakak yang baik, kau telah menolong selembar nyawaku” katanya,
Siau Po segera mencabut pedang Pui Ie lalu digunakannya untuk menikam Liu Yan
sebanyak dua kali, Dia khawatir perempuan itu masih belum mati.”
“Siapa wanita jahat ini?” tanya Siau kuncu “Mengapa dia begitu keji? Tadi aku
dengar di hendak mencungkil biji matamu”
“Dia merupakan salah satu bawahan si nenek sihir yang paling lihay,” sahut Siau Po.
Kemudian dia menoleh kepada Pui Ie dan bertanya kepadanya dengan penuh perhatian
“Apakah lukamu masih terasa sakit?”
Pui Ie mengernyitkan keningnya, sekarang sudah jauh berkurang,” sahutnya Nona ini
berbohong, Barusan dia menggunakan segenap tenaganya untuk menikam, Hal ini
justru membuatnya kesakitan dan hampir saja dia jatu pingsan, itulah sebabnya nafas
gadis itu masih tersengal-sengal.
“Sebentar lagi si nenek sihir pasti akan mengirim orangnya lagi untuk menyusul Liu
Yan,” kata Siau Po kemudian, “Sekarang juga kita harus memikirkan jalan untuk
meloloskan diri, Oh, ya… aku ingat sekarang, sebaiknya kalian berdua menyaru sebagai
thay-kam saja, Lalu bersama-sama kita menyelinap keluar dari sini, Kakak Pui, apakah
ka sanggup berjalan?”
“Kalau dipaksakan sih bisa saja,” sahut Pui Ie.
“Baiklah kalau begitu,” kata Siau Po. “Sekarang, cepatlah kalian berdandan”

Dia segera mengeluarkan dua perangkat pakaiannya, yakni seragam para thay-kam,
yang langsung diberikannya kepada kedua gadis itu. Dia sendiri segera bekerja, Mulamula
dia menarik keluar mayat Liu Yan, Lalu dengan bubuknya yang istimewa dia
hancurkan seluruh tubuh wanita yang sudah mati itu sampai lumer menjadi cairan
kuning.
Dia juga tidak lupa mengambil seluruh uang miliknya serta kitab rahasia serta tiga
jilid kitab Si Cap Ji cin-keng, Tentu saja dia juga ingat membawa semua emas
permatanya.
Tiba-tiba dia teringat baju dalamnya yang menurut pesan gurunya harus dikenakan
terus. Dia segera mengambil pakaian itu, tapi untuk diserahkan nya kepada Pui Ie.
“Kakak yang baik, kau pakailah baju dalam ini. Baju ini baju mustika yang tidak bisa
ditembus oleh senjata tajam”
“Lebih baik kau sendiri saja yang memakainya” sahut Pui Ie.
“Kau lebih memerlukannya daripada aku” kata Siau Po. “Kau sedang terluka, kalau
kita kepergok para siwi dan diserang, belum tentu kau sanggup melawannya, Dengan
memakai baju ini, kau tidak perlu khawatir akan terluka, Ayo, lekas kau pakai”
“Lebih baik Siau kuncu saja yang memakainya.,.” sahut Pui Ie.
“Kau saja” kata Kiam Peng menolak, “Kau sedang terluka dan lukamu itu cukup
parah”
“lbu suri hendak mencelakakan kau,” kata Pui le kepada Siau Po. “Lebih baik kau
saja yang memakainya” Dia langsung menyingkapkan kelambu dan masuk ke dalam
tempat tidur.
Siau Po tetap memaksanya.
“Kalau kau tidak mau mengenakannya, baik Aku yang membantumu memakainya”
katanya, Dia langsung menyingkap kelambu tempat tidur itu dan ikut masuk ke
dalamnya.
“Keluar Keluar” teriak Kiam Peng, “Kami belum selesai berpakaian”
“Dia tidak mau memakai baju ini, aku yang memakaikannya” kata Siau Po.
Pui le menarik nafas panjang.
“Baiklah” sahutnya kemudian “Berikan baju itu padaku”

Bagian 26
Dia pun mengulurkan tangannya menyambut baju yang disodorkan oleh Siau Po.
sementara kedua gadis itu masih mengganti pakaian, Siau Po menggunakan
kesempatan itu untuk memeriksa barang-barang peninggalan Hay kongkong, terutama
untuk mengambil beberapa macam obat.
Kiam Peng yang selesai terlebih dahulu, Ketika dia turun dari tempat tidurnya, Siau
Po langsung memuji.
“Benar-benar seorang thay-kam yang tampan Mari aku bantu kau jalin rambutmu”
Sejenak kemudian, Pui Ie juga keluar dari balik ke1ambu. pinggangnya kecil dan
tubuhnya lebih tinggi sedikit dari Siau Po sehingga tampaknya singset sekali, Ketika dia
bercermin, dia menjadi tertawa sendiri.
Kiam Peng pun tertawa.
“Biar dia yang menjalin rambutku” katanya, “Nanti aku bantu kau menjalin
rambutmu”
Siau Po tidak memperdulikannya, Dia segera mengurai rambut panjang Kiam Peng
lalu menjalinnya kembali Dia membuat kuncir secara sembarangan.
“Ah, jelek betul” serunya, “Nanti

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s