“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 33

langsung tertegun Tangan
mereka masing-masing menggenggam secarik kecil dari pakaian tamu tak diundang itu
Menyaksikan kejadian itu, para hadirin yang lain segera bersorak memuji, bahkan Liu
Tay-hong pun tidak mau ketinggalan Gouw Lip-sin berdiri dengan perasaan jengah
sekaligus kagum.
Kin Lam tertawa dan berkata.
“Tuan, kalau kau menganggap dirimu seorang sahabat, mengapa kau tidak duduk
dan minum teh bersama?”

Pemuda itu merangkapkan sepasang tangannya dan menjura dalam-dalam.
“Kebetulan aku memang ingin sekali minum teh” katanya sambil berjalan
menghampiri Dia memberi hormat sekali lagi kepada para hadirin, kemudian duduk di
kursi paling bawah.
Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu ma sih memperhatikannya lekat-lekat
Apabila merek tidak menyaksikan kepandaian pemuda itu denga mata kepala sendiri,
sudah pasti mereka akan menduganya sebagai seorang pelajar yang lemah,
Kin Lam tertawa.
“Harap Tuan jangan terlalu merendah,” katanya. “Jangan bersikap sungkan, silahkan
duduk di kursi utama”
Sastrawan itu mengibaskan tangannya.
“Cayhe (aku yang rendah) tidak berani,” sahutnya, “Dapat duduk bersama para
orang-orang gagah dari dunia kangouw saja, sudah merupakan sebuah kebanggaan
bagiku, Untuk apa aku dudu di atas? Tan Cong tocu, barusan Cong tocu menanyakan
nama dan sheku dan aku belum menjawab nya, maafkan kelakuanku yang kurang
sopan. ak yang rendah she Lie sedangkan namaku Si Hoa.”
Baik Tan Kin-lam ataupun Liu Tay-hong belum pernah mendengar nama itu. Apalagi
hadirin yan usianya lebih muda. Karena itu, mereka menyangka jangan-jangan yang
dikatakannya nama palsu.
“Maaf, aku merasa malu, Pendengaranku berkurang sekali sehingga aku belum
pernah mendengar she dan nama tuan yang mulia”
Anak muda itu tertawa.
“Orang bilang, ketua pusat Tian-te hwe pandai bergaul dan memperlakukan siapa
pun dengan baik, ternyata berita itu bukan cerita bohong, Misalnya setelah mendengar
namaku barusan, Cong tocu memberikan pujian setinggi langit, pasti aku akan
memandang rendah dirimu meskipun aku tidak akan mengatakannya secara terus
terang, Aku adalah orang yang baru menginjakkan kaki keluar gubuk, aku sendiri tidak
menghargai diri ini, bagaimana aku dapat mengharapkannya dari orang lain?” Selesai
berkata, dia pun tertawa terbahak-bahak.
Kin Lam tersenyum.
“Saudara Lie, pertemuan ini membuat hatiku senang sekali,” katanya, “Kau tahu,
pertemuan ini juga bisa membuat namamu terangkat ke atas, karena itu, nanti kau bisa
buktikan sendiri, setiap bertemu dengan orang, mereka akan menyatakan
kekagumannya”

Memang benar apa yang dikatakan Tan Kin-lam. Sebab sudah pasti orang-orang dari
Bhok onghu dan anggota Tian-te hwe akan memujinya, Orang yang tergolong jago
kelas satu sebanyak empat orang saja tidak dapat menandinginya, jangan kata
meringkusnya. sedangkan Tan Kin-lam hanya sanggup mencekal kakinya.
Si Hoa mengibaskan tangannya.
“Tidak, tidak mungkin,” sahutnya, “llmu yang kugunakan tadi hanya tipuan belaka,
bahkan mengandung sedikit gerak sembarangan Barusan Liu loyacu mencekal bahuku
dengan menggunakan jurus “Dalam mega memperlihatkan kuku”, hampir saja lenganku
patah. sedangkan sahabat yang be rewokan itu telah merangkul pinggangku denga
hebat sekali, Bukankah dia memainkan jurus tipuan “menerkam kelinci”? dia membuat
aku tidak bisa tertawa maupun menangis, Dan kakek yang ber kumis dan berjanggut
putih ini meraba tulang igaku dengan ilmu “Kera putih memetik buah To”, tulang igaku
hampir seperti buah itu. cekalannya demiki an keras seakan tidak akan dilepaskan lagi.
Da terakhir, sahabat yang satunya… aih Bukankan jurus yang digunakannya dipetik
dari ilmu “Seta Ciiik Seng Hong?”
Hong Ci-tiong adalah orang yang terakhir yang dimaksudkannya, Dia segera
menganggukkan kepalanya. Dia tidak membantah, meskipun sebenarnya ilmu yang
digunakannya bernama “Setan cilik menarik malaikat kota”
“Saudara Lie, ilmu silatmu hebat sekali” puj Liu Tay-hong- Hal ini karena orang itu
dapat meloloskan diri walaupun diserang sedemikian rupa “Matamu juga sangat tajam”
“Liu loyacu berlebihan memujiku” kata Si Ho sembari menggoyangkan tangannya
berkali-kali “Serangan yang dilancarkan loyacu berempat tadi sebenarnya bisa
mencabut nyawa orang, tetapi kalian tidak bersungguh-sungguh sehingga aku yang
rendah tidak terluka sama sekali, Terima kasih atas rasa kasihan cianpwe berempat”
Hong Ci-tiong senang mendengar kata-kata orang itu, Memang serangan yang
dilancarkan mereka berempat tadi lihay sekali, namun keterangan orang she Lie itu juga
tidak salah, Mereka tidak melakukan penyerangan secara serius.
“Saudara Lie,” kata Tan Kin-Iam kemudian “Dapatkah saudara mengatakan tujuan
kunjungan saudara yang sebenarnya, bagi kami hal ini benar-benar merupakan suatu
kehormatan besar?”
“Dalam hal ini, sebelumnya aku mohon pengampunan.” sahut Lie Si-hoa, “Sudah
lama aku yang rendah mengagumi Tan Cong tocu, karena itu, ketika aku mendapat
berita tentang kedatangan Tan Cong tocu ini, aku ingin mewujudkan keinginanku untuk
bertemu, sayangnya aku tidak mempunyai teman yang dapat dijadikan perantara, itulah
sebabnya aku yang rendah berbuat lancang dengan menjadi tamu yang tak diundang,
Bahkan untuk beberapa saat aku sempat bersembunyi di atas wuwungan mencuri
dengar pembicaraan Cong tocu sekalian, Aku juga benci sekali terhadap Go Sam-kui,
menyesal sekali aku tidak mendapat kesempatan untuk mencincang tubuhnya sampai

hancur Cong tocu sekalian, sekali lagi harap kalian maafkan kelancanganku ini” Lie Sihoa
bangun dan menjura ke sekelilingnya.
Para hadirin juga segera berdiri dan membalas penghormatan itu.
“Tuan,” kata Bhok Kiam-seng, “Karena tuan juga sangat membenci Go Sam-kui,
berarti kita bertujuan sama. Kita adalah orang-orang sego1ong-an. Sudah selayaknya
apabaila kita bekerja sama dalam hal ini, Entah tuan mempunyai niat seperti ini atau
tidak?”
“Tentu saja ada” sahut Si Hoa cepat “Tadi ketika Tan Cong tocu sedang membuat
perjanjian dengan Siau ongya, aku telah mengganggu. Dan aku merasa menyesal
sekali, Bagaimana kalau perjanjian yang tertunda itu dilanjutkan kembali, setelah itu kita
rundingkan kembali perjanjian denganku?”
Liu Tay-hong memperhatikan orang itu lekat-lekat.
“Apakah tuan bermaksud mengatakan, apabila tuan yang berhasil membunuh Go
Sam-kui, maka kami orang-orang dari Bhok onghu dan Tian-te hwe harus menurut
perintahmu?” tanyanya,
“Bukan Aku tidak sanggup menerima hal itu,” sahut Si Hoa. “Aku masih muda, sudah
cukup bagiku apabila dapat mengikuti kalian seterusnya.”
Tay Hong menganggukkan kepalanya, tapi dia masih ingin mendapatkan kepastian.
“Baiklah,” katanya, sekarang aku mohon penjelasan dalam pandangan tuan, di
antara dua maha-raja Liong Bu dan Eng Liok, manakah yang merupakan turunan
langsung dari dinasti Beng?”
Liu Tay-hong ikut bersama kaisar Liong Bu dan Bhok Tian-po berperang ke barat
daya, dari propinsi Inlam memasuki wilayah Birma, setelah menderita dan sengsara
sekian lama, akhirnya kaisar Liong Bu terbunuh juga di tangan Go Sam-kui. itulah
sebabnya dia bersumpah, biar bagaimana pun juga, dia akan mengangkat keturunan
junjungannya menjadi kaisar. Tan Kin-lam insyaf akan masalah yang pelik ini. Dia ingin
menghindarkan perselisihan yang terjadi, Tetapi jago tua she Liu itu tetap kukuh pada
cita-citanya sehingga mengajukan pertanyaan itu kepada Lie Si-hoa.
Mendengar pertanyaan orang tua itu, Lie Si-hoa segera berkata,
“Aku yang rendah mungkin mengucapkan kata yang tidak enak didengar, tapi,
meskipun demikian, aku minta tuan-tuan untuk memakluminya”
Tay Hong tetap tidak sabaran, wajahnya langsung menjadi merah,
“Apakah tuan ini bekas bawahannya Lau Ong?” tanyanya,

Setelah wafat nya kaisar Cong Ceng dari dinasti Beng, di berbagai tempat bangkit
pangeran-pangeran yang ingin mengangkat diri masing-masing menjadi raja, Mereka
adalah Lau ong, Kui ong, dan Tong ong.
Begitu kata-katanya terucapkan, Liu Tay-hong segera menyadari kekeliruannya, Lie
Si-hoa masih terlalu muda, Tidak mungkin dia itu bekas bawahannya Lau ong. Karena
itu, sebelum si anak muda menjawab, dia segera membetulkan pertanyaannya tadi.
“Apakah leluhur tuan pernah menjadi bawahannya Lau ong?”
Lie Si-hoa tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya berkata.
“Lebih baik kita tunggu sampai bangsa Tatcu berhasil diusir dari negeri kita ini. Pada
saat itu, baik anak cucu Cong Ceng, Tong ong, Kui ong, semuanya berhak menjadi raja,
Pada hakekatnya, setiap orang bangsa Han, siapa yang tidak boleh menjadi raja?
Umpamanya Bhok Siau ongya dan Liu loyacu dan The ongya dari Taiwan, serta Tan
Cong tocu sendiri, mereka juga boleh menjadi raja, ingatkah kalian ketika dahulu leluhur
kerajaan Beng mengusir bangsa Mongolia, bukankah beliau juga tidak memilih
keturunan kerajaan Song atau keluarga Tio untuk diangkat menjadi kaisar? Bukankah
Sri Baginda Beng thaycou Cu Goan-ciang mengangkat dirinya sendiri menjadi raja?
Dan rata-rata rakyat menyambutnya dengan gembira”
Ucapan seperti ini belum pernah didengar oleh para hadirin. Semua orang menjadi
heran serta terkejut. Meskipun demikian, tidak ada orang yang berani membuka mulut
menentangnya, karena kata-kata itu mempunyai dasar yang kuat. Hanya Liu Tay-hong
seorang yang masih kukuh dengan pendiriannya, Dia menggebrak meja dan berkata
dengan keras.
“Ucapan mu barusan merupakan rangkaian kata-kata yang bernada memberontak
bahkan durhaka, Bukankah kita semua rakyatnya kerajaan Beng yang maha besar?
Bukankah kita merupakan anak cucunya menteri-menteri dinasti itu? Bukankah sudah
merupakan kewajiban bagi kita untuk membangun kembali kerajaan Beng? Mengapa
sekarang kita harus memikirkan hal yang justru bertentangan?”
Si Hoa tidak menjadi gusar meskipun dibentak oleh Liu Tay-hong, Malah bibirnya
menyunggingkan senyuman.
“Liu loyacu,” katanya dengan nada sabar “Ada satu hal yang boanpwe tidak mengerti
dan mohon penjelasan itulah soal yang sedang kita perbincangkan sekarang. Pada
akhir kerajaan Song, bangsa Mongolia terus menerus menyerang negara bangsa Han
kita, setelah banyak waktu barulah kaisar Hong Bu dari dinasti Beng kita bangkit di
Hongyang dan mengusir bangsa asing itu. Setelah berhasil, seperti yang cayhe katakan
tadi, mengapa Beng thaycou tidak mengangkat keturunan keluarga Tio dari kerajaan
Song untuk menjadi raja, tapi malah mengangkat dirinya sendiri? Mengapa dia tidak
tetap menggunakan nama kerajaan Song, tetapi menggunakan nama kerajaan Beng?”

“Hm” seru Liu Tay-hong. “Ketika itu keturunan keluarga Tio sudah habis, karenanya
Beng thaycou yang telah bersusah payah lalu mengangkat dirinya sendiri. Kalau tidak,
kepada siapa dia harus menyerahkan tampuk kerajaan? Tatkala itu, tidak ada satu pun
keturunan keluarga Tio yang berjasa mengusir bangsa Mongolia, Taruh kata Beng
thaycou sendiri bersedia mengalah dan mundur teratur, belum tentu rakyat dan tentara
yang iku berjuang mau mengerti”
“Nah, ini merupakan suatu persoalan pula, kata Lie Si-hoa yang tetap tenang, “Kelak
di kemudian hari, masih belum diketahui apakah keturunan keluarga Cu yang berjasa
atau tidak, Seandainya dia berjasa, sudah tentu rakyat akan mendukungnya. Dapat
dipastikan tidak ada orang yang berani merebut kedudukan itu. Tapi kalau dia tidak
berjasa sama sekali, meskipun dia berhasil naik tahta, belum tentu kedudukannya itu
bisa kuat apalagi abadi, Liu loyacu, urusan merobohkan kerajaan Ceng adalah hal yang
pelik sekali. Mungki hal itu dapat dilakukan kapan waktu saja denga cepat, namun
mungkin juga harus memakan wakt yang cukup Iama. Yang paling penting bagi kita
sekarang ini adalah menumpas Go Sam-kui. Masalah pengangkatan raja dapat
dirundingkan kembali secara perlahan-lahan”
Tay Hong langsung membungkam mendengar alasan pemuda itu.
“Mengapa harus perlahan-Iahan?” katanya kemudian. “Aku justru menganggapnya
sebagai hal yang paling penting dan merasa menyesal tidak dapat dilakukan sekarang
juga”
“Membinasakan Go Sam-kui adalah urusan yang harus diselesaikan secepatnya kata
Si Ho kembali “Sekarang saja usianya sudah cukup tua, Kalau tidak selekasnya
dibunuh, tentu dia akan mati dengan tenang disebabkan usia tua. Bukankah hal itu akan
menjadi penyesalan bagi kita semua? Masalah mengangkat raja yang baru harus kita
tunda dulu, setidaknya sampai bangsa Tatcu terusir dari negara kita yang tercinta ini.
Dan masalah ini juga akan membawa kesulitan bagi kita semua “
Kin Lam kagum sekali terhadap anak muda itu. Bicaranya jelas dan alasannya kuat.
“Saudara Lie benar sekali,” katanya ikut memberikan pendapat “Sekarang aku
mohon tanya, jalan bagaimanakah yang harus kita tempuh untuk membinasakan Go
Sam-kui?”
“Maaf, Tan Cong tocu,” sahut Lie Si-hoa “Aku yang rendah justru ingin mendengar
pendapat dari para orang-orang gagah yang berkumpul di sini”
“Bagaimana dengan Tan Cong tocu sendiri?” tanya Bhok Kiam-seng. “Apakah Tan
Cong tocu sudah mempunyai akal yang baik?”
“Pengkhianat Go Sam-kui itu terlalu jahat dan banyak antek-anteknya, terlalu enak
kalau hanya dia seorang yang dihukum mati,” kata Tan Kin-lam. “Dan kematiannya
sendiri tidak cukup untuk menebus dosa-dosanya terhadap rakyat bangsa Han.
seharusnya namanya dirusak dan seluruh keluarganya, baik tua maupun yang muda,

jangan ada satu pun yang dibiarkan lolos Begitu pula seluruh antek-anteknya Dengan
cara demikian, baru puas hati seluruh rakyat bangsa Han”
“Bagus Bagus” seru Liu Tay-hong sambil menepuk meja, “Apa yang Tan Cong tocu
katakan memang tepat sekali Benar-benar meresap dalam hati yang tua ini. Nah,
Iaote….” dia menambahkan sambil menyambar tangan Kin Lam. “Apa akalmu untuk
membinasakan seluruh keluarga Peng Si-ong beserta antek-anteknya? Lekas katakan”
Tan Kin-Iam tersenyum.
“Sebaiknya kita pikirkan caranya bersama-sama” katanya, “Kalau hanya aku
seorang diri, mana mungkin menemukan akal yang sempurna?”
“Ah” seru Tay Hong tertahan Dia melepaskan cekalan tangannya, Tampaknya dia
agak kecewa mendengar jawaban Tan Kin-Iam.
Kin Lam mengulurkan tangannya ke arah Bhok Kiam-seng.
“Siau ongya, kita masih harus bertepuk tangan dua kali lagi” katanya mengingatkan.
“Benar” sahut pangeran dari Inlam itu. Dia juga mengulurkan tangannya dan mereka
pun melanjutkan dua kali tepukan tangan yang tertunda tadi.
Si Hoa bangkit dengan sikap menghormat Tan Cong tocu ingin membasmi Go Samkui,
aku si orang she Lie bersedia menerima segala titahmu, Tan Cong tocu,
seandainya aku yang rendah beruntung bisa membunuh pengkhianat itu, tidak ada hal
lain yang kuharapkan kecuali dapat mengangkat saudara denganmu dan diijinkan
saling memanggil dengan kakak dan adik”
Kin Lam tertawa.
“Lie hiante kau terlalu memandang tinggi kepadaku” katanya yang langsung
memanggil “hiante” atau tidak, “Baiklah Ucapan seorang laki-laki sejati sekali
dikeluarkan, empat ekor kuda pun sukar mengejarnya”
Siau Po menyaksikan gerak-gerik kedua orang itu, hatinya tertarik sekali
semangatnya seperti terbangun Dia menyesalkan dirinya yang masih terlalu kecil, Coba
kalau usianya sedikit lebih tua dan ilmu silatnya setinggi Lie Si-hoa, tentu dia akan
membawa sikap yang sama gagahnya.
Sementara itu, Kin Lam menitahkan agar barang hidangan lekas disajikan Dia ingin
menjamu para tamunya, Ketika pesta sedang berlangsung, Lie Si-hoa selalu berbicara
dengan nada gembira, Ternyata pengetahuannya luas sekali Tetapi sejauh itu, dia
masih tidak menjelaskan asal-usulnya.
Di situ juga Hoan Kong dan Hian Ceng memperkenalkan orang-orang lainnya, Ketika
berhadapan dengan Siau Po yang dikatakan merupakan salah seorang hiocu dari TianTiraikasih
website http://cerita-silat.co.cc/
te hwe, Lie Si-hoa menjadi heran. Namun setelah dijelaskan bahwa bocah itu adalah
muridnya Tan Kin-lam, sang ketua, dia berkata dalam hati: “Oh, rupanya demikian”
Setelah mengeringkan beberapa cawan arak, Si Hoa yang pertama-tama mohon diri.
Dia diantar oleh Tan Kin-Iam sampai di depan pintu dan ketu Tian-te hwe itu berbisik
kepadanya,
“Lie hiante, tadi kakakmu ini belum tahu apakah kau merupakan kawan atau lawan
kami, karena itu aku telah mencekal kakimu dengan sedikit tenaga. Tanpa disengaja
aku telah keliru mengenaimu. Hiante, dua jam lagi kakimu akan terasa nyeri berbahaya
sekali kalau kau tidak tahu cara me obati lukamu itu, atau kau gunakan cara lain dengan
terpaksa, Hiante, kau harus menggali sebuah lubang yang dalam dan tingginya sesuai
dengan be tuk tubuhmu, kemudian kau masuk ke dalamn lalu kau urug kembali dengan
tanah sampai sebatas leher. Kau harus berdiam di dalam lubang itu lama empat jam
dan tujuh hari berturut-turut dengan demikian lukamu akan sembuh dan tidak ada yang
perlu dikhawatirkan lagi”
Si Hoa terkejut setengah mati mendengar terangan itu.
“Oh, jadi aku telah terkena pukulan “Geng-hi sin jiau” (Sambaran kuku pembeku
darah)?” tanyanya.
“Jangan cemas, Tidak perlu takut, hiante,” kata Tan Kin-lam. “Kalau kau ikuti cara
yang kukatakan tadi, niscaya kau tidak akan mengalami kejadian apa-apa, Sekali lagi
kakakmu mohon agar kau tidak berkecil hati karena kesembronoanku tadi”
Pertama-tama Lie Si-hoa memang terkejut tapi akhirnya dia menjadi tenang kembali.
“Salahku sendiri.” sahutnya kemudian. “Hari ini mataku baru terbuka, Di atas langit
masih ada langit, di antara para jago masih ada lagi yang lebih jago” Sekali lagi dia
merangkapkan sepasang tangannya menjura kemudian ia membalikkan tubuhnya
berlalu dari tempat itu.
Liu Tay-hong yang mendengar perkataan Tan Kin-lam barusan, segera bertanya.
Tan Cong tocu, jadi tadi kau menggunakan ilmu “Ceng-hiat sin Jiau” untuk
menghadapi pemuda itu? Menurut apa yang pernah kudengar, siapa yang terkena
serangan ilmu itu, dalam waktu tiga hari darah di seluruh tubuhnya akan membeku, dan
orang itu tidak bisa bergerak sama sekali serta tidak dapat disembuhkan lagi,
Benarkah?”
Tan Kin-Iam menarik nafas panjang, “Pada dasarnya, sifat ilmu itu memang keji
sekali,” sahutnya, “Aku sebenarnya tidak berniat menggunakan ilmu itu, tapi cara
kedatangannya sungguh luar biasa dan dia sudah mendengar percakapan rahasia kita,
ilmunya juga lihay sekali dan kita belum tahu maksud kedatangannya, Untu menjaga
diri kita semua terhadap hal yang tid diinginkan, terpaksa aku menggunakan ilmu itu,

perbuatanku tadi sama sekali tidak mirip seora laki-laki sejati dan aku menjadi malu
karenanya”
“Tapi,” Bhok Kiam-seng ikut bicara, “Perbuatanmu ada benarnya juga, seandainya
dia adalah mata-mata musuh atau bawahannya Go Sam-kui dia memang berbahaya
bagi kita, Kalau Cong tocu tidak memberi pelajaran kepadanya lalu dia membawa berita
tentang kita kepada junjungannya, celakalah kita semua. Syukurlah Cong tocu bisa
menguasainya… Tan Cong tocu, kepandaianmu tinggi sekali, kau benar-benar
membuat kami kagum”
Pesta di lanjutkan kembali Akhirnya tiba juga saatnya Bhok Kiam-seng dan
rombongannya berpamitan.
“Siau ongya,” kata Siau Po pada pangeran itu “Sebaiknya Siau ongya pindah tempat,
Sebab entah siang atau malam ini juga, ada kemungkinan ban Tatcu nanti mengirim
orangnya untuk mengepung dan melakukan penangkapan atas diri Siau ongya Mungkin
Siau ongya tidak takut, tapi kita harus sadar dengan kekuatan kita sekarang ini, kita
masih belum sanggup melawan tentara yang jumlah laksaan jiwa….”
Mendengar ucapan bocah itu, Liu Tay tertawa lebar.
“Saudara cilik, apa yang kau katakan memang benar” katanya dengan nada
gembira, “Saudara kecil, sekali lagi terima kasih, terutama untuk saran-mu ini. Baiklah,
kami akan segera pindah tempat”
Kiam Seng pun turut berkata.
“Pembicaraan kita sudah selesai, Hari ini juga kami akan pergi dari kota ini. Tan
Cong tocu, Wi hiocu, serta semua sahabat baik yang ada di sini, selama gunung masih
menghijau dan sungai masih mengalir, tentu akan ada perjumpaan lagi bagi kita kelak”
Begitu rombongan itu berlalu, Tan Kin-lam memanggil muridnya,
“Siau Po, kemari” katanya, “Aku ingin lihat, selama beberapa bulan ini, sudah
sampai di mana kemajuanmu?”
Jantung Siau Po langsung berdebaran. wajahnya pun berubah seketika, urusan ini
paling dikhawatirkan olehnya, Tapi pada dasarnya dia memang cerdik, dia sudah
memikirkan jawaban yang masuk akal.
“Suhu, selama ini kesehatanku agak terganggu, beberapa kali aku jatuh sakit dan
asal aku berlatih sebentar saja, perutku langsung terasa nyeri”
Kin Lam merasa heran sehingga dia memperhatikan muridnya dengan tajam.

“Kau sakit?” tanyanya, “Sakit apa?” Dia langsung mengajak muridnya ke kamar
sebelah timur Setelah merapatkan pintu kamar itu, dia langsung mencekal tangan
kanan muridnya.
“Aih”Tan Kin-lam sampai mengeluarkan seruan tertahan setelah ia meraba denyut
nadi Siau Po. Cepat-cepat dia memeriksa nadi sebelah kirinya.
“Ini… ini.,.” saking gugupnya, dia sampai tidak sanggup mengatakan apa-apa.
pikirannya langsung bekerja. “Selain terluka parah, kau juga keracunan. Usiamu masih
begini muda, bagaimana kau bisa bermusuhan dengan tokoh-tokoh dunia kangouw
yang memiliki kepandaian setinggi ini? siapakah musuhmu itu?”
Di hadapan orang lain, Siau Po suka sok gagah, Tetapi di hadapan gurunya ini, dia
langsung menangis terisak-isak.
“Perbuatan si nenek sihir dan kura-kura tua itulah yang mencelakai muridmu ini…”
katanya.
Tan Kin-lam semakin bingung, Dia menatap muridnya lekat-lekat
“Apa yang yang kau maksud dengan kura-kura tua serta nenek sihti?” tanya gurunya.
“Siapakah mereka?”
Siau Po segera menceritakan tentang Hay kongkong yang telah meracuninya dan ibu
suri yang telah menepuk punggungnya sehingga dia terluka dalam. Dia juga
menceritakan bagaimana ibu suri berhasil mengancamnya.
Kin Lam berpikir dengan keras.
“Apakah kau membawa obat yang diberikan ibu suri kepadamu?” tanyanya
penasaran.
“Ya,” sahut Siau Po langsung mengeluarkan obat yang selalu dibawanya kemanamana
itu.
Kin Lam memeriksa obat itu, dia mengendusnya berkali-kali. Bahkan dia
memasukkan sebutir pil ke dalam mulutnya kemudian dia gigit sampai hancur dan
dengan lidah dia mencicipi, tiba-tiba dia menyemburkan obat itu dengan meludah dan
kemudian mengomel.
“Oh, dasar nenek sihir” makinya, “Obat ini juga dicampur dengan racun, Dengan
memberimu obat ini, dia ingin membuat kau mati secara perlahan-lahan”

Bagian 25
Mendengar gurunya juga memaki ibu suri sebagai nenek sihir, tanpa dapat
dipertahankan lagi, Siau Po tertawa geli, Ternyata sang guru juga sudah terbawa atau
terpengaruh dengan kata-katanya sehingga tanpa terasa dia ikut menyebut ibu suri
sebagai nenek sihir,
Sebuah perkataan yang tidak selayaknya terucap dari mulut seorang ketua dari
perkumpulan besar seperti Tian-te hwe. Siau Po sendiri sudah terbiasa dengan
sebutannya yang kotor dan berbagai ragam karena dia benci sekali kepada wanita itu,
meskipun dia adalah seorang ibu suri.
Tapi, setelah tertawa, dia menangis lagi, Dia percaya penuh dengan ucapan gurunya
itu, Artinya dia sudah terluka parah dan keracunan Mungkin-kah dia tertolong? Dia
menjadi kecil hati, Tadinya dia masih dapat menguatkan hatinya, namun sekarang di
depan gurunya, dia kembali lagi sebagaimana biasanya seorang bocah kecil serta tak
dapat mempertahankan lagi ketabahannya yang luar biasa.
“Tahukah kau asal-usul ilmu silat Hay tayhu dan ibu suri itu?” tanya Kin Lam kepada
muridnya kemudian.
Siau Po segera menceritakan pembicaraan yang berlangsung antara Hay kongkong
dengan ibu suri baru-baru ini di taman bunga. Tapi dia menyampingkan urusan kaisar
Sun Ti yang pergi secara diam-diam menyucikan diri di gunung Ngo Tay san juga
persoalan ibu suri yang mencelakakan Tang Gok-hui, ibu dan anak.
Kin Lam berpikir sejenak, Kemudian dia ber-kata.
“Kalau begitu yang satu berasal dari partai Kong Tong pai dan satunya lagi murid
Coa to (pulau ular) Dengan adanya kedua orang ini yang mendekam dalam istana,
kemungkinan mereka masing-masing mengandung maksud tertentu. Malam itu kau
terhajar oleh dua orang dengan ilmu yang demikian dahsyat. seharusnya kau tidak
dapat hidup lebih lama lagi, malah ada kemungkinan mati seketika, Tetapi hal ini tidak
terjadi padamu, Kau hanya terluka saja, apa sebabnya?”
“Pada jubah panjangku ada dua tanda bekas telapakan tangan, yakni bagian dada
dan punggung, Tanda itu begitu jelas dan rapi seperti digunting dengan poIa,” kata Siau
Po menjelaskan.
Tan Kin Lam menganggukkan kepalanya, itulah bukti bahwa pukulan itu lihay sekali”
katanya, “Bagaimana kau sanggup bertahan dari hajaran itu? Mungkinkah kau
menggunakan baju berlapis baja?”
“Tidak,” sahut Siau Po. Tapi sebuah ingatan tiba-tiba melintas di benaknya, Ketika
mengadakan pemeriksaan di rumah Go Pay, dia mendapatkan sehelai baju dalam yang

tipis sekali, Mungkin So Ngo-tu tahu bahwa itulah sehelai baju mustika sehingga dia
dianjurkan untuk memakainya.
Malam itu, ketika dihajar oleh Hay tayhu dan ibu suri, dia juga mengenakan baju itu,
Kemudian dia merasa baju itu kelonggaran sehingga dia tidak memakainya lagi, Begitu
diungkit oleh gurunya barusan, dia baru teringat lagi, Karena itu cepat-cepat dia
menceritakan soal baju itu.
“ltu dia” kata Kin Lam setengah berseru, “Pasti baju itu baju mustika sehingga
beberapa kali kau terhindar dari kematian sebaiknya kau pakai lagi baju itu siang
ataupun malam jangan dilepaskan lagi, Soal racun Hay kongkong, untuk sementara aku
masih belum tahu jenisnya, sebaiknya kau ikuti saja petunjukku dulu untuk melatih diri
dengan ilmu tenaga dalam aliranku, ilmu itu berkhasiat menyembuhkan luka dalam.”
“Baik,” suhu,” sahut Siau Po. Namun dalam hatinya dia berpikir “llmu tenaga dalam
dari si kura-kura tua sudah aku pelajari sampai tujuh atau delapan bagian Syukur suhu
menyangka aku keracunan dan tidak memeriksanya lebih jauh….” Tapi dia rada
khawatir juga. Gurunya ini lihay sekali.Ada kemungkinan rahasianya bisa terbongkar
Dia segera berkata lagi, “Suhu, Sri Baginda menitahkan aku menguntit para penyerbu
yang telah dibebaskan. Karena itu, aku harus cepat-cepat pulang ke istana untuk
memberikan laporan…” Dia ingin menyingkir secepatnya dari hadapan gurunya itu.
“Siapakah yang kau maksud dengan para penyerbu?” tanya Kin Lam.
Ketua pusat Tian-te hwe ini hanya tahu Siau Po telah menolong ketiga orang Bhok
onghu melarikan diri dari istana, Apa masalahnya, dia masih belum tahu. Siau Po
segera menjelaskan tentang penyerbuan di istana dengan tujuan membunuh kaisar
Kong Hi dan para penyerbu itu menggunakan baju dalam serta senjata dengan tanda
Go Sam-kui, Maksudnya untuk memfitnah pengkhianatan bang-sa, tapi kaisar Kong Hi
yang cerdas segera menaruh kecurigaan dan menyuruhnya menguntit kawanan para
penyerbu itu supaya dapat menemukan pemimpin utamanya.
“Oh, begitu?” kata Kin Lam heran, Dia sudah banyak pengalaman dan
pengetahuannya juga luas sekali, tetapi urusan Bhok onghu ini belum didengarnya,
“Rombongan Bhok onghu itu sungguh berani, Tadinya aku mengira mereka menyerbu
istana hanya untuk membunuh raja. Tidak disangka masih terselip maksud Iainnya.
Rupanya mereka hendak menjatuhkan Go Sam-kui. Kau telah menolong ketiga orang
itu, apakah tidak berbahaya bila kau kembali lagi ke istana?”
“Tidak,” sahut Siau Po yang tidak menjelaskan masalah pembebasan Gouw Lip-sin
bertiga adalah siasatnya kaisar Kong Hi. “Untuk menutupi masalah ini, aku sudah
mencari pengganti diriku, Merekalah yang akan bertanggung jawab, Aku rasa, dalam
waktu yang singkat, rahasia ini tidak akan terbongkar dan aku tidak akan dicurigai. Suhu
menitahkan aku mencari tahu rahasia negara, kalau hanya karena urusan keluarga
Bhok ini aku tidak kembali lagi ke istana, bukankah berarti tugasku gagal? Bukankah
dengan demikian aku juga menghancurkan usaha yang sedang dibina suhu?”

Senang sekali hati Kin Lam mendengar kata-kata muridnya yang cerdas itu.
“Siau Po, kau betul” dia membenarkan “Kita sudah membuat perjanjian dengan
pihak Bhok onghu, Andaikata mereka berhasil mendahului kita, bukankah seluruh
anggota perkumpulan Tian-te hwe harus menunduk di bawah perintahnya? Bukankah
dengan demikian pamor kita akan jatuh? Menurut pantas, Bhok onghu yang jumlah
orangnya jauh lebih sedikit dari kita tidak boleh mendahului kita Kalau aku sampai
mengikat perjanjian dengannya, hal ini semata-mata karena aku tidak ingin ada
perselisihan di antara kita untuk saat ini, Lagi-pula, dengan bergabungnya Bhok onghu,
kekuatan kita bertambah, Mereka itu berani sekali, karenanya kita tidak boleh kalah
berani, Dengan demikian kita bisa berhasil terlebih dahulu”
“Suhu benar” sahut Siau Po. “Sebenarnya, apa sih kehebatan Bhok Siau ongya? Dia
toh hanya kebetulan saja terlahir sebagai puteranya Bhok Tian-po. Sebaliknya, orang
seperti suhu mana boleh menunduk kepadanya? Kalau hal itu sampai terjadi, aku
benar-benar bisa mati berdiri”
Kin Lam tertawa. Seumur hidupnya, dia sudah sering mendengar segala macam
pujian, Tetapi rasa kagum seorang bocah berusia belasan tahun seperti Siau Po ini, lain
sekali bagi dirinya, Dia tidak tahu di mana sang murid dilahirkan atau dibesarkan dalam
lingkungan yang bagaimana, juga tidak tahu bahwa dengan kecerdikannya,
pergaulannya di istana luas sekali dan banyak mendapat kepercayaan. Dia hanya
mengira karena sudah Iama berada dalam istana, Siau Po sudah banyak belajar
apalagi dalam menghadapi Hay kongkong dan ibu suri yang banyak tipu muslihat Dia
tidak menyangka muridnya akan mengelabuinya.
“Dasar anak kecil, apa yang kau tahu?” katanya sambil tersenyum “Bagaimana kau
bisa tahu Bhok Siau ongya tidak mempunyai kebisaan apa-apa?”
“Sebab dia mengirim orang untuk menyerbu istana,” sahut Siau Po. “Dengan
demikian dia mengorbankan beberapa lembar jiwa secara sia-sia. Bagi Go Sam-kui,
sepak tegangnya itu tidak mendatangkan kerugian sama sekali, Malah dia patut
dikatakan sebagai manusia paling tolol di dunia ini”
“Hush jangan bicara sembarangan” tegur Tan Kin-lam. “Tapi, mengapa kau bisa
mengatakan bahwa Go Sam-kui tidak mengalami kerugian apa-apa?”
“Untuk menyerbu istana, Bhok Siau ongya menggunakan akal yang mentah sekali,
tolol” sahut Siau Po. “Para penyerbu mengenakan pakaian yang ada sulamannya,
yakni empat huruf Peng Si onghu, Dan semua senjatanya juga ada tulisannya, Taybeng
Sanhay-kwan Cong Penghu, Bangsa Tatcu bukan bangsa dogol mereka pasti
curiga. Tentu mereka dapat berpikir, kalau semua penyerbu itu benar orang-orang
suruhannya Go Sam-kui, mana mungkin mereka mengenakan pakaian dalam dan
senjata yang bertanda Peng Si ong?”
“Ya, benar juga” kata Tan Kin-lam.

“Masih ada satu hal lagi” kata Siau Po menambahkan “Sekarang ini, puteranya Go
Sam-kui yang bernama Go Eng-him sedang berada di kota-raja. Dia datang dengan
membawa upeti berupa uang serta batu permata yang tidak terkirakan jumlahnya, Kalau
memang ingin membunuh raja, mengapa Go Sam-kui tidak memilih waktu yang lain,
namun justru di saat dia mengutus puteranya itu? Lagipula, mengapa dia harus
membunuh raja? Apakah dia ingin memberontak untuk mengangkat dirinya sendiri
menjadi raja? Tidak mungkin Sebab apabila dia memberontak, pihak tentara Boan
akan meringkus puteranya saat itu juga kemudian dihukum mati Masa tanpa alasan
yang masuk akal, dia sudi mengorbankan jiwa anaknya sendiri?”
Kembali Tan Kin-Iam menganggukkan kepalanya.
“Tidak salah” katanya.
sebenarnya Siau Po hanya berlagak pintar, Semua keterangan itu terlalu dalam bagi
usianya yang masih muda. Kenyataannya memang kaisar Kong Hi yang
mengemukakan berbagai alasan itu. sekarang setelah mengetahui dia
mengutarakannya kembali di hadapan gurunya, Kin Lam percaya penuh kepada
muridnya ini.
Dan dia merasa heran sekali, Tidak banyak anggota Tian-te hwe yang mempunyai
kecerdasan seperti muridnya yang satu ini, Kalau dulu dia memilih sang murid sebagai
ketua Ceng-Bok tong, hal ini dilakukannya karena sumpah yang telah mereka ucapkan.
“Anak ini bernyali besar juga cerdik sekali,” pikirnya dalam hati. “Sekarang saja dia
sudah sehebat ini. Beberapa tahun lagi, dari pengalaman saja dia sudah tidak takut
kalah dengan kedelapan hiocu lainnya”
“Bagaimana dengan pihak Tatcu sendiri?” tanyanya kemudian “Apakah raja mereka
sudah tahu siasat Bhok onghu ini?”
“Sekarang masih belum yakin, tapi raja sudah menaruh kecurigaan Tadi pagi raja
mengumpulkan para siwi dan menyuruh mereka menjalankan beberapa jurus ilmu yang
digunakan para penyerbu, Setelah itu, mereka merundingkan ilmu tersebut Aku juga
ikut hadir. Karena itu aku mendengar dan melihat semuanya, Karena itulah aku ingat
dua jurus di antaranya adalah Heng-sau Ciang kun dan Kao-san Liu sui.”
Kin Lam menarik nafas panjang.
“Benar-benar pihak Bhok onghu tidak ada orang pandai,” katanya, “Kedua jurus itu
justru ilmu khas dari keluarga Bhok, Di antara para siwi, tidak sedikit jago yang kosen,
Mereka pasti mengenali kedua jurus itu”
“Pernah aku menyaksikan kedua jurus itu yang ditunjukkan oleh Hong Ci-tiong toako
dan Hian Ceng tojin. Karena itu aku juga mempunyai dugaan bahwa bangsa Tatcu pasti
bisa mengenalinya juga, itulah sebabnya tadi aku memberi saran kepada Bhok
Siauongya agar mereka segera pindah dari tempat yang sekarang”

“Benar Tindakanmu benar sekali” kata Tan Kin-lam. “Nah, sekarang kau boleh
kembali ke istana, besok kau datang lagi, Aku ingin memeriksa lukamu agar aku tahu
jenis racun apa yang menyerang tubuhmu dan mencari jalan untuk mengobatinya.”
Siau Po senang sekali melihat sang guru tidak menanyakan pelajaran ilmu silatnya
lebih jauh, Cepat-cepat dia memberi hormat kemudian mohon diri.
Ketika sampai di istana, Siau Po segera menuju kamar tulis Raja untuk menemuinya,
Kaisar Kong Hi senang sekali melihat kemunculan si bocah.
“Hai, kabar apa yang kau peroleh?”
“Terkaan Sri Baginda benar-benar seperti ramalan para “Dewa” sahut Siau Po
setelah memberi hormat “Memang biang keladi dari penyerbuan di istana ini ialah
keluarga Bhok dari Inlam”
Dengan perasaan senang, Kong Hi tertawa lebar.
“Benar? Bagus Lihat tampangnya To Lung Dia tidak percaya sama sekali ketika aku
mengatakan dugaanku, Lekas katakan, berita apa saja yang kau peroleh?”
“Ketiga penyerbu itu memang keras kepala,” sahut Siau Po. “Mereka tetap berkeras
bahwa mereka adalah orang-orang suruhannya Go Sam-kui. Meskipun To congkoan
sudah menyiksa setengah mati, ibarat mereka sudah mati hidup kembali, tetap saja
mereka berkeras pada pengakuannya”
“IImu silat To Lung cukup tinggi, tapi dia memang orang kasar,” kata kaisar Kong Hi
tertawa.
“Setelah menerima perintah dari Sri Baginda,” kata Siau Po memulai keterangannya,
“Hamba segera bekerja. Hamba menggunakan Bong Hoan-yok untuk membius para
siwi. Eh, tidak tahunya pada saat itu juga muncul empat orang thay-kamnya Hong
thayhou, Mereka mengatakan akan menghukum mati ketiga penyerbu itu sekarang
juga. Hamba memberanikan diri menentang mereka dengan mengatakan bahwa hamba
ingin melanjutkan tugas hamba sesuai rencana Sri Baginda. Mereka marah sekaIi.
Karena itulah, di depan para penyerbu itu, hamba segera membunuh keempat thay-kam
tersebut. Setelah itu hamba membebaskan ketiga tawanan itu, Menyaksikan apa yang
hamba lakukan, mereka langsung percaya penuh kepada hamba. Tidak ada sedikit pun
kecurigaan”
Kaisar Kong Hi tampaknya puas sekali dengan keterangan Siau Po. ia
menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Baru saja To Lung melaporkan bahwa salah satunya thay-kam Hong thayhoulah
yang membebaskan para penyerbu itu, aku justru sedang keheranan. Rupanya itu
perbuatanmu”

“Tapi, Sri Baginda,” kata Siau Po selanjutnya. “Hamba mohon perbuatan hamba itu
jangan diberitahukan kepada Hong thayhou” Pinta Siau Po dengan tampang khawatir
“Kalau tidak, selembar jiwa hamba yang tidak berarti ini pasti tidak dapat dipertahankan
lagi, Hong thayhou pernah memaki hamba yang katanya terlalu setia terhadap Sri
Baginda dan sebaliknya acuh saja terhadap beliau. Sebenarnya, mana hamba berani
membeda-bedakan antara Sri Baginda dengan Hong thayhou? Lagipula, ada pepatah
yang mengatakan, di langit tidak ada dua matahari, di atas bumi tidak ada dua raja, Biar
bagaimana, akhirnya Sri Baginda yang harus didahulukan, sedangkan thayhou sendiri,
tanpa menanyakan terlebih dahulu kepada Sri Baginda, sudah langsung mengirim
orangnya untuk menghukum mati ketiga orang tawanan itu, perbuatannya itu sungguh
tidak layak dan tidak menghormati Sri Baginda.”
“Tak usah perdulikan Thayhou,” kata Raja, “Terhadap thayhou, aku tidak bisa
mengatakan apa-apa. sekarang ceritakan saja, bagaimana dengan ketiga penjahat
yang kau bebaskan itu?”
“Kemudian hamba mengajak mereka meninggalkan istana,” kata Siau Po yang
mengarang ceritanya sendiri, “Ketika berpamitan, mereka menyebutkan nama masingmasing,
Yang tua bernama Yau Tau Saycu Gouw Lip-sin, dua orang muda lainnya
masing-masing bernama Go Piu dan Lau It-cou. Berulang kali mereka menyampaikan
terima kasih kepadaku, Demikianlah mereka kena diperdaya dan mereka mengajak aku
menemui pemimpinnya, Seperti dugaan Sri Baginda, pemimpin mereka adalah seorang
anak muda yang dipanggil Siau ongya, sedangkan she dan nama sebenarnya ialah
Bhok Kiam-seng. Sebawahannya Siau ongya itu ada seorang tua yang

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s