“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 32

tuan-tuan ini adalah jago-jago dari Bhok onghu, Yang menjadi
pemimpin adalah saudara Gouw Lip-sin ini yang bergelar Yaou Tau Saycu”
Cian Lao pan langsung mengeluarkan seruan heran.
“Oh Sudah lama aku mendengar nama besar itu Tuan-tuan, maaf kalau aku yang
rendah tidak segera menyapa”
Pertama-tama Lip Sin juga bingung, namun kemudian dia merasa gembira setelah
mengetahui bahwa orang ini ternyata sahabatnya si thay-kam cilik.
“Tidak apa,” sahutnya. “Kita berada di tempat yang berbahaya, sudah seharusnya
kita bersikap demikian”
“Cian toako,” kata Siau Po pada Laopan, “Nanti kau tolong sampaikan pada Wi hiocu
dari perkumpulanmu yang merupakan sahabat baikku, katakan bahwa Lay Lie-tau Siau
samcu sudah menyelesaikan tugasnya, sedangkan ketiga tuan ini, harap kau antarkan
pada Bhok Siau ongya dan Liu loyacu, Seberlalunya kalian, tentu akan muncul para siwi
yang mencari penjahat yang telah membunuh. Oleh karena itu, kau sendiri, sebaiknya
jangan datang kemari lagi”
“Ya, ya” sahut Cian laopan dengan sikap menghormat “Kami semua berterima kasih
atas budi kongkong”
Lip Sin menoleh kepada Cian laopan, “Tuan, rupanya kau dari pihak Tian-te hwe?”
“Betul, Gouw loyacu,” sahut Cian laopan, “Nah, mari kita pergi sekarang”
Mereka kembali berjalan lagi. Siau Po masih mengikuti sebentar saja mereka sudah
sampai di Sin-bu mui. Di sana ada beberapa siwi yang menjaga. Begitu melihat Siau
Po, mereka langsung menyambut dengan hormat.
“Oh, Kui kongkong, Semoga baik-baik saja” sapa mereka ramah.
Siau Po tertawa.
“Terima kasih” sahutnya. “Semoga kalian pun demikian” para siwi itu
memperhatikan Lip Sin bertiga Mereka merasa tidak kenal Tetapi karena Siau P
menggapit lengan Gouw Lip-sin, mereka tidak berani mencegah ataupun menanyakan
apa-apa. Karena itu, Siau Po berlima pun jalan terus.

Sekeluarnya dari pintu Sin-bu mui, merek sudah berada di luar batas pekarangan
istana, Sia Po masih mengiringi mereka berjalan beberapa puluh tindak jauhnya,
kemudian baru dia berkata:
“Sekarang aku harus pulang. Sampai jumpa lagi. Kalian tidak usah banyak peradatan
pula”
Tapi Gouw Lip-sin tetap menjura dan berkata
“Untuk budi pertolongan ini, kami yakin kongkong tentulah tidak mengharapkan
imbalan apa-apa. Karena itu, kelak di kemudian hari, apabila pihak Tian-te hwe
memerlukan tenaga kami, aku dan muridku ini tidak akan menoleh meskip harus terjun
ke dalam lautan api”
“Terima kasih Tidak berani aku menerima penghormatan demikian tinggi” kata Siau
Po, “silahkan berangkat”
It Cou tidak mengatakan apa-apa. Dia memang berjalan mendahului yang lainnya,
Berulang kali dia menolehkan kepalanya melihat ke arah Siau Po. Dia merasa heran
mengapa Gouw Lip-sin masih belum menyusulnya juga, Dia merasa tidak tenang.
Soalnya mereka belum jauh dari istana, Sesaat kemudian setelah rekannya berpisahan
dengan si thay-kam, hatinya baru lega.
Siau Po kembali ke Sin-bu mui, Terhadap para siwi yang sedang menjaga dia
tertawa dan berkata.
“Kongkong tadi adalah orang kepercayaannya Thayhou, Menurutnya mereka bertiga
sedang menjalankan titah, aku dimintanya mengantarkan sampai ke depan, Tapi aku
tidak tahu tugas apa yang sedang mereka laksanakan” Biarpun seorang Cin ong atau
Pwe lek juga tidak pantas menyuruh kongkong yang mengantar” kata seorang siwi
dengan perasaan tidak puas.
“BetuI Sungguh bertingkah kongkong itu, seenaknya saja meminta Kui kongkong
mengantarkan” sahut seorang siwi lainnya yang juga merasa kurang senang.
“Aih, sudahlah” kata Siau Po dengan menggelengkan kepalanya. “ltu toh titahnya
Hong thayhou, Apa yang bisa kita lakukan? Mereka membawa firman yang ditulis
thayhou sendiri, Meskipun kita curiga, kita harus tutup mulut Benar tidak?”
“Ya, ya. kita memang tidak bisa berbuat apa-apa” sahut siwi lainnya.
Bergegas Siau Po kembali ke tempat tahanan. Di sana para siwi masih tidak
sadarkan diri, Cepa cepat dia mengambil seember air yang kemudia diguyurkan ke
kepala Tio Kong-lian.
Siwi itu perlahan-lahan tersadar Begitu ingata nya kembali, dia tersenyum dan
berkata.

“Aih, kongkong, Bagaimana aku bisa jadi lupa daratan…” dia terus bangkit untuk
duduk, ta tiba-tiba dia menjadi terkejut sekali ketika melihat keadaan dalam ruangan itu.
Para siwi masih terbaring semaput dan di sana juga ada mayat beberapa thay-kam.
“Ba…gaimana… dengan para penyerbu itu?” tanyanya gugup, “Apakah… mereka
sudah kabur?”
Siau Po memperlihatkan sikap tidak kalah penasarannya.
“Thayhou telah menyuruh thay-kam she Tang itu membius kita, lalu melarikan ketiga
penjahat itu” katanya geram.
Tio Kong-lian merasa bingung, Bong hoan-yok toh ada di tangannya si thay-kam cilik
ini. Namun karena baru sadar, pikirannya masih lemah. ia tid dapat mengingat dengan
baik, Dia jadi tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Siau Po berkata kembali.
“Tio toako, bukankah To congkoan secara diam-diam menyuruh kau membebaskan
para tawanan itu?”
Kong Lian menganggukkan kepalanya.
“Ya, To congkoan mengatakan bahwa itulah perintah rahasia dari Sri Baginda untuk
membebaskan para penyerbu itu,” sahutnya, “Maksudnya agar pihak kita dapat
menguntitnya secara diam-diam dan dengan demikian kita bisa tahu siapa pemimpin
mereka yang sebenarnya”
“Ya, memang benar,” kata Siau Po sembari tertawa, “Tapi sekarang aku ingin
bertanya lagi, kalau orang tawanan kabur dari penjagaan, orang yang menjaga itu
bersalah atau tidak?”
Kong Lian merasa tercekat hatinya, Untuk sesaat dia jadi tertegun.
“Tentu saja bersalah” katanya kemudian Tapi ini kan perintah To congkoan, kami…
yang menjadi bawahan hanya menjalankan perintah saja”
“Apakah To congkoan memperlihatkan surat perintah?”
Kong Lian bertambah terkejut.
“Tidak… tidak” sahutnya bingung, “kata To congkoan, tidak perlu membawa surat
perintah, karena ini merupakan perintah lisan dari Sri Baginda….”
“Kalau begitu, mestinya To congkoan juga memperlihatkan suatu barang sebagai
tanda bukti Sri Baginda?” tanya Siau Po kembali.

“Ti… dak,” sahut Kong Lian semakin gugup.
Tapi, mungkinkah To congkoan akan berdusta? Tubuhnya bergetar dan suaranya
menjadi kurang jelas.
“Palsu sih tidak,” sahut Siau Po. “Aku hanya khawatir kalau nanti dia akan
menyangkal hal ini apabila keadaan membahayakan Siapa tahu ia akan menimpakan
kesalahan pada dirimu? Bukankah in akan menjadi bencana bagimu? Tio toako,
tahukah kau mengapa Sri Baginda membiarkan para ta wanan itu bebas?”
“Menurut To congkoan, agar kita bisa menguntitnya dan dapat mengetahui siapa
pemimpinnya? sahut Kong Lian,
“Memang persoalannya demikian, tapi.,, bukan kah hal ini agak aneh?” kata Siau Po
kembali “Bagaimana mungkin para penjahat dibiarkan lolos dan urusan pun tidak
diperpanjang lagi? Sekalipun si penjahat sendiri, bila mendengar urusan ini, pasti tidak
akan mempercayainya. Lagipula tidak muda menemukan pemimpin para penjahat itu,
Mungki bisa terjadi nantinya Sri Baginda akan menghukum mati dulu beberapa orang
dan apabila berita ini sudah tersiar, para penjahat itu baru tidak curiga Iagi….”
Kata-kata Siau Po ini bukan berarti menuduh Raja akan berbuat demikian.
Kenyataannya Sri Baginda memang menyuruh dia membunuh satu dua orang siwi agar
penyerbu itu tidak menjadi curiga.
Sementara itu, wajah Tio Kong-lian semakin pucat, memang ada kemungkinan dia
akan dihukum mati, Saking takutnya, dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan Siau Po.
“Kongkong, tolonglah aku…” dia memohon sambil menyembah berkali-kali.
“Jangan memakai terlalu banyak peradatan, Tio toako,” katanya. Dia mengulurkan
tangannya untuk membangunkan siwi itu, Bibirnya menyunggingkan senyuman ramah.
“Jangan khawatir sekarang ada cara untuk menghindarkan dirimu dari hukuman mati,
Lihat, di sana ada beberapa thay-kam, mereka dapat menggantikannya. Kita timpakan
saja kesalahan pada diri mereka. Kita bilang mereka membawa obat bius untuk
membuat kita tidak sadarkan diri, setelah itu mereka membebaskan para tahanan.
Dengan demikian, bukankah namamu menjadi bersih? Apabila Sri Baginda mendengar
ke-empat orang thay-kam itu adalah orang ibu suri, tentu urusan ini tidak akan
diperpanjang. Raja juga tidak akan menghukum mati dirimu apabila ada alasan yang
masuk akal. Mungkin kau malah akan mendapat hadiah”
Bagian 24
Mendengar ucapan Siau Po, hati Kong Lian jadi lega. Dari khawatir, dia malah jadi
girang sekali.

“Bagus, bagus” serunya, “Kongkong, terima kasih banyak atas pertolongan
kongkong ini”
Peruntungan Kong Lian memang sedang mujur. Kalau saja tadi Siau Po jadi
membunuhnya, tentu dia tidak bisa memerankan sandiwara ini
“Sekarang cepat kita sadarkan para siwi lainnya,” kata Siau Po. “Mereka harus
dijelaskan dulu urusan ini, supaya mereka serempak mengaku bahwa telah dibius oleh
keempat thay-kam ini”
“Ya, ya,” sahut Kong Lian, Dia segera mencari air dingin, Biar bagaimana, hatinya
masih kurang tenang karena belum tahu bagaimana reaksi Sri Baginda.
Dalam waktu yang singkat, para siwi itu sudah siuman kembali. Kepada mereka
dijelaskan bahwa semua orang telah dibuat tidak sadar dengan Bong hoan-yok oleh
Tang Kim-hwe berempat, kemudian Tang Kim-hwe membinasakan ketiga orang
rekannya dan lalu dia kabur bersama para tahanan.
“Hah Kurang ajar benar orang itu” caci para siwi itu. walaupun dalam hati mereka
terdapat keraguan “mengapa thayhou harus membebaskan ketiga tawanan itu?
Mungkinkah mereka justru orang-orang suruhan thayhou?” pikir mereka dalam hati.
Tapi karena urusan ini menyangkut diri ibu suri, meskipun curiga, mereka memilih
menutup mulu rapat-rapat.
Siau Po sendiri langsung kembali ke kamarnya. Begitu masuk, dia segera disambut
oleh Kiam Peng.
“Kui toako, apa kabarnya?” tanya nona cilik itu.
“Kui toako tidak mempunyai kabar apa-apa, goda Siau Po. “Ada juga suami yang
membawa berita….”
Kiam Peng tersenyum.
“Aku tidak takut soal beritanya, Yang dikhawatirkan ada orang lain lagi yang
menyebutmu kakak yang baik….”
Wajah Pui Ie merah padam, Dia tahu Siau Kuncu sedang menggodanya, Tapi dia
harus bicara, dia memang ingin tahu berita apa yang dibawa Siau Po.
“Saudara yang baik…” katanya, “Kau lebih muda daripadaku bagaimana kalau aku
panggil kau saudara yang baik saja? Kau tidak keberatan, bukan?”
Siau Po menarik nafas panjang.

“Aih” katanya, “Dari suami yang baik tiba-tiba saja berubah menjadi saudara yang
baik, bukankah ini sama dengan induk ayam yang mendadak berubah menjadi
bebek.,.? Tapi, sudahlah Yang penting dia sudah berhasil ditolong”
Tiba-tiba Pui Ie bangkit dan duduk, Ketika dia berbicara, suaranya terdengar
bergetar….
“Apa kau bermaksud mengatakan bahwa Lau suko sudah berhasil meloloskan diri?”
tanyanya penuh minat.
“Sekali seorang laki-laki mengeluarkan kata-katanya, entah empat ekor kuda apa pun
tidak dapat mengejarnya” sahut Siau Po serius. “Aku sudah menerima baik
permintaanmu bagaimana pun aku harus menolongnya”
Ucapan Siau Po dari dulu masih belum berubah.
Dia tidak tahu bunyi pepatah yang dikatakannya, karenanya dia selalu mengucapkan
“Entah empat ekor kuda apa pun tidak dapat mengejarnya.”
“Ba.,.gaimana caramu menolongnya?” tanya Pui le kembali Dia penasaran sekali,
Siau Po tertawa, “Dalam hal ini, aku si orang gunung tentu mempunyai muslihat”
sahutnya, “Tunggu saja setelah kau bertemu dengan Lau sukomu, dia pasti akan
menceritakannya”
“Ah” Si nona menghela nafas lega, Kemudia dia mendongakkan kepalanya sambil
mengucap: “Terima kasih kepada langit dan bumi, dia benar benar dilindungi sang
Pousat”
Melihat kegembiraan dan rasa bersyukurnya si nona manis itu, hati Siau Po otomatis
jadi kurang enak. Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa, hanya terdengar suara
dehemannya yang lirih.
“Eh, eh, Suci,” tegur Kiam Peng, “Kau mengucapkan terima kasih kepada Langit dan
Bumi kenapa kau malah tidak mengatakan apa-apa ke pada saudara yang baik ini?”
Pui le menolehkan kepalanya.
“Budi besar dari saudara yang baik ini tidak dapat dibalas hanya dengan ucapan
terima kasi saja” sahutnya,
Mendengar ucapan si nona, hati Siau Po jadi gembira, Bibirnya tersenyum.
“Tidak perlu kau membalasnya,” sahutnya.
“Saudara yang baik, apa yang dikatakan Lau suko?” tanya Pui Ie.

“Dia tidak mengatakan apa-apa,” sahut Siau Po. “Dia hanya minta aku
menolongnya”
“Ah.,.” seri Pui le kecewa, “Apakah dia menanyakan tentang kami?”
Siau Po bei-pikir sejenak, kemudian baru menjawab.
“Tidak, Aku yang mengatakan bahwa kau berada di tempat yang aman, karena itu
dia tidak perlu mengkhawatirkanmu, Dan tidak lama lagi aku akan mengantarkanmu
agar dapat bertemu dengannya”
Pui le menganggukkan kepalanya.
“Perbuatanmu benar,” sahutnya. “Tapi tiba-tiba saja air matanya, mengalir dengan
deras.
“Eh, suci” seru Kiam Peng terkejut “Ada apa? Mengapa kau menangis?”
“A…ku gembira sekali” sahut nona yang sedang menangis itu.
Sementara itu, Siau Po berpikir dalam hati,
“Sri Baginda menitahkan aku menguntit ketiga tawanan itu, agar dapat mencari tahu
siapa pemimpinnya, Karena itu, aku harus keluar melewatkan waktu supaya tidak
dicurigai Setelah satu dua jam, aku baru kembali lagi memberikan laporan…”
Dengan membawa pikiran demikian, Siau Po segera berpesan kepada kedua nona
itu agar berdiam di dalam kamarnya seperti biasa, Dia segera menuju ke Tianhio, Hari
itu, bagian kiri jalan terdapat banyak pedagang keIontong. Malah ada juga yang
membuka panggung pertunjukan Tianki memang terkenal sebagai tempat
berkumpulnya berbagai kalangan Terutama orang-orang dunia kangouw, Ke sanalah
tujuan cilik kita.
Ketika mendekat, perhatian Siau Po tiba-tiba jadi tertarik, Dia melihat kurang lebih
dua puluh orang polisi sedang menggiring lima pedagang kecil yang pakaiannya
compang-camping. Dia berdiri sisi jalan dan memperhatikan rombongan itu.
“Benar-benar keterlaluan” gerutu seorang tua “Sekarang ini berjualan saja sulit”
Siau Po baru saja berniat menanyakan sesuatu kepada orang tua itu, tiba-tiba
terdengar suara batuk-batuk di dekatnya Ketika dia menolehk kepalanya, dia melihat
seseorang yang rambutnya sudah penuh uban dan tubuhnya bungkuk. Setelah
diperhatikan dengan seksama, dia mengenali ora itu sebagai Pat-Pi Wan Kau Ci Tiancoan,
Orang ini melirik ke arahnya kemudian mengedipkan matanya dan berjalan
melaluinya.

Siau Po mengerti isyarat yang ditunjukkan orang tua itu, Dia berjalan perlahan
mengikuti sehing sampai di tempat yang sepi.
“Wi hiocu,” sapanya, “Ada kabar gembira”
Siau Po tersenyum Diam-diam dia berpikir.
“Aku telah menolong Gouw Lip-sin bertiga, rupanya dia sudah mendengar berita
gembira it karena itu dia menyahut: “ltu tidak berarti apa-apa”
“Tidak berarti apa-apa?” tanya Ci Tian-coan dengan pandangan heran “Kau sudah
tahu tentang kedatangan Cong tocu?”
Kali ini giliran Siau Po yang tertegun.
“Guruku datang?” tanyanya seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri
Hal ini memang di luar dugaannya.
“Benar” safiut Ci Tian-coan. “Aku dititahkan segera memberi kabar kepadamu, Wi
hiocu, kau diminta segera menemui beliau”
“Baik, baik” sahut Siau Po. otaknya bekerja keras, padahal saat ini, orang yang
paling tidak ingin ditemuinya justru gurunya itu, Apa sebabnya? karena sejak berpisah
tempo hari, dia merasa belum memperoleh hasil apa-apa dari kitab yang diberikan
gurunya, Tan Kin-lam. Celaka kalau gurunya sampai menanyakan kemajuan yang telah
diperolehnya selama ini. Urusan ini memang sudah cukup lama terbengkalai karena
banyak yang harus diselesaikannya.
“Cong tocu memberitahukan kepadaku,” kata Ci Tian-coan pula, “Waktunya di
kotaraja ini tidak banyak, karena itu, biar bagaimana aku harap sudilah Wi hiocu pergi
menemuinya”
Melihat keadaannya yang begitu terdesak, Siau Po merasa apa boleh buat.
“Baiklah,” katanya, Dia langsung mengikuti Ci Tian-coan. sepanjang jalan dia terus
memikirkan apa yang harus ia katakan kepada gurunya itu. Di menyesal tidak
mengeram saja dalam istana, Kala dia berada dalam istana, tentu gurunya tidak bisa
menyeretnya keluar.
Belum lagi masuk ke dalam lorong, Siau Po sudah melihat sejumlah anggota Tian-te
hwe yang berpencaran di sana sini. Tentunya mereka sedang memasang mata untuk
melindungi ketua merek dari serangan gelap. Di dalam rumah juga terdapat beberapa
penjaga.
Setibanya di ruangan belakang, Siau Po segera dapat melihat gurunya duduk di
tengah-tengah da dikelilingi oleh Hong Kong, Hian Ceng tojin dan Hong Cin-tiong serta

yang lainnya. Mereka sedang berbincang-bincang, Cepat-cepat dia maju menghampiri
kemudian menjatuhkan dirinya berlutu dan berkata.
“Oh, suhu Ternyata suhu benar-benar datang. Muridmu ini sudah rindu sekali”
katanya.
Tan Kin Lam tertawa.
“Bagus, bagus Anak baik” katanya, “Di sini para saudara kita banyak yang
memujimu”
Siau Po langsung bangkit kembali. Hatinya menjadi lega melihat sikap gurunya yang
demikian ramah.
“Apakah suhu baik-baik selama ini?” tanyanya.
Kin Lam tersenyum.
“Baik” sahutnya, “Bagaimana dengan pelajaranmu? Apakah ada yang kurang kau
pahami?”
“Banyak sekali yang murid tidak mengerti, suhu,” sahutnya, jawaban ini sudah ia
pikirkan matang-matang, Dia tahu gurunya bermata tajam dan cerdas sekali, Tidak
mungkin bisa dikelabui olehnya, “Karena itulah aku mengharap-harap kedatangan suhu
agar murid dapat meminta petunjuk”
Pada saat itu, tampaknya hati Kin Lam memang sedang gembira, Mendengar ucapan
muridnya, kembali dia tersenyum.
“Baiklah” sahutnya, “Aku akan menggunakan waktu beberapa hari ini khusus
untukmu”
Baru Tan Kin Lam berkata demikian, salah seorang anggota perkumpulan itu tampak
mendatangi dengan cepat. Dia langsung memberi hormat seraya menyampaikan
laporannya.
“Cong tocu, ada beberapa tamu yang berkunjung, Menurut penuturan salah satunya,
mereka adalah Bhok Kiam-seng dari Bhok onghu serta Liu Taykong.”
Senang hati Kin Lam mendengar laporan itu, Dia segera bangkit dari kursinya.
“Mari kita sambut mereka” ajaknya.
“Aku belum mengganti pakaian,” kata Siau Po. “Aku tidak bisa ikut”
“Baik,” kata Kin Lam. “Kau tunggu saja di belakang”

Begitu guru dan anggota Tian-te hwe yang lainnya berlalu, Siau Po segera
menyelinap ke belakang dinding ruangan itu. Di sana dia menggeser sebuah kursi
kemudian duduk. Tanpa perlu menunggu lama-lama, segera terdengar suara tawa Liu
Tay-hong yang nyaring, Siau Po segera mengenalinya.
“Keinginanku yang paling utama selama hidupku adalah perjumpaan dengan Tan
Cong tocu yang namanya sudah terkenal di seantero dunia Hari ini beruntung sekali
dapat bertemu, Sungguh, mati pun aku yang tua sudah merasa puas”
“Ah, Lo enghiong hanya memuji saja” terdengar suara Tan Kin-lam. “Aku yang
rendah merasa malu dan tidak berani menerima pujian yang begitu tinggi”
Sembari bercakap-cakap, mereka berjalan menuju ruangan dalam. Kemudian kedua
belah pihak mengambil tempat duduknya masing-masing.
“Di dalam partai Cong tocu ada seorang yang bernama Wi hiocu, entah beliau ada di
sini atau tidak?” tanya Bhok Kiam-seng, “Aku yang rendah ingin bertemu dengannya
untuk mengucapkan terima kasih atas budi pertolongannya yang besar. Kami dari Bhok
onghu semua bersyukur sekali terhadap apa yang dilakukannya”
Kin Lam bingung sekali, Dia memang tidak tahu gerak-gerik Siau Po yang telah
menolong orang-orang dari Bhok onghu.
“Wi Siau Po hanya seorang bocah cilik, apa jasanya terhadap Bhok onghu?
Mengapa Siau ongya begitu merendahkan diri memujinya demikian tinggi, sedangkan
dia hanya seorang bocah cilik?”
Belum lagi Kiam Seng dan Tay Hong menyahut, salah seorang di antara mereka
sudah menyela.
“Aku yang rendah bersama murid dan keponakan muridku Lau It-Cou telah ditolong
oleh Wi Hiocu, budinya yang luar biasa besarnya ibarat mega di langit, Aku juga pernah
menyatakan pada Cian suhu, apabila perkumpulan tuan-tuan memerlukan bantuan,
kami siap menjalankan tugas apa saja yang diperintahkan.”
Orang yang berbicara bukan lain dari Yau Tau Saycu, Go-Ip-sin yang jujur dan selalu
bicara apa ada nya.
Cong tocu dari Tian-te hwe tetap tidak mengerti Karena itu dia segera menoleh
kepada Cian Laopan dan bertanya.
“Saudara Cian, bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya?”
Orang she Cian segera menceritakan apa saja yang terjadi di kotaraja akhir-akhir ini.
sekeluarnya dari istana, dia langsung mengajak Gouw Lip-sin dan rekan-rekannya
kembali ke tempat Bhok Kiam-seng, di mana di tempat itu juga dia dijamu.

Pihak Bhok onghu telah menyatakan perasaan terima kasihnya terutama terhadap
Wi hiocu, setelah itu Liu Tay-hong dan yang lain meminta dia jadi pengantar ke tempat
perkumpulan Tian-te hwe. Di luar dugaan, justru pada saat itu pula Tan Kin-lam, ketua
pusat perkumpulan itu datang ber-kunjung, Karena itu Bhok Kiam-seng dan Liu Tayhong
segera memohon bertemu dengan ketua umum itu. Dijelaskan bahwa Gouw Lipsin
bertiga ditolong oleh seorang thay-kam cilik yang mengaku sebagai sahabatnya Wi
hiocu dari perkumpulan tersebut Dan si thay-kam melakukan hal itu karena permintaan
dari Wi hiocu tersebut.
Baru sekarang Tan Kin-Iam mengerti duduk persoalannya dan dia menjadi senang
sekali, Tentu saja thay-kam yang dimaksudkan adalah muridnya sendiri dan hal ini tidak
diketahui oleh pihak Bhok onghu.
“Bhok Siau ongya, Liu loyacu dan Gouw toako, kalian bertiga terlalu sungkan,”
katanya sambil tertawa. “Pihak Bhok onghu dengan perkumpula Tian-te hwe kami ibarat
tangan dan kaki dari sesosok tubuh, Karenanya, kalau orang sendiri memerlukan
bantuan, sudah seharusnya kami mengulurkan tangan, janganlah Siau ongya
rnenyebut-nyebut tentang budi pertolongan Hiocu Wi Siau-Po adalah muridku yang
rendah, dia masih sangat muda dan belum mengerti apa-apa, tidak pantas menerima
penghargaan Siau ongya yang demikian tinggi.” berkata sampai di sini.
Tan Kin-lam berpikir “Siau Po bekerja dalam istana untuk mencari tahu tentang
rahasia pemerintah sekarang ia telah melakukan pekerjaan ini, pasti rahasianya akan
diketahui oleh orang-orang dunia kangouw, Karena itu, kalau hal ini dirahasiakan pula
kepada pihak Bhok onghu, tentu kelak akan timbul kesan yang buruk.”
Ketika tuan rumah masih berpikir, Gouw Lip-sin berkata:
“Kami ingin sekali bertemu dengan Wi hiocu agar kami dapat mengucapkan terima
kasih secara langsung”
Kin Lam tertawa.
“Kita semua merupakan sahabat baik, walaupun di balik semua ini ada terselip
rahasia yang maha besar dan maha penting, tapi tidak dapat aku menyembunyikannya
dari kalian, Gouw toako, thay-kam dalam istana adalah muridku sendiri, Wi Siau-po….
Siau Po, lekas kau temui para cianpwe ini”
Tentu saja kata-katanya yang terakhir ditujukan kepada sang murid.
“lya,” sahut Siau Po yang mendekam di balik dinding, Dia segera muncul kembali
memberi hormat kepada Bhok Kiam-seng beserta rombongannya.
Kiam Seng, Liu Tay-hong dan Gouw Lip-si langsung bangkit Mereka merasa heran
sekali Ketika membalas hormat, mereka menatap Siau Po lekat-lekat. Hal ini benarbenar
di luar dugaan mereka, Hiocu dari Tian-te hwe menyelundup ke dalam istana
kerajaan Ceng dan bekerja sebaga thay-kam.

Malah usianya masih begitu muda, Bagai mana seorang bocah yang masih begitu
kecil dapat menjalankan tugas yang demikian hebat dan dapat pula yang menolong jiwa
Gouw Lip-sin bertiga
Siau Po tertawa manis ketika berhadapan dengan Gouw Lip-sin.
“Gouw loyacu, harap kau sudi memaafkan. Selama di istana, boanpwe sudah
mendustai loyacu sekalian, boanpwe tidak menyebutkan nama boanpwe yang
sebenarnya.”
Gouw Lip-sin mengerti.
“Hiocu berada di tempat yang berbahaya, sudah selayaknya hiocu harus bersikap
hati-hati,” katanya “Mula-mula aku juga sudah berkata kepada muridku Go Piu tentang
kau yang masih begitu muda. Aku heran dengan kecerdasanmu hatimu pun sangat
mulia, Kami menganggap kau seorang yang luar biasa sekali. Kami penasaran
mengapa dalam istana kerajaan Ceng ada seorang thay-kam seperti dirimu. Siapa
sangka kau justru hiocu dari Tian-te hwe. Namun sekarang aku tidak merasa heran
lagi.”
Gouw Lip-sin mengacungkan jempolnya memuji Siau Po.
Gouw Lip-sin adalah sute atau adik seperguruan Liu Tay-hong. Dalam dunia
kangouw, namanya juga cukup tersohor Karena itu pujiannya bukan pujian kosong, Hati
Tan Kin-lam senang bukan main melihat Siau Po, muridnya demikian dihargai. Tapi dia
tidak menunjukkannya di luar, Di mulut dia hanya berkata:
“Saudara Gouw, jangan terlalu memuji muridku yang bodoh ini, nanti dia jadi besar
kepala”
Liu Tay-hong pun tertawa, Dia mendongakkan kepalanya dan berkata.
“Tan Cong tocu, kau seorang diri saja sudah sanggup merebut seluruh kedudukan
dalam dunia kangouw, ilmu silatmu lihay sekali Namamu pun terkenal di mana-mana,
rupanya itu masih belum seberapa, Setelah berhasil membangun Tian-te hwe dengan
jumlah anggota yang besar, sekarang kau juga mempunyai murid yang usianya begini
muda, namun keberanian dan kecerdikannya benar-benar luar biasa, Dia membawa
kecemerlangan pada wajahmu”
Kin Lam merangkapkan sepasang tangannya dan menjura kepada Liu Tay-hong.
“Liu loyacu, pujianmu padaku juga terlalu tinggi,” sahutnya. “Nanti aku bisa jadi
bangga tidak karuan”
“Tapi, Tan Cong tocu, aku si tua she Liu ini memang biasa berterus terang” kata Liu
Tay-hong. “Orang yang pantas dihormati seperti dirimu, aku rasa jumlahnya tidak
banyak, Kau benar-benar membuatku kagum” Cong tocu, apabila kita berhasill

mengusir bangsa Tatcu dan Cu Ngo taycu kita naik di atas tahta kerajaan, kauluh orang
yang paling cocok menjadi perdana menterinya”
Kin Lam tersenyum.
“Aku yang rendah kurang bijaksana juga tidak mempunyai kepandaian apa-apa,
mana berani aku menerima kedudukan yang begitu tinggi?” sahutnya.
Tepat pada saat itu Cian laopan ikut memberikan pendapat nya.
“Liu loyacu, kalau bangsa Tatcu sudah berhasil diusir dan Cu Sam taycu sudah naik
tahta untuki membangun kembali kerajaan Beng kita yang maha besar, Untuk
kedudukan Jenderal besar Peng Maj taygoanswe, kami pasti akan mengangkatmu”
Liu Tay-hong membuka matanya lebar-Iebar dan menatap Cian Laopan dengan
tatapan tajam.
“A… pa yang kau katakan?” tanyanya, “Siapa iti Cu Sam taycu?”
Laopan segera menjelaskan
“Setelah Sri Baginda Liong Bu wafat dengan mengorbankan diri demi negara, yang
tinggal hanya Cu Sam taycu seorang, Beliau sekarang berada di Taiwan, Kalau kelak di
kemudian hari kita berhasil merampas kembali negara ini, otomatis Cu Sam tayculah
yang bakal menjadi raja”
Liu Tay-hong langsung berjingkrak bangun mendengar kata-katanya.
“Tian-te hwe sudah menolong adik seperguruanku beserta muridnya, Untuk ini kami
mengucapkan terima kasih dan bersyukur Tetapi, meskipun demikian, urusan raja kita
nanti, tidak dapat kita biarkan begitu saja. Cian laote, orang yang akan menjadi
junjungan kita nanti adalah Cu Ngo taycu Sri Baginda Eng Lok adalah raja yang sah,
dialah turunan sejati dari kerajaan Beng yang Maha Agung Seluruh dunia telah
mengetahuinya. Karena itu janganlah kau sembarangan bicara”
Tempo hari perselisihan yang terjadi antara kedua saudara Pek dan Ci Tian-coan
juga disebabkan masalah yang sama. Memang ada dua putera mahkota keturunan
kaisar dinasti Beng.
Pihak The-seng kong di Taiwan dan Tian-te hwe menjunjung Tong ong, sedangkan
pihak Bhok onghu memihak pada Kui ong, Memang negara sudah dirampas oleh
kerajaan Ceng. seharusnya kedua belah pihak bersatu untuk merebut kembali tanah
Tionggoan, tapi perselisihan sudah berlangsung sekian lama dan masih belum bisa
diselesaikan juga.

Tan Kin-Iam gagah dan pintar Dia memaklumi keadaan yang terbentang di depannya
dan dia juga dapat mengendalikan dirinya.
Sekarang saatnya mereka harus bersatu, perselisihan harus dikesampingkan dahulu,
Biarlah sang waktu yang akan memastikan apakah Tong ong atau Kui ong yang akan
menjadi raja kelak, karena itu dia segera tertawa lebar dan berkata,
“Liu loyacu, harap jangan marah dulu, Soal siapa keturunan yang sah dari Kerajaan
Beng tentu memerlukan waktu dan sekarang belum tiba saatnya untuk membicarakan.
Di detik ini, marilah kita duduk bersantap Mana pelayan? Lekas sajikan barang
hidangan kami hendak berpesta, minum sepuasnya Asal kita dapat bersatu hati dan
bekerja sama untuk mengusir bangsa penjajah, kelak kemudian semuanya bisa
dirundingkan”
“Tan Cong tocu, aku merasa kata-kata Cong tocu itu keliru sekali.” Bhok Kiam-seng
ikut bicara. “Kalau nama kurang tepat, maka kata-kata pun tidak lurus, dan kalau katakata
tidak lurus, usaha tidak akan berhasil. Kami menunjang Cu Ngo taycu, tidak sedikit
pun kami mengharapkan pangkat atau bagian Apabila Cong tocu sudah mengetahui
bahwa ini adalah kehendak Thian yang Maha kuasa dan bersedia demi Cu Ngo taycu,
maka kami dari keluarga Bhok, baik atasan maupun bawahan bersedia menjadi
pesuruh bagi Tan Cong tocu, tugas apa pun tidak akan kami tolak”
Tan Kin-lam tersenyum. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.
“Di langit tidak ada dua matahari, di dunia pun tidak ada dua raja yang memimpin,”
katanya, “Bukankah Cu Sam taycu masih sehat wal’afiat dan jumlah penduduknya
terdiri dari laksaan jiwa dan siap menunjangnya apabila waktunya telah tiba nanti?”
Dalam urusan ini, Liu Tay-hong paling keras kepala, Dia tetap berkeras dengan
pendiriannya.
“Tan Cong tocu menyebut-nyebut jumlah tentara yang ada laksaan jiwa, apakah
dengan demikian Tan Cong tocu ingin mengatakan bahwa pihak kalian akan meraih
kemenangan dengan mengandalkan orang banyak? Apakah dengan demikian Tang
Cong tocu bermaksud menghina kami? Satu hal yang perlu kau ketahui, rakyat di
seluruh negeri yang jumlahnya lebih dari ribuan laksa jiwa semua mengetahui perihal
Sri Baginda Eng Lok yang telah mengorbankan jiwa di Birma, sedangkan beliaulah raja
terakhir dinasti Beng Karena itu, kalau kita tidak memilih anak cucunya yang
memegang tampuk pemerintahan kelak, mana mungkin rakyat akan menghormatinya ?
Bukankah dengan demikian kalian juga seharusnya merasa iba terhadap raja kita yang
wafat secara kecewa?”
Mengucapkan kata-katanya yang terakhir, suara Tay Hong jadi tidak jelas, Dia
merasa terharu sekali.
Sebetulnya kedatangan Tan Kin-lam di kotaraja ini justru karena mendengar
perselisihan antara Tian-te hwe dan pihak Bhok onghu yang menunjang junjungan

masing-masing. Bahkan hal ini telah mengakibatkan kematian Pek Han-siong. Dia
bergegas datang untuk meredakan pertikaian agar urusan ini dapat didamaikan.
Dia berharap dengan kesabaran dapat membujuk pihak Bhok onghu, Dia juga
merasa gembira mengetahui Siau Po telah menolong Gouw Lip-sin bertiga sehingga
karenanya Bhok Kiam-seng dan yang lainnya sengaja datang untuk belajar kenal dan
mengucapkan terima kasih. Dia tidak menyangka sekarang bisa timbul lagi
persengketaan yang sama, bahkan seperti api yang disiram minyak.
“Tentang Sri Baginda Eng Lok yang wafat di Birma, semua orang memang sudah
mengetahuinya,” kata Tan Kin-Iam kemudian Nadanya sabar sekali dan dia juga terharu
melihat Liu Tay-hong sampai menangis karena teringat pengorbanan rajanya itu.
“Kejadian itu membuat seluruh rakyat murka. Hal ini dapat dimengerti Namun Bhok Siau
ongya dan Liu loyacu, semasa sakit hati kita belum terbalaskan, mana boleh kita
bertikai? sekarang merupakan waktunya kita semua harus kompak dalam bekerja sama
untuk membinasakan dan memusnahkan musuh kita, terutama Go Sam-kui yang telah
berkhianat. Hal ini juga demi membalaskan kematian Sri Baginda Eng Lok. Demi semua
ini, kita tidak boleh tercerai berai Kita juga harus membalaskan sakit hati Bhok Lo
ongya”
Yang dimaksud dengan Bhok Lo ongya adalah ayah Bhok Kiam-seng.
Mendengar ucapan terakhir Tan Kin-lam, Bhok Kiam-seng dan Liu Tay-hong
langsung melonjak bangun.
“Benar Benar” teriak mereka serentak “Tepat sekali”
Malah beberapa di antara mereka ada yang mengucurkan air mata dan tubuhnya
gemetar.
“Lebih baik sekarang kita jangan masalahkan siapa yang akan menjadi raja kelak,”
kata Tan Kin-lam kembali, “Bhok ongya, Liu loyacu dan seluruh rakyat di negeri ini, tidak
ada satu pun yang tidak merasa benci kepada Go Sam-kui. Baiklah kita mengambil
keputusan, siapa saja yang berhasil membunuh Go Sam-kui, maka pihaknyalah yang
akan kita angkat menjadi raja”
“Benar” sambut Bhok Kiam-seng, Dialah yang paling keras keinginannya untuk
membunuh Go Sam-kui Musuh besar pembunuh ayahnya, “Benar, Siapa yang dapat
membinasakan Go Sam-kui, dialah yang kita junjung”
“Bhok ongya,” kata Tan Kin-lam, kali ini khusus ditujukan kepada pangeran muda
dari Inlam itu. “Sekarang marilah kita buat perjanjian janji antara perkumpulan Tian-te
hwe kami dengan pihak Bhok onghu kalian, Kalau pihak Bhok onghu yang berhasil
membunuh Go Sam-kui, maka seluruh anggota Tian-te hwe bersedia menerima segala
titah Bhok onghu”

“Kalau pihak Tian-te hwe yang berhasil membunuh Go Sam-kui,” sahut Bhok Kiamseng
cepat Maka seluruh anggota keluarga Bhong ongha, mulai dari Bhok kiam-seng
semua akan tunduk kepada perintahnya Tan Cong tocu dari Tian-te hwe”
Sebagai penutup dari janji itu, kedua pihak mengulurkan tangannya dan saling tepuk
sebanyak tiga kali, Tapi baru saja mereka saling menepuk satu kali, tiba-tiba terdengar
suara tawa nyaring dari wuwungan rumah yang tinggi kemudian disusul dengan
seseorang yang berkata.
“Bagaimana kalau aku yang berhasil membunuh Go Sam-kui?”
Mendengar suara tawa dan pertanyaan itu, beberapa orang langsung menegur.
“Siapa itu?”
Yang menegur adalah beberapa mata-mata Tian-te hwe yang bersembunyi di atas
genteng.
Setelah itu terdengar pula suara nyaring lainnya disusul dengan melompat turunnya
sesosok bayangan yang terus berkelebat dan masuk lewat jendela tanpa menimbulkan
suara sedikit-pun, Hal ini membuktikan bahwa orang yang datang menguasai ginkang
(ilmu meringankan tubuh) yang cukup tinggi.
Hong Ci-tiong dan Ci Tian-coan berada di sebelah timur, sedangkan Liu Tay-hong
dan Gouw Lip-sin berada di sebelah barat, Serempak mereka menghambur menyerang
ke arah sosok bayangan tadi. Tetapi rupanya orang itu gesit sekali, dia melompat tinggi
dan mencelat melewati keempat orang yang sedang menyerang ke arahnya dan tahutahu
dia sudah sampai di hadapan Tan Kin-lam dan Bhok Siau ongya.
Keempat penyerangnya terdiri dari jago-jago kelas satu di dunia kangouw pada saat
itu, Tetapi mereka tidak sanggup berbuat apa-apa. Hal ini membuktikan betapa
hebatnya tamu yang tidak diundang itu, Dalam waktu yang lain, mereka segera
membalikkan tubuh dan menyerang kembali Ci Tiong mencekal bahu kanan orang itu,
Tian Coan mencekal iga kanan, Liu Tay-hong mencekal bahu kiri dan Lip Sin memeluk
pinggang orang itu dengan kedua tangannya.
Diperlakukan sedemikian rupa, orang itu tidak mengadakan perlawanan sama sekali,
Sembari tertawa dia bertanya.
“Beginikah caranya sahabat-sahabat Tian-te hwe memperlakukan tamunya?”
sekarang ini semua orang dapat melihat tegas tampang tamu yang tenang dan
periang itu. Dia adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tiga atau empat
tahun, dia memakai jubah hijau yang panjang, tubuhnya tinggi kurus, roman-nya seperti
seorang sastrawan.
Tan Kin-lam segera merangkapkan sepasang tangannya untuk menjura.

“Ciok Hi (panggilan seperti tuan, tapi dengan maksud merendahkan diri) siapakah
she dan namamu yang mulia?” tanyanya, “Apakah kau sahabat dari pihak kami?”
Sastrawan itu tertawa.
“Kalau bukan sahabat, tentu aku tidak akan datang kemari”
Ucapan itu disusul dengan tubuhnya yang menciut seperti segumpal daging
sehingga cekalan ke-empat penyerangnya jadi terlepas. Hong Ci-tiong benar-benar
keheranan dibuatnya, Setelah itu, tamu yang tidak diundang tersebut tertawa lagi, Tapi
saat ini tubuhnya mencelat lagi ke atas dan berubah menjadi bayangan yang berkelebat
seperti sebelumnya.
Sekarang Tan Kin-lam sendiri yang turun tangan Sembari tertawa panjang, ketua
pusat Tian-te hwe bergerak bangun sekaligus meluncurkan tangan kanannya, Apabila
tamu tak diundang itu berhasil melepaskan diri dari serangan Ci Tiong, maka kali ini dia
tidak dapat mengelakkan cekalan Tan Kin-lam pada kakinya. Dia merasa kakinya
tercengkeram kuat seperti dililit oleh rantai besi. Tapi dia tidak takut, dia malah tertawa
panjang sambil mengirimkan sebuah tendangan ke arah orang yang mencekal kakinya
itu.
Hebat sekali tendangan itu, arahnya pun ke muka orang
Tapi Tan Kin-lam bisa menyelamatkan dirinya, Tangan kirinya dengan gerakan cepat
menyambar sebuah meja kecil yang kemudian digunakan untuk menangkis, Brakkkk
Rusakiah meja kecil itu yang mana kemudian menjadi potongan-potongan kecil.
Setelah itu, tangan kanan ketua pusat Tian-te hwe itu, yang tetap memegang kaki
orang, digerakkan ke kanan kemudian dihentakkan ke belakang sehingga orang itu
menjadi limbung lalu terbanting di atas lantai.
Tapi, ilmu orang itu ternyata lihay sekali, Tidak menunggu sampai tubuhnya
menyentuh tanah, tiba-tiba dia mencelat bangun dan terus melesat dengan kecepatan
seperti terbang untuk melayang terus ke belakang dan akhirnya berdiri tegak dengan
punggung menyandar pada tembok.
Untuk sesaat, Hong Ci-tiong dan tiga orang lainnya

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s